NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Ouja no Ban Kuruwase -Netto Shougi no Teiou ~ Kiryuu no Ouja to Taiji suru ⁓ Volume 2 Interlude II

Langkah Tersembunyi 2

Rekan


Di tengah perjalanan pulang saat mentari mulai tenggelam, Hayato berjalan di depan Kaito dengan bahu yang tampak lesu.

"Aaah, capeknya!"

"Kerja bagus. Mau beli sesuatu dulu sebelum pulang?"

"Tentu saja Kakak yang harus traktir, ya! Tadi kan hampir cuma aku yang bicara."

"Maaf, maaf. Aku memang agak payah menghadapi orang itu."

"Ngomong-ngomong, Kakak dulu sering dibuat menderita sama dia pas zaman di kelompok pelatihan, ya?"

Hayato menahan tawa sembari menyusuri jalan pulang.

Melihat tindakan adiknya yang sedikit tidak terduga dan berbeda dari biasanya, Kaito pun tak tahan untuk bertanya.

"Tapi aku benar-benar terkejut, lho. Tidak menyangka Hayato akan menolong Watanabe. Kupikir selama ini kamu membencinya?"

"……Ah?"

Hayato memutar tubuhnya untuk menghindari tiang listrik di depannya, lalu menjawab sambil memunggungi Kaito.

"Tentu saja aku benci. Dia itu cowok yang menyebalkan. Baru saja masuk klub sudah bisa mengalahkan Toujou dengan mudah. Padahal cara memegang bidaknya saja terlihat kaku, tapi kemampuannya jauh lebih kuat dari kita. Yang paling membuatku muak adalah sikap rendah hatinya yang sok itu, benar-benar memancing emosi."

Hayato mengepalkan tinjunya kuat-kuat, melontarkan kata-katanya dengan nada kasar.

Namun, setelah selesai bicara, kepalan tangan itu perlahan terbuka.

"Tapi, dia sudah masuk ke klub ini. Dia sudah bergabung dan menjadi rekan yang berjuang bersama kita dalam pertandingan beregu. ……Apa gunanya merendahkan rekan sendiri?"

Seolah memberontak terhadap tindakan Aoi, Hayato telah menetapkan prinsipnya sendiri.

Prinsip yang cukup kuat untuk membuatnya bergerak memutarbalikkan seluruh rencana dalam insiden yang melibatkan Aoi──.

Hari terjadinya insiden Aoi. Saat perpindahan kelas untuk pelajaran siang, Hayato yang berada di kelas berbeda secara mengejutkan mendatangi Masai.

"Oi, Watanabe. Kau…… sepulang sekolah nanti, kau akan dijebak oleh Aoi Reina."

"……!"

Masai membelalakkan mata mendengar kata-kata yang terlontar sebagai pembuka pembicaraan itu.

Masai terkejut bukan karena peringatan Hayato tentang apa yang akan dilakukan Aoi, melainkan karena fakta bahwa Hayato-lah yang menyampaikannya secara langsung kepadanya.

"Sepertinya dia sudah menyiapkan banyak hal, tapi aku tidak berniat ikut campur dalam masalah ini. Jadi, kau harus bergerak lebih dulu dan selesaikan semuanya. Sebagai General, kau pasti bisa melakukannya, kan?"

"……Kenapa kau memberitahuku soal ini?"

"Cih, tidak perlu dijelaskan pun kau harusnya paham. Kalau kau keluar dari klub, siapa yang akan jadi General? ……Aku malas mengakuinya, tapi kau adalah penyumbang poin terbanyak di turnamen Koryu. Kalau kau keluar, tingkat kemenangan kita di tingkat prefektur bakal anjlok, tahu."

Meski suaranya semakin mengecil di akhir kalimat, Hayato menyampaikannya dengan tegas.

Masai tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya atas saran dari orang yang tak terduga ini. Namun, begitu memahami maksud di balik kata-kata tersebut, tawa pun lepas dari mulutnya.

"……Hahaha."

"Ah?"

"Tidak, aku hanya merasa ini sedikit tidak terduga karena selama ini kukira kau membenciku……"

"Berisik. Aku tidak pernah bilang kalau aku menyukaimu. Sudah sana, cepat pikirkan langkah pencegahannya."

"……Baiklah. Terima kasih sudah memberitahuku."

Begitulah percakapan singkat antara Masai dan Hayato berakhir.

Alasan mengapa Masai bisa memiliki persiapan mental dan menyusun strategi matang dalam menghadapi ancaman Aoi setelahnya, adalah karena Hayato telah membocorkan informasi itu lebih dulu.

"──Target kita adalah juara nasional, kan? Sudah susah payah mendapatkan sekutu yang kuat, hanya orang bodoh yang menyia-nyiakannya demi perasaan pribadi atau dendam pribadi."

Hayato mungkin membenci Masai, tapi dia tidak pernah merendahkannya.

Apalagi, Kaito yang melihat langsung kemampuan Masai di turnamen wilayah telah menceritakan informasi tersebut kepada Hayato.

Pada titik itu, skenario di mana Aoi membuat Masai keluar dari klub sudah dianggap sebagai pilihan yang mustahil dalam benak Hayato.

"Kasus kali ini juga sama. Curang apanya? Apa dengan curang kau bisa menang melawan Tenryu Kazuki itu? Aku sendiri sudah mencoba meneruskan posisi dari situasi putus asa itu dan bertarung melawan AI terkuat, tapi aku tidak kalah, lho?

Kalau aku saja tidak kalah, mana mungkin Tenryu bisa kalah.

Pada titik itu, AI pun punya peluang menang nol persen. Tapi Watanabe bisa menang. Itu bukan kekuatan AI, tapi kekuatan manusia.

Dia menang karena menggunakan kekuatan manusia yang menggabungkan perang psikologis, kecerdasan, dan adu pembacaan langkah.

Orang-orang yang berpikir AI selalu yang terkuat itu benar-benar tidak paham apa-apa."

Hayato menghentakkan kakinya ke tanah dengan kesal.

Pada dasarnya, seandainya pun Masai menggunakan bantuan software sejak momen dia membuang Bishop-nya, hampir mustahil Tenryu bisa kalah. Perbedaan posisinya sudah terlalu jauh.

Mustahil membalikkan keadaan hanya dengan langkah terbaik AI. Hal itu telah dibuktikan oleh Hayato sendiri yang bertarung melawan AI dan berhasil menang.

Mengingat Hayato saja bisa menang melawan AI terkuat dengan selisih posisi sebesar itu, seharusnya Tenryu tidak mungkin kalah.

Fakta bahwa Watanabe bisa memenangi pertandingan itulah yang menunjukkan kekuatan asli seorang manusia, namun dunia hanya melihat hasil dan nilai evaluasi saja.

Setidaknya, dengan memastikan sendiri, Hayato yakin bahwa Masai adalah orang yang layak untuk dipercaya.

"Kakak juga melihatnya langsung di sampingnya, kan? Pasti mengerti."

"Benar. Dia tidak melakukan kecurangan. Kalau dia curang, hidungnya tidak akan berdarah."

"Eh, dia mimisan?"

"Itu setelah pertandingan selesai. Dia minta dipinjami tisu, dan saat kutanya alasannya, ternyata selaput lendirnya robek dan dia mimisan. Karena itu kejadiannya di toilet, mungkin tidak ada yang tahu."

"Gila juga. Apa manusia bisa mimisan cuma gara-gara konsentrasi……?"

Hayato bergumam dengan nada antara heran dan kagum, sementara Kaito mengedikkan bahu pelan.

"Yah, setidaknya setelah melihat itu, aku tidak akan pernah bisa menyebutnya sebagai pemain palsu."

"Benar juga."

Di bawah cahaya lampu jalan, mereka berdua terus berjalan menyusuri jalanan malam sambil bertukar obrolan ringan seperti itu.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close