Penerjemah: Amir
Proffreader: Amir
Chapter 4.0
Lupa
Pagi terburuk.
Napas terasa sesak dan berat.
Seolah-olah ada batu berbobot besar yang dipaksakan masuk ke tengah dadaku—sebuah kontradiksi yang menyiksa karena di saat yang sama rasa hampa ikut tercipta.
Paru-paruku menolak udara.
Berulang kali aku menarik dan mengembuskan napas secara dangkal, tetapi rasa sesak itu tak kunjung sirna.
Atap langit-langit yang sudah biasa kulihat, serta pendar cahaya pagi yang menembus masuk dari balik tirai tipis.
Seharusnya tidak ada satu pun yang berubah, tetapi segalanya terasa teramat jauh.
Pemandangan kemarin sore masih menempel erat di balik kelopak mataku.
Saat kucoba untuk bangkit berdiri, bagian dalam perutku mendadak bergolak.
"Ugh."
Tanpa sadar aku menutupi mulutku.
Padahal tidak ada apa pun yang bisa dimuntahkan, tetapi tubuhku bereaksi menolak secara refleks.
Meskipun begitu, aku merangkak pelan lalu mengintip ke arah bawah loteng. Aroma sup miso yang lezat dan suara dentikan ringan pisau dapur yang beradu dengan talenan terdengar dari arah dapur.
Suasana pagi yang teramat sangat biasa.
Sambil menyeret selimut, aku bangkit berdiri dan melangkah menaiki tangga loteng untuk turun.
Di setiap pijakan langkah, kayu tua itu mencicit pelan.
Hawa dingin menyapu telapak kakiku. Rasanya aku masih terjebak di dalam mimpi.
Setelah menuruni tangga, aku mengintip ke arah dapur.
"Ah! Selamat pagi, Satoshi-kun!"
Satsuki yang mengenakan celemek sedang mencicipi rasa sup miso. Bibirnya menempel di centong sup, lalu kepalanya sedikit miring bergeming.
Setelah itu ia menyadari keberadaanku, lalu mengukir senyuman yang mekar bagaikan bunga sakura.
Di sana sama sekali tidak ada bayang-bayang kegelapan.
"A, ah, selamat pagi."
Suaraku terdengar serak.
Saat kuarahkan pandangan ke sudut lain, Reine tampak terduduk santai di atas sofa.
"Dasar tukang tidur," kata Reine sambil melempar senyum tipis menatapku.
Sebelah tangannya memegang buku, sementara tangan yang satunya lagi menggenggam cangkir.
Di raut wajah Reine pun sama sekali tidak tersisa bayangan duka.
Padahal mereka berdua kemarin telah hancur sepenuhnya.
Makanan tak sanggup masuk ke mulut, tak kuasa menahan rasa mual, dan terus-menerus menangis tanpa henti. Tanpa menahan suara, bahu mereka berguncang hebat, menyapu air mata yang menetes berulang kali.
Namun saat ini, jejak-jejak itu lenyap tak tersisa sama sekali.
Apakah mereka sedang berusaha agar tidak membuatku cemas, ataukah mereka benar-benar sedang berusaha untuk bangkit melangkah ke depan?
Mana pun alasannya, hal itu terasa terlalu menyilaukan untukku.
"Kalian berdua... sungguh kuat ya..."
Betapa menyedihkannya aku.
Pada detik kalimat itu meluncur keluar dari mulutku, pertahanan yang kutahan mati-matian akhirnya runtuh berantakan.
Air mata menetes keluar dari mataku secara alami.
Tenaga di lututku lenyap, lalu tubuhku ambruk terduduk di tempat.
"T, tunggu sebentar! Ada apa denganmu!?"
Reine melemparkan bukunya dan meletakkan cangkirnya di atas meja.
Suara benturan tumpul terdengar pelan, dan pada detik berikutnya, Reine sudah berlari menghampiri tempatku berada.
Satsuki pun mematikan kompor lalu terburu-buru menghampiriku.
Hanya aroma sup miso saja yang penuhi ruangan dengan kehangatan yang terasa salah tempat.
"...Kamu baik-baik saja?"
Satsuki mengintip ke arahku dengan raut cemas.
"A, ah. Maaf. Aku benar-benar tidak berguna ya..."
Aku menyapu air mata dengan lengan, lalu memaksakan diri untuk tersenyum agar tidak kalah dari mereka berdua.
"Jika Shuna dan Shino melihatku seperti ini, mereka berdua pasti akan sangat kecewa."
Aku tidak bisa merelakan dan berganti suasana begitu saja.
Mana mungkin aku bisa.
Namun, ketika dua orang di depanku ini sedang berusaha menatap ke depan, aku tidak boleh terus-terusan merangkul lututku sendirian.
"Shuna dan Shino itu──siapa?"
"Eh?"
Tanpa sadar suara itu meluncur begitu saja dari mulutku. Reine dan Satsuki saling melempar pandang, lalu memasang raut wajah yang tampak serba salah.
Suara Satsuki terdengar teramat sangat alami.
Itu adalah suara tanpa niat jahat sedikit pun, seolah-olah ia hanya sekadar menanyakan kembali nama asing yang baru pertama kali didengarnya.
"...Apakah kamu berselingkuh?"
Reine mengintip raut wajahku.
Aku ingin membentaknya agar tidak bercanda di saat-saat seperti ini. Aku ingin berteriak padanya. Namun, di dalam iris mata Reine sama sekali tidak ada niat buruk sedikit pun.
Bukan berarti ia sedang menggodaku, bukan pula sedang berpura-pura. Mata itu benar-benar menatapku tanpa tahu apa-apa.
Kepalaku tertunduk lesu. Ujung-ujung jariku mendadak terasa dingin. Hanya suara detak jantungku saja yang berdegup teramat bising.
"Kita... bukankah tadinya kita bertiga selalu bersama berlima?"
Aku bertanya seolah-olah sedang menggantungkan harapan terakhirku. Meskipun aku sudah tahu pasti jawabannya, aku tetap tak bisa menahan diri untuk tidak menanyakannya.
"Apa yang sebenarnya sedang kamu bicarakan?"
"Sejak dulu kita ini cuma bertiga kok!"
Reine dan Satsuki membalasnya seolah-olah hal itu adalah wajar. Seakan-akan hanya aku seorang diri di sini yang gila.
"...Waktu zaman SMA dulu, kalian berdua dijuluki '4 Bidadari'..."
"4? Seingatku kami cuma dipanggil '2 Bidadari Utama' sih..."
"Kedengarannya norak ya."
Rasanya seolah-olah ada retakan yang tercipta di dalam tempurung kepalaku. Jarum detik jam, percakapan mereka berdua, dan seluruh suara di dunia ini terasa makin menjauh.
"Kh!"
Tanpa kusadari, aku sudah bangkit berdiri dengan sangat kencang.
"Satoshi-kun!?"
"Satoshi!?"
Aku mengabaikan suara mereka berdua lalu berlari menuju ke pintu depan. Kumasukkan kakiku ke dalam sandal, lalu kubuka pintu depan rumah lebar-lebar dengan sekuat tenaga.
Udara pagi menyapu pipiku.
Aku melompat keluar ke koridor, lalu segera menatap ke arah kamar di sebelah.
Kamar Shuna, dan kamar Shino.
Pintu yang seharusnya menjadi milik mereka berdua. Namun pada papan nama di sana, bukan nama 'Nanjou' ataupun 'Shinonome' yang tertera, melainkan nama 'Satou' dan 'Yamada'.
"...Ini bohong, kan!"
Dengan tangan yang gemetaran, aku mengeluarkan ponselku. Keringat merembes di ujung-ujung jari, membuat layar sentuhnya tidak merespons dengan baik.
Setelah berhasil membuka aplikasi Line, aku memeriksa grup kami.
Di sana hanya tertera nama diriku, Satsuki, dan Reine. Tidak ada riwayat anggota yang keluar, tidak ada pula riwayat undangan grup. Bahkan ketika kutelusuri kembali percakapan di masa lalu, sejak awal kami memang tercatat hanya bertiga.
Foto-fotonya. Percakapannya. Janji-janjinya. Hingga saling tukar stiker yang konyol sekalipun.
Semuanya hanya ada untuk 3 orang.
Keringat dingin mengalir menelusuri tulang belakangku.
──Keberadaan Shuna dan Shino telah diangap tidak pernah ada.
Pada detik aku memahami fakta tersebut, rasa amarah yang membara membumbung tinggi dari dasar perutku.
"Jangan bercanda, brengsek...!"
Aku berlari kencang menuju ke arah tangga.
Di tengah jalan, seorang wanita asing berbadan cukup gemuk sedang berjalan menaiki tangga.
Aku secara refleks bergeser ke samping untuk menghindarinya.
Aku terus melompati anak tangga ke bawah begitu saja. Benturan tajam menjalar menembus sandal hingga ke lututku. Meskipun begitu, bagiku yang sekarang, hal seperti itu sama sekali tidak penting.
"Satoshi-kun! Kamu mau ke mana!"
Suara Satsuki terdengar dari atas tangga. Reine pun ikut meneriakkan sesuatu, tetapi aku tidak berbalik menatap mereka.
Dunia di mana keberadaan Shuna dan Shino dianggap tidak pernah ada...
Mana mungkin aku bisa menerima hal semacam itu.
"──Ada apa dengannya tiba-tiba ya?"
Reine bergumam pelan sambil terus menatap punggung Satoshi-kun.
"Aku juga tidak tahu, tapi kita harus segera mengejarnya!"
Sikapnya benar-benar aneh. Ini pertama kalinya aku melihat Satoshi-kun dalam keadaan sekacau dan selinglung itu.
Kami bertiga adalah satu kesatuan.
Satoshi-kun, Reine, dan aku. 3 orang spesial yang terikat erat oleh jalinan hubungan 【LoD】. Hari-hari yang kami habiskan bertiga bahkan masih bisa kuingat dengan sangat jelas hingga saat ini.
Warnanya, suaranya, suhunya, semuanya masih kuingat.
Sama sekali tidak ada yang kurang.
Seharusnya memang seperti itu. Namun...
"Ada sesuatu yang aneh, kan?"
Kata-kata yang meluncur dari mulut Reine itu membuatku mendadak mematung.
"...Reine juga berpikir begitu?"
Nada suaraku menjadi sedikit lebih berat.
Kami bertiga hanya menjalani hari-hari yang membahagiakan bersama. Mau dicari ke mana pun, tidak akan ada kejanggalan yang bisa ditemukan.
Meskipun begitu, pada detik aku melihat raut wajah Satoshi-kun tadi, bagian dalam dadaku mendadak bergolak gelisah. Aku merasa seolah-olah kami telah melakukan suatu kesalahan yang teramat fatal.
Tidak ada kejanggalan yang terasa.
Bukan, justru kenyataan bahwa kami tidak bisa merasakan adanya kejanggalan itulah yang terasa sebagai sebuah kejanggalan...
"──Ah, Satoshi-kun malah sudah menghilang!"
Sosok Satoshi-kun telah lenyap, dan langkah kakinya pun sudah sama sekali tidak terdengar lagi.
"Harusnya kita bisa bicara sambil mengejarnya tadi!"
"Berisik! Gara-gara Reine mengajakku bicara makanya aku jadi makin tidak paham!"
Pokoknya kami harus segera mengejarnya.
Satoshi-kun tidak boleh dibiarkan sendirian dalam keadaan seperti ini.
Aku tidak tahu apa alasannya, tetapi perasaanku mengatakan demikian.
Sambil memendam rasa curiga di dalam dada, kami terburu-buru menuruni tangga.
Pada saat itulah.
"Halo!"
"Eh?"
Sapaan bersuara ceria yang tiba-tiba itu membuatku tanpa sadar menghentikan langkah kaki.
Seorang gadis berambut pirang yang menggemaskan tampak berdiri mematung, seolah-olah sedang bersembunyi di balik bayangan tiang listrik.
Terguyur cahaya pagi, rambut pirangnya yang tampak lembut itu berayun berkilauan. Di lehernya melingkar sebuah headphone, dan di rambutnya terpasang pita yang khas. Perawakannya mungil dengan raut wajah yang penuh daya tarik.
Ada apa ya, sepertinya di suatu tempat aku pernah──
Padahal seharusnya ini pertama kalinya kami bertemu, tetapi aku merasa seperti ini bukanlah yang pertama kalinya.
"Cih."
Decakan lidah pelan dari Reine mengembalikan kesadaranku ke realitas.
"Maaf ya, tapi kami sedang terburu-buru."
"Ah, tunggu sebentar."
Reine berusaha menghindari gadis itu sambil menggenggam lengan bajuku.
Tarikannya yang kuat membuatku hampir saja tersandung.
Tepat pada detik saat kami hendak berjalan melewati sisinya.
"Mau kuberitahu──ke mana Iriya Satoshi pergi?"
"──Eh?"
Tanpa sadar aku berbalik menatap ke belakang, dan gadis berambut pirang itu sedang mengukir senyuman.



Post a Comment