Kenangan Bersama Si "Bocah
Nakal" Part 2
Bocah Nakal dan Kucing
1
"Hei,
kamu tahu tidak artinya lolicon itu apa?"
Miya bergumam perlahan sambil berbaring telentang di atas tempat tidur.
"Miya-chan, apa itu?"
"Itu kata yang muncul di anime yang kutonton kemarin, tapi waktu
kutanya ke Ibu, beliau juga tidak terlalu paham."
"Aah,
aku juga sepertinya pernah dengar kata itu. Kira-kira artinya apa, ya?"
"Coba
kita cari tahu," kata Asaka sambil mengeluarkan ponsel pintarnya.
Itu
adalah ponsel pintar khusus anak-anak yang dibelikan oleh orang tuanya yang
protektif.
"Bagaimana,
sudah keluar hasilnya?"
Mahiru
menempel di samping Asaka dan ikut mengintip layar.
"Lho,
kok tidak bisa dibuka, ya?"
"Pembatasan
informasi~"
Tidak
perlu dipertanyakan lagi, mencari kata seperti itu pasti akan memunculkan
situs-situs berbahaya. Fitur penyaring konten kini menghalangi jalan
bocah-bocah nakal tersebut.
Walau
mereka berhasil membuka halaman yang bisa dimuat, pemahaman bocah-bocah nakal
itu tidak berkembang karena banyaknya huruf kanji dan rumitnya istilah yang
berkaitan dengan kata tersebut.
"Emm,
aku tidak terlalu paham sih, tapi sepertinya artinya... orang dewasa yang
menyukai anak kecil...?"
"Kalau
begitu artinya Yuu-nii, dong."
Miya
mendadak bangkit duduk.
"Begitu
ya, ternyata Yuu-nii itu seorang lolicon."
Mahiru
mengangguk-angguk setuju.
"Ah,
sepertinya Yuu-nii sudah pulang."
Asaka langsung melompat ke arah jendela. Dari luar terdengar suara roda
sepeda.
Bocah-bocah nakal itu berpindah dari rumah Haruyama menuju 〈Moon Night Terrace〉.
"Ooh,
kalian."
"Lho,
Yuu-nii, bawa apa itu?" tanya Miya.
Aritsuki
sedang memeluk sebuah kardus.
"Apa
kamu habis beli kentang?"
"Bukan,
lah."
"Coba
lihat."
Mahiru
mengintip ke dalam kardus.
Di
sana—
"Ah,
kucing!"
◇
Anak
kucing berbulu tabby oranye tampak tertidur lelap dengan nyaman di dalam
kardus.
"Yuu-nii,
apa kamu membeli kucing?" tanya Asaka.
"Aku
memungutnya, tahu."
"Sepertinya
usianya baru sekitar dua bulan, ya. Bulunya halus dan bersih, apalagi dia ada
di dalam kardus, jadi sepertinya bukan kucing liar."
Ibu berkata sambil mengintip ke dalam kardus di dekat kakinya.
"Sedang lucu-lucunya begini kok malah dibuang, kasihan
sekali."
Setelah duduk tenang di area kursi teras, aku menjelaskan tentang
kardus di dekat kaki serta isinya.
Sekitar sepuluh menit yang lalu, dalam perjalanan pulang sekolah, aku
melewati sebuah tanah kosong dan menemukan kardus tak dikenal tergeletak di
sana.
Sambil berpikir mana ada kejadian klise seperti ini di dunia nyata, aku
memeriksa isinya, dan ternyata ada anak kucing yang sedang tidur santai di
dalamnya.
Karena tidak tega membiarkannya begitu saja, tanpa sadar aku langsung
membawanya pulang.
"Lucunya~"
Miya mengelus kepala anak kucing itu dengan ragu-ragu, matanya
berbinar-binar. Menerima rangsangan dari usapan itu, anak kucing tersebut
terbangun dan mengeong pelan.
"Uwaaah!"
Miya melompat ke belakang seperti seekor kucing.
"Kamu ini, penakut banget sih."
"Siapa yang penakut!"
"Miya-chan, kucing itu ya, kalau dielus di bagian bawah dagu atau
sekitar lehernya bakal merasa nyaman, lho."
Ibu mengelus anak kucing itu dengan gerakan tangan yang sudah terbiasa.
Kalau dipikir-pikir, di rumah orang tua Ibu dulu memang pernah
memelihara beberapa ekor kucing.
Mengikuti contoh dari Ibu, bocah-bocah nakal itu pun ikut mengelus sang
anak kucing.
"Begini ya?"
"Nah, benar seperti itu."
"Ehehe, lucu banget ya."
"Asaka-chan
pintar sekali, ya."
Mahiru
mengelus area dekat ekor dengan gerakan canggung.
"Mahiru-chan,
kucing itu kurang suka kalau dielus di bagian ekor, jadi coba elus bagian
sebelah sini saja."
"A-Apakah tidak bakal menggigit?"
"Tidak apa-apa kok, nih, coba begini."
Ibu memegang tangan Mahiru dan mengarahkannya ke dagu anak kucing.
"Apa
dia mau minum susu sapi, ya?" tanya Miya.
"Susu
sapi bisa bikin beberapa kucing sakit perut, jadi idealnya pakai susu khusus
kucing, ya."
Pemandangan yang sangat menghangatkan hati.
"Hei
hei, apa bakal dipelihara di sini?" tanya Mahiru.
Ibu
menunjukkan ekspresi wajah yang agak serba salah mendengar pertanyaan itu.
"Emm,
sebenarnya Ibu ingin memeliharanya~ tapi karena rumah kita ini kedai makan,
agak sulit kalau dari segi kebersihan."
Ternyata memang tidak boleh, ya.
"Tenang saja. Kalau tidak ada yang mau menampungnya, biar aku saja
yang ambil!" kata Miya dengan lantang.
2
"Tidak boleh. Ayahmu kan punya alergi kucing."
Miku-san, ibunya Miya, menolak dengan tegas.
"Eeh, boleh dong, boleh ya~"
Miya
mulai mengamuk dan merengek, tetapi rayuan itu tidak mempan pada Miku-san.
"Pokoknya
tidak boleh."
"Muuu."
Setelah
meninggalkan rumah keluarga Haruyama, kali ini kami menuju ke rumah keluarga
Ryuuseki.
Asuka
Ryuuseki, ibu Mahiru yang seperti biasa membawa 'aset' berukuran besar,
menyambut kami di pintu.
"Mama,
boleh dipelihara tidak?"
Mahiru
memeluk Asuka-san.
"Emm,
Mama sih ingin sekali memeliharanya, tapi..."
Asuka-san
melirik sedikit ke dalam rumah, menatap ke arah tiga ekor anjing Papillon yang
berada di dalam pagar area pintu masuk.
"Kita
sudah punya tiga ekor anjing... jadi sepertinya agak kurang memungkinkan. Maaf
ya."
Di
rumah keluarga Ryuuseki sepertinya juga sulit.
"Di
rumahku juga kalau Ibu atau Ayah bilang boleh sih... tapi hari ini mereka
sedang tidak pulang ke rumah," kata Asaka dengan nada merasa bersalah.
"Hmm,
harus bagaimana, ya."
Sebagai
bentuk tanggung jawab karena telah memungutnya, aku yang diperintahkan oleh Ibu
untuk mencari calon pemilik baru terpaksa berkeliling mengunjungi pertokoan
sekitar dan rumah kenalan bersama bocah-bocah nakal ini.
Namun,
kami tidak berhasil menemukan orang yang bersedia menampung anak kucing
tersebut, dan waktu terus berlalu begitu saja.
Mengembalikan
anak kucing ini ke tempat asal aku memungutnya juga tidak akan menyelesaikan
masalah dan malah membuatnya mati kelaparan.
Kalau
dibawa ke penampungan hewan, skenario terburuknya ada risiko anak kucing ini
bakal disuntik mati...
Pada
saat itulah—
"Lho,
Aritsuki-kun?"
"Ngh, ooh."
"Kebetulan banget, ya."
"Y-Ya,
benar juga."
Shimomura
Hikari, teman sekelasku, menyapa saat kami berpapasan secara tidak sengaja.
Rambut
hitam sepanjang bahu dan kulit cokelat sehat yang terpapar sinar matahari.
Tubuhnya yang langsing dan atletis sama sekali tidak memiliki lemak
berlebih.
Sebagai pemain inti klub tenis putri sekaligus sosok idola di kelas,
Hikari mengedarkan pandangannya ke arah bocah-bocah nakal di sekitarku.
"Wah,
Aritsuki-kun punya tiga adik perempuan, ya?"
"Bukan, kok. Anak-anak ini bocah nakal tetangga sebelah,
dan—"
"Apa
dia temannya Yuu-nii?" tanya Miya.
"Wah,
ketiganya lucu-lucu banget!"
Hikari
berjongkok, lalu menyapa, "Salam kenal, aku Shimomura Hikari."
"Hei,
kalian juga beri salam, dong."
"""Salam
kenal."""
"Ngomong-ngomong,
Shimomura, apa rumahmu di sekitar sini?"
Seingatku
wilayah rumah kami memang berada di distrik yang sama.
"Bukan,
aku baru mau pergi belanja... Eh, dari tadi aku penasaran, itu apa?"
Sambil menengadah menatap kardus yang kupeluk, Hikari memiringkan
kepalanya.
"Kucing,
tahu," kata Miya. Seketika binar mata Hikari berubah. Aku pun membuka
lipatan kardus untuk memperlihatkannya.
"Ah,
tabby oranye! Ada apa dengan kucing ini? Kamu tidak berniat membuangnya,
kan?"
"Malah
kebalikannya. Tadi aku memungut kucing ini, tapi karena di rumahku tidak bisa
memeliharanya, aku sedang mencari tempat yang mau menampungnya—"
"Ooh,
kalau begitu, biar kupelihara di rumahku saja," kata Hikari dengan santai.
"Eh?
Boleh memangnya?"
"Iya,
semua orang di rumahku suka kucing, jadi tambah satu ekor lagi sama sekali
tidak masalah."
Hikari
berdiri, mengeluarkan ponsel pintarnya, lalu menelepon.
"Ah,
Ibu. Anu, temanku ada yang memungut anak kucing—"
Dengan begitu, pembicaraan pun berlangsung dengan sangat lancar.
"Katanya
boleh."
"Beneran
boleh, nih?"
"Horeee!"
"Terima
kasih!"
"Terima
kasih banyak."
Mungkin
karena merasa senang karena kerja keras berjalan kemana-mana mencari calon
pemilik akhirnya membuahkan hasil, bocah-bocah nakal itu mengucapkan terima
kasih dengan semangat tinggi.
"Ayo
kuantar, ikuti aku ya."
"Berhasil
ya, Yuu-nii!"
Miya
menepuk-nepuk pinggangku dengan keras.
"Yuu-nii,
ya..."
Hikari
menyeringai sambil menaikkan sudut bibirnya.
"Apaan,
sih?"
"Kalian
kelihatan akrab banget. Aritsuki-kun ternyata suka momong anak-anak, ya."
"Bukan
suka, sih, mereka saja yang seenaknya menempel padaku—"
"Soalnya
Yuu-nii itu seorang lolicon."
"...Eh?"
Suasana
seketika membeku.
"Ha?
Hei, tunggu dulu, Mahiru. Kamu dapat kata seperti itu dari mana..."
"...A-Aritsuki-kun?"
Suara
Hikari menjadi kaku, dan binar kehidupan menghilang dari matanya. Dia mengambil
satu langkah mundur menjauh dariku.
"B-Bukan
begitu!"
"Padahal
aku sempat berpikir aneh banget kamu tidak punya pacar, ternyata alasannya
karena itu, ya."
"Bukan
karena itu! Hei, kalian paham tidak sih arti kata lolicon saat
mengucapkannya?"
"Maksudnya
orang yang menyukai anak-anak, kan?" kata Miya.
"Artinya
persis seperti Yuu-nii, kan," kata Mahiru.
"Jangan-jangan
Yuu-nii membenci kami, ya?" kata Asaka.
Aah,
astaga.
"...Aritsuki-kun?"
Bocah-bocah
ini, apa mereka mau membunuhku secara sosial?
Bagaimana
cara menjelaskan hal ini padanya?
Tanpa
memedulikan situasi genting di sekitarnya, anak kucing di dalam kardus mengeong
pelan.
Setelah
itu, dengan berbagai cara akhirnya salah paham tersebut berhasil diluruskan,
tetapi aku sama sekali tidak menyangka kalau hanya karena memungut kucing saja
aku harus mengalami hal semengerikan ini.
Bocah
Nakal Ingin Memanggang
1
Pertama-tama,
tuangkan minyak ke atas penggorengan yang sudah benar-benar panas.
Kemudian
tumis nikukasu—lemak punggung babi—yang sudah dihancurkan.
Aroma
gurih dari lemaknya sungguh membangkitkan selera makan.
Setelah
nikukasu ditumis sampai garing, kali ini masukkan kol yang sudah
dipotong kasar, lalu tumis juga.
Sembari
ditumis sekitar satu menit, ketika tingkat kematangannya sudah pas dan kol
menjadi agak layu serta lembut, saatnya pemeran utama tampil.
Kumpulkan
kol ke bagian tengah untuk membuat pembatas, lalu tebarkan mi di atasnya.
Mi tersebut berwarna kuning dan terurai dengan baik. Setelah itu,
segera tambahkan air agar mi menyerap kelembapan.
Jumlah air ini adalah kuncinya. Jika menambahkan terlalu banyak, tekstur
yang sudah susah payah dibentuk akan hancur berantakan. Karena aku
menyukai mi yang agak keras, aku hanya menyiramnya sedikit saja.
Saat
memanggangnya di kedai, biasanya mi akan ditutup dengan kol lalu dikukus.
Namun,
aku tidak suka melakukan hal merepotkan seperti itu, dan aku merasa cara
memasak gayaku sendirilah yang paling enak.
Ketika
kelembapan sudah merata ke seluruh mi, tuangkan saus agak banyak lalu aduk
dengan cepat. Aroma lezat saus yang gosong pun terangkat dengan
suara mendesis.
Sisanya tinggal ditata di atas piring, lalu tambahkan penyedap rasa
seperti kaldu bubuk, benishoga, atau shichimi sesuai selera, dan yakisoba
pun selesai dibuat.
"Hmm, kelihatannya enak sekali."
Hari ini adalah hari libur kedai, jadi Ayah dan Ibu pergi berkencan
sambil mengemudi sejak pagi. Oleh karena itu, aku harus membuat makan siangku
sendiri.
Sebagai orang yang jarang memasak, yakisoba adalah pengecualian
bagiku.
Bagi penduduk kota ini, cara memanggang yakisoba adalah mata
pelajaran wajib.
Nah,
mari kita makan.
Di
dalam kedai yang sepi tanpa pengunjung.
Aku
mengambil posisi di kursi konter, lalu menyuapkan yakisoba ke dalam
mulut—pada saat itu, tepat pukul 12.05,
"Yuu-nii."
"Yuu-nii."
"Yuu-nii."
"Lho?
Kedainya tutup."
"Mahiru,
sepertinya hari ini libur, ya."
"Tapi
lihat deh, Yuu-nii ada di dalam kedai."
Asaka
mendekatkan wajahnya ke jendela sambil memamerkan senyuman.
Bocah-bocah
bising itu datang juga, ya.
Padahal
aku baru saja mau makan.
Karena
bakal merepotkan kalau mereka membuat keributan di depan kedai, mau tidak mau
aku merespons mereka.
"Ada
apa, kalian ini. Aku sedang sibuk, tahu."
"Wah,
ada aroma enak," kata Miya.
"Aroma
ini... yakisoba," sahut Mahiru.
Aku
menyuruh bocah-bocah nakal itu masuk ke dalam kedai.
"Kelihatannya
lezat, apa ini Yuu-nii yang membuatnya?"
"Ngh,
iya. Mau makan?"
"Mau."
"Mau."
"Aku
mau makan."
Tiga
bocah nakal itu mengatup-ngatupkan mulut mereka seperti ikan koi yang meminta
pakan.
Aku
pun menyuapkan masing-masing satu suapan yakisoba ke dalam mulut mereka.
"Enak
banget~"
"Enak."
"Rasanya
lezat."
"Padahal
cuma Yuu-nii, tapi kok rasanya enak, ya."
"Kalimat
'padahal cuma Yuu-nii' itu berlebihan, tahu. Nih."
"Enak
banget~"
"Enak."
"Rasanya
lezat."
"Hahaha."
Saat
aku sedang keasyikan memberi mereka makan seperti itu,
"Ah,
sudah habis."
Makan
siangku telah berpindah sepenuhnya ke dalam perut bocah-bocah nakal itu.
"Kalian
menghabiskan semuanya, porsiku jadi tidak ada sama sekali, kan!"
"Masih
ada sisa kol, tuh."
"Makan
sayur juga dong dengan benar."
"Terima
kasih atas makanannya, rasanya lezat."
Mau
bagaimana lagi. Aku akan memanggang satu porsi mi lagi.
Saat
aku hendak melangkah ke dapur, Miya menarik pakaianku.
"Yuu-nii,
aku juga ingin memanggangnya."
2
"Sudah cuci tangan belum?"
"Sudah."
"Sudah."
"Sudah cuci tangan."
"Bagus. Kalau begitu, mulai sekarang aku bakal mengajarkan
rahasia yakisoba kepada kalian."
"""Ooh!"""
Karena
bocah-bocah nakal itu mengaku belum pernah memanggang yakisoba padahal
tinggal di kota yakisoba, mau tidak mau aku memutuskan untuk menanamkan
cara memanggang yakisoba gaya Aritsuki Yuu kepada mereka.
Meskipun
begitu, aku sama sekali tidak membiarkan mereka menyentuh pisau, dan saat
menggunakan api pun pada dasarnya aku yang menangani.
Pertama-tama,
ratakan minyak di atas penggorengan. Apinya jangan dinyalakan dulu. Harusnya
penggorengan dipanaskan terlebih dahulu, tetapi karena ada bocah-bocah nakal
ini, aku mengutamakan keselamatan.
"Nih,
kalau begitu Miya, tolong ratakan minyaknya."
Aku mengangkat tubuh Miya yang sedang memegang sodet.
"Begini?"
"Nah,
benar. Ratakan ke seluruh permukaan, ya."
Meskipun
gerakannya terlihat canggung, minyak berhasil diratakan ke seluruh permukaan
penggorengan.
"Kalau
begitu berikutnya Mahiru, masukkan nikukasu-nya, lalu hancurkan memakai
sodet."
Kali ini aku menggendong Mahiru.
"Hiat, hiat."
"Nah, benar begitu. Ya sudah, kalian bertiga menjauh dulu, siapkan
piringnya."
Di sini aku baru menyalakan api, lalu menumis nikukasu yang
sudah dihancurkan.
"Bagus,
kalau begitu Asaka, tolong masukkan kolnya."
Aku
mematikan api lalu mengangkat Asaka. Asaka adalah yang paling ringan di antara
mereka.
"Baik,
sudah kumasukkan."
"Pintar,
pintar."
Kol
memenuhi seluruh permukaan penggorengan.
"Wah,
baunya sudah mulai tercium enak."
Miya
mengendus-endus hidungnya.
"Yuu-nii,
aku juga mau memanggangnya."
"Apa-apaan?
Bahaya, jadi tidak boleh."
"Aku
mau memanggangnya!"
"Dasar,
mau bagaimana lagi."
Aku
mematikan api, lalu kembali menggendong Mahiru.
"Nih,
gerakkan sodetnya dengan cepat."
"Y-Ya."
"Nih,
kalau gerakannya lambat nanti malah gosong."
"Aku
sudah tahu, kok."
Secara
harfiah dia memang tidak benar-benar memanggangnya, tetapi pura-pura memasak
seperti ini saja sepertinya sudah sangat memuaskan baginya.
"Berikutnya
giliranku."
"Aku
juga mau memanggangnya."
Begitu
aku menurunkan Mahiru, Miya dan Asaka langsung menghampiriku.
"A-Apa belum cukup juga?"
Suara sodet yang berdenting berirama terdengar menyenangkan.
"Masih mau lagi."
Jujur saja, menggendong mereka dalam waktu lama itu melelahkan dan
membuat pinggangku pegal.
"Yuu-nii,
berikutnya giliran saya."
"Aku
juga mau sekali lagi."
"...Yang
benar saja."
Dengan
begini, aku membiarkan mereka menumis kol secara bergantian, hingga membutuhkan
waktu sekitar sepuluh menit hanya untuk melangkah ke tahap berikutnya.
Padahal
kecepatan adalah nyawa dari yakisoba.
"Bagus,
kalau begitu masukkan mi-nya. Miya, mi-nya."
"Ini."
Setelah
menguraikannya dengan lembut, letakkan mi di atas kol.
"Kalau
dipikir-pikir, yakisoba yang kumakan di rumah Kakek di Kumamoto waktu
liburan musim panas lalu rasanya tidak terlalu enak, ya."
Mahiru
berkata seolah-olah baru teringat sesuatu.
"Teksturnya
agak lembek dan tidak ada kenyal-kenyalnya."
"Mi
instan yakisoba juga lembut, kan."
Miya
menyetujui hal itu.
Beberapa
tahun lalu, yakisoba dari kota ini berhasil menjuarai kompetisi tingkat
nasional dan digunakan untuk mempromosikan kota. Ciri khas utamanya adalah
tekstur kenyal unik yang sangat menggigit.
Sebagai
orang yang terus memakan yakisoba ini sejak lahir, aku tidak merasa
bahwa yakisoba yang kami makan adalah sesuatu yang spesial. Namun, aku
harus mengakui fakta bahwa yakisoba inilah yang paling enak di seluruh
dunia.
"Bagus,
sekarang masukkan airnya. Miya, tuangkan air ke dalam gelas."
"Nih."
Miya
mengisi gelas dengan air keran hingga terisi separuh.
"Miya,
ini terlalu banyak. Kurangi sedikit lagi."
"Segini?"
"Kurangi
lagi."
"Eeh,
kalau segini kan cuma tersisa sedikit di bagian bawah."
"Tidak
apa-apa, kolnya juga bakal mengeluarkan air, lagipula nanti bakal dituangkan
saus juga."
Biarkan
mi menyerap air, lalu tumis kembali.
Kemudian
saus sebagai sentuhan akhir. Aroma gurih yang lezat pun langsung
menyeruak dengan suara mendesis.
"Aromanya enak banget~"
"Kelihatannya lezat."
"Kelihatannya
sangat lezat."
Aku
mematikan api, lalu menatanya di atas piring.
"Bagus,
sudah selesai."
Sambil
melirik bocah-bocah nakal yang membawa piring ke arah area dalam kedai, aku
menyelesaikan pembersihan ringan.
Ya
ampun, dengan begini akhirnya aku bisa menyantap makan siangku.
Bukankah
ini sudah hampir pukul satu siang?
Untuk
memanggang porsi yakisoba saja aku harus mengalami kesulitan seperti
ini...
"...Ah!"
"Enak
banget~"
"Aku
memang jenius dalam memasak, ya."
"Kalau
bikin sendiri rasanya jadi enak, ya."
"K-Kalian,
menghabiskan semuanya?"
Sanggup
dihancurkan oleh bocah-bocah nakal itu, hanya sisa-sisa kol dan nikukasu
yang tertinggal dengan mengenaskan di atas piring.
Bocah-bocah
nakal yang mulutnya belepotan saus itu mengelus perut mereka dengan puas, lalu
"Bagus, kalau begitu ayo main!"
"Miya,
hari ini kita main gim balapan, ya."
"Yuu-nii
juga cepat kemari."
Mereka
berlari kencang menuju lantai dua.
"Anak-anak
itu, apa wajar menghabiskan semuanya?"
Sambil
menyantap sisa-sisa kol dan nikukasu yang mereka tinggalkan, aku terus
memikirkan bagaimana cara membalas dendam kepada mereka.
Pada
akhirnya, aku memasak satu porsi lagi.
Bocah Nakal dan Hari Olahraga
1
Akhir bulan September.
Akhirnya musim gugur mulai menunjukkan kedalamannya.
Suara jangkrik telah berhenti, dan warna hijau yang menghiasi kota kini
mulai memudar.
Pada periode ketika musim panas berlalu ini, sebuah acara besar bagi
anak-anak pun digelar.
Di bawah langit musim uur yang kering, anak-anak yang mengenakan topi
merah-putih bergerak ke sana kemari dengan riuh di lapangan sekolah.
Di area luar, para orang tua membentuk dinding manusia, saling
berdesakan demi menyaksikan aksi gagah buah hati mereka.
Peralatan bermain yang dihiasi bendera segitiga serta tenda-tenda
putih.
Pengumuman dari ruang siaran yang suaranya sedikit pecah.
Suara drum yang sesekali bertabuh diiringi melodi ringan lagu
"Heaven and Hell".
Ini adalah hari olahraga.
Pemandangan yang sungguh merindukan.
"Hei Yuu, tolong belikan kopi sebentar."
"Tacchan, aku boleh beli juga?"
"Ah,
cepat ya. Penampilan Miya tinggal tiga menit lagi."
"Oke."
Tacchan,
alias Taichi Haruyama, menggulung lembaran program acara sambil mengintip ke
dalam kamera video.
Pertunjukan
berikutnya adalah tarian dari siswa kelas satu.
Tacchan
adalah ayah kandung Miya, sekaligus teman sehobi mobil dengan ayahku. Berkat
hubungan itu, waktu kecil aku sering diajak bermain olehnya.
Rambut
pirang, kulit agak gelap, serta tatapan mata tajam seperti burung pemangsa.
Penampilannya tampak seperti bapak-bapak agak berandalan, tetapi sejatinya dia
adalah pria paruh baya yang baik hati.
Dengan memegang dua kaleng kopi di tangan, aku kembali ke tempat
Tacchan.
"Nih, Tacchan."
"Ooh, terima kasih—eh, kok keduanya cafe au lait? Aku
mau minum yang kopi hitam."
"Kan
sama saja, mau yang mana juga."
"Dua-duanya kan cafe au lait!"
"Tacchan, acaranya sudah mau mulai tuh."
"Dasar."
Siswa kelas satu yang memegang pom-pom merah dari plastik mulai memasuki
lapangan, lalu berbaris rapi di tengah lapangan olahraga.
"Miya
ada di mana... Miyaaaaaa!"
Tacchan menyiapkan kamera videonya lalu menerobos ke dalam dinding
manusia.
Aku naik ke bagian atas tangga, menatap ke arah lapangan olahraga. Meski
kecil, dari sini seluruh area bisa terlihat dengan jelas.
Ah,
itu Miya. Di sebelah sana ada Mahiru. Dan yang itu Asaka.
Gerakan
mereka bertiga memang masih kikuk, tetapi terlihat lucu dan menggemaskan.
Mereka bertiga berada di tim merah.
Tarian
pun berakhir, dan anak-anak kelas satu mulai membubarkan diri.
Berikutnya
kalau tidak salah adalah lomba menggelindingkan bola raksasa untuk siswa kelas
enam. Yang ini rasanya tidak perlu kutonton.
Aku
berjalan menyusuri area sekolah.
Ini
adalah almamaterku setelah enam tahun berlalu.
Di
berbagai sudut, tikar piknik dan meja kamping lipat terlihat tersebar.
Ngomong-ngomong,
sepertinya sekolah dasar zaman sekarang tidak mengizinkan orang luar masuk saat
hari olahraga kecuali jika berhubungan dengan wali murid.
Aku
bisa masuk karena datang bersama keluarga Haruyama. Aku meminum cafe au lait
di atas jembatan yang melintasi kolam taman dalam.
Kalau
diingat-ingat, waktu masih kelas bawah aku sering sekali jatuh ke kolam ini.
Sambil
melangkah menuruti kata hati, aku melanjutkan penelusuran di dalam area
sekolah.
Ada
tempat yang masih sama seperti dulu, tetapi ada juga tempat yang berubah karena
peralatan bermainnya sudah dibongkar.
Tidak
mengherankan, sebab sudah hampir enam tahun berlalu sejak aku lulus.
Sambil
membayangkan pemandangan kenangan di dalam kepala, aku meminum habis cafe au
lait dalam satu tegukan.
Tak
lama kemudian, lonceng tengah hari pun bergema.
"Yuu-nii,
apa kamu sudah melihat aksi hebatku?"
Miya
yang mengenakan pakaian olahraga berkata sambil melahap onigiri hingga
pipinya mengembung.
"Ya,
aku lihat kok. Aku melihat jelas kamu kehilangan keseimbangan dan jatuh
terlentang saat tarik tambang."
"Yang
itu tidak usah dilihat! Dasar bodoh!"
Sambil
mengabaikan Miya yang memukuliku tanpa henti, aku memeriksa program acara sore.
Perlombaan yang diikuti anak kelas satu ternyata hanya lari cepat.
"Aku
mau merokok sebentar, ya."
Ketika Tacchan berdiri dengan enggan, Miku-san langsung menyahut,
"Rokok
di area merokok, ya. Tahu tempatnya, kan?"
"Iya,
tahu kok."
Saat
sedang menyantap bekal buatan Miku-san, suara yang tak asing terdengar dari
belakang.
"Haloo,
Miya."
"Ah,
Yuu-nii juga ada."
Mahiru
dan Asaka datang secara bersamaan.
"Ooh,
kalian."
"Apa
kamu datang untuk menonton kami?"
Asaka
memelukku dari belakang.
"Bagaimana
tadi?"
"Tarianmu
keren banget, lho."
"Ehehe,
aku sudah latihan banyak."
"Ayo main di sebelah sana!"
Tangan
dipukul halus oleh Mahiru, aku pun berdiri.
"Miya,
sudah selesainya?"
Miku-san
bertanya.
"Iya,
terima kasih atas makanannya~"
Kami
memutuskan untuk bermain di halaman belakang.
Ngomong-ngomong,
anak-anak ini hebat juga ya.
Padahal
sudah bergerak ke sana kemari sepanjang pagi, tapi fisiknya masih kuat saja.
Harusnya mereka istirahat sebentar di siang hari.
Sambil
mengawasi mereka bertiga yang sedang bermain di peralatan bermain, aku
bertanya.
"Kalian tinggal lomba lari cepat saja, kan? Anak kelas
satu tidak ikut lari estafet pilihan, kan?"
"Fufufu,
Yuu-nii, lihat saja nanti. Aku ini yang paling cepat di kelas, lho."
"Ooh."
"Aku
bahkan lebih cepat dari anak laki-laki."
Dengan
penuh rasa percaya diri, Mahiru membusungkan dadanya yang tipis.
Memang
benar, Mahiru punya refleks dan kemampuan olahraga yang bagus.
Pada
perlombaan pagi hari pun Mahiru mencetak hasil yang baik.
"Boleh
juga, mari kita lihat nanti. Ngomong-ngomong, aku dulu atlet lari estafet
pilihan waktu kelas enam, lho."
"Sombong
banget padahal cuma Yuu-nii."
"Apa
kamu bilang?"
"Mahiru-chan,
semangat ya."
"Sip!"
"Asaka
juga semangat, ya?"
"Aku... paling lambat di kelas..."
"Walaupun lambat aku bakal tetap mendukungmu, jadi
berjuanglah!"
"Baik!"
"Yuu-nii,
kalau aku?"
"Miya
juga semangat, ya."
"Iya!"
Semangat
bocah-bocah nakal itu tampaknya makin membara, mereka bergerak dan melompat di
peralatan bermain dengan jauh lebih gencar.
...Apa anak-anak ini tidak perlu menghemat tenaga?
2
Adu sorak antara tim merah dan tim putih telah selesai, dan bagian
acara sore pun akhirnya dimulai.
'Acara berikutnya adalah lari cepat untuk siswa kelas satu.'
Pengumuman bergema dari pengeras suara.
Setelah mengamankan posisi terbaik di dekat garis finis, aku menunggu
kemunculan mereka bertiga.
Di
kelompok pertama, terlihat sosok Miya.
Rambut
cokelatnya yang sebahu dikuncir kuda, dan semangatnya tampak membara.
Tak
lama kemudian, tembakan pistol aba-aba meletupkan suara ledakan kering, dan
lomba pun dimulai.
Anak-anak kelas satu menerbangkan debu dan berlari secara bersamaan.
Miya,
semangat!
Ah,
aduh. Tidak bisa, ya.
Miya
memang tomboi, tetapi kemampuan olahraganya tidak terlalu bagus. Sorakan di
dalam hatiku terasa sia-sia saat melihatnya disalip satu per satu dengan cepat.
Miya
finis di urutan kelima dari enam orang.
Miya
yang telah mencapai garis finis menyadari keberadaanku, lalu melambaikan
tangannya dengan malu-malu.
Saat
kubalas dengan acungan ibu jari, Miya tersenyum manis.
Giliran
Asaka ada di kelompok ketiga.
Sambil
mengibaskan rambut hitam panjangnya, Asaka berlari sekuat tenaga.
Langkah
kakinya lebar dan jujur saja gayanya agak aneh serta lambat, tetapi karena
anak-anak lain juga tidak terlalu cepat, dia berhasil berjuang keras meraih
posisi keempat.
Setelah finis, Asaka juga menyadari
keberadaanku dan berlari menghampiriku sebelum berbaris di barisan sesuai
urutan.
"Yuu-nii,
aku berhasil."
"Kamu
sudah berjuang keras."
"Ehehe."
Saat
aku mengelus kepalanya, Asaka kembali ke barisannya dengan wajah puas.
Kelompok
kelima, akhirnya giliran Mahiru tiba.
Sejak
awal start, Mahiru langsung melejit ke posisi terdepan dan makin
meninggalkan pelari di belakangnya.
Dia benar-benar cepat.
Memang pantas jadi yang paling atletis di antara para bocah nakal ini.
Bagaimana
ya menyatakannya, dia terlihat tahu betul cara berlari. Ayunan tangannya mantap
dan posturnya tidak kacau.
Dibandingkan
anak-anak lain yang berlari hanya mengandalkan tenaga, perbedaan bakatnya
terlihat sangat jelas.
Ini
sih pasti menang mudah di posisi pertama. Dia
memang pantas bicara besar.
Namun, hanya beberapa meter sebelum garis finis, hal itu terjadi.
"Ah!"
Mungkin karena terbawa momentum hingga terlalu membongkok ke depan,
atau mungkin karena tersandung sesuatu, Mahiru terjatuh.
Keriuhan terdengar di antara penonton.
Dalam lomba lari cepat, kehilangan waktu walau satu detik saja akan
mengubah hasil secara drastis.
Dalam beberapa detik saat Mahiru berusaha bangkit, anak-anak di
belakangnya terus menyalipnya satu per satu.
Mahiru
finis di urutan keenam dari seisinya.
◇
"Sudahlah, ceria sedikit dong."
"..."
"Itu kan cuma musibah. Mau bagaimana lagi."
Hari
setelah hari olahraga.
Sejak
pagi Mahiru datang bermain ke kamarku... padahal dia hanya duduk di atas tempat
tidur dengan wajah muram sepanjang waktu.
"Bukan
begitu, itu tadi bukan kemampuanku yang sebenarnya."
Lututnya yang tergores ditutupi oleh plester obat.
"Aku
tahu kok kalau kamu yang paling cepat. Ya,
kan? Kamu cuma sedang tidak beruntung saja."
"Aku ini cepat, tahu!"
Matanya berkaca-kaca, dan suaranya mulai sengau.
"Aku ini yang paling cepat, tahu!"
Apa bocah nakal ini datang sejak pagi-pagi blindir hanya untuk
mengatakan hal seperti itu?
Karena
tadinya sangat percaya diri, rasa syok yang dirasakannya pasti sangat besar.
Terlebih
lagi, karena penyebabnya adalah kecelakaan tak terduga dan bukan karena
kurangnya kemampuan, rasanya pasti jauh lebih menyebalkan.
Duh,
merepotkan sekali anak ini.
Aku
menarik Mahiru ke dalam pelukanku.
"Aku
melihat jelas kok perjuangan kerasmu."
"Tapi, aku jadi yang paling buncit..."
Sambil memegang pakaianku, Mahiru menempelkan wajahnya yang basah oleh
air mata.
"Aku melihat betapa cepatnya kamu sampai meninggalkan semua orang
di awal, dan aku juga melihatmu berusaha keras untuk bangkit saat
terjatuh."
"..."
"Kalau kamu sekecewa itu, buktikan dengan meraih posisi pertama di
hari olahraga berikutnya. Atau bagaimana? Kamu tidak percaya diri?"
Saat memprovokasinya seperti itu, Mahiru menunjukkan ekspresi kesal.
"Ugh,
aku pasti bisa! Tahun depan aku pasti dapat posisi pertama!"
"Hmm,
masa iya bisa?"
"Pasti
bisa!"
Keceriannya
yang biasa telah kembali.
Sambil
menyapu air matanya, Mahiru pun berdiri.
"Bagus,
Yuu-nii, tunggu saja tahun depan!"




Post a Comment