NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanzen Kaiju no Priest V2 Chapter 9

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 9

Festival Pedang Suci

Tampaknya, kontrak budak di dunia ini memiliki daya ikat yang jauh lebih kuat daripada yang kubayangkan.


Bahkan jika terpisah oleh jarak yang jauh, kehendakku tetap dapat tersampaikan kepada pihak yang terikat kontrak.


Tentu saja, itu bukan berarti kami bisa bercakap-cakap seperti menggunakan telepati. Yang tersampaikan hanyalah semacam perasaan atau niat secara naluriah.


Karena itulah, untuk sementara aku memerintahkan Dorothea agar bersembunyi di suatu tempat.


Katanya ia mampu menggunakan sihir kegelapan tipe teleportasi yang pernah mengirimku terlempar saat pertempuran. Jadi, kapan pun kupanggil, ia bisa segera muncul.


Benar-benar bawahan yang praktis.


Di penghujung hari itu, kami mengunjungi gereja terbesar di kota—Katedral Agung Saint Patricia.


Karena Iris kini bisa berjalan di kota dengan mengenakan jubah sucinya tanpa menimbulkan masalah, kami memutuskan memanfaatkan kesempatan ini untuk berdoa bersama. Medina tentu ikut bersama kami.


Katedral yang menjulang di depan mata benar-benar berbeda kelas dibanding gereja-gereja lain.


Dinding batu yang megah, dipenuhi kaca patri yang tak terhitung jumlahnya.


Cahaya yang masuk memantulkan beragam warna ke lantai, menciptakan ilusi seolah-olah kami sedang melangkah ke dunia para dewa.


Aku benar-benar kehilangan kata-kata.


Saat memasuki bagian dalam, hal pertama yang membuatku terpana adalah tingginya langit-langit. Luas bangunannya pun luar biasa.


Di sepanjang dinding terdapat lorong menuju lantai dua dan tiga. Dari banyaknya pintu yang berjajar, terlihat jelas bahwa bangunan ini memiliki struktur seperti sebuah menara raksasa.


Semakin ke dalam, terlihat deretan bangku panjang untuk para jemaat yang tersusun rapi. Di baliknya terbentang area suci katedral.


Di dinding paling belakang berdiri patung Dewi Artemisia yang bersinar diterpa cahaya kaca patri.


Sosoknya yang memegang busur tampak anggun dan penuh wibawa. Hanya dengan memandangnya saja, tanpa sadar tubuhku menjadi tegak.


Lalu ada satu hal yang tidak pernah kulihat di gereja lain.


Di belakang patung itu tergambar seekor binatang suci bertanduk besar—Keryneia.


Sosoknya yang berdiri melindungi sang dewi memancarkan kekuatan yang tenang.


Meski semegah ini, katanya katedral agung di ibu kota masih beberapa kali lebih besar.


—Gereja benar-benar menghabiskan banyak uang.


Dan justru gereja seperti inilah yang hendak dihancurkan oleh Burdog. Seorang pria yang seharusnya menjadi penganut agama, malah berusaha menodai gereja itu sendiri.


Aku berdiri di depan patung dewi bersama Iris dan Medina.


Lalu kami berlutut dengan tenang, menyatukan kedua tangan dan mulai berdoa.


Cahaya yang menembus kelopak mataku terasa hangat, sementara hatiku perlahan menjadi damai.


"────"


Beberapa saat kemudian, aku perlahan membuka mata.


Pemandanganku berubah menjadi dunia hitam dan putih.


"...Artemisia?"


"Sudah lama tidak bertemu. Sepertinya kau telah melalui banyak kesulitan."


Suara lembut yang seakan tersenyum bergema di dalam keheningan.


Patung sang dewi memancarkan cahaya putih redup, dan ketika kusadari, semua orang selain diriku telah membeku seolah waktu berhenti.


"Aku benar-benar tak menyangka bakal terseret sejauh ini."


"Namun justru karena kau ada, kota ini berhasil diselamatkan."


"...Entahlah benar-benar terselamatkan atau tidak."


"Apa yang kau lakukan sudah lebih dari cukup. Setelah ini, tinggal masing-masing orang menjalani hidup mereka sendiri. Itu bukan lagi beban yang harus kau pikul."


"Cara bicaramu cukup dingin juga."


"Ya. Bagaimanapun, dulunya aku juga seorang petarung. Kebaikan saja tidak cukup untuk bertahan hidup."


Pandanganku tertuju pada busur yang dipegang patung dewi.


"Jadi kau memang menggunakan busur. Ternyata dewa juga bertarung seperti manusia ya."


"Benar. Dewa seperti kami pada awalnya juga manusia. Setelah melalui waktu yang sangat panjang, kami memperoleh keilahian dan menjadi seperti sekarang."


Jadi dulunya manusia…


Ia berasal dari dunia ini, namun mengetahui dunia kehidupanku sebelumnya, bahkan mengatur reinkarnasi.


Keberadaan yang disebut dewa benar-benar sulit dipahami.


"Ada satu hal yang ingin kukatakan."


"Apa itu?"


"Masalah jari yang masuk ke bokong Seira itu jelas bukan keinginanku, kan!?"


Dulu Artemisia pernah mengatakan bahwa harga dari penggunaan skill akan menyesuaikan dengan keinginanku.


Tapi memasukkan jari ke bokong seseorang jelas bukan hasratku. Kalau pun ada, paling cuma hal-hal seperti meremas dada atau semacamnya.


"Terkadang, hasilnya bisa melampaui keinginanmu sendiri."


"...Hah?"


"Dulu aku pernah berkata bahwa kekuatan besar memerlukan harga yang besar. Jika besarnya kekuatan yang dibutuhkan melampaui keinginan terdalam dirimu, maka harga yang dibayar juga akan bertambah melebihi keinginan itu."


"Jadi... karena kutukan yang mengancam nyawa Seira membutuhkan kekuatan yang luar biasa besar?"


"Benar begitu."


—Syukurlah.


Setidaknya bukan berarti aku benar-benar menginginkan hal seaneh itu. Namun di saat yang sama, muncul fakta yang cukup mengerikan.


"...Kalau begitu, bukankah mungkin saja nanti harga yang harus kubayar berupa sesuatu yang sama sekali tidak kuinginkan?"


"Dalam kondisi tertentu, itu memang bisa terjadi."


"Begitu ya... kurasa itu memang takdir."


"Tapi... sebenarnya kau juga tidak benar-benar membencinya, bukan?"


"Apa...!?"


Dasar dewi ini...!


Memang awalnya aku benar-benar syok.


Tapi itu Seira. Wanita cantik yang tampak sempurna dan dingin itu sampai memerah wajahnya dan mengerang karena jariku...mana mungkin akal sehatku tetap utuh.


"Jangan-jangan kau sebenarnya dewa dari Kekaisaran Miledia?"


Kudengar Kekaisaran Miledia di sebelah barat jauh lebih terbuka soal urusan seksual.


"Fufu, jangan samakan aku dengan para wanita mesum di sana. Kalau suatu hari kau pergi ke Miledia, kau akan mengerti. Di negeri itu bahkan ada orang-orang yang disebut 'Saintees Kenikmatan' dan 'Putri Pelayan'. Dunia mereka benar-benar berbeda dari Kerajaan Einfilia."


"...Barusan aku merasa mendengar istilah yang cukup berbahaya. Lagi pula, setiap negara punya Saint?"


"Benar. Di dunia ini gereja memiliki kekuasaan yang sangat besar. Karena itu, di setiap wilayah yang memiliki gereja, pasti ada Paus dan seorang Saint."


Begitu rupanya. Kalau begitu, Kekaisaran Miledia memang terdengar seperti negara yang luar biasa. Bahkan Iris yang masih calon Saintess saja menurutku sudah cukup menggoda.


Apalagi seseorang yang disebut "Saintess Kenikmatan".


"Lalu satu hal lagi. Mengenai sekolah gereja yang disebutkan calon Saintess itu. Setelah beberapa waktu, kau sebaiknya pergi ke sana."


"...Jadi akhirnya memang harus ke sana, ya."


"Di sanalah kau akan menemukan pertemuan baru, dan masa depan yang kau inginkan akan dimulai."


"Masa depan yang kuinginkan..."


Sejujurnya, aku sendiri belum tahu apa yang benar-benar kuinginkan.


Aku memang ingin menolong orang. Namun bukan hanya itu.


Ada juga bagian diriku yang ingin menjadi petualang dan menjelajahi dungeon.


Tapi inti dari skill yang kumiliki memang bukan untuk bertarung di dungeon, melainkan untuk menyelamatkan orang.


"...Baiklah. Aku akan pergi."


"Itu pilihan yang baik. Kalau begitu... semoga suatu hari nanti kita bisa bertemu lagi."


"Ya. Semoga kau juga baik-baik saja."


Saat berikutnya, warna kembali memenuhi dunia.


Cahaya pada patung dewi perlahan menghilang, dan Iris serta Medina kembali bergerak.


Aku menurunkan kedua tanganku perlahan, memberi hormat kepada patung dewi, lalu bangkit.


Saat hendak meninggalkan katedral—


"—Shuu. Syukurlah kau selamat."


Yang memanggilku adalah Alaistar-san, si pria yang kami juluki "paman babi".


"Anda juga kelihatannya baik-baik saja. Aku juga penasaran apa yang terjadi padamu setelah itu."


"Aku bisa menggunakan sihir penyembuhan. Jadi aku menyembuhkan diriku sendiri. Yang lebih penting, aku belum sempat mengucapkan terima kasih dengan layak kepadamu. Atas urusan Burdog... dan juga Seira. Aku sungguh berterima kasih."


Alaistar-san masih mengenakan jubah merah seperti kemarin.


Meski wajahnya menyerupai babi, entah kenapa ia tetap memancarkan wibawa yang agung, dan penampilannya benar-benar cocok dengan suasana katedral ini.


"Aku hanya melakukan apa yang bisa kulakukan. Seira membutuhkanmu. Itu saja."


"Dalam situasi seperti itu, hanya sedikit orang yang sanggup melakukannya. Terus terang, aku benar-benar mengira kau telah kehilangan nyawamu demi menyelamatkanku."


"K-kehilangan nyawa!? Apa maksudnya, Shuu-sama!?"


"Ah..."


Baru kusadari, aku memang belum menceritakan detail pertarunganku melawan Dorothea kepada siapa pun.


Seperti yang kuduga, Iris langsung menghampiriku dengan wajah pucat.


"Karena jubah ini. Kalau tidak memakainya, mungkin tubuhku sudah tertembus cakarnya."


"Memang saat kulihat dengan Appraisal, penjelasannya sangat sulit dipahami... Aku sendiri tidak benar-benar mengerti."


Begitu rupanya. Mungkin Iris memang tidak memahami mekanisme seperti fenomena dilatansi.


Walaupun mendapat informasi lewat Appraisal, bukan berarti semuanya langsung bisa dipahami.


"Yang penting sekarang aku masih hidup. Anggap saja semuanya berakhir dengan baik."


"Ya ampun... Kami benar-benar mengkhawatirkan Anda, Shuu-sama...!"


Melihat Iris hampir memelukku karena khawatir membuatku merasa sedikit canggung.


Aku senang ia mengkhawatirkanku, tapi sebenarnya aku tidak ingin membuatnya cemas. Namun dalam situasi saat itu, memang tidak ada pilihan lain.


"Selain itu, Shuu... Seira ingin berbicara denganmu."


"...Eh?"


Alaistar-san melambaikan tangan ke arah kejauhan.


Kulihat Seira, masih mengenakan zirahnya, berjalan menghampiri kami.


"Yo, Seira. Syukurlah kau selamat."


"T-tentu saja! Aku ini kapten, tahu! Mana mungkin tumbang hanya karena hal seperti itu... Lagi pula, aku dengar justru kau yang pingsan... Syukurlah kau juga baik-baik saja."


Sambil memalingkan wajah karena malu, Seira melanjutkan ucapannya. Sepertinya dia benar-benar mengkhawatirkanku.


"Lalu... apa kau pernah mendengar tentang Festival Pedang Suci?"


"Belum. Baru pertama kali dengar."


"Shuu-sama, Festival Pedang Suci adalah festival besar yang diadakan dua kali setahun di Kota Petualang Hares. Selama festival berlangsung, gereja, para petualang, maupun warga biasa semuanya dianggap setara. Festival ini diadakan sebagai bentuk rasa syukur kepada pedang, lambang senjata yang telah membuat kota ini berkembang berkat dungeon."


Begitu rupanya. Jadi di dunia ini juga ada budaya festival.


Tanpa sadar aku teringat festival musim panas di kehidupan sebelumnya, saat Rikka memaksaku ikut bersamanya.


"Begitu ya... Lalu memangnya kenapa dengan Festival Pedang Suci itu?"


"Itu... e..."


"Shuu-sama... kalau sudah dijelaskan sampai sejauh ini tapi masih belum mengerti, berarti Anda benar-benar terlalu tidak peka."


"E-eh...?"


Iris memegang dahinya sambil menghela napas.


Jangan-jangan... maksudnya itu?


"Festival Pedang Suci akan dimulai besok dan berlangsung selama satu minggu. Aku sibuk menjalankan tugas sebagai Ksatria Kuil... tapi aku mendapat cuti sehari."


──Baru setelah mendengar kalimat itu aku akhirnya paham.


Seira sedang mengajakku pergi ke festival bersamanya.


Mengajakku di depan banyak orang seperti ini malah membuatku ikut malu. 


Namun, dia sudah memberanikan diri meski gugup. Kalau begitu, sekarang giliranku menjawab dengan sungguh-sungguh.


"──Ya, tentu. Aku akan menyesuaikan dengan hari liburmu. Mari kita keliling festival bersama."


"......! T-terima kasih..."


Wajah Seira seketika memerah. Bahkan telinganya ikut merah seperti terbakar, sampai-sampai aku sendiri ikut merasa malu melihatnya.


Dasar... benar-benar gadis tsundere.


──Namun sebelum itu.


Masih ada satu janji yang harus kutepati.


Janji yang kubuat lebih dulu dengan pendeta cantik berambut perak.


◇◇◇


Keesokan paginya.


Suara riuh orang-orang terdengar dari luar jendela.


Aku terbangun di atas ranjang empuk penginapan, sementara sinar matahari pagi yang menyelinap melalui celah tirai memantulkan cahaya lembut di atas seprai putih.


"Jadi ini... festival ya."


Saat membuka jendela, udara pagi yang segar bersama sorak-sorai langsung mengalir masuk.


Jalanan dipenuhi orang-orang yang menikmati Festival Pedang Suci, sementara aroma makanan kaki lima dan alunan musik memenuhi seluruh kota.


Iris tidak ada di ranjang.


Sejujurnya aku sudah bersiap kalau-kalau dia diam-diam menyelinap ke tempat tidurku... tapi sepertinya dia tidur dengan tenang di kamar Medina.


Hari ini──adalah hari janjiku dengan Erina.


Mungkin Iris juga menyadari hal itu dan sengaja memberi kami ruang.


Hal paling luar biasa dari penginapan Nagiri no Kiritei adalah adanya kamar mandi dengan pancuran.


Di desa-desa tempatku pernah menginap sebelumnya, fasilitas semewah itu tidak pernah ada. Bahkan air panas pun tersedia.


Pasti berkat alat sihir.


Setelah mandi dan menyegarkan tubuh maupun pikiran, aku bersiap lalu menuju tempat yang telah dijanjikan.


Menjelang tengah hari. Di alun-alun kawasan pusat kota. Banyak orang telah berkumpul di sekitar air mancur yang berkilauan.


──Dan di sanalah dia berada.


Seorang wanita cantik berambut perak yang berayun tertiup sinar matahari.


"Erina──apa kau sudah menunggu lama?"


"Shuu-san... tidak. Aku juga baru saja sampai."


Hari ini Erina mengenakan gaun one-piece hijau muda yang segar dipadukan dengan tas kecil, membuatnya tampak seperti angin musim semi.


"Cocok sekali."


"Hehe... terima kasih. Kalau Shuu-san sendiri..."


"Maaf. Aku cuma punya pakaian seperti ini."


Pakaianku hanyalah salah satu pakaian sehari-hari yang kubawa dari Desa Iasis.


Sama sekali tidak modis. Bahkan saat pergi ke toko pakaian bersama Iris dan yang lain, aku hanya membeli pakaian dalam.


"Kalau begitu, ayo kita pilih bersama! Hari ini banyak toko yang mengadakan diskon festival."


"Itu sangat membantu... tapi aku benar-benar tidak paham soal pakaian."


"Tidak apa-apa. Biar aku yang memilihkan."


"Kalau begitu aku tenang."


Erina langsung tersenyum cerah lalu menggenggam tanganku.


Begitu ujung jari kami bersentuhan, jantungku langsung berdebar.


"Ayo!"


"Hari ini aku sudah membuat daftar tempat yang ingin kukunjungi, jadi bersiaplah ya!"


Ternyata Erina lebih aktif daripada yang kukira.


Namun wajahnya yang memerah sambil menggandeng tanganku terasa jauh lebih manis daripada lampu-lampu hias festival.


◇◇◇


"Shuu-san. Aaa..."


"Am...enak!"


"Hehe. Krimnya masih menempel di bibirmu."


"Mm... enak. Erina..."


Kami duduk berdampingan di sebuah bangku.


Erina perlahan menyeka krim crepe yang menempel di bibirku dengan jarinya, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya sendiri sambil menjilat pelan.


Ini benar-benar seperti kencan.


Sejak datang ke dunia ini, inilah pertama kalinya aku menjalani kencan yang sesungguhnya.


Waktu bersama Amelia selalu dihabiskan di desa atau di dalam hutan. Itu juga menyenangkan dengan caranya sendiri...


Tapi berjalan-jalan di kota seperti ini ternyata juga tidak buruk. Entah kenapa dadaku terasa ringan dan hangat.


Lagi pula hari ini Erina memakai parfum. Setiap kali angin bertiup, aroma manisnya samar-samar tercium.


"Erina... mau coba juga?"


"Iya..."


"Aaa..."


"Mm... punyamu juga enak sekali, Shuu-san."


"B-benarkah... jangan-jangan kau sengaja?"


"Ehehe..."


Di sudut bibir Erina juga menempel sedikit krim.


Aku menyekanya dengan jariku, lalu memasukkannya ke mulut seperti yang tadi dia lakukan.


"...Ternyata kalau jadi pihak yang diperlakukan seperti ini, rasanya cukup memalukan ya."


Pipinya memerah sambil mengalihkan pandangan.


Melihat wajahnya yang begitu manis, tanpa kusadari──aku sudah mengecup bibirnya.


"....."


Sesaat matanya membelalak karena terkejut. Namun perlahan sorot matanya menjadi lembut. Lalu dia menerima ciumanku dengan tenang.


"Shuu-san... di tempat seperti ini... kamu berani sekali."


"Karena Erina terlalu imut, aku tidak bisa menahan diri."


"...Aku juga sebenarnya ingin melakukannya."


Setelah itu, untuk beberapa saat kami tidak bisa berkata apa-apa.


Wajah kami sama-sama panas, hingga baru sekitar tiga puluh menit kemudian kami bisa kembali mengobrol.


Setelah itu kami berkeliling stan-stan festival, mencicipi berbagai makanan, lalu pergi ke toko pakaian.


Mengikuti saran Erina, aku mencoba berbagai pakaian yang dipilihkannya. Tanpa terasa, langit kota mulai berubah menjadi jingga.


"Selanjutnya... ah, ke sana! Ada minuman yang enak."


Erina menarik tanganku menuju sebuah kios yang menjual anggur buah dan bir.


Di kehidupan sebelumnya aku belum pernah minum alkohol.


Walaupun usiaku sudah lewat dua puluh tahun, selama menjadi ronin aku tidak punya kesempatan untuk itu.


Di dunia ini rupanya orang sudah boleh minum sejak usia enam belas tahun. Karena penasaran, aku memutuskan mencobanya bersama Erina.


Erina sendiri berusia dua puluh tahun.


Karena prestasinya sangat baik di sekolah gereja, dia sempat bekerja di gereja sebelum akhirnya bertemu Glen dan menjadi seorang petualang.


Sepertinya dia memang lebih cocok menjelajahi dunia luar daripada tinggal di dalam gereja.


Minuman yang dipilihnya adalah bir.


Dari caranya minum, tampaknya dia sudah sangat terbiasa. Sedangkan aku memilih anggur buah yang rasanya manis.


Namun──setelah beberapa gelas, aku menyadari sesuatu.


Ternyata mabuk dianggap sebagai salah satu kondisi abnormal.


Dengan kata lain, karena mendapat perlindungan Dewi... aku sama sekali tidak bisa mabuk.


Mungkin Iris masih bisa sedikit mabuk karena perlindungannya tidak sebesar milikku, tapi aku benar-benar kebal.


Kecuali aku menggunakan cara menonaktifkan perlindungan dewi yang diajarkan Keryneia, sepertinya aku akan tetap sadar selamanya.


Yah, lupakan soal itu.


"Erina... kau tidak apa-apa?"


"Shuu-shan... a-aku... baik-baik shaja... hiks…"


Saat memasuki gelas bir kelima, Erina sudah benar-benar mabuk berat. Pipinya memerah menyala, dan ia terhuyung-huyung sambil menyandarkan tubuhnya padaku.


"Setelah ini... kita pergi ke Platinum Memories..."


"Baiklah. Hop."


Aku menggendong Erina yang sempoyongan di punggungku, lalu mulai berjalan menuju tempat yang tadi ia sebutkan.


Setelah beberapa kali bertanya kepada orang-orang yang lewat dan akhirnya sampai di tujuan, aku langsung mengerti.


"...Pantas saja semua orang tadi memasang wajah terkejut."


Tempat itu jelas-jelas merupakan penginapan khusus untuk orang dewasa.


Ternyata di kota Hares juga ada tempat seperti ini.


Alasan Erina mengajakku ke sini rupanya memang sudah ditentukan sejak awal.


Kencan kami hari ini hanyalah waktu yang berharga untuk mempersiapkan hati—semacam persiapan mental sebelum momen ini.


Namun, yang tak terduga adalah Erina sendiri sampai mabuk separah ini. Mungkin ia terlalu banyak minum demi meredakan rasa gugupnya.


Saat aku menyebutkan namanya di meja resepsionis, kami langsung diberi kunci kamar.


Begitu pintu kamar dibuka, cahaya lampu yang redup dan sebuah ranjang besar nan mewah langsung menyambut pandangan.


Rasanya seperti berada di hotel berbintang.


Aku membaringkan Erina dengan hati-hati di atas tempat tidur, lalu menarik napas panjang.


"...Nah, sekarang bagaimana ya."


Membiarkannya tidur begitu saja juga bukan pilihan yang buruk. Namun jika ia tetap mabuk, besok pasti ia akan menyalahkan dirinya sendiri.


Karena itu, aku memutuskan untuk menghilangkan kondisi 'mabuk berat' miliknya dengan 〈Complete Uncurse〉.


"...Bagian bokong, ya."


Sepertinya tingkatnya sama seperti "nyeri pinggang" milik Marie.


Aku membalikkan tubuh Erina hingga tengkurap, lalu mengaktifkan 〈Complete Uncurse〉.


"Mm... ah... nng... ah...♡"


Saat aku memijat kedua bokongnya yang indah dengan kedua tangan, Erina perlahan mulai mengeluarkan suara.


Padahal seharusnya ia masih tertidur, tetapi pinggangnya mulai bergerak-gerak tanpa sadar, memperlihatkan reaksi.


Beberapa puluh detik kemudian, proses pelepasan kutukan pun berhasil dengan mudah.


"──Mm... mng..."


Erina perlahan membuka matanya, mengusap kedua matanya, lalu bangkit duduk. Dalam pandangan yang masih buram, ia segera melihatku tepat di depan matanya.


"...Eh?"


"Selamat pagi, Erina—ah, tidak, selamat malam, ya."


Mendengar kata-kataku, keringat dingin langsung mengalir di tengkuknya.


"M-maaf... maaf sekaliii!!"


Dengan panik Erina langsung duduk bersimpuh di atas ranjang, lalu menundukkan kepalanya sedalam mungkin.


Namun aku sama sekali tidak punya alasan untuk marah.


"Tenang saja. Matahari baru saja terbenam. Malam kita baru dimulai."


"...A-ah... maafkan aku. Sepertinya aku tadi terlalu banyak minum..."


"Kita memang bersenang-senang hari ini kan. Tidak apa-apa. Tapi... bukankah waktu yang paling kau nantikan justru dimulai sekarang?"


"S-Shuu-san..."


Hanya dengan kalimat itu, bahu Erina yang tegang akhirnya mengendur.


Aku pun memeluknya dengan lembut. Erina sempat ragu sejenak, tetapi kemudian ia membalas pelukanku dengan erat.


"Hotel ini memberi kita minuman sebagai layanan. Mau minum sedikit lagi?"


"Tidak... Mulai sekarang, aku ingin mengingat Shuu-san sedetik lebih lama. Jadi aku ingin tetap sadar."


Setelah berkata begitu, Erina perlahan mulai melepaskan gaun terusan yang dikenakannya.


Ia menurunkan ritsleting di punggungnya, lalu membiarkan gaun itu meluncur dari bahunya, memperlihatkan tubuh indahnya yang masih tertutup pakaian dalam.


Dengan pipi yang memerah, Erina terus menatapku. Di wajahnya tampak campuran antara harapan dan kegugupan.


Aku pun melepas pakaian luarku dengan tenang hingga hanya mengenakan pakaian dalam, sama seperti dirinya.


Padahal saat proses pelepasan kutukan kami juga pernah berada dalam situasi yang hampir sama. Namun entah kenapa, saat berhadapan dengan Erina, detak jantungku terasa jauh lebih cepat.


Meski begitu, kali ini aku tidak akan ragu lagi.


Aku melingkarkan kedua tanganku dan sekali lagi memeluk tubuh Erina.


Kehangatan kulit kami yang saling bersentuhan membuat napas kami semakin dekat. Lalu, seolah ingin menghapus semua keraguan...


Aku mengecup bibir Erina.


"Mm... mh... cium... mm... chuu... haa... mm... nng..."


Erina perlahan memejamkan mata dan secara alami membalas ciumanku.


Semakin sering bibir kami bertemu, napasnya semakin panas, dan matanya mulai dipenuhi rona lembap. Hanya dengan ditatap seperti itu saja, dadaku terasa seolah terbakar.


Pencahayaan kamar memang sejak awal sangat lembut. Cahaya redup itu membuat siluet kami berdua tampak samar-samar.


Suasana remang yang khas penginapan cinta itu membuat udara di sekitar kami terasa semakin menghangat.


"Shuu...san..."


Erina perlahan mengulurkan tangan dan melepaskan kait bra miliknya sendiri.


Saat pakaian itu meluncur turun dari bahunya, ia sempat menutupi bagian dadanya dengan kedua lengannya.


Namun setelah mengumpulkan keberanian, ia menurunkan kedua lengannya, lalu menatapku dari bawah dengan pipi yang memerah.


"Aku... tidak ingin terus membuat Shuu-san terlalu berhati-hati padaku. Aku... tidak apa-apa meski nanti akan sedikit sakit. Jadi... untuk saat ini saja... tolong cintai aku sepenuh hati. Berikan seluruh cintamu kepadaku."


Meski suaranya bergetar, kata-kata itu diucapkannya dengan tulus, seakan-akan sedang memanjatkan doa.


Dadaku terasa sesak sekaligus hangat.


Aku memeluk Erina erat-erat, lalu perlahan membaringkannya di atas ranjang.


"Ah... mm... Shuu...san... aa... dadaku... ah...♡"


Sambil menjulurkan lidahku ke leher dan telinganya, aku mulai membelai dadanya dengan lembut menggunakan tangan yang lain.


Meskipun ia bilang tak masalah jika terasa sakit, tentu saja aku tak mungkin memperlakukannya seperti yang pernah kulakukan kepada Dorothea.


Dengan sentuhan yang seringan bulu, aku membelai dadanya yang besar. Erina memejamkan mata erat-erat sambil terus mengeluarkan suara pelan.


"Ah, di situ!? T-tempat itu... kotor... Hari ini aku berkeringat... jadi…"


Saat lidahku menjilat perlahan ke atas, aku mengangkat lengan Erina dan mulai menjilati ketiaknya yang mulus.


Mengapa ketiak seorang gadis secantik ini bisa begitu indah?


Memang ada sedikit rasa asam dari keringat, tetapi anehnya sama sekali tidak terasa menjijikkan. Mungkin karena aku diselimuti aroma manis khas Erina, bagian itu pun terasa begitu memikat.


Aku menggerakkan ujung lidahku, menjilat perlahan lalu mengisapnya dengan lembut.


Setiap kali itu terjadi, Erina menggigit bibirnya, berusaha menahan rasa geli sekaligus kenikmatan yang ia rasakan.


"U-um... bagian dadaku juga... tolong..."


"Aku tahu... akan kulakukan dengan lembut dan hati-hati."


"Ahh!? ♡"


Aku mulai mengisap puting dadanya yang sudah mengeras karena sentuhan jemariku sebelumnya. Sambil sengaja menimbulkan suara pelan, aku terus memberinya rangsangan.


Erina tampaknya benar-benar menikmati sensasi itu. Ia menggenggam seprai erat-erat sementara ekspresinya berubah karena kenikmatan.


"Shuu-san... sedang... ahh!? Enak sekali... seperti bayi... jangan sekuat itu...♡"


"Erina... rasanya manis... lihat, sudah sekeras ini... kira-kira bagaimana kalau kugigit sedikit?"


"Ah, jangan... jangan jahil... aaahhh!? ♡"


Saat aku menggigitnya dengan sangat pelan, Erina mengeluarkan suara yang lebih nyaring.


Air mata mulai mengalir dari sudut matanya karena kenikmatan yang begitu kuat, sementara tubuhnya bergetar hebat.


Tak lama kemudian, aku pun mengarah ke bagian tubuh yang bahkan belum pernah kulihat saat proses pelepasan kutukan.


Setelah melihat Erina mengangguk pelan, aku perlahan melepaskan pakaian dalamnya.


Cairan bening yang kental membentuk benang saat kain itu terlepas, sementara Erina menutupi wajahnya dengan kedua tangan karena malu.


"A-ah... tolong... jangan melihat terlalu lama..."


"Kalau tidak kulihat, aku tidak bisa melakukannya dengan baik."


"Ah... ah..."


Aku merenggangkan kedua pahanya, lalu mendekatkan wajahku.


Karena kulit Erina memang putih, atau mungkin karena bagian itu belum banyak disentuh sebelumnya, warnanya tampak merah muda pucat yang sangat bersih.


"Shuu-san... tapi... aku bahkan belum sempat mandi..."


"Kalau mandi, aroma khasmu akan hilang. Begini saja sudah cukup."


"Ah... jangan dibuka selebar itu... tidak... ahh... uuhhh!? ♡"


Aku mulai menjilat perlahan bagian luarnya, menggerakkan lidah naik turun dengan lembut.


Sensasi yang dirasakan Erina tampaknya bahkan lebih kuat daripada sebelumnya, hingga pinggangnya terangkat tanpa sadar.


"Ini tidak boleh...! Aku... akan jadi aneh... aku benar-benar jadi aneh...!? ♡"


"Luar biasa... semakin banyak cairanmu keluar. Semakin kusentuh... benar-benar luar biasa."


"Jangan... jangan bilang begitu... malu sekali... ah..."


Kemudian aku melanjutkan belaian lembut itu hingga Erina hanya mampu terus mengeluarkan suara-suara lirih.


Tak lama kemudian, puncak kenikmatan itu pun datang begitu saja.


"Ah... ini... jangan-jangan...!? Akan datang... sesuatu akan datang... Shuu-san... ah... aku tidak bisa... menahan... datang... datang... aaahhh!? ♡"


Tubuh Erina bergetar hebat saat mencapai puncaknya. Ia mengangkat pinggangnya tinggi-tinggi sebelum akhirnya tubuhnya perlahan melemas.


"Ah... ah...♡"


Dengan bibir yang masih gemetar, Erina akhirnya menjatuhkan tubuhnya kembali ke atas ranjang.


"Haa... haa... Shuu-san... sekarang... giliranku..."


"Kau tidak apa-apa?"


"Ya... akhir-akhir ini aku... sedikit berlatih sendiri menggunakan jari…"


Kali ini giliranku yang berbaring telentang di atas ranjang, sementara Erina merangkak perlahan mendekati bagian bawah tubuhku.


Dengan hati-hati ia melepaskan pakaian dalamku, hingga akhirnya batangku tampak di hadapannya.


"J-jadi... ini milik Shuu...♡ Ujungnya... sudah basah..."


"Ya. Aku jadi seperti ini karena berdebar melihatmu. ...Bisakah kau membuatku merasa nyaman?"


"...Ya.♡"


Aku melihat tenggorokannya bergerak saat ia menelan ludah.


Erina perlahan menundukkan tubuhnya, menyentuh batangku dengan tangan kanannya sambil mendekatkan wajah, lalu menjulurkan lidahnya.


"...Erina... bagus..."


Ia menjilat cairan yang terus keluar dari ujungnya.


Tanpa sedikit pun menunjukkan rasa enggan, Erina akhirnya memasukkan seluruhnya ke dalam mulutnya.


Meskipun kondisi "mabuk berat" sudah berhasil disembuhkan, suhu tubuhnya tampaknya belum sepenuhnya turun. Karena itulah bagian dalam mulut Erina masih terasa begitu hangat.


Kehangatan itu, bercampur dengan air liurnya dan sentuhan mulutnya yang lembut, perlahan membuat kenikmatan yang kurasakan semakin kuat.


"Mm... mm...♡"


Dengan mulut kecilnya, Erina berusaha membuka selebar mungkin. Sambil sesekali menatapku dari bawah seolah menikmati perubahan ekspresiku, penampilannya membuatku semakin gugup.


Aku bisa merasakan tubuhku semakin tegang karena rangsangan yang diberikannya.


"Erina... aku... mungkin sudah hampir..."


"Tidak apa-apa.♡ ...Semuanya... biarkan masuk ke mulutku....♡"


Sambil berkata demikian, Erina mempercepat gerakan tangan dan mulutnya. Tak lama kemudian, aku pun mencapai batas kesabaranku.


"Ahh!"


"Mm!?"


Cairan hangat itu keluar sekaligus ke dalam mulut Erina.


Terkejut oleh derasnya aliran itu, matanya sempat membelalak, tetapi ia sama sekali tidak melepaskannya.


Setelah semuanya berakhir, Erina menelan perlahan, lalu menghela napas.


"Haa... haa... ternyata cukup melelahkan... Tapi aku senang kalau bisa membuat Shuu-san merasa nyaman.♡"


"Ya... mulutmu benar-benar luar biasa, Erina..."


"Hehe, aku senang mendengarnya..."


Setelah berganti posisi sehingga Erina kembali berbaring, aku mengarahkan tubuhku mendekatinya.


Erina sempat gemetar sesaat, tetapi tampaknya masih ada sesuatu yang ingin ia katakan.


"Shuu-san. Ada sesuatu yang ingin kucoba."


"Apa itu?"


"Sebenarnya, seorang temanku yang juga pendeta pernah mengajariku cara untuk mengurangi rasa sakit saat pertama kali, sekaligus membuatnya terasa lebih nyaman."


"Ada cara seperti itu? Hebat juga..."


Metode yang kemudian dijelaskannya benar-benar di luar dugaanku. Rupanya itu adalah teknik yang dikenal di kalangan rohaniwan.


"Yaitu menggunakan 〈Heal〉."


"Sihir penyembuhan...? Bagaimana caranya?"


"Kurasa kekuatan sihir Shuu-san lebih besar daripadaku, jadi aku ingin memintamu yang melakukannya... Gunakan 〈Heal〉 bersamaan dengan prosesnya."


Menurut penjelasan Erina, jika 〈Heal〉 digunakan pada saat yang bersamaan, rasa sakit saat pertama kali dapat berkurang sehingga tubuh lebih mudah menerimanya.


Jika benar demikian, Erina akan merasa jauh lebih nyaman.


"Erina... cukup kuarahkan ke bagian perutmu?"


"Ya... Tolong gunakan sambil melakukannya..."


Mengikuti arahannya, aku meletakkan telapak tanganku di bagian bawah perutnya. Lalu, sambil perlahan mendekatkan diri, aku mengaktifkan sihir itu.


"──〈Heal〉."


Perlahan, sangat perlahan, aku bergerak maju.


Kehangatan tubuh Erina dan kelembutan yang menyelimutiku terasa jauh lebih hangat daripada apa pun yang pernah kurasakan.


Ketika tubuhnya akhirnya menerima sepenuhnya, aku berhenti sejenak.


"Ugh... mm..."


"Erina, kau tidak apa-apa?"


"Y-ya... lanjutkan saja... gunakan Heal..."


"〈Heal〉."


Sesaat Erina memperlihatkan ekspresi menahan rasa sakit, tetapi hanya sebentar.


Mungkin karena efek 〈Heal〉 benar-benar bekerja, tak lama kemudian ia kembali tersenyum dan menerima kehadiranku dengan tenang.


"Rasanya... begitu penuh... Tapi kehangatan Shuu-san sampai terasa di dalam tubuhku... Aku... bahagia sekali.♡"


"Erina..."


"Ya...♡"


Aku menggenggam kedua paha Erina, lalu mulai menggerakkan pinggangku.


Suara benturan tubuh bergema di dalam kamar, sementara cairan yang meluap dari tubuh Erina berhamburan setiap kali gerakan kami bertemu.


Erina terus mengeluarkan suara napas yang berat, tetapi tampaknya ia sudah tidak lagi merasakan sakit. Melihat itu, aku perlahan meningkatkan irama gerakanku.


"Ah... ah...♡ Enak...♡ Shuu-san... lebih kuat pun... tidak apa-apa...!♡"


"Erina... rasanya... begitu kuat... sungguh luar biasa..."


"Luar biasa...! Rasanya sampai ke dalam... ahh!♡ Shuu... Shuu-san...!♡"


Melihat Erina mengernyitkan alis dengan wajah yang dipenuhi kenikmatan, aku tak kuasa menahan diri. Aku menundukkan tubuhku dan menciumnya.


Sambil terus berciuman, aku tetap menggerakkan pinggangku berulang kali.


"Erina... rasanya terlalu nikmat... aku..."


"Lebih kuat lagi juga tidak apa-apa! Lakukan sesukamu! Sepuasnya!♡"


Mendengar kata-kata itu, aku pun tak lagi menahan diri.


Kenikmatan yang tak mungkin dihindari menguasai tubuh Erina, dan suaranya kembali memenuhi kamar.


"Ahh!? Ahh!?♡ T-tidak... ini... tidak...!?♡ Aneh... aneh sekali...!? Aku... rasanya jadi aneh...!?♡"


Aku dapat merasakan tubuhku mulai mencapai batasnya. Karena itu, tepat sebelum terlambat, aku berusaha menarik diri.


"Erina!?"


"Jangan! Tetap begitu...! Lebih dalam...!♡"


Erina memelukku erat agar aku tidak menjauh.


Aku pun tak lagi bisa melepaskan diri dari pelukannya.


"Erina... aku... sudah tidak bisa menahan lagi...!"


"Di dalam... jauh di dalam...!♡"


Tak lama kemudian, puncak itu pun datang. Erina memeluk punggungku erat-erat sambil tubuhnya bergetar hebat.


"...Di dalam... terasa begitu hangat..."


Tubuh Erina terus gemetar hingga perlahan kembali tenang.


"Haa... haa... Shuu-san...♡"


"Erina..."


Setelah semuanya berakhir, Erina menatapku dengan mata yang masih dipenuhi rasa bahagia.


Mengerti apa yang diinginkannya, aku kembali mengecup bibirnya dan membalas tatapannya dengan ciuman lembut.


"U-um... Erina."


Beberapa menit setelah kami beristirahat, aku akhirnya membuka pembicaraan.


"Tadi... aku sampai..."


"Ya.♡"


"Bukan itu maksudku..."


Erina hanya tersenyum manis. Meski begitu, ia tetap tampak tenang.


"Hehe, tenang saja. Hari ini seharusnya tidak apa-apa."


"B-benarkah?"


"Aku memang tidak bisa menjamin seratus persen, tetapi aku sudah menghitung dan memilih hari ini dengan hati-hati, jadi jangan khawatir."


"Justru itu yang membuatku tidak bisa benar-benar tenang."


Aku sendiri tidak terlalu memahami soal perhitungan masa subur.


Entah apakah tubuh manusia di dunia ini sama seperti di dunia asalku, tetapi jika masih ada kemungkinan sekecil apa pun, rasanya tetap sulit untuk benar-benar merasa lega.


"Kalau begitu..."


"Eh, Erina?"


"Kali ini biar aku memanjakanmu dengan cara lain, ya?♡"


"K-kau ini... ternyata diam-diam cukup nakal juga..."


Erina bangkit, lalu berpindah posisi di dekatku.


Sepertinya pengetahuannya jauh lebih banyak daripada yang kuduga. Mungkin ia juga mempelajari semua itu dari teman sesama pendetanya.


"Demi Shuu-san, aku tidak keberatan melakukan apa pun. Jadi... malam ini, mari kita habiskan waktu bersama sampai pagi.♡"


"Hahaha... sepertinya selama ini aku salah menilaimu... Tapi kalau soal stamina, aku juga tidak akan kalah. Aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja."


"Hehe... sebenarnya, sejak tadi aku sudah kehilangan akal karena bahagia.♡"


Setelah itu, kami menghabiskan malam bersama berulang kali hingga matahari pagi mulai terbit.


Atas permintaan Erina, kami mencoba berbagai macam posisi. Namun, yang paling ia sukai adalah posisi duduk saling berhadapan. Rupanya ia sangat menyukai posisi yang membuat tubuh kami saling menempel erat sehingga bisa terus berciuman.


Kami juga mandi bersama, bercanda dan bermesraan di dalam bak mandi, lalu kembali menghabiskan waktu berdua.


Meskipun itu adalah pengalaman pertamanya, berkat sihir 〈Heal〉, yang tersisa pada Erina hanyalah rasa nyaman tanpa rasa sakit.


Kalau begitu, percobaan itu memang layak dilakukan.


Sejujurnya, aku tidak menyangka stamina Erina bisa bertahan selama itu.


Benar-benar pantas disebut seorang petualang—ketangguhannya bukan hanya terlihat di medan pertempuran, tetapi juga dalam hal seperti ini.


Menjelang fajar, bahkan kami berdua sudah kehabisan tenaga. Kami hanya bisa saling berpelukan dengan tenang sambil merasakan detak jantung masing-masing.


Saat aku mulai mengantuk, cahaya pagi menembus celah tirai dan menyinari lembut seprai putih.


Wajah Erina yang tertidur di bawah cahaya itu tampak begitu damai hingga tanpa sadar aku mengecup bibirnya dengan lembut.


Sesaat kemudian, bulu matanya bergerak, lalu ia perlahan membuka mata. Kemudian, sambil tersenyum kecil, ia membalas kecupanku.


Sebagai seorang pria, tentu ada fenomena alami di pagi hari.


Melihat itu, Erina tersenyum lalu bertanya, "Mau sekali lagi?"


Tentu saja aku tidak menolak.


Baru lewat tengah hari kami akhirnya meninggalkan hotel.


Begitu keluar, cahaya matahari yang terang dan hiruk-pikuk kota seolah menarik kami kembali ke kenyataan.


Saat berpisah di sudut jalan utama, Erina tersenyum dengan wajah yang tampak enggan untuk berpisah.


◇◇◇


Selama satu minggu berikutnya, sepanjang berlangsungnya Festival Pedang Suci, aku menghabiskan beberapa malam bersama orang-orang yang berbeda.


Ada Iris, yang sudah lama menahan perasaannya.


Lalu Medina, yang untuk pertama kalinya bisa menghabiskan waktu berdua denganku dengan tenang.


Dan kemudian—Dorothea.


Aku benar-benar lupa bahwa ia masih berada di bawah pengaruh Kutukan Noda Nafsu.


Karena sebelumnya aku telah memerintahkannya agar tidak menyerang siapa pun selain atas perintahku, saat kupanggil kembali, keadaannya sudah mencapai batas.


Butiran keringat memenuhi dahinya, pipinya memerah, air liur menetes dari mulutnya, dan kesadarannya sudah hampir hilang.


Hal pertama yang kulakukan adalah menghapus Kutukan Noda Nafsu miliknya menggunakan 〈Complete Uncurse〉.


Namun, bahkan setelah kutukan itu hilang, ia terus memohon agar kuberikan "energi kehidupan" kepadanya, sehingga aku pun memenuhi permintaannya.


Saat kutanya lebih lanjut, ternyata yang dimaksud Dorothea dengan "energi kehidupan" bukanlah sekadar cairan tubuh.


Menurutnya, itu adalah semacam sumber kehidupan.


Rupanya ia memiliki kemampuan bernama 〈Serapan Energi Kehidupan〉. Dengan kemampuan itu, ia dapat menyerap energi kehidupan milik target dan mengubahnya menjadi kekuatannya sendiri.


Kemampuan tersebut paling efektif digunakan selama dan setelah hubungan intim. Itulah sebabnya dahulu ia dapat memperoleh energi kehidupan secara efisien di fasilitas bawah tanah.


Namun, ada satu kelemahannya—Jika menyerap terlalu banyak, nyawa korbannya bisa terenggut.


Selain itu, kemampuan tersebut juga tidak bisa digunakan secara efektif di tengah pertempuran.


Meski sebenarnya aku sudah menduganya, ternyata Dorothea adalah anggota ras iblis yang lahir sebagai mutasi dari monster bernama Succubus.


Jumlah mereka memang tidak banyak, tetapi tampaknya bangsa iblis juga memiliki berbagai macam ras.


◇◇◇


Hari terakhir Festival Pedang Suci pun tiba.


Sejak hari keempat, suasana festival berubah total dibanding tiga hari sebelumnya.


Di kios-kios yang sama tersaji hidangan baru, sementara di sepanjang jalan pertunjukan teater dan atraksi jalanan dipentaskan silih berganti.


Seluruh kota terasa hidup, terus berubah, dipenuhi keramaian dan semangat festival.


Di tengah hiruk-pikuk itu, aku telah membuat janji bertemu dengan seorang wanita.


Tempat yang ia tentukan adalah—entah kenapa—di depan Katedral Agung.


Saat aku menunggu di sana, sosok yang kutunggu akhirnya muncul dari balik kerumunan.


Pipinya merah padam, dan ia berjalan ke arahku sambil sesekali melirik keadaan sekitar dengan gugup.


"Yo, Seira."


"S-S-Shu... Shuu..."


Suaranya bergetar hingga ia hampir tak bisa berbicara dengan jelas. Sekali lihat saja sudah cukup untuk mengetahui betapa gugupnya dirinya.


"Seira... pakaianmu hari ini benar-benar cocok."


Aku sampai terpana melihatnya.


Ia mengenakan blus putih dipadukan dengan rok panjang berwarna biru tua.


Anting-anting kecil di telinganya berkilau lembut, menciptakan penampilan yang anggun sekaligus bersih.


Rambut panjangnya yang berwarna biru muda, yang biasanya dibiarkan terurai, hari ini diikat menjadi ekor kuda tinggi.


Seira memang sejak awal memiliki wajah yang cantik dan kecantikan yang tegas. Namun hari ini, ia terlihat jauh lebih memukau.


"Itu... e-eh... menurutku... kau juga... lumayan cocok..."


"Terima kasih."


Pakaian yang kupakai adalah pakaian yang kubeli saat berkencan dengan Erina.


Entah kenapa, rasanya kalau bertemu Seira, aku harus berpakaian rapi sebagai bentuk penghormatan.


"K-kalau begitu... ayo."


"Eh... ke Katedral?"


"I-iya..."


Dengan wajah semerah telinganya, Seira mengalihkan pandangan karena malu, lalu berjalan lebih dulu.


Sepertinya ia memang sudah menentukan tujuan kami. Begitu masuk ke dalam, ia langsung menaiki tangga tanpa ragu.


Kami melewati area yang biasanya tidak boleh dimasuki orang biasa, lalu terus naik.


Akhirnya kami sampai di—salah satu sudut atap bangunan.


Di balik pintu yang terbuka, terbentang pemandangan yang luar biasa.


Kami berada di Katedral Agung kawasan utara.


Dari sana, seluruh kota—Distrik Tengah, Barat, Timur, hingga Selatan—dapat terlihat jelas.


Rasanya seolah-olah sedang berdiri di langit.


"Wah... luar biasa..."


Tak heran, sebagai bangunan terbesar di kota, tingginya hampir menyamai balai pemerintahan.


Di bawah sana berjajar tak terhitung banyaknya atap rumah dan cahaya kota, memperlihatkan betapa megahnya kota ini.


"G-gimana...? Suka...?"


"Tentu. Indah sekali, Seira. Benar-benar luar biasa."


Sudut bibir Seira perlahan terangkat membentuk senyum kecil.


"Duduklah."


Di atap itu terdapat sebuah meja putih. Di atasnya terdapat rangkaian bunga, dan dua kursi saling berhadapan.


Mengikuti ajakannya, aku pun duduk.


Tak lama kemudian, seorang pelayan keluar dari balik pintu.


Yang dihidangkan ternyata—menu makan lengkap.


"Apa ini...? Enak sekali! Masakan Prancis!?"


"Prancis...? Apa itu?"


Semua hidangan yang tersaji tampak seperti karya seni, dan rasanya pun sangat mewah.


Menurut Seira, di dalam Katedral memang ada restoran untuk para wisatawan, dan hari ini ia meminta secara khusus agar mereka menyiapkan hidangan tersebut.


Benar-benar pantas untuk seorang komandan Ksatria Kuil—atau mungkin juga berkat bantuan si paman babi itu.


"Y-yah... kalau kau senang... itu sudah cukup."


Seira bergumam pelan seolah berusaha menyembunyikan rasa malunya. Namun pipinya tampak dipenuhi senyum lembut.


◇◇◇


"Baik! Selanjutnya kita keliling kios-kios!"


Seira telah menyiapkan rute kencan terbaik dengan menggabungkan pemandangan indah dan makan siang yang luar biasa.


Tampaknya ia tidak memiliki rencana khusus setelah itu, jadi aku memanfaatkan pengalamanku selama enam hari terakhir sebagai "ahli Festival Pedang Suci" untuk membuatnya menikmati festival sepuas mungkin.


Rupanya selama ini Seira memang sudah berkali-kali mengikuti festival ini, tetapi selalu bertugas sebagai Ksatria Kuil sehingga hampir tidak pernah benar-benar bersenang-senang.


Karena itulah, hari ini aku ingin ia menikmati festival tanpa memikirkan pekerjaan.


Di festival ini ada banyak permainan yang jelas dipengaruhi oleh orang Jepang yang bereinkarnasi ke dunia ini.


Ada permainan tembak sasaran, lempar gelang, hingga menangkap ikan kecil (lebih tepatnya ikan yang mirip ikan mas), membuat suasananya sangat mirip festival musim panas di Jepang.


Namun tentu saja ada juga permainan khas Festival Persembahan Pedang.


Misalnya—permainan ilmu pedang.


Pesertanya harus menebas sebanyak mungkin bola lunak yang dijatuhkan bersamaan dari tempat tinggi sebelum semuanya menyentuh tanah.


"Haaah!"


Seira mengayunkan pedangnya dengan cepat, membelah bola-bola itu satu demi satu.


Gerakannya benar-benar menunjukkan kemampuan seorang Ksatria Kuil, hingga para penonton di sekitar ikut terpukau.


Meski begitu, bahkan Seira yang begitu percaya diri hanya mampu mencatat rekor delapan belas bola.


"Ryaaah!!"


Aku pun ikut mencoba.


"Oh! Hebat! Jarang sekali ada orang di kota ini yang punya kemampuan seperti itu! Apa kau petualang dari kota lain? Ini rekor terbaik dalam beberapa tahun terakhir!"


"Haha... bisa dibilang begitu."


Hasilku adalah dua puluh tiga bola. Di sampingku, Seira hanya bisa menggerutu,


"Grrr..."


Mungkin seharusnya tadi aku mengalah sedikit?


Pikiran itu sempat terlintas. Namun Seira segera menyilangkan tangan dan mendengus.


"Kalau mau berjalan di sampingku, kemampuan seperti itu seharusnya sudah biasa!"


Sepertinya justru lebih baik kalau aku bertanding dengan sungguh-sungguh.


Setelah itu kami menikmati waktu di kios makanan penutup.


Karena Seira sangat menyukai teh, kupikir ia juga pasti suka makanan manis, jadi aku membelikannya cokelat pisang.


"...Padahal cuma pisang yang diberi cokelat, tapi ternyata enak juga... hm... cokelatnya menetes... ah... harus kujilat..."


"......"


Akal sehatku langsung lenyap seketika.


Bagaimana mungkin seorang Ksatria Kuil yang begitu gagah hanya dengan makan cokelat pisang bisa terlihat semenarik itu?


Tak perlu dikatakan lagi, suasana hatiku langsung ikut terbawa oleh "semangat festival."


Menjelang sore, saat langit mulai berwarna jingga.


Setelah seharian penuh bersenang-senang, kami mulai merasakan saat perpisahan semakin dekat.


Saat itulah—Seira tiba-tiba berbalik dan hanya berkata,


"Ikut denganku."


Tempat yang ia bawa ternyata adalah rumahnya.


Begitu masuk, ia langsung mengunci pintu.


"Seira...?"


Karena ia hanya diam, aku mencoba memanggilnya. Lalu, Seira mengucapkan sesuatu yang sama sekali tidak kuduga.


"...S-sejak kau menghilangkan kutukan itu... ada yang berubah pada diriku...!"


"Eh..."


Aku terkejut mendengar nada suaranya yang sedikit lebih keras.


"Bukan 'eh'! A-aku sedang membicarakan bokongku! Sejak kejadian Dungeon Break berakhir, bahkan selama Festival Persembahan Pedang Suci ini... terus... selama ini terus begitu!"


Seira mendekat ke arahku dengan gerakan canggung.


Aroma segarnya menggelitik hidungku.


"Aku... bahkan sudah mencoba memasukkan benda sendiri... tapi itu tetap tidak bisa menghilangkan perasaan ini..."


Meski ia mengatakannya dengan wajah serius, isi pembicaraannya cukup memalukan.


"Karena itu... karena itu... kau harus bertanggung jawab karena telah membuatku jadi seperti ini!"


"Eh, tunggu...!?"


Setelah berkata demikian, Seira menarik tanganku menuju tempat tidur, lalu tiba-tiba mulai melepaskan roknya.


"S-Seira..."


"...Aku malu! Tapi... aku benar-benar ingin kau menyentuhku!"


Cahaya matahari senja yang masuk dari jendela membuat pipinya semakin merah.


"...Sebagai gantinya... hari ini... kau boleh melakukan sesukamu pada tubuhku... jadi... tolong hilangkan rasa gelisah ini..."


Setelah itu, ia mulai membuka kancing blusnya hingga akhirnya hanya mengenakan pakaian dalam.


Pakaian dalamnya yang berwarna biru muda serasi dengan warna rambutnya. Namun bagian bawahnya sudah tampak basah.


"...Aku termasuk orang yang menganggap sentuhan dan perhatian sebelum hubungan itu penting."


"Itu... maksudmu apa?"


Seira tampak tidak mengerti saat aku mendekatinya. Wajahnya yang cantik bagaikan pahatan es kini berada sangat dekat di hadapanku.


"Tentu saja aku akan membantumu mengatasi masalah itu... tapi aku juga ingin benar-benar menjadi lebih dekat denganmu."


"Kau..."


Aku tidak mengatakannya secara terus terang, tetapi Seira tampaknya memahami maksudku.


Saat aku menyentuh bahunya yang sedikit gemetar, ia perlahan menutup mata.


Ketika bulu matanya yang panjang menjatuhkan bayangan di pipinya—aku mengecup bibirnya dengan lembut.


"...Wajahku... rasanya panas sekali..."


"Sadarkah kau betapa cantiknya dirimu? Kalau sudah dimulai, aku mungkin tidak akan bisa berhenti."


"Tidak apa-apa... kalau itu kau... aku mengizinkannya... kau telah menyelamatkanku dari kutukan kematian... kurasa kau berhak atas itu."


"Kalau begitu... aku tidak akan sungkan."


Aku kembali menciumnya, kali ini dengan ciuman yang lebih dalam. Awalnya Seira masih canggung, tetapi sedikit demi sedikit ia mulai terbiasa dan membalas ciumanku.


"Mm... haa... mm... susah bernapas... Shuu... lidahmu..."


Aku membaringkan Seira di atas tempat tidur, lalu melepas pakaianku sendiri.


Setelah membelai seluruh tubuhnya dengan penuh kasih, aku pun membantunya melepaskan pakaian yang tersisa.


Tubuhnya begitu indah hingga seolah diberkati oleh seorang dewi. Lalu, demi memenuhi keinginannya, aku memintanya mengambil posisi merangkak.


"Seira... aku mulai."


"L-lakukan..."


Setelah mengoleskan pelumas ke tanganku dan memastikan kembali persetujuannya, aku mulai melakukan apa yang dimintanya.


"Ahhh!?"


Seketika tubuh Seira melengkung ke belakang, wajahnya menengadah ke langit-langit.


Aku melihat cairan bening perlahan menetes dari sela pahanya.


"Ya... ini... memang... harus tanganmu..."


Saat gerakanku berlanjut, tubuh Seira mulai bergetar pelan dan napasnya menjadi semakin tidak teratur.


Sosok Ksatria Kuil yang gagah di medan perang kini sudah tidak terlihat lagi. Yang ada hanyalah seorang wanita yang membiarkan dirinya hanyut oleh kenikmatan.


"...Sepertinya masih bisa sedikit lagi."


"A-apa... ugh...!?"


Kini tubuh Seira benar-benar mengikuti setiap gerakanku.


Dulu aku melakukan semua ini hanya sebagai bagian dari proses pelepasan kutukan.


Namun sekarang berbeda. Kali ini semua terjadi atas persetujuannya sendiri.


"Ah... aku... rasanya... jadi aneh..."


"Bagus, Seira. Bukankah kau sendiri tadi bilang sudah pernah mencoba memasukkan sesuatu? Kalau begitu, kau pasti bisa menerimanya."


"T-tapi... aku tidak bisa... tetap tenang... rasanya... terlalu aneh..."


Aku dapat melihat tubuh Seira bereaksi setiap kali kusentuh.


Menyadari bahwa akulah yang membuatnya bereaksi seperti itu membuat jantungku berdebar.


Akhirnya aku menghentikan gerakanku dan mundur.


"Sungguh tidak mungkin... benda sebesar itu... tidak mungkin bisa masuk... kalau benar-benar terjadi... aku tidak akan bisa kembali seperti semula..."


Begitu melihat tubuhku yang sudah menegang, Seira tampak terkejut. Namun ekspresinya sendiri tidak menunjukkan penolakan.


Pipinya memerah, napasnya memburu, seolah ada bagian dari dirinya yang menginginkannya.


Saat itu aku tiba-tiba teringat pada pengalaman bersama Erina.


Mungkinkah sihir 〈Heal〉 juga bisa digunakan di sini?


Waktu bersama Erina, sihir itu berhasil mengurangi rasa sakit dan membuat pengalaman pertamanya jauh lebih nyaman.


Kalau begitu, mungkin saja cara itu juga bisa sedikit membantu dalam situasi ini.


Memang, kondisinya berbeda. Namun jika ada kemungkinan bisa membuat Seira merasa lebih nyaman, aku ingin mencobanya.


"Ayo... membelakangi aku."


"T-tidak... sungguh... aku..."


"Aku sudah menggunakan pelumas. Dengan begitu akan lebih mudah."


"...Tetap saja... aku tidak yakin bisa..."


"Tujuan kita adalah menghilangkan rasa gelisahmu. Jadi, percayakan saja padaku."


Seira tetap membelakangiku. 


Itu berarti jauh di lubuk hatinya, ia tidak benar-benar menolak. Kalau benar-benar ingin menolak, ia pasti sudah mengambil pedang yang tergantung di dinding.


Aku memegang pinggul Seira dan bersiap melanjutkan.


"Jadi... kau benar-benar akan melakukannya...?"


"Aku akan memastikan kau tetap merasa nyaman... 〈Heal〉."


"Hah!?"


Tentu saja Seira terkejut ketika aku menggunakan 〈Heal〉 ke arah bokongnya. Namun pada saat berikutnya, aku perlahan mulai melanjutkan sesuai dengan yang telah kami sepakati.


"Ahhhhhh!?..."


Suara jeritan Seira yang paling keras hari itu bergema di seluruh ruangan.


Air liur menetes dari sudut bibirnya, dan ia bahkan tampak kesulitan mengatur napas.


Karena pelumas yang telah digunakan sebelumnya, semuanya berlangsung lebih lancar daripada yang kubayangkan.


Meski begitu, tubuh Seira masih terasa sangat tegang, sesuatu yang belum pernah kualami sebelumnya.


"Seira, aku mulai bergerak."


"T-tunggu... ah... rasanya... aku akan... ah...!"


Aku mulai bergerak perlahan.


Suara gesekan dan benturan memenuhi ruangan, sementara napas Seira menjadi semakin tidak beraturan.


Awalnya kukira pelumas akan mengurangi sensasi yang kurasakan. Namun ternyata tidak.


Justru karena tubuhnya masih begitu tegang, setiap gerakan memberikan sensasi yang jauh lebih kuat daripada yang kuduga.


Sementara itu, Seira sudah tak lagi mampu menopang tubuhnya dengan kedua tangan.


Tubuh bagian atasnya bersandar di atas ranjang, sementara aku menopang pinggangnya agar tetap stabil.


"Ah... ah... sudah... tidak sanggup...!"


Reaksi Seira jauh lebih kuat daripada saat sebelumnya.


Sulit bagiku untuk mengetahui apakah efek 〈Heal〉 masih bekerja atau tidak. Namun sebelum efeknya berakhir, aku kembali mengucapkan mantra itu.


"〈Heal〉."


Sambil terus menggunakannya, aku tetap bergerak perlahan hingga akhirnya aku sendiri mulai merasakan bahwa puncaknya semakin dekat.


"Seira... aku hampir..."


"Ah... ah...!"


Seira mengeluarkan jeritan panjang saat mencapai puncak kenikmatannya.


Tubuhnya bergetar hebat, lalu perlahan melemas.


Beberapa saat kemudian, ia melengkungkan tubuhnya ke belakang sebelum akhirnya benar-benar kehilangan tenaga untuk bergerak.


"Haa... haa... ini benar-benar... luar biasa... bahkan aku sendiri hampir tidak bisa berpikir jernih..."


Itu adalah pengalaman pertamaku melakukan hal seperti itu.


Sensasinya benar-benar berbeda dari yang pernah kualami sebelumnya. Namun, mungkin hanya Seira yang bisa melakukannya. Yah, selain Dorothea.


"Aku akan melepaskannya..."


"Ah...! ...Ugh..."


Saat aku menarik diri, tubuh Seira bergetar hebat sebagai reaksi.


Melihatnya yang masih linglung, aku merasa sedikit kasihan. Aku membaringkannya telentang, lalu merangkulnya agar ia bisa bersandar dengan nyaman.


"Shuu..."


"Seira, kau tidak apa-apa?"


Sekitar sepuluh menit berlalu, dan tampaknya kesadarannya mulai pulih.


"Tentu saja... aku tidak baik-baik saja..."


"Ya, benar juga sih..."


"Tapi... rasanya luar biasa... Saking nikmatnya, aku benar-benar mengira akan dipanggil oleh para dewa..."


"Kalau begitu, syukurlah."


Aku melepaskan ikatan ponytailnya hingga rambut panjangnya terurai, lalu mengusap kepalanya dengan lembut.


Seira kemudian bangkit dan menatapku dari atas.


"Kau... sepertinya bukan tipe yang puas hanya dengan sekali, kan...?"


Tubuhku sendiri sudah mulai pulih. Rasanya sedikit rangsangan saja sudah cukup untuk membuatku kembali bersemangat.


"Kurasa memang begitu."


"A-aku tidak begitu mengerti soal hal seperti ini... tapi setidaknya aku pernah mendengar cerita tentangnya."


Sambil berkata demikian, Seira duduk di pangkuanku dan mulai menggesekkan tubuhnya perlahan. Gerakan itu saja sudah cukup membuat tubuhku kembali bereaksi.


"Hm... hm...♡ Hanya dengan begini saja sudah terasa sangat kuat... Benar-benar memalukan..."


"Padahal yang melakukannya justru dirimu sendiri... kau memang sulit dimengerti."


"Diam..."


Aku memang menyukai sifat Seira yang keras kepala namun sebenarnya lembut. Justru itulah yang membuatnya menarik.


Namun, kalau suatu hari nanti aku meninggalkan kota ini, mungkin aku juga harus berpisah dengannya.


Sepertinya aku memang mudah terikat secara emosional dengan orang lain. Meskipun tindakanku sering tampak sembrono, aku benar-benar menyayangi setiap wanita yang hadir dalam hidupku.


...Yah, mungkin Dorothea adalah pengecualian.


"Jangan memaksakan diri. Pertama kali biasanya memang tidak mudah."


"Diam... kalau kulakukan seperti ini..."


"〈Heal〉."


"Kau... memakai itu lagi..."


"Katanya bisa membantu mengurangi rasa sakit."


Aku kembali menggunakan 〈Heal〉, berharap dapat membuatnya lebih nyaman. Seira menarik napas dalam, lalu perlahan menerima langkah berikutnya.


"...Ugh... uuuh..."


Sesaat kemudian, ia meringis, lalu merasakan sesuatu yang baru baginya.


"Benar juga... ternyata tidak sesakit yang kubayangkan..."


"Benar, kan?"


"Kalau begitu... aku mulai bergerak..."


"—Seira."


Namun tepat sebelum ia mulai, aku memanggil namanya.


"Apa...?"


"Cium aku... Aku ingin kita tetap saling berciuman."


"Kau ini... benar-benar orang yang merepotkan..."


Seira sempat menatapku dengan wajah kesal. Namun sesaat kemudian ia merendahkan tubuhnya, menggenggam kedua tanganku, lalu menciumku.


Dibanding semua ciuman yang kami lakukan hari itu, ciuman kali ini terasa paling manis dan paling lembut.


Dalam pelukan itu, Seira perlahan mulai menggerakkan tubuhnya, sementara bibir kami tetap saling bertaut.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close