NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kyoto Nadeshiko Kiyoko-san no Junjo Uraomote V1 Chapter 4

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 4

Kompetisi Olahraga dan Pingpong Ganda Andalan

1


Jika orang yang selama 10 tahun ini telah kita sukai secara sepihak ternyata sudah memiliki orang lain yang ada di dalam hatinya, maka kita harus memberatinya dengan restu.


Itulah etika dan kode etik dalam hubungan.


——Namun sebenarnya, berapa tahunkan masa kedaluwarsa untuk sebuah perasaan cinta?


Hari Minggu malam pukul 11. Di kamarnya sendiri yang berada di lantai 3 kedai kopi “Casandra”. Kiyoko menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong dari atas tempat tidurnya sambil mengembuskan napas panjang.


Shizukuishi Kiyoko, gadis kelahiran bulan April yang kini berusia 17 tahun dan duduk di bangku kelas dua SMA. Hanya karena ingin bertemu kembali dengan teman masa kecilnya, ia mengambil keputusan besar untuk meninggalkan penginapan tua tempatnya lahir dan dibesarkan di Kyoto, lalu pergi sendirian ke Tokyo. Ia memilih dan memutuskan sendiri untuk hidup di kota ini.


——Dan sekarang, fakta bahwa Kouya mengajaknya untuk mengelola kedai bersama telah membuatnya luar biasa senang hingga seperti melayang tak karuan. 


Saking senangnya, ia sering kali mendadak tersenyum sendiri karena teringat obrolan itu saat sedang berjalan di pinggir jalan, sampai-sampai membuat orang-orang yang berpapasan dengannya menaruh curiga. Ia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa impiannya untuk memiliki toko sendiri suatu saat nanti, akan diarungi bersama oleh Kouya. Apalagi diajak untuk menjadi rekan kerja sama bisnis, hal itu benar-benar berada di luar ekspektasinya.


Sebab, bagian terbesar dari alasannya memutuskan datang ke Asakusa ini pada dasarnya adalah karena keberadaan pemuda bernama Torame Kouya tersebut. Namun di dalam otak Kiyoko yang sedang berbunga-bunga, sosok Kiyoko yang lain setiap saat selalu memperingatkan, "Ingatlah kembali posisimu saat ini." 


Begitu tersadar dan kembali rasional, Kiyoko pun menghela napasnya kembali.


"Tapi Kouya-kun sama sekali tidak ingat soal janji kami dulu, ditambah lagi sekarang ada Shiga-san...... Pekerjaan adalah pekerjaan, asmara adalah asmara. Aku harus tahu diri kapan waktunya untuk mundur dengan tegap......"


Mengingat ganjalan tersebut, Kiyoko langsung mendekap bantal besarnya erat-erat.


Torame Kouya memang tidak sepenuhnya melupakan masa 1 tahun yang ia habiskan di Kyoto saat kelas 1 sekolah dasar dulu. Namun, ia tampaknya benar-benar telah menghapus bersih dari ingatannya tentang kata-kata yang ia ucapkan kepada Kiyoko menjelang perpisahan mereka kala itu.


Kiyoko sendiri sangat paham bahwa ingatan manusia adalah sesuatu yang tidak bisa diandalkan. Manusia tidak akan bisa mengingat semua hal di masa lalu mereka. Terlebih lagi ingatan masa kanak-kanak, adalah hal yang wajar jika sebagian besar darinya menguap dan terlupakan begitu saja.


Alasan mengapa Kiyoko masih bisa mengingat dengan sangat jelas kata-kata yang diucapkan Kouya——bahkan suasana pada momen tersebut——tidak lain dan tidak bukan adalah karena bagi Kiyoko, detik itu merupakan momen yang sangat berharga dalam hidupnya.


Sementara di sisi lain, Kouya tidak mengingatnya. Artinya, sesuatu yang sangat penting bagi Kiyoko ternyata bukan merupakan hal yang penting bagi Kouya.


——Mungkin, itulah jawaban dari segalanya.


Meski begitu, ia tahu betul bahwa menyalahkan Kouya dalam hal ini adalah sesuatu yang salah alamat. 


Saat itu, dia hanyalah seorang anak laki-laki berusia 6 tahun. Merupakan hal yang normal jika seseorang tidak mengingat satu per satu janji yang dibuat semasa sekolah dasar. Fakta bahwa Kiyoko mengingat masa-masa itu dengan sangat jelas hanyalah karena kata-kata tersebut telah menjadi penopang bagi dirinya yang rapuh di masa kecil dulu. Itu saja. Hal yang sangat wajar.


"Itu berarti, hanya aku sendiri yang menganggap penting kejadian waktu itu. Dan mungkin saja, Kouya-kun pasti mengingat janjinya dengan Shiga-san. ——Benar. Tahu kapan harus mundur itu sangat penting, Kiyoko."


Kiyoko mencoba meyakinkan dirinya sendiri.


Pada hari di mana Kouya kembali dari Kyoto dulu, sosok yang menyambut kedatangannya pastilah teman masa kecilnya yang lain. Dan sekarang pun, gadis yang selalu berada di sampingnya bukanlah orang yang hanya menghabiskan waktu bersamanya selama 1 tahun, melainkan teman masa kecil yang selalu ada bersamanya sejak dulu.


Saat bersama Shiga Meika, Torame Kouya tidak menunjukkan gelagat sok jantan atau memaksakan diri agar terlihat keren seperti saat berada di depan Kiyoko, melainkan menjadi Torame Kouya yang tampil apa adanya.


Oleh karena itu, Kouya pasti merasa paling nyaman saat berada di dekat Shiga Meika. Kiyoko sangat paham bahwa ia tidak boleh mengusik hal tersebut, dan jika mereka berdua berakhir bersama kelak, ia harus merestuinya.


"Andai saja cinta punya masa kedaluwarsa, tapi rasanya ini benar-benar melelahkan......"


Monolog gadis itu terserap ke dalam keheningan langit-langit kamar. Di tengah kesunyian, suara detak jarum jam dinding menggema, menandakan waktu yang terus bergulir.


——Hingga tiba-tiba.


Tuk,


Mendadak, kesunyian malam itu pecah oleh suara bola memantul yang membentur sesuatu dari kamar sebelah. Kamar di sebelah tentu saja adalah kamar milik Kouya.


"............"


Suara apa itu? batin Kiyoko menebak-nebak, dan ia langsung menyadarinya.


Besok adalah hari pelaksanaan kompetisi olahraga di SMA mereka. 


Seingatnya, Kiyoko mendaftarkan diri untuk cabang olahraga pingpong, sementara Kouya mendaftarkan diri untuk cabang olahraga futsal. Dan kini, suara benturan bola yang ritmis terus terdengar. Kesimpulan yang bisa ditarik dari suara tersebut adalah: tetangga sebelahnya kemungkinan besar sedang melakukan latihan juggling bola. Tetangga sebelahnya itu, entah apa yang merasukinya, malah memulai latihan juggling di dalam kamar pada jam 11 malam.


——Benar-benar tidak tahu aturan.


Tuk, tuk, tuk!


Suara juggling itu terus berlanjut tanpa henti, dan sesekali terdengar suara bola yang terjatuh ke lantai akibat gagal dikontrol. Tampaknya si tetangga sebelah sama sekali tidak menyadari kalau suara latihannya tembus sampai ke kamar sebelah. Jika terus dibiarkan, aktivitas itu pasti akan berlanjut semalaman penuh.


Di saat seperti ini, ia sama sekali tidak boleh tinggal diam dan pasrah menerima nasib. Di dunia ini, memang ada tipe orang bodoh yang tidak akan paham kalau tidak ditegur secara langsung.


"............"


Kiyoko memantapkan hatinya, lalu perlahan melepaskan bantal yang sejak tadi didekapnya.


Setelah itu, gadis asal Kyoto tersebut bangkit dari tempat tidur tanpa suara, mengenakan kardigan di atas piyama, lalu keluar dari kamarnya dalam keheningan.


Tok, tok. Sambil memasang wajah datar tanpa ekspresi layaknya topeng Noh, gadis itu mengetuk pintu kamar sebelah.


Akhirnya, suara latihan juggling itu pun berhenti.


"Kiyoko-san? Ada perlu apa?"


Pemuda yang sedang mendekap bola sepak di dadanya itu menyembul dari dalam kamarnya. Ia adalah tipe laki-laki tanpa dosa yang bahkan tidak menyadari alasan mengapa tetangganya sampai datang berkunjung.


"Luar biasa ya Kouya-kun, masih semangat latihan untuk besok sampai jam segini. Benar-benar anak yang aktif dan penuh energi, ya (Artinya: Hentikan juggling-mu sekarang juga)."


Kiyoko menyunggingkan senyum kegelapan, memberikan teguran secara halus namun menohok kepada pemuda di kamar sebelah itu.


Melihat urat faset di dahi Kiyoko, pemuda itu tampaknya langsung bisa membaca situasi dengan benar, lalu wajahnya mendadak kaku ketakutan.


"......Maaf."


Alhasil, pemuda bernama Kouya itu segera mengembalikan bolanya dan langsung undur diri dengan terburu-buru.


Melihat gelagat itu, Kiyoko kembali mengembuskan napas panjang. Jika ia hanya diam saja, penduduk Asakusa yang tidak peka ini tidak akan pernah menyadari apa pun.


Shizukuishi Kiyoko benar-benar merasakannya dari lubuk hati terdalam.


——Ternyata, perbedaan budaya itu berat juga, ya......


2


Kompetisi olahraga konon dirancang dengan tujuan untuk memaksa murid-murid jalur budaya yang biasanya lebih sering mendekam di dalam ruangan agar mau menggerakkan tubuh mereka.


Dengan kata lain, semua murid wajib berpartisipasi, dan suasananya tidak se-ambisius festival olahraga.


Sebagai pembeda dari festival olahraga antar-kelas yang mempertaruhkan harga diri kelas, kompetisi ini sengaja tidak menggunakan lapangan luar. Sebaliknya, seluruh cabang olahraga yang disediakan adalah jenis permainan skala kecil yang bisa dilakukan di dalam gymnasium.


Cabang olahraga tersebut adalah futsal, basket, dan pingpong.


Cabang-cabang olahraga ini kemudian dibagi lagi ke dalam beberapa kategori nomor pertandingan, dan pemenang akan ditentukan berdasarkan masing-masing kategori tersebut.


Seluruh murid di sekolah diwajibkan untuk mendaftarkan diri pada minimal salah satu kategori tersebut. Tentu saja, bagi yang memiliki semangat tinggi, mereka diperbolehkan mendaftar di beberapa kategori sekaligus. Selain itu, pemenang di setiap kategori akan dihadiahi kupon gratis senilai 3.000 yen yang bisa digunakan di kantin maupun koperasi sekolah.


Karena mereka bisa mendapatkan makanan atau alat tulis favorit secara gratis dengan nilai nominal yang lumayan, hal ini tentu menjadi kabar gembira bagi para murid SMA yang selalu dilanda paceklik keuangan.


Sebagai catatan, hadiah hanya diberikan kepada juara pertama di setiap kategori, sementara juara kedua tidak mendapatkan hadiah apa pun. Begitulah santainya atmosfer kompetisi olahraga ini.


——Hari Kompetisi Olahraga.


Torame Kouya mendaftarkan diri di cabang futsal dengan niat yang cukup serius demi mengincar kupon senilai 3.000 yen tersebut. Sayangnya, karena faktor keberuntungan yang buruk saat pengundian, timnya langsung berhadapan dengan tim kapten klub sepak bola di pertandingan pertama, sehingga mereka terpaksa gugur dalam sekejap.


Berniat untuk mencoba mendaftar di cabang basket atau pingpong, Kouya pun melangkahkan kakinya menuju stan yang dijaga oleh pusat komite eksekutif pelaksana. Namun,


"Pendaftaran untuk cabang olahraga lain pada saat ini sudah tidak bisa dilakukan. Jika sebelum batas waktu penutupan memang diperbolehkan berpartisipasi di beberapa cabang, tetapi sekarang pendaftaran untuk semua kategori sudah resmi ditutup."


Panitia pelaksana menolak pendaftaran barunya dengan sangat ketus dan bernada administratif.


"Kalau begitu, sudah tidak ada lagi yang bisa kulakukan, dong. Membosankan sekali."


Kouya menggerutu kesal. Jika itu adalah festival olahraga yang mempertaruhkan gengsi kelas mungkin ceritanya akan berbeda, tetapi tidak ada yang lebih membosankan daripada menonton kompetisi olahraga berskala kecil yang berbasis partisipasi individu seperti ini.


Saat sedang memutar pandangan ke sekeliling untuk mencari cara membunuh waktu luang, ia melihat anggota panitia pelaksana lain datang bersama seorang siswi menuju pusat komite pelaksana.


"Karena itulah, pasanganku terpaksa dinyatakan mengundurkan diri......"


"Pihak penyelenggara ingin menghindari kemenangan tanpa bertanding di babak final karena rasanya akan membuat kompetisi menjadi kurang greget, tetapi apakah tidak bisa mencari orang pengganti sekarang juga?"


Mereka adalah Shizukuishi Kiyoko dan Hitoha Higuchi.


Di lengan Hitoha Higuchi selaku ketua kelas, melingkar sebuah ban lengan bertuliskan "Panitia Pelaksana". Tampaknya karena tuntutan tugas dari komite, ia dikerahkan untuk ikut mengurus operasional acara.


"Eh, Kiyoko-san."


"Kouya-kun......"


Kiyoko menyadari keberadaan Kouya di depan stan komite lalu menghentikan langkahnya.


"Ada apa? Kenapa wajah kalian berdua serius sekali begitu? Terjadi sesuatu, ya?"


Mendengar pertanyaan Kouya, Hitoha yang berdiri di samping Kiyoko langsung memasang wajah yang berbinar gembira.


"Ah, Torame-kun! Datang di waktu yang sangat tepat!"


"Hah?"


"Mau mendaftar sebagai pemain pengganti untuk ganda pingpong tidak? Babak finalnya akan dimulai 5 menit lagi."


"Hah? Apa maksudnya?"


Hitoha menjelaskan situasi kepada pemuda yang tengah memiringkan kepalanya karena belum paham arah pembicaraan tersebut.


"Jadi begini, di kategori ganda bebas, pasangan Shizukuishi-Kasamatsu berhasil lolos sampai ke babak final. Tapi baru saja Kasamatsu-san mengeluh kurang sehat dan terpaksa pergi ke ruang UKS."


"Oh, kalau begitu Kiyoko-san dinyatakan gugur?"


"Jika dibiarkan, situasinya memang akan menjadi seperti itu. Tapi kami selaku panitia pelaksana ingin menghindari skenario di mana juara final ditentukan lewat kemenangan walkout akibat lawan mengundurkan diri. Rasanya kan jadi tidak seru dan tidak ramai."


"Yah, itu benar, sih."


"Oleh karena itu, kami sedang terburu-buru mencari pengganti untuk pasangan Shizukuishi-san. Jika alasannya karena situasi darurat yang tidak terhindarkan, pemain pengganti diperbolehkan masuk. ——Bagaimana Torame-kun, kamu mau mengambilnya?"


"Main ganda? Aku?"


"Iya. Jika kalian menang di babak final, sesuai regulasi, masing-masing orang akan mendapatkan hadiah senilai 3.000 yen. Bentuknya bukan uang tunai, melainkan kupon belanja."


"............"


Kouya sempat terdiam dan berpikir sejenak. Toh saat ini ia sedang menganggur dan tidak ada pekerjaan, ditambah lagi hadiahnya adalah kupon senilai 3.000 yen.


Murid-murid yang ambisius dalam berolahraga semuanya pergi ke cabang basket dan futsal, sementara para anggota klub pingpong mempertaruhkan harga diri mereka di kategori tunggal. 


Kategori ganda bebas pingpong yang memperbolehkan siapa saja untuk berpasangan ini merupakan kategori yang paling tidak populer. Bisa dibilang, peluang untuk menang di sini cukup besar.


"Kalau begitu, aku yang akan menggantikan Kasamatsu-san untuk main ganda."


Setelah berpikir sejenak, Kouya memberi tahu Sang Ketua Kelas.


"Eh......"


Sebaliknya, Kiyoko yang berdiri di sampingnya justru kebingungan dan langsung menarik ujung lengan baju Hitoha.


"Aku tidak keberatan kalau dinyatakan mengundurkan diri begitu saja, kok......"


"Tidak apa-apa, tenang saja. Sayang banget kan sudah susah-susah lolos sampai babak final tapi malah mundur, makanya biar aku yang berpasangan denganmu."


Kouya sama sekali tidak peka dengan apa yang dipikirkan oleh Kiyoko. Pemuda itu menawarkan diri dengan suasana hati yang riang. Lagipula, hanya dengan satu kemenangan lagi ia bisa mendapatkan kupon senilai 3.000 yen, jadi rasanya rugi jika tidak diambil.


"Tunggu sebentar, Kouya-kun."


Kiyoko langsung menyeret Kouya yang bertingkah seperti itu ke sudut gedung olahraga. Dengan suara lirih, Kiyoko menegurnya.


"Bukankah aku sudah bilang kalau di sekolah kita ini adalah orang asing?"


"Memangnya apa hubungannya hal itu dengan main ganda?"


"Kalau Kouya-kun tiba-tiba muncul dan ikut main ganda denganku, orang-orang akan berpikir kalau kita ini dekat, tahu."


"Kamu terlalu banyak curiga."


"Orang-orang di sekitar pasti akan berpikir, kenapa ya dia bisa berpasangan denganku?"


"Mana ada orang yang memedulikan hal seperti itu satu per satu."


"Tapi tetap saja......"


"Padahal aku sudah berbaik hati menawarkan diri sebagai pemain pengganti, lho."


"Bukan itu masalahnya!"


"Kamu memangnya tidak mau menang, ya?"


"Makanya kubilang bukan itu masalahnya! Jangan sia-siakan perhatian dan kepedulianku ini!"


"Perhatian?"


"Benar! Anak-anak di usia kita ini, baru melihat anak laki-laki dan perempuan bersama saja, semuanya langsung dihubung-hubungkan dengan masalah asmara. Dalam sekejap saja gosip yang ditambah-tambah pasti akan langsung menyebar luas. Kalau gosip yang aneh-aneh sampai terdengar oleh Shiga-san, Kouya-kun sendiri kan yang bakal repot?"


"......Sebentar, deh. Sejak kemarin dulu, bukankah kamu ini cuma salah paham dan membuat asumsi sendiri tentang aku dan Meika?"


"Salah paham di bagian mananya coba?"


"Makanya dengarkan dulu—"


Tepat saat Kouya hendak melayangkan protes kepada Kiyoko yang tampaknya telah salah paham besar,


Priiit!


Hitoha meniup peluit wasit yang tergantung di lehernya.


"Maaf ya kalau mengganggu obrolan serius kalian, tapi pertandingannya akan dimulai 1 menit lagi, jadi tolong cepat putuskan. Kalau kalian tidak bisa berpasangan untuk main ganda, kemenangan walkout akan diberikan kepada pihak lawan. Jadi, silakan ambil keputusan dalam waktu 10 detik. 10, 9, 8......"


Hitoha sang panitia pelaksana mendesak mereka, dan hitung mundur yang tidak menerima bantahan pun dimulai.


“"............"”


Kiyoko dan Kouya saling berpandangan. Tampaknya ini bukan saat yang tepat untuk mengobrol dengan santai. Jika tidak segera mengambil keputusan, uang 3.000 yen akan melayang begitu saja. Kalaupun nanti digosipkan, ya hadapi saja saat hal itu benar-benar terjadi.


Kiyoko dan Kouya mengangguk secara bersamaan.


“"Kalau begitu, kami akan berpasangan!"”


Keduanya menjawab secara serempak.


——Dengan demikian, perang sengit yang mempertaruhkan kupon senilai 3.000 yen yang bisa digunakan di kantin dan koperasi sekolah pun resmi dimulai.


3


『Dengan ini, babak final untuk kategori ganda bebas cabang olahraga pingpong resmi dimulai! 』


Sambil memegang pengeras suara, Hitoha Higuchi selaku panitia pelaksana kompetisi olahraga memberikan pengumuman.


Di sekeliling meja pingpong yang ditata di salah satu sudut gedung olahraga—yang menjadi panggung babak final—hanya ada segelintir penonton yang berdiri menyaksikan. Karena semua orang pergi menonton basket dan futsal, tingkat perhatian untuk babak final ganda bebas pingpong ini tampaknya tidak terlalu tinggi meskipun statusnya adalah pertandingan final.


『Karena Kasamatsu-san tidak bisa bertanding akibat kondisi kesehatan yang kurang baik, Torame-kun akan ikut bertanding secara mendadak sebagai pemain pengganti. Oleh karena itu, laga final kali ini mempertemukan pasangan Shizukuishi-Torame melawan——』


"Maaf membuat kalian menunggu, hadirin sekalian."


Sebelum perkenalan selesai dibacakan, pihak lawan sudah melangkah maju ke hadapan Kouya dan yang lainnya.


『——Pasangan Shiga-Dazai. Secara tak terduga, final ganda bebas pingpong ini menjadi laga derbi sesama murid kelas 2-3! 』


"Dazai-kun...... dan Shiga-san......"


Kiyoko menggumamkan nama teman sekelas yang menjadi lawan mereka di babak final. Siapa yang menyangka bahwa ia akan bertarung melawan Taishi di tempat seperti ini——.


"Ngomong-ngomong Taishi, kenapa kamu malah main pingpong?"


Mendengar pertanyaan polos yang terlontar dari mulut Kouya, Taishi sang ketua Klub Sains membenarkan posisi kacamata di hidungnya dengan ekspresi bangga.


"Apa yang kamu katakan, wahai sahabatku. Sejak zaman purba, sudah digariskan bahwa murid-murid berkarakter introvert yang memiliki kemampuan motorik lumayan namun tidak bisa membaur dalam permainan basket atau futsal, akan selalu berakhir di cabang pingpong."


"Apakah kamu termasuk ke dalam kategori anak introvert? Rasanya agak berbeda."


Kouya memiringkan kepalanya heran.


"Tadinya aku ingin ikut cabang basket karena waktu SMP dulu aku ikut klub mini-basket. Tapi kata Dazai-kun, anak-anak dari klub basket sekolah bakal tampil dengan ambisius di cabang basket, jadi peluang untuk mendapatkan 3.000 yen akan jauh lebih tinggi kalau ikut cabang pingpong. Makanya aku ikut ke sini,"


Meika menjelaskan kronologi keikutsertaannya sambil mengetuk-ngetukkan raket pingpong ke pundaknya sendiri.


"Hou. Jadi itu ide dari Taishi, ya......"


Kouya menatap dengan pandangan setengah jengkel.


Niat terselubung dari sahabat karibnya yang sengaja mencari-cari alasan logis agar bisa berpasangan dengan Meika, gadis yang disukainya, terlihat begitu transparan. Alih-alih kesal, hal itu justru terasa sangat blak-blakan sampai di tahap yang membuat Kouya merasa takjub.


"Ya, pokoknya," kata Meika sambil mulai melakukan peregangan tubuh.


"Aku tidak sudi kalah setelah berhasil lolos sampai ke babak final ini. Mohon maaf, ya, tapi kupon kantin dan koperasi senilai 3.000 yen itu akan menjadi milik kami."


"Benar sekali, Meika-kun! Kalah setelah berjuang sampai ke babak final adalah hal yang sangat menyakitkan. Mari kita kerahkan kemampuan terbaik kita bersama, lalu mengukir memori kemenangan pada prasasti masa muda kita!"


Sambil mengepalkan tangannya erat-erat, Taishi berpidato dengan penuh drama.


Kouya tidak paham apa yang dimaksud dengan prasasti masa muda atau sejenisnya itu, tetapi satu hal yang pasti adalah pihak lawan sedang membara penuh motivasi.


"Maaf ya, Shiga-san. Karena sudah melangkah sejauh ini aku tidak berniat untuk mundur, jadi aku akan meminjam Kouya-kun dulu," kata Kiyoko yang entah sejak kapan telah memantapkan hatinya, sembari ikut mengepalkan kedua tangan.


"Tapi jujur, aku sangat terkejut melihat Kiyoko-san bisa menang terus di cabang pingpong ini," ujar Kouya melontarkan kesan jujurnya.


Sebagai jawaban, tanpa mengucap sepatah kata pun, Kiyoko menunjukkan raket pribadi yang dibawanya. Kouya seketika terbelalak menatap raket tersebut.


"! Itu raket jenis shakehand yang terlihat sudah sangat sering digunakan!"


"Kalau bicara soal penginapan, pasti tidak luput dari meja pingpong. Kemampuanku yang sering menjadi lawan main para tamu saat penginapan sedang kekurangan staf, jangan dianggap remeh, ya."


Gadis dari penginapan tua di Kyoto itu tersenyum simpul dengan nada menantang, sebuah ekspresi yang jarang ia tunjukkan.


"Baiklah, babak final akan segera dimulai. Seperti pertandingan sebelumnya, sistem yang digunakan adalah best-of-five dengan permainan 11 poin untuk setiap setnya. ——Kalau begitu, pertandingan final dimulai!"


Peluit tanda dimulainya pertandingan ditiup, dan laga ganda yang mempertaruhkan status juara pun resmi bergulir.


Meskipun tidak ada satu pun dari mereka yang berstatus sebagai anggota aktif klub olahraga sekolah, level pertandingan di babak final ini ternyata sangat tinggi dan berlangsung dengan luar biasa sengit.


『Set pertama dimenangkan oleh pasangan Shizukuishi-Torame!』

『Set kedua dimenangkan oleh pasangan Shiga-Dazai!』

『Set ketiga dimenangkan oleh pasangan Shizukuishi-Torame!』

『Set keempat dimenangkan oleh pasangan Shiga-Dazai! Dengan ini, pertandingan akan memasuki set penentuan.』


Kedua belah pihak sama-sama kesulitan untuk melakukan pukulan smes yang mematikan. Mereka saling bertahan dengan gigih untuk mengembalikan bola, sehingga reli panjang terus terjadi tanpa henti.


『Skor 10 sama. desu!』


Pertandingan pun memasuki fase sudden death, di mana pemenang harus unggul selisih 2 poin terlebih dahulu. 


Setelah itu, pertarungan sengit yang saling kejar-mengejar poin terus berlanjut dalam waktu yang lama, hingga tanpa disadari skor kedua belah pihak sudah menyentuh angka kepala dua.


"Smashhh!!"


Kouya meneriakkan pekikan yang membelah keheningan, dibarengi dengan hantaman pukulan sekuat tenaga ke arah garis diagonal lapangan.


Meika tidak bergeser satu langkah pun.


——Bukan, dia tidak bisa bergerak.


Bola pingpong meluncur dengan kecepatan tinggi mengenai ujung meja, lalu terbang jauh ke belakang tubuh Meika. Meika tidak berhasil mengembalikan bola tersebut.


Pertandingan berakhir. 


Priiit, priiit! Peluit pun dibunyikan.


Pada detik ini juga, pemenang dari laga ganda bebas pingpong yang berlangsung sengit hingga set penentuan telah resmi diputuskan.


『Skor 23 lawan 21. Total set 3-2 untuk kemenangan pasangan Shizukuishi-Torame. Selamat atas kemenangannya!』


Hitoha selaku panitia pelaksana memberikan selamat kepada sang pemenang. Karena jalannya pertandingan yang memakan waktu cukup lama, gadis panitia itu tampak sedikit kelelahan, tetapi hal itu sebaiknya tidak perlu dibahas.


"Hore!!"


Kiyoko dan Kouya secara refleks melakukan high-five. Baru setelah satu ketukan berlalu, mereka menyadari pandangan orang-orang di sekitar dan langsung buru-buru menjaga jarak kembali dengan canggung.


Sambil meletakkan pengeras suara di dekat kakinya, Hitoha berjalan mendekat dengan membawa dua buah amplop hadiah.


"Kepada kedua pemenang, kami mempersembahkan trofi juara dan kupon senilai 3.000 yen per orang yang bisa digunakan di kantin maupun koperasi sekolah. Silakan."


Dengan perasaan gembira, Kiyoko dan Kouya menerima amplop tersebut dengan takzim.


"Besok di kantin aku mau makan ramen dengan ekstra taburan karaage, ah."


Kiyoko memeriksa kupon yang diterimanya dengan wajah berseri-seri.


Mendengar ucapan yang tidak terduga dari gadis itu, Kouya mengerjapkan matanya heran.


"Kiyoko-san suka ramen?"


"Suka, dong. Mana ada orang Jepang yang tidak suka ramen."


"Aku cuma tidak punya impresi kalau kamu suka makanan seperti itu."


"Memangnya selama ini kamu menganggapku sebagai orang yang seperti apa?"


"Yaa, karena kamu kan orang Kyoto."


"Kyoto itu termasuk wilayah yang punya banyak kedai ramen di tingkat nasional, tahu. Begitu juga dengan toko roti."


"Oh ya? Benar-benar tidak disangka. Kupikir kamu tipe orang yang sehari-harinya makan Bubuzuke (nasi siram teh khas Kyoto)."


"Jangan bias begitu, dong. Aku ini orang modern, lho. Aku bahkan lebih suka makanan ala Barat daripada makanan tradisional Jepang."


"Oh, begitu ya. Kalau begitu, besok aku mau makan menu paket harian saja, deh."


Kouya ikut membuka amplopnya dan memastikan kupon yang ia dapatkan. Kouya dan Kiyoko kemudian mulai melangkah berjalan menuju pintu keluar gedung olahraga, tetapi Sang Ketua Kelas buru-buru berlari mengejar mereka dari belakang.


"Tunggu dulu, kalian berdua! Jangan cuma ambil amplop uangnya saja, terima juga trofi juaranya dengan benar!"


Hitoha berlari menghampiri Kouya dan yang lainnya sambil membawa sebuah trofi berlapis warna emas, lalu menyodorkan trofi juara itu ke pelukan Kouya.


"Eh, cuma satu?"


Kouya secara refleks balik bertanya kepada Hitoha.


Sebab, meskipun mereka berdua bertanding sebagai sepasang tim, trofi juara yang diserahkan kepadanya hanya ada satu buah.


"Karena ini nomor ganda, jadi sudah sewajarnya cuma dapat satu," tegas Hitoha bahwa trofi yang disediakan memang hanya satu buah untuk satu tim.


Jika memikirkan tentang cabang olahraga beregu di Olimpiade—di mana seluruh atlet yang meraih posisi tiga besar masing-masing akan mendapatkan medali—maka argumen bahwa kompetisi ganda hanya mendapatkan satu trofi adalah sebuah logika yang aneh. Besar kemungkinan, pihak panitia pelaksana saja yang pelit mengeluarkan anggaran untuk membeli trofi.


"............"


Kiyoko dan Kouya saling berpandangan.


Karena trofinya hanya ada satu, tidak mungkin salah satu dari mereka menyimpannya sebagai milik pribadi.


"Kalau begitu, bagaimana kalau kita pajang saja di rak yang ada di sebelah tangga lantai 3?"


"Benar juga. Kalau mau menaruh trofi, memang lebih baik di tempat bersama, ya."


"Tempat bersama?"


Hitoha yang sejak tadi mendengarkan obrolan dua orang yang tinggal satu atap di kedai kopi “Casandra” itu seketika memasang wajah curiga.


"————!"


Kouya dan Kiyoko mendadak tersentak sadar.


Di hadapan orang-orang sekitar, status mereka berdua adalah orang asing yang tidak saling kenal, dan mereka menyembunyikan fakta bahwa mereka tinggal bersama. Akan menjadi masalah besar jika Hitoha sampai membocorkan hal yang tidak-tidak ke lingkungan sekitar.


Kouya pun buru-buru mengalihkan pembicaraan.


"Daripada itu, Ketua Kelas! Menurutku aneh sekali tahu, cuma karena ini nomor ganda, kami cuma dapat satu trofi. Sampaikan komplain ini ke pihak atas, dong!"


"Akan aku pertimbangkan baik-baik."


Tepat saat Hitoha memberikan jawaban yang formal,


"Permisi, kami dari Klub Jurnalistik."


Seorang murid yang menenteng kamera DSLR menyela percakapan mereka.


"Kami mau memuat artikel tentang kompetisi olahraga ini di koran sekolah. Boleh minta waktunya sebentar untuk foto? Rencananya kami mau memasang foto semua pemenang dari setiap kategori."


"Ah, silakan, silakan."


"Kalau begitu, kalian berdua, bisa tolong berdiri agak lebih rapat lagi? Kalau posisinya seperti sekarang, tidak muat dalam satu bingkai foto, nih."


Sambil bersiap dengan kameranya, anggota klub jurnalistik itu memberikan instruksi kepada pasangan juara ganda tersebut. Mengikuti instruksi yang diberikan, Kouya pun mengikis jaraknya dengan Kiyoko.


"Begini?"


"Nah, benar begitu. Terus, karena ini kan nomor ganda, rasanya akan lebih bagus secara visual kalau kalian berangkulan pundak sambil berpose merayakan kemenangan."


"............"


Setelah sempat ragu sejenak, Kouya menyandarkan tangannya di atas pundak Kiyoko.


Tubuh Kiyoko sempat sedikit tersentak kaget, namun ia segera meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak perlu merasa canggung atau berpikiran yang aneh-aneh.


Sebab, yang diminta saat ini hanyalah potret gagah dan penuh percaya diri dari sepasang tim yang berhasil keluar sebagai juara.


"Bisa tolong pundaknya ditarik agak lebih rapat lagi? Nah, bagus. Tahan di posisi itu. Ah, sudut wajahnya menghadap ke depan, ya. ——Sip, pas banget. Oke, saya ambil fotonya, ya. 1, 2, 3!"


Cekrek! Anggota klub jurnalistik itu menekan tombol rana kameranya.


Sebagai cerita kilas balik, foto-foto para pemenang kompetisi olahraga yang dimuat di koran sekolah beberapa hari kemudian ternyata tampak sangat heboh dan lepas kendali. Dibandingkan dengan pemenang dari kategori lain, pose Kiyoko dan Kouya sama sekali tidak ada apa-apanya. Pemenang lain berpose sekonyol dan seheboh mungkin dengan penuh semangat.


Karena telanjur mabuk kemenangan, ada 2 orang murid laki-laki yang berpose menggendong ala putri (bridal carry), ada yang berpose ala regu pahlawan super (sentai pose) secara beramai-ramai, hingga ada yang berpose memberikan kecupan jauh (flying kiss). Pokoknya benar-benar kacau balau. 


Deretan foto kemenangan itu sukses membuat Kouya dan Kiyoko merasa konyol sendiri karena sempat terlalu memedulikan pandangan orang lain hanya untuk urusan berangkulan pundak.


Pose rangkul pundak Kouya dan Kiyoko yang terkesan kasual dan manis itu, pada akhirnya hanya menjadi angin lalu di hadapan pose-pose gila dari para pemenang lain yang jauh lebih ekspresif, dan tidak ada lagi pembaca yang memedulikannya. 


Kouya sempat menyesal karena mumpung sudah menang, seharusnya mereka mengambil pose kemenangan yang jauh lebih heboh. Namun, ia tahu penyesalan itu tidak ada gunanya karena sudah jelas Kiyoko tidak akan mau diajak berkompromi untuk hal semacam itu.


4


Hari itu, hari sudah menjelang sore ketika mereka berdua pulang ke rumah setelah kompetisi olahraga selesai.


"Kalau begitu, aku pinjam kamar mandinya untuk mandi duluan, ya."


Kiyoko melemparkan tasnya ke dalam kamar, lalu bergegas pergi begitu saja menuju kamar mandi.


Setelah melakoni pertarungan sengit di cabang pingpong, Kouya sebenarnya juga sudah mandi keringat dan ingin segera membasuh diri. Namun, karena kamar mandi sudah telanjur direbut duluan oleh Kiyoko, ia tidak punya pilihan lain. Ia memutuskan untuk menunggu giliran kamar mandi terbuka sambil bersantai di sofa.


——Akan tetapi, tidak peduli berapa lama pun ia menunggu, Kiyoko tidak kunjung keluar dari kamar mandi.


10 menit, 20 menit, 30 menit, hingga 1 jam pun berlalu.


"............"


Mandi pakai shower sampai 1 jam rasanya mustahil, kan?


Melewati batas rasa jengkelnya, Kouya mulai merasa cemas karena situasi ini memakan waktu terlalu lama.


Jangan-jangan...... dia pingsan di dalam kamar mandi?


Seiring dengan rasa waswas yang kian membayangi, Kouya memantapkan hatinya, bangkit berdiri dari sofa, lalu melangkah menuju kamar mandi.


"Kiyoko-san! Kamu tidak apa-apa? Tidak sedang pingsan, kan?"


Kouya mencoba memastikan keadaan sambil mengetuk pintu kamar mandi.


"Aku tidak pingsan, kok, tapi di sini agak sedikit sibuk."


Terdengar suara tanggapan Kiyoko dari dalam.


"Hah?"


Sibuk? Di dalam kamar mandi? Apa-apaan maksudnya?


"Aku masuk, ya!"


Heran dengan apa yang bisa membuat seseorang sesibuk itu di dalam kamar mandi selama satu jam, Kouya membuka pintu ruang ganti dan melangkahkan kakinya masuk ke area kamar mandi.


Tepat di sana, tampak Kiyoko dalam kondisi tanpa busana dan hanya melilitkan selembar handuk di tubuhnya, sedang membongkar penutup panel kendali dari papan pengatur suhu kamar mandi.


"Apa yang sedang kamu lakukan, sih!?" teriak Kouya spontan.


Di dekat kaki Kiyoko, tampak peralatan perkakas seperti obeng dan sejenisnya berserakan di lantai. Gadis itu rupanya telah membongkar paksa penutup panel tersebut atas inisiatifnya sendiri.


Kiyoko pun mulai melayangkan alasan dengan terbata-bata, sebuah gelagat yang sangat jarang ia tunjukkan.


"I-Itu...... Tiba-tiba saja airnya berubah jadi dingin dan tidak mau keluar air hangat lagi. Kupikir panelnya rusak, jadi aku melepas penutupnya untuk mencoba memperbaiki kerusakannya sendiri. Tapi, saat aku mengotak-atik bagian dalamnya, bagian yang lain malah ikut-ikutan jadi aneh. Aku sempat bingung harus bagaimana......"


Intinya, Kiyoko berniat memperbaiki sendiri panel pengatur suhu yang rusak itu dan berakhir terlibat dalam pertarungan sengit. Namun tanpa sempat memperbaikinya, ia justru mengotak-atik bagian yang salah hingga membuat kerusakannya semakin parah sampai seperti sekarang, dan ia menghabiskan waktu lebih dari satu jam karena kebingungan harus berbuat apa.


Tidak, tidak, tunggu dulu, batin Kouya kehabisan kata-kata.


"Kalau begitu, kenapa tidak langsung panggil aku saja dari tadi?"


"Karena ini gara-gara kecerobohanku sendiri, jadi kupikir aku harus bertanggung jawab untuk memperbaikinya kembali......"


"Tapi ini malah jadi makin parah, kan?"


"Habisnya posisinya tidak mau kembali seperti semula."


"Makanya kalau tidak tahu jangan asal diutak-atik!"


"Kupikir kalau terus dicoba nanti bakal kembali normal sendiri......"


"Tapi kenyataannya tidak kembali normal, kan?"


"Ya, kalau itu memang benar, sih......"


"Sudah, minggir, biar aku saja yang urus. 1 jam tidak menyelesaikan apa-apa dan malah bikin makin rusak, kamu ini sebenarnya tidak bakat memegang perkakas, ya!?"


Kouya Menyuruh Kiyoko untuk mundur bergeser, lalu ia membungkuk untuk memeriksa panel yang rusak tersebut.


Karena posisinya digeser, Kiyoko pun melangkah mundur ke belakang punggung Kouya. Tetesan air sesekali jatuh dari ujung rambutnya, menciptakan genangan air kecil di atas lantai.


"............"


Karena terlalu panik sejak tadi, Kouya baru tersadar sepenuhnya sekarang. Ia mendadak menyadari bahwa sosok Kiyoko yang berada tepat di belakang punggungnya saat ini hanya mengenakan selembar kain handuk mandi.


Kiyoko tampaknya juga baru menyadari kondisi penampilannya sendiri saat ini.


Tepat pada detik ketika mereka berdua secara bersamaan menyadari hal yang sempat terlupakan akibat situasi darurat tadi, sebuah keheningan yang canggung langsung menyelimuti atmosfer di antara mereka berdua.


Rasanya akan terasa tidak alami jika sekarang ia mendadak menegur pakaian yang dikenakan oleh Kiyoko. Namun pada kenyataannya, gadis yang berdiri tepat di belakangnya saat ini memang hanya berbalut selembar handuk mandi besar——.


............"


Jangan dipikirkan, bodoh! Jangan fokus ke sana, ini saatnya memperbaiki, perbaiki panelnya! Kouya meyakinkan dirinya sendiri.


"......Aku mau ganti baju dulu."


Kiyoko buru-buru mengambil pakaian yang diletakkan di keranjang baju, lalu undur diri dari ruang ganti.


Di antara tumpukan baju yang ia ambil, sempat terlihat sekilas celana dalam berwarna merah muda. Namun, dengan mengerahkan seluruh sisa rasionalitasnya, Kouya berpura-pura tidak melihatnya. Pemuda itu memaksa fokusnya beralih pada perbaikan papan pengatur suhu alat pemanas air.


Sesuatu yang tidak bisa diperbaiki oleh orang yang tidak bakat memegang perkakas meskipun sudah berjuang mati-matian, terkadang bisa diselesaikan dengan mudah jika orang yang terampil mau berusaha sedikit saja.


Saat Kouya sedang mengotak-atik alat pemanas air itu, Kiyoko yang sudah berganti pakaian mengenakan kaus dan celana pendek kembali dengan memancarkan aura canggung di sekitarnya.


Waktunya benar-benar pas.


"Nah, sudah selesai kuperbaiki."


Kouya memasang kembali penutup panel ke posisi semula lalu menunjukkannya kepada Kiyoko.


"......Kouya-kun, ternyata kamu lumayan terampil, ya."


Tampak sedikit kagum, Kiyoko mencoba menaikkan dan menurunkan suhu pada panel kendali yang kini telah berfungsi normal sepenuhnya.


"Ada hal lain yang mau dikatakan?" tanya Kouya dengan ekspresi datar.


"......Terima kasih. Maaf ya sudah merepotkanmu," ucap Kiyoko dengan ragu-ragu.


Raut wajah Kiyoko tampak benar-benar lesu. Mungkin karena ia tipe orang yang perfeksionis, ia selalu merasa terpukul dan murung setiap kali ada hal yang tidak berjalan dengan lancar.


Haaah... Kouya mengembuskan napas panjang yang sengaja dibuat-buat.


"Di mata Kiyoko-san, apakah aku ini sosok yang tidak bisa diandalkan?"


"Eh?"


Karena tidak paham dengan arah ketidakpuasan pemuda itu, Kiyoko mengerjapkan matanya dengan bingung.


Dengan nada sedikit kesal, Kouya berujar,


"Aku tahu kalau Kiyoko-san itu orang yang bisa melakukan hampir semua hal sendirian. Tapi kalau sedang kesulitan, andai kamu memanggilku lebih cepat, aku kan bisa langsung membantumu."


"......Maaf. Aku memang kurang pandai dalam hal mengandalkan orang lain."


Karena bagian itu adalah sesuatu yang paling tidak ingin disinggung, Kiyoko tampak merasa serba salah. Kouya menggelengkan kepalanya heran.


"Cara hidupmu itu sepertinya bikin lelah sendiri, ya."


"Benar juga, sih. Tapi sedikit banyak, aku juga merasa iri padamu, Kouya-kun."


"Kalau begitu, setidaknya kalau di depanku, tampil apa adanya saja kan tidak apa-apa."


"............"


Kiyoko merasa tersentak mendengar tawaran yang tidak terduga itu, lalu menatap lekat-lekat pemuda yang tinggal satu atap dengannya.


"Kouya-kun, apakah kamu memang ingin diandalkan olehku?"


"————"


Mendapat balasan yang sama sekali di luar perkiraan, Kouya seketika langsung bungkam seribu bahasa.


"Aku... maksudku... mungkin aku akan merasa lebih senang kalau kamu mau mengandalkanku......"


Sembari memberikan jawaban yang terbata-bata, Kouya akhirnya menyadari sesuatu tentang dirinya sendiri. Ia selalu berusaha untuk tampil sok jantan dan terlihat keren di depan Kiyoko setiap kali ada kesempatan.


Meskipun mereka berada di tingkat angkatan yang sama di sekolah, usia asli mereka terpaut hampir satu tahun penuh. Karena alasan itulah Kiyoko selalu memperlakukannya seperti seorang adik dan sering kali mengurus kebutuhannya. Jadi, ketika melihat gadis itu sesekali berada dalam kesulitan, muncul dorongan kuat di dalam diri Kouya untuk berbicara besar, bahkan jika itu hanya sekadar gertakan belaka.


Tampaknya, persis seperti yang dikatakan Kiyoko, ia memiliki keinginan yang kuat untuk diandalkan oleh gadis itu.


"Kalau begitu, aku terima tawaran baikmu dan mulai sekarang aku akan mengandalkanmu, ya. Hari ini terima kasih banyak."


Kiyoko tersenyum tipis, lalu perlahan bangkit berdiri dan melangkah keluar dari kamar mandi.


Sambil menatap kepergian punggung gadis itu, Kouya merenung dalam hati mengenai dari mana asal muasal keinginannya yang begitu besar untuk diandalkan oleh Kiyoko.


"Perasaan apa ini, ya? Apakah ini cuma sekadar gengsi semata......?"


Padahal pada dasarnya, ia bukan tipe orang yang suka pilih-pilih gengsi seperti itu.


Mengenai perasaan mengganjal yang membingungkan ini, jika itu Taishi Dazai, pemuda itu pasti akan langsung menyimpulkannya dengan santai, "Kamu cuma ingin pamer dan terlihat keren di depan gadis yang kamu sukai, cuma itu saja, kan?"——


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close