NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanchigai no Atelier Meister Volume 11 Chapter 1

Chapter 1

Mengejar Danzou


Semua itu terjadi secara tiba-tiba.

Saat itu, aku—Kuruto Rockhans—bersama Lise-san, Yurishia-san, dan Akuri, sedang dimarahi oleh Mimiko-san karena pergi ke Dunia Lama tanpa izin. Tiba-tiba, Sina-san masuk dengan luka di kepalanya.

Dia berkata bahwa Mire-san telah diculik oleh Danzou-san, lalu kehilangan kesadaran dan jatuh pingsan.

Aku segera melakukan pertolongan pertama.

Mensterilkan kuman, menghentikan pendarahan, menutup luka, dan membersihkan sisa darah di wajahnya dengan rapi.

Selesai, pengobatan tuntas.

"Waktu pemrosesan dua detik. Seperti biasa, tanganmu sangat cekatan ya, Kuruto-chan."

"Luar biasa, Tuan Kuruto."

Mimiko-san yang baru saja menceramahi Lise-san, dan Lise-san yang baru saja diceramahi, memujiku setelah melihat caraku menangani luka darurat tersebut.

"Tidak juga. Di desaku, ini hanya pertolongan pertama yang biasa, lagipula tadi memakan waktu terlalu lama."

Aku menyahut sambil memasukkan kembali obat-obatan dan peralatan medis ke dalam tas.

Tak lama kemudian, Sina-san terbangun.

"Nng... eh? Apa Kuruto yang mengobatiku?"

"Iya. Apa ada bagian yang terasa sakit? Tadi sepertinya kepalamu terbentur, jadi sebaiknya nanti periksakan diri ke rumah sakit, ya."

"Sama sekali tidak sakit, kok. Terima kasih—tapi lebih dari itu, Mire diculik oleh Danzou!"

Sina-san mendadak bangkit berdiri, namun ia terlihat goyah seolah terkena vertigo.

Ah, astaga. Jangan tiba-tiba berdiri begitu, dong.

Aku menyiapkan kursi dan meminta Sina-san duduk kembali, lalu Mimiko-san mendekatinya.

"Sina-chan, tenanglah. Jelaskan pelan-pelan. Apa yang sebenarnya terjadi?"

"Baik, Mimiko-sama. Jadi begini—"

Sepertinya tadi Sina-san dan Mire-san berniat pergi belanja berdua.

Lalu Danzou-san muncul dan berkata begini:

"Di kampung halamanku, ada petunjuk untuk mengembalikan ingatan Mire-doNo.Aku ingin kau ikut denganku."

Sina-san bilang dia juga ingin ikut, tapi Danzou-san menolak, bahkan membuatnya tertidur.

"Sampai membuat Sina terluka begini—dasar Danzou."

Kans-san tampak memendam amarah yang tenang, tapi bukankah ini aneh?

Dilihat dari bentuk lukanya, penyebab Sina-san kehilangan kesadaran seharusnya bukan karena luka itu.

"Sina-san, Danzou-san menggunakan obat tidur padamu, kan?"

"Iya, aku mencium bau obat tidur lalu ambruk dan hampir pingsan—tapi agar bisa memberitahu Kuruto dan yang lain, aku sengaja membenturkan kepalaku ke batu terdekat agar tetap sadar, sampai akhirnya Phantom-san datang."

Begitu penjelasan Sina-san.

Sudah kuduga.

Mendengar itu, mata Kans-san membelalak.

"Kuruto, tajam juga pengamatanmu."

"Iya. Karena obat tidur yang digunakan pada Sina-san adalah obat yang kubuat tadi karena diminta oleh Danzou-san."

"………………"

Semua orang terdiam menatapku.

Danzou-san bilang dia butuh obat, dan aku mengira dia menderita insomnia, jadi aku memberikannya.

Tapi untunglah aku tidak membuat yang bereaksi instan agar dia bisa tidur secara perlahan.

Kalau komposisinya terlalu kuat, dia pasti langsung terlelap seketika.

"Tuan Kuruto, apa ada hal lain yang dia minta?"

"Eeto, aku membuatkan kendaraan yang kunamai Pesawat Amfibi kecil. Semacam Airship berkapasitas dua orang. Memang rasanya akan praktis kalau punya benda itu."

"Papa, seberapa cepat benda itu bisa melaju?"

"Hmm, karena aslinya untuk piknik, paling-paling hanya sekitar 500 kilometer per jam?"

Aku menjawab pertanyaan Lise-san dan Akuri.

Karena lebih kecil dari kapal terbang biasa, aku lebih mengutamakan kecepatannya.

"Apa Kuruto berniat keliling dunia hanya untuk piknik? ...Yah, kalau pergi ke bulan hanya untuk melihat bulan saja dianggap normal bagimu, mungkin itu juga normal."

Yurishia-san bergumam, tapi aku menggelengkan kepala.

Aku belum pernah keliling dunia, kok.

Di desaku, kami pindah seluruh desa setiap sepuluh tahun sekali, jadi itu sudah seperti perjalanan besar, dan di luar itu kami jarang keluar desa.

"Tapi, kenapa Danzou-san bisa tahu cara mengembalikan ingatan Mire-san? Padahal mereka baru saja bertemu, kan? Tanpa bukti sebagai murid Sang Sage Agung, dia tidak bisa pergi ke Dunia Lama."

"Hmm, entahlah. Mengingat Bibinokke-chan pernah ada di Dunia Lama, mungkin ada cara berpindah antara dunia ini dan dunia sana yang tidak kita ketahui."

Mimiko-san menanggapi pertanyaanku sambil berpikir.

Di dunia ini, informasi mengenai atribut ruang sudah hilang. Namun, orang-orang seperti Paman Urano di Desa Haste pasti banyak jumlahnya—orang yang lewat penelitian mandiri bisa menciptakan Roh Agung Buatan dengan kecocokan atribut ruang seperti Akuri.

Dengan kekuatan orang-orang seperti itu, rasanya berpindah dunia bisa dilakukan dengan cukup bebas.

"Pokoknya, kita harus mengejar Danzou-san dan Mire-san," ucapku.

"Tapi, bagaimana caranya?"

"Jika mereka pindah lewat udara, memeriksa catatan penggunaan batu teleportasi atau gerbang pemeriksaan akan sia-sia."

"Kampung halaman Paman Danzou sepertinya adalah Negeri Yamato yang berada jauh di timur, tapi Negeri Yamato itu sangat luas. Tanpa petunjuk, akan sulit mencari mereka."

Yurishia-san, Lise-san, dan Akuri masing-masing memberikan pendapat.

Kudengar luas Yamato mencapai dua kali lipat Kerajaan Homuros.

Ada batasnya jika hanya mencari dengan bertanya ke sana kemari.

"Saat ini, aku meminta Phantom memeriksa kamar Danzou-chan, tapi sepertinya hampir tidak ada petunjuk. Perabotan bawaan masih utuh, tapi barang pribadinya tidak ada yang tersisa satu pun."

Mimiko-san mengatakan hal itu, sepertinya dia baru saja menerima laporan tanpa kusadari.

Ternyata di kamar Danzou-san pun tidak ada petunjuk.

Tepat saat kupikir kami sudah buntu, Kans-san angkat bicara.

"Di desa kami ada rumah Danzou. Bagaimana kalau kita coba ke sana?"

"Desa Kans-san?"

Kalau tidak salah, Kans-san, Sina-san, dan Danzou-san tumbuh di desa yang sama, ya?

"Eh? Tapi bukankah Danzou-san berasal dari Negeri Yamato? Kenapa rumahnya ada di desa Kans-san?"

"Dia memang berasal dari Yamato, tapi dia pindah bersama ayahnya saat masih kecil, jadi dia lebih lama tinggal di desaku. Ayahnya sendiri meninggal karena kecelakaan tujuh tahun lalu."

Begitu rupanya.

"Sampai kami membentuk party dan pergi ke Kota Samaera, Danzou tinggal di pinggiran desaku. Di sana mungkin ada petunjuk yang tertinggal. Karena dia tidak tahu kapan akan pulang, seharusnya ada beberapa barang pribadi yang ditinggalkan."

Kalau begitu, mari kita ke sana.

Setelah bertanya lebih detail, kampung halaman Kans-san ternyata terletak sekitar sepuluh hari perjalanan kaki ke arah utara dari Kota Samaera.

Jika menggunakan pesawat terbang, kami bisa sampai dalam sekejap.

Meskipun yang kuberikan pada Danzou-san hanya untuk dua orang, aku sudah menyiapkan pesawat yang sedikit lebih besar untuk tujuh orang jika sewaktu-waktu kami ingin pergi piknik bersama.

"Papa, aku akan tetap di sini untuk menyelidiki jejak Oktar dan yang lainnya. Untuk mencari tahu cara teleportasi ke Dunia Lama, lebih baik aku yang ada di sini."

Begitulah kata Akuri.

Benar, bagian itu juga harus diselidiki.

"Jika Paman Danzou dan Mire-san ditemukan dan kalian akan kembali ke bengkel, tanamlah dahan Nieche-san dan hubungi aku. Aku akan menjemput kalian menggunakan kekuatan teleportasi."

Nieche-san adalah bagian dari Roh Agung Dryad.

Jika menanam dahan pohon besar yang menjadi wadahnya, kami bisa berkomunikasi melalui jalur nadi bumi, dan teleportasi Akuri juga bisa digunakan antar dahan.

"Baiklah, terima kasih. Bagian sini aku serahkan padamu."

Aku benar-benar berpikir bahwa dia adalah putri yang sangat bisa diandalkan.

 

Setelah diskusi selesai, aku segera mempersiapkan keberangkatan.

Pertama, aku mengeluarkan pesawat terbang yang agak besar di halaman bengkel.

Meski begitu, karena di dalam kota sayapnya dilipat, bentuknya lebih mirip kereta kuda yang tinggi dan ramping.

Tentu saja ini tidak ditarik kuda, melainkan dibuat agar bisa melaju sendiri dalam kondisi ini.

Setelah selesai memeriksa pesawat, Lise-san tampak bersemangat untuk naik.

"Ayo berangkat! Ke kampung halaman Kans-san! Ke rumah Danzou-san!"

"Tunggu dulu, Lise-sama! Melihat situasinya, Mire-chan sepertinya ikut secara sukarela jadi harusnya tidak ada bahaya... tapi tetap saja jika pergi ke negara lain... Kuruto-chan, pesawatnya berkapasitas tujuh orang, kan? Kalau begitu, aku akan menyertakan dua orang Phantom. Biasanya mereka akan bersembunyi untuk mengawal dan menyelidik, tapi pastikan mereka ikut naik saat pesawat bergerak."

Aku mengangguk mendengar perkataan Mimiko-san. Lise-san bagaimanapun adalah seorang mantan putri, jadi tidak ada alasan untuk menolak tambahan orang yang bisa melindunginya.

"Baik, aku mengerti."

Segera, aku, Lise-san, Yurishia-san, Kans-san, Sina-san, dan dua orang Phantom naik ke dalam pesawat.

"Katanya pesawat terbang, tapi malah mirip kereta kuda yang ramping ya."

"Kuruto, benda ini benar-benar bisa terbang?"

Kans-san dan Sina-san yang duduk di kursi belakang bertanya sambil memasang sabuk pengaman.

"Tentu saja. Tapi untuk menerbangkan pesawat ukuran ini butuh jalan lurus yang panjang, jadi tidak bisa diterbangkan di dalam kota. Kita akan keluar kota dulu."

Sambil menjelaskan, aku menjalankan pesawat dari kursi kemudi.

Orang-orang di kota tampak terkejut melihat kereta kuda tanpa kuda yang melaju sendiri.

Namun, pemeriksaan di gerbang kota berjalan lancar karena penjaganya sudah kukenal, dan setelah menunjukkan bukti sebagai perwakilan Atelier Meister, kami lewat tanpa diperiksa lebih lanjut.

Lima menit setelah keluar kota, kami sampai di jalanan yang sepi.

Sip, di sini sepertinya aman.

Pertama, bentangkan kedua sayap.

Aktifkan Magic Boost Engine.

Begitu disetel ke akselerasi maksimal, pesawat mulai melesat kencang.

"Kuruto! Guncangannya hebat sekali!"

"Yurishia-san, jangan bicara nanti lidahmu tergigit! Ini karena jalannya tidak rata, jadi tolong bersabar. Guncangannya akan hilang setelah kita lepas landas."

"Apa ini benar-benar akan terbang?! Tidak akan meledak begitu saja, kan?!"

Di tengah teriakan Kans-san, aku menambah kecepatan pesawat lebih jauh lagi.

Dan kemudian—

 

Setelah lepas landas dan menyelesaikan penerbangan selama beberapa jam tanpa hambatan, kami mendarat di dataran dekat kampung halaman Kans-san.

Sebab kalau langsung mendarat di dalam desa, pasti akan menimbulkan kepanikan.

Begitu turun dari pesawat, wajah Kans-san dan Sina-san tampak pucat pasi sambil berjalan sempoyongan.

Apa mereka mabuk udara?

"A-Aku masih hidup—kukira tadi akan mati."

"Kenapa benda yang menghantam tanah dengan kecepatan seperti tadi tidak hancur sih."

Sepertinya mereka takut naik pesawat.

Mungkin keduanya punya ketakutan terhadap ketinggian.

Sebaliknya, Yurishia-san dan Lise-san tampak baik-baik saja.

"Payah sekali kalian. Ini sih masih jauh lebih mending dibandingkan saat pulang dari melihat bulan naik roket."

"Benar. Memang saat itu cukup mengejutkan, ya."

Jadi Yurishia-san dan Lise-san malah takut naik roket, ya?

Ah, tapi kalau soal pengalaman takut di tempat tinggi, aku juga pernah.

"Saat diculik Wyvern, aku juga merasa takut, lho."

Aku berucap seolah ingin berempati dengan mereka semua.

Waktu itu, aku merasa ngeri membayangkan jika dibawa ke sarang lalu dijadikan makanan untuk anak Wyvern

"Itu beda ceritanya!"

"Eh?"

Entah kenapa, mereka semua menyangkal ucapanku secara bersamaan.

 

Agar tidak dicuri, aku mengunci pesawat dan menyembunyikannya di balik semak-semak di pinggir jalan.

Dari sana kami berjalan sekitar sepuluh menit sampai akhirnya tiba di kampung halaman Kans-san, sebuah desa kecil yang dikelilingi pagar batu setinggi badan Akuri.

Katanya, pedagang keliling pun hanya datang sebulan sekali. Gandum yang ditanam di ladang sekitar desa adalah untuk membayar pajak, sedangkan makanan pokok penduduk desa adalah umbi-umbian.

Orang-orang yang sedang merawat ladang gandum menyadari kehadiran kami dan mulai berdiri.

"Ooh! Bukankah itu Kans anak Dai dan Sina-chan! Apa ini? Kalian pulang?"

"Wah, bawa dua gadis cantik juga. Apa salah satunya calon istri Kans?"

"Kalau begitu anak laki-laki itu calon suaminya Sina-chan?!"

Semua orang yang melihat kami melontarkan spekulasi semacam itu.

Seharusnya dua orang Phantom juga ada di sini, tapi karena mereka menghilangkan hawa keberadaan dengan sempurna, tidak ada yang menyadarinya. Aku pun tidak tahu mereka ada di mana.

"Bukan begitu! Orang-orang ini adalah rekan kerjaku di bengkel!"

Kans-san berteriak kesal, tapi petani kenalan Kans-san bertanya dengan heran.

"Danzou tidak bersamamu? Apa terjadi sesuatu?"

"...Ada sedikit alasan. Tapi, dia baik-baik saja, kok."

Kans-san sempat tertegun sejenak, tapi dia menjawab dengan suara lantang agar mereka tidak khawatir.

"Kalau dia sehat ya syukurlah. Cepatlah temui Dai-san."

"Tidak, pertama-tama—"

"Mari kita ke rumah Kans-san dulu."

Kans-san sepertinya ingin mengajak ke rumah Danzou-san, tapi aku mengusulkan hal itu.

Yurishia-san dan Lise-san pun mengangguk setuju.

"Terima kasih, Kuruto," ucap Sina-san padaku, padahal menurutku ini bukan sesuatu yang perlu dipuji.

Mengejar Danzou-san sekarang pun tidak akan terburu, dan seperti kata Mimiko-san, kecil kemungkinan Mire-san dalam bahaya, jadi tidak ada gunanya panik.

Selain itu, aku juga ingin memberi salam kepada orang tua dari dua orang yang sudah banyak membantuku ini.

◆◇◆

Aku—Yurishia—bersama Kuruto dan yang lainnya memasuki desa dipandu oleh Kans.

Desa yang sangat tenang.

Mengingatkanku pada desa peternakan babi tempat aku pertama kali pergi bersama Akuri.

Kakek tua yang sok jadi peramal itu, apa dia sehat-sehat saja ya?

Dulu saat disuruh membasmi Raja Iblis sebagai pahlawan, aku pikir itu konyol, tapi ternyata aku benar-benar mengalahkan Raja Dewa Iblis.

Kelak, jika Kuruto sudah pensiun sebagai Atelier Meister, pindah ke desa terpencil seperti ini dan hidup santai berdua sepertinya tidak buruk juga.

Saat aku sedang berimajinasi meminum teh buatan Kuruto di halaman dengan santai—

"Yuri-san, kau tidak sedang berpikir ingin hidup santai berdua saja, kan? Kursi istri Tuan Kuruto bukan hanya milikmu sendiri, lho."

"Sudah lama ya, tapi berhentilah membaca pikiranku, Lise."

"Itu karena Yuri-san selalu berfantasi yang berlebihan."

Biarkanlah aku bersenang-senang di dalam imajinasiku sendiri.

Tiba-tiba aku menoleh, di tengah desa tampak seorang anak sedang menimba air dari sumur.

Kelihatannya sangat berat.

Haruskah kubantu—

"Tunggu sebentar, biar aku bantu! Sebentar saja kok!"

Kuruto adalah yang pertama kali berlari membantu.

"Luar biasa, Tuan Kuruto."

"Benar ya. Dia tidak bisa membiarkan orang yang kesulitan."

Gara-gara sifat itu juga dia sering terlibat dalam berbagai insiden—

"Maaf menunggu lama."

"Kuruto, selamat dat—eh? Kau baru saja melakukan apa?"

"Eh? Apa maksudnya? Aku baru saja membuatkan pompa tangan."

Dalam sekejap, sebuah alat yang asing telah terpasang di sumur tersebut.

Si anak dengan gembira menekan tuas pompa, dan air pun keluar.

Sepertinya itu sistem praktis yang membuat seember air bisa keluar seketika.

Mungkin alat itu masih lebih masuk akal dibandingkan alat sihir di bengkel yang hanya perlu memutar tuas agar air terus mengalir.

"...Orang desa pasti senang. Terima kasih, Kuruto."

Kans berkata dengan tawa yang dipaksakan.

Kalau kami terlalu lama di sini, desa ini pasti akan berubah menjadi desa yang luar biasa gara-gara Kuruto.

 

Rumah Kans berada di bagian dalam desa.

Di depan rumah ada seekor anjing putih besar yang langsung berlari ke arah kami saat melihat kami datang.

Semangatnya luar biasa.

Meski sepertinya ini bukan sekadar menyambut majikan yang sudah lama pulang.

"Aku lupa! Berhati-hatilah! Dia punya kebiasaan membenamkan wajahnya ke selangkangan kalau melihat wanita cantik!"

"Eh?!"

Saat Kans berkata begitu, aku dan Lise refleks memasang pertahanan dengan tangan.

Wanita cantik—yah, meski malu disebut begitu, tapi—

"Waah?!"

Suara yang terdengar justru berasal dari Kuruto.

Si anjing malah membenamkan wajahnya ke selangkangan Kuruto.

"He-Hentikan."

"Pes, lepaskan! Lagi pula Kuruto itu laki-laki! Duh, kuat sekali tenaganya."

"Lepaskan dia, Pes!"

Sina dan Kans berusaha sekuat tenaga menarik si anjing menjauh dari Kuruto.

...Entah kenapa, aku merasa kalah sebagai seorang wanita.

"Anjing itu... padahal aku saja belum pernah membenamkan wajah ke bagian berharga Tuan Kuruto—"

Dan Lise, jangan cemburu pada seekor anjing.

Aku pun belum pernah mengalaminya.

"Ada apa, Pes... kau bersemangat sekali, apa ada gadis cantik yang datang? Ara? Kans dan Sina, kalian pulang?"

"Kami pulang, Ibu."

Yang keluar dari pintu depan adalah seorang wanita yang tampak berwatak keras, yang wajahnya agak mirip dengan Kans.

Sepertinya dialah ibu mereka.

"Astaga, bukankah sudah kubilang hubungi dulu kalau mau pulang? Dan siapa orang-orang ini?"

"Akan kuperkenalkan. Ini Yurishia-san dan Lise-san yang menjagaku di bengkel."

"Dan dia ini Kuruto-kun."

Kans dan Sina memperkenalkan kami.

"Salam kenal, saya Yurishia."

"Saya Lise. Saya tunangan Tuan Kuruto."

"Aku juga tunangan Kuruto."

Gara-gara Lise menambahkan gelar yang tidak perlu, aku pun jadi ikut-ikutan menyainginya.

"Saya Kuruto. Kans-san dan Sina-san sudah banyak membantuku."

"Heh, untuk ukuran rekan kerja kalian, dia anak yang sopan ya. Namaku Madona. Masuklah ke dalam. Aku akan panggil Ayah dulu."

Sambil berkata begitu, Madona-san—ibu Kans—pergi ke arah belakang rumah.

...Bukankah itu—

"Maaf ya, ibuku memang seperti itu."

"Tidak, dia ibu yang sangat hebat."

"Benar. Tapi, apa mereka benar-benar petani?"

Aku bergumam tanpa sadar.

Dilihat dari cara jalannya saja sudah ketahuan.

Dia bukan orang biasa.

Mungkin dia setara atau bahkan lebih kuat dari Kans saat pertama kali aku bertemu dengannya?

"Aku belum bilang ya. Orang tuaku dulunya adalah pasangan petualang."

"Katanya sebelum aku lahir, Ibu sering berburu Orc sambil menggendong Kakak di punggungnya."

Kans dan Sina memberitahu kami.

Berburu Orc sambil menggendong anak, luar biasa tangguhnya.

Kuharap setidaknya dia menunggu sampai leher bayinya tegak, tapi tetap saja hebat.

...Eh? Tapi aku juga sering bertarung melawan iblis dan setan bersama Akuri, jadi aku tidak berhak membicarakan orang lain, kan?

Mari mawas diri.

"Kans, Sina, kalian pulang ya."

Beberapa saat kemudian, ayah Kans kembali bersama Madona-san. Tubuhnya jauh lebih besar dan berotot dibandingkan Kans maupun Madona-san.

Dia sepertinya lebih kuat dari Madona-san, tidak, mungkin lebih kuat dari Kans yang sekarang.

Melihat mereka berdua, aku jadi berpikir bagaimana bisa Sina yang bertubuh ramping itu lahir dari mereka.

"Selamat datang para tamu, namaku Dai. Tidak ada apa-apa di desa ini, tapi kami menyambut kalian."

Saat kami membalas sapaan itu, Kans malah mengatakan hal yang tak terduga.

"Ayah, apa kau agak kurusan?"

Begini dibilang kurus?!

"Ah. Akhir-akhir ini panen kentang sedang buruk. Mungkin tanahnya kurang bagus. Jadi, ada apa? Kalau hanya sekadar pulang kampung, aneh kalau Danzou tidak ada. Apa yang terjadi?"

"...Ada sedikit masalah. Aku tidak bisa cerita detailnya, tapi Danzou menghilang dan kami perlu mengejarnya. Kami datang untuk mencari petunjuk."

"Begitu—kalau tidak bisa cerita detail, aku tidak akan bertanya. Kebetulan sekali, aku yang mengelola rumahnya."

Setelah berkata begitu, Dai-san mengambil kunci sederhana dari lemari dan melemparkannya kepada Kans.

Ternyata rumahnya dikunci ya.

Ini sangat membantu.

Meski kurasa Kuruto bisa membuka kunci apa pun hanya dengan seutas kawat, tapi mengingat sifat anak ini, dia pasti akan bilang, "Kalau ada yang mengelola, tidak boleh masuk sembarangan, kan? Mari kita cari orangnya untuk meminjam kunci," dan kami harus berkeliling mencari kuncinya.

"Kalau begitu, aku akan pergi melihat sebentar."

"Sina, antarkan mereka."

Setelah Dai-san berkata begitu, dia mencengkeram lengan Kans.

"Pas sekali, Kans, ikutlah denganku. Aku butuh lawan untuk latihan tanding setelah sekian lama."

"Eh? Tung-Tunggu dulu, Ayah. Aku—"

"Jangan berisik. Kita sudah lama tidak bertemu, lakukanlah sedikit bakti pada orang tuamu."

Kans pun terseret oleh Dai-san tanpa bisa melawan.

"Sina-san?! Apa Kans-san akan baik-baik saja?"

Kuruto tampak cemas, mungkin karena dia belum pernah melihat percakapan orang tua dan anak yang seperti itu.

Aku pun sedikit merasa ngeri.

"Tidak apa-apa. Ayah pasti bisa melumpuhkannya tanpa perlu mematahkan tulang, kok. Lebih baik kita ke rumah Danzou."

Sina berbicara seolah hal itu sudah menjadi makanan sehari-hari, lalu mengantar kami ke rumah Danzou.

Apa benar-benar akan baik-baik saja?

 

Rumah Danzou terletak di pinggir sungai.

Sungainya mengalir tenang dan jernih, sampai-sampai ikan kecil pun terlihat jelas.

Di Valhalla, tempat bengkel kami berada, juga ada sungai, tapi hak penangkapan ikan di sana dimonopoli oleh Serikat Pelayaran (padahal itu sungai!), jadi kami tidak bisa memancing.

Di sana juga ada gubuk kerja untuk menumbuk padi yang dilengkapi dengan kincir air.

"Kincir air yang megah ya."

"Kincir ini dibuat dan dikelola oleh ayah Danzou. Saat panen gandum melimpah, kami biasanya memanggang roti dari gandum yang ditumbuk di sini lalu berpesta pora."

Sina bercerita dengan nada rindu.

"Setelah kami meninggalkan desa, sepertinya orang-orang desa bergiliran mengelolanya—nah, kuncinya sudah terbuka."

Sina membuka kunci dan masuk ke dalam.

Debu yang terkumpul cukup banyak, menunjukkan bahwa tempat itu sudah lama tidak digunakan.

"Bukunya cukup banyak ya."

Aku mengambil satu buku dari rak.

Kisah petualangan dari Negeri Yamato, ya.

Meski begitu, buku bukanlah barang murah. Terutama di desa terpencil seperti ini, seharusnya sulit didapat...

Seolah menyadari keraguanku, Sina angkat bicara.

"Katanya ayah Danzou itu kutu buku. Danzou juga belajar membaca menggunakan buku-buku itu. Lalu, sebelum keluar desa, aku dan Kakak diajari membaca menggunakan buku-buku itu."

"Begitu rupanya, buku ini dirancang agar mudah untuk belajar membaca ya. Dalam satu buku ini sudah mencakup semua kata yang dibutuhkan sehari-hari."

Kuruto berkata sambil melihat buku itu dari samping.

Jadi itu buku semacam itu ya?

Hanya saja—

"Kuruto, tidak ada ruang rahasia di balik dinding atau di bawah lantai, kan?"

"Iya, tidak ada apa-apa di kedua tempat itu."

Kalau Kuruto yang bilang, berarti memang tidak ada ruang rahasia.

Sepertinya di ruangan ini pun tidak ada petunjuk soal ke mana Danzou pergi, rasanya ini pencarian yang sia-sia.

Yah, sedari awal aku memang tidak terlalu berharap banyak.

"Sepertinya tidak ada apa-apa ya. Mari kita ambil bukunya saja untuk berjaga-jaga."

"Benar. Selanjutnya, mari kita cari di ruang bawah atap."

"Eh?"

Ruang bawah atap?

Saat aku menengadah, itu hanya langit-langit rumah biasa.

Tidak ada tempat yang aneh, tapi—Kuruto mengeluarkan seutas tali dengan pengait di ujungnya dari dalam tas, memutarnya, lalu melemparkannya ke langit-langit.

Begitu pengaitnya tersangkut di bagian langit-langit, papan penutupnya terlepas dan sebuah tangga tali jatuh ke bawah.

Aku sama sekali tidak menyadarinya.

Begitu menaiki tangga, ternyata di sana benar-benar ada sebuah ruangan.

"Tuan Kuruto, bagaimana Anda bisa tahu?"

"Dilihat dari bentuk rumahnya. Kalau dilihat sepintas dari luar memang sulit dikenali, tapi ada sesuatu yang mirip cerobong asap. Namun, karena tidak ada lubang itu di langit-langit bawah, aku pikir pasti ada lantai dua. Lalu, aku melihat papan langit-langit yang sepertinya sudah sering dibuka-tutup, jadi aku yakin itu tempatnya."

Cerobong asap di atap?

Apa tadi terlihat? Saat aku melirik Lise dan Sina, mereka berdua juga menggelengkan kepala.

Memang daya observasi Kuruto luar biasa.

Padahal begitu, kenapa dia tidak sadar kalau dirinya sendiri dan Desa Haste itu luar biasa... yah, kalau dia sadar, dia akan kehilangan kesadaran dan ingatan sehari penuh, jadi repot juga sih kalau dia sadar.

Pokoknya, sekarang ruangan bawah atap ini.

"Ada bekas sesuatu yang dibakar ya."

"Sepertinya kertas. Mungkin saja itu dokumen penting, tapi—"

"Kalau begitu, mari kita kembalikan ke bentuk semula."

Sambil berkata begitu, Kuruto mengumpulkan abu tersebut lalu meneteskan semacam cairan obat. Setelah melakukan ini-itu, abu tersebut kembali menjadi kertas.

Yah, kalau cuma tingkat begini, aku sudah tidak kaget lagi.

"Kuruto, apa ini benar-benar sudah kembali? Aku sama sekali tidak bisa membacanya."

Pada kertas panjang yang kembali utuh itu, ada tulisan yang ditulis miring, tapi seperti kata Sina, itu tidak membentuk kalimat.

Apa ini semacam kode?

Misalnya, menggeser satu huruf, atau dua huruf membentuk satu arti.

"Aku yakin kita harus menggunakan tongkat ini."

Kuruto berkata demikian sambil mengeluarkan sebuah tongkat entah dari mana.




"Lalu, dari mana sebenarnya kau mengeluarkan benda itu?"

"Ini, aku mengembalikan batang kayu yang tadinya mau dipakai jadi kayu bakar ke bentuk aslinya."

"Begitu ya. Jadi kau mengembalikannya, ya..."

Kalau dia bisa mengembalikan kertas, mengembalikan kayu bakar ke bentuk semula tentu perkara mudah, kan?

"Kertas ini punya lubang di sini, kan? Di batang kayu ini juga ada. Jadi, kalau kita sejajarkan lubangnya lalu melilitkan kertas ini ke batang kayunya seperti ini—nah, kalimatnya muncul."

Benar-benar menjadi sebuah kalimat.

Tapi, sebenarnya apa yang tertulis di sana?

"NINMUMIKADONOKOUKEIHAKKENSHISUMIYAKANITOUGENKYOUHE."

……Apa-apaan ini?

'Misi, temukan pewaris Kaisar, segera menuju Tougenkyou'…… mungkin begitu maksudnya?

"Kaisar itu bukannya sebutan untuk pemimpin di Negeri Yamato, ya? Jadi maksudnya, kalau sudah menemukan pewarisnya, harus dibawa ke Tougenkyou? Karena Mire adalah pewaris Kaisar, dia dibawa ke tempat bernama Tougenkyou…… begitu? Kuruto, apa kau mengerti sesuatu?"

"Maaf. Yang aku tahu hanyalah tulisan ini dibuat sekitar tiga tahun lalu, dan ini bukan tulisan tangan Danzou-san. Sepertinya ini ditulis oleh seseorang yang usianya sebaya dengan Danzou-san."

Kau malah tahu terlalu banyak.

Profiling macam apa itu.

Namun, ini jelas-jelas adalah instruksi dari seseorang.

Danzou bergerak atas perintah seseorang.

Pasti dia adalah mata-mata yang bekerja di negara ini.

Kudengar ada tipe mata-mata yang menghabiskan waktu beberapa generasi di tempat yang sama, hidup membaur dengan lingkungan sekitar.

Kalau dipikir-pikir, alasan dia membangun gubuk kincir air dan tinggal di sebelahnya jadi masuk akal.

Saat proses menumbuk gandum, orang-orang punya waktu luang, jadi mereka akan mulai mengobrol jika sudah berkumpul.

Meski hanya obrolan ringan yang tidak jelas ujung pangkalnya, informasi penting bisa saja tersembunyi di dalamnya.

"Yuri-san, ada catatan menarik di buku tadi. Katanya, di Negeri Yamato ada tempat bernama Tougenkyou, sebuah tempat di mana bunga persik mekar sepanjang tahun."

Lise berkata sambil melihat buku kisah petualangan yang dibacanya tadi.

"Jadi Tougenkyou yang dimaksud adalah tempat itu…… tapi bukankah buku itu fiksi?"

"Meskipun fiksi, pasti ada tempat asli yang menjadi dasar legendanya."

Perkataan Lise ada benarnya juga.

Saat aku sedang berpikir, Kuruto kembali melakukan sesuatu.

"Kuruto, apa yang kau lakukan?"

"Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan di sini."

"Di dalam dinding?"

Kuruto mencopot selembar papan dinding.

Lalu, selembar kertas keluar dari sana.

Menyembunyikannya di tempat seperti ini, pasti informasi penting—

"Apa ini kode juga?"

Kali ini bahkan tidak berbentuk huruf, melainkan coretan meliuk-liuk seperti cacing tanah.

Apa sebenarnya—

"W-Waaaaah?! Kenapa?! Kenapa benda ini ada di sini?!"

"Sina, kau tahu ini apa?"

"Ini tulisan yang kubuat saat pertama kali berlatih di tempat Danzou. Padahal dia bilang sudah membuangnya."

"Kalau yang ini?"

"Itu tulisan Kakak."

Sina berkata dengan wajah malu.

Kalau itu tulisan pertama mereka, wajar saja bentuknya jadi begitu.

"Tapi, kenapa disembunyikan di tempat seperti ini?"

"Mungkin karena dia takut kalau ketahuan, Sina-san akan membuangnya? Bagi Danzou-san, kertas-kertas ini pasti merupakan kenangan berharga bersama Sina-san dan Kans-san."

Begitulah kata Kuruto.

"……Danzou."

Wajah Sina menunjukkan ekspresi yang entah senang atau malu. Tidak, mungkin dia merasakan keduanya secara bersamaan.

Begitu juga dengan Danzou.

Meskipun dia seorang mata-mata, sosoknya saat menghabiskan waktu bersama kami di bengkel tidak sepenuhnya palsu.

"Yurishia-san, Lise-san, Kuruto…… tolong bawa Danzou kembali."

"Serahkan pada kami."

"Iya, kami pasti akan membawanya pulang."

"Tentu saja. Karena kita adalah teman."

Informasi yang bisa dikumpulkan sudah cukup.

Tujuan kami adalah tempat bernama Tougenkyou.

Pasti tempat asalnya ada di suatu tempat di sana.

 

Setelah kembali ke rumah Sina, kami memberitahu Kans yang tampak kelelahan di depan rumah dan Dai-san yang terlihat masih segar bugar bahwa kami akan pergi ke Yamato.

"—Jadi, kami akan langsung menuju Yamato. Sina, Kans, karena sudah lama tidak pulang, apa kalian mau tetap di desa saja?"

Karena sepertinya sudah lama mereka tidak pulang, aku pikir itu pilihan yang lebih baik. Namun setelah saling berpandangan, mereka berdua mengangguk.

"Mungkin sebaiknya begitu."

"Yurishia-san, aku titip Danzou, ya."

"Tenang saja. Aku akan membawanya kembali meski harus mengikatnya dengan tali."

Ngomong-ngomong, selagi kami berbincang, Kuruto bertanya pada Dai-san, "Apa kondisi ladangnya kurang baik?", lalu meminjam cangkul dan mencangkul ladang itu dalam sekejap.

Bahkan setelah menanam bibit kentang dan menaburkan sesuatu, tiba-tiba muncul ladang kentang yang sepertinya sudah siap panen. Yah, kejadian yang sudah biasa bagi kami.

Kuruto menghampiri kami tanpa menyadari Dai-san yang terpaku dengan mulut menganga lebar seolah rahangnya mau lepas.

"Yurishia-san, apa pembicaraannya sudah selesai?"

"Sudah selesai. Omong-omong, apa energi kristal sihir untuk menerbangkan pesawat ini masih cukup?"

Aku sempat mendengar saat perjalanan kemari bahwa pesawat ini menggunakan kekuatan sihir dari kristal sihir.

"Iya. Kekuatan sihirnya masih penuh. Aku juga punya peta dalam negeri Yamato jadi kita bisa lewat jalur tercepat, tidak ada masalah."

"Kau punya petanya?"

Negeri Yamato adalah negara yang sangat jarang dimasuki orang asing, seharusnya tidak ada petanya.

Apalagi selama beberapa ratus tahun terakhir mereka melakukan kebijakan penutupan negara yang disebut Sakoku, di mana selain wilayah tertentu, orang tidak boleh masuk tanpa izin. Bahkan Mimiko saja tidak bisa menyiapkan petanya.

"Sepertinya dulu Ayah dan Ibu pernah tinggal di sana."

"Kalau dipikir-pikir, penduduk Desa Haste memang pindah setiap sepuluh tahun sekali dan berkeliling dunia, ya."

Berarti itu peta dari seribu dua ratus tahun yang lalu.

Memang pada masa itu kebijakan Sakoku belum diberlakukan.

Jika hanya untuk melihat bentang alam seperti gunung dan sungai, peta itu masih bisa digunakan.

"Bisa perlihatkan petanya?"

"Ini."

Peta yang sangat mendetail.

Bahkan peta strategi militer sekalipun mungkin tidak akan sedetail ini.

Benar-benar barang istimewa khas Desa Haste.

"Beberapa nama kota dan desa yang tertulis di buku di rumah Danzou-san juga ada di sini. Kalau begitu, Tougenkyou kira-kira ada di sekitar sini, ya?"

Lise menentukan perkiraan lokasinya.

"Kalau naik pesawat kita bisa cepat sampai, tapi…… itu bakal gawat, kan?"

"Karena itu termasuk masuk negara secara ilegal. Kalau hanya melintas di angkasa dengan ketinggian yang tidak bisa dikenali dari darat sih tidak masalah, tapi kalau mau turun dan mencari informasi, aku ingin masuk lewat jalur resmi."

"Kalau begitu, kita harus masuk lewat Pelabuhan Nasagaki, satu-satunya pelabuhan yang bisa dimasuki orang asing. Jarak ke tempat yang diduga Tougenkyou itu cukup jauh kalau berjalan kaki."

"Soal itu, mari kita pikirkan setelah masuk ke sana," ucap Lise.

Kalau dipikir-pikir, besar kemungkinan Danzou juga masuk lewat Pelabuhan Nasagaki. Mungkin kita bisa mendapatkan informasi di sana.

Mari kita berangkat dulu.

"Dai-san, terima kasih atas tumpangannya. Kans, Sina, kalau ada apa-apa hubungi lewat Nieche."

"Baik."

Dahan Nieche sudah ditanam di dekat tempat pesawat disembunyikan.

Jaringan komunikasi Nieche semakin luas saja, ya.

 

Aku berangkat menuju Negeri Yamato bersama Kuruto, Lise, dan dua orang Phantom di dalam pesawat.

Ngomong-ngomong, dua orang Phantom itu benar-benar tidak disadari keberadaannya……

Di tengah perjalanan, karena malam telah tiba, kami turun ke darat untuk berkemah.

Karena Kans dan Sina sudah turun, ruang di dalam pesawat jadi terasa lebih lega. Ditambah lagi, selama kami tidur, para Phantom berjaga secara bergantian, membuat kemah ini terasa jauh lebih nyaman dibanding kemah biasa.

Masakan yang dibuat Kuruto juga seperti biasa, rasanya luar biasa enak.

Lalu, keesokan paginya, tepat saat matahari mulai terbit, pesawat kembali lepas landas.

Kami menjaga ketinggian di mana daratan masih bisa terlihat samar-samar, namun dari darat kami hanya akan terlihat seperti burung yang aneh.

Di tengah situasi itu, Lise mengajak Kuruto berbicara.

"Apa Anda tidak apa-apa terus-menerus mengemudi?"

"Mesin pesawatnya sudah stabil, dan kalau begini terus kita tidak perlu menggunakan sistem pendingin mesin. Kita bisa terbang sampai tujuan dengan aman."

"Bukan soal pesawatnya, aku mengkhawatirkan kondisi kesehatan Tuan Kuruto. Apa Anda tidak lelah?"

"Kalau soal itu, aku tidak apa-apa, kok. Kemarin aku sudah tidur nyenyak."

Aku merasa tidak enak membiarkan Kuruto terus mengemudi, tapi masalahnya selain dia tidak ada yang tahu cara mengoperasikan pesawat ini.

Aku kagum si Danzou itu bisa mempelajari cara mengemudikannya.

……Dia tidak jatuh di tengah jalan, kan?

Aku jadi sedikit khawatir.

Bukannya meragukan performa pesawat buatan Kuruto, tapi aku ingin bukti kalau Danzou memang lewat sini.

……Ngomong-ngomong, udaranya terasa agak dingin.

"Mulai terasa dingin, ya."

Lise sepertinya merasakan hal yang sama.

"Iya. Karena daerah ini adalah dataran tinggi. Agar tidak terlihat dari darat, mau tidak mau kita harus terbang di tempat yang tinggi, jadi suhunya juga jadi rendah."

Katanya suhu di sini sekitar dua puluh derajat lebih rendah dibanding desa Kans dan yang lainnya.

"……Begitu ya, mungkin saja."

Tiba-tiba, Kuruto berkata seolah terpikirkan sesuatu.

"Yurishia-san, bolehkah aku mendaratkan pesawat di sekitar sini?"

"Hm? Boleh saja, kita memang butuh sedikit istirahat."

"Bukan, aku ingin mencari informasi di desa terdekat. Jika melihat jalur penerbangannya, besar kemungkinan Danzou-san juga melewati daerah ini."

Mencari informasi?

Tapi pesawat yang dinaiki Danzou dan Mire hanya untuk dua orang.

Lebih kecil dari pesawat yang kami tumpangi.

Mungkin kalau dilihat dengan saksama akan ketahuan, tapi—

"Bahkan jika Danzou memang lewat sini, belum tentu penduduk desa melihat pesawatnya, kan?"

Maksudku, kemungkinan besar mereka tidak melihatnya.

Mencari informasi pun rasanya akan sia-sia.

"Tidak, meskipun mereka tidak melihat pesawatnya, aku bisa tahu apakah dia lewat sini atau tidak."

"Kau bisa tahu meski mereka tidak melihat pesawatnya?"

"Tuan Kuruto, apa itu benar?"

Saat kami bertanya, Kuruto mengangguk mantap.

Aku tidak mengerti maksudnya, tapi kalau itu bisa memastikan apakah Danzou benar-benar lewat sini, aku pun setuju.

Kami berputar lalu turun perlahan, dan mendaratkan pesawat di tempat yang berjarak sekitar satu kilometer dari desa.

Begitu keluar dari pesawat, udaranya terasa cukup menusuk.

Karena kami sudah menyiapkan pakaian musim dingin di dalam pesawat, kami memakainya lalu berjalan menuju desa.

Saat sedang berjalan menuju desa—tiba-tiba sekelompok pria, yang kemungkinan penduduk desa, berlari ke arah kami dengan wajah pucat sambil membawa peralatan tani.

Ada apa ini?

Jangan-jangan ini desa tertutup yang mengusir orang asing? Aku waspada, tapi sepertinya mereka tidak punya niat jahat pada kami.

"Kalian, apa kalian pelancong? Di sini bahaya!"

"Bahaya? Ada apa memangnya?"

Aku maju selangkah dan menjawab.

"Ada monster aneh yang muncul di dekat sini!"

"Monster seperti itu belum pernah terlihat sebelumnya."

"Pasti itu monster pembawa bencana."

Aku kehilangan kata-kata.

Bukan karena takut pada monster itu.

Tapi karena secara instan aku menyadari bahwa yang mereka maksud kemungkinan besar adalah pesawat yang kami tumpangi.

"…………Hm?"

Tapi di saat yang sama, aku merasa aneh.

Kami baru saja sampai di sini dengan pesawat.

Meski butuh waktu saat berputar untuk mendarat, tetap saja belum lewat sepuluh menit.

Lalu, kenapa mereka semua sudah siap dengan alat tani? Seolah-olah mereka sudah bersiap menyambut sesuatu yang mencurigakan yang mendekat.

"Kejadian kemarin itu, pasti gara-gara monster juga."

"Benar. Karena aku belum pernah melihat yang seperti itu."

Para penduduk desa mulai bergumam.

Begitu ya, kemarin ada semacam pertanda munculnya monster, jadi penduduk desa sudah waspada.

Mungkinkah itu gara-gara pesawat yang dinaiki Danzou?

Suasana di sini menunjukkan bahwa seluruh penduduk desa menyaksikannya.

"Anu, 'itu' apa yang dimaksud?"

"Awan."

"Awan?"

Aku menengadah ke langit.

Ada awan besar yang mengapung, tapi tidak ada yang aneh.

"Kira-kira kemarin sore, ya? Ada awan putih yang panjang dan ramping mengambang di langit."

"Seumur hidup, aku belum pernah melihat awan sepanjang itu."

"Pasti itu buatan monster."

Aku belum pernah mendengar ada monster yang menciptakan awan, tapi di desa yang jauh dari kota seperti ini, perubahan kecil di langit pun sering dianggap sebagai pertanda munculnya monster.

Dulu saat aku masih jadi petualang, ada desa yang meminta pembasmian monster karena mereka melihat banyak bintang jatuh yang dikira pertanda monster muncul.

Menurut cerita dari Mimiko, itu hanyalah periode hujan meteor yang terjadi beberapa tahun sekali.

Tapi, sial juga ya.

Kalau kondisi desa seperti ini, sulit untuk mencari informasi—

Tepat saat aku berpikir begitu, Kuruto berbisik pelan.

"Danzou-san pasti melewati angkasa di atas desa ini."

Bagaimana dia bisa tahu dari percakapan barusan?

Sambil berpikir begitu, aku kembali menghadap penduduk desa.

"Terima kasih atas informasinya. Ini sebagai imbalan."

Bukan imbalan sih, tapi lebih ke uang tutup mulut atau uang kompensasi karena sudah mengganggu, aku memberikan sebuah kotak kayu kecil.

Mata uang Kerajaan Homuros tidak bisa digunakan, dan aku tidak punya mata uang daerah sini, jadi aku memberikan barang bawaan sebagai gantinya.

"Ini garam kristal? Apa tidak apa-apa kami menerima sebanyak ini?"

"Tidak masalah."

"Terima kasih banyak, daerah sini tidak ada tambang jadi ini sangat membantu. Sebenarnya kami ingin menjamu kalian di desa, tapi—"

"Tidak perlu, kondisi desa sedang sulit, kan. Jangan dipikirkan."

Setelah berkata begitu, aku pergi bersama Kuruto dan yang lainnya melewati jalan saat kami datang tadi.

"Jadi, Kuruto. Apa kau yakin Danzou lewat sini?"

"Iya. Awan yang mereka bicarakan tadi, aku yakin itu awan buatan pesawat Danzou-san."

"Awan bisa dibuat secara buatan?"

"Iya. Itu tercipta karena sistem pendingin mesinnya."

Pesawat buatan Kuruto jika terbang terlalu lama akan membuat mesinnya panas.

Untuk mendinginkan panas tersebut, alat sihir akan menciptakan air.

Katanya, saat air itu menguap dan dikeluarkan dari pesawat, awan bisa terbentuk.

"Suhu dan kelembapan sangat penting agar uap air bisa langsung berubah jadi awan. Dan daerah ini memenuhi kondisi tersebut."

"Jadi, penduduk desa tadi salah sangka kalau awan buatan pesawat Danzou itu adalah buatan monster, ya."

Aku lega mendengar Danzou melewati angkasa di atas desa ini.

Dengan ini, terbukti bahwa tindakan kami menuju Negeri Yamato tidaklah salah.

"Tapi repot juga ya. Kalau kita terbang lagi dengan pesawat, pasti akan jadi keributan."

"Aku akan menggunakan bayangan kupu-kupu untuk membuat pesawat ini tidak terlihat. Karena ukurannya besar, sulit untuk menghilangkannya dalam waktu lama, tapi harusnya bisa sampai kita lepas landas ke angkasa."

Pedang sihir Kochou milik Lise bisa menciptakan ilusi.

Kelihatannya berat, tapi sepertinya itu satu-satunya cara.

 

Setelah itu, kami melanjutkan penerbangan dan pesawat kami mendarat di perairan dekat Negeri Yamato.

Sebab jika kami mendekat lewat udara, kami bisa-bisa dihujani anak panah.

Katanya pesawat ini juga bisa jadi kapal, dan saat kami bergerak di atas laut, bayangan pulau mulai terlihat.

"Itu ya Negeri Yamato. Rasanya benar-benar seperti sudah sampai di ujung paling timur dunia."

"Iya…… aku juga berpikir begitu sebelum melihat 'itu'."

Ujung paling barat dunia adalah Wilayah Iblis, dan paling timur adalah Negeri Yamato.

Itulah pengetahuan umum di dunia ini, tapi jika pergi lebih jauh ke timur dari Negeri Yamato, ada benua lain.

Kami mengetahui hal itu setelah melihatnya dari permukaan bulan.

Penduduk Desa Haste sepertinya pernah pindah ke benua lain itu juga, jadi pasti ada penduduk di sana yang hidup dengan budaya yang berbeda dari kami.

"Nah, alasan apa yang harus kita pakai untuk berlabuh—"

Tepat saat aku bergumam, salah satu Phantom yang duduk di kursi belakang menyodorkan sebuah dokumen.

Ini, surat resmi?

Apalagi lengkap dengan stempel resmi Raja.

"Apa stempel ini asli?"

Menanggapi pertanyaanku, si Phantom mengangguk.

Tentu saja ya.

Memalsukan stempel Raja adalah kejahatan berat.

Sehebat apa pun Phantom, tidak, justru karena dia Phantom, dia tidak akan melakukan tindakan sebodoh itu.

Dengan ini kami resmi menjadi utusan Kerajaan Homuros, jadi berlabuh di Nasagaki seharusnya tidak masalah.

 

Kami berlabuh di Pelabuhan Nasagaki.

Berkat surat resmi Kerajaan Homuros, kami bisa berlabuh tanpa hambatan, namun kami tidak diizinkan keluar dari kota Nasagaki.

Oleh karena itu, untuk sementara kami menuju ke Wisma Tamu.

Sebab jika tidak pergi ke sana, kami akan dicurigai—untuk apa masuk ke kota membawa surat resmi kalau tidak ke Wisma Tamu?

"Kudengar Negeri Yamato punya budaya yang unik, tapi ternyata hanya sedikit aneh saja, tata kotanya terasa biasa."

"Tempat ini istimewa. Karena kota Nasagaki adalah perpaduan budaya benua dan Negeri Yamato. Misalnya, struktur bangunan itu konon dibangun merujuk pada gaya arsitektur Kekaisaran Gurumaku."

Lise menjelaskan padaku yang sedang melihat sekeliling.

"Berarti, pemandangan di luar kota ini benar-benar berbeda?"

"Iya. Meskipun negara ini hanya berjarak satu hari perjalanan kapal dari benua terdekat, budayanya sangat berbeda. Benar-benar seperti dunia lain."

"Meskipun budayanya unik, pasti ada warisan budaya dari negara lain, kan?"

"Itulah yang sama sekali tidak diketahui. Sejarah Negeri Yamato sudah lebih dari tiga ribu tahun, tapi tidak ada catatan sejarah sebelumnya."

Tidak ada catatan…… ya.

Setelah ribuan tahun, wajar saja jika catatan sejarah hilang.

Terutama karena Negeri Yamato menutup diri, mungkin saja keluarga Kaisar secara diam-diam mengelola informasi tersebut tanpa kita ketahui.

Selagi berbincang, kami tiba di tujuan.

"Ini adalah Wisma Tamu. Suasananya terasa tenang dan bermartabat, desainnya merupakan perpaduan arsitektur tradisional Yamato dan Gurumaku. Indah sekali ya, memiliki keindahan rumah Yamato yang menggunakan plester dan kayu, namun di beberapa bagian diberi dekorasi gaya barat?"

"Kenapa kau yang bangga begitu, Lise."

"Yang merancang Wisma Tamu ini adalah Ibu. Katanya beliau merancangnya sebelum menikah ke Kerajaan Homuros. Mungkin agak kurang tepat mengatakannya di saat seperti ini, tapi karena aku ingin melihatnya sekali saja, aku sedikit terharu."

"Tidak, aku juga berpikir desainnya sangat bagus. Aku senang bisa melihatnya."

Begitulah kata Kuruto.

Di depan Wisma Tamu ada pendekar pedang yang berjaga—bukan, di negara ini disebutnya Samurai, ya?—tapi begitu Lise mengungkapkan identitasnya dan menunjukkan surat resmi, kami langsung dipandu masuk dengan lancar.

Ruangan di dalam bangunan juga dilapisi karpet dengan perabotan gaya Kekaisaran Gurumaku.

Karena aku dengar ada ruangan dengan lantai dari anyaman rumput, aku merasa sedikit kecewa karena tidak melihatnya.

"Apa ini Castella dari Negeri Yamato? Aku pernah dengar dari Danzou-san, tapi baru pertama kali melihatnya."

Kuruto berkata begitu lalu memakan satu suap kue Castella yang disajikan sebagai camilan saat menunggu.

"Iya. Ini adalah kue yang berasal dari Kerajaan Homuros kami, namun mengalami evolusi unik hingga menjadi masakan yang benar-benar berbeda…… tapi sebenarnya ini apa sih. Di negaraku tidak ada kue seperti ini. Alih-alih evolusi unik, ini sih sudah jadi barang yang berbeda."

Lise mengeluh, heran, sekaligus memuji secara bersamaan.

Katanya, Negeri Yamato punya sifat unik yang mengambil budaya asing lalu mengembangkannya sendiri sesuka hati.

……Yah, memang enak sih.

Tapi—

"Kalau Castella ini dipanggang tipis, lalu diisi pasta kacang merah seperti yang kita buat untuk bakpao air panas, krim kocok, dan mentega, sepertinya bakal enak."

Kalau soal evolusi unik, Atelier Meister kami juga tidak mau kalah, ya.

Aku jadi ingin mencoba Castella buatan Kuruto.

Meskipun sepertinya itu jenis kue yang bakal bikin cepat gemuk.

Saat sedang berbincang seperti itu, seseorang berpakaian rapi masuk ke ruangan.

"Selamat datang, Tuan Putri dari Kerajaan Homuros. Namaku Osana, pemimpin yang mengelola kota ini."

"Salam kenal, Osana-doNo.Terima kasih atas sambutannya yang mendadak ini. Ini adalah barang-barang yang kami bawa sebagai tanda persahabatan. Silakan diterima."

Lise menyerahkan barang dagangan dari Kerajaan Homuros yang sudah disiapkan oleh Phantom.

Osana tampak senang, terutama gula yang sepertinya sangat populer di Negeri Yamato.

Setelah menyelesaikan urusan formal soal perdagangan di masa depan, rencananya kami akan pura-pura berwisata lalu diam-diam keluar dari kota ini—tapi.

"Ada sesuatu yang ingin saya perlihatkan kepada Tuan Putri."

"Kepada saya?"

"Benar…… ini adalah dokumen yang diserahkan oleh para ninja."

Melihat dokumen yang disodorkan itu, kepala kami langsung pening.

Itu adalah selebaran buronan untuk aku, Kuruto, dan Lise.

"Selebaran buronan kami…… Danzou-san, teganya sampai begini—"

Lise gemetar saat melihat selebaran buronan Kuruto.

Hadiahnya dua ratus keping emas Yamato.

Keping emas Yamato lebih tipis dari keping emas yang kami gunakan, namun ukurannya dua kali lebih besar.

Nilainya mungkin setara lima ratus keping emas biasa.

Aku tidak tahu apa alasan Danzou, tapi menyiapkan selebaran buronan karena dia sudah menduga kami akan mengejarnya, itu sih sudah keterlaluan.

Wajar saja kalau Lise marah—

"Teganya dia tidak punya jiwa seni sama sekali! Gambar ini bahkan tidak bisa mengeluarkan satu persen pun dari kehebatan Tuan Kuruto! Yah, meskipun gaya gambarnya punya keunikan tersendiri, sih!"

"Marahnya gara-gara itu?! Dan jangan kau masukkan selebaran itu ke dalam bajumu!"

Aku mengumpulkan tumpukan selebaran buronan lainnya yang ada di sana, lalu memukul kepala Lise.

"Lise-san. Ini adalah teknik melukis tradisional Negeri Yamato, lho. Kalau tidak salah, dulu Danzou-san pernah mengajariku teknik gambar bernama Ukiyo-e yang gayanya seperti ini."

Kuruto yang mengatakannya.

……Bukankah percuma kalau sketsa di poster buronan tidak mirip dengan orang aslinya?

Tapi tidak juga, ciri-ciri khususnya tertangkap dengan baik, dan yang terpenting, jumlah orang asing di Yamato itu sedikit.

Bagi orang yang jeli, mereka pasti akan langsung tahu.

Hadiahnya pun tertulis jelas: hanya untuk penangkapan hidup-hidup. Jika target mati, bukannya mendapat hadiah, si penangkap justru akan dihukum.

Alasannya pun disebutkan sebagai perlindungan bagi tokoh penting yang sedang melarikan diri, jadi tertulis instruksi agar tidak melukai kami.

Namun, ini justru merepotkan.

Kalau mereka datang untuk membunuh, kami bisa saja membalas dan menghabisi mereka. Tapi akan sulit membalas orang yang datang dengan niat untuk "melindungi".

"Apa benar Danzou-san yang mengatur pembuatan poster ini?"

Tiba-tiba, Kuruto menggumamkan pertanyaan itu dengan ekspresi heran.

"Melihat waktunya, siapa lagi kalau bukan dia?"

"Tapi, meski gambar ini menangkap ciri khas kita, rasanya hanya sebatas ciri khas saja."

Kalau dipikir-pikir lagi... karena gayanya yang unik, aku jadi tidak sadar, tapi gaya rambut Kuruto di sini berbeda, dan rambutku aslinya sedikit lebih panjang.

Danzou adalah pendekar pedang dengan kemampuan observasi yang hebat. Rasanya mustahil dia membiarkan kesalahan seperti itu terjadi.

Yang lebih membuatku penasaran adalah tidak adanya catatan apa pun mengenai Kochou milik Lise.

Dengan Kochou, penyamaran adalah hal yang sangat mudah.

Namun, ada kelemahan di mana jika seseorang menyentuh targetnya, penyamaran yang mengubah bentuk tubuh atau panjang rambut akan terbongkar.

Danzou pasti tahu soal itu, jadi kecil kemungkinan dia lupa menuliskan peringatan tersebut.

Kesannya seolah poster ini disiapkan oleh seseorang yang tahu tentang kami, tapi tidak tahu secara mendalam.

"Jadi, apa Anda akan menyerahkan kami?"

Lise menatap Osana dan bertanya langsung.

Akan sangat merepotkan jika Osana menjadi musuh kami di sini.

Ada berapa banyak prajurit di luar ruangan ini?

Membuat mereka semua pingsan lalu kabur ke luar—bahkan dengan menggunakan Kochou milik Lise sekalipun, itu akan menjadi misi yang sulit.

Tapi—

"Tidak, saya tidak berniat memicu konflik dengan Putri Kerajaan Homuros. Namun, tujuan Putri pasti berada di luar kota ini, bukan? Jika boleh, kami ingin Anda mengurungkan niat tersebut. Orang asing dilarang keluar dari kota ini. Mohon habiskanlah waktu Putri di dalam kota saja."

"……Baiklah. Terima kasih atas sarannya."

Lise menyampaikan kata-kata terima kasih, lalu kami pun meninggalkan wisma tamu.

Sekarang, apa yang harus kita lakukan?


Setelah itu, kami berkeliling ke toko-toko di sekitar sana untuk membeli pakaian serta aksesoris Negeri Yamato, lalu menuju penginapan.

"Ryokan ini mengingatkanku pada penginapan air panas di Etna."

"Wajar jika mirip. Penginapan air panas di Etna memang dibangun dengan citra ryokan Negeri Yamato sebagai modelnya."

Lise mengangguk saat aku berbicara sambil mengenang desa pemandian air panas tempat kami pergi bersama dulu.

Begitu dipandu masuk ke kamar, Lise mendongak menatap langit-langit.

"Bagaimana?"

"Lapor. Satu dari tiga orang telah kembali untuk melapor. Sepertinya mereka tidak masuk ke dalam penginapan."

Sesosok Phantom turun dari langit-langit dan memberikan laporan.

Kami memang diikuti terus sejak meninggalkan wisma tamu.

Gara-gara itu, kami tidak bisa bertindak gegabah dan gagal mengumpulkan informasi yang berarti.

Yah, tapi setidaknya urusan belanja jadi lancar jaya.

"Jadi, Lise. Kamu tidak mungkin belanja tanpa rencana, kan?"

"Tentu saja. Kita akan bergerak ke luar kota sambil menghilangkan hawa keberadaan dengan Kochou, tapi sulit jika harus terus-menerus menghilang. Karena itu, mari kita menyamar. Tuan Kuruto, apa Anda bisa meracik pewarna rambut hitam?"

"Bisa. Aku punya bahannya, jadi bisa segera kubuat."

"Lalu, apa ada obat untuk memanjangkan rambut?"

"Iya, aku masih punya sisa obat yang dulu pernah dipakai Yurishia-san."

Obat yang pernah kupakai.

Ah, obat yang kugunakan untuk mengembalikan rambutku yang kupotong saat menyamar jadi laki-laki dulu ya…… jangan-jangan.

Kuruto sepertinya juga menyadari hal itu, wajahnya berkedut ngeri—ekspresi yang sangat langka bagi dirinya.

"Lise-san, jangan-jangan penyamarannya—"

"Iya. Persis seperti yang Tuan Kuruto bayangkan."

Lise tersenyum lebar sambil mengeluarkan kimono wanita yang baru saja dibelinya.

Benar-benar senyuman yang sangat ceria.


Malam itu juga, kami meninggalkan penginapan sambil menghilangkan wujud dengan Kochou dan langsung keluar dari kota Nasagaki.

Sekarang kami berada di jalan raya menuju kota berikutnya.

Sambil berjalan di sana, bahu Kuruto tampak merosot lesu.

"Kenapa aku harus jadi begini lagi……"

"……Aku tidak tahu ini bisa menghiburmu atau tidak, tapi kamu terlihat cocok, kok, Kurumi."

Ya, Kuruto sedang menyamar sebagai perempuan seperti waktu itu.

Karena dulu Kuruto menggunakan nama samaran Kurumi, kali ini pun dia menggunakan nama yang sama.

Namun, Kurumi berambut hitam ini benar-benar gadis cantik yang tiada tara.

Karena dasarnya dia memiliki wajah yang netral, rambut hitamnya memberikan kesan misterius, menciptakan sosok gadis yang manis sekaligus cantik di saat yang bersamaan.

Dada yang rata—karena dia laki-laki, tentu saja dia tidak punya dada—berhasil tertutup sempurna berkat pakaian kimononya.

"Yurishia-san…… bukan, Yuki-san juga terlihat cocok."

"Terima kasih atas niat baiknya, tapi itu sama sekali tidak menghibur."

Saat Kuruto menyamar jadi perempuan, di saat yang sama aku juga menyamar jadi laki-laki.

Karena nama Yura yang kugunakan dulu tidak cocok di Negeri Yamato, namaku sekarang adalah Yuki.

Kimono yang kupakai bukan yang gemerlap seperti Kurumi, melainkan pakaian bergaya samurai seperti Danzou.

Suaraku juga sudah kuubah menjadi suara netral menggunakan alat sihir pengubah suara, dan aku menyembunyikan pedang kesayanganku, Setsuka, untuk kemudian menyandang sebuah katana.

"Lalu, kenapa kamu tidak ikut menyamar jadi laki-laki, Lise—bukan, Rie?"

Lise hanya melakukan penyamaran sederhana dengan mengenakan kimono gadis kota Negeri Yamato dan mengikat rambut hitamnya.

Sepertinya sekarang dia memutuskan untuk dipanggil Rie.

"Ara, tidak semua orang perlu menyamar secara ekstrem, kan. Lagipula, aku tidak punya pengalaman menyamar jadi laki-laki, kalau melakukan hal yang tidak biasa nanti malah ketahuan. Peran kita adalah, aku dan Kurumi-sama sebagai Geisha yang sedang berkeliling. Dengan penampilan ini, mencari informasi di bar akan jauh lebih mudah."

Menjadi Geisha membutuhkan keahlian khusus... tapi meski dia agak menyimpang, Lise adalah mantan anggota keluarga kerajaan, jadi dia pasti punya dasar dalam menyanyi dan menari.

Sedangkan Kuruto yang memiliki tingkat kecocokan SSS untuk bidang selain pertarungan pasti bisa menunjukkan berbagai macam seni pertunjukan.

Ini jauh lebih baik daripada menyuruhku bernyanyi dan menari.

Di samping Kurumi yang masih murung, aku berbisik bertanya pada Lise.

"……Jadi, kapan edisi terbaru majalah klub penggemar Kurumi-chan akan terbit?"

Aku tahu tabiat Lise.

Dia pasti sudah mengambil foto sebanyak gunung menggunakan alat sihir buatan Kuruto yang disebut "Kamera"—benda yang bisa membakar pemandangan ke atas kertas untuk disimpan.

Sudah pasti ini akan menjadi edisi yang layak disimpan selamanya.

"Jangan terburu-buru. Kita harus mengumpulkan cukup banyak materi visual, baru kita bicarakan setelah insiden ini selesai, Yuki-san."

Lise berkata demikian dengan mata yang berkilat penuh ambisi.

◆◇◆

Aku—Bandana—bukan, Rinoa, sedang memandang pemandangan dari Menara Sage.

Saat ini aku bekerja sebagai perwakilan pengelola Menara Sage ini.

Namun, begitu waktu sudah menyusul saat di mana Sang Sage Agung Akuri-sama berangkat di masa lalu, tugas paling sulit dan melelahkan yaitu pengelolaan takdir telah selesai, sehingga pekerjaanku sekarang hampir tidak ada.

Paling-paling hanya memeriksa apakah fungsi Menara Sage berjalan normal atau tidak.

(Padahal aku lebih suka kalau sibuk saja.)

Kalau luang, aku jadi terpikirkan banyak hal.

Tentang Sang Sage Agung dan yang lainnya yang berangkat ke Dunia Lama.

Sejujurnya, aku ingin ikut pergi.

Namun—tubuhku tidak cukup kuat.

Selama ini aku hanya bisa bertahan dengan berbagai cara, tapi akibat pengulangan Cold Sleep untuk memperpanjang usia dan bangun saat dibutuhkan, tubuh ini sudah ringkih.

Aku bisa bergerak normal seperti ini pun berkat murid Sage Agung—seperti ayah Hildegard, teman masa kecil Kuruto—yang pergi ke toko serba ada di Desa Haste untuk membelikan obat mujarab.

Jika tidak ada obat itu, tubuhku pasti sudah hancur sejak lama.

"Bertahanlah sedikit lagi, tubuhku. Sampai masalah di Dunia Lama selesai—setidaknya sampai Sang Sage Agung kembali."

Tepat saat aku menggumam sendiri, hal itu terjadi.

"Noah, aku sudah kembali. Apa ada perubahan?"

"Eh?"

Saat menoleh, di sana ada Sang Sage Agung dalam wujud seorang anak kecil.

Wujud itu berubah menjadi sosok dewasa dalam sekejap.

"Sage Agung-sama…… eh? Kenapa? Bukankah Anda harusnya berada di Dunia Lama?"

"Iya, ini berkat kekuatan Papa."

"Kur?"

Ternyata, dengan menanam dahan Nieche, terbentuk jaringan pada aliran nadi bumi yang memungkinkan teleportasi antar pangkalan di Dunia Lama, bahkan dengan Dunia Baru tempat kami tinggal sekarang.

Benar-benar tidak masuk akal.

"Padahal aku melepas kepergianmu karena berpikir mungkin tidak akan bertemu Sang Sage Agung selama bertahun-tahun lagi…… tapi, Sage Agung-sama, kenapa Anda kembali ke wujud dewasa?"

"Bukankah kau lebih suka wujud yang ini?"

Karena Sang Sage Agung adalah Roh Agung yang mengendalikan ruang dan waktu, memanipulasi usia fisiknya sendiri adalah hal sepele.

Saat ini dia menyerahkan tugas Sage Agung kepadaku dan kembali menjadi putri Kuruto dan yang lainnya, sehingga dia mengambil wujud anak-anak. Namun seperti katanya, bagiku, wujud dewasa Sang Sage Agung inilah yang paling benar.

"Ah, aku bahagia sekali. Baik karena Anda mengambil wujud ini, maupun karena Anda telah kembali dengan selamat."

"Maaf sudah membuatmu khawatir. Jadi, soal keadaan di Dunia Lama—"

Sang Sage Agung menceritakan kondisi di Dunia Lama.

Tentang keberadaan kemampuan khusus yang disebut Skill yang berbeda dari sihir, serta batu ajaib untuk menggunakannya.

Lalu, pembentukan peradaban unik berupa penghalang di area pemukiman.

Memang aku tahu ada fasilitas yang tersisa agar orang-orang di Dunia Lama bisa bertahan hidup selama beberapa tahun atau dekade, tapi kukira itu hanya bertahan untuk beberapa generasi saja.

Tak kusangka mereka bisa bertahan hingga zaman ini.

Keberadaan penghalang di area pemukiman juga mengejutkan.

"Apa penghalang semacam itu memang sudah ada dari dulu?"

"Tidak. Tapi dulu saat zaman kita, tidak ada penghalang yang bisa sepenuhnya menahan elemen sihir—yang di sana sekarang disebut sebagai elemen jahat. Kudengar dulu pernah ada kota berbentuk kubah yang dibangun untuk menahan masuknya elemen sihir secara total, tapi kota itu hancur oleh monster tabu."

"Apa penghalang di area pemukiman juga bisa menahan monster tabu?"

"Aku sempat berpapasan dengan monster tabu, dan saat penghalang area pemukiman dipasang kembali, penghalang itu memotong tubuh monster tersebut."

Memotong kaki monster tabu?!

Itu benar-benar mustahil.

Di Dunia Lama, tidak pernah ada senjata yang bisa memotong tubuh monster tabu.

"Tapi, Sang Sage Agung juga kurang beruntung, ya. Baru sampai di dunia sana langsung diserang monster tabu."

"Mengenai hal itu, ada sesuatu yang mengganjal. Ada seseorang dari Dunia Baru yang bekerja di Dunia Lama dengan menggunakan nama palsu. Dialah yang memanggil monster tabu tersebut."

"Manusia memanggil monster tabu—?!"

"Katanya namanya Bibinokke, apa kau mengenalnya?"

"Bibinokke itu, bukannya si pembawa barang Sakura dulu?!"

Aku mengenalnya.

Si penjahat kecil berjuluk Thousand Face.

Dia sering menerima permintaan dari berbagai party, lalu menyelinap masuk dan menghancurkan party tersebut dari dalam.

Dulu dia pernah mencoba menghancurkan kelompok Sakura dengan menggiring mereka ke gua penuh Goblin.

Setelah itu, karena ada kemungkinan dia akan memicu masalah, aku berniat membunuhnya, tapi digagalkan oleh gangguan dari Phantom……

"Kau mengenalnya? Aku berniat melacak keberadaan Bibinokke. Aku bisa melacak catatannya sampai saat dia dikirim ke fasilitas rehabilitasi gereja setelah ditahan dan diinterogasi oleh Phantom."

"Sebenarnya, dia tidak dikirim ke fasilitas rehabilitasi. Karena dia pernah melihat wajahku, akan merepotkan jika dia dibiarkan bebas, jadi aku meminta Paus untuk mengambilnya."

"Paus?! Jadi maksudnya—"

"Iya. Paus bilang dia sudah membunuhnya dan melenyapkan mayatnya. Jika cerita itu benar, alasan Bibinokke berada di Dunia Lama kemungkinan besar melibatkan Paus. Jadi, di mana Bibinokke itu sekarang?"

"Dia sudah mati."

"……Begitu ya."

Dia adalah sosok yang dulu berniat kubunuh.

Namun sekarang, aku justru ingin dia tetap hidup.

Kalau dia sudah mati, aku tidak bisa lagi mendapatkan informasi.

Kita perlu tahu bagaimana cara dia memanggil monster tabu tersebut.

"Dasar Paus, berani-beraninya dia meninggalkan 'hadiah perpisahan' yang merepotkan begini."



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close