Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Chapter 2
Lebih dari Teman, Kurang dari Kekasih
──Keesokan harinya.
"......"
Aku keluar rumah seperti biasa, dan berangkat ke sekolah seperti biasa pula. Menunggu kereta transit, lalu menyusuri jalan menuju sekolah yang sudah sangat akrab di ingatan.
『──Maukah kamu berpacaran denganku?』
"......"
Tanpa sadar langkahku terhenti. Aku masih tidak percaya. Lagipula, kalau nanti bertemu, aku harus bicara apa? Aku bukan Renji. Mana aku tahu cara bersikap di depan gadis yang baru saja menembakku.
Tepat saat aku menghela napas...
"──A, Amano-kun."
"....!"
Tubuhku mendadak kaku saat dipanggil. Hanya dari suaranya saja, aku sudah tahu siapa dia.
"Se, selamat pagi, Amano-kun."
Saat aku berbalik, benar saja, gadis cantik berambut pirang kecokelatan sebahu ada di sana.
"......Iya, selamat pagi."
Salamku agak terlambat, dan suaraku terdengar tinggi. Aku sadar tingkah lakuku sangat mencurigakan, tapi aku ingin membela diri bahwa ini hal yang wajar. Aku tidak punya cukup pengalaman untuk bersikap tenang di situasi seperti ini. Aku mencoba memandang gadis di depanku sekali lagi. Rambut cokelat yang lembut, mata yang besar, dan proporsi tubuh yang disukai laki-laki.
'Pantas saja dia populer...' pikirku, sambil berdiri mematung bingung harus berbuat apa.
"......"
"A-aduh, duh, duuuh!"
Tiba-tiba pipiku dicubit dengan kencang, membuatku menjerit kesakitan. Di depanku, Kashiwagi-san sedang memasang wajah cemberut.
"Aku nggak suka kamu bersikap begitu."
"Eh?"
"Me-memang sih, kejadian kemarin itu aku juga merasa agak berlebihan, atau bisa dibilang nggak sesuai rencana, bahkan setelah pulang aku sampai guling-guling di kasur selama 3 jam dan akhirnya nggak bisa tidur sama sekali...!"
"I-iya. Tenang dulu."
Kashiwagi-san mengoceh dengan kecepatan luar biasa seperti senapan mesin. Jika diperhatikan, matanya memang sedikit memerah.
"Tapi kan aku sudah bilang? Kamu harus tetap bersikap sebagai teman yang baik."
Dia menatapku dari bawah dengan saksama. Tinggiku 173 cm, sedangkan tinggi Kashiwagi-san... kalau tidak salah 158 cm (menurut pengakuannya sendiri). Katanya selisih tinggi ideal antara laki-laki dan perempuan adalah 15 cm. Bukan berarti itu ada hubungannya sih.
"......Benar juga. Maaf. Aku akan mengubah sikapku."
"Bagus. Kalau nanti kamu bersikap dingin lagi, aku bakal gandeng lenganmu sampai ke kelas, lho."
"......"
Aku bersumpah akan mengembalikan sikapku seperti semula sekuat tenaga. Masa SMA-ku masih tersisa satu setengah tahun lagi. Aku tidak mau menghabiskan waktu sampai lulus dikelilingi oleh aura haus darah. Membayangkan seluruh siswa laki-laki di kelas menatapku dengan mata melotot saja sudah membuatku bergidik.
"Kalau begitu, ayo jalan?"
"......Baik."
Aku terus meyakinkan diriku bahwa kami adalah teman, lalu melangkah melewati gerbang sekolah. Namun, meski tidak bergandengan tangan, kehadiran Kashiwagi-san di sampingku sudah cukup untuk mengundang tatapan tajam... terutama dari kaum laki-laki.
Aku melirik ke samping dan melihat wajahnya yang tampak senang.
"Hmm? Ada apa?"
Sepertinya dia sama sekali tidak menyadari tatapan-tatapan itu.
(Eh, kamu beneran nggak sadar?)
Lihat tuh anak-anak klub rugbi di sana. Mata mereka seperti mau
keluar darah. Seram tahu.
"......Kashiwagi-san, menurutku kamu harus lebih memperhatikan sekelilingmu."
"Eh? Maksudnya?"
Kashiwagi-san memiringkan kepala dengan wajah polos. Dia manis, tapi agak tidak peka. Yah, mungkin itu juga bagian dari pesonanya. Tapi setidaknya, aku ingin dia menjaga jarak di depan umum.
Sambil menghela napas, kami terus berjalan hingga akhirnya hampir sampai di pintu masuk sekolah.
"──Yu, Yukimura-san!"
Dari arah belakang, terdengar suara yang terdengar sangat terdesak.
(......?)
Saat aku berbalik, terlihat seorang siswi yang sedang menangkupkan kedua tangan seperti sedang berdoa di area taman tengah, dan ada sosok Mizuki di sana.
"A-anu... boleh bicara sebentar?"
"Tunggu dulu."
Saat gadis itu hendak mendekati Mizuki, salah satu anggota tim pengawal segera maju menghalangi. Seorang gadis bermata tajam yang tampak temperamental. Aku tahu dia. Dia adalah pemimpin tim pengawal Mizuki, salah satu dari golongan garis keras.
"Ugh..."
Gadis itu mematung karena dipelototi. Aku malah heran dia berani menyapa. Padahal murid laki-laki saja jarang ada yang berani mendekat. Namun, gadis itu tidak mau pergi dan menatap Mizuki dengan tatapan penuh harap.
(......Ada apa ya?)
Suasananya terasa aneh. Saat aku mulai merasakan keganjilan dari tatapannya yang begitu putus asa itu──
"──Boleh saja."
Terdengar suara yang sudah sangat akrab dari tengah kerumunan. Mendengar suara itu, para gadis tim pengawal yang di depan langsung menoleh.
"Eh? Yu-Yukimura-san?"
"Kalau mau bicara, aku akan mendengarkan."
Mendengar kata-kata itu, siswi yang tadinya tertunduk langsung mengangkat wajahnya dengan penuh semangat.
Atas ucapan Mizuki tersebut, anggota tim pengawal pun terpaksa mundur satu langkah meski tampak enggan.
"A-anu! Aku ingin minta konsultasi lagi!"
"Iya."
"Ini soal keluargaku... Jadi kalau bisa, hanya berdua saja."
"Hm, aku mengerti."
Mizuki mengangguk, dan seketika wajah gadis itu menjadi cerah
seolah baru saja mendapatkan keselamatan. Namun, Mizuki tetap mempertahankan ekspresi datarnya dan berkata dengan tenang.
"Kalau begitu, sepulang sekolah. Kita bicara berdua, ya?"
"......! I-iya!!"
Mendengar itu, si gadis mengangguk dengan perasaan emosional. Ekspresinya tampak luluh, dan matanya berkaca-kaca.
Itu bukanlah tatapan yang biasanya ditujukan kepada sesama teman sekelas. Ada banyak gadis lain yang juga mengandalkan Mizuki seperti itu. Gadis-gadis penggemar di sekelilingnya pun kabarnya menjadi pengikut setia setelah Mizuki membantu mengurus masalah mereka.
Namun...
(......Mizuki?)
Di mata Mizuki yang sedang menatap gadis itu, aku tidak melihat emosi apa pun. Datar dan tanpa perasaan. Jika dibilang itu adalah sikapnya yang seperti biasa, mungkin memang benar.
"......Hebat ya, Yukimura-san."
Aku yang sedang tenggelam dalam pikiran tersentak sadar oleh suara di sampingku.
"Eh?"
"Dia diandalkan oleh begitu banyak orang. Temanku juga bilang pernah berkonsultasi dengan Yukimura-san."
"Begitu, ya."
"Iya. Sejak saat itu, dia benar-benar jadi penggemar Yukimura-san...
Kemarin saat aku mengajaknya main, dia menolak karena ada pertemuan klub penggemar Yukimura-san."
Kashiwagi-san menceritakannya sambil tersenyum sedikit kesepian. Aku hanya bisa membalas dengan senyuman canggung.
Diandalkan. Dikagumi. Itu adalah pemandangan yang biasa kulihat, karena bagi dia, hal itu sudah sewajarnya terjadi.
"......Benar-benar deh, aku jadi tidak ingin dibanding-bandingkan."
Gumam Kashiwagi-san lirih.
"Kashiwagi-san?"
"Eh? Ah, tidak! Bukan apa-apa!"
Saat aku bertanya balik, Kashiwagi-san buru-buru melambaikan tangannya.
"Karisma? Mungkin itu sebutannya. Aku cuma berpikir dia memang luar biasa."
Ayo? ajak Kashiwagi-san sambil menarik ujung lenganku.
Aku mengangguk, dan kami akhirnya sampai di depan pintu masuk sekolah.
(Karisma, ya?)
Apakah fenomena itu cukup dijelaskan dengan satu kata itu saja? Tatapan gadis tadi—mata yang kosong namun menyiratkan gairah yang membara. Itu berbeda dari sekadar rasa kagum atau hormat. Sesuatu yang lebih mendesak, seperti orang yang sedang berpegangan erat pada sesuatu.
──Pemujaan.
Kata yang konyol itu tiba-tiba melintas di kepalaku.
(Padahal lawannya adalah teman sebaya, sesama murid SMA, lho.)
Aku ingin menganggap ini berlebihan. Namun, semakin aku berpikir begitu, semakin jelas betapa gadis-gadis itu sangat memuja Mizuki.
"Amano-kun?"
"Ah, maaf."
Aku menggelengkan kepala untuk mengusir pikiran itu, lalu melangkah menuju kelas.
◇
"──Masa depan, ya."
Suatu hari sepulang sekolah. Renji bergumam dengan malas sambil mencomot kentang goreng di restoran keluarga.
Saat jam wali kelas tadi...
『──Masa kelas 2 SMA sudah lewat setengahnya. Pikirkan masa depan kalian, jangan cuma main terus.』
Mendengar ucapan wali kelas itu, sebagian besar isi kelas termasuk aku langsung merengut.
(Masa depan, ya. Rencananya aku memang ingin kuliah.)
Masuk ke universitas sebagus mungkin adalah target jangka pendekku. Tapi jika ditanya apakah ada sesuatu yang ingin kucapai setelah itu... sejujurnya tidak ada. Aku tidak punya bakat khusus, jadi kupikir aku akan bekerja seperti orang biasa pada umumnya.
(......Bagaimana dengan Mizuki?)
Aku memikirkan teman masa kecilku. Masa depan seperti apa yang dia bayangkan? Kalaupun aku bertanya, dia pasti tidak akan menjawab.
"Renji, apa kamu sudah memutuskan sesuatu?"
"Belum, sama sekali belum. Paling nggak aku pengen masuk universitas swasta top sih. Soalnya bakal bikin aku populer."
"......"
Aku pengen masuk, katanya.
Seolah-olah masuk universitas swasta top semudah membalikkan telapak tangan. Minta maaf sana ke seluruh pejuang ujian di luar sana. Tapi sepertinya dia memang akan berhasil masuk. Dia memang tipe orang yang seperti itu. Benar-benar menyebalkan.
"Ahaha. Kamu tidak berubah yaー"
Di sampingku ada Kashiwagi-san. Sambil menyantap cream anmitsu dengan lahap, dia tertawa riang. Situasi di mana kami bertiga belajar bersama sebelum ujian memang bukan hal yang langka.
Ya, memang tidak langka, tapi...
"......Ngomong-ngomong, bukannya jarak kalian agak dekat? Kalian berdua."
"Eh."
"Ugh."
Kata-kata Renji yang menatap penuh selidik membuat kami berdua mematung.
Gawat. Sebenarnya aku juga merasakannya. Jarak duduk Kashiwagi-san sedikit lebih dekat daripada biasanya. Dan perubahan sekecil itu tidak mungkin luput dari mata tajam si berengsek ini.
Setelah menatap aku dan Kashiwagi-san bergantian selama beberapa saat, dan kami berdua refleks memalingkan muka secara bersamaan...
"I, Iori...... jangan-jangan, kau!"
"....!"
Renji menunjukku dengan tangan gemetar.
"......udah 'melakukannya'?"
"Bukan begitu, bodoh!"
Tanpa sadar aku berteriak. Pengunjung kafe lain tersentak dan menoleh ke arah kami, membuatku buru-buru mengecilkan tubuh karena malu. Aku melirik ke samping, dan Kashiwagi-san sudah merah padam sampai ke leher.
Duh, beneran deh, maaf ya.
"Lho, habisnya kalau dilihat dari mana pun... Hm? Eh, tunggu sebentar. Bau-bau perjaka di diri Iori masih menyengat... maksudnya gimana nih?"
"Beneran aku hajar kau."
Aku menoleh dan melihat Kashiwagi-san sudah mengulurkan tangan ke
arah pisau di atas meja. Melihat itu, wajah Renji menegang dan dia langsung mengangkat kedua tangannya.
"O-oke, oke. Barusan aku yang salah. Yah, begitulah. Aku rasa aku paham situasinya. Selamat ya!"
"Hah?"
Melihat Renji yang mengangguk-angguk seolah sudah tercerahkan, aku mengernyit bingung. Apaan sih orang ini?
"Makanya, kalian jadian kan? Nggak mungkin Iori yang nembak duluan, jadi Kashiwagi-chan akhirnya membulatkan tekad buat nembak, kan?"
"Ugh..."
Mendengar itu, bahu Kashiwagi-san tersentak. Dia perlahan mengalihkan pandangan dari Renji dan melirik ke arahku.
(Duh...)
Tatapannya yang seolah memohon bantuan itu membuatku diserang rasa bersalah.
"Wah, tapi ini kabar gembira! Akhirnya sahabatku punya pacar! Apalagi sama Kashiwagi-chan yang nomor dua di sekolah! Dasar, si penakluk wanita!"
Renji tertawa terbahak-bahak, terlihat sangat senang. Berbanding terbalik dengan itu, ekspresi kami berdua justru semakin mendung. Akhirnya Renji menyadari reaksi kami yang dingin dan berhenti tertawa.
"Eh? Kenapa kalian berdua?"
"......"
"......"
Kami berdua tidak menjawab. Melihat itu, Renji akhirnya sadar bahwa ada yang benar-benar aneh di sini.
"O-oi? Kenapa kalian diam... Kalian jadian, kan?"
Renji celingukan melihatku dan Kashiwagi-san bergantian. Aku benar-benar kelu.
Bagaimana ini? Biar bagaimanapun Renji itu sahabatku, tapi ini bukan hal yang bisa diucapkan sembarangan.
Namun, di tengah kebimbanganku...
"Nggak apa-apa, Amano-kun."
"Eh?"
"Kalau sama Miyama-kun, boleh dikasih tahu kok. Dia teman kita, dan setidaknya dia bisa dipercaya," ucap Kashiwagi-san sambil tersenyum pasrah.
Aku terkejut. Kashiwagi-san yang biasanya galak pada si berengsek ini ternyata berkata begitu. Sepertinya dia cukup memercayainya.
Yah, memang sih, aku juga ragu Renji bakal menyebarkannya ke orang lain.
(Mau nggak mau harus jujur, ya.)
Cepat atau lambat pasti ketahuan juga. Dan aku tidak boleh membiarkan Kashiwagi-san yang mengatakannya. Sambil memantapkan hati, aku pun membuka mulut.
──Lalu, aku menceritakan semuanya pada Renji.
Tentang Kashiwagi-san yang menembakku. Tentang aku yang menolaknya. Dan tentang keputusan kami untuk tetap berteman seperti biasa. Setelah aku selesai bicara, Renji memasang muka paling melongo yang pernah kulihat seumur hidup.
"......Tunggu. Sebentar, tunggu dulu."
Dia meminta waktu dengan suara gemetar. Aku pun menurut saja.
"Hei, Iori? Kuping aku yang salah dengar kah? Barusan aku dengar kau nolak pernyataan cinta Kashiwagi-chan, atau semacam itu?"
"......"
Saat aku mengangguk dalam diam, Renji menatapku seolah aku adalah alien dari luar angkasa.
"Eh, kenapa?"
Pertanyaan yang sangat sederhana. Tapi di dalam satu kalimat itu, terkandung seluruh kebingungan di hati Renji.
"Bukan apa-apa, tapi kau... eh? Ini Kashiwagi-chan, lho? Kau tahu nggak seberapa banyak laki-laki di sekolah ini yang pengen pacaran sama dia?"
──Benar juga, ya.
Aku menengadah ke langit-langit. Apa yang dikatakannya 100% benar. Di sekolah ini, tidak ada orang yang bakal menolak pernyataan cinta dari Kashiwagi Kotoha. Dia gadis populer yang diincar banyak orang. Tapi aku...
"Ka-Kashiwagi-chan? Oi, ini beneran?"
Renji bertanya pada Kashiwagi-san dengan nada hampir memohon. Kashiwagi-san pun tertawa getir.
"Iya... aku ditolak."
"......"
Renji menengadah ke atas dengan wajah seolah ingin berteriak OH MY GOD.
Kenapa? Gimana ceritanya? Nggak masuk akal. Dia terus bergumam sendiri.
Aku tidak bisa membela diri. Karena kalau posisinya dibalik, aku yakin aku akan memberikan reaksi yang sama persis. Ini seperti menang lotre tapi tiketnya malah dirobek dan dibuang. Orang pasti bakal mengira aku sudah gila.
(Bodoh banget ya aku. Beneran deh.)
Aku melihat ke luar jendela. Sepasang kekasih baru saja keluar dari restoran sambil bergandengan tangan. Seandainya aku mengubah keputusanku sekarang juga, kebahagiaan itu bisa jadi milikku. Apalagi dengan gadis yang sangat manis dan ideal.
Aku tahu itu... tapi tetap saja, jawabanku tidak berubah.
Akhirnya setelah sekitar satu menit berlalu, sistem di otak Renji sepertinya baru bisa restart.
"Ah—jadi begini. Kesimpulannya, Kashiwagi-chan nembak Iori? Iori nolak? Dan setelah itu... Kashiwagi-chan bakal berjuang buat bikin Iori luluh di masa depan, gitu?"
"......"
"Iya, begitulah."
"......Bukannya itu namanya dijadiin cadangan (keep), kan?"
Renji bertanya dengan wajah serius. Mendengar itu, aku hanya bisa menelungkupkan kepala di meja sambil membatin, 'Aduuuh, akhirnya bakal dibilang begitu juga kan...!'
Melihatku mengerang, Renji tiba-tiba berdiri dengan heboh.
"I-Iori, kau?! Biasanya kau ngatain aku bajingan atau laki-laki genit, tapi aku sendiri gimana?!"
"......Iya, maaf."
Aku sama sekali tidak bisa membela diri.
Itu benar. Aku tidak berhak mengatai Renji. Hubungan seperti ini memang salah. Ini tidak adil bagi Kashiwagi-san. Namun, tepat saat aku berpikir begitu...
"Tunggu dulu, Miyama-kun! Jangan ngomong yang aneh-aneh! Wajah Amano-kun jadi kelihatan kayak lagi mikir, 'Hubungan ini salah, aku nggak tulus sama Kashiwagi-san'!"
"Lho, kenapa kamu bisa tahu seakurat itu?"
Seram.
Ini aneh, kan? Apakah ini intuisi wanita? Ini sudah hampir seperti kemampuan membaca pikiran.
"Nggak apa-apa! Kan aku yang minta! Nggak masalah dikasih harapan
palsu atau cuma jadi cadangan! Pokoknya nanti aku bakal jadi yang utama!"
Dengan wajah yang masih merah padam, Kashiwagi-san menegaskan hal itu. Mendengar kata-katanya, aku tidak tahu lagi harus memasang ekspresi seperti apa.
"Ta-tapi tetap aja nggak masuk akal. Ini Kashiwagi-chan, lho! Nolak Kashiwagi-chan... emangnya itu teman masa kecilmu secantik apa, dah? Mana fotonya?"
"Nggak ada."
Sebenarnya ada, dari kami kecil sampai sekarang. Tapi kalau kutunjukkan, semuanya bakal berakhir. Dalam banyak hal.
"Yah, pelit amat..."
Renji mengempaskan dirinya kembali ke sofa.
"Aku juga sedikit penasaran ingin lihat..."
Gumam Kashiwagi-san pelan, tapi aku pura-pura tidak dengar dengan sekuat tenaga.
"......Y-yah, sudahlah. Intinya aku paham situasinya. Meskipun jujur saja, aku nggak masuk akal sedikit pun, tapi aku paham."
"Be-begitu ya."
Renji mengangguk berkali-kali seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri.
"Kau tahu sendiri kan, aku bukan tipe orang yang pantas ceramah soal moral atau kesetiaan, jadi aku nggak bakal komentar banyak... tapi
tolong, jangan sampai suasana di antara kita bertiga jadi kaku, ya."
Aku nggak bakat jadi penengah soalnya, tambah Renji sambil menggaruk kepalanya.
"Hmm, aku juga nggak mau kaku sih. Tapi itu tergantung Amano-kun, mungkin?"
"......"
Saat dia melongok ke arahku sambil bercanda, aku mematung seperti patung pahatan. Dan Renji menatapku dengan tatapan penuh simpati dari lubuk hatinya.
Siapa sangka hari di mana aku dikasihani oleh si berengsek ini dalam hal asmara bakal datang...
Ini benar-benar buruk. Yah, walaupun ini salahku sendiri.
"Ya sudah. Aku ambil posisi netral aja. Selama kita bertiga masih bisa makan bareng, aku nggak peduli gimana jadinya."
Renji berkata begitu, lalu menggumamkan sesuatu seperti
"Selanjutnya, silakan lanjut untuk kalian berdua yang masih muda..." dan segera beranjak dari kursinya.
Aku menatap punggung Renji dengan penuh dendam saat dia meletakkan uang bayarannya dan bergegas keluar dari toko.
Sial. Cepat banget dia kabur.
"Fufu."
Lalu dari samping, terdengar suara tawa kecil.
"......Kashiwagi-san?"
"Miyama-kun itu sebenarnya baik ya, dengan caranya sendiri."
"Eh, sebelah mananya?"
Aku langsung menjawab dengan wajah serius. Di bagian mana ada unsur kebaikan dari orang itu?
"Mungkin sulit dilihat, tapi barusan dia mengkhawatirkan kita... maksudku, dia mengkhawatirkan Amano-kun."
"Mengkhawatirkanku?"
Melihatku yang tampak sangsi, Kashiwagi-san tersenyum lembut.
"Aku suka hubungan kalian berdua."
"......Tolong jangan mulai lagi."
Aku bergumam tulus dari hati. Gara-gara kami selalu bersama, siswi di kelas sampai membuat gosip mengerikan soal siapa yang jadi "dom" dan "sub".
Melihatku yang jengah, Kashiwagi-san tertawa geli seolah itu hal paling lucu di dunia.
◇
"......"
Setelah melepas Kashiwagi-san yang pulang dengan senyum seolah sudah plong, aku pun melangkah pulang. Aku teringat Renji yang jarang-jarang terlihat kehilangan ketenangannya di restoran tadi.
Reaksinya wajar. Menolak pernyataan cinta Kashiwagi-san memang hal yang tidak masuk akal. Tapi, aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak cukup lihai untuk membohongi diri sendiri. Dan yang terpenting, tidak akan ada yang bahagia jika aku melakukan itu.
(Normalnya, orang tidak akan berpikir sesulit ini, kan.)
Kalau ada gadis cantik, ya jadian. Kalau tidak cocok, ya putus.
Kupikir asmara anak SMA memang seperti itu.......kalau saja aku bisa berpikiran praktis seperti itu, betapa tenangnya hidupku.
Aku menengadah ke langit. Tanpa kusadari, langit sudah tertutup oleh awan kelabu yang pekat. Terlalu berlebihan juga ada batasnya. Tepat saat aku menghela napas...
Tuk, tuk.
"Eh?"
Tetesan air mengenai pipiku, membuatku bergumam kaget.
Lalu, detik berikutnya.
──Zuaaaaa...
"Duh, yang benar saja...!?"
Hujan turun dengan sangat deras seolah bendungan pecah. Aku menggunakan tas sebagai pelindung dan buru-buru menyeberangi jalan. Derasnya hujan ini tidak main-main. Sepertinya tadi pagi pembawa acara cuaca memang sempat bilang soal waspada hujan badai mendadak.
(Aku lupa bawa payung lipat! Sial. Dari sini sampai rumah masih 10
menit lebih.)
Mustahil. Tidak mungkin aku lari menembus hujan sederas ini sampai rumah.
Sambil mencari tempat berlindung, tiba-tiba mataku menangkap sebuah kafe yang tidak asing.
(Tempat itu, kalau tidak salah...)
Itu adalah kafe yang pernah kukunjungi bersama Mizuki beberapa waktu lalu. Sebuah tempat yang menggabungkan toko buku dan kafe. Harganya agak mahal, tapi Mizuki menyukai suasananya yang tenang.
"......!"
Begitu teringat hal itu, aku buru-buru berlari dan berteduh di bawah emperan toko tersebut.
(Sial, aku basah kuyup lebih dari yang kukira.)
Meski sudah berusaha menjadikan tas sebagai perisai, mustahil bagiku untuk pulang tanpa payung. Namun, tidak ada minimarket yang terlihat di sekitar sini. Akhirnya aku menyerah dan membuka pintu kafe.
"──Selamat datang. Untuk satu orang?"
Seorang pelayan dengan celemek segera datang menyapa. Sambil memedulikan pakaianku yang basah, aku menjawab.
"Iya, satu orang──"
Tepat saat hendak menjawab begitu.
(......Ah.)
Di bagian dalam kafe, aku melihat rambut hitam yang indah. Meski dari jauh, aku langsung mengenali sosok itu dan sempat terpaku sesaat.
"......Tidak, saya sudah janji bertemu seseorang."
Mendengar itu, si pelayan sedikit memiringkan kepala, namun segera membungkuk sambil berkata "Baik, silakan".
(Kenapa dia ada di sini?)
Sambil menyeka rambut dengan saputangan, aku berjalan menuju bagian dalam kafe. Di kursi sofa pojok. Hanya area itu yang tampak diselimuti atmosfer yang tidak biasa.
Seorang gadis cantik sedang duduk di sofa. Punggungnya tegak lurus, dengan rambut hitam panjang yang berkilau.
Hanya dengan membaca buku saja, aura di sekitarnya terasa seperti berada di dunia yang berbeda. Pelanggan lain hanya berani meliriknya dari kejauhan, tidak ada yang berani menyapa. Namun, orang yang bersangkutan sama sekali tidak memedulikan tatapan sekitar dan tampak fokus pada buku di tangannya.
"──Mizuki."
Aku memanggilnya pelan.
Seketika, bahu kecilnya tersentak pelan. Dia mengangkat wajah. Mata indahnya pun bertemu dengan mataku.
"......Iori?"
Mizuki yang menyadari kehadiranku memiringkan kepalanya dengan polos. Perbedaan antara kecantikannya yang dewasa—yang sulit dipercaya milik anak SMA—dengan gestur polosnya itu benar-benar luar biasa.
"Kenapa kamu di sini?"
"Itu kalimatku... kamu sendiri, sudah jam tujuh tahu."
Mendengar itu, Mizuki melihat jam tangannya dan bergumam "Ah".
"Maaf ya. Aku tidak sadar."
Dia menggumam pelan sambil sedikit menurunkan alisnya.
"Makan malamnya jadi telat, ya."
"......Tidak apa-apa. Lagipula, mending kita makan di sini saja. Di luar hujan deras."
Mizuki pun mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
"Benar juga. Deras sekali."
Mizuki bergumam dengan suara tanpa intonasi.
Jadi dia benar-benar tidak sadar? Sepertinya dia sangat asyik dengan buku yang dibacanya.
Menurutku itu jarang terjadi. Biasanya meski dia membaca buku, itu hanya sekadar untuk membunuh waktu, aku jarang melihatnya sampai tenggelam seperti itu.
"Buku itu, apa seseru itu?"
Aku melirik buku di tangan Mizuki. Buku itu memakai sampul kain, jadi judulnya tidak terlihat. Mizuki mengangguk pelan.
"Iya. Direkomendasikan oleh teman sekelas, dan ternyata menarik."
"Heh...... isinya tentang apa?"
Saat aku bertanya iseng, Mizuki menundukkan pandangan ke arah buku di tangannya. Lalu, dia tersenyum tipis.
"......Mizuki?"
Saat aku memanggilnya sekali lagi, dia membuka mulutnya dengan tenang.
"──Kisah tentang seorang gadis boneka dan laki-laki manusia biasa yang jatuh cinta."
Dia mengusap bukunya dengan lembut sambil bergumam begitu.
(......Boneka?)
Apa-apaan itu? Aku jadi bingung. Kesan jujurku, itu cerita yang aneh. Bukannya aku tidak tertarik, tapi... apa ceritanya sehebat itu sampai dia begitu terpikat?
"Tumben sekali kamu suka buku seperti itu."
"Masa? ......Iya, mungkin juga."
"Apa bedanya dengan novel romansa lainnya?"
"Hm. Setidaknya, bagiku berbeda."
Dia menyimpan buku yang sudah ditandai pembatas itu ke dalam tas
dengan hati-hati.......kalau dia bicara sampai sejauh itu, aku jadi penasaran. Mungkin aku akan meminjamnya setelah Mizuki selesai baca. Tepat saat aku memikirkan hal itu.
"──Apakah Anda sudah siap untuk memesan?"
Pelayan datang untuk mengambil pesanan, dan aku buru-buru membuka menu.
Setelah itu, aku memesan omurice sementara Mizuki memesan pasta seafood, dan kami melahapnya sampai habis.
"Ternyata rasanya lumayan enak ya."
"Iya."
Mizuki pun tampak puas dengan rasa masakan di tempat ini. Kadang saat kami makan di luar, ekspresi Mizuki tidak banyak berubah entah makanannya enak atau tidak, tapi jika dia merasa enak, auranya akan sedikit melunak. Dan sepertinya hari ini pilihannya tepat.
Syukurlah, pikirku sambil mengecek berita di ponsel. Hujan badai ini sepertinya akan reda dalam sepuluh menit lagi.
"Katanya 10 menit lagi reda."
"Hm."
Mizuki mengangguk sambil meminum tehnya.
10 menit... waktu yang tanggung, mungkin aku akan mengulang pelajaran hari ini saja sebentar. Tepat saat aku hendak membuka tas.
"──Iori, apa terjadi sesuatu?"
Mizuki bertanya dengan nada tenang.
Mendengar pertanyaan itu, gerakanku terhenti.
"......Apaan sih. Tiba-tiba banget."
"Cuma perasaan saja, sih. Soalnya, kamu kelihatan seperti sedang memikirkan sesuatu."
Mizuki berkata begitu sambil menatap mataku dalam-dalam.
Pikiran. Begitu dia mengatakannya, yang terlintas adalah sosok gadis berambut cokelat itu. Tapi, aku tidak bisa menceritakannya.
"Nggak ada apa-apa, kok."
"Bohong."
Aku mencoba memalingkan muka, tapi pandanganku tertahan oleh tatapan Mizuki.
"Kamu... menyembunyikan sesuatu dariku?"
Nada bicaranya tenang. Tapi, ada sedikit rasa janggal. Ekspresinya tidak berubah. Namun, warna matanya sedikit bergeser. Mata yang hampa dan dingin. Begitu melihat mata itu, tiba-tiba sebuah ingatan melintas di benakku.
『──Iori? Sudah tidak apa-apa, lho.』
Bersamaan dengan rasa pening yang tumpul, kesadaranku kembali.
......Kenapa aku malah teringat kejadian waktu itu sekarang?
Entahlah. Tapi yang lebih penting, aku harus menjawab pertanyaannya. Aku tidak bisa membicarakan Kashiwagi-san.
Kalau begitu, apa yang harus kukatakan? Saat sedang berpikir, tanpa sadar mulutku bergerak.
"......Seandainya saja, ya."
Mizuki tetap menatapku lekat-lekat tanpa memotong pembicaraanku.
"Seandainya ada orang yang kamu sukai... dan ada orang yang menyukaimu."
Ini murni pengandaian. Aku bersandar pada alasan itu untuk bertanya padanya.
"Kalau kamu jadi aku, Mizuki, mana yang akan kamu pilih?"
Begitu selesai mengucapkannya, aku langsung menyesal.
(Apa sih yang kutanyakan?)
Kenapa juga aku bertanya pada Mizuki? Apa yang kuharapkan dengan menanyakan hal seperti ini padanya?
Tapi Mizuki tidak menjawab. Dia terdiam, terus menatap mataku.
Dalam keheningan yang terasa abadi itu, akhirnya...
"Aku......"
Dia sedikit menyipitkan matanya yang indah itu.
"──Pasti akan memilih hal yang sama dengan yang Iori pilih."
Dia memberikan jawaban yang sebenarnya bukan sebuah jawaban.
"......"
──Malam itu.
Aku berbaring telentang di tempat tidur, menatap langit-langit dengan kosong.
Mizuki sudah tidak ada. Karena hari ini tidak perlu menyiapkan makan malam, dia langsung pulang ke rumahnya sendiri. Rumah ini terasa terlalu luas untuk ditinggali sendiri. Keheningan total tanpa suara sedikit pun.
(Hal yang sama denganku, ya.)
──Memilih hal yang sama dengan Iori.
Seolah-olah dia sudah tahu sejak awal mana yang akan kupilih. Dengan perasaan yang mengganjal, aku memejamkan mata dan tertidur. Namun, mimpi yang kulihat malam itu adalah...
『Hei... kenapa kamu menghindariku?』
Sosok Mizuki kecil yang wajahnya tampak sedih dan tersiksa.
◇
──Lalu, keesokan harinya.
"Sip, ayo makan, Iori."
"Hm."
Aku mengangguk saat dipanggil oleh Renji.
Setelah lewat semalam, Mizuki bersikap seperti biasa. Dia datang ke rumah seperti biasa, membuat sarapan, dan makan bersama. Seolah percakapan kemarin tidak pernah terjadi.
"Enaknya makan apa ya hari ini? Aku udah bosan sama Stamina-don."
"Nggak tahu. Makan kari saja sana."
"Ogah. Kari di sini kemanisan."
Di tengah percakapan itu, saat kami hendak keluar kelas...
"Ah, Amano-kun!"
"......?"
Dipanggil begitu, aku menoleh dan melihat rambut cokelat yang lembut.
"Kashiwagi-san? Ada apa?"
Di tangannya ada bungkusan kecil yang manis. Sepertinya kotak bekal. Aku mengira dia sudah pergi makan siang dengan teman-teman sekelasnya... ada apa ya hari ini?
Saat aku bertanya, Kashiwagi-san tersenyum malu-malu.
"Kalau tidak keberatan, bolehkah aku ikut? Makan siangnya."
"Eh?"
"Oh?"
Aku dan Renji sama-sama melongo. Kami bertiga memang cukup akrab, tapi belum pernah makan siang bersama. Kashiwagi-san biasanya makan dengan murid perempuan lainnya, dan lagipula, ada banyak sekali orang yang mengantre hanya untuk bisa makan siang bersamanya.
"Teman-teman yang biasanya makan denganku sedang ada rapat klub... aku merasa agak kesepian kalau makan sendirian."
Mendengar itu, aku pun mengerti dan mengangguk. Kashiwagi-san memang tidak ikut klub, jadi hal seperti itu bisa saja terjadi.
Di sampingku, Renji yang juga mengangguk langsung merentangkan tangannya.
"Wah wah, oke banget! Malah sangat dipersilakan! Kalau mau bawa Iori-nya saja juga nggak apa-apa, lho!"
"Nggak usah aneh-aneh."
"Ah, iya, maaf."
Renji langsung ciut saat aku tegur dengan tajam, sementara Kashiwagi-san memberinya tatapan dingin.
Mereka berdua sebenarnya akrab juga ya, pikirku sambil memperhatikan mereka.
"Ah, Amano-kun, tatapan apa itu?! Jangan-jangan kamu berpikir 'ternyata mereka berdua akrab ya'?"
"Eh, iya sih."
Kenapa dia tajam sekali? Aku merinding melihat betapa seringnya dia membaca pikiranku dengan mudah.
"Waduh, ada apa nih? Jangan-jangan Kashiwagi-chan sebenarnya naksir aku..."
"Jangan harap."
"Ah, iya."
"Amano-kun juga! Nggak boleh, ya! Kadang orang lain memang begitu, tapi khusus Amano-kun nggak boleh sampai salah paham!"
Dia merangsek maju menekan, membuatku mundur sambil mengangguk cepat.
"Iya, iya, aku mengerti."
Begitu aku mengangkat tangan tanda menyerah, Kashiwagi-san melipat tangan dan mendengus. Tapi, Renji lah yang melancarkan protes keras.
"Ke-kejam banget! Beraninya kau ngomong gitu ke laki-laki tampan ini! Iori, bilangin kek!"
"Diem kau, laki-laki genit."
"Baik."
Renji langsung takluk seketika. Perlawanan yang sangat singkat. Harusnya dia berjuang lebih keras sedikit.
"Ya sudah, ayo pergi sebelum mejanya penuh."
Begitulah, kami bertiga pun menuju kantin sekolah.
"Wah, ramai banget ya."
"Gawat nih. Kita benar-benar telat."
Begitu sampai di kantin, sebagian besar kursi sudah terisi. Kantin sekolah kami memang tergolong luas, tapi tetap saja, ini sekolah yang penuh dengan anak SMA yang sedang dalam masa pertumbuhan. Kalau telat sedikit saja, kursi akan langsung habis.
Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling.
(Oh, ada yang kosong.)
Aku melihat beberapa murid beranjak dari meja bulat untuk 3 orang. Aku segera bergerak cepat, meletakkan tas, dan mengamankan kursi tersebut.
"Ooh! Mantap, Iori. Sip, ayo ambil makan!"
"Aku bawa bekal, kok. Kalian berdua duluan saja."
"Oke, mengerti."
Aku dan Renji pun ikut mengantre.
Meninggalkan Renji yang masih kebingungan memilih antara kari atau ramen, aku memesan Stamina-don. Mengingat aku sering diejek sebagai "kutu buku krempeng," setidaknya aku harus makan daging yang banyak.
(Tapi, seberapa banyak pun aku makan, aku tidak gemuk-gemuk, ya.)
Dulu aku pernah mengatakan hal itu kepada Kashiwagi-san, dan dia malah marah besar dengan wajah serius.
"Ara, Amano-kun. Selamat datang, hari ini kamu tetap terlihat tampan ya."
"Te-terima kasih."
Begitu tiba giliranku, ibu kantin yang sudah akrab menyapaku. Sepertinya beliau menyukaiku karena setiap kali aku makan di kantin, beliau sering mengajakku mengobrol.
"Mau pesan apa?"
"Stamina-don porsi besar."
"Eh, yakin? Porsinya lumayan banyak, lho."
"Yakin."
Karena aku laki-laki. Paling-paling nanti pas pelajaran siang jadi sedikit mengantuk.
"Begitu ya? Ah, lalu gadis yang datang bersamamu tadi itu Kashiwagi-san, kan? Apa jangan-jangan kalian pacaran?"
"......Tidak, bukan seperti itu."
"Tidak apa-apa, lho! Kalian serasi, kok! Semangat ya!"
Aku hanya membalas dengan senyum kaku. Serasi. Dalam hati aku membantah keras hal itu.
Setelah menerima Stamina-don (porsi besar) yang tampak sangat mengenyangkan, aku kembali ke meja.
"Ah, selamat datang kembali."
"Maaf menunggu lama."
"Wuih. Ah, tapi sepertinya ramen tadi lebih..."
(Ujung-ujungnya dia pilih kari?)
Padahal tadi mengeluh karinya kemanisan. Kalau aku sih lumayan suka kari yang agak manis.
"Ngomong-ngomong, Kashiwagi-chan. Bekalmu hebat banget. Kamu bikin sendiri?"
"Eh? Iya. Begitulah."
"Hebat. Bisa goreng telur gulung tanpa gosong saja sudah kusebut
dewa. Gimana menurutmu, Iori? Gadis ini nggak punya kelemahan, lho."
"Bukannya itu sudah jelas."
Justru karena itulah dia sangat populer. Bisa dibandingkan dengan "sosok di luar nalar" itu saja sudah membuktikan bahwa gadis ini juga luar biasa. Sambil mengunyah Stamina-don, aku mengangguk setuju.
"Duh, jangan dipuji terus.......O-omong-omong, Amano-kun sendiri gimana menurutmu soal anak perempuan yang jago masak?"
"Eh, ya, menurutku itu sangat menarik."
"Be-begitu ya!"
"Waduh-waduh, pamer kemesraan nih. Apa aku di sini cuma jadi pengganggu ya?"
"Enggak, kok. Sudah, makan saja yang tenang."
"Baik."
Renji dan Kashiwagi-san saling sahut-sahutan.
Ya, mereka berdua memang terlihat akrab. Aku teringat kalau mereka satu SMP dulu.
Sambil mengingat hal itu, aku terus melahap makananku.......tapi, usaha pendekatan Kashiwagi-san yang diselipkan di setiap kesempatan ini terasa berat bagiku. Bukannya aku tidak suka, tapi rasa bersalahku jauh lebih besar.
Saat aku mengalihkan pandangan dari mereka berdua, mataku menangkap sebuah poster yang tertempel di dinding kantin.
『Ayo, Para Pemuda dan Pemudi Rupawan! Kontes Miss & Mister Festival Shirayanagi!』
"......Begitu ya. Sebentar lagi festival budaya." gumamku pelan.
Mendengar itu, Renji mengeluarkan suara lesu.
"Ah, benar juga, tinggal sebulan lagi...... gawat ya. Sudah waktunya menyiapkan konsep Maid Cafe."
Dia mengangguk-angguk dengan wajah yang sangat serius. Namun, aku dan Kashiwagi-san hanya bisa melongo.
......Orang ini barusan bilang apa?
"Eh?"
"Hah?"
"Hmm?"
Reaksi kami bertiga berbeda-beda.
Aku dan Kashiwagi-san menatap Renji dengan pandangan 'apa-apaan orang ini?', sementara Renji yang sedang menyuap kari menoleh balik seolah bertanya 'ada yang aneh?'.
"Maid Cafe?"
"Apa itu?"
"....? Ya apa lagi, itu kan proyek kelas kita nanti?"
Renji memiringkan kepala seolah hal itu sudah sewajarnya.
Kashiwagi-san sempat mematung sejenak, tapi sedetik kemudian wajahnya memerah padam dan dia berteriak.
"Ke-kenapa jadi begitu!?"
"Kenapa apanya? Kita punya Yukimura-san dan Kashiwagi-chan di kelas, lho. Mana mungkin ada pilihan selain memakaikan kalian baju Maid?"
Renji mengatakannya dengan wajah sangat serius. Melihat ekspresinya, aku menyadari sesuatu.
──Gawat, orang ini sungguhan. Dia benar-benar berpikir bahwa tidak ada pilihan lain bagi kelas kami selain Maid Cafe.
"Aku nggak mau pakai, ya!"
"Hah? Nggak mungkin. Itu nggak mungkin, Kashiwagi-chan. Kamu tahu apa itu demokrasi? Kalau kita voting, pasti semua setuju. Ya kan, Iori?"
"Eh."
Kenapa malah dilempar ke aku?
"A-Amano-kun!?"
Kashiwagi-san menatapku dengan pandangan memohon, namun di sisi lain, sepertinya ada sedikit binar harapan di matanya.
Apa sih... apa yang dia harapkan dariku? Apa yang harus kukatakan di situasi seperti ini?
"Bilang saja, Iori! Bilang kalau kamu mau lihat Kashiwagi-san pakai baju Maid. Dia pasti langsung luluh!"
"......"
"Ka-kamu nggak akan bilang begitu, kan!? Amano-kun bukan laki-laki seperti itu, kan!?"
"......"
Sambil mengunyah daging dan nasi putih, aku bimbang.
(Nah, bagaimana ya.)
Kalau ditanya mau melihat atau tidak, ya tentu saja aku mau melihatnya. Tapi kalau aku mengatakannya, label "mesum" tak akan bisa kuhindari. Kalau sampai Kashiwagi-san menatapku dengan mata jijik, mentalku pasti langsung mati.
Label mesum, atau keuntungan melihat baju maid?
Setelah bimbang setengah mati, akhirnya aku...
"Iya... aku mau lihat, sih."
Aku menjawab jujur. Habisnya, aku kan laki-laki.
"Aaaah...!"
"Yossh, mantap!"
Kashiwagi-san terkulai lemas, sementara Renji melakukan fist pump tanda kemenangan. Tapi, apakah cuma perasaanku saja kalau wajah Kashiwagi-san sebenarnya terlihat sedikit senang?
"Uuuh... apa aku benar-benar harus pakai, ya?"
"Sudahlah. Lagi pula nanti ada kontes Miss-Mister juga. Itu bisa jadi cara bagus buat cari poin."
"Oh, Kashiwagi-san beneran ikut?"
──Kontes Miss & Mister. Tradisi tahunan Festival Budaya Akademi Shirayanagi. Sebuah festival kecantikan dan karisma untuk memilih siswa-siswi paling keren di sekolah ini. Katanya, 3 besar bahkan mendapat hadiah uang tunai. Rasanya ingin protes, "Apa-apaan sekolah unggulan ini?"
Namun, mendengar hal itu, Kashiwagi-san langsung terlihat lesu sampai-sampai rasanya ada efek suara jeng-jeng yang mengiringinya.
"......Aku nggak mau ikut, tapi teman-teman sekelas... mereka heboh banget."
Ucapnya pelan dengan suara yang nyaris hilang. Aku dan Renji pun memberikan tatapan simpati padanya.
"Yah, Kashiwagi-chan kan punya banyak penggemar. Wajar kalau jadi begitu."
"Tahun lalu waktu kamu nggak ikut saja protesnya luar biasa, iya kan?"
Mau bagaimana lagi, saat aku berkata begitu, Kashiwagi-san makin terpukul. Caranya memakan telur gulung sedikit demi sedikit terlihat sangat menyedihkan.
"Menurutku, nggak ada gunanya juga aku ikut."
"Eits, jangan salah, kamu punya peluang bagus, lho. Setidaknya posisi kedua di angkatan sudah pasti di tangan."
"Oi, bodoh."
Aku buru-buru menghentikan Renji. Itu adalah kompleks titik sensitif Kashiwagi-san. Meski dia bilang tidak keberatan, dia pasti masih belum mau hal itu diungkit.
Benar saja, Kashiwagi-san langsung bergumam...
"Iya... iya. Benar juga, ya. Apalah aku ini..."
Dia makin tenggelam dalam depresi. Aku menyikut Renji seolah bilang 'liat tuh gara-gara kau!', dan dia membalas dengan bisikan pelan 'maaf!'. Dan tepat saat itu──
Wush...!
Aku merasakan atmosfer di sekitar tiba-tiba berubah. Aku dan Renji serentak menoleh ke arah pintu masuk.
"Geh."
"Serius? Di saat seperti ini?"
Kami berdua mengerang bersamaan.
──Yukimura Mizuki.
Sang juara kontes Miss tahun lalu dari seluruh angkatan muncul dengan dikelilingi para pengikutnya.
(Oi.)
Gara-gara kamu, Kashiwagi-san jadi depresi tahu, keluhku dalam hati. Namun, Mizuki tetap dengan ekspresi datarnya yang biasa, mengedarkan pandangan seolah mencari sesuatu.
Sudah terlalu telat untuk makan siang. Apa dia mau membeli sesuatu di kantin?
Saat aku berpikir begitu.
"──"
"......!"
Tiba-tiba, mata kami bertemu. Tanpa ragu, dia langsung berjalan lurus ke arah kami.
(Eh, apa-apaan?)
"O-oi, dia jalan ke sini...?"
Bahkan Renji pun terlihat ciut.
Dikelilingi lima pengikutnya, dia berjalan dengan tenang. Kerumunan orang yang berdiri di jalurnya terbelah ke kiri dan kanan setiap kali dia melangkah.
Kamu itu Musa atau apa? Aku hanya bisa melongo heran.
Lalu, Mizuki berdiri tepat di depan kami.
"──Kashiwagi-san."
Dia memanggil nama Kashiwagi-san dengan tenang.
"E-eh? A-aku?"
Kashiwagi-san terlihat sangat gugup sampai kasihan melihatnya. Mizuki kemudian menyodorkan map plastik yang dibawanya.
"Ini, dititipkan oleh guru."
"Eh, ah, angket pengurus perpustakaan..."
"Iya. Beliau minta diserahkan sebelum jam istirahat siang berakhir."
"A-ah, terima kasih."
Kashiwagi-san menerima map itu. Namun, Mizuki tetap diam menatap
Kashiwagi-san tanpa bergerak. Tatapan itu membuat Kashiwagi-san gelisah dan salah tingkah.
"A-anu... Yukimura-san? Ada apa?"
"Tidak ada."
Setelah bergumam pendek, Mizuki berbalik. Saat hendak pergi, sesaat mata kami bertemu, tapi dia langsung memalingkan muka. Mizuki yang berjalan pergi kemudian mampir ke koperasi, membeli satu buah buku tulis, lalu keluar dari kantin.
"......"
"......"
Aku, Renji, dan para siswa di kantin seketika terdiam. Dia benar-benar seperti badai. Sambil menatap ke arah dia pergi, aku mendengar desahan napas kecil dari sampingku.
"......? Kashiwagi-san?"
Saat aku memanggilnya, Kashiwagi-san tersentak dan mengangkat wajah.
"E-enggak. Bukan apa-apa."
Ucapnya terburu-buru.
Di sampingku, Renji yang teringat karinya kembali melahap makanan sambil bertanya.
"Ngomong-ngomong, aku dari dulu penasaran, gimana sih sebenarnya? Bagi Kashiwagi-chan, Yukimura-san itu apa? Penghalang yang menyebalkan, ya?"
"Oi, Renji."
Apa kamu sudah lupa kejadian barusan? tegurku. Renji pun sepertinya sadar dan memasang wajah sedikit tidak enak.
Tapi, mendengar itu, Kashiwagi-san...
"......Yah."
Dia menatap kosong ke arah kepergian Mizuki.
"Jujur saja... aku merasa sedikit... takut padanya."
"Eh?"
"Ah, bukan berarti aku benci, lho! Tentu saja aku tahu dia orang yang luar biasa! Tapi, bagaimana ya..."
Kashiwagi-san tampak kesulitan melanjutkan kata-katanya.
"Setiap kali mata kami bertemu... aku selalu merasa... 'seram'."
Mendengar gumaman pelan Kashiwagi-san, aku dan Renji saling pandang.
Seram? Mizuki? Apa maksudnya?
Aku bertanya pada Renji lewat tatapan mata, tapi Renji pun hanya memiringkan kepala dengan bingung.
"Ma-maaf ya? Aku malah bicara yang aneh. Aku balik duluan, ya."
Kashiwagi-san buru-buru membereskan kotak bekalnya dan beranjak dari kursi.
Tinggallah aku dan Renji.
"......Maaf. Sepertinya aku baru saja menginjak ranjau."
"Bukannya itu sudah biasa bagimu..."
Aku menghela napas panjang. Aku dan Renji pun akhirnya bangkit dari kursi.




Post a Comment