NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanojo no Imouto to Kiss wo Shita Volume 1 Chapter 12

Chapter 12

Risiko x Pelajaran


"Enak banget ayam goreng ini~!"

Saat kugigit, kulit tepungnya berderak renyah dengan suara shaku.

Tepat setelah itu, aliran juicy kaldu daging langsung menyebar ke seluruh mulutku.

Diikuti oleh aroma menggoda dari bumbu rempah yang menyeruak ke hidungku.

Ayam goreng yang baru matang memang tak tertandingi!

"Pinter masak, pengertian, ditambah lagi cewek super cantik nomor dua di dunia!

Yep, Shigure pasti bakal jadi istri idaman, deh! Sebagai kakakmu, aku berani jamin! Ahaha!"

Aku memuji Shigure yang duduk di seberangku dari lubuk hati terdalam. Dia benar-benar luar biasa.

Sejak dia datang, meja makan kami jadi penuh dengan hidangan lezat. Rasa terima kasihku padanya rasanya takkan pernah cukup!

Mendengar pujianku, Shigure malah membalas, "Maaf, boleh nanya sesuatu?"

"Hm? Ada apa?"

"Tingkat jijik Kakak hari ini naik sekitar 50% dari biasanya, lho; tumben banget mood Kakak seceria ini."

Hahaha, dasar cewek ini. Sudah dipuji malah balasnya begitu. Tapi celotehan menyebalkannya itu sekarang malah terasa nyaman di telinga. Kenapa? Karena...

"Yah, besok aku kencan sama Haruka, sih! UTS udah kelar, jadi ini kencan beneran setelah sekian lama! Belakangan ini 'kencan' kami isinya cuma belajar bareng, makanya sekarang aku udah nggak sabar banget! Karena itulah rasanya hari ini aku bisa bersikap ramah pada seluruh dunia! Jangankan diganggu, ayam gorengku disiram jeruk nipis tanpa izin pun aku bakal memaafkannya!"

"Kalau begitu, aku nggak akan sungkan."

JUPA!!

"............"

"Bagaimana? Bisa memaafkanku?"

"Um. Nyaris saja aku meledak, tapi aku memaafkanmu. Nyaris saja, lho."

"Ternyata kapasitas sabar Kakak kecil juga, ya."

Mau bagaimana lagi. Kalau situasinya normal, aku pasti sudah menabuh genderang perang. Bisa menahan diri nyaris meledak itu sudah merupakan sebuah pencapaian besar!

Sambil merenungi hal itu, aku mengunyah ayam gorengku yang sudah basah oleh perasan jeruk nipis.

Tiba-tiba smartphone-ku berdering. Panggilan masuk dari aplikasi. Nama yang tertera di layar adalah...

"Haruka!"

"Ini pasti mau batalin janji, deh, udah pasti."

"Jangan ngomong yang nggak-nggak!"

"Ngomong-ngomong, 70% alasan cewek batalin janji itu berarti 'Setelah kupikir-pikir lagi, kamu menjijikkan dan aku nggak mau jalan bareng kamu. Jangan pernah mendekatiku lagi!'"

"HENTIKAN! Kalaupun Haruka batalin janji, itu pasti beda dari yang kamu bilang! Aku mau angkat telepon dulu, tolong diam sebentar, ya!"

"Okaaay~"

Setelah memastikan Shigure memasukkan ayam goreng ke mulutnya, aku beranjak dari ruang tengah ke lorong. Di sana, aku mengangkat panggilannya.

"Halo."

"Selamat malam, Hiromichi-kun. Ini Haruka, kamu lagi sibuk?"

"Nggak kok. Tadi aku lagi makan malam, tapi aku udah minggir dari ruang tengah."

"Ah, gitu ya. Maaf ya timing-nya nggak pas, apa mending kutelepon nanti aja?"

"Nggak, kalau cuma sebentar nggak apa-apa, kok. Ada apa?"

"Kalau begitu aku ngomongnya singkat aja, ya. Ini soal kencan kita besok──"

"Ugh."

Kencan besok. Mendengar ucapan Haruka, mendadak perasaanku jadi tidak enak. Jangan-jangan ini beneran mau batalin janji...?

"Anu, kita kan udah pacaran sekitar dua bulan, kan?"

"I-Iya."

"Selama waktu itu, kita udah mulai saling panggil nama, terus... walau masih agak malu, kita udah bisa jalan sambil pegangan tangan; belum lagi... kemarin pas kamu ke rumahku, suasananya kerasa lumayan... asyik, kan? Aku rasa hubungan kita lumayan bagus, lho!"

"O-Oh."

"T-Terus ya, Hiromichi-kun pernah bilang kan sebelumnya? 'Kalau dalam sebulan aja kita udah bisa pegangan tangan, seumur hidup nanti kita bakal seakrab apa'!"

"A-Ah... Iya, aku memang bilang gitu."

Mengingatnya saja sudah membuatku mati kutu karena malu. Berani-beraninya anak SMA sepertiku ngomong soal seumur hidup, bodoh banget, kan.

...T-Tunggu, Saat itu kukira dia cuma tertawa dan memaafkan kecerobohanku, tapi jangan-jangan... aslinya dia merasa jijik padaku?!

Teringat kembali analisis Shigure soal makna di balik pembatalan janji, tulang belakangku langsung merinding. Namun, ternyata bukan itu yang terjadi──

"Aku... benar-benar bahagia. Aku jadi tahu kalau kamu memang ingin terus bersamaku. Makanya... aku juga mikir kalau aku harus lebih berusaha lagi."

"Lebih berusaha apanya...?"

"Supaya kita bisa melangkah ke tahap selanjutnya sebagai sepasang kekasih!"

"EH?!"

"Kh~! P-Pokoknya hari ini aku cuma mau ngomong itu! Kalau aku nggak menutup jalan kaburku sendiri, aku pasti bakal jadi penakut dan nggak bisa ngomong apa-apa! Y-Ya udah, besok kutunggu jam 12 di stasiun biasa, ya! Selamat malam!"

Mungkin dia merasa malu mendengar teriakanku yang aneh, Haruka segera memutus panggilannya seolah sedang melarikan diri.

Aplikasi pun mengeluarkan suara notifikasi pertanda panggilan terputus.

Meskipun begitu, aku masih berdiri mematung dengan ponsel menempel di telinga.

Kata-kata Haruka barusan terus terngiang di telingaku. Itu adalah pernyataan tegas tanpa celah kebingungan maupun salah paham──

"SH-SHIGURE!! SHIGURE, SHIGURE, SHIGUREEE!!"

Saat makna di balik perkataannya akhirnya meresap ke dalam otakku, kepalaku langsung panik akibat kombinasi rasa gembira, terkejut, dan malu yang tak tertahankan; aku pun berlari masuk ke ruang tengah untuk meminta pencerahan.

"Iya, iya, iya. Aku ini cuma satu, lho."

"Tadi Haruka nelepon, dia bilang besok dia mau berusaha biar kita bisa melangkah ke tahap selanjutnya sebagai pacar! BARUSAN BANGET!"

"...! Hee. Syukurlah kalau begitu."

Shigure sempat membelalakkan matanya karena kaget sesaat, namun ekspresinya langsung berubah kembali menjadi ekspresi bosan.

"Terus, Kakak mau nyuruh aku jadiin cerita buncin itu lauk tambahan ayam goreng ini, gitu? Rasanya perutku bakal mual, deh."

"Bukan itu maksudku! T-Tahap selanjutnya setelah pegangan tangan waktu itu, berarti itu kan?! ──HUG (pelukan), KAN?!"

"Tumben banget skala cinta Kakak ini jadi super detail gini."

Eh, bukan?!

"Terus kalau bukan hug, apa dong..."

"Normalnya di tahap hubungan Kakak saat ini, kalau ngomongin 'tahap selanjutnya', itu berarti ciuman, kan?"

"C-C-C-C-CIUMAN?!?!"

YANG BENER AJA?!

Yah, memang sih ciuman antara sepasang kekasih itu wajar, dan kemarin juga suasananya seakan memberi celah buat hal itu; tapi masa iya besok kami bakal sampai ke tahap itu?!

Besok, bibir mungil Haruka yang menggemaskan itu dan bibirku ini bakal... UWAAAAAA!

"Gawat, gawat, aku deg-degan banget! H-Hei Shigure! Kalau ciuman itu harus gimana?! Aku belum pernah ngelakuinnya jadi aku nggak tahu, tapi apa ada aturan etiket tak tertulis yang pantang dilanggar?! Atau pantangan mutlak bagi cewek, gitu?! Kamu kan jago soal ginian, tolong ajarin aku, dong!"

"Emangnya Kakak anggap aku ini apa, sih."

Shigure menatapku dengan sorot mata menyalahkan. Kukira Shigure berpengalaman dalam hal semacam ini, tapi ternyata tidak juga, ya.

Di saat aku membatin demikian, ekspresi Shigure mendadak berubah. Menjadi ekspresi licik yang biasa dia tunjukkan.

Dengan kilatan sinis yang tersembunyi di balik matanya yang menyipit, ekspresi sadis andalannya. Aku tahu.

Kalau dia sudah mulai buka mulut, dia pasti nggak bakal ngomong hal yang benar.

"Tapi begini ya, kalau Kakak sebegitu khawatirnya, mau latihan dulu malam ini?"

"Hah? Latihan? Ciuman?"

"Iya. Lagian kan, ada target latihan yang pas banget di depan mata Kakak, kan? Adik kembar pacar Kakak yang wajahnya, postur tubuhnya, suaranya, bahkan aroma tubuhnya sama persis."

"Kh?!"

"Kakak anggap aja aku ini Kak Haruka, terus latihan ciuman sama aku, gampang kan? Dengan begitu besok Kakak nggak bakal malu-maluin diri sendiri, kan?"

TUH KAN! NGGAK BENER, KAN! Anak ini emang selalu ngomong hal-hal nggak masuk akal begini!

"BODOH! Mana mungkin aku bisa ngelakuin hal gila kayak gitu!"

"Aku sih nggak keberatan, lho~?"

"KEBERATAN, DONG! Biar cuma bercanda, cewek itu pantang ngomong sembarangan kayak gitu, tahu!"

"...Fufu, Kakak ini memang baik hati, ya. Benar-benar sangat baik hati. Dengan sikap begitu, sepertinya hubungan Kakak dengan Kak Haruka nggak bakal awet."

...Eh?

Mendengar nada suara Shigure yang mendadak berubah dingin menusuk, aku kembali menatap matanya yang sempat kuhindari. Shigure sedang tersenyum.

Tapi bukan senyum iblis seperti biasanya. Itu adalah senyum dingin bak menatap seekor serangga.

"Apa maksud omonganmu itu?"

"Maksudku persis seperti yang kubilang. Cepat atau lambat, Kakak pasti bakal putus sama Kak Haruka."

"K-Kenapa kamu bisa seyakin itu!"

"Tentu saja aku yakin. Cowok nggak peka yang nggak bisa bersikap baik seperti Kakak, cewek mana pun pasti bakal muak, tahu. Sebaiknya Kakak belajar cara bersikap baik... hmm, misalnya meniru Aizawa-san dari kelas Kakak, deh."

"Hah?! AIZAWA?!"

Tanpa sadar aku mengeluarkan jeritan aneh. Habisnya, mau bagaimana lagi. Aizawa Akira. Teman sekelas dari kelas unggulan tahun kedua.

Cowok brengsek yang selalu ngumpul sama komplotannya di kelas, terus ketawa ngakak ngebahas cewek-cewek yang udah mereka mainin.

Tentu saja, reputasinya di kalangan cewek juga sangat buruk.

Terserah kalau aku dibilang nggak baik, tapi membandingkanku dengan Aizawa itu jelas bikin siapa pun bakal teriak aneh, kan.

"Aizawa itu musuh para cewek, tahu! Dia selalu gonta-ganti cewek seenaknya! Entah udah berapa cewek di kelas yang dibikin nangis sama si bajingan itu...!"

"Tapi dia disukai banyak cewek, kan? Sampai-sampai waktunya selalu penuh."

"Kh, itu karena wajahnya aja yang ganteng."

"Menurutku wajahnya nggak seganteng itu, lho. Mungkin dia kelihatan modis sih, tapi kalau dari segi penampilan, nggak beda jauh lah sama Kakak."

...Sebenarnya, aku juga menyadari kalau wajah Aizawa itu nggak terlalu istimewa.

Mengesampingkan diriku, perbedaannya bakal langsung kelihatan jelas kalau dibandingkan dengan Tomoe. Kualitas fitur wajahnya jelas berbeda jauh dari dasarnya.

Karena itulah, wajar kalau ada pertanyaan kenapa cowok sepertinya bisa sangat populer.

Namun, kata-kata Shigure yang tepat sasaran itu membuatku kehabisan kata-kata untuk membantah.

Melihatku yang bungkam, Shigure kembali melanjutkan perkataannya.

"Cewek-cewek itu sering banget bilang begini, 'Aku suka cowok yang baik'. Cowok nggak laku kayak Kakak pasti nelan omongan itu mentah-mentah, padahal itu adalah KESALAHAN BESAR. Perkataan cewek itu selalu bersifat subjektif."

"Artinya, 'baik' dalam hal ini bukanlah definisi 'baik' secara umum, melainkan 'baik' bagi dirinya sendiri sebagai pacarnya──dengan kata lain, cowok yang menguntungkannya. Aizawa-san memang bajingan playboy yang sama sekali nggak punya kebaikan seperti yang dikenal masyarakat umum, tapi cewek yang jadi pacarnya pasti merasa sangat bahagia saat bersamanya. Soalnya, dia takkan membiarkan pacarnya kebingungan."

"Takkan membiarkan kebingungan...?"

"Apa dia beneran cinta padaku, ya? Seberapa jauh aku harus merayu biar dia senang, ya? Harusnya hari ini aku lebih agresif aja, ya? Jangan-jangan hari ini... dia malah membenciku, ya? Tarik-ulur, terus mikirin ini-itu. ──Mikirin hal-hal kayak gitu itu bikin capek, tahu?"

Ah...

"Orang seperti Aizawa-san itu takkan pernah membiarkan ceweknya memikirkan hal-hal yang bikin pusing itu. Dia bertindak sangat agresif sampai-sampai ceweknya nggak punya waktu buat mikir, jadi ceweknya nggak bakal merasa cemas. Dia menyingkirkan semua kerumitan itu, dan hanya memberikan kebahagiaan dalam romansa secara sepihak. Tak peduli betapa brengseknya dia di mata dunia, bagi sang pacar, bukankah itu wujud dari sebuah kebaikan?"

"Ya, dia itu cowok yang 'baik', lho. Jauh lebih baik dari Kakak yang membiarkan pacarnya menderita kebingungan, dan memaksanya melakukan panggilan telepon yang seolah memutus jalan kaburnya sendiri."

"KHHH~!"

Tak ada satu pun kata bantahan yang bisa kuucapkan. Aku sama sekali tak bisa membantahnya. Karena aku sudah sepenuhnya menyadari hal itu.

Pemahaman akan 'bersikap baik pada cewek' yang tertanam di dalam diriku. Pemahaman itu sudah salah kaprah dari akar-akarnya.

Atau lebih tepatnya, meskipun pemahaman itu tidak salah secara umum, mengaplikasikannya mentah-mentah pada gadis yang berstatus sebagai kekasih adalah sebuah kesalahan besar.

Makanya, Haruka sampai meneleponku dengan nada seperti itu.

"Tapi itu sudah berlalu. Menyesali hal yang sudah lewat pun percuma. Pertanyaannya adalah, apa yang bakal Kakak lakukan sekarang? Apa Kakak bakal ngebiarin Kak Haruka yang ngambil inisiatif ciuman ini? Atau Kakak bakal nunggu Kak Haruka menderita kebingungan, nyari-nyari celah keberanian dari setiap perkataan Kakak biar dia berani mendekat?! Atau jangan-jangan, kali ini Kakak yang bakal ngumpulin keberanian buat mengambil langkah?!"

"T-Tentu saja aku yang bakal──"

"Aha!"

Aku yang bakal ngelakuinnya. Baru saja aku mau mengucapkannya, Shigure langsung memotong ucapanku dengan nada meremehkan.

"Mana mungkin Kakak bisa ngelakuin hal semacam itu."

"Hah?!"

"Sama diriku yang cuma barang palsu dari pacarmu ini aja Kakak nggak berani bertindak tegas, mana mungkin Kakak yang lemah dan payah ini berani ngambil langkah nekat sama pacarmu yang kelewat berharga itu?! Ujung-ujungnya Kakak pasti bakal ngeles 'perasaan Haruka itu yang terpenting~' sambil nyari-nyari alasan bodoh buat nahan diri, kan?! Kakak sendiri aslinya udah nyadar, kan? Kalau Kakak ini memang pengecut. Buktinya, padahal udah ku- bully habis-habisan gini, Kakak nggak bisa balas dendam sedikit pun padaku, kan? Pfft."

"Ghh,"

Kenapa,

"Nggak apa-apa, kok~ Kalau Kakak mau jadiin aku bahan latihan sebelum melakukannya ke Kak Haruka. Boleh kok Kakak membungkam paksa mulutku yang dari tadi bikin Kakak kesal ini. Toh aku sendiri yang bilang nggak apa-apa, kan? Nggak berani, ya?"

"KHHH~~~!"

Kenapa sampai sebegitunya,

"...Tuh kan, nggak berani ngapa-ngapain. Kakak ini beneran cowok menyedihkan. Ampas. Ampas! Kayaknya Kakak dan Kak Haruka beneran nggak bakal awet, deh. Yah, kalau buatku sih, putusnya Kakak dari Kak Haruka itu malah ngebantu banget; aku jadi nggak perlu repot-repot nyimpen rahasia lagi dari Kak Haruka. Ah, iya. Gimana kalau Kakak sama aku aja? Aku lumayan suka lho sama Kakak yang lemah dan menyedihkan ini."

"HENTIKAN OMONG KOSONGMU, BRENGSEEEK!!!!"

Tatapan matanya yang merendahkan. Senyuman mengejek di bibirnya. Hinaan yang dilantunkannya seolah sebuah nyanyian.

Semua itu membuat otakku rasanya mendidih terbakar. Membabi buta. Seumur hidup, baru kali inilah aku benar-benar merasakan ketepatan dari kiasan tersebut.

Terdorong oleh emosi yang meledak, aku melakukan tindakan yang sama sekali tak terbayangkan di saat normal.

Aku langsung menerkam Shigure yang terus memprovokasiku, dan membantingnya ke lantai dengan kasar.

Mencengkeram kedua lengannya, menekannya kuat-kuat ke atas tatami, dan menindihnya agar seluruh berat badanku menguncinya.

Shigure tak pernah menyangka kalau aku benar-benar terpancing oleh provokasinya. Matanya terbelalak lebar karena terkejut.

Tubuhnya mengejang kaku dan matanya bergetar penuh kepanikan. Aku menekan tubuh Shigure dengan paksa.

Entah kapan terakhir kali aku bertindak sekasar ini pada perempuan.

SD? TK? Aku bahkan tak bisa mengingatnya.

Jangan-jangan ini adalah yang pertama kalinya seumur hidup.

Ya, otakku sudah terbakar hebat sampai-sampai aku melakukan hal gila seperti ini.

Justru karena sedang terbakar amarah, ──aku sendiri tidak tahu apa yang bakal kulakukan padanya.

Tapi,

"──────, kh"

Detik berikutnya, otakku yang mendidih terasa seperti disiram seember air es. Tanganku yang mencengkeram pergelangan tangan Shigure.

Di sanalah aku merasakan perlawanan Shigure yang mencoba melepaskan diri dari kuncianku. Perlawanan yang sangat lemah.

Padahal dia harusnya memiliki dasar ilmu bela diri.

Atau memang sekeras apa pun dilatih, tenaga seorang perempuan takkan sanggup menepis pria yang menindihnya dari atas?

Tulang yang tipis dan daging yang ringkih yang bisa tergenggam seutuhnya dalam tanganku.

 Lengan yang kelewat rapuh dibandingkan lengan pria, dengan tenaga yang teramat lemah.

Kalau aku mau, aku bisa berbuat apa saja pada makhluk lemah ini. Pada adik kembar berwajah pacarku ini, apa saja.

Merasakan kenyataan itu melalui telapak tanganku,

"M-Maafkan aku!"

Tubuhku merinding kengerian.

Aku buru-buru melepaskan tangan Shigure dan melompat berdiri.

Melihatku yang gemetaran, Shigure tersenyum polos tanpa niat jahat sedikit pun.

"...Ternyata Kakak bisa melakukannya kalau memang mau, ya."

"!"

"Yah, terlalu kasar sampai dibanting gini sih nilainya minus; tapi ini jauh lebih baik daripada nggak berbuat apa-apa sama sekali."

"Apa maksudmu, Shigure?"

"Apanya yang apa, Kakak sendiri kan yang tadi minta diajarin larangan mutlak buat cewek, kan? Dengar baik-baik. Pada dasarnya, Kakak itu kelewat menghargai perempuan. Ah, bukan begitu. Daripada 'menghargai', lebih tepatnya Kakak 'terlalu ketakutan' pada perempuan. Tapi kalau setiap langkah Kakak diambil dengan sikap mengukur jarak penuh kehati-hatian, yang ada Kak Haruka malah capek sendiri, lho. Kakak harus lebih berani menunjukkan perasaan Kakak padanya. Jangan malah menyembunyikan perasaan Kakak dan berharap Kak Haruka yang bakal membimbing Kakak. Ada kalanya sikap blak-blakan Kakak itu bakal bikin Kak Haruka kaget atau takut, tapi kalau tindakan itu didasari oleh cinta, aku yakin Kak Haruka bukanlah orang yang berpikiran sempit untuk tidak memaafkannya."

"............"

"Selesai! Pelajaran larangan mutlak buat cewek dari Guru Shigure tamat sampai di sini! Ayo cepat dihabiskan makanannya, aku mau beresin piringnya nih."

...Oh, begitu rupanya. Sekarang aku mengerti.

Kenapa Shigure—yang sangat jago membedakan batas antara 'candaan usil' dan 'pertengkaran beneran'—tiba-tiba melampaui batas kewajarannya hanya untuk saat ini saja.

Alasan kenapa dia memprovokasiku sampai membuatku kehilangan akal sehat.

Shigure ingin memberiku pengalaman meluapkan emosi mentah-mentah pada seorang perempuan.

Dan pastinya, itu semua bukan demi diriku. Melainkan demi Haruka.

"...Shigure, kamu ternyata bener-bener baik, ya."

"Baru nyadar? Mata Kakak benar-benar payah, ya."

Shigure pasti merasa marah. Marah pada kakaknya yang membiarkan pacarnya sampai harus melakukan panggilan telepon semacam itu. Dan jujur saja, itu wajar.

Tadi aku sempat kegirangan kayak orang bodoh ditelepon Haruka, tapi itu karena aku telah membebankan seluruh penderitaan dan kebingungan soal melangkah ke tahap selanjutnya sepenuhnya pada Haruka.

Betapa bimbangnya Haruka sebelum meneleponku, betapa kalutnya dia; dan betapa tegangnya dia saat melakukannya.

Memikirkan hal itu, bukannya senang, aku malah ingin menghajar diriku sendiri saking bencinya dengan ketidakbergunaanku.

Pasti itulah perasaan yang dirasakan Shigure padaku.

Maka dari itu, aku──bersumpah pada Shigure.

"Hei, Shigure. Besok aku pasti bakal cium Haruka. Tentu saja, AKU YANG BAKAL NGAMBIL LANGKAHNYA! Mungkin dia bakal kaget, atau mungkin juga menolak, TAPI AKU TETAP BAKAL NGELAKUINNYA DULUAN! Dia udah nembak aku duluan. Kalau aku nggak ngelakuin minimal segini, aku nggak pantes disebut cowok, kan?!"

"...Yah, coba aja Kakak buktikan dengan usahamu sendiri."

"Iya. Aku pasti bakal berusaha, kok!"



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close