Chapter
2
Menuju
Jalan Penguasa
Sehari setelah duel penentuan melawan Aoi, aku
berangkat ke sekolah seperti biasa.
Tadi pagi, aku menerima email dari Ketua Suzuki. Katanya,
kontrak dengan Aoi sudah berada dalam kondisi yang sangat baik.
Mungkin terdengar aneh bagaimana aku bisa bertukar kontak
dengan orang besar sekelas Ketua Prefektur.
Sebenarnya, sepulang dari turnamen Koryu tempo hari,
dialah yang memanggilku dan mengajak bertukar nomor.
Mengenai masalah inti Aoi, aku sudah mendengarnya dari Toujou
sebelum turnamen.
Soal kemiskinan atau merasa tersudut, mungkin ada
beberapa informasi yang beredar lewat rumor.
Namun, alasan utama Toujou menganggapnya berbahaya adalah
karena haus darah.
Aoi memang selalu bercanda dengan semangat seperti
itu. Tapi Toujou secara alami merasakan semacam haus darah yang terpancar dari
dalam hatinya.
Ia juga menyadari bahwa suatu saat, pedang itu akan
diarahkan padanya.
Masalah seperti ini sering kali terlihat sangat raksasa
bagi remaja. Ini bukan sesuatu yang bisa diselesaikan dengan penindasan dari
atas atau sekadar kata-kata penghiburan yang dangkal.
Lagipula, seseorang bertindak nekat karena mereka merasa
tidak punya pilihan lain. Menghakimi tindakannya saja tidak akan mengubah hidup
orang tersebut.
Meski begitu, bukan berarti aku punya kewajiban setitik
pun untuk menyelamatkan Aoi. Kami belum lama kenal, dan dia tidak menunjukkan
tanda-tanda ingin berteman denganku seperti Toujou atau Kurasaki.
Tapi, meski tidak punya kewajiban, aku punya alasan.
Aku bukan orang suci yang hobi menyelamatkan orang, tapi
aku juga tidak sebodoh itu sampai membiarkan rekanku sendiri.
Di saat kami akan bertarung di turnamen prefektur
bersama-sama, membuang salah satu pemain kunci adalah hal yang mustahil.
Mimpiku tidak akan terwujud jika itu terjadi.
Karena itulah, aku berpikir ini adalah saat yang tepat
untuk meletakkan bidak strategiku.
──Yah, singkat cerita, aku lega karena masalah Aoi
tampaknya mulai menuju titik terang.
Kabarnya, tak lama setelah kejadian itu, Aoi segera
mengirim email permintaan maaf kepada Toujou. Berkat satu utang budi itu, dia
berhasil dimaafkan.
Sekarang, kami bisa bersatu untuk menghadapi turnamen
prefektur.
"P-Permisi... selamat pagi..."
Aku membuka pintu ruang klub sambil melontarkan salam
khas karakter figuran yang suram.
Setelah melalui turnamen kemarin, rasanya kepribadianku
sudah sedikit berkembang. Tapi saat otakku tidak bekerja dengan kecepatan
penuh, aku memang hanya begini.
"Ah..."
Begitu aku masuk, Aoi yang sudah duduk di sana menoleh ke
arahku dengan wajah yang sedikit merona.
"M-Mikadocchi, selamat pagi! Cuacanya bagus ya hari
ini!"
Aoi mencoba merangkai kata meski terlihat panik, lalu
mendekatiku dengan semangatnya yang biasa. Sialnya, dia malah menggunakan topik
cuaca yang sangat kaku.
Aku tahu dia merasa canggung karena kejadian kemarin,
tapi tingkahnya mencurigakan sekali.
"Ah, Masai-senpai, selamat pagi."
"Pagi."
Aku mengangguk kecil pada Kurasaki yang masuk dari
belakang, lalu kembali menatap Aoi.
"Ngomong-ngomong, Aoi, caramu bicara kembali seperti
dulu ya. Apa kamu sudah berhenti bicara dengan gaya yang kemarin?"
"Tunggu...!?"
"Gaya bicara yang kemarin?"
Mendengar ucapanku, wajah Aoi memerah padam. Kurasaki
tampak bingung dan memiringkan kepalanya.
"Ah benar juga, Kurasaki belum tahu ya. Sebenarnya
Aoi itu aslinya bicara normal tanpa pakai akhiran '-ssu'—"
"Tidaaak! Mikadocchi hari ini bicara yang lucu-lucu
lagi, ya! Aoi sama sekali tidak mengerti apa maksudmu! Nyahaha~!"
Aoi langsung membungkam mulutku dengan sekuat tenaga.
"A-Aakh!!"
"A-Apa-apaan ini...!?"
Tiba-tiba Kurasaki membuka mulutnya lebar-lebar, lalu
menunjuk Aoi dengan tuduhan serius.
"Aoi menyentuh bibir Masai-senpai! Curang! Padahal
aku saja belum pernah melakukannya!"
"A-Apa yang kau katakan—"
"Hah! Mungkinkah ini berarti Aoi juga mengincar
Masai-senpai...!?"
"B-Bukan!? Ini bukan bermaksud begitu! Maksudku,
aku sama sekali tidak punya niat tidak murni seperti itu!"
"Aoi, kamu lupa sebutan diri sendiri dan akhiran
bicaramu, lho."
"Ukh!! Mikadocchi jahat...!"
"Tunggu, jangan abaikan aku! Dari tadi kalian bicara
soal sebutan diri dan akhiran, apa maksudnya?! Lagipula, kenapa kalian berdua
dekat sekali begitu! Apa yang terjadi di antara kalian berdua kemarin?!"
"Aaaaakh, sudaaahlah!!"
Karena aku terus menjahili Aoi, percakapan pun berubah
menjadi kekacauan tanpa ada yang menghentikan. Aoi hanya bisa berteriak sambil
memegangi kepalanya.
Namun, situasi tidak kunjung mereda, malah semakin parah—
"Wah, sepertinya kalian sedang bersenang-senang,
ya?"
Di sana, Toujou berdiri di depan pintu ruang klub
sambil mengamati situasi kami.
"Waduh, ini sih namanya medan perang."
"...Masai-senpai, kamu pasti sangat menikmatinya,
kan?"
Yah, aku jadi berpikir apakah rasanya punya harem itu
seperti ini. Aku punya cukup banyak piutang budi pada Aoi, jadi tidak masalah
kan kalau aku sedikit nakal padanya?
Saat aku berpikir begitu, Toujou berjalan melewati
sisiku.
"Aoi~? Kamu seharusnya punya utang padaku, kan...?
Tapi kenapa kamu malah bermesraan dengan Masai-kun begitu~...?"
Benar juga, Aoi punya utang budi pada Toujou.
"Hiiy...! M-Maafkan aku-ssu!!"
Sambil meminta maaf, Aoi segera menjauh dariku saat Toujou
mendekat dengan senyuman.
Meskipun awalnya mereka bermusuhan, kelemahan yang
dipegang Toujou ini sangatlah besar.
Mengingat kartu itu bisa dikeluarkan kapan saja, Aoi
benar-benar telah membuat langkah yang salah.
"Toujou-senpai tetap menakutkan seperti biasanya,
ya."
"Begitukah?"
Mungkin karena aku sudah terbiasa dipandang dingin oleh
orang sekitar, bagiku mereka berdua hanya terlihat seperti sedang bercanda.
Selain itu, aura permusuhannya juga sudah hilang.
Meski aku baru sebentar bergabung di klub ini, aku merasa
atmosfer tegang yang sebelumnya menyelimuti ruangan kini mulai mencair.
"Ngomong-ngomong, aku lupa tanya kemarin. Toujou-san, bagaimana hasil
turnamen Koryu-mu?"
"Hm? Oh, aku menang, kok."
"...Serius?"
Toujou Mika menjawabnya dengan sangat santai seolah itu
hal yang wajar. Dia kuat sekali.
"...Toujou-senpai memang hebat ya-ssu..."
"Tentu saja. Lagipula, sepertinya ada orang yang
mencoba mengalahkanku, ya?"
"Ugh, uuu, uuuuu...!"
Begitu Toujou menatapnya, Aoi langsung menciut dengan
wajah yang tampak sangat tidak enak hati.
Dia benar-benar tidak bisa berkutik lagi di depan Toujou,
kasihan sekali. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Karena aku pun tidak bisa melawan Toujou dengan
berani.
◇
Itu terjadi beberapa hari yang lalu, saat senja
setelah turnamen distrik Koryu berakhir.
Dari Dojo Ryutei, tempat diadakannya evaluasi
pertandingan beregu, sebuah sosok berlari keluar dengan penuh amarah.
"Jangan bercanda!!"
Asuka berteriak marah sambil menendang tempat sampah
yang ada di dekatnya.
Di depan pintu masuk Dojo Ryutei yang sepi tanpa ada
orang lain, tempat sampah itu terguling.
Sampah kertas di dalamnya berhamburan, menabrak
barang-barang kecil di sekitarnya dan menimbulkan suara gaduh yang menggema
hingga beberapa meter.
Tanpa mempedulikan kekacauan itu, Asuka menghentakkan
kakinya dan meninggalkan Dojo Ryutei.
──Di tangannya, ia meremas selembar kertas bertuliskan
"Pemberhentian Keanggotaan Cabang".
(Sial, sial, sialan...!!)
Asuka telah dinyatakan dilarang datang ke dojo untuk
selamanya, dipicu oleh tindakannya yang bermasalah beberapa hari lalu dengan
alasan bahwa aset utama yang tidak berguna tidaklah dibutuhkan.
(Padahal mereka hanya kumpulan orang biasa yang tidak
bisa berkembang tanpa aku! Memangnya kalian pikir berkat siapa kalian bisa
sejauh ini? Itu semua karena aku! Karena aku yang memimpin kalian di depan!
Tapi mereka malah membalas budiku dengan pengkhianatan ini...! Bangsat...!!)
Asuka menggigit kuku jarinya sambil mencari objek untuk
melampiaskan emosinya. Namun, setelah keluar ke jalanan yang sepi, ia tidak
menemukan siapapun.
Akhirnya, target kemarahannya pun mulai mengerucut secara
alami.
Wajah seorang pria terlintas di dalam kepala Asuka.
(......Seandainya dia tidak ada, aku tidak akan mengalami
nasib seperti ini...!)
Pria itu adalah penyebab kekalahannya di turnamen Koryu.
Pria yang dulu lebih rendah darinya dan dia buang karena dianggap tidak
berguna──Watanabe Masai.
(Dia itu sebenarnya apa...?! Padahal dulu penakut dan
lemah, tapi bisa menang sempurna dengan begitu mudahnya... Itu tidak mungkin!
Benar-benar tidak mungkin!)
Setiap kali mengingatnya, tatapan mata dan ekspresi itu
terus membayangi──semuanya terasa asing. Saat SMP, dia jauh lebih tertutup,
kurang percaya diri, dan yang terpenting, lemah.
Pria seperti itu mengeluarkan aura keberanian dan
mengalahkan satu per satu pemain kuat. Bagi Asuka, hal itu hanyalah sebuah
keganjilan.
(......Kecurangan. Benar, itu pasti kecurangan. Aku kalah
karena dia berbuat curang. Itu pasti bukan kemampuannya, tidak mungkin. Dia
lebih lemah dariku, jadi dia tidak mungkin menang. Dia tidak seharusnya bisa
menang dariku...!)
Manusia melihat apa yang ingin dilihat, mendengar apa
yang ingin didengar, dan percaya apa yang ingin dipercaya.
Di atas segalanya, pikiran Asuka dikuasai oleh sebuah
kejadian di masa SMP. Sejak saat itu, ia tidak bisa memercayai apa pun tentang
Masai.
──"Dia itu, tahu, sudah mengkhianatimu."
Kata-kata yang menjadi pemicu itu terngiang di otaknya.
Kemarahan yang begitu besar hingga ia rela membuang segalanya hanya karena satu
kalimat itu.
(Tidak akan kumaafkan...)
Dengan kebencian yang mampu mewarnai segala yang
dilihatnya dengan warna kegilaan, Asuka bersumpah untuk membalas dendam.
Meski tahu itu salah, pusaran kebencian dalam diri Asuka
sepenuhnya diarahkan pada pria itu.
(Dia... orang yang telah merebut segalanya dariku... kali
ini, aku yang akan merebut segalanya darinya...!)
Menjelang turnamen prefektur Koryu yang kian dekat, sumbu
kekacauan baru pun mulai tersulut.
Sambil merasa seolah telah melupakan sesuatu yang
penting──Asuka tetap mendengarkan kata-kata "dia" dan membiarkan
emosinya meledak.
◇
Kegiatan klub Shogi selalu dipenuhi dengan kemandirian.
Karena saat ini hanya ada tujuh anggota, jika kami terus
bertanding antar anggota, kami akan terbiasa dengan gaya permainan
masing-masing dan kecepatan perkembangan akan melambat.
Oleh karena itu, pertandingan antar anggota hanya
dilakukan dengan interval tertentu, misalnya seminggu sekali. Selebihnya, kami
menargetkan peningkatan kualitas individu melalui riset strategi baru atau
analisis AI.
Hari ini pun ruang klub Shogi sangat tenang. Hanya suara
klik tetikus dan denting biji Shogi yang memecah keheningan.
Namun, saat ini di ruang klub hanya ada aku dan empat
orang perempuan. Si kembar Sakuma kabarnya akan datang terlambat, dan
Takebayashi-senpai libur hari ini.
Di tengah ruang klub yang terasa lebih sepi dari
biasanya, aku menatap layar ponsel dengan telapak tangan berkeringat.
──Aplikasi yang sedang berjalan adalah Shogi Wars.
Aku baru saja mencapai 99 kemenangan beruntun, dan pertarungan untuk target 100
kemenangan akan segera dimulai.
『【Gawat】Siapa sebenarnya amatir kuat
bernama Jimetsutei ini? wkwkwk Part 28』
Anonim 611
: Akhirnya sampai di 99 kemenangan beruntun ya. Membayangkan dia bakal dapat 100 kemenangan hari ini bikin deg-degan.
Anonim
612
:
Pertandingannya sudah dimulai! Tunggu, lawannya Dan 8?!
Anonim
613
: Bukan
cuma Dan 8, bukankah ini peringkat kedua Rating, si "Jimetsugari"...?
Anonim 614
: Ini benar-benar si Jimetsugari peringkat dua?! Jimetsutei kena snipe!!
Anonim
615
: Wah,
ini duel sungguhan antar pemain top!!
Anonim 616
: Jimetsutei vs Jimetsugari.
Anonim 617
: Match
terakhir malah ketemu sesama top player wkwkwk.
Lawan
yang terpilih untukku adalah salah satu top ranker di Shogi Wars,
"Jimetsugari".
Kemampuannya
di Shogi Wars berada di tingkat Dan 8, dan merupakan pemain kuat peringkat
kedua tepat di bawahku dalam hal Rating.
Ditambah
lagi, dia adalah satu-satunya lawan yang pernah mengalahkanku hingga dua digit
angka.
Rekor
pertemuan kami sejauh ini adalah 41 menang dan 19 kalah. Aku telah kalah 19
kali dari lawan yang jelas-jelas mengincar Jimetsutei ini.
Dia
tidak memiliki kemampuan Shogi yang luar biasa seperti Tenryu. Dia juga tidak
memiliki gaya permainan stabil seperti Toujou.
Hanya
saja, permainannya menyulitkan. Orang ini selalu melangkah di titik yang paling
tidak aku sukai.
Terang
saja, dia sangat memahami langkah-langkahku sampai aku curiga apakah dia ini
penguntit atau bukan.
Yah,
terlepas dari itu, aku tidak pandai menghadapi Jimetsugari ini. Bukan karena
sifatnya buruk atau apa, tapi dalam artian aku tidak ingin melawannya.
Jimetsugari mempelajari Shogi hanya demi mengalahkanku.
Bisa dibilang, dia melakukan riset dengan pola pikir "asal bisa
mengalahkanku, itu sudah cukup".
Dalam pertarungan-pertarungan sebelumnya, aku sangat
merasakan hal itu. Namanya pun sangat frontal, Jimetsugari (Pemburu Jimetsu)...
Sejujurnya, jika seseorang melakukan riset hanya untuk
mengalahkan satu lawan, mereka bisa menang meskipun ada perbedaan kemampuan.
Namun di saat yang sama, itu berarti mereka tidak akan
bisa menang melawan orang lain.
Sama seperti jika aku hanya belajar strategi melawan
Tenryu, aku mungkin bisa menang melawannya, tapi aku tidak akan bisa menang
melawan orang banyak lainnya.
Tapi orang ini benar-benar riset hanya untuk
mengalahkanku, si Jimetsutei. Dia membawa senjata khusus hanya untuk menjagal
Jimetsutei.
Di saat rekor 100 kemenangan beruntun menjadi
taruhannya, aku malah bertemu lawan seperti ini.
"......Menarik."
Aku bergumam pelan lalu memulai pertarungan.
Anonim
638
:
Datang buat nonton duel sesama top ranker.
Anonim
639
:
Langkahnya cepat banget wkwkwk.
Anonim
640
: Dari
awal keduanya main no-time, ngakak.
Anonim
641
: Cepat
banget gerakannya.
Anonim
642
:
Keduanya mulai dengan Ibisya?
Seolah
memahami langkah satu sama lain, prediksiku dan Jimetsugari selalu tepat.
Dalam
beberapa pertandingan sebelum ini, aku terus menang menggunakan gaya
"Jimetsu-ryu". Jimetsugari pasti juga menontonnya.
Kalau
begitu, aku justru tidak akan menggunakan "Jimetsu-ryu".
Toh, dia pasti sudah menyiapkan penangkalnya. Aku tidak
punya kewajiban untuk memperlihatkan taktik yang sudah pasti akan ditangkal.
Aku akan terus mengkhianati ekspektasinya,
mempermainkannya, dan menang di detik terakhir.
──Itulah cara bertarung Jimetsutei.
Anonim 650
: Ngomong-ngomong sekarang Rating Jimetsutei 2998,
kalau menang ini bakal tembus 3000.
Anonim
651
: 》650 Gila, monster banget wkwkwk.
Anonim
652
: Oh? Formasi ini jangan-jangan... bakal main Yokofudori?
Anonim 653
: Kalau Jimetsugari pasti bakal ambil. Dia tipe yang
nggak bakal gentar meski harus main duel udara atau serangan kepala Raja.
Anonim
654
: Wah
dia ambil! Diambil!!
Anonim
655
:
Jimetsugari ambil Yokofu!
Anonim
656
:
Yokofudori itu kan strategi baku hantam yang barbar banget! Bagaimana nasib
Jimetsutei?
Jimetsugari
memajukan pion di depan Rook seolah hendak melancarkan serangan kilat
untuk melakukan pertukaran pion, lalu menyambar pion samping seakan
memancingku.
Tipe
permainannya adalah Yokofudori (Side Pawn Capture).
Yokofudori adalah strategi yang dikenal
sebagai perwakilan dari pertempuran kilat.
Sejak awal permainan, pertukaran perwira besar sering
terjadi, dan benturan antar perwira kecil pun sangat sengit.
Bidak-bidak yang tidak terjaga—yang sering disebut Floating
Piece—bertebaran di mana-mana. Jika salah menyusun strategi sedikit saja,
kamu akan tamat dalam sekejap.
Artinya, aku tidak diperbolehkan melakukan satu kesalahan
pun.
Bagi Jimetsugari, ini seperti pukulan pembuka. Dia
menilai bahwa sesempurna apa pun aku melangkah, jika berada di wilayahnya,
kemungkinan aku melakukan kesalahan tetap ada. Itulah alasannya dia sengaja
membawa permainan ke arah duel udara.
Dalam artian itu, memilih Yokofudori dalam
pertarungan ini adalah sebuah "jawaban yang benar".
Namun, itu juga sekaligus—"jawaban yang salah".
Anonim 667
: Eh?!
Anonim 668
: Dia mengambilnya?!
Anonim 669
: Jimetsutei juga mengambil pion sampingnya!
Anonim 670
: Uwaaaaaa, ini Aiyokofu!
Anonim 671
: Ai-yokofudori
(Double Side Pawn Capture).
Anonim 672
: Serius pakai Ai-yokofudori? Ini bakal jadi
kekacauan total!
Anonim 673
: Gila, apa dia masih waras pakai Ai-yokofudori di
penentuan 100 kemenangan beruntun? w
Anonim 674
: Ngakak, padahal 100 kemenangan jadi taruhan tapi malah
berani duel barbar.
Segera setelah pion sampingku diambil, aku langsung
membalas dengan mengambil pion sampingnya.
Apakah itu langkah di luar dugaan?
Langkah Jimetsugari yang sedari tadi bergerak tanpa jeda,
seketika terhenti sejenak.
Dari serangan kilat menuju pertempuran kacau, strategi
itu adalah Ai-yokofudori—sebuah baku hantam tanpa pelindung sama sekali.
Aku belum pernah menggunakan Ai-yokofudori dalam
pertandingan sungguhan.
Alasannya karena taktik ini sepenuhnya mengandalkan riset
teori, dan aku pikir karakteristikku tidak akan bisa dimanfaatkan di sini.
Namun, dengan diriku yang sekarang, aku bisa membawanya
ke adu konsep dengan mengombinasikannya dengan Jimetsu-ryu. Pertunjukan
aslinya dimulai dari sekarang.
"Fuu...!"
Tanganku licin karena gugup. Aku harus memastikan jangan
sampai terjadi salah tap.
Tipe permainannya berkembang dari Yokofudori
menjadi Ai-yokofudori. Baru saja pembukaan dimulai, kedua belah pihak
sudah menggerakkan Rook dan mengambil pion samping masing-masing.
Ai-yokofudori adalah baku hantam tanpa pertahanan.
Ibarat melangkah ke medan perang tanpa memakai baju zirah sedikit pun.
Memilih strategi ini dengan sengaja seolah menunjukkan
keyakinan mutlak akan kemenangan.
Bagaimana Jimetsugari memandangku—? Sejauh mana dia bisa
melihat ke depan—?
Anonim 685
: Oh?
Anonim 686
: Jimetsugari melenceng dari teori standar!
Anonim 687
: Dia menarik Rook sampai ke baris paling bawah.
Apa-apaan ini? Salah tap?
Langkah-langkah teori standar yang sedang berlangsung
tiba-tiba berbelok hanya dalam beberapa langkah.
Mungkin dia sadar sedang digiring ke dalam formasi
yang kusiapkan.
Jimetsugari segera menolaknya dan membuang langkah
terbaik demi keluar dari jalur.
Namun, bukan berarti situasi memihak padaku. Sejak
awal aku melawan Yokofudori miliknya dengan Ai-yokofudori,
posisiku sebenarnya sedikit minus.
Langkah buruknya barusan hanya berfungsi
menyeimbangkan situasi kembali ke titik nol.
Tapi, itu adalah langkah buruk yang bermakna. Sebuah
pilihan yang berarti.
Dengan satu langkah itu, Jimetsugari memaksaku
berdiri di atas panggungnya. Aku dipaksa masuk ke dalam bentuk teori yang hanya
diketahui olehnya.
"...Heh."
Entah kenapa aku merasa senang bertarung melawan
orang kuat, hingga tanpa sadar aku menyunggingkan senyum.
Di saat pembacaan langkah kami saling bertumpuk,
untuk sesaat, aku bisa mengintip ke dalam psikologi terdalam lawan.
Senyum ceria yang tersirat dari setiap langkah, serta
emosi campuran antara harapan dan ketegangan yang terpancar dari jeda antar
gerakannya.
Kau juga sedang tersenyum ya, Jimetsugari—.
Anonim 690
: Berubah! Jimetsutei mengubah formasinya menjadi Mukai-bisya!
Anonim 691
: Jimetsutei juga memutar Rook-nyaaaaaa!
Anonim 692
: Lah, dua-duanya malah ganti strategi?!
Anonim 693
: Menarik banget, dari Ai-yokofu malah jadi Ai-furi
(Saling Tukar Posisi Rook) w.
Anonim 694
: Ngakak, Rook-nya melompat ke sana kemari tanpa
batas.
Anonim 695
: Pertarungan macam apa ini, berantakan banget.
Aku dan Jimetsugari saling membaca ujung pemikiran satu
sama lain. Kami memprediksi pola serangan lawan lalu bersiap untuk bertahan.
Ini adalah pertarungan di mana tak ada yang mau
menyerahkan wilayahnya. Saling dorong, saling tarik, sebuah permainan di mana
kami tidak sudi memberikan keunggulan sekecil apa pun kepada lawan.
Aku menempatkan Bishop yang tertukar di awal ke
dalam areaku untuk mengincar serangan balik, sembari bersiap mematahkan semua
jalur serangan yang mungkin dilakukan lawan.
Tanpa disadari, tipe permainannya sudah berubah total
menjadi sesuatu yang berbeda.
Anonim 701
: Eh? Kok tiba-tiba jadi Shogi yang normal?!
Anonim 702
: Ngakak, malah balik ke Shogi yang waras.
Anonim 703
: Tadi yang kita tonton itu Ai-yokofudori, kan? w
Anonim 704
: Apa-apaan ini maksudnya wkwkwk.
Sekilas memang terlihat seperti Shogi biasa, tapi tanpa
proses panjang tadi, bentuk ini tidak akan pernah tercipta.
Awalnya aku menduga dia sudah menyiapkan penangkal Jimetsu-ryu,
jadi aku membawanya ke duel teori.
Jimetsugari memanfaatkan itu untuk memancing Yokofudori,
lalu aku mengubah taktik menjadi Ai-yokofudori demi menyeretnya ke
wilayahku.
Jimetsugari sadar dia sedang digiring ke wilayahku, jadi
dia sengaja melenceng dari teori.
Aku, agar tidak terjebak langkahnya, menyusun formasi
yang belum pernah kulihat dengan jumlah langkah tersingkat.
Dari sana, Jimetsugari mungkin mulai waspada terhadap
gerakanku.
Dia berhenti menyerang dan mulai memasang posisi siaga
untuk serangan balik.
Hingga akhirnya, permainan pun kembali ke bentuk Shogi
yang normal.
Sekilas proses ini tampak sia-sia, tapi ada satu hal yang
membedakannya secara jelas.
Yaitu—dalam formasi ini, Jimetsu-ryu bisa
dijalankan.
Anonim 707
: Bergerak!
Anonim 708
: Jimetsutei memajukan Raja! Ini dia menu utamanya!!
Anonim 709
: Muncul juga ini barang.
Anonim 710
: Yak, keluar juga strategi iblisnya.
Anonim 711
: Jimetsu-ryu dataaaang!!
Anonim 712
: Strategi terkuat Jimetsutei muncul.
Anonim 713
: Akhirnya dia serius juga.
Anonim 714
: Banyak yang belum tahu, tapi ini strategi terkuat yang
belum pernah kalah sekalipun, lho.
Anonim 715
: Apa Jimetsugari bisa menghancurkannya?
Begitu lawan melepaskan Bishop-nya, aku segera
memajukan Sang Raja langkah demi langkah menuju garis depan.
Bukannya sombong, tapi Jimetsu-ryu belum pernah
ternoda oleh kekalahan.
Dengan kata lain, jika melihat rekam jejaknya, ini adalah
taktik yang benar-benar tak terkalahkan.
Saat aku mulai menggerakkan Raja, Jimetsugari seolah
menyadari sesuatu. Dia yang tadinya fokus pada serangan balik, tiba-tiba
menghancurkan formasinya sendiri dan mulai melancarkan serangan bertubi-tubi.
Anonim 718
: Jimetsugari mendadak menyerang!
Anonim 719
: Dia langsung gerak pas Raja Jimetsutei maju w.
Anonim 720
: Diwaspadai banget ya wkwkwk.
Anonim 721
: Dia panik tuh!
Anonim 722
: Terasa banget tekad kuatnya buat nggak membiarkan Raja
Jimetsutei sampai ke baris tengah w.
Anonim 723
: Kayaknya Jimetsugari emang sudah menyiapkan
penangkalnya.
Jimetsugari menunjukkan gerakan yang sudah mengantisipasi
tujuanku. Seolah ingin menghukum Rajaku yang sudah maju sampai ke depan baris
tengah, dia melancarkan serangan besar-besaran dari atas.
Seakan ingin membuktikan bahwa jumlah adalah kekuatan
mutlak, dia menurunkan hujan serangan yang kuterima langsung dari depan.
Anonim 724
: Woi, kalian berantem di sebelah mana sih?
Anonim 725
: Di atas kepala Raja wkwkwk.
Anonim 726
: Botak! Rajanya bakal botak!
Anonim 727
: Serangan Jimetsugari hebat, tapi pertahanan Jimetsutei
jauh lebih menjijikkan w.
Anonim 728
: Berhenti main duel di depan hidung Raja seolah itu hal
biasa.
Anonim 729
: Apa orang ini nggak punya rasa takut sama sekali wkwkwk.
Memang pantas disebut Jimetsugari.
Dia menyerang sebelum aku sempat menyempurnakan Jimetsu-ryu,
dengan cepat menyusun bidak agar tidak membiarkan situasi menguntungkanku.
Aku dipaksa melakukan duel di depan hidung Raja sendiri.
Aku menggunakan nyawa sebagai senjata, mengulang pertahanan dan serangan di
ambang batas kematian.
Jika aku bisa menembus ini, Rajaku akan berhasil masuk ke
area lawan (Entry) dan aku bisa menang dengan mudah. Namun, serangan
Jimetsugari begitu gencar hingga seolah mustahil bagiku untuk lewat.
Berbeda saat melawan Aoi, bentengku belum selesai. Itu
karena dia menyadarinya sebelum sempat kubangun. Pembacaan Jimetsugari telah
membongkar semua niatku.
Tapi, kemampuan membaca langkah orang lain bukan cuma hak
istimewamu saja—.
Anonim 730
: Sisa waktu sudah di bawah 30 detik!
Anonim 731
: Jimetsugari sisa 45 detik, Jimetsutei sisa 29 detik.
Anonim 732
: Ah?! Aaaaaaaaaaaaaa——!!
Anonim 733
: Serangan waktu Jimetsugari dataaaang!
Anonim 734
: Jimetsugari sisa 44 detik, Jimetsutei sisa 23 detik.
Anonim 735
: Eh, bukannya ini gawat...?
Anonim 736
: Habis sudah...
Anonim 737
: Jimetsutei, waktumu habis! Gerakkan apa saja! Cepat!
Sisa waktu tinggal sedikit. Permainan pun berubah.
Dari yang tadinya berpikir bagaimana melakukan Checkmate
pada Raja lawan, kini menjadi permainan bagaimana membuat lawan kehabisan
waktu.
Inilah sisi buruk dari Shogi Wars, sekaligus takdirnya.
Langkah Jimetsugari menjadi semakin cepat.
Serangan tanpa henti menghujani Rajaku yang sudah
terlanjur maju ke medan tempur.
Seandainya aku tidak memaksakan Jimetsu-ryu, hal
seperti ini mungkin tidak akan terjadi.
Anonim 745
: Waktu sisa kurang dari 15 detik.
Anonim 746
: Jimetsutei kayaknya bakal kalah.
Anonim 747
: Bukannya ini fix kalah ya?
Anonim 748
: Jimetsutei akhirnya bakal dapat angka hitam pertama.
Anonim 749
: Uwaaaa bakal kalahhhhh.
Anonim 750
: Jimetsugari sisa 36 detik, Jimetsutei sisa 8 detik.
Serangan waktu yang tak kunjung henti. Semakin
aku bertahan, semakin menipis sisa waktuku.
Terjebak dalam situasi putus asa, aku tidak bisa berbuat
apa-apa selain menerima serangan gencar Jimetsugari.
Namun, sadarkah kalian? Bahwa situasi sebenarnya
perlahan-lahan mulai condong ke arahku.
Tentu saja, Jimetsugari pasti menyadarinya. Dan dia tetap
melakukannya karena dia yakin bisa menang.
Tapi, serangannya itu adalah serangan paksaan. Demi
menghabiskan waktuku, dia memainkan langkah-langkah yang membuatku terpaksa
membalas. Itu adalah pola pikir yang didasari asumsi bahwa aku akan kehabisan
waktu lebih dulu.
Waktuku terus berkurang. 8 detik, 7 detik, suara
detak jam itu terdengar seperti pengikis nyawa.
Tapi, di saat yang sama, bidak penyerang Jimetsugari
mulai habis.
"—Di situ!"
Tepat saat serangan Jimetsugari terputus sesaat, di detik
terakhir aku membuang semua pertahanan Rajaku.
Kau memperlihatkan celah, Jimetsugari—.
Sejak awal aku tidak mengincar kemenangan lewat waktu.
Tujuanku dari awal hanya satu, yaitu melakukan Checkmate pada Rajamu.
Anonim 758
: Jimetsutei menyerang!!
Anonim 759
: Sisa waktu 6 detik!!
Anonim 760
: Mana mungkin sempat wkwkwk.
Anonim 761
: Nggak, nggak, mustahil!
Anonim 762
: Apa yang dia pikirkan sih wkwkwk.
Anonim
763
: Main
no-time?!
Anonim
764
: Mode
no-time Jimetsutei dimulaiiiiiiiiiiiii!
Anonim
765
: Cepet
banget?!
Anonim 766
: Kecepatan macam apa ini?!
Anonim 767
: Cepat bangatttttttt?!
Anonim 768
: Apa ini keseriusan Jimetsutei yang sebenarnya?!
◇
Ada satu momen di mana manusia bisa melampaui AI.
Yaitu langkah strategis berskala besar yang lahir
dari sensibilitas dan perasaan manusia. Bisa dibilang, itu adalah
"Insting".
Kemampuan pengambilan keputusan instan yang berada di
luar jangkauan pengetahuan manusia—kemampuan yang sering disebut indra keenam
ini akurasinya berubah-ubah tergantung pengalaman dan teknik seseorang.
Sebagaimana pecatur jenius melampaui AI dalam sekejap,
kita para amatir pun menyimpan potensi tersebut.
Shogi adalah olahraga di mana kemenangan ditentukan oleh
kemampuan, namun hak untuk melangkah dengan "Langkah Terbaik"
diberikan kepada siapa saja, dalam situasi apa pun.
Orang yang lebih ahli hanya bisa melangkah dengan jawaban
yang lebih mendekati kebenaran. Hanya sesederhana itu.
Konsentrasi yang diasah hingga batas maksimal akan
mengeksekusi jawaban yang pasti dalam sekejap mata.
Anonim 774
: Dia beneran mau nge-skakmat?!
Anonim
775
: Cepet
banget, apa-apaan ini wkwkwk.
Anonim
776
:
Sedetik kayak gerak sepuluh langkah, ngakak.
Anonim 777
: Apa ini ujian kelulusan jadi manusia?
Anonim 778
: Jimetsugari cepat, tapi Jimetsutei dua kali lebih
cepat.
Anonim 779
: Berhenti tanding sesama makhluk bukan manusia w.
Aku membaca tuntas semua pola Checkmate
Jimetsugari yang sudah kupikirkan sembari bertahan tadi, lalu merekonstruksi
prosedur yang sudah tersusun di kepalaku dengan kecepatan tinggi.
Skak, skak, skak, skak terus—. Serangkaian
skak tanpa henti menyerbu Jimetsugari.
Itu adalah langkah buruk, Jimetsugari. Seharusnya kau
tidak melakukan serangan waktu dan tetap fokus mengalahkanku dengan murni.
Jika kau silau oleh peluang kemenangan sesaat di depan
mata, kau tidak akan bisa mengalahkanku yang sekarang.
Ini memang Shogi Wars, tapi yang kita mainkan tetaplah
"Shogi".
Sisa waktu 3 detik, kekalahan karena habis waktu sudah di
depan mata.
Tapi, bahkan dari posisi ini pun aku akan melakukan
skakmat, Jimetsugari—.
Anonim 780
: Sisa satu detik!!!
Anonim 781
: Satu detik lagi!!
Anonim 782
: Cuma tinggal satu detiiiiiik!
Anonim 783
: Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
Anonim 784
: Uaaaaaaaaaaaaaaaaaaa wkwkwk
Anonim 785
: 0 Detik wkwkwk
Anonim 786
: Jadi 0 detiiiiik wkwkwk
Pertempuran sekejap mata yang membuat siapa pun lupa
berkedip.
Itu lebih cepat dari cahaya, lebih kuat dari dewa perang;
sebuah duel pedang tanpa henti yang berkobar di atas papan kecil.
Di tengah suara detak jantung yang terasa lebih lambat
dari segalanya, tanganku akhirnya berhenti.
──"Kemenangan"──
Tulisan itu terpampang di layarku.
Anonim 791
: Berhasil di-skakmaaaaat!
Anonim 792
: Seriusan dia menang wkwkwk.
Anonim 793
: KEMENANGAN MUTLAK.
Anonim
794
: Pas
mikir level tanding hari ini gila banget, ternyata lawannya Jimetsugari?! Terus
dapet 100 kemenangan beruntun?!
Anonim
795
:
Uooooooooooooo ini rekor yang belum pernah dicapai siapa pun!! Jimetsutei gila
banget!!
Anonim
796
: Gue
nggak mau main Shogi online kalau ada orang kayak begini w.
Anonim
797
:
Akhirnya Rating tembus 3000, ngakak.
Anonim 798
: Siapa yang bisa hentiin orang ini wkwkwk.
Anonim 799
:
Tolong masukin monster ini ke Hall of Fame aja.
Anonim
800
: Semua
ranker pasti gemeteran lihat ini.
Aku
menang melawan Jimetsugari, dan akhirnya mencapai angka prestisius 100
kemenangan beruntun.
(Yesssssssss!!!)
...Begitulah
teriakanku dalam hati agar tidak terdengar orang sekitar, sembari mengepalkan
tangan kanan ke udara sekuat tenaga di dalam ruang klub yang sunyi.
"......Masai-kun?"
"Ada apa-ssu?"
Dua orang di sana hanya terbengong-bengong melihat
tingkah anehku tanpa tahu apa yang terjadi. Namun, hanya Kurasaki yang
tampaknya mengerti apa yang baru saja menimpaku.
"A-A-Awawawawa......"
Dia
tampak sangat gemetaran dan bingung.
"Apa? Ada apa sih? Jelaskan, Kurasaki."
"Wawawawawa......"
"Dia jadi kayak alien gitu-ssu?"
"Apa yang terjadi, Masai-kun?"
Karena tatapan mereka berdua kini tertuju padaku, aku pun
berkata dengan sedikit perasaan malu.
"E-Eh, aku cuma baru saja mencapai 100 kemenangan
beruntun di Shogi Wars, sih..."
""HAAH?!""
Toujou dan Aoi berteriak bersamaan menanggapi ucapanku.
"Apa maksudmu 100 kemenangan?! Aku baru dengar!
Kapan kau mencapainya?! Barusan?!"
"Senpai, kamu benar-benar sudah berhenti jadi
manusia-ssu!"
Karena tak tahan dengan desakan mereka berdua yang
mendekat dengan agresif, aku memperlihatkan layar ponselku kepada mereka.
"H-Heh, benar... Tertulis sedang dalam 100
kemenangan beruntun-ssu..."
"Tunggu
dulu!? Bukankah bagian tingkatannya tertulis 'Dan 10'?"
"......Eh?"
"B-Benar-ssu!
Tingkatan Mikadocchi jadi 'Dan 10'! Aoi belum pernah lihat tulisan kayak
gitu-ssu!"
Benar juga. Tanpa kusadari, bagian tingkatanku yang
tadinya "Dan 9" kini sudah berubah menjadi "Dan 10".
Ternyata ada tingkatan Dan 10 di Shogi Wars,
ya. Selama ini aku mengira Dan 9 adalah kasta tertinggi, jadi aku bahkan
tidak tahu kalau tingkatan itu memang eksis.
『【Gawat】Siapa sebenarnya amatir kuat bernama Jimetsutei ini? wkwkwk Part 28』
Anonim 820
: Bentar, ngakak wkwkwk Akun Jimetsutei berubah jadi
Dan 10 wkwkwk
Anonim
821
: Dan
10!?!? wkwkwk
Anonim
822
: Asli wkwkwk
Anonim
823
:
Muncul tingkatan yang nggak ada di dunia Shogi nyata──!! w
Anonim
824
:
Selamat datang di Hall of Fame.
Anonim 825
: Apa ini gara-gara dia menang 100 kali beruntun?
Anonim 826
: 》825 Nggak, kayaknya karena Rating-nya tembus 3000.
Anonim 827
: Pengembang yang bikin tingkatan buat Rating 3000
itu gila, tapi Jimetsutei yang beneran bisa mencapainya jauh lebih gila lagi.
100 kemenangan beruntun pertama, dan Dan 10
pertama. Keduanya adalah angka prestisius yang sempurna untuk dijadikan
kenang-kenangan.
Sambil merayakan kegembiraan sesaat, aku melakukan high-five
kecil dengan Toujou dan yang lainnya. Tentu saja, aku melakukannya karena
dipaksa.
"Anu……"
"?"
Tiba-tiba Kurasaki masuk ke dalam lingkaran kami dengan
gerakan yang halus.
"Aku tidak tahu apa boleh mengatakannya sekarang,
tapi berita Jimetsutei naik ke Dan 10 sedang meledak di media sosial
komunitas Shogi dan sudah jadi artikel berita internet, lho."
"Eh……"
Mendengar ucapan Kurasaki, aku langsung mencari di
ponselku. Nama Jimetsutei langsung muncul sebagai hasil pencarian tercepat.
『【Breaking News】Top
Ranker Shogi Online "Jimetsutei" Berhasil Mencapai 100 Kemenangan
Beruntun di Shogi Wars dan Naik ke Tingkat Dan 10 yang Belum Pernah
Dicapai Siapa Pun』
"Wa-ow……"
Padahal aku mengejar 100 kemenangan ini dengan
perasaan santai, tapi ternyata malah jadi festival yang meriah begini……
"I-ini luar biasa. Kamu sudah jadi orang
terkenal, Masai-kun?"
"Ahaha……"
Sejujurnya aku merasa agak malu karena kehebohan
besar-besaran ini.
Aku hanya berniat mengejar 100 kemenangan dengan
tenang. Sama sekali tidak menyangka akan disaksikan oleh begitu banyak orang.
Lagipula, sekarang kan sore hari di hari kerja……
"Kehebohannya benar-benar luar biasa
ya-ssu."
"Melihat situasi ini, jangan-jangan topiknya sudah
meluas sampai ke luar komunitas?"
"Tidak, mungkin tidak sejauh itu…… Paling ini
cuma dianggap kejadian kecil di dalam komunitas saja……"
Lagipula, orang yang bisa ikut bersemangat dengan
topik ini hanyalah mereka yang memang bermain Shogi atau punya minat di bidang
tersebut. Dan di antara mereka, hanya yang tahu Shogi Wars saja yang akan
mengerti.
Bukannya bermaksud merendah, tapi ini adalah prestasi
yang diraih di dunia yang cukup sempit. Berbeda dengan turnamen, ini bukan
sesuatu yang dicatatkan di dunia nyata, jadi aku pikir tidak akan seheboh itu.
Namun, prediksiku itu dipatahkan lebih cepat daripada
kedipan mata.
"Ah, Masai-senpai masuk trending
lho."
"Eh?"
Aku mengintip ponsel Kurasaki. Meski berada di
peringkat yang cukup bawah, kata "Jimetsutei" memang benar-benar
masuk ke dalam jajaran trending topic.
Artikel yang diunggah paling awal sudah mendapatkan
lebih dari sepuluh ribu like, dan jumlah penyebarannya sudah mencapai
angka empat digit.
"Serius nih……"
"Huuu! Mikadocchi jadi idola~!"
"Sepertinya beberapa pecatur profesional ikut
menyinggung isi artikelnya, makanya penyebarannya langsung meledak."
Sambil berkata begitu, Toujou membuka kolom komentar
artikel tersebut. Terlihat tumpukan balasan di sana, dan beberapa di antaranya
adalah nama-nama besar yang pernah kulihat.
Rasanya seperti melihat kemunculan orang yang sangat
hebat.
Aku
juga main Shogi Wars, tapi rasanya mencapai Dan 10 itu mustahil bagiku.
Aku
mulai berpikir jangan-jangan orang di dalamnya adalah pemain profesional yang
dekat dengan kita.
Dan
10…… Kalau dia benar-benar pemain amatir, ini adalah hal yang sangat
mengerikan.
Itu
semua adalah pernyataan dari para pecatur profesional yang masih aktif.
"Kamu
benar-benar dipuji habis-habisan ya-ssu!"
"Masai-senpai
yang sampai diperhatikan oleh pemain profesional, keren sekali……"
Melihat reaksi yang luar biasa ini, aku merasa seolah ini
adalah urusan orang lain. Pemandangan ini terasa begitu tidak nyata, sampai aku
tidak merasa kalau cuitan-cuitan itu ditujukan untukku.
Di antara cuitan yang bertebaran, muncul berbagai
spekulasi seperti "Jangan-jangan Jimetsutei adalah Pro si A" atau
"Pasti dia si B, amatir kuat yang pernah mengalahkan Pro". Bahkan ada
yang menyebutkan, "Mungkinkah dia sang puncak amatir, Tenryu
Kazuki?".
Memang kalau Tenryu yang melakukannya, rekor ini
tidak akan terasa aneh. Bagiku pun, dia adalah lawan kuat yang jarang ditemui,
dan aku masih belum bisa melupakan betapa sulitnya melawannya waktu itu.
Tapi sayangnya, identitas asli Jimetsutei hanyalah
aku, si penyendiri suram yang tidak menonjol. Maaf ya, aku tidak punya karisma
seperti Tenryu……
"Muuu, rasanya geli juga melihat berbagai
spekulasi salah yang bertebaran begini……"
"Soalnya Jimetsutei kan amatir kuat yang
identitasnya misterius, ya?"
Toujou dan yang lainnya menatapku lekat-lekat sambil
menyeringai.
"A-ada apa?"
"……Hei, Masai-kun. Bagaimana kalau kamu buat akun
media sosial?"
"Eh!? Akun……?"
"Betul, betul. Akun, buatlah akun."
Aku merasa tersudut oleh Toujou dan Kurasaki yang
sepertinya sedang merencanakan sesuatu. Karena tidak tahu niat asli mereka, aku
jadi gugup.
"T-tidak. Biasanya aku pakai media sosial cuma buat
melihat-lihat saja, tidak pernah memposting apa pun…… Lagipula aku tidak tahu
cara membuatnya."
"Kalau begitu, mari buat sekarang sebagai
peringatan! Aku akan ajari caranya! Lalu, kita harus saling follow!"
"Ah!? Kurasaki, jangan curang ya! Masai-kun harus
saling follow denganku dulu! Paham?"
Ternyata tujuan kalian berdua cuma itu, ya……
"Kalian berdua perhitungan sekali ya-ssu. Kalau
begitu, biar Aoi saja yang buatkan akun Mikadocchi sebagai gantinya. Ah, tidak
perlu imbalan, kok. Cukup follow akun Aoi saja nanti……"
Tiba-tiba Aoi menyela masuk dari samping.
"Eh, kamu juga mau mencuri start ya!"
"Jangan coba-coba merebut posisi nomor satu
Masai-senpai seenaknya. Aku bisa marah kalau begini terus!"
"Apa sih! Kalian berdua kan sudah jadi teman
Jimetsutei di Shogi Wars, kan?! Kalau begitu, biarkan urusan media sosial untuk
Aoi saja!"
"Itu urusan yang berbeda!"
"Benar! Seharusnya ini dimulai dariku yang punya
hubungan paling lama dengan Masai-senpai!"
"Kamu kan cuma tanding di Shogi online! Kalau
soal bertemu langsung, aku yang paling lama! Kami kan sekelas!"
"Kelas tidak ada hubungannya ya-ssu! Lagipula
kalau soal durasi hubungan, Aoi juga sama lamanya dengan Toujou-senpai!"
……Tanpa disadari, mereka bertiga mulai bertengkar
sendiri tanpa melibatkanku.
Padahal aku tidak keberatan mem-follow siapa pun, dan
aku tidak pernah bilang hanya akan mem-follow satu orang saja.
Aku mengangkat tanganku yang memegang ponsel
perlahan, lalu bicara kepada mereka bertiga yang masih ribut berdebat.
"Anu, aku akan mem-follow siapa pun yang
berhenti bertengkar duluan."
"Aku sudah berhenti!"
"Iya! Berhenti! Aku sudah berhenti!"
"Aoi nggak lagi berantem kok-ssu!"
Apakah di sini tempatnya Klub Gadis Gampang sekolah
Nishigasaki?
◇
Meskipun terasa seperti dipaksa oleh Toujou dan yang
lainnya, dengan bantuan mereka bertiga, aku pun sibuk membuat akun media
sosial.
"A-anu……"
"Ada apa, Masai-kun?"
"Bukan, itu……"
"Ah, bagian header-nya lebih baik dibuat
lebih cerah ya-ssu."
"Iya……"
"Profilnya dikosongkan saja biar terasa
misterius!"
"Dimengerti……"
Saat aku duduk di kursi mengoperasikan ponsel, mereka
bertiga menempel di belakangku seolah memelukku demi memberikan instruksi.
Aku merasa seperti ada sesuatu yang empuk tertekan di
punggungku, tapi itu pasti cuma perasaanku saja.
Di bawah instruksi mereka, aku mengutak-atik profil
dan pengaturan. Setelah lewat tiga puluh menit, akhirnya aku berhasil membuat
akun baru untuk "Jimetsutei".
"Sudah jadi ya-ssu!"
"Selesai juga akhirnya!"
"Terima kasih sudah membantuku, kalian
bertiga."
"Tidak perlu sungkan. Sebagai gantinya…… tahu kan?"
"Ah,
maksudmu mem-follow kalian, kan?"
Begitu
aku mengatakannya, mereka bertiga bereaksi dengan wajah gembira.
Seketika
itu juga, notifikasi follow dari mereka bertiga masuk ke ponselku. Aku
langsung mem-follow balik mereka semua.
"Yess……!"
"Saling
follow dengan Jimetsutei yang itu……"
"Aoi
benar-benar terharu-ssu……!"
Aku hanya bisa tersenyum kecut melihat reaksi mereka
yang berbeda-beda.
Hanya untuk membuat akun saja ternyata melelahkan
sekali…… Tapi berkat mereka, aku jadi tahu cara mengoperasikannya. Untuk
sementara, akun Jimetsutei sudah rampung.
"Ngomong-ngomong, bagaimana cara membuktikan kalau
ini memang akun asli Jimetsutei?"
"Tinggal cantumkan nama akun media sosialmu di
halaman profil Shogi Wars, itu sudah jadi bukti kuat."
"Ah, benar juga. Ternyata solusinya semudah
itu."
Sesuai saran Kurasaki, aku membuka halaman profil Shogi
Wars-ku dan menyalin nama akun media sosialku ke kolom perkenalan.
──Hanya berselang beberapa detik kemudian.
"Wah!?"
Tiba-tiba
ponselku bergetar "Bzzz! Bzzz!" secara tidak teratur.
"Sesuai
dugaan, notifikasinya langsung banjir ya-ssu. Mikadocchi,
lebih baik matikan saja notifikasinya. Kalau dibiarkan, mungkin bakal bunyi
seharian tanpa henti-ssu."
"Serius nih……"
Aku mematikan pengaturan notifikasi media sosial dan
kembali ke layar profil.
Terlihat jumlah pengikut yang tadinya hanya mereka
bertiga, kini melonjak cepat menjadi lima, sepuluh, lima belas orang.
Apa aku harus menyapa sesuatu, ya?
"E-eh…… Karena ini pertama kali, mungkin cukup
laporan kalau aku baru saja buat akun saja ya, biar aman."
"Pilihan yang sangat aman. Yah, kurasa itu lebih
baik."
Toujou setuju dengan usulanku, dan aku pun mulai menyusun
kalimat untuk diunggah.
Karena ini adalah cuitan pertamaku, aku sempat terpikir
bagaimana kalau tidak ada satu pun yang memberi like atau komentar,
tapi……
@zimetutei28
Sudah buat akun.
Ini serius?
Bukan akun palsu kan?
Eh, asli?!
Bukankah
ini orang yang lagi viral itu!
Ini
benar-benar orangnya?!
Nama
akunnya ada di kolom perkenalan Shogi Wars, jadi ini asli. Keren banget……
Sudah
ku-follow! Selamat atas Dan 10-nya!!
Apa
benar kamu siswa SMA yang kena hukuman mati di depan umum gara-gara main Shogi
di kelas?!
Seketika setelah aku mencuit, lebih dari tiga puluh
komentar langsung membanjir.
Di saat yang sama, jumlah pengikut meningkat drastis.
Pengikutku yang tadinya hanya tiga orang, dalam waktu
sepuluh menit sudah menembus lima ratus orang.
Cuitan membosankan tentang membuat akun itu pun sudah
mendapatkan lebih dari seribu like.
"Nah, intinya sudah selesai. Sisanya silakan cuit
sesukamu."
"Terima kasih. Aku masih belum terbiasa, tapi akan
kucoba mengoperasikannya."
"Lebih baik jangan terlalu sering mengunggah catatan
pertandingan (kifu). Masai-senpai itu orang terkenal
sekarang, nanti strategimu bisa terbongkar."
"Benar juga…… aku akan ingat pesan itu."
Tepat saat itu, bel tanda berakhirnya kegiatan klub
berbunyi. Sepertinya sudah waktunya untuk pulang.
"Ngomong-ngomong, si kembar itu akhirnya tidak
datang ke klub ya hari ini. Aoi, kamu tahu sesuatu?"
"A…… tidak, Aoi tidak tahu apa-apa-ssu……"
"Apa? Masih ada yang disembunyikan?"
"Tidak juga……"
Menanggapi pertanyaan Toujou, Aoi menunjukkan ekspresi
cemas. Dia tidak membantah maupun membenarkan.
"Yah, mungkin besok mereka datang. Toujou-san,
jangan terlalu menggoda Aoi."
"……Kalau Masai-kun bilang begitu, aku tidak akan
tanya lagi."
Seolah merasa tidak punya pilihan lain karena aku yang
memintanya, Toujou berhenti mengejar.
Aoi yang sekarang sudah berada dalam kondisi yang cukup
jujur.
Jika dia tetap diam, itu berarti ada alasan yang tidak
bisa atau sulit untuk dikatakan.
Kalau Aoi sudah memutuskan begitu, aku tidak punya niat
untuk mendesaknya.
Dengan membawa sedikit benih kecemasan itu, kami pun
pulang.
──Namun, setelah itu, si kembar Sakuma tidak pernah
lagi datang ke klub.
『【Gawat】Siapa sebenarnya amatir kuat
bernama Jimetsutei ini? wkwkwk Part 30』
Anonim 103
: Heboh banget ya Jimetsutei mulai main media sosial.
Anonim 104
: Jimetsutei milik kita sekarang terekspos ke
masyarakat luas……
Anonim 105
: Ngakak, di daftar pengikutnya ada beberapa nama
besar.
Anonim 106
: Jimetsutei, tolong ikut turnamen di dunia nyata dong.
Pasti aku tonton deh.
Anonim 107
: Jimetsutei di dunia nyata itu sepertinya benar-benar
pelajar, jangan terlalu dibuntuti lah.
Anonim 108
: Agak melenceng nih, apa orang yang jago Shogi itu tipe
yang jago nyusun strategi di dunia nyata juga?
Anonim 109
: 》108 Tergantung orangnya sih, tapi kalau
sudah menguasai game strategi, kemampuan berpikirnya pasti berkembang sampai
tahap tertentu. ……Tapi Jimetsutei itu beneran bisa baca pikiran orang, sih.
Anonim 110
: Kemampuan analisis Jimetsutei emang gila banget.
Anonim 111
: Semua orang yang pernah tanding lawan Jimetsutei pasti
bilang nggak mau tanding lagi buat kedua kalinya.
Anonim 112
: Mungkin Jimetsutei itu tipe orang yang jangan sampai
dijadikan musuh di dunia nyata.
◇
Pada waktu yang hampir bersamaan, si kembar Sakuma yang
absen dari klub ternyata sedang menuju ke kediaman seseorang.
Tempat itu adalah sebuah tanjung yang agak jauh dari
pemukiman.
Di balik garis kuning bertuliskan KEEP OUT, di
tepi tebing yang menyuguhkan pemandangan danau yang luas, seorang gadis sedang
merana.
Bukan, rasanya ragu untuk menyebut sosok itu sebagai
"gadis".
"Lama tidak bertemu, Sensei."
Hayato menyapa gadis itu tanpa ragu.
Tidak, dia hanya berusaha mati-matian berpura-pura tenang
agar kegugupannya yang membuat jantung berdebar kencang tidak terlihat.
"……Hayato, ya."
Gadis itu menoleh separuh badan menatap Hayato.
Seorang gadis cantik berambut pirang yang mengenakan
topi baret dan seragam sekolah bergaya pelaut.
Keimutannya bisa membuat orang salah sangka kalau dia
masih anak SD, namun ekspresi wajahnya memancarkan aura orang kuat yang tidak
memiliki sisi kemanusiaan.
Sosok itu mengandung "keanehan" yang
membuat Hayato bahkan tidak berani menatap matanya secara langsung.
"Syukurlah, aku pikir Sensei pasti ada di sini di
jam begini."
"Aku tidak sesering itu datang ke sini."
"Tapi, hari ini kamu datang, kan?"
"……"
Gadis itu terdiam sambil mengembuskan napas panjang.
Tepat di depannya, tergeletak sebuah buket bunga berwarna biru keunguan.
Hayato menjaga jarak tertentu dengan gadis itu, lalu terdiam sejenak sebelum akhirnya membuka suara.
"……Ini masalah serius, Sensei. Ada sesuatu yang
ingin kuminta darimu."
Hayato menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan gadis
itu tanpa ragu.
Ini adalah pertama kalinya dia bersikap serendah itu,
sejak insiden di masa lalu saat dia meremehkan gadis itu—yang kala itu menjadi
instruktur pengganti di kelompok pelatihan—dan berakhir dihajar habis-habisan
dalam duel Shogi.
Gadis itu menyisir rambutnya ke belakang. Meski wajah
Hayato tersembunyi karena menunduk ke tanah, dia seolah bisa menembus ekspresi
pemuda itu.
"Wajah yang licik. Apa kau sedang merencanakan
sesuatu?"
Hayato tersentak dan wajahnya kaku, namun dia tetap
mempertahankan posisinya sembari menyunggingkan senar senyum di sudut bibirnya.
"……Yah, kalau tidak merencanakan sesuatu, aku tidak
akan meminta bantuanmu, Sensei."
"Menggerakkanku untuk urusan pribadi berarti kalian
para pelajar akan menginjakkan kaki ke 'dunia sana'. Apa kau bicara setelah
memahami konsekuensi itu?"
"……Tidak masalah. Ini bisa dibilang keadaan
darurat."
Seolah sedang memohon pada iblis, Hayato mengangkat
wajahnya dengan ekspresi yang memancarkan keyakinan akan kemenangan.
"Baiklah, katakan. Aku akan mendengarkannya
dulu."
◇
Sepuluh hari telah berlalu sejak saat itu.
Klub Shogi SMA Nishigasaki hari ini berjalan seperti
biasa—atau sebenarnya tidak juga, karena anggota yang berkumpul di ruang klub
hanya empat orang termasuk aku.
Tentu saja, empat orang itu adalah Toujou, Kurasaki, Aoi,
dan aku. Belakangan ini, hanya anggota inilah yang rutin menjalankan aktivitas
klub.
Si kembar Sakuma sempat muncul beberapa kali di awal,
tapi mereka tidak bicara apa pun dan belakangan ini tidak menampakkan batang
hidungnya sama sekali.
Ketua klub, Takebayashi-senpai, mungkin sedang absen dari
sekolah karena sejak saat itu tidak ada kabar darinya.
Hanya saja, kemarin surat tanda terima pendaftaran
turnamen tingkat prefektur diletakkan secara misterius di meja ketua, jadi
setidaknya kami tahu bahwa kami akan tetap berangkat ke turnamen tersebut.
Meski begitu, kecemasan Toujou dan yang lainnya tidak
kunjung reda.
Mereka merasakan firasat buruk terhadap anggota yang
terus-menerus absen tersebut.
Awalnya kami pikir mereka akan segera datang dan
menjalankan klub seperti biasa, tapi lama-kelamaan rasa gelisah mulai menumpuk.
Toujou dan Kurasaki mulai menunjukkan wajah cemas,
berpikir bahwa mungkin ada alasan tertentu yang membuat mereka sengaja bolos.
Ketidaknyamanan yang mereka rasakan selama ini perlahan
membengkak hingga akhirnya mencapai batasnya.
Yang pertama kehilangan kesabaran adalah, sesuai dugaan, Toujou.
"……Cukup, aku sudah tidak tahan lagi."
Toujou menempelkan ponsel ke telinganya. Tampaknya dia
baru saja mencoba menelepon Takebayashi-senpai, namun karena tidak kunjung
tersambung, dia akhirnya mengalihkan sasarannya pada Aoi.
"Aku sudah bersabar karena ditahan oleh Masai-kun,
tapi ini sudah batasnya. Aoi, kamu tahu sesuatu, kan? Kenapa Ketua dan yang
lainnya tidak datang ke klub?"
"……"
Aoi terdiam seribu bahasa mendengar kata-kata Toujou,
tampak merasa bersalah.
Meski tidak memahami seluruh gambaran masalahnya, Aoi
sepertinya mengetahui setidaknya potongan-potongan dari informasi tersebut.
Hanya saja, dia terus melirik ke arahku sembari menutup
rapat mulutnya.
"Aku mengerti kamu tidak menyembunyikan sesuatu
karena niat jahat. Tapi, aku benci rahasia-rahasiaan. Turnamen tingkat
prefektur sudah di depan mata, tapi pimpinan klub malah absen? Itu tidak masuk akal. Kita bahkan belum menentukan susunan tim."
Begitu Toujou selesai bicara, Kurasaki menimpali.
"Selain itu, kita benar-benar kekurangan informasi
sekarang. Kita sama sekali tidak tahu tentang lawan-lawan di tingkat
prefektur…… informasi dari wilayah lain nol besar. Pemain seperti apa yang akan
muncul, apa strategi andalan mereka, siapa yang akan diletakkan sebagai General.
Kita tidak tahu apa-apa soal itu. ……Menghadapi turnamen dalam kondisi begini
hanya akan membawa hasil yang tragis."
Keduanya
bicara berdasarkan logika yang benar.
"……Aoi……
tapi……"
Namun
Aoi hanya membuang muka. Ekspresinya tampak sulit, seolah ada sesuatu yang
tidak boleh dia katakan.
Tangannya menggenggam ponsel dengan sangat erat──.
◇
『Thread Diskusi Mengenai 【Turnamen
Koryu - Kategori Beregu】 Part
91』
Anonim
268
: Kasus
kecurangan General wilayah Barat lagi ramai banget dibahas di thread sebelah.
Anonim
269
: 》268 Baru dengar, ada masalah apa?
Anonim 270
: Si Watanabe Masai itu yang curang pas turnamen,
kan? Mencurigakan banget emang. Nggak tahu detailnya, tapi katanya dia yang
baru pertama kali ikut bisa menang telak lawan Tenryu Kazuki……
Anonim 271
: 》270 Nggak menang telak sih. Sampai tengah babak Tenryu yang unggul, tapi
pas akhir tiba-tiba dia ngeluarin langkah AI berturut-turut terus comeback.
Anonim 272
: Karena mau kalah makanya pakai software buat balikkan
keadaan? Benar-benar sampah.
Anonim 273
: Gara-gara AI makin maju, topik kayak gini jadi sering
ya. Di turnamen online sih nggak aneh, tapi akhirnya kejadian di dunia nyata
juga.
Anonim 274
: Lagian ini orang menang terus sebagai General?
Nggak masuk akal w.
Anonim 275
: Orang kayak gini nggak boleh dibiarin ikut tingkat
prefektur.
Anonim 276
: Ini beneran pemain baru yang nggak dikenal? Nggak
pernah ikut turnamen wilayah sebelumnya?
Anonim 277
: 》276 Beneran nggak dikenal. Makanya aku sudah lapor.
Anonim 278
: Karena baru tingkat wilayah jadi belum heboh
banget, tapi pemain nggak dikenal tiba-tiba ngalahin pemegang gelar amatir
tahun lalu itu nggak wajar dilihat dari sisi mana pun.
Anonim 279
: Kalau Tenryu kalah gara-gara blunder fatal sih
masih masuk akal, tapi ini jelas-jelas dikalahkan lewat adu kemampuan, nggak
masuk akal. Kalau dia sekuat itu, harusnya namanya sudah naik dari
dulu.
Anonim
280
: Aku
juga sudah lapor.
Anonim
281
: Lihat
saja catatan pertandingannya, bakal langsung ketahuan. Itu bukan langkah
manusia. Pasti AI.
Anonim
282
: 》281 Ah, langkah-langkahnya emang
dari awal kayak pakai software bantuan AI ya? Kalau gitu sih sudah tamat……
◇
Toujou
dengan lembut menggenggam tangan Aoi yang tampak kesulitan bicara, lalu
merendahkan posisinya hingga sejajar dengan mata Aoi.
"Dengar, Aoi. Kalau kamu tahu sesuatu, beritahu aku.
Pasti akan lebih membantu kalau kamu mengatakannya. Apa pun isinya, aku janji
tidak akan marah padamu."
"Tapi……"
"Aku yang akan tanggung jawab semuanya. Kalau ada
masalah, saling membantu adalah gunanya teman, kan? Jadi, ya? Kamu tidak perlu
menanggung semuanya sendirian lagi seperti dulu."
Terdorong oleh kata-kata Toujou, Aoi melirik ke arahku
sejenak lalu perlahan membuka mulutnya.
"……Soal Ketua, Aoi juga kurang tahu. Tapi,
Hayato-tchi dan Kaito-tchi bilang…… mereka akan melakukan segalanya supaya Aoi
dan yang lainnya bisa ikut turnamen prefektur…… makanya, kupikir mereka sedang
sibuk mengurus masalah itu……"
"Mengurus masalah……?"
Melihat nada bicaranya yang menjadi tidak jelas, aku bisa
merasakan kegalauan dalam hati Aoi. Tampaknya dia benar-benar tidak
ingin mengatakannya.
"I-ini penyebabnya……"
Akhirnya, Aoi menyerah dan menunjukkan ponselnya.
Di sana terpampang halaman forum internet, di mana
banyak orang anonim sedang berdebat panas tentang seseorang.
──Jika diperhatikan baik-baik, isinya adalah tentang
diriku.
"……Hah?"
"Tunggu, apa-apaan ini……!?"
Yang tertulis di sana adalah tuduhan bahwa Watanabe Masai
telah melakukan kecurangan saat turnamen.
……Bukan, itu lebih tepat disebut caci maki terhadap orang
yang dianggap melakukan kecurangan.
Yang paling mencolok adalah judul utas yang sangat
provokatif: 『Pemain Baru Bernama Watanabe Masai Kayaknya Curang Pas
Turnamen wkwkwk』.
Komentar yang masuk pun bukan cuma satu-dua, tapi
puluhan, ratusan. Tidak, jika sudah sebanyak ini, kemungkinan besar beritanya
sudah menyebar ke tempat lain.
Dan mayoritas dari komentar tersebut berisi penghinaan,
penuh dengan kekecewaan terhadap Watanabe Masai yang dianggap telah berbuat
curang.
Apalagi, hampir tidak ada satu pun komentar yang
membelaku.
"……Masai-kun, dibilang curang……"
Hanya Toujou yang mampu menggumamkan kata-kata di tengah
keheningan yang menyesakkan itu.
BRAK──!
"……!?"
Tiba-tiba, Kurasaki yang berada di sampingku memukul meja
dengan keras.
Kurasaki, yang biasanya memiliki tingkat ketahanan paling
tinggi terhadap provokasi dan tidak pernah melampiaskan amarah pada benda,
melakukan table slam tanpa suara.
Hal itu membuat kami semua terkejut hingga mata kami
membelalak.
"Aku akan membunuh mereka."
Hanya satu kalimat itu yang keluar saat Kurasaki hendak
berdiri.
"Kurasaki……"
"Tenanglah, Kurasaki."
"Tidak mau."
Tanpa membawa tasnya, Kurasaki hendak melangkah keluar
dari ruang klub.
Ekspresi wajahnya sudah jelas diwarnai kemarahan yang
membara, memancarkan niat membunuh yang seolah benar-benar akan menghabisi
nyawa seseorang.
"……Tunggu."
Aku menahan langkah Kurasaki.
"……Lepaskan."
"Kau mau pergi ke mana?"
"Pulang."
"Lalu?"
"Mencari tahu siapa dalang yang menulis ini, lalu
memberinya pelajaran."
"Begitu. Tapi tunggu sebentar."
"Tidak mau……!"
"Bertindak berdasarkan amarah tidak akan
membuahkan hasil yang baik. Aku senang kau marah demi aku, tapi tolong
tenanglah sebentar."
Kata-kataku yang terlalu tenang sepertinya malah
menyinggung perasaan Kurasaki. Dia menarik paksa tangannya yang kugenggam dan
berteriak marah.
"……Mana bisa aku tenang!? Apa-apaan
komentar ini! Ini…… ini sudah keterlaluan, ini pencemaran nama baik!!"
"Aku mengerti perasaanmu."
"Curang!? Dibilang curang!? Mereka pikir berapa
banyak waktu yang dihabiskan Masai-senpai untuk Shogi!? Mereka pikir berapa
banyak latihan yang dilalui untuk mencapai kemampuan sehebat itu!? Menganggapnya curang…… tidak
bisa dipercaya! Ada hal yang boleh dijadikan bercandaan dan ada yang
tidak!!"
Kurasaki terus berteriak dengan suara serak. Air mata
mulai menggenang di matanya.
"……Benar, aku sangat mengerti apa yang ingin kau
katakan."
"Apa Senpai benar-benar mengerti!?"
"Aku mengerti, karena ini urusanku sendiri. Jadi
tenanglah sedikit. Aku juga merasakan amarah yang sama."
"Lalu kenapa bisa sesantai itu……!!"
"……Sudahlah, tenanglah."
Toujou memeluk Kurasaki dari belakang dengan lembut untuk
menenangkannya.
"Aku juga merasakan hal yang sama, Kurasaki.
……Terima kasih sudah marah demi kami. Jadi, sudah tidak apa-apa. Mari kita
tenang dulu, ya?"
"…………hikss……
maafkan aku……"
Mungkin
karena kepalanya diusap oleh Toujou, Kurasaki akhirnya duduk kembali meski
masih terisak.
Namun, Toujou
sendiri pun sepertinya tidak bisa menyembunyikan nada bicara yang mengandung
kemarahan.
Demi
menepati janji untuk tidak memarahi Aoi, dia berusaha menekan perasaannya,
namun amarahnya tetap terpancar di sela-sela kata.
"……Jadi, apa maksud dari semua ini?"
Di tengah suasana yang mencekam, Aoi dengan wajah kaku
akhirnya membuka mulutnya yang berat.
"……Iya. Sebenarnya, Aoi yang pertama kali menyadari
forum ini. Di pagi hari saat Aoi mencoba membuat Mikadocchi keluar dari
klub──"
Mendengar pengakuan jujur Aoi, Kurasaki yang tidak tahu
apa-apa mengubah ekspresi wajahnya dan memotong pembicaraan.
"Tunggu sebentar. Barusan kau bilang mencoba membuat
Masai-senpai keluar dari klub? Apa maksudnya? Aku tidak tahu bagian itu."
Mungkin karena sisa emosinya tadi, Kurasaki menatap Aoi
dengan tatapan tajam yang menusuk.
"E-eh, itu……"
"Itu masalah masa lalu. Dan sudah selesai. Bukan hal
yang perlu Kurasaki pusingkan."
"……Benar-benar sudah selesai, kan?"
"Iya, benar. Jadi mari dengar inti
ceritanya."
Atas doronganku, Aoi melanjutkan ceritanya dengan
wajah yang sedikit canggung.
"……Waktu itu, Hayato-tchi ada di sana──"
◇
Itu terjadi saat Aoi hendak berbalik pergi dari tempat
itu.
"Padahal aku ini Senpai-mu, lho……"
Mendengar suara gumaman pelan itu, Aoi meremas ponselnya
dan kembali mendekati Hayato.
"──Kalau begitu, sebagai Senpai, apa kau bisa
menyelesaikan masalah ini?"
"Hah?"
Sembari berkata begitu, Aoi menyodorkan ponselnya ke
depan wajah Hayato.
"……Woi, apa-apaan ini."
Mata Hayato membelalak terkejut. Dia hendak merebut ponsel Aoi, namun berhenti di detik terakhir.
"──Scroll saja ke bawah!"
"Boleh kulihat, kan?"
Begitu diizinkan, Hayato merebut ponsel Aoi dan men-scroll
layar dengan ekspresi wajah yang tegang.
Di sana tertulis banyak sekali postingan yang
menyudutkan Masai, menuduhnya menggunakan software bantuan selama
turnamen.
"……Si brengsek itu, curang……?"
"Begitulah katanya."
"Jangan bercanda! Kalau dia beneran curang, aku
yang akan membunuhnya duluan! Kita sendiri yang paling tahu kalau sebelum
tanding kita semua tidak membawa apa-apa!"
"Bukan urusanku. Faktanya ditulis begitu,
mungkin dia memang menunjukkan gerak-gerik mencurigakan?"
Hayato menatap layar itu lekat-lekat, hingga akhirnya
dia mengatur napas dan kembali tenang.
"……Lalu, kau ingin aku mengurus ini? Bukankah
kau ingin mengeluarkan Watanabe dari klub?"
"Aku akan mengeluarkannya. Tapi, itu urusan yang
berbeda dengan ini. Aku tidak peduli ini fitnah atau bukan, tapi aku tidak mau
diejek karena satu tim dengan anggota yang curang."
"Perempuan yang benar-benar pragmatis ya, tidak
ada manis-manisnya."
"Aku memang tidak berniat hidup untuk terlihat
manis."
Hayato menatap Aoi dengan tatapan datar sejenak, lalu
ekspresinya mengeras.
"……Baiklah. Ini biar aku yang urus. Tapi ingat,
jangan libatkan Toujou atau yang lainnya dalam masalah ini. Kalau
jadi heboh, urusan klub bisa hancur. Dan jangan katakan ini pada orangnya
langsung."
"Tidak akan kuberi tahu. Lagipula dia sudah keluar
dari klub."
"……Begitu ya. Yah, aku dan kakakku akan
bergerak. Kalian fokus saja naikkan kemampuan Shogi kalian supaya
bisa menang di tingkat prefektur."
"Jangan ikut campur, kau kan lebih lemah
dariku."
"……Benar juga, untuk saat ini."
◇
"……Jadi begitu ceritanya."
Melihat Aoi yang menunduk setelah selesai bercerita, aku
memegang dagu dan berpikir sejenak.
Begitu ya, ternyata Hayato-lah yang menyuruhnya untuk
tutup mulut. Dan aku mulai mengerti alasan kenapa si kembar Sakuma begitu
sibuk.
Namun, aku tidak menyangka akan dibantu oleh Hayato untuk
yang "kedua" kalinya.
"Maafkan aku karena sudah merahasiakannya……"
"Tidak apa-apa, terima kasih sudah mengatakannya.
Aku sudah paham situasinya."
Toujou mengangguk lembut menerima permintaan maaf Aoi.
Sebaliknya, Kurasaki mengangkat wajahnya dengan ekspresi
yang masih tidak bisa menerima keadaan.
"……Mari kita ajukan tuntutan pengungkapan informasi
identitas (Disclosure Claim)."
Matanya memancarkan kemarahan yang lebih besar daripada
siapa pun di ruangan ini.
Pengungkapan informasi…… mencari pelakunya, ya. Memang itu adalah langkah yang sesuai dengan teori (Standard Move).
Fitnah yang terang-terangan begini hanya membawa kerugian. Memang seharusnya
pelakunya segera ditemukan dan nama baikku dipulihkan.
Namun, dunia ini tidak adil. Dalam Shogi, langkah
standar mungkin merupakan langkah terbaik, tapi di kenyataan, langkah standar
belum tentu langkah terbaik. Keadilan selalu membutuhkan waktu untuk
ditegakkan.
Benar, butuh waktu──.
"Tidak, aku tidak akan melakukannya."
Aku menyatakannya dengan tegas.
"Kenapa!? Apa Senpai akan membiarkan pelakunya bebas
begitu saja!?"
"Aku juga merasa kita harus melapor pada polisi,
atau setidaknya guru sekolah. Masalah seperti ini tidak akan selesai kalau akar
masalahnya tidak dicabut."
Akar masalah, ya. Memang akan terasa melegakan jika bisa
mencabut semuanya sampai ke akar.
Tapi, kenyataannya tidak semudah itu.
"Memikirkan siapa pelakunya itu sia-sia. Di tengah
situasi di mana postingan dilakukan oleh orang yang tidak dikenal dalam jumlah
banyak, mencari identitas mereka satu per satu hanya akan membuang
tenaga."
Benar, ini adalah taktik yang sangat janggal.
Meski gelar "si curang" mungkin terasa
cocok untukku, mengumpulkan opini sebanyak ini dalam waktu singkat adalah hal
yang hampir mustahil.
Apa yang mereka lakukan ini hanyalah sebuah rekayasa.
Tidak ada bukti sama sekali. Namun, terlalu banyak postingan dari orang-orang
yang terbawa suasana dan percaya begitu saja bahwa aku curang.
Aku memang tidak paham soal internet, tapi kemungkinan
besar ada orang yang ahli dalam manipulasi informasi semacam ini yang menjadi
provokatornya.
Dia sengaja membuat postingan yang terlihat amatir dan
penuh celah, seolah-olah memancingku untuk menuntut, memancingku untuk
mengambil tindakan.
Apa alasan dia merendahkanku dengan cara sepele seperti
ini? Apa tujuannya? Keuntungan apa yang didapat "dalang" di balik ini
jika aku melakukan serangan balik yang legal?
Siapa pun pelakunya, setiap tindakan pasti didasari oleh
motif.
Untuk dilakukan atas dasar iri hati atau sekadar cari
pelampiasan, taktiknya terlalu rapi, namun caranya terlihat sengaja dibuat
"lemah".
Seberapa keras pun mereka mencoba, semuanya akan hancur
jika aku menuntut mereka.
Artinya, lawan melakukan ini dengan pemahaman akan hal
itu. Tindakan mereka seolah didasari oleh asumsi bahwa aku pasti akan
menuntut.
……Jika berpikir seperti itu, aku bisa memahami arti
kata-kata Hayato kepada Aoi.
"Lalu apa yang harus kita lakukan……?"
"Tidak melakukan apa pun. Kita akan tetap fokus
berlatih di klub untuk turnamen prefektur."
"Senpai waras……!? Postingannya terus bertambah
bahkan saat ini! Kalau dibiarkan, ini akan jadi semakin parah!"
"Bukankah si kembar itu sedang bergerak supaya hal
itu tidak terjadi? Kalau begitu, kita hanya perlu diam dan fokus meningkatkan
kemampuan Shogi kita."
"Tapi……!"
Kurasaki tampak tidak puas dengan keputusanku. Toujou pun juga memberikan argumen yang menentang usulanku dengan nada
tidak setuju.
"……Biasanya aku akan setuju dengan pendapat
Masai-kun, tapi kali ini aku harus menolaknya. Aku tidak merasa keadaan akan
membaik jika dibiarkan. Ini jelas pencemaran nama baik. Langkah terbaik adalah
menuntut secara resmi dan menyelesaikannya secara hukum."
"Bukan. Di situlah letak kekeliruannya, Toujou-san."
"Eh……?"
Toujou menunjukkan ekspresi bingung yang jarang kulihat
mendengar perkataanku.
"Bahkan jika aku melakukan serangan balik yang
benar, hal itu tidak akan membuat pelakunya merasa kalah. Taktik yang sevulgar
ini justru seperti sedang memancing kita untuk menuntut."
"Kalau
memang memancing, apa gunanya……"
"Jika masalah ini dibesar-besarkan, aku akan
diseret ke proses pemeriksaan resmi. Dan itu sama saja dengan memberiku label
'mencurigakan' di mata publik. ……Artinya, ada kemungkinan hak partisipasiku di
turnamen prefektur akan dicabut."
"Ah……"
Benar, bergerak di sini justru merupakan langkah
buruk. Jika aku orang biasa sih tidak masalah, tapi kami memiliki turnamen
prefektur yang sudah di depan mata.
Celah yang terlihat dalam taktik mereka ini tidak
salah lagi adalah sebuah "jebakan".
"Topik yang dibahas adalah apakah aku melakukan
kecurangan atau tidak. Jika kita membuat ini menjadi kasus hukum sekarang,
semua pihak akan masuk ke mode menunggu hasil investigasi. Hal itu juga akan
berakibat langsung pada terhentinya upaya yang sedang dilakukan si kembar
Sakuma di balik layar. ……Dan jika akhirnya kita tidak bisa ikut turnamen
prefektur, siapa yang akan mendapat keuntungan?"
Toujou terdiam, tampaknya dia mulai menyadari sesuatu.
"Kalau tidak salah, Turnamen Koryu ini adalah salah
satu turnamen paling bergengsi dalam sejarah, kan?"
Aku bertanya pada Kurasaki.
"……Iya. Turnamen ini didukung oleh sponsor raksasa.
Jadi, kehormatan yang didapat jika menang tidak bisa dibandingkan dengan
turnamen lain."
"Kalau begitu, niat orang yang merendahkanku jadi
semakin terbaca. Waktunya pun sangat tepat. Mereka jelas-jelas menargetkan
tepat sebelum turnamen prefektur dimulai."
Setidaknya, Sakuma Hayato sudah menyadari hal sejauh itu.
Makanya dia tidak memberitahu kami hal-hal yang tidak perlu dan memprioritaskan
kami untuk berangkat ke turnamen prefektur.
"Makanya, seperti yang dikatakan Hayato, langkah
terbaik bagi kita adalah tetap berlatih di klub dengan tenang untuk menghadapi
turnamen prefektur."
"……Tapi kebenaran tidak akan bisa menang melawan
cara-cara kotor seperti itu."
"Kalau begitu, biarkan aku berjalan di 'jalan
samping'."
Dengan suara tenang, aku mengembalikan ponsel Aoi
dengan lembut.
Kemarahan murni mungkin bisa meredakan rasa sakit,
namun ia tidak akan membantu dalam pengambilan keputusan yang dingin.
Meski begitu, aku pun tidak cukup bijak untuk tidak
merasakan apa-apa saat difitnah atas hal yang tidak kulakukan.
Aku hanya berusaha sekuat tenaga dengan kepalaku yang
terbatas ini agar setidaknya ada satu sisi dari diriku yang bisa melihat
masalah ini secara objektif.
"Kurasaki, Toujou-san, ……Aoi. Terima kasih sudah
marah demi orang sepertiku."
Bersamaan dengan itu, bel tanda berakhirnya klub
berbunyi, sedikit mencairkan ketegangan yang ada di udara.
Aku tersenyum tipis.
"Tenang saja. ──Aku tidak pernah mengatakan
kalau aku akan menyerah begitu saja."



Post a Comment