——Seharusnya, hari ini adalah malam tanpa cahaya
rembulan sedikit pun.
Namun, cahaya yang menyilaukan justru menerangi
langit, membuat suasana di sekitar menjadi terang benderang layaknya siang
hari.
Gemuruh bumi yang hebat serta dentuman guntur yang
tak kunjung henti seolah sedang mengumumkan akhir dunia.
Orang-orang yang tinggal di sekitar menatap langit
malam dengan cemas, dan banyak pula yang mulai memanjatkan doa.
"Mama, ada orang di langit."
"Mana
mungkin sayang. ……Tapi benar juga, kalau memang begitu, yang dilihat putraku
ini pasti adalah Tuhan. Beliau sedang melindungi kita dari
bencana alam yang mengerikan ini. Ayo, mari kita berdoa agar Tuhan senantiasa
melindungi kita."
Sang ibu menggenggam tangan anaknya lalu berlutut,
menautkan jemari untuk berdoa.
Namun di mata sang bocah, ia melihat dengan jelas
sosok manusia——seorang anak laki-laki yang memancarkan cahaya menyilaukan dari
kedua tangannya.
Cahaya yang dilepaskan bocah itu menghantam bayangan
manusia lainnya, dan dentuman keras kembali bergema di angkasa.
"—!?"
Behal yang terpental berusaha memantapkan posisinya
di udara sambil menghadap ke depan.
Lawannya, sang bocah——Lloyd, sudah mengaktifkan sihir
berikutnya dengan wajah tenang.
Aliran cahaya yang menyilaukan, meteor hitam pekat,
serta pedang es-api yang bersinar tajam; semuanya mengincar Behal secara
beruntun dalam jumlah tak terhitung.
Sambil terkadang menangkis dan menghindar, Behal
merangsek maju mendekati Lloyd.
"Haaaaaaaaaaaa!"
Sambil berteriak, Behal menghantamkan tinjunya ke
arah perut bagian bawah Lloyd.
Dug!
Suara dentuman berat bergema dan Lloyd terpental jauh
ke angkasa.
Ia menembus awan dan terus melesat naik hingga ke
ketinggian di mana warna langit mulai berubah, barulah ia berhenti.
Terlebih lagi, Behal sudah berpindah ke atas kepala
Lloyd untuk melancarkan serangan susulan.
Sebuah tebasan kaki yang tajam membelah Lloyd beserta
atmosfer di sekitarnya.
"Mu!?"
Namun, tidak ada sensasi hantaman. Bayangan Lloyd yang
memudar menghilang, raga aslinya ternyata sudah menyelinap masuk ke dalam
jangkauan Behal.
Sambil mengembuskan napas pendek, seluruh tubuh Lloyd
dipenuhi oleh Ki dan mana yang mengalir deras menuju tinjunya.
Sesaat, seolah tampak bayangan seorang gadis asing di
belakang punggungnya.
"—Puncak Teknik Seratus Bunga, Lotus Barrage."
Rentetan pukulan tinju bermuatan Ki dan mana
yang telah ditempa hingga batas maksimal menyerang Behal.
Meski dihujani puluhan hingga ratusan serangan
beruntun, Behal justru meraung.
"Terlalu lemah!"
Sambil mengayunkan kedua tangannya secara
serampangan, Behal membalas serangan tersebut.
Itu adalah kekerasan murni yang hanya mengandalkan
mana tanpa teknik apa pun, namun dengan berat dan ketajamannya, ia berhasil
menjatuhkan serangan Lotus Barrage.
Pertarungan sengit terjadi; keduanya terus
melancarkan tinju dan tendangan sembari sesekali menyelipkan serangan jarak
jauh.
Karena kecepatannya yang terlalu tinggi, tak
terhitung banyaknya bayangan yang tercipta, hingga seolah-olah
bayangan-bayangan mereka pun sedang bertarung di berbagai titik.
Dug-dug-dug-dug-dug.
Di dunia yang sunyi ini, hanya suara benturan yang
bergema.
Di lingkungan dengan atmosfer tipis di mana makhluk
hidup tidak bisa bertahan secara normal, Lloyd yang membentangkan penghalang
mana dan Behal yang merupakan entitas mana murni tetap bisa bergerak tanpa
masalah.
"Hmph, aku sudah mulai bosan dengan adu jotos
ini."
Gumam Behal sambil mengalirkan mana ke tinjunya.
Menambah daya hancur sedikit saja hanya akan ditangkis dengan mudah.
Kalau begitu, ia hanya perlu memukul dengan lebih
kuat dan lebih cepat sampai bisa menghancurkan pertahanan lawan.
Seiring napasnya, mana yang dahsyat dikompresi dan
dipusatkan pada satu titik di tinju Behal.
Tekanan itu membuat ruang di sekitarnya terdistorsi,
dan tinjunya berubah warna menjadi hitam pekat.
Waktu yang dibutuhkan untuk mengumpulkan tenaga itu
tidak sampai satu detik, namun bagi Lloyd yang memiliki Mind's Eye serta
kemampuan fisik super berkat War God Arts, itu adalah celah yang sangat
besar. Berkat latihan harian, tubuh Lloyd bergerak hampir secara refleks.
Sambil menerjang maju, Lloyd menciptakan Light
Weapon: Magic Circuit Giant Blade.
Pada bilah sepanjang belasan meter itu, terukir
formula sihir yang tak terhitung jumlahnya.
——Kuat. Behal yang secara insting menyadari daya
hancurnya segera berusaha melompat mundur, namun jalannya terhalang oleh
'sesuatu' di belakangnya.
Itu adalah batu. Lebih tepatnya, sebuah meteorit yang
dipanggil Lloyd dari angkasa luar.
——Sihir Skala Besar Tipe Bintang, Celestial Impact.
Behal yang terhimpit oleh meteorit raksasa bermuatan
mana tidak bisa berkutik saat pedang raksasa formula sihir diayunkan ke
arahnya.
"Teknik Pedang Raksasa Aliran Langris, Ogre
Rock Breaker."
Aslinya, ini adalah teknik untuk melancarkan tebasan
kuat pada lawan yang dipaksa memikul beban batu besar; ini adalah bentuk
aplikasinya.
Lloyd mengayunkan pedangnya ke arah Behal yang jalan
pelariannya telah ditutup oleh batu raksasa ciptaan sihir skala besar.
Sret! Jre-jre-jre-jret!
Kumpulan tebasan mengiris Behal yang kehilangan
tempat pelarian.
Dalam setiap tebasan, meteorit itu retak, hancur, dan
berubah menjadi debu halus.
"Kh-kh,
boleh juga…… tapi hanya dengan level segini……!?"
Belum
sempat Behal yang kehilangan tumpuan terpental di udara, serangan susulan
lainnya sudah mendekat.
Sebuah
pedang raksasa formula sihir yang jauh lebih besar dari sebelumnya——benar-benar
bisa disebut sebagai puncaknya.
Pedang
cahaya yang diangkat ke posisi paling atas itu diayunkan lurus ke bawah.
——Satu
tebasan itu membelah lapisan atmosfer dan memicu aliran udara yang sangat
dahsyat.
Behal
terjatuh sambil tergulung dalam pusaran arus udara.
Setelah
jatuh dalam waktu yang sangat lama, ia menghantam permukaan bumi dengan
meninggalkan jejak pita cahaya yang panjang.
Dhuuuaaaaaaarrrr!
Suara ledakan menggelegar dan bumi terbelah.
Tercipta retakan sepanjang ratusan meter di permukaan
tanah, gunung-gunung di sekitarnya tertelan, dan sebagian daratan tenggelam ke
laut.
Meskipun terkena dampak yang sanggup memicu perubahan
topografi, Behal hampir tidak terluka. Namun——
"Nu……
guh!"
Yang
terdengar adalah suara rintihan kesakitan.
Behal
membelalakkan matanya mendengar suaranya sendiri untuk pertama kali sejak ia
lahir.
"……Kh-kh,
ini benar-benar sulit dipercaya."
Behal
menunjukkan senyum kegirangan di sudut bibirnya. Iblis adalah ras penguasa,
puncak dari ekosistem di Dunia Iblis.
Sebagai
Behal sang Raja yang membuat mereka semua berlutut, ia terlahir sebagai entitas
terkuat sejak awal.
Bukan
hanya orang-orang di sekitarnya, bahkan di seluruh Dunia Iblis pun tidak ada
yang sanggup menandingi kekuatannya yang luar biasa——namun Behal sendiri justru
merasakan kesepian dan kehampaan.
——Setiap nyawa lahir untuk dibandingkan dengan orang
lain.
Dengan spesies yang sama, generasi yang sama, tempat
yang sama, musuh, kawan, kompetisi, bahkan terkadang melampaui ras dan waktu;
manusia terus membandingkan diri sejak lahir hingga mati.
Terutama di Dunia Iblis di mana kekuatan adalah
segalanya, hal itu sangatlah menonjol.
Namun, karena Behal terlahir dengan kekuatan yang
terlalu agung, ia bahkan tidak bisa mengetahui seberapa kuat dirinya yang
sebenarnya.
Tidak punya kawan, tidak punya guru, tidak punya
musuh——tanpa sadar, Behal pun menaruh harapan di luar Dunia Iblis.
Namun setelah menyeberangi benua, ia akhirnya tidak
bertemu dengan satu pun praktisi yang mumpuni, hingga ia tertidur karena rasa
kecewa yang mendalam.
"……Selama ribuan tahun aku mendambakan musuh
yang kuat, tapi aku tidak menyangka akan bertemu dengan cara seperti ini. Aku
bisa melihat dengan jelas bahwa mana milikmu dan bakatmu yang langka itu adalah
hasil dari latihan yang melampaui imajinasi. Fakta bahwa dari manusia yang
sangat lemah lahir pemilik kekuatan seperti ini, benar-benar layak untuk
dikagumi! Fuhahaha!"
Behal tertawa keras melihat Lloyd yang turun dari
angkasa.
"Kaulah yang pertama kali membuatku merasa senang
seperti ini. Namun dengan kekuatan sebesar itu, sehebat apa pun dirimu, kau
tidak akan bisa bertahan lama. Bukankah kau sudah mulai mencapai batasmu? Tapi
aku tidak akan menahan diri. Buatlah aku merasa senang sampai akhir——"
"Hei."
Lloyd memotong perkataan Behal.
"Terserah kau saja sih, tapi kapan kau akan mulai
serius?"
Mendengar perkataan Lloyd yang memiringkan kepalanya
itu, Behal tersentak.
Benar, Behal memang sengaja menahan kekuatannya. Sama
seperti tinju yang akan terluka jika memukul tembok sekuat tenaga, kekuatan
yang terlalu besar di sisi lain juga akan menghancurkan pemiliknya.
Behal yang selama ini hanya melepaskan kurang dari
sepuluh persen kekuatannya tidak pernah menyadari hal tersebut.
Namun saat ini, tingkat pelepasan kekuatan Behal
sudah mencapai tujuh puluh persen; setiap kali ia mengerahkan tenaga, raga
mananya berderit dan menunjukkan tanda-tanda akan hancur.
Ia mulai merasakan bahaya jika melepaskan kekuatan lebih
dari itu. Untuk pertama kali sejak ia lahir.
"Jadi kau berhasil melihat hal itu. Sesuatu yang bahkan tidak
kusadari sendiri, dia malah…… Hmph, omong kosong."
Senyum menghilang dari wajah Behal.
Fakta bahwa dirinya yang selama ini hidup dengan
keinginan untuk bertarung sungguhan malah merasa gentar saat menghadapi hal itu
di depan mata, adalah sesuatu yang sama sekali tidak lucu baginya.
Amarah terhadap dirinya sendiri mulai meluap,
membakar raga dan jiwanya.
"Haaaaaaaa……!"
Sambil mengembuskan napas panjang, ia melepaskan mana
yang selama ini ia tahan.
Partikel mana yang meluap ke segala arah meledak,
dengan percikan api yang menyambar-nyambar.
Mana yang membengkak itu dikompresi kembali pada
setiap tahapnya, menjadi raga mana dengan kepadatan yang lebih tinggi yang
menyelimuti tubuh Behal. Dan akhirnya, ia sudah dipenuhi oleh mana yang lebih
dari cukup.
"Kaaaaaaa!"
Bersamaan dengan teriakan penuh semangat, Behal
melepaskan seluruh kekuatannya.
Badai yang luar biasa dahsyat bertiup kencang dengan
ia sebagai pusatnya; tanah amblas, dan batuan di sekitarnya hancur
berkeping-keping.
——Seratus persen. Akibat pelepasan kekuatan yang
sempurna, kulit luar Behal mulai pecah-pecah dan muncul retakan di sana-sini.
Behal kini diselimuti oleh aliran mana eksplosif yang
seolah mencapai langit, sementara Lloyd yang menatapnya dari atas hanya
bergumam kecil, "Heh."
"……Maaf sudah membuatmu menunggu lama, Lloyd. Mulai
dari sini adalah keseriusanku yang sebenarnya."
"Ya."
Tepat saat Lloyd mengangguk, tinju Behal menghujam
telak ke perutnya.
Serpihan Magic Barrier yang hancur melayang di
udara, lalu menghilang satu per satu.
◆
"Haaaaaaaaaaaa!"
Behal meraung keras. Mananya membengkak dalam
sekejap.
……Begitu ya, jadi ini keseriusan Behal yang
sebenarnya.
Tekanan itu membuat bumi bergetar, gunung-gunung
berbatu runtuh, dan awan-awan pun tercerai-berai hingga musnah.
Kuantitas mananya memang luar biasa sampai membuatku
berkeringat dingin.
Total output kekuatannya mungkin sepuluh kali lipat
dariku.
"Ayo kita mulai——"
Sesaat setelah menggumamkan itu, sosok Behal menghilang.
Dan sebelum kusadari, dia sudah berada di depan mataku
dalam posisi menyerang.
"Cepat banget!"
Terdengar suara berderit yang nyaring, dan guncangan
hebat merambat di perutku.
Satu serangan Behal berhasil menembus lima lapis Magic
Barrier: Ultimate yang aku bentangkan, dan menghujam dalam ke perutku.
Aku terpental lurus hingga ke garis cakrawala. Sambil
menghancurkan bebatuan yang kulewati hingga menjadi bubuk, aku berusaha
memantapkan posisi di udara.
"Dia menghancurkan penghalang mana yang setebal
itu dengan begitu mudahnya!?"
"Anda baik-baik saja, Lloyd-sama!?"
"……Yah, begitulah."
Biasanya aku mengolah Ki dan mana untuk
menyelimuti tubuhku secara tipis sebagai pelindung.
Karena menyadari kalau penghalang mana saja tidak akan
cukup, aku memusatkannya pada satu titik untuk bertahan.
Bahkan dengan kecepatan reaksi Mind's Eye ditambah
War God Arts, aku tidak sempat menghindar dan hanya bisa bertahan sekuat
tenaga. Benar-benar kecepatan dan daya hancur yang gila.
"—Hei, ini belum berakhir, tahu?"
Terdengar suara tepat dari sampingku; Behal sudah
berhasil mengejarku.
Sepertinya dia tidak berniat memberiku waktu untuk
bernapas sedikit pun.
Tangannya yang terayun berkilau hitam akibat mana yang
terkonsentrasi.
Dug-dug-dug-dug!
Suara benturan keras bergema terus-menerus.
Aku juga memusatkan Ki dan mana yang sudah ditempa
pada kedua tinjuku untuk menangkis serangannya, namun aku mulai kewalahan
menahan kecepatan dan berat serangannya.
"Ugh, lenganku mulai mati rasa……"
"Ini kesempatanku!"
Sambil berseru, Behal menarik kedua lengannya ke
belakang. Dia mengumpulkan seluruh mananya di sana.
Cahaya dengan kepadatan yang luar biasa menyatu, menelan
pemandangan di sekitarnya. Hitam, semakin hitam, dan sangat hitam——
"Lihatlah baik-baik, Lloyd! Inilah seluruh
kekuatanku! Dan batas maksimal diriku! Terimalah ini! Demon King Black
Ultimate Wave!"
Dhuuuaaaarrr! Kilatan hitam melesat cepat ke arahku.
Tekanan mana yang luar biasa dahsyat mendekat. Inilah keseriusan Behal yang
sesungguhnya.
"Ga-ga-ga-gawat, Lloyd-sama! Serangan semacam
itu tidak mungkin bisa diapa-apakan!"
"Ayo lari! Tidak
memalukan jika kita melarikan diri sekarang! Lawannya memang benar-benar
sehebat itu!"
Grim dan Jiriel berteriak histeris menyuruhku lari. Namun
jika aku menghindar, daerah sekitarnya bisa rata dengan tanah.
……Tidak, dengan kuantitas mana sebesar itu, bahkan
seluruh benua bisa lenyap.
Terlebih lagi, akibat pengaruh badai mana yang luar
biasa, penghalang mana yang aku bentangkan mulai hancur dengan sendirinya.
Mana sebesar itu, hanya dengan keberadaannya saja sudah
menciptakan aliran kekuatan yang sanggup mengacaukan formula sihir.
Dalam situasi seperti ini, mustahil untuk menyusun
formula sihir yang rumit.
Kalaupun aku mencoba menelannya ke dimensi lain dengan Void,
formula sihirnya pasti akan langsung dibatalkan dan musnah di saat aktivasi.
Tentu saja, serangan itu bukan sesuatu yang bisa ditahan
hanya dengan sekadar memusatkan mana. ——Hmm.
"Begitu ya, sepertinya aku juga harus mulai
serius."
"EEEEEHHHHHHHHHH!?"
"Jadi sedari tadi Anda belum serius,
yaaaaaaa!?"
Keduanya berteriak karena terkejut. Hmm, perkataanku
barusan mungkin kurang akurat.
Aku selalu bertarung sambil mencari berbagai
kemungkinan, jadi mungkin lebih tepat jika kukatakan bahwa 'keseriusanku terus
diperbarui'.
Apalagi dalam wujud yang menggunakan Magic-Equipped
Mana Arms ini, aku sendiri pun belum sepenuhnya paham.
Tapi karena aku sudah mulai terbiasa, mari kita coba
'itu'.
"■"
Aku menodongkan tangan ke arah kilatan hitam yang
dilepaskan Behal.
Lalu, lahirlah sebuah cahaya kecil di sana. Sambil
mengguncang pemandangan di sekitar, cahaya itu membesar seketika dan melesat ke
arah Behal.
"Aku tidak tahu itu sihir apa, tapi melawan Demon
King Black Ultimate Wave milikku, itu tidak akan—"
Belum sempat Behal menyelesaikan kalimatnya, cahaya itu
menyentuh kilatan hitamnya dan melenyapkannya seketika. Cahaya itu terus
melesat ke arah Behal.
"APAAAAAAA!?"
Sambil meraung keras, Behal tertelan oleh cahaya yang
kulepaskan. Cahaya itu meninggalkan satu garis distorsi di langit, hingga
akhirnya tidak terlihat lagi.
Dan akhirnya, keheningan pun tercipta. Cahaya yang
kulepaskan tadi meninggalkan sebuah lubang raksasa di angkasa.
"Cahaya yang sanggup melenyapkan serangan dahsyat
itu dengan begitu mudahnya…… benar-benar
luar biasa. ……Tapi, apa ini hanya perasaanku saja ya. Cahaya itu,
rasanya sepertinya aku pernah melihatnya di suatu tempat……"
"Ya, rasanya seperti sihir yang sangat umum bahkan
saya pun mengetahuinya. Tidak, tapi saya rasa tidak mungkin begitu……"
Aku mengangguk membenarkan. "Ya, seperti dugaan
kalian, itu adalah Fireball."
Tentu saja dengan catatan tambahan bahwa aku sudah
mengalirkan mana sebanyak mungkin ke dalamnya.
Di dalam formula penyusun sihir, terdapat sesuatu yang
disebut sebagai pembatas atau Limiter.
Ini dipasang untuk mencegah praktisi sihir menjadi cacat
mental akibat mengalirkan terlalu banyak mana, atau mencegah hancurnya
lingkungan sekitar akibat daya hancur yang terlalu tinggi.
Aku melepaskan pembatas itu dan melepaskan Fireball
dengan seluruh manaku.
"Bukan, bukan, bukan begitu caranya! Jadi ada yang namanya pembatas,
hah!? Terus, semua serangan Anda yang selama ini masih berada di dalam batas
itu!? Padahal serangan-serangan Anda selama ini sudah cukup untuk menghancurkan
topografi, tahu!"
"Ditambah
lagi, jika sihir tingkat rendah seperti Fireball saja memiliki kekuatan
sebesar itu, bukankah dunia bisa hancur jika Anda menggunakan sihir tingkat
yang lebih tinggi!? ……Tolong berhati-hatilah, Lloyd-sama."
Hmm,
sebenarnya tidak sesederhana itu sih.
Karena
sihir tingkat rendah memiliki struktur formula yang sederhana, aku bisa
menganalisisnya secara total.
Namun
sihir tingkat tinggi terlalu rumit sehingga analisis total pun sulit bagiku
sekalipun.
Dulu
aku bahkan tidak tahu kalau ada pembatas, tapi berkat pengetahuan yang kudapat
di akademi dan pengalaman selama ini, aku jadi memahaminya.
Ternyata
sihir itu memang sangat mendalam ya. Masih banyak hal yang harus kupelajari.
Kapan-kapan aku ingin mencoba menantang analisis
formula sihir tingkat tinggi lagi. Ya, ya.
"……Tolong benar-benar berhati-hatilah, Lloyd-sama."
"Benar sekali. Saya mohon
dengan sangat, Lloyd-sama."
"I-Iya, aku mengerti kok."
Entah kenapa, Grim dan Jiriel menatapku dengan tatapan
sinis.
Wah, wah, seberani apa pun aku, mana mungkin aku
melepaskan pembatas sihir tingkat tinggi begitu saja.
Benar-benar deh, mereka berdua ini terlalu pencemas.
……Yah, kalaupun aku harus melakukannya, aku pasti akan
sangat berhati-hati, jadi kuharap mereka tenang saja.
"Ugh……"
Tiba-tiba, suara erangan Behal terdengar dari angkasa.
Dari lubang di langit yang tercipta akibat Fireball-ku,
Behal yang kondisinya babak belur perlahan turun.
"Uwoh!? Dia masih hidup setelah menerima Fireball
gila itu……"
"Tapi dia sudah tidak bisa lagi mempertahankan raga
mananya. Sosok
Connie sudah terlihat setengahnya."
Bagian
raga mananya banyak yang hilang, dan bagian yang tersisa pun menipis, hingga
sosok Connie tampak mengintip dari dalam.
Oh,
syukurlah. Sepertinya Connie baik-baik saja.
Aku
sudah memodifikasi formula Fireball tadi agar tidak melukai tubuh
manusia dan meminimalisir dampak pada raga Connie.
Itu adalah aplikasi dari sihir suci.
Meski begitu, aku sempat mengira dia akan sedikit
terluka, tapi untunglah Behal melindungi raga aslinya.
"Hah, hah, hah……"
Sambil mengatur napasnya yang memburu, Behal mendarat
perlahan di tanah.
Sepertinya dia sudah benar-benar kehilangan kekuatan
untuk bertarung, karena ia langsung ambruk begitu saja.
Sepertinya sampai di sini saja, ya.
Aku pun ikut mendarat di tanah.
Behal tampak lemah, namun ia masih menyunggingkan senyum
sombong di wajahnya.
"……Heh, kau kuat sekali. Aku tidak pernah
membayangkan dalam mimpi sekalipun bahwa ada manusia yang sanggup
mengalahkanku."
"Kau juga kuat, kok. Tadi itu pertarungan yang
bagus."
"Yah……
tidak, bukan begitu. Aku kalah telak. Kau pasti masih menyimpan banyak tenaga
cadangan, kan?"
Dia bahkan bisa menyadari hal itu ya. Memang orang
ini hebat.
"Terakhir, beri tahu aku. Kenapa kau bisa
mendapatkan kekuatan yang tidak masuk akal itu? Jika melihat wadah jiwamu,
sudah jelas kau memiliki kekuatan dahsyat sejak lahir. Namun, apa
alasanmu hingga sanggup mengumpulkan usaha yang tiada henti sampai bisa menjadi
seperti itu?"
Mendengar pertanyaan Behal, aku berpikir sejenak lalu
menjawab.
"Meski
kau bertanya begitu…… kurasa aku tidak pernah merasa melakukan usaha yang
berat, sih."
"Bo-Bohong!
Terlepas dari kuantitas mana murni, jalur mana yang tertempa dan pengetahuan
sihir semacam itu mustahil didapatkan tanpa usaha keras! Kekuatan yang
melampaui manusia itu pasti butuh perjuangan yang tidak main-main!"
Kuharap dia berhenti memperlakukanku seperti monster. Sambil berpikir begitu, aku menjawab.
"Benar, kok. Aku hanya melakukan apa yang kusukai
sesuka hatiku."
Kenyataannya, selama ini aku memang hanya bergerak
mengikuti rasa ingin tahuku.
"Demi menguasai sihir yang sangat kucintai, aku
mempelajari segala hal yang sekiranya berguna satu per satu. Benar-benar segala
hal yang berkaitan dengan sihir——dan hasilnya secara tidak sengaja terhubung
dengan kekuatan. Aku tidak pernah sekalipun sengaja berusaha keras karena ingin
menjadi kuat."
Mendengar jawabanku, wajah Behal tampak ternganga
keheranan.
Lalu tak lama kemudian, dia mengeluarkan tawa kecil yang
serak seolah merasa lucu.
"Kh-kh, begitu ya. Jadi kau hanya seorang penyuka
sihir. Berbeda denganku yang mengejar kekuatan dan lawan seimbang, kau
mengumpulkan asahanmu hanya karena rasa suka. ……Pantas saja aku tidak bisa
menang."
Sambil menggumamkan sesuatu, wujud Behal menjadi semakin
tipis.
Sepertinya setelah menanyakan apa yang ingin ia ketahui,
kekuatannya benar-benar sudah habis.
"……Cih, manaku sudah hampir habis. Aku akan lenyap. Terakhir…… bunuhlah aku dengan
tanganmu sendiri……"
Mana
Behal menghilang dengan cepat.
Ia
bahkan tidak punya kekuatan lagi untuk mempertahankan tubuhnya, dan raga
mananya sudah mulai runtuh.
Bagi
aku yang sudah beberapa kali bertarung melawan iblis, aku paham.
Jika dibiarkan begini, dia pasti akan musnah.
Aku perlahan mengulurkan tangan ke arah Behal dan——
"Tunggu!"
Yang
berseru adalah Connie. Mungkin karena Behal sudah melemah, dia berhasil
mengambil kembali kendali tubuhnya.
"Anak
ini…… tolong jangan hilangkan Behal."
Connie menatapku dengan tatapan serius.
Grim dan Jiriel tiba-tiba muncul di sampingku.
"Oi, oi, oi, oi! Kamu sadar tidak kalau tubuhmu baru
saja diambil alih? Jangan bicara yang santai begitu, dong!"
"Benar sekali. Raja Iblis itu adalah entitas
berbahaya yang bahkan tidak segan menghancurkan dunia. Membiarkannya hidup itu
terlalu berisiko. Tidak membunuh sembarang orang itu bukan berarti sebuah
kebaikan!"
"……Iya, aku tahu. Tapi——pengetahuan Behal itu luar
biasa, tahu!"
Menanggapi perkataan mereka berdua, Connie berkata dengan
mata yang berbinar.
"Saat tubuhku diambil alih, aku bersentuhan dengan
berbagai pengetahuan di dalam diri Behal. Misalnya——negara besar 'Gandalsia'
yang ada di suatu tempat di lautan, binatang buas purba 'Jacob' yang hanya ada
satu di dunia, anak dewa-iblis 'Ladalafia' yang ada sejak awal penciptaan,
hingga sihir pertama 'Original Origin'——kalau Behal lenyap sekarang,
informasi seperti itu juga tidak akan bisa kita dapatkan lagi. ……Lagi
pula,"
Connie berpikir sejenak, lalu melanjutkan kata-katanya.
"Meski hanya sebentar saat kami menyatu, aku jadi
paham kalau Behal itu anak yang kesepian. Karena memiliki kekuatan yang terlalu
besar, dia tidak punya lawan tanding maupun orang yang bisa diajak bicara
setara. Dia sendirian selama ribuan tahun. Selama bertarung dengan Lloyd-kun,
Behal terlihat sangat senang. Bahkan saat menerima serangan terakhir tadi pun……
kurasa itu adalah kesepian yang tidak bisa kubayangkan. Jadi, kumohon
Lloyd-kun, maukah kau menjadi teman Behal?"
"TEMAANNNNNNN!?"
Grim, Jiriel, dan bahkan Behal sendiri berteriak
kencang.
"Bukan, bukan, bukan begitu caranya! Teman
katamu? Nona, Behal itu Raja Iblis, tahu!? Mana mungkin dia bisa akur dengan
manusia!"
"Si Iblis yang sudah jadi bawahan Lloyd-sama ini
sedang bicara sesuatu, tapi…… yah, kali ini aku setuju. Keberadaan kita dengan
Raja Iblis itu terlalu jauh perbedannya!"
"Menjadikanku teman, kau bilang……!? Ja-Jangan
bercanda berlebihan! Tidak mungkin! Meski dunia terbalik pun, hal itu tidak
mungkin terjadi!"
Grim dan Jiriel menentang keras. Behal
pun ikut menunjukkan kegoncangan.
Padahal tadi katanya sudah hampir mati, tapi ternyata
masih punya tenaga untuk protes ya.
Connie menggelengkan kepala mendengar perkataan
mereka bertiga.
"Aku tidak bercanda. Kita pasti bisa berteman.
Karena——"
"—Ya."
Melihatku mengangguk, mereka bertiga membelalakkan mata
karena terkejut.
"Kebetulan sekali Connie, sebenarnya aku pun berniat
begitu. Behal adalah Raja Iblis, entitas yang pastinya sangat berbahaya. Namun,
aku bisa memahami rasa ingin tahunya yang terus mencari sosok kuat. Alasanku
mengulurkan tangan tadi pun bukan untuk membunuhnya, melainkan untuk
membantumu."
Sambil berkata begitu, aku mengalirkan mana ke dalam
diri Behal.
……Sip,
dengan begini dia pasti sudah sedikit pulih.
Namun
Behal justru tampak goyah karena terlalu terkejut.
"Kau
bilang…… mengerti perasaanku? Ja-Jangan bicara seolah-olah kau tahu
segalanya……!"
"Tentu saja aku tahu. Aku sendiri memang tidak
terlalu tertarik pada pertarungan, tapi demi hal yang disukai, kau sampai
berkeliling dunia, melampaui zaman, terus menunggu, dan menanggung kesepian
ribuan tahun…… Itu tidak mungkin dilakukan jika kau tidak sangat menyukainya.
Semangat itu selaras dengan rasa sukaku pada sihir."
Aku pun kalau ada sesuatu yang sekiranya bisa digunakan
untuk sihir pasti akan pergi ke mana saja, baik ke barat maupun ke timur. Aku
mengerti perasaanmu, Behal. Ya, ya.
"Kalau dipikir-pikir benar juga sih. Cuma beda objek
ketertarikannya saja antara 'sosok kuat' dan 'sihir', selebihnya mungkin Lloyd-sama
dan dia mirip."
"Benar, terlepas dari tingkat gangguan yang
mereka timbulkan, sih. Kalau dipikir seperti itu, mungkin mereka berdua memang
bisa berteman."
"Iya, iya, Behal dan Lloyd-kun itu mirip
sekali."
Grim dan Jiriel akhirnya setuju, dan Connie tampak
senang.
Connie sendiri yang tubuhnya diambil alih tapi tetap
ingin membiarkan Behal hidup demi haus akan pengetahuan juga kurasa bukan orang
yang bisa menasihati orang lain, sih…… tapi sudahlah.
"Jadi
Behal, maukah kau menjadi temanku?"
"Menjadikanku…… teman, katamu……? Aku…… aku adalah raja dari Dunia Iblis, pemegang kekuatan yang sanggup menghancurkan dunia, tahu!? Kali ini aku memang kalah darimu, tapi jika aku mengasah kekuatanku, berikutnya aku yang akan menang! Saat itu terjadi, dunia mungkin benar-benar akan hancur! Apa kau masih tetap ingin berteman denganku!?"
"Orang
yang benar-benar berniat menghancurkan dunia tidak akan mengatakan hal seperti
itu. Lagipula, kalaupun itu terjadi, aku tinggal menang lagi, kan?"
"……!"
Aku menjabat tangan Behal yang terdiam seribu bahasa,
sedikit memaksa.
"Gimana? Boleh, kan?"
"~~~~~~~K-K-K-Kau…… lakukan saja sesukamu!"
Setelah berseru begitu, Behal langsung bersembunyi
kembali ke dalam diri Connie.
Entah ada apa dengannya tiba-tiba. Aku kurang
mengerti, tapi karena dia bilang lakukan saja sesukaku, kurasa aku bisa
menganggap itu sebagai persetujuan.
"Aduh, aduh, Lloyd-sama. Anda benar-benar
menjadikan Raja Iblis sebagai teman, ya."
"Tapi melarikan diri tiba-tiba seperti itu
sungguh tidak sopan. Entah apa yang ada di pikirannya."
"Aku sudah memanggilnya, tapi dia tidak mau keluar
dari dalam diriku. Fufu, sepertinya dia sedang malu."
Connie terkekeh, dan di area dadanya, terlihat tanda
seperti memar hitam.
Sepertinya Behal sudah menetap di tubuh Connie. Mirip seperti situasiku dengan Grim dan Jiriel.
"Terima kasih, Lloyd-kun. Karena sudah tidak
melenyapkan Behal."
"Jangan dipikirkan, Connie. Lagipula ini juga
menguntungkanku."
Seperti kata Connie, pengetahuan Behal sangatlah
berguna.
Terlebih lagi, Behal cukup kuat untuk menahan sihir
yang kulepaskan dengan kekuatan penuh.
Bisa dibilang, tidak ada subjek eksperimen sihir yang
lebih cocok daripada dia.
Mana mungkin aku melenyapkan sosok seperti Behal
hanya karena dia sedikit berbahaya, kan?
Bagaimanapun juga, aku ingin terus menjalin hubungan
baik dengannya mulai sekarang. Ya, ya.
◇
Diiringi alunan musik dansa yang anggun, para murid yang
mengenakan pakaian pesta menari di lantai dansa.
Setiap kali mereka berputar, rok warna-warni mereka
mengembang indah bak bunga yang bermekaran, dan rambut panjang mereka
menari-nari di udara.
Dan yang menari di tengah-tengah kerumunan itu adalah aku
dan Connie.
──Setelah kejadian itu, kami kembali ke akademi secara
diam-diam dan disambut oleh semua orang yang sedang gempar.
Menurut mereka, tiba-tiba terjadi fenomena alam yang luar
biasa, sampai-sampai ada yang mengira hari kiamat telah tiba.
Mungkinkah itu dampak dari pertarunganku dengan
Behal? Kami memang bertarung dengan cukup heboh, sih.
"Jelas sekali dampaknya, tahu! Levelnya
sudah jauh melampaui kata 'heboh'! Langit menggelegar dan bumi terbelah. Wajar
saja kalau mereka mengira itu adalah akhir dunia!"
"Benar. Bahkan kitab wahyu yang ada di surga pun
mungkin tidak sedahsyat itu. Malah, itu sudah lebih dari sekadar kiamat. Saking
mengerikannya, kami bahkan hanya punya ingatan yang sepotong-sepotong saking
kagetnya."
Begitulah ocehan Grim dan Jiriel, tapi kurasa mereka
terlalu berlebihan.
Bagaimanapun, setelah suasana langit tenang dan semua
orang mulai merasa aman, diputuskan untuk melanjutkan pesta dansanya.
Dan
begitulah jadinya sekarang…… Hanya saja, aku benar-benar lupa kalau semua orang
tadi payah dalam berdansa, dan aku lupa menggunakan sihir tipe kontrol untuk
menduplikasi gerakan dansa mereka.
Alhasil,
satu per satu peserta gugur dalam penilaian, dan tanpa disadari, hanya kami
yang tersisa menjadi pusat perhatian.
"Sepertinya kita jadi mencolok ya, Lloyd-kun. Kamu
tidak suka hal seperti ini, kan?"
"Hm? Ah, tidak apa-apa. Kalau cuma segini,
sih."
Memang mencolok itu merepotkan, tapi situasinya sudah
begini.
Fakta bahwa mereka langsung melanjutkan pesta dansa
setelah sempat panik soal kiamat menunjukkan kalau mental mereka sedang kalang
kabut, jadi kurasa tidak ada yang benar-benar peduli soal siapa yang jago dansa
atau tidak.
Bahkan para juri pun terlihat seperti orang yang jiwanya
sedang melayang entah ke mana.
"Ngomong-ngomong Connie, sejak kapan kamu jago
berdansa begini?"
Setiap gerakan Connie saat berdansa denganku terasa jauh
lebih mantap dan berkelas daripada sebelumnya.
Bahkan aku, yang menduplikasi gerakan Albert, sampai
merasa seperti dipimpin olehnya.
"Ah, aku meminjam kekuatan dari Shelah-san."
Kalau tidak salah Shelah itu salah satu dari Empat Raja
Surgawi yang jago menari itu, ya.
"Empat Raja Surgawi hanyalah serpihan dari diriku. Hal sepele begini bukanlah masalah."
Behal mendengus bangga dari dalam dada Connie.
"Terima kasih ya, Behal."
"Jangan salah paham. Aku hanya tidak tahan
melihatku diremehkan gara-gara ketidakmampuanmu."
Behal menjawab dengan nada malu-malu saat Connie
berterima kasih padanya.
Ternyata mereka bisa akrab juga, ya.
Awalnya aku sempat berpikir ini berbahaya, tapi
sepertinya tidak perlu terlalu khawatir.
Tak lama kemudian musik berakhir, dan pasangan pemenang
pun diumumkan. Yah, tentu saja kami pemenangnya.
Di tengah tepuk tangan yang meriah, kami menerima
trofi dari Albert dan Birgitte.
"Dansanya sungguh luar biasa, kalian berdua. Semuanya
tampak terharu. Tentu saja, aku pun begitu."
Albert terlihat sangat emosional. Di kursi penonton,
terdengar suara isak tangis, bahkan Sylpha sampai menangis tersedu-sedu.
Sepertinya semua orang terkena pesona dari dansa Shelah.
Mungkin alasan mereka terlihat bengong tadi karena
terlalu terkesima dengan tarian Connie. Waduh, mungkinkah ini jadi lebih
mencolok dari dugaanku?
"Iya, iya, beneran hebat banget. Kakak juga sampai kaget, lho.
……Ngomong-ngomong, kalian berdua mau tidak jadi model iklanku? Bakal Kakak
kasih uang saku yang banyak, lho?"
"Kak
Birgitte……?"
Albert menghentikan Birgitte yang mulai merayu.
Melihat Albert yang tersenyum tapi matanya
memancarkan aura dingin, Birgitte langsung mengibas-ngibaskan tangannya.
"Aduh,
aduh, kan cuma bercanda. Jangan pasang wajah seserius itu, dong."
"Bercanda
apanya, Kakak pasti serius, kan? Wajah Kakak barusan itu wajah orang yang
sedang berbisnis, tahu."
"……Yah, cuma sedikit, sih. Tapi Albert juga lihat
tarian mereka tadi, kan? Benar-benar seperti peri yang sedang menari. Bahkan
Kakak yang sudah melihat segala keindahan di dunia ini sampai dibuat takjub……
Kalau dikelola dengan benar, ini bisa menguasai dunia, lho."
"Yah, aku paham kenapa Kak Birgitte sampai tertarik.
Dengan keahlian Kakak, kalau Lloyd didebutkan, nama dan wajahnya pasti akan
langsung terkenal ke seluruh dunia dalam sekejap. Tapi bakat Lloyd bukan cuma
sebatas itu. Kegiatan selebriti memang bagus, tapi aku ingin Lloyd melihat
dunia lebih luas lagi dan tumbuh menjadi sosok yang hebat. Jadi untuk kali ini,
mohon Kakak menahan diri."
"……Hmm, ucapan Albert ada benarnya juga, sih. Memang
benar, potensi Lloyd itu bahkan Kakak pun tidak bisa melihat dasarnya. Baiklah,
kali ini Kakak serahkan padamu, Albert. Perlihatkan dia banyak hal, biarkan dia
merasakannya, dan biarkan dia belajar──lalu besarkan Lloyd menjadi pria yang
tangguh. Itu adalah tugasmu sebagai kakaknya. Kakak percayakan padamu,
ya?"
"Tentu saja, Kak Birgitte."
Mereka berdua sedang membicarakan sesuatu, tapi bagiku,
aku merasa lega karena akhirnya bisa kembali ke kehidupan akademi yang damai.
Belakangan ini gara-gara festival sekolah dan urusan
lainnya, aku jadi tidak sempat belajar dengan tenang di kelas.
Padahal
ini adalah Akademi William yang berharga. Masih
banyak sekali hal yang ingin kupelajari.
Nah, karena festival sekolah sudah berakhir, besok aku
akan belajar sihir sepuasnya!
◇
"EEEEEEEEHHHHHHH!? Lulusssssss!?"
Teriakanku menggema di seluruh ruangan.
"Kenapa begitu!? Padahal aku baru mau mulai
bersenang-senang!"
"Kenapa kamu tanya? Kan sudah tidak ada lagi yang
bisa kamu pelajari di sini."
Birgitte berkata sambil menghela napas.
"Bahkan di Departemen Sihir yang berisi murid-murid
paling jenius pun, Kakak dengar kemampuanmu itu sudah terlalu dominan. Semua
pengajar bilang tidak ada lagi yang bisa mereka ajarkan padamu. Malah, mereka
bilang justru mereka yang ingin belajar darimu."
"I-Itu, tidak mungkin……"
Yah, kalau dibilang sama sekali tidak ada, mungkin bohong
juga, sih.
Tapi itu kan baru soal kemampuan sihir murni.
Soal sifat unik mana atau penggunaan formula yang
berbeda-beda tiap individu, aku masih belum paham semuanya.
Padahal aku ingin memeriksa setidaknya semua murid dan
dosen yang ada di sini.
Lagipula, buku di perpustakaan akademi baru kubaca
sekitar tiga puluh persen saja, masa aku sudah harus pulang? Ini sungguh
keterlaluan.
"Hayo, jangan terlalu manja begitu, Lloyd. Kamu lupa
kalau awalnya kamu ke sini cuma buat menemani Albert belajar?"
"I-Iya, aku ingat……"
Tentu saja aku tidak ingat hal seperti itu.
Sepertinya beberapa saat sebelum festival sekolah, Albert
sempat bilang kalau studinya sudah selesai atau semacamnya.
Harusnya dia belajarnya pelan-pelan saja, sih. Punya kakak yang terlalu jenius memang merepotkan.
Melihatku yang cemberut, Albert menepuk kepalaku
pelan.
"Hahaha, maaf ya Lloyd. Aku juga sedikit khawatir
kalau meninggalkan istana terlalu lama. Makanya aku belajar dengan
serius."
"Ugh, kalau alasannya begitu mau bagaimana
lagi……"
Memang benar kalau terlalu lama di sini dan menelantarkan
Kerajaan Saloum itu juga bermasalah.
Selama di istana, biasanya Albert-lah yang mengurus
banyak hal. Meskipun Dian dan yang lainnya menggantikan perannya, tetap saja
rasanya agak khawatir.
Kalau istana jadi kacau, kehidupan nyamanku juga bakal
terganggu.
Kalau dipikir-pikir begitu, mungkin memang lebih baik
segera pulang. ……Tapi, tetap saja, sih.
"Duh, kenapa masih menggerutu terus, Lloyd-kun? Tidak seperti murid terbaik Departemen Sihir saja."
"Benar tuh. Turuti saja kata kakakmu."
Yang menepuk pundakku dari belakang adalah Noah dan
Gazelle.
"Kalau merasa kesepian, kamu tinggal datang
berkunjung lagi saja nanti. Sesederhana itu, kan?"
"Kami selalu menyambutmu kapan saja. Benar kan,
semuanya?"
Di arah pandangan Gazelle, di balik jendela, para murid
akademi melambaikan tangan ke arah kami.
"Pangeran Alberttttt! Sedih sekali Anda sudah harus
pergi!"
"Sylpha-kunnn! Aku belum kalah, ya! Jangan harap
bisa kabur begitu saja!"
"Ren-saaaan! Kehidupan sekolah bersamamu sangatlah
seru! Ayo kita bertemu lagi kapan-kapan!"
Ucapan perpisahan yang penuh emosi ditujukan kepada
Albert dan yang lainnya.
Mereka yang memanggil adalah murid-murid terkenal di
akademi.
Sepertinya mereka bertiga memang sangat menarik
perhatian ya.
Aduh, aduh, sungguh membanggakan sekali.
"Bicara apa sih. Lloyd-sama juga tidak kalah
saing, lho."
"Benar sekali. Malah kalau dihitung, suara yang
memanggil Lloyd-sama itu yang paling banyak."
Seperti kata Grim dan Jiriel, memang terdengar banyak
suara yang memanggil namaku juga.
"Lloyd-kunnn! Main bareng lagi ya nanti!"
"Bisa belajar bersamamu adalah kebanggaan seumur
hidupku!"
"Jaga diri baik-baik ya, Lloyd!"
Ada Ben, Edgar, Sasha, Paul, Michael, Rushka,
Kuudrasia…… Kalau diingat-ingat, aku memang sengaja mendatangi murid-murid dari
jurusan lain juga selain Departemen Sihir.
Karena di sini berkumpul murid-murid hebat dari
seluruh dunia, sayang sekali kalau aku tidak menggali pengetahuan dan teknik
mereka.
Setidaknya aku sudah pernah mengobrol sedikit dengan
hampir seluruh murid di sini.
Segala hal bisa menjadi bahan untuk sihir. ……Sejujurnya,
masih banyak hal yang ingin kubicarakan dengan mereka.
"Heh, hebat juga si Lloyd itu. Kalau
ucapan perpisahan buat Albert dan yang lainnya itu karena kemampuan mereka,
tapi buat Lloyd, itu murni karena pertemanan. Kakak sudah lama melihat hubungan
antarmanusia, tapi pertemanan tulus tanpa pamrih itu jauh lebih kuat daripada
hubungan yang saling memanfaatkan kemampuan……! Mungkin yang paling banyak
mendapatkan hasil di akademi ini adalah Lloyd."
"Mungkin alasan William Bordeaux mengumpulkan bakat
selain penyihir di akademi ini adalah untuk mengincar efek sinergi yang
dihasilkan para murid dari berbagai jurusan. Lloyd pasti menyadari hal itu,
makanya dia berteman baik dengan murid jurusan lain. Kita bahkan tidak menyadari
sejauh itu…… Benar-benar hebat."
Albert
dan Birgitte sedang berbisik-bisik, tapi kalau sudah diantar oleh sebanyak ini
orang, rasanya mustahil untuk sembunyi-sembunyi tetap tinggal di sini.
……Mau
bagaimana lagi. Sepertinya aku harus menyerah dan pulang.
Tapi
aku pasti akan kembali lagi. Aku akan menganggap ini sebagai masa
penantian sampai saat itu tiba.
Sambil berjanji dalam hati, aku mulai merapikan
barang-barangku dengan berat hati.
◇
Beberapa hari telah berlalu sejak kami kembali ke Saloum.
Urusan pemerintahan dalam negeri yang dipegang Dian dan
yang lainnya sepertinya sudah mencapai batas, sampai-sampai mereka langsung
memohon pada Albert begitu dia pulang.
Setelah itu Albert langsung membereskan segalanya dalam
sekejap, memang luar biasa.
Kata Birgitte, sepertinya ada hasil dari belajarnya di
akademi kemarin.
Bagaimanapun juga, Birgitte yang merasa puas dengan
pertumbuhan Albert sempat tinggal sebentar di Saloum sebelum akhirnya berangkat
berkelana lagi.
Menjadi pedagang besar yang berkeliling dunia itu
repot juga ya.
Meskipun dia sendiri bilang tidak ada hal yang lebih
menyenangkan dari itu, sih.
Dan kehidupanku yang tenang seperti biasa pun
kembali.
Yah, tapi ada satu hal yang berubah. Yaitu──
"Lloyd-sama, tehnya sudah siap."
Secangkir teh diletakkan dengan tenang di sampingku yang
sedang membaca buku.
Yang berdiri di sampingku adalah Connie yang mengenakan
seragam pelayan.
"Terima
kasih. ……Tapi panggil seperti biasa saja tidak apa-apa, kok."
"Tidak bisa begitu. Karena sekarang aku adalah
pelayan Lloyd-sama. Fufu."
Connie tersenyum kecil. Di dadanya, tanda hitam itu pun
terlihat ikut merasa senang.
──Ya, karena membiarkan Connie yang dirasuki Raja Iblis
Behal berkeliaran sendirian itu terlalu berbahaya, diputuskan kalau dia akan
diawasi di dekatku.
Singkatnya, dia menjadi pelayan pribadiku sama seperti
Ren.
"Hmm,
tapi Connie hebat juga ya. Belum pernah ada yang menguasai ajaranku secepat
ini."
"Itu karena Connie punya tubuh penyerap mana."
Ditambah lagi ada kekuatan Behal di dalamnya, jadi tidak
heran kalau dia bisa sehebat ini.
"Padahal aku butuh waktu berbulan-bulan cuma buat
dapat pengakuan dari Sylpha-san…… Hah, padahal akhirnya aku punya junior, tapi
malah langsung terbalap dalam sekejap……"
"Ren
sudah bekerja dengan baik. Meski
begitu, pengakuan dariku masih status (sementara), lho."
"Eeeh!? Benarkah!?"
Ren tampak terkejut, tapi Sylpha memang luar biasa tegas.
Aku pun sampai sekarang masih kesulitan mendapatkan nilai lulus dalam latihan
pedang darinya.
Saat aku sedang memikirkan hal itu, lonceng istana
berdentang, goon, goon, bergema ke penjuru arah.
Tepat pada saat itu, Connie langsung menghentikan
pekerjaannya.
"Kalau begitu, saya permisi dulu. Sylpha-san.
Ren-san. Lloyd-kun."
Connie melangkah keluar dari kamarku dengan cepat.
Nada bicaranya sudah kembali ke gaya aslinya.
Sepertinya Connie tipe orang yang memisahkan urusan
pekerjaan dan privasi dengan sangat tegas; begitu jam kontraknya habis, dia
akan langsung kembali ke kamarnya sendiri.
Melihat punggungnya yang menjauh, Sylpha menghela napas.
"Tapi……
terlepas dari kemampuannya, tindakannya itu memang kurang menunjukkan rasa
antusias. Reputasinya di mata orang sekitar kurang begitu baik. Walau bagiku
tidak masalah selama dia bekerja tanpa cacat di dalam jam kerja, sih."
"Dia selalu langsung pulang begitu pekerjaan
selesai, ya. Sepertinya dia mengurung diri di kamar untuk membuat alat
sihir."
"……Bukankah itu bagus?"
Aku bergumam pelan di samping mereka berdua yang
merasa sayang dengan sikap Connie.
"Kalau terus-menerus mengerjakan tugas pelayan,
lama-lama pasti akan jenuh. Menurutku memiliki waktu untuk diri sendiri itu
juga penting."
Manusia itu kalau terus melakukan hal yang sama pasti
akan bosan dan konsentrasinya menurun.
Dengan membagi waktu antara pekerjaan dan privasi secara
tegas, mungkin itulah cara Connie menjaga motivasinya tetap tinggi.
Aku pun pada dasarnya selalu melakukan riset sihir, tapi
secara teknis aku sering berganti-ganti genre riset, kok.
Mulai dari Mana Manipulation, Formula Analysis,
Structural Understanding, Knowledge Collection…… dan masih banyak
lagi.
"……Luar biasa, Lloyd-sama. Suara-suara dari
lingkungan sekitar biasanya akan sangat mengganggu pikiran. Namun, bisa tetap
menilai seseorang hanya dari kemampuannya tanpa memedulikan hal itu bukanlah
sesuatu yang mudah dilakukan. Kebesaran hati Anda memang luar
biasa. Saya, Sylpha, benar-benar kagum."
"Kalau dipikir-pikir, belakangan ini aku terlalu
sibuk dengan tugas pelayan sampai melalaikan pengembangan kemampuanku sendiri……
Lloyd pasti sudah menyadari hal itu dan menyuruhku untuk mengasah kemampuanku
seperti Connie……! Hah, ternyata semuanya sudah terpantau olehmu, ya. Benar
juga. Ada hal-hal yang hanya bisa dilakukan olehku, jadi aku harus bertarung di
bidang itu!"
Sylpha dan Ren sedang bergumam sendiri…… tapi
sebenarnya aku hanya ingin mereka berdua punya sedikit waktu luang untuk diri
sendiri.
Dalam artian itu, menempatkan Connie yang berjiwa
bebas di dekat mereka mungkin adalah keputusan yang tepat.
Lagipula, aku pun sebenarnya ingin sedikit lebih bebas.
"Bicara apa sih. Kurasa tidak ada manusia yang lebih
bebas di dunia ini selain Lloyd-sama, deh."
"Benar sekali. Menggunakan kami, Malaikat dan Iblis,
sebagai famili saja sudah aneh, apalagi sampai menjadikan Raja Iblis sebagai
teman. Itu sudah benar-benar jauh di luar nalar manusia."
Grim dan Jiriel menatapku dengan tatapan jengah, tapi
menurutku tidak begitu, sih.
Malah hidupku ini terasa tidak bebas dan merepotkan. Saat
aku sedang merenungi ketidakbebasan itu dalam hati, sebuah suara menggema di
kepalaku.
"Oi Lloyd, ayo bertarung denganku. Kali ini akan
kuhajar kau sampai babak belur."
"Ah, boleh saja. Kebetulan ada sihir yang ingin
kucoba. Jadi seperti biasa, di Ujung Dunia, ya?"
"Umu, kalau begitu nanti malam. Jangan sampai
lupa."
Sambil membalas pesan telepati dari Behal, aku menghela
napas.
Aduh, aduh, perjalanan ke Ujung Dunia itu jauh, tahu.
Bertarung melawan Behal juga memakan waktu yang lumayan lama, jam tidurku bakal
terpangkas lagi, kan?
Belum lagi aku membawa pulang buku-buku terlarang dan
macam-macam, waktu membacaku jadi tidak cukup. Saking sibuknya, aku sampai
merasa kasihan pada diriku sendiri belakangan ini.
"……Yah, ketidakbebasan seperti ini pun kalau sudah
terbiasa akan terasa menyenangkan juga, sih."
Aku bergumam pelan, lalu kembali menjalani kehidupan sehari-hariku yang biasa.



Post a Comment