NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanojo no Imouto to Kiss wo Shita Volume 1 Chapter 7

Chapter 7

Busa x Sore Hari


Sudah beberapa hari berlalu sejak aku mendapat adik tiri yang wajahnya kembar persis dengan pacarku.

Berkat Communication Skill tingkat dewanya, Shigure langsung membaur sempurna dengan anak-anak kelas unggulan dalam sekejap.

Bahkan dari kejauhan pun kelihatan jelas betapa jagonya Shigure mengatur jarak dengan orang lain.

Setiap jam istirahat, dia selalu berada di tengah suatu kelompok dan tak pernah terisolasi.

Namun dia juga tak pernah memosisikan diri sebagai pusat perhatian, dia selalu bergerak di posisi paling netral agar tak memancing simpati berlebihan maupun rasa iri yang biasanya menimpa anak baru.

Persis seperti kata Tomoe.

Menganalisis kemampuannya dengan akurat dan mengontrol suasana sekitarnya; itulah trik Shigure bertahan hidup.

Benar-benar luar biasa.

Sementara itu, hubunganku sebagai kakaknya juga berjalan cukup baik.

Ini semua berkat tekadku untuk menerima Shigure yang telah mengukuhkan pendirianku tentang bagaimana cara menghadapi adik tiri berwajah mirip pacarku ini.

Sekarang, rasa canggung dalam interaksi sehari-hari kami sudah sepenuhnya lenyap.

Padahal sebelum jadian dengan Haruka, aku tak pernah sekalipun ngobrol normal dengan cewek.

Manusia memang makhluk yang bisa beradaptasi jika dihadapkan pada desakan kebutuhan, ya.

Walau begitu... aku tetap belum terbiasa jika digoda dengan interaksi yang memancing kesadaran kalau dia itu lawan jenis.

Apalagi mengingat wajahnya yang bak pinang dibelah dua dengan pacarku, itu yang paling bikin runyam!

Meski sadar itu tak boleh dilakukan, terkadang aku malah tanpa sadar membayangkan sosok Haruka saat menatap Shigure.

Makanya aku selalu melarang Shigure setiap kali dia menggodaku, tapi dia malah berdalih "Katanya Kakak bakal memanjakanku sesukaku, kan?" tanpa mau mendengar. Dia benar-benar seenaknya sendiri menggunakan 'kartu sakti' yang tak sengaja kuberikan waktu itu!

Setiap kali itu terjadi, aku cuma bisa merutuki kecerobohanku sendiri.

Meski merutuk dalam hati, melihat wajah Shigure yang tampak sangat bersenang-senang membuatku malah berpikir 'yah sudahlah'; aku ini benar-benar kakak yang kelewat baik, deh, sumpah.

Lalu, tibalah akhir pekan pertama sejak kedatangan Shigure.

Siang harinya kami berdua pergi ke toko elektronik untuk membeli microwave oven (di rumah cuma ada microwave biasa) yang sangat diidam-idamkan oleh Shigure.

Setelah mengatur jadwal pengiriman, kami mampir ke supermarket untuk memborong banyak bahan makanan lalu pulang menjelang sore.

"Beraaaaattt~ Kakak ini iblis, ya, masa ngebiarin adik perempuan yang lemah lembut ini bawa belanjaan seberat ini; bantuin napa!"

"Air, ikan, daging, sampai beras semuanya aku yang bawa, tahu! Sayuran doang masa nggak kuat, sih?!"

"Minimal bawain labunya dong!"

"Gimana ceritanya labu yang paling berat itu jadi 'minimal'?! Lagian tanganku yang satu lagi penuh gara-gara kamu maksa beli soda empat botol cuma karena lagi diskon, kan!"

"Hiin, hiin~"

Mengabaikan rengekan palsunya yang sama sekali nggak cocok itu, aku mulai menaiki tangga besi apartemen.

Papan besi yang berkarat akibat hujan dan bolong di sana-sini ini berderit lebih keras dari biasanya.

Semoga nggak ambrol...

Dengan langkah hati-hati, kami berdua akhirnya sampai di depan pintu rumah.

"Aku pulang."

"Aku pulaaaang~ Ah, capeknya~"

Ngomong-ngomong, entah sejak kapan aku mulai membiasakan diri mengucapkan salam 'aku pulang' setiap kali masuk ke rumah.

Bahkan saat tidak ada siapa-siapa di rumah seperti sekarang ini.

Padahal waktu tinggal sendirian, aku sama sekali tak pernah melakukannya.

Sambil meresapi rasa haru dari hal sepele tersebut, aku mengabaikan Shigure yang tepar di depan pintu masuk dan berjalan ke dapur untuk meletakkan setumpuk belanjaan yang kubawa.

"Kalau gitu, mending aku masukin yang mentah-mentah dulu ke kulkas, deh."

"Eits, tunggu, tunggu! Kakak mau ngapain, hah?!"

Tiba-tiba, Shigure yang tadi tepar di depan pintu langsung melompat bangun dan berlari menghampiriku dengan panik.

"Mau ngapain apanya, kan aku udah bilang mau masukin belanjaan ini ke kulkas──"

"Kalau baru pulang ke rumah, cuci tangan dulu! Anak balita lima tahun aja tahu aturan wajib itu!"

"Ah, cuma soal itu doang. Kamu bawel banget, sih, Shigure~"

"...Hah?"

Eh, suara berat macam apa itu?! Seram banget!

Sejak kapan kamu bisa ngeluarin suara kayak gitu?!

"Coba aku tanya, apa hari ini Kakak pernah benerin posisi 'anumu' pas kita lagi di luar?"

"An—?! K-Kamu ini mulai lagi, deh."

"Kakak. Aku ini lagi serius, lho. Terus jawabannya apa?"

"N-Nggak, aku nggak benerin, kok."

Nada serius dipadukan dengan wajah serius.

Tergertak oleh auranya, aku keceplosan menjawab pertanyaan itu.

"Yang bener?! Kakak nggak ngelakuinnya tanpa sadar, kan? Padahal baru akhir Mei, tapi cuaca hari ini panas banget lho, mana Kakak pakai celana jeans, lagi; pasti lumayan gerah, kan?"

"Saking gerahnya sampai terasa nggak nyaman, terus Kakak refleks ngebenerin posisinya pas aku lagi lengah──berani sumpah kalau itu sama sekali nggak terjadi?!"

"Ugh, kalau itu..."

Aku nggak tahu.

Seingatku sih nggak, tapi bisa saja aku tanpa sadar membetulkannya tanpa kuingat.

Bagi cowok, hal semacam itu sudah seperti bernapas, tahu.

"Kalau Kakak benerin posisi 'itu' walau cuma sekali, terus menyentuh dapur dan gagang pintu kulkas dengan tangan kotor begitu, ini sudah masuk kategori bioterorisme tingkat dewa! Sebagai Penjaga Dapur, aku akan menjatuhkan hukuman yang setimpal atas aksi terorismemu itu!"

"Setelah memastikan hal itu, coba aku tanya sekali lagi! Atas nama langit dan bumi, atas nama kakekmu, atas nama bola matamu; apa Kakak benar-benar berani sumpah nggak benerin posisi 'itu'?!"

"Iya, iya, aku ngerti! Aku tinggal cuci tangan dulu, kan?!"

Apa-apaan bawa-bawa bola mata segala, mau diapain emangnya?!

Aku segera berdiri di depan wastafel dan membasuh tanganku demi kabur dari tekanan Shigure.

"Makanya turuti aturannya dari awal, dong; pastikan Kakak cuci bersih sampai ke sela-sela kuku juga, lho!"

"Kamu ini emak-emak, ya?"

"Apa Kakak merasakan 'Babumi' dariku?"

"Lebih tepatnya 'Babami', sih."

"Ei!"

Tengah asyik membusakan sabun tangan, pantatku tiba-tiba disundul dari belakang.

"Geser dong, sempit tahu."

"Iya, iya."

Di rumah yang bahkan tak punya ruang ganti ini, wastafel cuci muka terpisah adalah barang mewah yang tak pernah ada.

Satu-satunya tempat untuk cuci tangan maupun sikat gigi cuma di bak cuci piring ini.

Aku bergeser ke samping, memberikan ruang kosong agar Shigure bisa muat.

Lalu, saat aku hendak mengambil sabun setelah membasuh tangannya dengan air, Shigure memiringkan kepalanya bingung dan bergumam "Lho?"

Dia menekan botol itu beberapa kali.

Namun yang keluar hanyalah sisa sabun yang tak seberapa.

"Habis, ya?"

"Iya, kayaknya udah habis. Kakak ada stok isi ulangnya, nggak?"

"Ah... nggak ada, seingatku udah kupakai semua kemaren."

"Ghhh, bisa-bisanya orang sepertiku melakukan kesalahan sebodoh ini!"

"Sebutannya Penjaga Dapur, tapi kok malah lupa ngecek hal penting gini?"

"Muu~ Yah mau gimana lagi, kalau udah habis ya nggak bisa dipaksa. Kakak, aku pinjam sabunnya sebentar, ya."

"Hm? Pinjam maksu—HWOA?!"

Saking kagetnya sampai ada suara aneh yang keluar dari tenggorokanku!

W-Wajar saja, dong?!

Meskipun status kami adik-kakak, cowok mana pun pasti bakal kaget kalau tiba-tiba tangannya digenggam cewek!

"K-Kamu mau ngapain?!"

"Mau ngapain apanya, sabun tangannya kan udah dipakai Kakak semua sampai habis, jadi kita terpaksa cuci bareng-bareng begini dong~"

"K-Kotor tahu...!"

"Mana ada kotor, kan ini namanya lagi disterilkan; eh, jangan-jangan Kakak malu ya gara-gara kusentuh begini?"

"Nggak boleh gitu dong~ padahal Kakak udah punya pacar sehebat Kak Haruka, lho."

Senyum tipis mengembang di bibir Shigure.

Senyum iblis yang seolah menyiratkan betapa dia sangat menikmati menjahiliku.

Dia benar-benar puas melihatku salah tingkah begini!

Jangan meremehkanku...

"Kan aku udah bilang waktu itu, aku sama sekali nggak tertarik padamu, jadi pakai aja tanganku sesukamu."

"Oh, begitu ya? Kalau gitu aku takkan sungkan-sungkan lagi lho"

"Kh..."

Tangan putihnya yang licin penuh sabun kini membelai lembut tanganku.

Rangsangannya membuat tulang punggungku merinding geli, tapi aku tak apa-apa.

Sensasi ini sama sekali nggak ada apa-apanya dibanding debaran jantungku saat aku menggenggam tangan Haruka waktu itu!

"Hee? Kelihatannya Kakak biasa-biasa aja, ya?"

"Jangan pernah meremehkanku! Sentuhan sepele kayak gini takkan bisa menggoyahkan iman cowok yang udah punya pacar! Lagian main-main genggaman tangan kayak gini sih udah kulewati sejak minggu lalu!"

"Baru juga minggu lalu lewatnya. ...Tapi sayang banget, ya, padahal aku ngarep bisa lihat sisi Kakak yang lebih menyedihkan lagi, lho."

Fufufu, aku menang!

Kena kerjain terus-terusan itu bikin emosi, tahu!

Sekali-kali aku harus bisa menang melawannya!

"Tapi, kalau dilihat sedekat ini tangan Kakak benar-benar tangannya cowok, ya."

"Maksudnya?"

"Tangannya, lho, coba dijejerin, perbedaannya langsung kelihatan jelas; dari segi ketebalan dan ukurannya jauh banget bedanya dari tanganku, lihat nih."

"Yah, itu sih udah pasti—"

"Ei!"

"Hyaa?!"

Ini benar-benar taktik kilat yang memanfaatkan kelengahanku!

Dari posisi membandingkan ukuran telapak tangan, Shigure langsung menggenggam tanganku dan menyusupkan jari-jarinya ke sela-sela jariku!

Sensasi lima jarinya yang licin berlapis sabun menyelinap mulus dan menggelitik sela-sela jariku yang sensitif.

Rangsangan geli nan menggelitik itu memaksaku mengeluarkan suara aneh.

"AHA! Suara macam apa itu, Kakak memalukan banget deh~ Kakak tuh imut banget tahu nggak; saking imutnya... jadi agak erotis."

"~~~~~kh!"

Melihat reaksiku yang menyedihkan, Shigure makin kegirangan.

Jari-jari putihnya kini mulai membelit tanganku layaknya ular liar!

Setiap kali jarinya bergerak; nupu, nyupu, guchu.

Suara lengket itu bergema memecah keheningan di bawah siraman cahaya senja yang memerah.

"Wajah Kakak mulai kelihatan panik, tuh. Fufu, kalau udah ngerasain sensasi nikmat ini, sensasinya pasti bakal terngiang-ngiang setiap kali Kakak pegangan tangan bareng Kak Haruka, kan?"

"Kakak ini pacar yang nakal, ya. Masa mikirin adik kembarnya pas lagi pegangan tangan sama pacar tersayangnya, sih?"

"..."

GAWAT...!

Padahal kami cuma lagi cuci tangan, tapi aku merasa seolah lagi ngelakuin hal super mesum!

Kalau aku sampai mengingat sensasi gila ini, aku benar-benar bisa teringat Shigure setiap kali menggenggam tangan Haruka nanti! Ini BAHAYA!

Tapi kalau aku buka mulut buat nyuruh dia berhenti, pasti bakal ada suara aneh lagi yang lolos dari mulutku.

Kalau sampai begitu, dia pasti bakal makin ngetawain aku.

SIALAN! Kok bisa-bisanya Shigure biasa-biasa aja?!

Padahal dia juga bersentuhan kulit langsung, harusnya dia menerima sensasi yang sama, kan!

...Tidak, mana mungkin dia kebal begitu saja.

Tingkat kepekaan kulit manusia nggak mungkin beda sejauh itu!

Kalau geli, ya pasti geli! Siapapun itu pasti rasanya begitu!

Masalahnya ada pada diriku yang cuma pasif nerima doang!

Serangan balik! Aku bakal melancarkan serangan balik padanya!

Aku bakal bikin wajah sok tenangnya itu berubah jadi wajah ketakutan yang menyedihkan!

Dengan penuh semangat, aku meremas balik tangan Shigure kuat-kuat!

"Ah,"

SEKARANG! Mari kita lihat sedekat apa wajah menyedihkannya itu...!

Aku segera mengarahkan pandanganku pada ekspresi Shigure──

Dan seketika, jantungku serasa meloncat keluar!

"~~~~~KH! S-SUDAH CUKUP!!"

"E-Eh, tunggu dulu Kak?! Sela-sela kukunya belum dicuci lho!"

"Biar kucuci sendiri! Sabunnya udah cukup nempel di tanganku, kan?!"




"Aaaah~, busanya netes-netes ke mana-mana tahu!"

"Nanti aku lap!"

Aku berlari terbirit-birit menuju kamar mandi di sebelah dapur. Eh, ralat; aku BUKANNYA lari terbirit-birit, tapi aku memang melarikan diri!

Habisnya, wajah Shigure saat kugenggam tangannya tadi... Wajahnya kelewat mirip dengan wajah bahagia Haruka saat sedang bersamaku!

...Suara detak jantungku berisik banget. Tubuhku terasa panas seolah terbakar api.

Begitu melihat Shigure yang tadi, batas eksistensi Haruka dan Shigure yang mulai terpisah jelas di dalam kepalaku mendadak nyaris bercampur aduk. Dan entah kenapa, aku punya firasat kalau sekali saja mereka bercampur, semuanya takkan pernah bisa kembali seperti semula.

Momen-momen yang kuhabiskan bersamanya, serta tatapan mata Haruka yang sedikit sayu dan panas saat menatapku. Ekspresi Shigure barusan itu benar-benar kembar persis dengan tatapan tersebut!

...Jangan-jangan? Sebuah delusi kegeeran yang luar biasa konyol mendadak melintas di benakku.

Namun di saat yang sama, tatkala aku mengulurkan tangan ke keran kamar mandi untuk membilas busa, ekor mataku menangkap sosok sabun batangan yang bertengger manis di sana. ........Tunggu dulu, ini kan.

"Hei. Aku baru kepikiran nih, harusnya kita bisa pakai sabun mandi ini aja, kan?"

"Ah, iya juga, ya; aku sampai nggak nyadar lho. Maaf, ya~"

"............"

Shigure meminta maaf sambil memeletkan lidahnya genit. Wajahnya kembali berubah menjadi sosok Shigure super jahil yang seperti biasanya.

Anak ini PASTI udah nyadar dari awal! ...Ya ampun, bahaya banget, bahaya!

Hampir saja aku memercayai delusi murahan yang memamerkan kepolosan status perjaka ngenesku ini. Benar-benar kegeeran yang nggak tahu diri.

Lagipula, mana mungkin iblis kecil ini bisa memasang ekspresi seperti Haruka. Wajah Haruka yang seperti itu pasti cuma ditunjukkan karena dia adalah orang yang mencintaiku, kan.

Ekspresi yang kulihat barusan itu pasti cuma halusinasi efek silau senja kemerahan. Ya, sudah pasti begitu!



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close