Kenangan
Bersama Si "Bocah Nakal" Part 1
Bocah Nakal dan Badai
1
"Miya, palunya keluar, buruan ambil. Asaka,
tahan pergerakannya. Yuu-nii cuma sisa satu nyawa lagi, terbangin dia!"
"Siap!"
"Baik!"
Tiga
bocah nakal itu bersekutu untuk menyudutkanku.
"Tunggu
dulu, sial! Ah, aaghh—!"
Di
layar besar sembilan puluh inci, karakternya diterbangkan sampai ke ujung peta.
"Hahaha,
Yuu-nii dapat peringkat terakhir lagi!"
Sambil mengangkat pengontrol game tinggi-tinggi, Miya berteriak
gembira.
"Yuu-nii
payah banget, sih," kata Mahiru dengan nada menyerah.
"Yuu-nii,
mau makan camilan?"
Asaka
menyodorkan sebungkus stik cokelat.
Hari
ini kami sedang bermain di rumah Asaka.
Seperti
biasa, rumah seluas ini hanya diisi oleh Asaka dan para pengurus rumah tangga.
Kedua
orang tuanya sama-sama sibuk bekerja dan sudah beberapa hari tidak pulang.
"Sialan.
Kalian bertiga malah mengeroyokku terus. Kekompakan macam apa ini? Dengar ya, game ini bukan tiga lawan satu, tapi battle royale!"
"Yang begitu itu namanya gonggongan pecundang, tahu?"
Dengan senyum sok tahu, Mahiru menengadah menatapku. Bocah
nakal satu ini, apa kudorong saja dia turun dari pangkuanku sekarang?
"Awas ya, aku sudah marah. Aku
bakal pakai warna mode serius!"
"Cuma mengganti warna karakter saja tidak bakal mengubah apa-apa,
kali," cetus Miya.
"Kalau
mau main serius itu harus pakai warna merah! Dengar ya, kalian sudah bikin aku
marah. Rasakan akibatnya bertarung lawan orang yang sudah berpengalaman sejak
kelas satu SD!"
Semasa
SD dulu, teman-temanku bahkan sampai menjulukiku 'Serigala Merah Yuu-chan'
karena takut padaku. Biar kuperlihatkan kekuatan orang dewasa pada bocah-bocah
sok tahu ini.
"Eh,
hujannya turun."
Miya
mendadak berlari menuju jendela.
Suara
tetesan air hujan yang menghantam atap mulai terdengar. Kalau diingat-ingat,
angin memang sudah mulai bertiup kencang sejak tadi.
"Ah,
kalian tidak tahu, ya? Nanti malam bakal ada badai, lho."
"Badai?"
"Nih,
Mahiru, turun dulu."
"Eeh, tidak mau!"
"Gara-gara kamu, nih."
"Lepasin! Dasar hentai!"
Sambil menggendong Mahiru, aku berdiri dan berjalan mendekati jendela.
Saat
melihat ke luar, hujan gerimis tampak mengguyur area taman. Angin bertiup
kencang meraung-raung, diiringi suara langit yang bergemuruh.
Pohon
dan tanaman di taman bergoyang dihantam angin, sementara permukaan kolam mulai
bergelombang.
"Anginnya
memang kencang, tapi hujannya belum begitu deras. Asaka, tolong ganti
salurannya ke berita sebentar."
"Baik~"
Layar
TV berganti ke berita lokal sore hari. Pas sekali mereka sedang menyiarkan
informasi mengenai badai.
"Badai
nomor sekian yang diperkirakan akan menerjang kepulauan Jepang malam ini...
jalur yang diprediksi akan dilalui adalah..."
Di
layar besar, pembaca berita membacakan informasi badai. Wilayah Tokai
sepertinya akan terkena dampak langsung, namun puncaknya diperkirakan terjadi
malam ini—Jumat malam—dan akan bergerak menuju wilayah Kanto pada Sabtu pagi.
"Badai~"
Miya
berputar-putar gembira.
"...Sebelum
makin parah, hari ini kita pulang saja, yuk."
"Eeh,
baru jam setengah lima, lho!"
Mahiru
mengamuk di dalam pelukanku.
"Bukan
'baru', tapi 'sudah' jam setengah lima! Lagipula dari awal aku memang berencana
pulang lebih cepat karena ada badai hari ini."
"Pantas
saja waktu pergi tadi Yuu-nii menyuruh bawa payung."
"Masa
sudah mau pulang, sih?"
Asaka
menarik-narik ujung bajuku.
"Mau
bagaimana lagi. Kita harus jalan sebelum hujannya makin deras dan bikin kita
tidak bisa pulang. Nah, Miya, Mahiru, bereskan barang-barang kalian dan
bersiaplah!"
"Siap~"
"Oke~"
Sementara
kami bersiap-siap, intensitas hujan semakin deras. Saat kami hendak keluar dari
rumah Asaka, hujan sudah turun dengan sangat lebat.
"Sampai
jumpa ya, Asaka. Daa-daah!"
"Sampai besok ya, daa-daah!"
"Daa-daah!"
"Iya,
sampai jumpa lagi."
Aku
mengelus kepala Asaka, lalu melangkah ke luar.
"Nah, sekarang..."
Tinggal mengantarkan dua bocah nakal ini pulang ke rumah masing-masing.
"Hujan~ hujan~"
"Hebat, ada banjir!"
"Ah, hei Mahiru! Berbahaya, jangan mengintip ke bawah jembatan! Kalau
jatuh bisa mati, tahu!"
Dengan kaget aku menarik Mahiru ke dalam dekapanku.
"Banjir!"
Air sungai meluap dan warnanya berubah keruh. Kalau sampai ada anak
kecil yang jatuh ke tempat seperti ini, pasti akan langsung hanyut dalam
sekejap.
"Lihat,
lihat! Rasanya aku bisa terbang terbawa angin!"
Terhempas
oleh angin kencang, payung Miya berguncang hebat. Tengkukku mendadak terasa
dingin karena ketakutan.
"Ooh,
hampir saja!"
"D-Dasar
bodoh! Miya, jangan jalan sempoyongan begitu!"
Aku
sama sekali tidak bisa mengalihkan pandangan dari mereka.
Bocah-bocah
ini benar-benar tidak punya rasa waspada.
Waktu
aku masih kecil dulu, rasanya aku jauh lebih penurut.
"Dengar
ya, jangan pernah melepaskan tanganku!"
Tangan
kananku menggenggam Miya, tangan kiriku menggenggam Mahiru, sementara gagang
payung kuapit menggunakan leher.
Langkahku
jadi sangat kerepotan, tapi hanya dengan begini mereka tidak akan bertindak
seenaknya sendiri.
"Cuma
hujan begini saja, Yuu-nii penakut banget, sih."
"Mahiru,
kata orang-orang Yuu-nii dulu pernah tenggelam di sungai, lho."
"Cerita
apa itu? Aku baru pertama kali mendengarnya!"
"Bawel,
sudah cepat jalan!"
Dengan
menguras saraf jauh lebih banyak dari biasanya, aku berhasil mengantarkan Miya
dan Mahiru, lalu kembali ke rumah dengan selamat.
Seharusnya begitu.
"Tidak ada! Tidak ada!"
Sesampainya di rumah, aku baru menyadari kalau ponselku tidak ada.
J-Jangan-jangan, jatuh di tengah hujan deras tadi...?
Tidak, tenang dulu. Bisa jadi cuma ketinggalan di rumah
Asaka.
Benar
juga, kalau tidak salah tadi mereka memintaku meminjamkan ponsel untuk main
game. Lalu kupinjamkan, terus mereka bosan dan main di luar, bosan lagi lalu
main game TV...
Aku
mencoba mengingat kembali ingatan itu.
Benar,
pasti ketinggalan di rumah Asaka!
Untuk
memastikan, aku mencoba menelepon nomor ponselku menggunakan telepon rumah.
Sambil menunggu dengan jantung berdebar, panggilannya akhirnya
tersambung. Ada yang mengangkatnya.
"Halo?"
"Iya."
Suara Asaka terdengar dari seberang telepon.
"O-Oh,
Asaka?"
"Yuu-nii?
Fufu, ponselmu ketinggalan, lho."
"Syukurlah,
itu benar ponselku, kan?"
"Iya."
Aku melihat ke luar jendela.
Hujannya
sudah semakin lebat, tapi kalau aku pergi sekarang sepertinya masih sempat.
"Aku bakal ke sana sebentar buat mengambilnya, ya."
"Eh?
Sekarang? Apa tidak apa-apa?"
"Santai
saja, aman kok. Tunggu sebentar, ya."
Tanpa
membuang waktu, aku langsung berhambur keluar rumah.
◇
Seharusnya
aku tidak usah pergi saja tadi.
Hujan
semakin deras dalam hitungan menit, dan saat aku mendekati rumah Asaka, cuaca
sudah berubah menjadi hujan badai yang sangat lebat.
Angin
bertiup kencang ke kiri dan ke kanan, membuat payung sama sekali tidak berguna.
Sungai
yang tadi kulihat bersama Mahiru kini berubah sangat ganas, membuat kondisi
yang tadi terlihat masih mendingan.
Rumah
Asaka terletak di pertengahan bukit, dengan jalan tanjakan yang membentang
panjang.
Kemiringan
jalannya lumayan curam, dan air terus mengalir deras dari atas. Kalau sampai
terpeleset, aku bisa tersapu air sampai ke bawah.
Benar-benar
seperti perosotan air alami.
"U-Uwooh!"
Kalau
sudah sampai sejauh ini, aku tidak bisa berbalik lagi.
Membutuhkan
waktu lebih dari dua kali lipat dari biasanya, aku akhirnya sampai di rumah
Asaka.
"Hah...
hah..."
Akhirnya
sampai juga.
"Yuu-nii,
tidak apa-apa?"
Asaka
menyambutku di pintu.
"Pakaianmu
basah kuyup, lho?"
"T-Tidak
apa-apa kok."
"Ini
ponselmu."
"Sip,
terima kasih ya. Nah, sekarang tinggal berjuang sekali
lagi—Uwoooo?!"
Pemandangan di balik pintu benar-benar seperti dunia yang berbeda.
Angin bertiup sangat kencang sampai berdiri saja terasa sulit,
sementara hujan turun bagaikan ditumpahkan dari ember.
Hari mulai gelap, sampai-sampai jarak beberapa meter di depan pun tidak
bisa terlihat dengan jelas.
A-Apa
aku benar-benar berjalan menembus cuaca gila seperti ini tadi?
"Yuu-nii,
apa kamu mau pulang menerobos cuaca seperti ini? Berbahaya, lho."
Wajah
Asaka tampak tegang diliputi rasa cemas.
"Y-Ya,
sih. Tapi mau bagaimana lagi."
Seharusnya
tadi kubiarkan saja ponselku dititipkan di rumah Asaka lalu kuambil besok,
pikirku menyesali tindakan nekat ini.
Pilihan
tersisa hanya meminta orang tuaku menjemput pakai mobil... tapi, apa mobil bisa
berjalan di tengah badai seperti ini?
Apa
aku harus nekat berjalan kaki lagi untuk pulang?
Di
tengah riuhnya suara hujan dan angin, suara pengumuman radio darurat yang kaku
mulai terdengar dari kejauhan.
‘—Pengumuman
dari Kepolisian Fujinomiya mengenai warga yang dilaporkan hilang—’
"Ugh."
Bahkan
sudah ada korban hilang.
Rasa
takut mulai menjalar dari telapak kakiku.
Tapi
aku tidak punya pilihan lain selain pulang.
Pada
saat itulah.
"Nah,
kalau begitu!" cetus Asaka dengan suara penuh semangat.
"A-Ada
apa?"
"Besok
kan hari libur, bagaimana kalau Yuu-nii menginap saja di sini?"
"Eh?"
2
"Iya,
tidak apa-apa kok. Di sini aman. Tidak, sama sekali tidak merepotkan. Baik,
terima kasih banyak."
Asaka
sedang menelepon menggunakan ponselku. Orang di seberang sana adalah ibuku.
Setelah
dimarahi habis-habisan oleh Ibu, aku yang sudah lemas hanya bisa meringkuk di
sudut area pintu masuk.
Mengingat
situasinya yang memang darurat, aku akhirnya diizinkan menginap semalam di
kediaman Gendouji, meski aku sangat menyesali tindakanku yang terlalu ceroboh
ini.
Salah
sedikit saja, nyawaku bisa melayang.
Padahal
tadi aku bergaya sok hebat di depan Miya dan Mahiru, ternyata aku sama saja
kekanak-kanakannya dengan mereka.
Malu-maluin
saja.
"Ini,
Yuu-nii. Ibu bilang mau bicara."
"O-Oh,
iya."
"Yuu?"
Suara Ibu terdengar sangat berat dan menakutkan. Ini adalah suara Ibu
saat sedang marah besar.
"Iya..."
"Nanti Ibu sendiri yang bakal menyampaikan terima kasih kepada
keluarga Gendouji, jadi untuk malam ini menginaplah di sana baik-baik."
"Baik..."
"Semua
omelan sudah Ibu tumpahkan tadi, jadi jangan sampai kamu masuk angin. Ah, satu
lagi—"
Ibu
menghela napas sejenak.
"Kalau
sampai terjadi apa-apa padamu, bukan cuma Ibu dan Ayah saja yang bakal sedih,
tapi Miya-chan dan yang lainnya juga bakal nangis, tahu."
"...Iya."
Panggilan
telepon pun berakhir.
"Haaah... Harsyim!"
Helaan
napas beruba menjadi bersin keras. Baru sadar kalau dari tadi tubuhku masih
basah kuyup.
"D-Dinginnya..."
Meskipun
di dalam rumah ada pemanas ruangan, tubuhku tetap merasa kedinginan karena
pakaian yang basah ini.
"Yuu-nii,
sebelum masuk angin, bagaimana kalau mandi dulu?"
"Ah,
maaf ya. Malah jadi merepotkan dan menginap di sini."
"Tidak
apa-apa kok. Ayah dan Ibu sedang tidak ada di rumah, jadi kalau aku bilang
boleh, artinya boleh. Ah... Kakek memang ada sih, tapi tenang saja."
Saat
Asaka pertama kali mengusulkan agar aku menginap, para pengurus rumah tangga
tentu saja terkejut dan menunjukkan wajah cemas.
Namun
saat Asaka mulai bersikeras, mereka akhirnya menyerah begitu saja.
"Ayo,
kita pergi."
Asaka
kelihatan sangat gembira.
Dia menggandeng tanganku dan menuntunku naik ke lantai dua. Kamar mandi
rumah keluarga Gendouji sepertinya berada di lantai atas.
"Baju
kotornya masukkan ke keranjang di sebelah sana saja, ya. Nanti kuambilkan baju
ganti untuk tamu."
"Oke,
terima kasih ya."
Area
ruang ganti saja luasnya hampir dua kali lipat dari kamarku sendiri.
Aku
berusaha melepas kaus yang sudah menyerap banyak air ini.
Pakaian
dalamku pun basah kuyup.
Tidak
lama kemudian, Asaka kembali.
Dia
membawa baju ganti untuk orang dewasa dan baju gantinya sendiri.
"Kutaruh
di sini, ya. Ah, kalau handuk mandi ada di rak sebelah sana."
Sambil
berkata begitu, tangan Asaka mulai melepaskan bajunya sendiri. Perut putihnya
yang mulus tersingkap keluar.
"Tunggu
dulu, Asaka!"
"Iya?"
Asaka
menatapku dengan polos.
"Kamu
mau melakukan apa?"
"Lho,
bukannya mau mandi?"
"Iya, memang benar mau mandi..."
"Nah, kan."
"Ya tidak boleh dong!"
"Eh?"
Meskipun kita bersaudara kandung sekalipun, mandi bareng anak SD
perempuan itu sudah pasti tergolong perbuatan terlarang dalam berbagai sudut
pandang!
Padahal Miya yang bersamaku sejak bayi saja tidak pernah mandi
bersamaku.
"Yuu-nii tidak mau mandi bersamaku, ya?"
"A-Ah, bukan, bukan begitu maksudku..."
Suara
Asaka mulai gemetar. Karena merasa ditolak, dia tampak seperti akan menangis
saat itu juga.
"A-Ah, bukan begitu kok! B-Baiklah, kalau begitu begini saja—"
◇
"Yuu-nii,
habis makan kita main game, ya?"
"Oke."
"Punggungmu
kucuci ya, Yuu-nii."
Sambil memegang handuk mandi berbusa, Asaka berjalan ke belakang
punggungku.
"Enak tidak?"
"Iya, enak banget."
"Ehehe."
Asaka sedang berada dalam kondisi tanpa sehelai benang pun—bukan, dia
memakai baju renang sekolahnya.
Kalau begini sepertinya masih berada di batas tipis yang diperbolehkan.
Walau sebenarnya sangat mepet ke garis terlarang, sih.
Aku sendiri menutupi bagian depanku rapat-rapat menggunakan handuk yang
dilipat dua.
"Satu, dua, satu, dua."
Punggungku digosok oleh siswi SD berbaju renang.
Rasanya
situasi ini tetap saja terlihat agak gawat, tapi dipikirkan sekarang pun sudah
terlambat.
Karena
adik perempuanku ini berniat baik ingin mencuci punggungku, kuterima saja
kebaikannya dengan tulus.
"Nah,
sekarang balik badan ke sini!"
"Kalau
bagian depan aku bisa cuci sendiri!"
Setelah
membersihkan badan dan keramas, kami berendam berdua di dalam bak mandi.
"Haaah..."
Tubuh
yang tadinya kedinginan kini terasa hangat sampai ke tulang.
Bak
mandi beraroma kayu hinoki ini sangat luas, bahkan masih tersisa banyak ruang
meski aku meregangkan seluruh tubuhku.
Dinding di hadapan kami terbuat dari kaca transparan.
Jika
bukan karena badai hari ini, pemandangan malam yang indah pasti bisa terlihat
dari sini.
Tetesan
air hujan yang tak terhitung jumlahnya menghantam kaca, diiringi suara angin
yang meraung-raung di luar.
"Aku
benci badai."
"Kamu
takut, ya?"
"Tidak
setakut petir sih, tapi aku lebih benci badai daripada petir."
Selera
yang unik sekali.
Asaka
menenggelamkan tubuhnya sampai ke batas dagu, lalu makin merapatkan duduknya
padaku.
Saat
kugegam tangan kecilnya di dalam air hangat, Asaka langsung memeluk lenganku
erat-erat.
Sensasi
empuk dan lembut terasa di seluruh lengan kiriku.
"Badainya
bakal lewat berapa lama lagi, ya?"
"Kira-kira
berapa lama, ya... Tapi kalau sudah pagi sepertinya badainya sudah pergi."
Terkadang
dedaunan atau ranting pohon yang diterbangkan angin menghantam kaca jendela,
menimbulkan suara gemerisik.
"Sudah
waktunya keluar, yuk."
"Iya."
Setelah
berendam sekitar lima belas menit, tubuh kami sudah sepenuhnya hangat.
Setelah
itu, kami menyantap makan malam yang sangat mewah di ruang makan, lalu kembali
ke kamar Asaka.
Omong-omong,
beberapa pengurus rumah tangga memang tinggal di sini dan kamar mereka berada
di lantai satu.
Kami
mengecek informasi badai melalui TV.
Peringatan
hujan deras telah dikeluarkan untuk kota kami.
Malam
ini adalah puncak badai untuk Prefektur Shizuoka, jadi kami tidak boleh lengah.
"Yuu-nii, ayo main game!"
Saat aku duduk bersila, Asaka yang sudah mengenakan piyama langsung
duduk menempel di atas pangkuanku.
Aroma sampo yang harum tercium dari rambutnya yang berkilau, sementara
tubuhnya yang hangat masih memancarkan rona kemerahan tipis.
"Hari ini aku mau latihan keras biar bisa bikin kaget Miya-chan dan
Mahiru-chan!"
"Latihan
bersamaku itu keras, lho. Kamu sanggup mengikutinya?"
"Sanggup,
Guru!"
Kami
berdua pun asyik bermain game TV bersama.
Menjelang
pukul sembilan malam. Asaka mulai mengucek matanya yang mengantuk. Sudah
waktunya anak kecil tidur.
"Sudah
mengantuk, ya?"
"M-Masih
mau bangun sebentar lagi..."
"Kalau
begitu, biar bisa langsung tidur kapan saja, kita sikat gigi dulu, yuk."
"Siap~"
Aku
mendapatkan sikat gigi baru yang disediakan untuk tamu.
Setelah
sikat gigi berdampingan dan kembali ke kamar, Asaka langsung menjatuhkan
dirinya ke atas kasur.
Ranjang
berukuran king itu memang selalu terlihat sangat besar setiap kali dilihat.
"Tuh kan, memang sudah mengantuk."
"Enggan..."
Asaka
melepas kacamatanya lalu meletakkannya di samping bantal.
Aku
sendiri merasa agak lelah hari ini. Rasa lelah akibat berjalan menembus badai
tadi ternyata cukup menumpuk. Sebaiknya aku tidur lebih awal.
"Ngomong-ngomong,
Asaka, aku tidur di kamar yang mana, ya?"
Karena
ada baju ganti untuk tamu, harusnya ada kamar tamu juga, kan? Dia harus
mengantarku ke sana.
"Eh?
Ya di sini kok."
Sambil berkata begitu, Asaka menepuk-nepuk kasur di sampingnya.
"Eh?"
"Ayo
cepat ke sini."
Hmm?
Di
mana katanya tadi?
◇
Aritsuki
Yuu, seorang pria kesepian dengan rekor usia sama dengan durasi tidak punya
pacar.
Tentu
saja, dia belum pernah menghabiskan malam dalam satu ruangan yang sama bersama
seorang gadis.
Bagi
dirinya, melewati malam bersama seorang perempuan adalah kejadian yang hanya
ada di dunia imajinasi, sama halnya seperti Goji-ra atau pahlawan tokusatsu
yang tidak keluar dari batas fiksi belaka.
◇
Tunggu,
tunggu dulu.
Kalau
ini sih jelas-jelas sudah keterlaluan!
Menyusup
masuk ke dalam kasur yang biasa ditiduri oleh seorang anak SD perempuan,
tergantung siapa yang mendengar, bisa-bisa aku dibunuh karena dianggap
melakukan kejahatan berat!
Padahal
setiap kali main di kamar Asaka, aku selalu berhati-hati agar tidak sampai naik
ke atas tempat tidurnya.
"Yuu-nii
tidak mau tidur?"
"Bukan
tidak mau tidur, tapi..."
"Yuu-nii
tidak mau tidur bersamaku, ya?"
Pilihan
katanya itu, lho!
"Ayo
cepat ke sini."
Asaka
menyibak selimut lalu menyusup masuk sendirian.
Tonjolan
bulat terbentuk di atas tempat tidur.
"Apa
tidak apa-apa kalau aku tidur bersamamu?"
"Iya,
tidak apa-apa."
Aku
membulatkan tekad lalu naik ke atas tempat tidur.
"Aku
masuk, ya."
Saat
aku menyusup ke dalam selimut, Asaka langsung merapatkan tubuhnya padaku. Dia
menyandarkan wajahnya di dadaku, mengembuskan napas kecilnya yang teratur.
Tubuh
yang begitu mungil. Hangat, namun terasa sangat mungil dan rapuh seolah bisa
patah jika didekap terlalu erat...
"Ehehe,
hangat sekali ya~"
"Iya,
benar."
Aroma wangi yang lembut dan menenangkan tercium darinya. Aroma yang
manis dan halus.
"Tolong matikan lampsunya. Sakelarnya ada di sebelah sana."
"Oh, oke."
Menggunakan remote control yang ada di dekat bantal, aku mematikan
lampu kamar.
Dalam kegelapan, hanya suhu tubuh Asaka saja yang bisa kurasakan dengan
sangat jelas.
"..."
Seluruh tubuhku terasa panas. Jauh lebih panas daripada saat berendam
di bak mandi tadi.
Aliran darahku berpacu cepat, dan jantungku mulai berdetak kencang.
"..."
Ada apa ini? Padahal Asaka menempel padaku sudah jadi hal yang biasa,
tapi kenapa hari ini jantungku berdebar sangat kencang seperti ini?
Aku kan bukan lolicon.
Mungkinkah ini karena situasi kami yang berada di dalam satu tempat
tidur?
Kalau begitu malah makin gawat, dong! Itu artinya
aku melihat Asaka sebagai seorang wanita!
Sebaiknya
aku tidur di kamar lain saja—
Pada
saat itulah, angin meraung dengan sangat kencang di luar.
"Kyya!"
Kaget
oleh suara keras itu, Asaka merapatkan tubuhnya lebih erat lagi padaku.
"Ooh,
badainya mulai menunjukkan kekuatan aslinya, ya."
Jendela berguncang hebat, sementara suara angin dan hujan terus bergema
tanpa henti.
"Uuuh..."
Tubuh
mungil itu gemetar pelan.
...Mungkin
saja, hari-hari seperti ini pernah terjadi sebelumnya. Hari-hari penuh badai,
petir, dan hujan deras saat orang tuanya tidak ada di rumah.
Sambil
mengusap punggung kecilnya, aku mendekap Asaka lebih erat.
"Tenang
saja, tidak apa-apa kok. Kan ada aku di sini."
"Yuu-nii..."
Tampak
merasa tenang, Asaka memejamkan matanya.
"Selamat
tidur."
"Iya,
selamat tidur."
Kalau
diingat-ingat, pikirku tiba-tiba.
Rumah
ini kan berdiri di tanah perbukitan yang landai, alias di lereng gunung. Bagian
belakangnya adalah area pegunungan, apa tidak akan terjadi tanah longsor, ya...
"A-Awa-wa-wa-wa..."
"Yuu-nii, tubuhmu gemetaran banget, lho."
"T-Tidak apa-apa kok!"
"D-Dingin,
ya?"
"Bukan
kok!"
"Jangan-jangan
Yuu-nii juga ta—"
"Sama sekali tidak, ya!"
"?"
Malam itu, kami berdua tidur saling menempel erat sambil gemetaran
bersama.
Bocah
Nakal Ingin Mengambilnya
1
Ini
adalah masa ketika perubahan suhu terasa sangat drastis. Saat pagi hari, udara
terasa cukup dingin sampai-sampai aku merasa enggan berangkat sekolah, padahal
sekarang rasanya hangat dan nyaman.
Aku
mengayuh sepeda sambil memandangi kota yang diwarnai oleh cahaya matahari
terbenam.
"Aku
pulang~"
Saat
aku masuk dari arah kedai, tiga bocah nakal itu terlihat sedang berkumpul
mengelilingi meja pelanggan.
"Selamat datang kembali~"
"Selamat datang kembali."
"Selamat datang kembali."
Ketiganya kompak mengumbar senyum mencurigakan. Pasti mereka sedang
merencanakan sesuatu yang tidak benar lagi.
"Kenapa kalian, malah tersenyum-tersenyum begitu? Ayah, minta
kolanya satu."
"Fufufu, sekarang kami mau lihat album fotonya Yuu-nii, lho,"
kata Miya sambil merebahkan tubuhnya di atas meja.
"Ooh."
Album foto, ya.
Hmm?
Album foto siapa katanya tadi?
"Semua,
maaf ya sudah menunggu lama. Eh, Yuu, kamu sudah pulang, ya?"
Sambil
memeluk sebuah buku album yang tebal, Ibu muncul dari ruang dalam.
Sampulnya
berwarna putih dengan pita emas, serta tulisan 'Yuu TK' yang tercetak sangat
besar.
"Gawat!"
"Selamat
data—"
"Hup!"
Aku
segera merebut buku itu dari tangan Ibu.
"Ah,
apa-apaan sih kamu?"
"Itu
sih kalimatku! Sembarangan sekali melihat album foto orang—"
"Tidak
apa-apa kan, cuma album foto saja."
Mana
bisa dibilang tidak apa-apa!
Khususnya
foto-foto zaman TK, aku sendiri saja merasa malu dan enggan untuk melihatnya
kembali. Apalagi kalau sampai dilihat oleh bocah-bocah ini, sudah pasti mereka
bakal makin meremehkanku.
"Lihat
dong~"
"Serahkan
ke kami!"
"Tolong
perlihatkan kepada kami!"
"Bawel,
pokoknya tidak boleh!"
Sambil
mengecat kejaran tiga bocah nakal yang mengerubungiku, aku berlari ke lantai
dua dan mengunci diri di dalam kamar.
"Dia kabur!"
"Kjar!"
"Tunggu dulu!"
Anak-anak itu pasti tidak bakal menyerah.
Bahkan kalau aku menyembunyikannya pun mereka bakal langsung
menyadarinya dengan cepat, tapi aku juga tidak punya tempat kabur yang lain.
"Buka
pintunya~"
"Kamu
sudah terkepung, tahu!"
"Tolong
buka pintunya, Yuu-nii."
Tunggu
dulu?
Kalau
pakai cara itu, apa tidak bakal ketahuan?
Aku melepaskan gagang pintu dan membukanya lebar-lebar.
"Nah, kalian. Apa kalian benar-benar ingin melihat album foto
ini?"
"Cepat perlihatkan!"
"Cepat serahkan!"
"Tolong
cepat perlihatkan kepada kami!"
"Sabar
dulu. Kalau begitu, mari kita bertaruh."
"Bertaruh?
Mana mungkin Yuu-nii bisa menang lawan kami," potong Mahiru tanpa ragu.
"Ugh, berani sekali kamu bilang begitu. Kalau sampai berucap
begitu, mau tidak mau aku harus menerima tantangannya. Kalau kalian menang,
album foto ini bakal kuperlihatkan sepuasnya. Tapi kalau aku yang menang, album
foto ini bakal kusegel. Siapa pun yang menang, tidak boleh ada yang protes, ini
pertarungan yang adil."
"Bagaimana?"
Miya
menatap Mahiru dan Asaka. Tiga bocah nakal itu mulai berdiskusi tentang apa
yang harus dilakukan.
"Kenapa?
Takut kalah, ya? Ah, tidak apa-apa kok, tidak apa-apa. Kalau kalian tidak
percaya diri bisa menang dariku, ya tidak usah saja."
Aku mengibaskan telapak tangan sambil berpura-pura tertawa meremehkan
dari hidung.
"Apa
kamu bilang?" kata Miya.
"Mana
mungkin Yuu-nii bisa menang lawan aku," kata Mahiru.
"Apa
tidak apa-apa ya?" kata Asaka.
Gampang sekali dibodohi. Mereka langsung terpancing saat itu juga.
"Bagaimana cara bertaruhnya?" tanya Miya.
"Sekarang aku bakal menyembunyikan album foto ini di dalam kamar. Kalau
kalian bisa menemukan dan mengambilnya, artinya kalian yang menang."
"Eh?
Bukannya itu mudah sekali?"
"Tunggu
dulu, Asaka. Karena ini Yuu-nii, bisa saja dia bilang di dalam kamar tapi malah
menyembunyikannya di balkon."
"Benar juga, Miya-chan jeli banget!"
"Dasar bodoh. Mana mungkin aku melakukan hal licik seperti itu.
Kalau aku bilang di dalam kamar, ya artinya di dalam kamar."
"Berapa menit batas waktunya?" tanya Mahiru sambil
bersedekap.
"Bagaimana
kalau batas waktunya lima belas menit?"
"...Boleh
juga."
"Kalau
begitu, aku bakal menyembunyikannya sekarang, jadi tunggu di luar!"
Setelah berkata begitu, aku langsung menutup pintu.
2
"Sip, sudah boleh masuk!"
Sambil bersandar di dinding, aku membuka pintu.
Setelah memastikan ketiganya masuk ke dalam kamar, aku menutup pintu di
belakang punggungku dan kembali bersandar di sana.
"Di sebelah sini!"
Mahiru mengintip ke bawah tempat tidur.
"Hmm, tidak ada, ya~"
"Aku cari di sebelah sini, ya."
Asaka
mulai mencari di sekitar rak buku.
"Hmm."
Miya berdiri di atas tempat tidur dan mengedarkan pandangan ke
sekeliling kamar.
"Yuu-nii, albumnya benar-benar ada di dalam kamar, kan?"
"Iya dong."
"Baiklah."
Miya melompat turun dari tempat tidur dan mulai memeriksa laci meja
satu per satu.
"Ukurannya besar, jadi tempat untuk menyembunyikannya pasti
terbatas."
Hoo, untuk ukuran anak kecil, analisisnya boleh juga.
"Tadi tidak terdengar suara yang berisik banget, jadi sepertinya
dia tidak memindahkan barang-barang besar."
Sambil berkata begitu, Mahiru berjalan mengelilingi kamar dan mendekat
ke arahku.
"A-Ada
apa?"
Apa-apaan
ini, jangan-jangan dia sudah menyadarinya?
"Hmm."
Ternyata
dia terus berjalan menuju lemari pakaian, membuatku bernapas lega.
"Isinya tidak terlalu berantakan, ya."
Dia
membuka lemari pakaian dan langsung menutupnya kembali.
Begitu
ya, sepertinya dia menilai apakah album disembunyikan di sana atau tidak
berdasarkan tingkat keberantakan pakaian. Itu adalah taktik yang bagus untuk
menghemat waktu sekaligus mengurangi tenaga yang terbuang sia-sia.
Tapi,
pikiran kalian sejak awal sudah salah arah dari dasarnya.
"Ah!"
"Miya,
apa kamu menemukannya?"
"Yuu-nii, boleh main game ini nanti?"
Miya menarik keluar kaset game dari dalam laci.
"Boleh
saja."
"Miya,
yang begitu cari nanti-nanti saja!"
"Di
sini juga tidak ada, nih. Apa di balkon, ya?"
Asaka
membuka jendela.
"Asaka,
tadi Yuu-nii bilang di dalam kamar, jadi pasti tidak ada di balkon."
"Begitu
ya~"
Fufufu.
Waktu
terus berlalu begitu saja, lho.
Yah,
kalau dari sudut pandang bocah nakal, tempat ini pasti tidak akan pernah
ditemukan. Dan kalaupun ditemukan, tidak akan ada masalah bagiku.
Demi
harga diri dan kewibawaanku sebagai orang dewasa, album foto ini harus
kupertahankan mati-matian.
Sip
sip, sisa tiga menit lagi.
"Sial,
tidak ketemu sama sekali!"
"Apa
jangan-jangan di dalam lemari pakaian?"
Miya
melompat-lompat di atas tempat tidur, sementara Mahiru kembali membuka lemari
pakaian untuk kedua kalinya.
"Ngomong-ngomong
Yuu-nii, kenapa dari tadi berdiri di situ terus?" tanya Asaka.
"Eh?"
Seolah
merasakan sesuatu dari pertanyaan polos itu, Miya berjalan mendekat ke
hadapanku.
Mata
sok tahunya menengadah menatapku.
"A-Ada
apa?"
"Mencurigakan."
"Memangnya
tidak mau cari lagi? Sisa dua menit lagi, lho?"
"..."
"..."
"Ketemu!
Ada di dalam bajunya!"
Gawat,
ketahuan!
"Apa?"
"Benar-benar
ada?"
"Lihat
deh, kalau dilihat baik-baik bagian punggungnya bentuknya kotak!"
"Ah!"
"Ah!"
"Sial!"
Akhirnya
ketahuan juga, ya.
Aku
memasukkan album foto ke balik baju, lalu menempelkan punggung ke pintu untuk
menyembunyikan tonjolannya.
Karena
mereka bakal keasyikan mencari di dalam kamar, berdiri di dekat pintu masuk
bakal menjadi titik buta bagi mereka, itulah taktikku.
"Begitu ya, memang benar-benar ada di dalam kamar, sih."
"Untuk
ukuran Yuu-nii, otaknya lumayan jalan juga, ya."
"Apa
maksudmu 'untuk ukuran Yuu-nii'?"
"Ayo,
serahkan album fotonya!"
Mahiru
mengulurkan tangannya.
"Hah?
Bicara apa kamu? Bukannya tadi kubilang 'kalau bisa menemukan dan
mengambilnya', kan? Fuhahaha!"
Aku
mengangkat album foto tinggi-tinggi ke udara.
"Ayo
ayo, coba ambil kalau bisa!"
"Licik
banget!"
"Yuu-nii,
curang!"
Miya
dan Asaka melompat-lompat gembira, tapi tangan mereka sama sekali tidak bisa
menggapai area di atas kepalaku.
Kasihan
sekali, ya.
Terkadang
merasakan ketidakadilan juga diperlukan bagi pertumbuhan anak-anak.
Dengan
menabrak dinding yang tidak bisa dilompati seperti inilah mereka bakal tumbuh
menjadi orang dewasa.
Lagipula
aku juga tidak boleh membiarkan album ini dilihat oleh mereka.
Aku
melihat ke arah jam. Sisa tiga puluh detik lagi.
Aku
menang.
"Miya,
Asaka, singkirkan tangan kalian dari situ."
"Oke."
"Iya."
Mahiru
mengayunkan tinjunya.
"Eh?"
"Hiat!"
Tuk.
"Ogyaaah?!"
Rasa
sakit yang menyedihkan menjalar dari pangkal paha hingga ke dalam otak.
"A-Ah,
aaghh..."
Seluruh
tenaga di tubuhku melayang, dan aku pun ambruk tanpa bisa menahannya.
L-Lagi-lagi...
B-Bocah
ini, jangan-jangan dia melakukan ini dengan sengaja sambil mengincarnya?
"Horeee, dapat!"
Miya dengan sigap merebut album foto dari tanganku.
"Mahiru-chan, hebat banget~"
"Makanya sudah kubilang, kan. Mana
mungkin Yuu-nii bisa menang lawan aku."
"Uuuh,
aaghh..."
Tubuhku
terasa panas.
"Aaghh,
aaghh..."
"Sip,
ayo turun ke bawah!"
Atas
komando Miya, bocah-bocah nakal itu berhambur keluar dari kamar.
Tinggal
aku seorang diri yang ditinggalkan, bertarung melawan rasa sakit yang tak
kunjung hilang.
"A-Uuaghh..."
3
"Ini
foto hari pertama masuk TK, ya."
"Nangisnya
parah banget!"
Miya
tertawa gembira.
"Waktu
pertama kali naik bus jemputan, dia menangis histeris sambil bilang 'Tidak mau
berpisah sama Mama~', bikin repot saja."
"Kalau
yang ini?"
"Kalau
yang ini foto waktu dia kaget lalu menangis gara-gara lihat arakan
festival."
"Kalau
foto yang ini apa?"
"Foto
waktu pergi nonton film Po*emon, tapi karena hari pertama bioskopnya ramai
banget sampai tidak bisa nonton."
"Foto
Yuu-nii isinya menangis semua, ya," kata Mahiru sambil menepuk bahuku
dengan nada heran.
"Lucu
banget!"
"Bawel!
Makanya aku tidak mau memperlihatkannya!"
Entah
kenapa, sepertinya aku ini anak yang cengeng sejak dulu. Lebih dari setengah
foto masa kecilku berisi fotoku yang sedang menangis, dan hal itulah yang
membuatku merasa malu.
Sialan, apa tidak ada foto yang lebih mendingan?
"Eh? Foto yang ini..."
Miya menunjuk ke salah satu foto.
"Lho, kenapa foto yang ini bisa terselip di bagian TK, ya?"
Itu adalah fotoku saat masih duduk di kelas lima SD.
Diriku yang masih kecil tampak memeluk seorang bayi dengan sangat
hati-hati. Di sampingnya, terlihat sosok Miku-san yang masih muda.
"Ini jangan-jangan, Miya?"
"Wah, lucunya!"
"Uwaaah, t-tidak boleh lihat!"
Sambil memeluk album foto itu rapat-rapat, Miya berlari pergi.
Di belakangnya, Mahiru dan Asaka berlari mengejar punggungnya.



Post a Comment