Penerjemah: Amir
Proffreader: Amir
Special Short Story Digital Edition
Masa SMA Hibise
"Panas banget......."
Padahal sudah masuk bulan Oktober, tapi musim seolah enggan berganti dengan patuh. Sisa-saran musim panas yang datang kembali tepat saat mulai terlupakan, membuatku bimbang dalam memilih pakaian.
"Haa, ingin pulang rasanya......."
Diriku di masa SMA tidak semencolok sekarang; aku adalah apa yang orang sebut sebagai gadis kutu buku. Seorang siswi SMA biasa yang tidak mengenal kemewahan dan sudah terbiasa membaur di sudut kelas. Setidaknya, begitulah menurut pemikiranku sendiri.
Warna rambutku jauh dari kata pirang, melainkan cokelat kusam yang nanggung. Jika hari pemeriksaan rambut tiba, aku pasti akan diawasi, jadi sama sekali tidak ada untungnya. Rambutku pun selalu dikepang dua dengan rapi. Jika teman-teman kuliahku yang sekarang melihat penampilanku ini, mungkin hampir tidak ada yang akan menyadari bahwa kami adalah orang yang sama.
Dalam berpakaian pun, aku berusaha sebisa mungkin untuk terlihat sederhana. Bahkan di musim panas sekalipun, aku mengenakan kardigan tipis di luar lengan pendek untuk meminimalkan bagian kulit yang terekspos. Itu adalah cara agar tidak mencolok, sekaligus menjadi zirah untuk melindungi diri dari pandangan orang lain.
Temanku hanya sebatas kebutuhan minimum. Aku membangun hubungan sekadar agar tidak kesulitan saat diminta membuat kelompok berdua. Lawan bicaraku pun kemungkinan besar hanya memilihku karena aku terlihat tidak punya teman; kami hanya saling mendekat demi perlindungan diri. Begitu ada pembagian kelas baru, hubungan itu pun akan segera berakhir. Hal seperti itu sudah kupahami meski tidak diucapkan, dan kemungkinan besar pihak lawan pun memikirkan hal yang sama.
"──Tempat janjinya adalah......."
Sambil bergumam pelan, aku menundukkan pandangan ke arah 【Buku Panduan Strategi】 di tanganku. Saat membaliknya lembar demi lembar, bagian dalamnya penuh sesak dengan tanggal dan tulisan yang membuat tengkukku merinding setiap kali membacanya.
Begitu sampai di tempat yang tertulis dalam 【Buku Panduan Strategi】, di sana sudah ada sosok Sano Yuuto dan Saionji Satsuki. Dan, sebuah bayangan yang sangat kukenal sedang bersembunyi di balik semak-semak di samping gedung sekolah.
"La-gi apa──Satoshi-senpai?"
Saat aku menyapa tanpa menyembunyikan rasa jengahku, semak-semak itu sedikit bergoyang, dan dari baliknya muncullah sebuah wajah dengan hati-hati.
"Ah, Hibise ya. Halo~."
Iriya Satoshi ──Senpai kelas setingkat di atasku.
Dia sedang mengintai situasi dari balik bayangan semak-semak di posisi yang tidak pantas dilakukan di lingkungan sekolah. Penampilannya itu, dilihat dari sudut mana pun, sulit untuk dikatakan sebagai tindakan yang sehat. Tanpa sadar, aku memberinya tatapan dingin.
"Jangan menjawab dengan asal-asalan dong~."
"Maaf, sekarang aku sedang sibuk."
Satoshi-senpai hanya mengangkat bahu dan segera mengalihkan pandangannya kembali ke arah Sano Yuuto dan Saionji Satsuki. Profil wajahnya terlihat sangat serius, yang justru membuat tindakannya terasa semakin buruk.
"Kalau Senpai tidak memedulikanku, aku akan berteriak lho?"
Akhirnya, dia menoleh ke arahku. Dengan ekspresi yang benar-benar muak dan jengah sampai membuatku kesal.
"Sudah kubilang sebelumnya, kan? Aku ini seorang reinkarnator."
"Yah, begitulah pengakuan Senpai~."
"Pasti ada alasan mengapa aku bereinkarnasi ke dunia ini sebagai seorang figuran."
"Hoo~."
Apa yang dia lakukan dengan wajah sok keren itu benar-benar terlihat sangat payah. Aku pun ikut berjongkok di samping Satoshi-senpai sambil mendekap 【Buku Panduan Strategi】 di dada. Isinya──mulai dari upacara penerimaan siswa baru kami hingga hari upacara kelulusan para Senpai. Tempat, waktu, dan kejadian. Semuanya tertulis dengan sangat mendetail hingga tidak ada celah untuk lari.
Awalnya adalah sebuah kebetulan. Saat aku melihat Reine-senpai, aku menyadari adanya bayangan mencurigakan yang membuntutinya dari belakang. Didorong oleh rasa keadilan yang aneh, aku mengejar pria itu. Pria itu adalah──Satoshi-senpai.
Awalnya aku berniat melaporkannya ke polisi. Namun, Satoshi-senpai menghentikanku dan menawarkan sebuah negosiasi yang tidak masuk akal.
"Dunia ini adalah dunia gim yang disebut 【LoD】! Mulai sekarang, keseharian akan bergerak sesuai dengan apa yang kukatakan, jadi perhatikanlah baik-baik!"
Jika hal itu menjadi kenyataan, dia ingin aku tidak melaporkannya──. Dengan syarat konyol seperti itulah semuanya bermula. Keesokan harinya, aku diberikan buku catatan yang disebut 【Buku Panduan Strategi】 ini. Dan hasilnya adalah seperti yang bisa dilihat sekarang. Entah bagaimana, aku malah jadi tertarik pada cerita bahwa dunia ini adalah dunia fiksi.
"Sampai sekarang pun, aku sulit percaya bahwa aku bisa memercayai omong kosong Satoshi-senpai."
"Hidup memang terkadang seperti itu."
Satoshi-senpai mengabaikan kata-kataku dengan asal dan kembali mengalihkan pandangannya ke arah Sano Yuuto dan Saionji Satsuki.
"Bagi orang lain, Senpai hanya terlihat seperti seorang penguntit biasa lho~."
"Sudah kubilang, aku bukan penguntit......."
"Bukankah Senpai hanya sedang mengintip wanita yang Senpai sukai?"
"......Bukan begitu. Aku juga sedang mendukung Sano!"
"Si sampah itu?"
Aku menunjuk ke arah Sano Yuuto yang menjauh dengan ibu jariku. Di ujung pandangan, Saionji Satsuki sedang melepas kepergian Sano Yuuto dengan ekspresi wajah yang tampak sedih.
"Dia, dia hanya belum terbangun saja......!"
"Melihat Senpai yang berusaha keras meyakinkan diri sendiri itu terlihat menyedihkan lho?"
"Guh......."
Bukan hanya Saionji Satsuki. Kitagawa Reine, Nanjou Shuna, Shinonome Shino──tiga orang lainnya pun diperlakukan dengan cara yang sama.
"......Menurut 【Buku Panduan Strategi】 yang Satoshi-senpai berikan, si sampah itu──maaf, maksudku Sano Yuuto, sepertinya selalu memilih pilihan yang tidak menaikkan tingkat kesukaan ya~."
"Benar juga......."
Lalu, Satoshi-senpai mengarahkan tatapan sedih ke arah Satsuki dan yang lainnya.
"──Saat aku memainkan 【LoD】 di kehidupan sebelumnya, Sano lah yang menyelamatkan Satsuki dan yang lainnya."
Ia kemudian melanjutkan dengan suara lirih.
"Cara hidupnya itu sangat keren, dan aku yang dulu hanya seorang NEET yang tidak punya apa-apa... sangat ingin menjadi seperti dia."
Lalu.
"......Apakah kenyataan memang seperti ini?"
Entah karena tidak bisa sepenuhnya memercayai Sano Yuuto, Satoshi-senpai menghela napas pendek sambil menutup dahinya dengan tangan. Profil wajahnya yang terlihat di sela-sela jari tampak sangat kelelahan.
Memang benar, di dalam 【Buku Panduan Strategi】, Sano Yuuto hanya tertulis sebagai sosok yang super baik hati. Namun, itu pun hanya berlaku selama dia tidak melenceng dari "pilihan-pilihan" yang ada. Ironisnya, dia tampak mengumpulkan flag (pemicu kejadian) satu demi satu. Karena itulah, aku melontarkan kata-kata yang selama ini mengganjal di lubuk hatiku kepada Satoshi-senpai.
"──Kalau begitu, bukankah lebih baik jika Senpai saja yang menyelamatkan mereka berempat?"
"Eh?"
Satoshi-senpai menatapku dengan keterkejutan yang tulus.
"Jika Senpai menyelamatkan Saionji Satsuki dan yang lainnya yang sedang dirundung masalah, maka keempatnya akan menjadi milik Senpai, lho☆."
"Tu-tunggu......."
Ia kemudian melanjutkan dengan nada panik.
"Tunggu, tunggu, tunggu! Aku ini hanya pengamat di dunia ini, kau tahu? Bagaimana bisa aku yang seperti ini menyelamatkan Satsuki dan yang lainnya──."
"Kalau begitu,"
Aku memotong kata-katanya.
"Apakah Senpai membiarkan Satsuki-senpai dan yang lainnya terus menderita seperti ini?"
"──"
"Jika si sampah itu terus melangkah seperti ini, sudah pasti mereka akan berakhir di *bad end*. Menurutku, jauh lebih baik diselamatkan oleh Satoshi-senpai."
Sejujurnya, 【Buku Panduan Strategi】 tidak menuliskan bagaimana akhir nasib keempat wanita itu, jadi ini hanya imajinasiku saja. Aku sudah mengenal Satoshi-senpai selama setengah tahun.
Meskipun dia langsung bersikap bodoh jika membicarakan 【LoD】, dia bukanlah orang jahat. Dia sangat mahir dalam belajar maupun olahraga, sampai-sampai aku meragukan apakah dia benar-benar seorang NEET di kehidupan sebelumnya.
Dia adalah seorang jenius yang bahkan tidak kalah dari Shino Shinonome, meski orang lain mungkin tidak akan percaya.
──Hanya saja, dia selalu tertimpa kecelakaan sial hingga bakatnya tidak pernah terlihat oleh dunia. Kepribadiannya pun sangat baik hati, sampai bisa disejajarkan dengan Nanjou Shuna yang dijuluki sebagai 【Seijou】. Dia memiliki kelembutan yang membuatnya langsung mengulurkan tangan tanpa bicara saat aku kesulitan.
──Tokoh utama 【LoD】 memang Sano Yuuto. Meski begitu, aku tetap ingin Satoshi Iriya-lah yang menyelamatkan Satsuki-senpai dan yang lainnya.
"......Boleh begitu ya?"
"Tentu saja boleh."
Aku langsung menjawab.
"Lagipula, di pasar novel ringan akhir-akhir ini, bukankah cerita tentang tokoh figuran yang menghajar tokoh utama sampah dan menggantikannya menjadi pasangan pahlawan wanita itu sedang menjamur?"
"......Apa!? Genre yang tidak bisa dimaafkan oleh diriku yang seorang fanatik karya asli ini!?"
"Bukan urusanku."
Setelah menjawab dengan refleks, aku mengembuskan napas dalam-dalam. Aku menatap tajam ke arah Satoshi-senpai seolah ingin menusuknya.
"S-u-d-a-h-l-a-h!"
Aku menekankan setiap suku katanya untuk menutup jalan pelariannya.
"Berhenti mengoceh tidak jelas dan segera bertindaklah! Bukankah Senpai ingin akrab dengan Satsuki-senpai dan yang lainnya?"
"Itu......."
Selangkah lagi.
"Lagipula, seandainya pun Sano Yuuto bersikap baik, kita sudah tahu sifat aslinya, kan?"
Selama setengah tahun terakhir, aku telah belajar hingga merasa muak tentang betapa menyimpangnya pria itu di balik layar.
"Meskipun mereka bersatu di dalam 【LoD】, apakah mereka benar-benar bisa hidup bahagia setelah itu?"
"──"
"Menurutku, membuat sosok idola bahagia itulah inti dari penggemar sejati."
"Benar juga...... benar juga ya."
Setelah merenungkannya dua kali, Satoshi-senpai berdiri.
"......Aku pergi dulu."
"Iya, iya. Aku menunggu oleh-olehnya ya."
Tepat saat ia melangkah maju untuk memanggil Satsuki-senpai, Satoshi-senpai membeku.
"S-setidaknya, untuk menenangkan hati, aku akan menulis di 【Buku Harian】 dulu."
"Cepat pergi sana!"
Tanpa sadar aku berbicara dengan gaya bahasa santai kepadanya. Aku kembali menghela napas.
"Hebat sekali Senpai bisa rajin menulis hal seperti itu."
"......Soalnya, ini sudah jadi kebiasaan."
Satoshi-senpai tersenyum pahit sambil menulis di 【Buku Harian】 miliknya.
"──Ngomong-ngomong."
"......Ma-sih ada lagi?"
Satoshi-senpai menatapku dengan penuh kejahilan.
"Kalau mau menyatakan cinta padaku, sekaranglah saatnya, lho?"
"Hah?"
"Hehe, perasaan Hibise itu...... sakit, sakit, sakit, sakit! Jangan pukul aku pakai tas! Diam itu menakutkan! Sudut tasnya kena tulang, sakit sekali!"
Aku benar-benar memberikan pelajaran pada pria yang kehilangan konsep kesopanan ini.
"Aku tidak akan pernah menyukai Satoshi-senpai seumur hidupku. Aku akan mengincar pria yang lebih baik agar bisa hidup nyaman."
Tidak mungkin aku menyukai pria penguntit seperti ini.
──Tidakkah akan pernah terjadi!



Post a Comment