Chapter 01
Karena Maidku Mempercayai dan Melepas Kepergianku
Akademi Sōshūkan adalah sekolah terusan
yang dihadiri para keturunan bangsawan dari Kyoto. Sejarahnya membentang lebih
dari satu abad, dan konon berbagai "faksi" sudah ada di dalam sekolah
ini sejak awal berdirinya.
Faksi-faksi di Sōshūkan beranggotakan
mulai dari beberapa orang hingga puluhan murid. Bukan hal yang aneh pula jika
faksi tersebut dibentuk melintasi tingkatan kelas yang berbeda.
"Sekolah kita ini memang
tempat yang aneh banget, ya."
"Jelas lah, ya kali enggak. Aku punya
sumber informasi—maksudku, teman—di sekolah lain, dan mereka kaget banget tiap
kali aku cerita soal Sōshūkan."
"Salah satunya soal faksi ini,
lagipula kalau kamu melempar batu ke sembarang arah, pasti bakal kena keturunan
tokoh sejarah yang ada di buku pelajaran."
Bahkan nama Kiyomiya kemungkinan bakal
muncul di buku sejarah paling membosankan sekalipun.
Sekarang, kami berdua—aku dari keluarga
Kiyomiya itu, serta putri keluarga Sogano yang merupakan cabang tak diakui dari
garis keturunan Toyohara—sedang berjalan menyusuri lorong bersama-sama. Tujuan
kami adalah ruang Ketua Yayasan.
Ketua Yayasan Toyohara sedang berada di
sekolah hari ini, dan aku sudah membuat janji untuk menemuinya sepulang
sekolah. Terakhir kali menemui Ketua Yayasan, aku meminjam pengaruh keluarga
Maritsuji, tapi kali ini aku meminta bantuan guru dan membuat janji temu lewat
jalur resmi.
Karena ini bukan masalah tak lazim seperti
membatalkan penghapusan kuota murid beasiswa, melainkan menggunakan hak yang
diberikan kepada murid, aku menilai jalur resmi akan jauh lebih baik.
"Tapi kenapa aku ikut diseret ke
sini? Mengesampingkan Sa-chan, bukannya bakal lebih gampang unjuk taring dalam
pembicaraan kalau ada Maritsuji-chan?"
"Aku nggak berniat unjuk
taring ke siapa-siapa."
Tanpa kusadari, Maki mulai menambahkan
panggilan "-chan" pada nama Maritsuji.
"Guru menyuruhku datang berpasangan
sebagai perwakilan dan pengawal karena katanya itu aturannya. Walaupun
Maritsuji ada di pihak kita, aku ingin menunjukkan kalau aku nggak berniat
menyalahgunakan kekuasaan keluarga Maritsuji."
"Hmm, kamu sudah mulai bisa menyusun
siasat licik ya, Keiji. Lagipula keluarga Sa-chan memang nggak punya pengaruh
sama sekali, jadi kurasa aku pilihan yang paling pas," kata Maki sambil
menautkan kedua tangan di belakang kepala.
Kalau dia mempertahankan sikap seperti itu
di depan Ketua Yayasan, orang tua itu pasti bakal jengkel.
"Kalau dipikir-pikir, karena keluarga
Sogano masih satu garis keturunan Toyohara, apa kamu kenal dekat dengan Ketua
Yayasan, Maki?"
"Bisa dibilang begitu, tapi bukan
berarti beliau memanjakanku atau semacamnya, lho. Padahal Maki-chan ini imut
banget."
"Mungkin kasus 'cinta berubah jadi
benci' atau semacamnya..."
"Maki-sama yang biasanya lemah lembut
begini juga bisa marah lho, tahu nggak?"
"Iya, maaf."
Kalau dipikir-pikir lagi, rasanya aku
belum pernah melihat Maki benar-benar marah. Dia selalu kelihatan menikmati
hidupnya setiap saat...
"Kita ada urusan penting sekarang,
jadi sudahi dulu pertengkaran internalnya."
"Iya, iya, lagipula aku kan orang
dalam Keiji. Apa aku perlu jadi maid-mu juga?"
"Niatmu mau bikin perutku melilit
karena stres, ya?"
Perutku sudah cukup jungkir balik hanya
karena melihat kedua maid itu saling bermusuhan.
"Ah, kita sudah sampai. Maki, tolong
bersikap anggun sedikit, ya."
"Serahkan saja padaku,
Kiyomiya-sama," ujar Maki seraya memegang ujung roknya yang kelewat pendek
dan melakukan gerakan curtsy yang anggun.
Secara mengejutkan, dia berhasil
melakukannya dengan sempurna... Ternyata Maki memang menerima pendidikan
selayaknya ojou-sama.
Kurasa hari ini aku juga harus
memastikan diriku bersikap selayaknya putra keluarga Kiyomiya.
"Permisi."
"Ya, masuklah."
...Auranya lebih mirip seorang
"bos" mafia ketimbang kepala keluarga bangsawan.
Bagaimanapun juga, aku membuka pintu
ruang Ketua Yayasan bersama Maki, lalu melangkah menuju meja kerja megah di
ruangan itu. Toyohara Shūichirō—pria paruh baya dengan rambut perak sempurna
dan setelan jas pas badan, tampak begitu cocok andai sedang mengisap cerutu.
"Tak kusangka kamu bakal
sesering ini menemuiku, Keiji."
"Hari ini saya datang untuk
mengajukan sebuah permohonan."
"Jangan sok formal begitu,
aku malah muak mendengarmu bicara sesopan itu padaku. Biasa saja, bicaralah
seperti biasa."
"...Padahal aku sudah
berusaha bersikap sopan. Oh,
halo juga, Kino-san."
"Selamat datang, Keiji-sama."
Sosok yang menunggu dalam diam di sudut
ruangan adalah seorang maid sungguhan. Rambut hitamnya dikepang dan memancarkan
kecantikan intelektual, dengan tubuh semampai yang dibalut seragam maid berok
panjang.
Namanya Kino-san, dan tampaknya dia
mengabdi pada keluarga Toyohara.
"Kamu memperlakukan Kino jauh lebih
sopan dibanding aku, tapi ya sudahlah. Ngomong-ngomong, pengawalmu ini bukan
murid beasiswa itu?"
Ketua Yayasan Toyohara melayangkan tatapan
tajam ke arah Maki yang berdiri di belakangku. Maki sama sekali tidak gentar
dan tetap tampak santai tanpa beban.
"Maaf ya kalau yang datang malah anak
bermasalah, bukannya murid beasiswa. Namaku Sogano Maki."
"Aku juga tidak menganggapmu anak
bermasalah. Kamu cuma sedang bermain pura-pura jadi informan."
"Hmph..."
Refleks, aku menoleh ke belakang.
Pasalnya, suara yang keluar dari mulut Maki barusan jelas-jelas terdengar
kesal.
Meski belum sampai ke tahap marah—ini
pertama kalinya aku melihat Maki memasang ekspresi seperti itu.
"Ah, dan benahi pakaianmu itu.
Sebagian besar murid tetap mengenakan jas meski di musim panas, tapi pakaianmu
terlalu kasual dan rokmu juga terlalu pendek, Sogano."
"Ayolah, Ketua. Mengurusi panjang rok
seorang gadis itu sendiri praktis sudah masuk kategori pelecehan seksual,
tahu."
"Guh... Zaman sekarang apa-apa
dibilang begitu, padahal sekolah ini punya tata tertib. Aku takkan bilang bahwa akulah
peraturannya, tapi kamu memang melanggarnya."
"Bakal lebih keren kalau
Ketua bilang 'akulah peraturannya' agar kedengaran seperti bapak-bapak era
Showa sungguhan. Lagipula
rokku cuma sedikit di atas lutut, kok."
"Sedikit, katamu...?"
Ketua Yayasan memiringkan kepalanya, dan
aku sangat setuju dengan beliau. Rok Maki bukan cuma memperlihatkan lutut, tapi
sudah mengekspos pahanya secara gamblang.
Dia bahkan sering tiba-tiba menarikan
tarian khasnya saat mengenakan seragam, yang kerap kali membuat area di bawah
roknya berada dalam situasi yang sangat berbahaya.
Namun, melihat percakapan mereka
barusan, Maki dan Ketua Yayasan memang saling mengenal... Kupikir Ketua Yayasan
tidak berinteraksi langsung dengan murid tertentu, jadi hal ini cukup
mengejutkan bagiku.
"Aku akan mengingatkan Maki soal
pakaiannya nanti."
"Terserah. Lagipula tata tertib
pakaian murid berada di luar wewenangku."
Kalau begitu jangan dibahas dong, batinku, tapi hari ini aku tidak boleh
bersikap terlalu lancang.
"Ketua Yayasan Toyohara-sensei,
Kiyomiya Keiji datang untuk mengajukan permohonan pembentukan faksi
sekolah."
"Oh?"
Ketua Yayasan menyandarkan punggungnya
dalam-dalam di kursi yang tampak mahal itu.
"Ini adalah daftar anggota faksi
kami," ucapku sembari mengangkat lembar pengajuan yang kubawa.
Begitu melihat Ketua Yayasan mengangguk,
kuletakkan berkas itu di atas mejanya.
"Akhirnya kamu tergerak juga untuk
melakukannya. Padahal kamu sudah diizinkan membentuk faksi sejak SMP, tapi
ternyata butuh waktu lama sekali."
"...Menurutku membentuk faksi dan
saling berselisih di usia anak SMP itu masih terasa tidak wajar."
"Faksi tidak hanya saling bermusuhan,
melainkan terkadang juga bergandengan tangan karena sebagian besar lulusan
sekolah ini kelak akan bernaung di bawah suatu organisasi besar. Di mana pun
puluhan manusia berkumpul, faksi pasti akan terbentuk, sehingga pembentukan
faksi di Sōshūkan ini berfungsi sebagai latihan praktik sebelum terjun ke
masyarakat sekaligus ajang pemanasan bagi persaingan sosial kalian."
"Latihan praktik sih masuk akal, tapi
ajang pemanasan... ya."
Lulusan yang menjadi politisi atau
birokrat, bergabung ke faksi berbeda, lalu saling bentrok—ya, hal semacam itu
memang sangat mungkin terjadi. Sayaka, Maritsuji, Fujikawa... yah,
mengesampingkan Fujikawa, aku sama sekali tidak sudi bentrok dengan dua gadis
lainnya bahkan sampai mati pun.
"Terlepas dari kamu sudah tahu atau
belum soal faksi, prosedurnya tetap mewajibkan penjelasan. Kino."
"Baik," sahut Kino-san sambil
melangkah maju dan mengoperasikan tablet yang entah dikeluarkan dari mana.
"Keiji-sama, faksi adalah sebutan
untuk kelompok yang dibentuk oleh tiga orang atau lebih di Akademi Sōshūkan.
Namun, sekadar mengumpulkan jumlah orang saja tidaklah cukup."
"Maksudnya, kami butuh semacam kedok,
seperti 'kelompok riset' atau 'kelompok belajar', kan?"
Bahkan aku yang menjalani kehidupan
sekolah tanpa memedulikan faksi pun setidaknya tahu hal semacam itu.
"Tepat sekali. Tetapi demikian, Anda
tidak bisa memilih sembarang alasan karena kelompok tersebut harus memiliki
tujuan realistis yang dinilai layak diakui oleh pihak sekolah."
"Maksud Anda, sebuah faksi memerlukan
tujuan yang pantas bagi anak bangsawan... begitu, kan."
Kedok yang dipilih juga harus diputuskan
setelah berkonsultasi dengan pihak sekolah. Rupanya, sekolah mengajukan
proposal berdasarkan kualifikasi, kemampuan, dan silsilah keluarga para anggota
faksi, lalu tujuannya ditentukan sesuai pertimbangan tersebut.
"Kiyomiya Keiji-sama. Anggota
kelompok Anda terdiri atas Maritsuji Anri-sama, Hisaka Sayaka-sama, dan orang
di sebelah sana—Sogano Maki-sama, sehingga totalnya ada empat orang, benar
begitu?"
"Benar."
Aku mengangguk, sementara Maki
menyahut ogah-ogahan dengan gumaman, "Iyaaa."
"Faksi yang di dalamnya
memuat keturunan keluarga tingkat 'Taika' tentu harus diperlakukan secara
istimewa, bahkan di dalam Akademi Sōshūkan sekalipun."
"Apa Anda boleh bicara
seperti itu secara terang-terangan? Bagaimanapun juga, bukannya itu tidak
adil?"
"Kata 'keadilan' tidak pernah
ada di dalam masyarakat bangsawan."
"Mengerikan sekali perkataan Anda
itu!"
Apa maid ini sadar kalau kita sekarang
sudah berada di era Reiwa?! Maksudku, dia memang memakai seragam maid khas puri
Inggris abad lampau, tapi bukankah pemikirannya itu terlalu ketinggalan zaman?
"Justru karena adanya hierarkilah
ketertiban bisa terjaga. Tentu saja kami tidak akan pernah menyatakan hal ini
secara terbuka, namun kami ingin para murid Sōshūkan menyadari bahwa inilah
kenyataan yang ada."
"...Dia berkata begitu, tapi apa
memang pemahamannya seperti itu, Ketua?"
"Bermimpi tentang masyarakat yang
adil memang bagus, tapi kita harus menghadapi kenyataan. Keiji, andai kamu
bukan berasal dari keluarga berpangkat Taika, kamu sudah didepak dari Sōshūkan
sejak dulu."
"...Ucapan Anda ada benarnya
juga."
Aku adalah "anak haram" di
keluarga Kiyomiya, dan di sekolah aku kerap ditindas sebagai produk gagal kaum
bangsawan. Selama ini aku bertingkah selayaknya sampah tak berguna, tapi itu
juga merupakan strategi untuk sebisa mungkin menghindari rundungan.
"Meski begitu, siapa pun yang mencoba
mendepakmu pasti bakal kena serangan balik yang menyakitkan. Kamu tidak punya
kepolosan menggemaskan untuk cuma pasrah saat dihajar."
"Anda paham betul soal
diriku, ya."
Entah saat dihujani sindiran pedas
atau kekerasan ringan, aku hanya menertawakannya dan membiarkannya berlalu.
Namun andai mereka sampai kelewat batas, tanpa ragu sedikit pun aku pasti sudah
memakai "teknik" yang kupelajari di kediaman utama Kiyomiya.
"Saya akan melanjutkan
penjelasannya. Karena ada dua anak dari keluarga berpangkat Taika—keluarga
Kiyomiya dan Maritsuji—tentu akan bermasalah jika faksi ini dibentuk untuk hal
yang sepele."
"Mengesampingkan aku, Keiji
jelas nggak mungkin melakukan sesuatu yang setengah-setengah, kan?"
"Hei, Maki."
"Maaf, aku memang nggak bakat
diam berlama-lama."
Kami sedang membicarakan hal
serius di sini—tunggu, apa? Apa cuma perasaanku saja, atau Kino-san memang
sedang menatap Maki dengan senyum lembut...?
"Kino-san?"
"Ah, mohon maaf. Selama dokumen Anda
lengkap, saya rasa kami bisa memberikan persetujuan karena hampir tidak ada
preseden penolakan faksi, namun kasus kelompok Keiji-sama ini merupakan situasi
istimewa—"
Setelah berkata demikian, Kino-san melirik
sekilas ke arah Ketua Yayasan.
"Kaum bangsawan menguasai
bidang seni. Sebagai contoh, keluarga Maritsuji adalah keluarga penyair yang
mahir dalam puisi waka sejak zaman dahulu dan memiliki rekam jejak
keterlibatan dalam antologi waka ternama."
"Ya, orang sepertiku pun
setidaknya tahu hal itu."
"Keiji, faksimu akan dibentuk
sebagai kelompok yang meneliti kesenian bangsawan."
"Meneliti seni? Hal itu sudah
diputuskan begitu saja untuk kami?"
Aku memang belum menentukan kedok untuk
faksi kami, tapi kupikir hal itu bisa dipikirkan nanti saja.
"Sudah lama sejak sistem
kebangsawanan resmi dihapuskan, namun sebagai penerus tatanan bangsawan yang
bertahan ribuan tahun, ada hal-hal yang tidak boleh kita biarkan punah. Seni
kaum bangsawan adalah tradisi yang wajib dilestarikan, jadi jika kamu berniat
menyandang nama Kiyomiya, teruskan tradisi seorang bangsawan."
"..."
Ketua Yayasan benar-benar melemparkan
tuntutan konyol yang luar biasa berat lagi padaku. Kesenian bangsawan...
sebelumnya aku bahkan nyaris tidak pernah memedulikannya, dan sekarang aku
harus mendirikan faksi dengan panji tersebut.
"Wah, makin menarik saja ini. Yang
dibilang Pak Tua ada benarnya juga, lho."
Hei, ini sama sekali nggak menarik, Maki.
Gawat, harusnya tadi aku mengajak Sayaka atau Maritsuji saja sekalian.
Soalnya, membantah tuntutan tak masuk akal
ini seorang diri jelas mustahil bagiku.



Post a Comment