NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

10-nen-buri Ni Saikai Shita Kusogaki Wa Seijun Bishoujo Jk Volume 4 Final Chapter

Final Chapter

Dihidangkan Makanan tapi Tidak Memakannya adalah Aib bagi Seorang Pria


1

Angin laut yang berembus masuk dari celah jendela. Lautan yang terbentang luas sejauh mata memandang.

Aroma pantai yang pekat serta sinar matahari yang menyilaukan.

"Uooo, rasanya nyaman sekali."

Ucap Mahiru yang duduk di kursi penumpang bagian depan.

"Miya-chan, bangunlah. Lautnya sudah terlihat, lho."

"Unyuun."

Miya dan Asaka duduk di kursi penumpang bagian belakang. Asaka pun membangunkan Miya yang sedang tertidur lelap.

"Hng, apa kita sudah sampai?"

"Sebentar lagi kita sampai, kok."

"Huaaah."

Kami sedang dalam perjalanan menuju vila milik keluarga Gendouji di Shounan.

Sejak menerima ajakan Asaka di malam festival musim panas, jumlah orang yang ikut berkumpul ternyata lumayan banyak.

Di depan kami ada mobil Supra milik Ayah, dan di belakang kami ada minivan milik keluarga Haruyama yang melaju seolah mengawal kami dari depan dan belakang.

Pertama, ada aku, Miya, Mahiru, dan Asaka.

Jika ditambah dengan kedua orang tuaku, keluarga Haruyama, ibu dan anak keluarga Shimomura, serta Mei, totalnya menjadi dua belas orang rombongan besar.

Asaka juga mengajak orang lain selain rombongan ini, tapi pada akhirnya yang bisa meluangkan waktu hanya kami berdua belas saja.

Ngomong-ngomong, Hikari, Tatsuki, dan Mei bertiga naik di minivan keluarga Haruyama.

"Aku jadi ingin cepat-cepat berenang, nih~"

Mahiru menatap tajam ke arah pantai di samping jalan dengan pandangan berbinar-binar.

Sebenarnya, sekitar satu setengah bulan yang lalu, aku sudah pernah berkunjung ke vila yang kami tuju saat ini.

Kami berdua belas kembali bertemu dengan Asaka setelah sepuluh tahun berlalu, dan kami bertiga menghabiskan waktu yang sangat menyenangkan bersama Hanayoshi-san.

Begitu, ya. Ternyata sudah satu setengah bulan berlalu sejak saat itu.

"Sesaat lagi, belok kiri. Di depan ada tikungan."

Sesuai dengan panduan dari navigasi mobil, aku membelokkan kemudi ke arah hutan.

Setelah melaju mendaki jalanan menanjak berkelok-kelok yang diapit pepohonan di sisi kanan dan kirinya selama beberapa menit, pemandangan pun terbuka luas.

Sebuah bangunan berlantai dua bergaya pensiun menyambut kedatangan kami. Setelah memarkirkan mobil di garasi, aku pun melangkah ke luar.

"Akhirnya kita sampai juga, ya."

Mahiru meregangkan tubuhnya kuat-kuat. Gara-gara gerakan itu, kausnya sedikit tertarik hingga pusarnya sempat mengintip dari balik bajunya.

Paduan suara riang dari tonggeret terdengar nyaring dari pepohonan di sekitar.

Aroma hutan yang kaya menyelimuti tempat itu, berbaur dengan semerbak lautan, memberikan sensasi layaknya sedang berada di dunia lain.




"Uwaa, luar biasa!"

"Tadi lautnya juga kelihatan, lho."

"Rumah yang indah..."

Misora, Tatsuki, dan Mei melompat keluar dari minivan. Melihat vila yang mewah itu, anak-anak tampak sangat kegirangan.

Mereka memandang ke sekeliling dengan rasa penasaran. Dari belakang mereka, Hikari dan Mirai-san ikut turun.

"Panas sekali, ya."

"Mirai-san, terima kasih tehnya."

"Sama-sama."

"Ara, tempat yang indah sekali, ya."

Ibu berseru penuh kekaguman.

"Shun-san, nanti kita pergi lari, yuk."

"Boleh."

"Yuu, kamu juga ikut, ya."

Tacchan menoleh ke arahku.

"Eh, aku juga?"

"Semuanya, ayo kita taruh barang-barang dulu dan mendinginkan diri di dalam."

Atas aba-aba dari Asaka, kami semua berbondong-bondong masuk ke dalam vila.

Kamar tidur berada di lantai dua, dan kami pun diarahkan ke sana. Di lorong lantai dua, terdapat lima buah pintu yang berjajar dengan jarak yang sama di sisi kiri dan kanan.

Itu artinya, tempat ini bisa menampung maksimal sepuluh kelompok tamu.

"Semuanya, silakan gunakan kamar mana pun yang kalian suka. Setiap kamar sudah dilengkapi dengan kamar mandi dan toilet."

Asaka menjelaskannya dengan singkat.

"Kalau begitu, aku mau yang ini!"

Misora membuka salah satu pintu yang berjajar di sisi kiri.

"Mana boleh Misora menempatinya sendirian. Kamu harus sekamar denganku."

Miya yang sedang dalam mode kakak perempuan menegur Misora.

"Eee!"

"Ada keluhan?"

"Sekamar dengan Kakak itu merepotkan, tahu~"

"Apa kamu bilang~"

Miya masuk ke kamar yang sama dengan Misora sambil terus mengomel.

"Yuu-nii, apa kamu mau kamar yang sama seperti sebelumnya?"

"Hm? Yah, aku sih di mana saja boleh."

"Kalau begitu, kamar Yuu-nii di sebelah sini."

Diantar oleh Asaka, aku dibawa ke kamar nomor dua dari ujung kanan. Itu adalah kamar tempatku menginap sebelumnya.

Aku meletakkan barang bawaanku, lalu mendekat ke arah jendela. Pepohonan dengan warna-warna cerah memenuhi seluruh pandanganku.

"Rasanya menenangkan."

Setelah beberapa saat memanjakan mata dengan pemandangan hijau itu, tiba-tiba sosok Misora muncul dalam pandanganku.

"Uwaa."

"Eh? Yuu-san."

"Eh? Misora-chan... kamu melayang?"

"Hah? Bicara apa sih."

"Yaho~"

"Yuu-san."

Menyusul di belakangnya, Tatsuki dan Mei juga muncul.

Ini kan lantai dua, pikirku kebingungan. Namun sedetik kemudian, aku teringat akan adanya balkon.

Terlebih lagi, tidak ada papan pemisah di antara setiap balkon, sehingga sepertinya semua kamar di satu sisi saling terhubung.

Mungkin mereka berjalan merambat lewat balkon dari kamar entah di mana.

"Kami sedang melakukan ekspedisi," ucap Mei.

Bagi anak-anak, vila sebesar ini pasti menjadi tempat bermain yang sangat sempurna.

Aku tersenyum simpul mengingat dulu Miya dan yang lainnya juga sering membentuk tim ekspedisi.

"Yosh, ayo berangkat."

Misora memberikan aba-aba, lalu mereka melangkah semakin jauh.

"...Jangan berlebihan, ya."

Aku duduk di tepi ranjang sambil meminum sisa kopi kemasan botol yang sudah tidak dingin lagi.

"Huft."

Saat aku sedang memandangi permukaan seprai yang tertata rapi, tiba-tiba ingatan tentang waktu itu kembali terngiang di benakku.

Pagi hari setelah aku kembali bertemu Asaka, suhu tubuh, aroma, dan kelembutan Asaka yang tertidur lelap di ranjang ini...

"A-apa yang sedang kupikirkan ini."

Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat, berusaha menghapus pemandangan bernuansa merah muda yang terlintas di otakku.

Biarpun aku sedang sangat haus akan belaian wanita, membayangkan hal aneh pada sosok yang kuanggap seperti adik sendiri adalah hal yang terendah.

Pada saat itulah, terdengar suara ketukan pintu.

"Yuu-nii."

"Uwoaa."

Orang yang masuk tak lain adalah Asaka sendiri.

"Tidak perlu sekaget itu juga, kan."

"Maaf, maaf."

Ia mengenakan blus tanpa lengan berwarna hitam yang dipadukan dengan rok putih.

Gara-gara ingatan kotor tentang pagi itu yang baru saja berputar di kepalaku, aku sampai mengeluarkan suara aneh.

"Mau teh dingin?"

"Ah, boleh juga."

Setelah selesai merapikan barang bawaan, kami semua berkumpul di ruang tengah untuk beristirahat sejenak.

"Asaka-chan, biar kubantu."

"Tidak apa-apa kok."

"Sudahlah, biar kubantu."

"Terima kasih banyak."

Ibu dan Asaka melangkah menuju dapur.

"Hebat banget, lho. Di lotengnya ada tempat seperti markas rahasia."

"Benarkah, hebat sekali, ya."

Tatsuki sedang melaporkan hasil ekspedisinya pada Hikari.

"Eh? Tatsuki-chan, Misora dan Mei-chan di mana?"

Miya menengok ke kanan dan kiri melihat sekeliling ruang tengah.

"Ah, mereka berdua bilang masih mau menjelajah sedikit lagi."

"Ekspedisi apanya, sifat mereka benar-benar masih anak-anak, ya... Ada apa, Yuu-nii?"

"Enggak, bukan apa-apa kok."

Dulu kalian juga sering melakukan hal yang sama tahu, sanggahku dalam hati, menahan kata-kata itu di tenggorokan.

Lagipula dulu kalian malah sampai tersesat dan tidak bisa keluar.

"Maaf menunggu lama."

Asaka dan Ibu datang membawakan minuman untuk kami.

Bagian dalam ruangan memang terasa nyaman karena pendingin udaranya menyala, tapi cuaca di luar sana sangat terik hingga melebihi tiga puluh derajat.

Teh hijau dingin itu pun terasa sangat menyegarkan saat membasahi tenggorokan.

Ngomong-ngomong, pembagian kamarnya menjadi seperti berikut ini.

Dari pojok kanan: Asaka, aku, Mahiru, lalu suami-istri Haruyama. Dari pojok kiri: Ibu dan anak Shimomura bersama Mei, kedua orang tuaku, lalu Miya dan Misora.

Total ada tujuh kamar yang terpakai.

Selain itu, menurut cerita Asaka, para asisten rumah tangga sedang tidak ada di sini, jadi ini benar-benar perjalanan liburan pribadi. Hanayoshi-san juga kabarnya baru akan bergabung nanti malam.

Perjalanan liburan singkat selama tiga hari dua malam yang hanya berisi orang-orang terdekat.

Sepertinya ini akan menjadi waktu yang menyenangkan untuk menutup liburan musim panas.

◇

Mungkin ini bisa dibilang bahwa rintangan pertama telah berhasil dilewati.

Kedua orang tua Yuu-nii bersedia ikut berpartisipasi tanpa masalah, dan kamarku serta kamar Yuu-nii juga bersebelahan.

Di depan Misora-chan, Miya-chan akan bertingkah sok menjadi kakak perempuan, jadi sifat polos naturalnya yang konyol tidak akan muncul. Jujur saja, kali ini yang paling harus kuwaspadai adalah Miya-chan.

Aku tidak boleh sampai termakan oleh kepolosannya yang tak terduga seperti saat berkemah waktu itu. Karena aku tidak tahu apa yang akan dia perbuat, ada kemungkinan rencanaku bisa hancur berkeping-keping dari akarnya.

Yah, mereka berada di kamar yang sama, jadi Misora-chan pasti bisa menahannya dengan baik...

Dengan berkumpulnya orang sebanyak ini, sudah tidak ada lagi tempat untuk melarikan diri.

Yuu-nii yang punya rasa tanggung jawab tinggi itu pasti akan pasrah dan menyerah.

Nah, sekarang aku tinggal menunggu malam tiba.

Ufufufufu.

 

2

"Araa, ara, araa."

Terdengar suara melengking Ibu dari arah dapur.

"Luar biasa, ya."

"Aku sudah menyiapkan banyak sekali khusus untuk hari ini."

Asaka sedang menjelaskannya.

"Ada banyak minuman keras juga, lho."

"Araa."

Mendengar obrolan mereka secara sepotong-sepotong, sepertinya mereka sedang membicarakan soal bahan makanan. Tampaknya mereka sudah menyiapkan banyak bahan makanan untuk perjalanan kali ini.

"Kalau begitu, ini waktu yang pas, mungkin aku akan segera mulai memasak."

Anak-anak yang telah selesai meminum jus mereka berjalan menuju arah pintu masuk.

"Yosh, Tatsuki, Mei, tim ekspedisi kembali dilanjutkan."

"Ooh."

"Ooh."

"Misora-chan, kalian mau pergi ke luar?"

Tanyaku.

"Huum."

Sepertinya kali ini mereka akan menjelajahi area di sekitar vila.

"Ah, benar juga. Misora-chan, bagian dalam hutan sana adalah tebing, jadi berhati-hatilah."

Vila ini dibangun di tengah-tengah bukit, dan bagian ujungnya merupakan tebing jurang.

Teringat saat aku mengejar Asaka satu setengah bulan yang lalu hingga sampai ke tebing itu, aku pun memberikan peringatan.

"Begitu, ya? Aku mengerti~"

Jawaban yang sangat optimis. Seingatku, tebing itu tingginya hampir mencapai tiga puluh meter.

Jika terjatuh dari sana, itu adalah ketinggian yang berbahaya bahkan bagi orang dewasa sekalipun. Apalagi bagi anak-anak, jadi sebaiknya aku ikut pergi sebagai pelindung mereka.

"Aku juga ikut."

"Yuu-san juga mau ikut ekspedisi?"

Tatsuki menoleh ke belakang.

"Apa Yuu-san juga mau ikut berekspedisi bersama?"

Mei menggandeng tanganku. Tangannya yang mungil itu terasa seperti akan patah jika digenggam terlalu kuat.

"Mau bagaimana lagi. Kalau begitu, Yuu-san jadi bawahannya, ya," ucap Misora.

"Iya, iya."

Dengan Misora berada di barisan paling depan, kami masuk ke dalam hutan di belakang vila seolah melarikan diri dari terik matahari yang menyengat.

Tidak ada jalan setapak yang layak, sehingga kami harus berjalan sambil menyibak rerumputan yang tumbuh lebat.

"Ngomong-ngomong, dulu Miya dan yang lainnya juga pernah membentuk tim ekspedisi, lho."

"Kakak?"

"Iya. Mereka menyusup masuk ke rumah kosong, tapi malah tidak bisa keluar, lalu menangis meraung-raung."

"Upupu, nanti coba kutanyakan pada Kakak, deh."

"Oh, aku menemukan barang bagus."

Tatsuki tiba-tiba membungkuk.

"Bagus juga itu," ucap Misora.

Benda yang dipungut oleh Tatsuki adalah sebatang dahan pohon dengan ukuran yang pas.

Selain memancarkan kesan 'sedang berekspedisi', benda itu juga merupakan item yang sangat praktis untuk menyibak rerumputan dan menyingkirkan sarang laba-laba.

"Aku juga mau cari, ah."

Misora mulai memusatkan perhatiannya ke permukaan tanah.

Sambil memanjakan mata dengan tingkah polos anak-anak dan pemandangan alam, kami mendaki tanjakan yang landai itu.

Waktu berkunjung ke sini sebelumnya, aku terlalu sibuk mengejar dan berusaha mati-matian untuk membujuk Asaka. Kini, aku kembali menyadari betapa nyamannya tempat ini saat melihat sekilas lautan dari celah pepohonan, serta aroma pantai dan pepohonan yang menyelimutiku.

Tempat yang bagus.

Sambil mengeluarkan keringat yang menyegarkan, kami mendaki tanjakan tersebut, hingga akhirnya pemandangan berubah dari hijau menjadi biru.

"Ooh, pemandangan yang indah."

Misora berseru dengan penuh rasa pencapaian. Kami telah tiba di tebing yang berada di ujung bukit.

Di depan kami, warna biru dari langit dan laut membentang luas, saling berbaur di garis cakrawala. Burung hitam tampak terbang riang menuju gumpalan awan yang melayang samar-samar.

Saat menoleh ke arah barat, kami bisa melihat pantai pribadi milik keluarga Gendouji di bawah sana.

"Uwaa, tinggi sekali~"

"Ah, Tatsuki-chan, awas bahaya lho."

"Aku tahu kok~"

Karena tidak ada pagar atau apa pun, jika kaki sampai terpeleset maka tamatlah riwayat kami.

Genggaman tangan Mei pada tanganku pun menjadi semakin kuat.

"Menakutkan..."

Aku menarik Mei dan memeluknya.

"Uwaa, kalau jatuh dari tempat seperti ini pasti bakal mati, ya."

Suara Misora terdengar bergetar.

Satu setengah bulan yang lalu, Asaka berada di tepi tebing itu.

Sudah satu setengah bulan berlalu sejak aku berjanji akan menjadi sandaran bagi hatinya yang selama ini hanya mengandalkan kenangan masa lalu.

Selama liburan musim panas ini, setidaknya dari apa yang kulihat, Asaka telah menjalani hari-harinya dengan menyenangkan. Namun, hal itu juga akan segera berakhir. Sebentar lagi Asaka harus kembali pulang ke Kanagawa.

Apakah hati Asaka sudah pulih hingga ia mampu berdiri sendiri?

Mengatasi konflik dengan mendiang ibunya dan kenangan masa kecil yang tak akan pernah kembali bukanlah hal yang mudah. Sebagai sosok kakak baginya, hanya hal itulah yang kukhawatirkan.

"Sebaiknya kita kembali sekarang."

"Huum."

"Iya, ya."

"Iya."

Begitu kami kembali ke vila, tercium aroma harum yang menggugah selera. Tepat pada saat itu, makan siang rupanya telah selesai dibuat.

"Ah, kalian sudah pulang. Yuu-nii, semuanya, ayo kita makan."

Asaka melirik sekilas ke arah tanganku yang sedang menggandeng tangan Mei.

"Kalian akrab sekali, ya."

Ucapnya sambil tersenyum riang.

Di atas meja makan, berjajar berbagai hidangan yang banyak menggunakan bahan makanan laut. Mulai dari sashimi, tataki, gorengan, dan lain-lain.

Menu utamanya adalah pescatore yang dipenuhi hidangan laut, dengan aroma asam tomat yang menggugah selera.

Di antara semua itu, ada juga hidangan misterius berupa sesuatu berbentuk kotak seukuran dadu yang mengapung di dalam mangkuk berisi es.

Saat aku duduk di ujung meja, Asaka duduk bersebelahan di sebelah kananku.

Makan siang yang damai pun dimulai.

"―Terus, ya, jalan buntunya itu jurang tebing lho~"

Anak-anak sedang melaporkan hasil ekspedisi mereka tadi kepada orang tua masing-masing.

"Yuu-nii, ini udang buatmu."

Miya yang duduk di seberangku memindahkan udang ke piringku.

"Padahal udangnya juga tidak ada kulitnya, kan?"

"Yah, entah kenapa akhir-akhir ini aku jadi kurang suka makan udang."

"Yuu-nii, silakan makan tiramnya juga."

Asaka membagikan tiram yang masih ada di cangkangnya.

"Hei, hei, ini mentah, kan?"

Dari tadi aku memang sudah penasaran, tapi makan tiram mentah di musim panas itu bahaya, kan.

"Itu tiram batu lho. Karena dikirim langsung dari tempat asalnya, jadi sangat segar."

"Aku juga sudah memakannya, rasanya enak tahu."

Ucap Mahiru.

"Yah, rasanya pasti enak sih, tapi apa ini benar-benar aman?"

Waktu SMA dulu, aku pernah keracunan setelah memakan tiram mentah.

Aku ingat bagaimana cairan keluar tanpa henti dari setiap lubang di sekujur tubuhku, memberikanku penderitaan yang bagaikan di neraka.

"Etto, katanya tiram batu itu memang sedang musimnya di musim panas, jadi aman kok."

Miya membantuku mencarinya lewat ponsel. Kemudian, Misora yang duduk agak jauh dari kami berseru.

"Kakak, tidak boleh main ponsel saat sedang makan tahu."

"B-berisik~"

Tawa pun meledak seketika di ruangan itu.

"Nah, Yuu-nii. Kumpulkan keberanianmu."

"O-oh."

Aku memeras sedikit lemon ke atasnya, lalu dengan takut-takut menjepit tiram batu itu dengan sumpit dan memasukkannya ke dalam mulut.

"...Enak!"

Rasa gurih yang meleleh seketika menyebar memenuhi seisi mulutku.

"Tiram disebut sebagai susu laut lho. Gizinya sangat melimpah, dan juga punya efek untuk menambah vitalitas dan stamina."

Asaka tersenyum dengan lembut.

 

Ufufu, lewat berkah dari lautan ini, kumpulkanlah gizi dan stamina yang banyak, ya.

 

3

Selesai makan, kami memutuskan untuk bermain di laut pada siang harinya.

Saat aku sedang mengganti pakaian dengan baju renang, terdengar ketukan pintu.

"Yuu-nii."

"Asaka, ya."

Asaka yang mengenakan bikini hitam datang menghampiriku.

Pakaian renang berwarna gelap itu sangat kontras dengan kulit putihnya, membuatnya terlihat memesona.

"Tabir suryaku sudah habis, apa Yuu-nii masih punya persediaan lebih?"

"Aku punya kok."

"Terima kasih banyak."

"...!"

Setelah menerima tabir surya tersebut, tanpa disangka-sangka Asaka langsung mulai mengoleskannya di tempat itu juga.

Tangan mungil Asaka mengusap kulit lembutnya seolah membelai saat ia mengoleskan tabir surya itu. Tengkuk, belahan dada, hingga paha bagian dalam.

Disuguhi pemandangan dengan gerakan menggoda tepat di depan mata seperti itu—meski dia sendiri mungkin tak menyadarinya—aku harus membayangkan sosok Ayah dan Tacchan memakai baju renang demi meredam gejolak nafsuku.

Kukira dia sudah selesai mengoleskannya, tapi tiba-tiba Asaka berbalik memunggungiku.

"Bisakah Yuu-nii bantu mengoleskannya di punggungku?"

"Hah?"

"Tanganku tidak sampai, jadi tolong bantu aku, ya."

"T-tidak, tidak, sebaiknya kamu minta tolong pada Miya atau Mahiru saja..."

"...Baiklah."

Tanpa mengindahkan perkataanku, Asaka menyodorkan tabir surya itu kepadaku, lalu terdiam sambil menghadap ke arah dinding.

Tengkuknya yang putih, tulang belikatnya, dan garis pinggangnya yang indah. Bagian yang harusnya menonjol terlihat menonjol, dan bagian yang harusnya ramping terlihat kencang. Tubuhnya benar-benar bagaikan sebuah karya seni...

"A-aku oleskan, ya."

"Iya."

Tekstur kulitnya sangat halus...

Oles, oles.

"..."

Oles, oles.

"..."

Oles, oles.

"Hyaa."

Tubuh Asaka tersentak kecil.

"Yuu-nii, geli tahu."

"Eh, padahal aku tidak menyentuh bagian yang aneh-aneh lho!"

Oles, oles.

"..."

Aku pun akhirnya berhasil menyelesaikan tugasku dengan membayangkan turnamen sumo para pria berminyak.

"Sudah selesai."

"Terima kasih banyak. Kalau begitu, mari kita pergi."

Aku pun pergi menuju laut dengan dipandu oleh Asaka.

Langit biru, awan putih, pasir pantai yang hangat, dan lautan luas membentang. Ini adalah pantai pribadi milik keluarga Gendouji yang berada di sebelah bukit tempat vila ini berada.

"Indah sekali, ya."

Miya masuk ke dalam air laut. Setiap kali ia melompat-lompat mencipratkan air, dua gundukan di balik bikini birunya itu ikut berguncang hebat, benar-benar merusak pemandangan.

"Segarnya~"

"Ya ampun, Kakak girang sekali seperti anak kecil."

Misora menghela napas. Gadis yang biasanya mengikat rambut panjangnya dengan gaya kuncir dua rendah itu, kini mengenakan pakaian renang one-piece bermotif kotak-kotak biru putih dan mengikat rambutnya bergaya kuncir kuda.

"Rasakan ini, Misora."

Miya membungkuk dan menyipratkan air ke arah Misora. Air yang menari-nari di udara memantulkan kilauan cahaya matahari.

"Wah, astaga, kamu berani, ya."

Tak mau kalah dari kakaknya, Misora pun masuk ke dalam laut dan mulai mencipratkan air sekuat tenaga.

"Kyaa."

"Oryaaa~"

"Tunggu, Misora, jangan dengan tepat cuma mengincar wajahku saja!"

Pemandangan yang sangat damai.

Sambil memandangi aksi saling ciprat air antara Haruyama bersaudara itu, kami mulai mendirikan payung di tepi pantai.

"Kalau begitu, jadi tidak ketahuan siapa yang adiknya, ya." Ucap Mahiru.

Dua gunung besar yang tertampung dalam bikini model cross halter berwarna putih miliknya itu terlihat seperti akan tumpah kapan saja, membuatku selalu was-was setiap kali ia bergerak.

Sepertinya ia berencana untuk bermain voli pantai, karena ia sudah mulai menyiapkan net bersama Asaka.

Ayah dan ibu tampak berbaring di kursi santai untuk berjemur.

"Liburan itu memang paling enak dihabiskan di laut, ya."

"...Benar juga."

Namun di usiaku yang sekarang ini, aku tidak pernah menyangka akan melihat sosok ibuku sendiri memakai bikini...

"Ombak yang bagus sedang datang." Ucap Tacchan.

"Papaa, hati-hati ya," peringat Mirai-san.

"Oke."

Mirai-san mengenakan bikini ala Brasil. Ukuran dada dan bokongnya nyaris sama, membuatnya terlihat seperti patung tanah liat dogu. Benar-benar tubuh sintal yang luar biasa.

"Aku berangkat dulu."

Tacchan pun melesat ke arah laut sambil membawa papan selancar.

"Taichi-san suka berselancar, ya?"

Saat Hikari bertanya, Mirai-san mengernyitkan alisnya seolah sedang kebingungan.

"Dia selalu mengerahkan seluruh tenaganya saat bermain, padahal usianya sudah tidak muda lagi."

"Ahaha."

Hikari mengenakan pelindung ruam di atas pakaian renang two-piece yang ketat.

Sosok rampingnya itu mengingatkanku pada masa-masa saat kami masih sekolah.

"Yuu-san, aku ingin membuat istana pasir."

Ucap Mei. Dia mengenakan pakaian renang two-piece berwarna putih dengan renda yang menggemaskan.

"Kalau begitu mari kita buat di tempat yang tidak terjangkau oleh ombak."

Kami memutuskan untuk mendirikan istana pasir di sebelah payung.

"Aku juga mau ikut~"

Tatsuki pun ikut bergabung. Gadis yang mengenakan bikini merah itu, kulit di bagian badannya sama sekali belum terbakar matahari, membuat perutnya yang putih terlihat mencolok.

"Aku yang menang, Kakak payah banget, deh."

"Aah, astaga, tiba-tiba langsung basah kuyup begini."

Miya dan yang lainnya pun ikut menepi.

"Membuat istana? Aku juga mau ikut~"

Misora pun bergabung sebagai tukang bangunan.

"Lagipula," ucap Miya yang duduk di sebelahku.

"Berkumpul bersama semuanya benar-benar menyenangkan, ya~"

"Benar juga."

Seolah membakar semangat semua orang, matahari pun bersinar terik.

"Yosh, tinggal memasang bendera dan istananya pun selesai!"

Sekitar lima belas menit sejak pekerjaan dimulai, istana pasir itu akhirnya rampung.

Itu adalah istana berbentuk huruf U dengan dua pasang menara, dan bendera merah yang tertancap di bagian dindingnya tampak berkibar tertiup angin laut.

"Semuanya, mari kita minum dulu."

Hikari dan Mirai-san mengeluarkan minuman olahraga dari dalam kotak pendingin, lalu membagikannya kepada anak-anak.

Di bawah terik matahari yang menyengat ini, berdiam diri sebentar saja di pantai berpasir akan membuat keringat terus bercucuran.

Jika tidak mendapat cukup asupan cairan dan mineral, kita bisa terkena serangan panas.

"Ini buat Arizuki-kun juga."

"Oh, terima kasih."

Aku mengebaskan pasir dari tanganku, lalu menerima botol minuman plastik itu.

"Ooi, Yuu-nii, ayo kita mulai."

Mahiru berseru ke arahku sambil memegang sebuah bola karet. Persiapan voli pantai di sana tampaknya juga sudah selesai.

"Mau main voli pantai?"

Tatsuki menatap net yang terpasang di pantai pasir dan garis batas kotak putih panjang dengan pandangan mata berbinar-binar.

"Ke mana Bibi dan Paman?"

"Mereka pergi berjalan-jalan di sepanjang pantai."

Ya ampun, ayah dan ibu benar-benar mesra meski di usia mereka saat ini.

"Lalu bagaimana pembagian timnya?"

Tanya Miya entah kepada siapa.

"Karena ada anak-anak juga, kita harus membaginya agar seimbang. Bagaimana kalau Miya-chan setim dengan Misora-chan saja?"

Saran Asaka.

"Eeh, setim dengan Kakak? Dia itu cuma akan jadi beban, tahu."

Misora menyampaikan keluhannya.

"Apa kamu bilang~"

"Aku tidak mau sama Kakak, aku mau sama Mahiru-chan. Soalnya dia yang paling jago."

"Aku? Boleh saja."

"Asyik."

"Yuu-nii, kamu mau setim dengan siapa?"

Tepat saat Asaka melangkahkan satu kakinya ke arahku dan mengucapkan kata-kata itu, Mei tiba-tiba meraih tanganku.

"Aku mau setim dengan Yuu-san."

"Hm? Denganku?"

"Apa boleh?"

"Tentu saja boleh."

"Horee."

"Mei-chan sangat akrab dengan Yuu-nii, ya."

Asaka berjongkok dan melemparkan senyuman pada Mei.

"Soalnya Yuu-san sangat baik hati."

"Yuu-nii kan memang suka anak kecil."

Mahiru menghela napas.

"Hei, jangan bicara yang mengundang kesalahpahaman dong!"

"Ahahahahaha."

Suasana pun diliputi oleh gelak tawa.

Aku memang suka merawat anak-anak, tapi itu bukan karena preferensi seksualku, tahu.

Wanita yang aku sukai itu wanita yang bentuk badannya ramping dan seksi seperti jam pasir, tahu!!

"Kalau begitu, aku setim dengan Asaka-chan~"

"Iya, boleh."

Tatsuki memeluk pinggang Asaka.

"Hikari-san dan Mirai-san, bagaimana kalau kalian ikut juga?"

"Pakaian renangku ini kurang cocok untuk gerakan yang heboh, jadi aku akan menyemangati kalian dari sini saja."

Mirai-san menolaknya dengan nada penuh penyesalan.

"Mama, ayo ikut main."

"Iya, iya, baiklah."

Setelah berkata begitu, Hikari pun melepas pelindung ruamnya. Memperlihatkan lekuk tubuhnya yang ramping.

"Kalau begitu, Miya setim dengan Shimomura."

"Eh? Memangnya tidak apa-apa kalau orang dewasa berdua setim?"

"Tidak masalah sama sekali. Lagipula kemampuan Miya itu kan setara dengan kemampuan anak SD."

"Kurang ajar!"

Dan dengan demikian, pembagian timnya pun menjadi seperti berikut ini.

Aku dan Mei.

Mahiru dan Misora.

Asaka dan Tatsuki.

Miya dan Hikari.

◇

Sejumlah bola besar yang memantul di pantai pasir.

Setiap kali bola karet melintasi net, bola alami milik Mahiru dan Asaka pun juga ikut bergoyang. Benar-benar bergoyang ke sana kemari.

Pertandingan antara Mahiru dan Misora melawan Asaka dan Tatsuki pun dimulai.

Ini adalah sistem turnamen dengan empat tim, dan tim yang lebih dulu mencetak lima poin akan keluar sebagai pemenang.

"Hop!"

Saat Mahiru melepaskan satu pukulan keras, guncangan hebat melanda dadanya, dan cipratan keringat pun berkilauan di udara.

"Teeyaaa."

Pukulan keras itu mengarah tajam ke tepi garis belakang lawan, namun Asaka berhasil melompat menangkisnya.

Dadanya terbenam di pasir, meninggalkan bekas yang sangat kentara di atas pasir yang lembut.

"Ini."

Bola yang diangkat oleh Asaka kemudian berhasil dikembalikan ke area lawan oleh Tatsuki. Kuda-kudanya terpasang sangat rendah, gerakannya sungguh bagus.

"Ini, Mahiru-chan."

Misora juga merendahkan posisi pinggulnya, dan melemparkan operan atas.

"Bagus, oryaaa~"

Sekali lagi, Mahiru melepaskan spike tajam.

Namun biarpun disebut bola, itu bukanlah bola kulit sintetis resmi untuk bertanding melainkan hanya bola karet mainan yang empuk.

Lagipula, anak-anak juga ikut bermain di sini, jadi Mahiru menahan diri sehingga kecepatan pukulannya tidak terlalu cepat.

Pertarungan saling balas yang seimbang pun berlangsung selama beberapa saat.

Namun, saat melihat gerakan heboh mereka, entah mengapa aku merasa khawatir apakah baju renang mereka tidak akan bergeser turun.

Ngomong-ngomong, timku dan Mei kalah melawan tim Hikari dan Miya.

Seperti dugaanku, kemampuan Miya sangatlah payah, namun refleks saraf motorik dan keahlian Hikari memberikan dukungan yang lebih dari cukup.

Ia menutupi kesalahan Miya, dan berhasil menangkap lalu mengembalikan berbagai lemparan bola yang sulit sekalipun.

Meski usianya sama denganku yang mendekati usia tiga puluh, tidak kusangka pergerakannya bisa selincah itu...

Gerakan mantan anggota klub olahraga yang pernah tampil di turnamen nasional memang berbeda.

"Uwaa, pukulannya tidak akan sempat terkejar~"

Pertandingan di kubu ini akhirnya juga menemukan titik akhir.

Pukulan spike yang dilancarkan Mahiru berhasil di-blok oleh Asaka tepat di depan net.

Bola berkecepatan tinggi itu pun memantul kembali ke area Mahiru dan tidak sempat dijangkau oleh Misora.

Karena Mahiru melompat terlalu tinggi, bola lebih dulu menyentuh tanah sebelum ia mendarat.

"Horeee."

"Asaka-chan, blok yang bagus."

"Ehehe."

Asaka dan Tatsuki pun melakukan tos bersama. Tim Asaka dan Tatsuki adalah pemenangnya.

"Walaaah, kita kalah~"

Misora berlutut dan memegangi kepalanya. Kemudian, Miya berjalan menghampirinya, lalu meletakkan tangannya di atas bahu adiknya itu.

"...Kakak?"

"Nah, nah, tim yang kalah harus segera keluar lapangan, tahu~"

"Nyebelin."

Urat-urat biru terlihat menegang di dahi Misora.

"Karena pertandingan finalnya akan segera dimulai, lho~"

"Kakak jangan besar kepala deh, kamu menang kan semuanya berkat Bibi Hikari."

"Yang menang ya tetap menang dong~"

"Gununu..."

"Kalian ini, jangan bertengkar."

Mirai-san selaku ibu mereka melerai keduanya. Lalu pertandingan final pun dimulai, dan insiden itu terjadi tepat pada momen ini.

Pertandingan sedang berada di puncaknya. Skor berimbang empat sama. Pertarungan yang sengit.

Omong-omong, semua skor kehilangan poin dari tim Miya dan Hikari itu diakibatkan oleh Miya sendiri.

"Eiyaa."

Pukulan spike Asaka mengarah tajam ke sudut lapangan.

"Yaa."

Hikari dengan sigap berhasil menangkapnya.

"Miya-chan, sisanya kuserahkan padamu."

"Hueeh!?"

Bola yang melambung tinggi di udara akan jatuh tepat di tepi sebelum melewati net.

Hikari sedang terbaring di pasir pantai, dan ia tak akan sempat untuk bangkit kembali. Cuma Miya yang bisa menyelesaikannya.

"Awawawa."

"Kakak, kamu sudah sampai di titik ini jadi selesaikan dengan benar~"

"U-um."

Mungkin karena mendapat dukungan dari Misora, Miya pun langsung melompat di titik jatuhnya bola.

Namun, bagi dirinya yang punya insting olahraga nol persen, memprediksi titik jatuhnya bola dan melompat di saat yang tepat sangatlah sulit.

Karena melompat terlalu dekat dengan net, Miya yang melompat miring ke arah depan itu memang berhasil memukul bola, tetapi bertepatan dengan momen pendaratannya, dadanya malah menyentuh net.

Kain berwarna biru muda yang menutupi bagian dadanya tersibak hingga membuat talinya terlepas, lalu baju renangnya pun terlempar ke udara.

Singkat cerita, pemandangan bukit kembar Miya yang tak terlindungi itu akhirnya terekspos terang-terangan di bawah birunya langit musim panas.

"Ah!"

Pukulan spike cupu melayang menuju area Asaka dan Tatsuki, namun tak satu pun dari mereka meresponsnya.

Tatsuki, Asaka, dan siapa pun yang berada di sana merasa tertegun hingga kaku oleh insiden yang terlalu mendadak ini.

"Kyaaaaaaa!"

Jeritan Miya membumbung tinggi menyatu dengan birunya langit.

"A-apa yang sedang kamu lakukan, Miya? Yuu-nii, buang muka, jangan lihat."

Mahiru tiba-tiba menyela di antara aku dan Miya.

"Uooh."

Aku langsung membuang muka tanpa pikir panjang.

"Tersangkut, deh."




"Kakak, a-a-apa kamu bodoh, ya!?"

"Y-Yuu-nii, kamu lihat?"

Sambil menutupi dadanya dengan kedua tangan, Miya menoleh dengan wajah seperti mau menangis.

"Tidak, dari tempat kami cuma kelihatan punggungmu saja."

Itu adalah fakta. Aku cuma bisa melihat punggungnya dan bagian yang sedikit menonjol dari balik punggungnya.

"Benarkah?"

"Benar kok. Iya, kan? Mei-chan."

"Huum, kamu aman kok."

"K-kalau begitu syukurlah."

Dengan begitu, di tengah suasana yang canggung, turnamen voli pantai pertama pun dimenangkan oleh pasangan Miya dan Hikari.

 

4

Miya-chan, kalau dia melakukan hal itu tanpa disengaja, dia benar-benar musuh yang sangat tangguh.

Mungkin memang lebih baik kalau dia dipasangkan dengan Misora-chan. Kalau begitu, dia pasti tidak akan melakukan hal nekat seperti itu.

Tapi tetap saja, bagaimana caranya dia bisa mempraktikkan cara menggeser baju renang seperti itu, ya?

Tidak, tidak. Meskipun dia sengaja melakukannya, teknik kasar menggeser bikini dengan cara menyenggolkannya ke net itu bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan.

Sama seperti saat berkemah, sifat polosnya yang tak terduga ini benar-benar membuatku repot karena tidak ada cara untuk mengantisipasinya.

Untuk sekarang mungkin masih tidak masalah, tapi bulu kudukku merinding saat memikirkan kalau sifat polosnya itu meledak di malam hari.

Ngomong-ngomong, sepertinya Mei-chan juga menyukai Yuu-nii.

Aku juga harus memastikannya secara diam-diam apakah hal ini akan mengganggu rencanaku atau tidak.

Setelah itu, kami mengatur ulang pasangan tim dan menikmati permainan voli pantai. Selesai bermain, kali ini kami masuk ke laut dan bermain air.

Air laut yang dingin meresap ke dalam tubuh kami yang terasa panas akibat bermain voli pantai di bawah terik matahari.

Kami berenang, menyelam, saling menyipratkan air, dan diciprat air.

Saat kami selesai bermain sepuasnya dan kembali ke vila, waktu sudah menunjukkan pukul empat sore.

Kami membilas tubuh yang lengket akibat air laut di kamar mandi, lalu memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan santai hingga makan malam tiba.

Aku ikut bergabung ke dalam lingkaran anak-anak yang sedang meminum jus di ruang tengah.

"Boleh aku ikut duduk di sini?"

Aku pun duduk di sebelah Mei-chan.

"Ah, Asaka-chan. Boleh kok."

"Silakan."

"Huum~"

"Kalian sedang mengobrolkan apa?"

"Tahu tidak, waktu mendaki Gunung Fuji tempo hari―"

Misora-chan mengeluarkan ponselnya, lalu membuka aplikasi album foto. Kemudian, ia mulai bercerita dengan penuh percaya diri.

"―Lalu, ya, di tempat paling tinggi di Gunung Fuji, kami minum kopi sambil melihat matahari terbit."

"Aku jadi ingin pergi lagi, deh~"

Tatsuki-chan mengatakannya dengan wajah terpesona.

Ponsel Misora-chan menampilkan foto cahaya matahari pagi yang bersinar terang. Begitu, ya.

Minum kopi di puncak Gunung Fuji bersama Yuu-nii. Itu benar-benar situasi yang sempurna.

"Tapi rasanya capek sekali, ya," ujar Mei-chan.

"Mei itu benar-benar tidak punya stamina, tahu. Padahal kan kamu hampir terus-terusan digendong oleh Yuu-san."

Misora-chan menimpali.

"Ehehe."

"Begitu, ya."

"Mei terlalu manja pada Yuu-san, tahu."

Pembicaraan ini mengalir ke arah yang bagus.

"Mei-chan sangat akrab dengan Yuu-nii, ya. Jangan-jangan, kamu menyukai Yuu-nii?"

Aku langsung bertanya pada intinya.

"Eh?"

Entah kenapa, aku merasa ada sesuatu dari dalam diri Mei-chan yang mirip dengan diriku saat masih kecil. Ini bukan tentang sifat luarnya atau penampilannya.

Ya, kalau harus diungkapkan dengan kata-kata, mungkin aku akan menyebutnya sebagai watak. Sebagai sesama perempuan, aku bisa merasakan aura yang sama darinya.

Mei-chan memiringkan kepalanya seolah sedikit kebingungan, lalu menjawab.

"Kalau dibilang suka, yah, aku bukannya tidak suka, tapi, umm, bagaimana bilangnya, ya..."

"?"

"Dia terasa seperti seorang ayah bagiku."

"Ayah?"

"Ayah?"

"Ayah?"

Jika ditebak dari nada suara dan ekspresi wajahnya, sepertinya dia mengatakan hal itu bukan untuk menyembunyikan rasa malunya.

"Aku merasa tenang saat bersamanya. Kira-kira seperti itu..."

"Ah, aku mungkin mengerti maksudmu," ucap Tatsuki-chan.

"Tatsuki-chan juga merasa begitu?"

"Aku dan Mei kan tidak punya ayah. Jadi, sekadar ada orang dewasa yang mau bermain bersama kami saja sudah membuat kami tanpa sadar ingin bermanja padanya."

"Huum, iya, mungkin rasanya seperti itu."

Mei-chan menyetujuinya.

Begitu, ya. Ayah, kah.

Yuu-nii memang suka merawat anak-anak, dan dia juga tipe pria berhati lapang yang jarang sekali marah.

Bahkan saat kami masih kecil dulu, dia hampir selalu memaafkan kami tak peduli seberapa nakalnya kejahilan yang kami lakukan.

Berdasarkan cerita yang kudengar, sepertinya orang tua Mei-chan tidak ada bersamanya, jadi mungkin dia semakin tertarik pada sosok kebapakan yang dimilikinya.

Kalau dipikir-pikir lagi, untuk anak seumuran mereka, Yuu-nii memang terlalu tua, ya.

Memang patut disyukuri karena dia tidak menganggap Yuu-nii sebagai objek asmara, namun kalau dia menempel terlalu berlebihan pada Yuu-nii, hal itu juga akan mengganggu rencanaku.

Kalau seandainya Mei-chan tiba-tiba bilang ingin tidur sekamar dengan Yuu-nii, rencanaku ini akan gagal total.

Nah, apa yang harus kulakukan, ya...

 

5

Seusai mandi, aku mengeringkan rambutku yang basah dengan pengering rambut.

"Howaaa~"

Kelelahan terasa menjalar ke seluruh tubuhku.

Hari ini, aku menempuh perjalanan panjang dari pagi ke vila dengan mobil Yuu-nii, lalu bermain sepuasnya di laut setelahnya.

Aku melompat-lompat saat main voli pantai, berenang di laut, lalu berjalan-jalan di pantai berpasir. Padahal ini masih sore, tapi aku sudah sangat kelelahan.

Aku berbaring tengkurap di atas ranjang dan membuka laptopku.

Novel misteri yang kutulis bersama Yuu-nii juga sudah selesai ditulis hingga bagian akhir.

Sekarang tinggal bagian deduksi dari sang detektif dan bagian epilognya saja.

Jika semuanya berjalan lancar, novel ini pasti akan selesai ditulis selama kami menginap di vila ini.

"Fufu."

Meski begitu, menulis novel di sebuah vila tepi laut membuatku merasa seperti seorang sastrawan hebat.

Saat aku sedang asyik menenggelamkan diri dalam pekerjaanku, suara nyanyian jangkrik higurashi terdengar dari luar jendela. Suaranya yang berbunyi 'kana, kana, kana...' terdengar begitu kesepian.

Musim panas juga akan segera berakhir, ya.

Musim panas tahun ini terasa panjang.

Berkat Yuu-nii, hari-hariku terasa sangat berkesan, menjadikannya liburan musim panas yang sangat menyenangkan.

"Huaaa."

Aku jadi mengantuk. Pada saat itulah, terdengar suara ketukan pintu.

"Hei, Miya."

Orang yang muncul adalah Yuu-nii, membuat rasa kantukku langsung menghilang.

"Ada apa?"

"Katanya kalau Hanayoshi-san sudah datang, kita semua akan pergi makan di restoran masakan Tionghoa."

"Aku mengerti~"

"Oh, kamu sedang menulis novel, ya?"

"Huum."

Yuu-nii duduk di tepi ranjang dan mengintip ke arah layar. Kalau dia melakukan hal itu, otomatis wajah Yuu-nii jadi mendekat ke wajahku.

Hal ini membuat jantungku berdebar-debar, lho. Apa wajahku tidak memerah, ya?

Padahal aku baru saja diperingatkan oleh Asaka sebelumnya agar tidak melakukan hal yang bisa mengundang kesalahpahaman, tapi rasanya jarak kami ini terlalu dekat... Lebih tepatnya, aku ini juga seorang gadis SMA tahu, jadi menurutku Yuu-nii boleh-boleh saja kalau mau sedikit peka dan memperhatikanku.

"Sekarang sudah sampai bagian mana?"

"Sekarang, ya, bagian di mana detektifnya sedang membeberkan deduksinya."

"Sudah masuk tahap akhir, ya."

"Novelnya mungkin akan selesai ditulis selama liburan ini."

"Aku jadi tidak sabar."

"Oh iya, Yuu-nii. Kalau novel ini sudah selesai, bolehkah aku mengikutkannya ke dalam sebuah penghargaan?"

"Kebetulan ada lomba penghargaan novel misteri yang tenggat waktunya di bulan September."

"Boleh-boleh saja sih. Tapi kamu tidak perlu repot-repot menanyakannya padaku segala."

"Habisnya, yang memikirkan trik utama di novel ini kan Yuu-nii. Bagaimana kalau novel ini nanti menang?"

Bagaimana ini kalau ternyata malah lahir seorang penulis novel misteri gadis SMA yang cantik? Pasti nanti akan ada wawancara dari televisi dan semacamnya, kan.

Aku juga pasti akan diundang ke upacara penghargaan. Bagi diriku yang pemalu ini, tampil di depan banyak orang tak dikenal yang jumlahnya tidak menentu itu rasanya sama seperti sebuah siksaan.

Yosh, untuk sementara aku akan beraktivitas sebagai penulis anonim saja.

"Hei, hal-hal semacam itu baru boleh kamu pikirkan kalau novelnya sudah menang, tahu."

"Ehehe."

Aku memang menyukai Yuu-nii, tapi bagaimana pandangan Yuu-nii terhadap diriku, ya? Aku sering sekali melakukan kecerobohan dan merepotkannya, apa sampai sekarang aku masih sekadar dianggap sebagai adiknya saja?

Walaupun sekadar melakukan obrolan santai seperti ini saja sudah membuatku bahagia, tapi pasti suatu hari nanti akan tiba saatnya bagiku untuk menyampaikan perasaanku ini kepadanya. Dan lagipula, meski rasanya masih samar-samar, jauh di lubuk hatiku aku yakin kalau suatu saat nanti kami akan berada dalam hubungan yang seperti itu.

Suatu saat nanti... meski aku belum tahu kapan hal itu akan terjadi.

◇

Sekitar pukul setengah enam sore, Hanayoshi-san pun tiba.

"Semuanya, selain Yuu-kun, sudah lama kita tidak bertemu, ya."

"Hana-san, tadi ada ombak yang bagus lho."

Tacchan menepuk bahu Hanayoshi-san.

"Syukurlah kalau begitu."

Selama sepuluh tahun ketidakhadiranku, ikatan antar setiap keluarga sepertinya menjadi semakin erat, sehingga hubungan mereka sudah terasa bagaikan sebuah keluarga besar.

Mungkin karena anak-anak dari generasi Miya juga merupakan teman sekelas.

"Gendouji-san, maaf karena kami juga ikut merepotkan Anda."

Hikari mengatakannya dengan nada sungkan.

"Tidak, tidak. Berkumpul dengan banyak orang pasti akan lebih menyenangkan. Bersantailah dengan bebas dan anggap saja seperti di rumah sendiri."

"Terima kasih banyak."

Setelah itu, kami pun pergi menuju restoran masakan Tionghoa menggunakan taksi.

Sepertinya tempat ini adalah restoran langganan keluarga Gendouji.

Waktu aku datang ke Shounan sebelumnya, aku juga pernah berkunjung ke mari bersama Hanayoshi-san dan Asaka.

Meskipun tempat ini tidak bisa dibilang sebagai restoran kelas atas, bagian dalam restorannya yang memiliki desain bernuansa merah itu benar-benar berbeda dari restoran masakan Tionghoa pada umumnya.

Tempat ini lebih terasa seperti restoran terkenal yang hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja.

Mei tampaknya baru pertama kali datang ke restoran masakan Tionghoa, matanya tampak membulat takjub melihat meja yang bisa berputar itu.

"Mei-chan, mau makan lumpia?"

"Huum."

Asaka yang duduk di sebelah Mei tampak merawatnya dengan sangat telaten. Sejak kapan mereka berdua menjadi seakrab ini?

Kelompok orang dewasa yang dipimpin oleh ibuku sedang minum arak Shaoxing dengan masakan Tionghoa sebagai camilannya.

Karena aroma khas dan rasa uniknya itu kurang cocok dengan seleraku, aku memutuskan untuk minum bir saja sebagai pilihan yang aman.

"Daging babi rebus ini enak sekali."

Mahiru menghabiskan sepiring penuh daging babi rebus itu dalam sekejap.

"Permisi, saya pesan satu porsi lagi untuk menu yang sama."

"Mahiru, kamu masih mau makan?"

"Makanan segini sih bahkan baru mengisi sepersepuluh perutku."

Bisa-bisanya dia memakan dua piring makanan dengan rasa kuat dan berlemak seperti ini.

Kapasitas perut gadis SMA dari klub olahraga benar-benar menakutkan.

Sama seperti yang pernah kupikirkan sebelumnya, di mana tepatnya semua makanan ini tertampung di dalam perutnya yang ramping itu, ya?

"Mama, tolong ambilkan udang saus pedas manisnya."

"Iya, iya."

"Ah, aku saja yang putar mejanya."

Tatsuki memutar meja putar tersebut. Piring berisi udang saus pedas manis pun tiba di depan kelompok anak-anak.

"Ngomong-ngomong, Kakak kenapa benci udang?"

Tanya Misora sambil memasukkan udang berbalut saus cabai merah menyala ke dalam mulutnya.

"Aku bukannya benci kok. Cuma aku tidak menganggapnya sebagai makanan saja."

Bukannya hal itu berarti kamu membencinya, sanggahku dalam hati.

"Padahal ini enak sekali lho?"

"Iya, kan~"

"Iya, ya~"

Anak-anak itu memakan udang saus pedas manis dengan senyum lebar di wajah mereka.

Miya menatap pemandangan itu dengan wajah pahit, lalu berkata,

"Yah, dulu aku memang bisa memakannya sih. Tapi, udang yang masih ada kulitnya itu penampilannya persis seperti serangga, kan? Rasanya seperti sedang membedah serangga lalu memakannya..."

"Benar juga. Kalau udang ada di daratan, mereka pasti hanya terlihat seperti serangga, ya."

Asaka menyetujuinya.

"Yah, asalkan rasanya enak, apa pun tak masalah, kan," celetuk Mahiru.

Tanpa disadari, piring kedua daging babi rebusnya sudah kosong melompong.

"K-kamu sudah menghabiskannya?"

"Soalnya hari ini aku banyak bergerak, jadi perutku sangat lapar."

Setelah itu, kami menikmati masakan Tionghoa sambil berbincang-bincang santai selama sekitar satu jam sebelum akhirnya kembali ke vila.

◇

"Karena ada pemandian air panas luar ruangan, silakan masuk secara bergantian."

Kami sepakat untuk menggunakan pemandian air panas luar ruangan secara terpisah antara pria dan wanita.

Para wanita akan masuk lebih dulu, jadi aku bergegas ke kamar untuk mengambil pakaian ganti.

"Luar biasa~"

Anak-anak tampak sangat kegirangan melihat pemandian air panas luar ruangan yang mewah itu.

Sebuah bak mandi berukuran besar tampak mengepulkan uap panas di area luas yang beralaskan hamparan kerikil bulat.

Langit belum sepenuhnya gelap, dan bintang-bintang tampak berkelap-kelip di langit yang berwarna biru keunguan.

Terdapat celah di antara pepohonan hutan di depan kami, sehingga suara ketenangan laut bisa terdengar sampai ke mari.

"Huft, rasanya benar-benar meresap ke dalam tubuh, ya."

Ucap Bibi Sayaka dengan suara yang santai. Bak mandi ini sangat luas, bahkan masih tersisa banyak ruang meskipun dimasuki oleh sembilan orang sekaligus.

Setelah beberapa saat kami berendam sambil memandangi langit malam, Bibi Mirai yang berada di sebelahku membuka mulutnya.

"Ngomong-ngomong, aku dengar dari Asuka-san, katanya kamu direkrut oleh tim perusahaan dari Kumamoto, ya, Mahiru-chan?"

"Eh? Ah, begitulah."

"Hebat sekali, selamat, ya!"

Bibi Sayaka bertepuk tangan, dan semua orang pun ikut mengucapkan selamat kepadaku.

"Eeh, Mahiru, kamu akan pergi ke Kumamoto?"

Miya sontak berdiri.

"Bukan begitu, ini masih belum diputuskan kok."

"Kalau kamu bisa menorehkan prestasi di tim perusahaan, menjadi perwakilan Jepang bukanlah sekadar mimpi, lho. Aduh, bagaimana ini, apa aku harus minta tanda tanganmu dari sekarang, ya."

Bibi Sayaka mulai terlihat antusias seolah-olah hal itu terjadi pada dirinya sendiri.

"Mahiru-chan, kamu mau ikut Olimpiade?"

Tatsuki-chan berteriak kegirangan.

"Hebat sekali~"

"Sangat luar biasa."

Misora-chan dan Mei-chan juga menatapku dengan tatapan seolah sedang melihat sesuatu yang menyilaukan.

"Selamat, ya, Mahiru-chan."

Asaka memamerkan senyumnya yang lembut.

"...Haha, terima kasih. Tapi, hal ini masih belum diputuskan kok."

Aduh, gawat nih. Suasananya sudah sepenuhnya berubah menjadi perayaan.

"Aku tidak maauuu, aku tidak mau berpisah dengan Mahiruuuu~"

Miya langsung memelukku.

"Kan sudah kubilang berkali-kali kalau ini belum pasti."

"Tim yang mana di Kumamoto?"

Tanya Hikari-san.

"Etto, seingatku namanya Kumamoto Empress."

"Benarkah!? Aku punya teman yang main di sana lho."

"Seriusan?"

"Dia adik kelasku sewaktu SMA. Namanya Hanayama Koharu, apa kamu kenal?"

"Eh, yah, kenal sih."

"Eh!? Hanayama Koharu yang itu? Ah, benar juga, ya. Dilihat dari generasinya, dia kan adik kelasnya Hikari-chan."

Bibi Mirai mengatakannya dengan wajah terkejut.

"Waktu aku masih kelas tiga, dia itu kelas satu."

"Hee."

Betapa sempitnya dunia ini. Hubungan antar manusia itu terkadang bisa terhubung di tempat yang tak terduga, ya.

Tapi karena Hikari-san juga merupakan pemain tingkat nasional, hal ini tidak terlalu mengherankan sih.

"Nanti aku akan berpesan padanya agar tidak menindas juniornya, jadi kamu tenang saja, ya."

"Haha..."

Hmm, dengan suasana seperti ini, aku sama sekali tak bisa mengatakannya.

Mengatakan kalau aku berencana untuk menolak tawaran itu karena aku tidak ingin berpisah dengan Yuu-nii.

Sebagai pilihan masa depan, mengabdikan hidupku untuk bermain voli memang bisa menjadi salah satu pilihan. Dan kalau ini adalah diriku di tahun lalu, aku pasti akan menerima tawaran ini dengan senang hati.

Lagipula, kesempatan seperti ini sangat jarang terjadi.

Tapi, sejak memasuki tahun ini, situasinya telah berubah total.

Apakah mengejar mimpi dengan harus mengorbankan keseharianku bersama Yuu-nii itu adalah pilihan yang tepat?

Saat aku menengadahkan wajahku menatap langit, tampak bulan yang indah tengah mengambang di atas sana.

◇

"Huft, benar-benar seperti neraka."

Sesi mandi untuk kelompok pria telah selesai.

Disuruh menggosok punggung tiga orang om-om, membuatku sama sekali tak bisa merasa relaks. Mungkin nanti aku akan mandi lagi sendirian.

Di ruang tengah, kelompok wanita yang sudah selesai mandi lebih dulu tampak sedang menyiapkan minuman untuk bersantai di malam hari.

Aku mengurungkan niat untuk melontarkan komentar 'Kalian masih mau minum?' karena rasanya terlalu tidak peka. Aku pun ikut menenggak segelas bir sehabis mandi.

"Kuhaa."

Kami duduk di tempat yang kami sukai, dan pesta pun dimulai.

Televisi dibiarkan menyala meski tak ada yang menontonnya.

Kami menyerahkan diri pada minuman dan waktu yang mengalir dengan santai.

Anak-anak duduk berkerumun memainkan gim untuk empat orang, sementara salah satu dari kelompok orang dewasa secara bergantian mengisi posisi pemain keempat.

Waktu telah menunjukkan lewat dari pukul sepuluh malam. Ini sudah waktunya bagi anak-anak untuk tidur.

"Misora, sudah waktunya bagimu untuk tidur."

Ucap Mirai-san.

"Iyaaa~ Ayo kita tidur, Kak."

Miya tampak sedang terkantuk-kantuk sambil bersandar di sofa.

Mungkin karena dia sudah menghabiskan banyak tenaganya saat bermain voli pantai di siang hari tadi.

Kakak beradik itu pun melangkah menuju kamar mereka dengan langkah kaki yang gontai.

"Ini juga sudah waktunya bagi Tatsuki dan Mei-chan untuk tidur, ya."

Hikari mengatakannya dengan nada bicara layaknya seorang ibu.

"Huum."

"Iya."

Tatsuki dan Mei juga tampak sedang mengucek mata. Mei berjalan gontai menghampiriku.

"Yuu-saan."

Kemudian, Asaka yang berada di dekat kami tiba-tiba menyela.

"Mei-chan mau tidur bersama Yuu-nii, ya?"

"Huum."

"Kalau begitu, Yuu-nii. Kamar Mei-chan dan Tatsuki-chan ada di kamar Hikari-san, jadi tolong tidurkan mereka, ya."

"A-aku yang menidurkannya?"

"Tuh lihat, mereka berdua sudah sangat mengantuk."

Tatsuki dan Mei juga sudah menjadi sangat tenang layaknya sakelar mereka telah dimatikan.

"Kalau begitu, Arizuki-kun, sisanya kuserahkan padamu."

"Mau bagaimana lagi, deh."

"Ah, pastikan mereka menyikat gigi dengan benar, ya."

"Iya, iya."

Aku membawa mereka berdua menuju kamar Hikari. Seingatku, kamarnya berada di ujung paling kiri.

Aku duduk di kursi samping ranjang, lalu menunggu Tatsuki dan Mei tertidur pulas.

Mereka berdua berbaring sambil berpegangan tangan dengan akrabnya.

Tak lama kemudian, terdengar suara napas teratur dari mereka berdua. Aku pun berdiri perlahan agar tidak membangunkan keduanya, lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.

◇

Aku menang.

Kalau situasinya sudah sejauh ini, kemenangan sudah berada di tanganku.

Bagaimana ini, entah kenapa aku jadi merasa gugup.

Apa rasanya nanti akan sakit, ya? Nanti aku harus mandi lagi ah.

Rasa senang dan cemas berbaur menjadi satu di dalam kepalaku.

Pada saat itulah, suara bel pintu berbunyi.

Siapa itu, ya.

Tidak mungkin ada tamu di jam segini, dan seharusnya tidak ada lagi orang yang berencana berkunjung ke mari hari ini selain kami berdua belas.

Merasa curiga, aku pun mengecek layar kamera bel pintu tersebut.

"Hii!"

Hawa dingin tiba-tiba menjalar di sepanjang punggungku.

"Ada yang datang?"

Ayah mengintip ke arah kamera dari balik bahuku.

"Ternyata dia datang juga pada akhirnya."

"A-Ayah, jangan-jangan Ayah yang memberitahunya tentang acara hari ini?"

"Iya. Habisnya Asaka sendiri yang bilang kalau berkumpul dengan banyak orang pasti akan lebih menyenangkan... Kenapa? Apa ini masalah?"

"...Tidak."

Layar itu menampilkan senyuman jahat milik kakak perempuanku, Touka.

"Ada yang datang?"

Mahiru-chan ikut mengintip ke layar kamera bel pintu tersebut.

"Ah, jangan-jangan ini Touka-san?"

"U-uum."

"Hee, sudah berapa tahun ya sejak terakhir kali kita bertemu?"

"Bagi Mahiru-chan, ini mungkin sudah sekitar tiga tahun berlalu, ya..."

Putri kedua keluarga Gendouji, Gendouji Touka, adalah orang yang berjiwa bebas.

Ia menggunakan uang keluarga untuk bermain keliling dunia, dan belum tentu akan kembali ke Jepang walau hanya beberapa kali dalam setahun.

Ia memang pasti akan pulang di hari peringatan kematian ibu, tetapi di luar itu, pada dasarnya ia bertindak murni berdasarkan suasana hati dan ide yang terlintas begitu saja.

Karena itulah, ada kalanya kami cuma bisa bertemu dengannya sekali dalam setahun.

Mungkin karena sudah lama hidup di luar negeri, dia sangat pandai berbaur dengan orang lain.

Dia bisa langsung akrab bahkan dengan orang yang baru pertama kali ditemuinya.

Oleh karena itu, dia memang sosok yang sangat cocok untuk memeriahkan acara perkumpulan seperti kali ini. Namun...

Dia tidak pernah memikirkan segala sesuatunya secara mendalam, dan pada dasarnya dia hanya hidup terbawa oleh suasana saja.

Oleh karena itu, dia punya kebiasaan buruk sering menimbulkan masalah yang tidak perlu.

Dia adalah anak bermasalah dengan arah yang berbeda jika dibandingkan dengan Miya-chan.

Apalagi, saat ini kakakku yang satu lagi, Kyouka-neesama, sang pengawas yang selalu menahannya, tidak ada di sini.

Kehadirannya sudah pasti akan mengacaukan segalanya.

Hari ini adalah hari di mana aku sama sekali tidak boleh gagal. Aku harus menegarkan hati untuk mengusirnya pergi...

Aku bergegas menuju pintu masuk.

"A-chan, lama tak jumpa~"

"Kyaa."

Ternyata dia sudah masuk duluan. Kakakku ini langsung memelukku dengan erat.

Kulit yang terbakar matahari hingga hitam legam dan rambut pendek yang diwarnai pirang.

Penampilannya terlihat seperti Kogyaru dari beberapa dekade yang lalu.

"K-Kakak, kenapa kamu ada di sini?"

"Yah, musim panas tahun ini kebetulan aku lagi ada di Okinawa. Terus, karena Ayah bilang kalau aku sedang ada di Jepang, dia menyuruhku mampir. Apalagi, kudengar kalian sedang mengadakan acara perkumpulan dengan banyak orang, kan."

"Okinawa? Tumben sekali."

"Terkadang ada kalanya aku juga ingin merasakan suasana khas Jepang, lho. Biar bagaimanapun juga, darah yang mengalir di nadiku ini kan darah orang Jepang asli, ya."

"...Begitu, ya."

"Ah, benar juga. Aku bawa oleh-oleh lho."

Gawat, aku benar-benar termakan oleh ritme Kakak.

"A-ano, Kakak, hari ini―"

"Oh, Touka, kamu sudah datang?"

Ayah datang dari belakangku.

"Hah! Hei, apa-apaan dengan penampilanmu yang terlihat seperti Gyaru dari masa lalu itu?"

"Ah, si bawel sudah datang. Lari adalah kunci kemenangan."

Setelah mengatakan hal itu, Touka-neesama pun berlari ke ujung lorong.

"Ooh, ada wajah-wajah yang kukenal, tapi banyak juga wajah-wajah baru di sini."

Kehadiran penyusup yang tiba-tiba ini membuat seisi ruangan menjadi riuh.

Namun, karena sebagian besar dari mereka sedang di bawah pengaruh alkohol, keributan ini tidak membesar.

Kalau ingatanku tidak salah, Hikari-san, anak-anak yang sudah tertidur, serta Yuu-nii seharusnya belum pernah bertemu dengan Touka-neesama.

"Lama tidak berjumpa, ya."

Tanpa ragu sedikit pun, Touka-neesama langsung duduk di kursi pesta perjamuan itu.

"Oya, si cantik di sebelah sana itu sepertinya kita baru pertama kali bertemu, ya."

Dia menatap ke arah Hikari-san.

"Salam kenal. Apa kamu ini kakak perempuannya Asaka-chan?"

"Yees. Terima kasih karena sudah selalu menjaga Asaka. Hmm? Kamu ini siapa?"

Kali ini ia menatap ke arah Yuu-nii.

"Umm, namaku Arizuki Yuu―"

Hampir bersamaan dengan Yuu-nii mengucapkan kalimatnya, Touka-neesama langsung berdiri dan berseru.

"Ternyata kamu, ya! Kamu yang selalu membuat A-chan menangis, kan!?"

"Hah?"

"Padahal A-chan itu selalu menangis sambil bilang ingin bertemu, ingin bertemu denganmu tahu, sialaaaaan!"

Kemudian ia mengunci kepala Yuu-nii dengan lengannya dari belakang.

"M-maafkan aku."

"Tunggu, Touka-neesama."

Dengan panik, aku bergegas melerainya.

"M-menyerah, menyerah."

Dengan wajah pucat pasi, Yuu-nii menepuk-nepuk lengan Touka-neesama yang telah menguncinya kuat-kuat.

"Bercanda kok~ Menjadi anggota masyarakat itu ada banyak lika-likunya, kan."

Ia melepaskan kuncian kepalanya dengan mudah, lalu tertawa terbahak-bahak seolah tak terjadi apa-apa.

"Gehok, gehok."

"Yang paling penting itu adalah masa sekarang, tahu. Mempermasalahkan hal-hal di masa lalu itu cuma buang-buang waktu saja."

"I-iya."

"Ahaha."

B-benar-benar seenaknya.

Dalam sekejap, dia langsung mengambil alih inisiatif di ruangan ini.

"Ooh, Mahiru-chan, kamu jadi semakin besar, ya."

"Kamu sedang membicarakan tinggi badanku, kan?"

"T-tentu saja. Ahaha."

"Touka-san, kulitmu terbakar matahari parah banget, ya."

"Aku baru saja pulang dari Okinawa. Ya ampun, sengatan matahari di Yonaguni benar-benar luar biasa menyengat, lho. Benar juga, aku kan bawa oleh-oleh."

Ia mengeluarkan botol minuman keras dari kantong kertas di dekat kakinya.

"Jeng jeng."

"Ara, Donan, ya."

Mata Bibi Sayaka berbinar-binar.

"Kakak, apa itu?"

"Ini arak khas Okinawa, dan rasanya itu ueenak tenaaaan. Ayo, ayo, semuanya kosongkan gelas kalian."

Touka-neesama menuangkan minuman bernama Donan itu ke setiap gelas milik semua orang.

"Ah, benar juga. Malam ini aku mau tidur di kamar A-chan, lho."

"Hah?"

"Aku kan ingin tidur bersamamu untuk pertama kalinya setelah sekian lama."

"T-tidak bisa, kita ini kan sudah dewasa. Lagipula, masih ada kamar kosong lainnya kok."

"Tidak mau."

"Apanya yang tidak mau."

Di saat kami sedang berdebat di sisi sini, tanpa disadari Yuu-nii yang berada di ujung sana tampak sudah ambruk terkulai lemas.

"Yuu-nii, kamu tidak apa-apa?"

Mahiru-chan mengelus-elus punggung Yuu-nii.

"Ini, minumlah."

Yuu-nii menerima segelas air dari Bibi Sayaka, lalu meneguknya hingga habis dalam sekali teguk.

"Tunggu, Yuu-nii kenapa?"

"Ugh, m-minuman apa ini."

Yuu-nii bergumam dengan suara seraknya sambil menatap gelas di hadapannya.

"Kamu ini, Yuu. Kadar alkoholnya ini enam puluh derajat, lho, jadi kamu harus meminumnya sedikit demi sedikit."

Bibi Sayaka menenggak minumannya dengan anggun.

"E-enam puluh derajat..."

Setelah menggumamkan hal itu dengan wajah yang merah padam, Yuu-nii bersandar dalam-dalam ke sofa, dan langsung jatuh tertidur.

"K-Yuu-nii?"

Meski aku menggoyangkan bahu Yuu-nii, satu-satunya balasan yang kuterima hanyalah dengkuran halusnya saja.

"Kayaknya dia tidak akan bangun sampai besok pagi, nih," ujar Bibi Sayaka.

"Ugh!"

Apa-apaan ini.

Padahal belum sampai lima belas menit sejak Touka-neesama menerobos masuk, tapi Yuu-nii sudah tumbang. Yuu-nii itu tidak terlalu kuat minum alkohol.

Kalau keadaannya begini, dia pasti tak akan bangun hingga besok pagi, jadi rencanaku malam ini terpaksa ditunda untuk besok.

Tunggu dulu.

Kalau dia berencana untuk menginap juga di malam esok, aku harus memikirkan cara untuk mengantisipasinya.

Pilihan terbaik adalah dengan membocorkan informasi keberadaan Touka-neesama pada Kyouka-neesama, dan memintanya untuk menjemput orang ini.

Pertama-tama―

"Ah, kalau dipikir-pikir lagi, aku kan punya janji minum dengan Nenetchi."

Tiba-tiba, Touka-neesama mengatakan hal itu dan bangkit berdiri dari tempat duduknya.

"Eh? Kakak?"

"A-chan, maaf yaa~ Aku pulang, deh."

Sambil memamerkan raut wajah memelas yang tampak menyesal, ia menempelkan kedua telapak tangannya di depan dada.

"Hah?"

"Sayang sekali dengan acaranya, padahal sedang asyik-asyiknya berkumpul, tapi aku sudah buat janji lebih dulu nih. Aku benar-benar lupa. Yah, tapi syukurlah setidaknya kita bisa bertatap muka untuk pertama kalinya setelah sekian lama."

"Tung-tung-tunggu sebentar, Kakak, kamu baru saja minum alkohol, kan?"

"Aku belum meminumnya kok. Aku cuma menuangkannya saja untuk semuanya. Kayaknya kita baru akan bertemu lagi saat Tahun Baru nanti, deh. Kalau begitu semuanya, dadaaah~"

Kesunyian bagaikan badai yang baru saja berlalu kembali menyelimuti kami.

Semua orang memasang wajah tercengang.

Sudah buat janji dengan orang lain?

Kalau begitu, kenapa dia tidak langsung saja pergi menemui orang itu dari awal.

Padahal baru saja saat aku pikir semuanya akan berjalan lancar, dia malah datang di waktu yang sangat tepat hanya untuk mengacaukan segalanya...

Aku melirik sekilas ke arah Yuu-nii. Dia sudah tertidur sangat pulas, dan sepertinya hal-hal kecil tak akan bisa membangunkannya.

"Touka-san benar-benar orang yang berjiwa bebas, ya."

Mahiru-chan mengangguk-anggukkan kepalanya seolah kagum pada sosok kakakku.

"Anak itu benar-benar orang yang tidak bisa tenang."

Ayah mengernyitkan pangkal alisnya.

"Haaah."

Aku hanya bisa menghela napasku panjang-panjang.

 

6

"Ugh, kepalaku, sakit."

Saat aku terbangun, atau lebih tepatnya, saat aku sadar, langit-langit putih memasuki pandanganku. Sepertinya aku tertidur di atas ranjang di kamarku yang ada di vila, tapi...

"Eh?"

Sejak kapan aku tertidur? Aku sama sekali tidak ingat. Rasanya kesadaranku melayang begitu saja, seolah-olah aku baru saja dibius total.

"Etto."

Seingatku semalam aku menikmati pesta minum, dan setelah menidurkan anak-anak, seingatku...

"Benar juga, kakak perempuan Asaka datang, lalu setelah itu?"

Aku hanya ingat sampai di situ. Lebih tepatnya, ingatanku terputus sampai di sana. Biarpun aku berusaha mengingatnya, pemandangan setelah itu benar-benar putih bersih, dan aku sama sekali tak bisa mengingat apa-apa.

Lalu, rasa sakit yang berdenyut dan rasa mual yang berputar-putar di kepalaku ini adalah gejala khas mabuk sehabis minum.

Tapi tetap saja, sampai minum-minum hingga hilang ingatan begini, biarpun ini cuma liburan singkat bersama orang-orang yang sudah kukenal, aku ini benar-benar keterlaluan lepas kendali.

Saat aku melihat jam, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi lewat.

Sambil memegangi kepalaku yang terasa berat, aku pun berdiri perlahan-lahan.

Aku mandi dan mengalirkan air dingin ke dalam perutku.

Saat aku melangkah keluar ke balkon dan membiarkan tubuhku terpapar sinar matahari musim panas, tubuhku perlahan-lahan mulai terasa lebih baik.

"Yuu-nii, apa kamu sudah bangun?"

Asaka datang menghampiriku.

"Oh, Asaka. Selamat pagi."

"Selamat pagi, tapi wajahmu terlihat pucat lho."

"Yah, aku cuma sedikit mabuk sehabis minum. Ah, tapi sekarang aku sudah merasa jauh lebih baik, kok."

"...Begitu, ya."

"Apa kakakmu sudah pulang?"

"Iya, dia sudah pulang sejak tadi malam."

"Begitu, ya. Gara-gara alkohol, sebenarnya aku tidak terlalu mengingat kejadian semalam. Apa aku minum sebanyak itu, ya?"

"Bukannya kamu minum sendiri, tapi lebih tepatnya kamu dipaksa minum..."

Asaka membuang mukanya, terlihat kesulitan untuk mengatakannya.

Melihat reaksinya ini, sepertinya semalam aku memang terlalu lepas kendali dan dikalahkan oleh alkohol.

"...Hari ini sebaiknya aku berhati-hati agar tidak minum terlalu banyak."

"Benar juga. Yuu-nii kan tidak terlalu kuat minum alkohol, jadi tolong hari ini tahan dirimu, ya."

"Iya, iya, aku mengerti."

Terdengar suara knalpot bernada rendah yang berat dari suatu tempat. Itu adalah suara Supra milik Ayah. Apa dia mau pergi ke suatu tempat?

"Yuu-nii, apa kamu bisa sarapan?"

"Ah, aku makan, aku makan."

Setelah itu, aku pun berjalan menuju ruang tengah. Sepertinya aku adalah orang terakhir yang bangun.

"Ayah pergi ke luar?"

Aku bertanya pada Ibu sambil menyantap sarapanku.

"Iya, dia pergi bersama Taichi-kun."

"Bersama Tacchan?"

"Katanya mereka mau pergi menemui 'Petir Shounan'."

"?"

"Ini, Yuu-kun, kopinya."

Mirai-san membawakan kopi untukku.

"Terima kasih banyak. Ngomong-ngomong, Miya ada di mana?"

"Dia sedang menulis novel di kamarnya."

"Begitu, ya."

"Mahiru-chan dan anak-anak sudah pergi ke laut, lho. Apa Yuu-nii mau ikut berenang juga?"

"Tidak, efek alkoholnya masih tersisa di tubuhku. Aku mau mandi cahaya matahari saja untuk menghilangkan mabukku."

Selesai makan, aku pun berjalan-jalan sendirian di sekitar vila.

Saat aku berjalan menyusuri hutan, suara jangkrik tonggeret terus bergema tanpa henti di telingaku.

Biarpun musim panas sudah hampir berakhir, mereka ini benar-benar makhluk yang bersemangat.

Begitu aku turun ke pantai, tampak anak-anak dan Mahiru sedang asyik bermain di laut.

"Ah, Yuu-nii."

Mahiru yang mengenakan bikini berhiaskan pita depan itu berlari menghampiriku.

"Kalian semua sudah bersemangat sekali sejak pagi, ya."

"Yuu-nii mau masuk juga?"

"Tidak, alkoholnya masih sedikit tersisa, jadi aku akan melihat kalian dari sini saja."

Mereka berempat naik ke atas ban pelampung dan mulai bermain. Sambil membiarkan ombak yang menyapu membasahi kakiku, aku berjalan-jalan menyusuri pantai.

Meski pasir masuk ke sela-sela sandal dan telapak kakiku, hal itu sama sekali tidak terasa tidak nyaman.

Aku pun duduk di atas pasir pantai, lalu memandangi Mahiru dan yang lainnya serta lautan yang membentang di seberang sana.

"Haaah."

Damainya.

Menghabiskan waktu dengan sekadar memandangi laut kosong sejak pagi tanpa melakukan apa-apa, ini benar-benar cara menggunakan waktu yang sangat mewah.

Padahal biasanya aku sangat sibuk membersihkan kedai dan menyiapkan bahan masakan.

Apa ini yang dinamakan dengan menyegarkan jiwa dan raga?

Sesekali berdiam diri melamun tanpa memikirkan apa pun ternyata merupakan pilihan yang bagus juga.

Saat aku sedang asyik memandangi laut selama beberapa saat seperti itu, pandanganku tiba-tiba dipenuhi oleh sepasang gunung kembar yang sangat besar.

"Yuu-nii? Kamu masih hidup?"

"Hm? Uwaa."

Tanpa kusadari, Mahiru ternyata sudah berada di depanku.

Karena ia menekuk pinggangnya dan mencondongkan badannya ke depan untuk mengintip wajahku, pandanganku pun dipenuhi oleh dada besarnya itu.

"Jangan mengagetkanku dong."

"Maaf, maaf. Soalnya aku khawatir karena kamu tidak bereaksi saat dipanggil."

Tubuh sehat Mahiru yang basah oleh air laut itu tampak bersinar cemerlang bagaikan matahari musim panas.




"...Hei, Yuu-nii."

Mahiru mengalihkan pandangannya ke bawah secara diagonal,

"Ada apa?"

"...Ah, enggak, lupakan saja."

"Hah?"

"Aku bilang bukan apa-apa."

Mahiru membalikkan badannya dan berlari ke arah laut.

"Ada apa dengan anak itu."

Perasaanku sudah kembali pulih dan efek alkoholnya pun sudah hilang. Aku juga mau ikut berenang ah.

Untuk berganti pakaian dengan baju renang, aku melangkah menuju vila.

◇

Kalau aku bilang aku direkrut oleh tim perusahaan, apa yang akan Yuu-nii katakan, ya. Mungkin dia akan terkejut sampai terjengkang.

Apa dia akan mendukungku, ya? Atau mungkin dia malah bilang kalau dia tidak mau berpisah denganku... Tidak, tidak mungkin begitu, ya.

Karena Yuu-nii itu orangnya baik, dia pasti akan ikut merasa senang seolah-olah hal itu terjadi pada dirinya sendiri. Aku bisa dengan mudah membayangkan sosoknya yang akan berkata 'Syukurlah, Mahiru'.

...Apa Yuu-nii tidak masalah kalau aku pergi jauh, ya? Karena pasti nanti waktuku akan banyak tersita untuk latihan dan pertandingan, dan jarak dari Shizuoka juga jauh.

Aku tidak mau berpisah dari Yuu-nii.

Apa yang seharusnya aku lakukan?

◇

Di malam hari kedua, kami memutuskan untuk mengadakan barbeku di pinggir pantai.

Sebelumnya hanya ada aku, Asaka, dan Hanayoshi-san, tapi kali ini pesertanya mencapai total tiga belas orang.

Memang benar, barbeku itu lebih seru kalau dilakukan bersama banyak orang.

Suara gemeretak api yang meletup terdengar memecah keheningan malam di tepi laut.

Langit malam itu nyaris tanpa awan, dan bintang-bintang dengan berbagai ukuran yang bertaburan memancarkan cahaya redup.

"Ini, sudah matang nih~"

Ibu membagikan daging ke piring anak-anak.

"Enak, ya."

Misora mengatakannya dengan wajah tersenyum.

"Huum."

Mei menyuapkan daging ke dalam mulutnya dengan senyuman lebar.

"Mama, aku beri ini, ya."

Tatsuki menaruh labu kuning di atas piring Hikari.

"Hei, makan sayurnya juga dong. Ya ampun."

"Heheee."

Tatsuki berlari memutari panggangan dan menghampiri kelompok Miya.

"Aku baru pertama kali makan barbeku."

Mei yang datang ke sebelahku mengatakan hal itu.

Saus yang menempel di sekitar mulutnya membuatnya terlihat menggemaskan.

"Oh, ya? Bagaimana? Seru, kan?"

"Iya."

"Syukurlah kalau begitu."

"Ehehe."

"Mei-chan, ada saus yang menempel di pipimu, lho."

"Eh?"

"Biar aku bersihkan, ya."

Asaka yang muncul dari belakangku membersihkan mulut Mei dengan saputangan.

"Nah, sudah bersih sekarang."

"Terima kasih banyak."

"Sama-sama. Yuu-nii, sebaiknya kamu jangan minum alkohol terlalu banyak agar tidak terjadi kejadian seperti kemarin, ya."

"Benar juga. Setelah kaleng ini habis, aku tidak akan minum lagi, deh."

Aku mengocok perlahan kaleng bir keduaku.

"Ada bir non-alkohol juga, lho."

"Oh."

Dari cerita yang kudengar, sepertinya aku mabuk berat semalam gara-gara meminum minuman beralkohol dengan kadar enam puluh derajat yang dibawa oleh kakak perempuannya Asaka—seingatku namanya Touka, ya.

Dunia ini memang luas, ya. Selain minuman dengan kadar alkohol setinggi itu memang benar-benar ada di dunia ini, ternyata ada juga orang yang bisa meminumnya dengan wajah santai.

Seperti yang dikatakan Asaka, hari ini aku harus membatasi diri.

"Ngomong-ngomong, Miya, novelmu sudah selesai ditulis?"

"Hm?"

Miya meminum seteguk teh hijau, lalu menjawab.

"Tinggal bagian epilog saja, besok pasti selesai kok."

"Begitu, ya. Aku jadi tidak sabar. Kalau sudah selesai, biarkan aku membacanya lebih dulu."

"Iya, aku mengerti~"

"Kalian sedang mengobrolkan apa seru banget?" ucap Mahiru.

"Tentang novel yang kutulis bersama Miya."

"Oh, kalau yang itu aku pas."

"Fufufu, aku akan membiarkanmu membacanya juga, kok."

"Tidak usah. Cuma dengan membaca buku yang isinya teks semua sebanyak satu halaman saja, kepalaku sudah langsung pusing."

"Kamu ini, selama ini bagaimana caramu menjalani hidup..."

Seusai barbeku di pinggir pantai, kami menikmati kembang api yang sudah dibeli sebelumnya.

Cahaya dengan berbagai macam warna tampak berterbangan membelah kegelapan malam.

"Indah, ya."

Gumam Asaka.

"Benar juga."

"Benar-benar sangat menyenangkan..."

"Benar juga."

Ini adalah liburan yang menyenangkan, sangat cocok untuk menutup akhir musim panas kali ini.

"Bagaimana kalau kita jadikan liburan ini sebagai acara rutin tahunan?"

"Hei, apa tidak masalah?"

"Iya. Nanti aku yang akan bicara pada Ayah."

Setelah mengatakan hal itu, Asaka pun tersenyum.

"Yosh, bersiap, ya."

Tacchan menyalakan kembang api berbentuk tabung. Tak lama kemudian, sebuah bunga besar mekar di langit malam.

Setelah puas menikmati festival kembang api, kami mandi secara bergantian, lalu kembali ke kamar masing-masing.

"Huft."

Selesai berendam di pemandian air panas luar ruangan, aku merebahkan diri di atas ranjang.

Sensasi hangat setelah mandi berpadu dengan efek mabuk ringan, memberikan sensasi nyaman yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Besok liburan ini akan berakhir, ya.

Makan, minum, dan bermain, ini adalah waktu yang sangat menyenangkan.

Besok malam aku pasti sudah berada di atas ranjang di kamarku yang sempit itu, ya.

Rasanya sedikit sedih, tapi di sisi lain aku juga merindukan suasana Shizuoka.

Aku kan bisa datang ke sini lagi nanti.

Asaka juga bilang ingin menjadikannya acara rutin musim panas, jadi ini bukan berarti acara ini hanya akan diadakan pada tahun ini saja.

"Hmm."

Rasa kantuk perlahan-lahan mulai merayapiku.

Pandanganku mulai mengabur.

Lalu, aku pun tertidur pulas.

 

7

"Hng, hm?"

Merasa ada tekanan di perutku, aku pun terbangun. Lampu yang seingatku sudah kumatikan kini menyala.

Berdasarkan perasaanku, rasanya belum sampai sejam sejak aku tertidur.

Sepertinya aku juga terbangun bukan karena ingin buang air kecil.

"Ada apa ini?"

Sensasi ini, apa ada seseorang yang menindihku dari atas?

Aku mengalihkan pandanganku ke arah tubuhku. Dan seketika, rasa kantukku langsung menghilang sepenuhnya.

"A-Asaka."

"Yuu-nii."

Asaka sedang duduk mengangkang di sekitar pinggangku.

Yang paling mengejutkan adalah penampilannya.

Dia hanya mengenakan sehelai baju tidur negligee berwarna merah muda pucat dengan hiasan renda dan celana dalam.

Apalagi kainnya transparan.

Dada Asaka yang besar beserta ujungnya terlihat menonjol dari balik kain tipis itu...

"Asaka, a-apa yang sedang kamu..."

"Apa maksudmu? Hanya ada satu hal yang bisa dilakukan oleh pria dan wanita saat sedang berduaan saja di malam hari, kan?"

"H-hah!?"

"Aku sudah tahu semuanya, lho."

Asaka melanjutkan ucapannya dengan suara yang sayu.

"Bagaimana cara membuat bayi."

"Apa yang sedang kamu katakan―"

Pada saat itu juga, pemandangan kenangan dari masa lalu yang jauh terlintas dari lubuk terdalam ingatanku.

'Bagaimana cara membuat bayi itu, ya?'

Sosok Asaka di masa kecil yang menggumamkan hal itu dengan sorot mata polos tiba-tiba terbayang di ingatanku.

Kalau tidak salah, itu terjadi saat kami sedang memikirkan tema untuk tugas penelitian bebas di liburan musim panas.

Bagi anak-anak, keseharian mereka itu dipenuhi oleh pertanyaan. Karena itulah, wajar jika dia merasa penasaran akan hal itu.

Tindakan pria dan wanita yang saling bersetubuh, hingga melahirkan tunas kehidupan baru.

Bagiku saat itu, aku menganggap bahwa hal itu masih terlalu dini untuk diketahui oleh anak-anak, sehingga aku berusaha sekeras mungkin untuk mengelak.

Namun Asaka yang sekarang ini sudah menjadi siswi kelas tiga SMA. Tentu saja, dia sudah mengetahuinya. Ya, wajar saja kalau dia sudah tahu...

Bagaimana caranya membuat bayi.

Dan apa yang harus dilakukan demi mencapainya.

"Asaka... kamu ini."

"Fufu."

Jari-jari putih Asaka membelai perutku dengan lembut.

"Apa maumu."

"Apa maksudmu? Bukankah sudah kukatakan tadi. Kita ini sedang berada di dalam ruangan tertutup di malam hari dengan hanya berduaan saja, lho? Di saat seperti ini, kira-kira apa yang akan kita lakukan, ya."

"Berhentilah bercanda."

"Menurutmu aku akan melakukan hal ini sebagai candaan?"

Ia menatapku dengan sorot mata yang penuh gairah.

"Yuu-nii, aku menyukaimu."

"H-hah?"

Kata-kata tak terduga terlontar dari mulutnya. Asaka menyukaiku?

"Aku sangat menyukaimu. Aku mencintaimu."

"...!?"

Aku tak bisa berkata-kata.

Memang benar terkadang Asaka menempel padaku dengan sikap yang lengket layaknya sepasang kekasih, tapi itu hanyalah karena dia sedang bermanja seperti saat ia masih kecil dulu.

Bagi Asaka yang menjadikan kenangan masa lalu sebagai sandaran hatinya, tak heran jika ia melakukan hal-hal yang mengingatkannya pada masa kecilnya.

Oleh karena itu, perasaan yang dipendam Asaka kepadaku itu pastilah sekadar perpanjangan dari perasaan kagum seorang anak kepada orang dewasa.

Perasaan sayangnya itu tidak mungkin merupakan sebuah rasa cinta.

Asaka pasti telah salah mengartikan hal itu.

Aku memalingkan wajahku dari Asaka,

"...Bodoh. Kamu, ka-kamu cuma salah paham saja."

"Salah paham?"

Demi melarikan diri dari ketakutan akan kehilangan kenangannya, di saat dia sedang bergantung padaku, Asaka mengira bahwa perasaan kagumnya kepadaku sebagai sosok kakak itu adalah perasaan cinta. Pasti begitu.

"Cobalah melihat dunia ini sedikit lebih luas lagi. Saat ini, kamu hanya sedang berdiri diam di tempat. Jika kamu sudah bisa melangkah maju dan mandiri, dunia yang kamu lihat pasti akan berubah. Kalau kamu bisa melakukan hal itu, suatu hari nanti pasti akan muncul pria yang benar-benar bisa kamu cintai dengan sepenuh hati―"

"Haaah."

Asaka menghela napas.

"Karena Yuu-nii itu tidak peka, kali ini aku akan mengatakannya dengan jelas, ya. Aku sama sekali tidak menganggap Yuu-nii sebagai kakakku."

"Eh?"

Asaka meletakkan tangannya di dada, lalu berkata,

"Aku menyukaimu sebagai seorang pria."

"Makanya kubilang, itu..."

"Perasaanku ini bukanlah sesuatu yang baru saja muncul. Aku sudah menyukaimu sejak sepuluh tahun yang lalu."

"Ukh!"

"Aku memang tidak tahu apa tepatnya yang menjadi pemicunya, tapi di hari perpisahan kita saat itu, aku sudah jatuh cinta padamu. Apa Yuu-nii membenciku?"

"M-mana mungkin aku membencimu. Tapi."

"Tapi?"

"S-sampai seperti ini, padahal kita kan tidak pacaran..."

"Yuu-nii memang kaku sekali dalam hal seperti ini, ya."

Asaka terkekeh geli, lalu berkata,

"Kita anggap saja kalau ini adalah karena pengaruh alkohol dan malam musim panas. Terbawa suasana dan akhirnya melakukannya, itu hal yang lumrah, kan."

"T-tapi kan ada orang lain juga di sini."

Bukan cuma kami berdua yang saat ini sedang berada di vila ini.

"Benar juga, ya. Kalau kita menyambut pagi di kamar yang sama, semua orang pasti akan menyadari apa yang baru saja kita lakukan."

Kalau sampai ketahuan bahwa aku meniduri siswi SMA karena terbawa suasana, itu akan menjadi masalah besar.

Apalagi di sini juga ada Hanayoshi-san dan kedua orang tuaku.

"B-bagaimana kalau hal itu sampai terjadi."

"Kalau sudah begitu, tolong bertanggung jawablah, ya?"

Asaka mencondongkan tubuhnya, lalu menjatuhkan dirinya ke arah tubuhku.

"J-jangan bicara yang bodoh-bodoh."

Aroma menggoda yang membuat kepalaku pusing merasuk dari hidung ke otakku, dan tubuh lembut Asaka tenggelam di atasku.

Bagaikan menyiramkan minyak ke dalam api, gairah di dalam diriku pun seketika membara.

Demi menekannya, aku berusaha sekuat tenaga untuk mengingat kembali memori saat aku berendam di pemandian air panas bersama Ayah, Tacchan, dan Hanayoshi-san.

"Guh."

Namun, perlawananku sia-sia saja, rasanya seolah-olah seluruh darah di tubuhku mengalir deras ke tubuh bagian bawahku.

"Karena ini adalah yang pertama bagiku, tolong bersikaplah lembut, ya."

Asaka membenamkan wajahnya ke leherku dan berbisik.

Aroma rambutnya menggelitik rongga hidungku, dan jantungku berdegup kencang hingga bunyinya terdengar jelas oleh diriku sendiri. Ini juga yang pertama bagiku.

"..."

Hembusan napas yang menyapa leherku.

Aroma manis yang tercium dari rambutnya.

Berat dan suhu tubuh Asaka yang kurasakan dengan seluruh tubuhku.

Sangat lembut dan juga hangat.

"..."

A-apa yang seharusnya aku lakukan.

Kalau aku mengulurkan tanganku, aku bisa langsung menyentuh bokong Asaka.

Tidak, tidak, hal seperti itu tidak perlu dipikirkan lagi.

Jauhkan dia darimu, diriku.

Lawanmu itu Asaka, lho.

Anak perempuan yang sudah kukenal sejak kecil, yang sudah kuanggap seperti adik sendiri, mana mungkin aku sebagai om-om yang hampir berumur tiga puluh tahun boleh menyentuhnya.

Cepat singkirkan Asaka dari atas tubuhmu!

Umur kami terpaut lebih dari sepuluh tahun, dan dia juga masih berstatus siswi SMA.

Jauhkan dia.

Cepat jauhkan dia!

Sebelum terjadi kesalahan fatal!

"Menjauhlah dariku, Asaka!"

"Ah, ternyata sudah berdiri, ya."

Naluriku benar-benar sudah terpancing oleh situasi ini.

Gairah luar biasa yang belum pernah kurasakan sebelumnya terkonsentrasi di tubuh bagian bawahku.

"Asaka, hentikan, sungguh..."

"Bicaramu boleh saja begitu, tapi tubuhmu berkata jujur, lho."

"Ugh..."

"Tegang sekali, ya. Besar sekali, lho."

"Dasar bodoh."

Rasa benci pada diri sendiri yang tak tertahankan langsung menyelimutiku.

Pria macam apa aku ini. Merasakan gairah nafsu pada seseorang yang kuanggap sebagai adik sendiri, aku benar-benar tak tahu malu.

Namun, rasa gairah yang setara atau bahkan lebih besar dari itu terus merasuki sekujur tubuhku.

Aroma tubuh Asaka yang menggoda dan mempesona, suaranya yang terdengar manis, serta kelembutan kulitnya yang menempel erat pada kulitku, semua itu benar-benar melelehkan otakku.

Seberapa nyamannya perasaanku jika aku menyerahkan diriku pada hasrat ini, ya.

"Hah, hah."

"Yuu-nii, aku menyukaimu."

Asaka mengubah posisinya, mengangkat sedikit badannya, lalu kembali memelukku sambil menempelkan dadanya ke wajahku.

Terhimpit di belahan dada yang dalam, wajahku semakin terbenam di kedalamannya.

Sangat empuk, kenyal, harum, dan hangat.

"Fufu, apakah kamu menyukainya?"

Tentu saja aku menyukainya, tapi aku tidak boleh melakukannya, bertahanlah.

"Kamu juga boleh menyentuhnya, lho?"

Godaan iblis itu perlahan-lahan mulai meluluhlantakkan akal sehatku.

"Ugh..."

Sambil memegang kepalaku dengan tangan kirinya, Asaka mulai membelai benda paling berhargaku itu dari luar celana dengan tangan satunya.

"Kamu tidak perlu menahannya lho?"

Belai, belai...

"Ugugu."

Tahan dirimu, diriku.

"Ayo jadikan diri kita merasa nyaman."

"A-Asaka."

Batas itu, aku sama sekali tidak boleh melewati batas yang satu itu.

◇

"Hngg."

Aku tidak bisa tidur.

Aku sudah mencoba berbagai macam posisi, tapi rasa kantuk tak kunjung datang.

Padahal sudah lebih dari satu jam sejak aku berbaring di atas ranjang.

Sifat ini sudah kumiliki sejak dulu.

Kalau ada hal yang tidak menyenangkan atau sedang memikirkan sesuatu, aku jadi sulit untuk tidur.

Biarpun aku sudah memejamkan mata, bagian dalam kepalaku terus bergerak aktif, dan berbagai macam hal tidak penting muncul dan tenggelam, membuatku sama sekali tidak merasa ngantuk.

Lalu, karena aku terus mendesak diriku sendiri untuk cepat tidur, otakku malah jadi bekerja lebih keras, menciptakan sebuah lingkaran setan.

"Yuu-nii..."

Pada akhirnya, aku gagal membicarakan soal rekrutmen itu dengan Yuu-nii.

Tapi, kurasa aku tetap harus menyampaikannya pada Yuu-nii.

Lagipula, cepat atau lambat dia pasti akan mendengarnya dari orang tua kami, jadi akan lebih baik kalau aku yang menyampaikannya sendiri.

Yuu-nii pasti akan menyuruhku untuk pergi ke Kumamoto, dan semua orang yang lain juga pasti percaya dan berharap kalau aku akan menerima tawaran itu.

Tapi, aku ingin terus berada di sisi Yuu-nii.

Tak peduli seberapa banyak orang menentangnya, aku tidak ingin kehilangan hari-hari keseharian bersama kami berempat yang akhirnya berhasil kuraih kembali ini.

Tapi, menolak tawaran sebesar ini karena alasan seperti itu, itu rasanya tidak normal, kan.

Karena itulah aku belum bisa bilang pada siapa pun tentang niatku untuk menolaknya, dan aku juga belum bisa mengatakannya sekarang.

"Apa dia masih bangun, ya."

Aku tidak membutuhkan jawabannya sekarang juga, dan aku sendiri juga belum bisa membuat keputusan yang pasti.

Tapi, entah kenapa aku merasa kalau sekadar membicarakannya dengan Yuu-nii saja sudah cukup untuk meringankan bebanku.

Saat aku melihat jam, waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari.

Aku pun turun dari ranjang.

Tepat saat aku melangkah keluar ke lorong, terdengar suara pintu ditutup hampir di waktu yang bersamaan. Suaranya berasal dari sebelah, dari kamar Yuu-nii.

Sepertinya Yuu-nii masih bangun.

Apa dia baru saja pergi ke pemandian air panas luar ruangan, ya? Atau jangan-jangan dia mencari makan di bawah?

Klek.

Tak lama kemudian, terdengar bunyi keras kunci diputar di lorong yang gelap itu.

"?"

Kenapa dia mengunci pintu?

Padahal di vila ini cuma ada orang-orang yang saling kenal...

Rasa canggung mulai memenuhi isi kepalaku.

Pada saat itu juga, aku menyadari bahwa pintu kamar Asaka yang berada di ujung lorong terlihat sedikit terbuka. Imajinasi buruk seketika melintas di benakku.

Tidak, mana mungkin hal itu terjadi.

Aku melangkah dengan hati-hati menembus keremangan malam yang sepi senyap. Padahal jaraknya cuma beberapa meter saja, tapi entah kenapa terasa sangat jauh.

"Asaka?"

Saat aku mengintip ke dalam kamar Asaka, tak ada seorang pun di sana.

Di mana dia?

Lalu, aku pun mencari ke seluruh penjuru vila, mulai dari ruang tengah, dapur, ruang loteng, pemandian air panas luar ruangan, toilet, hingga gudang, namun aku tak berhasil menemukan sosok Asaka di mana pun.

Terkecuali di satu tempat.

Satu-satunya tempat yang tersisa adalah kamar Yuu-nii. Cuma itu satu-satunya tempat yang paling masuk akal.

Kalau begitu, orang yang tadi masuk ke kamar dan menguncinya dari dalam itu bukan Yuu-nii, melainkan Asaka?

Kalau memang begitu, kenapa dia repot-repot mengunci pintunya...

Imajinasi buruk terus berkembang di kepalaku. Rasanya dadaku seperti mau hancur berkeping-keping.

Aku sudah berkali-kali berniat untuk bertanya.

Saat sedang berkemah, atau saat di festival Miya Odori, aku hampir saja menanyakannya, namun pada akhirnya aku gagal melakukannya. Mana mungkin aku bisa menanyakannya.

'Asaka, apa kamu menyukai Yuu-nii?'

Jika kita berasumsi bahwa Asaka menaruh perasaan cinta pada Yuu-nii, dan dia diam-diam mengadakan pertemuan rahasia tengah malam begini, itu artinya sekarang mereka berdua sedang berada di dalam...

Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat.

Tidak, mana mungkin mereka melakukan itu.

Hubungan mereka berdua pasti belum sampai sejauh itu.

"..."

Aku ingin memastikannya sendiri.

Tapi pintu kamar Yuu-nii dikunci, jadi aku tidak bisa masuk... Benar juga.

Seingatku, balkon luar terhubung dengan seluruh kamar di salah satu sisi bangunan ini. Aku bergegas kembali ke kamarku, lalu keluar ke balkon dari jendela.

Angin kencang sedang bertiup. Pepohonan di hutan bergoyang hebat ditiup angin. Hal itu seolah-olah menggambarkan perasaanku saat ini.

Bulan tertutup oleh awan, dan kegelapan yang temaram menyebar di sekeliling.

Dengan mengendap-endap, aku berjalan menuju bagian luar kamar Yuu-nii.

Kebetulan sekali, gordennya tidak tertutup dengan rapat, sehingga masih ada celah di antaranya. Cahaya tampak membias keluar dari celah tersebut.

Tidak akan terjadi apa-apa kok.

Pasti aman.

Mereka pasti cuma sedang mengobrol saja.

Setelah kulihat sekilas, kalau ternyata tidak terjadi apa-apa, aku akan minta agar aku juga diizinkan masuk dari arah lorong.

Lalu, aku akan berkonsultasi soal arah masa depanku dengan mereka berdua―

Lalu, aku pun mengintip ke dalam kamar.

"...!"

Pemandangan yang kulihat dari celah gorden itu adalah pemandangan yang sama sekali tak bisa kupercaya.

"Bohong, kan, Asaka."

Otakku tak bisa memproses semua ini karena aku terlalu terkejut.

Di atas ranjang, Asaka tampak memeluk Yuu-nii dengan posisi menindihnya.

Kecemasanku menjadi kenyataan.

Ternyata dugaanku benar, Asaka memang menyukai Yuu-nii.

Dia tidak lagi memandang Yuu-nii sebagai seorang kakak yang sering bermain dengannya di masa kecil, melainkan memandangnya sebagai seorang pria seutuhnya.

Tapi, aku tidak pernah mendengar kalau mereka berdua itu berpacaran, dan jika mengingat hubungan mereka selama ini, aku sama sekali tak bisa membayangkan kalau mereka memiliki hubungan seperti itu.

Lagipula, kalau seandainya hal itu memang terjadi, kami ini kan sahabat dekat, dia pasti akan menceritakannya padaku.

Jika mendengarkan percakapan mereka dari luar, sepertinya Asaka-lah yang mengambil inisiatif melakukan kunjungan malam ini secara sepihak.

Tapi kalau terus begini, hancurnya akal sehat Yuu-nii hanyalah masalah waktu. Biarpun aku melihatnya dari sudut pandang seorang wanita, Asaka itu adalah gadis cantik yang sangat memesona, lho.

Kalau aku menerobos masuk dari balkon, Asaka pasti akan langsung mundur, tapi aku tidak bisa melakukan hal itu.

Berbeda denganku, Asaka telah mengumpulkan keberaniannya untuk menyampaikan perasaannya kepada Yuu-nii.

Sebagai seorang sahabat, aku tidak mungkin mengganggu usahanya itu. Tapi, tapi, aku juga menyukai Yuu-nii.

Kalau begini ceritanya, haruskah aku diam saja dan melihat mereka berdua bersatu begitu saja...

Apa yang harus kulakukan...

Kupikir angin yang menerpa pipiku ini terasa dingin, ternyata itu adalah air mataku yang sedang mengalir.

◇

"Hah, hah."

Napasku tersengal-sengal.

"Ukh."

Tanpa sadar, kedua tanganku sudah hampir menyentuh punggung Asaka.

A-gawat.

Kalau saja aku memeluknya tadi, mungkin aku sudah tak bisa kembali lagi.

"Kalau diteruskan lagi, kita tidak bisa menganggapnya sebagai candaan, lho."

"Sejak awal aku memang serius kok."

"...Asaka."

"Ya ampun, kamu ini benar-benar tidak bisa ditebak, ya."

Setelah mengatakan hal itu, Asaka pun bangkit.

Syukurlah, sepertinya dia sudah paham maksudku.

Saat tubuh Asaka menjauh dariku, aku memang sedikit merasa enggan untuk melepaskannya, tapi setidaknya dengan begini, aku tak perlu khawatir akan terjadi kesalahan fatal.

"Yuu-nii, cepatlah bangun juga."

"O-oh."

Kemudian, kali ini giliran Asaka yang merebahkan dirinya di tempatku berbaring tadi.

"Eh, Asaka?"

Dia menurunkan dagunya, lalu meletakkan jari telunjuknya di bibirnya yang berwarna merah muda itu.

Tatapan matanya yang menatapku dari bawah terasa begitu panas hingga seperti akan membakarku.

 Lekuk tubuh Asaka yang menonjol di balik baju tidur transparan itu langsung mencuri seluruh perhatianku dalam sekejap.

Bahkan saat aku berusaha memalingkan wajah, entah kenapa pandanganku kembali terkunci pada sosok Asaka.

Gairah yang bergejolak di tubuh bagian bawahku masih belum mereda. Malahan, rasanya gejolaknya menjadi semakin parah.

Dibandingkan dengan sebelumnya, dadaku terasa semakin sesak, dan api nafsuku kian membara. Aku ingin melepaskan penderitaan yang memuncak ini!

Hasrat itu perlahan-lahan mulai merongrong akal sehatku.

"Silakan, kamu boleh melakukan apa pun yang kamu mau kok."

Asaka sepertinya juga sedang gugup, dadanya tampak naik turun dengan cepat.

Keringat tipis terlihat mengalir di tulang selangkanya, dan ia menggesek-gesekkan kedua pahanya seolah sedang merasa kesepian.

Rambut hitamnya yang berkilau, dadanya yang montok, pinggang ramping dengan kulit yang seputih susu, serta bagian bawah tubuhnya yang sintal dan padat.

Dilihat sebagai seorang wanita, Asaka sudah bukan lagi sosok anak nakal yang selama ini kukenal.

"Silakan, nikmatilah sesukamu."

"...Asaka."

Aku menelan ludah, dan tanpa sadar aku sudah mencondongkan tubuhku ke depan. Entah kenapa, aku merasa ada sesuatu yang terputus di dalam diriku.

"..."

Sudah, lah, persetan dengan semua ini.

Apa gunanya aku terus menahannya?

"Ayo, Yuu-nii."

Sambil menghirup dalam-dalam aroma tubuh Asaka, aku perlahan-lahan semakin mencondongkan tubuhku ke depan.

"Kemarilah."

"Aaa."

Bodoh, hentikan, berhenti!

Namun, tubuhku mengabaikan perintah dari otakku sendiri.

Menghadapi kenikmatan yang terbentang di depan mata, sepertinya aku akan membiarkan diriku tenggelam begitu saja ke dalamnya...




Aroma manis tubuh Asaka yang menguar kini menjerat diriku.

"Asaka."

"Tolong bersikaplah lembut, ya."

Tangan Asaka melingkari leherku, dan ia pun memejamkan mata.

"Aaa."

Sedikit demi sedikit, jarak di antara kami berdua semakin menipis.

"Yuu-nii, aku menyukaimu."

Aku sudah tidak bisa memikirkan apa-apa lagi.

Satu-satunya hal yang kupahami hanyalah satu.

Bahwa aku pasti tidak akan berhenti sampai aku mencicipi habis tubuh luar biasa yang ada di depan mataku ini.

Semua ini sekarang adalah milikku.

Akan kulampiaskan seluruh gairah nafsu duniawi yang mendidih ini pada betina ini.

Naluriku sebagai seekor jantan meneriakkan hal itu.

Akan kubuat dia mengerti dengan tubuhnya sendiri, apa jadinya jika dia menggoda pria dewasa.

Urusan belakangan... bisa kupikirkan setelah semuanya selesai.

"Asaka."

"Yuu-nii."

Saat aku mencengkeram bahu mungil Asaka, tubuhnya tersentak kecil.

Kehangatan Asaka merambat melalui kulit kami yang saling bersentuhan.

Bibirku perlahan-lahan mendekati bibirnya yang berwarna merah muda pucat.

Tinggal beberapa sentimeter lagi sampai bibir kami berdua saling bersentuhan...

Dan kemudian―

Prrrrrrr!

"―!"

Seketika suara itu mencapai telingaku, gairah seksual yang sebelumnya menguasaiku menghilang dalam sekejap layaknya es yang dilemparkan ke dalam air panas.

Sebagai gantinya, hawa dingin yang membekukan menusuk seluruh tubuhku.

"Hii, aaaa."

Tubuhku tersentak hebat, lalu aku menjatuhkan punggungku ke bagian dalam ranjang.

Langit-langit terasa berputar-putar, dan hari-hari bagaikan neraka itu kembali berkelebat di dalam kepalaku.

Suara bentakan bosku.

Pekerjaan yang sangat menyiksa.

'Arizuki, besok datanglah lebih awal jam empat.'

'Arizuki, kamu bisa lembur hari ini?'

'Sudah sewajarnya kan kalau uang lembur itu tidak dibayarkan.'

'Orang yang mengambil cuti berbayar itu gagal sebagai anggota masyarakat. Apa kamu tidak malu mendapat uang tanpa bekerja?'

'Jangan manja.'

'Kalau kamu berhenti sekarang, semua usahamu selama ini akan sia-sia, lho?'

'Ada kesalahan pengiriman barang, tolong kamu antarkan ini.'

'Mulai sekarang, aku akan menghajar kalian.'

'Bisa tolong bertahan sedikit lagi?'

'Arizuki.'

'Arizuki.'

'Arizuki.'

"Aaaaa, uaaaaaa!"

"Ah, m-maafkan aku. Aku lupa mengubahnya ke mode senyap."

Asaka turun dari ranjang dan mengulurkan tangannya ke meja di dekatnya. Aku masih belum bisa mengatasi rasa traumaku terhadap nada dering tersebut.

"Hiii..."

Meski suaranya sudah berhenti, getaran di tubuhku tak kunjung mereda untuk beberapa saat.

"Yuu-nii, tidak apa-apa kok."

Asaka memelukku dengan wajah seperti mau menangis.

"Hah, hah... Asaka."

"Tidak ada yang perlu ditakutkan."

Sambil mengelus punggungku, ia terus melontarkan kata-kata lembut untuk menenangkanku.

"Huft, hah, terima kasih."

Saat aku mulai tenang, diriku dipenuhi oleh rasa benci pada diri sendiri dan perasaan menyedihkan. Seiring dengan kepalaku yang mulai dingin, rasa penyesalan datang menerjangku.

Dasar diriku yang bodoh. Apa yang baru saja ingin kau lakukan tadi?

Kau baru saja berniat meniduri Asaka, gadis manis yang sudah kau anggap seperti adikmu sendiri sejak kecil, lho. Menyerahkan diri pada emosi sesaat, dan berniat menyentuh siswi SMA.

"Yuu-nii, apa kamu sudah merasa lebih baik?"

"Iya, terima kasih, ya."

"Maafkan aku, aku lupa mengubahnya ke mode senyap."

"Tidak, tidak apa-apa. Lagipula, apa kamu tidak perlu meneleponnya kembali?"

"Soalnya, panggilannya dari nomor tak dikenal."

Mendapat panggilan dari nomor tak dikenal di tengah malam begini benar-benar menakutkan.

"Suasananya jadi rusak, ya."

Asaka mengeluarkan suara yang sedih. Saat kulihat, air mata tampak menggenang tipis di pelupuk matanya.

"Asaka, maafkan aku. Kamu pasti ketakutan, kan."

"Apanya?"

"Terhanyut oleh nafsu, dan berniat, umm, menidurimu."

"Kan aku sendiri yang menggodamu duluan, jadi kamu tidak perlu memikirkannya."

"Bagiku, kamu itu adalah salah satu adik perempuanku yang manis. Meski hanya sesaat, aku merasa sangat malu karena telah mengarahkan hasrat seksualku padamu..."

"Yuu-nii, semua yang kukatakan tadi itu adalah kebenaran, lho. Aku menyukai Yuu-nii. Sebagai seorang pria."

"..."

"Karena itulah, aku merasa sangat senang karena Yuu-nii sudah melihatku sebagai seorang wanita."

Asaka mengatakannya dengan nada seolah telah meraih kemenangan.

"Asaka, soal itu."

Memang benar, tadi aku sempat memandang Asaka sebagai seorang wanita. Itu adalah fakta yang tak terbantahkan.

"Apa Yuu-nii membenciku?"

"Mana mungkin aku membencimu. Tapi, memendam perasaan seperti itu pada orang yang kuanggap adik sendiri itu rasanya aneh."

"Aku ini sudah bukan anak-anak lagi."

"Bagi pandanganku, kamu ini masih anak-anak. Aku sudah mengenalmu sejak kamu masih sekecil ini, tahu."

Aku menempatkan telapak tanganku secara horizontal pada ketinggian sekitar satu meter dari lantai.

"Perasaan menyukai seseorang itu tidak memandang orang dewasa maupun anak-anak, dan juga tidak berhubungan dengan umur. Lagipula, dengan begini kamu jadi mulai menyadarinya, kan."

"...Tanpa komentar."

"Fufu, itu pun tak masalah. Untuk hari ini, suasananya sudah tidak mendukung lagi, ya. Sayang sekali, tapi aku akan kembali ke kamarku."

Asaka berdiri secara perlahan. Aku memalingkan wajahku dari baju tidur negligee-nya yang tembus pandang itu.

"Iya."

"Kali ini perjalanannya juga banyak yang terlewat, ya. Kelanjutannya akan kutunda sampai malam saat kita hanya berduaan saja, ya."

"Asaka, aku―"

"Yuu-nii, aku mencintaimu."

Meninggalkan kata-kata itu, Asaka pun berjalan keluar dari kamarku.

◇

Setelah memastikan Asaka keluar dari kamar, aku juga kembali ke kamarku.

Syukurlah. Benar-benar hampir saja.

Entah bagaimana aku berhasil mengendalikan situasi ini.

Meski agak sedikit memaksa, tapi aku tak bisa menemukan cara lain selain cara ini.

Maafkan aku, Asaka. Maafkan aku, Yuu-nii.

"Hiks, ugh."

Padahal seharusnya aku merasa lega, tapi entah kenapa air mataku tak kunjung berhenti mengalir.

 

8

Keesokan paginya, Asaka yang datang ke kamarku tampak seperti biasa tanpa ada perubahan. Meski semalam telah terjadi hal seperti itu, dia terlihat begitu tenang.

"Selamat pagi, Yuu-nii."

"S-selamat pagi."

Kaus putih dan rok mini hitam. Tiba-tiba bayangan tubuh menggoda Asaka yang terlihat tembus pandang semalam kembali terbayang sebagai ilusi, membuatku menampar kedua pipiku dengan tanganku sendiri.

"K-Yuu-nii? Ada apa?"

"Ah, tidak apa-apa kok."

"?"

Bisa-bisanya anak ini bersikap setenang itu. Kalau begini ceritanya, rasanya seolah-olah aku benar-benar sadar dan memandang Asaka sebagai seorang wanita.

Wajahku terasa panas.

Meskipun pendingin ruangan menyala, tubuhku terasa sangat panas dan membara.

Tunggu dulu, jangan-jangan semua itu hanyalah mimpi yang diciptakan oleh otakku saja...

Benar juga, kalau memang begitu berarti tidak ada masalah apa pun.

"Yuu-nii, maaf ya kemarin aku bertindak terlalu berlebihan."

Ternyata bukan mimpi.

"Asaka, kejadian waktu itu..."

"Seperti yang sudah kubilang kemarin, aku menyukai Yuu-nii."

Asaka menatapku lekat-lekat dengan wajah memerah.

"Aku tidak sedang bercanda atau mengerjaimu. Bagi Yuu-nii, aku ini mungkin masih anak-anak, tapi suatu hari nanti aku pasti akan menaklukkanmu."

"Menaklukkanku..."

"Ehe."

Dia benar-benar serius.

Bukan sebagai sosok kakak yang dikenal layaknya Miya dan Mahiru, tapi anak ini benar-benar memandangku sebagai seorang pria. Rasanya seperti senang sekaligus sedih, sebuah perasaan yang sangat rumit.

Di saat-saat seperti ini, balasan seperti apa yang paling tepat untuk diucapkan?

"..."

Aku merasa sangat menyedihkan karena tak bisa mengucapkan apa pun.

"Tolong bersiaplah, ya."

"Ugh..."

Asaka memamerkan senyumannya, lalu berjalan keluar dari kamar.

◇

"Padahal aku baru saja berniat membuat fakta yang tak terbantahkan."

Sekembalinya ke kamarku sendiri, aku meraih ponselku.

Niatku membawa ponsel untuk mengambil foto atau video sebagai bukti malah menjadi bumerang bagiku. Kalau tahu akan jadi begini, seharusnya aku mengambil fotonya terlebih dahulu di awal.

Teks bertuliskan nomor tak dikenal yang tertinggal di riwayat panggilan. Kira-kira siapa yang menelepon di jam segitu...?

◇

"Loh? Mahiru tidak ada, ya."

Sosok Mahiru tak terlihat di kursi meja makan pagi.

"Biar aku yang panggil."

Miya bangkit dari kursinya, dan di saat yang bersamaan Mahiru pun datang.

"Pagi."

"Oh, tumben kamu terlambat."

"Ah, huum. Kayaknya aku sedikit terlalu banyak tidur, deh."

Meski dia bilang begitu, tapi rasanya ada kantung mata hitam di bawah matanya...

Wajahnya juga sedikit terlihat pucat, kan?

"Mahiru-chan, kamu sudah selesai?"

Tanya Asaka dengan raut wajah keheranan.

"Huum, perutku sudah kenyang."

Dia juga tampak tak selera makan, dan menyisakan sedikit sarapannya. Sungguh pemandangan langka melihat Mahiru si tukang makan melakukan hal ini.

"Apa kamu merasa kurang enak badan?"

"Tidak, aku baik-baik saja kok. Cuma merasa sedikit aneh saja gara-gara terlalu banyak tidur."

"Begitu, ya? Syukurlah kalau begitu."

Seusai acara minum teh sehabis sarapan, kami semua menghabiskan waktu bebas masing-masing.

"Mahiru-chan, ayo pergi ke laut."

Misora menghampiri Mahiru.

"Aku ingin melihat siapa yang lebih jago main voli antara Mama dan Mahiru-chan!"

Tatsuki menggenggam tangan Hikari.

"Boleh saja."

Mahiru yang sedang merebahkan dirinya di atas sofa pun bangkit berdiri.

"Hei, Mahiru, kamu tidak apa-apa?"

"Tidak apa-apa apanya?"

"Kondisi tubuhmu, sebenarnya sedang tidak baik-baik saja, kan?"

Mahiru sempat memasang wajah serius sejenak, namun ia langsung memamerkan senyumannya,

"Tidak kok."

"Jangan memaksakan dirimu."

"...Iya. Aku bilang aku tidak apa-apa, kan."

Mahiru pun langsung berjalan keluar bersama anak-anak. Saat ia keluar, Miya datang masuk ke ruangan tersebut.

"Yuu-nii. Novelnya sudah selesai, lho~"

Miya menarik tanganku.

"Oh, sudah selesai rupanya. Coba kulihat."

Saat melangkah keluar dari ruang tengah, aku berpapasan dengan Asaka. Ia meletakkan jari di bibir merah muda pucatnya, lalu memberikan ciuman jarak jauh dari sudut yang hanya bisa kulihat.

Karena gairah semalam hampir bangkit kembali, aku pun menatap tajam ke arah Ayah yang sedang bersantai di kursi goyang dekat jendela.

"A-ada apa, Yuu."

"Tidak, bukan apa-apa..."

"Yuu-nii, cepatlah~"

"Iya, iya, aku mengerti―"

Setelah itu, kami menikmati sisa liburan musim panas di Shounan hingga waktu kepulangan kami dari vila pada sore harinya.

Perjalanan liburan singkat selama tiga hari yang terasa panjang namun juga singkat.

Sambil diantar oleh langit senja, kami masuk ke dalam mobil, meninggalkan vila tempat kami menghabiskan waktu yang menyenangkan. Mahiru sepertinya kelelahan sehabis bermain, ia langsung tertidur bahkan sebelum sepuluh detik berlalu sejak ia duduk di kursi penumpang depan.

"Tahun depan aku ingin ke sini lagi, ya," ujar Miya.

"Benar juga." Asaka tersenyum tipis.

Dengan begitu, perjalanan ke Shounan selama tiga hari dua malam pun akhirnya resmi ditutup.

 

Saat kuingat kembali di kemudian hari, liburan inilah yang mungkin menjadi awal mula pemicu perubahan besar dalam hubungan kami.



Interlude IV | ToC | Epilog

Post a Comment

Post a Comment

close