Chapter
5
Demam
1
──Saat tersadar, Melmina sedang berdiri di tempat
yang asing.
Ia berdiri di tengah-tengah jalanan yang dikelilingi
oleh rumah-rumah yang tidak ia kenal.
"……?"
Di mana ini? Pikirnya sembari mengamati sekeliling.
Di kedua sisi jalan berderet rumah-rumah kayu sederhana.
Di bawahnya, tanah berbatu yang tidak rata tampak
terbuka, dengan genangan air di sana-sini. Aroma sisa hujan masih tertinggal di
udara.
Suara serangga terdengar dari kejauhan, dan saat ia
mendongak, langit tampak biru cerah.
Sinar matahari terasa terik, membuat kulitnya berkeringat
dan merasa panas.
Melmina berpikir dengan perasaan yang entah mengapa
terasa jauh, bahwa mungkin sekarang sedang musim panas.
"……??"
Ia tidak mengerti. Tempat apa ini dan apa yang sedang
kulakukan sekarang? Ia memiringkan kepalanya.
Kepalanya terasa samar.
Segalanya tidak dimengerti.
Segalanya terasa ambigu.
Ingatan sesaat sebelumnya adalah…… benar, punggung
seseorang yang──.
"……"
──Eh, punggung siapa, ya?
Melmina pun tidak tahu hal itu.
Saat ia menunduk karena bingung, di sana ada genangan air
yang memantulkan langit biru dan wajah Melmina.
Seorang gadis berusia delapan tahun dengan rambut
merah.
Itu adalah wajahnya yang biasa…… biasa?
Itu adalah wajahnya sendiri.
Ia merasa ada sesuatu yang janggal, tapi seharusnya
memang seperti itu.
Sebab, Melmina hanyalah seorang gadis biasa yang tinggal
di desa ini, tidak lebih dan tidak kurang.
"──Ah."
Saat itulah, berbagai hal mulai terhubung.
Saat menatap wajah di dalam genangan air itu, kepalanya
yang samar menjadi jelas. Sesuatu terasa hilang──dan sebagai gantinya, sesuatu
seolah terisi kembali.
……Benar. Melmina sedang dalam perjalanan pulang ke rumah.
Rumah Melmina.
Rumah yang telah ia tinggali sejak beberapa tahun lalu.
Rumah yang dibangun bersama-sama setelah pindah dari
daerah kumuh.
Rumah itu punya banyak celah sehingga dingin saat musim
dingin, tapi angin berembus sejuk saat musim panas.
Sambil berpikir ingin pulang ke rumah seperti itu……
"……!"
Melmina mulai berlari. Genangan air itu terpercik,
menciptakan riak yang beterbangan.
Namun ia sama sekali tidak memedulikannya. Karena ia
ingin sekali melihat rumahnya, ia sangat ingin pulang.
Melmina berlari, terus berlari. Berbagai hal mulai
terlihat olehnya.
Pemandangan desa.
Desa tempat Melmina tinggal, yang dilihatnya setiap hari
dan sangat ia kenali. Karena itulah ia berlari tanpa tersesat.
Jalanan sempit, rumah-rumah kayu yang berdiri rapat di
kedua sisi.
Batu besar yang tak bisa dipindahkan di antara
rumah-rumah, dan pohon yang tumbuh dengan bentuk aneh.
Burung-burung yang terbang di langit, kucing yang
berjalan di jalanan.
Rumah dengan lesung batu di bawah atapnya adalah rumah
temannya, Natia.
Gadis itu adalah teman pertama yang akrab dengannya saat
pindah ke sini, dan mereka sudah berjanji untuk membuat hiasan bunga bersama
untuk festival nanti.
Rumah dengan ikan yang digantung di depannya adalah rumah
Kakek Sart.
Beberapa waktu lalu, batu yang ia tendang mengenai tulang
kering Kakek dan ia sempat dijitak, tapi setelah itu ia diberi buah kering
untuk dimakan.
Melmina sangat mengenali semuanya.
Kenapa? Karena Melmina mencintai desa ini.
Ia sangat menyukainya, sering berlarian ke sana kemari,
dan mungkin dialah yang paling tahu seluk-beluk desa ini.
Ia bahkan pernah dipuji dan diusap kepalanya oleh Nenek
Karina karena hal itu.
Karena itulah bagi Melmina, ia sudah tahu seluruh isi
desa ini.
Tidak ada lagi hal yang perlu mengejutkannya.
Seharusnya begitu, tapi……
"……"
……Entah kenapa. Meski ia merasa tahu segalanya, hari ini
semuanya terasa sangat dirindukan.
Entah mengapa bagian dalam matanya terasa panas, dan
penglihatannya mulai kabur.
Melmina merasa hal itu sangat aneh.
"……Eh?"
Karena penglihatannya mulai tidak jelas, ia berlari
sambil mengusap air mata dengan lengan bajunya.
Namun air mata itu tidak berhenti, mengalir di pipinya
dan jatuh menetes ke tanah.
Meski begitu, Melmina tetap berlari, berlari sambil
meneteskan air mata.
Karena ia harus pulang ke rumah.
Benar, Melmina selalu menginginkan hal itu.
Ia ingin pulang. Ia selalu ingin pulang. Pulang ke rumah,
lalu──.
"……"
Sembari berlari seperti itu, akhirnya Melmina tiba di
depan sebuah rumah.
Gubuk kayu sederhana dengan struktur yang sama dengan
bangunan di sekitarnya.
Melmina merasa napasnya tertahan sejenak. Langkahnya
terhenti, ia mendongak menatap rumah itu.
Ia diam mematung cukup lama, menatapnya lekat-lekat.
"……kh."
……Tiba-tiba, Melmina mulai melangkah. Perlahan.
Ia berdiri di depan pintu, dengan ragu-ragu, ia
mengulurkan tangan. Lalu, ia menarik napas dalam-dalam.
Menarik napas panjang, mengembuskannya──lalu mendorong
pintu itu.
"──A-aku pulang."
"Ah, selamat datang, Melmina."
"……Ah."
──Lalu, di sana.
Di balik pintu yang ia lewati, seorang gadis berdiri.
Gadis berambut
merah, dengan wajah yang mirip dengan Melmina, dan tampak jauh lebih tua.
Ya, dia lima tahun lebih dewasa daripada Melmina.
"……Kakak."
"Eh? Ada apa?"
Itu Kakak. Kakaknya Melmina. Kakak sedang menatap Melmina
dengan senyuman.
……Ah, benar. Melmina ingin bertemu dengan Kakak, dan
karena itulah, selama puluhan tahun ini──.
"──Kakak!"
"Wah."
Melmina menerjang ke arahnya. Kakak pun menangkapnya.
Sambil tersenyum kecut, ia menepuk-nepuk punggung Melmina,
bertanya ada apa. Melmina merasa air mata mengalir deras dari matanya……
"……Kak, aku, selama ini, selama ini."
"Ya?"
……Benar. Inilah rumah Melmina. Tempat yang selalu ingin Melmina
kunjungi kembali.
Ini adalah Desa Perintis ke-57, Desa 508.
Kampung halaman Melmina yang berharga.
◆◇◆
……Dan, karena ia merasa bahagia. Melmina melangkah satu
langkah lebih dalam.
◆◇◆
──Di sisi lain, saat itu di wilayah terkontaminasi.
──Terdengar suara sesuatu yang seharusnya tidak boleh
hancur sedang hancur. Suara langit yang terinjak-injak dan retak.
Krak-krak, krek-krek, suara sesuatu yang
dihancurkan dan diinjak-injak.
Suara petir yang membelah langit, suara udara yang tak
mampu menahan ledakan, dan kemudian.
"──"
──Boom, sesuatu melesat dengan kecepatan tinggi.
Melesat sambil menghancurkan apa pun.
Pengejar dan yang dikejar. Setelah mereka melintas
bersama kilatan cahaya, hanya suara dan reruntuhan yang tersisa.
Suara kehancuran. Dentuman yang mengguncang langit.
Bersamaan dengan jeritan ruang yang retak, petir melesat melewati langit hutan.
"──Manifestasi……!"
Di langit di atas hutan yang terbakar itu, suara
seseorang──Konoe, bergema. Cross Spear tercipta.
Lalu dilepaskan lurus ke depan sang Iblis. Monster
yang mengerikan, bencana jamur.
Tombak itu mencapai tujuan dalam sekejap mata.
……Ia tidak mengincar secara langsung, ia tidak bisa
mengincarnya.
──Suara petir membahana. Jamur yang tak terhitung
jumlahnya yang tumbuh di sana, serta pohon yang terkontaminasi, semuanya
terbakar habis.
Tombak Dewa menghancurkan kejahatan itu.
Sebuah kawah melingkar tercipta di wilayah
terkontaminasi.
"──"
──Namun, sang Iblis berteleportasi sembari memutar arah
kawah tersebut.
Konoe terus melemparkan tombak dua hingga tiga kali lagi.
Menciptakan kawah baru.
Namun sang Iblis melompat melewati hutan seolah-olah
menyelinap di antara celah kawah tersebut.
Jarak antara Konoe dan sang Iblis adalah empat atau lima
kilometer.
Itu adalah jarak yang bisa ditempuh dalam waktu sepuluh
detik saja bagi Konoe yang melesat melampaui tembok suara──.
"──h."
──Namun.
◆◇◆
──Sang Iblis terus-menerus melakukan perpindahan.
Sembari memeluk harta karunnya dengan penuh kasih, ia
dengan putus asa mengulurkan tentakel jiwanya, mengulurkannya lebih jauh ke
depan, lalu menangkap bawahannya.
Kemudian,
ia membajak tubuh tersebut. Setelah membajak, ia pindah lagi.
Sementara
itu, tombak terus terbang dari belakang, dan meski merasa takut, ia tetap
mengulurkan diri lebih jauh ke depan.
Aku akan mati. Jika terus begini, aku benar-benar
akan mati. Hawa keberadaan sang pencabut nyawa mengejarku dari belakang. Utusan
Dewa Putih, musuh bebuyutan Dewa Jahat.
Niat membunuh yang mengerikan datang mendekat dari
belakang.
Sang Iblis menyadari bahwa ia telah menginjak ekor
monster yang menakutkan.
Jika tertangkap, aku mati, pasti mati. Tapi aku tidak mau. Benar-benar tidak mau. Karena──.
『──NU!』
──Jika aku mati, aku tidak akan bisa melihat cahaya
itu lagi!
Warna merah yang indah. Cahaya yang paling indah dari
apa pun.
Sang Iblis ingin terus melihat cahaya itu selamanya.
Hanya itulah satu-satunya keinginan sang Iblis.
Karena itulah ia dengan putus asa mengulurkan tentakelnya
lebih jauh ke depan──.
◆◇◆
"────Merepotkan."
Konoe menggumam dengan wajah masam.
Sembari melesat di langit dengan kekuatan penuh, ia
mengumpat saat melihat punggung jamur yang berada jauh di depan.
──Jaraknya, tidak bisa dipangkas.
【──Bawa Melmina, lalu kalahkan di dekat sini!】
【──Cepat! Tidak akan bertahan lama!】
Sembari menggertakkan gigi, Konoe teringat kata-kata Dewa
tadi.
Kata-kata bahwa ia tidak akan bertahan lama.
Melihat jamur beberapa kilometer di depan, kecemasannya
kian memuncak memikirkan berapa banyak sisa waktu yang tersisa……
"……"
Tetap saja, Konoe mencoba berpikir tenang mengenai
situasi saat ini.
Apa yang harus dilakukan Konoe selanjutnya?
Apa syarat yang digunakan musuh, yang terus-menerus
melakukan teleportasi tiruan tersebut, untuk berpindah?
──Pertama, prasyarat.
Konoe harus mendekati musuh. Setelah mendekat, ia
harus mengalahkannya.
Karena detail kemampuan musuh tidak diketahui, ia
tidak boleh membunuhnya lebih dari ini sebelum mendekat.
Ia harus benar-benar menghindari tindakan
menghancurkan seluruh area bersama dengan monsternya menggunakan serangan jarak
jauh.
──Selanjutnya, kemampuan musuh.
Musuh terus-menerus melakukan teleportasi jarak
pendek sejauh 500 meter hingga 1 kilometer. Ia membutuhkan jamur yang tampak
seperti bawahannya di lokasi tujuan, dan ia berpindah dengan cara membajak
tubuh tersebut.
Teleportasi jarak jauh skala 100 kilometer yang
dilakukan beberapa kali saat awal mendekat tidak dilakukan lagi saat ini.
Dapat dikatakan ia beruntung karena Konoe tidak akan bisa
mengejar jika ia melakukan teleportasi jarak jauh.
Alasannya kemungkinan besar karena hal itu memakan waktu.
Saat awal tadi, teleportasi jarak jauh memiliki jeda
puluhan detik di setiap perpindahan.
Jadi, ada kemungkinan jarak perpindahan musuh berkaitan
dengan waktu persiapan.
Dalam situasi di mana Konoe mendekat dari belakang, musuh
tidak bisa menyisihkan waktu untuk melakukan teleportasi jarak jauh.
──Dan terakhir, yang penting adalah.
Karena sifat kekuatannya yang "membajak", jika
ia membunuh bawahan yang menjadi target bajakan, maka teleportasi tidak bisa
dilakukan.
Ada jeda waktu (time lag) antara satu teleportasi dengan
yang lainnya, dan di sela-sela waktu itu, ia bisa memangkas jarak sedikit demi
sedikit.
(──Jadi, yang harus kulakukan adalah mengganggu
pergerakan musuh. Dan mendekat.)
Berdasarkan hal itu, sejak tadi Konoe melemparkan tombak
ke arah tujuan jamur tersebut untuk mengganggu pergerakannya.
Ia menghancurkan tempat yang akan dituju jamur tersebut.
Namun……
(……Namun, tetap saja tidak bisa dipangkas.)
Sudah beberapa menit berlalu sejak pengejaran dimulai.
Selama itu, Konoe sudah berkali-kali melemparkan tombak untuk mengganggu.
Meski begitu, jarak antara mereka tidak berubah,
tidak ada tanda-tanda merapat.
Tidak, lebih tepatnya, justru karena ia
mengganggunya, jarak itu bisa dipertahankan.
Artinya──kecepatan bergerak musuh jauh lebih cepat
daripada Konoe.
Konoe benar-benar diperlihatkan betapa kuatnya
kekuatan teleportasi itu sebagai alat transportasi.
(……Apa yang harus kulakukan?)
Konoe berpikir. Ia menyingkirkan kecemasannya,
berpikir dengan tenang……
(……Satu, ada sih, tapi……)
Saat itulah Konoe terpikirkan satu cara. Hanya ada satu
cara untuk memangkas jarak dalam sekali jalan.
Namun, cara itu memiliki sedikit masalah, dan merupakan
kekuatan yang sulit digunakan dalam situasi ini.
(…………Bagaimana?)
Saat ini, tombak tidak bisa memberikan gangguan jalur
yang cukup. Jarak tidak bisa dipangkas.
Jika saja itu Melmina, ia pasti sudah bisa dengan mudah
menyudutkannya.
Tapi itu adalah angan-angan belaka.
Untuk mengatasinya, diperlukan pemusnahan yang lebih
luas. Namun, Konoe tidak memiliki cara seperti itu.
(……)
Berpikir. Konoe berpikir.
Alat transportasi musuh, kondisi Konoe saat ini.
Jangkauan serangan yang kurang, satu cara yang ada, serta
masalahnya.
Sesuatu yang harus dilindungi, dan nyawa yang mulai
menghilang. Melmina, dan lima belas tahun itu. Dan──.
(………………Tidak, mungkin saja.)
──Konoe menyipitkan mata.
Bzzzt, tubuh Konoe teraliri listrik.
2
──Ini adalah kisah masa lalu Melmina.
Awal mulanya adalah di sudut kawasan kumuh.
Saat ia baru lahir, terjadi banjir labirin yang
menghancurkan kota, dan keluarganya kehilangan tempat tinggal lalu terdampar di
kawasan kumuh. Itulah awalnya.
Saat ia mulai mengerti keadaan, ayah Melmina sudah tidak
ada. Rupanya ia tewas oleh monster dalam proses pelarian.
Konon, monster menyerang saat mereka mengungsi, dan
ayahnya tewas setelah melindungi ibunya yang terjatuh saat melarikan diri.
Karena itulah, sang ibu harus melindungi sisa keluarganya
sendirian.
Ia berlarian
setiap hari seolah-olah sedang menebus dosa.
Bekerja mati-matian, selalu lelah, berangkat sebelum
matahari terbit, dan pulang ke rumah tengah malam.
Masa kecil Melmina tidak memiliki ingatan saat melihat
wajah ibunya dengan santai.
Ibunya selalu terlihat sibuk, yang ia ingat hanyalah
sosok punggungnya saat berangkat dan sosoknya yang tertidur dalam kegelapan
tengah malam.
……Mungkin karena kehidupan seperti itu.
Saat Melmina berusia tiga tahun, ibunya tewas begitu saja
karena penyakit menular.
Wajah saat kematian itulah wajah paling tenang yang
diketahui Melmina tentang ibunya.
Dan setelah itu, prosesnya sudah bisa ditebak.
Melmina kehilangan orang tuanya dan tanpa sempat
bersedih, ia harus masuk ke panti asuhan.
Namun, ia tiba-tiba dicampakkan di tengah-tengah
anak-anak yatim piatu lainnya.
Melmina yang masih kecil dan tidak bisa berbuat apa-apa
itu lemah, sehingga ia selalu ditindas.
Sudah biasa baginya jika makanannya dirampas atau
diperlakukan kasar.
Ada orang dewasa yang mengawasi, namun banyak hal yang
luput dari pengawasan.
Karena itulah, Melmina saat itu menangis setiap hari.
Sedih, menderita, dan menyesal.
Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya
bisa menangis──.
『──Melmina, ayo pergi.』
Namun, saat ia berusia lima tahun.
Hari-hari seperti itu berakhir.
Seseorang menggandeng tangannya dan membawanya ke
Desa Perintis.
◆
──Setelah Melmina pulang ke rumah, dipeluk oleh
Kakak, keesokan harinya.
Hari itu Melmina sudah dijadwalkan untuk melakukan
pekerjaan di Desa Perintis sejak pagi.
"──Ya, kalau begitu semuanya, tumpuk terus di atas
gerobak ini ya."
““““Baik!””””
Melmina bersuara. Ia ikut serta di antara yang lain,
mengangkat tangannya.
Di depannya adalah kayu terkontaminasi yang dibawa orang
dewasa dari hutan, dibelah, dan diikat oleh kakak-kakak yang sedikit lebih tua.
Pekerjaan hari ini adalah mengangkut kayu-kayu itu
bersama-sama ke gerobak, dan di sekitarnya terdapat banyak anak-anak seumuran.
Itu adalah pekerjaan mengangkut ikatan kayu yang besar
dan berat dengan bersusah payah menggunakan Body Strengthening.
Pekerjaan yang cukup melelahkan, sampai-sampai ia selalu lelah saat pekerjaan
selesai.
Karena Melmina payah dalam menggunakan strengthening,
ia selalu tidak bisa mengangkut banyak──.
"──Eh? Hari ini, strengthening-ku
sepertinya berhasil dengan sangat lancar!"
"Wah, Melmina-chan hebat sekali!"
──Seharusnya ia payah, tapi entah mengapa, hari ini ia
bisa melakukan Body Strengthening dengan sangat mudah. Seolah-olah
seperti bernapas.
Begitu mudah sampai-sampai ia sendiri terkejut. Ia bahkan
bisa mengangkut dua ikatan sekaligus, yang biasanya membuatnya goyah meski
hanya satu ikatan.
"Hei, hei, ada apa? Melmina-chan!"
"Eh? Tidak tahu!"
Temannya, Natia, memujinya dengan hebat. Melmina merasa
malu sembari mengangkut kayu-kayu itu dengan ringan.
Entah mengapa rasanya sangat ringan, pekerjaan yang
seharusnya melelahkan itu bahkan terasa menyenangkan.
Karena merasa di atas angin, Melmina mengangkut banyak
sekali……
"………………Se, sebentar, sepertinya aku lelah……"
"……Melmina-chan……"
……Hasilnya, dalam sekejap energinya terkuras habis.
Itu karena Body Strengthening tidak bisa
mengeluarkan performanya jika tidak memiliki dasar fisik yang cukup.
Karena itulah setelah bekerja, Melmina lemas di bawah
bayang-bayang.
Melihat Melmina yang seperti itu, Natia meniupkan angin
dengan papan kayu sembari tersenyum kecut.
"Kerja bagus, kamu sudah berusaha keras. Hari ini
aku sudah membuatkan Melmina melon marumaru yang besar."
"……Eh, benarkah!?"
Saat itu, kakak pengawas datang dan memberikan hadiah
berupa melon marumaru yang sedikit lebih besar──melon yang bulat,
berair, dan sangat manis.
Melmina langsung bangkit, melupakan rasa lelahnya.
Sambil tersenyum, ia menerima melon itu setelah disuruh
membayar dengan uang tunai, dan langsung menggigitnya.
"──"
Melon marumaru itu manis, dan karena sudah
didinginkan di air sumur, rasanya dingin.
Rasanya mendinginkan dari dalam tubuh, seolah membuat
musim panas terlupakan.
Di sampingnya ada Natia, dan mereka tertawa bersama
sambil menggigit melon.
Benar, melon marumaru itu sangat manis dan
lezat──.
◆
──Lalu, sore hari tiba.
Setelah bekerja, Melmina masih berbincang-bincang dengan
Natia di tempat kerja.
Tentang hiasan bunga yang akan dibuat untuk festival
nanti.
Mereka berdiskusi tentang warna apa yang akan digunakan
dan kepada siapa hiasan itu akan diberikan.
"──Melmina? Apakah kamu di sini?"
"Ah, Kakak!"
Saat sedang berbincang, Kakak datang menjemput.
Melmina melambaikan tangan kepada Natia, lalu mereka
berdua bergandengan tangan meninggalkan tempat kerja──dan di sana, Melmina
sedikit goyah. Mungkin karena ia terlalu berusaha keras.
Maka, Kakak pun──.
"──Kak, apakah aku berat?"
"Sama sekali tidak. Melmina harus tumbuh lebih besar
lagi, ya."
Kakak menggendong Melmina di punggungnya.
Padahal Kakak seharusnya bekerja keras seharian,
seharusnya merasa lelah.
Melmina merasa tidak enak hati akan hal itu…… namun di
saat yang sama, ia merasa bahagia.
"……"
Punggung yang hangat, Kakak. Yang membawa Melmina keluar
dari kawasan kumuh.
Kakak Melmina yang baik dan keren, yang menggandeng
tangannya dan membawanya ke desa ini hari itu.
Melmina sangat menyayangi Kakak. Ia berniat memberikan
hiasan bunga padanya di festival nanti.
Hiasan bunga festival harus diberikan kepada orang
yang paling disayangi di dunia. Begitulah aturannya.
"Kak, benarkah aku tidak berat?"
"Tentu saja. Tuan putri yang manis itu ringan
bagaikan kertas."
……Tuan putri!? Melmina terkejut…… lalu segera tertawa,
Kakak pun ikut tertawa.
Jalan pulang mereka berdua terasa menyenangkan,
menggembirakan, dan membuat bagian dalam matanya terasa panas.
Matahari terbenam yang menerangi jalan bersinar dalam
warna merah tembaga, dan suara serangga bergema dari kejauhan.
"Kak."
"Apa?"
Ia hanya memanggil, Kakak setengah menoleh, dan wajah
sampingnya terlihat.
Melmina hendak membalas bahwa tidak ada apa-apa, tapi……
"……?"
……Eh, pikirnya sembari mengucek mata.
Tadi, wajah Kakak tampak sedih. Ia merasa wajahnya tampak
seperti hendak menangis.
"……"
Namun, setelah mengucek matanya berkali-kali dan melihat
lagi, Kakak sedang tersenyum.
Ia tersenyum dengan wajah yang lembut, dan Melmina
berpikir, ah, mungkin itu hanya perasaannya saja……
◆◇◆
……Karena itulah, karena ia merasa puas.
Melmina melangkah satu langkah lebih dalam. Ke tempat
yang gelap, tertelan kembali sedikit demi sedikit.
◆◇◆
──Dan kemudian, panggung kembali ke wilayah
terkontaminasi.
Konoe memutar energi sihirnya, lalu mendeklarasikan.
“Creation.”
──Energi sihir Konoe menuju ke alat sihir di dadanya.
Itu adalah alat sihir untuk membuat pisau.
Sejumlah besar energi sihir dialirkan ke sirkuit
sihir tersebut.
Energi sihir dengan kepadatan yang membuat sirkuitnya
menjerit.
Alat sihir itu memerah karena kelebihan beban akibat
energi sihir yang berlebihan.
Retakan muncul, dan strukturnya mulai hancur.
"Koneksi (Connection)."
Namun, energi sihir Konoe secara paksa menahan
sirkuit yang hancur itu agar tetap terhubung.
Metode memaksakan kehendak yang didapatkan saat
menyusun ulang pisau sebelumnya.
Energi sihir memaksa alat itu bekerja.
Alat sihir yang hancur tidak bisa digunakan, sirkuit yang
terbakar tidak bisa menyimpan kekuatan.
Logika wajar semacam itu, untuk sementara, ditindas oleh
keinginan dan energi sihir.
──Ya, karena di dunia ini, kehendak adalah hal yang
memiliki kekuatan lebih dari apa pun.
"Rotasi (Rotation)."
Ia merapalkan mantra, mendeklarasikan kepada dunia. Roda bantu karena melakukan hal yang tidak biasa.
Energi sihir berputar, melingkar, berputar-putar. Ia
melesat di dalam alat sihir dengan kepadatan dan kecepatan ribuan kali lipat
dari yang diperkirakan. Bunga api yang bocor dari sirkuit meningkat jumlahnya
dalam sekejap──.
"──Kreasi
(Creation)."
──Bilah
pedang, tercipta. Ribuan, puluhan ribu pisau muncul di kehampaan.
Dihamburkan di sekitar Konoe, bilah yang tak terhitung
jumlahnya itu memantulkan cahaya secara acak.
"Penguasaan (Grasp)."
Lalu Konoe menangkapnya. Membentangkan jaring petir.
Jaring petir menangkap semua bilah, melilitnya, dan
mengalirkan energi sihir.
"Tembakan (Launch)."
──Itu seperti hujan. Semua pisau ditembakkan.
Bilah yang tak terhitung jumlahnya melintasi jarak
beberapa kilometer dalam sekejap.
Jejak seperti sinar cahaya terukir di langit──.
『──!!!???』
Sasaran terkena. Area luas hutan sang Iblis terhempas. Beberapa kilometer persegi di depan monster itu dibajak oleh pisau.
Suara seperti jeritan jamur bergema dari kejauhan.
"──!"
──Saat itu juga, teleportasi jamur berhenti total.
Konoe melangkah dengan kekuatan penuh untuk mengejarnya.
Mendekati punggungnya. Punggung jamur yang tadinya kecil kini semakin besar.
Sudah sampai di jarak beberapa ratus meter.
(──huh, tidak bisa ya.)
Namun, tepat di saat terakhir, jamur itu menghilang.
Menghilang.
Melihat. Jamur itu melompat melewati hutan yang hancur,
dan berada di depannya. Mungkin ia menggunakan waktu sampai batas terakhir
untuk melompat dalam jarak yang sedikit lebih jauh.
Konoe segera melanjutkan pengejaran, namun jamur itu pun
terus berteleportasi ke depan. Jaraknya tidak terlalu berkurang.
Meski telah melancarkan langkah baru, ia tetap tidak bisa
menangkapnya.
……Itu tampak seperti sebuah kegagalan.
"Creation."
Namun, tanpa panik, Konoe kembali mulai merapalkan
mantra. Alat sihirnya memercikkan bunga api.
Alat sihir itu kurasa masih bisa dipaksakan bekerja
beberapa kali lagi.
Ya, tindakan barusan memang bukan langkah terbaik.
Meski begitu…… serangan itu berhasil.
Jaraknya sedikit terpangkas. Selain itu, Konoe telah
menanam satu langkah antisipasi.
(……Kalau begini, jurus itu)
──Persiapannya akan selesai. Begitulah pikirnya. Ya,
kalau ia bisa melesatkan beberapa pisau lagi, pikirnya.
(…………Tapi, tunggu dulu. Sensasi barusan, apa itu……?)
Namun, sembari berpikir demikian, Konoe memiliki satu
kekhawatiran.
Itu seperti sebuah intuisi; tidak ada bukti nyata, tapi……
“Creation.”
Sembari merapal mantra, Konoe menatap tajam ke arah
beberapa kilometer di depan.
Di sana, sang jamur yang terus melakukan teleportasi
berkecepatan tinggi sedang berada──.
◆◇◆
──Di saat yang bersamaan.
Sang Iblis, meski merasa takut, sedang memutar otak
sembari mengerahkan tentakel jiwanya sekuat tenaga. Ia mencari siasat dengan
putus asa.
Sebab, akibat hujan pisau tadi, ia nyaris saja
tertangkap.
Jika terus begini, sudah jelas semakin lama waktu
berlalu, ia akan semakin terpojok.
Ia butuh siasat. Siasat untuk membalikkan keadaan. Tanpa
itu, ia pasti akan segera tertangkap.
Karena itulah, sang Iblis mencari segala jalan yang
mungkin.
『……NU』
……Tidak, sebenarnya. Sang Iblis
memiliki satu siasat yang terpikirkan.
Itu adalah siasat yang, jika berhasil, akan memberikan
keuntungan mutlak bagi pelariannya nanti.
Tingkat keberhasilannya pun tidak rendah. Kemungkinan
besar tujuh dari sepuluh akan berhasil.
Persiapannya pun sudah selesai, dan siasat itu…… ada, dan bisa langsung digunakan.
『……NUNU』
……Namun, meski memikirkan hal itu, hati sang Iblis
tidak merasa tenang. Alasannya seperti sebuah intuisi; tidak ada bukti pasti.
Tapi……
『……NU』
Sang Iblis mengarahkan kesadarannya ke belakang. Ia
merasakan pisau-pisau yang kembali digelar di sekitarnya.
Terhadap hawa keberadaan yang mendekat, sang Iblis
merasakan firasat buruk yang menusuk sarafnya──.
◆◇◆
──Singkatnya, pada saat ini.
Konoe dan sang jamur. Tanpa disangka, apa yang dipikirkan
keduanya adalah hal yang sama.
Ada jurus yang bisa digunakan, jurus pamungkas untuk
membalikkan keadaan, namun──.
((──Musuh juga memiliki kartu as.))
Konoe dan sang jamur sama-sama tidak memiliki waktu. Di
tengah keterbatasan itu, mereka saling waspada dan mengukur gerakan satu sama
lain.
Kapan harus melancarkan serangan, siapa yang akan
bergerak lebih dulu.
Sembari mencari celah itu──permainan kucing-kucingan
ini pun menuju akhir.
3
──Lalu, malam pun datang di dunia itu.
Melmina terbangun dari lamunannya saat mendengar suara
pintu terbuka.
"……?"
Saat tersadar, Melmina sudah berada di atas tempat tidur.
Kepalanya terasa samar, dan ia mencoba mengingat ingatan
terakhirnya.
Benar, seingatnya Melmina tadi memasak dan makan malam
bersama Kakak. Setelah selesai makan, ia sempat terkantuk-kantuk dan……
"……Kakak?"
Ia mencari di dalam rumah. Tidak ada hawa keberadaan
siapa pun.
Apakah suara pintu tadi adalah suara Kakak yang keluar?
Mungkin saja Kakak pergi ke toilet, pikir Melmina. Karena
di rumah ini tidak ada toilet.
"……"
Entah mengapa, ia melihat ke luar dari jendela kayu
di dekat situ. Ia melihat langit malam, tapi sangat gelap. Bulan tidak
terlihat, dan bintang pun hanya tampak segelintir. Mungkin sedang mendung.
"……Gelap, ya."
Ia bergumam pelan.
Gelap, langit yang gelap sejauh mata memandang. Entah
mengapa, bagi Melmina, hal itu terasa sangat tidak menyenangkan.
"……?"
Tiba-tiba, terdengar suatu suara. Dari belakang
rumah, suara seperti angin yang terbelah.
"──Ah!"
Benar. Melmina baru ingat.
Ke mana Kakak pergi. Apa yang sedang ia lakukan sekarang.
Ia mengingat jawabannya.
Karena itu, dengan bergegas ia turun dari tempat tidur
dan membuka pintu.
"──"
Ia berjalan ke belakang rumah menembus kegelapan. Dan di
sana……
"──Hup, ──hiah!"
……Ada Kakak. Kakak ada di sana, sedang mengayunkan
tombak.
Ini adalah rutinitas Kakak. Setiap hari, ia berlatih
larut malam. Katanya ia ingin menjadi kuat, ingin melindungi Melmina, karena
itulah ia mengayunkan tombak.
"──"
──Ujung tombak. Kilauan logam yang tumpul memantulkan
cahaya bintang yang samar, meninggalkan jejak di langit malam.
Melmina melihatnya dari balik bayang-bayang. Benar, Melmina
suka melihat Kakak saat sedang berlatih.
Kakak punya bakat, katanya ia langsung mahir dalam
waktu singkat. Melmina selalu menganggap ayunan tombak Kakak yang membelah
angin itu keren……
"…………Eh?"
……Tapi, aneh rasanya. Melmina yang hari ini melihat Kakak
seperti itu…… ia sedikit memiringkan kepalanya.
Entah mengapa, ia merasa ada kejanggalan pada sosok itu.
Rasanya ada yang salah.
Meski berbeda, ia merasa mengenal seseorang yang
mengayunkan tombak dengan cara yang sama──.
"………………???"
Eh? Eh? Rasanya ada yang aneh.
Bayangan seseorang. Saat memikirkan hal itu, dada Melmina
terasa sesak.
Kenapa ya? Padahal ia sedang sangat bahagia.
Padahal ada Kakak yang ia sayangi.
Padahal ada semua orang di sini.
……Melmina tidak mengerti──.
"──Melmina."
"……Eh?"
Saat sadar, Kakak sudah berhenti mengayunkan tombak dan
menatap Melmina.
Wajah itu──tampak sangat sedih.
Seperti hendak menangis.
Melmina bertanya-tanya mengapa Kakak menatapnya dengan
tatapan seperti itu.
Padahal Kakak selalu tersenyum. Selalu baik.
Tapi kenapa──.
"──Melmina, apakah kamu benar-benar baik-baik
saja?"
Melmina tidak mengerti. Ia tidak mengerti, tapi
dadanya terasa sesak.
◆
──Karena itulah, karena ia telah melihat bayangan
seseorang. Karena Kakak menatapnya dengan wajah sedih.
Langkah kaki Melmina sedikit melambat.
Ah, tapi. Jalan menuju tempat yang lebih dalam, sudah
hampir mencapai ujungnya──.
◆◇◆
──Konoe melihat. Melihat musuh, melihat ke depan, dan
melihat ke bawah kakinya.
──Sang jamur mengulurkan diri. Membuat tentakel,
mengulurkannya ke depan, mengulurkannya ke belakang.
──Konoe melesatkan pisau, memutar petir, dan
memikirkan perlindungan di punggungnya.
──Sang jamur memutar Original Magic,
mencengkeram jiwa, dan memikirkan harta karun di dalam dirinya.
Itu adalah saling intip yang bahkan tidak sampai
beberapa detik.
Kartu as yang dimiliki, dan jurus pamungkas yang
disembunyikan musuh.
Bagaimana cara menggunakannya saat waktu semakin
mendesak.
Siapa yang akan bergerak lebih dulu.
Lalu, pada kesekian kalinya, pisau yang dilesatkan
Konoe mendarat di depan sang jamur──.
"────Wahai petir."
『……!』
──Ternyata, yang bergerak lebih dulu adalah Konoe.
Mantra singkat. Petir mengalir dan menyelimuti tubuh
Konoe. Menyentuh kulitnya, membakarnya, dan menggerogotinya.
Terbakar, tubuhnya terbakar.
Rasa sakit yang hebat menyerang Konoe.
Namun, ia mengabaikannya dan melangkah dengan paksa.
Petir meluas di dalam tubuhnya.
Bagian dalam tubuh Konoe tergantikan oleh petir.
Daging berubah menjadi petir, organ tubuh berubah
menjadi petir.
Saraf pun berubah menjadi petir, dan petir
menggerakkan tubuhnya secara langsung.
──Mengubah tubuh Konoe hingga mendekati wujud sihir
itu sendiri.
Itu adalah salah satu kartu as Konoe.
Dengan mengubah dirinya menjadi petir, afinitas
terhadap energi sihir meningkat.
Membakar musuh sekaligus dirinya sendiri──jurus
sesaat yang akan membakar segalanya dalam lima detik.
"──"
──Konoe melangkah. Dentuman petir bergema.
Berakselerasi, berakselerasi,
berakselerasi──melintasi langit bagaikan petir.
Kecepatannya tidak bisa dibandingkan dengan
sebelumnya. Jarak di antara keduanya terpangkas dalam sekejap mata.
Ruang kosong sepanjang beberapa kilometer itu lenyap
dalam waktu kurang dari satu detik.
"──Manifestasi."
──Di sinilah, perwujudan petir muncul.
Pusaran petir membakar dunia.
Pusaran yang mengubah dunia menjadi emas itu mencoba
memusnahkan sang jamur beserta wilayah terkontaminasi tersebut──.
"──khu."
◆◇◆
──Sang Iblis bergerak hampir bersamaan dengan Konoe.
Ia mengulurkan tentakel jiwanya. Sang Iblis
mengulurkannya sekuat tenaga.
Sejauh mungkin──ia mengulurkan delapan tentakel.
『……NUUUUU!』
Lalu, ia menyayat jiwanya sendiri.
Mencabik-cabiknya. Ia menyayat sepersepuluh jiwanya, lalu
membaginya lagi menjadi tujuh bagian.
『……』
Rasa sakit yang hebat, kehilangan, kesadaran yang keruh.
Kehilangan yang seolah-olah keberadaannya disangkal,
seolah-olah sedang membelah otaknya sendiri selagi hidup.
Sang Iblis hampir kehilangan dirinya sendiri dalam
sekejap……
『──NU!』
──Namun, karena hasratnya, ia tetap bertahan.
Keinginannya, ada di dalam dirinya.
Fakta itulah yang membuat sang Iblis tetap menjadi
dirinya.
Dengan begitu, ia menumpangkan dirinya pada delapan
tentakel yang telah diulurkan──.
"──khu!"
Siasatnya berhasil. Saat itu juga, sang Iblis melihat
wajah kaget sang utusan yang telah berubah menjadi petir.
Tentu saja ia kaget. Karena──saat ini, di mata sang
utusan seharusnya terlihat delapan sosok Iblis.
Sang Iblis membajak delapan bawahan sekaligus.
Semua jiwanya adalah asli, dan hawa keberadaannya pun
sama.
Yang berbeda hanyalah ukuran jiwanya.
Berpusat pada titik asal, ia menempatkan delapan
sosok tersebut di dalam lingkaran beradius satu kilometer.
"……!"
Sang utusan sedikit mengubah jalurnya sembari
menunjukkan wajah masam.
Ia pasti tidak bisa mengincar semuanya.
Sang jamur tidak akan menempatkan dirinya di tempat
seperti itu.
Sang Iblis pun tidak menyangka kecepatan dan jangkauan sang
utusan, namun tetap saja, beberapa di antaranya berhasil ia kelabui.
──Singkatnya, ini adalah pertaruhan nyawa sang Iblis.
Jika sang utusan menebak dengan benar, tamatlah
riwayatnya.
Namun jika meleset, sang Iblis bisa lolos satu langkah.
Sang Iblis tidak punya pilihan.
Siapa yang akan diincar sang utusan hanyalah
bergantung pada keberuntungan.
Dan hasil dari pertaruhan sang Iblis itu adalah.
『──NU!』
Sang utusan menggali dan melenyapkan enam lokasi
sekaligus sembari menggambar lintasan seperti petir yang jatuh dari langit.
Hanya tersisa dua──.
『──NUUUUU!』
──Namun sang Iblis masih bertahan! Sang Iblis
memenangkan pertaruhannya!
Sang Iblis bergerak lincah, mengulurkan tentakel.
Yang ia dapatkan hanyalah waktu yang singkat.
Di saat itu, sang Iblis mengulurkan tentakel ke arah
yang ia incar.
Itu──adalah belakang sang utusan. Menuju ke arah
tanah gersang yang hancur oleh serangan sang utusan, menuju jalan yang telah ia
lalui sejauh ini.
Artinya, ia berbalik arah menuju jalan yang ia lalui.
Tujuannya hanya satu.
Jalan yang ia lalui hingga titik ini, berarti di ujung
sana, ada Desa Perintis!
『……NUNUNU!』
Sang Iblis tertawa. Benar.
Inilah tujuan sang Iblis.
Serangan sang utusan banyak yang membakar area luas.
Banyak yang menembus lurus.
Banyak yang dampaknya meluas.
Dengan kata lain, jika Desa Perintis ada di arah
tujuannya, bukankah sang utusan akan kesulitan menggunakan serangannya?
Ia tahu. Sang Iblis tahu. Sang utusan melindungi manusia.
Faktanya, saat sedang mencari celah, ia melihat banyak
ingatan di mana ia melindungi orang.
Di Desa Perintis hanya ada orang-orang lemah yang
tidak berdaya.
Orang biasa yang akan mati jika terkena batu yang
terpental.
Karena itulah, serangan yang bisa melibatkan mereka tidak
bisa digunakan.
『……NUNUNUNU!』
Tertawa, mencemooh, sang Iblis mencemooh. Dengan ini,
serangan musuh pasti akan melambat.
Jika berhasil melarikan diri sampai dekat Desa Perintis,
sang Iblis menang.
Ia akan menjadikan penduduk desa sebagai sandera untuk
mengulur waktu. Lalu melakukan teleportasi jarak jauh. Inilah siasat sang
Iblis.
Tadinya jika ia berbalik arah dengan ceroboh, ia pasti
akan terbakar habis, namun ia memanfaatkan pendekatan cepat musuh untuk
berpapasan.
Sisanya, ia hanya perlu mempertahankan posisi ini.
『……NUNUNU!』
Tawanya tak kunjung berhenti. Sang
Iblis melihat ke belakang, melihat sang utusan.
Wujud itu sudah kembali dari wujud petir tadi.
Mengingat betapa ia enggan menggunakannya sedari
tadi, jurus itu pasti tidak bisa digunakan dalam waktu lama.
Singkatnya, pertarungan ini sudah dimenangkan oleh
sang Iblis──.
『──NU?』
──Eh? Sang Iblis berpikir di sana. Kenapa ya?
Ekspresi sang utusan di belakang yang melompat ke
arah sini, entah mengapa tidak terlihat menyesal. Ekspresi itu justru.
Kenapa, pikir sang Iblis, sembari tetap mengulurkan
tentakel menuju jalan yang ia lalui tadi.
Ia sudah tidak bisa mundur, ia berteleportasi menuju
desa──.
『──』
──Kenapa ada petir di tempat seperti ini?
◆◇◆
"Chain."
Konoe bergumam, merapal mantra. Mendeklarasikan sihir
itu kepada dunia.
Seketika itu juga, pisau-pisau yang telah disebar
mulai bersinar bersamaan.
Saling terhubung. Pisau-pisau yang tak terhitung
jumlahnya terhubung oleh petir. Lalu──.
"──Manifestasi."
──Petir menyambar. Dinding petir tercipta di hutan.
Celah di antara pisau-pisau yang disebar berkali-kali
dibakar oleh petir. Hutan dan jamur bawahan terbakar.
Petir memenuhi arah jalan yang telah ia lalui. Dalam
sekejap mata, semuanya terbakar habis.
『──』
Di depan jamur yang berteleportasi, hanya ada petir.
Bawahan yang berada di depan sana semuanya sudah
terbakar.
Jika ditanya apa yang sedang terjadi, inilah langkah
antisipasinya. Asuransi dari kartu asnya.
Konoe melompat. Menyembuhkan tubuhnya yang rusak
dengan paksa dan melompat ke arah jamur.
Sang jamur mencoba mengelabui Konoe dan mencoba
menuju Desa Perintis. Pasti ia menganggap itu sebagai jalan keluar.
──Tanpa ia sadari, hal itu justru adalah hal yang
paling diwaspadai oleh Konoe.
Benar, sejak awal Konoe sudah mengkhawatirkan situasi
ini.
Desa Perintis di belakangnya, sejak awal ia mengerti
bahwa tempat itu adalah kelemahannya.
Karena itulah, ia bersiap. Kartu asnya sendiri memang
bisa digunakan sejak awal, tapi tetap saja.
Bagaimanapun, wujud petir memiliki kerugian yang
besar. Konsumsi energi sihir yang sangat besar, serta efek samping sementara
pada tubuh yang rusak.
Jika musuh berhasil menghindar dengan cara apa pun,
ia akan meninggalkan celah yang besar.
Kemungkinan itu sangat tinggi karena musuh adalah sang
bencana. Dan benar saja, ia sempat dihindari.
Jika Desa Perintis dijadikan tameng dalam kondisi seperti
itu, pilihan yang bisa diambil akan sangat terbatas.
Melmina juga tidak bisa diselamatkan. Karena itulah ia
butuh asuransi.
Dinding
petir dari pisau yang disebar dalam jumlah banyak.
Itu benar-benar memblokir jalan yang ia lalui hingga saat
ini. Membakar habis jamur di sekitarnya, membakar habis target yang akan
dibajak.
──Sang jamur kini berada di jalan buntu.
◆◇◆
Singkatnya, ini adalah perbedaan persepsi.
Sang jamur tahu bahwa sang utusan adalah pelindung Desa
Perintis. Ia tahu sang utusan melindungi manusia.
……Namun, persepsi itu hanya sampai pada tingkat bahwa
serangan akan menjadi sulit dilakukan.
Konoe tidak pernah melupakan Desa Perintis sejak
awal. Meski memikirkan Melmina, ia tahu bahwa dialah yang melindungi Desa
Perintis, ia tahu dialah yang melindungi manusia.
Karena itulah, sejak awal ia terus berpikir bagaimana
cara melindungi Melmina dan Desa Perintis.
……Ini, hanyalah kisah tentang itu.
◆◇◆
"──Manifestasi."
『──NU!?』
Tombak tercipta, diselimuti petir. Saat sang jamur
bereaksi, semuanya sudah terlambat.
『──NUNU──────!?』
──Petir Dewa menyambar. Tubuh utama sang jamur
tertembus.
Beserta Original Magic-nya, sang jamur pun
terbakar──.
◆
──Tapi, sesuatu, di belakang.
4
──Tubuh utama sang Iblis, terbakar habis. Terbakar oleh petir bersama
dengan Original Magic-nya.
Pertarungan berakhir dengan kemenangan sang utusan.
Desa Perintis terselamatkan. Banyak nyawa diselamatkan,
dan kejahatan telah musnah. Itu tidak diragukan lagi.
──Namun.
『……nu』
……Hanya sedikit, meski hanya satu keping kecil saja.
Namun, sang Iblis masih tersisa.
"──A, pa!?"
Sang utusan menoleh ke arah sang Iblis. Namun,
persiapannya sudah selesai. Tentakelnya sudah diulurkan. Ia mulai
mengulurkannya saat ia terpisah dari tubuh utama, dan sekarang sudah diulurkan
jauh ke depan.
『──nu』
Kepingan itu adalah satu dari bagian yang dipisahkan oleh
sang Iblis.
Satu bagian terakhir dari jiwa sang Iblis yang disayat
sepuluh persen, lalu dibagi menjadi tujuh lagi.
Jika dilihat dari keseluruhan, itu hanya satu atau dua
persen, hanya satu keping kecil saja.
Sekuat apa pun sang Iblis yang memiliki otoritas jiwa, ia
tidak bisa hidup lama.
Mungkin dalam beberapa menit ia akan mati. Hanya kepingan
sekecil itu.
……Namun, meski begitu.
Jiwa itu, pastilah sang Iblis sang bencana. Dan, Original Magic-nya
pun masih tersisa.
Dunia
yang sangat kecil. Bahkan jika ia menjadi sangat kecil sampai tidak terlihat
jika dibandingkan dengan asalnya, ia benar-benar tersisa──.
『──nu!』
──Sekarang,
harta karun ada di dalamnya!
──Harta
karun yang paling berharga ada di dalamnya!
Saat detik terakhir, tepat sebelum tertembus tombak. Tubuh
utama sang Iblis melemparkan harta karun ke kepingan sang Iblis.
Ia tidak bisa mengulurkan tentakel, tidak ada waktu untuk
itu, ia tidak bisa berpindah, tapi agar harta karun yang berharga tidak hilang,
ia menyelamatkannya ke kepingan tersebut.
Kepingan itu menerimanya. Menerima harta karun yang
dilemparkan dengan sangat hati-hati.
Sebenarnya, sang Iblis bisa saja melemparkan jiwanya
sendiri.
Jika ia melakukannya, mungkin ia bisa menyisakan sepuluh
persen.
Jika ada sepuluh persen, mungkin ia bisa bertahan hidup,
tapi ia lebih memilih mengambil harta karun itu.
Karena itulah hasrat sang Iblis.
──Jika harus mati, sampai akhir pun ia akan bersama harta
karunnya.
"──Tu, nggu!"
Sang utusan berteriak dengan wajah yang pilu sembari
berlari ke arah sini. Pasti ia sudah sadar.
Namun, persiapannya sudah selesai. Karena itu, inilah
akhirnya.
Sang utusan tidak akan bisa mengejar perpindahan jarak
jauh itu.
Meski menang, sang utusan melakukan kesalahan pada
langkah terakhirnya.
Dengan ini, pertarungan ini berakhir.
Sang Iblis akan mati, namun ia berhasil melindungi
hasratnya sendiri.
Sang Iblis akan menghabiskan saat-saat terakhir
bersama harta karunnya di tempat yang tidak akan terjangkau oleh tangan siapa
pun──.
◆
─────Eh? Merah──.
◆◇◆
──Melmina, saat itu merasakan dunia bergetar.
"……Eh?"
Melmina secara intuitif merasa dunia tiba-tiba menjadi
kecil. Ada yang aneh.
"……kh?"
Lalu ia sadar. Langit menjadi terang.
Saat ia melihat, di sana──ada petir. Meski tidak sedang hujan, petir keemasan bersinar di langit.
Meski malam, rasanya seterang siang hari.
Di samping Melmina, Kakak juga berhenti berlatih dan
menatap ke langit. Mulutnya ternganga.
"……"
……Melmina bertanya-tanya, entah mengapa, melihat
petir itu, rasanya ada yang aneh.
Saat melihatnya, entah mengapa dadanya terasa sangat
sesak, dan bagian dalam kepalanya terasa berdenyut.
Benar, ada sesuatu yang janggal.
……Melmina merasa seperti melupakan sesuatu yang
penting.
"Petir──interferensi mental, telah terlepas? ……Melmina!"
"……Kakak?"
"Melmina, dengarkan. Kamu tidak boleh berada di
sini!"
Kakak berteriak. Tiba-tiba berteriak.
Ia menatap Melmina dengan wajah yang seperti hendak
menangis. Dengan wajah putus asa, ia melempar tombaknya dan mencengkeram bahu Melmina.
"Kamu tidak boleh berada di desa ini!"
"……Eh?"
……Tidak boleh berada di sini? Kenapa?
Kenapa kamu mengatakan hal seperti itu?
Melupakan kejanggalan itu, Melmina merasa hendak
menangis.
Padahal desa ini adalah kampung halaman Melmina.
Padahal di sini sangat menyenangkan.
Padahal ia bahagia.
Padahal di sini ada Kakak, dan ada semua orang.
Kenapa……
"Melmina, apakah di luar sana tidak
menyenangkan?"
"……Di luar?"
"Pria itu, pria yang merupakan Adept itu,
orang seperti apa dia bagimu?"
……Adept?
Melmina, tanpa sadar mendongakkan wajah.
Di sana tentu saja masih ada petir.
Saat menatapnya…… ia merasa sesuatu di dalam hatinya
sedang berteriak.
Meski warnanya berbeda, ia merasa telah melihat petir ini
berkali-kali.
"……Ah."
──Benar. Ia tahu.
Ia tahu pria itu. Ia
teringat punggung seorang pria. Lima belas tahun ia habiskan bersama.
Pria yang membuat Melmina merasa penasaran.
Selama ini, ia selalu mengikuti punggung itu dengan
tatapannya, dan selama sepuluh tahun mereka tidak bertemu pun, ia selalu
memikirkannya.
Hanya dengan memikirkannya saja, ada perasaan yang
membuat dadanya terasa sesak.
Sebenarnya, aku ingin menemui Kakak lebih cepat. Ingin
terus bersamanya. ……Tapi.
『──Perasaan ini, apakah benar-benar milikku?』
Karena Melmina kehilangan ingatannya, ia tidak tahu
apakah perasaan ini benar-benar miliknya atau bukan.
Ia takut ini hanyalah obsesi dari ingatan yang hilang,
sampai-sampai ia merasa harus melindungi wilayah terkontaminasi meski tak lagi
mengingat alasannya.
Ia takut bahwa emosi ini hanyalah kebohongan.
Karena itulah Melmina bimbang, sangat bimbang, hingga ia
tak bisa pergi menemui Kakak──.
──Namun, mungkinkah sekarang ia bisa memahaminya?
◆
──Ia teringat. Pertemuan pertamanya dengan pria itu
adalah dua puluh lima tahun yang lalu. Di tempat latihan sekolah.
Di antara rekan-rekan seangkatan yang berkumpul di tempat
latihan, ada satu pria yang tampak berbeda. Itulah pria itu.
Seorang pria dari dunia lain.
Sepertinya baru saja dipanggil, tubuhnya kurus seperti
ranting pohon, tidak punya otot, dan staminanya payah.
Ditambah lagi, karena ia datang dari dunia tanpa Mana,
ia bahkan tidak bisa melakukan Body Strengthening dengan benar.
Dalam latihan, ia selalu menjadi yang terbawah.
Melmina memang berada di posisi kedua dari bawah, tapi
perbedaan mereka tetap sangat jauh. Ia tidak bisa lari, tidak bisa
menghindar, dan selalu babak belur.
Semua orang bilang ia tidak akan bertahan lama. Melmina
pun berpikir begitu. Kekuatan dasarnya benar-benar kurang.
Karena itulah, Melmina tidak memiliki ketertarikan
khusus pada pria itu.
Ah, ternyata ada orang seperti itu, ya. Pasti berat
sekali, hanya sebatas itu.
Apalagi, lambat laun Melmina mengetahui sesuatu.
Pria itu sepertinya selalu tinggal sendirian setelah
latihan selesai untuk mengayunkan tombak. Begitu pula
saat hari libur.
Melmina menganggapnya terlalu memaksakan diri, apa dia
ingin hancur sendiri?
Ia merasa heran dan tak habis pikir──.
『──Malam? Tombak?』
──Namun, entah mengapa. Meski merasa heran, Melmina
tertarik dengan rumor tersebut. Padahal sebelumnya ia tidak punya kesan khusus,
tapi entah mengapa ia merasa penasaran. Jadi, ia pergi ke tempat latihan untuk
melihatnya.
Dan di sana ada pria itu, benar saja seperti rumor yang
didengarnya, ia bertahan sendirian hingga larut malam……
『……Ah』
……Melmina melihat sosok pria itu mengayunkan tombak, dan
ia tidak bisa mengalihkan pandangannya.
Rasanya seperti sedang melihat sesuatu yang telah hilang,
ada perasaan asing di dadanya──ah, sekarang ia mengerti.
Saat itu, Melmina menumpuk masa lalu yang hilang…… yaitu
Kakak, dengan pria itu.
……Karena itulah ia mendekat dan tanpa sadar menyapanya.
『──Hei, kamu berusaha keras sekali, ya.』
……Singkatnya, saat itu Melmina.
Ia menyapa pria itu karena terbawa oleh ingatan masa
lalu. Itulah jawabannya.
Karena itulah, hasilnya persis seperti yang selama ini ia
takutkan──.
◆
"──Ah, begitu ya. Ternyata begitu."
"Melmina?"
"……Haha, bodoh sekali."
……Melmina pun paham.
Ia merasa sangat terkejut hingga tak punya sisa tenaga
untuk membalas panggilan Kakak.
Sebab, itu bukan perasaan Melmina yang asli. Ia hanya
tertarik karena menumpuknya dengan ingatan yang hilang. Ia menyapanya tanpa
mengerti arti dari tindakannya sendiri.
"……Ternyata, itu memang bohong."
──Benar. Sejak awal.
Selama sepuluh tahun ini, alasan Melmina bimbang apakah
perasaannya itu asli atau tidak, semuanya disebabkan oleh hal pertama ini.
Karena ia tidak mengerti alasan di balik teguran
pertamanya kepada pria itu.
Ia merasa emosinya berubah tanpa ia sadari, sehingga ia
tidak tahu apakah perasaan ini asli atau bukan.
Karena itulah, Melmina bimbang selama sepuluh tahun. Ia
bahkan tidak bisa pergi menemuinya.
Ia tidak masalah jika perasaan lainnya disangkal. Ia bisa
tertawa sambil berkata, "Aku melakukan hal yang benar, kok."
Namun, hanya perasaan ini yang tidak boleh disangkal.
──Karena ia sama sekali tidak ingin cinta ini disangkal.
Dan kebenarannya adalah, setelah ia mendapatkan kembali
ingatannya dan mencocokkan jawabannya.
"……Dua puluh lima tahun ini, semuanya, bukan
milikku."
"……Ti, tidak mungkin."
Hasilnya adalah yang terburuk. Bagian
terdalam dada Melmina terasa berat.
Ternyata itu memang bohong. Ia terperangkap di masa lalu,
dan karena itulah ia tertarik.
Ia hampir tertawa. Cinta yang telah ia jalani selama
lebih dari sepuluh tahun disangkal.
Itu menyedihkan, sangat menyedihkan, hingga ia merasa
muak dengan segalanya.
Benar, saat itu Melmina menyapa pria itu karena
menumpuknya dengan sosok Kakak.
Dan keesokan harinya pun──.
◆
──Keesokan harinya, Melmina. Menyapa pria itu lagi.
Entah mengapa ia merasa sangat penasaran. Karena itu,
setelah latihan dasar di pagi hari berikutnya, Melmina berkata kepada pria itu.
『Itu, kita bertemu lagi. ……Hei, maukah kamu jika aku...』
Sebelum kelas sihir dimulai, ia menyapanya. Mengajaknya
untuk membentuk tim bersama. Dan jawabannya adalah.
『……Eh, siapa?』
◆
"──Tidak, itu aneh, kan!"
"Eh!?"
"Siapa katamu! Kenapa kamu melupakanku!"
──Ia teringat. Pria itu benar-benar melupakannya.
Bahkan setelah itu, ia memberikan berbagai alasan yang
tidak jelas. Katanya ia lupa karena lelah, atau tidak sengaja keceplosan.
Yah, memang benar itu setelah latihan dasar, dan pria itu
tampak pucat pasi, berlumuran darah dan lumpur sambil sempoyongan.
Karena itu…… karena itu, Melmina merasa sangat kesal──.
◆
『──Kemarin sudah kubilang, kan!? Saat kamu
mengayunkan tombak di malam hari! Kenapa kamu melupakan gadis cantik ini!』
『……Eh, tidak.』
『Lihat baik-baik! Lalu ingatlah! ──Hei, jangan memalingkan
wajahmu!』
……Ah. Benar. Inilah awalnya.
Awal mula Melmina mulai menyebut dirinya sendiri sebagai
gadis cantik hanya di depan pria itu.
Ia tidak terima karena dilupakan…… dan tanpa sadar ia
berteriak.
Bagi Melmina yang kehilangan ingatannya, wajahnya sendiri
adalah satu-satunya hal yang pasti, dan ia percaya diri dengan keimutannya.
Namun pria itu melupakannya, ia pun merasa marah. Apalagi
ia memang sudah tertarik kepadanya tanpa ia sadari.
Karena itu, ia terus mengatakannya selama beberapa waktu
agar pria itu tidak lupa…… dan lama-kelamaan, itu menjadi kalimat andalan
mereka.
Tanpa disadari, itu menjadi hal yang alami. Inilah awal
mula hubungan Melmina dan Konoe.
◆
"Ah, haha…… begitu ya. Jadi begitu ceritanya."
"……Melmina."
"……Tidak, sama sekali berbeda."
──Benar. Tanpa perlu berpikir panjang, Konoe sama
sekali tidak mirip dengan Kakak.
Tidak ada kemiripan sedikit pun dengan Kakak di
depannya ini. Bahkan bisa dibilang tidak ada satu pun kesamaan.
Ia tidak selembut Kakak…… tidak, dia lembut, tapi dia
punya masalah kepedulian yang fatal.
Ia hanya menumpuknya di awal saja. Sama
sekali berbeda.
Jadi, ini adalah. Perasaan ini──.
"Kakak…… kita menghabiskan waktu lima belas tahun
bersama."
"……"
Melmina dan Konoe menghabiskan waktu selama itu
bersama-sama.
Kemampuan mereka mirip, jadi mereka sering dipasangkan.
Saat latihan maupun latihan pembasmian monster. Mereka berkali-kali dipasangkan
sebagai tim.
Karena itulah, Melmina sangat mengenal Konoe.
Ia mengenal banyak kebaikan dan keburukannya.
Konoe tidak peka, tidak tertarik pada orang lain, tidak
ingat wajah orang, dan tidak bisa bicara sambil menatap mata. Ia selalu tidak
ramah dan tidak pernah tersenyum.
Makanannya asal-asalan, jika lengah sedikit saja, setiap
hari ia akan memakan makanan darurat yang keras seperti bata.
Ia juga selalu membeli baju yang sama banyak-banyak, dan
di balik jubahnya ia selalu memakai pakaian yang sama setiap hari.
Rasanya sebagai manusia, banyak hal darinya yang tidak
bisa ditoleransi.
……Namun, ia adalah orang yang selalu berusaha untuk
jujur.
Orang yang bisa terus melangkah setapak demi setapak,
betapa pun beratnya keadaan.
Orang yang bisa bertindak untuk orang lain seolah-olah
itu adalah hal yang wajar.
Ia selalu tidak ramah dan berekspresi datar…… namun sebenarnya, terkadang, ia tersenyum dengan tenang dan lembut.
Sebenarnya, Melmina sangat menyukai wajah itu.
Selain itu──benar, Melmina selalu melihat sosok Konoe
yang mengayunkan tombak di malam hari.
Ia melihatnya bukan karena pria itu hebat seperti Kakak.
Bukan karena pria itu keren.
Meski tidak punya bakat, melihat sosok yang berusaha
sekuat tenaga betapa pun lelahnya, membuat Melmina berpikir bahwa ia pun harus
berjuang.
Sembari berjalan di sampingnya, ia pun berpikir,
"Aku juga."
……Karena mereka berjalan bersama, itulah mengapa, ia
menyukainya.
Pasti, salah satu
alasan ia bisa melewati cobaan seperti siksaan itu adalah karena hal tersebut.
──Lima belas tahun. Waktu yang sangat, sangat panjang.
Mereka menderita bersama, menangis bersama, dan
berbahagia bersama.
Di pagi hari, mereka saling menyapa "Selamat
pagi" dan makan bersama di kantin.
Di siang hari, sambil memuntahkan darah, mereka
berlari bersama.
Di malam hari, mereka menghela napas bersama sambil
berkata, "Kita sudah lelah, ya."
Saat dilempar ke depan monster dalam latihan, mereka
bertarung bersama.
Mereka berkemah di dalam hutan, merebut makanan
darurat yang keras, dan memakan dari panci yang sama.
……Langit berbintang yang mereka lihat bersama setelah
latihan, terasa sangat indah.
Meski sebagian besar hari-hari mereka membahayakan
dan menyakitkan, bukan hanya itu yang ada. Ada
hari-hari seperti itu. Karena itulah──.
"──Syukurlah, ternyata aku menyukainya."
──Itulah jawabannya.
Karena mereka selalu bersama, itulah mengapa ia
menyukainya.
Melmina, sebagai Melmina, menyukai Konoe. Butuh waktu
lima belas tahun untuk akhirnya ia jatuh cinta.
5
──Dan kemudian.
"……Melmina."
"Kakak."
Saat ia sadar, sudut pandang Melmina telah berubah.
Bukan lagi tinggi badan anak delapan tahun seperti
sebelumnya, melainkan setinggi Kakak di depannya.
Itu adalah tinggi badan asli Melmina, sedangkan Kakak
tidak berubah sejak tiga puluh tiga tahun yang lalu.
Ia merasakan aliran waktu. Tiga puluh tiga tahun.
Melmina menghabiskan waktu empat kali lebih lama di dunia
luar dibandingkan waktu yang ia habiskan di desa.
……Setengah dari waktu itu, dihabiskan bersama Konoe.
"Melmina, kamu sudah tumbuh besar, ya."
"……Ya."
Melmina mengambil kembali. Mengingat kembali. Masa lalu,
maupun masa sekarang.
Melmina telah menjadi dewasa. Menjadi seorang Adept.
Seorang utusan dewa yang menyelamatkan manusia.
"……"
Melmina merasakan hasrat yang ada di dalam dirinya mulai
mereda.
Meski sempat tertelan oleh hasrat itu…… ia telah
mengingatnya. Melmina telah mendapatkan kembali Kakak, masa lalunya, dan
kampung halamannya.
──Keinginannya, telah terkabul. Kekosongan itu telah
terisi.
Karena itulah, Melmina harus kembali. Ia tidak bisa terus bermimpi di tengah musuh.
Desa itu menyenangkan, ada Kakak, dan ia bahagia,
namun tetap saja.
……Masih ada orang yang ingin ia temui.
"……Kakak, aku harus kembali."
"Ya."
"……Tapi, bagaimana cara kabur dari sini, ya?"
Melmina kembali melihat sekeliling.
Mungkin ini di dalam Original Magic musuh.
Otoritas untuk memanipulasi jiwa. Bagaimana cara keluar dari sini?
Bahkan saat ia mengarahkan kesadaran ke dalam dirinya, ia
tidak merasakan energi sihir. Mungkin karena ia hanya tinggal berupa jiwa.
……Untuk saat seperti ini──.
"Melmina, tidak apa-apa."
"Eh?"
Suara Kakak. Kakak menatap langit, menatap petir.
Lalu, ia bergumam pelan, "Wah, hebat sekali."
Wajahnya…… tampak seperti gadis seusianya.
Itu adalah ekspresi yang baru pertama kali Melmina lihat.
"──Ya, dengan ini aku bisa mengirimmu
pergi."
Kakak mendekati Melmina satu langkah, lalu tersenyum.
"──Melmina, aku senang bisa bertemu denganmu
sekali lagi. Hanya dengan itu, aku merasa tiga puluh tahun ini
memiliki arti."
"……Kakak?"
"Aku senang bisa melihat pertumbuhanmu. Senang bisa melihat sosokmu yang hebat. ……Kamu sudah jadi Adept,
kan? Hebat sekali."
Kakak tersenyum dengan lembut dan bahagia.
Dengan tatapan penuh kasih, ia menatap Melmina dengan
menyipitkan mata.
"Melmina, aku bangga menjadi kakakmu."
"……Ah."
──Itu adalah pujian yang sangat tulus.
Kakak yang membawanya keluar dari kawasan kumuh. Kakak
yang selalu melindungi Melmina.
Mendengar kata-kata dari Kakak seperti itu, Melmina
merasa bagian terdalam dadanya terasa sesak.
"……Karena itulah, aku harus mengirim adikku yang
hebat ini dengan sepenuh hati."
Lalu Kakak merapatkan kedua tangannya di depan tubuh
seolah sedang menampung air──.
"……Eh?"
──Tiba-tiba, cahaya lahir. Cahaya merah, merah yang
sangat pekat. Sebuah bola cahaya mengambang di telapak tangan Kakak.
Itu bukan energi sihir. Tentu saja, itu juga bukan
kekuatan yang mengerikan. Ini adalah……
"……Itu, jangan-jangan Original Magic?"
Melmina bergumam. Tidak salah lagi, itu adalah Original
Magic──kekuatan jiwa.
……Kenapa Kakak bisa?
"……Eh?"
──Eh?
Selain itu, ia teringat. Melmina pernah melihat cahaya
ini di suatu tempat……
"……Ah."
Ia sadar. Ini, warna ini adalah warna saat itu.
Hari itu, setelah ia kehilangan ingatannya dan terbangun
di gereja kawasan kumuh, di tengah kehilangan segalanya, ia hanya mengingat dua
hal──.
『──Saat aku terbangun, aku telah kehilangan hampir seluruh
ingatanku. Yang bisa kuingat dengan samar hanyalah cahaya merah, dan nama yang
dipanggil seseorang.』
──Hari itu, hanya nama dan cahaya merah yang tersisa di
dalam diri Melmina.
"……Kakak."
Ia tidak menyangka. Melmina pun teringat. Segalanya mulai
terhubung.
Ingatan masa lalu, dan cahaya yang ada di depan mata.
Benar, ia juga menceritakan hal ini kepada Konoe.
『Pasti aku tinggal di suatu desa atau kota yang telah
hancur. Miasma mulai mendekat, lalu aku melarikan diri…… dan di tengah jalan,
aku mengalami luka parah.』
『Luka parah?』
『Di kepala. Sepertinya luka itu sangat parah sampai aku
berlumuran darah. ……Tapi kebetulan, seorang penyihir penyembuh tingkat
tinggi ada di dekat situ.』
──Sebenarnya, ada satu hal yang selalu membuat Melmina
merasa aneh.
Itu adalah kejadian di hari ia terbangun karena
kehilangan ingatannya.
Hari itu, otak Melmina telah hilang. Ia terluka hingga
kehilangan ingatan. Pasti ia hampir tidak punya waktu sampai ajal menjemput.
……Namun, di waktu yang sesingkat itu, kebetulan Melmina
ditemukan.
Dan secara kebetulan ada penyihir penyembuh tingkat
tinggi, dan ia punya sisa energi sihir untuk menyembuhkannya.
Secara kebetulan ada suster yang baik hati, dan meski
tidak ada kenalan, suster itu membawanya ke gereja kawasan kumuh saat Melmina
pingsan.
Kebetulan, kebetulan, dan kebetulan. Melmina di hari itu
diselamatkan oleh serangkaian kebetulan──.
"──"
──Benarkah?
Bukankah itu terlalu nyaman?
Bukankah itu terlalu beruntung?
Melmina selalu bertanya-tanya, apakah kebetulan seperti
itu bisa terus terjadi di dunia yang kejam ini? Dan ternyata itu──.
『Original Magic──Keinginan, kukirimkan engkau ke
ayunan merah, berbahagialah.』
──Bagaimana jika, ternyata itu semua bukan kebetulan?
Bersamaan
dengan doa tersebut, tubuh Melmina diselimuti cahaya merah.
Cahaya
yang hangat, sangat hangat. Lalu, ia melayang dengan lembut.
"……Pergilah,
Melmina."
Ia
membumbung tinggi. Melmina membumbung tinggi.
Menuju petir yang bersinar di langit.
Melmina mengerti. Ia paham. Sihir itu, sesuai
namanya, adalah untuk mengirim pergi.
Membungkus dengan ayunan merah, melindungi, dan
mengirimnya hingga tempat yang aman.
Hanya itulah kekuatannya.
Pasti itu adalah kekuatan untuk mengirimnya pergi
sejauh apa pun, agar ia terselamatkan dan bisa berbahagia.
──Melmina, di hari itu pun diselamatkan oleh Kakak.
"──Kakak, kenapa?"
Tanpa sadar, Melmina bertanya kenapa kepada Kakak.
Melmina pun tidak begitu mengerti artinya. Terlalu banyak
emosi yang bercampur aduk. Namun, jika harus mengambil satu
arti yang paling besar dari itu.
……Itu pasti──kenapa Kakak sampai berbuat sejauh ini,
kata-kata seperti itulah.
"……"
Mendengar kata-kata Melmina, Kakak hanya tersenyum tanpa
suara.
Senyum yang lembut dan hangat.
──Benar, senyum itu.
──Itu adalah senyum yang sama saat Kakak menggandeng
tangan Melmina dan membawanya keluar dari panti asuhan.
Melmina menatap wajah Kakak dengan terpaku saat ia dibawa
pergi oleh ayunan itu.
"──khu."
Lalu, di sana Melmina kembali ke kesadarannya. Kakak, ia
hanya sendirian yang tertinggal di permukaan tanah.
"Kakak!"
Melmina berteriak. Ia mengulurkan tangan. Namun, Kakak
semakin menjauh. Kakak tertinggal di sana. Di dalam otoritas monster ini.
Melmina tidak bisa menerima hal itu, bagaimana mungkin ia
hanya menyelamatkan dirinya sendiri──.
"──"
──Karena itulah, Melmina menyipitkan mata.
◆◇◆
──Lalu Melmina kembali ke dunia nyata.
Di sekeliling Melmina ada perlindungan dewa, ia pun
menembusnya dengan tangan.
"……Melmina!?"
Sebuah suara terdengar, suara Konoe.
Melmina merangkak keluar dari perlindungan itu.
Lalu ia sadar. Ia berada di punggung Konoe.
Dan situasi di sekitarnya. Tanah yang hangus. Bau
udara.
Wujud petir. Ia mengerti bahwa Konoe bertarung dengan
membakar tubuhnya sendiri.
Ah, ia berjuang demi diriku, pikirnya. Ia merasa
bahagia.
Ia berpikir harus berterima kasih, dan ingin
menggesekkan pipinya ke pipi di depannya──.
"──"
──Namun, sebelum itu, ada hal yang harus dilakukan Melmina.
Melmina melihat. Ia melihat dengan Original Magic
yang bisa melihat menembus seribu mil.
Ia melihat monster jamur itu, melihat ke kedalaman,
ke dalam perutnya, ke bagian terdalam dari Original Magic-nya.
Tempat di mana ia berada beberapa saat yang lalu,
mustahil ia tidak bisa melihatnya.
(……Konvergensi.)
Cahaya merah melesat. Cahaya yang terkompresi,
setebal butiran pasir.
Kekuatan yang terkompresi dengan sangat kuat itu
memperkuat daya tembus dan kecepatannya.
『──nu!?』
Menembus sang jamur. Lalu, menyendoknya keluar.
Ia membungkus jiwa yang ada di dalamnya dengan
perlindungan dewa. Di dalamnya ada.
"Kakak."
Melmina berbicara kepada Kakak.
Kakak, terima kasih telah melindungiku selama ini.
Terima kasih telah menolongku.
Terima kasih telah
menyelamatkanku.
Aku sangat sangat bahagia.
……Namun, ada satu hal yang Kakak salah paham.
Adikmu, sekarang, tidak lagi hanya bisa dilindungi──!
Lensa itu melintasi langit.
Lalu, ia menangkap perlindungan dewa putih yang
terpental dari monster itu.
Perlindungan itu kembali ke tangan Melmina, dan Melmina
pun memeluknya.
"──Selamat datang kembali."
──Dengan begitu, Melmina dan Kakak, telah kembali ke
dunia nyata.
◆◇◆
……Dan, jamur yang tertembus itu.
6
──Sang Iblis, sedang menuju kematian.
Terbakar, tertembus, dan menuju kematian.
Harta karunnya telah hilang, dan jiwanya hanya tersisa
sedikit saja.
Jiwa yang tersisa itu pun terus menyebar ke atmosfer.
『──』
Berakhir. Dirinya akan berakhir. Berakhir di sini.
Sang Iblis memahami hal itu.
Di tengah dirinya yang terus menyebar, yang
dipikirkan sang Iblis adalah──.
『──nu』
──Hanya tentang cahaya merah itu.
◆
Ini adalah cerita dari awalnya.
Apa yang ingin dilakukan si jamur, apa keinginan si
jamur, monster seperti apa si jamur itu, cerita seperti itu.
──Awal mula si jamur adalah tempat pembuangan sampah di
dalam pemukiman para Daemon.
Tempat pembuangan sampah itu adalah lubang yang dalam,
dan si jamur lahir di dasarnya.
Tanah tempat sampah menumpuk dan langit yang
terpotong bulat. Itulah awal mula si jamur.
Si jamur tidak punya kekuatan maupun kecerdasan.
Awalnya ia bahkan tidak bisa keluar dari lubang.
Dan ia pun tidak pernah terpikir untuk keluar.
Ia hanya terus berada di dasar lubang.
Ia terus memandangi langit tanpa arti.
Selama berhari-hari, puluhan hari ia memandangnya.
Ia adalah makhluk yang hanya bisa melakukan hal seperti
itu. ……Seharusnya, si jamur akan mati begitu saja karena suatu hal.
──Namun, titik balik datang pada si jamur di suatu
hari.
Seorang Daemon melemparkan sesuatu dari atas
lubang.
Sesuatu yang dibuang itu jatuh tepat di depan si
jamur dengan suara berdebam…… dan nalurinya menyadari.
Itu adalah sisa makanan. Sisa makanan para Daemon,
dengan kata lain──daging manusia.
Si jamur melahapnya. Dengan melahapnya, ia mendapatkan
sedikit kecerdasan.
Monster, semakin banyak membunuh manusia, mereka semakin
kuat.
Semakin banyak memakan manusia, mereka semakin cerdas.
Si jamur belajar. Jika ia tetap di sini, mungkin hal yang
sama akan turun lagi.
『──nu』
Dengan begitu, ia terus memakan apa yang jatuh.
Kecerdasannya semakin meningkat.
Ia tidak menjadi kuat karena ia tidak membunuh manusia,
tetapi ia menjadi cerdas.
Melihat benda-benda yang terjatuh di tempat
pembuangan, ia belajar tentang benda.
Mendengar suara yang bocor dari pemukiman, ia belajar
bahasa.
──Si jamur, sedikit demi sedikit, tumbuh dewasa.
Lambat laun ia mendapatkan kecerdasan untuk memanjat
lubang, dan ia mencoba keluar.
Lalu kali ini ia melihat para Daemon, dan
memutuskan untuk mempelajari para Daemon.
Si jamur berdiri di samping lubang, dan terus melihat
para Daemon.
Bagaimana
para Daemon hidup.
Bagaimana
mereka tertawa dengan gembira.
Bagaimana mereka marah karena tidak bisa memaafkan.
Bagaimana mereka menangis dengan sedih.
Dan──bagaimana mereka mencintai dan dicintai.
Si jamur mengetahui emosi, mengetahui cinta. Hal itu
tampak berkilauan. Seperti permata, ia terpesona, dan itu tampak seperti
hal yang paling indah di dunia.
Karena itulah ia ingin ikut masuk, dan mendekat…… namun
para Daemon tidak menerima si jamur.
Ia diserang karena dianggap pengganggu. Diusir dari
pemukiman. Jika dipikir kembali, mungkin ia beruntung karena tidak sampai
dibunuh.
──Si jamur, diusir oleh para Daemon. Ia
belajar bahwa para Daemon itu tidak bisa diajak berteman.
Kalau begitu, bagaimana dengan sesamanya, ia pun
mendekati sesama jamur.
……Namun, jamur lain tidak memiliki kecerdasan. Karena
mereka lemah.
Si jamur belajar bahwa hanya dirinyalah pengecualian.
……Si jamur, sendirian.
Ia mengaguminya, namun tidak bisa mendapatkannya.
Diusir, dan tidak bisa lagi melihatnya.
Meski ia tahu apa itu cinta, meski ia tahu apa itu kasih
sayang.
Meski cinta itu indah, dan kasih sayang selalu terasa
cantik.
……Namun, betapa pun caranya, ia tidak bisa
mendapatkannya.
Si jamur meratap di tengah hutan.
Ia meratap, namun karena ada sesuatu yang diinginkannya,
ia terus berpindah tempat.
Dalam perjalanannya, ia melihat sebuah pemukiman manusia.
Mereka tampak bersinar terang──si jamur menekan rasa haus
akan darah yang muncul dari akarnya, lalu mendekat.
Dan kemudian……
『──Ada monster!』
Seperti yang sudah diduga, ia diserang dan melarikan
diri.
……Tiga kali ia melakukan kesalahan yang sama, dan si
jamur pun belajar.
Si jamur yang penuh luka namun cerdas itu belajar.
Bahwa
dirinya adalah makhluk asing. Bahwa ia tidak bisa masuk ke dalam sana.
……Karena
itulah, setidaknya ia ingin terus melihatnya.
Ia pikir jika ia bisa melihatnya dari dekat, rasa sepi
ini akan sedikit terobati.
Sebagaimana anak manusia atau anak Daemon yang
menangkap serangga lalu mengamatinya, si jamur pun mulai ingin menangkap cahaya
cinta yang bersinar terang itu, lalu mengamatinya.
『Original Magic──Penciptaan Ilusi, Kandang Serangga
Jiwa [Kotak Permata Milikku]』
Ia menciptakan dunia di dalam dirinya. Karena daging
tidak bisa dimasukkan, ia mencabut jiwanya.
Ia mereproduksi dunia dengan sihir, dan membiarkan
mereka hidup di dalamnya.
Namun, setelah beberapa waktu, kepanikan terjadi di
dalamnya. Jadi, untuk menghentikan kekacauan itu, ia memanipulasi jiwa mereka,
mengendalikan kondisi mental dan ingatan, atau mengulang waktu yang sama
terus-menerus.
Ia menyesuaikannya agar mereka memperlihatkan sosok
yang paling indah.
『……NU』
Si jamur terus mengamati kilauan itu. Mengamati
cinta, mengamati kasih sayang. Dan, selagi melakukan itu, ia menjadi semakin
kuat. Sepertinya Dewa Jahat menganggap bahwa mencabut jiwa sama dengan
membunuh.
Setelah menjadi kuat, ia bisa memperluas dunianya,
menangkap lebih banyak lagi, dan terus memperluas dunia tersebut.
Kelas bawah, menengah, atas, tertinggi, hingga kelas
bencana. Ia terus berevolusi.
Tahun-tahun panjang berlalu, dan isi di dalam si
jamur meluas tanpa batas.
──Saat itulah si jamur bertemu dengan kilauan
tersebut.
『……Melmina, tidak apa-apa, tenanglah……!』
Hari itu, tiga puluh tiga tahun yang lalu. Si jamur sedang mengamati luapan Dungeon dari sisi lain.
Monster yang meluap dan manusia yang melarikan diri.
Barrier yang hancur, serta orang-orang
yang menangis menjerit karena terinfeksi miasma.
Si jamur melihat keadaan itu dari kejauhan. Karena di
sana terdapat banyak sekali emosi.
Manusia akan memperlihatkan kilauan yang indah semakin
mereka terdesak.
Jadi, ia mengamatinya sebentar, berpikir mungkin jika ada
manusia yang memiliki cinta yang indah, ia akan menangkapnya dan memasukkannya
ke dalam kandang serangga. Ia berpikir begitu──.
──Si jamur tiba-tiba melihat seorang gadis.
Gadis itu sedang berlari menyusuri jalan raya sambil
menggendong adiknya yang menangis tersedu-sedan. Namun, di belakangnya, Garm
(Serigala Iblis) mulai mendekat.
『Ka, Kakak……』
『Melmina, jangan khawatir…… ugh!』
Gadis
itu dipermainkan oleh Garm.
Ia
dijadikan mainan.
Garm sepertinya mengincar adiknya,
dan sang kakak berusaha sekuat tenaga melindunginya.
……Tampaknya,
monster itu sedang menikmati sampai kapan sang kakak bisa terus melindungi
adiknya.
Garm menunggu sampai sang kakak
tidak tahan lagi dan melarikan diri sendirian.
Menunggu sampai sang adik ditinggalkan dan merasakan
keputusasaan.
Si jamur memperhatikan mereka berdua.
Ia melihat emosi mereka berdua.
Karena mereka tampak berkilauan.
Ia hanya terus melihat, bertanya-tanya kapan sang kakak
akan membuang adiknya.
Atau apakah ia akan terus mendekapnya sampai akhir.
『Kak──ah』
『Ah…… Melmina!』
──Namun, itu berakhir dengan tiba-tiba.
Karena Garm mengalihkan sasarannya dan menembus
kepala sang adik.
Darah membanjir, dan cahaya di matanya menghilang.
Si jamur berpikir, ah, ternyata sudah berakhir sampai di
sini, ya. Begitulah pikirnya──.
『Original Magic──Keinginan, kukirimkan engkau ke
ayunan merah, berbahagialah.』
──Tidak, salah. Belum berakhir. Ada kilauan merah, merah
yang pekat.
Di tengah kepungan monster, sang kakak tidak memikirkan
dirinya sendiri, melainkan membiarkan adiknya tetap hidup.
Meski diburu oleh Garm dan terinfeksi miasma, ia
mendoakan kebahagiaan sang adik yang telah ia lepaskan.
Sebuah doa yang dipertaruhkan dengan nyawa, bentuk cinta
yang sangat murni.
Kilauan itu tampak sangat berkilauan──.
──Ah, begitu ya.
──Si jamur telah melihat kilauan yang paling indah dari
segalanya.
Sesuatu yang sangat, sangat indah. Kilauan itu terlalu
cantik, hingga dalam sekali pandang hatinya tercuri.
Ia ingin melihatnya lagi dan lagi.
──Saat itu, si jamur, si jamur bencana itu.
Ia jatuh cinta pada kilauan itu, pada sang gadis.
Itu adalah cinta pertamanya.
Pasti cinta pertama dan terakhirnya.
Karena itulah si jamur──.
◆
──Sang Iblis, bahkan di saat-saat menjelang kematiannya
ini, tetap jatuh cinta.
Ia hanya terus memikirkan gadis itu.
Dalam pertarungan melawan sang utusan, alasan sang Iblis
membuang nyawa dan segalanya agar tidak melepaskan harta karun
terbesarnya──gadis itu, adalah karena ia sangat cantik, karena itu adalah
hasratnya, dan karena ia sedang jatuh cinta.
『──nu』
Selama gadis itu ada, ia tidak peduli sama sekali dengan
rasa haus akan darah yang muncul dari akarnya.
Selama puluhan tahun, sang Iblis tidak membunuh manusia.
Gadis itu tampak suram dan tidak bersemangat, ia ingin
melihatnya bersinar dan tersenyum.
Keinginan untuk kembali ke kampung halaman dan menemukan
celah adalah awal dari semua ini.
Karena gadis itu bereaksi saat melihat desa, sang Iblis
pun menyelidikinya.
Lalu ia menemukan adik yang diselamatkan oleh gadis itu,
dan mencoba menangkapnya.
Ia ingin melihat cahaya itu sekali lagi.
Demi itu, naluri bertahan hidup maupun rasa sakit saat
jiwanya dicabik-cabik tidak ada artinya.
……Benar, semuanya demi cinta ini.
Namun, sekarang, gadis itu tidak ada di sisi sang Iblis.
Hal itu membuat sang Iblis merasa sedih. Sedih hingga ke titik yang tak terkatakan──.
『──nuuu』
……Oleh karena itu, sang Iblis. Sang
Iblis yang dibakar dan ditembus oleh sang utusan.
Sang Iblis yang kehilangan harta karunnya, kehilangan
cinta pertamanya, dan kini perlahan menghilang sendirian.
『──nuuuuuuuuuuuu!』
──Sang Iblis, meski kehilangan hampir seluruh
jiwanya, tetap berteriak.
Karena ia merasa kesepian. Ia tidak ingin lagi merasakan
rasa sendirian seperti saat pertama kali dulu──.
『nuuuuuuUUUUUUUUUUUUNUUUUUUUUU!!!!!』
──Karena itu, sang Iblis tidak bisa menyerah.
◆◇◆
──Saat ia mengira semuanya sudah berakhir, Melmina
kembali.
Padahal musuh mencoba melarikan diri tanpa bisa ia ambil
kembali, namun ia kembali.
Konoe menatap Melmina dengan terpaku.
Padahal ia pikir ia tidak bisa melindunginya. Padahal ia
pikir ia gagal. Namun ia kembali.
Ia menurunkannya dari punggungnya dan menatapnya
lekat-lekat. Ia pun menggenggam tangannya.
Pipi Melmina memerah karena aliran darah telah kembali. Telapak tangannya lembut dan hangat.
──Ia benar-benar hidup.
Melmina berkata dengan suara kecil, "Ini berkat
kamu dan Kakak."
Lalu, ia menceritakan detailnya.
Tentang tempat di mana Melmina jatuh, ingatan yang ia
ambil kembali, Kakak yang disekap, dan Original Magic.
Konoe tertegun melihat blessing (perlindungan)
di tangan Melmina──.
"──!"
──Saat itulah ledakan terjadi di sekitar mereka.
Hutan…… tidak, bukan. Bukan hutan yang meledak. Itu
adalah jamur.
Jamur yang tumbuh di hutan.
Jamur yang tumbuh tak terhitung jumlahnya itu meledak
secara bersamaan.
Pecahannya terbang ke mana-mana──terbang menuju suatu
tempat. Tujuannya adalah……
"──Konoe, tiga ratus kilometer ke utara dari sini.
Sisa-sisa jamur itu sedang berkumpul di sana."
"……Jamur…… jangan-jangan, belum berakhir……?"
Konoe, yang mengira segalanya sudah berakhir, merasa
wajahnya menegang.
Melmina, dengan melirik Konoe, mengulurkan tangan
untuk membuat Lens──.
"──khu!"
"……Melmina?"
Pembentukan Lens itu terhenti tepat saat satu atau
dua buah tercipta.
Konoe bertanya-tanya ada apa, dan di sanalah ia
menyadarinya. Ia hampir tidak merasakan energi sihir dari Melmina.
"……Maaf. Sepertinya energi sihirku banyak yang
hilang saat aku mati tadi."
"Ah……"
"Mungkin sulit untuk menggunakan persenjataan."
Oh iya, energi sihir memang akan hilang jika mati.
Jika begitu, Melmina pasti tidak bisa bertarung lagi.
Yah, itu juga berarti Konoe hanya perlu melakukannya
sendiri.
"Hanya
Body Strengthening yang tersisa, kurasa. Aku
ingin menghemat energi, bisakah kamu menggendongku?"
"……Ah."
Konoe menggendong Melmina.
Lalu, ia melesat ke arah yang ditunjukkan oleh Melmina
dengan Original Magic──.
◆
"────────Itu, Konoe."
"……Ada apa?"
"……Maaf ya, karena sepuluh tahun tidak
menemuimu."
Di tengah perjalanan, tiba-tiba Melmina mengatakan hal
itu.
Padahal mereka sudah bertarung bersama selama lima belas
tahun, tapi ia meminta maaf.
Konoe pun berpikir…… yah, memang mereka hampir tidak
pernah bertemu, sih.
"……Soal itu."
Namun, Konoe juga berpikir bahwa itu bukanlah hal yang
perlu dimaafkan.
Itu adalah keputusan Melmina sendiri, mungkin ia sibuk
dengan pekerjaannya, dan tidak ada urusan yang mengharuskan mereka bertemu.
Konoe tidak keberatan, dan tidak ada alasan untuk
keberatan.
Hal yang seharusnya terjadi, telah terjadi.
Bagi Konoe, ini adalah hal wajar yang sudah ia alami
berulang kali selama puluhan tahun sejak berada di Bumi.
Jadi, saat ia hendak bertanya balik kenapa ia meminta
maaf……
"……………………"
…………Ah, tapi, sepuluh tahun yang lalu saat itu.
Melmina, yang selama lima belas tahun sering berada dalam
tim yang sama, tiba-tiba menghilang. Sedikit, meski hanya sedikit.
Berbeda dari orang lain sebelumnya…… sebenarnya, Konoe,
berkali-kali menoleh ke samping.
"……………………"
Saat itu, Konoe tidak tahu alasannya.
……Tidak, mungkin ia hanya berusaha untuk tidak
memikirkannya.
"………………Tidak apa-apa."
"Begitu? ……Maaf ya."
……Apa pun itu, menurutnya Melmina tidak perlu meminta
maaf.
Namun, tangan Melmina yang melingkar di lehernya
sedikit mengerat.
Suhu tubuhnya merambat ke punggung Konoe dengan
sedikit lebih kuat.
"……………………"
──Lalu, keheningan menyelimuti mereka kembali.
Konoe hanya terus berlari menuju tempat di mana jamur itu
berada.
Berlari di atas langit hutan yang telah hancur.
Hutan yang dihancurkan dan dibalikkan oleh jamur. Tanah
tak bernyawa di mana monster dan hewan telah punah.
Di dunia di mana daging-daging jamur berterbangan, namun
di punggung Konoe, terdapat detak jantung yang nyata.
(……Padahal aku gagal melindunginya.)
Untuk kesekian kalinya, ia berpikir begitu. Padahal gagal
melindunginya, namun ia kembali.
Konoe merasakan detak jantung itu.
Melmina benar-benar ada di sana.
Kakak Melmina telah menyelamatkannya.
……Konoe hanya merasakan detak kehidupan itu.
"…………"
……Di tengah keadaan itu, kabut mulai muncul di sekitar
mereka.
Kabut yang dipenuhi energi sihir.
Di balik kabut yang perlahan menebal itu──terlihat
sosok jamur yang sedang mengumpulkan sisa-sisa dirinya dan membesar.
Padahal jarak mereka seharusnya masih puluhan
kilometer, namun monster itu membesar hingga bisa terlihat oleh mata.
Konoe bertanya-tanya, seberapa besar ia akan
tumbuh──.
◆◇◆
『──NU』
──Saat itu, sang Iblis hanya sedang mengumpulkan.
Mengumpulkan bawahan yang disebar di hutan, tubuhnya, serta jiwanya.
──Dengan begitu, ia menyambungnya kembali.
Ia menambal jiwanya yang tercerai-berai dengan jiwa
para bawahannya.
Ia menciptakan tubuh yang hilang dengan jutaan
bawahan.
Jiwa yang ditambal sulam.
Tubuh yang tampak hampir hancur.
Sang Iblis menyambungnya dengan hasrat.
Menggerakkannya dengan keinginan.
Dengan hasrat, ia membakar semangatnya──.
『……』
……Sang Iblis, melihat. Sembari
menyambungnya, ia melihat.
Ia melihat sang utusan dan harta karun…… tidak, ia melihat gadis itu yang perlahan mendekat.
Tubuhnya sendiri sudah tidak bisa tertolong. Jiwanya
pun tidak tahu sampai kapan akan bertahan.
Namun, sang Iblis tetap melihat sembari berjuang
dengan sisa tenaga.
『──NUNU』
──Karena, aku ingin menemuimu.
──Aku ingin terus melihatmu.
Lalu──.
『──NUNUNU』
──Tolong, jangan pergi.
──Aku benar-benar tidak ingin sendirian.
…………Ah, sebenarnya. Sang Iblis pun, sebenarnya, tahu.
Karena ia telah melihat cinta dan kasih sayang.
Ia tahu betapa salahnya kata-kata yang ia ucapkan.
Ia tahu betapa egoisnya hal yang ia katakan.
Sang Iblis, pasti sejak awal telah melakukan kesalahan.
Bahkan sampai sekarang, ia terus melakukan kesalahan yang tak termaafkan.
Ia tidak punya hak untuk mengatakan hal ini.
Tidak mungkin ada. Aku tahu. Maafkan aku.
『──NUNUNUNUNUNU』
──Namun, aku merasa kesepian, sangat kesepian.
──Bagi aku, orang asing yang tidak memiliki siapa pun di
sisinya, hanya ini yang bisa kulakukan.
Demi hal itu, sang Iblis terus melakukan kesalahan. Dan
kini, ia akan berakhir dalam kesalahan tersebut.
Detik demi detik tubuhnya hancur, seolah hancur begitu
saja setelah disambungkan.
Jiwa yang hanya tersisa sedikit ini tampak seperti akan
lenyap jika ia lengah sedetik saja.
Namun, tetap saja. Sang Iblis di saat terakhir, hanya
sekali saja, berharap agar ia bisa──.
『──NU』
──Karena itu, karena aku berharap begitu.
──Sang Iblis, di sini menciptakan sihir baru dengan jiwa
yang ditambal sulam.
『Original Magic──Perasaanku ada di sini, yang
kuharapkan hanyalah bintang merah nomor satu, jangan pergi, tetaplah di sisiku,
wahai orang yang kucintai.』
──Sang Iblis menatap tajam.
Menatap sang utusan yang mendekatinya. Menatap sang utusan
emas. Menatap dinding terbesar di antara dirinya dan sang gadis.
……Sihir ini, agar aku bisa menemuimu lagi.
Meski bertarung itu sendiri salah, namun bagi sang
Iblis, tidak ada cara lain lagi.
──Sihir ini, hanyalah kekuatan untuk menyingkirkan
hambatan.
──Kekuatan untuk memperlihatkan kelemahan sang utusan dan
menusuknya.
◆◇◆
──Konoe menyadari. Kabut di sekitarnya menjadi semakin
tebal.
Lalu──bayangan manusia mulai muncul di dalam kabut itu
dengan samar-samar.
Konoe pun meningkatkan kewaspadaannya──.
"……Apa ini? Kabut yang memantulkan bayangan?"
"……Melmina?"
"Kabut
ini. Sepertinya Original Magic, tapi…… dengan
kekuatan seperti ini, apa yang ingin dilakukannya?"
Melmina bergumam dengan nada bingung. Konoe hendak
menanyakan detailnya.
──Saat itu.
"────!?"
Zokuri, rasa merinding menjalar di
punggung Konoe. Ada sesuatu. Sesuatu yang tak terlihat sedang mendekat!
Tujuannya adalah bagian dalam diri Konoe. Ini
adalah──jiwa!?
"──!"
Seketika, Konoe meningkatkan kekuatannya.
Meningkatkan energi sihir, dan memperkuat
perlindungan dewa.
Memperkuat barrier miliknya sendiri hingga
batas maksimal.
Ketahanan kuat sang Adept seketika memantul
dan meniadakan interferensi musuh──tentakel jiwa tersebut.
"Konoe! Apa itu tadi?"
"…………Ah."
Suara Melmina dari punggungnya. Sembari menjawab, Konoe
menghela napas pendek──.
『『……Konoe』』
"──?"
──Namun, di saat yang sama, sebuah suara bergema. Itu
adalah──itu adalah?
Suara yang memanggil Konoe, tapi bukan suara Melmina.
『Konoe』
『Konoe』
『Konoe』
『Konoe』
『Konoe』
『Konoe』
『Konoe』
『Konoe』
『Konoe』
『Konoe』
『Konoe』
『Konoe』
『Konoe』
『Konoe』
『Konoe』
『Konoe』
『Konoe』
『Konoe』
『Konoe』
『Konoe』
『Konoe』
『Konoe』\
Bayangan itu memanggil nama Konoe. Konoe merasa familiar
dengan suara itu──.
『『『Konoe, lihatlah ke arah sini』』』
──Bayangan yang terpantul di kabut membentuk tiga sosok.
──Di sana, ada ayah, ibu, dan pembantu rumah tangga
Konoe.
7
『Konoe』
『Konoe』
『Konoe』
『Konoe』
Bayangan muncul. Bayangan yang tertidur di dasar ingatan
muncul.
Konoe terhipnotis oleh bayangan itu, dan gerakannya
terhenti tanpa sadar──.
"────"
"……Siapa orang-orang ini? Wajahnya mirip
Konoe……?"
──Mendengar suara Melmina, ia kembali ke kesadarannya.
Mirip, begitu ya, tentu saja, karena darah mereka
mengalir di dirinya. Namun hanya darahnya saja.
『Konoe』
『Konoe』
『Konoe』
『Konoe』
『『──Keberadaanmu itu mengganggu.』』
……Namun, Konoe──.
"────khu!?"
Itu terjadi seketika. Saat kesadaran Konoe terarah pada
bayangan itu, tentakel jiwa kembali mendekat.
Konoe mencoba memantul kembali tentakel itu──namun,
interferensi itu sedikit menembus barrier.
"……Ini!"
Konoe mengerti. Secara intuitif, ia mengerti karena
telah bersentuhan langsung.
──Inilah kemampuan si jamur. Original Magic
yang mengintervensi barrier lawan dengan tentakel dengan syarat lawan
teralihkan perhatiannya oleh bayangan.
Jika barrier berhasil ditembus…… saat itu terjadi,
pasti Melmina yang tadi akan──.
"──!"
Konoe meningkatkan kewaspadaannya. Memegang
kesadarannya dengan kuat.
Ia harus memastikan hatinya tidak lagi terganggu oleh
bayangan itu──.
『──NUUUUUUU!』
"──khu"
──Saat itu, dari samping, firasat sesuatu yang besar
mendekat.
Konoe melompat dan menghindar. Lalu ia melihat.
Itu adalah tentakel raksasa. Tentakel yang memiliki
tekstur jamur. Tumbuh dari monster jamur raksasa yang sudah mendekat ke sana.
Monster jamur yang dibuat dengan tambal sulam.
Penampilannya seperti kerajinan tanah liat buatan anak-anak, monster itu tumbuh
hingga setinggi langit. Estimasi, lima ribu hingga enam ribu meter.
『Konoe』
『Konoe』
『Konoe』
『Konoe』
『『──Seandainya saja kau tidak dilahirkan.』』
Lalu, bersamaan dengan itu, suara makian pun datang.
Dengan tentakel dan bayangan, si jamur mencoba
mengalihkan kesadaran Konoe.
Konoe pun──.
"……Huuuh."
Konoe menghela napas panjang. Mengalihkan pandangan
dari bayangan, dan memusatkan kesadaran pada tentakel dan tubuh asli musuh.
Benar. Abaikan saja. Jika dilihat, bayangan tetaplah
bayangan. Tidak ada wujud fisik maupun pengaruhnya. Selama tidak teralihkan,
tidak masalah.
──Hanya saja, sedikit familiar dan terdengar
mengganggu telinga.
『Konoe』
『Konoe』
『Konoe』
『Konoe』
『Seandainya saja kau tidak ada』
『Gara-gara kau』
『Uang yang terbuang』
"………………"
"……Ko, Konoe."
Konoe hanya menatap ke depan. Si jamur sedang
mengendalikan tentakel. Tentakel raksasa yang puluhan kali lebih tebal dari
manusia.
Berlendir dan mengeluarkan cairan di sana-sini. Bisa
dilihat bahwa ia hampir hancur. Keadaannya seolah akan hancur oleh berat
tubuhnya sendiri.
Namun, karena ukurannya yang raksasa, ia memiliki
kekuatan yang tidak boleh diremehkan.
Jika terkena langsung, mungkin akan sangat sakit. Apakah
ukuran ini untuk memuluskan serangan?
……Yah, dia hanya besar saja. Termasuk tubuh aslinya,
Konoe bisa membakarnya dengan mudah.
『Konoe』
『Konoe』
『Konoe』
『Konoe』
『Jangan lakukan apa pun』
『Jangan bertindak berlebihan』
『Kau bukan anakku』
『Jangan muncul di hadapanku』
"──Manifestasi."
Konoe menciptakan tombak. Energi sihirnya pun sudah
mulai menipis.
Ia melangkah maju untuk mendekat dan memusnahkannya
dengan kekuatan maksimal──.
『Konoe』
『Konoe』
『Konoe』
『Konoe』
──Namun, di saat yang sama, bayangan muncul lagi di
kaki Konoe. Tiga bayangan. Seolah-olah hendak bergantung, hendak menangkap,
hendak memukul.
Dengan wajah penuh kebencian, dengan wajah seolah
melihat sampah, ketiganya muncul.
"──!"
Konoe tanpa sadar melompat ke belakang──dan sekali
lagi barrier-nya sedikit tererosi.
Ia telah terjebak dalam jebakan musuh. Selain
itu, suara pecah terdengar dari kakinya.
Otot kakinya putus karena koreksi lintasan yang
dipaksakan. Biasanya hal seperti itu mustahil terjadi, tapi…… itu adalah efek
samping dari wujud petir. Efek samping setelah tubuhnya hancur satu kali.
Ia mengertakkan gigi karena kesalahannya sendiri──dan di
depan Konoe, bayangan muncul satu per satu dengan suara boko-boko.
Tak terhitung jumlah wajah yang sama muncul dan menatap
Konoe. Mencaci maki. Menyangkal.
『Konoe』
『Konoe』
『Konoe』
『Konoe』
『Lihatlah kemari』
『Jangan membawa sampah pulang ke rumah』
『Jangan merepotkan』
Konoe sembari menyembuhkan kakinya dan memperkuat barrier──menganggap
semua itu tidak penting.
Itu cerita lama. Puluhan tahun yang lalu. Ia bukan lagi anak kecil. Itu hal konyol.
Tidak ada wujud fisik, dan tidak ada kutukan yang
terkandung di dalamnya. Abaikan saja.
……Hanya sedikit mengganggu saja.
『Konoe』
『Konoe』
『Konoe』
『Konoe』
『Merepotkan』
『Mengganggu』
『Bagaimana kalau kau pergi dari rumah saja?』
『Kau tidak perlu kembali』
……Kata-kata seperti itu, aku sudah tahu.
Semuanya sudah terlambat. Aku tidak akan teralihkan.
Sudah berapa kali aku mendengarnya?
Semuanya sudah terlambat. Hanya mengganggu telinga.
『───NUUUUUU!』
『Konoe』
『Konoe』
『Konoe』
『Konoe』
Tentakel mendekat. Suaranya
mengganggu. Sembari menahan erosi, ia mengayunkan tombak.
Tentakel terputus dan menimbulkan suara dentuman.
Tentakel berikutnya mendekat. Ia menggerakkan kakinya
yang sedang dalam proses perbaikan.
Mengabaikan rasa sakit dan menghindarinya. Kakinya putus
lagi. Seluruh tubuhnya mulai robek.
Bayangan terus menempel ke mana pun ia pergi.
Mengulurkan tangan, merendahkan, menghalangi
pandangan.
Mengeluarkan suara yang menjijikkan dan mencoba
mengalihkan kesadarannya.
『Konoe』
『Konoe』
『Konoe』
『Konoe』
『Ah, andai saja kau menghilang』
『Anak yang tidak diinginkan』
"……"
Menyebalkan. Konoe berdecak. Ia ingin membakar
semuanya sampai habis.
──Senjata Divine-nya berdenyut.
Di kedalaman dadanya, sesuatu mulai merembes keluar. Itu
adalah tempat yang sama dengan saat
Melmina tumbang beberapa saat yang lalu.
Tempat yang tidak diketahui Konoe…… tempat
di mana ia mengalihkan pandangan, sebuah emosi.
Sesuatu yang hitam meluap dari kedalaman dirinya. Ia
memaksakan tubuhnya untuk bergerak, dan rasa sakit yang hebat menjalar ke
seluruh tubuh.
Ia merasa seolah dirinya yang masih kecil sedang melihat
dari belakang.
Sesuatu, membawa tumpukan sisa-sisa dan menatap Konoe
saat ini.
Tempat pensil yang hancur, dan benda-benda lain yang
warnanya bukan hanya itu.
Benda-benda yang telah hilang.
Penindasan, penindasan, penindasan──dan kehilangan,
kehilangan, kehilangan.
Ah, ah, benar. Konoe, sudah tidak ingin kehilangan
lagi──.
『Konoe』
『Konoe』
『Konoe』
『Konoe』
『Kenapa kau ada di sini?』
『Kenapa kau masih hidup?』
Degup, degup, senjata Divine itu berdenyut.
Detakannya perlahan semakin cepat.
Interferensi musuh mulai mencapai barrier-ku. Jiwa
musuh perlahan-lahan mendekat.
"──"
──Namun, sudah terlambat. Benar, jika aku tenang,
semuanya menjadi mudah.
Sebelum musuh menembus barrier-ku, aku hanya perlu
membunuh mereka.
Jika tubuh ini hancur, aku hanya perlu memusnahkan mereka
sebelum itu terjadi.
Tenang. Harus tetap tenang. Aku akan menghapus semua
bayangan itu bersama dengan jamur raksasa di belakang sana──.
"──Manifestasi────khu?"
──Namun, saat itulah.
"──────eh?"
──Tes. Sesuatu yang panas jatuh ke tengkukku.
Itu…… itu apa?
Konoe terkejut. Karena terkejut, impuls untuk membunuh
itu menghilang──tombak silang yang berdenyut di tangannya pun hancur.
Karena, aku bisa merasakan hawa keberadaannya. Panas ini.
"──Berisik."
Lalu, sebuah suara terdengar dari belakang. Sesuatu yang
berwarna merah tertangkap di sudut pandangku.
"……Berisik……!"
──Kilatan cahaya melesat. Cahaya merah yang tajam
menembus bayangan itu.
Cahaya merah muncul satu per satu, menembus bayangan itu
secara beruntun dan mencerai-beraikan kabut.
"……Benar-benar, lalat yang mengganggu……!"
Lens (lensa) mulai tergelar di
sekeliling. Satu menjadi sepuluh, sepuluh menjadi seratus, seratus
menjadi seribu.
──Di sekeliling Konoe, di angkasa, lensa-lensa itu mulai
memenuhi segalanya.
"──Tutup mulut kalian, sampah……!!!!"
Sinar cahaya yang tak terhitung jumlahnya turun dari
langit. Menembus kabut, dan bayangan-bayangan itu pun lenyap.
Tangan yang melingkar di leher Konoe mengerat──ia pun
sadar.
"……Melmina."
"Maaf, aku tadi salah bicara. Tidak mungkin hal seperti ini mirip denganmu."
Konoe──menatap tangan Melmina.
Tangan itu perlahan berubah menjadi putih.
Permukaannya mengalami kalsifikasi, retak dan pecah.
"……Melmina, mengubah nyawa menjadi energi
sihir."
──Ini adalah gejala kekurangan vitalitas.
Jalan terakhir bagi seorang penyihir yang kehabisan
energi sihir. Metode untuk mengubah tubuh sendiri menjadi energi sihir.
Menghancurkan setiap sel satu per satu, lalu mengubahnya
menjadi energi sihir. ──Langkah yang menggerogoti eksistensi diri sendiri dari
akarnya.
Jika seorang Adept, ia bisa menyembuhkannya dengan
memakan waktu…… namun metode ini disertai rasa sakit yang luar biasa. Itu sama
saja dengan mengikis lengan sendiri sedikit demi sedikit.
"……Kenapa melakukan hal seperti ini?"
Konoe tidak mengerti. Ia tidak mengerti apa pun.
Bahkan tanpa melakukan hal ini, dirinya akan segera──.
──Namun saat itu, tes. Lagi, tetesan panas jatuh
ke tengkuk Konoe.
Hal itu membuat Konoe kembali bingung. Karena ini adalah.
"…………Mer, Melmina? Kenapa, menangis……"
"Aku tidak menangis. Tidak mungkin aku menangis.
Padahal yang dihina bukan aku."
Meski berkata begitu, tetesan itu terus jatuh tes, tes.
Mengalir di tengkuknya.
Tetesan itu panas, sangat panas hingga tak tertahankan.
"……Melmina."
"Jangan salah paham. Lengan ini, rasa sakit ini,
bukan demi kamu. Aku hanya menghancurkannya karena lenganku sendiri mengganggu.
……Ya, tadi aku sempat ragu."
……Ragu?
"Tidak ada energi sihir, jadi tidak bisa
bertarung? Tidak perlu bertarung, jadi tidak bertarung? Lengan sakit, jadi
tidak bisa menghancurkannya? ──Konyol."
Tangan Melmina hancur berkeping-keping. Jika tangan
kanan sudah tidak bisa digunakan, selanjutnya kakinya yang mulai hancur.
Pada saat yang sama, cahaya merah yang menutupi
langit semakin mengganas setiap detiknya.
"『──Kalian adalah pelindung umat manusia.
Benteng terakhir bagi rakyat yang tak berdaya. Kekalahan
tidak diperbolehkan. Kalian harus menjadi yang terkuat dari segalanya.』 『Jika
lengan jatuh, bertarunglah dengan kaki. Jika kehilangan kaki, merangkaklah dan
menggigitlah. Bertarunglah meski mati. Jadilah perisai bagi rakyat yang tak
berdosa. Itulah──』"
Sinar cahaya yang turun dari langit mencerai-beraikan
kabut, memukul mundur tentakel-tentakel tersebut.
Satu per satu, tentakel jamur itu berkurang.
"──Itulah seorang Adept, kan?"
"……Kata-kata instruktur."
Ia teringat. Ia teringat masa paling awal. Kata-kata yang
ia dengar sampai muak saat latihan. Saat baru masuk sekolah, ia mendengarnya
setiap hari. Sembari berlari, sembari ditembus tombak. Itu adalah kata-kata
yang sudah mendarah daging.
……Benar. Itulah seorang Adept.
Tempat yang dituju Konoe dan Melmina bersama selama lima
belas tahun.
"Nah, kalau begitu mari kita akhiri? Aku juga akan
ikut bertarung, jadi akan segera selesai. ……Ngomong-ngomong, mungkin kamu lupa
karena tadi aku sempat mati dan memperlihatkan sisi yang menyedihkan."
"……Hm?"
──Cahaya merah menyinari dunia.
Cahaya itu bercampur dengan malam dan awan, mewarnai
langit. Seolah-olah seperti momen fajar.
Lensa yang memenuhi langit bersinar, melukis pola
geometris. Dalam sekejap, kabut, hutan, dan tentakel itu hangus
terbakar. Tembakan dari segala arah tanpa celah ini tidak mengizinkan lawan
untuk menghindar atau bertahan.
Si jamur meronta mati-matian, namun lensa yang
terbang di angkasa tidak bisa ditangkap. Kemampuan pemusnahan area luas yang
sepihak dan luar biasa.
"──Sebenarnya, aku itu sangat kuat, lho."
"…………Ah, aku tahu."
Benar, aku tahu. Konoe tahu.
Bagaimanapun, mereka sudah bertarung bersama sejak dulu.
Kelas bawah, menengah, atas, tertinggi, hingga kelas bencana. Setiap kali
menantang monster di tingkatan berikutnya, biasanya gadis inilah yang ada di
sampingnya.
Mereka bertarung bersama, dan meraih kemenangan. Karena
itu, Konoe sudah tahu sejak lama.
"……Begitu ya. Itu…… sangat bisa diandalkan."
"Bukan begitu?"
Sekarang, Melmina ada di samping Konoe.
Seperti saat sepuluh tahun yang lalu, ketika mereka
berlatih bersama. Ada seseorang yang bisa diandalkan.
……Bahkan saat Konoe gagal, Melmina kembali. Ada orang
(kakak/saudara) yang telah mewujudkan hal itu.
"………………"
……Konoe menatap ke depan. Lalu ia memasang telinga.
Bayangan sudah tidak terlihat lagi. Semuanya telah
disapu bersih oleh cahaya merah.
Suara-suara sudah tidak terdengar lagi. Suara tawa
yang berbisik di telinga telah ditiup lenyap.
Ganjalan di dadanya telah hilang, dan di punggungnya
ada kehangatan yang telah kembali.
Itu hangat, sangat hangat. Sedikit saja, ia merasa
mungkin semuanya akan baik-baik saja.
Ia merasa seolah sedikit beban telah lepas dari tubuhnya.
──Karena tetesan yang mengalir di tengkuknya terasa masih
memiliki kehangatan selamanya.
"……Manifestasi."
──Tombak silang diciptakan.
Tombak dewa. Cahaya keemasan. Di dalam bayangan yang
dihasilkan cahaya itu, Konoe merasa ada sosok seorang anak kecil.
Seorang anak yang selalu terdiam di tempat yang sama.
Seorang anak yang membawa banyak sisa-sisa
kehancuran. Seorang anak yang selamanya terjebak dalam bayangan.
Anak itu merasa punggungnya sedikit didorong oleh
kehangatan, lalu──.
"……Terima kasih. Kalau begitu, ayo pergi."
"──Ya."
──Karena ia telah melangkah maju, walau hanya satu
langkah.
──Cahaya putih dan emas bersemayam di kedua kaki Konoe.
Cahaya itu menyelimuti kaki Konoe, menciptakan wujud yang
baru.
Senjata dewa yang bersemayam di jiwanya meluas. Meluap
dari tombak. Berkat Cinta, otoritas itu mendapatkan kembali sedikit
kekuatannya.
──Pelindung kaki dewa menampakkan wujudnya.
Kilauannya seolah menjadi penunjuk jalan untuk melampaui
bayangan yang terus melekat.
"──"
Konoe melangkah. Lalu melompat. Tinggi, sangat
tinggi.
Jarak antara keduanya lenyap dalam beberapa embusan
napas, dan Konoe mencapai tepat di atas si jamur.
Konoe menyiapkan tombaknya. Petir bersemayam di sana.
Si jamur mendongak menatap Konoe dengan wajah tambal
sulamnya.
『──NU』
Ia bergumam pelan. Lalu──.
"──"
──Petir dewa menembus si jamur.
◆◇◆
『──NU』
──Dengan begitu, sang Iblis jatuh. Jatuh
sejauh-jauhnya, hingga ke dasar bumi.
Kesadaran yang kian menipis dan jiwa yang
tercerai-berai. Di ujung pandangan yang memudar, terdapat perlindungan putih
yang menyelimuti gadis itu.
Di tengah kepunahan itu, yang dipikirkan sang Iblis
adalah──.
『──』
──Hari itu. Kejadian luapan monster tiga puluh tiga
tahun yang lalu.
Gadis yang menggendong adiknya dan melarikan diri,
serta iblis yang menontonnya dari samping.
Di masa lalu yang telah berlalu, sang Iblis
berandai-andai.
Jika──seandainya saat itu sang Iblis menolong gadis
tersebut.
Apa yang akan terjadi, ia memikirkan hal yang sia-sia
seperti itu.
Asumsi yang konyol.
Khayalan yang mustahil.
Namun, jika itu terjadi, apakah ada sesuatu yang berubah?
Bukan menangkap, bukan berbuat salah. Jika
ia bisa berbalik saat itu, apakah sesuatu, akan──.
『──NUNUNU』
──Sembari terus jatuh, sang Iblis menatap langit.
Orang yang dicintainya tidak terlihat. Tertutup oleh
tangan dewa yang berwarna putih.
Bagi iblis yang terus melakukan kesalahan, ia tidak bisa
melihatnya.
Seharusnya, ia memang tidak akan pernah bisa melihatnya.
Namun, sang Iblis berpikir, seandainya ada kesempatan
kedua.
Jika memang ada.
Jika hal yang begitu nyaman itu memang ada──.
『──NU』
──Saat itu tiba, aku tidak akan pernah melakukan
kesalahan lagi.
Sang Iblis bersumpah bukan kepada Dewa Jahat, melainkan
kepada gadis itu di angkasa.
……Sang Iblis pun lenyap menuju dasar bumi.



Post a Comment