NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanojo no Imouto to Kiss wo Shita Volume 1 Chapter 14

Chapter 14

Cinta Pertama x Malapetaka


Dari dulu, aku sangat menyukai senyum polos Kakak yang ceria.

Saat aku memberikan potongan kueku yang lebih besar padanya, Atau saat aku sengaja mengalah dan memberinya juara satu, Senyuman Kakak membuatku jauh lebih bahagia dibanding saat aku yang makan kue besar atau jadi juara satu.

Aku ingin melindungi senyuman itu.

Makanya, aku mau cari pacar.

Dengan begitu, syok yang bakal diterima Kakak saat tahu hubunganku dengan kakak tiriku bisa sedikit berkurang.

Setidaknya, hubungan yang sudah ada saat ini nggak bakal hancur berantakan.

Ini ide yang sangat cemerlang.

Hubunganku dengan kakak laki-lakiku, dan hubunganku dengan Kakak, keduanya sama-sama penting.

Merusak semuanya cuma gara-gara urusan konyol bernama 'cinta' itu bener-bener tindakan yang nggak rasional.

Pilihan yang harus kuambil, sudah jelas cuma satu.

Agak kasihan sih cowoknya karena dimanfaatkan sama cewek buta cinta sepertiku, tapi tenang saja; aku udah milih cowok yang nggak bakal bikin aku ngerasa bersalah walau kutipu, dan hubungannya juga bisa bertahan cuma modal nafsu fisik doang.

Tentu saja, karena aku yang milih, aku bakal ngasih dia 'imbalan' yang setimpal.

Nggak ada yang dirugikan, nggak ada yang menderita.

Ini adalah solusi paling damai buat semuanya.

Cara terbaik yang cuma bisa kulakukan demi mereka berdua.

Ya, benar. Aku tahu, kok. Aku sangat paham hal itu.

TAPI, KENAPA?!

Saat aku melihat Kakak dan kakak laki-lakiku ciuman di taman depan stasiun, seluruh tubuhku rasanya MENOLAK KERAS RENCANAKU SENDIRI!

Aku menolak semuanya, dan memilih lari.

Membuang jauh-jauh semua sumpah yang kuucapkan pada diriku sendiri.

Sejak saat itu... aku nggak tahu apa yang kulakukan.

Dari mana aku jalan, apa aku naik kereta, atau naik bus.

Aku sama sekali nggak ingat.

Begitu sadar, aku sudah berdiri mematung di depan apartemen tempatku tinggal bersama kakak laki-lakiku, dengan tubuh basah kuyup diguyur hujan yang entah sejak kapan turun.

Selama itu, mataku sama sekali tak melihat apa-apa.

Bukan, lebih tepatnya otakku tak memproses apa pun yang ditangkap oleh mataku.

Di kepalaku, hanya ada satu pertanyaan tanpa jawaban yang terus berputar-putar.

Bukannya aku mau cari pacar demi Kakak?

Terus kenapa aku nggak ikut sama Aizawa?

Padahal kalau aku ikut Aizawa tadi, semuanya bakal beres.

Kenapa... KENAPA?!

Aku ini, lagi ngapain, sih?

Sebenarnya, ...aku ini MAUNYA APA, SIH?!

Rentetan pertanyaan tanpa jawaban itu membuat kesadaranku mulai kabur.

Kekaburan itu perlahan turun dan menutupi pandanganku.

Di tengah pandanganku yang gelap, aku menatap ke arah apartemen kami; dan lampu di kamar kami menyala.

Kakak pasti udah pulang.

...Aku nggak mau pulang.

Saat ini, aku nggak yakin bisa ngasih senyum andalanku di depan kakak.

Aku takut banget bayangin wajahku bakal kayak gimana kalau kakak dengan girang cerita soal ciumannya.

"...Aku takut."

Tapi di luar hujan deras.

Waktu juga sudah menunjukkan pukul 9 malam.

...Nggak ada tempat lain buatku pulang.

Dengan langkah gontai bagai hantu, aku menaiki tangga besi apartemen yang sudah berkarat.

Di situlah aku baru sadar kalau aku nyeker.

Sepertinya sandalku yang patah tadi tertinggal entah di mana.

Senyum getir terukir di bibirku melihat keadaanku yang bahkan nggak sadar hal sepele itu sampai sekarang.

Aku naik ke lantai dua, dan memegang gagang pintu rumah.

Kuncinya nggak diputar.

Begitu kubuka pintunya, benar saja, ada sepatu kakak di sana.

Aku masuk sambil mengucapkan "Aku pulang." Tapi nggak ada jawaban.

Aku melangkah masuk ke lorong dengan kaki basah. Petari, petari, potari, potari.

Sambil meninggalkan jejak kaki basah dan tetesan air dari rambutku, aku menuju ruang tengah.

Di sana, terlihat sosok kakak yang tertidur bersandar di dinding.

Di atas meja lipat, makan malamnya masih utuh tak tersentuh.

Sepertinya dia ketiduran sebelum sempat makan.

Pasti gara-gara dia baru saja terbebas dari ketegangan kencan, ditambah rasa kantuk akibat kurang tidur semalam yang menyerangnya sekaligus.

Dia tertidur lelap banget.

Pasti dia lagi mimpi indah, ya.

Kelopak matanya terpejam lembut, napasnya teratur, dan bibirnya sedikit terbuka mengendur.

Di ujung bibirnya, samar-samar terlihat bekas lipstik warna pink pucat yang persis dengan milikku.

"...Ahaha."

Detik itu juga, udara yang masuk melalui rongga hidungku terasa memenuhi rongga kepalaku dengan sensasi mint yang sejuk.

Isi kepalaku mendadak kosong melompong dengan sangat melegakan, dan segala pertanyaan yang menyiksaku tadi lenyap seketika.

Yang tersisa hanyalah satu dorongan kuat.

Terdorong oleh hal itu, aku melangkahi batas antara lorong dan ruang tengah tanpa memedulikan tatami yang basah kuyup.

Sambil mendekati kakak, aku menjilat bibir atasku.

Lalu bibir bawahku dengan cara yang sama.

Setelah bibirku cukup basah, ──aku menempelkannya dengan lembut ke bibir kakak.

"Nn..." Aku menahan pipi kakak yang bergerak gelisah karena tidurnya terganggu.

Menempelkan bibir basahku ke bibir kering kakak, lalu menggesekkannya dengan lembut.

Seolah ingin menimpa sisa sentuhan Kakak dengan sentuhanku.

Saat aku melepaskan bibirku dan melihat bekas lipstik Kakak telah menghilang, "KHHHHH~~~~~!!!!" Aku merinding hebat akibat sensasi nikmat yang begitu kuat hingga rasanya menusuk-nusuk sekujur tubuhku.

...Ah, begitu rupanya.

Di saat itulah, aku akhirnya paham.

Perasaan ibuku saat dia menghancurkan keluarga kami dulu.

Sensasi saat duniamu terbelah menjadi dua; antara 'satu orang' yang paling penting, dan 'seluruh orang lainnya'.

Semua hal yang telah kubangun dalam hidup ini.

Hubungan dengan orang lain.

Kepercayaan, persahabatan, kasih sayang, dan bahkan nilai hidupku sendiri──

Semuanya langsung berubah jadi hal sepele yang nggak ada harganya dibanding 'satu orang' di depanku ini.

Obsesi yang begitu kuat dan gila ini.

Mungkin inilah yang orang-orang sebut dengan 'cinta'.

Hari ini, untuk pertama kalinya seumur hidup, aku mengenal apa itu cinta.

Dan sasarannya adalah kakak tiriku sendiri, yang juga pacar dari kakak kandungku.

Kalau ini komedi, jelas ini adalah komedi terlucu yang pernah ada!

Orang yang rela menyeret dirinya ke panggung komedi konyol ini cuma gara-gara emosi sesaat, pasti orang itu udah gila.

Aku beneran mikir gitu, lho!

TAPI──meski begitu, aku sudah telanjur tahu. Saat aku melihat mereka berdua ciuman dari atas jembatan.

Perasaanku sendiri yang MENOLAK KERAS pemandangan itu.

Dorongan kuat yang membuatku ingin menghancurkan segalanya ketimbang harus menerima kenyataan itu!

Dan karena aku sudah tahu, aku nggak bisa pura-pura nggak tahu lagi.

Aku nggak bisa mundur lagi.

Potongan kue besar masih bisa kuberikan, Juara satu game juga masih bisa kuberikan, TAPI UNTUK CINTA YANG SATU INI, AKU NGGAK BAKAL NGALAH!

× × ×

Aku lagi ciuman sama Haruka.

Awalnya kukira ini cuma mimpi. Mimpi indah sebagai sisa-sisa memori dari hari terbaik dalam hidupku.

Tapi aku langsung ngerasa ada yang aneh.

Soalnya, ciumannya itu panas banget sampai rasanya bibirku mau meleleh!

Aku belum pernah ngerasain hal kayak gini!

Emangnya orang bisa mimpiin sesuatu yang belum pernah dia rasain sebelumnya?

...T-Tunggu, jangan-jangan ini KENYATAAN?!

"NNNNNGGGH?!?!"

Aku langsung mendorong paksa Haruka. ──Bukan, ini BUKAN HARUKA!

Karena tadi posisinya kelewat dekat aku nggak sadar, tapi sosok di depanku sekarang adalah Shigure yang basah kuyup dari ujung rambut sampai ujung kaki!

"...Selamat pagi, Kakak."

"SH-SHIGURE?! Kamu, tadi, barusan ngapain, EEEEEH?!?!"

"Ternyata ciuman yang kedua kalinya baru bikin Kakak bangun, ya; padahal buatku sih yang mana aja nggak masalah."

KEDUA KALINYA?!

Dia bilang kedua kalinya, kan, tadi?!

Bukan itu masalahnya, WOOI!

"B-B-B-Barusan, kamu, ciuman, kan?! Sama aku! K-KENAPA?!"

"Emangnya ada alasan lain buat ciuman selain karena 'suka'? Kan udah kubilang, ciuman itu dilakuin sama orang yang kita suka, tahu."

"H-Hah?! S-Suka, Shigure suka padaku?! Nggak mungkin──"

"Berisik."

Detik berikutnya, bibirku kembali dibungkam paksa untuk yang kedua, eh ketiga kalinya!

"Sh-Shigure, kalau bercanda jangan keterlaluan..."

"Suka."

"Makanya..."

"Suka."

"Tunggu dulu, dong──"

"Aku suka padamu."

Setiap kali dia membisikkan cintanya, bibir kami kembali bertemu.

Dari bibirnya yang panas membara, suhu tubuh Shigure, perasaannya, ──dan cintanya, meresap perlahan ke dalam tubuhku.

Rasanya seperti racun yang melumpuhkan seluruh sarafku.

Aku benar-benar tak berdaya.

Terlebih melihat tatapan mata Shigure yang memancarkan rasa cinta mendalam, seolah air matanya akan tumpah kapan saja.

Dan di dalam tatapan matanya itu, hanya ada diriku.

Dia mengurungku di sana, lalu berbisik.




"Aku menyukaimu, Kakak. Aku menyukai Kakak yang selalu bersikap sangat baik padaku."

"Nggak apa-apa kok kalau Kakak mau tetap pacaran sama Kak Haruka."

"Bahkan lebih dari itu, aku nggak keberatan kalau kalian nanti menikah dan membangun keluarga."

"Aku sama sekali nggak butuh hal-hal semacam itu. Aku nggak mau bikin Kak Haruka sedih, dan yang terpenting, aku tahu betul kalau 'status formal' semacam itu takkan pernah menjadi ikatan apa pun dan cuma omong kosong belaka."

"Aku cuma ingin, mulai sekarang dan di setiap detik ke depannya, aku bisa berada di relung terdalam hati Kakak; itu saja sudah cukup."

"Makanya, Kakak... Mau coba selingkuh denganku nggak?"

Itu adalah kata-kata yang rasanya pernah kudengar sebelumnya. Tapi,

"Kali ini, aku nggak lagi bercanda, lho."

Ah... aku mengerti sekarang. Kalau ditatap dengan pandangan seperti itu, dan dicium seperti ini.

Kalau Shigure itu benar-benar serius, cowok bodoh yang nggak paham hati cewek sepertiku ini pun bisa memahaminya.

Perlahan, tangan Shigure membelai pipiku.

Entah untuk yang ke berapa kalinya, bibirnya perlahan mendarat kembali.

Bukan lagi ciuman buas yang menuntut seperti tadi, melainkan sebuah ciuman yang sangat lembut.

...Pada saat itu, seharusnya aku bisa melawan.

Seharusnya aku bisa mendorong Shigure menjauh sekuat tenaga.

Tapi, aku sama sekali tak bisa melakukannya.

Apa karena aku terlalu panik akibat kejadian mendadak ini?

Atau karena aku terhanyut oleh emosi Shigure yang kelewat besar?

Aku tidak tahu.

Tapi satu hal yang bisa kupastikan; pada saat itu, diriku sudah sepenuhnya terinfeksi.

Oleh racun mematikan bernama 'cinta'──yang manis dan pekatnya begitu memabukkan.

...Dan bibir kami pun kembali bertaut. Sensasi lembut, panas, dan manis itu melumat habis seluruh akal sehatku.

Bahkan sensasi ciuman dengan Haruka yang sempat kuyakini takkan pernah kulupakan seumur hidup pun──kini tak bisa kuingat lagi.

Dan begitulah, di hari yang sama saat aku melakukan ciuman pertama dengan pacar tersayangku, aku juga berciuman dengan adik kembarnya.



Previous Cahpter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close