Langkah
Tersembunyi 1
Racun
Mematikan
Seberapa banyakkah orang yang akan percaya jika aku
memberi tahu mereka bahwa sekarang, tepat di belakangku, ada Sang Ratu dari
dunia pemain shogi profesional wanita?
Bahkan sampai sekarang pun aku masih sulit memercayainya.
Fakta bahwa Mizuki Yumeno yang legendaris itu──datang ke rumahku.
"Ki-kita sudah sampai."
"Ini rumah Natsu?"
"Iya, maaf ya... berantakan."
Yumeno-san yang muncul tanpa suara dari belakangku
melirik sekilas ke arah pintu masuk, jendela, lalu atap, seolah sedang memindai
seluruh eksterior rumah.
Sekeliling rumahku memang kotor. Pembersihan area luar
tidak dilakukan dengan teliti; sarang laba-laba bergantung di sana-sini, dan
lumut pun mulai tumbuh.
Meski begitu, Yumeno-san mengangguk tanpa menunjukkan
raut wajah jijik sedikit pun.
"Manis, ya."
Ucapnya sambil melangkah mendahuluiku menuju pintu depan.
Akulah yang mengajaknya.
Karena, kesempatan untuk berhadapan langsung dengan
seorang pemain profesional wanita itu biasanya mustahil didapatkan.
Lima menit atau sepuluh menit pun tak apa. Meski hanya
satu milimeter dari kebijaksanaannya, aku memohon agar dia mau mengajariku
shogi.
Yumeno-san setuju mengajariku sedikit dengan syarat:
"Aku harus rajin sekolah." Sepertinya hobiku membolos sudah ketahuan.
Karena aku memang tidak berniat bolos terus, setelah
kejadian itu aku datang ke sekolah dan mengikuti pelajaran sampai akhir.
Sepanjang siang aku diganggu oleh murid-murid laki-laki
di kelas secara tidak wajar, mungkin mereka merasa murid yang jarang masuk itu
seperti barang langka.
Kebetulan hari ini tidak ada kegiatan klub, jadi aku bisa
pulang lebih awal.
Tadi aku sempat melihat Mikado-senpai di loker sepatu
gedung sekolah dan ingin menyapanya, tapi ekspresinya terlihat begitu tajam
sehingga aku mengurungkan niat karena suasananya tidak enak.
Setelah itu, aku bertemu Yumeno-san sesuai waktu yang
dijanjikan dan mengajaknya ke rumah agar bisa mendapat bimbingan langsung.
"Kalau begitu, aku masuk ya. Apa orang tuamu ada di
rumah?"
"Sekarang sedang tidak ada."
"Wah, kalau begitu aku jadi kakak perempuan nakal
yang menyusup ke rumah gadis muda tanpa izin, dong."
"Tidak juga."
Sejak awal bertemu aku sudah merasa, Yumeno-san ini tipe
orang yang cukup suka bercanda.
Berkat itu, wajahnya yang tadinya kaku seperti topeng Noh──seolah
tak terpikirkan apa pun──kini terlihat sedikit lebih ramah.
Aku memandu Yumeno-san masuk ke ruang tengah, di mana
cahaya sore yang memantul dari jendela tetangga masuk menyinari ruangan.
"Kubilang dulu di awal, cara mengajariku itu 'tidak
cocok dengan zaman sekarang'. Apa tidak apa-apa?"
"Sebab... Anda adalah orang dari 'Generasi Kedua',
kan?"
"Wawasanmu luas juga."
"Karena Anda adalah salah satu pahlawan."
Benar, jika dia memang benar-benar Mizuki Yumeno, maka
dia adalah salah satu pahlawan dari Generasi Kedua.
Sebagai sang "Revolusioner"... tadinya kupikir
hal itu tidak ada hubungannya denganku yang hidup di Generasi Ketiga.
Namun, setelah diperlihatkan perbedaan kekuatan yang
begitu telak, aku tidak bisa mengabaikannya.
Atau mungkin, perbedaan kemampuan antara generasiku dan
generasinya memang terpaut sangat jauh hingga tak bisa dibandingkan?
Bahkan mungkin saja... melampaui Mikado-senpai──.
"Natsu, shogimu itu sangat murni dan jujur. Tapi,
itu hanya sebatas rapi dan indah."
"Apa shogiku memang terlihat indah...?"
"Ya, sangat indah sampai aku bisa jatuh cinta pada
pandangan pertama. Baik pada shogimu, maupun dirimu sendiri."
"Fuehh...?"
Gawat, aku mengeluarkan suara aneh. Perkataan dan
gerak-gerik Yumeno-san entah kenapa mirip dengan Mikado-senpai, terkadang
membuatku sulit menjaga ketenangan.
Karena malu, aku membuang muka dan bergegas menyiapkan
peralatan di atas meja ruang tengah. Sebuah papan shogi dari karet dan
bidak-bidak plastik.
Saat aku membalikkan kotak bidak dan menumpahkannya,
Yumeno-san mulai menyusun bidak-bidak itu di atas papan tanpa ragu.
"Tapi, shogi yang hanya sekadar rapi dan indah hanya
akan melahirkan kehancuran yang tak berguna."
"...?"
Seolah sedang mengingat sesuatu, Yumeno-san menatap ke
arah yang jauh saat merangkai kata-kata itu.
"Aku sangat benci kesenian, karena itulah aku
menjadikan semua hal yang memikat sebagai senjata. ...Jadi, yang akan kuajarkan
padamu adalah shogi untuk membunuh orang."
Aku tarik kembali kata-kataku tadi. Orang ini sama sekali
tidak mirip dengan Mikado-senpai. Terkadang ucapannya sangat menakutkan.
"Jangan terlalu waspada begitu, ini hanya
shogi."
Tatapan matanya yang mencampurkan warna merah dan perak
itu kini diiringi nada bercanda.
"Kalau begitu, mari kita mulai dengan membetulkan
instingmu. Ayo, lihat papan ini──"
"Eh? Ah, iya."
Mendengar instruksi Yumeno-san, aku menatap papan yang
entah sejak kapan sudah tersusun. Pada saat itu juga, aku merasakan
ketidaknyamanan yang luar biasa sampai-sampai ingin mengeluh.
Posisinya adalah Ai-nyuryu──kondisi di mana Raja
kedua pihak sudah masuk ke area lawan──dan itu terjadi setelah banyak bidak
yang dipromosikan. Sebuah kondisi di mana permainan ditentukan lewat
perhitungan poin.
"Apa kesanmu melihat ini?"
"......Aku tidak ingin memainkannya."
"Kalau begitu, mainkan. Berikan
satu langkah selanjutnya yang pasti menang. Dalam sepuluh detik. Sepuluh, sembilan, delapan,
tujuh──"
"E-etoo...
▲1 Sembilan Raja?"
"Hmm,
menjawab dalam lima detik itu pencapaian bagus. Tapi salah besar."
"Ugh..."
Sejujurnya,
mana mungkin aku tahu dalam waktu sesingkat itu. Posisinya
terlalu berantakan, butuh lebih dari satu menit hanya untuk memahami
situasinya.
"Bukankah kubilang satu langkah yang pasti
menang? Jawabannya adalah: 'Saya deklarasikan kemenangan'."
"......Eh?"
"Posisi ini sudah memenuhi syarat aturan 27 poin.
Karena itu, Hukum Deklarasi Nyuryu bisa diberlakukan."
"Ta-tapi hal seperti itu tidak mungkin dipahami
dalam sepuluh detik...!"
"Salah. Kau tidak melakukannya karena kau tidak
memiliki keyakinan, sehingga kau tidak bisa mengalahkan rasa takutmu akan
membuat kesalahan, kan?"
"......!"
Itu
adalah argumen yang licin. Namun di saat yang sama, itu adalah serangan balik
tepat yang menusuk niat asliku.
Jika
ini adalah situasi di mana aku benar-benar harus menang, jika ini adalah
satu-satunya momen untuk meraih kemenangan, maka benar bahwa aku telah memilih
langkah defensif dan melakukan kesalahan.
Tapi,
bukankah wajar bagi manusia untuk merasa ragu di hadapan langkah yang
berisiko...?
"Kalau begitu, selanjutnya adalah mendeteksi 'rasa
takut' itu. Dalam shogi, jika ada rasa takut, maka akan muncul langkah buruk.
Pertama, sadarilah rasa takutmu sendiri."
Yumeno-san kembali mengambil bidak dan menyusun posisi.
Tanpa penjelasan berlebih, dia memberiku instruksi hanya dengan kata-kata yang
paling minimal.
"Mulai sekarang, aku akan memberimu sepuluh soal
'langkah selanjutnya' yang terdiri dari tiga rangkaian langkah. Batas waktu
tiga puluh detik. Aku tidak akan memarahimu jika tidak bisa menjawab, tapi
dilarang diam berpikir. Suarakan pikiranmu saat membaca langkah. Suarakan
ketakutanmu. Seperti 'Takut kalau membiarkan Raja kabur di sini' atau 'Rasanya
aku akan kalah jika memilih langkah ini'. Hal sekecil apa pun tidak masalah.
Suarakan."
"Ba-baik, saya mengerti."
Aku mencoba melakukan sesuai perintahnya. Soal yang
diberikan semuanya adalah masalah sulit yang melibatkan bahaya pada Raja
sendiri; aku tidak akan bisa menjawabnya jika hanya memikirkan jalur serangan
sepihak seperti dalam Tsume Shogi.
Namun, aku mencoba menyuarakan pikiran itu sendiri sambil
melangkah.
Setiap kali Yumeno-san mendengar langkah apa yang sedang
kupertimbangkan, dia mengubah isi soal menjadi sesuatu yang lebih kejam.
Dan secara bersamaan, tingkat akurasi jawabanku
perlahan-lahan menurun.
"Bagus, teruskan. Katakan perasaanmu dengan lebih
jujur. Aku sengaja membuat posisi dalam bentuk yang paling
kau benci. Lihatlah bentuk yang kau benci itu berulang kali, sampai matamu
terbiasa."
Dan saat mencapai soal kesepuluh──.
"Ini... tidak mungkin..."
"Kalau kau bilang tidak mungkin, maka semuanya
selesai di sana. Karena itulah kau harus melakukannya. Jika kau pikir tidak
mungkin, bagi alasan ketidakmungkinan itu menjadi potongan-potongan kecil dan
pikirkan satu per satu. Jangan lari sekarang, terima saja bentuk itu. Ayo, sisa
dua puluh detik."
Aku
menatap papan dengan wajah masam.
Posisinya
sudah di akhir permainan (Endgame), pertarungan terjadi dengan Raja di
baris menengah──mirip dengan gaya Jimetsu-ryu yang dimainkan
Mikado-senpai.
Apakah harus bertahan? Menyerang? Mengejar keunggulan
bidak? Atau mengincar Nyuryu?
Pilihan yang tersedia sangat luas, dan sebagian besar
darinya melibatkan prosedur yang berisiko tinggi.
Mana mungkin aku bisa membaca semuanya. Tidak mungkin,
tapi...
"…………▲5 Lima Raja."
"△8 Lima Benteng, Check dan
mengincar Gajah."
"▲6
Empat Raja."
"......Bagus,
akhirnya kau bisa menjawab benar."
Aku
melangkahkan prosedur terburuk yang bisa kupikirkan. Sebuah langkah yang
memiliki risiko tertinggi di antara semua kandidat langkah yang kubaca, bahkan
langkah yang rasanya tidak sudi kumainkan.
Namun,
rasa itu muncul hanya karena aku belum membaca tuntas seluruh prosedurnya.
Instingku memahami bahwa langkah tersebut termasuk dalam kandidat jawaban yang
benar.
Langkah
berbahaya, tapi mungkin benar. Dulu saat aku baru naik ke tingkat pemegang
sabuk (Yudansha), aku sering memainkan langkah seperti itu.
Namun
seiring aku menjadi kuat, aku mulai menghindari langkah-langkah semacam itu.
Kemenangan
dalam shogi bukan berasal dari memainkan langkah yang kuat, melainkan dari
tidak memainkan langkah yang lemah.
Sudah
berapa lama ya, sejak terakhir kali aku memainkan langkah yang seberisiko ini?
"Prosedur
yang kau anggap tidak sudi kaumainkan itu adalah prosedur yang lawanmu juga
akan lengah karena menganggapnya tak mungkin dimainkan. ...Selain itu, meski
kaumainkan pun, itu tidak akan dipahami. Langkah samar yang terlihat seperti
langkah biasa atau langkah lunak itu akan melebur tanpa suara ke dalam
langkah-langkah indahmu."
Yumeno-san
melangkah seolah sedang merekonstruksi kelanjutan dari posisi tersebut, dan
hanya dalam tujuh langkah berikutnya, dia berhasil menyudutkan Raja lawan ke
posisi Hishi (posisi skakmat yang tak terhindarkan).
Padahal
seharusnya kedua pihak memainkan langkah terbaik, namun posisi yang tadinya
terlihat seimbang itu kini berbalik menjadi kemenanganku secara sepihak.
...Rasanya
seperti sedang melihat ilusi.
"──Yang
namanya 'Racun Mematikan' itu, segalanya sudah terlambat saat kau baru
menyadarinya."
Itulah gaya permainan Yumeno-san yang kurasakan tadi
pagi.
Dia memamerkannya sekarang, melanjutkan dari prosedur
yang baru saja kulangkahkan. ──Dan yang menciptakan titik awal itu,
bagaimanapun juga, adalah aku.
"Aku yang... melangkah?"
"Ya, ini adalah langkah yang kaumainkan. Barusan,
untuk sesaat, kau melangkah dengan kekuatan yang setara denganku."
Pikiranku tak mampu mengejar. Aku hanya bisa terpaku
diam.
Baru tiga puluh menit berlalu... sejak dia datang ke
rumahku, jarum panjang jam bahkan belum berputar satu lingkaran penuh.
Sesuatu dalam lubuk hatiku perlahan-lahan mulai berganti,
memunculkan rasa terpana yang lebih besar daripada kegembiraan.
Aku telah memainkan langkah yang mungkin seumur hidup tak
akan pernah kumainkan lagi. Otakku telah memahami bahwa itu adalah 'sesuatu
yang bisa dimainkan'.
Tanpa sadar aku mendongak, dan orang itu sedang
tersenyum puas sambil bertopang dagu.
"Memberi racun pada bunga yang kotor tidak akan
membuat lebah mendekat. ──Natsu, kau membunuh orang dengan wajah cantikmu itu,
ya? Kau persis sepertiku. Fufu."
"......Haha."
Hanya tawa kering yang sanggup keluar dari mulutku.



Post a Comment