Chapter 3
Keberanian untuk Satu Langkah
1
"Kamu
bakal dukung aku, kan, Mahiru-chan?"
Begitu
kata Asaka sambil merona malu-malu. Dia meremas jemarinya dengan gelisah, lalu
mengarahkan pandangannya ke bawah.
Dukung?
Dukung apa?
Sesuatu berputar-putar dan bergolak di lubuk hatiku.
Supaya hubungan Asaka dan Yuu-nii berjalan lancar, aku harus memberikan
dukungan… begitu?
Perasaan berputar itu lambat laun berubah menjadi cairan kental yang
menyebar ke seluruh tubuhku.
Sensasi tidak menyenangkan yang mirip dengan rasa lesu membuat tubuhku
terasa begitu berat.
Aku mencoba membayangkannya.
Asaka dan Yuu-nii, keduanya menjadi sepasang kekasih, berpacaran, lalu
menikah.
Dalam prosesnya, aku harus mendengarkan curhatan cinta Asaka, memberi
saran, dan terus melihat dari samping bagaimana mereka berdua akhirnya
bersatu...
Mana
mungkin aku sanggup menghadapi hal seperti itu.
Katakan.
Ucapkan
sekarang.
Bilang
kalau kamu juga menyukai Yuu-nii.
Tapi,
kalau aku melakukan itu, perasaan terpendamku ini bisa saja bocor ke Yuu-nii
lewat Asaka.
Berbeda
dengan Asaka yang menyatakan cintanya secara terang-terangan, aku bahkan belum
pernah menyampaikan perasaan ini sama sekali.
Selama
ini, aku hanya terlena dalam zona nyaman situasi saat ini.
Aku
tadinya berpikir Yuu-nii akhirnya pulang dari Tokyo, kami bisa main game gak
jelas bareng Miyo, musim liburan tiba dan Asaka berkumpul bersama, serta
keempat orang ini bisa terus bersenang-senang selamanya.
Namun,
mengira semuanya akan tetap sama selamanya adalah hal yang mustahil.
Sama
seperti saat Yuu-nii pergi ke Tokyo sepuluh tahun lalu, tidak ada hal di dunia
ini yang abadi.
Katakan,
ucapkan sekarang.
"Haha,
ah... Ternyata begitu, ya."
"Mahiru-chan langsung paham, ya. Wajar sih,
kan kita sudah bersama-sama sejak kecil."
Katakan.
"Mana
mungkin, Yuu-nii itu..."
"Kanagawa
sama Shizuoka memang agak jauh, tapi di hari libur aku berniat buat pulang ke
sini sebentar semampu yang kubisa. Makanya, aku mau minta kerja samanya juga
dari Mahiru-chan."
Asaka
tersenyum manis usai berkata demikian.
Keringat
dingin keluar dan sekujur tubuhku terasa dingin.
Meskipun
begitu, sensasi panas seperti terbakar justru menjalar ke seluruh tubuhku.
Aku
bahkan tidak sanggup menatap wajah Asaka secara langsung.
Namun,
kalau aku memperlihatkan reaksi ini, dia mungkin akan mengira aku sedang
gelisah.
...Ucapkan.
Tunjukkan
sedikit keberanianmu.
Apa
kamu rela membiarkan Yuu-nii direbut oleh Asaka begitu saja?
Kalau
kamu menyesal setelah semuanya terlambat seperti perpisahan mendadak sepuluh
tahun lalu, sudah tidak akan ada gunanya lagi.
"..."
Aku
memasang raut setenang mungkin, lalu memaksakan suaranya keluar.
"Semangat ya... Ahaha."
◇
"Uwaaaaaah!"
"Ahahaha, Onee, lucu banget!"
Begitu melangkah kembali ke dalam rumah, Miyo sudah diterkam oleh sekor
anjing dan seluruh tubuhnya dijilat-jilati.
"Kamu
lagi ngapain sih, Miyo?"
"Mahiru,
tolongin aku—!"
"Iya,
iya. Sana mandi dulu di kamar mandi."
Aku
membangunkan Miyo.
"Uuuu,
lengket banget rasanyaaa!"
"Tadi
kalian ngbrolin apa sih?"
Tanya
Yuu-nii dengan wajah memerah. Sepertinya Mama memberinya minuman keras cukup
banyak.
"Ah,
cuma ngobrol biasa kok."
Saat
aku melirik kearah Asaka, dia membalasnya dengan kedipan mata tanpa suara.
"Bisa
dibilang konsultasi soal jalur masa depan, sih... Ahaha."
"Begitu ya, entah mau lanjut kuliah atau kerja, satu hal yang bisa
kukatakan adalah bersabar itu tidak sama dengan berusaha keras."
"Apaan tuh, ngomong kayak filsuf aja."
"Maksudku, selalu jadikan opsi 'untuk kabur' sebagai hal yang ada
di dalam kepalamu. Kalau ada hal yang tidak disukai atau menyakitkan, tentu
saja menghadapinya itu penting, tapi ada kalanya usaha keras tidak bisa
menyelesaikan segalanya. Menerima perlakuan yang tidak masuk akal itu bukan
namanya berusaha. Terkadang, kabur itu adalah hal yang penting. Kalau tidak,
masalah itu akan terus berlarut-larut."
Nada bicaranya tumben sekali terdengar serius.
"Mana ada omongan orang mabuk yang bisa dipercaya."
"Apa kamu bilang—!"
"Ahahaha."
◇
Keesokan harinya.
Hari ini aku kembali latihan klub voli sejak pagi. Selepas mandi dan
menyantap sarapan dengan lahap, aku bergegas keluar rumah.
"Aku
berangkat!"
Sambil
berjalan kaki, aku kembali teringat kejadian kemarin.
Aku
merasa sangat payah pada diriku sendiri.
Bagaimana
bisa aku mengucapkan kata "semangat" padahal secuil pun aku tidak
merasakannya, bahkan sampai harus menekan perasaan asliku sendiri? Sungguh
wanita yang menyedihkan.
Kenapa
aku tidak bisa mengumpulkan keberanian walau hanya satu langkah saja?
Jika
dibiarkan begini, Asaka dan Yuu-nii benar-benar bisa jadian.
Di
tengah perjalanan menuju sekolah, saat melewati Moon Night Terrace, aku
berpapasan dengan Asaka dan Yuu-nii yang keluar beriringan.
Kemarin
mereka minum cukup banyak, jadi aku merasa lega karena sepertinya mereka tidak
mengalami mabuk darat atau mabuk alkohol.
"Pagi."
"Yo,
Mahiru."
"Mahiru-chan,
selamat pagi."
"Kalian
mau pergi ke mana?"
"Ah,
Asaka tiba-tiba bilang mau ke kebun binatang. Hari ini kan aku juga libur, jadi
kami mau pergi ke Kebun Binatang Nihondaira sebentar."
"Oh,
begitu. Jauh banget..."
"Sebenarnya
aku ingin kita pergi bersama-sama, tapi Miyo-chan harus ikut bimbingan belajar
dan Mahiru-chan harus latihan klub, kan. Sayang sekali."
Walau
berkata begitu, Asaka tampak begitu gembira.
Yuu-nii
juga sepertinya terlalu tidak waspada terhadap Asaka, mengingat kejadian heboh
di Shounan waktu itu.
Hari
ini Asaka kembali mengenakan pakaian yang cukup terbuka.
Blus
putih tanpa lengan yang mengekspos bahu dipadu rok mini hitam.
Sebuah
pita tipis menjuntai di bagian dadanya, dan penampilannya disempurnakan dengan
sepatu bot pendek berwarna hitam.
"Oh
iya, Mahiru. Biar diantar sampai sekolah, ya."
"Gak
usah, deh. Jalan kaki kan bisa jadi olahraga..."
"Begitu
ya? Kalau begitu, aku ambil mobilnya dulu sebentar."
Yuu-nii berlari-lari kecil menuju tempat parkir yang berada di seberang
jalan.
"Mahiru-chan."
Asaka
mendekatkan wajahnya perlahan, lalu berbisik,
"Terima
kasih."
"..."
Bagi
Asaka, apakah tindakanku kemarin dianggap sebagai bentuk pengertianku yang
tidak ingin mengganggu waktu berdua mereka?
"Bukannya
tadi itu bukan maksud yang seperti itu..."
"Fufu,
Mahiru-chan latihannya semangat ya. Nanti aku belikan oleh-oleh, deh."
"Ah,
iya. Makasih..."
Aku
berpisah dengan mereka berdua dan tiba di sekolah.
Untuk
mengalihkan pikiran, aku fokus mendedikasikan diri pada latihan dan
menggerakkan tubuh.
Tidak
boleh ada waktu luang untuk memikirkan hal-hal tidak penting; melompat, memukul
bola, meluncur, dan berlari...
Namun,
saat sedikit saja lengah, kenangan kemarin mendadak muncul di sudut kepalaku
dan membesar dengan cepat.
Seandainya
di saat itu aku juga bisa berkata "aku menyukainya", setidaknya aku
tidak akan merasakan kecemasan seperti ini sekarang.
Apakah
sungguh tidak apa-apa membiarkan semuanya begini?
Apakah
aku boleh memposisikan diri sebagai karakter teman penolong yang hanya bisa
ikhlas mendukung kemajuan hubungan mereka?
Saat ini, mereka berdua pasti sedang bersenang-senang di kebun
binatang.
Mengingat itu Asaka, dia pasti sudah menggandeng tangannya atau
merapatkan tubuhnya ke lengan Yuu-nii.
Mengingat tempatnya di tempat umum, seharusnya mereka tidak bisa
berbuat terlalu nekat. Tapi, kalau itu Asaka sih...
"Woy,
Ryuuseki, jangan melamun!"
Teriakan
teguran dari sang pelatih membuyarkan lamunanku.
"Ah,
iya! Maafkan saya!"
"Mahhee,
kamu gak apa-apa?"
Kaori
bertanya dengan nada cemas di tengah waktu istirahat.
"Gak
apa-apa kok. Cuma masih sedikit kelelahan dari kemarin aja."
Aku
adalah kapten tim. Egoismeku tidak boleh sampai merusak semangat juang
anak-anak yang lain.
"Baiklah,
ayo kita serukan suaranya lagi!"
"Baik—!"
"Baik—!"
"Baik—!"
Namun,
hari itu aku sama sekali tidak bisa berkonsentrasi.
2
Segera,
Anda akan tiba di sekitar tujuan.
Suara
navigasi yang tanpa emosi mengalir.
"Sudah
mau sampai, ya."
Kurang
dari satu jam sejak berangkat dari Fujinomiya, akhirnya kami tiba di Kebun
Binatang Nihondaira.
Kami
datang ke sini karena Asaka tiba-tiba bilang ingin pergi ke kebun binatang.
Bagi
warga Prefektur Shizuoka, kalau bicara soal kebun binatang, tentu tidak ada
tempat lain selain Kebun Binatang Nihondaira.
Aku
pun sering diajak keluargaku berkunjung ke sini waktu kecil dulu. Terakhir kali
aku berkunjung sepertinya saat kelas enam SD.
Sudah
sekitar enam belas atau tujuh tahun yang lalu.
"Ah,
Yuu-nii, kita tidak bisa masuk dari sebelah sini."
"Eh?
Eh, benar juga."
Kami
tidak bisa berbelok ke kanan untuk masuk ke area parkir.
"Kita
harus berputar arah dulu kalau mau masuk."
"Sepertinya
begitu."
Suasananya
agak berbeda dari masa lalu. Yah, seiring berjalannya waktu, sistemnya pun
pasti ikut berubah. Kami mengambil jalan memutar menuju area parkir.
Meskipun
masih pukul setengah sepuluh, karena hari Minggu, suasananya cukup ramai.
Mulai
dari keluarga yang membawa anak, pasangan muda, kakek-nenek lanjut usia, hingga
pria paruh baya yang datang sendirian; ragam pengunjungnya sangat bervariasi.
"Cuacanya
bagus sekali, ya."
Begitu
turun dari mobil, Asaka meregangkan tubuhnya lebar-lebar.
"Kamu
tidak kedinginan?"
Pakaian
Asaka hari ini cukup terbuka. Blus yang mengekspos bahu serta rok
yang agak pendek.
Kulit putih Asaka terekspos jelas, yang secara jujur sangat berbahaya
bagi pandangan mata.
"Nggak kok... Ah, mungkin agak dingin sedikit."
Sambil berkata begitu, Asaka merapatkan tubuhnya ke lenganku.
"H-Hei."
"Ehehe."
Sesuatu yang empuk menempel di sikuku, dan karena hal itu nyaris
membangkitkan kembali gejolak dari malam itu, aku lantas menatap tajam seorang
bapak-bapak yang sedang berjalan di depan kami.
"Asaka,
jalannya jadi susah nih."
"Iyaaa."
Alih-alih
menjauhkan tubuhnya, Asaka malah menggandeng tanganku. Yah, kalau cuma segini
sih, tidak masalah.
"...Sebenarnya
apa ini."
Aku hanya bisa terpaku menatap pemandangan yang terbentang di depan
mataku.
Pemandangan yang tersimpan di dalam album memori masa kecilku sama
sekali tidak cocok dengan pemandangan di hadapanku saat ini.
Gerbang masuk yang tadinya bergambar panda merah kini telah berubah
menjadi bentuk kotak modern yang bergaya modis.
Di bagian depan terpampang papan nama berwarna hitam mengkilap
bertuliskan "Kebun Binatang Nihondaira".
Tempat ini terlihat lebih mirip galeri seni daripada sebuah kebun
binatang.
"Yuu-nii, ada apa?"
"Ah, rasanya beda banget sama waktu aku kesini dulu..."
"Eh,
kapan tuh kira-kira?"
"Sekitar
tahun 2006."
"...Itu
mah bukan dulu lagi, tapi sudah lama banget. Sepertinya kebun binatang ini
direnovasi tidak lama setelah Yuu-nii pindah ke Tokyo."
"Begitukah?!"
Aku
sama sekali tidak tahu.
Sambil
membayar tiket masuk dan melewati gerbang utama, aku dikejutkan oleh hal lain
lagi.
"F-Flamingonya
nggak ada."
Padahal
kalau tidak salah, ada area pemeliharaan flamingo tepat setelah pintu masuk.
Kini
tempat itu telah berubah menjadi bangunan yang sama sekali berbeda.
"Itu
adalah Gedung Panda Merah."
"Panda...
merah...?"
"Itu
kan daya tarik utama kebun binatang ini. Mari kita simpan sebagai kejutan
terbaik untuk yang terakhir, ya. Ayo jalan, Yuu-nii."
Kemudian
kami melangkah menuju jalur sebelah kiri. Tak lama kemudian, kandang tempat
pemeliharaan primata muncul di sisi kiri.
"Simpanse-nya
lucu banget, ya."
"Lucu...
dari mananya?"
Kudengar simpanse dewasa bisa menjadi sangat buas.
"Wah, kandang manusia."
Dulu juga ada hal seperti ini. Aku bisa bernapas lega karena berhasil
menemukan pemandangan yang membangkitkan kenanganku.
Sebuah kandang kosong yang diletakkan di antara area primata.
Kandang itu bisa dimasuki oleh pengunjung, dan sebuah plakat
bertuliskan "Manusia" dipasang di depan kandang tersebut, persis
seperti kandang hewan lainnya.
Sebuah pameran bernuansa sarkastik dan penuh selera humor yang
membiarkan pengunjung merasakan sensasi menjadi satwa di kebun binatang dengan
berperan sebagai "Manusia".
"Yuu-nii, coba masuk ke dalam sebentar deh."
"Boleh."
Asaka yang melihat dari balik jeruji besi tampak memasang ekspresi
sangat antusias.
"Aku akan ambil fotonya, jadi pasang gaya apa gitu."
"Begitu ya... Baiklah."
Aku memegang jeruji kandang dan mengulurkan tangan.
"Tolong
keluarkan aku—, gitu misalnya."
"Ufufu."
Suara jepretan kamera terdengar nyaring. Saat kulihat hasil fotonya,
komposisinya benar-benar terlihat seolah-olah aku sedang dikurung di dalam
penjara.
Kami
kembali mulai berjalan.
"Atau
lebih dari tadi aku penasaran, singanya... ke mana?"
Di
tikungan setelah melewati area primata, seharusnya ada area singa. Namun,
tempat itu kini telah berubah menjadi bangunan bercat putih.
"Gedung...
Hewan Buas 299?"
"Katanya semua hewan buas dipamerkan di dalam gedung ini."
"Heeh, coba masuk yuk."
Di dalam sana terdapat beruang kutub, anjing laut, singa, hingga harimau
amur yang dipamerkan.
Yang menakjubkan adalah strukturnya, yang menggunakan dinding kaca serta
area terbuka bertingkat sehingga pengunjung bisa mengamati satu hewan yang sama
dari lantai yang berbeda.
Berkat ini, kita bisa mengamati para hewan dari berbagai sudut pandang.
Meskipun begitu, menempatkan meerkat tepat di sebelah kandang singa
terasa agak...
"Ah,
itu jaguar."
"Owaa,
dia melompat ke arah sini!"
Area
pameran jaguar dirancang dengan jalur pejalan kaki yang dikelilingi pagar kawat
menjorok ke dalam area pameran, memungkinkan pengunjung melihatnya dari jarak
yang sangat dekat.
Terkadang
jaguar bahkan melompat ke atas pagar kawat, membuat kita bisa melihatnya
langsung dari bawah.
"Keren banget, seram sekaligus takjub."
"A-Aku takut."
Jaguar hitam itu berbaring diam di atas jaring kawat sambil
mengeluarkan suara geraman pelan. Asaka yang ketakutan langsung merangkul erat
lenganku.
"Sudah waktunya lanjut, nih."
"Iya."
◇
Tempat terakhir yang kami kunjungi adalah Gedung Panda Merah.
Katanya, Kebun Binatang Nihondaira ini sangat terkenal sebagai tempat
suci bagi panda merah.
Panda merah "Futa" yang sempat menghebohkan Jepang karena
bisa berdiri dengan kaki belakangnya itu, ternyata lahir di Kebun Binatang
Nihondaira ini.
Dilihat
dari tata letaknya, bangunan ini seharusnya dikunjungi pertama kali.
Mungkin,
kami adalah satu-satunya pengunjung yang mampir ke sini di penghujung
kunjungan.
Meskipun
dinamakan Gedung Panda Merah, yang dipamerkan di sini bukan hanya panda merah,
melainkan juga spesimen kerangka hewan serta awetan.
Di
dindingnya terpampang garis waktu sejarah Kebun Binatang Nihondaira, memberikan
suasana yang terasa seperti museum sungguhan.
Kerangka
gajah berukuran raksasa yang dipamerkan di tengah aula yang luas itu konon
merupakan milik gajah betina bernama "Shanti" yang dulu pernah
tinggal di kebun binatang ini.
Aku
jadi teringat. Dulu sepertinya ada dua ekor gajah di sini. Dua ekor gajah yang
ada di dalam pemandangan kenanganku. Apakah salah satu dari mereka sudah tiada?
Tidak
menyangka aku akan bertemu kembali dengan kenanganku dalam bentuk seperti
ini...
"Yuu-nii?"
"Hm?"
"Ah,
kita mau lihat panda merah, kan."
"Di
sebelah sana."
Di
bagian dalam aula terdapat area pemeliharaan panda merah.
"Haa,
lucu banget ya."
"Iya
juga ya."
Mungkin
agak kasar kalau dikatakan begini, tapi tingkat kelucuan mereka sudah berada di
level di mana aku tidak bisa membayangkan mereka hidup di alam liar.
Bulu cokelatnya yang tebal dan lembut serta mata bulat yang jernih.
Kalau dipikir-pikir dari sisi sifat cerobohnya, mereka sedikit mirip dengan
Miyo.
"Ah, dia jatuh."
Gaya berjalan mereka yang terhuyung-huyung pun sangat menggemaskan.
"Oh
iya, Yuu-nii."
"Hm?"
"Kira-kira,
siapa nama anak kita nanti?"
"...H-Hah?"
Apakah pendengaranku salah?
Nama anak?
Anak ini tiba-tiba ngomong apa sih.
"Mumpung lagi di sini, bagaimana kalau kita ambil dari nama kita
berdua, misalnya Yuuka atau semacamnya?"
"Kamu
ini... ngomong apa sih?"
Kita
bahkan belum menikah, jangankan menikah, berpacaran saja belum, tapi memikirkan
sampai nama anak rasanya terlalu melompat jauh.
Ah,
m-jangan-jangan, peristiwa malam di Shounan waktu itu membuat kami benar-benar
melakukannya?!
Tidak,
tidak mungkin. Bukankah waktu itu gagal dan berakhir setengah jalan, jadi
seharusnya tidak sampai terjadi apa-apa.
Tunggu
dulu.
Atau
jangan-jangan, itu cuma asumsi sepihak ku saja, dan sebenarnya kami benar-benar
sudah melakukannya??
Aku...
sudah bukan perjaka lagi...?
"A-A-A-A-Ah!"
Bukan
itu masalahnya, kalau sampai ketahuan publik bahwa aku menghamili anak SMA yang
masih aktif...
"A-Asaka, aku bakal tanggung jawab kok."
Aku mencengkeram kedua bahu Asaka.
"Eh, sedang membicarakan apa ya?"
Asaka mendongak menatapku dengan wajah polos kebingungan sambil
memiringkan kepalanya.
"Ha?"
"Yuu-nii.
Kita sedang membicarakan nama bayi panda, tahu?"
"Makanya
kubilang..."
"Itu
lho."
Sambil
berkata demikian, Asaka menunjuk ke salah satu sudut ruangan dalam gedung.
Di
sana terdapat sudut dengan papan bertuliskan 'Pengumpulan Nama untuk Bayi Panda
Merah'.
Rupanya
mereka sedang mengadakan sayembara publik untuk memberi nama pada bayi betina
yang lahir bulan lalu.
"Ah..."
"Fufu,
apa sih yang sedang Yuu-nii bayangkan barusan?"
Asaka
menatapku sambil tersenyum penuh arti.
"T-Tidak
ada apa-apa kok. Hahaha, nama panda merah ya. 'Rettsu' sepertinya bagus juga.
Haha, ahahahaha."
"...Yuu-nii?"
"Baiklah,
mumpung masih ada waktu, ayo kita keliling sekali lagi!"
Begitulah,
kami menikmati seluruh sudut Kebun Binatang Nihondaira sampai puas.
◇
Huuun,
kalau sampai terjadi sesuatu, ternyata dia benar-benar mau bertanggung jawab,
ya.
Ini
adalah hasil panen yang bagus.
Ufufufufu.
3
Hari
sudah mulai petang, namun langit masih berwarna biru.
Suhu
udara yang dirasakan masih cukup tinggi, sepertinya butuh sedikit waktu lagi
bagi musim panas untuk sepenuhnya berganti menjadi musim gugur.
"Permisi—"
Hari
ini aku kembali mampir ke Moon Night Terrace sepulang sekolah.
"Oh,
Miyo-chan, selamat datang."
Bibi
sedang membersihkan area kursi teras. Begitu melangkah masuk ke dalam kafe, Yuu-nii
menyambutku.
"Yo,
Miyo."
"Yuu-nii,
aku boleh ke kamar atas?"
"Boleh—"
Akhir-akhir
ini, bahkan saat mampir ke Moon Night Terrace, aku lebih sering menghabiskan
waktu di kamar Yuu-nii.
Alasannya
sederhana; kalau di lantai bawah area kafe, aku pasti jadi asyik mengobrol
dengan Bibi atau saling melempar candaan dengan Yuu-nii, sehingga susah sekali
untuk fokus belajar.
Sebaliknya,
kamar Yuu-nii ini sangat tenang karena pada dasarnya sendirian, ada tempat
tidur kalau mau rebahan pas lelah, dan bisa main game kalau bosan. Lingkungan
yang sangat nyaman untuk belajar.
"Hm,
pesan café au lait dingin, ya."
"Sip."
Setelah
memesan minumannya, aku langsung menaiki tangga.
"Hup."
Begitu masuk ke dalam kamar, aku langsung merebahkan diri di atas
kasur.
Sensasi tubuh yang tenggelam di kasur empuk ini terasa sangat nyaman.
Aroma khas Yuu-nii yang menusuk lembut meresap ke dalam tubuhku yang kelelahan.
"Haa..."
Hari
ini kami latihan voli di jam pelajaran olahraga, jadi sekujur tubuhku terasa
sangat pegal.
Melompat,
berlari, terjatuh, bagaimana bisa Mahiru melakukan gerakan seberat itu setiap
hari, ya.
Pergelangan
tangan jadi sakit habis memukul bola, lantai lapangan keras jadi sakit kalau
jatuh, pokoknya voli pantai saja sudah lebih dari cukup buatku.
"Afuu..."
Rasanya jadi mengantuk.
Aku meletakkan kepala di atas bantal dan berbaring telentang.
Sambil bermalas-malasan di atas kasur sejenak, Yuu-nii datang membawa
pesanan.
"Nih, café au lait-nya... lho, kamu bukannya mau belajar?"
"Sebentar
lagi, nih."
"Cepat
sana kerjakan."
Yuu-nii
meletakkan gelas di atas meja.
"Oh
iya, benar juga. Mau kubawakan oleh-oleh kemarin sekalian?"
Yuu-nii
mengaduk-ngaduk kantong kertas yang diletakkan di sudut kamar.
Ah,
benar juga, kemarin dia sempat bilang pergi ke Kebun Binatang Nihondaira
bersama Asaka.
Asaka
bahkan mengirimiku pesan bertuliskan 'Aku berhasil menangkapnya☆' beserta foto Yuu-nii yang dikurung di
dalam kandang, yang membuatku tertawa ngakak.
"Nih,
kue kering."
Kemasannya
dicetak dengan gambar hewan-hewan yang lucu.
"Makasih.
Boleh kubuka sekarang?"
"Boleh."
Camilan
yang sempurna untuk menemani minum café au lait.
"Atau lebih tepatnya, enak banget sih... Aku juga ingin pergi ke
kebun binatang."
Sudah bertahun-tahun aku tidak pergi ke kebun binatang. Apalagi
pergi berdua saja, rasanya seperti kencan sungguhan. Jadi iri pada Asaka.
"Karena
perginya mendadak. Miyo dan Mahiru kan waktu itu ada rencana, kan?"
"Iya
sih."
Kalau
cuma tempat dekat sih tidak apa-apa, tapi kalau sampai ke Kota Shizuoka mana
mungkin bisa mengatur jadwal secara mendadak. Jangan-jangan Asaka memang
sengaja merencanakan waktu itu agar bisa mengajak Yuu-nii berdua saja?
"Ya
sudah, kapan-kapan aku ajak kalian berdua juga deh."
Rasanya
akhir-akhir ini aku hanya disibukkan dengan belajar untuk ujian sampai tidak
sempat pergi bermain sama sekali.
Waktu
liburan musim panas dulu, meskipun tetap belajar masih ada sisa waktu luang
yang cukup untuk jalan-jalan ke berbagai tempat, tapi begitu sekolah dimulai,
separuh hari langsung habis begitu saja...
Mahiru
punya kegiatan klub voli sampai sore setiap hari, Asaka ada di Kanagawa jadi
tidak bisa ditemui, dan kami hanya bisa bermain bersama di hari Sabtu dan
Minggu...
Duh,
liburan musim panas kemarin benar-benar menyenangkan.
Ada
kolam renang, berkemah, liburan ke Shounan, acaranya padat sekali.
Dulu
aku sangat membenci musim panas karena udaranya panas dan bikin banyak
berkeringat, tapi sekarang aku malah merindukan musim panas itu.
"...Haa."
"Kenapa,
segitunya pengen ke kebun binatang?"
"Bukannya
gitu... rasanya akhir-akhir ini aku jarang bisa main bareng Yuu-nii dan yang
lain."
"Kemarin
lusa kan kita sudah merayakan ulang tahun Mahiru."
Yuu-nii
menghela napas panjang dengan ekspresi pasrah.
"Bukannya
ituuu—"
Aku
merengek sambil menendang-nendangkan kaki di atas kasur.
"Aku
bosan cuma belajar teruuus! Nggak harus pergi jauh-jauh deh, yang penting aku
mau jalan ke mana gitu!"
"Ampun
deh kamu ini. Ya sudah, nanti aku ajak jalan-jalan ke suatu tempat, deh."
"Beneran? Hore—!"
"Memang benar sih, sesekali butuh melepaskan penat juga."
"Nah, kan!"
Aku turun dari kasur dan membentangkan perlengkapan belajarku di atas
meja.
Meneguk
café au lait untuk mendapatkan asupan kafein.
"Enak—!"
Semangat
belajarku mulai membara.
"Kalau
butuh tambah, turun sendiri ke bawah sana."
"Iyaaa."
Setelah
itu aku benar-benar fokus belajar dengan sungguh-sungguh hingga waktu
menunjukkan pukul tujuh lewat sepuluh menit malam.
Selesai
belajar, aku memutuskan untuk makan malam bersama Yuu-nii. Aku pun naik ke
kursi penumpang depan mobil.
"Mau
makan apa?"
"Aku
sudah terlalu banyak makan kue kering tadi, jadi sepertinya yang segar-segar
saja."
Karena
selama belajar tadi aku terus mencamil makanan ringan dan minuman, perutku
sebenarnya tidak terlalu lapar.
"Kalau
begitu, bagaimana kalau kita makan Soba saja?"
"Setuju—!"
Di
kedai soba tersebut, aku memesan zaru soba, sedangkan Yuu-nii memesan tempura
soba.
Tekstur
mie yang kenyal serta kuah yang menyegarkan terasa sangat ramah di lambung.
"Enak
ya."
"Iya."
"Oh
iya, benar juga. Novel misteri itu sudah kukirim, lho."
Novel
misteri hasil karya kolaborasiku dengan Yuu-nii itu akhirnya selesai proses
revisi dan pengecekan salah ketik kemarin.
Tadi
sebelum mampir ke Moon Night Terrace, kami menyempatkan diri mampir ke kantor
pos untuk mengirimkannya.
"Kira-kira
bakal jadi bagaimana ya, mendadak aku jadi merasa gugup begini."
Yuu-nii
meneguk air minumnya seteguk, lalu mulai gelisah.
"Iya
juga ya. Tapi, semua anak-anak klub bilang bagus, jadi kurasa kita bisa melaju
cukup jauh... mungkin?"
Seina-chan
yang biasanya terkenal bermulut pedas beserta anggota klub misteri lainnya pun
kompak memuji karya tersebut dan memberikan ulasan luar biasa bagus.
"Miyo,
kamu terlalu gugup tahu."
"Yuu-nii
sendiri juga kelihatan gugup begitu."
Mengirimkan
karya buatan sendiri ke sayembara publik adalah pengalaman pertama bagi kami.
"Ngomong-ngomong, mau bikin proyek itu lagi nggak?"
"Proyek
apa maksudnya?"
"Kolaborasi
menulis novel misteri."
Yuu-nii menghentikan tangannya yang sedang menyeruput soba.
"Ayo buat lagi."
"Boleh juga. Kira-kira tema apa yang bagus ya untuk
selanjutnya?"
"Sudah pasti tema bangunan misterius (locked-room/mansion) tidak
boleh dilewatkan. Meskipun dibilang kuno atau apa pun."
"Benar juga ya."
"Yuu-nii, tolong pikirkan trik keren yang baru lagi ya."
"Aku yang memikirkan triknya dan Miyo yang menulis naskahnya. Rasanya
jadi mirip Queen saja."
"Kalau
dipikir-pikir, iya juga ya. Kalau dari karya-karya Queen, Yuu-nii paling suka
yang mana?"
"Hmm,
memang agak pasaran sih, tapi sepertinya 'Tragedi Y' ya."
"Ah—"
"Kalau
Miyo?"
"Aku?
Kalau aku—"
Lalu
kami menikmati makan malam sambil terus mengobrol asyik seputar topik cerita
misteri.
◇
"Baiklah,
kalau begitu kita berangkat sekarang."
"Terima
kasih atas makanannya."
Selesai
makan, kami menikmati perjalanan berkendara di malam hari.
Karena
hari sudah cukup malam, kami tidak bisa pergi terlalu jauh, tetapi Miyo pasti
kelelahan karena terus-menerus belajar, jadi dia butuh penyegaran pikiran. Aku
mengemudikan mobil menuju arah Gunung Fuji.
"Kita
mau ke mana?"
"Mau
jalan-jalan sebentar ke Gunung Fuji."
"Mau
mendaki gunung malam-malam?!"
"Mana
mungkinlah."
Memasuki
jalur pendakian dari jalan bypass, kami melaju lurus menanjak. Di tengah jalan,
kami membeli minuman di mesin penjual otomatis lalu melanjutkan perjalanan ke
atas.
Semakin
jauh dari kawasan pemukiman, rumah-rumah dan lampu jalan semakin jarang,
membuat kegelapan malam semakin pekat.
"Eh, kok jalannya jadi gelap banget begini."
Miyo
mengerutkan tubuhnya karena merasa cemas.
"Tenang
saja, kan ada aku di sini."
Begitu
memasuki Fuji Skyline, satu-satunya andalan hanyalah lampu depan mobil.
Pepohonan
yang tampak begitu rimbun dan hijau di siang hari, kini berubah menyerupai
monster hitam pekat di dalam kegelapan malam.
Menelusuri
jalanan berliku-liku, tak lama kemudian lereng dengan pepohonan yang ditebangi
muncul di sisi kiri.
Tempat
ini adalah spot rekomendasi di mana pepohonan yang menghalangi pandangan telah
dibersihkan, sehingga kita bisa menikmati pemandangan panorama kota Fujinomiya
secara utuh dari atas.
Dulu,
saat liburan musim panas, aku pernah datang ke sini bersama Asaka dan menikmati
makan siang di tempat ini.
Waktu
itu hari masih siang, tapi sekarang waktu sudah menunjukkan lewat pukul delapan
malam.
Memarkirkan
mobil di bahu jalan, kami keluar dari kendaraan.
Tentu
saja pemandangan siang hari telah berubah menjadi panorama lautan lampu kota di
malam hari, dengan jutaan kerlip cahaya yang bertaburan di tengah pekatnya
malam.
"Wah,
indahnya..."
"Iya,
ya."
Memikirkan
bahwa di balik setiap kerlip cahaya itu terdapat kehidupan manusia, rasanya
menorehkan kesan yang mendalam di hati.
Langit
sedikit berawan, membuat pemandangan malam terlihat semakin memukau.
Angin
malam yang sepoi-sepoi bertiup lembut, menggoyangkan dedaunan pohon.
"Yuu-nii."
Miyo
dengan lembut merapatkan tubuhnya.
"Sudah
merasa lebih segar?"
"Hm,
makasih ya."
Miyo
mendongak menatapku seolah ingin mengatakan sesuatu, namun begitu mata kami
saling bertatap, dia langsung mengalihkan pandangannya ke bawah.
Karena terlalu gelap, ekspresinya jadi tidak begitu jelas terlihat.
"Ada
apa?"
"Nggak...
eh, kamu sering ya kesini?"
"Lumayan.
Kadang-kadang aku sengaja berkendara ke sini pas habis jam kerja. Dulu aku juga
pernah mengajak Asaka ke sini."
"Begituu
ya."
"Yah,
waktu sama Asaka sih siang-siang tapi."
"!"
Miyo
mengalihkan pandangannya kembali ke pemandangan malam, lalu berkata,
"Kalau
begitu, aku orang pertama yang diajak melihat pemandangan malam dari
sini?"
"Hm,
sepertinya begitu."
"Begitu ya, ehehe."
Miyo tersenyum gembira. Masih saja mempermasalahkan siapa yang pertama,
bocah ini benar-benar kekanak-kanakan. Setelah itu, kami menikmati pemandangan
malam bersama untuk beberapa saat.
"Sudah
waktunya pulang, yuk."
"Ayo."
Menghabiskan
sisa kopi kaleng dalam sekali teguk, kami pun kembali masuk ke dalam mobil.



Post a Comment