NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

10-nen-buri Ni Saikai Shita Kusogaki Wa Seijun Bishoujo Jk Volume 1 Chapter 3

Chapter 3

Cemburu, dan Cemburu Lagi


1

5 April. 

Hari Rabu yang tenang. 

Jika aku bersandar dan terlelap di kursi teras yang bermandikan sinar matahari ini, rasanya aku bisa langsung pergi ke alam mimpi yang menyenangkan.

"Terima kasih banyak! Nah, akhirnya agak senggang juga."

Melewati jam sibuk makan siang, jumlah pelanggan mulai menipis dan suasana menjadi lebih santai. Sambil membereskan cangkir milik seorang paman pekerja kantoran yang nongkrong lama hanya dengan segelas kopi, aku teringat akan wajahnya yang terlihat seperti mayat hidup.

Dia pasti salah satu pejuang yang terjebak di kelamnya dunia kerja. Aku sangat beruntung karena bisa ber-reinkarnasi lebih cepat dari dunia semacam itu.

Jujur saja, soal diperbudak sebagai bawahan, bekerja di bisnis keluarga juga sama saja. Pukul dua siang.

Bel pintu berbunyi di dalam kedai yang sudah benar-benar sepi dari pelanggan.

"Selamat datang!"

Saat aku menoleh sambil menyapa, pelanggan itu sudah berada tepat di depan mataku. Tidak, alih-alih mendekat, pelanggan itu—seorang gadis cantik berambut hitam pendek—malah melompat ke arahku.

"Wapu!"

Wajahku tenggelam di dadanya yang berisi, a-aku tidak bisa bernapas. Rasanya hangat, lembut, dan entah kenapa wanginya sangat enak... tunggu dulu, aku benar-benar tidak bisa bernapas!

Aku bisa mati, aku bisa benar-benar mati.

"Mmph, l-lepaskan, sebenarnya apa yang kamu lakukan?"

Aku sama sekali tidak mengerti situasinya dan hanya bisa merasa bingung. Kenapa ada gadis cantik berdada besar yang tidak kukenal tiba-tiba melompat ke arahku?

Gadis gila seperti ini pasti sangat jarang ditemui, bahkan di dunia komedi romantis sekalipun.

"Hehe, maaf, maaf."

Gadis itu melepaskanku sambil meminta maaf. Sambil merasakan sisa-sisa kehangatan yang enggan pergi dari wajahku, aku mengamati gadis cantik di depanku ini.

Untuk ukuran seorang gadis dia cukup tinggi, sepertinya lebih dari 170 sentimeter. Dia lebih tinggi beberapa sentimeter dariku yang tingginya tepat 170 sentimeter.

Kulitnya putih dan seindah sutra. Dan tentu saja, senjata dada mematikan yang hampir saja membunuhku tadi.

"Hm? Kamu... jangan-jangan?"

Wajahnya yang tomboi dan tegas. Potongan rambut hitam pendek. Dan juga tatapan matanya yang menyebalkan seolah sedang meremehkanku ini.

Sosok gadis lincah itu tiba-tiba melompat keluar dari laci ingatanku. Gadis cantik ini, tidak, dia ini...

"Kamu, Mahiru, kan?"

◇

Halo semuanya, selamat siang. Aku Haruyama Miya. Karena hari ini adalah upacara pembukaan tahun ajaran baru, tidak ada pelajaran dan sekolah sudah bubar sejak pagi.

Aku datang ke sini setelah mampir ke klub sebentar. Aku meminta tolong pada Bibi agar diizinkan masuk diam-diam dari pintu belakang, dan sekarang, aku sedang bersembunyi di balik bayangan pintu masuk dapur.

Tempat ini adalah titik buta dari area pelanggan, jadi aku tidak akan ketahuan. Mahiru bilang dia mau pergi menemui Yuu-nii, jadi aku berniat mengawasinya agar dia tidak membicarakan hal-hal yang tidak perlu, tapi...

Tiba-tiba saja, aku punya satu pertanyaan untuk kalian. Saat ini, aku saaaaangat marah. Kira-kira kenapa, ya?

"Wah, sudah lama banget ya, Mahiru."

"Hehe, Yuu-nii sama sekali tidak berubah, ya."

"Kamu juga tidak berubah. Yah, meskipun ada banyak hal yang tumbuh membesar, sih."




Kira-kira kenapa, ya?

"Omong-omong, sudah lama sekali, ya. Sepuluh tahun, kan."

"Karena kamu sama sekali tidak pernah pulang selama sepuluh tahun, jadinya memang sudah sepuluh tahun berlalu."

"Itu karena ada alasan yang dalam dan kelam, tahu."

Mengabaikan mereka berdua yang sedang berbagi kebahagiaan karena reuni, aku justru terbakar oleh api cemburu.

Haaaaah?

Apa-apaan?

Ada apa ini?

Kenapa dia bisa langsung sadar kalau itu Mahiru?

Tidak, tunggu sebentar.

Haaaaaaaaah?

Yah, memang benar Mahiru selalu seperti itu sejak kami masih SD, gaya rambut dan sifatnya juga tidak berubah sama sekali, sih.

Tapi, ini benar-benar berbeda jauh seperti bumi dan langit jika dibandingkan dengan saat giliranku.

Lagi pula Mahiru, kenapa kamu tiba-tiba menempelkan dadamu ke Yuu-nii, sih. Yuu-nii juga malah terlihat kegirangan begitu.

Mahiru pun duduk di kursi konter.

"Paman, aku pesan cola, ya."

"Baik, dimengerti."

"Ayo, temani aku minum."

Sambil meminum colanya, Mahiru menyuruh Yuu-nii duduk di sebelahnya.

"Kenapa kamu tidak pulang selama sepuluh tahun?"

"Ceritanya bakalan panjang, tapi singkatnya, aku tidak punya kesempatan untuk pulang."

Penderitaan tampak jelas di wajah Yuu-nii saat dia menceritakan pengalamannya di Tokyo. Seolah ingin menepis kenangan itu, dia pun mengalihkan topik pembicaraan.

"Kalau tidak salah, Mahiru tahun ini kelas tiga SMA, kan? Kamu ikut klub atau semacamnya?"

"Hm? Ah, aku ikut klub voli. Begini-begini aku ini kaptennya, lho?"

"Voli?"

"Aku mulai main sejak kelas enam SD."

"Voli, ya—tunggu, kapten?"

"Iya, begitulah."

Mahiru tampak bangga, namun wajahnya sedikit memerah seolah ada rasa malu yang bercampur di sana.

"Bocah nakal sepertimu bisa jadi kapten... rasanya membuatku terharu."

"...Aku kan sudah bukan anak-anak lagi."

"Jangan bodoh. Bagiku, kamu itu masih anak-anak sampai sekarang."

"...Bodoh."

"Seragam itu, SMA Kita, kan?"

"Iya. Hari ini ada upacara pembukaan. Kemarin aku baru selesai kamp pelatihan—"

Ah, aku juga ingin membicarakan hal seperti itu! Kenapa kalian berdua malah tenggelam dalam kenangan secara melankolis begitu, sih.

Uuukh~.

"Oh iya, bagaimana kabar Miya dan Asaka?"

Tadi malam, aku sudah cerewet memperingatkannya agar tidak membocorkan identitas asliku sebagai gadis cantik yang menantangnya menebak nama. Tolong kelabui dia dengan baik, ya.

"Hm, yah lumayanlah. Asaka masuk ke SMA asrama penuh, jadi kami jarang punya kesempatan untuk bertemu."

"Hmm, aku jadi penasaran bagaimana mereka tumbuh dewasa. Kalau Miya terus tumbuh seperti dulu, dia pasti sudah jadi gyaru atau berandalan yang gawat... Hm? Kenapa kamu tertawa?"

"Eh? Tidak, bukan apa-apa."

Mahiru menahan tawanya. Bagi seseorang yang mengetahui situasinya, keadaan antara aku dan Yuu-nii saat ini pasti terasa sangat lucu baginya.

"Soalnya, ah, tidak apa-apa."

Mahiru menutupi mulutnya seperti sedang berusaha menahan tawa.

"Ada apa, sih."

"Bukan apa-apa, kok."

Sebelum Mahiru kelepasan bicara, aku harus menjauhkan mereka berdua. Aku pun mengeluarkan ponsel cerdasku dan mengirim pesan.

'Mahiru, kumpul di McD A*on (Marah)'

"Benar juga, kapan-kapan ajak mereka berdua—"

Mahiru tampaknya sudah menyadari pesanku.

"Ah, Yuu-nii. Aku pulang dulu hari ini, ya."

"Eh? Secepat ini?"

Saat Mahiru berdiri, Yuu-nii memperlihatkan ekspresi kesepian di wajahnya.

"Terima kasih hidangannya. Sampai jumpa lagi, ya."

"Oh."

Setelah memastikan Mahiru keluar dari toko, aku pun ikut menyelinap keluar melalui pintu belakang. Aku berjalan dengan cepat.

 

2

"Ya ampun, Yuu-nii sama sekali tidak berubah, ya. Paling cuma rambutnya yang sedikit menipis, kan? Hahaha."

Ini adalah kursi dekat jendela di McDonald's A*on.

Mahiru mengambil kentang goreng sambil menyandarkan dadanya yang jauh lebih besar dariku ke atas meja, lalu duduk dengan menyilangkan kaki padatnya yang terlatih karena bermain voli secara sembarangan.

Hanya dengan berada di sana saja, dia sudah menjadi sosok memikat yang mampu menarik perhatian para pria. Buktinya, saat ini pun aku bisa merasakan tatapan mesum dari meja di sekitar kami.

"Lihat tuh, level mereka berdua tinggi banget."

"Hei, sana kamu ajak mereka ngobrol."

"Nggak ah, kamu saja yang ke sana."

Sambil melirik-lirik ke arah sini, para pria itu berdiskusi apakah mereka akan mengajak kami berbicara atau tidak.

"Hah."

Aku benci menjadi pusat perhatian dari orang-orang tak dikenal, tapi sekarang bukanlah saatnya untuk mempedulikan hal itu. Pasalnya, ada masalah yang jauh lebih penting yang sedang menghadang di depan mataku.

"Kenapa dia bisa langsung sadar kalau itu kamu, Mahiru!"

Aku mencondongkan tubuhku ke depan. Ini aneh, kan.

Padahal saat giliranku, aku sudah menggunakan berbagai macam strategi tapi dia sama sekali tidak menyadarinya, lalu kenapa dia bisa langsung sadar dalam sekali lihat saat bertemu kembali denganmu.

Ini diskriminasi!

Ini konspirasi!

Ini tidak masuk akal!

"Kenapa apanya, meskipun kamu bertanya kepadaku..."

Sambil mengatakan hal itu, Mahiru mengulurkan tangannya ke arah nugget lalu mengunyahnya.

"Yah, sifatmu memang sudah berubah dibandingkan dengan dulu, Miya. Bisa dibilang kamu menjadi lebih penahan diri, atau lebih tenang, ya."

"Sementara itu, kamu kan masih tetap menjadi Mahiru yang sama seperti dulu."

"Apa maksudnya itu. Lagian, kenapa kamu tidak mengatakannya saja waktu pertama kali kalian bertemu, seperti 'Sudah lama tidak berjumpa, Yuu-nii, ini aku Miya'."

"Ugh."

"Kenapa kamu tidak mengatakannya?"

Itu memang benar.

Namun, justru karena argumen logis tidak bisa menyelesaikan masalah, makanya ini disebut sebagai perasaan seorang gadis.

"Habisnya... waktu kami tidak sengaja bertemu di stasiun, aku langsung sadar, tapi Yuu-nii malah tidak mengenaliku, lho? Bahkan saat kami bertemu lagi di hari yang sama pun dia masih belum sadar. Kalau aku memperkenalkan diriku sendiri dalam situasi seperti itu... nanti jadinya,"

"Nanti jadinya?"

"Aku kan jadi terlihat sangat putus asa ingin dia kenali!"

"Lha, kenyataannya memang begitu, kan."

Mahiru meraih milkshake-nya.

"Tidak, kok."

"Gadis yang merepotkan sekali."

"Aku ini tidak merepotkan. Aku hanya ingin menikmati kegelisahan dan keterkejutan Yuu-nii saat dia menyadari kebenarannya setelah kubiarkan kebingungan sejenak."

"Uwaaah."

"Tunggu Mahiru, jangan merasa jijik begitu, dong."

"Aku tidak merasa jijik, kok, tenang saja."

Aku sadar betul kalau arah tindakanku ini agak berbahaya.

"Tapi dia benar-benar memperlakukanmu seolah kamu ini orang lain, kan? Kalau kamu tidak memberikan petunjuk sama sekali, dia mungkin tidak akan pernah sadar sampai kapan pun, lho? Apalagi ini Yuu-nii."

"Aku tahu soal itu."

Mahiru mengambil kotak kentang goreng keduanya.

"Perubahan penampilan selama sepuluh tahun bagi orang dewasa dan anak-anak itu sangat jauh berbeda, tahu. Soalnya anak-anak kan terus bertumbuh. Seperti anak kerabat saja, kalau kita tidak bertemu selama setahun, perubahannya bisa sampai bikin kita terkejut, kok."

"Makanya, soal itu, ada sesuatu yang sudah aku lakukan."

"Melakukan apa memangnya?"

Kemudian, saat aku menjelaskan tentang permainan tebak nama itu, wajah Mahiru seketika memucat.

"...Eh? Kamu melakukan hal semacam itu?"

"Tunggu, Mahiru jangan jijik begitu."

"Enggak, kalau yang ini wajar saja aku jadi jijik."

"Pokoknya, mulai sekarang aku butuh banyak bantuan darimu, ya, Mahiru."

◇

Aku berpikir sejenak.

Sejak dulu Miya memang keras kepala.

Meskipun sifatnya sudah menjadi lebih tenang, bagian itu ternyata tidak berubah sama sekali, ya.

Dia pasti akan sangat marah kalau aku turun tangan lalu membocorkan namanya begitu saja.

Yah, karena situasinya menarik, biarkan saja, deh. Yuu-nii juga pasti akan segera menyadarinya.

Lagi pula ini adalah pertemuanku dengan Yuu-nii setelah sepuluh tahun.

Kenangan masa lalu pun melintas di benakku. Dulu kami sering bermain bermacam-macam permainan bersamanya.

Mulai dari pergi ke kolam renang, bermain game, sampai pergi ke festival.

Kalau dipikir-pikir lagi, kami lumayan sering merepotkannya.

Saat aku meletakkan tangan di dadaku, sensasi wajah Yuu-nii kembali teringat jelas.

Jantungku berdegup kencang.

"..."

"Mahiru, kamu lagi mikirin sesuatu yang mesum, kan."

"Hah? Mana ada."

"Lagian, kenapa kamu tiba-tiba menempelkan dadamu ke Yuu-nii? Dasar cewek mesum."

"Tidak, tadi itu aku hanya memeluknya, kok."

"Memangnya perlu sampai berpelukan begitu?"

"Tentu saja, kami kan bertemu lagi setelah sepuluh tahun. Wajar kalau perasaanku jadi meluap dan aku memeluknya."

"N-Nggak, tuh!"

"Dulu kamu juga sering menempel padanya, kan."

"Itu kan karena aku masih kecil... eh, jangan ingatkan aku pada hal-hal aneh, dong."

"Kalau kita ingat-ingat lagi sekarang, kita dulu itu benar-benar anak nakal, ya."

"Iya."

"Tapi, semuanya menyenangkan, kan."

"...Iya."

Sambil memandangi keramaian dari balik jendela kaca, kami pun larut dalam perbincangan mengenang masa lalu bersama Yuu-nii.

 

3

Jam wali kelas telah usai, dan bel pulang berbunyi nyaring ke seluruh penjuru sekolah. Para siswa berbondong-bondong keluar dari kelas menuju koridor, membuat kepadatan berbalik seketika.

Di dalam kelas yang mulai sepi ini, aku meregangkan badanku lebar-lebar.

"Nnngh~"

Aku tidak suka keramaian. Rasanya memalukan kalau orang-orang menatap dadaku terus-menerus.

Semenjak dadaku mulai membesar, aku jadi bisa segera mengetahui ke mana orang lain melihat hanya dari gerakan mata mereka.

Terutama laki-laki, alih-alih menatap mataku, pandangan mereka selalu turun ke bawah terlebih dahulu, dan itu benar-benar memuakkan. Orang yang punya kelebihan juga memiliki masalahnya sendiri.

Aku akan menunggu sampai siswa yang lalu-lalang di koridor berkurang.

"Fwaaah."

Suara teriakan klub olahraga sudah mulai terdengar dari luar. Waktu menunjukkan pukul empat lewat sepuluh menit.

Mungkin ini saatnya. Berhubung hari ini klub sedang libur, aku akan bersantai sejenak.

"Mahiru."

Suara panggilan itu terdengar dari arah pintu. Saat aku menoleh, ada Miya yang berdiri di sana.

"Hari ini kamu libur, kan. Ayo pulang bareng."

"Oke."

Kami berdua melewati gerbang sekolah berdampingan.

"Mau mampir ke tempatnya Yuu-nii dulu?"

"Tentu saja. Ah, tapi jangan sampai kamu menyebut namaku, lho."

"Iya, iya, aku tahu."

Tapi kalau dia pergi bersamaku, pasti Yuu-nii bakalan sadar, kan.

Apa jangan-jangan itu memang incaran Miya?

Misalnya seperti, 'Mahiru dan si gadis cantik misterius ini punya hubungan → Mereka berdua berteman sejak lama? → Teman masa kecil itu adalah Miya?'

Hmm, alur deduksi semacam ini lumayan sulit untuk dimengerti, ya.

Sial, padahal sebaiknya buang saja harga diri yang konyol itu.

Tidak lama kemudian, kami tiba di Moon Night Terrace.

"Dengar, ya? Aku peringatkan sekali lagi, jangan panggil aku pakai namaku, ya? Kita harus membiarkan Yuu-nii sadar dengan sendirinya."

"Iya, bawel."

Miya membuka pintunya.

"Selamat datang."

Karena sedang waktunya ramai, tempat ini lumayan padat, ya.

Kebetulan hanya ada satu meja yang kosong, jadi kami pun duduk di sana. Tak lama kemudian, Yuu-nii datang untuk mencatat pesanan. Saat melihat kami, dia memasang ekspresi kebingungan.

"Yo, Yuu-nii."

"Lho, Mahiru, kamu kenal dengan gadis ini, ya?"

Kamu sendiri juga kenal, tuh.

"Ah, ya, kami berteman di SMA yang sama."

Aku sama sekali tidak berbohong, kok.

"Halo, Yuu-san."

Yuu-san? Ada apa dengan panggilan yang membuat otakku terasa gatal ini.

"Ah, halo."

Yuu-nii juga malah memasang senyum sumringah begitu.

"Sepertinya hari ini Anda terlihat sangat sibuk, ya."

"Hahaha, di jam-jam segini memang selalu begini, kok."

"Pasti sangat melelahkan."

"Yah, namanya juga pekerjaan. Hahaha. Tapi sungguh mengejutkan ternyata kalian berdua saling berteman."

"Apakah Anda sudah lama kenal dengan Mahiru-san?"

"Aku sudah kenal dengan bocah ini sejak dia masih sekecil ini."

Yuu-nii menempatkan telapak tangannya di sekitar pinggang sambil mengatakannya.

"Hee, begitu, ya."

...Ada apa dengan mereka berdua. Pemandangan macam apa yang sedang kupertontonkan ini.

Hei, Yuu-nii. Perempuan yang lagi kamu puji-puji dengan wajah berseri-seri itu, dia adalah bocah nakal yang selalu merepotkanmu sepuluh tahun yang lalu, lho.

"Kalau begitu, aku pesan es kopi. Mahiru mau pesan apa?"

"Hm? Aku... mau cola saja."

"Baiklah."

Pesanan kami datang sekitar lima menit kemudian.

Gelas itu terisi penuh oleh cairan berwarna cokelat kemerahan.

Busa menggelegak dari dasar gelas, menciptakan suara mendesis dan letupan-letupan kecil.

Begitu aku meminumnya, karbonasi dari cola langsung merangsang mulutku.

Begitu rupanya, ini adalah situasi yang sangat lucu jika disaksikan dari sudut pandang pengamat. Semakin lucu lagi karena orang yang bersangkutan sama-sama serius.

"Yuu, biar kami yang urus sisanya, mendingan kamu temani saja para nona manis ini."

Bibi pemilik kedai berkata sambil tersenyum menyeringai. Melihat wajah itu, sepertinya si bibi juga ikut andil dalam rencana ini, kan?

"Eh? Tapi kedai sedang lumayan sibuk..."

"Sudah, tidak apa-apa."

"Begitu, ya, kalau begitu aku terima tawaranmu."

Yuu-nii kemudian duduk di meja kami. Seolah sedang menunggu momen tersebut, Miya pun langsung angkat bicara.

"Ngomong-ngomong, Mahiru itu dulu anak yang seperti apa?"

Tampaknya dia berencana untuk membangkitkan kenangan Yuu-nii dengan membicarakan masa kecil kami.

Tapi, dari cara bertanyanya, itu malah terdengar seolah dia tidak tahu sama sekali tentang masa kecilku...

"Biarku ingat-ingat, kalau dijelaskan dalam satu kata, dia itu adalah seorang bocah nakal."

"Hee."

"Yuu-nii, kamu tidak perlu membicarakan hal yang tidak penting, tahu."

"Misalnya, menyelinap ke rumah kosong dan tersesat, atau membuat pangkalan rahasia di dalam gunung..."

"Begitu rupanya, pasti sangat merepotkan, ya."

Apa maksudmu dengan begitu rupanya, padahal kamu kan juga salah satu anggotanya.

"Selain Mahiru, sebenarnya masih ada dua bocah nakal lainnya. Nah, salah satunya tinggal di sebelah—"

Seketika pancaran mata Miya langsung berubah.

"Anak yang s-seperti apa dia?"

Aku menelan ludahku sendiri. Tiba-tiba saja aku punya firasat buruk.

Yuu-nii, sebaiknya kamu jangan membicarakan hal yang tidak-tidak...

"Soal itu, anak itu adalah bocah yang paling nakal di antara mereka semua."

Dasar bodoh!

"Astaga, setiap hari dia selalu saja berulah yang tidak masuk akal atau membuat onar, pokoknya dia itu benar-benar murni bocah nakal."

Aku diam-diam melirik ke arah Miya. Wajahnya memang terlihat sedang tersenyum, tetapi sudut matanya berkedut-kedut tidak keruan.

G-Gawat.

"Dia sungguh sangat nakal, kelakuannya selalu saja meniru anak laki-laki. Setiap kali dia membuat ulah, aku yang selalu harus membereskannya, benar-benar merepotkan kan? Bukan begitu, Mahiru?"

"I-Iya."

"Iya, iya, padahal kamu sendiri juga bocah yang sangat nakal, tahu."

"I-Iya, deh."

"Hee, begitu, ya."

Setelah mengatakan itu, Miya meminum kopinya dengan tenang.




Miya, aku mengerti kenapa kamu marah, tapi itu kan salahmu sendiri?

Kalau mau menyalahkan, salahkan saja dirimu saat masih jadi bocah nakal dulu.

"Anak itu namanya Miya, tapi kalau mengingat betapa nakal dan seenaknya dia dulu, sekarang dia pasti sudah jadi preman atau gyaru. Hahaha."

Aku merasakan tekanan yang tidak menyenangkan.

Bahkan saat tampil di turnamen nasional voli putri atau saat berdiri di atas podium, aku tidak pernah merasakan tekanan sebesar ini.

Yuu-nii, cukup sampai di situ saja. Kalau dilanjutkan, ini bisa mempertaruhkan nyawa.

"Lalu, bagaimana pendapatmu tentang anak itu?"

"Hmm, bagaimana, ya."

Yuu-nii meletakkan tangan di dagunya, menunjukkan gestur sedang berpikir.

Suasana di tempat ini menjadi tegang. 

Di tengah banyaknya pelanggan yang bersantai menghabiskan waktu mereka, hanya meja ini yang dikuasai oleh ketegangan yang tidak wajar.

Entah kenapa aku mulai berkeringat dingin.

Kumohon, jangan katakan hal yang tidak perlu, Yuu-nii.

Menerima tatapan dariku dan Miya, Yuu-nii mulai membuka mulutnya.

"Dia memang sering merepotkanku, tapi bagiku dia sudah seperti adik perempuan manis yang kukenal sejak bayi. Dia sudah pindah, jadi meskipun aku ingin, kami tidak bisa bertemu dengan mudah... tapi, aku ingin bertemu dengannya lagi."

"H-Hee."

Seluruh tubuhku terasa gatal. Bisa-bisanya dia mengatakan kalimat klise seperti itu dengan lantang di depan orangnya langsung, dia benar-benar tidak sadar, ya.

Ini pasti akan gawat setelah dia sadar kalau itu adalah Miya.

Miya juga, suasana hatinya langsung membaik begitu saja. Benar-benar gadis yang gampang ditebak.

"Begitu, ya. Semoga kalian bisa cepat bertemu, ya."

Nada suaranya naik satu tingkat, dan Miya berkata dengan suasana hati yang sangat baik.

"Kalau begitu, mari kita dengar jawaban untuk hari ini."

Jawaban? Ah, benar juga. Dia bilang sedang bermain game tebak nama.

"Eh, ah, umm... Kujou Satomi, mungkin?"

Selera penamaan macam apa itu.

"Salah. Tapi, untuk hari ini aku akan membebaskanmu dari hukuman."

"Eh? Boleh, nih?"

"Iya, suasana hatiku sedang bagus hari ini. Kalau begitu, ayo kita pergi, Mahiru."

"Eh, umm. Kalau begitu, sampai jumpa lagi, Yuu-nii."

"Ya."

Begitu keluar dari kedai, Miya mulai melompat-lompat kecil dengan gembira. Melihat punggung teman masa kecilku itu, aku membatin.

Mereka ini, merepotkan sekali.


4

—Belakang gedung sekolah saat istirahat makan siang. Aku dipanggil ke tempat sepi ini.

Sosok yang telah menungguku adalah seorang siswa laki-laki adik kelas.

"Kak Haruyama, tolong jadilah pacarku."

Menatap tangannya yang terulur, aku melangkah mundur sedikit.

Mengatakannya sendiri memang terdengar sombong, tapi aku sering mendapat pernyataan cinta. Namun, siapa pun orangnya, aku tidak akan pernah menjawab iya.

Selama ini, hatiku belum pernah berdebar sekalipun pada laki-laki sebayaku. Aku juga sama sekali tidak bisa berempati dengan obrolan soal cinta yang begitu digemari oleh anak-anak perempuan di kelasku.

Hatiku tidak memberikan reaksi apa-apa pada aktor tampan atau idola di televisi, dan aku juga sama sekali tidak tertarik pada penghuni dunia dua dimensi.

Aku sempat khawatir kalau aku sama sekali tidak tertarik pada asmara, tapi pada akhirnya, tebakanku itu juga salah.

"Umm..."

"Aku benar-benar jatuh cinta. Aku sama sekali tidak peduli walau kamu lebih tua dariku."

Siswa laki-laki yang memanggilku itu tersenyum dengan penuh percaya diri.

"Umm... Maafkan aku."

Aku mengatakannya dengan suara yang nyaris tak terdengar. Aku benar-benar tidak pandai menghadapi situasi seperti ini.

"Eh!? K-Kenapa?"

Anak ini adalah siswa kelas satu yang baru masuk tahun ini. Dia sempat menjadi pembicaraan hangat karena ketampanannya yang sangat manis.

Dia pasti tidak pernah kesulitan dalam urusan asmara. Wajahnya menegang karena terlalu syok akibat penolakan ini.

"Meskipun kamu tanya kenapa..."

Kalau aku bilang tidak tertarik, apa dia akan terluka?

"Apa kamu menyukai laki-laki lain?"

Kali ini dia mendesakku seolah sedang marah.

"..."

Saat itu, saat aku kembali bertemu dengan Yuu-nii di stasiun, berbagai emosi membanjiri dadaku.

Perasaan rindu. Perasaan bahagia.

Amarah karena merasa kesepian. Amarah karena dia tidak pernah pulang sekalipun.

Serta amarah karena dia tidak menyadariku.

Di tengah semua itu, aku menyadari ada debaran yang belum pernah kurasakan seumur hidupku ikut bercampur di dalamnya.

Aku bukanlah wanita dingin yang tidak tertarik pada cinta. Hanya saja, sosok yang menjadi sasaranku selama ini berada sangat jauh.

Aku membalikkan badan dan langsung berlari.

"Ah, tunggu!"

"M-Maafkan aguu... ah."

Karena aku mengatakannya sambil menoleh, lidahku jadi keseleo. Aku langsung menerobos masuk ke gedung sekolah dan menaiki tangga.

Tempat yang kutuju adalah...

"...Haa, haa."

Napasku sudah tersengal-sengal begitu aku berlari sampai ke bordes tangga. Bagian samping perutku terasa sakit.

Dari sana, aku melangkah perlahan seolah menapakkan kakiku dengan hati-hati.

Lantai paling atas di gedung utara, ruang kelas yang paling ujung barat. Tempat itulah oaseku.

"Kerja baguus, fuhee."

"Kenapa napasmu sampai tersengal-sengal begitu?"

Sambil bersandar dalam-dalam di sofa kulit, Nononaka Hoshina bertanya.

"Yah, sebenarnya, begini—"

Aku pun menjelaskan apa yang baru saja terjadi.

"Ditembak lagi? Kamu ini benar-benar luar biasa, ya."

Tempat ini adalah ruang Klub Penelitian Novel Misteri tempatku bernaung, atau yang biasa disingkat Klub Misteri.

Di rak buku yang memenuhi salah satu sisi dinding, berjejal novel-novel misteri klasik dari berbagai zaman dan penjuru dunia.

Ngomong-ngomong, aku bisa ketagihan pada novel misteri karena pengaruh Yuu-nii. Sepertinya dia juga menyukai novel misteri, dan dia meninggalkan koleksi bukunya di kamar.

Sejak Yuu-nii merantau ke Tokyo, aku sering mengunjungi kamarnya untuk mengusir rasa sepi. 

Saat masih SD, buku-buku itu terlalu sulit untuk kupahami, tapi sejak SMP, aku mulai bisa membacanya dengan lancar dan akhirnya malah jadi ketagihan.

"Tidak heran, namanya juga salah satu dari Tiga Gadis Suci Tembok Besi SMA Kita."

"Hentikan, dong."

Asal tahu saja, Hoshina ini adalah ketua Klub Misteri. Meskipun dia seorang gadis dengan tubuh mungil setinggi 150 sentimeter, berambut hitam sebahu, dan berkacamata bingkai hitam, dia adalah sosok unik yang lebih menyukai kasus pembunuhan daripada makan tiga kali sehari.

"Ryuushaku Mahiru dan Haruyama Miya dari kelas tiga, lalu Togami Yuuhi dari kelas dua. Meski memiliki kecantikan sekelas idola, tidak ada satu pun dari kalian yang punya pacar dan selalu menolak mentah-mentah setiap pernyataan cinta."

"Konon katanya, belum ada satu pun laki-laki yang berhasil menaklukkan kalian bertiga."

"Nada bicaramu seperti sedang membacakan penjelasan saja."

Mahiru juga lumayan populer. Hebatnya lagi, dalam kasusnya, popularitasnya di kalangan perempuan juga sangat tinggi.

"Dan karena itulah julukan Gadis Suci Tembok Besi itu tercipta."

"Sudah kubilang hentikan, itu memalukan."

Siapa coba! Orang yang memberikan julukan dengan selera aneh seperti itu.

"Sungguh, itu benar-benar membuatku malu."

"Iya, iya, aku mengerti."

"Haa."

Setidaknya sebulan sekali ada seseorang yang menyatakan cinta padaku. Setiap kali itu terjadi, aku selalu jadi pusat perhatian satu sekolah, sungguh memalukan.

Sebagian siswi memandangku dengan tatapan cemburu, sementara siswa laki-laki malah meledekku dengan cara yang aneh. Padahal sebenarnya, sekadar mengobrol dengan orang yang tidak terlalu akrab saja sudah membuatku gugup.

Bahkan kalau sudah parah, saking gugupnya aku sampai merasa mual.

Pada dasarnya aku adalah seorang penyendiri, jadi aku tidak pandai menghadapi perhatian dari orang lain.

"Haa."

Keluhan napas panjangku yang kedua untuk hari ini.

"Merasa repot karena terlalu populer, itu benar-benar masalah yang mewah, ya. Kalau di dalam novel misteri sungguhan, karakter sepertimu biasanya yang akan dibunuh pertama kali."

Sembarangan saja kalau bicara.

Tapi, aku memang benar-benar tidak suka diganggu oleh laki-laki.

Setelah itu, aku kembali ke kelas, membuka tutup tempat sampah di sudut ruangan, lalu menarik kantong plastiknya keluar. Hari ini giliranku untuk membuang sampah.

"B-Beratnya."

Tiba-tiba saja,

"Ah, Haruyama-san. Biar aku saja yang membuangnya."

"Eh... T-Terima kasih."

Seorang anak laki-laki dari kelasku muncul dari samping, merebut kantong plastik yang sudah penuh dengan sampah itu, lalu membawanya pergi begitu saja.

Di jam pelajaran kelima,

"Haruyama-san, aku lupa bawa buku teks, boleh numpang lihat, tidak?"

"Eh, b-boleh saja, sih."

Anak laki-laki di sebelahku menggeser mejanya mendekat. Dia memang sering lupa membawa buku teks, dan setiap kali itu terjadi, dia akan menyatukan meja kami supaya bisa ikut melihat bukuku.

Bel sekolah berbunyi, menandakan waktu pulang telah tiba.

"Hei, Haruyama-san, hari ini mau ikut karaoke bareng-bareng, tidak?"

"Eh, ah, tidak usah, hari ini aku sedang..."

Laki-laki paling gemar mencari perhatian di kelas menyapaku. Para gadis pengikut di belakangnya langsung menatapku dengan sinis.

Padahal aku tidak melakukan apa-apa.

"Fuu."

Aku menghindari para laki-laki yang terus mendekatiku dengan agresif seperti biasa, dan akhirnya berhasil melewati hari ini juga. Kalau biasanya, pilihanku setelah ini hanyalah mampir ke ruang klub untuk mengobrol santai atau pulang ke rumah untuk membaca buku.

Tapi sekarang...

Begitu melangkah keluar dari gerbang sekolah, langkah kakiku terasa ringan.

Rasanya seperti memiliki sayap. Langkahku berubah riang, dan dadaku berdebar gembira.

Tak lama kemudian, papan nama Moon Night Terrace pun mulai terlihat.

"S-Selamat datang."

Begitu aku melewati pintu, suara Yuu-nii terdengar. Entah kenapa nada suaranya terdengar tegang, apa dia sedang kelelahan?

Setiap kali datang ke sini, aku selalu teringat pada perasaanku saat masih anak-anak.

"Fufu, selamat siang. Yuu-san."

Aku mengukir senyuman penuh percaya diri.

Nah, dengan strategi seperti apa aku harus membuatnya sadar hari ini?

◇

Waktu sedikit ditarik mundur, dua puluh menit sebelum Miya mengunjungi Moon Night Terrace.

Aritsuki Yuu, laki-laki yang tidak bisa menyentuh serangga.

Tepatnya, sekarang aku adalah laki-laki yang tidak bisa menyentuh serangga. Saat masih kecil dulu, aku sering pergi ke gunung untuk menangkap kumbang badak atau kumbang tanduk, serta menangkap belalang di rerumputan...

Moon Night Terrace, di sudut sebelum masuk ke toilet. Di balik bayang-bayang pot tanaman hias, ada sesuatu yang memancarkan aura keberadaan yang sangat kuat.

"..."

Walau tempatnya agak gelap dan sulit dilihat, aku tidak mungkin salah.

Tubuhnya yang berkilau tidak karuan, antenanya yang hampir sepanjang tubuhnya, dan rasa jijik yang membuat instingku langsung menolak. Sensor anti-seranggaku bereaksi dengan sangat keras.

Tidak salah lagi, itu adalah makhluk itu.

Tidak kusangka aku akan bertemu dengannya di tempat seperti ini. Dulu aku jarang melihatnya di Tokyo, tapi daerah pedesaan memang berbeda.

Musuh umat manusia. Iblis hitam berkilau. G. Taro-san. Peluru hitam.

Ada begitu banyak julukan untuk makhluk itu, sebanding dengan jumlah ketakutan yang dirasakan umat manusia terhadapnya. 

Namun, Moon Night Terrace ini adalah tempat makan, jadi aku tidak bisa memanggil nama aslinya dengan sembarangan.

Jika sampai pelanggan tahu keberadaannya, ada risiko mereka akan melayangkan komplain dan pergi meninggalkan tempat ini.

Waktu sekarang menunjukkan pukul setengah lima sore.

Waktu sepi kedai sudah berakhir, dan sekarang adalah jam-jam di mana pelanggan mulai berdatangan. Saat ini, ada tiga kelompok pelanggan di dalam.

Sepasang kakek nenek.

Seorang pegawai kantoran muda.

Dan dua orang ibu-ibu tetangga.

Saat ini, hanya aku yang menyadari keberadaan makhluk itu. Ibu sedang istirahat, dan Ayah sedang memasak pesanan di dapur.

Rasanya ingin sekali meminta bantuan Ayah, tapi aku khawatir akan kehilangan jejaknya kalau aku meninggalkan tempat ini.

Artinya, aku sendiri yang harus membereskannya.

Apa aku sanggup melakukannya?

Bukannya mau pamer, tapi aku ini pernah pingsan saat berhadapan dengan kumbang badak dulu.

"Permisi, saya mau numpang ke toilet sebentar."

Salah satu ibu-ibu pelanggan berjalan menuju ke arah toilet.

"Eh? Ah, silakan."

Ucapku sambil menyingkir ke depan pot, menutupi makhluk itu dari pandangannya.

S-Sekarang, tepat di belakang kaki kananku, makhluk itu sedang...

Membayangkannya saja sudah membuatku berkeringat dingin. Kumohon. Tetaplah diam di sana.

Nah, apa yang harus kulakukan sekarang? Ada dua pilihan yang terpikirkan.

1. Mempertahankan posisi ini sampai semua pelanggan pergi.

2. Membunuhnya diam-diam tanpa ketahuan pelanggan.

Pilihan pertama rasanya sulit dilakukan, sebab makhluk itu juga makhluk hidup. Sekarang dia memang tampak tenang, tapi aku tidak tahu kapan dia akan bergerak.

Kalau memikirkan risiko kehilangannya... aku harus membereskannya selagi masih tahu lokasinya.

Tapi, kalaupun aku gagal membereskannya, makhluk itu pasti akan kabur. Tentunya dengan kecepatan yang sangat tidak masuk akal.

Kalau pelanggan sampai melihat makhluk itu lari kesana-kemari di dalam kedai, riwayat tempat ini akan tamat. Ibu-ibu tadi sudah keluar dari toilet, jadi akhirnya aku bisa beranjak dari pot tersebut.

Syukurlah, dia masih belum bergerak.

Aku mengedarkan pandangan ke sekelilingku.

Di sekitarku tidak ada benda yang bisa dijadikan senjata... ya.

Loker tempat menyimpan sapu dan alat pel ada di bagian belakang, sementara seingatku semprotan serangga ada di ruang tamu lantai dua. Tapi apa pun itu, sebisa mungkin aku tidak ingin meninggalkan tempat ini.

Kalau begitu, satu-satunya cara adalah dengan memukulnya dengan tangan kosong...

Tidak, tidak, tidak, itu sungguh tidak mungkin.

Ayah ini bagaimana, sih, bisa-bisanya makhluk itu muncul padahal ini kan tempat makan. Sebenarnya bagaimana sih standar kebersihan yang diterapkannya?

"Ah, benar juga."

Sebuah ide cemerlang melintas di benakku.

Aku tinggal menggunakan sesuatu seperti papan untuk membuat barikade di sekitar pot dan mengisolasinya. Setelah itu, aku bisa membunuhnya dengan tenang saat tidak ada pelanggan.

"...Fuh."

Tentu saja tidak ada papan yang pas seperti itu. Sialan Ayah, cepatlah kembali ke sini.

Kalau dia ada di sini, aku bisa menyampaikan situasinya lewat kontak mata.

Kalau sudah begini, apa aku harus menginjaknya saja?

Masih jauh lebih mending daripada memukulnya dengan tangan kosong, tapi sepatu kets yang sedang kupakai ini masih baru, loh.

Bagaimana ini?

Apa yang seharusnya kulakukan sekarang?

Kring, kring. Suara bel pintu berbunyi.

"Hah!"

Gadis cantik yang belum kuketahui namanya itu sedang berdiri di ambang pintu.

G-Gawat. Hanya ada satu kemungkinan reaksi jika seorang gadis melihat makhluk itu. Dia pasti akan berteriak histeris.

Terlebih lagi, dia adalah gadis cantik yang kelihatannya tidak pernah bersentuhan dengan serangga seumur hidupnya. Dia pasti akan terkejut dan menangis ketakutan.

"S-Selamat datang."

"Fufu, selamat siang. Yuu-san."

Gadis itu mengukir senyuman penuh percaya diri.

"Yuu-san, sedang apa kamu di tempat seperti itu?"

Ah, bahkan di saat darurat seperti ini pun, tingkat keimutannya seolah tidak ada batasnya. Keberadaannya bagaikan personifikasi dari konsep keimutan itu sendiri.

Kalau gadis seperti dia sampai melihat makhluk itu...

"B-Bukan apa-apa, kok."

Aku membalikkan badanku, berusaha menutupi pandangannya.

"Kamu sedang menyembunyikan sesuatu, ya?"

"B-Bukan apa-apa, sungguh. O-Oi, Ayah, ada pelanggan, nih."

"Mencurigakan."

Gadis cantik itu memiringkan kepalanya, lalu melayangkan pandangannya ke bawah.

"Ah."

Gawat, ketahuan. Kumohon, jangan sampai kamu berteriak...

"Oh, jadi begitu rupanya."

Pemandangan yang kulihat setelah itu sungguh sulit untuk dipercaya.

Gadis itu dengan cepat berjongkok, mengulurkan tangannya ke balik pot, lalu memungut makhluk tersebut.

"Ini."

Dia melakukannya dengan sangat tangkas tanpa mengubah raut wajahnya sedikit pun.

"Hah!?"

"Hm?"

Gadis cantik itu berdiri dan menyodorkan tangannya ke arahku.

Hentikan, jangan perlihatkan bagian perutnya padaku.

"Yuu-san. Ini cuma mainan figur, loh. Pembuatannya sangat detail, ya."

"Heh? Mainan figur?"

"Lihat saja sendiri."

Saat kulihat dengan teliti di tempat yang terang, itu memang mainan figur yang dibuat dengan sangat detail. Lagipula, itu bukan figur makhluk itu, melainkan figur kumbang badak.

"Eh? Maksudnya apa ini?"

"Itu seharusnya jadi kalimatku... Sebenarnya apa yang terjadi di sini?"

Gadis cantik itu memiringkan kepalanya dengan bingung.

◇

Yuu-nii dan Bibi sedang menunduk, mengapit mainan figur kumbang badak yang berada di atas telapak tanganku.

"Ibu sudah pernah mengajarimu bagaimana cara menanganinya kalau ada kecoak muncul di kedai, kan? Makanya Ibu diam-diam mengetesmu, meski Ibu terpaksa memakai figur kumbang badak ini karena kita tidak punya figur kecoak."

Ucap Bibi dengan nada tercengang.

"Ah, benar juga. Otakku sama sekali tidak bisa berpikir jernih karena saking jijiknya pada kecoak."

"Lagipula, kita kan menggunakan jasa pembasmi hama, jadi kita tidak pernah melihat kecoak asli di sini selama sepuluh tahun terakhir, loh. Benar begitu, Sayang?"

Paman mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

"Yuu-san, ternyata kamu takut serangga, ya."

Padahal dilihat dari mana pun, ini jelas-jelas kumbang badak. Ah, aku baru ingat, Yuu-nii dulu pernah pingsan karena ada kumbang badak yang menempel di wajahnya.

Dan itulah satu kenangan manis dari masa lalu yang baru saja kuingat kembali.



Interlude II | ToC | Interlude III

0

Post a Comment

close