Epilog
"Liburan Musim Panas yang Menyenangkan"
1
Hari setelah perjalanan ke Shonan,
aku sedang menuju ke rumah keluarga Togami.
Tujuannya adalah untuk menyerahkan
oleh-oleh kepada Kakek, Nenek, dan Yuuhi. Sambil melihat pegunungan megah yang
berjejer di sebelah barat dari balik jendela, aku memacu mobil Civic-ku
melintasi dataran.
Meskipun Shonan sangat
menyenangkan, sebagai orang Shizuoka, aku tetap merasa tidak tenang jika Gunung
Fuji tidak ada dalam pemandanganku.
Ya, memang menyenangkan...
"..."
Saat sendirian dan kehilangan
kewaspadaan, insiden bersama Asaha mendadak terbayang kembali di kepalaku,
membuat hatiku resah. Tubuh Asaha yang lembut dan manis...
Tidak boleh, tidak boleh!
Apa yang sedang kauingat-ingat,
dasar bodoh!
"Uwohhhhh!"
Aku menginjak gas dalam-dalam
sampai batas putaran mesin maksimum, menghempaskan semua pikiran kotor itu.
Lagipula Asaha masih seorang siswi SMA.
Sebanyak apa pun perasaan suka yang Asaha tunjukkan padaku, ada tembok
pandangan masyarakat yang harus kuhadapi jika ingin menerimanya.
Jika namaku sampai beredar di berita
televisi karena kasus tindakan asusila terhadap anak di bawah umur, itu
benar-benar tidak lucu.
Namun, kalau saja waktu itu tidak ada
telepon masuk, akhirnya aku juga bisa menjadi pria dewasa, sayang sekali...
tidak, bukan begitu!
Kenapa aku malah sedikit merasa kecewa
begitu? Entah siapa orangnya, berkat si anu yang menelepon ponsel Asaha, aku
berhasil terhindar dari melakukan kesalahan.
Jika terus seperti itu, aku pasti sudah
menyentuh Asaha saat itu. Aku ini orang dewasa.
Seharusnya aku yang harus bersikap
tegas, tetapi yang terus melintas di dalam kepalaku hanyalah kehangatan dan
suara Asaha pada malam itu.
Sambil memikirkan hal-hal seperti itu,
tanpa sadar aku sudah sampai di rumah keluarga Togami. Aku mengubah suasana
hatiku dan menyapa Nenek yang sedang berkebun.
"Yo, Nenek."
"Lho, Yuu-chan, selamat
datang."
"Ini, aku bawakan oleh-oleh."
Untuk Kakek dan Nenek yang suka minum
alkohol, aku membelikan makanan asin khas dan minuman keras lokal dari toko
terkenal di Shonan.
"Wah, terima kasih ya. Dari mana
saja kamu?"
"Pergi ke Shonan sebentar.
Kakek ke mana?"
"Sekarang sedang pergi
belanja."
"Kalau begitu, apa Yuuhi-chan
ada?"
"Ada di kamarnya. Ayo masuk
dulu."
"Permisi."
Yuuhi sedang menonton televisi di ruang
tamu.
Rambut emas panjangnya diikat kuncir
dua, mengenakan Kaos putih dan celana pendek hitam yang mencerminkan pakaian
khas musim panas.
Dia bersandar dalam di sofa, tampak
asyik menikmati acara jalan-jalan lokal.
"Lho? Yuu toh. Selamat datang."
"Aku menumpang masuk ya. Nah,
ini buatmu."
Aku menyerahkan oleh-oleh padanya.
"Eh? Apa ini?"
"Aku habis liburan ke Shonan, jadi
ini oleh-oleh untukmu."
"Wah, asyik banget. Apaan
nih?"
Untuk Yuuhi, aku membelikan krupuk
rebon.
"........................Terima
kasih."
Tampaknya dia menyukainya.
"Tapi tunggu dulu, kamu pergi
sendirian?"
"Tidak, aku pergi bersama orang
tuaku, kenalan, dan yang lainnya dalam jumlah banyak."
"Enak ya, Yuuhi juga pengin
pergi."
"Begitu ya, tahu begitu harusnya
aku mengajak Yuuhi-chan juga, ya."
"Lain kali kalau pergi, kamu wajib
mengajak Yuuhi ya!"
"Iya, iya, aku mengerti."
"Kalian pergi ke laut juga?"
"Bukan cuma pergi, tapi
pemandangan di depan mata memang sudah laut. Kenalanku punya vila di tepi laut,
jadi kami menginap di sana."
"Aaaah, enaknya, enaknya!"
Yuuhi mulai berguling-guling tidak
karuan di atas sofa.
"Yuuhi juga pengin bermain di
laut bersama gadis-gadis cantik."
"Eh, kenapa kamu bisa tahu tentang
hal itu!?"
"Ha?"
"Eh?"
"Yang tadi itu cuma keinginan
Yuuhi tahu... Apa? Jangan-jangan ada gadis-gadis juga yang ikut bersama
kalian?"
"Ya, begitulah."
"He~h, hebat juga kamu."
"Tidak, hubungan kami tidak
seperti itu kok. Cuma sebatas kenalan saja."
"Hu~mm."
Yuuhi tersenyum jahil. Sepertinya dia
salah paham akan hal yang aneh-aneh.
Pada saat itu, entah mengapa sosok
Asaha terbayang di kepalaku. Padahal baru saja kemarin Yuuhi memperingatkanku
bahwa menjalin hubungan akrab dengan anak SMA itu berbahaya secara sosial. Hal
ini benar-benar tidak boleh kukatakan padanya.
"Lain kali kenalkan juga pada
Yuuhi ya."
"Sudah kubilang bukan
begitu."
"Yuu, kamu datang ya?"
Pada saat itu, Kakek pulang ke rumah.
"Ah, Kakek."
Aku menceritakan hal yang sama tentang
oleh-oleh kepada Kakek.
"Kalau begitu, bagaimana kalau
kita langsung minum sekarang?"
"Jangan dulu deh, soalnya siang
nanti aku harus kembali ke kedai."
"Begitu ya. Lalu, kamu habis dari
mana?"
"Pergi ke Shonan sebentar―"
◇
"Mahiru, makan malam sudah
siap."
Mama masuk ke dalam kamar. Aku
sedang berbaring di atas tempat tidur sambil menatap langit-langit.
"...Tidak usah."
"Nggak usah bagaimana, kamu
bahkan tidak makan siang kan?"
"Aku makan kok, satu buah
onigiri."
"Apa kamu merasa tidak enak
badan?"
"Aku tidak apa-apa, cuma tidak
begitu selera makan saja."
"...Begitu ya. Tapi kamu tetap
harus makan untuk gizi. Besok sudah mulai kegiatan
ekstrakurikuler lagi, kan?"
"...Iya."
"Apa kamu sedang punya
masalah?"
"!? "
"Soal pilihan masa
depanmu?"
"..."
Aku berdiri dari tempat tidur.
"Mahiru?"
"Aku mau mandi dulu. Aku
tidak apa-apa kok, nanti aku juga akan makan. Aku cuma merasa lelah saja."
Aku memaksakan tersenyum, lalu
meninggalkan kamar seolah-olah sedang melarikan diri.
Pokoknya, aku ingin menyendiri saat
ini.
Di ruang ganti, aku melepas
pakaianku dan melangkah menuju kamar mandi.
Setelah membersihkan tubuh, aku
merendamkan diriku ke dalam bak mandi sampai ke batas wajah.
"..."
Aku ingin kita berempat terus bersama
selamanya.
Yuu-nii, Miya, Asaha, dan juga aku.
Mempertahankan hubungan seperti yang
sudah-sudah, untuk selamanya...
Tapi kalau Asaha berpacaran dengan
Yuu-nii...
"Haaah."
Aku selalu ingin kita berempat terus
bersama. Hanya dengan begitu saja aku sudah merasa puas. Oleh karena itu,
liburan musim panas kali ini terasa sangat menyenangkan. Kehidupan sehari-hari
kita berempat yang dimulai sejak kelas satu SD akhirnya telah kembali...
"..."
Jika aku menunjukkan perasaan cintaku
ke permukaan, apa pun hasilnya nanti, kita tidak akan bisa mempertahankan
hubungan seperti dulu lagi.
Aku tidak ingin merusak hubungan kita
berempat, tidak ingin ditolak oleh Yuu-nii, dan ingin selalu berada di samping
Yuu-nii...
Oleh karena itu, aku selalu
menyembunyikan perasaanku selama ini.
Tetapi Asaha berbeda.
Asaha juga menyukai Yuu-nii. Pada malam
terakhir perjalanan, dia menyampaikan perasaannya kepada Yuu-nii dan berusaha
keras untuk memikatnya secara bersungguh-sungguh.
Jika kuingat-ingat kembali sekarang,
Asaha menunjukkan perasaannya kepada Yuu-nii secara sangat terang-terangan.
Contohnya cangkir mug itu.
Asaha berkata bahwa dia membuat cangkir
yang seragam untuk kita berempat demi acara berkemah, tetapi dia memberikan
cangkir bergambar hati untuk Yuu-nii dan dirinya sendiri.
Hal itu kemungkinan besar dilakukan
agar cangkir pasangan mereka tidak disadari, sehingga dia menambahkan cangkir
untukku dan Miya dengan gambar yang berbeda sebagai kamuflase saja.
Aku sudah merasa puas asal bisa berada
di samping Yuu-nii. Tidak perlu menjadi sepasang kekasih. Aku hanya tidak ingin
berpisah lagi dengannya.
Namun, jika Asaha mulai berpacaran
dengan Yuu-nii, apakah aku harus terus menyaksikan mereka berdua yang telah
menjadi sepasang kekasih dari dekat?
Hal seperti itu...
Air mataku mulai menetes sedikit demi
sedikit.
Apa yang harus kulakukan sekarang?
Jika ada seseorang yang tahu
jawabannya, aku ingin dia memberitahukanku.
◇
"Ibu, aku mau pakai mesin fotokopi
ya."
"Untuk apa, Miya?"
"Aku mau mencetak novel
sebentar."
Aku menyambungkan laptop milikku ke
mesin fotokopi.
"Fufufu."
Novel yang kubuat bersama Yuu-nii
ini. Bahkan jika dilihat tanpa rasa pilih kasih sekalipun, aku yakin ini adalah
karya yang cukup bagus.
Keluarga misterius yang tinggal di
sebuah kediaman mencurigakan dan seorang detektif yang tidak sengaja tersesat
di sana.
Gadis cantik yang malang, sejarah
berdarah keluarga mencurigakan tersebut, serta kasus pembunuhan yang
mengerikan. Menyusun logika hingga akhirnya seluruh misteri terungkap...
Misteri ortodoks memang seharusnya
seperti ini.
Sisanya tinggal melakukan
penyuntingan dan mengirimkannya ke penerbit. Dibandingkan membaca di layar
komputer, menyunting dengan cara mencetak di atas kertas jauh lebih mudah
dilakukan.
Dibandingkan dengan bahan kertas,
aku tidak bisa benar-benar masuk ke dalam karya jika membaca di layar, lagipula
membaca tulisan di layar membuat mataku agak sakit.
Oleh karena itu, aku hampir tidak
pernah membeli buku elektronik untuk novel.
Untuk buku, kertas tetap yang
terbaik.
Sambil membawa tumpukan naskah,
pulpen, dan kertas penanda, aku duduk di sofa.
"...Ah."
Saat membaca ulang karyaku seperti
ini, ternyata ada cukup banyak salah ketik dan kata yang terlewat. Selain itu,
aku juga bisa menemukan ungkapan atau susunan kata yang lebih baik, membuatku
menyadari betapa pentingnya proses penyuntingan ini.
"Kak, kamar mandinya sudah
kosong tuh."
Beberapa saat kemudian, Misora yang
baru selesai mandi datang hanya dengan mengenakan pakaian dalam. Langkah
kakinya terdengar berpat-pat.
"Nngg, nanti dulu deh."
Firasatku mengatakan bahwa proses
ini akan memakan waktu cukup lama.
"Kalau begitu Ayah dulu yang―"
Ayah berdiri dari duduknya.
"Ternyata aku mau mandi duluan
saja ah!"
◇
"Saya tidak mau."
"Bukan begitu, jangan cuma
bilang tidak mau dong."
Hanayoshi memegang kepalanya yang
terasa pusing.
"Saya tidak mau kembali ke
Kanagawa!"
"Haaah."
Hanayoshi sudah menduga bahwa Asaha
akan mengatakan hal seperti ini.
Hanayoshi mengembaskan napasnya
dengan berat.
Sejak bertemu kembali dengan
Aritsugu setelah sepuluh tahun berlalu di vila Shonan, Asaha melewati
hari-harinya dengan sangat berseri-seri.
Karena telah melihat sosoknya yang
selalu murung selama sepuluh tahun terakhir, Hanayoshi bukannya tidak mengerti
perasaan Asaha yang menolak untuk berpisah dengan Aritsugu dan kembali ke
kehidupannya yang dulu.
"Saya ingin terus bersama Yuu-nii
selamanya."
"Lalu bagaimana dengan sekolahmu,
sekolah?"
"Saya akan pindah sekolah. Mulai
bulan September, saya akan bersekolah di sekolah yang sama dengan Miya-chan dan
Mahiru-chan."
"Dasar bodoh! Apa yang sedang
kamu katakan? Kamu akan masuk perguruan tinggi lewat jalur rekomendasi, kan?
Jika beralih ke ujian masuk dari sekarang, itu sudah terlambat."
"Pilihan masa depan bukan hanya
melanjutkan pendidikan saja."
"Apa kamu bilang!?"
Kepalanya semakin terasa sakit.
Kondisi seperti ini sudah berlangsung
selama hampir dua jam.
Hanayoshi kembali menghela napas
panjang.
Asaha memang pandai manja, tetapi dia
bukanlah anak yang suka memaksakan kehendaknya sampai sejauh ini. Mungkin itu
menandakan betapa berharganya waktu bersama Aritsugu bagi dirinya, tetapi hal
yang satu berbeda dengan hal yang lain.
Sekolah juga merupakan hal yang sama
pentingnya dalam jalan kehidupannya.
"Aku mengerti, Asaha.
Tenangkan dirimu dulu. Dengar ya, memang benar aku sangat memahami perasaan
Asaha yang merasa berat untuk hidup terpisah lagi dari Yuu-kun dan yang
lainnya. Tapi tahu tidak? Jarak antara Shizuoka dan Kanagawa itu hanya memakan waktu
sekitar satu jam saja. Kamu bisa pulang pergi dalam sehari, dan saat hari libur
kamu hanya perlu datang ke sini untuk menginap, kan?"
"..."
"Asaha."
"Pokoknya, apa pun yang dikatakan
oleh siapa pun, saya tidak akan kembali ke Kanagawa."
"Asaha! Tunggu dulu...
Haaah."
Harus bagaimana sekarang?
Hanayoshi akhirnya menelepon
seseorang. Orang yang dituju adalah Aritsugu. Dia berharap Aritsugu bisa
membantunya membujuk Asaha, tetapi melihat sikap Asaha yang seperti itu, hal
itu pun sepertinya akan sulit. Tapi tidak ada salahnya mencoba. Tidak ada rugi
untuk dicoba.
"Ah, Yuu-kun? Ada sesuatu yang
ingin kubicarakan sebentar."
Hanayoshi menjelaskan situasi yang
sedang terjadi.
"Saya mengerti. Meskipun
kemungkinan besar akan sulit, saya juga akan mencoba bicara padanya."
"Ah, tolong ya."
Baiklah, jika Asaha memang
benar-benar berniat untuk pindah ke sekolah di sini, aku harus mulai mengurus
berbagai hal ke banyak pihak. Pada akhirnya, Hanayoshi memang tipe orang yang
tidak bisa menolak permintaan Asaha.
Sepuluh menit kemudian.
Asaha datang menghampirinya.
"Saya akan mulai bersiap-siap
untuk pulang."
"Eh!?"
2
Hari terakhir di bulan Agustus. Hari
ini adalah hari kepulangan Asaha ke Kanagawa. Aku memutuskan untuk pergi ke
Stasiun Fujinomiya bersama Miya dan Mahiru untuk mengantarkannya.
Matahari terbenam di sebelah barat,
membuat Gunung Fuji memerah terkena sinarnya.
'Sebentar lagi, kereta arah naik
akan segera tiba.'
Pengumuman bersuara melalui pengeras
suara di peron.
"Asaha, sampai jumpa lagi
ya!"
Miya memeluk Asaha sambil setengah
menangis.
"Kenapa kamu malah menangis sih,
Miya?"
Mahiru tertawa.
"Habisnya, selama liburan musim
panas kita kan selalu bersama terus."
"Tidak apa-apa kok, Miya-chan.
Nanti kalau ada akhir pekan atau libur panjang, aku akan datang bermain
lagi."
"Iya, iya. Janji ya!"
"Padahal ini bukan perpisahan
seumur hidup, tapi berlebihan sekali ya."
Saat aku berucap demikian,
"Soalnya dulu sudah ada contoh
orang yang tidak pulang selama sepuluh tahun," timpal Mahiru menyindirku.
"Ugh."
Aku tidak bisa membalasnya sama sekali.
"Mahiru-chan juga mau?"
"Eh? Aku juga?"
Mahiru dan Asaha saling berpelukan.
Mungkin karena merasa malu, kaku sekali ekspresi wajah Mahiru.
"Kalau begitu, terakhir Yuu-nii
juga."
"Tidak bisa, kalau aku tidak
boleh."
Memeluk anak gadis SMA di tempat umum
seperti ini pasti akan membuatku dilaporkan ke polisi.
"...Benar juga ya."
"Eh?"
Asaha mengatakannya dengan sangat
santai. Rasanya aku jadi agak terkejut.
Jujur saja, jika berada di dekat Asaha,
kejadian pada malam itu secara setengah terpaksa akan teringat kembali dan
membuat jantungku berdetak kencang. Saat aku memikirkan hal itu, Asaha bukannya
memelukku, melainkan hanya mendekatkan wajahnya.
"Aku mencintaimu," bisiknya.
"A-apa!?"
"Eh? Kamu bilang apa tadi?"
Miya memiringkan kepalanya. Suaranya
terhapus oleh pengumuman stasiun dan suara kereta api, sepertinya bisikan itu
hanya terdengar olehku saja.
"Tidak ada apa-apa kok. Kalau
begitu, semuanya, dadaah!"
Kereta yang dinaiki Asaha mulai
bergerak perlahan menuju ke arah timur.
Kenangan-kenangan menyenangkan teringat
kembali dengan sangat jelas.
Kolam renang, berkemah, festival Miya
Odori, festival musim panas, dan masih banyak hal menyenangkan lainnya. Dan
juga... perjalanan ke Shonan.
Suara jangkrik yang terdengar sayu
mulai terdengar di sekeliling.
Musim panas telah berakhir.



Post a Comment