NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Suki Datta Ko wo Meido ni Shitara Volume 2 Chapter 1

Chapter 01

Karena Maidku Mempercayai dan Melepas Kepergianku


Akademi Sōshūkan adalah sekolah terusan yang dihadiri para keturunan bangsawan dari Kyoto. Sejarahnya membentang lebih dari satu abad, dan konon berbagai "faksi" sudah ada di dalam sekolah ini sejak awal berdirinya.

Faksi-faksi di Sōshūkan beranggotakan mulai dari beberapa orang hingga puluhan murid. Bukan hal yang aneh pula jika faksi tersebut dibentuk melintasi tingkatan kelas yang berbeda.

"Sekolah kita ini memang tempat yang aneh banget, ya."

"Jelas lah, ya kali enggak. Aku punya sumber informasi—maksudku, teman—di sekolah lain, dan mereka kaget banget tiap kali aku cerita soal Sōshūkan."

"Salah satunya soal faksi ini, lagipula kalau kamu melempar batu ke sembarang arah, pasti bakal kena keturunan tokoh sejarah yang ada di buku pelajaran."

Bahkan nama Kiyomiya kemungkinan bakal muncul di buku sejarah paling membosankan sekalipun.

Sekarang, kami berdua—aku dari keluarga Kiyomiya itu, serta putri keluarga Sogano yang merupakan cabang tak diakui dari garis keturunan Toyohara—sedang berjalan menyusuri lorong bersama-sama. Tujuan kami adalah ruang Ketua Yayasan.

Ketua Yayasan Toyohara sedang berada di sekolah hari ini, dan aku sudah membuat janji untuk menemuinya sepulang sekolah. Terakhir kali menemui Ketua Yayasan, aku meminjam pengaruh keluarga Maritsuji, tapi kali ini aku meminta bantuan guru dan membuat janji temu lewat jalur resmi.

Karena ini bukan masalah tak lazim seperti membatalkan penghapusan kuota murid beasiswa, melainkan menggunakan hak yang diberikan kepada murid, aku menilai jalur resmi akan jauh lebih baik.

"Tapi kenapa aku ikut diseret ke sini? Mengesampingkan Sa-chan, bukannya bakal lebih gampang unjuk taring dalam pembicaraan kalau ada Maritsuji-chan?"

"Aku nggak berniat unjuk taring ke siapa-siapa."

Tanpa kusadari, Maki mulai menambahkan panggilan "-chan" pada nama Maritsuji.

"Guru menyuruhku datang berpasangan sebagai perwakilan dan pengawal karena katanya itu aturannya. Walaupun Maritsuji ada di pihak kita, aku ingin menunjukkan kalau aku nggak berniat menyalahgunakan kekuasaan keluarga Maritsuji."

"Hmm, kamu sudah mulai bisa menyusun siasat licik ya, Keiji. Lagipula keluarga Sa-chan memang nggak punya pengaruh sama sekali, jadi kurasa aku pilihan yang paling pas," kata Maki sambil menautkan kedua tangan di belakang kepala.

Kalau dia mempertahankan sikap seperti itu di depan Ketua Yayasan, orang tua itu pasti bakal jengkel.

"Kalau dipikir-pikir, karena keluarga Sogano masih satu garis keturunan Toyohara, apa kamu kenal dekat dengan Ketua Yayasan, Maki?"

"Bisa dibilang begitu, tapi bukan berarti beliau memanjakanku atau semacamnya, lho. Padahal Maki-chan ini imut banget."

"Mungkin kasus 'cinta berubah jadi benci' atau semacamnya..."

"Maki-sama yang biasanya lemah lembut begini juga bisa marah lho, tahu nggak?"

"Iya, maaf."

Kalau dipikir-pikir lagi, rasanya aku belum pernah melihat Maki benar-benar marah. Dia selalu kelihatan menikmati hidupnya setiap saat...

"Kita ada urusan penting sekarang, jadi sudahi dulu pertengkaran internalnya."

"Iya, iya, lagipula aku kan orang dalam Keiji. Apa aku perlu jadi maid-mu juga?"

"Niatmu mau bikin perutku melilit karena stres, ya?"

Perutku sudah cukup jungkir balik hanya karena melihat kedua maid itu saling bermusuhan.

"Ah, kita sudah sampai. Maki, tolong bersikap anggun sedikit, ya."

"Serahkan saja padaku, Kiyomiya-sama," ujar Maki seraya memegang ujung roknya yang kelewat pendek dan melakukan gerakan curtsy yang anggun.

Secara mengejutkan, dia berhasil melakukannya dengan sempurna... Ternyata Maki memang menerima pendidikan selayaknya ojou-sama.

Kurasa hari ini aku juga harus memastikan diriku bersikap selayaknya putra keluarga Kiyomiya.

"Permisi."

"Ya, masuklah."

...Auranya lebih mirip seorang "bos" mafia ketimbang kepala keluarga bangsawan.

Bagaimanapun juga, aku membuka pintu ruang Ketua Yayasan bersama Maki, lalu melangkah menuju meja kerja megah di ruangan itu. Toyohara Shūichirō—pria paruh baya dengan rambut perak sempurna dan setelan jas pas badan, tampak begitu cocok andai sedang mengisap cerutu.

"Tak kusangka kamu bakal sesering ini menemuiku, Keiji."

"Hari ini saya datang untuk mengajukan sebuah permohonan."

"Jangan sok formal begitu, aku malah muak mendengarmu bicara sesopan itu padaku. Biasa saja, bicaralah seperti biasa."

"...Padahal aku sudah berusaha bersikap sopan. Oh, halo juga, Kino-san."

"Selamat datang, Keiji-sama."

Sosok yang menunggu dalam diam di sudut ruangan adalah seorang maid sungguhan. Rambut hitamnya dikepang dan memancarkan kecantikan intelektual, dengan tubuh semampai yang dibalut seragam maid berok panjang.

Namanya Kino-san, dan tampaknya dia mengabdi pada keluarga Toyohara.

"Kamu memperlakukan Kino jauh lebih sopan dibanding aku, tapi ya sudahlah. Ngomong-ngomong, pengawalmu ini bukan murid beasiswa itu?"

Ketua Yayasan Toyohara melayangkan tatapan tajam ke arah Maki yang berdiri di belakangku. Maki sama sekali tidak gentar dan tetap tampak santai tanpa beban.

"Maaf ya kalau yang datang malah anak bermasalah, bukannya murid beasiswa. Namaku Sogano Maki."

"Aku juga tidak menganggapmu anak bermasalah. Kamu cuma sedang bermain pura-pura jadi informan."

"Hmph..."

Refleks, aku menoleh ke belakang. Pasalnya, suara yang keluar dari mulut Maki barusan jelas-jelas terdengar kesal.

Meski belum sampai ke tahap marah—ini pertama kalinya aku melihat Maki memasang ekspresi seperti itu.

"Ah, dan benahi pakaianmu itu. Sebagian besar murid tetap mengenakan jas meski di musim panas, tapi pakaianmu terlalu kasual dan rokmu juga terlalu pendek, Sogano."

"Ayolah, Ketua. Mengurusi panjang rok seorang gadis itu sendiri praktis sudah masuk kategori pelecehan seksual, tahu."

"Guh... Zaman sekarang apa-apa dibilang begitu, padahal sekolah ini punya tata tertib. Aku takkan bilang bahwa akulah peraturannya, tapi kamu memang melanggarnya."

"Bakal lebih keren kalau Ketua bilang 'akulah peraturannya' agar kedengaran seperti bapak-bapak era Showa sungguhan. Lagipula rokku cuma sedikit di atas lutut, kok."

"Sedikit, katamu...?"

Ketua Yayasan memiringkan kepalanya, dan aku sangat setuju dengan beliau. Rok Maki bukan cuma memperlihatkan lutut, tapi sudah mengekspos pahanya secara gamblang.

Dia bahkan sering tiba-tiba menarikan tarian khasnya saat mengenakan seragam, yang kerap kali membuat area di bawah roknya berada dalam situasi yang sangat berbahaya.

Namun, melihat percakapan mereka barusan, Maki dan Ketua Yayasan memang saling mengenal... Kupikir Ketua Yayasan tidak berinteraksi langsung dengan murid tertentu, jadi hal ini cukup mengejutkan bagiku.

"Aku akan mengingatkan Maki soal pakaiannya nanti."

"Terserah. Lagipula tata tertib pakaian murid berada di luar wewenangku."

Kalau begitu jangan dibahas dong, batinku, tapi hari ini aku tidak boleh bersikap terlalu lancang.

"Ketua Yayasan Toyohara-sensei, Kiyomiya Keiji datang untuk mengajukan permohonan pembentukan faksi sekolah."

"Oh?"

Ketua Yayasan menyandarkan punggungnya dalam-dalam di kursi yang tampak mahal itu.

"Ini adalah daftar anggota faksi kami," ucapku sembari mengangkat lembar pengajuan yang kubawa.

Begitu melihat Ketua Yayasan mengangguk, kuletakkan berkas itu di atas mejanya.

"Akhirnya kamu tergerak juga untuk melakukannya. Padahal kamu sudah diizinkan membentuk faksi sejak SMP, tapi ternyata butuh waktu lama sekali."

"...Menurutku membentuk faksi dan saling berselisih di usia anak SMP itu masih terasa tidak wajar."

"Faksi tidak hanya saling bermusuhan, melainkan terkadang juga bergandengan tangan karena sebagian besar lulusan sekolah ini kelak akan bernaung di bawah suatu organisasi besar. Di mana pun puluhan manusia berkumpul, faksi pasti akan terbentuk, sehingga pembentukan faksi di Sōshūkan ini berfungsi sebagai latihan praktik sebelum terjun ke masyarakat sekaligus ajang pemanasan bagi persaingan sosial kalian."

"Latihan praktik sih masuk akal, tapi ajang pemanasan... ya."

Lulusan yang menjadi politisi atau birokrat, bergabung ke faksi berbeda, lalu saling bentrok—ya, hal semacam itu memang sangat mungkin terjadi. Sayaka, Maritsuji, Fujikawa... yah, mengesampingkan Fujikawa, aku sama sekali tidak sudi bentrok dengan dua gadis lainnya bahkan sampai mati pun.

"Terlepas dari kamu sudah tahu atau belum soal faksi, prosedurnya tetap mewajibkan penjelasan. Kino."

"Baik," sahut Kino-san sambil melangkah maju dan mengoperasikan tablet yang entah dikeluarkan dari mana.

"Keiji-sama, faksi adalah sebutan untuk kelompok yang dibentuk oleh tiga orang atau lebih di Akademi Sōshūkan. Namun, sekadar mengumpulkan jumlah orang saja tidaklah cukup."

"Maksudnya, kami butuh semacam kedok, seperti 'kelompok riset' atau 'kelompok belajar', kan?"

Bahkan aku yang menjalani kehidupan sekolah tanpa memedulikan faksi pun setidaknya tahu hal semacam itu.

"Tepat sekali. Tetapi demikian, Anda tidak bisa memilih sembarang alasan karena kelompok tersebut harus memiliki tujuan realistis yang dinilai layak diakui oleh pihak sekolah."

"Maksud Anda, sebuah faksi memerlukan tujuan yang pantas bagi anak bangsawan... begitu, kan."

Kedok yang dipilih juga harus diputuskan setelah berkonsultasi dengan pihak sekolah. Rupanya, sekolah mengajukan proposal berdasarkan kualifikasi, kemampuan, dan silsilah keluarga para anggota faksi, lalu tujuannya ditentukan sesuai pertimbangan tersebut.

"Kiyomiya Keiji-sama. Anggota kelompok Anda terdiri atas Maritsuji Anri-sama, Hisaka Sayaka-sama, dan orang di sebelah sana—Sogano Maki-sama, sehingga totalnya ada empat orang, benar begitu?"

"Benar."

Aku mengangguk, sementara Maki menyahut ogah-ogahan dengan gumaman, "Iyaaa."

"Faksi yang di dalamnya memuat keturunan keluarga tingkat 'Taika' tentu harus diperlakukan secara istimewa, bahkan di dalam Akademi Sōshūkan sekalipun."

"Apa Anda boleh bicara seperti itu secara terang-terangan? Bagaimanapun juga, bukannya itu tidak adil?"

"Kata 'keadilan' tidak pernah ada di dalam masyarakat bangsawan."

"Mengerikan sekali perkataan Anda itu!"

Apa maid ini sadar kalau kita sekarang sudah berada di era Reiwa?! Maksudku, dia memang memakai seragam maid khas puri Inggris abad lampau, tapi bukankah pemikirannya itu terlalu ketinggalan zaman?

"Justru karena adanya hierarkilah ketertiban bisa terjaga. Tentu saja kami tidak akan pernah menyatakan hal ini secara terbuka, namun kami ingin para murid Sōshūkan menyadari bahwa inilah kenyataan yang ada."

"...Dia berkata begitu, tapi apa memang pemahamannya seperti itu, Ketua?"

"Bermimpi tentang masyarakat yang adil memang bagus, tapi kita harus menghadapi kenyataan. Keiji, andai kamu bukan berasal dari keluarga berpangkat Taika, kamu sudah didepak dari Sōshūkan sejak dulu."

"...Ucapan Anda ada benarnya juga."

Aku adalah "anak haram" di keluarga Kiyomiya, dan di sekolah aku kerap ditindas sebagai produk gagal kaum bangsawan. Selama ini aku bertingkah selayaknya sampah tak berguna, tapi itu juga merupakan strategi untuk sebisa mungkin menghindari rundungan.

"Meski begitu, siapa pun yang mencoba mendepakmu pasti bakal kena serangan balik yang menyakitkan. Kamu tidak punya kepolosan menggemaskan untuk cuma pasrah saat dihajar."

"Anda paham betul soal diriku, ya."

Entah saat dihujani sindiran pedas atau kekerasan ringan, aku hanya menertawakannya dan membiarkannya berlalu. Namun andai mereka sampai kelewat batas, tanpa ragu sedikit pun aku pasti sudah memakai "teknik" yang kupelajari di kediaman utama Kiyomiya.

"Saya akan melanjutkan penjelasannya. Karena ada dua anak dari keluarga berpangkat Taika—keluarga Kiyomiya dan Maritsuji—tentu akan bermasalah jika faksi ini dibentuk untuk hal yang sepele."

"Mengesampingkan aku, Keiji jelas nggak mungkin melakukan sesuatu yang setengah-setengah, kan?"

"Hei, Maki."

"Maaf, aku memang nggak bakat diam berlama-lama."

Kami sedang membicarakan hal serius di sini—tunggu, apa? Apa cuma perasaanku saja, atau Kino-san memang sedang menatap Maki dengan senyum lembut...?

"Kino-san?"

"Ah, mohon maaf. Selama dokumen Anda lengkap, saya rasa kami bisa memberikan persetujuan karena hampir tidak ada preseden penolakan faksi, namun kasus kelompok Keiji-sama ini merupakan situasi istimewa—"

Setelah berkata demikian, Kino-san melirik sekilas ke arah Ketua Yayasan.

"Kaum bangsawan menguasai bidang seni. Sebagai contoh, keluarga Maritsuji adalah keluarga penyair yang mahir dalam puisi waka sejak zaman dahulu dan memiliki rekam jejak keterlibatan dalam antologi waka ternama."

"Ya, orang sepertiku pun setidaknya tahu hal itu."

"Keiji, faksimu akan dibentuk sebagai kelompok yang meneliti kesenian bangsawan."

"Meneliti seni? Hal itu sudah diputuskan begitu saja untuk kami?"

Aku memang belum menentukan kedok untuk faksi kami, tapi kupikir hal itu bisa dipikirkan nanti saja.

"Sudah lama sejak sistem kebangsawanan resmi dihapuskan, namun sebagai penerus tatanan bangsawan yang bertahan ribuan tahun, ada hal-hal yang tidak boleh kita biarkan punah. Seni kaum bangsawan adalah tradisi yang wajib dilestarikan, jadi jika kamu berniat menyandang nama Kiyomiya, teruskan tradisi seorang bangsawan."

"..."

Ketua Yayasan benar-benar melemparkan tuntutan konyol yang luar biasa berat lagi padaku. Kesenian bangsawan... sebelumnya aku bahkan nyaris tidak pernah memedulikannya, dan sekarang aku harus mendirikan faksi dengan panji tersebut.

"Wah, makin menarik saja ini. Yang dibilang Pak Tua ada benarnya juga, lho."

Hei, ini sama sekali nggak menarik, Maki. Gawat, harusnya tadi aku mengajak Sayaka atau Maritsuji saja sekalian.

Soalnya, membantah tuntutan tak masuk akal ini seorang diri jelas mustahil bagiku.



Prolog | ToC | Chapter 2

Post a Comment

Post a Comment

close