NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Jitsu wa Haisupekkuna Danshi Kōkōsei - Gakunen'ichi no Bishōjo ni Hisho ni Natte Morau Volume 1 Chapter 16

Bab 16: Mencoba Menyusun Siasat Demi Memperbarui Kontrak


(Sudut Pandang Gadis Tercantik Seangkatan)

 

Sesuai rencana, aku berhasil membawa Sensei ke Rumah Ramalan. Dan tanpa dicurigai sama sekali, kami bisa masuk ke bilik tempat Hori-san menjadi sang peramal.

 

Hori-san adalah teman sekelasku saat SMP. Kali ini, dia bersedia membantuku dalam melancarkan rencana. Siasatnya adalah, saat aku menanyakan masa depan kami berdua, dia akan mengatakan hal-hal bagus saja sehingga Sensei bakal terpikir untuk memperpanjang

kontrak.

 

"Baiklah…… Uuumm…… Penglihatannya sudah mulai tampak……"

 

Hori-san memejamkan mata sambil menangkupkan kedua tangan di atas bola kristal, lalu mulai berbicara dengan gaya bicara khas peramal.

 

"Pusaran rasi bintang kalian berdua saling tumpang tindih secara tepat, ini benar-benar 'Garis Takdir'. Pihak pria memendam hawa 'Gerak', terlahir di bawah naungan bintang pembuka jalan. Di sisi lain, pihak wanita memendam hawa 'Sirkulasi', terlahir di bawah naungan bintang penarik benang jodoh yang baik. Bintang-bintang yang tadinya bersinar terpisah ini, di detik saat keduanya saling bertumpuk akan berubah menjadi 'Aliran Pembuluh Naga', menghasilkan 'Garis Penggandaan Sinergi' yang melipatgandakan peruntungan kerja."

──Luar biasa! Hebat banget kamu, Hori-san! Aku sama sekali tidak paham apa yang kamu bicarakan, tapi auranya terasa seperti peramal sungguhan!

 

Walaupun ini seratus persen rekayasa, kalau sampai dikatakan seperti ini tentu saja membuatku merasa sangat senang.

 

Hanya saja, aslinya sebelum meramal itu biasanya menanyakan tanggal lahir atau golongan darah terlebih dahulu, tetapi karena sudah kuberitahukan sebelumnya, dia malah melompati prosedur itu. Sensei tidak bakal sadar kalau ini sudah disiapkan kan ya……?

 

"Pihak pria yang bergerak, pihak wanita yang menyelaraskan momentum. Dari segelintir benih yang ditabur pihak pria dalam jumlah banyak, pihak wanita akan membuatnya bertunas sekaligus dalam sekejap. Hal yang jika dilakukan sendirian hanya berujung 'Keberhasilan', jika kalian berdua bergandengan akan melahirkan 'Keberhasilan Dahsyat yang Tak Tertandingi'. Aliran peruntungan akan berputar di antara kalian berdua, melahirkan kekayaan serta kemasyhuran yang terus mengalir tanpa henti.. Hari di mana kalian berdua menggenggam kekuasaan yang bahkan sanggup membeli seisi dunia pun sudah tidak jauh lagi."

 

"Sampai sejauh itu!?"

 

Sensei sampai terperangah syok. Ramalan Hori-san jelas-jelas sudah terlalu berlebihan, tetapi dia sama sekali tidak tampak mencurigainya.

Kalau nanti kontrakku sebagai sekretaris diperpanjang, aku harus berhati-hati menjaga Sensei agar tidak gampang terjerumus penipuan.

"Terlebih lagi, kalian berdua diikat berlipat-lipat oleh benang merah ‘Jalinan Karma’. Dengan terus bersama, pihak pria akan mengenal ketenteraman batin, sementara pihak wanita akan meraup rasa percaya diri. Seberat apa pun rintangan yang datang menghadang di masa depan, kalian akan menunjukkan ikatan persatuan yang mampu melampauinya. Gugusan bintang takdir membisikkan pesan kepada kalian berdua: segeralah menikah sekarang juga."

 

──Menikah!?

 

Hori-san malah keenakan dan memasukkan improvisasi yang kelewatan!

 

Menikah itu…… yah, rasanya tidak buruk sih, tapi……

 

"Jika kalian mengambil keputusan di sini dan saat ini juga, takdir kalian berdua akan selaras sempurna. Biar saya tegaskan, hubungan kalian berdua ini sudah bukan lagi di tingkat kecocokan biasa. Kalian dipertemukan karena saling ditarik oleh 'Bintang Suami Istri'. Pernikahan bukanlah garis akhir, melainkan sebuah ritual penyempurnaan takdir. Mustahil rasanya membayangkan dua insan yang memiliki kecocokan luar biasa seperti ini tidak menjadi sepasang suami istri. Nah…… tentukanlah keputusan kalian."

 

Pada akhirnya kami malah didesak untuk memutuskan pernikahan.

 

Bukan, bukan itu maksudku! Aku cuma ingin memperpanjang kontrak

kerja sebagai sekretaris……!

 

☆ ☆

 

Ujung-ujungnya, gara-gara ulah Hori-san yang lepas kendali, rencanaku

gagal total. Padahal menurut rencana, di Rumah Ramal aku ingin memancing pembicaraan seperti "Kecocokan kerja kita berdua rasanya luar biasa ya", lalu memancing kata-kata "Aku ingin memperpanjang

kontrak" dari mulut Sensei……

 

Begitu melangkah keluar dari kelas 1-3, tercipta jarak yang canggung di antara diriku dan Sensei. Semua ini gara-gara kata-kata "Menikah" dan "Suami Istri" yang terus diteriakkan berulang kali oleh Hori-san.

 

Bagaimanapun caranya aku harus membalikkan situasi ini……

 

Meski begitu, apa yang harus kulakukan ya…… Andai saja ada cara untuk memamerkan betapa berharganya diriku sebagai seorang sumber daya manusia……

 

"Pendaftaran kontestan Lomba Gadis Cantik Antarsiswa akan segera ditutup sebentar lagi~!"

 

Saat sedang berjalan tanpa tujuan mengitari area sekolah, pengumuman

seruan itu terdengar dari arah gedung olahraga.

 

Saat itu juga, aku langsung terpikir, “Ini dia.” Kalau aku bisa meraih hasil gemilang di kontes gadis cantik, mungkin aku bisa menunjukkan pesonaku kepada Sensei.

 

Sebenarnya, aku memegang pendirian yang menolak kontes semacam ini. Kalau cuma dianggap sebagai hiburan mungkin bisa dinikmati sih, tapi memberi peringkat pada fisik manusia itu bagiku terasa terlalu rendahan.

 

Ditambah lagi, aku tidak pandai berdiri di depan orang banyak.

 

Memimpin jam wali kelas pun terpaksa kulakukan semata-mata karena tugasku sebagai ketua kelas, aslinya aku ingin digantikan oleh orang lain.

 

Maka dari itu, kalau bukan dalam kondisi terdesak seperti sekarang, mustahil aku mempertimbangkan untuk ikut. Membayangkan diriku harus menjual pesona manis kepada para juri demi meminta ‘Tolong pilih aku ya’ saja sudah membuatku pusing.

 

Namun aku tidak menemukan jalan keluar lain, dan batas waktunya kian menipis. Pada akhirnya, demi memikat Sensei, aku mengesampingkan rasa enggan itu lalu memutuskan untuk ikut serta.

 

Agar rasa tidak sukaku terhadap kontes ini tidak terbongkar, aku menyampaikannya seriang mungkin.

 

"Ada kontes gadis cantik lho. Kelihatannya seru, boleh aku ikut sebentar?"

 

"Tentu saja. Semangat ya."

Mendapat dorongan dari Sensei, aku memantapkan tekad lalu mendaftar, dan sepuluh menit kemudian aku sudah berdiri di panggung gedung olahraga untuk memperkenalkan diri.

 

Karena ikut tanpa persiapan apa pun dan rasa gugupku sudah meluap-luap, kata-kataku sama sekali tidak mengalir lancar. Meski begitu, aku berusaha sekuat tenaga memberikan jawaban yang berbobot atas pertanyaan pembawa acara, dan saat ditanyai bakat khusus, untuk sementara aku mencoba menampilkan tarian, pokoknya melakukan apa pun agar bisa bertahan di panggung.

 

Di bawah panggung berdiri lautan penonton, berkali-kali membuatku ingin kabur rasanya, tetapi begitu menemukan sosok Sensei di antara kerumunan itu, aku memaksakan nyaliku untuk menuntaskannya sampai akhir.

 

Hasilnya, secara aklamasi para juri memutuskan diriku sebagai pemenang. Terus terang aku kaget melihat seluruh suara diberikan kepadaku, tetapi menilainya secara objektif, dari semua peserta memang akulah yang paling cantik, jadi kurasa ini hasil yang pantas. Walaupun tentu saja di pidato kemenangan aku tetap merendah dengan mengatakan "Aku merasa tidak percaya".

 

Aku ingin segera melapor kepada Sensei, tetapi begitu turun dari panggung sambil membawa plakat kemenangan, teman-teman seangkatan langsung berkerumun menghampiri dan memblokir jalanku.

 

"Keren banget, Himegi-san!"

 

"Selamat ya!"

 

"Tadi kamu cantik luar biasa lho!"

 

Teman-teman sekelas dan anak-anak cowok yang tidak kukenal melontarkan berbagai pujian, namun karena tidak tertarik, aku hanya menanggapinya seadanya saja.

 

Setelah membelah kerumunan orang yang mengganggu itu dan berhasil keluar dari gedung olahraga, Sensei sudah menungguku di sana.

 

"──Sensei, lihat ini. Iseng-iseng ikut, eh malah menang juara pertama."

 

Sengaja kupasang sikap santai seolah bukan masalah besar sambil mengangkat plakat itu, raut wajah Sensei justru terlihat agak dingin.

 

"……Kamu benar-benar hebat. Saking hebatnya, entah kenapa aku malah merasa ada jarak di antara kita……"

 

Begitulah gumam Sensei dengan canggung.

 

Reaksi itu berbanding terbalik dengan apa yang kuharapkan. Padahal aku hanya ingin dia menyadari betapa langka dan berharganya diriku ini.

 

Pujian dari orang lain sama sekali tidak kubutuhkan. Mau bagaimana pun aku tidak peduli. Karena itu Sensei, tolong pujilah aku. Katakanlah bahwa kamu membutuhkanku, katakanlah bahwa kamu ingin aku terus menjadi sekretarismu…



Chapter 15 | ToC | Chapter 17

0

Post a Comment

close