NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

10-nen-buri Ni Saikai Shita Kusogaki Wa Seijun Bishoujo Jk Volume 2 Interlude IV

Kenangan Bersama Si "Bocah Nakal" Part 4


 

Bocah Nakal Punya Cita-Cita

1

"Kalau begitu, cita-cita saat sudah besar nanti jadi PR untuk besok ya. Semuanya, pikirkan baik-baik!"

Sebagai penutup pelajaran, guru wali kelas membagikan lembar kertas. Di sana tertulis cetak tebal huruf besar 'Cita-cita Masa Depan', dan di sampingnya terdapat kolom untuk menuliskan hal yang ingin dicapai beserta alasannya.

Bisa dibilang ini adalah pembelajaran untuk memikirkan masa depan.

Tentu saja karena ditujukan untuk anak-anak kelas rendah SD, bentuknya bukan sesuatu yang terkesan muluk-muluk seperti survei pilihan jalur karier. Tujuannya adalah untuk meningkatkan motivasi belajar dan semangat berkembang anak-anak dengan cara menuangkan impian serta target mereka ke dalam kata-kata.

"Aku mau jadi kereta Shinkansen!"

"Aku mau jadi pemain bisbol profesional!"

"Aku pengin jadi penjual toko bunga..."

"Kalau aku mau jadi Pretty Cure!"

Saat jam istirahat, topik pembicaraan anak-anak sepenuhnya dipenuhi oleh cita-cita masa depan.

"Mahiru sama Asaka sudah menentukan belum?"

Miya bertanya sambil duduk di atas meja.

"Aku pengin jadi perawat. Soalnya seragamnya lucu. Miya juga dulu pengin jadi perawat kan?"

"Tck, tck, tck, itu kan waktu zaman TK."

Miya mengoyangkan jari telunjuknya perlahan.

"Zaman sekarang itu waktunya jadi pemilik toko kue tahu."

"Toko kue?"

"Toko kue?"

Miya melanjutkan dengan wajah penuh rasa bangga.

"Dengar ya? Kalau jadi pemilik toko kue, setiap hari bisa makan kue sepuasnya. Kemarin aku baru saja bikin kue bareng Bibi, jadi aku sudah tahu cara bikinnya."

"Begitu ya."

Mahiru menempelkan tangan di dagunya.

"Makan kue setiap hari ya. Boleh juga tuh. Asaka bagaimana?"

"Aku? Aku... belum menentukan sih."

Asaka menatap ke arah lembar kertas yang masih kosong.

"Asaka juga ikutan buka toko kue bareng yuk!"

"Umm, kue ya..."

"Kalau perawat bagaimana?"

"Perawat ya..."

Asaka mencoba membayangkan dirinya menjadi pemilik toko kue atau perawat. Makan kue sepuasnya setiap hari memang menggiurkan, dan baju perawat juga sangat lucu.

"Umm..."

Meskipun begitu, tidak ada satu pun yang benar-benar sreg di hati Asaka.

Sepulang sekolah, seperti biasa dan sudah sewajarnya, mereka bertiga berkunjung ke 〈Moon Night Terrace〉.

"Cita-cita masa depan?"

"Cita-cita Bibi waktu kecil dulu apa?"

Miya bertanya mewakili mereka bertiga.

"Soalnya kami harus memikirkannya buat PR." tambah Asaka.

Sayaka mengerutkan alisnya dengan wajah berkerut heran, berpura-pura sedang berpikir.

"Gimana ya, Bibi dulu seingatnya pengin jadi pemain bola voli deh."

"Bola voli?" sahut Mahiru.

"Iya benar, Bibi waktu SMA dulu ikut klub voli tahu. Kalian bertiga pernah main?"

"Nggak pernah."

"Nggak pernah sih."

"Belum pernah."

"Seru lho, main voli itu. Walau kalau sekarang pinggang Bibi sudah sakit jadi nggak sanggup lagi..."

"Paman bagaimana?"

Saat ditanyai, Shun yang berada di dalam konter hanya mengucapkannya dalam satu kalimat.

"...Dulu pengin jadi pria tercepat di Jepang."

"Ha?"

"Maksudnya bagaimana?"

"Apakah atlet lari?"

"...Kata-kata orang itu sebaiknya jangan terlalu dijadikan referensi ya."

"Yuu-nii ada?"

Asaka bertanya dengan pelan dan malu-malu.

"Yuu? Yuu lagi pergi sebentar."

"Dia pergi ke mana?"

Mahiru langsung mendekati Sayaka.

"Ke tempat yang agak jauh. Tapi nanti malam juga sudah pulang kok."

"Dia pergi buat apa?"

"Sama seperti alasan kalian bertiga sekarang. Demi masa depan."

"?"

"?"

"?"

Ketiganya kompak memiringkan kepala kebingungan.

"Ngomong-ngomong, cita-cita Yuu-nii waktu kecil dulu apa?"

Saat ditanyai oleh Miya, mata Sayaka menyipit seolah merindukan masa lalu yang sudah jauh berlalu.

"Seingat Bibi anak itu... ah benar, waktu kecil dia pernah bilang pengin jadi Peter Pan."

 

2

"Uri, uri."

Miya yang duduk di teras samping sedang mengelus anak kucing berbulu oranye garis-garis di atas pangkuannya. Itu adalah kucing yang dipungut oleh Arotsuki di tengah jalan pulang sekolah beberapa hari lalu.

"Imutnya ya."

Asaka mengintip dari samping.

"Nggak bakal dicakar kan?"

Mahiru memperhatikan situasi itu dengan raut wajah cemas.

"Syukurlah ya, Megumi. Kakak-kakak datang buat mengajakmu bermain."

Orang yang bersedia memelihara anak kucing itu adalah teman sekelas Arotsuki, Shimomura Hikari. Gadis cantik bertubuh langsing yang identik dengan rambut hitam dan kulit gelap yang sehat itu duduk bersimpuh di belakang para bocah nakal yang berjejer di teras.

"Namanya dikasih nama Megumi?"

Miya menoleh ke arah Hikari.

"Iya, dengan harapan semoga dia dilimpahi dengan kasih sayang."

"Namanya kayak nama manusia ya." sahut Mahiru.

"Soalnya anak ini juga anggota keluarga. Jadi harus dikasih nama yang punya arti dong."

Megumi turun dari pangkuan Miya, lalu melompat ke atas pangkuan Mahiru sambil mengeong, "Nyaa."

"Imut banget ya."

Mahiru mengelus Megumi dengan penuh rasa sayang.

"Imut kan?"

"...Eh tunggu, kita kan datang bukan buat main sama kucing!"

Para bocah nakal mulai masuk ke topik utama.

"Hikari-san waktu kecil dulu pengin jadi apa?"

"Cita-cita waktu kecil?"

"Buat tugas PR."

Asaka memperlihatkan lembar kertasnya.

"Cita-cita masa depan... Ah, tugas yang biasa itu ya."

"Punya Asaka belum ditentukan, jadi kami tanya ke banyak orang buat dijadikan referensi. Ngomong-ngomong kalau aku mau jadi pemilik toko kue."

"Oh, bagus dong!"

"Kamu tahu tidak? Kalau jadi pemilik toko kue, setiap hari bisa makan kue sepuasnya lho."

Miya membusungkan dadanya penuh percaya diri.

"H-Hee. H-Hebat ya. Kalau Mahiru-chan?"

"Aku perawat. Soalnya bajunya lucu."

"Ah, kalau itu aku paham sih. Ooh begitu... Cita-cita waktu sudah besar nanti ya... Gimana ya, dulu aku sangat mendambakan pengin jadi pengantin perempuan sih."

"Pengantin perempuan?"

"Iya, waktu aku masih kecil seumuran kalian begini, aku pernah datang ke pernikahan kakak sepupuku. Kakak yang pakai gaun pengantin itu kelihatan cantik banget, makanya aku mikir pengin jadi pengantin perempuan juga kalau sudah besar nanti."

"Gaun pengantin..."

Asaka mencoba membayangkan dirinya mengenakan gaun putih bersih.

Tidak buruk. Malah terbilang sangat bagus.

Lalu, di samping dirinya yang mengenakan gaun pengantin, ada seseorang yang mengenakan tuksedo putih...

"Bagaimanapun juga, impian terbesar seorang anak perempuan itu ya jadi pengantin."

"Jadi pengantin perempuan sepertinya boleh juga."

"Bagaimana caranya biar bisa jadi pengantin?"

Mahiru bertanya.

"Eh? Ya tentu saja dengan menikah sama cowok yang kamu sukai. Tapi ya, buat kalian bertiga rasanya masih terlalu kepagian deh. Soalnya, anak perempuan baru bisa menikah setelah berumur enam belas tahun."

"Enam belas tahun..."

Asaka saat ini masih berumur enam tahun. Masih ada sepuluh tahun lagi. Walau bulan Desember tahun ini usianya bakal genap tujuh tahun, tetap saja belum mencapai setengah dari target.

Karena usianya harus lebih dari dua kali lipat dari usianya yang sekarang, perjalanannya masih sangat jauh.

"Uhh, aku pengin cepat-cepat jadi orang dewasa."




Masa anak-anak ini rasanya ingin cepat-cepat selesai saja, jerit Asaka di dalam hatinya.

◇

Malam harinya.

"Ibu, waktu kecil dulu Ibu pengin jadi apa?"

Asaka bertanya sambil duduk di atas pangkuan ibunya.

"Waktu kecil?"

"Iya."

"Gimana ya."

Tangan sang ibu mengelus lembut kepala Asaka.

"Ibu rasanya tidak punya cita-cita khusus, deh."

"Eh, masa sih?"

"Iya. Tapi Ibu punya impian kok."

"Apa itu?"

"Ibu ingin punya keluarga."

"...Keluarga. Kalau begitu, impian Ibu sudah terwujud dong."

"Fufu, iya benar."

Sang ibu—Gendoji Aika—meluk Asaka dengan erat.

"Ada Ayah mertua, ada Suami, dan meskipun kakak-kakak perempuanmu sudah hidup mandiri—sekarang ada Asaka."

"Ibu, bahagia?"

"Iya, Ibu sangat bahagia."

"Aku juga bahagia."

Asaka benar-benar sangat menyayangi Ibunya.

 

Bocah Nakal Sangat Senang

1

—Hari Sabtu.

Begitu selesai menaiki jalan tanjakan yang panjang, saat aku menoleh ke belakang, terlihat pemandangan Gunung Fuji yang megah beserta kota kami yang membentang di kaki gunung.

Memasuki musim gugur, Gunung Fuji sepertinya mulai berselimut salju, membuat daerah di sekitar puncaknya diwarnai warna putih.

Angin musim gugur terasa sangat menyegarkan.

Setelah menikmati pemandangan itu sejenak, aku memutar tumit dan melangkah menuju rumah keluarga Gendoji.

"Yuu-nii, selamat datang."

"Ooh Asaka, aku bertamu ya."

"Ehehe."

Asaka langsung bergelayut di armadaku. Rambut panjangnya terasa menggelitik.

Hari ini aku datang berkunjung karena diundang oleh Asaka.

Miya dan Mahiru sepertinya punya urusan masing-masing, jadi tamu yang datang cuma aku seorang.

Asaka hari ini mengenakan one-piece mini yang ketat. Kakinya terekspos, apa dia tidak kedinginan?

"Hei, Asaka, begini bikin susah jalan tahu."

Kami pun masuk dan menetap di kamar Asaka.

"Ayo main gim."

"Iya, iya, paham."

Asaka mulai bersiap-siap di depan TV.

"Asaka, apa ada tamu?"

Seorang pria menampakkan wajahnya dari ambang pintu.

"Ah."

"Ah."

Pandanganku bertabrakan dengan pria bermata sayu mengantuk itu.

Di saat yang sama, atmosfer yang canggung seketika mengalir.

"S-Saya bertamu."

"Oh, kamu ya."

Pria itu adalah ayah Asaka, Gendoji Hanayoshi.

 

2

Asaka merasa sangat senang.

Hari ini sejak pagi Arotsuki datang berkunjung ke rumah, ditambah lagi Ayah juga sedang libur kerja dan ada di rumah.

Bisa berkumpul bersama dua orang yang paling disayanginya, Asaka merasa sangat amat senang.

"Ayah juga ikutan main yuk."

"...Ah, boleh juga."

Dipinta oleh putri kesayangannya, seorang ayah mana mungkin bisa menolak.

Hanayoshi berdehem canggung lalu melangkah masuk ke kamar dengan ragu-ragu.

Kedua pria itu duduk mengapit Asaka di tengah-tengah.

Pertandingan tiga orang dengan format battle royale pun dimulai.

"Ciat, ciat. A, aaaa~"

Berbanding terbalik dengan Asaka yang tampak puas menikmati gim, atmosfer yang mengalir di antara kedua pria itu justru terasa sangat berat.

"..."

"..."

Canggung.

Perasaan itulah yang dirasakan oleh kedua pria tersebut secara bersamaan.

"Ciat, ciat."

Hubungan mereka berdua ibarat kenalan dari seorang kenalan.

Walau bukan pertama kali bertemu, mereka tidak punya hubungan interaksi khusus.

Meskipun begitu, mengingat ada Asaka—sosok yang memiliki hubungan erat dengan keduanya—di tempat itu, mereka tidak bisa begitu saja mengabaikan satu sama lain.

Bisa dibilang ini adalah jarak kecanggungan yang luar biasa.

Meskipun kesalahpahaman insiden percobaan penganiayaan anak perempuan alias bermain gulat waktu itu sudah diluruskan dan mereka sudah berdamai, kesan pertama (first contact) yang seperti itu mau tidak mau membuat mereka saling merasa enggan satu sama lain.

"Ah, aku kalah."

Jumlah nyawa Asaka habis, dan pertarungan berlanjut menjadi duel satu lawan satu antara Arotsuki VS Hanayoshi.

"..."

"..."

"Kalian berdua semangat yaa~"

Itu benar-benar sebuah neraka.

"..."

"..."

Satu sama lain saling sungkan dan segan, sehingga serangan karakter mereka hanya menebas angin hampa.

Bahkan pertarungan CPU sekalipun pasti bisa menyajikan pertandingan yang jauh lebih menarik.

Pada akhirnya, pertandingan berakhir imbang karena kehabisan waktu (draw).

"Yuu-nii, hari ini performamu buruk ya."

"Iya juga ya."

"Ayah, Yuu-nii kalau biasanya mainnya jauh lebih jago tahu."

"Hahaha, begitu ya."

Percakapan di antara mereka berdua sebagian besar dilakukan lewat perantara Asaka.

Bagi Asaka, karena keduanya adalah sosok yang sangat berharga, tidak ada alasan baginya untuk merasa sungkan atau canggung.

Kepolosan khas anak-anak seperti itu membuat kedua pria tersebut merasa iri.

"Sebentar ya, aku mau ke kamar mandi dulu."

"!"

"!"

Di saat inilah, sang perantara meninggalkan medan perang.

Asaka keluar kamar, meninggalkan kedua pria itu berduaan di tempat.

"..."

"..."

Ruangan itu mendadak terasa begitu berat, seolah-olah udara di sekitarnya dilebur bersama timah.

Walau berusaha mencari topik pembicaraan, jarak usia mereka berdua terlampau jauh bagaikan ayah dan anak.

Kalau dengan orang asing biasa mungkin masih mending.

Mau diabaikan atau mengabaikan, mereka bisa menganggapnya sebagai orang asing. Namun, ah namun, mereka berdua sudah saling kenal.

"..."

"..."

Momen tanpa percakapan seperti ini adalah hal yang paling mencanggungkan.

Kedua pria itu dalam hati berdoa memohon kembalinya Asaka secepat mungkin.

'Cepatlah, tolong selamatkan kami dari neraka ini secepatnya,' batin mereka berdua terhubung secara sinkron.

Satu menit telah berlalu sejak Asaka keluar kamar, namun bagi mereka berdua, rasanya sudah seperti satu jam berlalu.

Pada saat itulah, ponsel Hanayoshi berdering. Itu adalah nada dering lagu anime bernuansa nostalgia.

"...!"

"—Permisi. Ah, ternyata cuma email."

Padahal kalau telepon masuk, dia bisa menjadikannya alasan untuk beranjak dari tempat itu, batin Hanayoshi kecewa.

"..."

"...Anu."

"Ada apa?"

"Apakah Anda menyukainya?"

◇

"Maaf ya sudah menunggu."

Pemandangan yang menyambut Asaka saat kembali adalah sosok Arotsuki dan Hanayoshi yang sedang mengobrol dengan sangat akrab.

"Lagipula ya, lagu pembuka (opening) itu menurut saya paling masuk akal kalau dianggap sebagai propaganda pihak Federasi tahu."

"Ah, saya paham maksudnya. Ceritanya beda banget sama isi karyanya kan. Mana ada sisi keustusannya coba. Tapi ya, kalau bilang Zeon sepenuhnya benar, urusannya bakal beda lagi sih."

"Soalnya aksi pembantaian massal memang tidak bisa dibela ya. Ngomong-ngomong, Mobile Suit favoritnya Yuu-kun apa?"

"Kalau disuruh pilih nomor satu, jelas Gouf Custom sih."

"Kamu paham banget ya!"

"Saya suka yang kesannya realistis dan penuh perjuangan (dorokusai). Kalau Hanayoshi-san sendiri apa?"

"Kalau saya Z Gundam."

"Pilihan yang sangat klasik dan utama ya."

"Padahal kamu masih muda tapi kok langka banget suka Gundam. Mana alirannya abad Universal (Universal Century) lagi."

"Gara-gara pengaruh ayah saya, jadi dari kecil sudah suka."

"Kalau begitu, nanti bakal tak perlihatkan koleksi milikku ya."

"Beneran nih?"

"Yuu-nii, Ayah."

"Ooh, Asaka, kamu sudah kembali ya."

"Kalian lagi ngobrolin apa sih?"

"Soal bagaimana caranya agar manusia bisa saling memahami satu sama lain."

"Ha?"

Walau tidak begitu paham, melihat mereka berdua bisa akrab membuat Asaka merasa sangat senang.

"Ayo kita lanjutkan gimnya."

"Sip."

"Ooh."

Atmosfernya berubah drastis menjadi hangat dan menyenangkan dibanding sebelumnya.

Membayangkan hari-hari seperti ini akan terus berlanjut selamanya, Asaka merasa sangat amat senang.



Chapter 4 | ToC | Final Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close