Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Chapter 3
Aku Membencimu
Yuu, yang ternyata jauh lebih antusias terhadap gim ponsel pertamanya daripada yang ia bayangkan, menyambut pagi terseok-seok pertama dalam hidupnya.
Tadi malam, ia berbaring di kasur dengan niat hanya begadang sebentar untuk mencoba gim tersebut. Namun, ternyata gim itu sangat menarik. Saat jam menunjukkan pukul tiga pagi, ia sudah benar-benar lupa pada rencananya untuk mengejutkan Miyako dan justru fokus sepenuhnya pada permainan.
Pada akhirnya, ia baru terlelap pukul lima pagi. Bahkan sebelum ujian pun ia tidak pernah senekat ini. Bagi Yuu yang biasanya ingin mengalokasikan waktu tidur selama enam jam, tidur dua jam lebih sedikit itu terasa hanya seperti satu kedipan mata.
Sangat mengantuk—karena merasa akan jatuh tertidur jika tetap di rumah, ia memutuskan untuk berangkat ke sekolah lebih awal dari biasanya. Kesadaran Yuu, yang melangkah keluar rumah dengan gaya seperti zombi, baru mulai jernih setelah ia melewati tempat ia berjanji temu dengan Miyako kemarin.
Tak lama kemudian, sekolah mulai terlihat. Ia merasa seolah baru saja melakukan teleportasi, namun ia yakin itu pasti efek dari terlalu banyak bermain gim. Setelah menguap lebar, kepalanya perlahan mulai terasa jernih, sehingga ia bisa langsung bereaksi saat seseorang memanggilnya.
“Selamat pagi, Shikura-kun. Pagi sekali ya. Sedang menunggu seseorang?”
Pemilik suara itu adalah Kagura Shio. Ia mengangkat sebelah tangan sambil tersenyum tipis.
Yuu menghentikan langkah dan membalas salamnya, lalu menyipitkan mata seperti sedang memelotot—hal itu terjadi secara alami saat ia teringat sosok Miyako yang tampak sangat senang kemarin.
Melihat ekspresi Kagura yang sempat menegang, Yuu buru-buru mengucek matanya sambil berpura-pura panik.
“Maaf, Kagura-san. Aku kurang tidur parah... rasanya masih seperti di dalam mimpi. Anu, soal menunggu seseorang itu apa maksudnya?”
“Ah, bukan ya? Soalnya Naze-san juga sering datang pagi ke sekolah, jadi kupikir kau menunggunya.”
Karena ada kesalahpahaman yang aneh, Yuu membantahnya dengan tegas, lalu ia teringat sesuatu.
Teringat obrolan di fitur chat dengan Miyako yang berlangsung seru tadi malam. Meskipun menikmati gim hingga hampir begadang, Yuu tidak melalaikan rapat strategi dengan Miyako. Sambil menyusun langkah konkret yang akan diambil, mereka memprediksi beberapa skenario yang mungkin terjadi dan berbagi cara untuk menanggapinya.
Misalnya, situasi sekarang: "Jika Kagura Shio melakukan kontak" maka "Itu tanda dia waspada. Serang balik dari pihak kita".
Bagi Kagura, Yuu mungkin termasuk dalam kategori kenalan, jadi tidak aneh jika ia menyapa saat melihatnya. Namun, Yuu sudah bertekad untuk tidak meremehkan si murid teladan ini. Karena itu, ia memperingatkan dirinya sendiri bahwa ini bukan sekadar disapa, melainkan "diserang".
“Padahal kau tidak perlu repot-repot menyapaku. Tidak ada untungnya mengobrol denganku.”
“Jangan bicara begitu dong. Karena kita sudah saling kenal, bukankah wajar kalau ingin akrab?”
Kagura menunjukkan senyum yang disenangi banyak orang. Tanggapan yang sangat mencerminkan murid teladan—tapi sandiwara itu tidak mempan di sini.
Kagura Shio menyembunyikan jati dirinya dengan sangat, sangat rapi. Ia pasti sangat percaya diri bisa menutupinya hingga tuntas. Rasa percaya diri itu terlihat dari keberaniannya untuk maju sendiri ke garis depan. Akting yang munafik.
Sejak awal aku sudah merasa dia mencurigakan. Yuu melirik profil wajah Kagura yang berjalan di sampingnya. Meskipun pihak lawan yang mengambil langkah pertama, bisa berbincang dengan Kagura di waktu yang belum genap sehari sejak pertemuan mereka adalah peluang besar.
Waktu berpihak pada Kagura. Mengingat pihak Yuu kalah jumlah dan tidak memiliki keunggulan berarti, bisa berduaan seperti ini sebelum kartu mereka terbongkar dan lawan menyusun strategi balasan adalah sebuah keberuntungan.
『Jangan tanggung-tanggung, ayo serang terus!』—dengan taktik pamungkas yang diajarkan Miyako di dalam dadanya, Yuu mulai membuka pembicaraan.
“Terima kasih soal kemarin. Berkat Kagura-san, aku bisa mengobrol dengan Furumi-san. Meskipun cuma sebentar saat jam istirahat siang, sih.”
“Begitu ya. Hmm, rasanya seperti rahasia di antara kalian berdua saja, ya?”
Karena Kagura menunjukkan wajah seolah tahu segalanya namun memberikan respons yang agak meleset, Yuu memiringkan kepala.
“Apa maksudmu? Tidak ada rahasia antara aku dan Furumi-san.”
“Sebenarnya, sepulang sekolah kemarin aku melihat kalian berdua jalan bareng.”
Owalah, ternyata itu inti permasalahannya. Pantas saja dia menyapaku seperti ini.
Suatu hari, tiba-tiba muncul seseorang yang menjalin kontak dengan mantan korban perundungannya sekaligus dengan korban perundungannya yang sekarang, lalu orang itu mulai mengendus-endus di sekitarnya; tentu saja dia akan merasa terusik.
Kagura tetap mempertahankan gaya bicara seperti obrolan ringan biasa, tapi bagi Yuu yang tahu sisi gelapnya, ini terasa seperti penyelidikan yang sangat gamblang.
Sejauh ini, dia pasti selalu mengendus bibit masalah sekecil apa pun, lalu memetik atau menginjaknya hingga hancur.
“Kau salah lihat... kalau aku bilang begitu malah makin mencurigakan ya. Benar kata Kagura-san, aku bermain di taman dengan Furumi-san.”
“Heh, tak disangka! Rasanya puitis sekali, seperti masa muda ya. Mungkin kalian jadi cepat akrab karena bermain sambil mengenang masa kecil.”
“Yah, begitulah. Kami juga saling berbagi cerita tentang masa lalu yang tidak ingin kami singgung.”
Serangan mendadak. Yuu yang tidak suka dengan pernyataan Kagura langsung melancarkan serangan. Ia berharap setidaknya ada satu guncangan yang muncul di wajah lawan, namun sayangnya, hal itu tertutup sempurna oleh senyum munafiknya.
“Ini rahasia... tapi karena kelihatannya Kagura-san bisa dipercaya, aku akan memberitahumu. Sebenarnya Furumi-san sepertinya pernah diperlakukan dengan kejam saat SMP.”
“Anu... diperlakukan dengan kejam?”
Yuu tidak menjawab, melainkan menguap lebar. Ini adalah serangan tidak sengaja akibat kurang tidur, tapi karena terlihat seperti sebuah gertakan dalam negosiasi, ia menganggapnya bagus saja. Tanpa menoleh ke arah Kagura yang tampak cemas, ia melanjutkan ceritanya.
“Perundungan. Furumi-san bilang dia tidak tahu apa penyebabnya. Karena tidak tahu siapa yang melakukannya, dia bilang tidak bisa berbuat apa-apa sambil tersenyum tegar. Padahal dia tersakiti, tapi dia tetap tersenyum.”
“Apa-apaan itu. Benar-benar cerita yang kejam.”
“Aku juga curiga kalau pelakunya adalah Kagura-san, lho.”
Yuu, yang merasa kesal melihat Kagura berpura-pura sakit hati dengan begitu tenang dan tanpa rasa malu, melontarkan kalimat itu dengan nada bicara yang tajam.
Bukankah kau sendiri yang membuat cerita kejam itu?
Ekspresi Kagura yang menatap Yuu tampak membeku sesaat, namun ia segera mengubah raut wajahnya menjadi kebingungan.
“Maaf, caraku bicara salah. Maksudku, karena tidak ada yang tahu pelakunya, berarti semua teman sekelas saat itu mencurigakan. Bukannya aku mencurigai Kagura-san secara khusus, malah sebaliknya. Kau itu termasuk salah satu 'kartu aman' yang langka, kan?”
“Anu, terima kasih...? Kenapa kau berpikir begitu?”
“Habisnya, kalau aku mencoba membayangkan orang seperti apa pelakunya, dia sangat jauh berbeda dengan Kagura-san.”
Setelah mengatakan itu, Yuu menarik napas dalam-dalam—lalu mengembuskannya. Dengan raut wajah bangga, meniru gaya detektif ternama yang hendak memaparkan deduksinya, ia mulai bersilat lidah.
“Pertama, si pelaku itu pasti punya kepribadian yang sangat buruk. Kalau tidak, mana mungkin dia bisa tega merundung orang lain. Itu terlihat dari banyaknya metode yang dia gunakan serta anonimitas yang terjaga rapi. Lalu satu lagi, dia itu bodoh sekali. Ini bisa kupastikan. Dia tidak sadar kalau merendahkan orang lain tidak akan mengubah posisinya sendiri. Merasa puas dengan menghina orang lain... sepertinya sejak SMP dia punya mentalitas seperti anak kelas satu SD. Mungkin sampai sekarang pun tidak berkembang. Dia pasti salah sangka menganggap dirinya pintar dan berlagak hebat. Singkatnya, dia bodoh. Panglimanya para orang bodoh.”
Yuu menarik kembali ingatan tentang isi pembicaraannya dengan Miyako saat mereka sedang dalam suasana "semangat tengah malam" kemarin.
Ini lebih pantas disebut serangan dangkal daripada strategi. Sebuah serangan penuh kedengkian yang lebih mengutamakan upaya memancing amarah Kagura. Soal siapa yang akan mengatakannya adalah masalah siapa cepat dia dapat, namun sejak awal Yuu memang berniat mengambil peran itu.
“Iya, kan? Profil pelakunya benar-benar berlawanan dengan Kagura-san.”
Sesuai rencana, wajah Kagura tampak sedikit berkedut, namun sekali lagi, ia berhasil menyembunyikannya dengan sikap tenang.
“Ahaha...... Anu, Shikura-kun. Berhenti, yuk, membicarakan keburukan orang lain. Rasanya tidak enak didengar.”
Sambil menenangkan Yuu dengan nada bicara yang lembut, Kagura melanjutkan.
“Setelah mendengar ceritamu, kupikir Shikura-kun sedang mencoba mencari pelakunya ya?”
“Yah, begitulah. Untuk sementara aku berniat menyelidiki mantan teman sekelas yang ada di sekolah yang sama.”
“Kalau begitu, bagaimana kalau aku ikut membantu?”
Itu adalah tawaran yang sangat dinantikan. Jika Kagura tidak mengatakannya, Yuu sendiri yang akan mencoba memintanya. Dengan begitu, Yuu bisa mengawasi gerak-gerik Kagura sehingga peluang untuk menangkap basah siasatnya semakin besar, dan tim operasi senyap seperti Matilda akan lebih mudah menyelidiki hubungan pertemanan di sekitar Kagura. Gangguan terhadap Youka pun pasti tidak akan berjalan semulus biasanya.
Segalanya terasa menguntungkan. Justru karena semuanya terasa terlalu menguntungkan—Yuu mulai berpikir.
Apa prinsip dasar tindakannya?
Kagura Shio pasti mengincar sesuatu dengan cara menyelinap masuk ke dalam lingkaran Yuu. Dia pasti sedang merencanakan sesuatu dengan licik dan jahat. Jika tidak, tidak ada gunanya dia menawarkan diri untuk terjun langsung. Dia pasti sedang mencoba mengukur niat Yuu lebih dari yang bisa dibayangkan.
Kalau begitu. Fakta bahwa Yuu tahu soal gangguan terhadap Youka. Kecurigaan bahwa pelakunya sama dengan kasus Miyako. Kecurigaan bahwa Kagura Shio adalah dalang di balik semuanya. Apakah harus dianggap bahwa semua itu sudah terbongkar olehnya?
Yuu terpaksa menyimpulkan demikian... karena dia sudah memprovokasi Kagura habis-habisan. Jika Kagura menganggapnya hanya sebagai orang menyedihkan yang merasa hebat dalam berdeduksi dan hobi menyebar fitnah, itu akan sangat membantu, namun Kagura sepertinya tidak sebodoh itu.
Kagura bukan orang bodoh. Dalam pertarungan, seseorang tidak boleh meremehkan lawan.
“Ah, tapi...... boleh tanya satu hal?” ujar Kagura.
Yuu tidak menyahut dan hanya menunggu kelanjutannya. Ia tidak akan membiarkan dirinya terbawa oleh ritme lawan.
Akhirnya, Kagura yang sempat menunduk seolah sulit mengatakannya, mengangkat wajah dan menatap Yuu.
“Maaf ya. Sebenarnya aku yang tidak tahu apa-apa ini tidak pantas bicara, tapi anu...... apakah cerita Furumi-san itu benar? Soal dia diperlakukan dengan kejam. Maaf ya. Tapi kalau kita harus mencurigai semua orang, bukankah Furumi-san juga harus dicurigai......? Kurasa itu hal yang benar untuk dilakukan.”
Kagura, yang berusaha tetap menjadi "murid teladan" sampai akhir, mencoba menciptakan keadilan semu dengan ekspresi yang seolah tidak bisa menyembunyikan rasa bersalahnya. Dia bersuara seolah sedang menjunjung kebenaran.
Yuu ingin sekali berseru, "Jangan bercanda!".
Sangat konyol. Hal semacam itu—kebenaran yang diciptakan Kagura melalui pemungutan suara mayoritas—sama sekali tidak penting bagi Yuu. Bahkan jika seluruh latar belakang Miyako adalah bohong dari awal sampai akhir, Yuu tidak peduli.
“Aku tidak ingin melakukan hal yang benar, aku hanya ingin berada di pihak Furumi-san. Jadi, aku sudah memutuskan untuk memercayainya bulat-bulat. Jika ternyata dia pembohong, aku juga akan ikut meminta maaf bersamanya.”
Deklarasi itu meluncur dari mulut Yuu dengan sangat lancar, lebih mantap dari yang ia bayangkan sendiri.
Ia sempat berpikir untuk menambah satu provokasi lagi, namun ada yang aneh dengan sikap Kagura.
“............Begitu ya. Bagus sekali, ya, aku jadi sedikit terharu! Aku akan dengan senang hati membantumu. Aku juga ingin akrab dengan kalian berdua.”
Meski ia bicara dengan lembut tanpa ada nada ketus, matanya terlihat menatap tajam dan dingin. Warna emosi yang sangat tidak mencerminkan murid teladan; sebuah kemarahan yang pekat dan keruh seolah-olah kebencian yang mendidih mulai meluap keluar.
Yuu kembali mengucek matanya. Kemudian, seolah-olah itu hanya halusinasi, mata Kagura kembali berkilau terpapar cahaya matahari pagi.
Akhirnya mereka sampai di sekolah, dan tepat saat melewati gerbang utama, Kagura berkata:
“Apa yang harus kubantu? Katakan saja apa pun. Aku sempat sedikit kaget karena dituduh, jadi biarkan aku berusaha sekuat tenaga untuk membersihkan namaku.”
Yuu merasa bahwa meski Kagura berpura-pura tenang, di dalam hatinya dia pasti sedang gemetar karena marah.
Jika dipikir-pikir. Bagi seseorang yang menindas orang lain hanya karena tidak suka, karena terlihat menonjol, atau bahkan tanpa alasan; lalu di depan matanya sendiri dia dikatai bodoh, ditambah lagi orang yang dulu pernah ia tenggelamkan kini merangkak naik kembali bersama rekannya—tidak mungkin harga dirinya yang membengkak itu tidak tersinggung.
Karena dia cukup licik, dia pasti sadar bahwa lawannya sedang memprovokasi, dan itu membuatnya semakin kesal. Namun, dia adalah lawan licik yang selama ini selalu menyembunyikan jati dirinya, jadi Yuu tidak bisa berharap banyak pada tindakan impulsif yang emosional—
Eh, tunggu dulu. Bukankah baru saja dia menunjukkan celah? Meski hanya celah yang sangat kecil, Kagura Shio tidak bisa tetap tenang. Dia tidak bisa menahan emosinya.
Atau... setidaknya begitulah kelihatannya di mata Yuu.
Lagi pula, ada kemungkinan besar bahwa tindakan menulis cacian di buku catatan Miyako pertama kali pun merupakan tindakan impulsif akibat emosi yang meluap-luap. Artinya, meski ini informasi dari tiga tahun lalu, pengendalian diri gadis itu sulit dikatakan kelas satu—namun anehnya, dia tidak pernah menunjukkan ekornya hingga hari ini.
Apakah itu karena korbannya tidak melawan?
Karena dia mengincar target yang terisolasi dan tidak suka membuat keributan, fakta-fakta itu jika digabungkan akan memunculkan sebuah kesimpulan—jangan-jangan Kagura sangat jarang punya pengalaman dilawan.
Jika diasumsikan dia tidak terbiasa dengan rasa sakit akibat digigit atau kekesalan karena ada yang menentangnya, maka reaksinya tadi yang seolah tidak mampu memproses emosi menjadi masuk akal.
Kagura Shio, dalam hal adu hantam, ternyata hampir bisa dibilang seorang pemula. Ini layak dipertimbangkan.
Furumi-san, serangan frontal kita ternyata ada gunanya. Sepertinya kita punya celah untuk menang.
Dalam hati, Yuu juga berterima kasih pada Youka dan Yoyo. Lalu kepada Kagura, ia memberikan ucapan terima kasih basa-basi.
“Terima kasih, kalau Kagura-san mau membantu, kurasa masalahnya akan cepat selesai. Pelakunya sangaaaat bodoh, sih. Sebenarnya kami sudah menyimpan bukti.”
“Bukti......? Ada hal seperti itu? Kalau begitu sebaiknya segera saja......”
Kagura berhenti tepat sebelum menyelesaikan kalimatnya, lalu berpose meletakkan tangan di dagu seolah sedang berpikir.
“Begitu ya. Berarti bukti itu tidak bisa langsung menunjuk siapa pelakunya dalam sekali lihat. Kalau kau percaya pada ucapanku soal membantu tadi, yang kau butuhkan adalah tenaga tambahan, ya? Berarti...... bagian dari barang milik seseorang? Tapi apa itu bisa disebut bukti kuat? Aku tidak tahu kalau belum melihatnya. Atau, benda itu sendiri yang menjadi bukti...... seperti surat ancaman tulisan tangan, atau semacamnya? Bagaimanapun, aku ingin dengar ceritanya pelan-pelan. Perlihatkan padaku, yang kau sebut 'bukti' itu.”
Kagura yang dengan percaya diri memaparkan deduksinya melangkah maju, lalu mengintip wajah Yuu dari dekat.
Sudah kuduga, dia tidak akan tumbang dengan mudah. Di depan pintu masuk sekolah, Kagura memastikan keadaan di belakangnya sejenak, lalu tiba-tiba bicara dengan cepat.
“Ada pepatah 'kebaikan harus disegerakan', jadi bagaimana kalau kita bicara sekarang di suatu tempat? Kalau Furumi-san sudah datang, kita bicara bertiga. Kalau belum, sementara aku dan Shikura-kun berdua saja dulu. Aku tahu tempat yang tidak akan didatangi siapa pun.”
Jangan-jangan aku mau dibunuh ya. Senyum Kagura terlihat sangat palsu.
Sebenarnya duel satu lawan satu di tempat yang tidak ada gangguan adalah hal yang kunantikan, tapi rasanya kesal jika harus mengikuti ajakannya begitu saja. Seberapa banyak aku bisa mengikis ketenangan Kagura Shio akan sangat memengaruhi arah pertempuran —kalau begitu, haruskah aku menolak sekali ini?
“Maaf, aku ada urusan. Nanti biar aku yang bicara pada Furumi-san, soal detailnya kita bicarakan lagi lain kali.”
“Begitu ya. Sayang sekali. Kalau begitu mau bagaimana lagi,” sahut Kagura tanpa memaksa dan langsung menyerah sambil tersenyum.
Di saat itulah Yuu menyadari kesalahannya. Semakin banyak waktu terbuang, semakin untung pihak Kagura. Dengan kata lain, Yuu baru saja memberikan kelonggaran padanya secara cuma-cuma.
Padahal aku sudah tahu itu. Aku terlalu fokus pada pengambilan posisi yang detail sampai kehilangan pandangan terhadap gambaran besarnya.
Tepat saat ia hendak meralat ucapannya dengan, "Sebenarnya sekarang juga bisa—", tiba-tiba...
“Heeey! Kagura-chan! Shikura-kun! Ohayo-deru! (Selamat pagi)!”
Sebuah suara yang sangat ceria untuk ukuran sepagi ini menyambar mereka, disusul oleh sang pemilik suara yang berlari menembus celah di antara keduanya. Yoyo berbalik menatap Yuu dan Kagura, lalu tertawa nakal, “Apa aku mengganggu?”.
Sebenarnya sangat mengganggu, tapi karena Yuu baru saja dikelabui oleh Kagura, ia tidak bisa bicara galak.
Di sampingnya, Kagura sedang tertawa. Bagi Yuu, senyuman formal yang rapi itu terlihat seperti senyum kemenangan.
Jangan berlagak tenang begitu dong—Yuu yang tidak mau kalah menegakkan punggungnya dan melontarkan kata-kata gengsi.
“Ohayo-deru, Naze-san. Aku keluar rumah lebih awal karena ingin bertemu denganmu. Sudah kuduga kau akan segera datang, ayo kita pergi makan atau semacamnya.”
Yuu mencengkeram bahu Naze, memutar balik tubuh gadis itu, lalu mendorong punggungnya untuk berjalan. Tanpa mempedulikan Yoyo yang berteriak, “Ada apa ini?!”, Yuu hanya memalingkan wajahnya ke arah Kagura.
Tatapan mereka bertemu.
“Kalau begitu, Kagura-san. Mohon bantuannya mulai sekarang.”
“Kalau begitu, Shikura-kun. Mohon bantuannya juga ya mulai sekarang.”
Keduanya saling melempar senyum.
Hanya di bibir saja.
◯
Selama perjalanan menuju kelas setelah berpisah dari Kagura, Yuu terus mendorong punggung Yoyo. Suara tawa Yoyo yang renyah mengalirkan suasana pagi ke seluruh penjuru sekolah layaknya kokok ayam jantan atau bunyi alarm.
Kelas 1-7 hampir kosong, hanya ada tiga teman sekelas yang sedang membuka buku teks dan catatan di meja masing-masing. Setelah melepaskan tangannya dari Yoyo, Yuu duduk di kursinya. Seketika itu juga rasa lelah melanda, dan ia langsung tersungkur di atas meja.
“Mu. Apa mendorongku sebegitu beratnya? Hei Shikura-kun. Hei, hei, hei, ooooi.”
“Naze-san itu sangat ringan kok...... seringan mulutmu...... selamat tidur.”
“Lho?! Bagaimana dengan janjimu mau makan bersamaku tadi!”
Yoyo menepuk-nepuk kepala Yuu. Tiba-tiba dia menyadari sesuatu, melihat sekeliling, dan meminta maaf kepada tiga orang yang sedang belajar mandiri karena telah berisik. Lalu dia kembali menghadap Yuu dengan alis bertaut dan bibir mengerucut. Tampak sangat tidak puas.
Yoyo melipat tangan sejenak memikirkan sesuatu, lalu ia berjongkok dan mendekatkan mulutnya ke telinga Yuu.
“Aku akan patuh sepenuhnya pada Naze-san. Aku akan patuh sepenuhnya pada Naze-san. Aku akan patuh sepenuhnya pada Naze-san.”
“......Ha, hamster masuk lewat telingaku......”
Bisikan tanpa intonasi yang tidak seperti biasanya itu terasa saaaaangat mengerikan, sampai-sampai Yuu terpaksa mengangkat wajahnya.
Yang tertangkap matanya adalah sosok Yoyo dengan wajah penuh kemenangan. Yuu tidak tahu Yoyo menang atas apa, tapi karena ia tidak merasakan apa pun selain keimutan yang membuatnya ingin terus memandangnya (berbeda dengan milik Kagura), Yuu memilih untuk menanggapinya dengan diam. Daripada kena cuci otak yang aneh-aneh, ia menunda niatnya untuk tidur.
Yuu menilai pertemuannya dengan Kagura tadi sebagai keberuntungan, namun lebih dari itu, fakta bahwa kesempatan bicara dengan Yoyo datang secepat ini bisa dibilang sebagai keberuntungan tingkat tinggi. Menambah sekutu. Dengan kata lain, mencari teman.
Jika dituliskan kembali, rasanya memang menyedihkan sampai ingin menangis, tapi Yuu dan Miyako sudah melakukan rapat strategi dengan sangat serius tentang apa saja yang dibutuhkan untuk mencari teman. Dan kesimpulan yang mereka capai adalah ini.
“Naze-san, Naze-san. Aku ingin minta tolong, bisa kita bicara sebentar?”
『Mari minta diajari oleh Naze-san』—itulah solusi terbaik yang berhasil Yuu dan Miyako simpulkan.
Serahkan pada ahlinya; daripada mereka berdua pusing memikirkan cara sendiri, lebih baik meminta petunjuk dari Yang Mulia Naze yang ramah dan punya banyak teman. Sebuah pilihan yang sangat realistis.
Yuu sempat membayangkan respons seperti “Serahkan padaku!” yang ceria, namun di luar dugaan, Yoyo justru memasang wajah serius.
“M-minta tolong...? Padaku?”
“Iya. Hanya Naze-san yang bisa kuandalkan. Ini sebenarnya hal yang cukup memalukan, sih.”
Yuu berhenti sejenak dan mengalihkan pandangannya ke jendela. Meskipun ini kenyataan, atau justru karena ini kenyataan, berbicara hal seperti ini kepada Yoyo terasa sangat memalukan. Apalagi melihat Yoyo yang memasang raut wajah serius membuat Yuu semakin ragu, tapi karena ia sudah bertekad, ia pun pasrah.
“......Bisa ajari aku cara mencari teman?”
“E-eto....... Teman?”
“Bukan buatku, sih. Ini tentang temanku—ah, alasan itu tidak mempan ya. Bahaya sekali. Oke, intinya ini tentang kenalanku.”
Karena reaksi Yoyo sedari tadi sangat jauh dari bayangannya, Yuu mencoba mengisi kekosongan dengan bicara asal-asalan. Mungkin ini balasan karena selama ini ia sering mengabaikan Yoyo, namun pembicaraan tetap berlanjut tanpa hambatan berarti.
“Apa Shikura-kun ingin punya teman?”
“Yah...... begitulah. Ada berbagai keadaan yang membuatku sadar kalau tidak punya teman itu gawat juga.”
“Hmm.” Yoyo menunjuk dirinya sendiri dengan tangan kanan.
“Iya, benar. Itulah sebabnya kupikir meminta saran dari Naze-san adalah pilihan terbaik.”
“Hmm!”
Tangan kirinya ikut menunjuk. Ini baru Yoyo yang periang seperti biasanya. Yuu berpikir sejenak untuk memahami maksud dari gestur tersebut, namun ia segera mengangkat kedua tangan tanda menyerah.
“Lalu aku?! Apa aku tidak dihitung sebagai teman?! Aku cukup kaget, lho?!”
“Eh, ah...... itu......”
Karena Yoyo meninggikan suaranya tanpa mempedulikan situasi sekitar, Yuu hampir mati karena malu dan terpaksa menunduk.
Teman—Yuu yang tidak terbiasa dengan hal bernama "teman" merasa enggan menyebut orang lain sebagai 'teman' dengan mulutnya sendiri. Itu bukan hal yang memalukan, justru seharusnya membanggakan, tapi ia tahu itu tetap sulit baginya.
“Kalau mau punya teman, mungkin bagian itu harus diperhatikan. Sebisa mungkin utarakan dengan kata-kata, itu penting. Kalau disepelekan bisa jadi masalah besar.”
“Terima kasih atas pelajarannya.”
“Bagus. Sekarang mari kita latihan. Shikura-kun dan aku adalah?”
“......Te, teman.”
“Sekali lagi! Shikura-kun kepadaku adalah?”
“Ke? Ke...... tidak, aku tidak akan patuh sepenuhnya.”
“Sayang sekali! Hampir benar!”
Tidak hampir sama sekali.
“Aku benar-benar jujur dari lubuk hati yang paling dalam, aku senang Naze-san bilang begitu. Tapi untuk sekarang, urusanku nanti saja dulu tidak apa-apa.”
Yoyo yang tadi sempat meminta maaf lagi kepada teman sekelas yang sedang belajar mandiri kembali menghadap Yuu. “Maksudnya bagaimana?” tanyanya dengan suara pelan.
Yuu pun membalas dengan berbisik.
“Sebenarnya kemarin aku mengobrol dengan Furumi-san.”
“Hee, dengan Miyako-chan. Mungkin itu berkat aku.”
“Iya, berkat Naze-san. Aku lupa mengucapkannya, terima kasih ya. Lalu saat sedang seru-serunya mengobrol, kami jadi bersemangat untuk mencari teman. Tapi karena kami sama-sama buta soal itu, kami ingin mengandalkan Naze-san.”
“Begitu ya. Jadi ini bukan tentang Shikura-kun, tapi tentang Miyako-chan?”
Itu sebagian besar benar, tapi Yuu belum menyampaikan bagian terpentingnya. Ia tidak berniat menyembunyikannya, dan ia merasa ini momen yang pas untuk mulai terbuka karena merasa tidak enak hati menyembunyikan sesuatu dari seorang teman.
“Bukan, yang paling utama adalah Kengamine. Aku membicarakan Kengamine dengan Furumi-san. Naze-san juga sudah dengar, kan, kalau Kengamine sedang diganggu.”
Yoyo mengangguk ragu.
“Cerita yang bikin kesal, ya. Lalu aku berpikir, alasan Kengamine jadi sasaran mungkin karena dia terlihat terasing. Teman...... meski tidak sampai disebut teman, kalau orang yang berpihak padanya bertambah, kurasa situasinya akan berubah.”
“Jadi, prioritas utamanya adalah membantu Youka-chan mencari teman, ya. Aku sangat setuju, tapi apa kata Youka-chan nanti?”
“Bakal jadi rumit kalau bicara langsung pada Kengamine, jadi aku berniat melakukannya diam-diam. Aku dan Furumi-san.”
“Eh, seram.”
Respons yang wajar. Penjelasan Yuu memang sangat kurang.
Yoyo sepertinya sempat membayangkan sesuatu seperti "Paman Kaki Panjang yang mengatur tunangan", namun setelah Yuu menjelaskan bahwa ini hanyalah kampanye positif, akhirnya Yoyo paham.
“Kalau begitu, biarkan aku membantu juga. Meski aku tidak yakin bisa melakukan hal yang berarti. Soalnya Miyako-chan, Youka-chan, bahkan Shikura-kun itu tidak punya teman bukan karena ada alasan tertentu. Kalian hanya belum punya kesempatan saja.”
“Kesempatan, ya. Mungkin memang begitu.”
“Kampanye positif itu tidak buruk, tapi melakukan hal yang sebaliknya juga bisa dicoba. Menurutku lebih baik tunjukkan sisi lemah, atau sisi imut yang biasanya tersembunyi. Terutama untuk Youka-chan. Untuk tipe seperti Youka-chan, itu yang terbaik!” ujar Yoyo sambil berpose peace.
Kelemahan atau keimutan—frasa yang sulit dihubungkan dengan Youka, tapi justru karena itulah mungkin akan efektif.
“Menurut Shikura-kun, reaksi Youka-chan yang seperti apa yang bakal terlihat imut?”
“......Uuuh.”
“Eh, malah menangis.”
Karena itu pertanyaan yang mengerikan, Yuu sempat berakting menangis sejenak sebelum memulai kembali.
“Bagiku, dia yang sekarang adalah yang terbaik, tapi memang tidak bisa dimungkiri kalau dia sulit didekati. Kengamine, ya. Hmm, apa ya yang imut darinya.”
Yuu sempat berpikir untuk berkelit, namun itu akan terasa sangat tidak tulus padahal ia sendiri yang meminta saran. Maka, meski terasa memalukan dan butuh waktu lama, ia harus memberikan jawaban. Jika bicara soal imut, yang pertama kali muncul di kepalanya adalah Hika, tapi Hika terlalu imut sampai-sampai tidak bisa dijadikan referensi.
Sosok berikutnya yang terlintas di benaknya adalah—Naze Yoyo. Serangkaian perilaku "centil" yang menjadi keahlian gadis itu selalu saja memberikan serangan kritis bagi Yuu. Namun, hal itu efektif justru karena Yoyo yang melakukannya. Seandainya Youka yang melakukannya dengan tatapan memelas—
“Yah, tidak mungkin. Membayangkannya saja sudah mengerikan. Hal-hal itu terasa imut karena pelakunya Naze-san, tapi kalau dilakukan Kengamine, rasanya seperti disuruh duduk di atas hamparan jarum.”
“Shikura-kun, apa yang sedang kau bayangkan? Kau tidak sedang mengejekku secara halus, kan?”
“Tidak, kok. Ini benar-benar pertanyaan yang sulit. Tapi ya, meski terdengar klise, mungkin dia akan terlihat imut kalau sedang tersipu malu. Dia itu tipe orang yang selalu melaju dengan ritmenya sendiri, jadi melihat orang seperti itu kehilangan ketenangannya pasti terasa menggemaskan.”
“Boleh juga, boleh juga! Kalau begitu, bagaimana caranya membuat Youka-chan tersipu?”
Karena orang-orang mulai bertambah di dalam kelas, volume suara Yoyo pun tidak lagi tertahan.
Yuu merasa ingin memegangi kepalanya menghadapi rentetan pertanyaan sulit ini, namun karena ia juga merasa senang, ia tetap memutar otaknya untuk mencari jawaban.
Bagaimana cara membuat Kengamine Youka tersipu malu?
Ia mencoba membayangkan berbagai skenario, namun sosok Youka di dalam benak Yuu sama sekali tidak mau tersipu—malah dia tertawa terbahak-bahak dengan angkuhnya.
“Kurasa memujinya adalah cara terbaik, tapi orang itu sepertinya malah akan makin besar kepala kalau dipuji.”
“Bukankah itu tergantung cara memujinya? Shikura-kun, apa kau pernah memuji Youka-chan secara langsung dari depan?”
“Belum pernah... sepertinya tidak ada.”
“Shikura-kun memang payah dalam memuji perempuan secara lugas, ya. Tipe yang malah jadi salah tingkah lalu bercanda.”
“Memangnya ada orang yang jago? Orang-orang itu pasti belum tahu keberadaan sosok yang benar-benar imut seperti Naze-san.”
“Nah, itu dia!”
Yoyo yang "berbahaya" mencondongkan tubuhnya, lalu menggunakan jari telunjuknya untuk menusuk-nusuk dahi Yuu dengan gemas.
Yuu bermaksud menyampaikan isi hatinya yang jujur, namun ia tahu itu tidak akan tersampaikan, jadi memang benar bahwa cara memuji itu sangat penting.
“Dengar ya, Shikura-kun. Aku mengerti perasaanmu yang malu. Tapi kalau kau ingin membuat Youka-chan tersipu, kau harus selugas Youka-chan sendiri.”
“Itu benar sih, tapi kurasa tidak harus lewat jalur itu juga tidak apa-apa, kan? Tadi aku cuma bicara sekenanya saja.”
“Intuisi itu penting, tahu. Lagipula kalau kau ingin menambah orang yang berpihak pada Youka-chan, kurasa ini cara terbaik. Pertama-tama, Shikura-kun harus menyampaikan dengan jelas kalau kau ada di pihak Youka-chan. Harus disampaikan supaya dia mengerti.”
Yuu yang terlanjur menatap langsung kedipan mata Yoyo yang lincah menyadari bahwa ia tidak bisa melarikan diri. Entah sejak kapan hal ini tertanam di benaknya, namun sejak awal bertemu, ia memang tidak bisa melawan kecentilan Yoyo.
Kepatuhan mutlak.
“Kalau begitu, coba sampaikan pada Youka-chan bagian mana darinya yang kau suka! Poin pentingnya adalah katakan 'suka' dengan jelas.”
“Aku tidak bilang aku menyukainya, tuh.”
“Aku suka bagian dari Shikura-kun yang tidak jujur seperti itu.”
“...A-apa yang kau katakan, Naze-san. Jangan menggodaku.”
Yuu membuang muka, dan Yoyo bergumam puas.
“Nah, seperti ini. Sampaikan isi hatimu secara lugas untuk memancing reaksi lawan. Kurasa ini akan efektif karena Shikura-kun dan Youka-chan itu sebenarnya cukup mirip.”
“Mirip...? Aku dan Kengamine?”
“Karena itulah, rangkum bagian mana dari Youka-chan yang kau suka! Ini PR dari Naze-sensei! Tenggat waktunya sampai jam istirahat siang hari ini! Oooohayo, Miyako-chan!”
Yuu mengikuti arah pandangan Yoyo yang beralih menyapa dengan lancar, dan melihat Miyako baru saja masuk ke kelas. Miyako sedikit menarik sudut mulutnya dan mendekat ke arah mereka berdua.
Yuu dan Miyako saling bertukar pandang, lalu mengangguk secara bersamaan. Isi pembicaraan mereka tadi malam bukan hanya soal cara menghadapi Kagura. Mereka juga memikirkan cara bersikap bagi mereka sendiri. Bentuk finalnya adalah 'mengandalkan Yoyo', jadi ini bisa dibilang sebagai tahap awal, draf, atau prototipe-nya. Sebuah jembatan sebelum mendapatkan kerja sama penuh dari Yoyo—isinya adalah: Yuu dan Miyako mengobrol santai di dalam kelas, hanya itu.
Strategi masa pubertas yang dulu pernah digunakan Yuu untuk menarik perhatian Miyako kini dialihkan sasarannya kepada orang banyak.
Sepertinya mereka akan segera melaksanakannya. Benar saja, saat ini orang-orang sedang mengalir masuk ke kelas sehingga suasana menjadi bising, penguapan percakapannya tinggi, dan ini waktu yang pas untuk pemanasan.
Yoyo menengadah menatap Miyako, dan Yuu memperhatikannya. Di obrolan tadi malam, Miyako dengan penuh percaya diri bilang, “Biar aku yang mengambil kalimat pembuka.” Dia menggunakan emotikon yang belum pernah kulihat sebelumnya. Bukannya tidak ada rasa cemas, tapi karena saat itu sudah tengah malam, rasa antusias jauh lebih mendominasi, sehingga Yuu membalas dengan dialek asal-asalan, “Apa pun yang kau katakan, bakal kuterima kok.”
Miyako, yang memikul beban ekspektasi itu sendirian, berkata dengan lantang:
“Shikura-kun. Sepertinya tadi malam kau sangat menikmatinya, ya.”
“Furumi-san?”
“Ah, salah. Tadi malam menyenangkan sekali, ya. Tanpa sadar aku jadi sangat bersemangat. Padahal itu yang pertama bagiku.”
“Furumi-san!”
Yuu berdiri, mencoba membalas ucapan Miyako dengan kekuatan tatapan matanya.
Penolakan.
Ruangan kelas yang tadinya sibuk seketika menjadi hening, dan berbagai emosi seperti rasa penasaran dan keterkejutan kini tertuju pada mereka berdua.
Padahal dia sudah bilang. 'Serahkan padaku, aku akan membuat suasana meriah dengan lelucon yang berkelas'—begitu katanya. Tapi ini malah memberikan efek sebaliknya. Hal seperti ini hanya bisa berhasil jika ada orang yang bisa membalas candaan dengan tepat. Namun Miyako sendiri tampak tenang seolah tidak peduli.
“...O-ohoho. Kalau begitu, aku permisi dulu. Maaf sudah mengganggu...”
Yoyo, yang tampak sangat canggung, menunduk dan keluar dari kelas dengan gerakan lincah menghindari kerumunan layaknya hewan pengerat. Rasanya keadaan sudah mulai gawat.
Jika hanya saat berdua saja mungkin tidak masalah, tapi membiarkan lelucon seperti ini di depan umum bisa memicu masalah yang tidak perlu, jadi dia benar-benar harus merenung.
Yuu, sambil mengesampingkan kesalahannya sendiri, berkata:
“Furumi-san... soal rencana besok, biarkan aku membatalkannya untuk sementara.”
“Eh.”
Atmosfer tajam dan dinginnya seketika berubah. Bukan hanya wajah Miyako, tapi seluruh tubuhnya menunjukkan kepanikan yang luar biasa. Ia mengepalkan dan membuka tangannya berulang kali, mulutnya menganga tanpa suara, sambil berpegangan erat pada lengan Yuu.
“Tu-tunggu, Shikura-kun. Apa maksudnya? Apa ada yang tidak kau sukai? Jangan bicara begitu. Kalau ada yang salah, katakan bagian mana yang harus kuperbaiki.”
“Ma-maaf... itu cuma bercanda. Kalau kau mau menahan diri dari lelucon tidak sehat di depan umum, aku tidak akan mengungkitnya lagi.”
“Akan kusegel. Seketat blog pribadi anak SMP.”
Karena Miyako tampak jauh lebih putus asa dari yang ia bayangkan, hati Yuu pun terasa terenyuh—namun di saat yang sama, ia juga berpikir, ini benar-benar imut.
◯
Kurang dari satu menit setelah jam istirahat siang dimulai, Yuu dan Miyako sudah berada di depan kelas 1-2. Tujuannya adalah untuk menyerahkan PR kepada Naze-sensei.
'Rangkum bagian mana dari Youka-chan yang kau suka'—jika sendirian, mungkin mentalnya sudah jatuh, tetapi karena ia tidak sendirian, ia sanggup bertahan.
Miyako juga ikut terseret dalam nasib yang sama.
Saat diajak, awalnya Miyako sangat enggan, tetapi begitu Yuu mengusulkan untuk menyelesaikannya lewat gim, ia langsung menyambar tawaran itu dengan antusiasme tinggi. Mereka akhirnya bertarung dalam "Othello Kegelapan".
Aturannya adalah Othello biasa, dimainkan menggunakan aplikasi ponsel. Namun, mereka hanya boleh mengoperasikannya selama jam pelajaran pertama berlangsung. Jika ketahuan, mereka akan diseret ke ruang bimbingan konseling, jadi mereka harus melangkah sambil mencuri-curi pandang dari mata guru.
Yuu duduk di barisan paling belakang, sementara Miyako di barisan paling depan. Yuu merasa sedikit tidak enak karena kondisi ini lebih menguntungkan baginya sebagai penantang, tetapi Miyako ternyata sangat kuat.
Seolah tidak mempedulikan kerugian posisi duduk, ia mengendalikan bidak putih dengan lihai tanpa menunjukkan gestur sedang menyentuh ponsel sedikit pun jika diamati dari luar. Sepertinya ia sudah terbiasa bermain gim saat pelajaran.
Di sisi lain, Yuu adalah seorang pemula dalam hal gim maupun pengoperasian ponsel, namun karena keluarga Shikura adalah tipe keluarga yang menambah uang saku lewat Othello, ia murni kuat dalam permainan tersebut. Meski sebagian besar fokusnya terpakai untuk mencuri pandang dari guru, ia berhasil meraih kemenangan.
Setelah pelajaran berakhir, Miyako yang seharusnya benci ikut terseret, justru tersenyum dengan sangat riang.
Maka, setelah mereka berdua pusing memikirkan PR dari Yoyo bersama-sama, mereka datang ke kelas 1-2. Selain karena tata krama sebagai peminta saran, mereka juga ingin segera bebas dari beban ini secepat mungkin.
“Ngomong-ngomong, Furumi-san. Ada apa dengan penampilanmu itu? Tidak curang ya kalau cuma kau yang menyamar?”
Miyako yang bangga ditanya Yuu menjawab "fufun", ia menutupi area matanya dengan kacamata bulat merah berbingkai tebal, dan gaya rambutnya dikepang dua—penampilan yang mengingatkan pada karakter ketua murid zaman dulu. Jika tidak dilihat dari dekat, mungkin orang tidak akan menyadari bahwa itu Miyako.
“Bagus kau bertanya. Ini adalah penampilanku di masa SMP, sebelum aku melakukan 'debut SMA'. Jika Kagura Shio yang bilang, mungkin ini disebut sebagai 'hantu masa lalu'. Aku berniat menunjukkan sosokku yang masih hidup padanya.”
“Ah, begitu ya. Maaf aku bicara yang aneh-aneh tadi.”
“Aku membawanya untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu, dan ternyata langsung ada kesempatan untuk menggunakannya. Awal yang bagus, ya. Apa Shikura-kun itu semacam jimat keberuntungan?”
Yuu sudah menceritakan kepada Miyako bukan hanya soal pelajaran Yoyo, tapi juga soal interaksinya saat berpapasan dengan Kagura. Semuanya sudah dibagikan lewat obrolan di dalam gim.
Mendengar cerita Yuu yang memprovokasi Kagura habis-habisan, Miyako tertawa dengan sangat geli. Yuu kini merasa Miyako bukan lagi orang yang dingin, melainkan orang yang sangat kaya akan emosi.
Karena itu, meski prioritasnya lebih rendah, aksi provokasi terhadap Kagura tetap dilanjutkan. Melihat luka yang ia buat tiga tahun lalu, apa yang akan dirasakan Kagura?
“......? Ada apa Shikura-kun. Aku malu kalau dilihat terus seperti itu. Aku melakukan debut SMA justru karena aku malu dengan penampilan ini.”
“Begitu ya? Tapi aku c-cukup suka, kok. Menurutku kau sangat manis.”
Yuu mencoba mengatakannya selugas mungkin, seolah itu bukan hal yang luar biasa, namun Miyako yang menerimanya langsung meloncat mundur dengan kecepatan bola home run. Tanpa kata, ia mencoba menyembunyikan wajahnya yang memerah padam dengan kedua lengan.
Melihat itu, Yuu juga ingin menyembunyikan wajahnya karena malu, namun ia menahan diri di detik terakhir—tidak, ia gagal menahannya dan menunduk agar ekspresinya tidak terlihat.
“Aku berniat membiasakan diri dengan teori Naze...... tapi ini sulit, ya.”
“Kau kejam, Shikura-kun...... sekarang giliranku, kan.”
Yuu sama sekali tidak berniat begitu, namun berkat Miyako, hal itu menjadi pilihan yang tersedia dan akhirnya diadopsi.
Ini namanya senasib sepenanggungan. Jika tidak terbiasa dengan rasa malu ini, ia tidak akan sanggup menghadapi Youka yang sering menusuk rasa malu orang lain tanpa merasa bersalah.
“Kau jahat ya. Shikura-kun yang baik.”
“Mumpung lagi bahas ini, aku beri tahu ya, aku ini tidak baik sama sekali.”
“Oh ya? Tapi, kau bisa bersikap baik pada orang lain, kan? Ada lho orang yang hatinya baik tapi tidak bisa bersikap baik. Mungkin justru karena dia terlalu baik.”
Miyako mengakhiri kalimatnya tanpa beradu pandang. Ia memegang ujung kepangannya dan menjadikannya seperti kumis di depan mulut, matanya bergerak lincah ke sana kemari. Saat rona merah di pipinya semakin pekat, ia memantapkan hati dan menatap Yuu dengan tegas.
Mendengar dehaman "ehem" darinya, Yuu pun mengangkat wajahnya perlahan.
“Sejujurnya, penampilanku itu seleraku sekali. Entah kenapa kau mirip dengan landak biru yang terkenal itu.”
“Katanya kalau lari ke arah lelucon bakal dapat nilai merah, lho.”
“Kurang ajar ya. Aku bilang begitu karena Shikura-kun itu keren.”
“Aku tidak bisa menandingi keimutan Furumi-san.”
“Shikura-kun yang keren.”
“Furumi-san yang manis.”
“Shikura-kun yang baik dan keren.”
“Furumi-san yang kuat dan manis.”
Keduanya terus melakukan reli kata-kata pujian, namun pada akhirnya mereka berdua tidak tahan lagi menanggung malu dan menunduk secara bersamaan.
“Ada pasangan bodoh di sini......”
Yang menyela dunia milik mereka berdua itu adalah Yoyo, yang bisa dibilang merupakan penyebab utama semua ini.
Sebenarnya dia sudah ada di sana sejak tadi dan memperhatikan mereka dari pintu masuk kelas—namun karena Yuu maupun Miyako sedang tidak tenang, mereka tidak menyadarinya. Yoyo yang tampak kesal karena diabaikan menggembungkan pipinya dan menuntut agar dirinya juga dipuji.
Satu menit kemudian, mereka berhasil merayu Yoyo. Benar-benar hewan pengerat yang mudah luluh.
“Aku senang Shikura-kun mau datang sendiri. Apalagi bareng Miyako-chan juga. Ah.”
“Soal kejadian tadi pagi itu cuma candaan Furumi-san. Kau pasti sudah tahu, kan.”
“A-ah, tentu saja. Tentu saja aku sudah tahu dan paham. Tidak ada yang tidak diketahui oleh Naze-chan! Fuhaha!”
Tanpa mempedulikan Yoyo yang entah sedang mencoba karakter apa, mereka masuk ke kelas dengan posisi Yuu di belakang Miyako.
Sosok pertama yang tertangkap mata adalah seseorang yang mirip Youka, sedang tersungkur di atas meja di depan podium guru. Selanjutnya, di bagian belakang, ada kelompok besar. Kagura Shio sedang menyantap makan siangnya.
Yuu menarik kepalanya kembali dan menoleh hanya dengan lehernya.
“Jadi, Naze-san. Soal PR-nya.”
“Ini yang kutunggu-tunggu! Mari kita cek kesimpulan apa yang diambil Shikura-kun lewat praktik langsung!”
Mendengar pernyataan Yoyo yang terdengar tidak menyenangkan itu, ia langsung mendorong punggung Yuu dengan kuat. Secara alami, Yuu mendorong Miyako yang ada di depannya, dan mereka bertiga masuk ke kelas seperti sedang bermain kereta-keretaan.
Suara tawa Yoyo terdengar sangat jelas. Yuu tahu seluruh kelas kini sedang memperhatikan mereka.
Yuu melirik ke arah Kagura sekilas, namun gadis itu tidak menunjukkan tanda-tanda terkejut.
Sudahlah. Yang harus kupikirkan sekarang adalah Youka di hadapanku. Begitu benar-benar berhadapan dengannya, rasa tegang yang belum pernah kurasakan sebelumnya mulai merayap naik.
“Youka-chan, bangun! Miyako-chan dan Shikura-kun datang main, lho!”
Tepat setelah Yoyo memanggil, Youka langsung berdiri dengan sigap, lalu menyambut Yuu dan yang lainnya dengan mata yang masih agak sayu.
“Kalian datang juga ya. Tunggu sebentar, aku mau mengumpulkan kesadaran dulu.”
Menunggu beberapa detik, Youka yang tampaknya sudah sadar sepenuhnya menjelaskan bahwa ia punya kebiasaan tidur siang selama sepuluh menit saat jam istirahat. Katanya dia bisa tidur dalam waktu kurang dari satu detik. Dia ini Nobita atau apa?
“Lalu, ada apa? Ada urusan denganku?”
“Yah, begitulah.”
“Aku datang untuk menemuimu, Kengamine.”
Seketika itu juga, bukan hanya mata Youka, tapi seluruh wajahnya berbinar senang. Namun, ia segera menutupi ekspresi polos itu dengan senyum angkuh yang nakal.
“Eeh, apa-apaan itu. Apa-apaan maksudnya itu. Kalian datang untuk menemuiku? Shikura dan Furumi? Heeh, hmm. Dasar kalian ini merepotkan saja. Apa kalian sebegitu sukanya padaku?”
“Aku suka, kok.”
Miyako menjawab dengan instan—dan Yuu, yang merasa tidak mau kalah, bertekad untuk melancarkan "Teori Naze" kepada Youka yang sedang terpaku.
Kalau aku terlalu lama berpikir, lidahku bisa kelu karena rasa malu.
“Aku juga suka sisi bodohmu yang seperti itu. Manis ya. Youka-chan memang nomor satu.”
Begitu aku menirukan gaya Yoyo, pemilik aslinya langsung sadar dan menyenggol pinggangku.
“Kengamine-san adalah orang yang luar biasa. Kau mau menyapa ulat bulu sepertiku. Aku bohong jika bilang aku tidak mengagumi cara hidupmu.”
“Aku juga setuju. Meskipun kita bertolak belakang, justru karena itulah aku ingin berteman denganmu. Kurasa kita bisa jadi teman baik. Karena sebenarnya kau orang yang menyenangkan dan ramah.”
“Kengamine-san itu imut ya. Aku sayang sekali padamu.”
“Kengamine itu imut, lho. Aku juga suka.”
Aku sendiri tidak tahu apa yang sedang kukatakan, dan kurasa isi hati Miyako pun sama. Meskipun kata-kata itu berlandaskan kejujuran, cara penyampaiannya benar-benar kacau. Wajar saja jika dia menganggap kami sedang mengejeknya. Kami memang sudah diajari apa yang harus disampaikan, tapi soal bagaimana cara menyampaikannya, kami berdua masih dalam tahap belajar.
Yuu dan Miyako membuang muka ke arah yang tidak jelas karena tidak tahan menanggung malu. Youka menatap mereka berdua bergantian dengan wajah heran lalu berujar:
“Kalian sedang merencanakan apa, sih? Tapi ya sudahlah, perasaan kalian kuterima dengan jujur dan aku senang mendengarnya.”
“Sekalian, ini untukmu.”
Yuu menyodorkan bungkusan yang ia bawa. Youka yang menerimanya langsung tampak sangat gembira melihat kotak bekal di dalamnya.
“Karena tadi kau bilang tidak punya makan siang. Kalau kau tidak keberatan dengan bekal dariku.”
“Shikura...... kau orang baik ya.”
“Biasa saja. Habisnya cara makanmu yang lahap itu seperti kuda nil, menyenangkan untuk dilihat.”
Seketika itu juga, wajah Yuu dicengkeram dengan kuat oleh tangan mungil Youka. Yuu gemetar ketakutan, mengira tengkoraknya akan remuk.
“Ingat ya, ada ucapan yang tidak bisa kumaafkan meski itu darimu sekalipun.”
“Aku benar-benar minta maaf soal yang tadi. Aku yang salah.”
Bagaimanapun juga. Meskipun mendadak sehingga ia harus merelakan bekalnya sendiri, Yuu tidak menyesal.
Alasan Yuu dan yang lainnya datang ke kelas 1-2 adalah karena mereka berpikir akan lebih baik jika melakukan pergerakan di depan teman-teman sekelas Youka.
Tadi Youka bilang tidak punya makan siang, tapi bukan berarti dia tidak ingin makan, dan kenyataannya cara makan Youka memang terlihat sangat nikmat.
Yuu sangat ingin memperlihatkan hal ini kepada orang-orang di kelas 1-2—mereka yang diharapkan bisa menjadi sekutu Youka.
“Lalu kau bagaimana? Ini milikku, jadi tidak akan kubagi ya.”
Youka memeluk kotak bekal itu seolah sedang mengancam, lalu ia mulai makan tanpa menunggu reaksi Yuu. “Selamat makan,” ucapnya dengan nada bahagia.
Yah, setidaknya mereka sudah mencoba mempraktikkan Teori Naze, tapi Kengamine Youka memang luar biasa. Meskipun dibombardir dengan kalimat-kalimat manis yang memuakkan, ia tidak menunjukkan tanda-tanda tersipu sedikit pun.
Yuu menatap Miyako, lalu menatap Yoyo. Ia merasa sangat malu sebagai murid yang gagal memberikan hasil yang baik, jadi ia berharap sang guru bisa memberikan satu contoh nyata.
Menerima tatapan itu, Yoyo sepertinya mengerti maksud Yuu. Ia menepuk dadanya seolah berkata, "Serahkan padaku." Dan kemudian.
“Hei, hei, Youka-chan. Youka-chan itu paling senang kalau dibilangi apa? Hal yang bisa membuatmu tidak sengaja tersipu malu, gitu.”
Yoyo melancarkan serangan langsung tanpa siasat apa pun. Justru karena begitu blak-blakan, hal itu malah terasa bisa dipercaya.
“Pertanyaan apa itu. Aku tidak pernah memikirkannya. Hmm, mari kulihat...... Saat SD dulu, aku sempat salah sangka mengira 'Araryouji' (pengobatan drastis) adalah nama seorang artis. Waktu itu aku ditegur oleh guruku, dan rasanya benar-benar malu. Apalagi gurunya jago IPA, jadi rasanya semakin terhina. Padahal ilmuwan kan biasanya tidak mendengarkan musik.”
“Prasangka macam apa itu.”
“Fufu. Ternyata Kengamine-san punya masa-masa yang imut juga ya.”
Miyako tertawa.
Meskipun jawabannya melenceng dari maksud pertanyaan, Yuu merasa senang melihat bukan hanya Miyako, tapi siswi-siswi di sekitar mereka juga ikut tertawa kecil.
Menunjukkan sisi lemah. Yuu merasakan efek dari hal itu dan bersemangat untuk memancing lebih banyak cerita kegagalan dari Youka, namun seolah memotong niatnya—
“Wah, ramai sekali ya. Aku boleh ikut bergabung?”
Kagura menyapa mereka.
Melihat wajah Kagura yang tampak sangat polos seolah tidak bisa menyakiti seekor serangga pun, wajah Yuu berubah masam seperti sedang mengunyah serangga pahit. Rasanya ingin sekali berseru, "Berani-beraninya kau menampakkan muka di sini?".
“Siapa kau?”
“Dia itu Kagura-chan, teman sekelas kita. Youka-chan, jangan bicara seperti itu......”
Kagura tetap tenang sambil tersenyum kecut, lalu ia mengarahkan pandangannya pada Miyako.
“Lama tidak bertemu, Furumi-san. Penampilanmu itu mengingatkanku pada masa SMP dulu, ya.”
“Lama tidak bertemu, Kagura-san. Ternyata kau masih ingat ya.”
“Tentu saja. Kau kan teman sekelas yang berharga bagiku.”
Yuu hendak beranjak berdiri, namun Miyako menahannya dengan satu tangan. Yuu merasa dirinya diperlakukan seperti anjing penjaga yang sangat setia.
“Aku sampai terkejut. Kenapa tiba-tiba memakai penampilan begitu? Furumi-san itu cantik, jadi kurasa kau lebih cocok kalau tidak memakai kacamata.”
“Ada banyak perubahan suasana hati yang terjadi.”
“Heh. Aku ingin sekali mendengarnya. Soalnya saat SMP dulu kita jarang mengobrol, kan?”
Miyako terdiam sesaat, mungkin bingung bagaimana harus merespons. Youka pun menyela untuk mengisi keheningan itu.
“Tidak usah dipikirkan, Furumi. Kau boleh memakai gaya apa pun yang kau suka.”
Ucap Youka sambil sibuk memilih lauk mana yang akan ia makan selanjutnya. Miyako menatap Youka dengan ekspresi terkejut.
“Lagipula, siapa sih kau? Furumi kan kelihatan tidak suka. Sana, pergi jauh-jauh.”
“......Yah, sepertinya aku dibenci, ya. Kalau begitu, untuk hari ini aku pamit dulu saja.”
Ucap Kagura dengan nada sedih, lalu ia pergi begitu saja dengan mudahnya.
Benar-benar mundur dengan sangat mudah sampai terasa tidak alami. Yuu mengantar kepergian Kagura dengan pandangannya sambil berpikir bahwa gadis itu pasti sedang sangat murka di dalam hati.
Suasana kelas seketika menjadi hening. Udaranya terasa cukup canggung, namun reaksi Youka tadi benar-benar memuaskan. Yuu merasa sangat kagum dengan sikap Youka yang begitu ketus tanpa memberi celah sedikit pun. Meski cara bicaranya bermasalah, dan sejujurnya Yuu merasa wajar jika Youka dibenci karenanya—setidaknya Yuu tidak bisa membenci cara hidup Youka yang kikuk dan kejujurannya yang saking bodohnya sampai membuat ingin tertawa.
Yuu sadar bahwa dirinya termasuk kaum minoritas. Hampir tidak ada orang yang mengetahui jati diri Kagura yang sebenarnya dan pernah bersentuhan dengan sisi dalam Youka—karena itulah, mulai sekarang ia harus berjuang dengan gigih melakukan "promosi diri" bagi Youka, entah dengan mengubah bentuk bagian yang bermasalah atau mencari cara agar pandangan orang terhadap Youka bisa berubah.
Memang melelahkan karena Yuu sudah bisa membayangkan betapa sulitnya mengumpulkan poin kesukaan sedikit demi sedikit hanya untuk hilang seketika di suatu saat nanti, tapi itulah jati diri Kengamine Youka yang sebenarnya.
“Aduh, Youka-chan ini ada-ada saja......”
Yoyo menuju ke arah Kagura dengan bibir mengerucut tanda tidak puas.
Yuu ingin menghentikannya, namun ia tidak bisa melakukannya pada Yoyo yang tidak tahu apa-apa. Terlebih lagi, Yoyo pasti melakukan itu demi menjaga keharmonisan kelas.
Setelah keheningan sesaat, Miyako bertanya.
“Kengamine-san. Kenapa kau bicara seperti itu tadi?”
“Habisnya kau tidak bicara apa-apa. Anggap saja itu bentuk perhatian dariku.”
“Apa-apaan itu.”
“Karena kalau kau tidak suka, biasanya kau akan bilang tidak suka. Kalau kau tidak bicara, berarti kau tidak bisa menjadi dirimu sendiri, kan? Aku yang melihatnya saja merasa sesak.”
Youka mengatakannya dengan lantang tanpa merendahkan suaranya sedikit pun.
Sebuah pendapat yang egois.
Miyako tadi sempat ragu berbicara karena ia sedang mencari kata-kata di hadapan musuh bebuyutannya, namun dari sudut pandang Youka yang tidak tahu menahu soal hubungan masa lalu mereka, Miyako terlihat seperti sedang kesulitan.
Karena itulah, Youka mengulurkan bantuan.
Memberikan perhatian.
Dengan caranya sendiri.
Sebagai dirinya sendiri.
Yuu tidak tahu apakah Youka itu orang yang baik, tapi ia merasa Youka adalah orang yang bisa bersikap baik kepada orang lain.
“Aku suka sisi dirimu yang seperti itu, Kengamine.”
“Aku juga. Aku merasa senang. Terima kasih.”
Keduanya berujar dengan nada lembut yang sangat kontras dengan suasana sebelumnya, seolah sedang menyerahkan sesuatu dengan hati-hati. Seketika itu juga, sumpit Youka yang sedang mengorek kotak bekal terhenti.
“Berisik ah. Aku sedang makan, jangan ajak bicara.”
Ia pun membuang muka dengan ketus.
◯
Yuu berpikir bahwa ruangan ini memiliki aroma yang sangat harum. Wangi manis vanila yang samar seolah membuatnya hampir kehilangan pijakan pada realitas.
Belakangan ini ia sudah mencicipi banyak pengalaman pertama, namun yang satu ini terasa sangat luar biasa—begitulah yang dipikirkan Yuu saat ia dibawa masuk ke kamar Miyako sambil melihat sekeliling dengan gelisah dan tanpa tata krama.
Hari Sabtu yang sudah dijanjikan—pukul dua siang lewat sedikit.
“Nah, silakan duduk di mana saja yang kau suka, mau di tempat tidur, bantal duduk, atau di meja. Atau kau mau duduk di atasku? Bercanda kok, fufufu.”
Atas desakan Miyako yang tampak sangat gembira, Yuu duduk bersimpuh di pinggiran karpet yang berbulu halus.
Rasanya tidak tenang. Miyako pun tidak tenang dalam artian yang berbeda. "Di sini juga empuk, lho," katanya sambil bergulingan di atas tempat tidur.
Tingkat antusiasmenya yang meluap bisa terlihat dari bagaimana dia sudah muncul di depan toko pukul sepuluh pagi tepat saat buka, padahal aku sudah memberitahunya bahwa aku ada sif kerja sampai pukul satu siang. Dalam tiga jam, dia menghabiskan lima gelas jus pisang. Kupikir dia akan sekalian makan siang di sana, tapi ternyata Miyako terus menungguku tanpa makan apa pun, dan begitu keluar toko, dia langsung berseru mengajak ke minimarket.
Katanya, dia sangat mendambakan momen membeli makanan dalam jumlah banyak bersama teman, lalu memakannya sedikit demi sedikit sambil bermain gim. Karena itulah, kini di depan mereka berdua berjajar tumpukan camilan dan minuman dalam jumlah besar. Ada onigiri, roti lapis, camilan hangat, makanan manis, hingga entah kenapa ada majalah komik juga. Jika ditambah dengan kotak kue yang kubawa, sudah jelas bahwa lebih dari separuh deretan makanan ini akan bertahan sampai hari Minggu.
“Makanan yang mudah basi sebaiknya kita habiskan hari ini. Sisanya kita simpan untuk kesempatan berikutnya. Duh, sepertinya aku tidak sengaja belanja terlalu banyak ya.”
“Kau ini cukup cerdik ya, Furumi-san. Sepertinya kau memang sudah berniat belanja sebanyak ini dari awal, soalnya kau sampai membawa tas belanja besar sendiri.”
“Masa begitu? Kau membuatku terdengar seperti wanita licik saja.”
Meski dia tipe orang yang bisa mengajak secara frontal, dia tetap menyiapkan pancingan dengan rapi. Fakta bahwa tujuannya hanyalah sesederhana ingin bermain gim bersama teman terasa sangat polos dan manis. Kami berdua membuka minuman energi rekomendasi Miyako dan bersulang.
“Fufufu. Aku sudah menanti-nantikan hari ini. Aku bahkan melewati malam-malam dengan rasa cemas, takut kalau Shikura-kun tiba-tiba jatuh sakit karena flu.”
“Begitu ya, terima kasih. Tapi tenang saja, aku cukup memperhatikan kesehatan. Aku baru akan kena flu kalau ketularan dari adikku saja.”
“Ngomong-ngomong, kau punya adik perempuan, ya.”
Tatapan mata Miyako seketika menajam seperti sedang membidik sasaran.
“Berapa umurnya sekarang?”
“Tujuh tahun. Sebentar lagi delapan tahun. Itu akan jadi hari lahir anak usia delapan tahun paling imut sedunia. Sepertinya kau ingin lihat fotonya, ya.”
“Perlihatkan.”
Untuk beberapa saat, mereka berdua asyik mengobrol seru sambil melihat foto Hika.
“Padahal kau ajak saja adikmu ke sini. Aku percaya diri bisa membuatnya tidak bosan. Besok pun aku benar-benar luang seharian.”
“......Kapan-kapan saja kami mampir lagi.”
“Kalau begitu mari kita tentukan waktunya sekarang.”
“Nanti kutanyakan pada Hika dulu, jadi tolong ampuni aku untuk sekarang. Dia terus-menerus bilang ingin bertemu Kengamine dan Naze-san, jadi mengatur jadwalnya saja sudah repot.”
“Tunggu sebentar. Tunggu dulu, Shikura-kun. Apa maksudnya? Mereka berdua sudah saling kenal dengan Hika-chan?”
Miyako mencondongkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya yang tampak tidak puas.
Tekanan yang luar biasa. Bagaimana bisa dia mengeluarkan aura sekuat ini? Sambil menarik tubuhnya ke belakang, Yuu memberikan pembelaan yang sebenarnya tidak perlu.
“Banyak kebetulan yang tumpang tindih...... sebenarnya bagiku pun ini di luar dugaan. Katanya Kengamine tiba-tiba menggendongnya di pundak saat pertama kali bertemu. Dia benar-benar orang yang seperti legenda urban.”
“Hmm. Heh, begitu rupanya. Aku jadi paham semuanya. Kau memutuskan untuk menghentikan gangguan terhadap Kengamine-san karena dia adalah orang yang disukai oleh Hika-chan yang berharga, kan?”
Jangan menebak dengan tepat, dong. Maksudku, kenapa tebakannya bisa kena? Yuu dibuat kagum oleh kemampuan deduksi Miyako.
“Ya sudahlah. Mumpung ini hari libur, libur yang sudah sangat kunanti-nantikan, mari kita main gim sepuasnya. Mau mulai dari apa? Aku punya semua genre, jadi katakan saja yang kau suka.”
“Aku tidak terlalu paham, jadi beri tahu aku rekomendasi darimu saja.”
“Mu. Sepertinya kau sedang menguji semangat keramah tamahanku, ya. Baiklah.”
Tersenyum menantang, Miyako merangkak mendekati rak berisi deretan kaset gim dan mulai memilih-milih dengan saksama.
“Yang ini sepertinya akan lebih seru kalau dimainkan saat malam sudah larut...... jadi mari kita mulai dengan gim pesta yang aman saja. Gim tentang pria berkumis itu. Cara mainnya sederhana, sangat cocok dimainkan sambil mengobrol. Mengobrol santai sambil bermain gim adalah kenikmatan utama bermain di rumah. Istilahnya Diagonal Run.”
“Furumi-san sebenarnya orang yang sangat ceria, ya. Kenapa tidak coba bersikap seheboh ini saja di sekolah?”
“Itu mustahil. Aku tipe orang yang hanya bisa cerewet di 'kandang' sendiri. Kadang aku curi dengar, tapi aku tidak bisa mengikuti obrolan soal properti tanah dan bangunan.”
Sepertinya teman sekelas mereka sedang membicarakan soal properti.
Percakapan terputus sejenak. Inilah saatnya, pikir Yuu, ia pun berkata kepada Miyako yang sedang menyalakan mesin gim.
“Furumi-san. Aku akan pulang begitu hari mulai gelap, ya.”
“Eh?! Kejam sekali, Shikura-kun! Jadi kau membiarkanku merasa menang ya! Padahal aku sudah tertawa dalam hati, 'rasakan itu, kau sudah terpancing masuk ke perangkapku!'“
“Sayang sekali, ya.”
Melihat chat kemarin yang berbunyi, 『Mungkin kau akan berkeringat karena gim fisik, jadi bawalah baju ganti supaya aman. Satu set lengkap』, sebenarnya aku sudah merasa curiga, tapi aku tidak menyangka dia benar-benar merencanakannya selicik itu. Sepertinya citra Miyako di mata Yuu memang tidak jauh dari kenyataan.
Benar-benar tidak boleh lengah sedikit pun. Padahal aku sendiri merasa hampir bertingkah aneh karena gugup jika tidak menjaga fokus, tapi menghabiskan waktu sampai larut malam di kamar lawan jenis yang pertama kali kukunjungi adalah hal yang mengerikan bahkan tanpa perlu dipikirkan lagi.
Miyako yang tampak lesu sambil sesekali melirik Yuu sepertinya akhirnya menyerah, ia menyerahkan salah satu controller kepada Yuu lalu duduk di sampingnya.
“Ya sudahlah. Kita lihat saja apakah kau masih bisa bicara begitu setelah hari menjadi gelap.”
“Jangan menahan diri, ya. Kalau kau mengalah padaku, kita berdua tidak akan bisa menikmati permainannya.”
“Tentu saja. Aku sudah menduga kau akan bilang begitu. Aku berniat memukulmu telak tanpa ampun sedikit pun. Dulu, aku bahkan pernah membuat kerabatku yang lima tahun lebih tua menangis sesenggukan karena kalah.”
“Harusnya kau menahan diri kalau begitu......”
“Orang itu sekarang sudah jadi mahasiswa yang hebat, lho.”
“Ternyata kau bicara soal orang yang lebih tua?!”
Yuu merasa merinding. Membayangkan ada orang lebih tua yang sampai menangis sesenggukan karena kalah main gim melawan orang yang lebih muda.
Di saat yang sama, ia juga merasa iri karena Miyako bisa menghadapi sesuatu dengan begitu serius. Yuu sedikit menaruh rasa hormat pada kerabat Miyako yang tidak ia kenal wajahnya itu, karena orang yang bisa serius dalam bermain pasti bisa serius dalam menghadapi hal apa pun. Meskipun ya, ia tetap berpikir "jangan menangis juga, dong".
“Kalau kau bisa mengalahkanku, aku akan menuruti apa pun perkataanmu.”
“Deal ya.”
Yuu mencengkeram alat pengontrolnya dengan kuat.
Jika dia begitu percaya diri, Yuu bertekad untuk memberikan kejutan setidaknya sekali. Namun, Miyako tampaknya memiliki interpretasi yang sangat meleset.
“Fufufu. Kerahkan seluruh kemampuanmu, Shikura-kun. Apalagi jika kau ingin mewujudkan ambisi mengamati sosokku yang berganti pakaian menjadi baju renang sekolah yang kekecilan!”
“Kapan aku pernah bilang punya hobi begitu! Aku lebih suka pakaian yang longgar-longgar!”
“Oh, seperti gaya baju santai Naze-san ya.”
Yuu baru saja mendapatkan pengetahuan yang tidak berguna.
"Emangnya kenapa?" ia menirukan gaya Yoyo dalam hati.
Akhirnya, mereka berdua mulai bermain gim papan berformat monopoli bersama dua karakter komputer, sehingga total ada empat pemain. Intinya: kumpulkan uang, beli bintang. Kurang lebih seperti itu.
Setiap ada bagian yang tidak dimengerti, Yuu bertanya dan diajari oleh Miyako. Di awal permainan Yuu sempat kesulitan membiasakan diri, namun saat memasuki pertengahan gim, ia sudah memiliki kelonggaran untuk mengobrol santai.
“Furumi-san, kau tidak terlalu kuat ya? Kau memenangkan semua gim mini.”
“Kau juga punya bakat, kok. Aku hanya menang telak karena perbedaan pengalaman saja.”
Gim mini dimulai, dan Miyako mengoperasikan karakternya untuk melakukan hip drop dengan gerakan tombol yang sangat luwes.
“Bicara soal bokong, Youka-chan kemarin imut sekali ya.”
“Konteksnya rusak parah, kau tidak apa-apa?”
“Sejujurnya, aku tidak menyangka dia akan tersipu seperti itu. Dia bahkan tidak mau mengajakku bicara selama lima menit.”
Mengingat hal itu, Yuu teringat reaksi langka Kengamine yang ia lihat kemarin saat istirahat siang. Dia tidak mau bicara, bahkan tidak mau menatap mata. Karena pemandangan itu terasa menghangatkan hati, Yuu tidak mencoba menggodanya, dan justru karena itulah ingatan itu tetap membekas.
“Setiap kali bertemu kami selalu beradu mulut, dan aku menyukai hal itu, tapi sesekali melihatnya seperti itu juga menyenangkan.”
“Kengamine juga sepertinya sangat menyukaimu, Furumi-san.”
“Kuharap begitu—ah!”
Miyako yang sejak tadi bergerak akurat seperti mesin, untuk pertama kalinya melakukan kesalahan. Meskipun pada akhirnya Miyako tetap menang, kegugupannya yang kentara membuat Yuu refleks tertawa, sementara Miyako menggelengkan kepala karena malu.
“Lengah sekali. Latihanku masih kurang. Ah, bicara soal yang 'kurang', Kagura Shio juga begitu.”
“Dia benar-benar menyerang lebih dari yang kubayangkan ya. Sepertinya—bukan, Furumi-san, mumpung hari libur, mari kita nikmati gimnya. Jangan bahas soal itu sekarang.”
“Benar juga. Mari kita lakukan itu. Tapi sebelumnya, biarkan aku mengatakan satu hal yang tadi sempat terlewat.”
Miyako menghadap ke arah Yuu, mulutnya terbuka dan tertutup sejenak, lalu ia merapatkan bibirnya dan tersenyum lembut.
“Terima kasih sudah marah demi aku. Saat Kagura Shio menyebutku sebagai teman sekelas yang berharga.”
“...Bagiku itu semacam refleks saja, jadi aku malah malu kalau berterima kasih. Malah, aku yang harus berterima kasih karena kau sudah menghentikanku.”
“Sepertinya hal-hal seperti itu yang paling membuatku bahagia. Belum pernah ada orang yang melakukannya untukku sampai sekarang. Fufufu, hati-hati ya, jangan sampai kau terlalu banyak mengumpulkan poin kesukaanku.”
“Hati-hati kenapa...? Memangnya apa yang akan terjadi?”
“Aku akan mengurungmu di kamar ini dan tidak akan membiarkanmu pergi selamanya sampai mati.”
Itu adalah candaan yang mengerikan. Karena Miyako dengan mahir memasang wajah datar tanpa ekspresi, aura kengeriannya terasa sangat nyata. Yuu yang tidak suka film psychological thriller refleks tertawa kecut.
“Sukses besar ya. Itu adalah lelucon lucu andalanku. Jangan sungkan, silakan kumpulkan poin kesukaanku sebanyak-banyaknya.”
Miyako kembali menghadap layar sambil bersenandung kecil. Diberitahu begitu malah membuat Yuu merasa serba salah, namun ia memutuskan untuk berusaha tidak memikirkannya.
Setelah itu, mereka berdua asyik bermain sambil makan camilan menggunakan sumpit sekali pakai—dan akhirnya, Miyako menang telak di gim pesta tersebut.
Selanjutnya, Yuu juga habis dibantai di gim balap maupun gim pertarungan. Satu-satunya gim yang memberinya perlawanan sengit hanyalah gim teka-teki balok jatuh, namun ia tetap gagal meraih satu kemenangan pun.
Setelah puas bermain gim tanding dan menyelesaikan permainan sambung kata tujuh huruf yang dilakukan secara paralel, Yuu pun berkata:
“Aku merasa tidak ada harapan bisa menang, jadi mari kita sudahi sampai di sini untuk hari ini. Aku akan mengasah kemampuanku dulu. Ngomong-ngomong, Furumi-san bilang kau suka gim petualangan ya. Apa ada di antara kaset yang kita mainkan tadi?”
“Mau coba mainkan? Singkatnya, ini gim yang menyenangkan. Shikura-kun suka baca buku?”
“Paling baca buku cerita bergambar bareng Hika. Sisanya cuma buku-buku terkenal saja. Seperti Kindaichi atau Poirot.”
“Oh, jadi kau senang kalau ada orang mati ya.”
Miyako melontarkan pernyataan yang mungkin akan membuat para pecinta genre itu marah, lalu dengan suasana hati yang baik ia memasang kaset gim dan menyerahkan alat pengontrol ke tangan Yuu.
Katanya, ini adalah gim deduksi di mana para siswa SMA saling membunuh. Ada elemen aksi juga, tapi Miyako menjelaskan dengan antusias bahwa itu tidak terlalu sulit.
Pada dasarnya, formatnya adalah membaca teks dan menikmati cerita. Karena karakternya banyak, Yuu sempat kesulitan menghafal nama, namun saat korban pertama muncul, ia sudah benar-benar tenggelam dalam cerita.
Bagian pemecahan teka-tekinya dibumbui elemen aksi yang membuat Yuu kesulitan mengoperasikannya, namun Yuu yang sudah terlatih setelah kalah bertubi-tubi melawan Miyako segera bisa beradaptasi.
“Ini seru banget!” teriak Yuu antusias.
Miyako menatapnya dengan sangat bahagia dan terus mendorongnya untuk lanjut—sampai akhirnya Yuu mengecek jam dan menyadari waktu sudah lewat pukul sembilan malam.
Yuu langsung melompat berdiri. Sangat jelas bahwa ada sebuah prinsip di luar nalar yang bekerja di sini.
Sejak sebelum hari gelap, Miyako sudah menutup gorden dengan alasan "cahaya masuk membuat layar sulit dilihat", menyingkirkan jam dari kamar, dan setiap kali satu bab berakhir, ia akan memaparkan fakta-fakta menarik agar fokus Yuu tidak beralih dari gim—situasi yang disusun dengan licik ini pastilah berjalan sesuai rencana Miyako yang cerdik.
Melihat Yuu yang panik, Miyako tersenyum dan berkata, “Aku masih belum ada apa-apanya ya.”
“Sejujurnya aku sangat penasaran dengan kelanjutannya dan ingin lanjut main, tapi aku kesal kalau kalah terus dari Furumi-san, jadi aku pulang sekarang.”
“Sayang sekali. Aku tawarkan sekali lagi, bagiku tidak masalah kalau kau mau tetap di sini lebih lama.”
“Aku pulang.”
Dengan raut kecewa, Miyako berkata, “Kalau begitu, tunggu sebentar ya,” lalu ia keluar dari kamar sejenak.
Penasaran dengan kelanjutan ceritanya itu jujur, dan merasa kesal karena dimanipulasi sesuai rencana Miyako juga jujur, tapi yang terpenting dari semuanya...
Ini adalah kamar seorang perempuan. Kamar yang aromanya wangi. Bahkan seandainya hubungan kami adalah sepasang kekasih pun, bertahan lebih lama lagi di sini sudah pasti tidak mungkin. Lagi pula, ini sudah jam yang sangat tidak wajar untuk bertamu. Aku bertanya-tanya apa yang dipikirkan orang tua Miyako. Aku bimbang antara keinginan untuk pulang tanpa harus berpapasan dengan mereka, atau mengikuti etika umum untuk berpamitan.
Di tengah kegalauan itu, Miyako yang sudah kembali menyodorkan kantong kertas agak besar yang tadi diletakkan di sudut kamar.
“Ini, mesin gimnya. Mainkanlah bersama Hika-chan. Kalau sudah bosan, kembalikan saja padaku.”
“Eh, boleh? Terima kasih. Apa gim yang tadi juga bisa dimainkan di sini?”
“Fufufu, tidak bisa. Kalau penasaran dengan kelanjutannya, datanglah lagi ke rumahku.”
Benar-benar orang yang pandai berbisnis.
Melihat Miyako yang tertawa nakal, Yuu pun ikut tertawa karena merasa tidak bisa menang melawannya.
“Kalau begitu aku pulang ya. Terima kasih untuk hari ini.”
“Apa tadi menyenangkan?”
“Sangat menyenangkan.”
Miyako tersenyum polos sambil menutupi mulut dengan kedua tangannya, lalu ia berbalik dan memegang gagang pintu.
“Tenang saja. Aku bukan tipe orang yang membiarkanmu berjalan kaki sambil membawa barang bawaan berat. Ayahku bilang dia akan mengantarmu sampai rumah dengan mobil.”
“Eh? Tidak, jangan. Aku tidak mau merepotkan, jadi aku jalan kaki saja.”
“Jangan bicara begitu. Sepertinya Ayah merasa senang karena diandalkan olehku. Alih-alih langsung ke rumah, dia malah bilang ingin membawa kita sampai ke gardu pandang yang pemandangan malamnya indah.”
Yuu mulai bimbang apakah sebaiknya ia pulang lewat jendela saja, namun Miyako menyahut, “Mungkin itu cuma bercanda.”
Kuharap itu benar-benar bercanda.
Sambil gemetaran, Yuu keluar dari kamar, mampir ke ruang tengah untuk membungkuk dalam-dalam kepada orang tua Miyako demi meminta maaf atas ketidaksopanannya, lalu keluar dari rumah. Ia keluar seperti orang yang sedang melarikan diri.
Ayah Furumi yang keluar menyusul kemudian segera masuk ke mobil.
“Sampai jumpa ya, Shikura-kun. Ketemu lagi di sekolah.”
Miyako melontarkan kalimat bak iblis itu sambil berpegangan pada Yuu, lalu menyeretnya masuk untuk duduk berdampingan di kursi belakang.
Begitu mobil melaju, Yuu terus mengobrol dengan Miyako yang bersikap sedikit lebih dewasa di depan orang tuanya, sambil menahan tatapan intimidasi dari Ayah Furumi yang diarahkan melalui kaca spion tengah.
“Tenang saja, Shikura-kun. Ayah tidak marah, kok. Memang tatapan matanya saja yang tajam.”
“......O-oh, begitu ya. Matanya bagus, mirip dengan matamu, Furumi-san.”
“Memangnya aku biasanya terlihat seperti orang marah? Kurang ajar sekali.”
“Bukan begitu, bukan begitu...... jangan menjahiliku, Furumi-san.”
Begitulah, selama sepuluh menit lebih sampai tiba di rumah, Yuu terus-menerus menjadi bahan candaan Miyako.
◯
“Detektif Hari Minggu, Matilda, telah tiba! Yeeaay!”
Keesokan harinya, saat hari Minggu sudah berjalan separuh.
Bel rumah berbunyi, dan saat pintu depan dibuka, Matilda sudah berdiri di sana sambil berpose double peace. Di belakangnya, berdiri Nijimura dan Miyako dengan sedikit jarak.
Yuu menatap mereka bertiga tanpa kata, lalu perlahan menutup pintu dan mengunci kuncinya.
Apa-apaan ini. Kenapa lokasi rumahku bisa ketahuan?
“Aku tahu kau ada di dalam! Keluarlah! Aku adalah burung bangau yang kemarin kau telantarkan!”
Sebenarnya Yuu ingin segera kembali ke ruang tengah untuk bermain gim bersama Hika, tapi melihat siapa yang datang, ia tidak punya pilihan. Karena mereka sampai jauh-jauh datang di hari libur, pasti ada hal yang mendesak. Apalagi Matilda mulai meracau soal “Ayo kita bersantai di halaman rumah saja”, yang terdengar berbahaya, sehingga Yuu terpaksa membuka pintu.
“Aku datang untuk memberikan laporan investigasi. Aku tidak akan bohong kalau bilang aku juga ingin pamer betapa berdedikasinya aku bekerja meski di hari libur.”
Yuu mendorong balik Matilda yang mencoba merangsek masuk dengan kedua tangannya, memaksa barisan mereka mundur sampai ke posisi Miyako dan yang lain.
Miyako, yang sejak tadi memperhatikan keadaan dengan wajah datar, buru-buru membela diri begitu menerima tatapan Yuu.
“Bukan aku yang memberitahunya. Percayalah.”
“Tepat sekali. Gadis kecil Furumi ini hampir tidak bicara sama sekali sampai ke sini. Menemukan lokasi rumahmu itu masalah sepele. Jangan remehkan kemampuan riset-ku.”
“Bisa tidak berhenti memperlakukanku seperti anak kecil?”
Yuu menyerahkan Matilda yang sedang berlagak hebat itu kepada Nijimura.
Nijimura tersenyum ramah, lalu menjelaskan kronologi kejadiannya kepada Yuu. Sepertinya Matilda yang sedang senggang memanggilnya dengan status darurat. Setelah bertemu, mereka langsung mendatangi rumah Miyako, menyeretnya keluar, lalu datang menjemput Yuu. Tampaknya memang benar ada hal yang ingin dibicarakan, jadi Nijimura meminta Yuu untuk ikut sebentar.
Yuu bimbang. Memikirkan Hika yang menunggu di ruang tengah membuatnya ingin menangis. Namun, mengingat situasinya, ia tidak mungkin mengusir mereka. Dengan berat hati, ia memutuskan untuk ikut bersama ketiganya.
Ia kembali sebentar ke ruang tengah untuk meminta maaf kepada Hika dari segala arah, berjanji akan membawakan oleh-oleh saat pulang, lalu mengenakan jaket yang tersampir di kursi dan keluar rumah.
“Tadinya aku berniat mampir ke kamar Jimihen-san, lho. Aku tidak keberatan meski kamarmu berantakan.”
“Aku juga tidak keberatan, kok.”
Yuu tidak mau membiarkan Matilda dan Nijimura—terutama Matilda yang sangat suka berrumor—masuk ke kamarnya. Maka, tanpa menghiraukan perkataan kedua gadis itu, ia berjalan bersisian dengan Nijimura menuju taman terdekat.
“Maaf ya, Shikura. Aku akan usahakan agar tidak menyita waktumu terlalu lama.”
“Tidak apa-apa, kok. Sebenarnya aku juga cukup berterima kasih.”
Mereka berjalan sambil mengobrol dalam dua barisan depan-belakang.
Sesaat setelah tiba di taman, Matilda memanjat seluncuran dan berdiri di anjungan, melipat tangan sambil menatap rendah ke arah mereka bertiga.
“Alasan aku mengumpulkan kalian tidak lain adalah soal wanita licik itu. Ngomong-ngomong, ini pertama kalinya kita bicara seperti ini ya, Furumi Miyako-san. Umi, Megalodon...... mari kupanggil kau Lodon-san saja.”
“Jangan, itu terdengar seperti orang bodoh dan lamban.”
“Kalau begitu, Fumyan.”
Matilda, yang sepertinya hobi memberi nama panggilan, menyelesaikan penamaan yang sulit diucapkan itu, lalu berdeham "ehem".
Karena perihal masa lalu dengan Kagura Shio sudah diceritakan kepada Nijimura atas persetujuan Miyako, informasi tersebut ternyata juga telah dibagikan kepada Matilda. Sepertinya ada kemajuan dalam penyelidikan, namun Yuu diam mendengarkan untuk mencari tahu apa maksud dari "situasi darurat" yang dikatakan sebelumnya.
“Pertama-tama, aku ingin menuntaskan satu rasa penasaranku. Tidak keberatan kan, Fumyan-san?”
Miyako mengangguk mempersilakan, lalu Matilda bertanya dengan nada datar.
“Bagaimana perasaanmu bisa begitu cepat akrab dengan pria baru padahal baru saja patah hati?”
Nijimura berlari menaiki tangga seluncuran dan menjitak kepala Matilda dengan keras. Sangat keras.
“Berani sekali memukul kepala anak gadis. Selera yang sakit ya.”
“Itu pukulan dengan taruhan nyawa. Yang sakit itu kepalamu!”
Matilda mengusap kepalanya tanpa mengubah ekspresi, sementara Nijimura tampak marah, hal yang jarang terjadi.
Apa-apaan sih, Nijimura, tolong didik dia dengan benar dong—Yuu menajamkan tatapannya.
Yuu merasa sangat canggung hingga tidak sanggup menatap Miyako, namun ini bukan saatnya terpaku. Meski ia tahu Miyako adalah orang yang kuat secara mental, topik ini pasti sesuatu yang enggan ia bahas. Apa pun alasannya.
“Tidak usah dijawab, Furumi-san. Ayo kita pulang saja.”
Setelah mengatakannya, Yuu menyadari bahwa ucapannya mirip dengan apa yang Youka katakan lusa lalu. Ia merasa sangat malu, dan karena ia tahu Miyako akan senang mendengarnya, ia khawatir apakah dirinya terlihat sedang "berakting manis"—namun ia tidak sejahat itu untuk sengaja melakukan hal sebaliknya padahal tahu itu akan membuat Miyako senang. Jadi, begini saja sudah benar.
“Terima kasih, Shikura-kun. Aku tidak apa-apa. Ah, tunggu, ternyata tidak jadi tidak apa-apa. Apa ada tempat di dekat sini di mana aku bisa istirahat sambil main gim?”
“Baguslah kalau kau tidak apa-apa. Jadi, Matilda-san, apa yang ingin kau sampaikan?”
Yuu bertanya dengan ketus ke arah Matilda dan Nijimura yang sedang bergulat di atas sana.
Matilda, yang baru saja berhasil mendorong jatuh Nijimura, menjawab tanpa merapikan rambutnya yang berantakan.
“Mohon maaf atas kelancanganku. Sebenarnya ada satu pertanyaan lagi yang lebih mendalam, tapi kurasa sebaiknya aku tahan saja. Jadi, bisa dianggap Fumyan-san bukan wanita licik yang suka gonta-ganti pria, ya?”
Begitu Yuu berlari menaiki tangga, Matilda meluncur turun, menginjak Nijimura yang sedang terkapar di bak pasir, lalu berlari kecil mendekati Miyako.
“Inilah inti masalahnya. Sejak lusa, sekitar hari Jumat, desas-desus mulai memanas secara aneh. Dari berita baru sampai hal-hal lama yang mulai membosankan, semuanya menyebar dalam jumlah besar yang tidak wajar.”
“Seperti apa contohnya?” tanya Miyako.
“Beragam, dari siapa suka siapa, sampai klub tertentu yang katanya asyik berjudi. Namun di antara semua itu, yang paling menarik perhatian adalah rumor bahwa para gadis Mercusuar sebenarnya adalah jalang berwatak buruk yang suka berburu pria di belakang layar. Ini versi yang sudah saya perhalus, tapi intinya begitu. Sejujurnya, rasa iri semacam ini sudah ada sejak lama, tapi penyebarannya kali ini sangat tidak normal. Hari Kamis baru terdengar selentingan, tapi di hari Jumat sepulang sekolah, hal itu sudah menjadi semacam rahasia umum.”
Benar-benar secepat Schumacher, Matilda menghela napas yang dibuat-buat.
Hari Jumat—itu adalah hari di mana Yuu berulang kali memprovokasi Kagura Shio sejak pagi. Tindakan yang tidak biasa. Bisa dikatakan, sebuah anomali.
Tepat sebelum gelombang besar yang melibatkan orang banyak itu muncul, ada anomali kecil yang hanya melibatkan Kagura dan Yuu. Anomali mengundang anomali. Sudah pasti hal itu yang menjadi pemicunya.
“Apakah Naze-san dan Kengamine-san juga dibicarakan?” tanya Miyako.
“Sayangnya, iya. Sepertinya ini upaya untuk menarik suara massa. Naze Yoyo-san secara karakter sangat mudah menambah sekutu, jadi bagi pihak Kagura Shio, dia adalah sosok yang paling ingin dihancurkan. Sepertinya dia dianggap sudah memihak pada Jimihen-san.”
“Benar-benar keterlaluan. Padahal di depan dia bersikap sok akrab.”
Padahal dia tahu betapa baiknya Yoyo. Yuu bicara tanpa menyembunyikan rasa jijiknya.
“Karena sejak awal memang ada rumor buruk, sepertinya mereka memanfaatkan momen ini untuk menyebarkannya lebih luas.”
“......? Rumor buruk tentang siapa?”
“Naze Yoyo-san. Oh, kalian belum tahu?”
Yuu dan Miyako saling bertukar pandang, lalu bersamaan menatap Matilda.
Menurut Matilda, Yoyo katanya tidak pernah pulang ke rumah sampai larut malam. Baik hari kerja, hari libur, maupun hari raya, konon dia setiap hari berkelana sendirian di kegelapan malam.
"Tapi itu cuma rumor," Matilda tidak bercerita lebih jauh.
Cuma rumor. Meskipun begitu—dalam benak Yuu, terbayang sosok Yoyo yang merengek minta diajak makan. Kalau dipikir-pikir, sejak awal, gadis itu memang terlihat seperti orang yang enggan pulang.
Yuu mulai tenggelam dalam pikirannya, namun ia ditarik kembali ke realitas saat Matilda mengganti topik pembicaraan.
“Di sinilah pertanyaan pertama aku tadi menjadi bermakna. Apa arti kehadiran Jimihen-san bagi para gadis Mercusuar tepat setelah skandal patah hati itu? Tergantung jawabannya, kita bisa tahu apakah ini serangan dari Kagura Shio atau konsekuensi dari perbuatan sendiri.”
“Begitu ya. Meskipun begitu, aku tetap marah, sih.”
“Iyan (Aih).”
Yuu turun dari seluncuran menggunakan tangga, lalu mendekati Miyako dan Matilda. Nijimura masih tetap berbaring di bak pasir memperhatikan situasi.
Yuu menatap Miyako. Karena ia tidak membayangkan ada unsur romansa dalam hubungannya dengan Miyako dan yang lain, dan selalu berinteraksi murni sebagai teman—karena alasan itulah, ia sama sekali tidak terpikir bahwa kehadirannya justru akan merusak reputasi mereka. Lagi pula, ia bisa mengerti jika Kagura menyerang Shikura Yuu yang terang-terangan mendekati mereka dengan niat terselubung, tapi kenapa ujung tombaknya malah diarahkan pada Miyako dan yang lainnya?
Benar-benar. Si murid teladan Kagura Shio itu adalah orang yang sangat jahat.
“Tapi...... begitu ya. Kalau keberadaanku justru membuat kalian terkena rumor yang tidak perlu, mungkin memang sebaiknya kita jangan terlalu sering bersama.”
Lalu. Kepada Yuu yang mengatakan hal itu. Kepada Shikura Yuu yang terlanjur mengucapkannya. Furumi Miyako memberikan tatapan tajam yang menusuk.
“............Apa yang kau katakan? Aku benar-benar marah sekarang.”
—Suara itu dingin, setajam pencungkil es.
Yuu bergidik, ia tidak bisa mengalihkan pandangan dari Miyako yang tampak seolah siap menerjangnya kapan saja.
“K-kau belum berhenti marah......?”
“Aku masih marah! Sangat marah!!”
Miyako meledakkan emosinya, ia merangsek maju hingga tepat di depan wajah Yuu dan mulai membentak.
“Apa kau pikir aku memilih teman karena mempedulikan reputasi?! Jangan meremehkanku! Biarkan saja mereka bicara sesuka hati!
Aku tidak mau kehilangan apa pun lagi hanya karena wanita tidak berguna itu! Aku tidak mau! Jadi, tarik kembali ucapanmu sekarang juga!”
Yuu tertegun oleh kemarahan Miyako dan tidak mampu berkata-kata. Tatapannya yang jujur dan tertuju padanya terasa begitu indah hingga sulit dipercaya.
—Aku menyesal.
Aku menyesal karena ucapanku tadi benar-benar dangkal dan buruk.
Aku tidak bermaksud membuatnya marah seperti ini.
Aku tidak ingin menyulut amarahnya.
Melihat bahu Miyako yang gemetar karena emosi, Yuu membungkuk dalam-dalam.
“......Maaf. Maaf, Furumi-san. Aku tidak akan mengatakannya lagi. Itu benar-benar ucapan yang bodoh. Padahal Furumi-san adalah teman berhargaku.”
Keheningan menyelimuti mereka. Yuu tetap membungkuk tanpa bergerak sedikit pun.
“Angkat kepalamu,” ucap Miyako akhirnya. Dengan suara yang lembut.
Namun saat Yuu mendongak, ia masih disambut tatapan tajam dari wajah Miyako yang sisa kemarahannya belum hilang.
“Kalau kau mengatakannya lagi, aku tidak akan memaafkanmu seumur hidup.”
“Benar-benar maaf......”
“Apa rencanamu minggu depan?”
“Aku ingin bermain dengan Furumi-san.”
“Kalau begitu, kumaafkan.”
Yuu memang mendapatkan maafnya, namun tentu saja ia merasa tidak cukup jika hanya dimaafkan begitu saja. Ia menyesal, dan meralat kata-katanya.
“Tidak, yang tadi batal. Biar aku yang mengajakmu. Furumi-san, kalau akhir pekan depan kau luang, maukah kau main gim bersamaku?”
Dalam sekejap posisi menyerang dan bertahan bertukar. Miyako yang menerima ajakan itu sempat tersentak, namun amarah di wajahnya luntur dan berganti dengan senyuman.
“Dengan senang hati.”
—Begitulah. Yuu berhasil mendapatkan janji untuk minggu depan. Meski bisa dibilang situasinya terlalu "disiapkan" untuk dia yang mengajak, ia ingin percaya bahwa setidaknya ia mendapat nilai kelulusan.
Tepat saat Yuu dan Miyako saling bertatapan dan tersenyum malu, suara datar Matilda menyela.
“Aduh, aduh. Tidak boleh begitu, Jimihen-san. Karena kalian teman, kau harus bicara sambil memikirkan perasaan lawan bicaramu.”
“Aku tidak bisa membela diri.”
“Kasihan sekali. Tapi aku tidak menerima tanding ulang, jadi aku akan pergi membawa kemenanganku.”
Matilda menghancurkan suasana haru tersebut, lalu memberikan kata pembuka.
“Karena aku sudah diperlihatkan persahabatan yang indah, mari kita lakukan rapat strategi dengan perasaan riang. Kita akan jadikan sekolah sebagai medan perang mulai awal minggu depan.”
Sambil berbicara, ia berjalan menuju alat permainan, sehingga Yuu dan yang lainnya juga mengambil posisi di tempat yang mereka sukai.
“Aku sudah dengar tujuh kali soal cerita Jimihen-san memprovokasi Kagura Shio habis-habisan. Itu sangat menarik, jadi aku menantikan kelanjutannya. Karena itu, mari kita lawan dengan menyebarkan rumor yang membuat Kagura Shio murka.”
Matilda, yang mengulum permen soda berbentuk rokok, berdiri di tengah-tengah jungkat-jungkit. Yuu dan Miyako duduk di masing-masing ujungnya, bergerak naik turun dengan ritme yang tidak beraturan.
Nijimura berdiri di tengah jungkat-jungkit sebelahnya, menjaga keseimbangan agar papan tetap sejajar dengan tanah.
“Kurasa Kagura-san itu tipe yang sangat mudah marah. Ini menurut subjektivitas-ku saja, tapi emosinya terlihat jelas di permukaan,” ucap Yuu dari bawah.
“Sepertinya dia merasa sangat tidak nyaman karena ada yang berani melawan. Itulah sebabnya dia menyebarkan reputasi buruk secara terang-terangan begini,” balas Miyako dari atas.
“Mari kita tusuk-tusuk harga dirinya. Jimihen-san, kau sudah siap berkorban, kan?”
“Tentu saja, tapi itu tergantung isinya. Aku menolak tindakan kriminal, dan aku kurang suka melakukan hal seperti gangguan yang menyembunyikan identitas.”
Hanya "kurang suka", namun jika perlu, ia akan menggunakan cara licik sekalipun. Itu adalah hal yang sudah ia bicarakan dengan Miyako. Kesiapan untuk berkorban—kesiapan untuk membuang sikap seperti "tidak ingin menonjol" atau "ingin bertarung secara adil" sudah ia miliki sejak lama.
Aku tidak segegabah itu—Yuu tahu bahwa dirinya bukan tipe orang yang bisa mendapatkan sesuatu tanpa kehilangan apa pun.
Dibenci oleh seseorang, atau mungkin dibenci oleh semua orang. Ditelunjuk dari belakang, ditertawakan, dan disakiti. Bahkan jika ia harus mengotori tangannya. Ia tahu bahwa ia harus menyerahkan sesuatu yang nilainya lebih besar dari apa yang ia dapatkan.
“Jangan khawatir. Mana mungkin aku melakukan tindakan kriminal, ih ngeri sekali.”
“......Baiklah, aku akan memercayaimu soal itu. Tolong pastikan agar ujung tombaknya tidak mengarah ke selain diriku. Lalu, apa tidak bisa melakukan sesuatu soal rumor tentang Furumi-san dan yang lainnya?”
“Itu sulit. Tidak ada cara untuk membuktikannya. Bukankah cara terbaik adalah melakukan pendekatan secara bertahap agar orang-orang mengenal kepribadian kalian yang sebenarnya? Selain itu, penting juga bagi yang bersangkutan untuk membantahnya sedini mungkin. Jika kalian diam saja, bajingan seperti Kagura Shio mungkin akan salah paham dan berpikir bahwa kalian boleh diserang.”
Tanpa mempedulikan Matilda yang merentangkan tangan dan berputar-putar, kedua sisi jungkat-jungkit terus memantul. Miyako yang sedang berada di posisi bawah menendang tanah sambil berkata:
“Kalau begitu Shikura-kun, besok mari kita adakan konferensi pers seperti biasanya. Di depan semua orang, tanyakanlah pengalaman laki-lakiku sampai ke akar-akarnya. Aku tidak akan membiarkan hanya Shikura-kun yang berkorban.”
Yuu menghargai sikap Miyako yang proaktif, namun karena Miyako tidak perlu sampai berkorban sejauh itu, cukup baginya untuk membantah sekali saja secara sederhana.
Pembicaraan kembali beralih ke Kagura Shio.
“Kita bisa menganggap Kagura-san takut pada Furumi-san, kan? Karena itulah dia repot-repot datang untuk menghancurkanmu. Alasan dia menunjukkan sikap ingin bekerja sama di depan umum adalah karena dia penasaran bukti apa yang kita miliki. Meski sepertinya dia sudah punya gambaran kasarnya.”
“Cara Kagura Shio 'menghilangkan bau' benar-benar totalitas. Sepanjang riset-ku, media sosialnya juga mencerminkan murid teladan. Bahkan termasuk akun rahasia para pengikutnya pun, tidak ditemukan bukti perundungan. Saking bersihnya, aku sempat terpikir apakah ini salah tuduh. Tapi, karena aku lebih ingin jadi pengacara daripada detektif, aku tidak terpaku pada kebenaran objektif semata. Nah, karena Kagura Shio sangat ahli menyembunyikan jejak, dia tidak mungkin melupakan satu-satunya kegagalan—atau kegagalan yang langka—yang pernah ia buat. Bisa dipastikan dia akan langsung teringat hal itu.”
“Hal itu juga bisa terlihat dari betapa cepatnya dia mengambil langkah awal. Di mata publik, dia adalah murid teladan yang berkepribadian baik. Dengan perbedaan reputasi yang ada, dia bisa menindas hampir apa saja sampai bungkam.”
“Kalau begitu, kampanye 'Mari Menambah Teman Jimihen-san dan Kawan-kawan' memang efektif, tapi menurutku itu masih belum cukup. Kita harus mengikis habis pengikut Kagura Shio. Bagaimanapun juga, orang-orang yang merasa hebat karena berkelompok tidak akan pernah menyesal dan akan terus mengulangi kebodohan yang sama selama mereka masih punya kawanan tempat bersandar.”
Itu benar sekali. Aku tidak tahu ikatan seperti apa yang dimiliki Kagura dengan teman-temannya, tapi selama mereka bersama, bahkan jika mereka jatuh ke titik terendah sekalipun, mereka akan saling menjilat luka, mempererat persatuan, dan membenarkan tindakan mereka sendiri.
Yang salah hanyalah caranya. Lain kali, kita lakukan dengan lebih baik.
Begitulah cara mereka kemudian melakukan kejahatan dengan lebih licik lagi.
“Apa benar begitu?”
—Tiba-tiba, Miyako menyela percakapan. Ia tampak ragu untuk mengatakannya, namun ada kekuatan yang pasti dalam suaranya.
“Bukankah tidak baik jika langsung mengambil kesimpulan? Kagura Shio mungkin adalah tipe orang yang tidak pernah merasakan kegagalan, jadi kita tidak tahu akan jadi seperti apa dia nanti. Seperti kata Matilda-san, mungkin saja dia tidak akan menyesal dan mengulanginya lagi. Tapi, ada kemungkinan lain juga, kan? Dia mungkin akan merasakan kepedihan, menyesal, lalu berubah. Sebagai orang yang meminjam kekuatan kalian...... dan setelah aku semarah itu atas ucapan ceroboh Shikura-kun, mungkin terdengar lancang bagiku untuk mengatakan ini, tapi biarkan aku bicara. Aku ingin bersikap toleran terhadap kegagalan pertama seseorang.”
Yuu terkejut melihat Miyako yang biasanya menggunakan kata-kata tajam terhadap Kagura, kini justru berbalik memberikan pembelaan. Matilda dan Nijimura pun diam mendengarkan dengan saksama.
“Jika Kagura Shio adalah orang yang hanya bisa bergerak dalam kawanannya, aku yakin dia pun tidak akan bisa bertobat sendirian. Jika pada akhirnya tidak ada satu pun orang yang tersisa di sisinya, bukankah dia tidak akan bisa berubah?”
Itu adalah cara berpikir yang terlalu manis dari orang yang baik hati.
Manusia tidak bisa berubah semudah itu. Karena menolak perubahan jauh lebih nyaman. Namun di sisi lain, sebuah pikiran terlintas di benak Yuu bahwa saat-saat untuk mengubah bentuk jati diri seseorang adalah sekarang, di saat mereka masih berstatus pelajar—saat mereka masih menjadi anak-anak yang berlagak dewasa.
『Kau mau terus-menerus menghindari kegagalan selamanya? Untuk apa kau jadi pelajar kalau begitu. Melakukan banyak kesalahan dan dimaafkan itu cuma bisa dilakukan sekarang, jadi kalau kau tidak berani jadi bodoh, kau rugi besar tahu』—begitulah kata-kata Youka.
Kasusnya memang ekstrem, namun jika dipikirkan kembali sekarang, rasanya itu bukanlah pernyataan yang meleset.
Kita menjadi pelajar untuk belajar dari kegagalan. Meski perbuatan Kagura sama sekali bukan hal yang bisa dimaafkan. Namun terlepas dari soal memaafkan atau tidak, Miyako berkata bahwa ruang untuk penyesalan harus tetap ditinggalkan. Padahal Kagura telah merenggut sesuatu yang tak tergantikan dari Miyako.
—Kau benar-benar orang yang bisa memedulikan lawan seperti itu, ya.
Terlalu baik, dan terlalu manis. Tapi aku bangga padamu sebagai seorang teman. Yuu tertawa, dan Miyako pun ikut tersenyum.
“Fumyan-san ternyata naif juga ya. Baiklah, kalau begitu mari kita tinggalkan jalan keluar untuk Kagura Shio. Meskipun dengan begitu, tingkat kesulitannya akan melonjak drastis.”
“Aku hanya ingin menyampaikannya sebagai salah satu sudut pandang saja, jadi kalian boleh mengabaikannya. Aku tidak keberatan dengan rencana menjatuhkan Kagura Shio itu sendiri.”
“Hmm. Kalau begitu, bolehkah aku mendengar dengan jelas apa sebenarnya tujuan akhir Jimihen-san dan Fumyan-san?”
Gatan. Yuu yang berada di posisi bawah jungkat-jungkit mengalihkan pandangannya ke sisi seberang, dan Miyako membalas dengan senyuman seolah menyerahkan jawaban padanya.
Tujuan akhir. Meski ia sempat terperangah dengan pernyataan Miyako, Yuu sendiri tidak berniat untuk menegakkan keadilan. Jika memang ada sesuatu yang menyerupai keadilan, itu hanyalah produk sampingan dari hasil akhirnya saja.
Yang diinginkan Yuu adalah...
“Menghentikan gangguan terhadap Kengamine. Dan, membuat dia meminta maaf kepada Furumi-san dan Kengamine. Itulah tujuan akhirku...... tujuan akhir kami, kurasa.”
Jika ia bisa mencabut duri bernama Kagura Shio dari kehidupan sekolah Youka dan Miyako, itu sudah cukup.
Shikura-kun dan aku memang sehati ya—kata-kata Miyako membuat Yuu merasa geli sekaligus malu, hingga ia menendang tanah dengan sekuat tenaga.
“Maka mari kita jadikan itu sebagai kesepakatan bersama kita. Aku berharap tidak ada perbedaan pendapat nantinya. Mempertimbangkan opini Fumyan-san, secara dasar kita akan menargetkan Kagura Shio, tapi jangan komplain jika hasilnya nanti orang-orang di sekitarnya malah menjauh, ya.”
“Iya,” Miyako mengangguk dengan wajah datar.
“Sudah panjang lebar kita bicara, tapi intinya yang ingin kukatakan adalah mari kita buat Kagura Shio sangat marah sampai boroknya keluar semua. Jimihen-san, kau yang akan berdiri di garis depan. Silakan tonton Kagura Shio yang wajahnya memerah karena murka dari kursi VVIP. Aku sendiri akan menikmatinya lewat versi bajakan saja.”
“Aku tahu itu cuma perumpamaan, tapi tolong jangan lakukan itu.”
“Tenang saja. Aku ini tipe orang yang akan melaporkan semua video ringkasan film ilegal ke pihak berwenang, kok.”
Matilda melompat turun dari jungkat-jungkit, menghadap ke arah Yuu dan yang lainnya, lalu menggunakan jari tangannya untuk menarik sudut mulutnya membentuk senyum lebar.
“Mulai malam ini, kami dari 'Klub Penggemar Rumor' akan menyebarkan rumor dalam jumlah yang tidak masuk akal. Membebani kemampuan pemrosesan musuh adalah taktik dasar. Jimihen-san dan Fumyan-san, silakan lancarkan serangan langsung kepada Kagura Shio. Serahkan bagian belakang pada kami. Meskipun begitu, aku tidak cukup luwes untuk melakukan koordinasi yang rapi, jadi mari kita gunakan improvisasi saja!”
“Improvisasi ya...... aku baru sadar, aku juga sama sekali tidak terbiasa dengan siasat seperti ini. Kalaupun aku bisa merampas ketenangan lawan, aku sendiri juga pasti akan kehilangan ketenanganku.”
Melihat Yuu yang merasa cemas, Miyako menepuk dadanya sambil berkata, “Kan ada aku.”
“Ini mulai jadi seru ya. Rumor dibalas dengan rumor. Bagi para bajingan yang menyalahgunakannya, mari kita berikan penghakiman. Jika wilayah kita diacak-acak dan kita hanya diam saja, itu akan merusak harga diri kami.”
Melihat Matilda yang kali ini tersenyum tanpa bantuan tangan, Yuu mengalihkan pandangannya ke arah Nijimura.
Saat mereka mengobrol sebelumnya, Nijimura memperkenalkan Klub Penggemar Rumor sebagai perkumpulan sehat yang hanya mengumpulkan dan membicarakan rumor saja. Katanya mereka tidak punya kekuatan untuk mengontrol rumor, dan berbohong adalah hal yang bertentangan dengan prinsip mereka. Namun sekarang, anggota yang ada di depannya ini justru membantah semua itu.
Nijimura membalas tatapan Yuu tanpa rasa bersalah, lalu turun dari jungkat-jungkit dan berdiri di samping Matilda. Yuu dan Miyako pun berhenti bermain dan berdiri berhadapan dengan mereka berdua.
“Begitulah ceritanya, aku juga akan ikut membantu. Ah, Shikura dan Furumi-san, tolong rahasiakan hal ini, ya? Secara resmi, kami dikenal sebagai klub yang bersih dan lurus, soalnya.”
“Kalaupun aku tertangkap dan disiksa, tolong jangan sebut namaku ya. Fisikku ini lemah sekali, lho.”
Matilda memasang wajah polos seolah fakta bahwa dia baru saja mendorong Nijimura jatuh dari seluncuran itu tidak pernah terjadi, sambil mengangkat jari telunjuknya tegak-tegak.
“Kalau begitu, sebagai pembukaan, aku akan beri tahu kalian tiga topik utama untuk minggu depan. 『Shikura dari kelas 7 menolak mentah-mentah Kagura Shio』, 『Kagura Shio, sang otoritas pendukung gerakan limbah makanan』, dan 『Kagura Shio adalah seorang perundung』. Selain itu, aku juga akan melepaskan rumor tentang orang-orang jahat lainnya, bukan cuma Kagura Shio, jadi nantikan saja. Kekacauan adalah surga.”
Yuu merasa khawatir jangan-jangan mereka semua akan dituntut atas pencemaran nama baik.
Di sampingnya, Miyako bergumam dengan wajah heran seolah bicara pada diri sendiri.
“Jangan-jangan pada akhirnya alurnya malah kita semua harus bekerja sama untuk mengalahkan orang-orang ini.”
“Untuk saat ini, tindakan mereka masih bisa dibilang 'keadilan', sih......”
Selama mereka berada di pihak yang sama, mereka sangat bisa diandalkan, tapi mereka adalah tipe yang tidak boleh dijadikan musuh.
Begitulah, Klub Penggemar Rumor tersebut pun beranjak pergi dengan penuh semangat dan penuh percaya diri untuk mempersiapkan hari esok.
“Kalau begitu, aku dan Leon pamit dulu. Mari kita selesaikan masalah ini dalam minggu depan. Katanya masa sekolah itu sangat berharga. Sangat merugikan bagi umat manusia jika waktunya habis hanya untuk mengurusi gangguan bodoh semacam ini.”
Meninggalkan kata-kata itu, Matilda dan Nijimura pergi. Yuu dan yang lainnya hanya bisa mengantar kepergian mereka dengan termangu, menyisakan keheningan yang sulit digambarkan. Bagaimanapun, sepertinya mulai besok segalanya akan menjadi sibuk.
Yuu menoleh ke samping dan beradu pandang dengan Miyako. Melihat gelagatnya yang tampak tidak tenang, Yuu segera tahu apa yang harus dikatakan.
“......Furumi-san, kalau kau mau, mau mampir ke rumahku? Hika sedang asyik main gim, jadi tolong ajari dia ya.”
“Aku permisi bertamu.”
Maka, untuk pertama kalinya dalam hidup, Yuu mengundang teman ke rumahnya. Dan Miyako pun resmi masuk ke dalam daftar orang yang disukai Hika.
◯
Katanya Shikura menolak Kagura mentah-mentah—skandal antara seorang siswa laki-laki yang tidak punya ciri khas menonjol dengan siswi yang tergolong populer itu membawa kegemparan di Senin pagi.
Teman-teman sekelas Yuu yang laki-laki menunjukkan rasa penasaran mereka secara terang-terangan dan mencoba mengorek apa yang sebenarnya terjadi.
"Mengintip urusan asmara orang lain dari pinggir lapangan memang paling seru ya," begitu kata salah satu dari mereka.
Berada dalam situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya—dikerumuni oleh banyak orang—Yuu hanya bisa terpaku kebingungan di kursinya. Ditanya apa yang terjadi pun, ia tidak bisa bercerita karena memang tidak ada apa-apa.
Ia merasa kagum sekaligus ngeri pada kemahiran Matilda yang mampu menyebarkan rumor seluas ini hanya dalam satu malam. Ia berpikir bahwa harga yang harus dibayar karena meminjam kekuatan dari "karakter pendukung yang serba guna" ini pasti akan ditagih di suatu tempat suatu saat nanti.
Saat Yuu sedang berkelit dengan senyuman penuh arti, tiba-tiba serangan pertanyaan itu berhenti. Ada tamu datang. Yang memanggil Yuu dengan penuh energi dari pintu kelas adalah Naze Yoyo.
“Pagi, Shikura-kun! Bisa bicara sebentar?”
Para siswa laki-laki yang tadinya sangat bersemangat itu seketika berubah sikap; ada yang memasang wajah melankolis, ada yang memasukkan tangan ke saku sambil menatap ruang hampa, macam-macam.
Ada apa dengan orang-orang ini.
Meski sama sekali tidak mengerti, Yuu menganggap ini sebagai kesempatan bagus dan segera menghampiri Yoyo yang melambaikan tangan padanya.
“Selamat pagi, Naze-san, kau menyelamatkanku. Ada apa?”
“Bisa ikut aku sebentar?”
Yoyo mulai berjalan dan Yuu mengikutinya dari belakang. Yoyo melambatkan kecepatannya, lalu saat Yuu sudah berjalan sejajar dengannya, ia membelalakkan matanya dengan dramatis.
“Aku kaget sekali! Shikura-kun, sejak kapan kau menjalin hubungan sedalam itu dengan Kagura-chan?!”
“Hubungan apa...... yah, banyak hal yang terjadi.”
“Kenapa kau menolaknya? Apa kau punya gadis lain yang kau sukai?”
Tatapan mata Yoyo yang mengintip ke wajah Yuu terlihat seperti anak kecil yang polos, membuat Yuu merasa berat hati untuk berbohong. Saat dadanya terasa sesak oleh rasa bersalah yang samar, tiba-tiba...
“Itu bohong, kan?” ucap Yoyo memberikan serangan kejutan.
Yuu refleks menghentikan langkahnya, dan Yoyo tertawa dengan raut heran. Sudah kuduga, pikirnya.
“Rasanya ada yang aneh. Shikura-kun yang sedang berjuang mencari teman, mana mungkin sengaja mengatakan hal yang menyakiti orang lain. Lagipula Shikura-kun itu orang yang baik. Dan lagi, aku kan saksi saat kalian pertama kali bertemu! Mana mungkin secepat itu!”
“Bisa saja karena kombinasi antara cinta pandangan pertama dan bridge effect yang membuatku tidak bisa menahan diri.”
“Nah, kan! Bercanda seperti itu adalah bukti paling kuat kalau ini bohong!”
Yoyo menunjuk Yuu dengan jari telunjuknya secara tegas. Yuu mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
“Aku memang tidak bisa menang melawan Naze-san. Tapi memang benar ada alasan di balik ini. Jadi, bisakah kau mengawasi kami saja?”
“Alasan...... mengawasi? Eh, jangan-jangan rumor ini menyebar atas persetujuan Shikura-kun juga?”
“......Begitulah,” jawab Yuu lirih dengan perasaan tidak enak.
“Kenapa?”
Ekspresi wajah Yoyo berubah menjadi serius.
“Maaf, aku tidak bisa mengatakannya. Tidak apa-apa jika kau mau membenciku.”
Bahkan jika dibenci oleh Yoyo sekalipun, ada hal yang ingin Yuu wujudkan. Bukan demi Miyako ataupun Youka, melainkan demi dirinya sendiri. Dan tentu saja, demi teman-temannya. Selain itu, Yuu juga tidak ingin Yoyo mengetahui sisi gelap Kagura. Karena itulah, ia tidak bicara. Meskipun ia harus dibenci oleh Yoyo—sampai di situ Yuu menghentikan pikirannya dan tertunduk lesu.
“Eh, maaf, bohong. Aku benar-benar tidak mau dibenci. Tolong jangan benci aku. Aku tidak ingin dibenci oleh Naze-san. Ampuni aku.”
Mendengar Yuu yang mengangkat wajahnya dan berkata jujur seperti itu, wajah Yoyo memerah dan ia melangkah mundur.
“A-apa-apaan sih tiba-tiba begitu. Kalau begitu, beri tahu saja alasannya padaku.”
“Baiklah. Aku akan menceritakannya dengan benar. Tapi aku tidak bisa memutuskan ini sendirian, jadi bisakah kau menunggu sebentar?”
Yoyo tidak mengatakan apa-apa, ia hanya mengangguk kecil beberapa kali.
Bagi Yuu saat ini, sifat Yoyo yang bermulut asal bunyi sudah menjadi masalah sepele; ia kini digerakkan oleh dorongan emosi yang tidak menyisakan ruang bagi logika yang runtut.
Menyedihkan. Padahal ia sudah berlagak keren dengan mengatakan siap kehilangan apa pun, tapi begitu saatnya tiba, ia malah jadi begini.
Dibenci oleh orang lain, ia tidak peduli. Itu jujur.
Dibenci oleh Yoyo, ia tidak mau. Itu pun juga jujur.
Ia sendiri tidak mengerti maksudnya. Ia tidak tahu mana yang harus dipilih. Rasanya seperti sedang tersesat.
Merasa takut jika hanya berdiam diri, Yuu segera berbalik untuk kembali ke kelas dan berkonsultasi dengan Miyako, namun Yoyo menghentikannya.
“Tunggu, tunggu, Shikura-kun! Masalahku nanti saja! Ikut aku sebentar!”
“Ngomong-ngomong, kita mau ke mana?”
“Ke tempat Kagura-chan. Dia minta aku memanggilmu karena ingin bicara!”
Tempat yang dituju ternyata adalah ruang musik.
Begitu masuk, ada dua siswi yang sedang mengobrol sambil bersandar di dinding. Mereka melirik Yuu sekilas lalu menunjuk ke arah ruang persiapan di bagian dalam. Yoyo tertahan oleh kedua siswi itu, sehingga hanya Yuu yang masuk ke ruang persiapan.
Di sisi kiri dan kanan terdapat rak-rak berisi alat musik, dan di ujung depan ada jendela dengan gorden yang tertutup rapat. Kagura duduk di kursi di depan jendela, memutar-mutar mallet timpani di jemarinya seolah sedang memutar pena.
“Ah, selamat datang, Shikura-kun. Maaf ya tiba-tiba memanggilmu?”
“Aku sudah terbiasa karena kau memang selalu mendadak, Kagura-san. Lagipula, kupikir di sini bakal ramai anggota klub orkestra, tapi ternyata sepi ya.”
“Katanya kalau menjelang kompetisi mereka latihan pagi, tapi biasanya mereka lebih mengutamakan tidur.”
“Heh. Tapi hebat juga kau bisa masuk ke sini.”
“Yah, begitulah.”
Kagura berdiri dan memberi isyarat agar Yuu mendekat.
Yuu merasa curiga namun tetap melangkah perlahan, lalu berhenti pada jarak sekitar dua meter.
“Jadi, langsung ke intinya saja ya. Kau tahu rumor kalau kau menolakku mentah-mentah?”
“Aku sudah dengar. Sejak pagi aku diberondong pertanyaan sampai rasanya lelah sekali. Entah siapa yang menyebarkan kebohongan tanpa dasar seperti itu.”
“Benar, kan? Benar-benar merepotkan. Hal seperti ini kalau tidak dibantah secara tegas akan jadi masalah nantinya. Jadi, maaf ya...... meski kurasa tidak perlu dikatakan lagi, Shikura-kun mau bekerja sama, kan?”
"Boleh," jawab Yuu tanpa jeda sambil mengangguk.
Namun, ia menambahkan syarat.
“Aku juga punya permintaan. Sebenarnya, aku mendengar rumor buruk tentang Furumi-san dan yang lainnya. Isinya sangat tidak pantas didengar, jadi aku ingin membantahnya. Maukah kau yang populer ini meminjamkan kekuatanmu?”
Melihat alis Kagura yang sedikit terangkat, Yuu melemparkan senyum yang dibuat-buat. Seketika itu juga, Kagura perlahan melepas blazer-nya. Tanpa melipatnya, ia meletakkan blazer itu di atas kursi dan melangkah mendekati Yuu.
Yuu menyipitkan mata melihat tindakan yang tidak jelas tujuannya itu, lalu mengamatinya dalam diam.
“Shikura-kun juga, tolong dilepas ya?”
“......Apa tujuannya?”
“Usul agar kita bisa bicara secara terbuka dari hati ke hati.”
Senyumnya yang tanpa dosa terasa mengerikan, namun karena tawaran Kagura adalah hal yang ia inginkan, Yuu memutuskan untuk menurut.
Yuu melepas blazer-nya dan menyerahkannya kepada Kagura yang mengulurkan kedua tangan.
“Perlihatkan kedua saku celanamu.”
Yuu memasukkan tangan ke saku dan menarik kainnya keluar untuk menunjukkan bahwa sakunya kosong. Saku belakang pun ia perlakukan sama. Melihat hal itu, Kagura mengambil ponsel dari saku blazer Yuu dan mulai mengoperasikannya tanpa izin.
“Sepertinya aman ya,” ucap Kagura.
Ia mengembalikan ponsel itu ke saku, dan kemudian——melemparkan blazer itu ke belakang. Tampaknya ia juga membuang topeng keanggunannya di saat yang sama. Ekspresi lembut Kagura berubah menjadi dingin dan ketus.
“Nah, ayo kita bicara jujur satu sama lain. Saling menebak isi hati itu melelahkan.”
Suaranya pun terdengar intimidatif dan penuh permusuhan.
Berubah drastis. Benar-benar seperti orang yang berbeda. Tidak, inilah jati diri Kagura Shio yang sebenarnya.
Yuu pikir ini akan memakan waktu lebih lama, namun seperti yang diharapkan dari Kagura Shio yang suka mengambil langkah awal. Meski sempat sedikit terguncang oleh kecepatannya, Yuu tidak menunjukkannya di wajah dan berusaha tetap tenang.
“Kupikir kau bakal tetap berakting menyembunyikan jati dirimu yang sebenarnya.”
“Tadinya mau begitu, tapi kalau dibiarkan, kalian bakal makin ngelunjak, kan? Padahal melihat kalian saja sudah membuatku risih, jangan bercanda deh. Furumi, Kengamine, dan kau juga, sedang apa sih bersenang-senang begitu? Bisa berhenti tidak? Sumpah, kalian itu menjengkelkan sekali.”
Kagura berujar ketus sambil bersandar pada rak di dekatnya.
“Lagipula, kau ini siapa sih? Tiba-tiba muncul dan berlagak jadi pahlawan kesiangan, itu norak banget tahu. Kau mengincar mereka berdua, ya?”
“Sifatmu ternyata jauh lebih buruk dari dugaanku ya, Kagura-san. Rasanya aku ingin memberi tahu semua orang.”
“Coba saja kalau bisa. Semoga ada yang percaya padamu ya.”
Kagura tersenyum sinis dengan ujung bibirnya saja.
“Bergerak lincah ke sana kemari seperti serangga. Sepertinya kau berusaha keras menyebarkan reputasi buruk tentangku, ya? Sayang sekali, tidak ada yang benar-benar percaya, lho. Ternyata reputasi sehari-hari itu penting, ya.”
Yuu merasa geram melihat Kagura yang bicara dengan bangga seolah memegang kendali. Ia pun berusaha merampas kembali suasana pembicaraan. Tentu saja, ia juga merasa tidak tahan mendengar ocehan panjang lebarnya.
“Berhenti merundung Kengamine. Itu membuatku muak.”
“Hah? Yang muak itu aku tahu. Lagi pula apa? Apa anak itu merengek padamu? Berlagak sok jago tapi begitu kesulitan langsung menangis minta tolong? 'Tolong aku, Shikura-kun!'—ih, payah banget. Dan kau pun langsung terpancing dengan mudahnya.”
“Kau benar-benar tidak punya kemampuan menilai orang ya. Berusahalah untuk lebih memperhatikan orang lain selain dirimu sendiri. Yah, kurasa percuma saja bicara padamu.”
“Kan sudah kubilang? Tidak ada yang bakal mendengarkan omonganmu,” ucap Kagura dengan nada sombong dan mengejek sambil berjalan ke arah jendela, lalu duduk di kursi dan menyilangkan kaki.
“Tapi karena aku ini baik hati, aku akan mendengarkanmu baik-baik. Aku tinggal berhenti merundung Kengamine, kan? Boleh saja. Lagipula dia sama sekali tidak merasa tertekan, jadi membosankan juga. Aku memang sudah mulai bosan padanya.”
“......Hah?”
Yuu meragukan pendengarannya sendiri.
Bajingan ini. Apa yang dia katakan? Kengamine tidak merasa tertekan? Padahal dia bahkan tidak tahu siapa yang membencinya.
Manusia itu takut pada hal yang tidak mereka ketahui. Mustahil dia tidak merasakan apa pun. Aku sudah tidak sudi lagi mendengar Youka berpura-pura kuat.
“Melakukan sesuatu diam-diam di belakang itu cukup melelahkan, tahu. Ah, kau pasti paham kan. Soalnya kalian juga melakukan hal yang sama.”
Yuu tidak bisa menyembunyikan rasa muaknya terhadap alasan Kagura.
Membosankan, katanya.
Setelah menyakiti orang lain secara sepihak dan sembunyi-sembunyi, Kagura mencoba menyelesaikannya hanya dengan kata-kata seperti itu. Benar-benar menjijikkan.
“Aku akan berhenti merundung Kengamine. Aku tidak akan membully siapa-siapa lagi. Begitu saja cukup, kan? Aku tidak akan mencampuri urusan kalian lagi, jadi kalian juga jangan ganggu aku, ya?”
“Jangan bercanda. Berhenti bicara sok hebat seolah-olah apa yang kau lakukan itu benar. Jangan mengakhiri ini seenaknya, dasar bodoh.”
“Kenapa kau malah marah? Berisik tahu. Ini kan sudah berakhir. Atau apa? Kau berniat membuatku menyesal?”
“Bukan. Kau mau menyesal atau tidak, aku tidak peduli. Kau itu sama sekali tidak penting bagiku. Bukan urusanku.”
Dengan kemarahan yang meluap, Yuu semakin meninggikan nada bicaranya.
“Minta maaflah pada Kengamine dan Furumi-san. Meskipun kau tidak menyesal, minta maaflah dengan sungguh-sungguh sampai mereka berdua berpikir bahwa kau benar-benar menyesal. Kalau kau bilang tidak akan mencampuri urusan mereka lagi, maka pergilah dengan bersih tanpa menyisakan dendam. Buat mereka melupakanmu.”
Yuu tahu ucapannya itu hanyalah omong kosong idealis. Korban tidak akan pernah melupakan pelakunya.
Karena itu, ini adalah permohonan Yuu. Permohonan agar hari di mana Youka dan Miyako bisa melupakan Kagura benar-benar datang.
Ia sangat berharap.
“Minta maaf? Tentu saja aku tidak mau. Bodoh ya. Tidak ada satu pun alasan bagiku untuk minta maaf pada mereka. Justru mereka yang harus minta maaf padaku, kan? Minta maaf karena sudah merusak pemandangan dan merusak suasana hatiku.”
“Kau—”
Lidah Kagura terus bersilat kata.
Yuu mengepalkan tinjunya kuat-kuat dan mengatupkan gigi, menahan diri agar tidak meledak dalam teriakan. Darah naik ke kepalanya, tapi menjadi tidak tenang hanya akan membuat dirinya masuk ke dalam perangkap Kagura. Hal itu terlihat jelas dari sikap Kagura yang sok tenang.
Kalau marah, aku kalah. Pihak yang harus dibuat marah adalah dia.
Aku tahu itu, tapi setiap tindakan dan ucapan Kagura benar-benar sangat menjengkelkan.
“Ngomong-ngomong, kau bilang punya bukti ya. Paling-paling juga soal kesalahan pertamaku saja, kan? Silakan saja kalau mau dipakai. Hal sekecil itu bisa kuhadapi dengan sejuta alasan.”
“Dari ucapanmu itu saja sudah jelas kalau kau hanya memikirkan dirimu sendiri. Kau pikir segalanya akan berjalan sesuai keinginanmu. Kau salah mengira bahwa tidak akan ada hal yang terjadi di luar imajinasimu. Kau benar-benar tidak tahu bahwa dunia tidak sesederhana itu.”
Mendengar provokasi itu, Kagura sedikit mengernyitkan wajah, namun ia tampaknya masih bisa menahan diri.
“Kau banyak menggonggong juga ya. Apa kau begitu menyukai Furumi dan Kengamine? Apa sih bagusnya mereka? Padahal aku sempat merasa kasihan padamu, lho. Kasihan karena kau ditipu oleh si bodoh yang cuma modal tampang dan si penyendiri yang suram itu.”
“Diam. Jangan bicara lagi.”
Saat Yuu melangkah maju, Kagura mengangkat sudut bibirnya dengan penuh kebencian.
Yuu merasa sakit hati. Karena ia tahu kebaikan Miyako, karena ia tahu kebaikan yang bisa ia banggakan sebagai seorang teman—rasanya sangat menyakitkan.
—Orang seperti ini tidak layak untuk diulurkan tangan.
Dia tidak layak, Furumi-san.
Sudah batasnya.
“Ah, tapi aku puji usahamu yang berhasil menjinakkan Naze. Akhir-akhir ini anak itu sering sekali menempel pada Kengamine, jadi aku agak sulit bergerak. Apa itu juga instruksimu? Yah, terserahlah. Anak itu memang punya daya tarik dan banyak gunanya. Karena aku sudah tidak butuh lagi, kenapa tidak kau manfaatkan saja?”
Sebelum Kagura selesai bicara, Yuu sudah merangsek maju. Tangannya yang terjulur menghantam bingkai jendela di belakang Kagura. Ia tidak merasakan sakit. Kepalanya terasa panas membara. Ia menatap tajam langsung ke dalam bola mata Kagura yang keruh dan licik.
—Maaf Furumi-san. Aku ingin menghancurkan bajingan ini sampai ke akar-akarnya.
“Aku membencimu. Aku pasti akan membuatmu menyesal.”
“Kenapa sih, Shikura-kun? Berhenti, ya? Kalau bicara menakutkan begitu, nanti kau dibenci, lho.”
Jawab Kagura dengan suara yang dibuat melengking tinggi. Kemudian ia berdiri dan menepuk bahu Yuu saat mereka berpapasan. Sambil berjalan menuju pintu keluar tanpa menoleh, Kagura berkata:
“Aku juga sangat membenci kalian. Aku menyesal sudah meladeni kalian. Selamat ya Shikura-kun, sepertinya keinginanmu terkabul. Dadah.”
Yuu pun tidak menoleh, ia menerima provokasi Kagura dengan punggungnya.
Terdengar suara pintu tertutup.
Beberapa saat kemudian, seseorang masuk. Saat namanya dipanggil, ia menoleh dan melihat Yoyo berdiri di sana.
“......Naze-san.”
“......A-ada apa? Wajahmu menakutkan.”
“Banyak hal yang terjadi. Maaf, bisakah kau membiarkanku sendiri dulu?”
Yuu duduk merosot di lantai, menyandarkan punggungnya pada rak sambil memejamkan mata.
Meski ia mencoba menutupinya, hatinya dipenuhi kemarahan terhadap Kagura sampai rasanya ingin berteriak. Bisa disebut sebagai kebencian.
Dalam kondisi sekarang, jika ia bicara dengan seseorang, mungkin ia akan tanpa sadar melontarkan kata-kata yang menusuk. Atau mungkin, secara impulsif, ia akan melampiaskan amarahnya pada orang lain.
—Aku tidak mau bertindak memalukan seperti itu.
Saat ia sedang berusaha menenangkan diri dengan mendengarkan suara napasnya sendiri...
Terdengar suara langkah kaki mendekat, lalu berhenti.
Ketika membuka mata, ia menyadari Yoyo sudah duduk di sampingnya.
“......Naze-san?”
“Aku tahu kalau berada sendirian saat sedang sulit itu tidak baik. Tidak apa-apa, jangan bicara kalau tidak mau. Tapi kalau kau benar-benar memaksaku pergi, aku akan pulang.”
Yoyo tersenyum kecut sambil menurunkan alisnya. Wajahnya tampak kesepian.
Yuu tidak menjawab. Ia hanya diam dan memejamkan mata. Ia tidak mengikuti pelajaran jam pertama. Untungnya tidak ada orang lain yang datang, ia hanya menghabiskan waktu berdua dengan Yoyo.
Meskipun tidak ada satu pun percakapan di antara mereka... Perasaannya sedikit menjadi lebih tenang.





Post a Comment