Chapter
4
Saat
yang Semakin Mendekat
1
Mobil.
Benda itu adalah pilar utama yang menopang masyarakat manusia.
Mulai dari mobilitas harian dalam kehidupan umum, hingga perjalanan
jarak jauh dari pintu ke pintu yang tak mungkin sanggup ditempuh dengan kaki
telanjang, semuanya mampu diatasi dengan mudah oleh mobil.
Benda ini juga mengambil peran penting dalam mengangkut barang-barang
yang mustahil dipindahkan oleh tenaga manusia, benar-benar sosok yang memikul
tumpuan masyarakat.
Apakah kalian tahu bahwa ada orang-orang unik yang merasakan romantisme
pada mobil seperti itu?
Bagi mereka, mobil bukanlah sekadar alat yang dinilai dari kepraktisan
atau fungsinya semata.
Tentu saja hal-hal itu juga penting, tetapi yang paling mereka utamakan
di atas segalanya adalah Kecepatan dan Kesenangan.
Apakah rasanya menyenangkan saat dikendarai?
Apakah mobil itu bisa melaju lebih cepat dari milik orang lain?
Deru suara knalpot yang membara, getaran yang tersalurkan dari kemudi,
serta pemandangan sekitar yang bertransisi dengan sangat cepat.
Pria-pria yang terpesona oleh hal-hal tersebut akan kembali menjadi
angin hari ini, lalu melebur bersama jalurnya.
◇
"Loh,
Papa hari ini libur?"
Papa
sedang duduk santai di sofa ruang keluarga sambil merapikan rambutnya yang
dicat warna emas.
"Iya,
Miku. Mau Papa antar sampai sekolah?"
"Nggak usah, mobil Papa mencolok terus bising. Miku berangkat
dulu."
"Hati-hati di jalan!"
Papa
punya tiga mobil, tapi bagiku semuanya kelihatan sama saja. Yang membedakan cuma warnanya.
Ada yang putih, hitam, dan merah.
Anak-anak cowok di kelas juga banyak yang suka mobil, tapi jujur saja
aku tidak paham sama sekali di mana letak bagusnya.
Lagipula, semua mobil Papa itu bising, berguncang hebat, dan sempit.
Kualitas kenyamanannya benar-benar yang paling buruk.
"Uwaaaa, aku bisa terlambat!"
Suara gedebuk langkah kaki terdengar riuh dari arah tangga.
Kakak
berlari turun.
Mungin
karena lupa berganti pakaian, dia masih mengenakan piyama dengan poni yang
berantakan akibat bekas tidur.
"Haah. Kakak baru bangun sekarang? Dasar bodoh."
"Miku,
bising ah! Papa, hari ini antarkan aku ya!"
"Serahkan
pada Papa."
"Haah..."
Kakak
benar-benar tidak berubah, selalu saja ceroboh.
Saat
aku sedang memakai sepatu di pintu depan, terlihat bayangan seseorang di balik
kaca pintu, lalu bel berbunyi.
Siapa ya yang bertamu pagi-pagi begini?
"Miya,
makan dulu sarapanmu sana. Iya, sebentar!"
Mama
berjalan membukakan pintu.
Di
sana—
"Loh,
Yuu-kun."
Ada seorang paman berdiri di depan pintu.
◇
Jedanya musim hujan.
Matahari bersinar sangat terik di langit biru yang cerah tanpa awan.
Perpaduan antara udara pagi yang lembap dan paparan sinar matahari yang
menyilaukan terasa seperti gladi bersih dari musim panas yang kian mendekat.
Waktu
menunjukkan pukul delapan lewat tiga puluh menit pagi.
Hari
ini aku mengambil libur dan berkunjung ke rumah keluarga Haruyama sejak pagi
hari.
Beberapa
hari lalu, saat pesta ulang tahun Miya, aku mendapat kuliah berapi-api soal
mobil sport dari Tacchan.
Gara-gara itu, aku jadi mulai sedikit tertarik pada mobil sport.
Lagipula, untukku yang sama sekali tidak paham jenis mobil apa yang
bagus, Tacchan berencana membiarkanku mencoba mengendarai mobil-mobil miliknya
sebagai referensi dalam memilih mobil. Karena itulah aku datang ke sini sejak
pagi.
Saat sedang menunggu di ruang keluarga Haruyama, Tacchan yang baru saja
selesai mengantarkan Miya yang kesiangan pun pulang.
"Yuu,
maaf ya membuatmu menunggu."
Tacchan
membimbingku menuju garasi luar.
Di dalam garasi, tiga unit mobil berjejer rapi.
"Nih, lihat."
"Tacchan punya tiga mobil sekaligus ya."
Semuanya dipoles dengan sangat bersih dan kelihatan keren.
"Kamu
mau coba naik yang mana?"
"Hebat banget, ini mobil luar negeri ya?"
Itu adalah mobil atap terbuka (convertible) dengan lambang
kalajengking.
"Itu
mobil Italia buatan Hiroshima."
Maksudnya
bagaimana?
"Ah,
kalau yang ini aku pernah naik waktu kecil dulu."
"R34
ya. Kalau tidak salah, ini dibeli waktu kamu masih TK. Aliran waktu cepat
sekali berlalu ya."
Dulu aku sering duduk di kursi penumpang mobil ini dan diantar ke
berbagai tempat. Rasanya sangat dirindukan.
"Yang ini paling keren sih, bentuknya mirip G*ndam."
Itu adalah mobil Honda berwarna putih. Lambang merahnya terlihat sangat
menyatu dengan bodinya yang putih.
"Kalau
itu Civic. Ya sudah, ayo kita coba jalan-jalan sebentar."
Aku
naik ke kursi penumpang mobil Civic tersebut, lalu kami berkendara menuju
Gunung Fuji.
"Kamu
sudah memutuskan mau mobil yang seperti apa?"
"Belum.
Tapi syarat utamanya harus yang bisa memuat empat orang. Soalnya kalau ditambah
aku dan mereka bertiga, jumlahnya pas empat orang. Mobil atap terbuka agak
kurang cocok sih. Walau Ibu bilang lebih baik beli mobil minivan
saja."
Saat
musim panas tiba nanti, Asaka pasti akan pulang, jadi aku harus menyiapkannya
sebelum waktu itu tiba.
"Jangan
beli minivan, lupakan saja. Dengarkan ya, mobil yang tidak
punya opsi transmisi manual itu bukanlah mobil. Itu cuma kotak berjalan."
Masa sih...
"Berapa anggaranmu?"
"Tabunganku ada sekitar enam juta yen sih, tapi rasanya tidak bisa
langsung kukeluarkan semuanya."
Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dalam hidup, jadi aku
ingin menyisihkan uang tunai. Kalau bisa, aku ingin menekan
anggarannya di kisaran tiga juta yen saja.
"Dengar
ya, Yuu. Ini mungkin terdengar blak-blakan, tapi yang namanya mobil, semakin
banyak uang yang kamu keluarkan, semakin bagus juga barang yang kamu dapatkan.
Ini adalah pembelian besar yang mungkin cuma terjadi beberapa kali dalam seumur
hidup. Jangan berkompromi."
"Iya.
Ngomong-ngomong, kalau yang ini harganya berapa?"
"Kira-kira
lima juta yen lebih sedikit."
"Mahal
banget?"
"Tentu
saja, ini adalah Type R yang disuntikkan jiwanya Honda tahu?"
"Aku tidak begitu paham."
"Lagipula mobil ini muat empat orang. Nah, kalau begitu, sebentar
lagi..."
Tacchan meminggirkan mobilnya ke area bahu jalan.
"Gantian. Coba kamu yang setir."
"A-Ah, iya."
Aku berganti posisi dan duduk di kursi pengemudi.
"Nah,
mari kita lihat apa kamu bisa mengendarainya."
Tacchan
tersenyum jahil di sebelahku.
"Jangan
meremehkanku ya. Rem tangannya di mana?"
"Tombol
yang itu. Lalu, meskipun kamu melepas rem, mobil ini tidak akan meluncur mundur
seketika, jadi langsung saja tekan pedal gasnya."
"Ooh."
Tak
lama kemudian, mobil Civic itu mulai menanjak di jalanan miring sambil
mengaungkan suara mesinnya yang bergemuruh layaknya raungan binatang.
◇
Taichi benar-benar dibuat terperanjat.
Pengambilan jalur yang sempurna dengan basis out-in-out,
perpindahan gigi yang sangat pas, keberanian tanpa rasa takut saat melibas
tikungan, dan yang paling mengejutkan adalah kenyataan bahwa ini pertama
kalinya dia mengendarai mobil ini.
"He-Hei, Yuu. Kamu benar-benar tidak punya mobil sebelumnya?"
"Yah, waktu kerja di bagian pengiriman, aku memang menyetir setiap
hari sih."
Meski asyik mengobrol, kecepatannya sama sekali tidak berkurang, melaju
menembus lereng Gunung Fuji bagaikan angin.
"Tapi ya, karena tenggat pengiriman sangat mepet atau harus
mengurus komplain yang tidak masuk akal, aku selalu berusaha sekeras mungkin
supaya bisa sampai di tujuan secepat mungkin. Ahaha."
"Ah!"
Tepat
saat memasuki tikungan kiri, seekor rusa tiba-tiba melompat keluar dari hutan
sebelah kanan. Di jalur Fuji Skyline, hewan liar memang sering kali
muncul tiba-tiba.
"Hop!"
Dia menggeser bodi mobil ke arah luar secara instan untuk mengalihkan
timing benturan, lalu memulihkan posisinya dengan cepat dan melintasi bagian
belakang rusa yang menyeberangi jalan tersebut.
Itu adalah kejadian yang sangat tipis dan menegangkan.
Saat melihat ke belakang, rusa itu sudah melarikan diri ke dalam hutan
di seberang jalan.
"Ketinggian serendah ini ternyata masih ada rusa yang keluar
ya."
"Hei, bagaimana caramu membuat mobilnya melakukan drift
tadi? Civic ini kan sistem penggerak FF (Front-Engine,
Front-Wheel-Drive)?"
"Ditanya bagaimana juga... cuma pakai insting?"
"Yang benar saja..."
Hal ini benar-benar seperti...
Kenangan masa lalu yang merindukan kembali terbayang di dalam benak
Taichi.
Beberapa puluh tahun lalu, saat dirinya menghabiskan masa muda dalam
pertarungan yang membakar darah dan daging.
Mengingatkan pada sosok 'Serigala Putih dari Fuji' yang pertama kali
mengalahkan dirinya yang tak pernah tersentuh kekalahan, sebuah gaya menyetir
yang tidak terikat oleh akal sehat...
Gaya menyetir yang seolah-olah membuat mobil itu sendiri merasakan
kenikmatan dalam melaju.
Tacchan, bocah nakal yang dulu selalu mengekor di belakangnya ini,
ternyata mampu menunjukkan gaya menyetir yang luar biasa seperti ini.
Padahal dulu, kalau ditingkatkan kecepatannya sedikit saja, dia bakal
menangis dan menjerit-jerit di kursi penumpang.
Mobil dihentikan di area parkir Taman Mizugazuka yang berada di
tengah-tengah jalur Fuji Skyline untuk beristirahat.
Itu adalah area parkir luas yang menyajikan pemandangan kawah Gunung
Hoei di hadapan mereka.
"Hei,
Yuu."
"Hm?"
"Mobil
ini, mau kubeli seharga satu juta yen saja?"
"Eh...
Eh!?"
"Ini
hadiah kepulanganmu dariku."
"Tapi kan, mobil ini harganya lima juta yen kan? Apa
tidak apa-apa?"
"Tidak
apa-apa. Lagipula, apa mengendarainya terasa menyenangkan?"
"Iya."
"Kalau
begitu bagus. Rawat baik-baik ya."
"...Tacchan,
terima kasih banyak."
Arotsuki
Yuu mendapatkan mobil Civic Type R [FK8].
2
Memasuki
bulan Juli, wilayah Tokai menyambut akhir musim hujan sedikit lebih cepat dari
tahun-tahun sebelumnya.
Langit
biru yang menyegarkan membentang tanpa batas, dan Gunung Fuji yang telah
menanggalkan selimut saljunya tampak menatap ke arah kota.
Kelembapan
udara yang mengganggu hingga kemarin telah lenyap, digantikan oleh paparan
sinar matahari yang cerah menyengat kulit.
Kota
secara alami kembali bergairah, memberikan pertanda datangnya musim panas bagi
hati orang-orang yang sempat mengendap akibat hujan yang berkepanjangan.
Namun
di tengah berakhirnya musim hujan yang telah dinanti-nanti ini, ada dua orang
aneh yang justru memendam perasaan murung...
◇
"Haah."
Aku
menghela napas.
"Mahhi,
kamu tidak berangkat? Nanti makin ramai lho?"
"Ah,
iya. Sekarang aku berangkat."
"Akhirnya kita bisa berenang ya. Dari pagi aku sudah tidak sabar
lho."
"Masa
sih."
Akhirnya
hari ini tiba juga ya.
Harusnya
sampai liburan musim panas nanti hujan terus saja tidak apa-apa padahal.
Aku
menatap tajam ke arah matahari yang bersinar terlalu cerah hingga terasa
menyebalkan, lalu melangkah berat menuju ruang ganti. Kain tipis ini terasa
sangat berat bagaikan baju zirah.
"Ayo
berangkat, Mahhi."
"Ayo."
Aku memantapkan hati dan melangkah menuju kolam renang.
"Hei,
lihat tuh."
"Bahaya
banget."
"Bisa
kelihatan menonjol dari balik punggung begitu, seberapa besar sih
ukurannya?"
"Serasa
lihat Mama."
Haah,
tatapan anak-anak cowok benar-benar menyebalkan.
Lagipula
kenapa sih pelajaran berenang harus digabung sama anak cowok?
Aneh
banget kan.
Walau
judulnya baju renang sekolah, harus memakai pakaian renang di depan anak cowok
itu rasanya malu setengah mati.
Ini
benar-benar neraka.
Aku
berencana bersembunyi di balik tubuh siswi lain untuk menghalangi pandangan
mereka.
Namun,
karena aku yang paling tinggi, bagian dadaku tetap tidak bisa tertutup dengan
pas, jadi strategi ini kurang efektif.
Kalau
Gunung Fuji di sana mendadak meletus sekarang, apa pelajaran berenang ini bakal
dibatalkan ya?
"Kamu
kenapa, Mahhi?"
"Nggak
ada apa-apa, cuma mikir kalau Gunung Fuji meletus kira-kira bakal gimana
ya."
"Menurut
penelitian terbaru, katanya aliran awan panasnya bakal mengalir ke arah
Yamanashi, jadi daerah sini harusnya aman."
"Oh,
begitu ya."
"Daripada
itu, gempa bumi Tokai malah yang lebih menakutkan ya."
Setelah
melakukan pemanasan, kami melompat ke dalam kolam renang.
Yah,
karena aku sendiri memang suka berenang jadi tidak masalah sih—
"Uwaah,
kayak pelampung saja."
"Nggak
kuat lihatnya."
"Serasa
ada Mama."
"Bisa
berenang nggak sih kalau ukurannya segitu?"
Ah
elah, aku bisa dengar tahu.
"Baiklah,
hari ini kita bakal ambil nilai gaya bebas. Berbaris sesuai kelas
masing-masing!"
Aku
naik ke tepi kolam renang dan menunggu giliran.
"Berikutnya,
Ryuseki!"
Hari
itu, dibantu oleh kekesalanku, aku berhasil memecahkan rekor tahun lalu secara
signifikan.
◇
"Uhh,
berenang ya..."
"Haruyama-san,
tahun ini berjuanglah supaya bisa berenang 25 meter ya."
Kata
guru padaku.
"Baik."
Kalau
sekadar bermain di kolam renang aku suka, tapi kalau sudah masuk pelajaran
berenang, urusannya beda jauh. Pasalnya, aku tidak bisa berenang.
Yang paling sulit adalah mengambil napas.
Aku paham teorinya, yaitu menghembuskan napas di dalam air lalu
mengambil napas begitu wajah muncul ke permukaan air, tapi praktiknya tidak
pernah berjalan lancar.
Lagipula manusia itu mahluk yang hidup di daratan, jadi tidak butuh
kemampuan berenang tahu.
"Kalau begitu berikutnya, Haruyama-san."
"I-Iya!"
Peluit guru berbunyi nyaring, dan aku melompat ke dalam kolam renang.
"Blub, blub."
Aku mengepakkan kaki dan menggerakkan tangan setengah mati, tapi sama
sekali tidak ada tanda-tanda tubuhku bergerak maju.
"Haruyama-san tahun ini tenggelam lagi tuh."
"Imutnya."
"Pengin rasanya mengajarinya secara langsung dari dekat."
"Walau tidak sebesar Ryuseki, punya Haruyama juga lumayan besar
ya."
"Puuha!"
Pada akhirnya napasku tidak kuat, dan aku terpaksa berhenti di jarak
sepuluh meter. Uwaah, semuanya memperhatikan, malu banget.
"Haruyama-san, tidak apa-apa kalau kakinya memijak dasar kolam di
tengah jalan, yang penting selesaikan sampai ujung ya."
"I-Iya!"
Setelah itu, dengan berkali-kali memijakkan kaki ke dasar kolam, aku
berhasil menyelesaikan jarak 25 meter dengan berenang—atau lebih tepatnya
berjalan(?).
"Haah, fuuh."
Tapi kalau begini, aku bakal kena remedial lagi dong.
◇
—Kamar
Yuu-nii.
Hari
ini klubku dan Miya sama-sama libur, jadi kami pulang bersama. Tentu saja,
tujuan kami bukanlah rumah sendiri melainkan 〈Moon
Night Terrace〉.
"Haah."
"Haah."
"Kenapa
sih kalian berdua pakai menghela napas segala?"
Tanpa
tahu perasaan kami, Yuu-nii memasang raut wajah polosnya seperti biasa.
Aku merebahkan diri di atas tempat tidur.
"Nggak kok, cuma... ah, itu loh, sebentar lagi kan ada ujian akhir
semester sebelum liburan musim panas."
"Benar benar, jangan dipikirkan."
"Suram banget sih... Ah benar juga, bagaimana kalau kita
jalan-jalan naik mobil buat menyegarkan pikiran?"
Dengan
wajah bersemangat, Yuu-nii mengambil kunci mobilnya.
"Ngomong-ngomong,
Yuu-nii katanya sudah beli mobil ya?"
Kalau
tidak salah, katanya mobil itu didapat dengan harga sangat murah dari ayahnya
Miya. Paling dia cuma ingin menyetir sendiri saja, iya kan.
"Katanya Papa yang memberikan mobil itu."
"Aku belinya pakai uang kok. Nah nah, cepat bersiap kalian
berdua."
Sambil didesak oleh Yuu-nii, kami keluar ke luar rumah.
Di dalam garasi yang berada di bagian dalam area parkir seberang toko,
terparkir dua unit mobil.
Mobil Toyota yang tampak berumur adalah milik paman, sedangkan mobil
Honda di sebelahnya sepertinya adalah mobil milik Yuu-nii.
"Ooh, keren juga."
Desain mobilnya agak ramai, benar-benar tipe desain yang bakal disukai
anak cowok.
"Keren
kan?"
"Kalau
begitu, permisi."
Saat
aku hendak membuka pintu kursi penumpang—
"Tunggu
dulu!"
Miya
berteriak.
"Apaan
sih."
"Aku
juga mau duduk di kursi penumpang!"
"Siapa
cepat dia dapat tahu."
"Kalian berdua jangan meributkan hal sepele begitu dong. Nanti pas
pulang giliran Miya yang duduk di depan kan bisa."
"Uuh, mau bagaimana lagi, aku setuju deh kalau begitu."
Yuu-nii
mulai melajukan mobilnya. Profil samping wajahnya terlihat sangat polos seperti
anak kecil.
Masuk
ke jalan pintas, kami melaju ke arah barat laut menyusuri Jalur 139.
Jam-jam
segini cukup padat karena banyak orang yang baru pulang kerja, tapi makin
menjauh dari area perkotaan, jumlah kendaraan berangsur-angsur mulai berkurang.
Matahari
menetap di langit barat, menyinari Gunung Fuji hingga warnanya berubah menjadi
merah membara akibat terpaan sinar senja.
"Yuu-nii,
kita mau pergi sampai mana?"
Miya
bertanya dari kursi belakang.
"Gimana
ya, coba kita pergi sampai daerah Motosu saja kali ya."
Lalu mobil yang mengangkut kami bertiga pun melaju pesat.
◇
"Uwooh, luas banget!"
Mahiru berseru kagum.
Danau Motosu membentang luas memenuhi pandangan kami.
Sebuah kapal yang menyerupai kapal selam kuning terapung di tepi pantai
sebelah kiri, dan permukaan danau yang sangat luas itu membendung pemandangan
hingga wujud utuhnya tidak bisa tertangkap sepenuhnya.
Di seberang danau terdapat gunung besar yang berdiri kokoh, tampak
bagaikan seorang raksasa yang sedang berbaring.
"Apakah itu burung elang?"
Aku menengadah ke arah langit. Terlihat seekor burung besar merentangkan
sayapnya, terbang melintasi langit yang berwarna jingga kemerahan.
"Bukan, itu burung elang bondol kan?" sahut Yuu-nii.
"Suaranya Gak-gak begitu, pasti burung gagak lah. Daripada
itu..."
Tanpa
kusadari Mahiru sudah melepas sepatu dan kaus kakinya.
Dia
melangkah masuk ke area air dangkal, memercikkan air sambil menghentakkan
kakinya di tempat.
"Uwah, dingin banget!"
Mahiru enak ya. Sifatnya dari dulu tidak berubah, wataknya bebas dan
ceria, jadi walau bertingkah seperti anak kecil pun tetap kelihatan alami.
Sedangkan aku, walau ingin bertingkah seperti itu juga, aku selalu
khawatir bakal membuat Yuu-nii ilfil dan menganggapku "kayak anak kecil
saja", jadinya aku susah untuk melakukannya.
Tapi, kalau jarak hubungan kami tetap kaku seperti sesama orang dewasa
saja, rasanya ada bagian dari diriku yang merasa kesepian...
"Baiklah,
kita juga ikut, Miya!"
"Eh?"
Sebelum
kusadari Yuu-nii juga sudah bertelanjang kaki.
"Uwooh,
dingin banget! Tapi rasanya segar!"
"Miya
juga sini!"
Melihat
mereka berdua yang bersenang-senang seperti masa kecil dulu, aku menyadarinya.
Aku,
Mahiru, Asaka, Yuu-nii. Di dalam hubungan kami berempat,
tidak ada hal yang perlu disegani.
Tentu saja, terkadang aku ingin sedikit bergaya sok dewasa, tapi
kalaupun aku menumpahkan diriku yang apa adanya, Yuu-nii pasti akan menerima
semuanya.
"Mau
bagaimana lagi ya."
Aku
pun ikut bertelanjang kaki. Sebenarnya dari tadi aku sudah gatal ingin ikut
berbuat hal yang sama. Aku berlari menuju ke arah mereka berdua—
"—Uwaa!"
Saat
kakiku menyentuh air, kakiku tersandung pasir hingga membuatku meluncur jatuh
secara frontal ke arah permukaan air. Aku sudah bersiap-siap bakal basah kuyup,
tetapi dengan cepat Mahiru dan Yuu-nii mengulurkan tangan mereka untuk menopang
tubuhku, sehingga tepat di detik-detik terakhir aku berhasil selamat tanpa
basah sedikit pun.
"Haah,
selamat. Terima kasih ya kalian berdua."
"Miya
benar-benar tidak berubah, selalu saja ceroboh."
Mahiru
tertawa.
"Kamu
dari dulu memang tidak pernah berubah ya." sahut Yuu-nii.
"Muu."
Sebenarnya
seperti apa sih bayangan posisiku di dalam benak mereka berdua...
3
Malam bertabur bintang tanpa secuil awan pun.
Saat aku mendongak menatap langit dari jendela kamar asrama, lautan
bintang bersinar terang.
Musim
hujan telah usai, dan musim panas sudah berada di ambang pintu.
Pertemuan
pertamaku dengan orang itu juga terjadi di awal musim panas.
Kala
itu, aku diajak oleh Miya-chan dan pergi mengunjungi 〈Moon Night Terrace〉 bersama Mahiru-chan. A
walnya
aku merasa sedikit takut, tapi rasanya seperti memiliki seorang kakak
laki-laki, sungguh hal yang sangat segar.
Jika
dipikir-pikir kembali sekarang, Yuu-nii pasti sangat kerepotan karena harus
menemani kami hampir setiap hari di tengah kesibukannya menghadapi tahun ketiga
SMA.
Ada
kalanya kami berulah keterlaluan dan malah merepotkannya.
Meskipun
begitu, Yuu-nii tidak pernah menolak atau menjauhkan kami, melainkan tetap
memperlakukan kami dengan lembut meskipun terkesan ketus.
"...Yuu-nii."
Saat
itu, suara ketukan pintu bergeming memecah keheningan. Saat kubuka, ternyata
itu adalah teman sekelasku, Tenryuuji-san.
"Gendoji-san. Kami mau ngeteh bareng, apa Gendoji-san mau
ikut?"
"...Aku
ikut."
Berkumpul
di ruang santai, menikmati waktu minum teh malam hari bersama teman-teman
sekolah.
Menghabiskan
malam yang sunyi lewat obrolan ringan ditemani teh yang lezat bersama teman
sekolah pastilah menjadi momen yang sangat berharga.
Harusnya
memang begitu, seharusnya hal itu terasa berharga.
Namun
semakin indah kenangan itu kurasakan, kenyataan justru tampak semakin pudar.
Bukannya
membosankan, tapi jika dibandingkan dengan masa-masa itu, segala hal seolah
kehilangan maknanya.
Masa
kanak-kanak yang takkan pernah bisa dialami untuk kedua kalinya.
Padahal
dulu aku begitu ingin cepat-cepat menjadi dewasa, tapi begitu menyadari bahwa
masa lalu itu tidak bisa diulang, aku justru malah meratapi sisa bayang-bayang
masa lalu tersebut.
Tuhan
itu kejam.
Kenapa
masa paling menyenangkan dalam hidup ini harus ditaruh di permulaan hidup?
Bukankah
ini sama saja seperti sebuah kutukan?
Aku
pasti akan menjalani sisa hidupku yang panjang ini sambil terus dibelenggu oleh
kenangan.
"Terus
ya, kan Shinomiya-san bilang belum pernah minum Cola, jadi kami suruh
dia coba. Hasilnya wajahnya langsung merah padam."
"Begitu
ya."
"Wah,
repot banget tahu. Orang-orang pada berkumpul, sementara Shinomiya-san dengan
mata berkaca-kaca meminta nambah lagi."
"Kerdengarnya
seru ya."
"Seru
sih seru, tapi—lalu..."
Tak
lama kemudian, jam malam hampir tiba dan pertemuan itu dibubarkan.
Setibanya
di kamar pribadi, aku membasuh keringat di kamar mandi yang tersedia, lalu
berendam di dalam air hangat.
Selesai
mandi sekitar satu jam, saat sedang menikmati susu kedelai rasa kopi, ponselku
berdering. Layar ponsel menampilkan nama Ayah.
"Halo."
"Asaka
ya?"
"Ayah,
selamat malam."
"Bagaimana
kabarmu?"
"Seperti
biasa."
Sejak
awal tahun ini Ayah meninggalkan Jepang dan pergi melakukan perjalanan dinas
luar negeri jangka panjang.
Aku
tidak begitu tertarik dengan topik itu jadi tidak tahu detailnya, tapi
sepertinya Ayah sibuk mengurus rapat pemindahan pabrik cabang Vietnam, serta
inspeksi pabrik baru yang akan didirikan.
"Begitu
ya. Ngomong-ngomong, aku dengar-dengar Yuu-kun sudah pulang, ya?"
"Eh!
Sepertinya begitu ya."
Ayah
dan Yuu-nii sepertinya memiliki hobi yang sama, sepuluh tahun lalu pun mereka
tampak akrab.
Mengingat
kembali kenangan lama. Kalau tidak salah, pertemuan mereka berdua adalah... ah
benar, saat kami bermain gulat—
"Padahal
enak kalau dia memberitahumu. Sudah sepuluh tahun ya, wah sungguh bikin
bernostalgia. Apa Asaka sudah bertemu dengannya?"
"Belum."
"Oh,
begitu ya? Agak mengejutkan sih... Kalau begitu pas sekali."
"Apa
maksudnya?"
Katanya
dia pulang sekitar seminggu yang lalu, jadi mungkin saat itulah Ayah juga baru
tahu soal kepulangan Yuu-nii.
"Begini,
itu, anu. Aku berpikir bagaimana kalau nanti kita bertiga makan bersama. Aku
sepertinya bisa meluangkan waktu di sekitar akhir pekan ini. Jadi akhir pekan
ini pulanglah ke sini ya. Pasti ada banyak hal yang ingin kalian obrolan, dan
Asaka kan sudah sangat ingin bertemu dengan Yuu-kun—"
"...Tidak
perlu."
Aku
memotong perkataan Ayah.
"Eh?"
"Soal
ujian masuk sekolah lanjutan, masa-masa sekarang ini aku sedang sibuk dengan
berbagai hal."
"Ujian
masuk? Bukankah kamu sudah memutuskan untuk jalur rekomendasi internal? Dengan
nilai Asaka selama ini, asal mencukupi syarat kehadiran, bukankah jalur
rekomendasi itu sudah pasti aman?"
"Pokoknya
tidak usah. Lebih dari itu, akhir pekan ini biarkan aku menggunakan vila di
Shonan ya."
"Eh? Tidak pulang ke Fujinomiya sini?"
"Aku tidak punya rencana pulang. Aku akan
menghabiskan liburan musim panas di Shonan."
"T-Tunggu,
Asaka—"
"Permisi."
Aku
mematikan sambungan telepon, lalu melempar ponselku begitu saja ke atas tempat
tidur.
Wajah
Yuu-nii terbayang di dalam benakku.
Senyuman
yang amat kucintai.
"Yuu-nii..."
Kenapa
kamu membiarkanku sendirian selama sepuluh tahun?
Padahal
kalau saja kamu ada di sisiku, aku pasti bisa terus menjalani hidup dengan
bahagia sampai sekarang.
Selama
sepuluh tahun ini, aku terus merindukanmu...
Ponselku
berdering sekali lagi.
Layar
ponsel menunjukkan nama 'Ryuseki Mahiru'.
"...Halo."
"Halo?
Asaka?"
Suara
yang energetik terdengar.
"Mahiru-chan?
Ada apa?"
"Abisnya,
aku tiba-tiba kangen ngobrol sama Asaka."
Mahiru-chan
adalah sosok yang selalu menyatukan kami bertiga sejak sepuluh tahun lalu.
Meskipun
usia kami sama, dia bagaikan sosok kakak perempuan yang memimpin kami.
"Katanya kamu datang ke ulang tahun Miya ya? Aku juga
pengen ketemu kamu."
"...Maaf
ya. Besoknya aku harus sekolah."
"Mau
gimana lagi dong. Oh ya, ngomong-ngomong, Yuu-nii juga kangen lho sama
kamu."
"!"
Rasa sakit yang menusuk menjalar di lubuk hatiku.
"Nanti
pas liburan musim panas tiba, Asaka juga pulang kan? Ayo kita berkumpul
bersama-sama. Oh iya, Yuu-nii baru saja beli mobil lho. Terus ya..."
Menghadapi
Mahiru-chan yang bercerita dengan antusias, aku hanya bisa memberikan tanggapan
samar-samar.
Musim
panas.
Musim
panas saat hubungan antara pria itu dan kami berdua bermula.
Musim
panas akan segera datang.
◇
Sambungan
teleponnya diputus begitu saja.
Hanayoshi
menatap layar ponselnya, mencoba mencari tahu maksud sebenarnya dibalik ucapan
dan tindakan putrinya barusan.
Asaka
di dalam lubuk hatinya yang paling dalam tentu saja ingin bertemu. Bukankah
Hanayoshi sudah sering melihat Asaka yang tampak kesepian selama sepuluh tahun
ini.
Meskipun
begitu, sikap dingin yang sama sekali tidak memberi celah barusan itu
sebenarnya...
...!?
Begitu
ya, dia pasti merasa malu.
Sepuluh
tahun lalu, dia adalah sosok yang sangat diandalkan dan dipanggil
"Yuu-nii, Yuu-nii" bak kakak kandung sendiri.
Sekarang,
setelah sepuluh tahun berlalu dan tumbuh dewasa baik secara fisik maupun
mental, sama sekali tidak aneh jika dia merasa salah tingkah.
Hubungan
mereka telah berubah dari anak-anak dan pelindungnya, menjadi pria dan wanita.
Begitu ya, jadi begitu rupanya.
Berpura-pura tidak tertarik padahal sebenarnya ingin bertemu, apakah
jiwa gadis remaja Asaka akhirnya mulai terpupuk juga?
Bahkan jika disingkirkan dari kacamata seorang ayah yang bias, Asaka
saat ini sama sekali tidak berlebihan jika disebut sebagai siswi SMA tercantik
nomor satu di Jepang.
Meskipun begitu, hingga saat ini belum ada satu pun laporan bahwa dia
punya pacar, yang berarti dia pasti masih memikirkan pria itu sampai sekarang.
Meskipun begitu, kenapa dia malah menunjukkan sikap seperti itu,
sungguh, masa pubertas memang selalu menyusahkan karena tidak pernah jujur.
Dulu aku juga pernah mengalami masa-masa seperti itu, batin Hanayoshi
mengenang kembali memori masa remajanya.
Sengaja berbuat usil pada gadis yang disukai, atau pura-pura tidak
peduli demi menjaga jarak, tindakan kekanak-kanakan dan tidak bermakna seperti
itu juga merupakan salah satu halaman berharga dari kenangan.
Mau bagaimana lagi. Kalau begitu, sebagai seorang ayah, biarkan aku
turun tangan membantu putriku tersayang.
"Fuffuffu."
Begitulah, Gendoji Hanayoshi membuat kesalahpahaman yang sangat besar.
4
Ujian akhir semester, rintangan terakhir yang menghalangi para murid
yang menantikan liburan musim panas.
Seperti biasa dan sudah sewajarnya, aku dan Mahiru memutuskan untuk
bersemangat belajar untuk ujian di 〈Moon Night Terrace〉.
Karena permainan tebak nama sudah selesai, kami sebenarnya bisa saja
naik ke kamar Yuu-nii, tapi kamar itu tidak punya AC jadi niat itu kami
urungkan.
Berpikir bahwa liburan musim panas yang menyenangkan menanti di ujung
ujian ini, membuatku sanggup bertahan.
Yah, kenyataannya sih dengan persiapan ujian masuk sekolah, aku tidak
akan bisa bebas bermain sepuasnya juga.
Meskipun
begitu, musim panas tahun ini ada Yuu-nii.
Seperti
masa-masa itu, kami bisa kembali bermain sepuasnya berempat.
Lalu,
hari Sabtu terakhir sebelum ujian.
"Eh?
Ngomong-ngomong, di mana Yuu-nii?"
Sosok
Yuu-nii tidak terlihat di dalam toko.
Karena
dia sudah tidak ada sejak kami masuk ke dalam toko, aku tadinya mengira dia
sedang mengambil jam istirahat, tapi sepertinya bukan begitu.
"Bibi,
di mana Yuu-nii?"
"Yuu sedang libur untuk hari ini dan besok."
"Dia
sedang pergi?"
Mahiru
bertanya.
"Katanya
dia pergi ke Shonan untuk menemui Asaka-chan."
"Hee."
"Huu,
kalau urusannya sama Asaka sampai repot-repot pergi ke luar prefektur ya."
Waktu
giliranku dulu, aku bahkan ditelantarkan selama kurang lebih tiga bulan.
"Miya,
rasa cemburumu kelihatan lho."
"Bukannya
cemburu ya. Ini murni pertanyaan penasaran. Yah, terlepas dari itu, Asaka pasti
bakal kaget banget ya."
Asaka
sempat datang ke pesta ulang tahunku, tapi waktu itu dia pulang sebelum sempat
bertatap muka dengan Yuu-nii.
Yuu-nii
juga ingin bertemu dengannya, dan Asaka pasti juga ingin bertemu dengannya.
Sepuluh
tahun lalu, Asaka adalah anak yang paling suka menempel pada Yuu-nii, kan?
Aku
dan Mahiru sibuk mempermainkan Yuu-nii, sementara Asaka kuingat terus mengekor
di belakang Yuu-nii dengan langkah kecil-kecil.
"Kemarin
lusa Gendoji-san menghubungi kami. Katanya akhir pekan ini Asaka-chan menginap
di vila Shonan, jadi dia minta tolong apakah Yuu bisa dibawa ke sana sebagai
kejutan."
"Begitu
ya."
"Pas
sekali Yuu baru saja beli mobil dari Taichi-kun, jadi kurasa situasinya sangat
pas dan nyaman."
"Kira-kira
apakah 'Petir Shonan' itu baik-baik saja ya?" gumam Paman, tapi karena
maknanya tidak jelas jadi tidak ada yang merespon.
"Makanya
kalian berdua juga tolong rahasiakan ini dari Asaka-chan ya."
"Baiklah."
"Paham."
Begitu
ya, kalau tiba-tiba Yuu-nii datang berkunjung, Asaka pasti bakal terkejut
sekaligus senang.
"Asaka
pasti kaget banget. Waktu hari perpisahan dulu dia nangis kencang banget
lho."
"Miya
juga nangis kali."
"Mana
ada, Mahiru juga nangis kan."
"Aku
nggak nangis."
"Nangis."
"Itu
cuma keringat. Keringatku keluar dari mata."
"Monster
macam apa itu?!"
Kalau
nanti dia bertemu Yuu-nii setelah sepuluh tahun—apalagi lewat kejutan—kira-kira
bagaimana reaksi Asaka ya?
Aku bisa menebak garis besarnya, dia pasti bakal nangis histeris.
Aku ingin kami berempat segera berkumpul.
Demi mewujudkannya, pertama-tama aku harus melewati ujian ini.
"Paman,
es kopi satu lagi."
"Kalau
aku Cola Float."
Hari
itu kami belajar sampai tubuh terasa lemas kelelahan.
◇
Berdiri termenung di tepi jendela vila sambil memandangi laut.
Cuaca cerah yang begitu menyenangkan.
Rambutku
tersapu oleh terpaan angin laut.
Sekalipun
dihadapkan pada pemandangan seindah ini, hatiku rasanya justru seperti
tenggelam di dasar lautan yang paling dalam.
Aku
tiba-tiba memikirkan, apa yang akan terjadi setelah seseorang meninggal dunia?
Karena dunia ini tidak bisa dibalikkan, dunia setelah mati tidak akan pernah
diketahui sebelum seseorang mengalaminya sendiri.
Apakah
kita akan terlahir kembali menjadi orang yang sepenuhnya berbeda, ataukah tidak
ada apa-apa alias dunia hampa setelah mati, ada juga teori yang mengatakan kita
mengulang kehidupan yang sama atau terlahir kembali menjadi makhluk selain
manusia.
Ada
banyak interpretasi sebanyak imajinasi manusia.
Aku
tadinya tidak bisa memahami orang-orang yang mencari keselamatan pada kematian,
tapi belakangan ini aku merasa mulai bisa memahami perasaan mereka.
Seandainya
kita mengulang kehidupan yang sama...
Aku
bisa terlahir kembali sebagai Gendoji Asaka, dan bertemu Yuu-nii di musim panas
kelas satu SD.
Memikirkan
hal itu, kurasa semangatku perlahan-lahan mulai bangkit kembali.
Benar,
jika kita mengulang kehidupan yang sama secara terus-menerus tanpa batas,
bukankah itu berarti aku bisa bertemu Yuu-nii tanpa batas pula?
Kenangan yang begitu gemilang itu secara tak terbatas...
"Yuu-nii..."
Aku mengambil bingkai foto. Saat menatap foto yang kami ambil berempat,
air mata tiba-tiba tulus menetes.
Apakah aku bisa bertemu dengannya lagi?
◇
Sebuah mobil Civic melaju di jalan tol Tomei.
Di bawah langit biru tanpa awan, mobil Civic berplat nomor Fuji itu
melesat membelah jalan dengan kecepatan penuh.
"Hop!"
Membaca arus lalu lintas, melakukan pergantian jalur yang tepat secara
berulang untuk menghindari kemacetan.
Hal yang paling harus diwaspadai adalah truk-truk yang menghalangi jalur
menyusul.
Jika truk-truk itu menutupi jalur kiri dan kanan secara bersamaan, itu
akan membuang waktu yang sangat banyak.
Selain itu, aku juga harus berhati-hati terhadap mobil patroli polisi
berkedok sipil (unmarked police car).
Aku harus ekstra waspada terhadap sedan Suzuki yang jalannya aneh-aneh
lambat.
Berbekal teknik dan insting menyusuri jalan dua jalur dengan kecepatan
maksimal yang kupupuk semasa bekerja di perusahaan hitam, sepertinya aku bisa
tiba lebih cepat dari jadwal.
Di tengah perjalanan, aku sempat dipepet oleh sebuah coupe berwarna biru
tua, tapi entah sejak kapan mobil itu sudah menghilang. Karena aku
tidak ingat disusul, dia pasti sudah keluar di salah satu IC.
"Sudah
mau sampai ya."
Waktu
hampir menunjukkan pukul dua belas siang. Aku memutar kemudi dan keluar dari
jalan tol melalui IC Hadano-Nakai.
Memasuki
area perkotaan, aku memarkirkan mobil di minimarket terdekat. Istirahat
sebentar.
"Umm."
Turun
dari mobil, saat aku meregangkan tubuh, suara kertakan tulang terdengar dari
berbagai bagian tubuhku.
"Guaah,
pegal banget."
Karena
aku menyetir mobil seharian sejak pagi, bagian punggung hingga pinggangku
terasa sangat lelah.
Sudah
lama sekali aku tidak menyetir selama ini.
Entah
kenapa jadi teringat masa-masa saat bekerja di perusahaan hitam, membuatku
merasa sedih.
Waktu
itu hari-hariku dihabiskan untuk melakukan pengiriman dari pagi sampai malam.
Tidak
ada waktu untuk tenggelam dalam hobi, bahkan tenaga pun tidak tersisa untuk hal
semacam itu.
Makan,
tidur, bekerja, makan, tidur, bekerja secara berulang...
Di
dalam neraka yang tak berujung, indraku lambat laun menjadi tumpul, hari-hari
dihabiskan hanya untuk mengerahkan seluruh tenaga demi memenuhi target harian.
Kesadaranku
hanya terpusat pada bagaimana agar tidak dimarahi, dan bagaimana cara agar
tidak menumpuk stres.
Meskipun
aku berusaha bertahan dengan menjadikan kenangan bersama para bocah nakal
sebagai sumber tenaga, pada akhirnya tubuhku tumbang, dan melalui waktu untuk
merenungkan kembali jalan hidupku, pilihan untuk mengundurkan diri akhirnya
masuk ke dalam pandanganku.
Aku
benar-benar bodoh karena sempat salah mengira bahwa menahan penderitaan adalah
bentuk dedikasi kerja.
Sungguh,
harusnya aku berhenti lebih cepat saja.
...Ah
tidak-tidak, aku kan mau bertemu dengan Asaka sebentar lagi, kenapa malah
memikirkan hal-hal suram begini.
"Hm?"
Ponselku yang berada dalam mode senyap bergetar menandakan adanya
panggilan masuk.
"Ya,
halo."
"Yuu-kun
ya?"
"Ah,
halo-halo."
Itu
Hanayoshi-san.
"Kira-kira
sebentar lagi sampai?"
"Ya,
mungkin sekitar dua puluh menit lagi."
"Asaka
sudah sampai lebih dulu, jadi langsung saja datang ke sana ya. Aku sendiri
berencana menyusul sekitar sore hari."
"Baik."
"Asaka
itu ya, sekarang dia sudah tumbuh menjadi gadis cantik jelita, jadi jangan
sampai kamu terkejut sampai lemas ya."
"Hahaha."
Ayah
yang berlebihan.
"Kalau
begitu, sampai nanti ya."
"Baik."
Pembicaraan
tentang apakah aku mau memberikan kejutan pada Asaka dibahas oleh Hanayoshi-san
sejak dua lusa lalu.
Asaka
yang bersekolah di SMA swasta khusus perempuan di Kanagawa sepertinya jarang
memiliki kesempatan untuk pulang ke Shizuoka, dan benar saja, selama hampir
tiga bulan sejak kepulanganku, sepertinya dia tidak pernah pulang kecuali saat
ulang tahun Miya.
Karena
pihak sana tidak bisa pulang, maka pihak sinilah yang akan pergi menemui dan
mengejutkannya, bisa dibilang ini adalah rencana semacam acara kejutan.
Tepat
di akhir pekan minggu ini, Asaka berencana menghabiskan waktu di vila keluarga
Gendoji yang ada di Shonan, dan aku akan muncul di sana sebagai kejutan untuk
membuatnya terkejut.
"Kukkukku."
Nah,
kira-kira seperti apa ya pertumbuhan Asaka sekarang?
Apakah
suasananya berubah drastis seperti Miya, ataukah tetap sama persis seperti masa
bocah nakal dulu seperti Mahiru...
Tidak
mungkin, khusus untuk Asaka, mustahil kalau dia sampai berubah menjadi gadis gal
atau yankee, tapi ya, anak-anak yang dulunya pendiam justru sering
kudengar malah jadi tampil mencolok setelah dewasa.
Harapan
dan kecemasan memenuhi dadaku.
Setelah makan siang dengan bento minimarket, aku kembali melajukan
mobil mengikuti panduan navigasi mobil.
Tujuan alamat yang diberitahukan Hanayoshi-san sudah tidak jauh lagi.
Ngomong-ngomong, ini adalah pertama kalinya aku datang ke Prefektur
Kanagawa.
Sampai masa SMA aku tinggal di Shizuoka, dan setelah menjadi pekerja
kantoran pusat kehidupanku ada di Tokyo, tapi aku tidak pernah sekalipun
mengunjungi Kanagawa yang terletak di antaranya.
Saat berpindah pun aku selalu sekadar melintasinya saja, jadi kupikir
nanti setelah bertemu kembali dengan Asaka, aku mungkin akan mengajaknya
jalan-jalan sekalian berwisata.
Saat
membuka jendela, aroma laut mulai tercium masuk.
"Biru
yang indah."
Melirik
ke arah laut, aku berkendara menyusuri jalan di sepanjang pesisir pantai.
Ini
benar-benar musim panas.
Sinar
matahari yang masuk dari jendela terasa sangat terik, membuat salah satu
lenganku rasanya bakal terbakar matahari.
Musim
buka pantai sepertinya sudah dimulai, bayangan orang-orang mulai terlihat di
atas pasir pantai. Payung merah putih dan gadis-gadis berpakaian renang.
Ah,
suatu hari nanti kalau aku bisa pergi ke pantai bersama gadis bertubuh bagus
yang seksi dan molek seperti itu...
Sambil
mengenang pemandangan pantai dengan perasaan enggan beranjak, aku membelokkan
mobil ke arah hutan.
Sebentar lagi, belok kiri. Di depan ada tikungan.
Pemandangan berubah drastis dari laut menjadi pegunungan.
Jalan sempit dengan bayangan dedaunan pohon yang menaungi.
Berbelok-belok menanjak perlahan layaknya jalan pegunungan.
Vila keluarga Gendoji kabarnya dibangun di tengah area tanah yang agak
tinggi.
Dikelilingi oleh hutan di sekitarnya, dan di sampingnya terdapat pantai
pribadi yang terintegrasi.
Sebentar lagi, Anda telah sampai di tempat tujuan.
Navigasi mobil mengumumkan dengan suara tanpa emosi.
Tak
lama kemudian, barisan hutan di kedua sisi jalan terhenti dan kami keluar ke
area yang terbuka.
Sebuah bangunan dua lantai bergaya pension.
Di sampingnya terdapat garasi besar, di mana satu sedan mewah dan satu
truk pikap terparkir di sana.
Aku memarkirkan Civic sejajar di sampingnya.
Dikelilingi oleh pepohonan di sekelilingnya, suara cicak bersahutan dari
segala penjuru.
Berpadu dengan deburan ombak yang sayup-sayup terdengar di telinga.
Berjalan
perlahan menuju pintu depan, aku mengarahkan jariku ke tombol bel pintu.
◇
"?"
Saat sedang menonton film, suara mesin mobil yang berisik terdengar
dari luar.
Tak lama kemudian, belinterfon berbunyi.
Saat mengintip keluar lewat jendela, aku melihat mobil putih tak
dikenal terparkir di dalam garasi.
Siapa ya.
Apakah Ayah?
Tapi kalau Ayah, dia tidak akan repot-repot membunyikan bel.
Para staf pengurus bilang mereka pergi berbelanja, jadi mau tidak mau
aku yang harus membukakan pintu.
Apakah dia memanggil tamu? Tapi aku tidak pernah dengar cerita soal
itu.
Hari ini dan besok aku ingin melewatkan waktu sendirian tanpa diganggu
oleh siapa pun.
"Iya,
sebentar."
Memakai
sepatuku, aku melangkah keluar.
Di
sana—
"Yo."
"Ah..."
Yuu-nii
ada di sana.



Post a Comment