NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

10-nen-buri Ni Saikai Shita Kusogaki Wa Seijun Bishoujo Jk Volume 4 Epilog

Epilog

"Liburan Musim Panas yang Menyenangkan"


1

Hari setelah perjalanan ke Shonan, aku sedang menuju ke rumah keluarga Togami.

Tujuannya adalah untuk menyerahkan oleh-oleh kepada Kakek, Nenek, dan Yuuhi. Sambil melihat pegunungan megah yang berjejer di sebelah barat dari balik jendela, aku memacu mobil Civic-ku melintasi dataran.

Meskipun Shonan sangat menyenangkan, sebagai orang Shizuoka, aku tetap merasa tidak tenang jika Gunung Fuji tidak ada dalam pemandanganku.

Ya, memang menyenangkan...

"..."

Saat sendirian dan kehilangan kewaspadaan, insiden bersama Asaha mendadak terbayang kembali di kepalaku, membuat hatiku resah. Tubuh Asaha yang lembut dan manis...

Tidak boleh, tidak boleh!

Apa yang sedang kauingat-ingat, dasar bodoh!

"Uwohhhhh!"

Aku menginjak gas dalam-dalam sampai batas putaran mesin maksimum, menghempaskan semua pikiran kotor itu.

Lagipula Asaha masih seorang siswi SMA. Sebanyak apa pun perasaan suka yang Asaha tunjukkan padaku, ada tembok pandangan masyarakat yang harus kuhadapi jika ingin menerimanya.

Jika namaku sampai beredar di berita televisi karena kasus tindakan asusila terhadap anak di bawah umur, itu benar-benar tidak lucu.

Namun, kalau saja waktu itu tidak ada telepon masuk, akhirnya aku juga bisa menjadi pria dewasa, sayang sekali... tidak, bukan begitu!

Kenapa aku malah sedikit merasa kecewa begitu? Entah siapa orangnya, berkat si anu yang menelepon ponsel Asaha, aku berhasil terhindar dari melakukan kesalahan.

Jika terus seperti itu, aku pasti sudah menyentuh Asaha saat itu. Aku ini orang dewasa.

Seharusnya aku yang harus bersikap tegas, tetapi yang terus melintas di dalam kepalaku hanyalah kehangatan dan suara Asaha pada malam itu.

Sambil memikirkan hal-hal seperti itu, tanpa sadar aku sudah sampai di rumah keluarga Togami. Aku mengubah suasana hatiku dan menyapa Nenek yang sedang berkebun.

"Yo, Nenek."

"Lho, Yuu-chan, selamat datang."

"Ini, aku bawakan oleh-oleh."

Untuk Kakek dan Nenek yang suka minum alkohol, aku membelikan makanan asin khas dan minuman keras lokal dari toko terkenal di Shonan.

"Wah, terima kasih ya. Dari mana saja kamu?"

"Pergi ke Shonan sebentar. Kakek ke mana?"

"Sekarang sedang pergi belanja."

"Kalau begitu, apa Yuuhi-chan ada?"

"Ada di kamarnya. Ayo masuk dulu."

"Permisi."

Yuuhi sedang menonton televisi di ruang tamu.

Rambut emas panjangnya diikat kuncir dua, mengenakan Kaos putih dan celana pendek hitam yang mencerminkan pakaian khas musim panas.

Dia bersandar dalam di sofa, tampak asyik menikmati acara jalan-jalan lokal.

"Lho? Yuu toh. Selamat datang."

"Aku menumpang masuk ya. Nah, ini buatmu."

Aku menyerahkan oleh-oleh padanya.

"Eh? Apa ini?"

"Aku habis liburan ke Shonan, jadi ini oleh-oleh untukmu."

"Wah, asyik banget. Apaan nih?"

Untuk Yuuhi, aku membelikan krupuk rebon.

"........................Terima kasih."

Tampaknya dia menyukainya.

"Tapi tunggu dulu, kamu pergi sendirian?"

"Tidak, aku pergi bersama orang tuaku, kenalan, dan yang lainnya dalam jumlah banyak."

"Enak ya, Yuuhi juga pengin pergi."

"Begitu ya, tahu begitu harusnya aku mengajak Yuuhi-chan juga, ya."

"Lain kali kalau pergi, kamu wajib mengajak Yuuhi ya!"

"Iya, iya, aku mengerti."

"Kalian pergi ke laut juga?"

"Bukan cuma pergi, tapi pemandangan di depan mata memang sudah laut. Kenalanku punya vila di tepi laut, jadi kami menginap di sana."

"Aaaah, enaknya, enaknya!"

Yuuhi mulai berguling-guling tidak karuan di atas sofa.

"Yuuhi juga pengin bermain di laut bersama gadis-gadis cantik."

"Eh, kenapa kamu bisa tahu tentang hal itu!?"

"Ha?"

"Eh?"

"Yang tadi itu cuma keinginan Yuuhi tahu... Apa? Jangan-jangan ada gadis-gadis juga yang ikut bersama kalian?"

"Ya, begitulah."

"He~h, hebat juga kamu."

"Tidak, hubungan kami tidak seperti itu kok. Cuma sebatas kenalan saja."

"Hu~mm."

Yuuhi tersenyum jahil. Sepertinya dia salah paham akan hal yang aneh-aneh.

Pada saat itu, entah mengapa sosok Asaha terbayang di kepalaku. Padahal baru saja kemarin Yuuhi memperingatkanku bahwa menjalin hubungan akrab dengan anak SMA itu berbahaya secara sosial. Hal ini benar-benar tidak boleh kukatakan padanya.

"Lain kali kenalkan juga pada Yuuhi ya."

"Sudah kubilang bukan begitu."

"Yuu, kamu datang ya?"

Pada saat itu, Kakek pulang ke rumah.

"Ah, Kakek."

Aku menceritakan hal yang sama tentang oleh-oleh kepada Kakek.

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita langsung minum sekarang?"

"Jangan dulu deh, soalnya siang nanti aku harus kembali ke kedai."

"Begitu ya. Lalu, kamu habis dari mana?"

"Pergi ke Shonan sebentar―"

◇

"Mahiru, makan malam sudah siap."

Mama masuk ke dalam kamar. Aku sedang berbaring di atas tempat tidur sambil menatap langit-langit.

"...Tidak usah."

"Nggak usah bagaimana, kamu bahkan tidak makan siang kan?"

"Aku makan kok, satu buah onigiri."

"Apa kamu merasa tidak enak badan?"

"Aku tidak apa-apa, cuma tidak begitu selera makan saja."

"...Begitu ya. Tapi kamu tetap harus makan untuk gizi. Besok sudah mulai kegiatan ekstrakurikuler lagi, kan?"

"...Iya."

"Apa kamu sedang punya masalah?"

"!? "

"Soal pilihan masa depanmu?"

"..."

Aku berdiri dari tempat tidur.

"Mahiru?"

"Aku mau mandi dulu. Aku tidak apa-apa kok, nanti aku juga akan makan. Aku cuma merasa lelah saja."

Aku memaksakan tersenyum, lalu meninggalkan kamar seolah-olah sedang melarikan diri.

Pokoknya, aku ingin menyendiri saat ini.

Di ruang ganti, aku melepas pakaianku dan melangkah menuju kamar mandi.

Setelah membersihkan tubuh, aku merendamkan diriku ke dalam bak mandi sampai ke batas wajah.

"..."

Aku ingin kita berempat terus bersama selamanya.

Yuu-nii, Miya, Asaha, dan juga aku.

Mempertahankan hubungan seperti yang sudah-sudah, untuk selamanya...

Tapi kalau Asaha berpacaran dengan Yuu-nii...

"Haaah."

Aku selalu ingin kita berempat terus bersama. Hanya dengan begitu saja aku sudah merasa puas. Oleh karena itu, liburan musim panas kali ini terasa sangat menyenangkan. Kehidupan sehari-hari kita berempat yang dimulai sejak kelas satu SD akhirnya telah kembali...

"..."

Jika aku menunjukkan perasaan cintaku ke permukaan, apa pun hasilnya nanti, kita tidak akan bisa mempertahankan hubungan seperti dulu lagi.

Aku tidak ingin merusak hubungan kita berempat, tidak ingin ditolak oleh Yuu-nii, dan ingin selalu berada di samping Yuu-nii...

Oleh karena itu, aku selalu menyembunyikan perasaanku selama ini.

Tetapi Asaha berbeda.

Asaha juga menyukai Yuu-nii. Pada malam terakhir perjalanan, dia menyampaikan perasaannya kepada Yuu-nii dan berusaha keras untuk memikatnya secara bersungguh-sungguh.

Jika kuingat-ingat kembali sekarang, Asaha menunjukkan perasaannya kepada Yuu-nii secara sangat terang-terangan. Contohnya cangkir mug itu.

Asaha berkata bahwa dia membuat cangkir yang seragam untuk kita berempat demi acara berkemah, tetapi dia memberikan cangkir bergambar hati untuk Yuu-nii dan dirinya sendiri.

Hal itu kemungkinan besar dilakukan agar cangkir pasangan mereka tidak disadari, sehingga dia menambahkan cangkir untukku dan Miya dengan gambar yang berbeda sebagai kamuflase saja.

Aku sudah merasa puas asal bisa berada di samping Yuu-nii. Tidak perlu menjadi sepasang kekasih. Aku hanya tidak ingin berpisah lagi dengannya.

Namun, jika Asaha mulai berpacaran dengan Yuu-nii, apakah aku harus terus menyaksikan mereka berdua yang telah menjadi sepasang kekasih dari dekat?

Hal seperti itu...

Air mataku mulai menetes sedikit demi sedikit.

Apa yang harus kulakukan sekarang?

Jika ada seseorang yang tahu jawabannya, aku ingin dia memberitahukanku.

◇

"Ibu, aku mau pakai mesin fotokopi ya."

"Untuk apa, Miya?"

"Aku mau mencetak novel sebentar."

Aku menyambungkan laptop milikku ke mesin fotokopi.

"Fufufu."

Novel yang kubuat bersama Yuu-nii ini. Bahkan jika dilihat tanpa rasa pilih kasih sekalipun, aku yakin ini adalah karya yang cukup bagus.

Keluarga misterius yang tinggal di sebuah kediaman mencurigakan dan seorang detektif yang tidak sengaja tersesat di sana.

Gadis cantik yang malang, sejarah berdarah keluarga mencurigakan tersebut, serta kasus pembunuhan yang mengerikan. Menyusun logika hingga akhirnya seluruh misteri terungkap...

Misteri ortodoks memang seharusnya seperti ini.

Sisanya tinggal melakukan penyuntingan dan mengirimkannya ke penerbit. Dibandingkan membaca di layar komputer, menyunting dengan cara mencetak di atas kertas jauh lebih mudah dilakukan.

Dibandingkan dengan bahan kertas, aku tidak bisa benar-benar masuk ke dalam karya jika membaca di layar, lagipula membaca tulisan di layar membuat mataku agak sakit.

Oleh karena itu, aku hampir tidak pernah membeli buku elektronik untuk novel.

Untuk buku, kertas tetap yang terbaik.

Sambil membawa tumpukan naskah, pulpen, dan kertas penanda, aku duduk di sofa.

"...Ah."

Saat membaca ulang karyaku seperti ini, ternyata ada cukup banyak salah ketik dan kata yang terlewat. Selain itu, aku juga bisa menemukan ungkapan atau susunan kata yang lebih baik, membuatku menyadari betapa pentingnya proses penyuntingan ini.

"Kak, kamar mandinya sudah kosong tuh."

Beberapa saat kemudian, Misora yang baru selesai mandi datang hanya dengan mengenakan pakaian dalam. Langkah kakinya terdengar berpat-pat.

"Nngg, nanti dulu deh."

Firasatku mengatakan bahwa proses ini akan memakan waktu cukup lama.

"Kalau begitu Ayah dulu yang―"

Ayah berdiri dari duduknya.

"Ternyata aku mau mandi duluan saja ah!"

◇

"Saya tidak mau."

"Bukan begitu, jangan cuma bilang tidak mau dong."

Hanayoshi memegang kepalanya yang terasa pusing.

"Saya tidak mau kembali ke Kanagawa!"

"Haaah."

Hanayoshi sudah menduga bahwa Asaha akan mengatakan hal seperti ini.

Hanayoshi mengembaskan napasnya dengan berat.

Sejak bertemu kembali dengan Aritsugu setelah sepuluh tahun berlalu di vila Shonan, Asaha melewati hari-harinya dengan sangat berseri-seri.

Karena telah melihat sosoknya yang selalu murung selama sepuluh tahun terakhir, Hanayoshi bukannya tidak mengerti perasaan Asaha yang menolak untuk berpisah dengan Aritsugu dan kembali ke kehidupannya yang dulu.

"Saya ingin terus bersama Yuu-nii selamanya."

"Lalu bagaimana dengan sekolahmu, sekolah?"

"Saya akan pindah sekolah. Mulai bulan September, saya akan bersekolah di sekolah yang sama dengan Miya-chan dan Mahiru-chan."

"Dasar bodoh! Apa yang sedang kamu katakan? Kamu akan masuk perguruan tinggi lewat jalur rekomendasi, kan? Jika beralih ke ujian masuk dari sekarang, itu sudah terlambat."

"Pilihan masa depan bukan hanya melanjutkan pendidikan saja."

"Apa kamu bilang!?"

Kepalanya semakin terasa sakit.

Kondisi seperti ini sudah berlangsung selama hampir dua jam.

Hanayoshi kembali menghela napas panjang.

Asaha memang pandai manja, tetapi dia bukanlah anak yang suka memaksakan kehendaknya sampai sejauh ini. Mungkin itu menandakan betapa berharganya waktu bersama Aritsugu bagi dirinya, tetapi hal yang satu berbeda dengan hal yang lain.

Sekolah juga merupakan hal yang sama pentingnya dalam jalan kehidupannya.

"Aku mengerti, Asaha. Tenangkan dirimu dulu. Dengar ya, memang benar aku sangat memahami perasaan Asaha yang merasa berat untuk hidup terpisah lagi dari Yuu-kun dan yang lainnya. Tapi tahu tidak? Jarak antara Shizuoka dan Kanagawa itu hanya memakan waktu sekitar satu jam saja. Kamu bisa pulang pergi dalam sehari, dan saat hari libur kamu hanya perlu datang ke sini untuk menginap, kan?"

"..."

"Asaha."

"Pokoknya, apa pun yang dikatakan oleh siapa pun, saya tidak akan kembali ke Kanagawa."

"Asaha! Tunggu dulu... Haaah."

Harus bagaimana sekarang?

Hanayoshi akhirnya menelepon seseorang. Orang yang dituju adalah Aritsugu. Dia berharap Aritsugu bisa membantunya membujuk Asaha, tetapi melihat sikap Asaha yang seperti itu, hal itu pun sepertinya akan sulit. Tapi tidak ada salahnya mencoba. Tidak ada rugi untuk dicoba.

"Ah, Yuu-kun? Ada sesuatu yang ingin kubicarakan sebentar."

Hanayoshi menjelaskan situasi yang sedang terjadi.

"Saya mengerti. Meskipun kemungkinan besar akan sulit, saya juga akan mencoba bicara padanya."

"Ah, tolong ya."

Baiklah, jika Asaha memang benar-benar berniat untuk pindah ke sekolah di sini, aku harus mulai mengurus berbagai hal ke banyak pihak. Pada akhirnya, Hanayoshi memang tipe orang yang tidak bisa menolak permintaan Asaha.

Sepuluh menit kemudian.

Asaha datang menghampirinya.

"Saya akan mulai bersiap-siap untuk pulang."

"Eh!?"

 

2

Hari terakhir di bulan Agustus. Hari ini adalah hari kepulangan Asaha ke Kanagawa. Aku memutuskan untuk pergi ke Stasiun Fujinomiya bersama Miya dan Mahiru untuk mengantarkannya.

Matahari terbenam di sebelah barat, membuat Gunung Fuji memerah terkena sinarnya.

'Sebentar lagi, kereta arah naik akan segera tiba.'

Pengumuman bersuara melalui pengeras suara di peron.

"Asaha, sampai jumpa lagi ya!"

Miya memeluk Asaha sambil setengah menangis.

"Kenapa kamu malah menangis sih, Miya?"

Mahiru tertawa.

"Habisnya, selama liburan musim panas kita kan selalu bersama terus."

"Tidak apa-apa kok, Miya-chan. Nanti kalau ada akhir pekan atau libur panjang, aku akan datang bermain lagi."

"Iya, iya. Janji ya!"

"Padahal ini bukan perpisahan seumur hidup, tapi berlebihan sekali ya."

Saat aku berucap demikian,

"Soalnya dulu sudah ada contoh orang yang tidak pulang selama sepuluh tahun," timpal Mahiru menyindirku.

"Ugh."

Aku tidak bisa membalasnya sama sekali.

"Mahiru-chan juga mau?"

"Eh? Aku juga?"

Mahiru dan Asaha saling berpelukan. Mungkin karena merasa malu, kaku sekali ekspresi wajah Mahiru.

"Kalau begitu, terakhir Yuu-nii juga."

"Tidak bisa, kalau aku tidak boleh."

Memeluk anak gadis SMA di tempat umum seperti ini pasti akan membuatku dilaporkan ke polisi.

"...Benar juga ya."

"Eh?"

Asaha mengatakannya dengan sangat santai. Rasanya aku jadi agak terkejut.

Jujur saja, jika berada di dekat Asaha, kejadian pada malam itu secara setengah terpaksa akan teringat kembali dan membuat jantungku berdetak kencang. Saat aku memikirkan hal itu, Asaha bukannya memelukku, melainkan hanya mendekatkan wajahnya.

"Aku mencintaimu," bisiknya.

"A-apa!?"

"Eh? Kamu bilang apa tadi?"

Miya memiringkan kepalanya. Suaranya terhapus oleh pengumuman stasiun dan suara kereta api, sepertinya bisikan itu hanya terdengar olehku saja.

"Tidak ada apa-apa kok. Kalau begitu, semuanya, dadaah!"

Kereta yang dinaiki Asaha mulai bergerak perlahan menuju ke arah timur.

Kenangan-kenangan menyenangkan teringat kembali dengan sangat jelas.

Kolam renang, berkemah, festival Miya Odori, festival musim panas, dan masih banyak hal menyenangkan lainnya. Dan juga... perjalanan ke Shonan.

Suara jangkrik yang terdengar sayu mulai terdengar di sekeliling.

Musim panas telah berakhir.



Final Chapter | ToC | Afterword

Post a Comment

Post a Comment

close