Chapter 4
Bunga di Langit Malam dan Mengumpulkan Saksi
1
"Tahun depan mari kita lihat
bersama lagi, ya."
Sambil menatap bunga-bunga yang
bermekaran penuh di langit malam, aku membisikkan hal itu kepada Yuu-nii.
"Tentu saja."
Ucap Yuu-nii sambil memakan es
serutnya.
Aku percaya bahwa kami berempat akan
bisa terus bermain dengan riang selamanya. Setiap kali musim panas tiba, aku
sangat yakin bisa memandangi kembang api yang luar biasa ini bersama Yuu-nii.
Namun, janji itu tidak pernah terwujud.
Karena sejak pergi ke ibu kota, selama
sepuluh tahun Yuu-nii tidak pernah pulang sekali pun.
Itu hanyalah satu halaman dari kenangan
yang sudah lama berlalu.
Kilauan kembang api yang kulihat malam
itu, hingga kini pun masih bisa kuingat dengan sangat jelas.
◇
"Panasnya."
"Yuu, taruh ini di sebelah
sana."
Ibu menyodorkan sebuah kotak pendingin
kepadaku.
"Iya, iya... Berat juga,
ya."
"Sayang, jangan lemas begitu,
cepat gerakkan tanganmu."
"U-uhum."
Di bawah tenda yang sudah selesai
didirikan, persiapan stan jualan dimulai dengan sibuknya.
Ini adalah festival musim panas
asosiasi warga yang diadakan di taman dekat rumah.
Kedai 'Moonlight Terrace' kebanggaan
kami pun ikut membuka stan seperti tahun-tahun sebelumnya, meski aku sendiri
sudah lama tidak berpartisipasi. Kami menjual es serut dan minuman berbahan
dasar kopi.
Kami sangat sibuk mempersiapkannya
sejak pagi hari.
Saat semua persiapan selesai, waktu
sudah menunjukkan sedikit lewat tengah hari. Para pengunjung pun perlahan mulai
berdatangan.
Karena perutku lapar, baru saja aku
berniat berkeliling stan jualan, tiba-tiba sebuah suara memanggilku.
"Yuu-nii."
Mahiru datang menghampiri. Dia
mengenakan topi hitam, kaus putih, dan celana pendek denim.
Sebuah ban pergelangan tangan hitam
melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Oh, Mahiru ya."
"Ini, ada makanan buat
kalian."
Mahiru menyodorkan sebuah kantong
berisi tiga porsi yakisoba. Keluarga Ryuuseki memang kebagian mengurus kedai
yakisoba, dan mereka mendapat lokasi terbaik di dekat pintu masuk.
"Terima kasih, Mahiru-chan."
Ucap ibu.
"Thanks, ya."
"Aku sendiri lho yang
memasaknya."
"Hoo, kedengarannya enak banget. Baiklah, bawa ini. Aku yang traktir."
Aku membuatkan es serut dan
menyodorkannya kepada Mahiru.
"Terima kasih. Hari ini juga
panas, ya."
Mahiru menyeka peluh yang mengalir
tipis di dahinya, lalu menengadah menatap matahari. Suara jangkrik
Tsukutsukuboushi mulai terdengar.
"Miya dan Asaka di mana?"
"Mereka bilang mau ganti yukata di
rumah Miya dulu sebelum ke sini. Seharusnya sih sebentar lagi mereka
datang..."
"Mahiru tidak pakai yukata?"
"Rencananya aku mau ke rumah Miya
sore nanti buat pinjam yukata. Kalau kupakai sekarang saat memasak yakisoba,
malah jadi repot dan bau asapnya bakal nempel."
"Begitu, ya."
Pada saat itulah.
"Halo~"
"Halo~"
"Halo~"
Misora, Tatsuki, dan Mei datang
bersamaan. Mereka bertiga masing-masing memegang makanan, seperti takoyaki,
yakisoba, dan pisang cokelat.
Sepertinya mereka sudah selesai
berkeliling satu putaran.
"Oh."
"Halo. Kalian datang lebih
awal, ya."
Ucap Mahiru seraya membungkukkan
badannya untuk menyamakan pandangan dengan mereka bertiga.
"Kami juga beli yakisoba dari
tempat Mahiru-chan lho," ucap Misora sambil memegang yakisoba.
"Terima kasih, ya."
"Miya belum datang?"
Saat aku bertanya, Misora merespons
dengan nada seolah pasrah.
"Kakak bangun kesiangan. Dia
baru bangun saat aku hendak berangkat ke sini. Katanya
sih, semalam dia terlalu antusias sampai tidak bisa tidur."
"Dasar bocah anak itu."
"Sangat mencerminkan Miya,
ya."
Ucap Mahiru sambil tertawa kecil.
"Kalau begitu, aku balik ke kedai
dulu. Sampai nanti."
"Ya."
"Kakak itu benar-benar tidak bisa
diandalkan. Oh iya, Bibi, aku pesan es serut dong~"
"Iya~ Mau rasa apa?" Ibu langsung beralih ke mode melayani pelanggan.
"Stroberi," jawab Misora.
"Melon," sahut Tatsuki.
"Blue Hawaii," tambah Mei.
Sebenarnya, aku ingin membeberkan fakta
bahwa semua sirup es serut itu rasanya sama. Namun, aku tak tega menghancurkan
impian anak-anak, jadi kuurungkan saja niatku.
"Kalian tidak pakai yukata?"
Mereka bertiga memakai pakaian kasual
seperti biasa.
"Yukata? Hmm, rasanya tidak perlu,
deh."
"Lagipula cuacanya panas."
"Oh, begitu."
"Yuu-san, ini buatmu."
Mei menyodorkan pisang cokelat dengan
malu-malu.
"Tidak apa-apa?"
"Iya."
"Terima kasih, ya."
"Ehehe."
"Ini, maaf menunggu lama~"
Ibu telah selesai membuat tiga porsi es
serut. Mereka masing-masing menerima pesanan tersebut.
"Kalau begitu, sampai nanti,
ya."
Selesai mengantar kepergian Misora dan
yang lainnya, aku pun kembali ke bawah tenda.
Aku mengisi tenaga dengan memakan
yakisoba pemberian Mahiru dan pisang cokelat dari Mei. Aku putuskan untuk
berkeliling stan setelah Miya dan yang lainnya datang saja.
Karena jumlah orang semakin banyak,
sebaiknya aku juga ikut melayani pelanggan.
Karena ini hanya festival berskala
asosiasi warga, pengunjungnya memang tidak bisa dibilang banyak, tetapi kami
tetap saja sibuk melayani mereka.
"Ini, terima kasih, ya."
Aku menyerahkan es serut stroberi susu
kental manis beserta uang kembalian kepada seorang gadis kecil seumuran anak
SMP.
"Terima kasih banyak."
Sambil memamerkan senyuman riang, gadis
itu berlari kecil menghampiri seorang anak laki-laki yang menunggu di dekat
sana.
Apakah mereka sepasang kekasih? Atau
mungkin kakak beradik?
Dilihat dari cara mereka bergandengan
tangan, aku menyimpulkan kalau mereka berpacaran.
"Yuu-nii!"
"Yuu-nii."
"Hm?"
Aku mendengar dua suara yang saling
tumpang tindih. Saat kutolehkan kepala, tampak Miya dan Asaka dalam
balutan yukata.
"Oh, kalian rupanya."
Yukata Miya berwarna dasar hitam dengan
motif bintang kuning yang bertebaran di sana-sini. Mungkin terinspirasi dari
langit malam.
Sebuah corak bulan sabit hitam tampak
mencolok di ujung sabuk obi kuningnya. Rambutnya diikat tinggi dan dihiasi
dengan jepit rambut kanzashi.
"Yuu-nii, bagaimana
menurutmu?"
Yukata Asaka memiliki warna dasar putih
yang dipenuhi lukisan bunga mawar merah. Bagian kerahnya sedikit terbuka,
mungkin karena udara yang panas.
Pemandangan sebulir keringat yang
mengalir di pipinya yang seputih es serut benar-benar terlihat menggoda.
"Kalian berdua terlihat sangat
cocok memakainya."
"Heheee."
Miya menaruh kedua tangan di pinggang
dan membusungkan dadanya bangga.
"Terima kasih banyak."
"Oh iya, aku sudah dengar lho,
Miya. Katanya kamu bangun kesiangan, ya."
"Hah!? D-dari siapa kamu dengar
hal itu?"
"Misora dan yang lainnya baru saja
mampir ke sini."
"T-tidak kok, aku cuma bangun
kesiangan sedikit saja, tidak sampai yang berlebihan―"
"Aku sampai harus menunggu dua
setengah jam lho. Padahal kami janjian kumpul jam sembilan."
Asaka meletakkan tangannya di pipi
sambil menghela napas.
"Asaka!? Kamu berkhianat,
ya?"
"Ufufu."
"Kamu ini benar-benar..."
"Itu tidak benar, aku tidak bisa
tidur semalaman tahu."
"Yuu, kamu boleh pergi istirahat
sana."
"Oh. Baiklah, ayo kita
pergi."
"Yuu-nii dengar aku nggak
sih!?"
Karena sudah mendapat izin dari
ibu, aku pun memutuskan untuk berkeliling festival bersama mereka berdua.
Tempat pertama yang kami tuju
adalah kedai yakisoba milik keluarga Ryuuseki.
"Mahiru, ayo pergi~"
Miya memanggilnya.
"Ah, tunggu sebentar. Biar aku
selesaikan memanggang ini dulu... Hop."
Mahiru menggulung lengan bajunya
hingga bahunya terbuka, dan ia mengikatkan kain hachimaki di kepalanya.
Auranya persis seperti kakak
perempuan yang keren, sangat cocok dengan suasana festival musim panas.
"Mama, aku boleh pergi bersama Yuu-nii
dan yang lainnya?"
"Boleh."
Ibu Mahiru, Asuka-san, mengambil alih
spatula itu. Meski begitu, postur tubuhnya tetap saja terlihat
besar seperti biasa.
"Yosh, ayo berangkat."
Dia sudah melepaskan ikat
kepalanya, tapi membiarkan lengan bajunya tetap tergulung. Cuacanya
pasti terasa sangat panas.
Sebagai permulaan, kami berjalan santai
mengelilingi deretan stan jualan.
"Eh? Bukannya itu Misora dan yang
lainnya?"
Tanya Mahiru.
Saat kulihat, Misora, Tatsuki, dan Mei
sedang berada di stan memancing balon yoyo.
"Bikin kangen saja. Dulu kalian
juga sering memancing yoyo seperti itu."
"Yuu-nii, lihat itu. Bukankah itu
juga bikin kangen?"
Miya menunjuk ke arah sebuah bangunan.
"Oh, tempat itu ya."
Bangunan itu adalah rumah hantu yang
dikelola oleh pihak luar.
Konstruksinya terbilang cukup megah
untuk ukuran festival warga biasa, tapi kurasa sorot mata tajam nenek penjaga
loketnya justru adalah hal yang paling menyeramkan.
Boneka kerangka, rokurokubi, dan
karakasa-kozou berbaris di pintu masuk sambil bergerak dengan kaku.
Mungkin karena alat-alatnya sudah tua,
tapi gerakan kaku itu justru sangat membantu menciptakan suasana yang semakin
menyeramkan.
"Kalian semua, beraninya ya waktu
itu meninggalkanku sendirian di dalam―"
"Hahaha, apa hal semacam itu
pernah terjadi, ya?"
"Mahiru, jangan bilang kamu sudah
lupa."
"Ahaha, pokoknya, ayo kita masuk
saja."
"Empat tiket untuk orang
dewasa, ya."
Setelah membayar uang pada sang
nenek, kami melangkah masuk ke dalam.
Lorong sempit di dalam sana terselimuti
oleh kegelapan.
Sumber penerangannya hanyalah dari
lampu-lampu merah yang tergantung sejajar di langit-langit.
Ruangan itu benar-benar sunyi senyap,
dan hanya gema dari derap langkah kaki kami yang terdengar tanpa emosi.
"E-entah kenapa, bukannya
kualitasnya jadi jauh lebih bagus dibanding dulu?"
"M-Miya, aku jadi susah jalan
tahu."
"Habisnya~"
Miya berdiri tepat di belakang Mahiru
sambil memeluk pinggangnya erat-erat.
"Mahiru, wangi tubuhmu seperti
makanan yang enak."
"Karena dari tadi aku terus
memanggang yakisoba."
"Kyaa!" Asaka memekik kaget
dan langsung memelukku erat.
"A-a-ada apa?"
"Sepertinya tadi ada orang di
sudut sana."
Asaka terus menempel padaku tanpa mau
melepaskan pelukannya.
"Aku juga merasa ada sesuatu
yang bergerak di sana."
Kami berempat saling bertatapan,
lalu melanjutkan langkah dengan ekstra hati-hati.
Cara mereka yang memaksa kami untuk
bersiap menghadapi kedatangan sesuatu secara tiba-tiba ini berarti...
Inti dari cara menakut-nakuti hantu
Jepang itu terletak pada tempo ketegangannya.
Jangan-jangan...
Aku pun membulatkan tekad dan berbelok
ke sudut itu.
Namun, seperti dugaanku, tidak ada
apa-apa di sana.
"Ada apa, Yuu-nii?"
"Kalian semua, mari kita menoleh
ke belakang saat aku menghitung sampai tiga."
"?"
"?"
"?"
"Satu, dua, tiga!"
Saat menoleh ke belakang, tampak
seorang pria dengan perban melilit sekujur tubuhnya tengah berdiri tanpa
mengucapkan sepatah kata pun.
"Gyaaaaaaaaaaaa!"
"Kyaaaaaaaaaaaa!"
"Kyaaaaaaaaaaaa!"
"Kyaaaaaaaaaaaa!"
◇
"Miya, sampai kapan kamu mau terus
menempel begini?"
"Mahiruuuu~"
Miya yang dalam kondisi setengah
menangis masih terus menempel di punggung Mahiru tanpa mau melepaskannya.
"Menakutkan sekali, ya."
Asaka juga masih memeluk lenganku
dengan erat, mungkin masih merasakan sisa-sisa ketakutannya.
Setelah keluar dari rumah hantu, kami
pun beristirahat di area makan yang tak jauh dari sana.
"Perutku rasanya sedikit lapar.
Haruskah kita makan sesuatu?"
"Benar juga."
Kami mulai membeli makanan dan minuman
dari stan-stan terdekat.
"Yuu-nii, tadi mereka juga menjual
bir, lho."
"Hng, kalau alkohol nanti malam
saja."
Aku membasahi kerongkonganku dengan
Ramune dan mulai menyeruput ramen.
Entah mengapa, ramen dengan mi yang
lembek dan kuah murahan khas acara festival seperti ini malah terasa lezat.
Padahal kalau ramen seperti ini
disajikan di rumah makan biasa, aku pasti akan langsung murka.
"Ah, Mahiru. Makannya pisang
cokelat dengan cara yang normal saja, ya?"
Karena kulihat Mahiru memegang pisang
cokelat, aku pun buru-buru memperingatkannya.
"Cara makan tidak normal apanya
coba?"
"Eh? Enggak, aku cuma nggak bisa
mengatakannya saja."
"?"
Selesai makan, kami berempat kembali
berkeliling santai. Tak lama kemudian, suara jangkrik higurashi mulai terdengar
saling bersahutan, dan terik matahari pun kian meredup.
"Kalau begitu, kurasa sudah
saatnya aku pergi ke tempat Bibi."
Untuk meminjam yukata, Mahiru pun undur
diri sejenak dari festival dan melangkah menuju rumah keluarga Haruyama.
Sepertinya sudah saatnya aku kembali ke
stan.
"Kalau begitu, mari kita kumpul
lagi di sini jam tujuh malam, ya."
Saran Miya.
Omong-omong soal jam tujuh malam, itu
merupakan waktu dimulainya peluncuran kembang api yang menjadi acara utama di
festival ini.
"Boleh juga."
Dan dengan demikian, untuk sementara
waktu kami pun membubarkan diri.
Aku kembali ke stan jualanku dan
bekerja sekeras mungkin.
Kemudian tibalah sekitar pukul setengah
tujuh malam.
"Huft, sudah mulai ramai,
ya."
Jumlah pengunjung yang ingin melihat
kembang api semakin bertambah.
Meski ini cuma festival berskala
perumahan warga, nyatanya kondisi taman sangatlah padat oleh lautan manusia.
Memang masih ada waktu sebelum janji
pertemuanku dengan Miya dan yang lainnya, tapi kurasa aku harus berangkat
sekarang.
Saat aku hendak melangkah keluar dari
tenda, seseorang tiba-tiba menarik bajuku.
◇
"Yuu-nii nggak datang, ya?"
Padahal kembang apinya tinggal lima
menit lagi.
"Iya, ya."
"Mungkin dia sibuk bekerja."
"Biar aku yang pergi
memanggilnya."
Dasar Yuu-nii ini.
Dia sama sekali tidak tahu seberapa
menantikannya diriku untuk hari ini.
Namun, saat kulihat di bawah tenda
keluarga Arizuki, ternyata hanya ada Paman dan Bibi saja.
"Ara, Miya-chan rupanya."
Bibi sedang memakan sate yakitori
sambil memegang sekaleng bir di salah satu tangannya.
"Bibi, Yuu-nii di mana?"
"Yuu? Perasaan dari tadi dia masih
ada di sini."
Apa kami saling berselisih jalan?
Tapi, dari perjalananku ke sini tadi
aku sama sekali tidak berpapasan dengan Yuu-nii...
"Hm?"
Pada saat itulah, aku menyadari bahwa
permukaan tanah terlihat begitu basah.
Seolah-olah baru saja ada seseorang
dalam keadaan basah kuyup yang berjalan melewatinya...
Merasa curiga, aku pun menelusuri jejak
air itu.
Arah jalannya menuntunku menuju area
yang dipenuhi pepohonan dan semak belukar lebat layaknya sebuah hutan kecil.
Entah mengapa, terdengar riuh suara
anak-anak kecil dari sana.
Aku pun mengintip situasi itu dari
balik bayangan pohon secara diam-diam.
"Apa ada orang― Pugya!"
Sebuah benda kenyal nan elastis
menghantam wajahku dengan telaknya.
"Ah, Kakak."
Ini kan suara Misora.
"Hei, Miya, kamu baik-baik
saja?"
Ternyata Yuu-nii juga ada di sini.
"Tunggu, tunggu, apa-apaan
ini?"
Terlihat balon yoyo yang telah
mengempis tergeletak di dekat kakiku.
Jadi, benda ini yang baru saja
mengenai wajahku?
"Miya-san juga mau ikut
main?"
Tanya Tatsuki-chan yang tubuhnya
sudah basah kuyup.
"Heh?"
"Kami sedang main perang balon
air," ucap Mei-chan.
Anak ini rupanya juga basah kuyup
dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Omong-omong, yang tadi
melempar sampai kena wajahmu itu Yuu-san, lho."
Ujar Misora.
"Yah, maaf, maaf, tubuhmu tidak
sampai basah, kan, Miya?"
"U-umm. Tidak masalah kok. Eh,
tunggu dulu, apa yang sedang Yuu-nii lakukan? Tubuhmu sudah basah kuyup sampai
begitu."
"Yah, aku diajak oleh
Misora-chan, jadi merasa kangen saja."
"Ini sudah hampir jam tujuh
lho."
"Sudah jam segitu, ya."
"Kembang apinya sudah mau
mulai."
"Maaf, maaf."
"Kalian juga, Misora."
"Kami masih mau main sebentar
lagi, jadi duluan saja."
Misora mengatakan hal itu sambil mulai
menyiapkan balon air berikutnya.
"Kalau sudah selesai, bereskan
semuanya sampai bersih, ya?"
"Yaa~"
"Iya."
"Iyaaa."
"Oh, sudah mulai rupanya."
Begitu kami keluar dari hutan kecil
itu, terdengar suara ledakan keras yang menggelegar. Bunga raksasa terlukis di
langit malam.
"Wah, indahnya."
"Tuh kan, sudah mulai. Ayo
buruan."
Kami pun bergabung dengan dua orang
lainnya di area makan.
"Ooi, Yuu-nii."
"Oh, Mahiru. Kamu sudah ganti baju
pakai yukata, ya."
"Bagaimana?"
"Sangat cocok untukmu."
"Hehe."
Yukata Mahiru berwarna dasar merah
dengan motif ikan mas koki putih yang sedang berenang, memberikan kesan elegan.
Namun, apa cuma perasaanku saja kalau bagian dadanya terlihat sangat sesak?
"Ini, Yuu-nii, birnya."
Asaka menyerahkan sekaleng bir kepada Yuu-nii.
"Oh, terima kasih. Tapi kenapa ada
banyak sekali minuman keras di sini?"
"Bibi membawakannya sebagai hadiah
untuk Yuu-nii."
"Padahal aku tidak bisa minum
sebanyak ini. Ah, kalian masih belum boleh meminumnya, lho."
"Aku tahu kok. Ada banyak makanan
juga, nih."
Ucap Mahiru. Tadi kami semua baru saja
pergi membeli makanan.
Kami pun duduk di tempat yang
kosong.
"Hups. Kembang apinya indah
sekali, ya."
"Yuu-nii ini benar-benar, deh.
Padahal aku ingin kita berempat melihat peluncuran pertamanya
bersama-sama."
Saat aku mengatakan hal itu, Yuu-nii
tertawa lebar dan berkata,
"Sudahlah, tenang saja. Tahun
depan kan juga masih ada."
"...Dasar Yuu-nii ini."
Festival kembang api yang dilihat oleh
kami berempat ini sudah berkali-kali muncul dalam mimpiku. Kembang api dari
kenangan masa lalu yang jauh kini tumpang tindih dengan kembang api di depan
mataku.
2
Kembang api bermekaran dengan indahnya
tepat di atas kepala kami. Setiap kali hal itu terjadi, sorak-sorai terdengar
dari sekeliling, semakin memeriahkan suasana malam musim panas ini.
"Indah sekali, ya."
Mahiru menengadah menatap langit sambil
mengipasi dirinya. Meskipun biasanya ia sangat aktif, sosoknya dalam balutan
yukata sambil memegang kipas tampak begitu anggun bagaikan sebuah lukisan.
Bahkan saat ia mendekatkan mulutnya ke
kaleng kola, rasanya ia terlihat lebih seksi dari biasanya.
"Iya, indah sekali."
"Yuu-nii, barusan kamu
mengatakannya sambil menatap Mahiru, kan?"
Miya memelototiku dengan tajam.
"Hah? Bodoh, mana mungkin
begitu."
"Hmph, jadi aku ini tidak cantik,
ya."
Ucap Mahiru sambil menundukkan
kepalanya.
"Bukan begitu maksudku. Kalian
semua terlihat cantik dan cocok memakai yukata."
"Fufufu, aku cuma menggodamu saja
kok."
Mahiru menutupi mulut dengan kipasnya,
seolah menahan tawa.
"Gadis nakal ini..."
Wajahku terasa panas karena berhasil
dikerjainya.
"Ini, Yuu-nii."
Asaka menuangkan minuman untukku. Bir
itu tertuang perlahan sambil mendorong busa ke permukaan.
"Terima kasih."
Suara ledakan yang menyenangkan
terdengar tanpa henti. Bunga malam yang mekar dengan megahnya itu menyebarkan
cahaya redup yang berjatuhan, lalu segera tertimpa oleh kembang api baru yang
menyusul.
"Miya, itu menetes, menetes."
Seru Mahiru. Es krim
yang dipegang Miya ternyata meleleh.
Sepertinya anak itu terlalu asyik
menikmati kembang api sampai tidak menyadarinya.
"Wawaa... Aman."
Miya buru-buru menjilat bagian es
krim yang hampir menetes itu.
"Miya-chan juga mau minum
sesuatu?"
"Hng, teh gandum saja kalau
begitu."
"Ini. Oh iya, Yuu-nii, ada waktu
sebentar?"
Asaka mulai angkat bicara saat
gelombang pertama peluncuran kembang api selesai. Entah kenapa raut wajahnya
terlihat serius.
"Hm?"
"Sebenarnya, tadi aku sudah
mengatakannya pada mereka berdua."
Setelah memberikan kaleng teh gandum
kepada Miya, Asaka duduk manis di sebelahku.
"Ada apa ini? Tumben sekali sampai
serius begitu."
"Bukan kok, ini bukan hal yang
terlalu serius. Sekitar minggu depan, maukah kalian pergi bermain ke vila
keluargaku?"
Minggu depan, minggu terakhir di bulan
Agustus.
"Boleh saja. Ah, di daerah
Shounan, ya?"
"Iya. Liburan musim panas tinggal
sebentar lagi, jadi aku ingin membuat kenangan bersama semuanya."
"Ide bagus."
Membuat kenangan terakhir musim panas
di vila dengan pemandangan laut, ya. Seingatku, sudah lebih dari sebulan
berlalu sejak terakhir kali aku berkunjung untuk menemui Asaka di sana.
Waktu itu cuacanya masih sejuk khas
awal musim panas, tapi suasana di puncak musim panas seperti ini pasti akan
terasa berbeda.
"Ngomong-ngomong, kita berempat
memang belum pergi ke laut sama sekali, ya."
Mulai dari berkemah, ke kolam renang,
mendaki gunung, hingga festival musim panas—aku pikir kami sudah memainkan
segalanya, tapi ternyata masih ada acara puncaknya.
Kalau bicara soal musim panas, pasti
terpikirkan laut. Dan kalau bicara soal laut, pasti terpikirkan musim panas.
"Ide yang bagus, kan."
"Laut di sana benar-benar
indah, lho," timpal Miya.
"Yuu-nii sebelumnya sudah pernah
pergi ke sana, kan?"
Tanya Mahiru.
"Iya. Waktu aku pergi menemui
Asaka sebelum liburan musim panas. Saat itu, Hanayoshi-san juga ikut—"
"Vila? Aku juga mau ikut~"
Tiba-tiba, Misora menyela pembicaraan
kami. Perang balon air sepertinya sudah selesai, dan ia tampak mengenakan kaus
yang basah kuyup.
"Tunggu sebentar, Misora,
tubuhmu kan masih basah."
"Tidak apa-apa kok, nanti juga
bakal cepat kering. Lagipula, Asaka-chan, aku juga mau ikut pergi."
"Boleh kok. Misora-chan juga mau
datang?"
"Eh, memangnya tidak
apa-apa?" ucap Miya sambil mengerutkan kening.
"Horeee~"
"Jangan, ah. Misora itu cuma bikin
ribut saja."
"Yang berisik itu kan Kakak."
"Apa kamu bilang?"
"Sudah, sudah, Miya-chan.
Rencananya aku bukan cuma mengajak Misora-chan, tapi juga Paman dan Bibi,
kok."
"Eh!? Ayah dan Ibu juga?"
"Iya. Kalau keluarga Mahiru-chan
bagaimana?"
"Keluargaku? Entahlah, ya."
Ada apa ini? Aku sempat mengira cuma
kami berempat saja seperti saat berkemah, tapi ternyata dia berencana
mengumpulkan banyak orang.
"Asaka, apa cuma kita saja yang
pergi?"
"Iya. Aku juga sangat berharap
Paman dan Bibi dari keluarga Yuu-nii bisa ikut."
"Ayah dan Ibuku juga?"
"Iya. Berkumpul dengan banyak
orang pasti akan lebih menyenangkan."
Sepertinya ini akan jadi rombongan yang
cukup besar. Meski begitu, ukuran vila itu memang sangat luas, jadi kurasa
masalah jumlah orang tidak akan jadi halangan.
"Hei, Asaka-chan, bolehkah aku
juga mengajak Tatsuki dan Mei?"
"Hei, Misora, jangan
ngelunjak—"
"Boleh," jawab Asaka yang
langsung menyetujuinya tanpa ragu.
"Horeee~"
Misora mengangkat tangannya bersorak
kegirangan, lalu berlari menghampiri Tatsuki dan Mei.
"T-tidak apa-apa, Asaka?"
Miya memasang wajah kebingungan.
"Iya."
Asaka membalasnya dengan senyuman
cerah.
"Yah, kalau Asaka tidak keberatan
sih aku juga oke saja."
"Nanti coba bicarakan juga
dengan Paman dan Bibi, ya."
"Iya, aku mengerti."
"Oh, sudah dimulai lagi
tuh~"
Seru Mahiru.
Kembang api kembali melukis langit
malam.
Saat gelombang kedua peluncuran
dimulai, Hikari yang memasang wajah kelelahan datang menghampiri.
"Haduh, capeknya."
"Shimomura, kerja bagus."
"Hari ini aku benar-benar
kelelahan karena harus keliling ke sana kemari sejak pagi."
Ayah Hikari menjabat sebagai ketua RT,
dan sebagai bagian dari panitia penyelenggara festival, Hikari pun sangat sibuk
membantu di setiap stan, menyiapkan kembang api, hingga berdiskusi dengan
vendor.
"Pasti sangat berat, ya."
"Bukan cuma sekadar berat tahu.
Setelah ini aku juga masih harus menjadi pembawa acara untuk permainan
bingo."
"Hikari-san, mau minum bir?"
Asaka menyela di antara aku dan Hikari,
lalu menyodorkan gelas ke arah gadis itu.
"Terima kasih, Asaka-chan~"
Ia langsung menenggak habis bir yang
telah dituangkan itu.
"Puuha, rasanya luar biasa sekali
bisa dituangkan minuman oleh gadis SMA."
"Gayamu persis seperti om-om
saja."
"Berisik, Arizuki-kun."
"Ufufu."
Asaka kembali menuangkan gelas kedua
untuknya.
"Hei, hei, Mama," ucap
Tatsuki yang tiba-tiba melompat memeluk Hikari.
"Wah, ada apa Tatsuki... Eh,
kenapa bajumu bisa basah kuyup begini!?"
"Ehehe, tadi aku habis main
perang balon air."
"Ampun, deh. Sudah kamu
bereskan semuanya, kan?"
"Sudah kuberamkan, kok. Oh
iya, tahu nggak, Asaka-chan itu..."
Kemudian, gadis kecil itu mulai
membicarakan tentang undangan ke vila tersebut.
"Terus, katanya aku, Misora,
dan Mei juga boleh ikut pergi lho."
"Eh, jadi sungkan rasanya pada
Asaka-chan."
"Tidak apa-apa kok. Kalau
berkenan, apa Hikari-san juga mau ikut?"
"Aku juga?"
"Semakin banyak orang, pasti akan
semakin seru."
"Eh~, hmm..."
Hikari menunjukkan raut wajah bimbang
sembari meneguk gelas keduanya.
"Ayolah, boleh, kan~"
Tatsuki menggoyang-goyangkan bahu
ibunya. Di belakang mereka, Misora dan Mei tampak asyik bermain gim.
"Hah!? Kenapa serangannya bisa
kena titik vital di sana?"
"Hehe~ Tinggal satu ekor
lagi."
Agak jauh dari sana, ibu dan ayahku
sedang minum-minum sambil berbincang dengan pasangan suami istri Haruyama.
Setiap tempat dipenuhi oleh
keramaian, dan hiruk pikuk yang memberikan rasa kebersamaan seperti ini entah
mengapa membuatku merasa nyaman.
"Hei, hei, mari kita mengadakan
barbeku di pantai,"
Ucap Mahiru.
"Ayo bawa baju renang juga,
ya."
Ucap Miya.
"Nanti beritahu aku kapan kalian
semua punya waktu luang, ya."
Asaka tersenyum dengan lembut.
Melakukan perjalanan singkat
bersama-sama ke vila tepi laut di penghujung musim panas, ya. Kurasa ini akan
menjadi kenangan yang sangat indah.
3
"Nice serve!"
Hawa panas dan teriakan para gadis
memenuhi seluruh penjuru gimnasium. Bola berterbangan ke sana kemari melintasi
lapangan, diiringi bunyi decitan dari gesekan sepatu.
"Bagus, terus keluarkan suara
kalian."
"Iyaaa."
Hari ini pun kami berlatih sejak pagi.
Meskipun semalam aku bersenang-senang
di festival musim panas hingga larut, aku harus bisa memusatkan fokus dengan
baik sekarang.
Sensasi saat mengayunkan lengan memukul
bola dan sisa rasa kebas yang tertinggal di tanganku—aku memang sangat menyukai
bola voli.
Dengan begitu, aku terus berlatih
keras hingga sore hari. Saat aku sedang menuju ruang klub usai mandi dan
berganti pakaian dengan seragam olahraga, pelatih tiba-tiba memanggilku.
"Hei, Ryuuseki."
Sang pelatih melambaikan tangannya
memanggilku dari arah pintu masuk gimnasium.
"Kemarilah sebentar."
"Iyaa~"
Kira-kira ada apa, ya?
Aku pun menghampirinya dengan berlari
kecil.
"Ada apa, Pelatih?"
"Ikutlah denganku sebentar. Aku
tidak akan menyita banyak waktumu, kok."
"Baik."
Tanpa mengerti situasinya, aku terus
berjalan mengikuti langkah pelatih dari belakang.
Mengingat dia hanya memanggilku seorang
diri, sepertinya ini bukan untuk rapat. Apa mungkin ada hal yang mengganjal
pikirannya soal latihanku hari ini? Namun jika memang begitu, harusnya ia tidak
perlu repot-repot memindahkan lokasi obrolan kami.
Tak lama kemudian, kami melewati
selasar penghubung dan memasuki area gedung sekolah.
"Lewat sini."
Ruangan yang dimasuki oleh pelatih saat
mengatakan hal tersebut adalah sebuah ruang tamu. Terdapat karpet merah yang
empuk dan sofa hitam yang berkilap.
Hembusan pendingin ruangan yang terasa
pas memberikan kenyamanan tersendiri.
Saat aku masuk dengan sedikit ragu,
rupanya sudah ada dua pria dewasa yang duduk menanti di sofa tersebut.
Mereka adalah seorang pria tua bertubuh
kurus, serta seorang pria paruh baya agak gempal dengan rambut beruban. Tentu
saja, aku sama sekali tidak mengenali wajah mereka berdua.
Begitu kami masuk, mereka berdua
serempak berdiri dan melemparkan senyum ramah.
"Halo. Salam kenal."
"Salam kenal."
"Eh, um, salam kenal
juga."
Aku pun membalasnya dengan sekadar
menundukkan kepala.
Setelah duduk berdampingan dengan
pelatih di sofa seberang mereka, ia mulai memperkenalkan kedua pria tersebut.
"Mereka adalah Kanou-san dan
Yoshimura-san dari klub Kumamoto Empress. Sepertinya
ada hal penting yang ingin mereka sampaikan padamu, Ryuuseki."
Aku menerima kartu nama dari mereka
berdua. Pria tua itu bernama Kanou, sementara pria paruh baya itu bernama
Yoshimura.
"Klub Kumamoto Empress
itu...?"
"Klub dari liga V.League. Sedari
tadi mereka terus memperhatikan latihanmu, lho."
Kalau dipikir-pikir lagi, rasanya tadi
memang ada dua orang pria yang sesekali terlihat berada di sudut gimnasium.
"Ano, mungkinkah ini..."
"Bagus, kan. Kamu sampai dapat tawaran rekrutmen dari liga profesional begini."
"Haha, status liganya secara
keseluruhan memang masih semi-profesional, sih."
Ucap Kanou-san seraya tertawa kaku.
"Eh, umm..."
Kejadian ini terasa begitu
mendadak, membuat pikiranku menjadi kacau balau bagaikan otakku baru saja
dikocok.
Tawaran rekrutmen?
Untukku?
"Tunggu dulu, apa maksudnya
ini?"
"Artinya persis seperti yang
kamu dengar," ucap Yoshimura-san.
Suaranya terdengar serak seperti
sering menenggak alkohol.
"Sebenarnya kami sudah menaruh
perhatian pada Mahiru-chan sejak turnamen Interhigh dua tahun lalu. Meskipun
saat itu masih kelas satu, prestasimu sebagai Wing Spiker benar-benar luar
biasa."
"Sayang sekali dengan hasil
tahun lalu, namun kehadiranmu kembali bersinar terang di turnamen Haruko tahun
ini, ya."
Tahun lalu kekuatanku tidak cukup,
sehingga aku gagal meraih hasil yang baik di turnamen apa pun. Aku benar-benar
beruntung bisa tetap dilirik oleh para pencari bakat.
"Ahaha, terima kasih banyak atas
pujiannya."
Perasaanku kini terbagi dua antara rasa
senang dan kebingungan.
Mengenai masa depanku, sebenarnya aku
sudah setengah menetapkan hati mengenai jalan apa yang ingin kuambil
selanjutnya.
Namun, mendapat tawaran rekrutmen dari
tim seperti ini adalah kesempatan emas yang mungkin hanya datang sekali seumur
hidup. Kurasa tidak ada ruginya untuk mendengarkan tawaran ini terlebih dahulu.
"Tim kami dikelola oleh perusahaan
Bears Electronics yang berada di Kota Kumamoto, Prefektur Kumamoto, dan—"
"K-Kumamoto, katamu!?"
"Hei, kan dari awal mereka sudah
mengatakannya."
Tegur pelatih dari sampingku.
"Eh, benarkah begitu? Maafkan
aku."
"Lagipula, tidak ada masalah, kan?
Bukannya kampung halaman ibumu ada di Kumamoto?"
"Memang benar sih, tapi..."
"Kebetulan sekali, kalau
begitu."
Yoshimura-san tertawa terbahak-bahak.
"Gadis muda cantik dan
berbakat sepertimu pasti akan menjadi populer. Tentu saja, karena kamu sangat
fotogenik."
"Jika kamu membangun banyak
pengalaman di tim kami, bukan hal yang mustahil jika suatu saat nanti kamu akan
terpilih sebagai perwakilan Jepang."
"Ahaha."
Aku hanya bisa membalasnya dengan
tawa basa-basi. Pria bernama Yoshimura ini entah kenapa terus melirik ke arah
dadaku sejak tadi.
"Lagipula, ada seniormu juga
lho di tim kami."
"...Oh, ya."
"Hanayama Koharu. Kamu
mengenalnya, kan?"
"Eh... Ah."
Alumni klub voli putri kami, Hanayama
Koharu yang bahkan terpilih sebagai perwakilan Jepang itu, memang kudengar
tergabung dalam tim asal wilayah Kyushu.
Namun, aku tak menyangka tim tersebut
adalah Kumamoto Empress.
Kanou-san lantas berkata dengan suara
paraunya,
"Kami tidak menyuruhmu untuk
memutuskannya sekarang juga, kok. Tujuan utama kami datang hari ini hanyalah
untuk memberikan tawaran resmi ini kepadamu."
"Kami akan sangat senang jika kamu
berkenan menambahkannya ke dalam daftar pilihan masa depanmu nanti.
Yoshimura-kun."
"Baiklah. Kalau begitu, mari kita
mulai dengan penjelasan mengenai tim kami. Sejak didirikan lima belas tahun
lalu, kami..."
Selama Kanou-san dan Yoshimura-san
memberikan penjelasannya, pikiranku hanya tertuju pada satu hal, sehingga aku
hampir tak menangkap apa pun dari cerita mereka.
Pertemuan pun usai, dan aku bergegas
pulang.
Bola voli adalah olahraga yang sudah
kumulai sejak kelas enam SD. Aku bisa memanfaatkan postur tubuhku yang tinggi
yang selama ini membuatku tidak percaya diri, dan aku pun langsung menyukainya.
Rasanya begitu memuaskan saat bisa
memukul bola, dan mengeblok pukulan lawan juga merupakan hal yang menyenangkan.
Para pemain perwakilan Jepang yang
bersinar terang di layar kaca adalah sosok yang selalu kuimpikan.
Tetapi...
Kumamoto, ya.
Karena tempat itu merupakan kampung
halaman ibuku dan aku juga sudah sering mudik ke sana, tempat itu sudah terasa
layaknya kampung halaman keduaku sendiri.
Namun, masuk ke dalam tim asal Kumamoto
berarti aku harus pindah dan menetap di sana, dan jika hal itu terjadi maka
sudah pasti...
Tanpa sadar, langkah kakiku telah
menuntunku ke arah kedai Moonlight Terrace.
"Oh, Mahiru. Baru pulang
ekskul, ya?"
Begitu aku memasuki kedai tersebut,
Yuu-nii langsung datang menyambutku.
"Iya."
"Ada apa? Kamu kelihatan kurang
bersemangat, nih."
"Biasa saja kok. Aku cuma sedikit
kelelahan."
"Kalau begitu, bagaimana kalau
hari ini kita pergi makan makanan yang mengenyangkan?"
"...Iya."
"Ini, minumlah kolanya."
"Terima kasih."
Aku pun meneguk kola yang rasanya sudah
sangat akrab di lidahku itu. Bersamaan dengan rasa manisnya, entah kenapa aku
sedikit merasakan sensasi pahit.
"Hei, Yuu-nii."
"Hm?"
"Ah, bukan apa-apa."
"Oh, begitu?"
Pada titik ini, sebenarnya jawabannya
sudah hampir diputuskan di dalam hatiku. Aku tidak ingin melepaskan hari-hari
keseharian yang akhirnya bisa kuraih bersama Yuu-nii hanya demi terus bermain
voli.
"Iya, tidak ada apa-apa."
"Kamu sedang membicarakan
apa?"
"Hehe, bukan apa-apa kok."
Aku tak mau lagi harus menangis penuh penyesalan. Aku harus hidup tanpa ada satu pun penyesalan dengan melakukan apa pun yang benar-benar kuinginkan.




Post a Comment