NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Ochibure Tensai Reijou no Gohoushi de Bonjin no Ore wa Saikyou ni Naru V1 Chapter 3

 Penerjemah: Kaori Translation

Proffreader: Kaori Translation


Chapter 3

Akademi Sihir Aurora

"Dengarkan baik-baik, Shinya. Di akademi ini, jangan pernah lupa kalau kamu adalah kepala pelayan sekaligus pengawalku, mengerti? Di dalam kelas pun bersikaplah dengan sopan. Jangan sampai membuat masalah, paham?"


"Aku sudah mengerti, tidak perlu mengulanginya berkali-kali. Aku adalah familiar yang setia milik Alphiria Glastonbury. Yah, meski secara resmi statusku hanya kepala pelayan."


Sambil berjalan berdampingan di lorong yang disinari cahaya matahari dari jendela, kami melangkah bersama. Alphiria yang berada di sampingku memasang ekspresi tenang dan anggun seperti biasanya.


Sejak bangun pagi tadi sebenarnya sudah ada sesuatu yang terasa berbeda.


Setelah insiden kacau bersama dirinya yang baru selesai mandi semalam, aku sudah bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Kupikir jangankan diajak bicara, aku bahkan mungkin akan diusir dari kamar.


Namun di luar dugaan, Alphiria bangun sambil bersenandung dengan suasana hati yang sangat baik, bahkan menyajikan sarapan yang begitu mewah untukku.


"Ngomong-ngomong, apa aku memang harus ikut menghadiri pelajaran juga?"


"Itu keputusan Kepala Akademi. Kita tidak punya hak untuk menolaknya."


"Ya, memang sih... tapi apa ini benar-benar tidak masalah?"


"...Yah, kamu tidak akan mati. Paling cuma akan ada sedikit rasa iri dari orang-orang, jadi tidak usah dipikirkan."


"Jangan bilang sesuatu yang terdengar mengerikan begitu."


Aku memprotes dengan tatapan mata, tetapi Alphiria sama sekali tidak memedulikannya.


Kalau dipikir-pikir, bukankah itu berarti memang ada kemungkinan terjadi sesuatu yang bisa membuatku mati?


Ngomong-ngomong, usulan agar aku masuk akademi sebenarnya berasal dari Kepala Akademi Orthea. Awalnya Alphiria sempat menentangnya, tetapi...


—"Begitu ya? Kalau begitu, selama Alphiria mengikuti pelajaran, biar aku saja yang mengurus Shinya. Ayo kita adakan pelajaran rahasia antara kepala sekolah dan murid."


Begitu berkata demikian sambil menjilat bibirnya, keputusan mengenai pendaftaranku langsung ditetapkan.


Rahasia kalau sebenarnya usulan Kepala Akademi itu sempat membuatku sedikit bersemangat.


"Ngomong-ngomong, ada apa denganmu? Bukannya sampai kemarin kamu malah tidak sabar? Jangan-jangan sekarang kamu malah takut?"


"Bukan begitu... cuma, suasananya ternyata lebih tidak bersahabat daripada yang kubayangkan."


Sambil berkata demikian, aku melirik ke sekeliling.


Berbeda dengan kemarin saat masih masa liburan panjang, pagi ini akademi sudah dipenuhi kehidupan. Ada murid-murid yang sedang mengobrol dengan riang, tetapi sebagian besar justru diam-diam melirik ke arahku.


Tatapan aneh, iri, cemburu, bahkan tatapan penuh niat membunuh terus menghujaniku. Mental yang kupunya sudah hampir ambruk sejak pagi.


"Siapa laki-laki yang ada di samping Alphiria-san itu?"


"Wajahnya... ya lumayanlah. Tapi dia jelas tidak pantas berjalan di sisi Alphiria-san."


"Katanya dia pengawal sekaligus kepala pelayan baru yang dipekerjakan."


"Aku iri dia bisa berjalan di samping Alphiria-sama... ingin kubunuh."


"Nggak usah dipedulikan. Kamu tinggal bersikap percaya diri saja."


Alphiria mengatakannya dengan wajah tenang. 


Namun yang menjadi sasaran semua tatapan itu adalah aku. Mana mungkin aku bisa tetap tenang. Kalau begini terus, jangankan belajar, bertahan hidup saja sudah sulit.


Menurut penjelasan Kepala Akademi Orthea, reputasi Alphiria di Akademi Sihir Aurora bukan sekadar murid berprestasi.


Ia memiliki kecocokan dengan seluruh enam elemen dasar yang masih ada hingga sekarang—Api, Air, Angin, Tanah, Cahaya, dan Kegelapan—sehingga mendapat julukan "Penyihir Api Pelangi".


Selain itu, pada usia yang baru menginjak sepuluh tahun, ia telah menguasai sihir tingkat tinggi. Seorang jenius yang seolah benar-benar dicintai oleh bintang-bintang.


Permata keluarga Glastonbury yang sudah dipastikan akan menjadi penyihir agung dan mengukir namanya dalam sejarah.


Bukan hanya bakatnya. Wajah dan tubuhnya pun seakan mendapat berkah dari langit. Sepuluh dari sepuluh orang yang berpapasan dengannya pasti akan berhenti melangkah karena terpukau oleh kecantikannya.


Ia bukan sekadar bunga di puncak gunung yang sulit diraih, melainkan bintang paling terang di langit malam—atau seperti bayangan bulan di permukaan air yang ingin diraih seekor monyet, tetapi mustahil disentuh.


Sosok yang bahkan tak seorang pun diizinkan untuk menyentuhnya. Begitulah penilaian orang-orang terhadap Alphiria Glastonbury.


Saat pertama kali mendengar semua itu, kupikir mereka jelas membesar-besarkan.


Bagiku sendiri, Alphiria hanyalah gadis seumuranku yang memang sangat berbakat, tetapi juga punya sisi ceroboh, serta sifat tsundere yang diam-diam cukup menggemaskan.


Namun melihat suasana di sekitarku sekarang, kurasa aku harus mengubah penilaianku.


Sambil memikirkan semua itu, aku membuka pintu kelas. Seketika tatapan penuh rasa ingin tahu menusukku jauh lebih tajam daripada sebelumnya.


Di tengah suasana yang menegangkan itu, seorang gadis cantik berjalan menghampiri kami.


"Astaga, benar-benar mengejutkan. Tak kusangka Aria benar-benar berjalan bersama seorang laki-laki."


Tanpa sadar, pandanganku tertarik ke arah pemilik suara itu.


Rambutnya berwarna perak kebiruan, ditata dengan gaya wolf cut yang kasual. Wajahnya begitu rupawan dengan kesan androgini, tetapi berbanding terbalik dengan kecantikannya, lekuk tubuhnya sangat feminin.


Dua gunung dadanya seolah hendak menerbangkan kancing seragam dari dalam. Kontras yang luar biasa antara dada yang penuh dan pinggangnya yang ramping semakin menonjolkan proporsi tubuhnya yang sempurna.


"Uh, Cyril."


Alphiria langsung mengernyit terang-terangan.


"Reaksimu kasar sekali setiap kali melihat wajahku. Yah, itu tidak penting. Aria, sebenarnya apa hubunganmu dengan dia? Jangan-jangan pacarmu? Atau malah tunanganmu?"


Sambil berkata, "Coba ceritakan padaku," wanita cantik itu mendekati Alphiria. Sebagai balasan, Alphiria menghela napas panjang sambil mengangkat bahu dengan pasrah.


"Berhenti berprasangka aneh, Cyril. Dia adalah pengawal sekaligus pelayanku. Bukan pacarku, apalagi tunanganku."


Suara Alphiria yang menyangkal terdengar sedingin es, tetapi di baliknya terselip nada gugup yang membuat ucapannya terdengar lebih tajam.


"Pengawal untuk Aria, ya... Tapi aku hampir tidak merasakan kekuatan sihirmu."


"Jadi, sebenarnya kau ini siapa?" tanyanya sambil menyeringai. Wanita berambut perak itu mendekatkan wajahnya perlahan. Aroma citrus yang segar memenuhi hidungku, sementara dadanya yang lembut menekan lenganku. Aku refleks menelan ludah.


"Cyril. Kalau mau menanyakan nama orang, bukankah seharusnya memperkenalkan diri dulu?"


"Hehe. Benar juga. Namaku Cyril Felix. Aku teman masa kecil sekaligus sahabat Aria. Senang berkenalan, Tuan Pelayan."


Cyril menatapku seolah menikmati reaksiku. Aku menyadari pipiku mulai memanas, tetapi tetap berusaha bersikap tenang saat membalas salamnya.


"Nama saya Nanatsuma Shinya. Senang berkenalan juga, Cyril-san."


"Tidak perlu pakai 'San' atau bahasa formal. Kita ini teman sekelas. Panggil saja aku Cyril."


"...Baiklah, Cyril."


"Bagus, anak yang penurut. Sekarang pertanyaan pertama untukmu, Shinya. Aria itu sebenarnya perempuan yang merepotkan, kan?"


"...Hah?"


"Tunggu, Cyril! Apa-apaan pertanyaanmu itu!?"


Meski orang yang dibicarakan berdiri tepat di depannya, Cyril tetap saja melontarkan komentar buruk tanpa ragu. Alphiria menatapnya dengan sorot mata penuh protes, tetapi Cyril sama sekali tidak peduli dan terus berbicara.


"Aria itu cukup egois, kan? Dia sering menyuruh-nyuruhmu, ya?"


"T-Tidak juga... kurasa?"


"Shinya, kenapa malah jadi kalimat tanya? Seharusnya kau bilang tegas, 'tidak'!"


"Di akademi semua orang menjulukinya 'Si Cantik Tak Tersentuh', tapi sebenarnya dia itu gampang menangis, cepat murung, dan kesepian..."


"Cyril? Kau sedang cari gara-gara denganku, ya? Kalau memang mau bertengkar, ayo keluar."


Sambil tetap tersenyum, urat di pelipis Alphiria berkedut. Tinjunya mengepal dan gemetar karena menahan emosi. Namun Cyril tampaknya sudah terbiasa, sehingga ia memasang wajah seolah tak terjadi apa-apa. Nah, sebagai familiar, pilihan yang harus kuambil di sini adalah—


"Ah... Memang benar, Aria kadang suka merasa kesepian."


"...Eh?"


Begitu aku mengiyakan, wajah Cyril langsung berubah menjadi bengong. Ruang kelas yang sebelumnya riuh mendadak sunyi senyap.


Saat kulihat ke samping, Alphiria membeku dengan wajah merah padam hingga ke ujung telinganya. Sang jenius dari keluarga bangsawan Glastonbury itu benar-benar seperti udang rebus. Melihat reaksinya yang tak terduga, semua orang kehilangan kata-kata.


"...Pff... Hahaha! Bagus! Kau benar-benar yang terbaik!"


Hanya Cyril seorang yang memukul-mukul meja sambil tertawa terbahak-bahak. Setelah tawanya mereda, ia mendekatkan wajah ke telingaku dan berbisik.


"Hei, Tuan Pelayan. Kalau kau mau, bagaimana kalau bekerja untukku saja? Pasti capek terus disuruh-suruh Aria. Apalagi dia itu pemalu."


"E-Eh..."


Aku memilih menyimpan dalam hati pendapatku bahwa Alphiria sama sekali tidak terlihat pemalu.


"Kalau bersamaku, hidupmu bakal jauh lebih santai. Dan kalau itu yang kau inginkan... aku juga bisa memberimu hadiah yang cukup menggairahkan."


"Apa!? Hei, tiba-tiba ngapain begitu!?"


"Huu..."


Ia meniupkan napas hangat ke arahku, membuatku refleks melompat mundur. Cyril hanya tersenyum menggoda sambil menikmati reaksiku.


Godaan bebas tanpa aturan yang berbeda dari Alphiria maupun Kepala Akademi Orthea membuat detak jantungku melonjak drastis. Aku tahu seratus persen kalau dia hanya menggodaku, tetapi mengingat aku dan Alphiria benar-benar pernah melakukan hal-hal yang "menggairahkan", aku sama sekali tidak bisa menertawakannya.


"...Cyril. Kalau kau terus menggoda pelayanku, maka sebagai calon kepala keluarga Glastonbury, aku akan menghadapi langsung dirimu."


Seolah menyelamatkanku yang sedang kebingungan, Alphiria berdiri di antara kami. Namun suaranya sangat dingin, dipenuhi aura membunuh.


"Huhu. Berduel dengan Aria memang terdengar menarik, tapi kali ini aku mundur saja. Sampai nanti lagi, Tuan Pelayan."


Tanpa sedikit pun terlihat menyesal, Cyril melemparkan kedipan mata ceria sebelum kembali ke tempat duduknya.


Sementara itu, aku hanya bisa menahan keringat dingin yang mengalir di punggungku serta tekanan tanpa kata dari Alphiria yang seolah berkata, "Nanti habis pelajaran kau akan kena ceramah." Begitulah aku menunggu pelajaran dimulai.


*****


Saat masih berada di dunia asal, aku juga membaca light novel dan manga seperti orang kebanyakan. Di antaranya ada banyak cerita tentang tokoh utama yang berpindah atau bereinkarnasi ke dunia penuh pedang dan sihir.


Dan hampir selalu ada satu adegan yang menjadi ciri khas...


"Anak-anak, apakah kalian menikmati liburan panjang?"


Seorang pria paruh baya bernama Eldor Wagner, yang memancarkan aura tegas saat berdiri di podium, berbicara kepada para murid dengan suara tanpa emosi.


Suasana kelas langsung berubah tegang. Keceriaan beberapa saat yang lalu menghilang seolah hanya ilusi. Hanya segelintir orang—tepatnya Cyril yang sedang melambaikan tangan sambil tersenyum—yang tampak santai.


"Baiklah. Rencana pelajaran hari ini berubah. Kita akan melakukan pengukuran kemampuan. Siapa pun yang bermalas-malasan selama liburan dan tidak berlatih, bersiaplah menerima akibatnya."


Aku merasa mendengar seseorang menelan ludah. Bahkan ada beberapa murid yang memegangi kepala mereka. Mengetahui bahwa para pelajar di dunia ini juga menghabiskan liburan dengan bersenang-senang membuatku sedikit lega.


"Pertama, kita mulai dengan mengukur jumlah kekuatan sihir."


Begitu ia berkata demikian, sebuah kristal raksasa dibawa masuk ke dalam kelas. Aku tak bisa menahan decak kagum.


Kalau bicara tentang dunia lain, salah satu adegan paling khas sekaligus paling seru adalah pengukuran kekuatan sihir. Lalu tokoh utama menghancurkan kristalnya sambil berkata, "Eh? Apa aku melakukan sesuatu?"


"...Kira-kira tidak apa-apa, ya, Aria?"


"Kita hanya bisa menerima hasilnya. Pasrah saja."


Andai saja aku bisa ikut bersemangat seperti itu.


Sayangnya, aku tidak memiliki kemampuan curang seperti tokoh utama manga, ataupun kekuatan sihir yang cukup untuk menghancurkan kristal. Justru sebaliknya, jumlah kekuatan sihirku begitu rendah hingga layak dicap sebagai murid gagal.


Sambil meletakkan tangan di dada, aku mengingat kembali pelajaran yang ditanamkan Alphiria kepadaku tentang "Apa itu seorang penyihir?"


—"Ada beberapa faktor yang menentukan kehebatan seorang penyihir, tetapi yang paling mudah dipahami adalah jumlah kekuatan sihirnya. Semakin besar cadangan sihir yang dimiliki, semakin banyak pula sihir yang bisa digunakan. Karena itulah mereka dianggap sebagai penyihir yang unggul."


Sama seperti dalam permainan. Jika karakter bertarung dengan sihir sebagai senjata utamanya, maka semakin tinggi nilai MP yang dimilikinya, semakin kuat pula sihir yang bisa ia gunakan secara berulang-ulang.


—"Shinya, jumlah kekuatan sihirmu dalam kondisi normal benar-benar sampah. Saking menyedihkannya, sampai-sampai aku jadi iba."


Penilaian yang terlalu pedas itu membuatku hampir menangis.


Menurut Alphiria, rata-rata jumlah kekuatan sihir seorang penyihir adalah sekitar 20. Penyihir yang disebut kelas satu memiliki sekitar 100, sedangkan untuk mengikuti ujian masuk pasukan elit langsung di bawah keluarga kerajaan, Enam Kutub, dibutuhkan nilai 1.000 atau lebih.


Memang benar jumlah kekuatan sihir bisa ditingkatkan melalui latihan sampai batas tertentu, tetapi tetap ada batasnya. Lagi pula, berbeda dengan game, memiliki kekuatan sihir sedikit tidak otomatis berarti seseorang lemah.


Ngomong-ngomong, saat diperiksa menggunakan alat penilai sederhana milik Alphiria, jumlah kekuatan sihirku ternyata hanya 5. Angka yang sangat mengejutkan. Katanya, itu setara dengan bayi.


Sebagai perbandingan, kekuatan sihir Alphiria saat ini adalah 100. Meski masih berstatus pelajar, ia sudah memasuki ranah penyihir kelas satu. 


Ketika aku memujinya karena hal itu, ia malah berkata, "Jangan bercanda. Sebelum memanggilmu, jumlah kekuatan sihirku 500. Dibandingkan saat itu, diriku yang sekarang hampir tidak ada bedanya dengan murid gagal."


Sambil mengatakannya, Alphiria menghela napas panjang.


Kalau dia saja menyebut dirinya gagal, lalu aku yang cuma punya 5 ini harus bagaimana? Itulah yang diam-diam membuatku ingin menangis lagi.


"───Talon Muramore. Maju."


Sementara aku melamun memikirkan hal itu, pengukuran kekuatan sihir terus berlangsung tanpa hambatan.


Para murid yang sudah selesai menunjukkan berbagai ekspresi—ada yang tersenyum puas, ada pula yang murung. Di tengah itu semua, seorang siswa bernama Talon berdiri dengan penuh percaya diri di depan kristal.


Begitu ia menyentuh kristal, cahaya terang memancar dan sebuah angka muncul melayang di udara.


"Hm... 86, ya. Nilaimu meningkat dibanding sebelumnya. Teruslah berlatih seperti ini."


"Tentu saja. Selama liburan saya tidak berhenti berlatih."


Mendengar pujian dari Eldor-sensei, Talon membusungkan dada dengan bangga.


Jadi dia tetap berlatih saat liburan. Hebat juga. Kalau aku sih, pasti malah bermalas-malasan lalu menyesal belakangan.


Saat sedang memujinya dalam hati, entah kenapa ia malah menoleh ke arahku dan menatapku tajam.


"Turut berduka. Sepertinya kau sudah resmi dianggap musuh olehnya."


"Jangan bicara yang menyeramkan begitu, Cyril. Memangnya aku melakukan apa padanya?"


Saat aku kebingungan, Cyril yang menyeringai pindah ke kursi di sebelahku. Sementara itu, Alphiria tampak tidak tertarik dan hanya menopang dagunya sambil menguap.


"Talon itu tergila-gila pada Aria. Dia bahkan sudah beberapa kali langsung melamarnya tanpa pernah lebih dulu menyatakan cinta."


"Dia memang keras kepala. Sudah kutolak berkali-kali, tapi tetap saja tidak menyerah. Bukan karena wajah atau status keluarganya..."


Aku tidak tahu bagaimana latar belakang keluarganya, tetapi setidaknya dari sudut pandangku sebagai sesama pria, wajah Talon memang tampan.


"Kalau begitu, apa yang jadi masalah?"


"Kepribadiannya. Aku tidak suka pria yang terlalu percaya diri."


"Padahal menurutku anak laki-laki memang sebaiknya percaya diri sedikit. Meski begitu, aku juga tidak terlalu menyukainya."


Kasihan sekali Talon. Tanpa sepengetahuannya, dia baru saja ditolak oleh dua gadis sekaligus.


Aku hanya bisa berdoa dalam hati untuknya.


"Berikutnya... Cyril Felix. Silakan maju."


"Baiklah, Shinya. Aku pergi dulu."


Sambil mengedipkan mata dengan anggun, Cyril berdiri. Bahkan gerakan sekecil itu pun terlihat begitu memikat.


Beginilah susahnya kalau berhadapan dengan wanita cantik.


"Di belakang masih banyak yang antri. Cepat sana."


"Masa cuma karena aku sedikit menggoda dia saja kau langsung cemberut? Wanita yang terlalu pencemburu nanti tidak disukai, lho."


"...Mau kuhajar?"


Padahal keduanya sama-sama tersenyum, tetapi suasananya benar-benar seperti bom waktu yang siap meledak.


Aku ingin sekali kabur dari situ.


Sayangnya, di mata orang lain, aku mungkin terlihat seperti pria yang dikelilingi dua wanita cantik.


Akibatnya, tatapan penuh permusuhan dari para siswa—baik laki-laki maupun perempuan—langsung mengarah kepadaku hingga rasanya aku ingin menangis.


"...Kubunuh."


Sepertinya Talon bergumam sesuatu yang sangat berbahaya, tetapi aku memilih pura-pura tidak mendengarnya.


Tak lama kemudian, Cyril berdiri di depan podium untuk menjalani pengukuran.


"Jumlah kekuatan sihir 560... Luar biasa, Cyril Felix. Dibanding sebelumnya, peningkatannya hampir satu setengah kali lipat."


"Aku tidak suka terus-terusan kalah."


Cyril mengatakannya dengan santai, membuat Eldor-sensei hanya mengangkat bahu sambil tersenyum masam.


Sementara itu, Talon yang sebelumnya berhasil memperoleh angka mendekati kelas satu kini memasang wajah masam.


"Hehe. Bagaimana? Hebat juga, kan aku?"


Seperti anak kecil yang bangga mendapat nilai sempurna, Cyril melompat kecil sambil kembali ke tempat duduknya. Dadanya bergoyang mengikuti langkahnya.


Ia lalu menyilangkan kaki dan tanpa sungkan memperlihatkan kaki jenjangnya.


Pada saat yang sama ketika aku buru-buru mengalihkan pandangan, seseorang menendang tulang keringku dengan keras dari bawah meja.


Tak perlu dijelaskan lagi siapa pelakunya.


"Selanjutnya, Alphiria Glastonbury!"


"Ya."


Alphiria berdiri dengan tenang. Kemunculan sang bintang utama langsung membuat ruang kelas terdiam. 


Dengan langkah anggun layaknya pemeran utama yang naik ke atas panggung, ia berdiri di depan kristal.


Semua orang menahan napas menunggu angka yang akan muncul. Hanya aku seorang yang tegang karena alasan berbeda.


Terdengar seseorang menelan ludah.


Detik berikutnya—WOOOOOOSH!! 


Suara gemuruh yang mengguncang gendang telinga bergema, sementara enam warna kekuatan sihir menyembur keluar dari kristal. 


Lalu muncullah angka yang mencengangkan—800


"A-Apa...?"


Bahkan Eldor-sensei kehilangan kata-kata melihat angka yang berada di luar dugaan itu.


Cyril menutupi wajahnya sambil tertawa kecil dan mendongak ke langit-langit. Sedangkan Talon dan murid-murid lainnya hanya bisa tercengang.


"Haa... Seperti biasa, kau memang berada di luar standar, Alphiria Glastonbury. Nilai 500 milikmu sebelumnya saja sudah luar biasa. Tapi mencapai 800 saat masih menjadi siswa benar-benar tidak masuk akal."


"Terima kasih atas pujiannya."


Alphiria menundukkan kepala dengan rendah hati sebelum kembali ke tempat duduk.


Tadi ia terlihat seperti pemeran utama di atas panggung, tetapi kini lebih menyerupai seorang raja yang kembali setelah kemenangan.


Tanpa kusadari, seluruh kelas dipenuhi tepuk tangan. Sementara itu, aku diam-diam mengembuskan napas lega.


Syukurlah. Rahasianya tidak terbongkar.


Selain memiliki jumlah kekuatan sihir yang luar biasa, Alphiria juga memiliki bakat pada enam elemen dan telah menguasai sihir tingkat tinggi. Ia benar-benar seorang jenius.


Namun, saat memanggilku ke dunia ini, seharusnya ia telah kehilangan delapan puluh persen kekuatan sihirnya dan bahkan tidak lagi mampu menggunakan sihir dengan baik.


Kalau fakta itu diketahui orang lain, kedudukannya akan runtuh dalam sekejap.


Aku terus cemas memikirkan bagaimana ia akan menutupinya. Namun hasil akhirnya justru 800.


Saat aku masih kebingungan, Alphiria yang baru selesai diukur mendekat ke telingaku dan berbisik dengan suara ceria,


"Setelah tidur nyenyak semalaman, kekuatan sihirku pulih sepenuhnya! Memang hebat ya, aku!"


Jadi, rupanya itulah alasan suasana hatinya sedang begitu baik. Meski begitu, benarkah ada hal semudah itu?


Malam sebelumnya, setelah selesai mandi, terjadi insiden di mana ia memelukku dalam keadaan nyaris telanjang. Saat itu aku ingat bagian dalam dadaku berdenyut panas dengan sangat kuat.


Entah kenapa aku merasa mungkin itulah penyebabnya. Namun, sebagai orang awam dalam sihir, aku sama sekali tidak punya cara untuk membuktikan hubungan sebab akibatnya.


"Sepertinya aku memang masih belum bisa mengalahkan Aria. Aku sudah merasa berusaha keras, tapi ternyata kau masih bisa melampauiku dengan mudah."


"...Itu cuma kebetulan."


Mendengar Cyril yang setengah pasrah mengakui kekalahannya, Alphiria menjawab sambil berusaha menyembunyikan senyum puas di sudut bibirnya.


Benar-benar tidak jujur.


"Baiklah, yang terakhir...Nanatsuma Shinya. Silakan maju."


Akhirnya namaku dipanggil. Jantungku langsung berdetak lebih kencang.


Melakukan pengukuran setelah semua orang masih terpukau oleh angka milik Alphiria rasanya sudah seperti hukuman.


Tatapan penuh rasa ingin tahu dari para murid terasa begitu menyakitkan.


"Itu pelayan yang dipekerjakan Alphiria-san. Pasti hebat juga, ya."


"Dilihat-lihat sih aku sama sekali tidak merasakan kekuatan sihir darinya. Apa dia baik-baik saja?"


"Kalau ternyata angkanya biasa saja, bakal jadi masalah besar."


Sambil mendengar bisik-bisik yang dipenuhi harapan sekaligus keraguan itu, aku berdiri.


Hasilnya sudah jelas seperti api yang menyala di depan mata. Begitu pula reaksi yang akan muncul. Yang kurasakan hanyalah rasa muram.


"Tak usah dipikirkan, Shinya."


Tepat sebelum aku melangkah menuju podium, Alphiria memanggilku dengan suara pelan yang hanya bisa kudengar.


"Aku sudah bilang, kan? Kau adalah pelayanku. Apa pun yang terjadi, hadapilah dengan kepala tegak."


"...Terima kasih, Aria."


Dorongan penuh keyakinan dari majikanku memberiku keberanian. Aku pun berdiri di depan kristal.


Di bawah tatapan semua orang, aku menarik napas panjang sekali, memantapkan tekad, lalu perlahan menyentuhkan telapak tanganku ke permukaan kristal.


Suasana kelas menjadi hening.


Tidak ada gemuruh dahsyat seperti saat Alphiria diukur, maupun kilatan cahaya menyilaukan seperti yang terjadi pada Talon. Hanya cahaya redup bagaikan lampu kecil yang berkedip lemah, lalu sebuah angka tanpa ampun muncul di atasnya.


5


"...Hah?"


Wajah Eldor-sensei membeku karena terkejut. Ia mengusap matanya berkali-kali seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya, bahkan memeriksa apakah kristalnya rusak.


Sementara itu, dengan rasa malu dan tidak enak hati, aku berbalik untuk kembali ke tempat dudukku.


"Oi... serius? Kekuatan sihirnya cuma 5? Baru kali ini aku melihatnya."


"Akademi Sihir bukan tempat buat bayi belajar, tahu?"


"Dengan kemampuan begitu, mana mungkin dia bisa jadi pengawal Alphiria-san. Paling bisa cuma jadi pembawa barang."


Caci maki menghujaniku dari segala arah seperti batu yang dilemparkan.


Aku berusaha mengabaikannya sambil terus berjalan menuju bangkuku. Namun di tengah jalan, Talon tiba-tiba menjulurkan kakinya untuk menghalangi jalanku.


"...Apa yang sebenarnya kau lakukan?"


"Hah?"


"Jangan pura-pura bodoh. Dengan kekuatan sihir yang bahkan lebih rendah dari sampah, bagaimana caramu mengambil hati Alphiria-san?"


Nada bicaranya penuh tekanan. Di matanya bukan hanya ada rasa iri, tetapi juga kebencian yang murni.


Mengambil hati? Aku sendiri sebenarnya hanyalah korban yang tiba-tiba dipanggil ke dunia ini. Tentu saja aku tidak mungkin mengatakan hal itu.


Tanpa menjawab sepatah kata pun, aku menghindari kakinya lalu duduk di kursiku.


"T-Tunggu! Ini pasti ada kesalahan! Mari kita ukur sekali lagi—"


"Tidak perlu, Sensei. Tidak usah mengkhawatirkan Shinya."


Suara dingin Alphiria memotong ucapan Eldor-sensei.


Kalimatnya terdengar begitu kejam. Dari sudut pandang orang lain, mungkin ia tampak muak dengan kegagalan pelayannya. Namun aku tahu. Itulah caranya melindungiku agar tidak semakin menjadi bahan ejekan. 


Begitu aku duduk, Alphiria memalingkan wajahnya dengan kesal. Tetapi di bawah meja, ia diam-diam mengulurkan tangan dan menggenggam erat ujung bajuku.


Entah karena marah atau merasa bersalah karena tidak bisa membelaku, ujung jarinya sedikit gemetar.


"Tak usah dipikirkan, Shinya. Biarkan saja mereka menertawakanmu sekarang."


"...iya. Terima kasih."


Di tengah suara ejekan di sekeliling kami, Alphiria berbisik pelan nyaris tak terdengar. Meski ucapannya terdengar ketus, hatiku menjadi jauh lebih ringan.


"Hei, Aria. Maaf mengganggu suasana, tapi ini masih jam pelajaran, lho. Tolong jangan terlalu bermesraan."


"...A-Apa!? Kami tidak sedang bermesraan! Jangan bicara yang aneh!"


Wajah Alphiria langsung memerah saat membalas teriakan Cyril. Percakapan mereka membuat suasana berat yang memenuhi kelas seketika mencair.


Tatapan mengejek yang sebelumnya tertuju padaku pun berubah menjadi tatapan pasrah dan keheranan.


"Haa... Baiklah. Pengukuran selesai! Selanjutnya kita beralih ke latihan praktik! Semua murid segera menuju dungeon!"


Saat suara Eldor-sensei bergema memberi instruksi, Talon menatapku dengan sorot mata penuh niat membunuh.


Aku hanya bisa berharap dalam hati semoga tidak terjadi masalah.


*****


Di kedalaman bawah tanah akademi.


Kami berkumpul di depan sebuah pintu batu raksasa, lalu Eldor-sensei mulai menjelaskan aturan mengenai labirin.


Meski begitu, tampaknya semua orang selain aku sudah mengetahuinya.


"Seperti yang sudah kalian ketahui, Labirin Bawah Tanah Aurora menggunakan lingkaran sihir teleportasi di pintu masuk, sehingga titik awal setiap murid di dalam labirin akan ditentukan secara acak. Di mana pun kalian dipindahkan, jangan pernah lengah dan selalu siap menghadapi keadaan!"


Hampir tidak ada murid yang benar-benar mendengarkan.


Sambil menjawab asal-asalan, mereka satu per satu diselimuti cahaya lingkaran sihir dan berpindah ke dalam labirin.


Talon melirikku sambil tersenyum mengejek.


Cyril hanya berkata, "Jangan sampai mati."


Setelah itu, akhirnya giliranku tiba. Saat itulah Alphiria melangkah dan berdiri di sampingku.


"Eldor-sensei, bolehkah saya mengajukan satu permintaan?"


"Ada apa, Alphiria?"


"Seperti yang baru saja diukur, kekuatan sihir Shinya hanya 5. Sangat berbahaya jika ia dipindahkan sendirian ke dalam dungeon. Sebagai majikannya, saya ingin meminta izin untuk mendampinginya."


Mendengar permohonan tegas itu, Eldor-sensei mengusap dagunya dan berpikir beberapa detik.


"Hmm... Memang ujian ini bertujuan mengukur kemampuan masing-masing, tetapi aku juga tidak ingin ada murid yang mati. Baiklah. Sebagai pengecualian, aku mengizinkan kalian pergi bersama."


"Terima kasih banyak. Shinya, ulurkan tanganmu."


"Hm? Begini?"


Begitu aku mengulurkan tangan, Alphiria langsung menggenggam erat tangan kananku tanpa memberi kesempatan untuk menolak.


Aku masih kebingungan ketika ia berkata,


"Supaya kita tidak terpisah saat diteleportasi. Jadi jangan sampai kau lepaskan, mengerti?"


"O-Oh... mengerti."


Sambil memalingkan wajah untuk menyembunyikan pipinya yang sedikit memerah, Alphiria menggenggam tanganku semakin erat.


Syukurlah tidak ada murid laki-laki di sekitar.


Kalau ada—terutama Talon—mungkin aku sudah menjadi sasaran tatapan penuh niat membunuh, atau bahkan dihujani sihir.


Sambil memikirkan itu, aku melangkah bersama Alphiria memasuki lingkaran teleportasi. 


Sesaat kemudian, pandanganku memutih dan tubuhku diselimuti sensasi melayang.


Ketika cahaya menghilang dan aku perlahan membuka mata, aroma lembap bercampur jamur dan tanah tua langsung menusuk hidungku.


Langit-langitnya menjulang tinggi. Dinding-dinding batu yang kasar. Hanya cahaya obor yang dipasang berjajar dengan jarak teratur yang menerangi ruangan yang gelap, dingin, dan suram.


"...Jadi ini... dungeon yang sesungguhnya."


Tempat seperti ini sudah berkali-kali kulihat dalam game dan manga. Namun udara dingin yang menyentuh kulit serta bau debu yang masuk ke paru-paruku setiap kali bernapas membuatku sadar bahwa ini bukan fiksi.


Rasa jijik yang naluriah bercampur dengan ketakutan paling mendasar membuat tubuhku tanpa sadar menegang.


"Hei, sampai kapan kau akan melamun?"


"A-Aku cuma kaget. Tiba-tiba pemandangannya berubah total, udaranya juga berbeda. Lagi pula... aku ini orang dari dunia lain. Ini pertama kalinya aku masuk dungeon, jadi..."


"...Benar juga. Kalau tiba-tiba dibawa ke tempat seperti ini, siapa pun pasti akan terkejut. Maaf. Aku kurang peka."


Alphiria berkata dengan nada merasa bersalah.


Padahal bukan itu maksudku. Memang aku takut. Namun di sisi lain, aku juga diam-diam terharu karena akhirnya bisa melihat pemandangan yang selama ini hanya ada dalam mimpiku.


"Bukan salahmu kok, Aria. Meski begini... sebenarnya aku juga cukup bersemangat."


"Hehe. Padahal kau tidak perlu berpura-pura kuat... Tapi tetap, terima kasih."


Dengan senyum lega, Alphiria kembali menggenggam erat tangan kananku.


"Ayo."


Suara langkah sepatu kami berdua bergema di lantai batu.


"U-um... Alphiria-san? Bukankah jarak kita terlalu dekat?"


"Tidak. Justru terlalu berbahaya. Mendekatlah sedikit lagi ke sini, Shinya."


Keberatanku yang sederhana langsung ditolak mentah-mentah, bahkan ia malah mengkhawatirkanku.


Meskipun proses teleportasi sudah selesai, Alphiria dan aku masih bergandengan tangan. Bukan hanya itu, kami berjalan dengan jarak yang begitu dekat hingga bahu kami saling bersentuhan.


Karena lorongnya hanya satu jalur, mustahil kami tersesat. Namun ini adalah dungeon. Tidak ada yang tahu kapan dan dari mana monster mengerikan akan muncul. 


Kalau kami terus berjalan sedekat ini, apa kami benar-benar bisa bereaksi saat keadaan darurat? Jika diserang, aku yang hanyalah mantan siswa SMA biasa tanpa kemampuan bertarung sama sekali tidak akan mampu melawan.


"Tak perlu takut. Kalau ada monster yang menyerang, aku yang akan mengatasinya. Jadi tenang saja, anggap dirimu berada di atas kapal yang besar dan kokoh."


Alphiria yang berjalan di sampingku berkata dengan suara penuh keyakinan, seolah rasa putus asa yang tadi sempat menguasainya hanyalah kebohongan belaka.


Setelah mencetak angka 800 pada pengukuran kekuatan sihir tadi, rasa percaya diri seorang yang kuat telah kembali sepenuhnya padanya.


(Tapi... kekuatan sihir itu... apa benar hanya pulih karena tidur semalaman?)


Perasaan khawatir itu belum benar-benar hilang. Namun untuk saat ini, aku hanya bisa mempercayai kata-katanya dan terus berjalan.


Ngomong-ngomong, di dunia ini dungeon dianggap seperti "bisul".


Konon, dungeon terbentuk ketika kekuatan sihir di atmosfer berkumpul secara berlebihan di suatu tempat, mengeras, lalu mengikis tanah hingga membentuk ruang bawah tanah.


Dahulu dungeon bermunculan di berbagai belahan dunia, lalu ditaklukkan dan lenyap oleh para penyihir. Namun selama beberapa ratus tahun terakhir, tidak ada dungeon baru yang muncul lagi. Saat ini dikatakan hanya ada tiga dungeon yang masih tersisa di seluruh dunia.


Labirin Bawah Tanah Aurora yang sedang kami jelajahi adalah salah satu dari Tiga Labirin Besar tersebut.


"───Dari penjelasanmu tadi, kukira tempat ini bakal jauh lebih menyeramkan. Ternyata cuma seperti gua biasa."


Melihatku menoleh ke sekeliling dengan sedikit kecewa, Alphiria menghela napas seolah merasa heran.


"Ya tentu saja. Lantai-lantai dangkal di sekitar sini adalah wilayah yang sudah diamankan oleh penghalang sihir milik Kepala Akademi Orthea. Hampir tidak ada bahaya di sini."


"...Jadi maksudmu, tempat kita sekarang ini seperti halaman belakang rumah kepala akademi? Tempat berbahaya kelas dunia malah dijinakkan jadi arena latihan? Orang itu benar-benar kelewat luar biasa."


"Kurang lebih begitu. Berkat itu, kita bisa memperoleh pengalaman bertarung sejak masih menjadi siswa dengan aman. Semua ini berkat Kepala Akademi."


Alphiria mengangkat bahu sambil berkata demikian.


Sebagai tambahan, kedalaman terdalam Labirin Bawah Tanah Aurora yang berhasil dicapai hingga saat ini adalah lantai ke-48. Penghalang sihir milik kepala akademi hanya bekerja sampai lantai ketiga.


Bahkan beredar rumor bahwa di lantai terdalam yang belum terjamah masih tersimpan peninggalan dari Zaman Para Dewa.


Sambil mengobrol seperti itu, kami terus berjalan. Tak lama kemudian, dari kegelapan di depan terdengar suara melengking yang menjijikkan.


『Gigigigi...』


Suara itu membuat bulu kudukku merinding karena rasa jijik yang naluriah.


"Berhenti. Shinya, mundurlah."


Dengan suara tenang namun tegas, Alphiria mencabut pedang yang terselip di pinggangnya.


Saat tangan hangat yang tadi menggenggamku terlepas, entah kenapa aku merasa sedikit gelisah.


Senjata yang digenggamnya disebut Pedang Tongkat, yaitu senjata yang menyatukan pedang dan tongkat sihir menjadi satu.


Bagi seorang penyihir, ancaman terbesar sekaligus kelemahan utamanya adalah pertarungan jarak dekat.


Sehebat apa pun seorang penyihir, tetap dibutuhkan sekitar satu detik untuk mengaktifkan sihir. Bagi seorang ksatria kelas atas, waktu sesingkat itu sudah cukup untuk mendekat dan memenggal kepala lawannya.


Untuk menutupi kelemahan itulah Pedang Tongkat dikembangkan. Semua pengetahuan itu juga diajarkan Alphiria kepadaku.


『Guugyaaah!』


Dari dalam kegelapan muncul tiga makhluk kecil berkulit hijau. Goblin.


Dalam kebanyakan manga fantasi mereka digambarkan sebagai monster paling lemah. Namun di beberapa cerita lain, mereka terkenal sebagai makhluk keji yang sering menjadi pelaku berbagai tindakan brutal.


"Goblin, ya. Memang cocok untuk latihan praktik."


Dengan senyum penuh percaya diri, Alphiria melangkah ke depan dan berdiri melindungiku.


Melihat lawannya hanyalah goblin, rasa percaya dirinya yang begitu besar justru membuatku sedikit khawatir.


"Shinya, jangan bergerak dari situ. Perhatikan baik-baik bagaimana cara bertarung menggunakan sihir."


"Baik. Tapi hati-hati ya, Aria."


"Hehe. Kau kira aku ini siapa? Melawan monster lemah seperti mereka saja aku tidak mungkin kalah."


Kalimat seperti itu biasanya jadi pertanda buruk. Aku hanya menggumam dalam hati, sementara Alphiria berdiri dengan tenang mengarahkan Pedang Tongkatnya ke arah para goblin.


Suasana yang menegangkan membuatku tanpa sadar menelan ludah.


『Guugyaaaah!!』


Sambil mengeluarkan raungan kotor, ketiga goblin itu menyerbu Alphiria secara bersamaan. Namun Alphiria sama sekali tidak bergeming. Perlahan ia mengangkat Pedang Tongkatnya.


"Jadilah abu..."


Api yang berkobar hebat menyelimuti bilah pedangnya, menerangi gua yang gelap dengan cahaya merah menyala.


Aku bergidik saat menyaksikan kekuatan yang disebut-sebut sebagai asal mula segala sesuatu sekaligus lambang perubahan itu.


Namun goblin-goblin yang bodoh itu tampaknya tidak memahami arti kekuatan yang sedang mereka hadapi.


"『Hellfire Fury』."


Alphiria mengayunkan Pedang Tongkatnya perlahan ke samping.


Mengikuti jejak tebasan itu, kobaran api merah menyala menyembur keluar dan dalam sekejap menelan ketiga goblin tersebut. Bau daging terbakar yang menyengat memenuhi gua, disertai gelombang panas yang luar biasa.


"...Jadi inilah sihir... hebat."


Aku bergumam kosong sambil menatap sisa-sisa goblin yang kini telah berubah menjadi arang.


Ini sama sekali berbeda dengan efek CG dalam game atau film. Panasnya terasa membakar kulitku, dan bau hangus memenuhi hidungku.


Namun Alphiria hanya mengibaskan Pedang Tongkatnya seolah tidak terjadi apa-apa, memadamkan sisa api, lalu menyarungkannya kembali.


"Aku sudah menahan diri, tapi sepertinya tetap agak berlebihan."


"Bukannya agak lagi... itu sudah kelewatan, kan?"


"Sebagai informasi, itu bahkan bukan kekuatan penuhkku. Kalau baru segitu saja kau sudah terkejut, jantungmu tidak akan sanggup menghadapi yang sebenarnya."


Alphiria membusungkan dadanya dengan bangga.


Kalau dia benar-benar serius, mungkin dia bahkan bisa menghancurkan seluruh gua tanpa perlu repot-repot menjelajahinya.


Namun ada satu hal yang mengganjal pikiranku. Meskipun wajahnya tampak tenang, napasnya terlihat sedikit lebih berat.


Lagi pula, apa perlu menggunakan sihir sebesar itu hanya untuk menghadapi tiga goblin, monster terlemah?


(Apa dia kesulitan mengendalikan kekuatannya...? Atau konsumsi sihirnya sedang sangat boros?)


Kecurigaanku perlahan berubah menjadi keyakinan.


Sementara itu, Alphiria sendiri tampaknya tidak menyadari hal tersebut dan terus berjalan dengan penuh semangat.


"Jangan melamun. Kita lanjut. Kalau terlalu lambat, nanti keburu malam."


Aku segera mengejarnya. 


Dengan kekuatan seperti itu, seharusnya monster apa pun yang menunggu di depan bukanlah lawannya. Meski begitu, entah kenapa rasa gelisah di dadaku justru semakin besar.


Sepanjang perjalanan, beberapa kelompok goblin kembali menghadang. Namun setiap kali itu terjadi, Alphiria hanya perlu mengayunkan Pedang Tongkatnya sekali untuk menghabisi mereka seketika sebelum kembali melangkah semakin jauh ke dalam labirin.


"Ngomong-ngomong, ada yang membuatku penasaran... Julukanmu itu 'Penyihir Api Pelangi', kan? Padahal kau punya bakat di semua elemen. Kenapa justru 'api'?"


"Tidak ada alasan khusus. Hanya karena sihir elemen api memang yang paling kuasai. Walaupun aku punya bakat di semua elemen, tetap saja ada yang lebih mahir dan ada yang kurang."


"Kukira semua sihirmu sama hebatnya."


"Orang yang bisa menggunakan semua elemen dengan tingkat kemahiran yang sama mungkin hanya Kepala Akademi Orthea....Dan juga Pendiri Sihir."


Alphiria mengangkat bahu setelah mengatakannya.


"Oh ya, boleh tanya satu lagi? Jangan-jangan kau sebenarnya putri bangsawan?"


"Hehe. Benar. Di mata masyarakat, keluargaku dikenal sebagai keluarga penyihir terpandang."


Katanya, keluarga Glastonbury merupakan salah satu keluarga bangsawan paling berpengaruh di Kerajaan Arcadia.


Mereka telah melahirkan banyak penyihir yang bergabung dengan pasukan penyihir terkuat di bawah langsung keluarga kerajaan, yang dikenal sebagai Enam Kutub.


"Bukankah itu berarti kau berasal dari kalangan elit?"


"Sudah mulai menghormatiku sedikit?Targetku adalah bergabung dengan Enam Kutub dan mewarisi keluargaku suatu hari nanti. Karena itulah aku tidak punya waktu untuk berhenti di tengah jalan... Ah, akhirnya sampai juga."


Alphiria menunjuk ke depan. Di sana berdiri sebuah pintu batu raksasa dengan lambang besar terukir di permukaannya.


Di kedua sisinya berdiri patung goblin yang menyerupai sepasang penjaga. Meski monster, rupanya mereka juga suka memasang patung penjaga.


"...Bosnya ada di balik pintu itu?"


"Tidak usah takut. Walaupun disebut bos, paling cuma goblin yang ukurannya sedikit lebih besar. Satu serangan sihirku juga selesai."


Alphiria mengedipkan mata dengan manis.


Mungkin ia sedang berusaha menyemangatiku yang gugup hingga tanpa sadar menelan ludah.


Aku merasa malu karena tidak bisa setenang tokoh utama manga yang berpindah ke dunia lain. Melihatku seperti itu, Alphiria menepuk pelan bahuku.


"Tenang saja. Nanti aku akan melatihmu habis-habisan. Untuk sekarang, tetaplah di belakangku. Mengerti?"


Saat aku hendak mengangguk—


"Kyaaaaaa!! T-Tolong! Seseorang... tolong kami!!"


Jeritan memilukan menggema dari balik pintu batu. Suara itu jelas milik murid yang lebih dulu memasuki dungeon.


"Apa itu tadi!?"


"...!"


"Ayo, Shinya!"


Tatapan dan suara Alphiria langsung berubah tajam. Kami berdua berlari ke depan pintu batu raksasa dan mendorongnya sekuat tenaga.


Groooom...pintu itu terbuka dengan suara gemuruh.


Begitu memasuki ruangan luas di baliknya, pemandangan yang terbentang di depan kami membuat napas kami tercekat.


Berdiri di sana adalah monster bertubuh raksasa dengan otot sebesar batu, kulit merah kehitaman, dan sebuah gada besar yang sedang diangkat tinggi.


Goblin Lord. Monster itu sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan goblin yang kami temui sebelumnya.


Di lantai batu tergeletak beberapa murid dalam keadaan mengenaskan.


Seorang siswi pingsan setelah terpental ke dekat dinding. Seorang siswa lain terduduk gemetar sambil menggenggam Pedang Tongkat yang telah patah. Bahkan dengan jumlah sebanyak itu, mereka sama sekali bukan tandingan monster tersebut.


"Sial...! Ini cuma latihan praktik! Kenapa bisa muncul monster mutan seperti ini!?"


Seorang siswa yang tubuhnya penuh luka merangkak di lantai sambil berteriak putus asa.


Sesuatu yang seharusnya tidak mungkin terjadi telah muncul di dungeon yang berada di bawah pengawasan kepala akademi.


Naluri bertahan hidupku berteriak agar segera lari. Namun Alphiria justru melangkah maju.


"Kalian semua cepat keluar dan panggil Eldor-sensei! Aku akan menahan monster itu di sini!"


"A-Alphiria-san!? T-Tapi... monster itu tidak normal! Bahkan Anda pun mungkin..."


"Terima kasih atas peringatannya. Tidak usah mengkhawatirkanku! Cepat bawa teman-temanmu pergi!"


Tertekan oleh tekadnya, siswa itu akhirnya mengangguk. Ia membangunkan murid-murid yang masih sadar, menggendong siswi yang pingsan, lalu berlari menuju pintu keluar. Saat melewati kami, ia berteriak,


"Maaf! Kami akan segera membawa sensei ke sini!"


"Shinya, jangan bergerak dari situ."


"...Aria, kau benar-benar yakin?"


"Kau sedang bicara dengan siapa? Aku Alphiria Glastonbury. Aku tidak akan gentar hanya karena hal seperti ini."


『Guooooooo!!』


Raungan mengerikan itu hampir merobek gendang telinga. Tekanan suaranya saja sudah cukup membuatku nyaris tak mampu berdiri.


Goblin Lord melesat maju dengan kecepatan tinggi, lalu mengayunkan gada raksasanya seperti batang pohon.


"Terlalu lambat!"


Alphiria menghindari serangan mematikan itu hanya dengan sedikit gerakan. Ia mengangkat Pedang Tongkatnya tinggi ke langit.


"Wahai api neraka, berkobarlah—『Infernal Blade Bloom』."


Semburan api bersuhu sangat tinggi meledak dari Pedang Tongkatnya. Dalam sekejap, seluruh ruangan berubah menjadi lautan api.


Tubuh raksasa Goblin Lord langsung tertelan kobaran tersebut.


『Graaaah...!!』


Goblin Lord mengaum kesakitan sambil menggeliat di dalam api. Bau daging terbakar yang menusuk hidung membuatku tanpa sadar mengernyit.


"Aku muak melihat wajahmu yang menjijikkan. Saatnya mengakhirinya."


Kekuatan sihir memancar dari seluruh tubuh Alphiria.


Saat ia hendak melancarkan sihir berikutnya kepada monster yang masih berjuang di tengah api—


『Guoooooo!!』


Goblin Lord memaksa menerobos kobaran api dan kembali berdiri. Kulit merah kehitamannya yang seharusnya sudah hangus mulai menggembung dengan suara menjijikkan, lalu pulih kembali hanya dalam sekejap.


"Regenerasi!? Goblin Lord bisa melakukan itu juga!?"


Alphiria membelalakkan mata.


Mungkin inilah kemampuan khusus monster mutan. Mungkin saja itulah alasan para murid sebelumnya tidak mampu mengalahkannya.


"Kalau begitu... aku akan membakarmu sampai menjadi abu sebelum regenerasimu sempat bekerja!"


Alphiria menggertakkan gigi dan kembali mengangkat Pedang Tongkatnya.


"Wahai api neraka, mekarlah—『Infernal Blade Bloom』."


Ratusan pedang api bermunculan, memenuhi seluruh aula. Ujung-ujungnya mengarah ke Goblin Lord, siap ditembakkan secara bersamaan. Namun—


"...Eh?"


Suara bingung Alphiria terdengar lirih.


Pada saat yang sama, cahaya sihir yang menyelimuti Pedang Tongkatnya lenyap begitu saja, seolah baterai mainan tiba-tiba habis. Bahkan seluruh pedang api yang hendak menyerang Goblin Lord pecah menjadi butiran cahaya dan menghilang.


"T-Tidak mungkin... kekuatan sihirku... habis...?"


Pedang Tongkat di tangannya bergetar. Alphiria terus berusaha memaksa mengeluarkan sihir. Namun bahkan percikan api pun tidak muncul.


Firasatku sejak tadi akhirnya menjadi kenyataan dalam bentuk yang paling buruk. Angka 800 yang muncul saat pengukuran ternyata hanyalah peningkatan sementara. Kekuatan sihir Alphiria sebenarnya belum benar-benar pulih.


Sihir berlebihan yang ia gunakan untuk melawan goblin di sepanjang jalan, ditambah sihir penghancur berskala besar barusan, telah menguras habis sisa kekuatan sihirnya.


『Gyagyagyagya!!』


Melihat lawannya tiba-tiba melemah, wajah Goblin Lord yang mengerikan berubah menjadi seringai penuh kegembiraan. Monster itu perlahan mendekati Alphiria yang masih terpaku.


"...Jangan bercanda! Kau pikir aku ini siapa!"


Mengusir rasa putus asa karena tidak bisa menggunakan sihir, Alphiria menerjang maju.


Pedang Tongkat—senjata yang diciptakan untuk menutupi kelemahan penyihir dalam pertarungan jarak dekat—menusuk lurus ke titik vital Goblin Lord.


Klanggg!!


"T-Tidak mungkin...!?"


Tusukan sekuat tenaga itu ditahan oleh lengan kekar Goblin Lord yang digunakan sebagai tameng. Bilah pedangnya bahkan tidak mampu menggores kulit merah kehitaman monster itu.


Percikan api beterbangan seperti benturan dua logam, lalu Pedang Tongkat Alphiria terpental.


『GRAH!』


"Kyaaah!?"


Tepat setelah itu, Goblin Lord mengayunkan pukulan punggung tangannya dengan sembarangan, seolah hanya sedang menepis seekor serangga.


Pukulan itu memang tidak mengenainya secara telak. Namun, hanya karena tersenggol sedikit saja, tubuh ramping Alphiria sudah terlempar seperti sehelai daun dan menghantam dinding batu yang keras.


"Khah... ugh..."


Tubuhnya jatuh tak berdaya ke lantai batu, wajahnya terdistorsi oleh rasa sakit. Ia berusaha bangkit, tetapi kedua kakinya kehilangan tenaga akibat luka yang dideritanya, hingga akhirnya hanya bisa terduduk lemas di tempat.


Sosoknya yang gagah sebagai seorang yang kuat kini lenyap tanpa bekas. Di hadapan kematian yang begitu nyata, ia memeluk tubuhnya yang gemetar.


"Ti-tidak...! Jangan mendekat!"


Goblin Lord bertubuh merah kehitaman itu menjulang di atas Alphiria yang terus mundur. Gada raksasanya terangkat tinggi.


Itu bagaikan sabit Malaikat Maut yang siap merenggut nyawanya tanpa ampun.


"Aku tidak mau... berakhir di tempat seperti ini..."


Butiran air mata besar mulai berjatuhan dari mata Alphiria.


"Kalau saja... kalau saja aku masih punya sihirku...!"


Jeritan pilu yang seolah memuntahkan darah bergema di aula yang sunyi.


"Andai saja sihirku yang sebenarnya masih ada... monster seperti ini bisa kuubah menjadi abu dalam sekejap...! Aku masih ingin bergabung dengan Enam Kutub...!"


Itu adalah kerinduan mendalam terhadap kekuatan sihir yang telah hilang. Amarah terhadap kelemahannya sendiri. Dan keputusasaan karena masa depan yang diimpikannya mungkin tak akan pernah terwujud.


"Ti-tidak. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi...!"


Bagaimana pun aku berpikir, aku sama sekali tidak punya kekuatan untuk melawannya. Bahkan aku tak memiliki senjata yang bisa melukai tubuh monster itu.


Tapi apakah aku harus diam saja menyaksikan semua ini?


Jawabannya tentu saja tidak. Aku adalah familiar miliknya. Mustahil aku membiarkan majikan yang begitu manis menangis dalam keputusasaan tepat di depan mataku.


Kalau memang harus mempertaruhkan nyawa, maka saatnya adalah sekarang.


"Aria, lariii—!!"


Tanpa sempat berpikir, tubuhku melesat maju seolah didorong oleh kekuatan yang tak terlihat. Pada saat itu juga—Duk!


Jantungku berdetak begitu keras hingga terasa membakar dari dalam. Dengan kecepatan yang bahkan membuatku sendiri terkejut, aku tiba di hadapannya tepat ketika Goblin Lord hendak mengayunkan gada mautnya.


"Hah? Shinya...!?"


Sambil memeluk erat Alphiria yang terkejut, aku melompat menghindari serangan mematikan itu.


Doooooom!! Lantai batu di belakang kami hancur berkeping-keping.


Kami berguling di atas lantai batu yang dingin, diterpa gelombang kejut yang membuat seluruh tulangku serasa remuk.


"Dasar bodoh, Shinya! Kenapa kau malah maju!? Kau ingin mati, ya!?"


Alphiria berteriak dalam pelukanku. Di matanya yang menatapku penuh amarah, air mata ketakutan dan kepanikan menggenang.


"M-maaf. Tapi saat kulihat Aria dalam bahaya... tubuhku bergerak sendiri..."


"...Bodoh. Kau seharusnya meninggalkanku dan melarikan diri."


Sambil mendengar langkah kematian yang semakin mendekat—Duk... Duk…


Alphiria bergumam dengan senyum pahit. Ia menyembunyikan wajahnya di dadaku sambil mencengkeram ujung bajuku erat-erat. Tangannya yang kecil gemetar tanpa henti.


"...Aku benar-benar telah menghancurkan hidupmu... Maafkan aku..."


Tak ada lagi sosoknya yang selalu tegar dan penuh harga diri. Yang ada hanyalah seorang gadis seusianya yang ketakutan menghadapi kematian dan menangis karena penyesalan.


"...Apa kau menyerah?"


"Tapi... aku bahkan... sudah tidak punya tenaga... untuk lari lagi..."


Tangannya yang memelukku semakin erat.


Aneh. Meski berada di ambang kematian—atau justru karena kami berada di ambang kematian—lembutnya dada Alphiria yang menekan dadaku, serta aroma manis yang menggelitik hidungku terasa begitu jelas.


Duk... Duk... Duk...! Jantungku berdetak liar.


Entah sebagai peringatan, atau justru karena kegembiraan. Dadaku terasa sangat panas seolah terbakar.


"Masih belum terlambat. Aku akan menjadi umpan. Setidaknya kau saja yang lari."


"Bodoh. Mana ada familiar yang meninggalkan majikannya? Kalau harus mati, aku juga akan mati bersamamu."


Tak pernah kusangka suatu hari aku akan mengucapkan kalimat yang terdengar seperti di manga. Bahkan... itu terdengar seperti sebuah lamaran.


"Ya ampun... dalam situasi seperti ini... Tapi baiklah. Berikan hidupmu padaku. Sebagai gantinya... aku juga akan memberikan hidupku padamu..."


Alphiria perlahan mengangkat wajahnya. Meski sudah siap menghadapi kematian, pipinya memerah lembut. Mata biru esnya yang basah oleh air mata berkilau bagaikan permata.


"Shinya... maukah kau menerima... ciuman pertamaku?"


Tak mungkin aku bisa menolak bila wanita secantik dirinya mengatakannya dengan wajah dan suara selembut itu.


"...Aku juga pertama kali. Jadi... tolong pelan-pelan."


"Bodoh. Setidaknya di saat terakhir, bersikaplah lebih keren."


Alphiria tersenyum tipis. Aku perlahan mendekatkan wajahku.


Di belakang kami, aku bisa merasakan Goblin Lord mengangkat gada raksasanya. Namun, kesadaranku sepenuhnya tertuju pada gadis di hadapanku.


Alphiria tidak memejamkan matanya. Dengan mata biru esnya yang dipenuhi air mata, ia terus menatapku.


Tatapan yang dipenuhi rasa takut, namun juga tekad untuk mengukir sosokku sebagai orang terakhir yang akan menemaninya hingga akhir.


Perlahan, bibir kami saling bertemu.


Lembut. Hangat. Napas manisnya bergetar.


Saat itu juga—Duk!! 


Sesuatu yang tertidur jauh di dalam dadaku seolah mengaum kegirangan. Jantungku berdetak begitu keras hingga rasanya akan meledak.


"——!!"


Melalui bibir kami yang saling bertaut dan kulit yang saling bersentuhan, panas luar biasa yang selama ini hanya terpendam dalam diriku akhirnya meledak.


Panas itu berubah menjadi kekuatan sihir dan mengalir menuju bibir Alphiria.


Tidak, bukan hanya mengalir dariku kepadanya. Kekuatan itu mulai berputar di antara tubuh kami, berdenyut, lalu bersirkulasi seolah menyatukan kami.


『GRUOOO...!?』


Pada saat berikutnya, gada Goblin Lord yang diayunkan sekuat tenaga menghantam sebuah penghalang panas tak kasatmata yang tiba-tiba menyelimuti tubuh kami.


Kraaak!! Gada raksasa itu hancur berkeping-keping.


"Ah... ahh... mmh… chuu."


Mungkin karena dihantam derasnya arus sihir yang mengalir dari tubuhku dan terus bersirkulasi di antara kami—Alphiria mengeluarkan erangan manis seolah mabuk oleh panas, lalu kembali menciumku lebih dalam.


Seakan-akan sirkulasi sihir itu meluluhkan akal sehatnya. Tubuhnya yang melekat padaku semakin merapat. Dan setiap kali itu terjadi, kekuatan yang nyaris terasa seperti kemahakuasaan mengalir ke seluruh tubuhku.


"Mmh... mmh... ah... Hah? Kita... masih hidup?"


Alphiria akhirnya tersadar, melepaskan bibirnya dariku, lalu bergumam dengan wajah linglung.


"Kita masih hidup... meski jantungku hampir berhenti karena alasan yang berbeda."


Aku tersenyum pahit sambil mengangkat tangan dan mengusap lembut sudut bibirnya.


Di sana masih menggantung seutas benang perak yang menggoda. Barulah ia menyadari apa yang baru saja terjadi dan apa yang tanpa sadar telah ia lakukan.


"T-tidak! Bukan begitu! Itu... sihirnya bergerak sendiri... Hei, kenapa kau malah tertawa!?"


"Hahaha! Maaf, maaf. Soalnya Aria barusan benar-benar imut."


"I-imut...!? Ya ampun... kenapa kau malah mengatakan hal seperti itu di saat begini sih...!"


Dengan wajah merah padam seperti baru direbus, Alphiria memukul-mukul dadaku dengan mata berkaca-kaca. Sambil mengomel, "Dasar bodoh!", tinjunya terus mendarat di dadaku. Namun, sama sekali tidak terasa sakit.


"...Aria, serahkan sisanya padaku."


Aku mengusap lembut kepalanya yang masih terus memukul dadaku karena malu. Lalu aku perlahan berdiri.


Seluruh tubuhku terasa membara. Kekuatan meluap tanpa henti dari dalam tubuhku.


Aku melangkah maju. Hanya dengan satu langkah itu saja, lantai batu retak seperti sarang laba-laba, sementara partikel-partikel merah tua beterbangan memenuhi aula.


『Graaaah...!!』


Merasakan ketakutan akan kematian lewat nalurinya, Goblin Lord mengaum sambil mengayunkan tinju raksasanya dan menerjang ke arahku.


Namun bagiku sekarang, gerakannya terasa begitu lambat hingga seolah-olah berhenti.


Mengikuti dorongan kekuatan yang meluap dari dalam dadaku, aku memungut pedang-tongkat milik Alphiria yang tergeletak di lantai.


Sihir dalam jumlah luar biasa mengalir dari jantungku menuju lengan kananku dan masuk ke dalam pedang itu. Bilah pedangnya bersinar merah bening.


"Jadilah abu—『Hellfire Fury』."


Itu adalah sihir pertama yang pernah kulihat.


Saat aku mengayunkan pedang-tongkat itu dengan santai, yang tercipta dari bilahnya bukanlah seberkas api biasa.


Melainkan gelombang api merah menyala yang raksasa dan buas, cukup besar untuk menelan seluruh aula.


Gwooooooooosh!!


Ledakan dahsyat terjadi, begitu mengerikan hingga bahkan jeritan pun seolah menguap ditelannya. Gelombang panas yang membara menelan tubuh Goblin Lord dan melelehkan dinding-dinding batu di sekitarnya hingga memerah.


"Daya hancur sebesar ini...!? Jauh... melampaui milikku..."


Alphiria membelalakkan matanya karena terkejut.


Setelah lautan api itu mereda, tampaklah Goblin Lord yang lebih dari separuh tubuhnya telah menjadi arang, dengan daging hangus yang mengerikan.


『Gh... GAAAH...!』


"Apa!? Setelah terkena serangan itu dia masih hidup!?"


Alphiria berteriak kaget.


Tubuh merah kehitaman Goblin Lord menggembung dengan suara menjijikkan, berusaha memulihkan bagian tubuhnya yang telah hangus.


Daya hidupnya benar-benar tidak masuk akal. Namun, entah kenapa tidak ada sedikit pun rasa takut ataupun panik dalam diriku.


Aku hanya dengan tenang membayangkan sihir berikutnya— Sihir yang tadi gagal diselesaikan oleh Alphiria.


"Wahai api neraka, mekarlah— 『Infernal Blade Bloom』."


Aku mengangkat ujung pedang-tongkat ke langit.


Sesaat kemudian...puluhan…ratusan...pedang-pedang api yang terbentuk dari kobaran api berkepadatan tinggi muncul sekaligus di atas kepalaku.


Bilah-bilah merah menyala itu memenuhi seluruh aula, melayang di udara sambil mengarahkan ujungnya ke mangsanya.


"...Indah sekali."


Aku mendengar desahan kagum Alphiria dari belakang.


Perlahan aku mengayunkan pedang ke bawah. Itu menjadi aba-aba bagi seluruh pedang api untuk melesat bagaikan hujan meteor menuju Goblin Lord.


Dadadadadada!!!


Tak mungkin dihindari. Tanpa sedikit pun belas kasihan, hujan pedang api menusuk tubuh Goblin Lord berkali-kali.


Membakar dagingnya. Menghancurkan tulangnya. Bahkan tidak memberinya kesempatan untuk beregenerasi. Hingga akhirnya membakar habis nyawanya tanpa menyisakan sedikit pun.


Pilar api raksasa menjulang tinggi.


Setelah kobaran itu menghilang, yang tersisa hanyalah kawah besar yang mengoyak dinding batu tebal, serta keheningan tanpa sebutir debu pun.


"...Luar biasa..."


Menyaksikan kehancuran yang begitu mengerikan sekaligus indah itu, wajah Alphiria yang semula memerah kini menjadi pucat.


Aku sendiri juga tercengang melihat apa yang telah kulakukan. Aku pun berbalik sambil tersenyum.


"Kita menang, Aria."


Namun tepat saat itu—Duk!


Jantungku berdetak dengan suara yang terasa tidak beres. Seketika itu juga, rasa lemas luar biasa dan nyeri hebat menyerang seluruh tubuhku. Pandanganku berputar.


"...Eh?"


Mungkin ini akibat menggunakan sihir melampaui batas.


Seperti boneka yang talinya diputus, seluruh tenaga dalam tubuhku lenyap seketika.


"SHINYA!!"


Tepat sebelum tubuhku roboh ke lantai batu, yang terakhir kurasakan hanyalah suara pilu Aria yang memanggil namaku dan hangatnya pelukan yang menangkap tubuhku.


Setelah itu, kesadaranku tenggelam ke dalam kegelapan yang pekat.


*****


"...Nya... Shi...nya. Sudah cukup, bangunlah. Tolong... bangun..."


Seseorang memanggil namaku dengan suara penuh kekhawatiran.


Tercium samar aroma antiseptik bercampur harum bunga. Di tangan kananku, kurasakan kehangatan kecil yang lembut dan sedikit berkeringat.


Sepertinya waktuku bermimpi telah berakhir. Padahal aku masih ingin terus berlama-lama tenggelam dalam kenangan bersama buyutku. Namun kalau terus bermalas-malasan, sepertinya aku akan dimarahi.


"...Mm."


Aku perlahan membuka kelopak mataku yang terasa berat.


Yang pertama kulihat adalah langit-langit putih tinggi yang sama sekali asing. Tak kusangka suatu hari aku benar-benar mengalami adegan klise itu.


"Akhirnya bangun juga."


Aku menoleh ke arah suara di sampingku. Di sana, Alphiria sedang duduk di kursi sambil membaca buku.


Cahaya matahari pagi yang masuk dari jendela membuat rambut pirangnya berkilau seperti emas putih.


Pemandangan itu begitu indah hingga aku hanya bisa menatapnya tanpa berkata apa pun.


"...Selamat pagi, Aria."


"Ya, selamat pagi. Dasar familiar nakal, berani-beraninya tidur selama tiga hari penuh dan membiarkan majikanmu begitu saja."


Setelah berkata cepat seperti itu, ia menutup bukunya.


Entah kenapa telinganya tampak memerah. Begitu pula dengan sisa kehangatan di tangan kananku.


"Tiga hari? Jadi aku tidur selama itu? Apa... kau terus menemaniku?"


"Tentu saja tidak. Aku juga tidak senggang sampai begitu."


"Benar juga. Tapi tetap saja, terima kasih. Tadi... kau menggenggam tanganku, kan?"


Begitu aku mengatakannya sambil melihat tangan kananku, wajah Alphiria langsung memerah.


"B-bukan begitu! Bu-bukan karena aku khawatir kau tak kunjung bangun! Itu hanya untuk menjaga hidupmu! Tidak lebih dan tidak kurang! Jadi jangan salah paham!"


Ia mengucapkannya dengan sangat cepat sambil berdiri dari kursinya.


Melihat tingkah tsundere yang begitu khas itu membuatku tersenyum kecil. Namun seketika ia menatapku dengan mata penuh niat membunuh.


"Da-daripada itu! Sihir apa tadi yang kau gunakan untuk menghabisi Goblin Lord!? Kenapa kau bisa memakai sihir yang sama denganku!?"


"Itu... aku juga tidak tahu. Yang pasti saat itu... setelah aku mencium Aria... ada sesuatu yang panas muncul dari dalam dadaku..."


Sambil berkata begitu, aku meletakkan tangan di atas jantungku.


Panas yang tadi menghasilkan sihir luar biasa itu kini sudah menghilang. Namun aku yakin, kalau panas itu bisa dinyalakan lagi, aku pasti bisa menggunakan sihir itu berkali-kali.


"Begitu rupanya. Jadi setelah menciumku, sihirmu muncul."


"I-iya... kurasa begitu."


Mengatakannya sendiri membuatku sangat malu hingga tanpa sadar mengalihkan pandangan. Namun Alphiria justru menatapku dengan mata serius yang dipenuhi sedikit rasa hangat.


"Sebenarnya... sebagian kecil sihirku sudah kembali."


"Benarkah!?"


"Ya. Mungkin... karena kita... be-berciuman..."


Dengan wajah merah sampai ke telinga, Alphiria memainkan jari-jarinya dengan malu-malu.


Melihat wanita secantik dan setegas dirinya menunjukkan sisi feminin seperti itu benar-benar mematikan.


Saat aku sedang melamun, ia sengaja berdeham keras lalu kembali memasang ekspresi serius.


"Aku sudah memikirkannya. Kurasa sihir muncul jika dua syarat terpenuhi."


"Dua syarat?"


"‘Rasa berdebar’ dan ‘kontak kulit atau selaput lendir’. Kalau keduanya terjadi bersamaan, maka sihir akan tercipta."


"...Jadi maksudnya?"


"Ya-ya intinya! Kalau kita ingin bisa memakai sihir, kita harus sering berpelukan, berciuman, dan... melakukan berbagai kontak seperti itu!"


Setelah mengatakannya, ia langsung membentakku.


"Jangan paksa aku mengatakannya, bodoh!"


Apa sebenarnya yang sedang dikatakan nona bangsawan ini?


Bukankah itu berarti mulai sekarang kami akan sering berciuman. Bahkan mungkin melakukan hal yang lebih dari itu?


"A-Aria... apa kau benar-benar tidak keberatan? Maksudku... melakukan hal seperti itu denganku demi mendapatkan kembali sihirmu?"


"......! B-bukan berarti aku ingin melakukannya! Ini murni demi mengembalikan sihirku dan supaya kau menjadi familiar yang layak! Jangan macam-macam memikirkannya!"


"Ba-baik. Kalau begitu aku juga akan membantu mengembalikan sihirmu."


"...Bagus. Berarti sudah diputuskan."


Begitu aku mengangguk, Alphiria yang wajahnya masih merah padam langsung berbalik. Seolah sudah tak sanggup menahan rasa malunya, ia berjalan cepat menuju pintu.


"Ta-tapi..."


Tangannya berhenti di gagang pintu. Ia berdeham pelan. Lalu bergumam dengan suara yang nyaris tak terdengar.


"...Ciumanmu... ternyata tidak buruk. Kalau sedang ingin, mungkin akan kulakukan lagi."


"Hm? Kau bilang apa, Aria? Aku tidak dengar. Bisa diulang?"


"Berisik! Maksudku, orang yang baru sembuh harus diam dan istirahat!"


Dengan wajah semerah tomat, Alphiria berteriak lalu buru-buru keluar dari kamar seolah melarikan diri.


Brak! Pintu pun tertutup.


Di kamar yang kembali sunyi, aku bergumam pelan.


"...Kalau soal 'tidak buruk', itu justru kata-kataku."


Padahal sebenarnya aku mendengar semuanya dengan jelas.


Sambil mengingat kembali sentuhan bibir kami saat itu, aku perlahan menyentuh bibirku sendiri.


Merasakan benih kekuatan baru yang telah lahir di dalam diriku, aku menikmati detak jantungku yang masih berdebar pelan di atas ranjang.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close