NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kyoto Nadeshiko Kiyoko-san no Junjo Uraomote V1 Chapter 6

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 6

Liburan Musim Panas, Kedai Kopi, Kembang Api, dan...

1


"Kouya-kun, aaa~"


Kiyoko yang sedang mengenakan celemek merah muda tampak sangat ceria. Ia menyodorkan sepotong kue berbentuk balok berukuran sekitar 3 sentimeter persegi yang ditusuk garpu perak tepat ke depan mata Kouya.


"............"


Kouya sempat mempertanyakan harga dirinya selama 3 detik; apakah ia harus melahap makanan yang disodorkan layaknya kepada anak kecil seperti ini atau tidak. Namun pada akhirnya, ia membatin, Ah, sudahlah! lalu menggigit kue yang disodorkan Kiyoko.


Begitu kue itu dikunyah di dalam mulut, lapisan moci yang lembut langsung pecah, menyebarkan perpaduan rasa kacang kenari (walnut) dan cokelat.


"Enak?"


Ditanya oleh Kiyoko yang tersenyum lebar, Kouya mengangguk jujur.


"Enak. Di luar dugaan, rasanya condong ke western, ya."


"Ini kue moci Habutae prototipe nomor 1, isinya kelapa, kacang kenari, dan selai cokelat putih."


"Kamu bikin makanan bereksperimen yang aneh-aneh lagi......"


"Aku berniat memasukkan ini ke dalam menu kedai “Casandra. Tapi karena biaya modalnya terlalu tinggi dan tidak menutup keuntungan, aku mau memperbaikinya sedikit lagi. Kalau prototipe nomor 2 sudah jadi, tolong dicicipi dan beri ulasan lagi, ya."


Gadis bercelemek itu pun bergegas kembali ke dapur. Ia pasti akan langsung melakukan eksperimen lanjutan untuk memperbaiki kue tersebut.


"Baru juga mulai liburan musim panas, sudah begini saja......"


Haaah... Kouya mengembuskan napas panjang.


Hari ini adalah hari pertama liburan musim panas yang bersejarah. Namun, tepat saat liburan dimulai, kelas eksperimen membuat kue milik Kiyoko juga ikut dimulai. Kiyoko tampaknya benar-benar berambisi untuk menambahkan menu kue kreasi buatannya ke dalam menu kedai “Casandra”.


Kira-kira, sampai liburan musim panas ini berakhir nanti, berapa banyak lagi kue prototipe yang harus ia jejalkan ke dalam perutnya?


Di usianya yang masih belasan tahun dengan metabolisme tubuh yang sedang bagus-bagusnya, Kouya sama sekali tidak pernah menyangka kalau ia harus sampai mengkhawatirkan masalah berat badan.



Meskipun selama ini Kouya dan Kiyoko memang sudah sering bekerja paruh waktu di kedai “Casandra”, selama liburan musim panas ini mereka benar-benar dikerahkan secara penuh untuk menjaga kedai. Terlebih lagi hari ini, karena Juuro sedang pergi ke rumah sakit, mereka berdua praktis bertindak sebagai perwakilan manajer kedai.


"——Baik, baik. Barang Anda akan segera kami antarkan sekarang. Mohon tunggu sebentar."


Tepat saat Kouya selesai melayani pelanggan di meja, Kiyoko meletakkan gagang telepon rumah. Tampaknya ia baru saja selesai merespons telepon dari pelanggan lain.


"Kouya-kun, bisa tolong antarkan ini ke rumah Sakazaki-san?"


Kiyoko menyodorkan sebuah dompet kulit kepada Kouya yang baru saja kembali.


'Sakazaki-san' adalah salah satu pelanggan setia kedai “Casandra”.


"Katanya dompetnya ketinggalan. Aku sudah menanyakan alamat rumahnya, jadi tolong, ya."


Kiyoko menyerahkan secarik kertas memo lalu langsung menyuruh Kouya pergi tanpa memberi celah untuk membantah. Dengan lihai, gadis itu melemparkan urusan merepotkan seperti mengantarkan barang bawaan pelanggan yang tertinggal langsung ke rumahnya kepada Kouya.


Kouya berjalan keluar dari kedai sejauh beberapa ratus meter demi mengantarkan barang yang tertinggal milik pelanggan setia tersebut. Namun, saat ia menghentikan langkah sejenak dan membuka kertas memo untuk memastikan alamatnya, ia dibuat terperangah.


『Perempatan di depan “Casandra”, jalan terus sampai "dontsuki", lalu "agaru". Rumah dengan tempat menanam bunga warna merah』


Memo itu ditulis dengan tulisan tangan yang rapi, yang jelas merupakan tulisan milik Kiyoko.


"Sengatan 'dontsuki' itu apa, coba!?"


Kouya spontan berteriak frustrasi karena diberi petunjuk jalan yang mirip teka-teki sandi menggunakan dialek Kansai yang asing.


Memo sekilas seperti ini mana bisa membuatnya sampai ke tempat tujuan. Gara-gara memo tidak jelas yang menggunakan istilah lokal ini, ia malah bisa-bisa tersesat di lingkungannya sendiri. Ini benar-benar bukan lelucon.


Namun, ia merasa pernah mendengar istilah seperti 'agaru' (naik) atau 'sagaru' (turun) saat ia berada di Kyoto dulu.


——Ingatlah, diriku! Ingat kembali memorimu saat berada di Kyoto dulu!!


Kouya berusaha keras memutar kembali ingatan masa kecilnya. Namun, ingatan itu tidak bisa langsung muncul dalam sekejap. Meminta seseorang untuk mengenang kembali memori masa lalunya secara mendetail saat masih berusia enam tahun jelas merupakan hal yang mustahil.


Dan tak lama kemudian, Kouya menyadari sebuah fakta mendasar di era modern ini: daripada repot-repot memutar otak mengingat masa lalu, akan jauh lebih cepat jika ia mencarinya di internet. Ia pun langsung mengeluarkan ponsel pintarnya dengan sigap.


Berkat bantuan teknologi dari mesin pencari web, fakta yang sebenarnya berhasil terungkap jauh sebelum ia sempat mengingat memorinya sepuluh tahun yang lalu.


Dontsuki, agaru -> Arti yang benar: Jalan terus sampai ujung jalan buntu, lalu belok ke utara.


Secara akurat, istilah 'agaru' atau 'sagaru' di Kyoto merujuk pada patokan Istana Kekaisaran (Gosho). Bagi Kiyoko yang rumah masa kecilnya berada di sebelah selatan istana, kata 'agaru' berarti mengarah ke utara.


"Tolong berhenti menulis alamat pakai dialek lokal, dong!!"


Sambil menggerutu dan menyumpahi Kiyoko di dalam hati, Kouya melanjutkan langkahnya ke arah utara dari ujung jalan buntu.


"Ah, ketemu!"


Dan persis seperti yang tertulis di memo, ia akhirnya berhasil menemukan kediaman Sakazaki-san yang memiliki tempat menanam bunga berwarna merah.


Setelah berhasil sampai di rumah pelanggan setia tersebut dan mengembalikan dompet yang tertinggal, Kouya pun bersumpah di dalam hatinya.


————Aku benar-benar harus mengomeli Kiyoko-san sekarang juga!


2


"Kiyoko-san!"


Sambil menahan amarah, Kouya membuka pintu kedai kopi “Casandra“ lebar-lebar dan melangkah mendekati Kiyoko. Ia berniat untuk langsung melayangkan protes mengenai alamat rumah di memo tersebut. Namun, gadis yang ditujunya itu justru sedang memasang ekspresi wajah yang sangat serius. Atmosfer di dalam kedai pun terasa agak tidak mengenakkan, persis seperti ketika suatu masalah sedang terjadi.


"? ......Ada masalah sesuatu ya saat aku sedang pergi tadi?"


Kouya memutuskan untuk menunda dulu niatnya memprotes, lalu menurunkan nada bicaranya sambil bertanya kepada Kiyoko.


"Ada pelanggan yang terus bertahan di mejanya padahal cuma memesan secangkir kopi. Ditambah lagi, sikapnya benar-benar membuat atmosfer kedai jadi tidak nyaman......" beritahu Kiyoko sambil mengernyitkan dahi.


Arah pandangan mata Kiyoko tertuju pada seorang pria berambut pirang berusia pertengahan 20 tahunan yang berpenampilan seperti cowok gaul yang urakan.


Pria pirang itu bersandar dengan posisi malas-malasan di kursinya, memegang ponsel pintar, dan sedang berbicara dengan nada sangat keras kepada orang yang tampaknya adalah temannya. Suaranya yang menggelegar itu terdengar sampai ke seluruh penjuru kedai.


Dari apa yang terdengar, pria pirang ini tampaknya memiliki beberapa teman kencan sekaligus, dan ia sedang mengumbar kelanjutan kisah dari wanita-wanita yang telah dicampakkannya dengan suara lantang ke mana-mana.


"Ah, tipe pelanggan pembuat masalah yang seperti itu, ya......"


Karena terpaksa harus mendengarkan drama masalah wanita yang sama sekali tidak ingin mereka dengar, para pelanggan di sekitar meja pria itu pun mulai memasang wajah terganggu. Namun, karena pria itu berpenampilan seperti seorang playboy yang agak menyeramkan, atmosfernya seolah mengisyaratkan bahwa tidak ada seorang pun yang berani menegurnya.


Kiyoko menggelengkan kepalanya pasrah.


"Mau bagaimana lagi, biar aku saja yang maju."


Sebelum Kouya sempat menahannya, Kiyoko sudah melangkah berjalan menghampiri si pria pirang sambil membawa teko kopi di tangannya. Pria pirang itu menyadari kehadiran Kiyoko lalu mendongakkan wajahnya.


Sambil memegang teko berisi kopi yang bergoyang, Kiyoko melemparkan senyum ramah khas pelayan kedai kepada pelanggan pembuat masalah tersebut.


"Pelanggan yang terhormat, apakah Anda ingin menambah kopi lagi? (Arti tersirat: Cepat pulang sana!)"


Secara harfiah, ini adalah taktik hidangan teh chazuke versi kedai kopi. Jika tindakan ini dilakukan di Kyoto, pelanggan yang tahu diri akan langsung peka bahwa pihak kedai merasa terganggu dengan keberadaannya, sehingga mereka akan menolak tawaran tambah kopi dengan sopan lalu segera pergi ke kasir untuk membayar. Namun sayangnya, saat ini mereka sedang berada di daerah Asakusa, Tokyo.


Sama sekali tidak ada jaminan bahwa cara diplomatis ala Kyoto milik Kiyoko ini akan berhasil.


————Memangnya istilah tersirat begitu bakal mempan ke pelanggan daerah Kanto!?


Kouya menahan napas dalam-dalam sembari mengawasi bagaimana respons dari pria pirang tersebut.


"Oh, thank you!"


Sesuai dugaan, si pria pirang sama sekali tidak bisa menangkap sinyal 'bubuzuke' tersirat dari Kiyoko. Dengan ekspresi yang tampak senang, ia justru bersiap menerima layanan tambah kopi gratis tersebut.


Kan, tidak mempan, Kiyoko-san.


Merasa suasana hatinya mulai terusik, alis Kiyoko tampak sedikit berkedut. Namun, pria pirang pembuat masalah itu sama sekali tidak menyadari perubahan emosi yang samar dari sang gadis. Bahkan dengan sangat tidak tahu diri, pria pirang itu tiba-tiba mencengkeram lengan Kiyoko.


"Kamu, shift kerja paruh waktumu selesai jam berapa?"


"Ya?"


Melihat Kiyoko yang tampak kebingungan, pria pirang itu semakin merangsek maju tanpa tahu malu.


"Aku tahu tempat nongkrong yang asyik, lho. Suasananya jauh lebih dewasa daripada kedai ini. Habis ini, mau kan pergi bareng Aku?"


——Ini adalah apa yang biasa disebut orang-orang sebagai aksi menggoda wanita.


"————"


Niat awal Kiyoko adalah memberikan teguran secara tidak langsung untuk mengusir pelanggan yang mengganggu, tetapi ia malah berakhir digoda oleh pria asing. Respons pelanggan yang di luar ekspektasi ini membuat Kiyoko terperangah tidak percaya.


Melihat pelanggan pembuat masalah yang melakukan tindakan mengganggu secara terang-terangan itu, Kouya juga sempat dibuat tertegun sejenak.


Bagaimanapun juga, status orang itu adalah seorang pelanggan. Namun, ia jelas tidak bisa membiarkan situasi ini berlanjut begitu saja.


Pada detik berikutnya, tanpa ada keraguan sedikit pun, pemuda itu langsung melangkah maju ke depan.


"Nee-chan, jangan-jangan kamu orang Osaka, ya? Mantan pacarku juga orang Osaka, lho. Orangnya keras kepala banget. ——Tapi ya, kalau dibanding dia, kamu jauh lebih cantik, sih."


"Anu, maaf sebelumnya——"


Sebelum Kiyoko sempat membalas ucapan pria itu, Kouya sudah menyela dan berdiri menengahi di antara mereka berdua.


"Pelanggan yang terhormat, bisa tolong jangan menggoda pacar saya?" ujar Kouya dengan tegas sambil menatap tajam ke arah pria pirang tersebut.


"Pacar? Aku? Pacar Kouya-kun?"


Perubahan situasi yang mendadak ini membuat mata Kiyoko spontan membelalak terkejut.


"Oi, oi, Nee-chan. Masa cewek secantik kamu malah pacaran sama cowok yang tidak ada menarik-nariknya sama sekali begini, sih."


Tanpa memedulikan kebingungan Kiyoko, pria pirang itu melirik sekilas ke arah Kouya lalu mencibirnya dengan nada meremehkan.


Pada instan itu juga, sorot mata Kiyoko seketika berubah menjadi tajam dan dingin.


"————"


Brak! Kiyoko mengentakkan teko kopi yang dipegangnya dengan kasar ke atas meja tempat pria pirang itu duduk.


Akibat momentum benturan tersebut, cairan kopi sampai sedikit terciprat keluar dari dalam teko. Namun, gadis asal Kyoto itu tampak sama sekali tidak memedulikannya.


"Masalah Kouya-kun itu orang yang menarik atau tidak, biarkan aku sendiri yang menilainya."


Kiyoko menyunggingkan senyum manis ke arah pelanggan pembuat masalah tersebut.


"Tolong jangan asal bicara seenaknya tentang orang lain padahal Anda tidak tahu apa-apa. Onii-san, bukankah Anda sebenarnya sudah punya pacar? Tadi aku tidak sengaja melihat isi chat LINE Anda, lho. Tampaknya Anda memang punya banyak wanita mainan di luar sana, tapi pacar Anda yang itu adalah pilihan utama Anda yang sesungguhnya, kan? Kalau Anda mau, bagaimana kalau aku sendiri saja yang memberi tahu pacar Anda kalau Onii-san baru saja merayu dan mengajakku pergi bersama?"


Itu adalah senyum kegelapan (ankoku bisho) khas milik Kiyoko.


Wajahnya memang tersenyum manis, tetapi matanya sama sekali tidak memancarkan binar tawa. Aura mengintimidasi yang mengisyaratkan 'jangan berani-berani membuatku marah' terpancar kuat dari tubuhnya.


Pria pirang itu tampaknya juga bisa merasakan bahaya yang mengancam keselamatan dirinya secara naluriah.


"......Tidak, tidak perlu. Terima kasih."


Sambil menarik otot pipinya yang tegang karena ketakutan dan melangkah mundur, si pria pirang urakan itu langsung menyambar bon pembayaran, bergegas menuju kasir, lalu kabur melarikan diri dari kedai.


Kouya hanya bisa mengawasi kepergiannya sembari merasakan bulu kuduknya meremindang ngeri. Kalau itu adalah seorang Shizukuishi Kiyoko, ancaman tadi jelas bukan sekadar gertakan sambal, ia benar-benar berniat melakukannya.


————Lebih baik cari aman dan jangan mencari masalah dengan Kiyoko.


Lonceng pintu kedai berdentang, menandakan si pelanggan pembuat masalah telah pergi.


Setelah memastikan hal itu, tepat di samping Kouya yang sedang menatap langit-langit, Kiyoko seketika lemas dan terduduk lesu.


"Aduh, menakutkan sekali... Untung saja Kouya-kun cepat kembali......"


"Eeeh!? Kamu merasa takut!?"


Mengingat tadi gadis itu tampak anehnya begitu tenang dan percaya diri, pengakuan bahwa dirinya merasa takut benar-benar di luar dugaan Kouya.


Sambil masih terduduk lemas, Kiyoko melirik sekilas ke arah Kouya.


"Itu tadi kan cuma gertakan saja. Aku sempat berpikir harus bagaimana kalau dia ternyata tipe orang yang benar-benar berbahaya. Tapi, kalau cuma menghadapi pelanggan sejenis itu, aku jauh lebih terbiasa, jadi Kouya-kun tidak perlu memaksakan diri, kok."


"Aku tidak memaksakan diri, tahu!"


"Kouya-kun, sejak awal nada bicaramu sudah seperti mengajak bertengkar, kan? Kalau kamu yang maju, situasi tadi pasti akan berubah jadi baku hantam. Makanya, kalau masalahnya bisa selesai cuma dengan gertakan dariku, bukankah cara itu jauh lebih baik?"


"......Maaf."


Antara merasa tidak berdaya dan malu, Kouya akhirnya menundukkan kepalanya dalam-dalam.


"Kenapa minta maaf?"


"Padahal aku berniat maju untuk melindungimu. Tapi malah berakhir seperti akulah yang dilindungi olehmu......" gumam pemuda itu dengan suara lirih sambil membuang muka karena merasa serba salah.


Ini benar-benar tidak keren. Ia malah berakhir dilindungi balik. Kouya benar-benar sedang merajuk saat ini, persis seperti anak kecil.


"............"


Kiyoko membatin bahwa sikap Kouya saat ini terlihat manis, tetapi karena ia tahu hal itu pasti akan melukai harga diri Kouya, ia langsung menelan kembali kata-kata yang sudah sampai di ujung tenggorokannya itu. Kemudian, gadis itu mengulurkan tangan dan mengelus lembut kepala Kouya seolah sedang menenangknnya.


"Tung... Kiyoko-san——"


"Niat dan perasaan Kouya-kun yang sudah mencoba untuk melindungiku, akan kuterima dengan baik. ——Terima kasih, ya. Aku lumayan senang, lho."


"O-Oh."


Mendapat balasan kata-kata yang tidak terduga, respons Kouya menjadi agak terlambat.


Di saat Kouya masih sibuk memikirkan kalimat apa yang harus ia ucapkan selanjutnya, Kiyoko sudah berjalan melewati samping tubuh Kouya. Dan sebelum sempat ditahan, gadis itu sudah melangkah masuk dan menghilang di balik ruang dalam kedai.


"Lalu bagaimana harusnya aku meresponsnya, coba......"


Kouya yang ditinggal sendirian di ruangan itu hanya bisa bergumam dengan wajah yang merona merah karena saking malunya.


3


Awal mula tercetusnya obrolan untuk pergi melihat festival kembang api sebenarnya berawal dari sebuah percakapan santai yang tidak penting di sela-sela waktu kerja paruh waktu mereka.


"Eh? Kiyoko-san, kamu belum pernah pergi ke Kuil Kinkaku-ji?"


Kebetulan alur pembicaraan mereka sedang membahas tentang tempat-tempat wisata terkenal, dan di sanalah mendadak terungkap fakta bahwa Kiyoko ternyata belum pernah menginjakkan kaki di Kuil Kinkaku-ji.


Padahal Shizukuishi Kiyoko lahir dan tumbuh besar di Kyoto, tetapi ia sama sekali belum pernah pergi ke Kuil Kinkaku-ji yang sangat tersohor itu. Padahal jangankan orang Jepang, bahkan turis asing pun tahu tempat itu. Padahal rumah keluarganya, secara tidak langsung, berkecimpung di dalam dunia industri pariwisata lokal.


Berbanding terbalik dengan Kouya yang tampak terperangah, Kiyoko justru mengangguk santai seolah itu bukan masalah besar.


"Benar, lho. Kalau cuma memberikan peta dan memandu jalan untuk pelanggan, aku sering melakukannya. Tapi kalau untuk pergi ke sana demi urusan pribadi, aku belum pernah."


"Kenapa bisa begitu?"


"Apanya yang kenapa. Orang lokal kan biasanya memang jarang pergi ke tempat wisata yang ada di daerahnya sendiri. Tapi kalau mendaki Gunung Daimonji saat acara karyawisata sekolah, aku pernah, kok. Memangnya Kouya-kun sendiri sering pergi ke Kuil Senso-ji?"


"Sering, tahu. Di sana kan banyak kedai makanan moko (yatai), dan sering ada festival juga."


"Ah, pantas saja. Kouya-kun sepertinya memang tipe orang yang suka acara festival, ya."


Melihat Kiyoko yang mengangguk setuju dengan wajah polos, Kouya memasang pandangan setengah jengkel.


"......Tipe orang yang suka festival itu stereotipe macam apa, coba?"


"Habisnya, wajahmu kelihatan seperti tipe cowok yang suka acara festival atau kembang api, kan?"


"Wajah yang bagaimana maksudmu!?"


"Wajah yang memancarkan aura anak Asakusa asli (Edokko)."


"Itu stereotipe dari mana!?"


Meskipun penilaian sepihak dari Kiyoko terdengar seperti sebuah stereotipe yang asal-asalan, dalam satu sisi ucapan itu ada benarnya juga. Faktanya, Kouya memang menyukai festival. Ia juga menyukai kembang api.


"Ngomong-ngomong," 


Kiyoko sedikit memiringkan kepalanya, 


"Kenapa ya nama daerahnya dibaca Asakusa, tapi nama kuil di sini dibaca sebagai Kuil Senso-ji?"


"Mana kutahu."


"Kouya-kun tidak tahu?"


"Ya jelas tidak tahulah."


"Memangnya kalian tidak diajarkan tentang sejarah daerah lokal saat pelajaran IPS dulu?"


"Aku sudah tidak ingat lagi."


"Padahal saat aku masih SD dulu, kami disuruh meneliti tentang proyek Kanal Danau Biwa (Biwako Sosui) secara terus-menerus selama jam pelajaran, lho."


"Kenapa kalian yang di Kyoto malah harus meneliti tentang Danau Biwa saat jam pelajaran sekolah, sih?"


"Bukan meneliti Danau Biwa-nya, tapi meneliti kanal air yang dialirkan dari sana."


"Ah... Hal yang sering dipakai orang-orang Shiga untuk mengancam orang Kyoto dengan kalimat 'kami akan menyetop aliran air dari Danau Biwa', itu ya......"


"Hak pengelolaan kanal air itu ada di tangan Kyoto, dan bendungan Seta-gawa (Setagawa Araiseki) berada di bawah yurisdiksi Kementerian Lahan, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata. Jadi, warga Shiga tidak bisa menghentikan aliran air Danau Biwa hanya berdasarkan keputusan sepihak mereka sendiri, tahu."


"Kiyoko-san mendadak bersemangat memberikan penjelasan misterius......"


"Makanya, air dari Danau Biwa yang dialirkan melalui kanal itu adalah milik Kyoto. Karena proyek Kanal Danau Biwa itu sendiri adalah aset yang dikelola oleh pihak Kyoto."


"Tidak, tidak, tidak. Air Danau Biwa itu jelas-jelas milik prefektur Shiga, kan?"


"Terusan Suez itu milik Mesir, kan? Sama halnya dengan itu, air Danau Biwa adalah milik Kyoto yang memegang hak pengelolaan kanal airnya."


"............Logika begitu apa tidak membuat orang-orang Shiga marah?"


"Terusan Suez itu yang membuat orang Prancis bernama Lesseps, tapi pada akhirnya terusan itu sendiri tetap jadi milik Mesir, kan?"


"Kenapa pembicaraannya malah melenceng ke Terusan Suez......"


"Tarif tol Terusan Suez itu bisa sampai 50.000.000 yen untuk 1 kapal kontainer, tahu. Biarpun kalau tidak lewat terusan itu kapal-kapal harus memutar jauh lewat Tanjung Harapan, tarif segitu tetap saja terlalu memeras. Baik Piramida maupun Terusan Suez, orang-orang Mesir itu terlalu menggantungkan hidup pada warisan yang berdiri di atas genangan darah para leluhur mereka."


"Orang Kyoto bisa-bisanya bicara begitu? Padahal kalian sendiri adalah orang-orang yang paling dihidupi oleh warisan masa lalu di Jepang, kan?"


"Mesir itu punya populasi 100.000.000 jiwa, tapi tahu tidak kalau distribusi penduduknya sangat tidak masuk akal karena hampir semuanya tinggal di sepanjang aliran Sungai Nil?"


"Makanya aku tanya, kenapa dari tadi pembicaraannya malah jadi membahas Mesir, sih!"


"Kalau melihat foto satelit malam hari dari Mesir, kamu pasti bakal terkejut."


"Sudah cukup bahas Mesirnya, untuk saat ini minta maaf saja dulu sana kepada orang Shiga."


"Di ruangan ini kan cuma ada orang Asakusa dan orang Rakuchu (pusat kota Kyoto), memangnya kita perlu menaruh simpati dan kepedulian kepada orang Shiga?"


Kiyoko pun terkekeh dan tersenyum simpul.


"Hei, kalian berdua."


Perdebatan tidak berujung yang telah menabrakkan diri ke Mesir dan Shiga itu seketika terhenti oleh kedatangan Juuro yang berjalan menghampiri mereka sambil memegang amplop cokelat.


"Kakek, ada apa?"


Di depan Kouya yang tampak tidak puas, Juuro menyodorkan amplop cokelat tersebut.


"? Apa ini?"


Mengabaikan Kouya yang sedang mengernyitkan dahi, Juuro menyodorkan 1 amplop cokelat lagi kepada Kiyoko.


"Ini bagian untuk Kiyoko-san."


"Terima kasih banyak. Apa ini, Kek?"


"Sudahlah, buka dan lihat saja sendiri."


"Ah, ada uang 10.000 yen."


Saat Kouya membuka amplop cokelat tersebut, selembar uang pecahan 10.000 yen ada di dalamnya.


Mengingat hal itu, Kouya teringat beberapa waktu lalu saat ia menggerutu karena upah paruh waktunya disamakan dengan standar upah minimum, Kiyoko sempat bilang kalau dia akan membujuk Juuro untuk memberikan uang bonus tambahan. Ternyata, diam-diam langsung dilaksanakan tanpa banyak bicara, ya.


Sambil memegang amplop cokelat tersebut, Kiyoko menatap Juuro.


"Apakah tidak apa-apa kalau kami menerimanya?"


"Tentu saja, karena kalian berdua selalu bekerja keras di sini."


"Enaknya dipakai buat apa, ya?"


Mendapat keberuntungan yang jatuh dari langit secara tiba-tiba, Kouya mulai tenggelam dalam pikirannya.


"Karena mumpung sedang luang, bagaimana kalau kalian berdua pergi melihat kembang api bersama?"


Sang kakek melontarkan saran itu dengan santai kepada cucu-cucunya yang sedang diliputi kegembiraan.


4


"Kembang api?"


Kepada Kouya yang sedang mengerjapkan matanya, Juuro berkata:


"Bukankah baru saja tadi kalian sedang membicarakan masalah kembang api?"


Alasan sang kakek melontarkan saran tersebut tampaknya murni sesederhana karena ia tidak sengaja menguping percakapan mereka berdua sejak tadi. Padahal kenyataannya, pembicaraan mereka jauh lebih seru saat membahas masalah Mesir dan Danau Biwa daripada kembang apinya sendiri, sih——


Bagaimanapun juga, Juuro tetap mendorong cucu-cucunya.


"Kebetulan Festival Kembang Api Sumidagawa (Sumidagawa Hanabi Taikai) akan segera diadakan, jadi pergilah ke sana."


"............"


Kouya dan Kiyoko saling berpandangan satu sama lain. Pemicu awal dari obrolan mereka sesaat yang lalu sebenarnya berkembang dari perdebatan mengenai apakah warga lokal biasa pergi mengunjungi tempat wisata di daerahnya sendiri atau tidak. Karena momennya sedang tepat seperti ini, mungkin tidak ada salahnya juga pergi mencoba mengikuti arus.


Justru jika tidak ada pemicu seperti ini, kemungkinan besar mereka tidak akan sudi sengaja melangkahkan kaki ke festival kembang api lokal yang dipenuhi oleh lautan manusia.


"Kita bisa berjalan santai di sepanjang tepi Sungai Sumida, lalu melihat kembang apinya dari Kuil Senso-ji."


"Kalau begitu, bukankah uang ini jadi tidak terpakai?"


"Kan kita bisa membeli es serut di kedai pinggir jalan."


Melalui rangkaian obrolan tersebut, Kiyoko dan Kouya akhirnya memutuskan untuk pergi ke Festival Kembang Api Sumidagawa bersama-sama.


"Kouya, kalau mau pergi ke festival kembang api, pastikan kamu memeriksa regulasi pengalihan arus lalu lintas terlebih dahulu, ya. Jangan sampai kalian terjebak di tengah kemacetan," pesan terakhir dari pemilik kedai kopi yang merupakan warga lokal asli tersebut kepada cucu-cucunya sebelum mereka berangkat.



――――Waktu menjelang petang.


"Maaf membuatmu menunggu."


Kiyoko yang sudah mengenakan baju yukata melangkah keluar dari dalam ruang belakang kedai, sembari memasukkan kartu uang elektronik transportasinya ke dalam tas kantong kain (kinchaku).


Ia mengenakan yukata berwarna sejuk yang dihiasi motif bunga-bunga berukuran besar, dengan bagian rambut yang disanggul ke atas, sedikit lebih tinggi dari tengkuk lehernya.


"————"


Melihat penampilan tersebut, Kouya seketika kehilangan kata-kata. Melihat Kiyoko mengenakan pakaian tradisional Jepang lagi setelah sekian lama memberikan impresi dan kekaguman yang mendalam di dalam diri Torame Kouya.


Pakaian tradisional Jepang terasa jauh lebih alami dan sangat cocok untuknya, dibandingkan dengan pakaian kasual barat ataupun seragam sekolah. Rasanya sangat pas, atau mungkin, lebih tepat jika dikatakan bahwa memang begitulah seharusnya penampilan seorang Kiyoko——


"Ada apa?"


Merasa heran melihat Kouya yang tiba-tiba menahan napas dan terdiam seribu bahasa, Kiyoko sedikit memiringkan kepalanya.


"Saa......"


"Saa?"


Melihat wajah Kiyoko yang tampak kebingungan, Kouya pun menyuarakan kata-kata yang mengalir alami dari lubuk hatinya.


"Saaangat cantik!!"


Itu adalah kesan jujur yang keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam, tetapi Kiyoko tidak bisa langsung merasa senang begitu saja.


"............"


——Rasanya aku pernah mengalami perkembangan situasi yang seperti ini sebelumnya.


Itu adalah kejadian waktu itu, saat ia telanjur senang karena dipuji cantik, padahal yang dipuji sebenarnya adalah bunga. Ia tidak boleh tertipu lagi kali ini. 


Sambil diselimuti rasa curiga, Kiyoko melirik sekilas ke arah meja kedai. Tepat di sampingnya terdapat sebuah vas bunga, dan di dalamnya terpasang sekuntum bunga putih yang sedang mekar. Kouya pasti bermaksud memuji bunga ini lagi.


"Ini bunga mawar putih, ya. Mawar itu jenis bunga yang tahan lama, jadi meskipun sekilas kelihatan mahal, secara keseluruhan nilai estetika dan harganya sangat bagus, lho."


"Eh, bukan. Maksudku 'cantik banget' itu bukan bunganya, tapi kamu, Kiyoko-san......"


Tampaknya kali ini pujian itu memang diarahkan kepada Kiyoko, bukan kepada bunga.


"............"


Kalau begitu, tidak ada salahnya kan menerima pujian manis ini dengan senang hati? Setelah terjeda satu ketukan, Kiyoko pun langsung tersipu malu secara terang-terangan.


"Aduh, tidak usah merayu begitu, ah. Dipuji sepeti itu pun tidak akan membuatku memberimu apa-apa, lho. (Arti tersirat: Puji aku lebih banyak lagi, dong. Aku izinkan). "


Dengan wajah yang merona merah karena saking malunya, Kiyoko tersenyum salah tingkah dengan suasana hati yang sangat gembira.


Dengan demikian, Shizukuishi Kiyoko berhasil menuntaskan dendam kekalahannya atas insiden merangkai bunga beberapa waktu lalu.


Setelah drama singkat tersebut, mereka berdua keluar dari kedai “Casandra” dan melangkahkan kaki ke dalam lautan manusia yang hendak pergi menuju festival kembang api. Namun, sesuai dugaan, situasi di luar benar-benar sangat padat dan macet total.


Manusia, manusia, dan manusia.


Area yang terkena regulasi pengalihan arus lalu lintas sudah dipenuhi oleh lautan manusia yang meluap-luap.


Tokyo yang pada dasarnya sudah merupakan wilayah dengan kepadatan penduduk yang tinggi, pada hari ini, di tempat ini, manusia semakin bertambah berkumpul demi bisa melihat kembang api walau hanya sekilas. Kepadatan pasukannya benar-benar tidak main-main.


Agar tidak terpisah, Kiyoko dan Kouya berjalan dengan langkah cepat.


Brak! Bahu Kiyoko tiba-tiba berbenturan keras dengan bahu seseorang yang melintas.


"Kyaa!"


Gadis itu memekik kecil, lalu jatuh terduduk di atas jalan aspal.


"! Kiyoko-san, kamu tidak apa-apa?"


Dengan panik, Kouya langsung mengulurkan tangannya.


"Aku tidak apa-apa," jawab Kiyoko spontan.


"Kakiku sepertinya agak terkilir sedikit, tapi tidak sampai membuatku tidak bisa berjalan, kok. Tidak ada masalah."


"Yang benar saja. Kalau cederamu makin parah, kita tidak akan bisa memanggil taksi karena ada regulasi pengalihan arus lalu lintas, lho."


"Sungguh tidak apa-apa, ayo cepat jalan. Nanti kita tidak kebagian tempat untuk melihat kembang apinya."


Kiyoko merapikan bagian bawah baju yukata-nya yang berantakan, lalu bergegas bangkit berdiri dan mulai berjalan mendahului Kouya.


——Namun. Sebelum mereka sampai di tempat tujuan, langkah kaki gadis itu secara bertahap mulai melambat.


"............"


Kouya berjalan menyalip Kiyoko, lalu menghentikan langkahnya tepat di depan gadis itu. Kiyoko mendongak menatap pemuda yang tinggal serumah dengannya itu dengan pandangan serba salah.


"Kouya-kun......"


"Kakimu sakit, kan?"


Dengan nada suara yang tenang namun mengisyaratkan bahwa ia tidak menerima kebohongan apa pun, Kouya menatap ke arah Kiyoko. Gadis berbaju yukata itu menundukkan kepalanya dan membuang muka. Dari pipinya yang basah oleh keringat, seuntai rambut hitamnya jatuh menjuntai di sepanjang lehernya.


"Bukannya begitu, tapi......"


"Sakit, kan?" tanya Kouya dengan nada yang lebih tegas.


"............"


Tatap mata Kiyoko tampak bergerak gelisah ke sana kemari, sebelum akhirnya,


"......Iya," gumamnya dengan suara lirih yang nyaris tak terdengar.


5


"Sejak dulu, gengsiku sering kali berbalik menjadi bumerang bagi diriku sendiri. Ibuku selalu berpesan agar aku tidak boleh menunjukkan kelemahan di depan orang lain atau di depan pelanggan, dan harus tetap tersenyum tidak peduli seberapa lelah dan beratnya situasi yang kuhadapi......"


Sambil tetap menundukkan pandangannya, Kiyoko mulai menceritakan latar belakang situasinya sedikit demi sedikit.


"Ada kalanya aku tidak bisa menyikapi situasi dengan baik, dan di saat-saat seperti itu, apa pun yang kulakukan pasti akan selalu berakhir menuju ke arah yang buruk......"


——Persis seperti situasi saat ini.


Sembari bergumam demikian, Kiyoko yang kini duduk di atas gundukan tanah di tepi sungai tampak mengusap pergelangan kaki kanannya. Di dekat kakinya, sandal tradisional (zouri) yang dipakainya sampai tadi tergeletak begitu saja.


Pergelangan kaki kanan Kiyoko tampak semakin membengkak, memperlihatkan kondisi yang sama sekali sudah tidak memungkinkan lagi untuk dipakai berjalan.


"Jangan memaksakan diri," ujar Kouya dengan nada bicara yang tegas.


Kiyoko tidak tahu apakah peringatan keras itu ditujukan untuk kondisi kakinya saat ini, ataukah untuk seluruh cara hidup yang ia jalani selama ini——


"......Benar juga, ya. Tapi, menjalani hidup dengan bersikap santai dan menurunkan standar ego itu ternyata di luar dugaan sangat sulit, lho."


Sambil memasang wajah serba salah, Kiyoko mengembuskan napas panjang.


"Tinggal hidup dengan jujur dan apa adanya saja, kan? Tidak perlu mempertahankan gengsi yang tidak perlu."


"Kamu mudah mengatakannya...... Padahal aku baru saja bilang kalau hal itu di luar dugaan sangat sulit tahu......"


Melihat Kouya yang meresponsnya dengan wajah yang sangat serius, Kiyoko tanpa sadar langsung tersenyum geli.


Bingung harus berbuat apa, Kouya menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling lingkungan sekitar.


"Mungkin sebaiknya pergelangan kakimu ditempeli koyo kompres dulu. Aku akan pergi ke toko kelontong atau apotek untuk——"


"Siapa saja! Tolong tangkap Koro-chaaan!!"


Ucapan Kouya seketika terputus oleh suara teriakan histeris seorang wanita.


"Koro?"


Tepat di saat Kouya mengernyitkan dahi sambil memikirkan apa arti kata itu, ia melihat seekor anjing Shiba Inu yang dibawa oleh sepasang suami istri dan satu anak kecil tiba-tiba berlari kencang menerobos ke arah mereka.


Anjing Shiba Inu itu mengenakan kalung leher dan tali kekang, tetapi tidak ada seorang pun yang memegang talinya. Itu adalah anjing yang lepas kendali.


Guk, guk! Anjing Shiba Inu itu menggonggong lantang.


Anjing Shiba Inu yang berlari bebas itu melesat lurus ke arah Kouya dan Kiyoko, lalu dengan cekatan langsung menggigit sandal tradisional (zouri) yang tergeletak di dekat kaki tempat duduk Kiyoko, kemudian melompat kabur dengan sangat lincah.


"Eeeh!?"


Saking kagetnya dengan kejadian yang sangat mendadak itu, Kouya spontan mengeluarkan suara terkejut.


Untuk sesaat, ia tidak mampu mencerna apa yang baru saja terjadi.


——Sandal milik Kiyoko baru saja dicuri oleh seekor anjing Shiba Inu yang sama sekali tidak dikenal.


Tepat di saat ia baru menyadari kenyataan tersebut, anjing Shiba Inu yang berlari sekencang kilat itu sudah melesat bagai kelinci lepas—meski aslinya dia seekor anjing—sambil menggigit sandal tersebut, lalu menghilang di balik lautan manusia.


Mereka berdua tertegun sekujur tubuh.


1 detik kemudian, Kouya yang baru tersentak sadar langsung bergegas mengejar anjing Shiba Inu tersebut.


"Tunggu, dasar anjing pencuri! ——Kiyoko-san, aku akan merebut kembali sandalmu, jadi tunggulah di sini!"


Setelah memberi tahu Kiyoko, Kouya langsung berlari mengejar anjing Shiba Inu itu. Namun bagaimanapun juga, langkah kaki seekor binatang jauh lebih cepat daripada manusia.


"Maaf, tolong beri jalan!"


Sangat sulit untuk mengejar anjing Shiba Inu yang bertubuh kecil itu karena ia bisa dengan lincah meliuk-liuk menerobos celah kerumunan orang banyak.


"Sialan! Siapa sih orang bodoh yang nekat membawa anjing ke festival kembang api semacam ini!? Pendengaran anjing itu empat kali lipat lebih tajam daripada manusia, tahu!? Walau ada perbedaan pada setiap jenisnya, suara ledakan kembang api itu ibarat sebuah siksaan yang kejam bagi anjing, tahu!?"


Sambil mengumpat kesal kepada pemilik anjing tersebut dengan nada pasrah, Kouya terus memacu langkah kakinya.


——Dan di sanalah. Di depan sebuah kedai cumi bakar (ikayaki) di tepi sungai, tampak anjing Shiba Inu yang menggigit sandal tersebut sedang mengibas-ngibaskan ekornya.


"Dapat kau, anjing nakal! Tangkap!"


Tepat pada detik ketika Kouya melompat dari belakang dan berhasil mencengkeram tubuh anjing Shiba Inu tersebut, si anjing yang terkejut langsung menyalak keras.


"Ah."


Tepat di saat mulutnya terbuka, sandal yang digigit oleh anjing Shiba Inu itu seketika terlepas, menggelinding jatuh ke bawah tanggul tepi sungai, lalu... Plung! jatuh terperosok ke dalam aliran Sungai Sumida.


"............"


Di depan mata Kouya, sandal milik Kiyoko hanyut begitu saja tanpa ampun, lalu tenggelam ditelan oleh derasnya air sungai.


Torame Kouya hanya bisa berdiri terpaku sembari melepas kepergian sandal yang perlahan menghilang dari pandangan matanya dengan tatapan kosong.


————Nasi telah menjadi bubur. Sandal yang sudah hanyut terbawa arus tidak akan pernah bisa kembali lagi.


6


"Aku benar-benar minta maaf, ya."


Dengan nada suara yang memancarkan rasa bersalah yang teramat sangat dari lubuk hatinya, Kiyoko berbisik lirih tepat di dekat telinga Kouya.


"Tidak, ini semua salah anjing itu. Atau lebih tepatnya, ini salah pemilik bodohnya yang nekat membawa anjing ke festival kembang api."


Kouya berjalan pulang sembari menggendong Kiyoko di punggungnya, melangkah berlawanan arah menembus arus lautan manusia yang datang.


Di saat semua orang sedang menanti-nanti dengan tidak sabar momen meletupnya kembang api ke udara, pemuda itu justru memanggul seorang gadis di punggungnya untuk pergi meninggalkan tempat tersebut.


Dengan kondisi Kiyoko yang kehilangan sandal ditambah cedera terkilir, jika mereka tetap nekat bertahan di sana dengan santai sampai festival kembang api selesai, mereka pasti akan habis tergilas oleh kepadatan lautan manusia saat jalan pulang nanti. Jika mereka menunggu sampai festival berakhir, sudah bisa dipastikan dengan sangat jelas bahwa tingkat kemacetannya akan mencapai puncak tertinggi.


Meskipun terasa sangat disayangkan, merelakan festival kembang api kali ini adalah keputusan yang jauh lebih bijaksana.


Haaah... Kiyoko mengembuskan napas panjang yang terasa berat.


"Gara-gara kakiku terkilir, aku malah membuatmu harus mengalami nasib sial seperti ini."


"Harusnya sejak awal aku menahanmu dengan lebih tegas. Padahal aku sudah tahu kalau kamu itu tipe orang yang suka memaksakan diri."


"......Kenapa nada bicaramu ketus begitu?"


"Kan memang fakta."


"Tapi tetap saja...... Padahal tinggal sebentar lagi kembang apinya dimulai. Sayang sekali......"


"Kembang api kan tahun depan juga ada lagi. Kita tinggal melakukan balas dendam saja nanti."


"......Benar juga, ya. Tahun depan, ayo kita lihat kembang apinya dengan benar."


Set! Kiyoko semakin mengeratkan pelukan lengannya yang melingkar di leher Kouya. Kemudian, gadis itu berbisik lembut kepada sang pemuda:


"Tahun depan, ajak aku lagi, ya. ——Janji, lho."


Embusan napas Kiyoko terasa hangat menyentuh telinganya.


Tepat pada detik ketika jantung Kouya berdegup kencang karena merasakan kehangatan suhu tubuh sang gadis——


Duuum!!


Satu suara ledakan yang menggelegar terdengar dari arah belakang, menandakan kembang api telah resmi diluncurkan ke angkasa.


Kouya menghentikan langkah kakinya lalu membalikkan badan.


Sambil tetap menggendong Kiyoko, ia menengadah menatap langit malam. Terlihat percikan kembang api yang sangat indah memancarkan jejak-jejak cahaya terang sebelum akhirnya gugur meredup di kegelapan malam.


"......Ternyata kita masih bisa melihat kembang apinya sedikit, ya. Ini adalah kursi VIP yang paling istimewa, lho, tepat di atas tubuh Kouya-kun."


Kiyoko pun terkekeh dan tertawa kecil. Kouya kembali memunggungi kembang api tersebut, lalu melanjutkan langkah kakinya.


"Aku tidak bisa melihatnya, jadi kamu saja yang melihatnya puas-puas. Aku akan menyimpan bagianku sebagai kesenangan untuk tahun depan saja."


Sambil terus memanggul Kiyoko dan memunggungi dentuman kembang api, Kouya mempercepat ritme langkah kakinya.


"......Hari ini benar-benar hari yang kacau balau," gumam pemuda itu dengan suara lirih sembari memanggul beban bernama Kiyoko di punggungnya.


Kemudian, Kouya menambahkan kalimat kecil dalam hati:


"Tapi ya... kenangan yang seperti ini sepertinya tidak buruk juga."


Insiden tak terduga seperti ini pun pasti akan berubah menjadi sebuah kenangan yang indah jika diingat kembali di kemudian hari nanti. Daripada segala sesuatunya berjalan dengan mulus tanpa hambatan, rasa sesal dan dongkol yang dialami seperti ini justru akan jauh lebih membekas di dalam memori.


Oleh karena itu, ia sangat yakin——


Kouya berpikir bahwa ia pasti tidak akan pernah bisa melupakan kejadian di malam ini sepanjang sisa hidupnya. Namun, ada perasaan aneh yang bergejolak di dalam dirinya.


Meskipun ia tidak bisa melihat kembang api dengan puas dan semestinya, ia sama sekali tidak merasakan penyesalan sedikit pun. Sebaliknya, rasanya justru terasa sangat melegakan.


Alih-alih merasa kecewa, satu hal yang mendadak terlintas secara samar di dalam benaknya adalah keinginan untuk membawa Kiyoko pergi ke tempat favoritnya sendiri suatu hari nanti, lalu menghabiskan waktu bersama di sana tanpa harus melakukan hal-hal yang penting.


Ya, tidak perlu ada tujuan khusus. Ia hanya ingin duduk berdua bersamanya, mendengarkan suara embusan angin, deru dedaunan yang bergoyang, atau rintik suara hujan dengan perasaan yang tenang.


————Ah, benar juga.


Pada momen itulah, Kouya mendadak menyadari satu hal secara tiba-tiba. Pada akhirnya, masalah kembang api itu sama sekali tidak penting. Alasan atau kedok apa pun untuk pergi keluar bersamanya sebenarnya sama sekali tidak masalah.


Satu-satunya hal yang paling esensial dan berharga adalah... fakta bahwa waktu yang ia habiskan bersama dengan orang ini——bersama dengan seorang Shizukuishi Kiyoko—adalah sesuatu yang paling berharga bagi dirinya.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close