NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

10-nen-buri Ni Saikai Shita Kusogaki Wa Seijun Bishoujo Jk Volume 5 Interlude III

Kenangan Bersama "Bocah Sialan" Part 3


Mentalisme Bocah Nakal

1

10 Desember, hari Senin. Saat aku pulang ke rumah, bocah-bocah nakal itu sudah menguasai kamarku seperti biasa.

"Oh, kalian di sini rupanya."

"Selamat datang!"

"Selamat datang!"

"Selamat datang kembali."

Mereka bertiga sedang mengelilingi meja sambil mengerjakan PR.

"Ini."

Aku meletakkan camilan yang kubeli di minimarket saat perjalanan pulang ke atas meja.

"Boleh dimakan?"

Miya berseru dengan nada gembira.

"Boleh, kok."

"Horeee!"

"Horeee!"

"Horeee!"

Dengan mengabaikan PR mereka, bocah-bocah nakal itu mulai memakan camilannya.

"Yuu-nii, hari ini pulang cepat, ya. Padahal baru jam tiga, lho."

Mahiru berkata sambil memakan keripik kentangnya.

"Akhir-akhir ini pulangnya selalu cepat, ya."

Asaka ikut menimpali sambil mengunyah permen jeli.

"Yah, begitulah, aku kan masuk kelompok yang akan langsung bekerja."

"?"

"?"

"?"

Memasuki bulan Desember, saat semester dua hampir berakhir seperti sekarang, kelompok yang melanjutkan pendidikan memiliki kelas tambahan dan bimbingan ujian sepulang sekolah.

Namun, kelompok yang langsung bekerja sepertiku tidak memiliki jadwal tersebut sehingga waktu pulang kami menjadi lebih cepat.

Hanya saja dalam kasusku, pulang lebih cepat berarti aku harus merawat bocah-bocah nakal ini lebih lama, yang entah kenapa malah terasa lebih merepotkan.

Waktu menuju kelulusan sudah kurang dari tiga bulan.

Waktu yang kuhabiskan bersama mereka juga tinggal sekitar tiga bulan lagi.

Jika dipikir-pikir kembali, sudah lebih dari empat bulan berlalu sejak aku bertemu dengan mereka, ya. Waktu yang terasa panjang, namun sekaligus terasa singkat.

Kami sudah melewati pertengahan jalan....

"Ah, benar juga. Hei, Yuu-nii, coba sebut 'piza' sepuluh kali."

Miya berkata sambil tersenyum menyeringai.

"Ada apa ini, tiba-tiba sekali."

"Sudah, sebutkan saja."

"Piza, piza, piza, piza, piza, piza, piza, piza, piza, piza."

"Kalau ini apa?"

Miya menunjuk sikunya sendiri seraya menatapku dengan mata penuh harap.

Mahiru dan Asaka juga menatapku dengan pandangan gembira yang tak bisa mereka sembunyikan.

Aku sudah tahu triknya, tapi karena aku sudah dewasa, aku sengaja mengikuti permainan mereka.

"...Lutut."

"Teeet, salah. Ini namanya siku!"

Seolah-olah baru saja memenangkan pertarungan besar, Miya langsung bersorak kegirangan.

"Yee, yee, kena tipu, kena tipu! Ini kan siku."

"Ternyata Yuu-nii juga bisa ketipu, ya."

"Aku juga ketipu, lho."

"Kalau begitu, sekarang sebut kata 'sampo' sepuluh kali."

Miya memunculkan senyum jahil di wajahnya.

"Sampo, sampo, sampo, sampo, sampo, sampo, sampo, sampo, sampo, sampo."

"Yang dipakai saat mencuci badan itu apa?"

"Sam... bukan, kondisioner."

"Teeet, jawabannya sabun mandi!"

"Ah!"

"Kena tipu lagi, deh!"

Sial, kalau yang tadi aku benar-benar tertipu.

"Yuu-nii payah, ah."

"Berisik. Dari mana kalian belajar mainan seperti ini?"

"Ada di buku ini, lho."

Miya mengeluarkan sebuah buku dari dalam ransel merah mudanya.

Buku itu bergambar pesulap berwajah licik dengan judul 'Permainan Psikologi yang Bisa Dimengerti Anak-Anak', sebuah buku yang terlihat sangat mencurigakan.

"Permainan psikologi, katamu?"

"Aku pinjam di perpustakaan. Buku ini seru banget, lho."

"Miya, mumpung ada Yuu-nii, ayo kita main yang itu."

Mahiru berkata dengan suara yang penuh semangat.

"Ide bagus."

"Main apaan, tuh?"

"Tes psikologi," ucap Asaka.

"Tes psikologi?"

"Tunggu sebentar, ya."

Miya mulai membolak-balik halaman bukunya. Karena judulnya permainan psikologi, pasti ada tes psikologi juga di dalamnya.

Tes psikologi.

Itu adalah tes mengerikan di mana alam bawah sadarmu akan terbongkar habis-habisan hanya dengan menjawab pertanyaan sederhana.... Setidaknya begitulah klaimnya.

Terlepas dari tes yang profesional, tes untuk anak-anak semacam ini hanyalah permainan murahan yang mengaitkan hal-hal umum yang bisa dialami siapa saja agar terdengar meyakinkan.

Aku tidak percaya pada hal-hal spiritual atau berbau gaib semacam itu.

Sebagai hiburan untuk dinikmati memang tidak masalah, tapi kurasa tidak ada orang yang akan menganggapnya serius.

Yah, bagi bocah-bocah nakal ini, permainan itu pasti terasa seperti hiburan yang segar.

Kurasa aku akan menemani mereka bermain sebentar.

"Oke, kita mulai, ya."

Miya memasang ekspresi serius di wajahnya.

"Pertanyaan pertama. Kamu sedang berada di ruang tatami bergaya Jepang yang sempit."

"Tidak ada apa pun di sana, tapi kamu terus menunggu seseorang. Nah, sudah berapa lama kamu berada di sana? A: Lima belas menit, B: Satu jam, C: Sepuluh jam."

"Memangnya sedang menunggu apa?"

Saat aku bertanya, Miya menggelengkan kepalanya dan menjawab, "Tidak tahu."

Astaga, baru pertanyaan pertama saja sudah tidak masuk akal. Mana mungkin hal semacam ini bisa membaca psikologi seseorang.

"Ayo, cepat jawab."

"A," jawab Asaka.

"C," jawab Mahiru.

"Kurasa aku juga C."

"Hmm, pertanyaan ini menunjukkan tingkat kesabaranmu. Orang yang memilih A adalah orang yang tidak bisa menahan diri terhadap hal-hal yang tidak disukainya."

"Eh, bohong, ah."

Asaka memasang wajah terkejut.

"Orang yang memilih B memiliki tingkat kesabaran yang rata-rata."

"Orang yang memilih C mampu terus bertahan menghadapi hal-hal yang tidak menyenangkan atau menyulitkan. Namun, jika salah mengambil keputusan untuk mundur, mereka akan tertimpa masalah besar... Begitu katanya."

"Oh, kesabaran, ya."

Aku memang orang yang sabar, tapi hal semacam ini pasti berlaku untuk siapa saja.

"Aku orangnya sabar, lho?"

Asaka tampak tidak terima dengan hasilnya.

"Kalau begitu, pertanyaan selanjutnya. Hmm, kamu sedang berada di kebun binatang. Hewan apa yang sedang kamu lihat sekarang?"

Bicara soal kebun binatang, pasti Kebun Binatang Nihondaira.

"Ayo, sebutkan secara bergiliran."

"Kelinci," jawab Mahiru.

"Singa," jawab Asaka.

"Kalau aku tupai."

"Hewan itu menunjukkan pandanganmu terhadap asmara."

"Semakin kuat hewannya, berarti kamu adalah orang yang agresif. Semakin lemah hewannya, berarti kamu adalah orang yang pemalu dan pasif."

"Itu beneran buku untuk anak-anak, ya?"

Pertanyaan macam apa itu.

Lagipula, sejauh ini tidak ada yang akurat sama sekali. Aku memang tidak punya pacar, tapi kurasa itu hal yang berbeda.

"Baiklah, pertanyaan berikutnya. Sekarang kamu adalah seorang pengembara yang dihadapkan pada empat jalan."

"Satu jalan menuju hutan. Satu jalan menuju gua. Satu jalan menuju desa. Dan satu jalan lagi menuju kastel. Jalan mana yang akan kamu pilih?"

"Kurasa aku pilih desa."

"Aku pilih hutan."

"Aku pilih kastel."

"Hmm, pertanyaan ini menunjukkan bagaimana seseorang memperlakukan barang berharganya."

"Orang yang memilih hutan adalah tipe penyembunyi. Mereka adalah tipe orang yang ingin menyembunyikan barang berharganya agar tidak dilihat oleh siapa pun."

"Hmm, masa, sih? Padahal aku ingin memamerkannya, lho."

Mahiru mengerutkan kening sambil melipat tangannya.

"Orang yang memilih gua tidak memiliki barang berharga. Mereka adalah orang yang berhati dingin."

Kejam sekali. Meski katanya untuk anak-anak, kalau ada anak yang memilih itu pasti akan menangis.

"Orang yang memilih desa adalah—"

"Itu aku, ya."

"—Orang yang memiliki terlalu banyak barang berharga, sampai-sampai dia sendiri tidak tahu mana yang paling berharga. Singkatnya, orang yang merepotkan."

"Buku itu dari tadi memancing emosi terus, ya."

"Mau bagaimana lagi, memang begitu kok tulisannya."

"Terakhir, orang yang memilih kastel akan selalu menyimpan barang berharganya dengan baik agar tidak rusak. Namun karena kastel itu luas, ada kemungkinan barang berharga itu akan hilang tak bisa ditemukan... Begitu katanya."

"Rumah Asaka memang luas, sih."

Mahiru mengangguk setuju berulang kali.

"Bukan itu maksudnya, kan."

Entah kenapa, kurasa banyak jawaban yang meresahkan.

Apa buku ini benar-benar untuk anak-anak?

Bagian penting dari tesnya pun sama sekali tidak ada yang akurat.

Setelah itu, Miya terus melontarkan pertanyaan, namun jawaban-jawabannya hanya membuat kami memiringkan kepala kebingungan.

 

2

"Kalau begitu, pertanyaan terakhir. Sekarang, bayangkan satu angka kesukaanmu dari satu sampai lima, satu huruf alfabet kesukaanmu, dan juga warna kesukaanmu."

"Tiba-tiba suasananya berubah, ya."

"Aku belum hafal semua huruf alfabet, lho."

Untuk saat ini, aku membayangkan angka dan huruf alfabet di dalam kepalaku.

Hmm, mungkin angka tiga, huruf K, dan warna hitam.

"Kok yang ini jawabannya ada banyak banget, ya."

"Tentu saja, kan kombinasinya banyak."

"Wah, bentuknya jadi seperti tabel yang rumit. Ayo sebutkan, siapa yang sudah kepikiran?"

Miya mendesak kami, namun Mahiru dan Asaka tampaknya kesulitan di bagian huruf alfabet dan memasang wajah bingung.

"Kalau Yuu-nii?"

"Aku sudah kepikiran. Tiga, K, dan hitam."

"Hmm, tiga, K, dan hitam, ya...."

Miya mencari jawabannya, tampak menggerakkan matanya ke sana kemari.

Pada saat itu—

"Anak-anak, kalian mau makan kue?"

Terdengar suara ibuku dari lantai bawah.

"Mau!"

"Mau!"

"Mau!"

Sorot mata bocah-bocah nakal itu langsung berubah, mereka berdiri dengan cepat lalu berlari ke luar kamar.

"Hei, jawabannya bagaimana... Astaga."

Yah, kalau harus memilih antara kue dan tes psikologi, sudah pasti kue yang akan menang.

Aku pun memutuskan untuk turun ke lantai bawah setelah mengecek jawabannya terlebih dahulu.

"Apa-apaan ini, tabel jawabannya saja menghabiskan lebih dari setengah halaman buku."

Tak lama kemudian, aku menemukan bagian yang memuat jawabanku.

"...."

Jawaban macam apa ini. Benar-benar deh, ini bahkan bukan tes psikologi lagi.

Pada akhirnya, ini memang cuma buku tipuan untuk anak-anak.

Ya ampun.

◇

Dengan membayangkan angka, huruf alfabet, dan warna, kamu bisa mengetahui ramalan tentang masa depanmu.

【Tiga, K, dan Hitam】

Di masa depan, kamu akan dihadapkan pada pilihan krusial yang akan sangat memengaruhi jalan hidupmu.

Pilihan itu tidak hanya berkaitan dengan dirimu, tetapi juga memengaruhi kehidupan ‘tiga orang’ yang berharga bagimu.

Apakah kalian akan berakhir bahagia atau justru menderita, semuanya sepenuhnya bergantung pada pilihanmu sendiri.

 

Bocah Nakal Tak Terkalahkan

1

Hari ini juga aku lelah meladeni bocah-bocah nakal itu. Astaga, bisa-bisanya mereka membawa buku psikologi yang tidak masuk akal itu.

Aku berendam di air panas dengan perlahan, memulihkan kelelahanku.

"Haa."

Rasa lelah melebur ke dalam air, dan sensasi mengapung yang nyaman menyelimuti tubuhku. Mandi memang yang terbaik.

"Aku sudah selesai."

Saat aku keluar dari kamar mandi dan pergi ke ruang tengah, ayah dan ibu sedang duduk berhadapan. Mereka mengapit kotatsu dengan ekspresi wajah yang serius.

"Mungkin sudah saatnya, ya."

"Sudah saatnya, ya."

Menyadari kedatanganku, mereka berdua menatapku secara bersamaan. Ada apa ini, sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan?

"Yuu."

"Hm?"

Ibu memanggilku dengan isyarat tangan, jadi aku pun ikut masuk ke dalam kotatsu.

"A-ada apa, sih?"

Di atas meja terdapat sebuah pamflet. Sampulnya menampilkan foto besar seorang wanita muda mengendarai mobil merah.

Di bawahnya terdapat tulisan "Let's Drive" yang dicetak dengan gaya huruf pop. Ibu menunduk menatap pamflet itu.

"Kamu, sudah saatnya mengambil SIM."

 

2

Sore hari berikutnya.

Aku mengunjungi sekolah mengemudi di kota sebelah, Kota Fuji.

Anak SMA yang sudah berusia 18 tahun dan bisa mendapatkan SIM, biasanya mulai masuk sekolah mengemudi sebelum liburan musim dingin. Meskipun begitu, kelompok yang akan melanjutkan pendidikan dan harus bersiap ujian baru akan mendaftar sedikit lebih lambat.

Sebagian besar yang masuk sekarang adalah kami, para siswa dari kelompok yang akan langsung bekerja.

"Hoo."

Di area yang luas itu, jalanan rumit dibangun menyerupai labirin. Ada area perlintasan kereta api, jalan menanjak, dan tikungan yang meliuk-liuk bagaikan tubuh ular.

Areanya terlihat luas—dan nyatanya memang luas—tapi persimpangan jalan dibuat dengan jarak berdekatan. Tikungan patah dan tikungan huruf S letaknya bersebelahan.

Jika diamati baik-baik, tempat ini seolah memaksakan semuanya agar seluruh ruang digunakan secara efektif tanpa sisa. Aku suka nuansa padat dan berantakan seperti ini.

"Ayo, sebelah sini."

Aku mengikuti ibu dari belakang dan masuk ke dalam gedung. Bagian dalamnya lebih rapi dari dugaanku, entah kenapa terasa seperti datang ke tempat bimbingan belajar.

"Kami atas nama Arizuki."

Setelah menyampaikan tujuan kami di meja resepsionis, tak lama kemudian seorang paman bertubuh sedikit gemuk memanggil kami. Kami diarahkan ke ruangan lain untuk menerima penjelasan dan melakukan prosedur pendaftaran.

Setelah selesai, kami diarahkan ke ruangan besar di lantai dua. Sepertinya akan ada upacara penerimaan siswa baru.

Di meja rapat yang disusun sejajar, duduk para siswa sepertiku beserta wali mereka. Mereka menunggu dimulainya upacara dengan tenang.

Aku menemukan wajah yang kukenal di antara mereka.

"Oh, Kageyama."

"Ah, Arizuki."

Rambut cokelat dengan fitur wajah androgini, seorang remaja laki-laki pendiam yang secara keseluruhan terlihat lemah gemulai. Dia adalah Haruki Kageyama.

Dia adalah mantan anggota klub bola basket putra sepertiku, teman yang berbagi suka dan duka di masa muda.

Seingatku Kageyama berencana untuk melanjutkan pendidikan, tapi dia sudah masuk sekolah mengemudi?

"Oh, halo."

"Selamat siang."

Di sebelahnya duduk ibu Kageyama, Yukimi Kageyama. Aku dan ibuku pun saling bertukar salam dengannya.

"Sudah lama tidak bertemu ya, Arizuki-kun."

Bibi Yukimi berkata dengan suaranya yang lembut.

"Ah, iya, sudah lama tak berjumpa."

Rambut cokelat panjangnya diikat ke belakang, mengenakan sweter longgar dan celana denim.

Bagian dadanya sangat besar, sampai-sampai membuat orang salah mengira dia menyembunyikan dua balon di sana.

Dia adalah wanita cantik yang awet muda. Sulit dipercaya dia memiliki putra kelas tiga SMA sepertiku.

Sialan kau Kageyama, bikin iri saja punya ibu secantik ini. Pantas saja dia jadi anak mama.

Ya, aku tidak bisa mengatakannya dengan lantang, tapi pria bernama Kageyama ini adalah seorang anak mama.

Aku pernah menyaksikan insiden mengejutkan soal hal itu.

Namun demi kehormatan sahabatku, aku akan menyimpannya di lubuk hati dan membawanya sampai mati. Kami lalu duduk di kursi sebelah ibu dan anak Kageyama itu.

"Kageyama, kamu sudah mulai kursus?"

"Iya, katanya kalau terlalu telat daftarnya, tempat ini bakal ramai. Arizuki, kamu pilih yang mana?"

"Yang mana apanya?"

"Otomatis atau manual."

"Oh, tadinya aku mau ambil otomatis karena lebih gampang. Tapi ayahku terus cerewet menyuruhku ambil manual, jadi aku pilih manual."

"Aku juga ambil manual sih. Tapi pada akhirnya, meski ambil lisensi manual yang bakal sering dipakai juga mobil otomatis, kan."

"Benar juga."

Aku tidak tahu detail pastinya, tapi katanya mobil terbagi menjadi dua jenis, yaitu otomatis dan manual. Cara mengemudinya juga sedikit berbeda.

Aku sering mendengar rumor kalau mobil manual itu sedikit lebih sulit. Karena ayahku suka mobil, aku pernah diberi penjelasan beberapa kali dulu, tapi aku tidak terlalu mengingatnya.

Pemahamanku cuma sebatas ada satu bagian operasional yang harus dilakukan sendiri. Yah, pasti gampanglah.

Saat itu, terdengar bunyi notifikasi dari ponsel Kageyama. Sepertinya ada pesan Line yang masuk.

"Hm, dari Koharu."

Karena upacara penerimaan akan segera dimulai, Kageyama mengubah ponselnya ke mode senyap.

"Ngomong-ngomong, bagaimana kabarmu dengan Koharu Hanayama akhir-akhir ini?"

"Koharu? Biasa saja, kok."

Kageyama adalah pacar dari gadis idola sekolah, Koharu Hanayama. Dari cerita yang kudengar, Koharu Hanayama-lah yang jatuh cinta pada Kageyama.

Gadis itu terus-terusan mendekatinya dengan gencar sampai akhirnya mereka berpacaran. Benar-benar membuat iri.

"Dia selalu nempel terus, aku jadi capek beneran."

Meski mulutnya berkata begitu, Kageyama terlihat sangat senang. Tentu saja.

Tidak ada pria yang tidak akan senang ditempel terus oleh bidadari cantik yang mengalahkan idola manapun.

Lagipula, baik Endou maupun Kageyama sudah punya pacar sekarang.

Dari kami bertiga yang menjalani masa muda yang suram, tidak kusangka aku satu-satunya yang tertinggal...

"Oh ya, aku dengar dari Koharu. Katanya kamu bertemu dengannya di tempat karaoke, ya?"

"Hm? Ah, iya."

Tidak bisa dibilang "bertemu" juga, sih. Saat para bocah nakal itu tersesat sehabis dari toilet, anak-anak klub tenis putri membawakan mereka kembali.

Aku sama sekali tidak mengobrol langsung dengan Koharu Hanayama. Itu wajar, mengingat jarak kami cuma sebatas kenalan dari kenalan.

"Memangnya kenapa? Apa dia bilang sesuatu?"

"Ah, tidak, bukan begitu."

Kageyama merendahkan suaranya seolah ragu untuk berbicara.

"Arizuki, apa benar kamu ditembak sama anak kelas satu?"

"Tu-tunggu, kau!"

Bisa-bisanya kau mengangkat topik itu saat ada orang tua! Aku segera membekap mulut Kageyama.

Untunglah, ibuku sedang asyik mengobrol dengan Bibi Yukimi.

Sepertinya dia tidak mendengar ucapan Kageyama barusan.

"Mmph, mmph."

"Kenapa kau bisa tahu?"

"Mmph mmggh."

"Apa kau bilang?"

"Mmgghhh."

Aku melepaskan tanganku dari mulutnya.

"Katanya anak itu temannya Koharu."

"Eh? Begitu, ya?"

"Kenapa kamu menolaknya?"

"Itu..."

"Kamu nggak punya pacar, kan?"

"Ugh!"

Jangan mengatakan hal yang menusuk hati dengan wajah polos begitu.

"Ada alasannya. Tapi aku tidak bisa mengatakannya pada orang lain."

"Hmph. Yah, kalau kamu nggak mau cerita, aku juga nggak bakal tanya lebih jauh, kok."

"Maaf, ya."

Bukannya aku membenci anak itu atau semacamnya. Setiap orang memiliki nilai-nilai yang mereka pegang.

Tentu saja, aku juga memiliki nilai-nilaiku sendiri. Hanya itu saja alasannya.

"Baiklah semuanya, sepertinya kalian semua sudah berkumpul."

Staf sekolah mengemudi masuk ke dalam kelas.

"Sepertinya sudah mulai."

"Iya."

Setelah itu upacara penerimaan selesai. Kami mengikuti kelas teori pertama dan pulang ke rumah hari itu juga.

◇

Keesokan harinya. Sepulang dari sekolah aku kembali meladeni bocah-bocah nakal itu seperti biasa.

"Aku bosan main Sm*sh, nih. Habis ini main apa?"

Mahiru bertanya kepada yang lain.

"Kalau gitu, ayo main ini."

Aku mengambil kotak permainan M*rio Kart. Ini untuk latihan bayangan demi kelas praktik mengemudi yang akan kuikuti malam ini.

"Yuu-nii, sepertinya kamu gelisah, ya."

Asaka yang duduk di sebelahku mendongak menatapku. Sepertinya kegelisahanku tersampaikan padanya.

"Ah, iya, mulai malam ini aku masuk sekolah mengemudi."

"Mau pindah sekolah?" tanya Miya.

"Bukan. Itu sekolah untuk mendapatkan SIM mobil."

"Mobil.... Yuu-nii hebat."

"Fuhaha, begitulah."

"Yuu-nii payah banget main M*rio Kart, emang bakal aman-aman aja?"

Mahiru tersenyum menyeringai.

"Bodoh. Jangan samakan game dengan dunia nyata. Yah, kalau aku yang pegang kemudi, pasti gampang."

◇

Gakon!

"Uwoh!"

Tepat saat aku merasakan guncangan besar yang menggetarkan seluruh badan mobil, suara mesin tiba-tiba mati. Lampu-lampu indikator di meteran menyala serentak, menandakan kondisi darurat.

Mesinnya mati.

"Ah, putaran mesinnya sedikit kurang, ya."

Instruktur pria paruh baya yang duduk di sebelahku berkata demikian.

"M-maaf."

"Injak pedal gasnya sedikit lebih kuat lagi. Ya, bagaimana mengatakannya..."

"Bayangkan kamu mengumpulkan tenaga di kaki kanan, lalu melepaskannya sedikit demi sedikit dengan kaki kiri—"

Gakon!

"Haa."

"M-maaf."

Pukul tujuh malam lewat, sehari setelah aku masuk. Kelas praktik pertama langsung dimulai, namun aku tak pernah mengira kalau menyetir mobil akan sesulit ini.

Padahal ayahku dan Tatchan selalu mengemudikan mobil manual dengan sangat santai.... Injak pedal gas maka mobil maju, injak pedal rem maka mobil berhenti.

Bukankah itu sudah cukup? Pedal misterius bernama kopling inilah yang tiba-tiba meningkatkan tingkat kesulitan mengemudi.

Di M*rio Kart saja tidak ada kopling. Berkatnya, untuk sekadar memajukan mobil saja susahnya setengah mati.

Setelah itu aku mengulangi mesin mati beberapa kali. Sampai akhirnya, aku merasa bisa menangkap insting tipis untuk mencegah mesinnya mati.

"Oh!"

Mobil latihanku perlahan mulai melaju.

"Kalau begitu, mari kita coba berkeliling lintasan luar."

"B-baik."

Getaran yang merambat dari kemudi ke telapak tanganku, auman dari mesin mobil.

Aku benar-benar merasakan kalau saat ini aku sedang mengendarai mobil.

Mobil adalah sesuatu yang selalu dikendarai oleh orang dewasa.

Masa kecilku selalu dihiasi kekaguman saat melihat mereka dari kursi penumpang.

Ah, aku sedang menyetir mobil sekarang. Mobil ini bergerak sesuai kehendakku.

"Arizuki-kun, sudah saatnya memasukkan gigi ke posisi dua."

"A-ah, baik."

"Injak kopling penuh, lepaskan pedal gas, masukkan gigi ke posisi dua, lalu lepaskan kopling."

Saat aku mencoba melakukan sesuai instruksinya, guncangan keras menghantam.

Tubuh mobil seolah melompat ke depan.

Untungnya mesin tidak mati, tapi apa-apaan guncangan tadi?

"S-sebaiknya lepaskan kopling sedikit lebih pelan lagi, ya."

"Baik."

Setelah itu, aku terus memutari lintasan luar selama beberapa waktu.

"Nah, di jalan lurus berikutnya, mari kita coba ngebut sampai 40 kilometer per jam."

"Eh?!"

Saat ini, aku sudah melaju dengan kecepatan super tinggi, yaitu 30 kilometer per jam.

Itu saja sudah cukup menakutkan, tapi sekarang dia menyuruhku menaikkan kecepatan sampai 40 kilometer sekaligus.

Aku memang pernah dengar rumornya, tapi sekolah mengemudi itu ternyata sangat disiplin dan kejam.

T-tapi, jalan lurusnya lumayan panjang, harusnya aman-aman saja, kan?

Setelah keluar dari tikungan, aku menginjak pedal gas. Jarum takometer bergerak naik dengan cepat, diiringi suara mesin yang semakin bising.

"Bagus, bagus~."

Aku bisa merasakan diriku mencapai kecepatan yang belum pernah kualami sebelumnya. Tubuhku terdorong ke belakang kursi.

Aku berada di dunia akselerasi. Inikah yang dinamakan dengan ranah Clear M*nd...?

Bahkan belum sampai beberapa detik berlalu, aku sudah melewati setengah jalan lurus. Saat aku tersadar, tikungan berikutnya sudah ada di depan mata.

"Uwoooh!"

Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menginjak pedal rem.

"Injak remnya sedikit lebih lembut lagi, ya~."

Instruktur itu berbicara dengan nada santai. Namun, aku sendiri sudah kelabakan setengah mati.

 

3

Keesokan harinya, Mahiru datang bermain ke rumah.

Miya dan Asaka sepertinya ada urusan, jadi hari ini hanya dia sendirian. Kami mengobrol santai sambil bermain game bersama.

"Yuu-nii, bagaimana sekolah mengemudinya?"

Tanya Mahiru setelah menenggak habis kolanya sekaligus.

"Yah, begitulah."

Aku lalu menceritakan pengalaman horor melaju dengan kecepatan 40 kilometer per jam yang kualami kemarin. Mahiru tersenyum seolah meremehkanku.

"Hihihi, Yuu-nii, kamu ketakutan, ya?"

"Apa katamu?"

"Kecepatan 40 kilometer itu kan pelan banget."

Dia berkata begitu sambil tertawa terbahak-bahak.

"Grrr."

Sebelumnya aku juga berpikir begitu. Namun setelah mencoba mengemudi sendiri, pemikiran itu langsung lenyap dalam sekejap.

Aku menyadari betapa hebat sekaligus mengerikannya menggerakkan bongkahan besi seberat hampir satu ton dalam kecepatan tinggi dengan kendaliku sendiri.

"Yah, Yuu-nii kan memang penakut. Waktu main perosotan air kemarin juga kamu ketakutan banget."

"Ha? Aku nggak takut, kok.... Lagian, waktu aku memungut kucing jalanan tempo hari, kamu juga ketakutan dan cuma berani pegang bagian ekornya, kan?"

"Nggak, tuh. Itu karena menurutku bagian ekornya lebih enak dielus. Lagipula, nggak ada hal yang aku takuti di dunia ini."

Mahiru melipat tangannya dan menegaskan hal itu sambil sedikit membusungkan dada.

"Beraninya kau bilang begitu, ya."

Baiklah kalau begitu. Akan kutunjukkan padamu. Aku pergi ke ruang kerja ayah dan mengambil sebuah film horor dari rak yang berisi kumpulan DVD film. Setelah itu, aku kembali ke kamarku.

"A-apa itu?"

Tubuh Mahiru langsung menegang.

"Fuhaha. Kamu bilang nggak ada hal yang kamu takuti, kan? Bagaimana kalau kita bertanding melihat siapa yang menyerah duluan?"

◇

"...."

"...."

Aku dan Mahiru duduk berdampingan di tepi tempat tidur. Kamar terasa remang-remang karena tirai ditutup dan lampu dimatikan.

Sudah hampir satu jam berlalu sejak kami mulai menonton film horor tersebut.

Ceritanya masih berada di pertengahan, tapi kondisi mentalku sudah mencapai batasnya. Aku takut.

Film ini adalah film horor berbalut misteri.

Ceritanya tentang para tokoh utama yang terjebak di dalam rumah terkutuk, mencoba kabur sambil memecahkan misteri rumah tersebut dan berlari dari monster yang tersegel.

Musik latar yang mengerikan dan set rumah menyeramkan yang digarap dengan detail sangat terasa mencekam.

 Terlebih lagi, ketegangan dari kemunculan monster yang tiba-tiba menyerang tanpa aba-aba membuat penonton tidak bisa bernapas lega sedikit pun.

Ayo cepat menyerah, Mahiru.

Aku melirik kondisinya dari sudut mataku, dia terus menatap layar dengan pandangan tegang.

Saat itulah, aku menyadari bahwa bahunya sedikit gemetar.

Aku tidak menyadarinya karena terlalu fokus pada filmnya. Namun jika diperhatikan dengan saksama, seluruh tubuhnya terlihat gemetar kecil.

"Guooooooo!"

Di dalam layar, monster itu menghancurkan dinding dan menyerang kelompok tokoh utama.

"Hiik!"

Terdengar jeritan tertahan yang tak pernah kubayangkan bisa keluar dari Mahiru yang biasanya. Tak lama kemudian, dia menggenggam tanganku dengan lembut.

"...."

Apa yang sedang kulakukan ini. Bisa-bisanya aku terpancing emosi oleh seorang anak kecil dan memaksanya menonton film horor.

Tidakkah aku merasa menyedihkan sebagai orang dewasa? Aku merasa malu atas kelakuan dan sifat kekanak-kanakanku sendiri.

"Ah, aku sudah nggak tahan. Aku mengaku kalah."

Aku mengambil remot lalu menekan tombol jeda. Setelah itu, aku membuka tirai dan menyalakan lampu kamar.

"Ah."

"Aah, seram banget, deh."

"Hehe. Yuu-nii kalah, kan."

Mahiru menunjukkan wajah bangganya.

"Sial, aku udah nggak berani nonton lagi saking takutnya. Mahiru hebat, ya."

"Heheh, tentu saja, karena nggak ada hal yang aku takuti."

Setelah mengatakan itu, Mahiru berlari keluar kamar dengan tergesa-gesa.




◇

"Fuh."

Mahiru berlari terburu-buru ke dalam toilet.

Sejak tadi dia sudah tidak tahan ingin buang air kecil.

Namun, dia sengaja menahannya karena takut Arizuki akan salah paham dan mengiranya ketakutan jika dia keluar kamar dengan alasan pergi ke toilet.

"Aku penasaran dengan kelanjutan film itu."

Mahiru pun berniat untuk menyewa DVD film tersebut saat perjalanan pulang nanti.



Chapter 3 | ToC | Chapter 4

Post a Comment

Post a Comment

close