NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha Rakusen Yarou wa Daiakuou e Nakama ni Suterare Tsuihou Sareta Ore wa - Uragitta Yatsura no Onna o Katappashi kara Netori Tsukusu Volume 1 Prolog

Prolog: Iblis dan Orang Suci


Di medan perang yang berkobar, sang Kejahatan Emas tertawa galak.

 

"Angkat satu kaki, perlihatkan celana dalam kalian! Pamerkan payudara, pantat, dan paha kalian, lalu berbarislah! Putri Ksatria Keadilan! Jenderal Iblis Wanita Pasukan Raja Iblis! Kalau mau dicumbu dengan lembut, pasrah saja dan biarkan aku meniduri kalian!"

 

Di sana, batas antara manusia dan kaum iblis sudah tidak ada lagi.

 

Putri Ksatria manusia berkulit putih mulus dan Jenderal Iblis wanita berkulit cokelat tangguh dari Pasukan Raja Iblis berada dalam kondisi kedua tangan terikat. Mereka dipaksa melakukan pose penghinaan—terikat dengan satu kaki terangkat layaknya anjing yang sedang buang air kecil.

 

""Kuh, bunuh saja aku!""

 

"Kalian berdua ini klise banget, padahal beda ras! Ras manusia sama Pasukan Raja Iblis itu lagi perang, tapi kelakuan malah sama persis, hah?! Padahal celana dalam kalian sudah kelihatan jelas begini~"

 

Kepada dua wanita yang menggetokkan gigi dan berteriak "bunuh aku"

karena tak sanggup menahan rasa malu, pria itu memamerkan seringai jahat yang menyimpang.

"Kau punya kekuatan dan bakat sebesar itu, kenapa tidak kau gunakan untuk jalan yang benar?! Kalau punya kekuatan seperti itu, berapa banyak rakyat tak berdosa yang bisa kau selamatkan atas nama keadilan?!"

 

"Kurang ajar, manusia! Apa ada keagungan dalam perbuatanmu ini?!

Apa ada kebanggaan di dalamnya?! Kau cuma bajingan yang menodai wanita menuruti kekerasan dan nafsu! Apa kau bahkan tidak punya harga diri sebagai seorang ksatria, sebagai seorang pria?!"

 

Kedua wanita itu berasal dari ras yang berbeda.

 

Malah, seharusnya mereka berselisih dan saling bunuh sebagai sesama ras yang sedang berperang.

 

Namun, kedua orang itu dikalahkan oleh kejahatan yang sama, ditawan, dan menyemburkan makian sambil menatap kejahatan yang sama dengan mata penuh niat membunuh.

 

"Double thong!"

 

""Hyaaah! K-Kauuuu!""

 

Sang kejahatan tidak mendengarkan jeritan Putri Ksatria dan Jenderal Iblis wanita itu dengan serius.

 

Ia membungkukkan badan, menyentuh pantat putih yang bergoyang kenyal bagai puding dengan pakaian dalam putih, serta pantat cokelat padat dengan pakaian dalam hitam—benda itu—lalu menyelipkannya hingga membentuk thong demi menjahili mereka.

 

"Kurang ajar, dasar mesum! Sampah paling tidak berguna! Dasar, dasar mesum! Raja Kejahatan Besar!"

 

"Tidak akan kuampuni! Kubunuh kau! Kubunuh kau! Dasar, dasar mesum! Dasar iblis!"

 

Keduanya serempak memerah padam sembari menatap sang kejahatan dengan tatapan yang kian tajam. Tekanan yang mereka pancarkan cukup untuk membuat orang biasa lemas dan pingsan. Namun, ukiran senyum sang kejahatan tidak jua pudar.

 

"Guwahahaha, keadilan? Keagungan? Kebanggaan? Harga diri? Jangan menuntut hal-hal ala pahlawan dari orang yang gagal jadi pahlawan seperti aku, dong! Makin jahat justru makin bagus, memangnya apa salahnya kalau penjahat melakukan hal jahat?! Rasakan pukulan di pantat ini!"

 

""H-Hentikan, ja-jangan sentuh, jangan dipukulll!""

 

Malah, ia sama sekali tidak merasa bersalah.

 

"Ohoi, Utusan Keadilan yang dipimpin Pahlawan. Serta Jenderal Pasukan Raja Iblis yang bangga akan posisinya. Gara-gara bentrokan kecil antara ras manusia dan kaum iblis, wilayahku jadi berantakan dan bikin susah tahu... Para bawahanku juga terluka... Kalian berdua juga harus berbagi rasa sakit ini! Ini ganti ruginya! 'Hentikan'? 'Jangan sentuh'? Aku tidak securah hati itu sampai bisa memaafkan secara cuma-cuma! Saatnya hukuman! Plak di pantat!"

 

Ia menampar-nampar kedua pantat itu dengan keras, membuat para wanita itu mengerang dengan mata berkaca-kaca. Namun, jeritan dan

tangisan seperti itu tidak akan bisa menghentikan sang pria.

 

"Nah... saatnya menikmati kalian berdua sekaligus!"

 

"Guh, h-hentikan, ini... ini yang pertama kalinya bagiku!"

 

"Hentikan, a-aku tidak akan bisa menikah lagi!"

 

Sembari mengukir senyum mesum, ia mengulurkan kedua tangannya ke arah pakaian dalam kedua wanita itu.

 

Namun, pada saat itulah—

 

"Master, maaf menyela sebelum Anda bersenang-senang."

 

"Ha?"

 

Seorang wanita cantik muncul di tempat itu.

 

Ekspresinya datar tanpa emosi yang bisa dibaca. Rambut perak berkilau miliknya berkibar saat ia berdiri di samping sang kejahatan.

 

"Guh... Kau adalah... tidak, kau adalah Saint Pengkhianat!"

 

"Mustahil... Kenapa seorang Saint berada di samping pria ini..."

 

Melihat wanita yang muncul, dua tawanan itu menunjukkan raut wajah yang sangat kebingungan. Namun, wanita itu mengabaikan mereka berdua dan merapatkan tubuh ke sang kejahatan.

 

"Pasukan di bawah komando langsung Pahlawan dari barat... dan satu batalyon Pasukan Raja Iblis dari timur... sedang mendekat..."

 

"Hoo~"

 

Mendengar laporan itu, sang kejahatan memasang telinga. Memang benar, dari kejauhan ia bisa merasakan getaran tanah yang kian

mendekat.

 

"Oho, benar juga. Tapi, apa-apaan komando langsung? Apa-apaan satu

batalyon? Bawa-bawahan sampah milik Pahlawan dan Raja Iblis muncul berbondong-bondong, apa mereka pikir bisa melakukan sesuatu padaku... pada kami?"

 

"Persiapan sudah selesai, Master."

 

Siapa pun lawannya, ia tidak merasa gentar ataupun tunduk.

 

"Jangan bercanda! Jangan remehkan keadilan kami dan Tuan Pahlawan!"

 

"Sombong sekali... Kau tidak tahu betapa mengerikannya Yang Mulia Raja Iblis... Menderita dan menyesallah!"

Rekan-rekan mereka telah datang. Pedang dan tuan yang mereka percayai muncul untuk menghabisi sang kejahatan. Hal itu membuat hati kedua wanita itu bergetar. Namun...

 

"Masa bodoh! Kalau mau datang, datang saja! Mau Pahlawan atau Raja Iblis, ras manusia maupun kaum iblis, akan kuhadapi seluruh dunia ini

sekalian!"

 

"Aku akan menyertai Anda ke mana pun, Master."

 

Niat bertarung sang kejahatan membara lebih dari itu.

 

"Ehm~ walau bilang begitu... kelihatannya masih butuh waktu sedikit lagi sampai rombongan itu tiba di sini."

 

Justru karena niatnya membara, gairahnya makin membumbung tinggi.

 

Di depan mata sang kejahatan, tubuh wanita-wanita cantik terpampang

dengan pantat dan dada yang terekspos...

 

"...Kita lakukan hukuman ini dulu saja."

 

"Diterima."

 

""T-Tunggu sebentar, tung-tungg──────aah!""

 

Sang kejahatan mengulurkan tangannya ke arah kedua wanita cantik itu menuruti nafsunya.

 

"Nhh, kuh, hentikan, bunuh saja aku!"

 

"A, hentikan, ja-jangan sentuh, jangan, aku tidak mau!"

 

Meski di medan perang mereka membanggakan kekuatan setara seribu prajurit, jika tidak bisa bergerak, mereka berdua hanyalah wanita biasa.

 

Sang iblis meraba pantat lembut serta dada berukuran pejal khas wanita.

 

Tangannya bahkan menerobos masuk ke "dalam" pakaian dalam mereka, meremas dan memainkan kulit telanjang kedua wanita itu secara langsung.

 

Kedua wanita itu merasa mati rasa seolah ada aliran listrik yang menjalar ke seluruh tubuh, mengerang, dan meliukkan tubuh mereka.

 

Mereka berusaha keras memelintir tubuh demi melarikan diri dari cumbuan mesum pria itu, namun tindakan tersebut justru makin membakar gairahnya.

 

"Hentikan, jangan sentuh tempat seperti itu! Hen-hentikan! Aku... ini pertama kalinya bagiku! Aku masih perawan, aku tidak mau yang seperti ini!"

 

"Aku tidak bisa menikah lagi, to-tolong, hafh!"

 

Tanpa rasa belas kasihan, sang iblis merobek dan membuang pakaian dalam mereka. Karena mereka baru saja mengaku perawan, gerbang kastil yang tidak pernah diserang oleh siapa pun kini terekspos tanpa perlindungan. Sang iblis mengelus bagian depan dan belakang mereka, membuat para wanita itu menjerit makin keras, tetapi di detik berikutnya mulut mereka langsung disumbat.

 

"Mustahil... c-cium... ciuman pertamaku... afh! Hentikan, jangan li-lihat tempat seperti itu, jangan sentuh, a-angan dijilat! A, annh♥ Guh!"

 

"Ofh, geli, menjijikkan, hen-hentikan! Ku-mohon, seperti ini, A-Ayah, Ibu, aku tidak mau, diperkosa oleh manusia busuk, aku tidak mau! Ohiii♥"

 

Mereka tak lagi memiliki rasa bangga atau niat melawan, hanya meraung layaknya gadis tanpa daya. Namun lambat laun, desahan yang terlepas dari mulut mereka mulai diwarnai rona gairah.

 

"Dada dada♪"

 

"Nhh, ah, hen-hentikan, jangan sentuh, jangan diremas, tidak mau, jangan dienyut-enyut seperti bayi begitu..."

 

"Kuh, hentikan, hal seperti itu bukan untuk diisap oleh bajingan sepertimu... Haaahn!"

 

Dan mereka dipaksa menyadari. Sebelum menjadi ksatria atau jenderal iblis, mereka berdua adalah seorang wanita.

 

"Guwahahaha, lezat sekali~ Masakan tubuh wanita kelas atas dari ras manusia dan kaum iblis♪ Biarkan aku menjilat lebih banyak lagi, mengisap lebih banyak lagi, menyantap lebih banyak lagi! Biarkan aku memperkosa kalian lebih jauh!"

 

Pesta sang kejahatan tidak berakhir di sana, justru inilah acara utamanya. Di hadapan kedua wanita yang kehabisan napas, sang kejahatan menanggalkan celananya secara terang-terangan. Kemudian, ia memamerkan simbol pria yang berdiri gagah.

 

"Hii, a-a-apa-apan itu... A, w-wa, a-apa yang..."

 

"B-Besar sekali... Glek... Ha! K-Kau, apa yang kau lakukan! Tidak sopan! Cabul! Mesum! J-Jangan perlihatkan hal seperti itu... A, guh... luar biasa..."

 

Bagi mereka yang masih perawan, ini adalah pertama kalinya mereka melihat benda itu secara langsung. Meski merasa jijik dan takut, entah mengapa mata mereka tidak bisa berpaling dan seolah terhipnotis.

 

Mereka menelan ludah, dan hanya dengan melihatnya saja, tubuh mereka langsung dipaksa paham.

 

"A, aaah, tidak... boleh... To-Tolong... Ku-mohon! Hari ini, hari ini adalah masa suburku!"

 

"U, uh... Aku akan dihamili... Aaah... Aku akan dijadikan seorang ibu..."

 

Secara naluriah mereka memahami, jika benda itu dipaksa masuk

dengan cara apa pun, wanita mana pun tidak akan bisa melawan atau menolak lagi, dan mereka tidak akan bisa kabur dari takdir untuk mengandung. Melihat tingkah keduanya, sang kejahatan tertawa terbahak-bahak sembari merengkuh tubuh mereka berdua.

 

"Kalau begitu, selamat makan~~!"

 

""J-Jangan──────""

 

──♥♥♥♥♥♥

 

"Ohiiii♥ Luar biasaaaa♥♥♥"

 

"Ogoaaaaa♥♥♥"

 

──♥♥♥♥♥♥

 

"Jadi begini rasanya bersetubuhhhh♥♥♥"

 

"Aku pasrah dan menyerah sajaaaaa♥♥♥"

 

Lalu, keduanya disantap habis, diluluhlantakkan, diinvasi sampai tuntas, serta seluruh kehidupan masa lalu dan masa depan mereka dicelupkan ke dalam warna sang iblis.

 

"Tapi, diapit oleh Pahlawan dan Raja Iblis, ya. Apa cuma aku satu-satunya orang dalam sejarah yang mengalami ini? Walau begitu, kalau dilihat dari sudut pandangmu, bukannya lebih baik aku dibunuh saja? Saint-sama?"

 

"Anda bercanda... Di kehidupan sekarang maupun kehidupan selanjutnya, aku adalah milik Anda untuk selamanya... Ini adalah penebusan dosaku karena telah merebut segalanya dari Anda pada 'hari itu'."

 

Seusai menuntaskan aksinya, sang kejahatan dan sang Saint beristirahat sejenak. Di kaki mereka, dua gumpalan daging betina terkapar kejang dengan ekspresi berantakan dalam situasi yang tidak wajar ini. Di tempat seperti itu, keduanya saling merapatkan tubuh dan bersandar seolah hal tersebut sudah biasa.

 

"Apa kau puas walau harus mati?"

 

"Demi Master. Dosa saya... sejauh itulah beratnya."

 

Mendengar perkataan sang Saint, sang kejahatan menatap ke kejauhan...

 

"Guwahahaha... Sejak hari itu... aku hidup dan melakukan apa pun yang kuinginkan... sampai-sampai malah tiba di tempat seru seperti ini..."

 

"Ya."

 

Ia mengenang kembali semua yang telah berlalu.



Illustrasi | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close