Chapter 14
Cinta Pertama x
Malapetaka
Dari dulu,
aku sangat menyukai senyum polos Kakak yang ceria.
Saat aku
memberikan potongan kueku yang lebih besar padanya, Atau saat aku sengaja
mengalah dan memberinya juara satu, Senyuman Kakak membuatku jauh lebih bahagia
dibanding saat aku yang makan kue besar atau jadi juara satu.
Aku ingin
melindungi senyuman itu.
Makanya,
aku mau cari pacar.
Dengan
begitu, syok yang bakal diterima Kakak saat tahu hubunganku dengan kakak tiriku
bisa sedikit berkurang.
Setidaknya,
hubungan yang sudah ada saat ini nggak bakal hancur berantakan.
Ini ide
yang sangat cemerlang.
Hubunganku
dengan kakak laki-lakiku, dan hubunganku dengan Kakak, keduanya sama-sama
penting.
Merusak
semuanya cuma gara-gara urusan konyol bernama 'cinta' itu bener-bener tindakan
yang nggak rasional.
Pilihan
yang harus kuambil, sudah jelas cuma satu.
Agak
kasihan sih cowoknya karena dimanfaatkan sama cewek buta cinta sepertiku, tapi
tenang saja; aku udah milih cowok yang nggak bakal bikin aku ngerasa bersalah
walau kutipu, dan hubungannya juga bisa bertahan cuma modal nafsu fisik doang.
Tentu saja,
karena aku yang milih, aku bakal ngasih dia 'imbalan' yang setimpal.
Nggak ada
yang dirugikan, nggak ada yang menderita.
Ini adalah
solusi paling damai buat semuanya.
Cara
terbaik yang cuma bisa kulakukan demi mereka berdua.
Ya, benar.
Aku tahu, kok. Aku sangat paham hal itu.
TAPI,
KENAPA?!
Saat aku
melihat Kakak dan kakak laki-lakiku ciuman di taman depan stasiun, seluruh
tubuhku rasanya MENOLAK KERAS RENCANAKU SENDIRI!
Aku menolak
semuanya, dan memilih lari.
Membuang
jauh-jauh semua sumpah yang kuucapkan pada diriku sendiri.
Sejak saat
itu... aku nggak tahu apa yang kulakukan.
Dari mana
aku jalan, apa aku naik kereta, atau naik bus.
Aku sama
sekali nggak ingat.
Begitu
sadar, aku sudah berdiri mematung di depan apartemen tempatku tinggal bersama
kakak laki-lakiku, dengan tubuh basah kuyup diguyur hujan yang entah sejak
kapan turun.
Selama itu,
mataku sama sekali tak melihat apa-apa.
Bukan,
lebih tepatnya otakku tak memproses apa pun yang ditangkap oleh mataku.
Di
kepalaku, hanya ada satu pertanyaan tanpa jawaban yang terus berputar-putar.
Bukannya
aku mau cari pacar demi Kakak?
Terus
kenapa aku nggak ikut sama Aizawa?
Padahal
kalau aku ikut Aizawa tadi, semuanya bakal beres.
Kenapa...
KENAPA?!
Aku ini,
lagi ngapain, sih?
Sebenarnya,
...aku ini MAUNYA APA, SIH?!
Rentetan
pertanyaan tanpa jawaban itu membuat kesadaranku mulai kabur.
Kekaburan
itu perlahan turun dan menutupi pandanganku.
Di tengah
pandanganku yang gelap, aku menatap ke arah apartemen kami; dan lampu di kamar
kami menyala.
Kakak pasti
udah pulang.
...Aku
nggak mau pulang.
Saat ini,
aku nggak yakin bisa ngasih senyum andalanku di depan kakak.
Aku takut
banget bayangin wajahku bakal kayak gimana kalau kakak dengan girang cerita
soal ciumannya.
"...Aku
takut."
Tapi di
luar hujan deras.
Waktu juga
sudah menunjukkan pukul 9 malam.
...Nggak
ada tempat lain buatku pulang.
Dengan
langkah gontai bagai hantu, aku menaiki tangga besi apartemen yang sudah
berkarat.
Di situlah
aku baru sadar kalau aku nyeker.
Sepertinya
sandalku yang patah tadi tertinggal entah di mana.
Senyum
getir terukir di bibirku melihat keadaanku yang bahkan nggak sadar hal sepele
itu sampai sekarang.
Aku naik ke
lantai dua, dan memegang gagang pintu rumah.
Kuncinya
nggak diputar.
Begitu
kubuka pintunya, benar saja, ada sepatu kakak di sana.
Aku masuk
sambil mengucapkan "Aku pulang." Tapi nggak ada jawaban.
Aku
melangkah masuk ke lorong dengan kaki basah. Petari, petari, potari, potari.
Sambil
meninggalkan jejak kaki basah dan tetesan air dari rambutku, aku menuju ruang
tengah.
Di sana,
terlihat sosok kakak yang tertidur bersandar di dinding.
Di atas
meja lipat, makan malamnya masih utuh tak tersentuh.
Sepertinya
dia ketiduran sebelum sempat makan.
Pasti
gara-gara dia baru saja terbebas dari ketegangan kencan, ditambah rasa kantuk
akibat kurang tidur semalam yang menyerangnya sekaligus.
Dia
tertidur lelap banget.
Pasti dia
lagi mimpi indah, ya.
Kelopak
matanya terpejam lembut, napasnya teratur, dan bibirnya sedikit terbuka
mengendur.
Di ujung
bibirnya, samar-samar terlihat bekas lipstik warna pink pucat yang
persis dengan milikku.
"...Ahaha."
Detik itu
juga, udara yang masuk melalui rongga hidungku terasa memenuhi rongga kepalaku
dengan sensasi mint yang sejuk.
Isi
kepalaku mendadak kosong melompong dengan sangat melegakan, dan segala
pertanyaan yang menyiksaku tadi lenyap seketika.
Yang
tersisa hanyalah satu dorongan kuat.
Terdorong
oleh hal itu, aku melangkahi batas antara lorong dan ruang tengah tanpa
memedulikan tatami yang basah kuyup.
Sambil
mendekati kakak, aku menjilat bibir atasku.
Lalu bibir
bawahku dengan cara yang sama.
Setelah
bibirku cukup basah, ──aku menempelkannya dengan lembut ke bibir kakak.
"Nn..."
Aku menahan pipi kakak yang bergerak gelisah karena tidurnya terganggu.
Menempelkan
bibir basahku ke bibir kering kakak, lalu menggesekkannya dengan lembut.
Seolah
ingin menimpa sisa sentuhan Kakak dengan sentuhanku.
Saat aku
melepaskan bibirku dan melihat bekas lipstik Kakak telah menghilang,
"KHHHHH~~~~~!!!!" Aku merinding hebat akibat sensasi nikmat yang
begitu kuat hingga rasanya menusuk-nusuk sekujur tubuhku.
...Ah,
begitu rupanya.
Di saat
itulah, aku akhirnya paham.
Perasaan
ibuku saat dia menghancurkan keluarga kami dulu.
Sensasi
saat duniamu terbelah menjadi dua; antara 'satu orang' yang paling penting, dan
'seluruh orang lainnya'.
Semua hal
yang telah kubangun dalam hidup ini.
Hubungan
dengan orang lain.
Kepercayaan,
persahabatan, kasih sayang, dan bahkan nilai hidupku sendiri──
Semuanya
langsung berubah jadi hal sepele yang nggak ada harganya dibanding 'satu orang'
di depanku ini.
Obsesi yang
begitu kuat dan gila ini.
Mungkin
inilah yang orang-orang sebut dengan 'cinta'.
Hari ini,
untuk pertama kalinya seumur hidup, aku mengenal apa itu cinta.
Dan
sasarannya adalah kakak tiriku sendiri, yang juga pacar dari kakak kandungku.
Kalau ini
komedi, jelas ini adalah komedi terlucu yang pernah ada!
Orang yang
rela menyeret dirinya ke panggung komedi konyol ini cuma gara-gara emosi
sesaat, pasti orang itu udah gila.
Aku beneran
mikir gitu, lho!
TAPI──meski
begitu, aku sudah telanjur tahu. Saat aku melihat mereka berdua ciuman dari
atas jembatan.
Perasaanku
sendiri yang MENOLAK KERAS pemandangan itu.
Dorongan
kuat yang membuatku ingin menghancurkan segalanya ketimbang harus menerima
kenyataan itu!
Dan karena
aku sudah tahu, aku nggak bisa pura-pura nggak tahu lagi.
Aku nggak
bisa mundur lagi.
Potongan
kue besar masih bisa kuberikan, Juara satu game juga masih bisa
kuberikan, TAPI UNTUK CINTA YANG SATU INI, AKU NGGAK BAKAL NGALAH!
× × ×
Aku lagi
ciuman sama Haruka.
Awalnya
kukira ini cuma mimpi. Mimpi indah sebagai sisa-sisa memori dari hari terbaik
dalam hidupku.
Tapi aku
langsung ngerasa ada yang aneh.
Soalnya,
ciumannya itu panas banget sampai rasanya bibirku mau meleleh!
Aku belum
pernah ngerasain hal kayak gini!
Emangnya
orang bisa mimpiin sesuatu yang belum pernah dia rasain sebelumnya?
...T-Tunggu,
jangan-jangan ini KENYATAAN?!
"NNNNNGGGH?!?!"
Aku
langsung mendorong paksa Haruka. ──Bukan, ini BUKAN HARUKA!
Karena tadi
posisinya kelewat dekat aku nggak sadar, tapi sosok di depanku sekarang adalah
Shigure yang basah kuyup dari ujung rambut sampai ujung kaki!
"...Selamat
pagi, Kakak."
"SH-SHIGURE?!
Kamu, tadi, barusan ngapain, EEEEEH?!?!"
"Ternyata
ciuman yang kedua kalinya baru bikin Kakak bangun, ya; padahal buatku sih yang
mana aja nggak masalah."
KEDUA
KALINYA?!
Dia bilang
kedua kalinya, kan, tadi?!
Bukan itu
masalahnya, WOOI!
"B-B-B-Barusan,
kamu, ciuman, kan?! Sama aku! K-KENAPA?!"
"Emangnya
ada alasan lain buat ciuman selain karena 'suka'? Kan udah kubilang, ciuman itu
dilakuin sama orang yang kita suka, tahu."
"H-Hah?!
S-Suka, Shigure suka padaku?! Nggak mungkin──"
"Berisik."
Detik
berikutnya, bibirku kembali dibungkam paksa untuk yang kedua, eh ketiga
kalinya!
"Sh-Shigure,
kalau bercanda jangan keterlaluan..."
"Suka."
"Makanya..."
"Suka."
"Tunggu
dulu, dong──"
"Aku
suka padamu."
Setiap kali
dia membisikkan cintanya, bibir kami kembali bertemu.
Dari
bibirnya yang panas membara, suhu tubuh Shigure, perasaannya, ──dan cintanya,
meresap perlahan ke dalam tubuhku.
Rasanya
seperti racun yang melumpuhkan seluruh sarafku.
Aku
benar-benar tak berdaya.
Terlebih
melihat tatapan mata Shigure yang memancarkan rasa cinta mendalam, seolah air
matanya akan tumpah kapan saja.
Dan di
dalam tatapan matanya itu, hanya ada diriku.
Dia mengurungku di sana, lalu berbisik.
"Aku
menyukaimu, Kakak. Aku menyukai Kakak yang selalu bersikap sangat baik
padaku."
"Nggak
apa-apa kok kalau Kakak mau tetap pacaran sama Kak Haruka."
"Bahkan
lebih dari itu, aku nggak keberatan kalau kalian nanti menikah dan membangun
keluarga."
"Aku
sama sekali nggak butuh hal-hal semacam itu. Aku nggak mau bikin Kak Haruka
sedih, dan yang terpenting, aku tahu betul kalau 'status formal' semacam itu
takkan pernah menjadi ikatan apa pun dan cuma omong kosong belaka."
"Aku
cuma ingin, mulai sekarang dan di setiap detik ke depannya, aku bisa berada di
relung terdalam hati Kakak; itu saja sudah cukup."
"Makanya,
Kakak... Mau coba selingkuh denganku nggak?"
Itu adalah
kata-kata yang rasanya pernah kudengar sebelumnya. Tapi,
"Kali
ini, aku nggak lagi bercanda, lho."
Ah... aku
mengerti sekarang. Kalau ditatap dengan pandangan seperti itu, dan dicium
seperti ini.
Kalau
Shigure itu benar-benar serius, cowok bodoh yang nggak paham hati cewek
sepertiku ini pun bisa memahaminya.
Perlahan,
tangan Shigure membelai pipiku.
Entah untuk
yang ke berapa kalinya, bibirnya perlahan mendarat kembali.
Bukan lagi
ciuman buas yang menuntut seperti tadi, melainkan sebuah ciuman yang sangat
lembut.
...Pada
saat itu, seharusnya aku bisa melawan.
Seharusnya
aku bisa mendorong Shigure menjauh sekuat tenaga.
Tapi, aku
sama sekali tak bisa melakukannya.
Apa karena
aku terlalu panik akibat kejadian mendadak ini?
Atau karena
aku terhanyut oleh emosi Shigure yang kelewat besar?
Aku tidak
tahu.
Tapi satu
hal yang bisa kupastikan; pada saat itu, diriku sudah sepenuhnya terinfeksi.
Oleh racun
mematikan bernama 'cinta'──yang manis dan pekatnya begitu memabukkan.
...Dan
bibir kami pun kembali bertaut. Sensasi lembut, panas, dan manis itu melumat
habis seluruh akal sehatku.
Bahkan
sensasi ciuman dengan Haruka yang sempat kuyakini takkan pernah kulupakan
seumur hidup pun──kini tak bisa kuingat lagi.
Dan
begitulah, di hari yang sama saat aku melakukan ciuman pertama dengan pacar
tersayangku, aku juga berciuman dengan adik kembarnya.



Post a Comment