Penerjemah: Amir
Proffreader: Amir
Chapter 2.2
Kasus Nanjou Shuna
Satu stasiun dari stasiun terdekat universitas jika naik kereta. Begitu pintu terbuka, hawa panas yang pengap dan arus manusia langsung menerjang masuk. Karena ini adalah stasiun hub di mana banyak jalur kereta bersilangan, orang yang tidak biasa mungkin akan langsung merasa "tertelan" oleh kebisingan dan kerumunan itu.
Aku──Nanjou Shuna, berjalan menuju gerbang tiket dengan langkah santai di tengah hiruk-pikuk tersebut.
"Fun, fufuu~n♪"
Sambil bersenandung pelan, aku menempelkan kartu langgananku. Bersamaan dengan bunyi pip elektronik, aku melewati gerbang tiket, dan tepat di depan mataku, sebuah kejadian kecil terjadi.
"Paman, dompetmu jatuh lho~"
"Eh, ah, benar juga. Terima kasih."
"Sama-sama~"
Aku memungut dompet yang terjatuh, menyerahkannya, lalu melambaikan tangan dengan santai. Setelah memastikan paman itu membungkuk dan pergi, aku menaiki tangga di depan stasiun.
"Hm~?"
Kali ini, mataku menangkap sosok seorang nenek yang sedang memegang peta sambil memiringkan kepala.
"Ada yang bisa dibantu~?"
"Eh, ah, anu... aku ingin pergi ke sini."
Aku mengintip peta lipat yang disodorkan si nenek. Bagian tepi petanya sudah menguning, dan sebagian besar bangunan yang tercatat di sana sudah tidak ada lagi.
"Hm~ mari kita lihat~... Ah, kebetulan sekali~, aku juga mau ke sana~. Karena tanggung, mau pergi bersama saja~?"
"Eh? Boleh?"
"Tentu saja~"
Sambil bertukar percakapan ringan, tujuan kami pun terlihat dalam sekejap. Tak lama kemudian, orang-orang yang tampaknya adalah keluarga nenek itu berlari menghampiri.
"Terima kasih... kau sangat membantu."
"Sama-sama~, kalau begitu, selamat menikmati waktu bersama keluarga ya~"
Saat aku hendak pergi, sebuah lembaran uang seribu yen diletakkan di telapak tanganku. Meski sempat merasa bimbang, aku menerima niat baik yang tulus itu. Daripada menolak dan melukainya, lebih baik menerima dengan senyuman agar kedua belah pihak merasa bahagia.
"Nah~"
Begitu sampai di tujuan, sosok Satoshi-kun belum terlihat.
Di sudut kafe yang agak jauh dari depan stasiun, di dekat tembok, seorang wanita sedang sibuk memainkan ponselnya. Dengan headphone terpasang, ia menggerakkan tubuh mengikuti irama dengan riang, membuat pita yang menjadi ciri khasnya bergoyang pelan.
Aku mengingat nama yang disebutkan Reine-chan.
『Hibise』.
"Nah, nah, nah~"
Aku mengembuskan napas pendek dan menatap uang seribu yen di tanganku. Uang yang baru saja kuterima dari si nenek itu, tanpa sadar ujung-ujungnya mulai melengkung.
──Krussh.
Wajah Kitasato Shibasaburo pada lembaran uang itu terdistorsi dengan mengenaskan di dalam genggamanku; simbol dari nilai ekonomi itu hancur berantakan dengan buruk di tanganku.
"Ah-ha. Malah kulakukan~"
Hargailah uang. Jangan disia-siakan. Nanti kena karma.
Ya, aku tahu. Tapi bagiku yang sekarang, itu tidak penting. Uang yang sudah kuremas bulat-bulat itu kuayunkan pelan.
Pung.
Benda itu mengenai pinggiran tempat sampah, lalu jatuh dengan bunyi ringkih.
"Demi menjaga harga diri Satoshi-kun, aku hanya akan mengawasi saja, tapi~"
──Jika dia berani menyentuhnya.
──Jika dia berani menyakitinya.
Seperti uang seribu yen tadi.
"Akan kuhancurkan saja sepertinya~"
◇
Aku mengamati Hibise. Riasannya tidak semenonjol para gyaru, pakaiannya pun tidak aneh-aneh. Tapi melihat caranya memadukan pakaian dan panjang roknya, aku tahu dia sangat sadar akan pandangan laki-laki.
Seperti kata Reine-chan, dia memang cantik dan imut, tapi tidak lebih dari itu. Aku tidak merasakan kecerdasan seperti yang dimiliki Shino-chan. Sebaliknya, yang merembes dari seluruh tubuhnya adalah aura "bodoh yang menyedihkan".
"Fufun! Hari ini aku pasti akan membuat Satoshi-senpai yang sok itu bertekuk lutut!"
Hibise mengaktifkan kamera depan ponselnya untuk memeriksa wajahnya sendiri. Ia mengubah sudut pengambilan gambar, merapikan poni, dan memeriksa bentuk bibirnya.
"...Sudah dipastikan dia punya rasa suka pada Satoshi-kun ya~"
Tepat saat Hibise bergumam puas, aku mengembuskan napas pelan. Aku belum tahu bagaimana perasaan Satoshi-kun terhadap Hibise, tapi untuk sebaliknya, sudah tidak perlu diragukan lagi.
"Hm~. Siapa ya~?"
Sesaat setelah aku mengalihkan pandangan, seorang pria yang tidak kukenal sudah berdiri di depan Hibise. Dasinya mencolok, jam tangannya sangat berkilau, dan ada cincin emas di jarinya. Rambutnya disisir ke belakang dengan warna pirang, penampilannya benar-benar mencerminkan sosok 'orang sukses'.
Aku terus memantau situasi itu dengan tenang dari balik tembok.
"Kau imut juga ya."
"Ya...?"
Hibise sedang digoda~?
"Namaku Ozuki. Kalau kau sedang luang, mau main bersama?"
"Tidak mauuu."
Penolakan telak. Seolah sedang mengusir serangga, Hibise menjawab dengan ringan dan langsung mengalihkan pandangannya kembali ke ponsel. Ujung jarinya yang merapikan poni terlihat sangat terbiasa dengan situasi seperti ini.
"Begitu ya. Pertahanannya cukup kuat."
Pria itu menyeringai, memperlihatkan gigi emasnya. Sesaat kemudian, ia menarik beberapa lembar uang dari dompetnya.
"Bagaimana kalau 50.000?"
Wah, adegan papa-katsu nih~.
Dia pasti bermaksud pamer kekayaan agar terlihat keren, tapi bagiku itu cuma pamer kalau dia pria yang menyedihkan.
"Tidak tertariiiik."
Hibise bahkan tidak menggerakkan alisnya, tetap menatap ponsel sambil memutar-mutar poninya. Sikap itu membuatnya terlihat semakin provokatif.
"Jual mahal ya~, oke, kalau begitu 60.000."
"Haa, anu ya..."
Hibise menghela napas dan mendongak. Lalu, dengan ekspresi yang dibuat-alih sangat melankolis, ia menempelkan tangan di dahi dan membiarkan rambutnya tertiup angin.
"──Uang receh begitu tidak bisa menukarkanku."
""......""
Payah banget~...
Dia bergaya seolah baru saja mengatakan kalimat yang keren, tapi sayangnya, suasana malah jadi lebih dingin daripada Antartika. Si paman itu pun memasang wajah yang sama denganku. Namun, Hibise lanjut bicara tanpa peduli.
"Aku adalah Deneb yang mengapung di langit, kilauan yang bisa padam kapan saja. Kau hanyalah anak domba malang yang tidak sadar sedang menggenggam ilusi. Aku adalah pendosa yang telah membutakan matamu...──Menjadi wanita cantik itu berat yaaa..."
...Benar-benar menyedihkan ya~.
Ekspresi Hibise tampak bangga, seolah dia sedang mabuk dalam dunianya sendiri. Satu hal yang pasti, dia sedang besar kepala karena digoda pria. Padahal wajahnya cantik, tapi aura menyedihkannya menutupi segalanya. Sampai-sampai aku yang melihatnya dari jauh merasa sedikit malu untuknya.
"Kalau dia mau merebut Satoshi-kun, kurasa tidak mungkin dengan cara begitu~."
Aku menghela napas sambil terus mengamati mereka berdua dari kejauhan. Bagiku, dia hanyalah kucing pencuri yang mencoba menggoda Satoshi-kun, anak yang sedikit "ajaib" dan tidak berbahaya.
...Tepat saat aku berpikir begitu.
"Cih."
Suara decakan lidah yang kering itu terpantul di aspal, terdengar sangat keras. Pria kaya baru itu menatap Hibise dengan kesal dan mendekatkan wajahnya. Hawa di sekitar seketika menjadi tegang.
"Sikap sok asikmu itu benar-benar mempermainkanku ya. Kau meremehkanku, hah?"
"A, t, tidak, bukan begitu maksudku..."
Suara Hibise perlahan mengecil. Tangannya yang memegang ponsel gemetar, rasa percaya dirinya tadi hilang tak berbekas.
──Wah, gawat juga nih~.
Kalau aku yang biasanya, aku pasti sudah langsung melompat keluar. Tapi jalanan di sini sepi. Kalau gegabah memprovokasinya, malah aku yang bisa dalam bahaya. Saat jariku hendak menekan tombol darurat di ponsel──.
"Oi, Pak Tua."
Sebuah suara rendah dan tenang bergema, mengubah suasana seketika.
"Ah?"
"Sa, Satoshi-senpai!"
Hibise mendongak dan langsung berlari menghampiri begitu melihat sosok Satoshi-kun.
Melihat Satoshi-kun, pria itu memasang wajah yang sangat terganggu.
"Cih, apa-apaan. Ternyata dia punya pacar."
Pria kaya baru itu berdecak. Saat ia hendak pergi sambil sengaja menabrak bahu Satoshi-kun.
"Minta maaf dulu──."
Satu kalimat tenang. Namun, tekanan di dalamnya luar biasa.
"Hah──? Ugkh!?"
Tahu-tahu, tangan kiri Satoshi-kun sudah mencengkeram kerah baju pria itu. Bersamaan dengan suara benturan tumpul, punggung pria itu dihantamkan ke dinding. Aku tanpa sadar menahan napas.
"Berani-beraninya mencoba menyentuh wanitaku, tapi tidak ada permintaan maaf sama sekali?"
Aku tidak disentuh, kan~? ...Eh~?
Wajah Satoshi-kun dingin membeku. Kemarahan yang tenang seolah-olah ia telah membunuh emosinya. Matanya menatap seakan-akan Hibise benar-benar miliknya.
"Gkh... i-iya, aku minta maaf..."
Saat pria itu memeras suaranya, Satoshi-kun menatap Hibise tanpa kata.
"──Bagaimana?"
Suara rendah itu membuat bahu Hibise gemetar kaget.
"Eh, m-maafkan saja, aku sudah tidak peduli kok..."
"Begitu katanya."
"Gkh."
Dengan cuek, Satoshi-kun melepaskan pria itu. Pria itu meringis kesakitan, lalu melangkah mundur sambil bersiap melarikan diri.
"Bersyukurlah karena pacarku ini baik hati. Jangan pernah lakukan ini lagi, mengerti?"
『Pacar』... ku...?
Kata-kata itu terngiang-ngiang di kepalaku.
Setelah Satoshi-kun memberikan tatapan tajam, pria itu lari tunggang langgang sekuat tenaga. Yang tersisa hanyalah Satoshi-kun, dan Hibise yang wajahnya merah padam sambil terbengong. Dan aku, yang melihat pemandangan itu dari balik bayangan tembok dengan perasaan campur aduk.
"Kau tidak apa-apa... Eh, kenapa wajahmu begitu?"
"A, a."
"A?"
"A-apa aku ini pacarnya Senpai!?"
──Kenapa orangnya sendiri yang paling kaget sih~?
Wajah Hibise merah padam, matanya berputar panik. Kemudian, ia menyembunyikan telinganya yang merah dengan headphone dan rambut pirangnya. Dia benar-benar terlihat seperti heroine yang baru saja ditembak cintanya.
"Haa... itu tadi cuma cara supaya dia pergi tahu."
"......Apa katamu?"
"Kupikir kalau aku bilang kau 'pacarku', dia akan kabur."
Ternyata, ternyata pola klasik pura-pura jadi pacar ya~.
Metode klasik untuk mengusir pengganggu. Satoshi-kun melakukannya dengan sangat tenang.
"Yah, begitulah seharusnya~. Mana mungkin Satoshi-kun berpaling ke wanita lain selain aku~."
Aku menghela napas lega.
──Eh? Kok plastik bubble wrap yang kupegang buat meredakan stres sudah meletus semua ya~? Aneh banget deh~.
"Sa, Satoshi-senpai... ternyata kamu cukup liar ya, padahal penampilanmu nggak kelihatan begitu..."
"......Maksudnya?"
"Nggak bermaksud buruk, sih. Aku cuma kira kamu tipe orang yang nggak suka keributan..."
"Yah, biasanya memang begitu."
Lalu, dia membuang muka seolah malu.
"Tapi saat aku membayangkan orang yang berharga bagiku disakiti, tubuhku bergerak sendiri."
“"Eh?"”
Suaraku dan suara Hibise tumpang tindih secara bersamaan.
Orang yang berharga? Membayangkan dia disakiti?
Dari nuansa bicaranya barusan, itu artinya Hibise itu penting bagi──.
"Dasar lelaki hidung belang!"
"Kenapa malah aku yang dimaki-maki?"
Tiba-tiba Hibise berteriak dengan wajah merah padam. Bibirnya gemetar, matanya kebingungan, bahkan pipinya terasa panas membara. Alih-alih marah, sepertinya perasaannya saja yang belum sanggup mengejar kenyataan.
"Nggak cukup dengan empat orang itu sampai-sampai mau memasukkanku ke haremmu juga, hah?! Tapi aku bukan tipe wanita gampangan tahu!"
Nggak perlu memperkenalkan diri begitu juga kan~?
"Ta-tapi, kalau kamu bilang aku lebih menarik daripada empat orang lainnya, aku bisa mempertimbangkannya!"
"Nggak, kalau itu sih nggak mungkin."
"Jahat banget jawabnya langsung begitu?! Padahal tadi bilang begitu! Kamu Pria yang keterlaluan!"
"Aduh, aku nggak paham lagi kamu ngomong apa..."
Satoshi-kun benar-benar mantap menapaki jalan sebagai pria nakal ya~. Sepertinya dia mulai besar kepala karena sudah makin mahir menangani perempuan.
......Yap, ini adalah kasus di mana aku harus "menanyai" tubuhnya secara langsung nanti malam~.
"Kalau begitu, ayo pergi."
Satoshi-kun berbalik seolah tidak terjadi apa-apa. Punggungnya yang terlihat sangat tenang itu malah membuatku makin kesal.
"Tu-tunggu dulu, dong!"
Suara Hibise yang mengejar dari belakang terdengar gugup sampai lidahnya kelu. Lalu, ia menarik ujung lengan baju Satoshi-kun untuk menahannya. Ujung jarinya gemetar, gerakannya terlihat sangat kaku.
"Ka, kali ini aku lewat dulu deh."
"Hah? Ya sudah, kalau begitu kita bubar."
"Ehem!?"
Entah kenapa dia menutupinya dengan batuk yang aneh. Terlihat jelas kalau dia sedang memaksakan diri untuk percaya diri dengan membusungkan dada lebar-lebar. Setelah mengatur napas, dia berkata──.
"Sudah ditolong dari om-om menyeramkan tapi tidak melakukan apa-apa itu memalukan seumur hidup. Biarkan aku mentraktirmu makan, mau nggak?"
Sambil bicara, dia menggerak-gerakkan ujung kakinya dengan gelisah. Matanya terus melirik ke sana kemari, tidak berani mendongak. Sambil memainkan rambut dengan jarinya, ia sesekali melirik ke arah Satoshi-kun lalu segera membuang muka lagi.
Sosok itu benar-benar──.
"Gadis yang sedang jatuh cinta ya~."
Awalnya dia memang sudah ada rasa pada Satoshi-kun, tapi mungkin dia belum menyadarinya. Namun, setelah melihat momen keren dari laki-laki yang dia taksir, dia tanpa sengaja benar-benar jatuh hati. Tipe kejadian yang sering ada di drama, shoujo manga, atau gim.
Kamu sudah jadi pria nakal ya, Satoshi-kun~.
"Maaf. Di rumah, pacarku sudah membuatkan masakan yang enak."
"Ukh..."
Seketika itu juga, bahu Hibise merosot lemas. Wajah gadis jatuh cinta tadi langsung berubah menjadi mode hancur lebur dalam sekejap. Karena tadi perasaannya sedang melambung tinggi, hantamannya jadi terasa sangat menyakitkan. Rasanya agak kasihan, atau lebih tepatnya... malang.
"Yah, soalnya Satoshi-kun itu kan milik kami~."
Aku mencoba mengatakannya dalam hati, tapi di balik rasa senang itu, aku sedikit bersimpati pada Hibise. Pasti berat rasanya jatuh cinta pada seseorang yang sudah punya pacar.
"Tapi tenang saja, mulai besok aku masih akan menemanimu kok."
"Be-benarkah?"
Alih-alih sedih karena ditolak, dia tampak meresapi kata-kata itu seolah sangat senang hanya karena masih bisa berada di samping Satoshi-kun.
......Satoshi-kun, apa kamu nggak jadi terlalu jahat sebagai pria?
"Be, begitu ya. Begitu rupanya!"
"Ada apa sih denganmu dari tadi..."
"Nggak, nggak ada apa-apa kok!"
Hibise tertawa terbahak-bahak mencoba menutupi rasa malunya dan membuang muka. Tapi, sampai ujung telinganya pun merah padam. Jelas sekali emosinya sedang bergejolak.
Untuk saat ini, Satoshi-kun memang tidak aktif berselingkuh. Tapi, membangun "bendera cinta" tanpa sadar itu adalah kejahatan berat. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kalau suasana seperti itu sampai terbentuk. Mulai malam ini, aku harus lebih agresif "memerahnya" sampai habis~.
Tepat setelah itu.
"Ng-ngomong-ngomong Senpai. Tipe kesukaanmu itu yang seperti apa?"
"Tipe rumput."
"Bukan tipe Pokemon! Maksudku tipe wanita atau apalah!"
......Satoshi-kun, boleh kok kalau kamu mau "menghabisinya" sekarang~.
"Satsuki, Reine, Shuna, Shino."
"Ukh..."
Kata-katanya terhenti, dan wajah Hibise langsung pucat pasi.
......Aku secara diam-diam mengepalkan tangan merayakan kemenangan.
"Ja, jadi. Sebaliknya, apa kamu nggak punya keluhan sama sekali tentang mereka?"
Pasti nggak ada lah ya~. Ikatan kami itu levelnya berbeda dari sekadar main pacar-pacaran yang dangkal.
"Yah, gimana ya... mungkin soal urusan ranjang yang terlalu hebat, jadi aku ingin mereka sedikit menginjak rem."
Senyum Hibise membeku. Fokus matanya menghilang.
"Begitu ya— begitu ya—. Pacar-pacar yang hebat ya—! Dasar kurang ajar!"
Suaranya melengking tinggi, benar-benar sebuah gertakan maksimal untuk menutupi rasa sakitnya. Itu adalah pelarian dari kenyataan yang sangat menyedihkan. Tapi, soal "malam yang panas" tadi? Padahal kami masih menahan diri lho~?
Hibise berjalan gontai di belakang Satoshi-kun. Punggungnya benar-benar sudah memancarkan aura heroine yang kalah.
Kasihan sih, tapi rasanya sedikit melegakan~.
"......Duh, malas sekali ya cari kerja."
Satoshi-kun menghela napas panjang dengan dramatis.
"Ah...... mahasiswa tahun ketiga memang berat yaaa."
"Begitulah... Hibise, kau juga sebaiknya mulai menentukan apa yang ingin kau lakukan di masa depan dari sekarang, tahu?"
"Aku kan ingin jadi PNS. Aku belajar setiap hari, lho."
"Heh, tak disangka."
"Eh? Begitu ya?"
"Kira-kira kupikir kau bakal jadi penjudi atau semacamnya."
"Keterlaluan!"
Hibise menggembungkan pipinya dengan kesal.
Setelah itu, ia melemparkan pandangannya ke arah yang jauh dan menghela napas.
"Pendapatan stabil, tunjangan kesejahteraan yang lengkap. Kalau memikirkan work-life balance, bukankah PNS itu yang terkuat?"
"O-oh."
"Uang itu lebih penting dari apa pun, tahu. Kita harus menabung dengan benar dan bersiap untuk masa tua. Judi atau top-up gim itu menurutku mutlak tidak boleh dilakukan."
Mendengar kata-kata yang terlalu realistis itu, aku tanpa sadar mengangkat bahu.
"Dia tidak paham Satoshi-kun ya~."
Satoshi-kun berada di luar jangkauan nilai-nilai umum. Seorang mahasiswa yang sudah menghasilkan pendapatan seumur hidup. Justru karena dia tidak kesulitan uang, yang dicari Satoshi-kun bukanlah stabilitas, melainkan stimulasi.
Work-life balance? Tunjangan lengkap? Mana mungkin Satoshi-kun milikku menginginkan kebahagiaan yang suam-suam kuku seperti itu. Malahan, dia lebih suka sesuatu yang seperti kami──.
"Luar biasa sekali......!"
"Eh?"
Eh?
Suara Hibise dan suara hatiku ternyata bertolak belakang.
Entah kenapa mata Satoshi-kun berkaca-kaca, ia merasa sangat tersentuh dengan suara yang sedikit bergetar.
"Memang benar, judi dan top-up gim itu tidak boleh, kan?"
"I-iya. Menurutku hal-hal yang punya kemungkinan membawa kehancuran tidak boleh dilakukan."
"......Gawat. Aku bisa-bisa jatuh cinta pada Hibise."
"Fue!?"
Udara seolah berhenti. Hibise seketika mematung, wajahnya merah padam dan sistemnya membeku.
Di depannya, Satoshi-kun memasang wajah yang sangat tenang. Dia baru menyadari kalau adik kelas yang dia kira payah ini ternyata orang yang sangat lurus, dan itu membuatnya sangat terkesan.
"A-aku mau ke toilet dulu!"
"Okee~. Aku tunggu."
Aku baru saja menyaksikan momen full-conquer terhadap sang heroine.
Lalu, tengkukku mendadak dingin. Kalau begini terus, gawat......
"Harus menyusun strategi ya~......"
“──Dia orang yang mengerikan.”
Setelah meludahkannya, kemarahan yang terlambat mulai merembes keluar.
Awalnya kupikir dia hanya berpura-pura diserang. Meski begitu──
”Tak kusangka, orang seperti itu dulu adalah tunanganku......”
◇
"Shuna lama sekali ya~."
Di atas meja, bungkus-bungkus senbei berserakan. Hanya suara kunyahan renyah yang bergema di dalam ruangan.
Kami bertiga menunggu kepulangan Shuna sambil berbagi suasana santai yang terasa hambar.
"Fufu, Shuna-san terlihat sedikit ceroboh, tapi dia yang punya daya pengamatan paling tajam di antara kita. Mungkin dia sudah menemukan sesuatu?"
"Justru itu yang bikin cemas......"
Aku menghela napas.
"Shuna kan suka bertindak berlebihan."
"......Benar seperti yang kamu katakan."
Jika tahu Satoshi-kun mengalami kerugian karena wanita bernama Hibise itu, dia pasti akan mengamuk. Salah-salah, wanita itu bisa──.
"Hei hei kalian berdua! Bukankah lagu ini sangat bagus?"
Tiba-tiba Reine merangkul bahuku dan Shino, lalu memamerkan layar ponselnya. Dia sedang dalam mode haus perhatian. Lagu idol diputar dengan volume keras tepat di telinga kami.
Sejak menyatakan akan menjadi idola, dia terus berada dalam tensi setinggi ini.
......Entah apa yang merasukinya sampai ketagihan idola yang pernah dijabat tangannya oleh Satoshi-kun. Pokoknya, karena ini rapat penting, aku memutuskan untuk mengabaikan Reine.
"Reine, diam."
Aku mengibaskan tangan menyuruhnya pergi.
"Muu, kalau pelit begitu, hap."
"Kyaa!"
"Nnh... nnh..."
Tiba-tiba telinga kami dijilat. Aku dan Shino mengeluarkan suara aneh sementara punggung kami tersentak kaget.
"Fufu."
Reine tertawa menikmati reaksi kami.
"Tunggu, Reine! Berhen──"
Tepat saat aku hendak membentaknya, suara klik pintu depan terbuka terdengar.
"Aku pulang~."
Suara malas Shuna bergema di kamarku. Mengabaikan kejahilan Reine, aku segera menuju pintu depan.
"Bagaimana hasilnya?"
"Hmm~"
Shuna melepas sepatunya sambil tetap membelakangi kami.
"Pokoknya, Hibise sudah benar-benar jatuh cinta pada Satoshi-kun~."
"Hee~."
Aku, Reine, dan Shino menyempitkan mata. Kami benar-benar ingin mendengar detail tentang hal itu──.
"Daripada itu, ada sesuatu yang ingin kusampaikan pada kalian semua."
"Hm? Apa?"
Shuna berbalik dan tersenyum manis. Senyuman itu terasa sedikit lebih tenang dari biasanya, yang justru membuatnya terasa mengerikan.
"──Aku berhenti berjudi."
"Eh?"
Ponselku tergelincir dari tangan dan jatuh ke lantai dengan bunyi yang pelan. Shino mengerjapkan mata, sementara Reine mematung dengan mulut setengah terbuka.
"Shuna, aku akan sangat terbantu kalau kau mau mengatakannya sekali lagi......"
Tanya Reine dengan ragu. Shuna tetap mempertahankan senyumnya dan melanjutkan dengan santai.
"──Aku juga berhenti melakukan top-up gim."
"Eh? Anu..."
Saat Shuna memperlihatkan ponselnya, tidak ada apa-apa di sana. Koleksi sosage yang sangat ia sayangi, serta aplikasi saham, FX, hingga judi pacuan kuda, semuanya telah dihapus.
"Aku──akan menjadi Pegawai Negeri Sipil Pusat."
"Akalmu, masih sehat!?"
Aku menempelkan dahiku ke dahinya dengan tenaga yang hampir seperti menanduk. Suhu tubuhnya normal. Napasnya teratur. Detak jantungnya pun stabil. Namun, Shuna tetap terlihat santai seperti biasanya dengan senyuman khasnya.
"Kau bercanda, kan......?"
"Tidak mungkin......"
Saat aku menoleh ke arah Reine dan Shino, wajah mereka sudah pucat pasi. Yang keluar dari dalam tas Shuna adalah buku referensi persiapan ujian PNS. Aroma tinta dari buku baru itu terasa sangat realistis dan memberikan firasat buruk.
"Ada apa denganmu, Shuna!? Bukankah kau dulu bilang 'Hidup tanpa mengincar kekayaan instan itu sama saja dengan mati'~!?"
"Reine-san benar! Bukankah kau baru saja menahan diri tidak top-up karena menunggu karakter baru yang akan rilis!?"
Kami berusaha mengembalikan Shuna yang biasanya. Namun,
"Fufu, kalian lucu sekali~. Di zaman sekarang ini, 'damai dan tenteram' adalah motto yang paling utama, kan~."
Eeeh......
Kami saling berpandangan dan kehilangan kata-kata.
"Pokoknya, hasil penyelidikan sudah kukirim ke LINE, jadi silakan diperiksa ya~."
"Baiklah......"
"Kalau begitu, aku kembali ke kamar dulu untuk belajar ya~."
......Suara pintu yang tertutup bergema dengan sangat sunyi.
"......Untuk sementara, biar aku yang pergi mengawasi Hibise."
Niat Reine menjadi idola, dan perubahan Shuna menjadi orang yang sangat lurus. Aku sudah paham betapa berbahayanya wanita bernama Hibise itu.
"......Haruskah saya ikut juga?" tanya Shino dengan wajah cemas.
"Tidak usah. Lagipula besok kau ada kelas, kan?"
"Tapi......"
"Jangan khawatir. Aku tidak akan terlibat terlalu dalam kok."
"......Tolong, jangan melakukan hal yang nekat ya?"
"Iya!"





Post a Comment