Chapter 5
Pengalaman Pertama di Hari Valentin
Hari
Valentine jatuh pada hari kerja biasa. Artinya ada kegiatan sekolah, dan semua
murid masuk seperti biasa.
Melakukan
kencan Valentine sejak pagi hari tentu saja terasa sulit. Meskipun demikian
untuk hari ini, aku dan Nanami sudah meminta libur dari pekerjaan paruh waktu
kami.
Sudah
sekian lama rasanya kami tidak memiliki hari libur dari pekerjaan paruh waktu
sama sekali... tidak, sebenarnya hari-hari seperti itu pernah ada sebelumnya,
tetapi pada hari libur biasanya kami mengisinya dengan belajar dan kegiatan
lainnya.
Oleh
karena itu, hari di mana kami benar-benar tidak memiliki agenda apa pun rasanya
sudah sangat lama tidak dirasakan.
Walaupun
begitu pada hari libur sebelumnya, kami sempat pulang kerja paruh waktu lebih
awal untuk pergi melihat Festival Salju atau pergi menikmati acara Valentine,
sehingga kami tetap bisa menikmati waktu santai...
"Rasanya
suasana sekolah agak sedikit berbeda, ya."
"Masa,
sih? Bukankah pada musim seperti ini memang sudah biasa begini?"
Apakah
memang biasa seperti ini, ya...? Rasanya suasana di dalam sekolah... bukannya
tegang, melainkan diselimuti oleh atmosfer yang agak tidak biasa.
Sebenarnya...
ada apa dengan suasana ini?
"Karena
ini Hari Valentine, semua orang sedang berada di medan perang untuk saling
memberi dan menerima cokelat."
Nanami
mengacungkan jari telunjuknya sembari memberikan penjelasan, tetapi apakah
suasana ini baru bisa kubedakan karena aku mulai menyadari momen Hari
Valentine?
Efek
apa gitu... fenomena, ya? Dulu sepertinya ada istilah seperti itu. Padahal baru
saja kupelajari, tetapi aku sudah lupa lagi namanya.
Pokoknya
fenomena semacam itu mungkin sedang terjadi lagi. Oleh karena itu, aku bisa
merasakan atmosfer khas Valentine ini...
Rasanya
seperti momen di shounen manga, di mana sang karakter berkembang lalu
mulai bisa merasakan tingkat kekuatan lawan.
"Berbeda
dengan tahun lalu, ya... terutama sudut pandangku..."
"Youshin,
bagaimana dengan giri-choco?"
"Tentu
saja tahun ini akan kutolak. Soalnya aku sudah menetapkan kalau cokelat
pertamaku harus dari Nanami."
Di
tempat kerja paruh waktu saja aku sudah menolaknya, jadi kalau di sekolah
kurasa aku bisa menolaknya dengan sedikit lebih tenang. Lagipula, jika aku
tidak menolaknya di sini, untuk apa aku menolak pemberian di tempat kerja
kemarin.
Hanya
saja...
"Apakah
ada orang yang mau memberikanku giri-choco?"
"...Itu
kan giri-choco, kurasa pasti ada saja, kan?"
Rasanya
senyuman Nanami agak sedikit kaku secara samar. Pasti ini bukan sekadar
perasaanku saja.
Ngomong-ngomong
ini sebenarnya pertanyaan biasa, tetapi... apakah anak laki-laki yang sudah
punya pacar wajar diberi giri-choco?
Jika
tidak ada perasaan suka di dalamnya, apakah hal itu tidak masalah? Giri-choco,
cokelat pertemanan (tomo-choco)... wanita yang memberikan hal-hal
semacam itu kepada laki-laki yang sudah berpacar...
Emm...
rasanya jika dipikir secara wajar pun hal itu kurang pantas, sih. Namun, aku
juga bisa memahami pendapat bahwa hal itu tidak perlu terlalu dipikirkan
pusing...
Mengenai
hal ini, dibandingkan tindakan memberikan cokelat itu sendiri, perasaan yang
terkandung di dalamnya mungkin yang menjadi masalah utamanya, ya...
"Meskipun
begitu, tahun ini... kalaupun ada yang memberi, aku tidak akan menerimanya,
atau meminta untuk menerimanya setelah besok saja."
"Kalau
begitu bukannya malah tidak ada hubungannya dengan Valentine, melainkan cuma
jadi hari menerima camilan biasa?"
Memang
benar, cara menolak dengan meminta menerimanya pada hari esok setelah Valentine
rasanya agak terlalu absurd. Kalau begitu sekalian saja ditolak tegas dari
awal.
Emm,
sebaiknya aku memang menolaknya secara langsung daripada bilang akan
menerimanya di lain hari.
"Nanami,
kalau aku menerima cokelat meskipun cuma giri-choco, bagaimana menurutmu?"
Tiba-tiba
aku merasa penasaran. Dalam sudut pandang laki-laki yang berpacar, menerima
cokelat dari wanita lain pada Hari Valentine rasanya memang sebaiknya
dihindari, sih...
Lalu
bagaimana jika dilihat dari sudut pandang perempuan... dari sudut pandang
Nanami? Apakah dia bakal merasa tidak suka, atau tidak begitu memikirkannya,
atau... malah memunculkan emosi lainnya?
"Emm...
di satu sisi aku merasa... tidak suka, tapi kalau menerimanya dari Hatsumi dan
yang lainnya kurasa tidak apa-apa... Soalnya Hatsumi atau Kotoha-chan kan sudah
punya pacar..."
Maksudnya,
paling tidak cokelat itu sama sekali bukan berasal dari perasaan suka terhadap Youshin.
Dengan
kata lain, dia tidak suka jika berasal dari orang luar selain teman dekat.
Tampaknya
mengenai hal ini, masalah perasaan memang memegang porsi yang jauh lebih besar
daripada bentuk cokelatnya sendiri. Jika Nanami tidak suka, maka menolaknya
adalah satu-satunya pilihan...
Sembari
memahami perasaan itu dengan baik. Saat aku menyampaikan hal tersebut, Nanami
tampak sangat gembira.
Setelah
memantapkan keteguhan hati, aku bisa melangkah masuk ke dalam sekolah yang
atmosfernya terasa agak tidak biasa ini dengan tenang. Kami kemudian berjalan
menuju ruang kelas... rasanya seperti menjadi karakter dalam sebuah permainan
video...
Menelusuri
dungeon aneh yang diselimuti hawa jahat menuju zona aman yang dituju
secara perlahan... tempat ini bahkan terlihat bagaikan sarang monster.
Pada
kenyataannya, para murid laki-laki di berbagai sudut tampak mencuri-curi
pandang ke arah murid perempuan, sementara para murid perempuan pun memberikan
berbagai macam tatapan ke arah murid laki-laki... Jika mata mereka saling
bertemu, pertarungan seolah akan langsung dimulai.
"...Tadi
aku bilang suasana seperti biasa, tapi kutarik kembali perkataanku."
"Eh?"
"Tahun
ini suasananya luar biasa sekali... dibanding tahun lalu... entah kenapa semua
orang tampak sangat berdebar-debar dan tidak tenang?"
Meskipun
hanya sedikit, Nanami memperlihatkan senyuman kaku seolah merasa agak ngeri.
Apakah
suasananya seaneh itu...? Kenapa bisa begini, ya...?
Misteri
itu baru terungkap setelah kami sampai di kelas.
Setelah
mengucapkan salam pagi, ternyata... Hitoshi mengetahui alasan di balik semua
ini.
"Itu
karena Barato sudah punya pacar."
"Apa
maksudnya?"
"Begini,
murid populer seperti Shibetsu-senpai atau murid-murid lain yang pernah
menyatakan perasaan pada Barato lalu ditolak, kini mereka berada di Hari
Valentine pertama dalam status yang benar-benar lajang."
"...Bukankah
sejak ditolak mereka sudah berstatus lajang?"
Hitoshi
mengibaskan jari telunjuknya sembari memasang wajah bangga tanpa alasan, lalu
mulai memberikan penjelasan. Penjelasannya memang membantu, tetapi raut
wajahnya agak menyebalkan, ya.
"Sebelum
Barato punya pacar, meskipun sudah ditolak, mereka semua masih merasa punya
peluang. Gara-gara hal itu, sampai tahun lalu langkah mereka cuma tertahan di giri-choco
dan sangat sedikit yang bisa melangkah lebih jauh."
"Sedikit
artinya masih ada yang berhasil, dong. Tapi kalau tahun ini..."
"Benar,
karena Barato sudah bersama Youshin... murid-murid laki-laki lain yang pernah
ditolak sudah pasrah sepenuhnya. Maka dari itu tahun ini, badai cokelat
ungkapan perasaan (honmei-choco) bakal meledak...!!"
Bagaikan
seorang utusan yang sudah renta, Hitoshi membelalakkan matanya lebar-lebar
sembari merentangkan kedua tangannya secara berlebihan. Apakah cuma perasaanku
saja atau memang ada efek kilatan petir yang muncul di latar belakangnya?
Semua
orang benar-benar terlalu serius menghadapi Hari Valentine, ya. Lagipula,
ternyata di sekolah kami diperbolehkan membawa cokelat. Soalnya di Manga
biasanya ada aturan larangan membawa cokelat...
Kalau
tingkat SMA sih rasanya jarang ada larangan seperti itu. Tidak tahu kalau
tingkat SMP, sih.
"Ngomong-ngomong,
bagaimana Hari Valentine Hitoshi tahun lalu?"
"Emm?
Aku mendapat banyak sekali giri-choco dari mana-mana, tapi honmei-choco
bernilai 0 buah. Tapi yah, untuk tahun ini begitu saja sudah cukup, kok."
Padahal
penampilannya tidak jelek dan kelihatan populer, tapi ternyata honmei-choco-nya
nol, ya.
Tidak,
tapi bukankah dulu dia pernah punya pacar? Apakah dia tidak dapat cokelat
Valentine dari perempuan itu?
"Pacarku
waktu itu justru memberikan cokelat dan menyatakan perasaan ke laki-laki lain
saat Hari Valentine, lalu aku dicampakkan."
"...Yang
tabah, ya."
Padahal
itu cerita tahun lalu, tapi hanya dengan mendengarkannya saja rasa sedih
langsung membuncah.
Sumpah,
itu parah banget, sih. Ketimbang parah, lebih tepatnya terlampau menyedihkan.
Dari
sekian banyak waktu, malah dicampakkan tepat di hari Valentine... Pacarnya
waktu itu juga entah apa yang ada di pikirannya, tidak paham sama sekali...
Kalau mau memutuskan hubungan, kan bisa dilakukan lebih awal.
"Katanya
sih, kasihan kalau tidak punya pacar tepat di hari Valentine, tapi kalau sudah
lewat harinya sih tidak masalah..."
"Ngeri...
perempuan ngeri banget..."
Tidak,
dari sosok Nanami aku tahu betul kalau tidak semua perempuan seperti itu. Kalau
aku yang mengalami hal seperti itu, pasti bakal trauma dengan perempuan.
Meskipun
begitu, Hitoshi yang terus-menerus mengatakan tetap menyukai perempuan memang
punya mental yang sangat kuat, ya.
...Emm?
Tadi dia bilang tahun ini 0 honmei-choco pun tidak masalah?
"Jangan-jangan,
hubunganmu dengan perempuan yang waktu itu berjalan lancar?"
"...A-ah...
e-emmm... soal itu... yah... bagaimana kataku, ya..."
Ooh...
Hitoshi menjadi sangat malu-malu. Sejak memasuki bulan Februari, jadwal kerja
paruh waktuku bertambah sehingga kami tidak begitu sering membuat kue bersama
lagi, sih...
Namun
Hitoshi yang sudah paham triknya, terus berkembang pesat secara mandiri. Dia
bahkan pernah mengirimkan foto cupcake yang kelihatannya sangat lezat.
Dia
sempat membagikannya ke sesama anak laki-laki untuk dicicipi, dan sesekali
membagikannya ke anak perempuan untuk meminta kesan-kesan mereka, tapi...
"Saat
Festival Salju... kami berkencan, lalu aku memberikan cupcake beserta
hadiah dengannya dan kami makan bersama... terus, aku juga dapat cokelat
darinya."
"Eh?
Kamu dapat cokelat darinya?"
Setahuku
di negara sana bukankah tradisi Hari Valentine umumnya dilakukan dari laki-laki
ke perempuan, dan sangat jarang terjadi dari perempuan ke laki-laki?
"Kalau
begitu, hubunganimu berjalan lancar, dong. Syukurlah kalau begitu, selamat
ya."
Saat
aku bertepuk tangan, Hitoshi memperlihatkan wajah merona merah karena malu,
sebuah pemandangan yang langka. Seolah-olah sudah mengetahui hal itu,
teman-teman sekelas di sekitar ikut bertepuk tangan menyamai aksiku.
Untuk
mengalihkan rasa malunya, Hitoshi membalas tepuk tangan tersebut sembari
menyampaikan rasa terima kasih dengan suara keras. Begitu rupanya, Hitoshi juga
sudah berusaha keras, ya...
Kalau
begitu, aku juga tidak boleh kalah.
"Ngomong-ngomong,
hadiah yang kamu serahkan bersamanya juga disukai olehnya, kan?"
"...Iya,
sukses besar."
Saat
aku memastikan dengan suara berbisik, Hitoshi mengacungkan jempolnya sembari
mengedipkan mata. Begitu rupanya, dia merasa senang, ya...
Alasan
kenapa aku berbicara dengan suara berbisik adalah karena jika terdengar oleh
Nanami akan sedikit gawat, atau lebih tepatnya kejutan kami bisa gagal.
Ini
adalah rencana kejutan yang dirancang olehku, Hitoshi, dan Teshikaga-kun.
Kami
bertiga masing-masing sudah memberi tahu pacar kami bahwa kami akan memberikan
kue olahan buatan tangan. Namun, selain hal itu kami tidak mengatakan apa-apa
lagi.
Memberikan
hadiah tambahan adalah sebuah kejutan.
Karena
belum pernah melakukannya, aku tidak tahu apakah mereka akan senang atau
tidak... tetapi dari reaksi Hitoshi, aku mendapat kepastian besar bahwa
responsnya sangat positif.
"Soal
itu, bukankah sebaiknya kamu menyuruh muridmu menjaga rahasia dengan cerdik?
Saat menyerahkannya ke Ketua Murid nanti, kalau tidak hati-hati bisa terbongkar
oleh Barato, lho...?"
"Ah...
gawat..."
Sangat
teledor. Tampaknya dua orang murid kami... belum datang, jadi nanti akan
kusuruh mereka untuk menjaga rahasia. Paling tidak, untuk seharian ini...
Karena
tadi ada suara tepuk tangan, bisik-bisikku beruntung tidak terdengar oleh
sekeliling, dan topik ini pun berakhir karena Nanami mulai berjalan mendekat ke
arahku.
...Ah,
ngomong-ngomong.
"Ngomong-ngomong,
apakah kamu sudah resmi jadi pacarnya? Mulai sekarang resmi pacaran jarak jauh
(LDR)?"
"Soal
itu aku tidak tahu... aku tidak sanggup minta dia jadi pacarku... menyatakan
perasaan pun aku tidak bisa..."
"Hah...?"
Mendengar
perkataan Hitoshi, suasana kelas yang tadinya penuh dengan atmosfer bahagia
mendadak diselimuti keheningan. Nanami yang tadinya berniat berjalan dari
tempat temannya ke arah sini pun mendadak terhenti kaku.
Pandangan
mata orang-orang di sekitar secara serentak tertuju pada Hitoshi, dan setelah
menyadari hal itu, tubuhnya bergetar kaget sembari mengedarkan pandangan ke
sekeliling secara perlahan.
Kami
semua yang berada di dalam ruang kelas, menarik napas secara bersamaan seolah
menjadi satu kesatuan makhluk... lalu berteriak kompak dengan ritme yang sangat
pas.
『KATAKAN LAH, WOI?!』
Satu
teguran keras secara serentak itu tidak hanya bergema di dalam ruang kelas,
tetapi juga menggelegar sampai ke sepanjang koridor.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
Meskipun
sempat kutegur, Hitoshi telah menunjukkan sikap kejantanannya dan berhasil. Aku
juga tidak boleh kalah dari hal ini. Walaupun bukan masalah menang atau kalah,
hal itu tetap menjadi alasan bagiku untuk makin bersemangat.
Meskipun
kami sempat pergi ke Festival Salju bersama, itu cuma sebatas mampir sebentar
saat perjalanan pulang kerja paruh waktu... sehingga kencan yang sesungguhnya
baru akan dilakukan pada hari libur berikutnya.
Kencan
Valentine... meskipun begitu, kira-kira apa yang sebaiknya kami lakukan, ya?
Sembari
memikirkan hal tersebut, aku dan Nanami sedang berdiskusi menyusun rencana
bersama.
Uang
hasil kerja paruh waktu rasanya bakal keluar lumayan banyak, dan karena ini
pertama kalinya, rasanya aku ingin sedikit bermewah-mewah. Namun di saat yang
sama, memikirkan masa depan membuatku ingin sedikit menahannya...
Oleh
karena itu, pada Valentine hari ini kami berkencan di rumah.
Yah,
kami memang sempat membicarakan bahwa bagian akhir kencan Valentine nanti ada
baiknya dihabiskan berdua saja di salah satu rumah kami.
...Mungkin
karena kebetulan, orang tuaku maupun orang-orang di rumah Nanami kabarnya tidak
ada di rumah sampai larut malam pada hari Valentine ini.
Tidak,
bukannya kami yang meminta. Hanya saja Ibu berkata padaku, "Saat hari
Valentine nanti kami tidak ada di rumah, jadi kamu boleh menghabiskan waktu
bersama Nanami-san di rumah, ya."
Yah,
ketika kukutak-katik alasannya lebih rinci, beliau bilang, "Kalau
didiamkan, takutnya kalian malah pergi ke tempat berbahaya karena terbawa
suasana, jadi kalau di rumah kalian bisa lebih menahan diri, kan?"
Mana
mungkin kami pergi ke tempat... tempat yang seperti itu... tempat semacam
itu...
Tidak,
memang benar saat mencari tahu soal kencan Valentine, tempat semacam itu sempat
muncul di hasil pencarian. Katanya mereka mengadakan acara Valentine. Tapi anak
SMA kan dilarang menggunakannya. Katanya meskipun sudah lewat 18 tahun, selama
masih berstatus anak SMA tetap tidak boleh. Jadi mana mungkin aku dan Nanami
pergi ke sana...
"Youshin,
kenapa kamu bisa tahu hal semacam itu, ya~? Jangan-jangan, kamu mencari tahunya
karena ingin pergi ke sana~?"
...Memori
saat aku diejek sembari ditertawai oleh Nanami gara-gara wawasan yang
kubeberkan demi menenangkannya mendadak bangkit kembali.
...Yah,
waktu kubalas serangan dengan berkata kalau aku memang ingin pergi ke sana,
Nanami malah merona merah lalu bungkam, sih. Lagipula kalau tidak memakai
seragam sekolah pasti tidak akan ketahuan, kan.
Meski
berkata demikian, karena risiko yang tidak perlu sebaiknya dihindari, tahun ini
kami tidak akan pergi ke sana. Maka dari itu pada sepulang sekolah di hari
Valentine, aku mengundang Nanami ke rumahku. Kami sengaja tidak pulang bersama,
melainkan masing-masing pulang ke rumah sendiri terlebih dahulu. Tak biasa
bagiku, aku berganti pakaian lalu membersihkan kamar dan merapikan rumah yang
kosong tanpa orang.
Ayah
dan Ibu belum pulang. Sepertinya hari ini mereka benar-benar bakal pulang
terlambat karena kerja lembur.
Entah
kenapa fakta bahwa mereka pulang terlambat gara-gara lembur membuatku curiga
kalau mereka sengaja mengalah demi kami... tetapi tampaknya mereka memang
benar-benar sibuk dengan pekerjaan.
Bulan
Februari dan Maret sudah dekat dengan masa penutupan buku anggaran sehingga
sangat sibuk, jadi mereka berniat menutupi asupan gula dengan cokelat Valentine
agar bisa makin bersemangat bekerja...
Orang
dewasa memang berat, ya.
Bahkan
setelah jadi orang dewasa pun aku ingin menghabiskan Valentine bersama Nanami,
tetapi jika saat masa-masa sibuk, mungkin kami cuma bisa bertemu sebentar, ya.
Kupikir
kalau sudah dewasa kita bisa mengambil cuti tahunan khusus Valentine, tetapi
apakah hal semacam itu sulit dilakukan?
Saat
aku sedang membayangkan masa depan ketika sudah menjadi orang dewasa nanti,
suara bel pintu terdengar. Mendengar bunyi dentang bel yang nyaring, tubuhku
bergetar kaget.
Biasanya
saat Nanami datang bermain ke rumahku, kami lebih sering datang bersama,
sehingga menyambutnya sampai ke pintu depan seperti ini terasa sangat segar. Persiapanku
sendiri sudah sempurna. Pembersihan kamar sudah selesai sampai tahap tertentu,
dan persiapan hadiah Valentine pun sudah rampung.
Harusnya...
tidak ada kecerobohan sama sekali. Kalaupun ada, aku akan menebusnya agar hari
ini tetap menjadi hari yang membahagiakan.
Dengan
jantung berdebar-debar seperti saat pertama kali dulu, aku membuka pintu depan
dengan bunyi klek. Di sana... berdiri Nanami yang membawa tas berukuran
cukup besar.
"Selamat
datang, Nanami."
"Aku
datang~ Permisi~"
Melihatku
yang menyambutnya sembari memiringkan setengah tubuh dari balik pintu yang
terbuka, Nanami tersenyum ramah sembari memiringkan kepalanya sedikit dan
melambaikan sebelah tangannya.
Pakaian
Nanami hari ini... rambutnya tidak diikat secara khusus dan dibiarkan lurus,
tetapi dia mengenakan kacamata yang mungkin dipakai sebagai aksen
penampilannya.
Hari
ini dia memakai gaya celana panjang berupa celana bahan jins longgar yang agak
besar, sementara bagian atasnya mengenakan mantel berwarna gelap dan syal
berwarna putih... krem, mungkin?
Aku
tidak tahu bagaimana wujud pakaian di balik mantelnya, tetapi secara
keseluruhan dia mengenakan pakaian yang tampak hangat.
Dia
membawa tas yang cukup besar, bukankah ini bahkan lebih besar daripada tas
sekolahnya? Apa yang diisinya di dalam sana? Sesuatu yang sebesar itu... apakah
barang untuk Valentine? Apa, ya?
"Gaya
pakaianmu terasa berbeda lagi dari biasanya, ya... Cantik banget."
"Ehehe,
gembira deh dipuji. Hari ini aku datang dengan gaya agak serius,
memperhitungkan sososok Barato-san di tempat kerja paruh waktu~"
Nanami
yang mengutarakan pose peace tersenyum ramah, lalu sedikit menggigil.
Gawat,
gara-gara terpesona aku jadi lupa mengajak Nanami masuk ke dalam rumah.
Kesan-kesan seperti ini kan harusnya disampaikan di tempat yang hangat setelah
masuk.
"Dingin,
kan... Ayo masuk, masuk. Kelihatannya berat, sini kubawakan tasmu."
"Iya...
Ah, yang ini... tidak apa-apa, kok. Tidak seberat itu juga."
"?
Begitu, ya? Ya sudah, kalau begitu lewat sini..."
Saat
aku berniat membawakan tasnya, dia dengan cepat menariknya ke belakang dan
menyembunyikannya sedikit.
Kenapa,
ya? pikirku, tetapi apakah ada isinya di dalam sana? Jangan-jangan di dalamnya
ada cokelat berukuran agak besar dan dia menjaganya agar bentuknya tidak
hancur...? Karena itulah tasnya besar, ya... pikirku sembari mengundang Nanami
masuk ke kamarku.
Setelah
mengantar Nanami ke kamar... terjadi percakapan "permisi" untuk kedua
kalinya hari ini. Nanami yang masuk ke kamarku kemudian duduk dengan manis.
Bagaimana,
ya... entah kenapa rasanya seperti berdebar-debar, atau lebih tepatnya
gelisah... Lho? Kenapa aku jadi tidak bisa tenang begini, ya?
Ini
bukan pertama kalinya Nanami datang ke kamarku. Dia sudah berkali-kali datang
ke kamar, dan momen berduaan saja pun sudah tidak terhitung berapa kali
terjadi. Bahkan saat Natal dulu, Nanami sempat menginap. Kuanggap aku sudah
mulai terbiasa dengan momen berduaan seperti ini, tetapi ini adalah tingkat
kegelisahan paling parah yang pernah kualami.
Gelisah
dan gatal... jika diizinkan rasanya aku ingin berteriak atau berlari kencang.
Aku tidak akan melakukannya, sih, tetapi rasanya setenang itu. Apakah karena
Nanami membawa tas besar, sehingga aku jadi berekspektasi cokelat Valentine
seperti apa yang dia bawakan untukku?
Tidak,
atau mungkin ada hal lain... Nanami sendiri pun kelihatan lebih gelisah dari
biasanya.
Entah
secara tidak sadar atau bagaimana, tubuhnya bergoyang ke kiri dan ke kanan
secara perlahan. Bagaikan bergoyang ditiup angin, atau seperti sedang menari...
Apakah hatinya sedang menari-nari atau semacamnya?
Mungkin
karena tidak tenang, aku jadi memikirkan hal-hal aneh.
"Kalau
begitu... aku buatkan teh dulu, ya. Tunggu sebentar."
"Ah,
iya... tidak perlu repot-repot..."
Ada
rasa ketegangan yang aneh persis seperti saat Nanami pertama kali datang dulu.
Demi mengikis rasa itu meski hanya sedikit, mari kita seduh teh hitam.
Seharusnya
teh yang dulu pernah kuseduhkan untuk Hitoshi dan yang lainnya masih ada. Untuk
menenangkan hati, mari kita seduh secara perlahan dan saksama.
"Ah,
santai saja... tidak apa-apa, kok..."
Tepat
saat aku hendak keluar dari kamar, Nanami melontarkan kata-kata tersebut
padaku.
...Apa
maksudnya dengan 'santai saja tidak apa-apa'? Jangan-jangan, dia mau menyiapkan
cokelatnya sekarang? Ah, tidak mungkin... mana mungkin dia memasak di kamarku.
Namun
yah, untuk berjaga-jaga, sebaiknya aku menyeduh tehnya sedikit lebih santai.
Lalu, kurasa aku harus mengetuk pintu saat mau masuk ke kamar nanti.
Padahal
aku belum pernah mengetuk pintu kamarku sendiri. Mau bagaimana lagi. Kalau
ternyata Nanami memang sedang bersiap-siap, kasihan kalau dia sampai panik.
Lagipula
yah... aku sendiri pun butuh persiapan. Mengenai cupcake yang akan
kuberikan pada Nanami... emm, hasilnya cukup bagus. Karena sekarang bukan musim
panas, aku menyimpannya di suhu ruang dan kondisinya masih baik-baik saja.
Yah,
soalnya aku sudah bereksperimen berkali-kali... Kalau dimasukkan ke dalam
kulkas, adonannya malah jadi mengeras... Karena ini dibuat sehari sebelumnya,
jadi tidak ada masalah...
Nanti
tinggal kuberi krim di atasnya, kuberi hiasan, lalu kubawakan ke kamar setelah
selesai. Tapi kalau dibawakan bersamaan dengan teh hitam... rasanya agak sulit.
Sebaiknya aku membawakan teh hitamnya terlebih dahulu, barulah setelah itu
membawakan kuenya.
Setelah
menyeduh teh hitam, aku melangkah sepelan mungkin, tetapi tetap diusahakan
sampai di kamar sebelum tehnya menjadi dingin.
Kira-kira
Nanami sedang melakukan apa, ya...?
Sembari
merasa agak berdebar-debar, aku mengetuk pintu kamarku. Mengetuk pintu kamar
sendiri memberikan perasaan yang sangat aneh, tetapi dari dalam terdengar suara
Nanami.
『Yo-Youshin... tunggu
sebentar... tunggu sebentar saja, ya...!!』
"Ah,
iya..."
Jawaban
dari Nanami terdengar agak panik. Apakah ada hal yang sampai membuatnya sepanik
itu? Karena tidak terdengar suara kresek-kresek... sebenarnya apa yang sedang
dia lakukan?
Namun
waktu yang kuhabiskan untuk menunggu benar-benar cuma sebentar. Waktunya terasa
sangat pas. Terdengar suara Nanami yang mengatakan bahwa situasinya sudah aman.
Saat
kubuka pintu kamar secara perlahan, wangi manis yang menyenangkan menyeruak
masuk ke indra penciumanku. Karena aromanya berbeda, rasanya seolah-olah ini
bukan kamarku sendiri... Aku merasakan kejanggalan pada kamarku yang menebarkan
wangi tak biasa.
Meskipun
demikian, wangi tersebut sama sekali tidak mengganggu... justru kalau bisa
dibilang... menggugah selera?
Lalu,
sosok yang menebarkan wangi menggugah selera di dalam kamar tersebut adalah
Nanami...
"Heh?"
Nanami...
ada di dalam kamarku. Tidak, keberadaannya di sini memang sudah seharusnya,
sih. Memang sudah seharusnya, tetapi dia berada di sana dalam kondisi yang sama
sekali tidak biasa.
Apa
yang tidak biasa, hal itu adalah... pakaian yang dikenakan Nanami. Sampai
beberapa saat lalu Nanami mengenakan pakaian biasa. Begitu melepas mantelnya,
dia memakai kaus sweter yang agak besar.
Aku
ingat karena menganggapnya lumayan modis, tapi paling tidak, itu bukan pakaian
yang ada di depan mataku saat ini... atau lebih tepatnya, mana mungkin dia
datang memakai pakaian seperti ini dari rumah.
Seolah
puas melihat sosokku yang terkejut, Nanami membungkuk memberi hormat dengan
sangat anggun...
"Selamat
datang kembali, Goshujin-sama?"
Sembari
menyambutku dengan kalimat yang sangat khas, Nanami mengenakan gaun maid
berwarna cokelat dan merah muda.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
Reaksi
seseorang terhadap kejadian yang sama sekali tak terduga memang bermacam-macam,
tetapi kali ini aku benar-benar terpaku.
Di
sini, aku ingin memuji diriku sendiri karena tidak sampai menjatuhkan nampan
berisi teh hitam yang kubawa.
"...Ini
ulah Yuu-senpai, kan?"
"Ah,
kamu tahu?"
"Mana
mungkin tidak tahu."
Sebaliknya,
kalau kostum itu milik pribadi Nanami justru bakal membuatku melongo keheranan.
Kenapa dia sampai memakai pakaian seperti ini... tidak, dibanding itu, kenapa
dia sampai meminjamnya.
Pakaian
semacam ini belakangan ini memang menjadi bidang keahlian Yuu-senpai, sih. Bisa
dibilang berkat hal itu pula cakupan interaksiku dengan Nanami jadi makin luas,
tapi...
Mungkin
karena ini pertama kalinya dia memakai gaun maid lagi sejak festival sekolah,
Nanami kelihatan sedikit bersemangat.
Dia
melambaikan tangannya seolah memamerkan kostum itu padaku, memperagakan
berbagai pose, hingga duduk dengan gaya agak meliuk.
Aku
sampai merasa seperti sedang melihat foto gravure.
Tadinya
kukira gaun maidnya bakal dipenuhi kain yang melambai-lambai, tetapi bagian
dadanya ternyata cukup terbuka lebar, lalu gaunnya pun pendek...
Tingkat
keterbukaannya (roschutsudo) ternyata lumayan tinggi. Apakah tingkat
keterbukaan dan keimutan semacam ini memiliki hubungan berbanding lurus? Atau
mungkin hubungan korelasi?
Paling
tidak, sosok Nanami yang sedang mengenakan gaun maid saat ini...
"Imut
banget."
"Eh?
Ehehe... uehehehehe..."
Tanpa
sadar suara dari dalam hatiku bocor keluar, tetapi Nanami justru mulai tertawa
dengan cara yang agak aneh.
Kenapa
tawamu begitu? Senyumannya mendadak jadi sangat konyol dan tidak elegan sama
sekali.
Sembari
melompat-lompat bersemangat, rok yang dipenuhi banyak kerutan (frill)
itu ikut bergoyang mengikuti gerakan Nanami.
...Lalu
bagian dadanya juga.
Tidak,
apakah cuma kelihatan bergoyang karena kerutan roknya yang bergoyang, ya...?
Untuk
beberapa saat aku sempat terpesona oleh pakaian Nanami, tetapi ada satu hal
utama yang paling membuatku penasaran. Yaitu alasan kenapa dia sampai memakai gaun
maid.
Kostum
ini memang cocok dan sangat imut padanya, tapi kenapa harus gaun maid? Apakah
Valentine itu acara yang ada hubungannya dengan maid?
"Nao-chan
hari ini juga seharusnya memakai gaun yang sama di restoran, lho."
"Heh?
Begitu, ya...?"
Meskipun
begitu, pertanyaan kenapa Valentine harus memakai gaun maid tetap terngiang di
benakku.
Kalau
dipikir-pikir, bukankah Senpai pernah mengatakan sesuatu tentang hari kemarin?
Jadi
yang dimaksud beliau adalah... gaun maid ini, ya. Mungkin memang ada
keterkaitannya.
Saat
kudengar penjelasannya lebih rinci, pada hari Valentine ternyata ada
kecenderungan jumlah pelanggan sedikit menurun dibandingkan hari pertama
festival, sehingga untuk menghindari hal tersebut mereka mengadakan acara
terbatas khusus pada hari Valentine.
Salah
satu dari acara tersebut adalah kostum terbatas Valentine ini, sebuah acara
yang dijalankan di bawah arahan Yuu-senpai. Dan beliau sengaja meminjamkan satu
stel... untuk Nanami. Beliau berpesan agar karena ini momen Valentine yang
berharga, habiskanlah waktu dengan mengenakan pakaian yang spesial.
"Tidak
perlu sampai repot-repot mengambil foto lalu mengirimnya juga, kan..."
"Nao-chan,
imuuut banget ya."
Demi
memberikan penjelasan, Nanami memperlihatkan ponselnya padaku. Karena
sepertinya foto itu cuma dikirimkan kepada Nanami, aku baru pertama kali
melihat sosok tersebut. Yuu-senpai yang mengenakan gaun maid.
Di
sana tampak sosok Yuu-senpai yang mengenakan kostum maid senada dengan milik
Nanami... gaya sweet lolita... atau begitulah sebutannya, sebuah gaun
maid berkesan gothic lolita.
Desainnya
sama persis, hanya warnanya berupa perpaduan cokelat dan hijau muda. Tampaknya
warna ini digunakan untuk merepresentasikan rasa chocochip mint. Menurut
penjelasannya, ini adalah kostum terbatas Valentine milik Yuu-senpai untuk
tahun ini.
Yuu-senpai
di dalam foto tersebut memperlihatkan lekuk dadanya yang menonjol tanpa ragu,
dipadukan dengan rok pendek serta frill yang sangat banyak...
Sungguh
aneh rasanya karena keberadaan kerutan yang melimpah itu membuat tingkat
keterbukaannya tidak begitu terasa mencolok.
Sembari
mengacungkan pose peace dengan santai... atau lebih tepatnya, menebarkan
pesona dengan polos, sosoknya menunjukkan kepribadiannya yang penuh energi
kepada orang-orang di sekitarnya.
Maid
dengan gaya gal berkulit gelap... rasanya agak terlalu sengaja, tetapi
bagaimanapun juga kostum itu sangat cocok dikenakan oleh Yuu-senpai.
Kalau
begini sih, tidak heran kalau para pelanggan bakal berdatangan.
Lalu
di sampingnya ada satu orang lagi... yang mengenakan kostum senada. Benar, Yuu-senpai
kali ini tidak mengenakan kostum itu sendirian, melainkan mengajak orang lain
untuk terseret... tidak, mengenakan pakaian yang serasi dengannya.
Orang
itu adalah istri dari sang pemilik restoran. Entah karena malu, beliau berfoto
dengan ekspresi yang sangat rumit sembari agak berkaca-kaca dan mengacungkan
pose peace kecil. Jari-jari pada pose peace itu pun tampak kaku,
seolah-olah suasana paksaan sangat terpancar jelas bahkan dari lembaran foto
tersebut...
Rasanya
agak kasihan, ya.
Kabarnya
beliau diimbau setengah memaksa oleh Yuu-senpai, lalu dipakaikan gaun maid
dengan warna yang berbeda dari milik Nanami maupun sang senior.
Warnanya
adalah... kuning.
Meskipun
beliau sendiri berkata bahwa wanita setua dirinya merasa malu mengenakannya,
sang pemilik restoran justru sangat gembira hingga mengepalkan tangan penuh
semangat. Memang harus diakui kalau kostum itu terlihat cocok padanya, sih.
Aku
tidak tahu pasti berapa usia sang istri... tetapi paling tidak beliau belum
memasuki usia yang pantas disebut sebagai wanita tua, kan? Hanya saja setelah
foto itu dikirimkan pada kami, kami jadi bingung harus bersikap bagaimana.
—Lagipula
di kemudian hari... gara-gara mengirimkan foto ini kepada kami berdua, Yuu-senpai
akhirnya dihajar habis-habisan oleh istri pemilik restoran, tetapi itu adalah
kisah di lain kesempatan.
Bagaimanapun
juga, aku sudah memahami kronologi dan alasan Nanami meminjam gaun maid dari
sang senior. Walaupun misteri mengenai kenapa harus gaun maid masih
belum sepenuhnya hilang, sih.
"Youshin,
kamu tidak senang kalau aku memakai gaun maid?"
"Senang
banget, kok...!! Tidak, cara bertanyanya curang banget, kan."
Mana
mungkin aku tidak senang.
Kejadian
seperti ini sama halnya dengan disajikan makanan yang dari tampilannya saja
sudah kelihatan lezat, sehingga tidak mungkin terasa tidak enak.
Aku
merasa senang, gembira, dan secara sederhana ini benar-benar cuci mata yang
menyegarkan. Namun hal itu berbeda konteks dengan masalah apakah ada hal yang
perlu dikomentari atau tidak.
Padahal
dia sudah berdandan dengan penampilan yang benar-benar memancing komentar...
Ngomong-ngomong,
hadiah Valentine kali ini tidak hanya sebatas gaun maid yang dikenakan Nanami
saja. Menyebut Nanami yang memakai gaun maid sebagai hadiah memang terdengar
sebagai ungkapan yang agak gawat, tetapi itu adalah perkataan dari dirinya
sendiri.
Aroma
manis yang kurasakan saat masuk ke kamar tadi... ternyata sumbernya adalah
hadiah Valentine ini.
"...Jadinya
luar biasa banget, ya."
Di
atas meja, terhampar kue cokelat, macaron, donat, dan lain-lain...
Berbagai macam makanan manis tertata memenuhi ruangan meja yang terbatas.
Jika
makanan manis sebanyak ini berjejer rapi, pantas saja ruangan ini dipenuhi oleh
aroma yang manis.
"Ehehe,
Youshin... Selamat Hari Valentine. Ini cokelat dariku, ya~"
"Masih
ada lagi, nih?!"
Dari
balik apron gaun maidnya, Nanami menyerahkan sebuah kotak berbungkus imut
padaku. Mungkin disesuaikan dengan gaun maid hari ini, kertas pembungkusnya
berwarna merah muda.
Karena
dia menyebutnya sebagai cokelat, sepertinya di dalam kotak ini pun berisi
cokelat, ya. Padahal kuenya sendiri sudah kelihatan seperti kue cokelat... tapi
dia masih menambahkan cokelat lagi.
...Jangan-jangan,
yang ini juga?
Aku
mengambil sebuah gumpalan bulat bening yang memancarkan kilau bagaikan batu
permata. Tadinya kukira ini adalah hiasan atau semacamnya, tetapi ternyata
ini...
"Permen?"
"Kalau
yang itu tentu saja barang buatan pabrik, sih, permen rasa buah."
Sampai
ada permen juga, ya. Tapi benar juga, kalau permen tentu saja barang buatan
pabrik, ya... tentu saja begitu...
Eh...
tunggu? Tadi dia bilang "kalau yang itu"? Eh? Tunggu dulu,
jangan-jangan selain permen ini semuanya... buatan Nanami sendiri?
Buatan
tangan?
Saat
aku mengarahkan pandanganku ke arah Nanami secara mendadak tanpa bersuara,
Nanami mengangkat tangannya lebar-lebar seolah hendak menggaruk kepala bagian
belakang, lalu memejamkan sebelah matanya sembari menjulurkan lidah...
Dia
memperagakan pose yang biasa disebut tehepero. Tidak, meskipun kamu
memperagakan pose seimut itu, jumlah makanan sebanyak ini... rasa kalau ini
sudah berlebihan tidak akan bisa hilang dari benakku, lho?
Bukankah
ini sudah disiapkan sejak lama? Kapan dia sempat melakukan hal semacam ini?
Padahal
aku sendiri sampai keteteran hanya untuk membuat cupcake... Apakah orang
yang terbiasa memasak memang punya level yang berbeda, ya.
"Ah,
tenang saja. Yang ada di atas meja ini bukan cuma buatanku sendiri, kok, Ibu
dan Saya juga ikut membantu sedikit... jadi tidak sebanyak yang kamu
bayangkan."
"Tidak
sebanyak yang kubayangkan? Dengan jumlah sebanyak ini...?"
Maksudnya,
ini juga mengandung makna sebagai cokelat dari para wanita di keluarga Barato,
ya. Jika memang begitu, saat ini aku menerima cokelat pertama dari Nanami...
sekaligus dari keluarga Barato.
Siapa
sangka hal semacam ini bakal terjadi pada hari ini... Kalau begini jadinya, aku
harus berusaha keras saat White Day nanti, nih. Atau lebih tepatnya, cupcake
buatanku jadi terasa sedikit... sangat sederhana jika dibandingkan dengan ini.
"Nanami...
kenapa sampai buat sebanyak ini...?"
"Habisnya...
sudah lama tidak buat kue jadi terasa seru banget... Terus karena ini Valentine
pertama kita, aku jadi agak terlalu bersemangat."
Kalau
dibilang bersemangat, bukankah ini benar-benar terlalu bersemangat, ya.
Lagipula semuanya kelihatan lezat... padahal aku tidak begitu sering makan macaron.
Hanya
saja... rasanya aku merasakan sedikit impresi yang familiar dari jajaran
makanan ini. Selain kue cokelat, perpaduan antara macaron, donat, dan
permen rasanya baru saja kulihat belakangan ini...
"Semuanya
kelihatan lezat, ya... Pasti merepotkan banget buatnya, kan?"
"Tidak
juga, kok. Aku suka memasak, dan karena ada beberapa yang bisa tahan lama jadi
kubuat secara bertahap... Yang agak merepotkan mungkin cuma kuenya saja."
"Kalau
yang ini... di atasnya diberi hiasan apa, ya? Aku belum pernah melihat yang
seperti ini..."
"Kalau
yang ini kucoba beri hiasan marron glacé. Karena Ibuku sempat
membuatnya, aku ikut membantu lalu minta dibagikan sedikit."
...Lho?
Rasanya baru-baik saja aku melihat kata marron glacé. Di mana aku
melihatnya, ya...?
Tepat
saat aku mencoba mengingatnya kembali... aku pun teringat.
Benar,
aku melihatnya sebelum membuat cupcake. Kalau tidak salah, itu...
"Cinta
abadi... bukan?"
Benar,
kalau tidak salah aku melihatnya saat mencari tahu soal kudapan yang tidak
boleh diberikan pada Hari Valentine beserta makna-makna dari setiap kudapan.
Kalau
tidak salah, cokelat, macaron, hingga donat masing-masing memang punya
maknanya sendiri, kan...? Karena itulah makanya terasa familiar atau seperti
ada sensasi déjà vu.
...Ah,
Nanami mendadak mematung. Kupikir itu karena aku mengatakan hal yang aneh...
tetapi ternyata...
"Youshin...
kamu... tahu?"
"Heh...?
Ah... jangan-jangan Nanami juga tahu...?"
Dengan
kedua pipi yang merona merah, Nanami mengambil nampan yang diambilnya dari
entah mana untuk menutupi bagian bawah wajahnya.
Dia
kemudian duduk terduduk begitu saja sembari mengarahkan pandangan matanya ke
atas menatapku. Matanya bergetar penuh keharuan seolah hendak meneteskan air
mata, membuat paras wajahnya tampak sedikit bersinar.
"Emm,
aku kan juga... mencari tahu demi menyiapkan hadiah... tapi... tak
disangka..."
"Iya...
Aku jadi ingin mencoba menyiapkan semua kudapan yang punya makna baik..."
"Jadi
karena alasan itu kamu sampai begitu bersemangat, ya..."
"Mana
kutahu kalau Youshin ternyata tahu juga... rasanya agak malu..."
Tidak,
kurasa tidak ada alasan untuk merasa malu, sih...
Donat
bermakna "sangat suka", permen bermakna "suka", dan macaron
bermakna "orang yang spesial", kan?
Bagaimanapun
juga... ini adalah deretan makanan manis yang memancarkan perasaan suka secara
bertubi-tubi. Karena tidak pernah menyangka bakal dihadiahi perasaan sebanyak
ini, ini menjadi sebuah kejutan yang sangat membahagiakan.
"Uu...
padahal aku tidak menceritakan maknanya karena takut dikira memberikan perasaan
yang terlalu berat..."
"Sama
sekali tidak, aku tidak menganggapnya berat kok. ...Meskipun bakal agak
keteteran untuk menghabiskan semuanya."
"Beneran...?
Syukurlah kalau begitu..."
Sembari
melirik Nanami yang menghela napas lega, aku kembali memandangi deretan makanan
manis di atas meja.
...Jumlah
makanan manis ini benar-benar sangat banyak sampai-sampai bisa membuat
seseorang mengalami kenaikan berat badan karena terlalu bahagia. Aku jadi bisa
sedikit memahami perasaan Shouichi-senpai.
Menghabiskan
jumlah sebanyak ini sendirian... rasanya agak berat, ya. Tidak, bakal
kuhabiskan, kok. Aku tidak berniat membagikannya ke orang lain.
Mari
kita nikmati perasaan Nanami ini dengan sebaik-baiknya. ...Lalu mari kuberikan
pula perasaanku pada Nanami.
"Tunggu
sebentar, ya."
Aku
keluar kamar sejenak, lalu mengambil cupcake yang sudah kusiapkan
sebelumnya. Meskipun sudah kubungkus seimut mungkin...
Mari
kita tutupi sedikit kekurangannya dengan ketulusan perasaan. Setelah kembali
masuk ke dalam kamar, aku duduk tepat di hadapan Nanami.
"Nanami,
Happy Valentine."
Aku
menyerahkan cupcake yang sudah terbungkus rapi kepada Nanami. Nanami
menerimanya, lalu mengulurkan kedua tangannya dengan gembira sembari
memperhatikannya secara saksama.
Lalu...
aku menyodorkan satu hadiah lagi kepada Nanami.
"Sekali
lagi, ini adalah perasaanku."
Pada
saat melihatnya, mata Nanami terbelalak kaget. Yang kusodorkan kepada Nanami
adalah... bunga mawar.
Ukurannya
tidak sebanyak buket bunga, melainkan hanya ikatan empat tangkai bunga mawar
berwarna merah menyala.
"Maukah
kamu menerimanya?"
"Eh...?
Eh?"
Melihat
ekspresi wajahnya itu, aku yakin kejutanku telah berhasil.
Beli
bunga padahal bukan gayaku sama sekali ternyata tidak sia-sia.
Ini
juga mengikuti tradisi Valentine di luar negeri. Di sana, pihak laki-laki yang
memberikan hadiah kepada pihak perempuan, dan memberikan bunga mawar adalah hal
yang umum dilakukan.
Memberikan
mawar merah untuk menyampaikan rasa cinta. Karena itulah kali ini kami bertiga,
anak laki-laki yang memutuskan untuk memberikan hadiah, masing-masing membeli
bunga mawar.
Kabarnya
Teshikaga sudah menyerahkannya lebih dulu kepada Shirishizu, tetapi tampaknya
hal itu tidak sampai bocor ke Nanami. Usaha menjaga rahasia terbukti berfungsi
dengan baik.
"...Terima
kasih."
Senyuman
Nanami saat menerima bunga tersebut tidak kalah indahnya dari mawar merah itu
sendiri.
Sebagai
informasi... makna dari empat tangkai mawar merah adalah "perasaanku tidak
akan berubah sampai mati". Hal ini sih terlalu memalu-malukan, jadi tidak
akan kusampaikan lewat kata-kata untuk saat ini.
Saat
aku berpikir untuk menyampaikannya di momen lain saja... sebuah benturan
menjalar di tubuhku.
Rasa
benturan seolah-olah sesuatu yang besar dan lembut menabrakku, dan saat aku
menyadarinya, aku sudah dipeluk dan dicium oleh Nanami yang merasa sangat
terharu.
Aku
dicium dengan ciuman seolah bibir kami saling melekat, hingga suara basah yang
kecipak bergema di dalam kamarku.
Bagaikan
kilatan petir yang menjalar dari bibir ke seluruh tubuh, rasa kebas yang aneh
menyelimuti seluruh badanku. Aku disuguhi ciuman penuh gairah yang tidak kalah
hangatnya dari bunga mawar tersebut...
Aku
dan Nanami saling menindihkan tubuh hingga ambruk di tempat itu. Bukan dalam
arti yang aneh, kami hanya saling bertumpukan seperti biasa...
Dengan
posisi Nanami yang berada di atas tubuhku, aku malah mengutarakan kalimat yang
terkesan sangat konyol.
"...Apakah
teh hitamnya sudah dingin, ya?"
Entah
apa yang sedang kukkhawatirkan, tetapi teh hitam yang kuseduh tadi mungkin...
pasti sudah menjadi dingin. Namun bagi kami yang saat ini wajah dan tubuhnya
terasa sangat membara, kondisi tersebut mungkin justru lebih menguntungkan.
"Emm,
tidak apa-apa, kan?"
Di
atas tubuhku, Nanami sempat membenamkan wajahnya di dadaku, lalu bergerak
merayap menaiki badanku. Kemudian... dia mendekatkan wajahnya hingga ke batas
maksimal pada wajahku yang terbaring... lalu menempelkan hidung kami satu sama
lain.
"Akan
kuhangatkan dengan cintaku."
Nanami
yang tersenyum malu-malu, mengulangi ciumannya sekali lagi padaku—mungkin untuk
menyembunyikan rasa malunya.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
Karena
Hari Valentine jatuh pada hari kerja biasa, aku dan Nanami hanya merayakannya
secara sederhana.
Yah,
meskipun dibilang sederhana, kenyataan bahwa aku menerima hadiah dalam jumlah
yang sangat banyak hingga tidak seimbang dengan hadiah dariku merupakan sebuah
kalkulasi yang meleset, sih.
Awalnya
kami memang berencana untuk melakukan kencan Valentine hari ini, tetapi rasanya
hal ini saja masih belum cukup untuk membalas kebaikannya... atau lebih
tepatnya, kabarnya Nanami hari ini juga berniat memberikanku hadiah Valentine
lagi.
Lebih
dari itu... kalau tidak salah dia sempat bilang bahwa hadiah ini tidak bisa
diserahkan kalau bukan hari ini.
Kira-kira
apa yang berniat dia berikan padaku, ya?
Lebih
dari itu... timbul perasaan yang lebih kuat mengenai apa yang sebenarnya
berniat dia lakukan.
Melihat
besarnya perasaan dari jumlah hadiah pada hari Valentine kemarin, aku sama
sekali tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Kalau
begini jadinya, aku benar-benar harus mengerahkan seluruh tenaga untuk
membalasnya saat White Day nanti.
Begitulah
hal-hal yang sempat kupikirkan. Meskipun berpikir demikian, tadinya aku cuma
berniat memberikan balasan biasa dalam batas norma yang wajar, sih. Sama sekali
tidak pernah terlintas di benakku... bahwa bakal terjadi situasi di mana aku
benar-benar harus memikirkan balasan White Day secara amat sangat
serius.
Perkataan
Nanami waktu itu mengenai 'Akan memberikan cokelat yang luar biasa'.
Hal
tersebut... baru akan dimulai dari sekarang.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
"Selamat
datang... lho, ternyata kalian berdua, ya."
"Halo,
Yuu-senpai. Kami datang berkunjung sebagai pelanggan."
"Halo~
Kami mampir di tengah-tengah kencan~"
Meskipun
Hari Valentine sudah lewat, kami yang sedang melakukan kencan Valentine
melangkahkan kaki ke restoran barat tempat kami bekerja paruh waktu. Meskipun
niat awalnya adalah untuk beristirahat atau menikmati minum teh, tujuan kami
datang ke sini bukan cuma sebatas itu saja.
Kami
diantar menuju tempat duduk, lalu diberi segelas air dingin... Tampaknya hari
ini Shouichi-senpai juga berada di tempat, dan yang menyajikan air dingin untuk
kami adalah sang senior.
"Yoo
kalian berdua, apakah kalian menikmati Hari Valentine kemarin?"
"Ah,
iya. Berkat bantuan semuanya, kami bisa menikmatinya dengan menyenangkan.
Terima kasih banyak."
"Tidak
perlu menyampaikan terima kasih... ingin rasanya aku berkata begitu, tapi...
tahun depan bakal sangat membantu kalau kalian berdua mau mengambil jadwal
kerja paruh waktu tepat di hari Valentine..."
"Tahun
depan...? Memangnya ada kejadian apa?"
"Nao-nee
tidak hanya menyuruh dirinya sendiri, tapi juga menyuruh kami para laki-laki
memakai pakaian butler... jadinya tempat ini ramai luar biasa... Tahun
depan aku ingin Youshin-kun ikut memakai pakaian butler bersama..."
...Apa
yang sedang dilakukan oleh orang itu, sih.
Saat
aku melayangkan pandangan mata ke arah Yuu-senpai, beliau yang menyadari
tatapanku langsung memperagakan pose tehepero. Orang ini sama sekali
tidak merasa bersalah, ya.
Para
pekerja wanita mengenakan gaun maid, sementara para pekerja laki-laki
mengenakan pakaian butler.
Mungkin
juga karena dipromosikan di media sosial, jumlah pelanggan yang datang kabarnya
luar biasa banyak hingga membuat suasana tempat kerja bagaikan medan perang.
Merasa
bersalah juga rasanya melihat kami malah bersantai-santai di tengah situasi
seperti itu...
"Pakaian
butler milik Youshin... ingin lihat..."
Ah,
gawat. Nanami malah terpancing.
Jangan
dong, tujuan kita kali ini kan bukan pakaian butler, jadi tenanglah. Tolong
tenang, ya?
Nanami
yang sepertinya menyadari tatapanku, berdehem pelan sekali lalu memesan makanan
pada Senior.
"Ngomong-ngomong,
apakah Senpai tahun depan masih akan melanjutkan kerja paruh waktu di restoran
ini?"
"Begitulah,
sebentar lagi aku memang akan kelulusan, sih... tapi kalau bisa berlanjut, aku
ingin melanjutkannya."
"Apakah
karena sudah bekerja cukup lama jadi ada keterikatan emosional...?"
"Tidak
juga... cuma karena proses wawancara di tempat kerja paruh waktu yang baru
rasanya merepotkan saja..."
Tiba-tiba
keluar alasan yang terasa sangat khas murid SMA biasa.
Tidak,
Shouichi memang murid SMA biasa juga, sih. Walaupun demikian, rasanya tetap
terasa segar.
Tapi
benar juga, ya, Senpai... bulan depan sudah akan lulus.
Apakah
sebaiknya memberikan semacam hadiah perayaan kelulusan? Bagaimanapun juga
beliau sudah banyak membantu, dan meskipun awal pertemuan kami agak unik,
hubungan kami sudah berjalan cukup lama...
Yah,
meskipun yang kami serahkan hari ini berbeda dari hadiah kelulusan, sih.
"Shouichi-senpai,
kalau berkenan silakan dinikmati bersama yang lain."
"Iya,
Senpai. Dari saya juga silakan diterima."
Kami
mengeluarkan kue dari dalam tas yang kami bawa, lalu menyerahkannya kepada Senpai.
Milikku adalah cupcake buatan sendiri, sedangkan milik Nanami adalah
cokelat buatannya.
Senpai
mengedipkan matanya keheranan, lalu menerima pemberian dari kami berdua.
Kencan
Valentine kali ini memang mencakup agenda untuk memberikan hadiah kepada
orang-orang yang telah membantu kami selama persiapan Valentine.
Kami
memutuskan untuk memberikan hadiah kue ini... sekaligus sebagai bentuk rasa
terima kasih karena tempat kerja paruh waktu telah memberi kami izin libur pada
hari Valentine dan akhir pekan ini.
Meskipun
tadinya belum pasti apakah mereka bakal senang atau tidak, sepertinya mereka
menyukainya.
"...Punya
Barato-kun ini tidak apa-apa diterima?"
Meskipun
Senpai menerima pemberian dariku dengan lugas, beliau memandangi cokelat dari
Nanami dengan agak ragu-ragu.
"Karena
semuanya sudah banyak membantu, silakan dinikmati bersama seluruh staf
restoran, ya."
Nanami
tersenyum ramah seolah hal itu bukanlah masalah besar, tetapi Senpai justru
tertawa agak canggung sembari memundurkan badannya sedikit. Mungkin karena ini
pertama kalinya Nanami memberikan cokelat kepada orang lain selain aku dan
keluarganya. Justru karena itulah, Nanami juga berpikir ingin memberikannya
kepada orang-orang yang telah membantunya di restoran ini.
Karena
aku juga membuat kue dalam jumlah yang lumayan banyak, rencananya sisanya akan
kutinggalkan di ruang karyawan nanti. Aku tidak tahu apakah ini bisa menjadi
bentuk rasa terima kasih yang cukup atau tidak, sih.
"Kalau
alasannya begitu, aku akan menerimanya dengan senang hati. Nanti akan kubagikan
agar bisa dimakan bersama yang lain. Tapi..."
"Emm?
Ada apa?"
"Jangan-jangan
ini buatan tanganmu sendiri, Youshin-kun? Rasanya sungguh sebuah kehormatan...
atau lebih tepatnya aku agak terkejut ternyata kamu bisa membuat kue..."
"Ah...
belakangan ini memasak terasa cukup menyenangkan, atau lebih tepatnya aku suka
kalau ada orang lain yang menyantap masakan buatanku."
Hal
itu memang benar. Alasan awal aku mulai memasak adalah karena ingin
menyajikannya untuk Nanami, tetapi belakangan ini proses memasaknya sendiri
terasa makin menyenangkan.
Sejak
berpacaran dengan Nanami aku juga jadi mulai melakukan pekerjaan rumah tangga,
dan memasak adalah salah satu di antaranya... lagipula memasak tergolong ke
dalam hal yang paling kusukai. Aku juga terkadang memasak untuk kedua orang
tuaku, dan saat mereka bilang masakanku enak, rasanya sungguh membahagiakan.
Dahulu
aku adalah tipe orang yang kalau merasa malas bakal memilih beli di minimarket
atau bahkan tidak makan sekalian, jadi tidak pernah menyangka kalau pada
akhirnya aku bakal terbiasa memasak sendiri...
"Begitu
ya... Kalau begitu, apakah Youshin-kun bermaksud menempuh jalan karier ke arah
sana di masa depan?"
"Ah...
saya belum berpikir sejauh itu, sih... Atau lebih tepatnya, aku cuma membuatnya
khusus untuk Nanami saja..."
"Anichi...
Pemilik restoran juga awalnya berawal dari hal seperti itu, jadi alasan
pemicunya bisa apa saja. Menurutku tidak ada salahnya kamu mulai memikirkan hal
semacam itu juga."
...Masa
depan, ya.
Sama
halnya dengan pembicaraan mengenai Senpai yang akan lulus bulan depan, topik
mengenai masa depan tiba-tiba saja muncul di tempat yang tidak terduga. Sama
sekali tidak menyangka bakal mendengarkan topik pembicaraan semacam ini saat
kencan Valentine...
Kalau
dipikir-pikir secara mendalam, semua orang memang punya impian masa depan
masing-masing, ya. Sedangkan aku... tidak punya hal semacam itu. Seperti jalur
pendidikan atau karier yang ingin kutuju, misalnya. Rasanya seperti konsekuensi
dari pola hidup pemalas yang kujalani selama ini mulai menghampiriku...
"Ah,
tidak, maaf ya. Ini bukan topik yang pantas dibicarakan saat sedang kencan.
Kalau begitu, silakan nikmati waktu kalian."
"Ah,
iya..."
Shouichi-senpai
mendadak menyungkurkan diri dan mundur.
Saat
aku memperhatikan dengan saksama, Nanami sedang menatap kami dengan mata
terpejam separuh, memancarkan aura seolah berkata aku sedang marah.
Tidak perlu sampai sebingung itu juga padahal...
Ternyata
karena itulah Shouichi-senpai mendadak memilih mundur, ya.
"...Ada
apa?"
"Wajah
Youshin kelihatan agak muram tadi. Kalau soal masa depan, aku juga bakal ikut
memikirkannya bersama, jadi jangan dipendam sendiri dan ceritakan padaku,
ya."
"Tidak
kok, ini tidak sampai tahap memikirkannya secara mendalam. Aku cuma belum tahu
apa yang sebenarnya ingin kulakukan."
"Kalau
Youshin ingin masuk ke bidang kuliner, aku bakal mendukungmu, dan aku akan
memberikan dukungan penuh untuk apa pun yang ingin kamu lakukan."
Sangat
berbanding terbalik dengan tatapan mata separuhnya tadi, Nanami tersenyum tipis
lalu menggenggam tanganku. Kalimat yang menenangkan hati, tetapi terus-menerus
manja padanya juga merupakan hal yang tidak baik.
Sebentar
lagi aku juga akan menjadi murid kelas 3... Mungkin memang sudah saatnya aku
memikirkan hal-hal semacam itu secara serius. Meskipun rasanya agak terlambat,
sih.
"Yah,
aku ingin kita bisa masuk ke universitas yang sama, sih. Sisanya... kalau Youshin
bilang ingin jadi ayah rumah tangga sepenuhnya di masa depan, aku tidak
keberatan menafkahimu... tidak, meskipun kamu tidak melakukan apa-apa pun
aku..."
"Tunggu
dulu Nanami, memanjakanku sampai membentuk manusia tidak berguna seperti itu
jelas tidak boleh, kan..."
Tidak
melakukan apa pun dan bergantung pada Nanami itu kan namanya sepenuhnya pria
benalu (himo). Kalau sampai menjadi pria benalu setelah melakukan semua
ini, rasanya bagaimana gitu. Kalau dibilang santai atau tidak, mungkin memang
kelihatan santai, sih.
...Tidak,
pikiran pasti tidak akan tenang. Rasanya bakal sangat menguras mental. Kalau
sampai terbiasa, jiwaku bisa mati, dan aku tidak bisa protes kalau sampai
dicampakkan nantinya.
Setuju,
mari kita pikirkan soal masa depan ini secara serius. Meskipun begitu, untuk
kencan hari ini aku akan menikmatinya dengan sepenuh tenaga.
"Aku
juga ingin mendukung impian masa depan Nanami, kok. Lagipula aku tidak mau cuma
bergantung sepenuhnya padamu... Jadi, tolong bantu aku berdiskusi nanti,
ya."
"Iya,
dengan senang hati aku bakal membantumu berdiskusi."
Lagipula
membicarakan soal masa depan saat kencan rasanya terlalu berat. Kencan adalah
kencan, dan pembicaraan masa depan adalah pembicaraan masa depan, batasan itu
sangat penting.
Nah
kalau begitu... mari pergi ke belakang sebentar untuk menyerahkan kue buatanku
pada pemilik restoran dan yang lainnya.
Saat
aku beranjak dari tempat duduk dan berjalan ke area belakang, pemilik restoran
dan yang lainnya kelihatan agak terkejut. Meskipun Yuu-senpai yang sudah tahu
keberadaan kami tidak seterkejut itu, sih.
Cokelat
yang diserahkan Nanami berjumlah banyak jadi sepertinya bakal cukup, tetapi
untuk cupcake buatanku jumlahnya memang terbatas karena tidak bisa
dikemas dalam jumlah banyak...
Saat
kuserahkan, mereka tampak heran secara tak biasa. Entah kenapa Shouichi-senpai
malah memasang wajah bangga. Lucu sekali melihat semua orang menggerakkan
kepala keheranan tanpa tahu alasannya.
"Kalau
begitu, nih. Ini cokelat dari aku, ya. Dimakan berdua bareng Nana-chan,
ya."
"A-Ah,
terima kasih banyak. Saya akan berusaha membalasnya nanti."
"Tidak
usah, ini sendiri sudah dianggap sebagai balasan kok, jadi tidak perlu
dipikirkan..."
Ah,
jadi begitu sistemnya, ya. Shouichi-senpai juga bilang agar aku menantikan
balasan White Day darinya, sementara pemilik restoran beserta istri
bilang bakal memberikan bonus layanan.
Padahal
ini cuma bentuk terima kasih karena sudah diberi libur... tidak perlu sampai
serepot itu padahal... Namun bagaimanapun juga, mari kita terima kebaikan hati
mereka dengan penuh rasa syukur.
Setelah
itu, aku kembali menuju tempat duduk di mana Nanami sedang menunggu...
"Lho?
Misumai-kun, hari ini datang sebagai pelanggan?"
"Ah,
selamat datang. Iya, hari ini saya sedang libur... jadi... anu..."
"Ara
ara, sedang kencan, ya? Senangnya ya, mumpung masih muda. Saya sendiri entah
sudah berapa tahun tidak pernah kencan lagi dengan suami..."
"Sama,
di rumahku juga begitu. Makanya kita bisa berkumpul buat acara minum-minum para
wanita (joshi-kai) seperti ini, kan."
Dalam
perjalanan kembali, aku disapa oleh para ibu-ibu pelanggan tetap. Tampaknya
mereka sedang berkumpul di meja langganan mereka dan sibuk mengobrol seperti
biasanya.
Meskipun
hari ini aku libur, aku tidak menyangka bakal berpapasan dengan mereka seperti
ini. Karena biasanya aku bekerja paruh waktu sepulang sekolah, kupikir mereka
hanya akan datang di jam-jam tersebut.
Saat
aku berpikir... waduh, aku tertangkap oleh para ibu-ibu sampai kehilangan momen
untuk pamit... tiba-tiba sebuah suara terdengar menyapa dari samping.
"Youshin,
sudah diserahkan~? Lho, Selamat datang semuanya."
Mendengar
kata 'Selamat datang' tersebut, para ibu-ibu kompak menggerakkan kepala
keheranan. Tampaknya mereka merasakan kejanggalan pada ungkapan selamat datang
yang diucapkan oleh Nanami.
Benar
juga, Nanami hari ini... mengenakan gaya busana gal yang sangat
kental...
Yah,
karena sedang musim dingin, tingkat keterbukaannya memang agak dikurangi, sih. Dia
mengenakan celana jins ketat yang memperlihatkan garis kakinya dengan indah,
dipadukan dengan atasan putih berbentuk semacam tank top... apakah itu tank
top, ya?
Baju
atasan itu memperlihatkan bagian bahu hingga pusarnya.
Rambutnya
ditata dengan gelombang halus, dan dia tidak mengenakan kacamata yang biasa
dipakainya saat bekerja paruh waktu. Benar, tidak salah lagi ini adalah sosok gal
sejati.
"Anu...?"
"Lho?
Jangan-jangan dia perempuan yang dulu pernah bersama Misumai-kun...?"
Tampaknya
ada satu orang yang mengenali bahwa dulu aku pernah bersama Nanami. Mungkin
saat Nanami datang bermain ke sini sebelum dia mulai bekerja paruh waktu di
tempat ini.
Kalau
tidak salah saat muncul dugaan kalau aku... menyukai Barato-san, beliau memang
sudah tahu keberadaan Nanami, sih. Padahal keduanya adalah orang yang sama jadi
terasa membingungkan, ya. Atau jangan-jangan Nanami berniat membongkar
rahasianya di sini?
Saat
kucuri-curi pandang ke arahnya, Nanami mengangguk pelan.
Aah,
ternyata benar, toh. Makanya dia sengaja menghampiriku yang sedang tertangkap
oleh mereka. Dia bahkan sengaja memberikan sinyal dengan mengucapkan kalimat
'Selamat datang'...
Aku
menadahkan telapak tanganku ke atas bagaikan seorang pemandu elevator,
mengarahkannya ke arah Nanami seolah sedang memperkenalkannya.
"Sebenarnya
saat ini, saya sedang berkencan dengan Barato-san..."
Seolah
menjadikan suaraku saat memperkenalkan sebagai aba-aba, Nanami membungkuk
memberi hormat dengan sangat anggun. Semua orang mematung melihat ketimpangan
antara gesturnya yang biasa terlihat saat bekerja paruh waktu dengan
penampilannya saat ini.
Seraya
tak mampu mengeluarkan suara, pandangan mata mereka bergantian menatap wajahku
dan Nanami, lalu berhenti tepat di wajahku.
"Barato-san...
Dia adalah Barato Nanami-san yang bekerja paruh waktu di sini."
Bukan
karena ini hal yang teramat penting... tetapi aku mencoba memperkenalkannya
sekali lagi.
Setelah
hal itu tersampaikan dengan baik, mata para ibu-ibu mendadak berbinar-binar
penuh semangat. Bagi mereka, ini mungkin adalah gosip... atau topik obrolan
terbaik.
"Ara,
ara ara ara..."
"Araa
~... Ternyata orang yang sama, ya..."
Yah,
dengan begini kesalahpahaman awal terhadap diriku rasanya sudah teratasi.
Bukannya aku menduakan perasaan pada dua orang wanita, melainkan cuma pada satu
orang...
"Senangnya
ya mumpung masih muda, bisa dapat kekasih di tempat kerja paruh waktu... Mulai
sekarang kerja paruh waktunya pasti makin menyenangkan, ya..."
...Lho?
Kenapa rasanya kesalahpahamannya belum sepenuhnya lurus, ya? Lebih dari itu,
skenario seperti apa yang sedang terbentuk di dalam kepala mereka?
"Benar
banget, lho~ Ah, tapi saya akan tetap bekerja dengan serius kok, jadi tenang
saja, ya."
"Ara
ara, begitu ya. Pakaian seperti itu ternyata cocok juga untuk Barato-san, ya.
Ngomong-ngomong, sejak kapan kalian mulai berpacaran?"
"Saat
Valentine kemarin, saya yang menyatakan perasaan padanya."
"Ara
ara ara, ternyata dari Barato-san duluan? Tak disangka, ya..."
Nanami
dengan lancar membeberkan pengaturan latar belakang yang baru. Tidak, memang
benar kalau harus menjelaskan semuanya secara jujur apa adanya malah bakal
memakan waktu sangat lama, sih...
"Kalau
begitu kami permisi dulu, ya. Silakan nikmati waktunya. Youshin, ayo."
"Ah,
sampai jumpa di hari kerja paruh waktu berikutnya... Kami permisi."
Mendengar
perkataan Nanami, aku ikut beranjak meninggalkan meja mereka. Setelah ini,
tempat itu pasti bakal dipenuhi oleh gosip-gosip hangat.
Bagaimanapun
juga, saat bekerja paruh waktu Nanami memanggilku dengan sebutan 'Misumai-senpai',
sedangkan Nanami yang sekarang memanggilku 'Youshin'. Rasanya hal itu sudah
memberikan bahan yang sangat cukup untuk mengobarkan imajinasi mereka.
Yah,
paling tidak hal ini tidak akan menjadi gosip yang merusak nama baik.
Setelah
kembali ke tempat duduk kami, aku mencoba memastikan hal tersebut pada Nanami
untuk berjaga-jaga.
"Kenapa
Nanami memberikan penjelasan yang agak aneh begitu...?"
"Yah...
habisnya menjelaskan hal-hal detail rasanya merepotkan... Lagipula kan
orang-orang seperti mereka cuma ingin tahu hasilnya daripada prosesnya."
Memang
benar sih, rasanya mereka memang cuma ingin tahu hasilnya saja. Atau lebih
tepatnya, bagian merepotkannya itu memang benar adanya.
Soal
hal itu rasanya masih dalam batas toleransi, atau dengan kata lain tidak
masalah meski tidak menceritakan detailnya secara rinci. Yang penting fakta
bahwa aku dan Nanami berpacaran sudah tersampaikan, jadi tidak ada masalah.
Lagipula,
untuk kencan yang sudah sekian lama tidak dirasakan ini... rasanya enggan
menghabiskan waktu untuk hal-hal aneh, kan.
"Lagipula
dengan begini, gosip aneh tentang Youshin di tempat kerja paruh waktu sudah
bisa dikikis habis..."
"Benar
juga, ya, sebelum muncul gosip aneh seperti menduakan perasaan..."
"Jadinya
saat jam kerja pun kita bisa bermesraan secara terang-terangan, kan~"
"Bukannya
tadi kamu bilang bakal bekerja dengan serius, ya?!"
Kalau
hal itu jelas-jelas tidak boleh jadi aku tidak bisa memberikan izin, tahu?
Saat
kutegaskan demikian, Nanami sambil menjulurkan lidahnya berkata cuma
bercanda, cuma bercanda. Kalau memang benar-benar bercanda sih tidak
apa-apa, tapi...
Yah,
pemanggilan 'Barato-san' saat jam kerja sepertinya bakal tetap kulanjutkan.
Mengingat batasan profesionalitas itu penting...
Setelah
itu kami berdua menghabiskan waktu sejenak membicarakan topik tempat kerja
paruh waktu ke depannya, lalu Yuu-senpai datang membawakan pesanan makanan.
"Yaaa,
maaf ya membuat kalian berdua menunggu~ Terus yang ini, bonus layanan
Valentine, ya~"
Bersamaan
dengan kopi dan makanan ringan, hal yang dibawakan oleh Yuu-senpai adalah dua
potong kue cokelat. Bentuknya menyerupai hati dan tersiram saus beri yang
tampak cantik.
Hanya
saja, masalah utamanya adalah...
"Yuu-senpai...
garpunya cuma ada satu, lho."
"Dasar
bodoh, mana seru kalau tidak saling menyuapi dengan satu garpu!"
Beliau
malah melontarkan hal yang sangat tidak masuk akal dengan dalih first bite.
Atau lebih tepatnya, itu bukan first bite, kan?
Bukankah
hal seperti itu biasanya dilakukan dengan dua garpu saat saling menyuapi...?
Sepertinya aku pernah melihatnya di acara pernikahan kerabat atau semacamnya...
Setelah
terlibat perdebatan sengit dengan Yuu-senpai, kami akhirnya mendapatkan dua
buah garpu, tetapi dengan syarat kami harus saling menyuapi kue satu sama lain.
...Jangan-jangan,
kami sedang dijebak oleh Yuu-senpai?
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
Mampir
ke tempat kerja paruh waktu saat kencan setelah sekian lama, kami malah
berakhir saling menyuapi kue satu sama lain.
Yah,
kalau kupikir-pikir sendiri rasanya memang cerita yang agak tidak masuk akal.
Namun bagaimanapun juga, fakta bahwa Nanami merasa gembira dan kami bisa
menyantap kue cokelat yang lezat adalah hal yang patut disyukuri.
Setelah
itu kami berdua keluar dari tempat kerja paruh waktu, lalu berjalan-jalan
santai menelusuri area perkotaan. Hari ini kami tidak punya tujuan khusus,
benar-benar hanya berjalan-jalan santai saja.
Jika
harus menyebutkan sebuah tujuan, atas permintaan Nanami kami ingin mencoba window
shopping atau melihat-lihat acara Valentine yang masih berlangsung. Meskipun
demikian, sebagian besar toko ternyata sudah berganti ke tema White Day...
hingga perubahan yang begitu cepat ini membuatku sedikit pusing.
Meskipun
begitu, beberapa acara Valentine... terutama yang berkaitan dengan cokelat
masih ada yang bertahan, jadi mari kita berjalan-jalan santai dengan tujuan
tersebut.
Ngomong-ngomong...
mungkin karena hari ini adalah hari libur setelah Valentine, rasanya di area
perkotaan ada banyak sekali pasangan kekasih. Apakah cuma perasaanku saja, ya?
Fakta
bahwa acara Valentine masih diselenggarakan mungkin juga diprediksi dari hal
tersebut. Meskipun demikian, suasana White Day memang terasa jauh lebih
mendominasi daripada Valentine.
Acara-acara
yang berkaitan dengan White Day sebaiknya kuingat baik-baik agar bisa
kanfaatkan untuk kencan bersama Nanami nanti.
"Ngomong-ngomong
soal White Day. Nanami, saat White Day nanti apakah ada barang
yang kamu inginkan atau hal yang ingin kamu lakukan? Katakan saja padaku, nanti
akan kukabulkan permintaannmu."
"Tunggu
dulu Youshin, padahal aku rasanya sudah seperti menerima balasan, apa kamu
masih berniat memberikan sesuatu lagi saat White Day nanti?"
"Habisnya...
setelah menerima begitu banyak hal darimu, kalau tidak membalas apa-apa
rasanya..."
Kue
cokelat bertabur marron glacé, macaron, hingga berbagai macam
cokelat dan makanan manis lainnya sudah kuterima, sih...
Meskipun
banyaknya jumlah tidak serta merta sebanding dengan besarnya perasaan, sih.
Tetap saja jika dibandingkan dengan hadiah dariku... rasanya masih kurang
seimbang. Lagipula hari ini pun, Nanami kabarnya berniat memberikanku cokelat
yang spesial... sebagai penutup kencan Valentine hari ini.
Padahal
aku sudah menerima begitu banyak buatan tangan yang spesial, tetapi cokelat
yang ini... katanya baru bisa diserahkan hari ini karena sedang hari libur.
Oleh karena itu, perancang rencana hari ini adalah Nanami. Karena disuruh
menantikannya, saat ini pun aku sudah tidak sabar menunggu datangnya malam
hari.
Bagi
Nanami sendiri, kencan di siang hari ini tampaknya dianggap sebagai jembatan
menuju acara di malam hari.
Oleh
karena itu, kami berencana pergi ke kamar Nanami lebih awal tanpa terlalu
banyak menguras tenaga.
Karena
matahari juga terbenam lebih cepat, kami berniat melihat lampu-lampu hiasan (illumination)...
Sampai waktu itu tiba, berjalan-jalan santai atau bersantai di kedai kopi
rasanya boleh juga.
Kencan
tanpa rencana matang seperti ini rasanya sudah lama sekali tidak dirasakan, ya.
Yah, karena saat White Day nanti tidak boleh tanpa rencana, makanya aku
menanyakannya seperti ini.
"Asalkan
bisa bersama denganmu rasanya sudah cukup, kok... Saat White Day nanti
kita kencan lagi, ya?"
"Emm...
paling tidak aku ingin... memberikan hadiah White Day juga. Lagipula ini
kan White Day pertama kita."
Karena
ini Valentine pertama, merasa ingin memberikan sesuatu di White Day
pertama tentulah merupakan hal yang alami, kan. Nanami pun tampaknya tersentuh
dengan poin 'yang pertama' ini.
Setelah
memikirkannya sejenak... Nanami yang sepertinya menemukan hal yang ingin
dilakukannya, mengacungkan jari telunjuknya ke atas.
"Kalau
begitu, saat White Day nanti aku ingin... makanan manis buatan Youshin."
"...Kalau
cuma sebatas itu sih, bakal kubuatkan dengan senang hati."
"Lalu,
anu... kalau bisa aku ingin kita buat bersama-sama."
"Buat
bersama-sama?"
Membuat
hadiah balasan bersama-sama itu... terasa sangat unik, tetapi sejujurnya
kelihatan menyenangkan juga. Namun saat aku bertanya-tanya kenapa, jawaban yang
keluar darinya ternyata sangat imut.
"Habisnya,
Youshin kan... sempat buat kue bareng Kenbuchi-kun dan Teshikaga-kun, kan?
Berlatih dan lain-lain... yang kalian sebut sebagai interaksi sesama laki-laki
itu."
"Ah,
kami memang sempat melakukannya, sih. Gara-gara hal itu perencanaannya berjalan
lancar, dan Hitoshi merasa sangat senang."
"Saat
mendengar hal itu, aku jadi merasa iri banget. Aku juga ingin membuat kue
bareng Youshin. Makanya untuk White Day nanti... buat bersamaku...
wah?!"
Gawat,
gara-gara berpikir kalau dia terlalu imut hingga ingin kupeluk, aku mendadak
benar-benar memeluknya. Momennya mungkin terlalu mendadak sampai membuatnya
kaget.
Sama
sekali tak terlintas di pikiranku kalau dia ternyata merasa iri dengan momen
kami yang membuat kue bersama saat itu. Momen riuh sesama laki-laki memang
menyenangkan, tetapi kalau dilakukan bersama Nanami sudah pasti bakal jauh
lebih menyenangkan.
"Ayo
kita buat bersama, kalau perlu ayo buat setiap minggu."
"Kalau
setiap minggu nanti bisa kegemukan gara-gara kebanyakan buat, jadi cukup saat White
Day berikutnya saja, ya."
Aku
ditolak.
Tapi,
gemuk... kegemukan, ya... Rasanya melontarkan ungkapan khas 'Kalau Nanami yang
gemuk sih bakal tetap kelihatan imut kok' di saat seperti ini pasti bakal
menjadi pernyataan yang sangat tidak peka.
Tidak,
kalau posisinya menjawab setelah ditanya oleh yang bersangkutan sih tidak
masalah, tapi... melontarkannya atas inisiatif sendiri rasanya tidak tepat, ya.
Setuju, sepertinya memang tidak tepat...
Mari
kita bicarakan hal yang lain saja.
"Aku
juga rasanya bakal mengalami kenaikan berat badan karena terlalu bahagia (shiawase-futori)
akibat Valentine kali ini... jadi kurasa harus memperbanyak olahraga... untuk
membakar kalori."
"Aah...
aku juga ikut sekalian, ah. Tadi aku lumayan banyak makan gara-gara mencicipi
ini itu."
"Kalau
tidak salah ingat, tahun lalu Nanami sempat bilang kalau dietmu berhasil, kan.
Padahal sama sekali tidak kelihatan gemuk... seperti di bagian perut..."
"Benar,
benar, karena berhasil makanya waktu itu minta dipegang perutnya oleh Youshin,
kan... Harus mulai olahraga lagi, nih."
Kira-kira
olahraga seperti apa yang dilakukan Nanami, ya? Kalau didengar dari ceritanya,
sepertinya dia tidak melakukan pembatasan makan yang ekstrem atau diet tidak
masuk akal yang sering dijumpai.
Bagaimanapun
juga, makan dalam porsi yang tepat dan berolahraga adalah cara terbaik, ya...
meskipun butuh kesabaran ekstra.
"Tapi
ya, menyebut kenaikan berat badan karena terlalu bahagia bukankah agak terlalu
cepat? Bukankah istilah itu cuma buat orang yang sudah menikah?"
"Begitu,
ya? Meskipun belum menikah, kalau makan makanan enak kan tetap bisa bikin
gemuk...?"
"Kalau
masih berstatus pacaran begini, apakah tetap bisa disebut shiawase-futori,
ya...? Paling tidak kalau sudah tinggal serumah, mungkin?"
"Bukankah
itu yang namanya malah makin terlalu cepat... Tapi kalau begitu, shiawase-futori
memang cuma masalah waktu saja, kan?"
"Bisa
jadi begitu juga, sih... Eh, tunggu? Cuma masalah waktu...?"
Kami
berdua mendadak saling bertatap muka, lalu terdiam membisu.
Tidak...
katakan sesuatu, dong. Aku sendiri yang mengucapkannya saja merasa kalau ini
sedikit tindakan 'bunuh diri'. Padahal belum ada langkah apa pun yang dilakukan
tetapi sudah membicarakan pernikahan hingga tinggal serumah.
Ini
bukan sekadar terlalu cepat lagi. Perihal definisi shiawase-futori
mendadak jadi tidak penting karena pembicaraan malah melenceng sejauh itu.
"Yah,
intinya mari kita berdua sama-sama menjaga bentuk tubuh, ya..."
"Apakah
tadi kita sedang membicarakan hal itu...? Tapi yah, aku juga setuju, sih...
Karena aku ingin Youshin selamanya menganggapku cantik, jadi aku ingin
mempertahankan bentuk tubuhku..."
Nanami
mengelus bagian pinggang hingga pinggulnya dengan tangan, tetapi posisinya
malah membentuk gaya yang sedikit menggoda.
Gaya
ini agak terlalu seksi jika dilakukan di luar ruangan, tapi... mungkin karena
hari ini ada banyak orang jadi keberadaan kami tidak begitu dipedulikan oleh
sekeliling, sebuah penyelamat, ya.
"Aku
juga... kalau Nanami tidak suka, aku harus menjaga agar tidak gemuk..."
"Mari
kita berdua... berjuang mempertahankan bentuk tubuh, ya... Kenaikan berat badan
karena bahagia juga bagus, sih... Ah, tapi..."
"Tapi?"
"Meskipun
Youshin jadi gemuk... aku bakal tetap suka padamu, kok?"
"...Terima
kasih. Aku juga kalau Nanami jadi gemuk, bakal tetap suka padamu, kok."
Perkataan
yang tadinya hendak kusampaikan dijawab seperti itu, jadi kubalas kembali
dengan harapan bakal baik-baik saja... tapi eh? Kenapa wajahnya malah mendadak
cemberut begitu? Kenapa, ya? Eh? Apakah aku mengatakan hal yang salah?
Di
tengah kepanikanku, Nanami menggembungkan kedua pipinya, lalu membentuk
ekspresi wajah yang terkesan agak merajuk.
"Dibilang
bakal tetap disukai meski gemuk memang membahagiakan, tetapi ditoleransi saat
gemuk itu rasanya tidak enak, itulah benak wanita (otome-gokoro) yang
rumit..."
"Rumit
banget benak wanita... Eh...?"
"Aku
paham, aku paham kok... Youshin tidak salah... Cuma saja, sedikit... cuma
sedikit saja rasa lega karena kegemukan bisa diterima itu rasanya tidak bisa
kumaafkan dari diriku sendiri..."
Aku
mengelus pelan pipi Nanami yang tampak sedang tenggelam dalam rasa benci pada
diri sendiri. Meskipun ekspresi wajah Nanami kelihatan rumit, secara perlahan
suasana hatinya kembali membaik.
Siapa
sangka dari topik Valentine atau White Day malah melenceng jadi diskusi
soal diet. Namun yah, mungkin inilah yang dinamakan antusiasme seorang wanita
terhadap kecantikan.
Melihat
orang yang berjuang demi hal itu, aku tidak boleh kalah... jadi aku juga
berniat untuk berusaha tidak menjadi gemuk sejauh mungkin.
...Pelajaran
mengenai benak wanita yang rumit ini sepertinya harus kupelajari secara khusus
di lain kesempatan. Khusus untuk Nanami saja.
Nanami
yang tadi dipipi elus olehku, menepuk-nepuk ringan kedua pipinya yang
menggembung untuk mengempiskannya secara paksa.
Di
area yang udaranya sudah keluar tersebut, sosok Nanami yang biasa telah
kembali... Dia menggelengkan kepalanya pelan seolah sedang beralih suasana
hati.
"Pembicaraan
soal bentuk tubuh yang bikin kepikiran kita akhiri!! Valentine!! Mari kita
nikmati!!"
"Ooh!!"
Mengikuti
Nanami yang mengepalkan tangannya ke atas dengan penuh tenaga, aku juga
mengacungkan tinjuku tinggi-tinggi. Membuang jauh-jauh masalah apakah
pembicaraan bentuk tubuh itu hal yang bikin kepikiran atau tidak... melakukan
hal yang menyenangkan adalah hal yang penting.
Saatnya
sedih ya sedih, saatnya menikmati ya menikmati. Keseimbangan itu penting, dan
semuanya adalah hal yang berarti.
Setelah
beralih suasana hati, kami menikmati kencan Valentine kami. Meskipun hari
Valentine yang sesungguhnya sudah kami lalui pada hari kerja biasa, sih.
Mencicipi
cokelat langka di pameran cokelat, mengikuti acara konser gratis di suatu
acara, lalu saat lelah kami beristirahat di kedai kopi sembari mengobrol...
Ngomong-ngomong,
mungkin karena tadi sempat muncul topik soal gemuk, Nanami malah berteriak
kalau dietnya baru akan dimulai besok sembari menyantap berbagai macam cokelat.
Emm,
Nanami rasanya kalau sedikit gem... ehem, anu... bertambah daging pun tidak
apa-apa kok menurutku? Ini bukan sekadar kata hiburan semata, tapi...
"Kalau
aku... bagian yang bertambah gemuk itu dari dada duluan, sih... Nanti kalau
makin besar ukurannya..."
Hei,
jangan mengangkat bagian dada seperti itu.
...Lagipula,
memangnya bisa makin besar sedemikian rupa, ya? Rasa penasaranku mendadak
sedikit mencuat keluar.
Lalu,
kalimat semacam itu sebaiknya jangan diucapkan dengan suara terlalu keras, lho.
Kalau di komik-komik, hal itu bisa jadi penyebab yang memancing rasa permusuhan
dari sekeliling... bukan sekadar rasa permusuhan, tapi rasa cemburu.
Meski
begitu... bertambah gemuk dari bagian dada duluan, ya... Kalau aku sih
bertambah gemuk dari bagian perut duluan, jadi cara bertambahnya daging pada
tiap orang memang berbeda-beda, ya...
Entah
karena merasakan pandangan mataku, Nanami berbisik dengan suara pelan Mau
coba memastikan? dan semacamnya padaku. Maksudku, ukuran aslinya saja aku
belum pernah merasakannya, mana bisa dipastikan, kan?
...Tidak,
walaupun tahu pun tetap saja tidak boleh, kan.
Entah
kenapa, tadinya kukira wanita bakal merasa senang kalau dadanya makin besar,
tetapi ternyata pakaian jadi makin sulit dicari, kelihatan lebih gemuk, lalu
harga pakaian dalam jadi makin mahal, jadi dia merasa tidak butuh lebih besar
lagi dari ini.
Begitu
ya, wanita juga ternyata merepotkan, ya...
"Yah,
kalau Youshin suka sih, aku tidak keberatan kalau makin besar."
"Kalau
soal itu, bibirku bisa robek kalau sampai bilang tidak suka, sih..."
"Jadi
begitu ya, Youshin suka bagian tubuhku yang ini, ya..."
"Bisa
tidak kalau jangan sebut sebagai 'bagian tubuh'?"
Bukankah
teguran ini agak terbalik, ya? Tidak, kalau terbalik pun tetap saja aneh, sih.
Atau
lebih tepatnya, kenapa saat kencan Valentine begini kami malah memperdebatkan
soal dada Nanami?
Aku
jadi makin tidak paham.
Pada
saat itu Nanami bergumam pelan, Yah, nanti juga kamu bakal langsung tahu,
kok... tetapi mengenai apa maksud perkataannya atau apa yang akan terjadi
setelah ini, aku yang saat itu sama sekali tidak tahu apa-apa.
Meskipun
demikian, waktu yang menyenangkan memang berlalu sangat cepat. Tanpa disadari
hari sudah sepenuhnya gelap, dan kami sedang menatap pemandangan malam dari
tempat yang lumayan tinggi.
Saat
musim panas kami juga sempat melihat pemandangan malam, tetapi saat musim
dingin ada hamparan salju putih yang menambah keindahannya. Cahaya memantul
pada salju tersebut, membuat seluruh area kota seolah memancarkan cahayanya
sendiri secara temaram.
Saat
musim panas cahaya lampu menerangi bangunan, sedangkan saat musim dingin
semuanya tampak memancarkan cahaya... Aku baru tahu kalau cara pandangnya bisa
sedikit berbeda dari musim panas.
Meskipun
disebut tempat tinggi, karena pada dasarnya aku tidak tahan dengan ketinggian,
pemandangan hari ini dilihat dari dalam gedung tinggi, sih. Walaupun begitu,
karena pemandangannya indah jadi tidak masalah.
Tadinya
aku sempat berpikir apakah Nanami sebenarnya ingin melihat dari bianglala,
ya... tetapi saat kubilang Aku mungkin bakal menangis, dia sambil
tertawa menuruti kemauanku untuk melihat dari dalam gedung.
Tidak,
ini bukan bercanda, lho. Tanpa salju saja sudah menakutkan, apalagi kalau naik
bianglala saat musim dingin, aku pasti bakal menangis. Bukan cuma masalah
ketinggiannya, tapi takut tergelincir gara-gara salju.
Rasanya
saat hendak naik, kaki bisa terpeleset lalu langsung jatuh begitu saja.
Meskipun berada di dalam bianglala, rasanya kejadian seperti itu tetap bisa
terjadi sampai bikin cemas setengah mati.
Meskipun
tidak sampai setinggi itu, pemandangan malamnya tetap indah jadi tidak masalah,
kok.
Sembari
memandangi pemandangan malam tersebut, kencan kami hari ini hanya menyisakan
satu agenda lagi... yaitu pergi ke kamar Nanami.
Pergi
ke kamar pada malam hari itu... rasanya gimana gitu, ada kesan dewasa. Meskipun
begitu, dalam arti tertentu hal ini juga sudah menjadi kebiasaan seperti
biasanya.
Hari
ini mungkin orang tua Nanami juga ada di rumah, dan aku juga tidak berniat
menginap...
Berpikir
demikian, aku jadi lengah.
"Ngomong-ngomong
Youshin, malam ini... kamu berniat bagaimana...?"
"Berniat
bagaimana... setelah ini kita bakal pergi ke rumah Nanami, kan?"
"Maksudku
setelahnya. Setelah datang ke rumahku dan aku menyerahkan cokelatnya... lalu
setelah itu."
...Setelah
itu? Nanti... memangnya ada apa, ya? Eh? Rasanya setelah itu biasa saja...
"S...
setelah itu... rencananya aku mau... pulang ke rumah seperti biasa,
sih...?"
Tanpa
sadar, aku menggunakan bentuk kata kerja lampau saat menjawabnya. Bukannya aku
sama sekali tidak paham apa yang ingin disampaikan oleh Nanami, tapi...
Aura
yang terpancar dan suasana semacam itu, entah kenapa... Kami berdua membisu
sembari melangkah beberapa langkah ke depan, lalu Nanami mendadak berhenti
bertapak.
Nanami
berhenti, tetapi aku sempat melangkah beberapa langkah lebih maju. Begitu
menyadari Nanami berhenti, aku langsung membalikkan badan di tempat.
Tanpa
disangka-sangka, posisi kami malah menjadi berhadapan satu sama lain...
"Hari
ini di rumahku... tidak ada siapa-siapa, lho..."
Sebuah
kalimat ajakan klasik yang sudah terkesan amat sangat pasaran meluncur dari
mulut Nanami.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
Seberapa
pun menegangkannya suatu peristiwa, jika diulangi berkali-kali seseorang pasti
akan terbiasa. Hal itu mungkin merupakan fungsi yang dibutuhkan manusia untuk
mempelajari lingkungan sekitar dan menjalani kehidupan.
Aku
pun yang awalnya merasa tegang setengah mati saat berkunjung ke kamar Nanami,
seiring bertambahnya jumlah kunjungan... secara bertahap mulai bisa terbiasa.
Meskipun
rasa ketegangan yang misterius tetap muncul saat hendak masuk ke kamarnya,
paling tidak aku sudah bisa masuk seperti biasa. Namun kunjungan ke kamar
Nanami hari ini dikelilingi oleh ketegangan yang persis seperti saat pertama
kali dulu.
"P-Permisi..."
"Tadi
kan sudah bilang, kenapa diucapkan sekali lagi...?"
Tadi
itu kan saat masuk ke dalam rumah, sedangkan yang ini adalah salam saat masuk
ke kamar Nanami. Meskipun belakangan ini tidak diucapkan secara langsung, di
dalam hati aku selalu mengucapkannya, kok.
Suara
hatiku itu mendadak bocor keluar, tetapi Nanami... tidak, Nanami juga rasanya
tampak agak tegang di suatu tempat.
Apakah
cuma perasaanku saja?
"...Ah,
Youshin... buatkan teh dulu, ya. Iya, ayo buat teh."
"Nanami,
tenanglah... teh kan sudah kita nikmati tadi."
"Ah,
benar juga. Tadi sudah, ya. Kalau begitu... anu... sebentar lagi
persiapannya..."
"Persiapan...?"
Nanami
bergerak secara tidak alami bagaikan robot yang sendinya kaku atau mainan yang
sudah berkarat. Kenapa bisa sampai setegang ini, ya?
Saat
hari Valentine lalu ketika Nanami datang bermain ke rumahku dia biasa-biasa
saja, kan.
Tidak,
aku tahu alasannya. Hal itu sudah sangat jelas.
Saat
itu adalah hari kerja biasa, besoknya ada sekolah, dan kedua orang tuaku pun
akan pulang meskipun terlambat. Makanya saat berduaan pun kami bisa tetap
tenang. Namun hari ini berbeda. Di rumah Nanami tidak ada siapa-siapa, hari ini
libur, dan besok pun libur. Lalu dalam situasi seperti itu, Nanami sendirian di
rumah.
Ngomong-ngomong,
dari kedua orang tua Nanami sendiri...
『Sampai besok
Nanami sendirian menjaga rumah, karena belakangan ini suasana agak rawan, kami
bakal sangat terbantu kalau kamu mau menginap. Lagipula saat perjalanan ke
pemandian air panas dulu tidak terjadi apa-apa, jadi sekarang pun harusnya
tidak masalah, kan.』
Beliau
sampai berpesan demikian.
Tidak,
jujur saja, berkat kejadian di perjalanan pemandian air panas dulu tingkat
kepercayaan beliau padaku meningkat cukup tinggi makanya diizinkan, tapi...
...Fakta
bahwa Saya-chan juga ikut menginap rasanya cukup mengejutkan. Katanya sesama
teman akrab mengadakan acara menginap untuk pesta Valentine khusus perempuan.
Karena
itulah, dalam arti yang sebenar-benarnya... setelah sekian lama, kami kembali
berada berduaan saja di kamar Nanami.
Jika
tujuannya demi alasan keamanan, kukira situasi bisa terselesaikan jika menginap
di rumahku karena ada orang tuaku, tetapi ternyata orang tuaku juga sedang
tidak ada di rumah malam ini.
Mereka
berdua melakukan kencan Valentine dan berencana menginap semalam di fasilitas onsen
yang ingin mereka kunjungi. Sepertinya bukan di penginapan tradisional (ryokan),
melainkan semacam tempat spa yang menyediakan fasilitas untuk menginap. Tampaknya
di mana-mana semua orang sedang menikmati momen Valentine. Entah apakah badai
cinta sedang bertiup kencang di luar sana.
...Itu
juga cinta, ini juga cinta, itu kutipan dari mana, ya?
Yah,
memiliki hubungan yang tetap rukun meski sudah lama menjalin kasih tentu
merupakan hal yang bagus, sih.
"Bahan
untuk membuat alasan rasanya sudah terlalu lengkap, ya."
Tidak
ada siapa-siapa, Nanami sendirian, ditambah lagi ada kata kunci kalau suasana
belakangan ini sedang rawan...
Ini
adalah situasi yang sangat membutuhkan bantuan tenaga laki-laki. Jika hanya
melihat situasinya saja, rasanya seolah-olah kami sedang berbuat semaunya di
saat orang-orang sedang tidak ada.
"Alasan
itu penting, lho, Youshin. Karena dengan adanya alasan, rasa bersalah di dalam
diri sendiri bisa berkurang."
"Kenapa
jalan pikiranmu malah seperti tahap persiapan sebelum melakukan kejahatan
begitu...?"
"Aku
sudah tak terhitung berapa kali... membuat alasan sebelum menyantap makanan
manis..."
Aah,
alasan yang seperti itu, toh...
Memang
benar kalau untuk urusan makanan hal seperti itu sering terjadi, sih. Seperti
ungkapan 'dietnya mulai besok saja' dan semacamnya. Namun rasanya hal itu agak
berbeda genre dengan situasi kita saat ini, deh.
"...Makanya
yang satu ini juga merupakan sebuah alasan."
"Heh?"
Nanami
yang bergumam pelan tiba-tiba berdiri tegak, lalu dengan gerakan yang lagi-lagi
terkesan kaku, dia memalingkan wajahnya ke arahku bagaikan engsel bersuara.
"Karena
aku berkeringat... aku mau mandi shower sebentar, ya..."
"A-Ah,
iya..."
Dengan
ukiran senyuman di wajahnya, gerakan tubuhnya menyerupai mainan...
Melihat
sosok Nanami yang pergi meninggalkan kamar dengan tampilan yang terasa sangat
tidak alami tersebut, rasa terkejut baru menghampiriku belakangan. Rasa
terkejut itu rasanya persis seperti rasa sakit pada bagian tubuh yang terbentur
keras, baru terasa sesaat setelah kejadian.
"Apaaa?!"
Kenapa
di saat-saat seperti ini dia malah mandi shower? Eh? Apakah maksudnya
memang ke arah sana?
Di
dalam kepala yang sedang kalut, berbagai macam pikiran berputar-putar tanpa
henti. Apakah situasi yang bahkan di penginapan onsen saja bisa
terhindarkan, kini hendak diterobos begitu saja berbekal suasana Valentine?
Namun
kalau begitu, bukankah persiapan awalnya terlalu minim? Kalaupun mau disebut
kejutan, sama sekali tidak ada penjelasan apa pun... atau lebih tepatnya,
apakah aku tidak perlu mandi shower juga? Tidak, masuk ke kamar mandi
setelah digunakan oleh Nanami juga rasanya agak bikin tegang, sih.
Meskipun
mungkin ada yang berpikir apa yang perlu ditegangkan sekarang padahal dulu
pernah masuk onsen bersama, tetap saja hal yang membuat tegang ya bakal
tetap membuat tegang, jadi mau bagaimana lagi.
...Tapi
kenapa cuma mandi shower, ya? Bukannya mandi berendam di bak?
Kalau
Nanami yang sekarang, jika melakukan persiapan awal semacam itu rasanya dia
bakal mengajak mandi bersama. Namun kenyataannya bukan begitu, melainkan mandi shower.
Hal itu juga terasa agak sedikit aneh.
Kalau
diingat-ingat, tadi dia sempat bilang soal persiapan atau semacamnya, kan.
Jangan-jangan... mandi shower ini merupakan salah satu bagian dari
persiapan tersebut?
Gara-gara
terlalu tegang, aku malah jadi terkesan tenang. Tidak, meskipun aku belum tahu
jawabannya, fakta bahwa aku bisa menjadi tenang merupakan hal yang besar.
Dengan
begini, apa pun yang hendak dilakukan Nanami padaku, aku bisa meresponsnya
dengan tenang.
Hal-hal
seperti akal sehat atau norma kesusilaan akan kujaga dengan baik. Karena kalau
sampai ketahuan bisa-bisa dimarahi habis-habisan. Berjuanglah, diriku.
Saat
aku mengepalkan tangan di dalam hati untuk meneguhkan niat kembali... pintu
kamar mendadak diketuk. Kukira dia sudah selesai mandi shower, tetapi
tampaknya gara-gara aku terlalu larut dalam pemikiran sendiri, waktu ternyata
sudah berlalu cukup lama. Dan tentu saja, sosok yang berada di balik pintu
tersebut adalah Nanami.
"...Aku
masuk, ya."
Saat
pintu terbuka secara perlahan, hal yang menjulur dari sana adalah sebuah...
kaki yang jenjang?
Memperlihatkan
kaki terlebih dahulu dari celah pintu rasanya agak terkesan surreal, tetapi
kaki yang terulur jenjang itu sama sekali tidak memiliki noda dan memiliki
kehalusan yang mengingatkan pada porselen.
Halus,
dan meskipun hanya kaki tetapi memancarkan pesona sensual yang begitu anggun...
Saat sebelah kaki itu melangkah masuk... di sanalah aku menyadari adanya
keanehan.
Itu
adalah kaki telanjang tanpa balutan apa pun.
Bahkan
hal itu terlihat jelas hingga ke bagian paha...
Eh?
Dia tidak memakai apa-apa?
Kemudian
tangan Nanami terlihat menyipit keluar. Sama seperti kakinya, kulit bagian
lengan atasnya juga terekspos... jika hanya melihat bagian itu saja, dia tampak
seperti tidak mengenakan apa-apa.
Tanpa
sadar aku menelan ludah. Kiranya seperti apa penampilan Nanami saat ini...
Penampilan...
Eh,
bukankah ada yang aneh?
Nanami
saat ini hanya mengeluarkan kaki dan tangannya saja dari celah pintu, sehingga
tubuhnya tidak terlihat. Posisinya kelihatan sangat tidak alami, tetapi hal itu
rasanya persis seperti...
"Kamu
sedang berpose seperti kepiting, ya?"
"Siapa
yang kepiting, coba?!"
Gara-gara
aku refleks menyela, suara teriakan Nanami terdengar dari balik pintu.
Ah,
ternyata terdengar, ya. Habisnya coba pikir secara wajar, mana ada posisi di
mana tangan dan kaki sama-sama keluar dari celah pintu begitu?
Dia
pasti sengaja melakukannya, kan...
Begitu
kuberpikir demikian, pintu mendadak terbuka lebar. Tanpa sadar aku langsung
menutup mataku. Tidak, terlepas dari posisinya, fakta bahwa tangan dan kakinya
sangat terekspos itu memang benar adanya.
Jangan-jangan
dia cuma melilitkan handuk mandi saja, atau hal semacam... semacam...
"Lho?"
"Youshin,
matamu itu sama sekali tidak tertutup, lho..."
...Gawat,
kukira aku sudah menutup mata, ternyata jariku meregang lebar sehingga menjadi
lelucon klasik yang sangat konyol.
Dan
hal yang tertangkap oleh penglihatanku adalah... Nanami yang mengenakan pakaian
seperti gaun maid tempo hari...
Tidak,
ini adalah gaun maid dengan tingkat keterbukaan yang sangat luar biasa?
Paling
tidak, ini adalah jenis gaun maid yang jika dilihat oleh pencinta maid
sejati pasti bakal membuat mereka marah besar.
"Ehehe,
cocok tidak...?"
"Tidak,
cocok sih... cocok, tapi..."
Nanami
memegang ujung roknya, lalu mengangkatnya sedikit saja. Hanya dengan tindakan
itu saja, bagian pahanya sudah terekspos sampai batas maksimal.
Ya,
Nanami saat ini benar-benar mengenakan gaun maid dengan keterbukaan yang
sangat tidak masuk akal. Ukuran roknya luar biasa pendek, dan meskipun ada
rumbai-rumbai serta apron sekadarnya, hal itu tetap tidak mampu menutupi
pendeknya rok tersebut.
Bagian
atasnya juga berpotongan pendek, membuat bagian perut dan pusarnya terekspos
sepenuhnya. Di bagian bahu menyisa lengan baju sekadarnya, tetapi sama sekali
tidak menutupi bagian lengan.
Lalu
bagian dadanya terbuka membentuk lambang hati, memperlihatkan lekukan dalam di
antara belahan dadanya secara jelas, dilengkapi kalung choker di
leher... sementara bagian bahunya terekspos.
Bagian
yang menandakan bahwa ini adalah baju maid mungkin hanya tinggal celemek
dan hiasan kepala white brim yang terpasang di kepalanya saja.
"Syukurlah.
Soalnya cokelat yang mau kuberikan hari ini harus pakai baju seperti
ini..."
"Memangnya
apa hubungannya antara cokelat dan gaun maid...?"
Menyerahkan
cokelat dengan gaun maid sebenarnya sudah pernah dilakukan saat hari H
Valentine lalu. Tidak, meskipun aksinya sama, kalau bajunya diganti tentu
suasana hatinya juga bakal berubah.
Apakah
maksudnya harus pakai baju seperti ini dalam arti kata yang demikian?
"Jaaann~♪"
Saat
aku sedang bertanya-tanya, hal yang dikeluarkan oleh Nanami adalah berbagai
macam biskuit stik dan... entah apa ini, sebuah wadah plastik yang... unik.
Bentuknya
agak mirip dengan wadah tempat menyimpan mentega atau margarin. Tangan kanannya
memegang biskuit stik, sementara tangan kirinya memamerkan wadah tersebut.
Cokelat...
cokelat?
Mengabaikan
diriku yang memiringkan kepala kebingungan, Nanami menata biskuit stik tersebut
dengan rapi di dalam mangkuk yang ada di atas meja, lalu meletakkan wadah tadi
di sampingnya.
Bagian
atas wadah tersebut dalam keadaan tersegel. Jika dilihat dari atas... bentuknya
agak mirip selai? Saat Nanami membukanya perlahan, di dalamnya terdapat adonan
kental berwarna cokelat.
Aroma
manis mendadak tercium... Aroma ini kan...
"Cokelat?"
"Iya.
Ini cokelat tipe cair, lho."
Tipe
cair. Ternyata ada yang seperti itu, ya. Kupikir semacam krim cokelat atau
sejenisnya, tetapi teksturnya kelihatan sedikit lebih encer daripada itu.
Saat
aku sedang berpikir apa yang akan dia lakukan dengan cokelat itu...
"Nih,
ini cokelat dariku~♪ Fondue cokelat serbaguna."
Nanami
mencelupkan biskuit di tangannya ke dalam cokelat, lalu menyodorkannya padaku
sambil berkata "Aam".
Jujur
saja... mengenai hal ini... aku merasa sedikit kecewa.
Tidak,
memang ada perasaan lega di dalam diriku, tetapi rasa kecewanya jauh lebih
dominan.
Habisnya
coba pikir, sampai bela-belain mandi shower ternyata cuma buat menyuapi
biskuit dan fondue cokelat. Siapa pun pasti bakal merasa kecewa, kan...?!
Tapi
yah, mungkin ukuran segini memang yang paling pas buat kami. Habisnya coba
pikir, tadinya kukira Nanami bakal nekat melakukan hal yang berlebihan. Seperti
melumuri tubuhnya dengan cokelat lalu menyuruhku untuk menyantap dirinya.
——Yah,
kesimpulannya sih... pemikiranku saat itu ternyata masih terlalu polos. Rasa
sedikit ngeri yang pernah kurasakan pada Nanami sebelumnya... baru akan muncul
sebentar lagi.
"Jangan-jangan,
kamu mikir aku bakal melumuri dada pakai cokelat terus minta dijilat, ya?"
"Aku
tidak berpikir sampai sejauh itu, tapi hal yang mirip-mirip... Tidak, jangan
baca pikiranku. Bukan gitu, aku tidak berpikir sejauh itu kok."
Soal
dada tentu saja tidak, tetapi memang benar kalau aku sempat cemas jangan-jangan
dia bakal melakukan hal seperti 'santaplah diriku'. Tapi sungguh, bukan bagian
dada.
"Yah,
tadinya aku memang sempat berpikir mau melakukan hal itu, sih... tapi katanya
ruangan atau baju bisa jadi kotor tidak karuan... makanya aku ganti ke yang
lebih kalem saja."
Aah,
begitu toh. Memang benar ruangan pasti bakal kotor... tapi tunggu dulu, kamu
tadinya beneran berniat melakukan itu? Eh? Seriusan? Di dalam kamarmu sendiri?
Ternyata
kecemasanku tepat sasaran, kan. Lagipula kalau melumurkan cokelat ke tubuh,
nanti pasti bakal ketahuan oleh orang tuamu.
Setuju,
keputusan untuk tidak melakukannya adalah hal yang sangat tepat.
"...Makanya,
yang bisa kulakukan cuma sebatas ini saja... pikirku."
Saat
aku sedang mengunyah biskuit yang disuapkan oleh Nanami, Nanami dengan cekatan
menarik biskuit yang sudah makin pendek dan tidak terkena cokelat itu dariku.
Di
tangannya tersisa bagian pangkal... bagian adonan biskuitnya saja. Jenis
biskuit seperti ini memang pada akhirnya tidak bisa terlumuri cokelat sampai ke
ujungnya, ya.
Tadinya
kupikir begitu, tetapi Nanami dengan tenang membalikkan adonan biskuit di
tangannya itu, lalu mencelupkan bagian yang belum tersentuh mulutku ke dalam
cokelat dengan sekuat tenaga. Bersamaan dengan jarinya sekalian.
Heh?
Saat
aku sedang kebingungan, Nanami menyodorkan biskuit pendek yang berlumur cokelat
tersebut... bersama dengan jarinya yang juga terlumuri cokelat dalam jumlah
yang sama.
"A-Aduh,
gara-gara kekencangan jariku sampai ikut kena cokelat, nih~... Karena sayang
kalau dibuang, bagaimana kalau Youshin makan sekalian dalam kondisi begini
saja~...?"
Sungguh
sebuah dialog yang dibaca sangat kaku, dan aktingnya begitu amatir
sampai-sampai rasanya tidak sopan kalau disebut sebagai aktor amatir. Pandangan
matanya juga benar-benar mengarah ke mana-mana.
Begitu
toh, ternyata hal ini yang ingin dia lakukan...
"S-Silakan
dinikmati..."
...Boleh
dinikmati beneran, nih?!
"...B-Bagaimana
cara makannya? Tidak, sebelum itu... apa yang harus kumakan...?"
"Anu...
ehem... jari yang ini... dipatuk pelan (pakutt)..."
Dipatuk
pelan... dipatuk pelan?!
"Dijepit
pakai bibir..."
"Pakai
bibir?!"
Meskipun
aku memahaminya, aku malah mengulang perkataan Nanami bagaikan seekor burung
beo. Tadinya cuma berniat membalas di dalam hati, tetapi tanpa sadar malah
terucap dari mulut.
Melihat
Nanami yang menjulurkan lidahnya sedikit, aku ikut-ikutan menjulurkan lidahku.
Perasaan ragu apakah boleh dilakukan bertolak belakang dengan perasaan ingin
mencoba yang saling berbenturan.
Jantung
berdebar kencang, pandangan mata berputar-putar seolah dunia sedang berputar...
Apakah dalam kondisi seperti ini boleh melakukan hal semacam itu?
Ah...
makanya...
"Kamu
mandi shower tadi...?"
"I-Iya...
bukankah lebih baik kalau dalam keadaan bersih... apakah kamu tidak suka hal
seperti ini?"
Saat
aku sedang ragu-ragu, Nanami menyapa dengan suara yang sedikit bergetar cemas. Tidak,
bukannya tidak suka. Cuma saja akal sehatku dan berbagai hal lainnya sedang...
"Karena
tidak bakal kuat kalau begini terus... ehem, selamat makan?"
Meskipun
bingung apakah dalam situasi seperti ini ucapan 'selamat makan' itu tepat,
tetapi karena ini urusan menyantap makanan maka rasanya ucapan 'selamat makan'
memang pas... aku pun menangkupkan kedua tanganku pada Nanami.
Nanami
yang tertawa kecil, kembali mengucapkan kalimat 'silakan dinikmati'.
Tidak,
ini kan cuma sekadar menyantap biskuit saja. Buktinya, Nanami juga sedang
memegang biskuit di tangannya, kan. Cuma sekadar menyantap itu saja...
tenanglah.
Tangan
Nanami yang memegang biskuit terasa sangat jauh. Aku mendekatinya secara
perlahan dengan kecepatan bagaikan kura-kura berjalan... dan kemudian...
Karena
biskuitnya terlalu pendek, aku langsung mematuknya pelan... mengulumnya
bersamaan dengan jari Nanami. Tadinya kupikir Nanami bakal langsung melepaskan
jarinya...
Namun
Nanami justru memegang biskuit itu erat-erat tanpa melepaskannya. Oleh karena
itu secara intuitif, atau lebih tepatnya secara refleks... aku malah menjilati
jarinya dengan lidahku.
"Ngh...♡"
...Suara
apa itu tadi?! Begitu mendengar suara yang sangat provokatif, jari Nanami
mendadak melepaskan biskuitnya... dan aku pun melepaskan bibirku dari jarinya.
...Untuk
saat ini, aku sudah berhati-hati agar gigiku tidak mengenai jarinya, apakah
baik-baik saja, ya?
"...T-Terima
kasih atas makanannya."
Meskipun
tidak tahu apakah ucapan itu tepat atau tidak, aku menangkupkan kedua tanganku.
Nanami yang memandangiku, menjilat pelan jari yang baru saja dikulum olehku
tadi.
Bagaikan
seekor pemangsa, bagaikan seekor ular... rasanya seolah-olah aku telah ditelan
bulat-bulat olehnya. Kemudian Nanami tersenyum dengan sangat anggun dan menawan
(youen).
"Kembali
kasih... tapi kalau bilang begitu rasanya masih terlalu awal, lho?"
Nanami
menyendok cokelat menggunakan sendok yang diambilnya entah dari mana, lalu
dengan perlahan... mengoleskannya ke bibirnya sendiri.
Bagaikan
mengoleskan pelembab bibir, dia mengoleskan cokelat itu tipis-tipis di
bibirnya.
Jangan-jangan
dia mau... mau aku menjilatnya dari sana?!
Jantungku
berdebar begitu kencang sampai-sampai tidak sanggup menatapnya secara
langsung...
Aku
berusaha memalingkan pandangan mata, tetapi wajahku tidak mau bergerak.
Perasaan dan tubuhku rasanya benar-benar terpisah jauh.
Aroma
cokelat membelai rongga hidungku. Rasa manis itu seolah membuat otakku meleleh,
menenggelamkanku ke dalam lautan kenikmatan yang tak terhindarkan...
Kalau
tidak salah ingat, bukankah dulu cokelat pernah digunakan sebagai penawar rasa
canggung dan pemikat cinta? Perasaan menyerupai rasa kebas semacam itu
menyelimuti seluruh tubuhku.
Saat
aku sedang berpikir demikian...
"Aah...?!"
"Eh...?"
Jika
diperhatikan baik-baik, tangan Nanami tampaknya bergetar. Karena terlalu
tegang, sendok di tangannya terlepas dan jatuh.
Di
atas sendok itu masih ada lumuran cokelat yang cukup banyak, dan cokelat itu
mendarat bukan di lantai... melainkan tepat di atas perut Nanami.
Di
atas perut Nanami yang terekspos dari balik pakaian maid-nya.
Rasanya
seolah-olah waktu mendadak berhenti... Tanpa sadar kami berdua saling terdiam.
Di sana berdiri sosok Nanami yang... meskipun tidak di sekujur tubuhnya, tetapi
berlumuran cokelat.
Di
bibir dan perutnya terdapat lumuran cokelat... sosok Nanami yang seperti itu.
"Anu...
yang sebelah sini... mau dijilat?"
Nanami
melingkarkan kedua tangannya di sekitar perutnya yang terkena cokelat,
seolah-olah ingin menegaskannya. Bentuk lingkarannya, entah dia menyadarinya
atau tidak... kelihatan menyerupai bentuk hati...
H-Harus
pilih yang mana? Tidak, apakah ini pilihan ganda...? Kalau begitu...
"Ka...
kalau begitu... permisi..."
Aku
sedikit menundukkan kepala, lalu bergerak mengarah ke perutnya. Ke arah
perut... apakah ini tindakan yang benar atau salah, aku sendiri tidak tahu...
Aku
menjulurkan lidahku perlahan. Kemudian membimbingnya... sebisa mungkin tanpa
menyentuh kulit Nanami... mengarahkannya ke arah cokelat tersebut...
Menjilat
cokelatnya saja... Meskipun kami berdua sama-sama membisu, suara detak jantung
terdengar begitu bising. Di tengah keheningan, rasanya seolah-olah sedang
berada di dalam kebisingan yang nyata.
Tepat
pada momen ketika hendak menyentuh perut Nanami yang bergetar pelan...
『Tetap saja tidak
sanggup!!』
Suaraku
dan Nanami bersahutan secara bersamaan. Nanami merentangkan kedua tangannya
untuk menahanku, dan aku pun langsung berbalik menjauh lalu mengangkat wajahku.
Tidak,
tidak, tidak, tidak mungkin. Menjilat perut itu rintangannya terlalu tinggi.
Nanami juga tampaknya bergetar dan pasti merasa sangat tegang, kan. Dan begitu
menjauh lalu berpikir jernih, semuanya jadi mustahil. Menjilat cokelat di perut
itu tidak akan bisa dilakukan tanpa adanya dorongan nekat.
Lagipula,
penampilan Nanami mengenakan pakaian maid dengan cokelat menempel di
perutnya kelihatan cukup konyol...
"Pfft."
"Aah!!
Kamu tertawa! Jahat banget!"
"M-Maaf...
habisnya seorang maid seksi dengan cokelat dan sendok yang menempel di
perutnya itu bikin aku refleks..."
"Muuu...!!"
Meskipun
Nanami sempat cemberut... begitu menatap ke arah perutnya sendiri dan menyadari
betapa konyol tampilannya, dia sendiri ikut menyemburkan tawa.
Begitu
tertawa, rasanya sudah tidak bisa berhenti lagi. Bukan berarti hal sepele pun
jadi lucu... tetapi aku pun ikut-ikutan tertawa bersamanya.
Untuk
beberapa saat, dengan cokelat yang masih menempel di sana-sini, kami berdua
tertawa terbahak-bahak.
Setelah
selesai tertawa... Nanami sekali lagi menyendok cokelat dengan jarinya, lalu
menempelkannya sedikit ke bibirnya. Sepertinya dia belum menyerah untuk bagian
yang satu itu.
"Kalau
begitu... kalau yang sebelah sini tidak apa-apa, kan?"
"Iya...
Tidak, kenapa ya, padahal biasanya tidak sanggup, tapi kalau yang di sebelah
situ rasanya bakal baik-baik saja."
"Ahaha,
apakah karena kita sudah ciuman berkali-kali, ya? Mungkin kalau menjilat perut
berkali-kali nanti lama-lama bakal terbiasa juga... Mau coba kapan-kapan?"
"Tidak,
kalau yang itu sih... anggap saja sebagai tugas untuk masa depan..."
Pada
diriku yang berusaha mengalihkan pembicaraan, Nanami sekali lagi menunjuk ke
arah bibirnya seolah menagih janji.
Di
sana menempel sedikit cokelat. Yang sebelah situ rasanya masih jauh lebih
wajar, tetapi... apakah ini hanya karena standar keteganganku saja yang sudah
turun?
Aku
mendekati Nanami, lalu merengkuh pundaknya. Sejenak, tubuh Nanami sempat
terperanjat bergetar, tetapi dia tetap membiarkannya sembari menyunggingkan
senyuman manis nan anggun... dengan rona merah tipis di pipinya.
"Silakan
dinikmati."
"Selamat
makan."
Aku
menjawab secara refleks terhadap suara gumaman pelannya.
Meskipun
ungkapan tersebut terasa aneh jika diucapkan sebelum berciuman, saat ini tidak
ada kalimat lain yang terlintas di kepalaku... lagipula ini kan pada dasarnya
cuma sekadar menyantap cokelat saja. Kemudian aku mengulum cokelat tersebut...
sembari menjepit bibir Nanami.
Rasa
cokelat yang kunikmati dengan cara seperti itu, rasanya jauh lebih manis dan
nikmat dibandingkan dengan cokelat mana pun yang pernah kumakan sebelumnya...
hanya hal itu saja yang ingin kucatat di sini.



Post a Comment