Inferno Lord
"Selamat
datang, Verg."
Malam
itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku akhirnya mendapat
kesempatan menghadap Yang Mulia Ratu.
Aku
menahan kegembiraanku yang meluap-luap, lalu bertanya mengapa aku dipanggil.
Kemudian—
"Aku
ingin kau memberikan bimbingan khusus kepada Kageruya Noah."
Beliau
berkata bahwa akhir-akhir ini ada sesuatu yang mengganggu pikiran beliau
mengenai dirinya.
"Sikapnya
belakangan ini sudah agak keterlaluan. Dia menjadi besar kepala setelah
memenangkan pertarungan peringkat."
Namun,
aku tidak bisa langsung menyetujui pandangan tersebut.
—Memang
dia agak sering melakukan hal-hal yang tidak senonoh, tetapi dia tidak
melanggar peraturan sekolah.
—Justru
demi memenangkan pertarungan peringkat, dia berusaha keras lebih daripada siapa
pun.
Aku
tidak menemukan alasan untuk memberikan bimbingan khusus kepadanya.
"Kalau
begitu, kita buat-buat saja bahwa ada pemberontak di kamp tahanan."
—Buat-buat?
Apakah maksudnya beliau ingin menciptakan tuduhan palsu?
"Kita
buat alurnya seolah-olah kemunculan Kageruya telah menyebabkan munculnya
orang-orang baru yang berani menentangku. Alasan untuk menghukumnya bisa dibuat
sesuka hati."
Beliau
tertawa seolah yang penting hanyalah membuat Kageruya terluka.
"Jangan
sampai Kageruya mati, cukup siksa dia... Ah, tidak, maksudku berikan bimbingan
khusus kepadanya."
Waktu
yang tersisa bagi Kageruya sangat sedikit.
Jika
dia mengalami luka parah di sini, dia tidak mungkin memenangkan pertarungan
peringkat.
—Ini
bertentangan dengan jalan seorang ksatria.
Aku
ingin bertarung melawan Kageruya secara setara.
Kalau
dia dibuat tidak mampu bertarung melalui serangan pengecut seperti ini, apa
gunanya?
—Selain
itu, pria itu memang lemah, tetapi bukan orang jahat.
—Justru
dia memperlakukanku secara biasa, meskipun aku seperti ini.
—Aku
harus mengutarakan pendapatku. Bahwa Yang Mulia Ratu telah salah memahami
keadaan ini.
Namun,
orang yang kuhadapi adalah sosok yang kukagumi seperti seorang ibu.
Mengatakan
sesuatu yang dapat melukai perasaan beliau...
"Kalau
begitu, aku mengandalkanmu, Verg."
Pada
akhirnya, aku tidak memiliki keberanian.
Di
hadapan Yang Mulia Ratu yang tersenyum lebar, aku hanya bisa mengangguk dalam
diam—
Keesokan
paginya, aku bahkan tidak sanggup menatap Kageruya dengan benar.
Aku
hanya bisa bersikap dingin dan menjauhkannya.
Dan
sekarang, aku menekan perasaanku sendiri sambil berulang kali memukulnya yang
sama sekali tidak melawan.
—Sebenarnya,
apa yang sedang kulakukan?
Jawabannya
sudah jelas.
Bimbingan
khusus. Penyiksaan.
Aku
sedang menjalankan kewajibanku sebagai seorang ksatria sesuai perintah Yang
Mulia Ratu.
—Apakah
ini yang dilakukan oleh seorang ksatria yang selama ini kuimpikan?
Suara
pria yang mengerang kesakitan.
Suara
Yang Mulia Ratu yang tertawa terbahak-bahak saat melihatnya.
Setiap
kali aku mengingat hari-hari yang kulewati bersamanya.
Tinju
ini terasa semakin berat, dan dadaku seolah akan terbelah.
—Aku
adalah ksatria yang paling buruk.
Jika
diperbolehkan, aku ingin memenggal leherku sendiri saat ini juga dan menebus
kesalahanku dengan kematian.
Aku
ingin penderitaannya berakhir sesegera mungkin.
Namun,
hal itu tidak mungkin.
Karena
aku adalah ksatria milik Yang Mulia Ratu.
Membahagiakan
Yang Mulia Ratu, tuanku, adalah satu-satunya alasan keberadaanku—
"...Maafkan
aku... maafkan aku...!"
Aku
mempertahankan ekspresi tegas di wajahku, sementara di dalam hati aku terus
mengulang permintaan maaf yang tidak berarti.
Aku
hanya bisa bertahan dengan menyedihkan melewati waktu yang terasa seperti
neraka ini.
Karena
sudah tidak ada lagi seorang pun yang akan menyelamatkan orang sepertiku—



Post a Comment