NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha Rakusen Yarou wa Daiakuou e Nakama ni Suterare Tsuihou Sareta Ore wa - Uragitta Yatsura no Onna o Katappashi kara Netori Tsukusu Volume 1 Chapter 4

Bab 4: Hidup Sesuai Keinginan


Pagi hari di desa tiba lebih awal. Kemarin banyak hal yang terjadi di desa, membuat semua orang merasa sangat lelah dari dasar hati.

 

Namun, Najimi—orang yang paling lelah dan paling menderita di antara para warga desa—terbangun dengan mata bugar walau menyangka dirinya tertidur pulas.

 

Hal yang menyedihkan, hal yang menyiksa, serta ditiduri hingga tubuhnya mengalami kepenatan yang sangat hebat. Banyak hal yang terjadi. Namun meski begitu, fakta bahwa dendam orang tuanya telah terbalaskan membuat hatinya terasa sedikit lebih ringan.

 

"...Begitu ya... Ayah dan Ibu sudah tidak ada lagi..."

 

Ia menegakkan tubuhnya dari tempat tidur. Lalu mengenang kembali kejadian seperti mimpi buruk kemarin. Ayah dan ibu yang hingga kemarin ada di sisinya sebagai hal yang lumrah, mengobrol secara biasa, dan selalu ada saat ia bangun di pagi hari, kini sudah tidak ada lagi. Sebuah rasa kesepian yang menyadarkannya akan kenyataan itu.

 

"Guwahahahahaha, nih lihat, Strayer! Kerahkan lagi tenaga ke pinggang dan kakimu lalu bergerak sendiri, dong! Biarkan aku menjilatnya!"

 

Suara, jeritan gairah, dan suara mesum yang sanggup menghempaskan rasa sepi dan sedih akibat kesendirian bergema di dalam rumah sejak pagi hari.

"Kh... A-Apa yang mereka lakukan sejak pagi... Tidak, mungkinkah sejak tadi malam? Bagaimanapun juga... kh!"

 

Dengan raut wajah marah Najimi bangkit, lalu menuju ke kamar sebelah yang dipinjamkan kepada Damon dan Strayer, kemudian membuka pintunya dengan bertenaga...

 

"Pagi-pagi begini apa yang kalian lakuk... kh, jangan beneran bersetubuh, dong!"

 

"Emm? Ooh, tunggu, Najimi. Tunggu ya, aku lagi eksperimen berbagai hal sama Strayer nih!"

 

"Master, saya akan menguasai pelayanan dan posisi tubuh seperti apa pun untuk Anda perlihatkan."

 

Melihat mereka berdua yang beneran bertelanjang dada dan bersetubuh secara intens sejak pagi, rasa marah Najimi kalah oleh rasa pasrah, hingga ia menghela napas panjang.

 

"Strayer, cium."

 

"Baik, diterima. Nchuh."

 

Bahkan saat Najimi muncul, Damon sama sekali tidak berniat menahan diri. Dan Najimi tidak hanya bingung pada Damon, ia juga tidak begitu memahami Strayer.

 

"Uwah, dari dirinya sendiri sampai seaktif itu... kh, pokoknya kalau sudah selesai langsung makan pagi, ya! Cepat selesaikan!"

 

Dengan wajah memerah padam, Najimi menutup pintu lalu menuju ke dapur untuk bersiap membuat makan pagi. Namun bayangan tentang Damon, serta Strayer yang mempersembahkan tubuhnya kepada Damon, tidak mau hilang dari kepalanya.

 

"Sangat tidak berguna... Gadis itu juga, padahal sangat cantik dan aku tidak tahu apa yang dipikirkannya... e-eh, tapi saat melakukan hal mesum sampai seperti itu... Beneran deh, ada apa dengan mereka?"

 

Najimi yang tidak tahu bahwa Strayer adalah seorang Mantan Saint, hanya menganggap Strayer sebagai pengawal biasa sekaligus barang milik Damon.

 

"Beneran aneh. Gadis itu juga apa sama seperti aku, punya hubungan tubuh yang tidak diinginkan dengan Damon... pikirku begitu, tapi rasanya tidak seperti itu juga."

 

Strayer yang satu itu, bahkan dari sudut pandang sesama wanita pun memiliki kecantikan yang membuat mata tak percaya. Rasa suci yang terpancar darinya membuat siapa pun percaya jika dibilang dewi atau putri raja. Kenapa Strayer bisa jatuh ke posisi sebagai pengawal dan barang milik Damon, Najimi sama sekali tidak paham.

 

Ia bahkan sempat berkhayal mungkinkah dia adalah putri raja dari negara hancur yang jatuh miskin. Namun, jika jalan ceritanya memang seperti itu seharusnya sebuah tragedi, dan ia ingin mencaci Damon sebagai bajingan karena bertindak sesuka hati pada pengawal seperti itu. Namun kenyataannya tidak seperti itu.

 

"Master, Master, Master."

 

Strayer terlalu berbakti... bahkan melampaui hal itu, ia terlihat seolah-olah menginginkan Damon dari dirinya sendiri. Sambil berpikir ada hubungan apa sebenarnya di antara mereka berdua, Najimi merapatkan kedua pahanya.

 

"Luar biasa, rumah ini sampai berguncang... Pagi-pagi bersetubuh sampai seperti ini sama Damon... E-Eh, apa yang sedang kupikirkan!"

 

Tubuhnya sendiri ikut terasa panas dan merasa seolah hendak ditarik

oleh mereka berdua, membuat Najimi tergesa-gesa mengendalikan dirinya lalu menuju ke dapur.

 

"Hei, lakukan secukupnya saja! Kau sadar tidak? Katanya hari ini mau membawaku ke kota, kan? Kau bilang kalau bersungguh-sungguh bisa sampai dalam setengah hari sambil lari, tapi kalau sudah menguras tenaga sebanyak itu..."

 

Sambil cemberut marah, Najimi bersiap membuat makan pagi. Ya, itulah imbalan yang didapat dari menampung Damon dan Strayer di rumahnya serta memberi mereka makanan. Pergi berbelanja ke kota yang membutuhkan waktu dua hari naik kuda.

 

Damon bilang ia bisa sampai dalam setengah hari dengan berlari, jadi hari ini Damon akan menggendong Strayer pergi ke kota terlebih dahulu, lalu menandai sihir perpindahan ruang sebelum kembali ke mari. Dengan begitu mereka bisa pergi ke kota dengan mudah bersama kereta dorong berisi bangkai Red Lizard, dan pulangnya pun cepat.

 

Namun hal itu baru bisa terjadi setelah Damon menggendong Strayer ke kota. Sekarang menguras tenaga sebanyak ini di sini, Najimi agak kurang percaya apakah dengan kaki manusia biasa beneran bisa sampai ke kota dalam setengah hari. Namun, hal itu adalah kecemasan yang tidak perlu.

 

"Aah, kalau hal itu sih sebelum fajar tadi aku sudah pergi ke sana, tahu."

 

"Eh?"

 

Menghadapi Najimi yang marah, balasan di luar dugaan kembali datang dari Damon.

 

"E-Eh, m-maksudnya bagaimana..."

 

Najimi tergesa-gesa kembali dari dapur. Lalu Damon sambil menikmati tubuh Strayer, mengatakannya seperti hal yang lumrah.

 

"Anggap saja kebiasaan lama, bangun pagi lalu lari itu sudah jadi rutinitas sehari-hari. Waktu kucoba berlari sambil menggendong Strayer, ternyata sampai dalam dua jam."

 

"...Eh?"

"Gerbangnya tentu saja belum dibuka jadi aku tidak masuk ke dalam, tapi Strayer sudah memberi penanda di dekat sana, jadi kapan saja kita bisa pergi ke kota itu memakai sihir perpindahan ruang, tahu?"

 

Bagi Najimi, itu adalah cerita yang sangat tidak realistis. Naik kuda saja butuh dua hari. Mana mungkin bisa sampai dalam dua jam dengan kaki manusia biasa. Namun saat itulah, kekuatan Damon kemarin terlintas di kepalanya. Kekuatan yang melibas habis Red Lizard dalam sekejap.

 

"B-Beneran?"

 

"Aah, benar. Makanya tidak perlu dicemaskan. Daripada itu,

bagaimana? Kau mau ikut gabung juga? Guwahahahahaha."

 

"B-Bodoh! Siapa juga yang mau!"

 

Mungkin saja itu benar. Najimi dibuat merinding oleh Damon yang tidak bisa diukur dengan tolok ukur akal sehat mereka.

 

"Emm? Aromanya enak... Makanan, ya!"

 

"Ah, Master."

 

"Sebentar, kalau mau keluar setidaknya pakai baju, dong! Lagipula jangan keluar di tengah-tengah begitu!"

 

"Guwahahaha, tidak apa-apa, kan! Makan sambil bersetubuh! Masakanmu enak, tahu. Di Ibu Kota pun kau bisa buka kedai!"

 

"...Nhh, Master... nhh."

 

"B-Begitu... Benarkah? Ehe... Eh, makanya jangan makan sambil bersetubuh dengan penampilan tidak sopan begitu, dong!"

 

Pengalaman Damon

● Mantan Saint Strayer: 37 Ronde

● Gadis Cantik Dada Besar Desa Najimi: 7 Ronde

 

Berjarak sekitar setengah bulan perjalanan menuju Ibu Kota di persimpangan jalan utama, ada sebuah kota berukuran sedang bernama Kota Tehajime. Berpenduduk sekitar tiga ribu orang, area sekitar kota dibentengi dinding kayu log, dilengkapi empat gerbang di utara, selatan, timur, dan barat serta menara pengintai, dan ditempatkan prajurit penjaga. Berada jauh dari Ibu Kota, kota ini mengelola wilayah desa-desa di sekitarnya, dan Desa Dokaina adalah salah satunya.

 

"Beneran sampai dalam sekejap."

 

"Waaah... luar biasa..."

 

"Bisa memakai sihir seluar biasa ini, ya."

 

Di depan kota, Yaoji, Shesta, Najimi, dan beberapa warga desa memasang raut wajah tertegun. Datang ke kota ini yang berjarak beberapa hari naik kuda bukanlah hal yang mudah.

 

Itu adalah tempat yang membutuhkan persiapan seperti hendak pergi melakukan perjalanan singkat. Namun hanya dengan melangkahkan kaki ke dalam distorsi hitam ruang yang diciptakan oleh sihir yang dibentangkan Strayer di desa, mereka langsung sampai di Tehajime dalam sekejap.

 

Pada dasarnya, sihir agung Saint yang bahkan jarang dilihat oleh Class Holder tingkat tinggi, kini disaksikan secara langsung oleh warga desa terpencil. Sangat maklum jika mereka tertegun untuk sementara waktu.

 

"Hei, Paman. Jangan kaku terus begitu, ayo cepat jalan? Cepat jual barang ini ke toko peralatan. Bau, tahu."

 

"O-Ooh."

 

Damon dan Strayer menanti Yaoji dan yang lainnya yang sedang tertegun. Di samping mereka ada kereta dorong terbesar di desa.

 

Ditutupi kain besar, tetapi memancarkan aroma bau. Muatannya tentu saja Red Lizard. Begitu mereka mendekati gerbang sambil menarik kereta dorong besar itu, para prajurit penjaga gerbang mengerutkan alis.

 

"Hei, yang di sana. Kalau tidak salah kau Yaoji dari Dokaina, kan, lalu rombongan warga desa? Ada apa membawa muatan seperti itu?

Lagipula sayuran untuk bulan ini bukannya sudah disetor?"

 

"Ooh, Pak Prajurit, terima kasih atas kerja kerasnya. Hari ini kami

membawa barang yang agak berbeda... Ini, lho!"

 

"Uguh! A... Eh? S-Sebentar, kau, apa-apaan ini! Naga... tidak, mana mungkin... Red Lizard!"

Begitu memperlihatkan isi muatan kepada prajurit penjaga gerbang, para prajurit terkejut hingga nyaris lemas. Ya, seberapa pun mereka seorang prajurit, bagaimanapun juga mereka hanyalah prajurit kota terpencil.

 

Hampir tidak punya pengalaman tempur sungguhan, dan hampir tidak pernah bertarung melawan monster. Dan kini di muatan itu ada bangkai monster ganas dalam jumlah banyak yang bahkan diketahui oleh mereka sendiri. Wajah para prajurit memucat.

 

"I-Ini, kenapa bisa begini?"

 

"Aah. Monster-monster ini muncul di desa. Lalu dibasmi sama anak muda yang kuat ini. Makanya hari ini kami datang buat menjualnya."

 

"A-Dibasmi, katamu? Red Lizard sebanyak ini... Jangan-jangan, ada petualang atau prajurit bayaran yang merupakan Class Holder yang berkunjung? Akhir-akhir ini di daerah ini juga mulai bermunculan buronan Pasukan Raja Iblis dan perampok, makanya Pasukan Prajurit Bayaran mulai berkerumun di kota buat mencari pekerjaan."

 

"Begitu ya. Aku tidak tahu. Kalau begitu Red Lizard ini mungkin saja kepunyaan orang-orang Pasukan Raja Iblis itu, ya."

 

"Mungkin saja. Tapi bagaimanapun juga jumlahnya banyak sekali. Cepat pergi jual. Lalu traktir kami minum, ya."

 

"Hehehe, kalau begitu tolong katakan pada Tuan Tanah supaya pajak kami diturunkan, dong."

"Mana mungkin hal seperti itu bisa dilakukan oleh kroco seperti kami."

 

Saling mengenal dan hubungannya tidak begitu buruk, Yaoji dan para prajurit penjaga gerbang mengobrol santai sambil tertawa. Namun kosakata yang muncul di dalam obrolan itu membuat Najimi dan Shesta agak merasa takut.

 

"Buronan Pasukan Raja Iblis... perampok juga... Keadaannya jadi seperti itu ya, Mbak Najimi..."

 

"Ung... benar ya."

 

Kehilangan rasa aman, mereka berdua saling berpegangan tangan. Hal itu menandakan bahwa tidak ada jaminan desa mereka yang damai akan tetap damai ke depannya. Sebab kejadian seperti kemarin bisa saja terjadi lagi. Kemarin secara kebetulan ada Damon, dan Najimi membayar imbalannya makanya mereka selamat. Namun Damon tidak akan ada di sana selamanya. Tentu saja begitu urusan kali ini selesai, mereka akan berpisah begitu saja.

 

"Kalau kukatakan dia boleh meniduriku terus... apa dia mau tinggal di desa, ya?"

 

"Mbak Najimi, bicara apa, sih!"

 

"Eh? A... bu-bukan, maaf... aku bicara apa, sih... Bukan, yang tadi itu..."

 

"Benar kan... Benar begitu! Hei, Mbak Najimi, mumpung kita sudah sampai di kota! Ayo kirim surat untuk Kakak! Lalu kita minta tolong supaya dibantu!"

 

"Untuk Sekund... Ung, benar ya."

 

Najimi tergesa-gesa membantah pikiran sangat konyol yang terlintas di kepalanya, lalu teringat urusannya di kota bersama Shesta, dan pipinya merona membayangkan pria yang benar-benar dicintainya yang berada di tempat jauh. Di sisi lain, Damon merasa luang dan bosan.

 

"Nah, kalau dipikir-pikir baik-baik, kita mau bagaimana setelah ini ya, Strayer."

 

"Saya akan mengikuti Master seumur hidup. Kembali ke Ibu Kota, pergi ke negara lain, berkelana, atau menetap di satu tempat, saya serahkan seluruhnya pada Master."

 

"Emm~ kalau kembali ke Ibu Kota sih mutlak tidak akan. Lalu negara lain, ya... Walau dibilang begitu aku sudah tidak punya niat jadi Pahlawan lagi, dan kalau berkelana juga... Lagipula, uangku tidak sebanyak itu. Kau punya?"

 

"Jika menjual perlengkapan suci dan perhiasan, jumlahnya lumayan..."

Begitu urusan ini selesai, tidak ada alasan bagi mereka untuk tetap berada di desa sehingga akan pergi ke suatu tempat... tetapi mau pergi ke mana. Dan apa yang akan dilakukan setelah ini, Damon belum memutuskan apa pun. Dari awal ia tidak pernah memikirkan jalan hidup selain menjadi Pahlawan lalu terjun ke perang dan menjadi pahlawan besar, sehingga ia tidak bisa memikirkan apa yang harus dilakukan selain hal itu.

 

"Saya rasa ada baiknya mengutamakan hal yang ingin Master lakukan."

 

"Hal yang ingin kulakukan?"

 

Jika tidak bisa memikirkan apa yang harus dilakukan, Strayer memberi saran agar memikirkan hal yang ingin dilakukan. Saat diberi tahu begitu, satu hal yang langsung terlintas di kepala Damon.

 

"Karena aku sudah tahu kalau hal mesum itu rasanya nikmat banget, untuk sementara aku ingin melakukan hal mesum sebanyak-banyaknya sama banyak wanita cantik."

 

"Saya rasa itu hal yang bagus."

 

Damon yang benar-benar memamerkan hawa nafsunya secara terang-terangan.

 

Uang yang diperoleh dari hasil menjual Red Lizard, jumlahnya sangat banyak hingga pemilik toko peralatan di kota harus mengeluarkan koin emas dalam jumlah besar dari brankasnya. Jumlah itu bahkan lebih dari penghasilan satu tahun yang biasa didapatkan para warga desa dari menjual hasil panen sayuran mereka.

 

Yaoji dan yang lainnya sangat bergembira karena uang sebanyak ini bisa membuat kehidupan di desa kecil mereka jauh lebih mudah, dan dengan uang tersebut mereka memutuskan untuk membeli banyak makanan awetan, barang kebutuhan sehari-hari, serta kuda untuk transportasi sebelum pulang.

 

Najimi dan Shesta pergi membeli pakaian untuk diri mereka sendiri dan para wanita di desa, mainan serta makanan manis untuk anak-anak kecil, dan yang terakhir mengirim surat, membuat semua orang berpisah untuk sementara waktu demi urusan masing-masing.

 

Tugas Damon dan Strayer adalah menunggu sampai urusan semua orang selesai, lalu mengantar mereka kembali ke desa menggunakan sihir perpindahan ruang. Karena tidak ada hal lain yang bisa dilakukan sampai saat itu tiba, Damon dan Strayer berjalan berdampingan menyusuri kota. Meski kota ini sangat kecil jika dibandingkan dengan Ibu Kota, Damon merasa tenang karena saat berjalan di sepanjang jalan, tidak ada seorang pun yang mengenalnya atau memanggilnya.

 

"Ooh, besar banget... Rumah tuan tanah, ya?"

 

Di tengah perjalanan, sebuah kediaman megah yang terletak di bagian dalam kota menyita perhatiannya. Bangunannya yang mencolok dan terasa tidak cocok untuk kota terpencil ini mirip dengan kediaman di kawasan pemukiman mewah Ibu Kota.

 

"Tuan tanah kota ini... dulu rasanya pernah sekali bilang padaku soal bibit untuk putrinya atau semacamnya... Guwahahaha, mungkin sekarang dia sedang marah besar padaku. Yah, lagipula tuan tanah itu mirip babi gemuk, dan putrinya pasti juga jelek, jadi syukurlah."

 

Saat masih berada di Ibu Kota, ada sangat banyak "penawaran semacam itu" yang tak terhitung jumlahnya, sehingga Damon tidak mengingat semuanya. Namun, tuan tanah kota ini sedikit tersimpan di ingatannya karena sosoknya yang buruk rupa. Dan di tengah-tengah itu, suara-suara di sekitarnya terdengar olehnya.

 

"Hei, kau sudah dengar belum? Aku dengar dari para prajurit, katanya Tuan Tanah mau menaikkan pajak lagi."

 

"Seriusan? Kemarin-kemarin katanya Nona Muda yang hidupnya serbamewah itu baru membeli kuda mahal dari Ibu Kota... Jangan-jangan..."

 

"Sst! Jangan bicara sembarangan. Kita tidak tahu siapa dan di mana ada yang mendengarkan."

 

"Tapi ya... Sialan, pasangan orang tua dan anak itu selalu saja..."

 

"Di rumah itu, yang benar cuma Nyonya saja..."

 

Hanya dengan berjalan di sepanjang jalan saja, gunjingan tentang tuan tanah dan putrinya sudah terdengar di mana-mana.

 

"Guwahahaha, reputasinya kelihatan buruk banget, ya. Benar juga, kemarin di desa orang-orang juga membicarakan banyak hal tentang tuan tanah. Putrinya rupanya sama aja, ya."

 

Tuan tanah yang buruk rupa. Putrinya yang bereputasi tidak baik. Gadis yang dulu dipesan dengan dalih akan diberi benih jika Damon menjadi Pahlawan, tetapi Damon tertawa berpikir mungkin ada baiknya hal itu tidak terwujud. Namun di saat itulah, Strayer mengucapkan sesuatu yang tak terduga.

 

"Tuan Tanah Metabon Luxury, serta putri dari istrinya, Jukume... Namanya adalah Rowl Luxury... Seharusnya ia terdaftar sebagai Class Holder Ksatria Wanita."

 

"Fuuun... Eh, benarkah?"

 

Damon terkejut mendengar perkataan yang diucapkan Strayer secara berbisik. Bagi Damon yang berasal dari Ibu Kota, keberadaan Class Holder sendiri bukanlah hal yang langka, tetapi ia tidak menyangka bahwa putri dari tuan tanah kota terpencil yang bereputasi buruk dan hidup serba mewah ini adalah seorang Class Holder.

 

"Ya. Usianya satu tahun di atas Master, seseorang yang menjadi Class Holder pada Upacara Pemilihan tahun lalu. Berhubung dalam beberapa tahun terakhir ini saya bertugas di Kota Suci untuk merapikan data Class Holder yang terdaftar, saya mengingatnya."

 

"Haaa, begitu ya, aku tidak tahu... Tidak, yah, kalau dipikir-pikir tuan tanah itu pernah mengatakan hal seperti itu juga... Menginginkan anak yang unggul sesama Class Holder atau semacamnya... Berhubung aku tidak tertarik jadi tidak begitu mendengarkannya."

 

Damon bereaksi atas fakta yang tak terduga itu. Namun, mengetahui fakta tersebut tidak mengubah apa pun baginya, sehingga ia membalikkan badannya membelakangi kediaman tuan tanah seolah itu hanyalah obrolan santai biasa. Namun, saat itulah—

 

"Anak muda di sana, kau membawa pengawal yang sangat cantik, ya~ Kalau isi kantongmu sangat tebal, bagaimana kalau sesekali membeli wanita lain juga?"

 

""""??""""

 

Seseorang memanggil mereka. Saat menoleh, ada seorang wanita tua berdiri di pintu masuk bangunan terdekat.

 

"Eh~ bukannya dia masih sangat muda? Tidak apa-apa nih?"

 

"Maksudku, bukannya dia... murid sekolah?"

 

"Nak~ kau tidak mau menyawer Kakak-kakak di sini~?"

 

Di samping wanita tua itu, berdiri para wanita muda berpakaian terbuka seperti penari. Mereka adalah WTS. Dan Damon bisa langsung memahami bahwa bangunan itu adalah rumah bordil.

 

"Ooh, Kakak-kakak yang mesum. Guwahahaha."

 

"Bagaimana? Akhir-akhir ini semua orang sedang kesulitan uang... Kalau sekarang, cukup dengan lima ribu kau bebas memilih wanita yang kau sukai, lho?"

 

"Hooh. Lagipula, walau tidak semencolok di Ibu Kota, Kakak-kakak di sini kelihatan polos dan menggoda... Ueh? Lima ribu? Cuma segitu?"

 

Mendengar jumlah harganya, Damon kembali menatap para wanita yang memunculkan wajah dari pintu masuk rumah bordil. Damon tidak tahu karena belum pernah melakukan "permainan semacam itu", tetapi ia paham bahwa harga tersebut sangat murah untuk bermain dengan WTS.

 

Namun justru karena itulah, Damon mengerutkan alisnya menduga apakah ada alasan berbahaya di balik harganya yang "murah".

 

"Beneran, kan? Sebenarnya kehidupan kami semua sedang sangat sulit..."

 

"Kenapa begitu? Kalau semurah itu bukannya setiap hari pelanggan bakal datang berbondong-bondong? Atau ada semacam penyakit aneh..."

 

"Bukan, bukan. Murni karena perekonomian kota sedang tidak bagus saja. Kota tidak bergairah, tuan tanah juga buruk dalam berdagang, orang-orang dari luar makin sedikit yang datang, sementara pajak malah terus naik... Makanya, kalau tidak ditekan sampai segini tidak bakal ada yang mau membeli."

 

"Hooo~"

 

Tiba di sini ia lagi-lagi mendengar kabar buruk tentang tuan tanah. Saat masih di Ibu Kota Damon tidak begitu tahu soal tuan tanah, sehingga mengetahuinya dengan cara seperti ini membuatnya merasakan takdir yang menyindir.

"Lalu, bagaimana? Selain gadis-gadis berpengalaman yang sudah sering dipakai, ada juga gadis-gadis yang 'belum pernah dipakai'. Aku tidak bisa mengatakannya dengan suara keras, tapi ada perawan, dan kalau kau mau ada gadis kecil juga───Ooh, benar juga, ada sepasang kakak beradik perawan yang sudah jadi WTS tapi belum sempat dapat pelanggan. Sebagai imbalan mengajari mereka rasanya jadi laki-laki, bagaimana kalau dua-duanya sekaligus cuma lima ribu?"

 

"Ooh! Dua orang! Sekaligus! Lima ribu! Guwahahaha, dua orang sekaligus itu impiannya para laki-laki, tahu! Apalagi kakak beradik?"

 

Bagaimanapun juga, soal tuan tanah sudah dipahaminya tetapi bagi

Damon itu bukan masalah lagi. Dibanding hal itu, perkataan yang dibisikkan oleh wanita tua mucikari itu membuat senyum mesum

Damon tidak bisa berhenti.

 

"Ooi, kemarilah. Aarne, Maai!"

 

"Y-Ya! Kami dipanggil, Maai."

 

"T-Takut, u, uuu... tapi demi bertahan hidup juga..."

 

Dipanggil oleh wanita tua itu, dua orang gadis berlari keluar dari dalam rumah bordil. Raut wajah mereka tampak muram. Meski gemetar ketakutan, mereka berusaha memperlihatkan senyuman. Sepasang kakak beradik berambut kecokelatan.

 

"Ooh!"

 

Damon terkejut. Usia mereka berdua terlihat tidak jauh berbeda darinya.

 

Malah sang adik usianya mungkin berada di bawahnya. Sang kakak yang

rambut kecokelatannya dipotong sebatas bahu, dan sang adik yang terlihat belia dengan rambut panjang diikat pita. Dibandingkan cantik, mereka berdua lebih cocok dikatakan imut.

 

Soal proporsi tubuh, mereka tidak berdada besar, tidak juga berlekuk tubuh mesum yang padat berisikan seperti para WTS lainnya, melainkan masih dalam taraf perkembangan. Namun justru karena itulah, mereka memiliki atmosfer "gadis kota biasa dibanding seorang WTS", dan hal ini juga menggoda

bagi Damon.

 

"Boleh juga! Sip, kubeli! Bahkan orang sepertiku pun jadi sedikit gugup, nih. Pertama kali dalam hidup masuk rumah bordil!"

 

"Kalau begitu, mari masuk ke dalam."

 

Atas ajakan wanita tua itu, Damon hendak melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah bordil. Namun, lengannya ditutuk-tutuk dari belakang oleh jari Strayer.

 

"Master."

 

"Guwahahaha, tunggu sebentar, Strayer! Waktu di Ibu Kota, bukan cuma teman sekelas atau kaum bangsawan saja, bahkan para WTS di gang belakang sampai menundukkan kepala memohon agar ditiduri olehku. Tapi karena menjaga citra publik, ditambah ada aturan sekolah jadi tidak bisa. Kalau sekarang, permainan semacam ini bebas kulakukan sepuasnya!"

 

"Master."

 

"Ini juga bisa dibilang pengalaman karena sudah bebas. Anggap saja sebagai bahan pelajaran!"

 

"Master."

 

"Ada apa, Strayer. Kau mau komplain? Atau kau cemburu───"

 

"Bukan, bagaimana dengan uangnya?"

 

"............"

 

Damon tersentak saat baru menyadarinya. Memang benar harga WTS itu sangat murah. Meski begitu, Damon keluar dari Ibu Kota hanya dengan pakaian yang melekat di badan, jadi isi kantongnya tidak tebal.

 

"Strayer, kalau kau?"

 

"Jika menjual barang dari logam mulia yang diberikan sebagai Saint, sedikit banyak ada..."

 

"Cih, meski begitu tidak mungkin bisa dipakai buat main-main terus

selamanya, kan. Harus memikirkan sesuatu, nih."

 

"Bagaimanapun juga saya akan pergi menjual barang-barang milik saya. Lagipula barang milik saya adalah milik Master sepenuhnya."

 

"Benar juga. Sip, pergilah jual. Soalnya aku sudah masuk ke mode siap main, nih."

 

Uang memang dibutuhkan untuk menjalani hidup. Saat ini ia tidak berniat meminta uang hasil penjualan Red Lizard dari Najimi dan yang lainnya, tetapi ia harus memikirkan masa depan. Untuk sementara, begitu permainan ini selesai... pikirnya. Namun, saat itulah—

 

"Guhehehehe, ooh, ooh, Nak... Selain membawa wanita yang sangat cantik, siang bolong begini sudah mau main di rumah bordil, kau bersemangat sekali ya?"

 

""""............""""

 

Mereka menoleh ke arah datangnya suara. Di sana, berdiri belasan pria dan wanita bersenjata tajam dengan senyum tidak sopan di wajah mereka.

 

Di depan kedai minuman. Terlihat jelas bahwa mereka agak mabuk.

 

"Wao, bocah yang kelihatan masih muda membawa seorang pengawal."

 

"Ini sih benar-benar tidak tahu diri... Tapi..."

 

"Gawat banget, bukannya ini wanita kelas atas yang luar biasa? Beda banget sama kalian para pelacur~"

"Ha? Mau kubunuh, ya?"

 

"Padahal kami juga ingin main di rumah bordil, tapi karena tidak punya uang sebanyak itu makanya menahannya dengan minum alkohol murah begini..."

 

Para pria dan wanita itu membawa senjata, tetapi dari penampilan mereka terlihat jelas bahwa mereka bukan prajurit. Dari pakaian mereka yang kotor, mereka adalah perampok atau prajurit bayaran.

 

"Perampok? Prajurit bayaran? Aah, memangnya sampah-sampah ada urusan apa?"

 

"""""Kh!"""""

 

"Tapi mata kalian lumayan juga, ya. Benar banget, dia wanita yang sangat hebat, kan? Di atas tempat tidur dia jauh lebih gila lagi, tahu?

Guwahahaha, tapi tidak akan kubiarkan siapa pun menyentuhnya, sih."

 

Apa pun identitas para pria dan wanita itu, Damon tidak peduli. Hanya saja demi memprovokasi komplotan yang mengejeknya dengan senyum tidak menyenangkan itu, Damon menarik tubuh Strayer mendekat, meremas dadanya, lalu menyelipkan tangan ke dalam roknya untuk mempermainkannya.

 

"Kua, a, M-Master..."

 

"Mari kita pamerkan pada mereka, Strayer. Atau kau tidak mau?"

 

"Jika Master menginginkannya."

 

"Guwahahaha, cuma bercanda. Aku tidak berniat memperlihatkan dada ataupun bagian bawahmu pada sampah-sampah seperti ini, tahu. Makanya, ciuman saja deh. Nchuh."

 

"Nhmu! Ah, Master... nchuh, chuh."

 

Di hadapan khalayak umum dan di tengah kota, Damon mencium Strayer. Apalagi ciuman yang pekat. Strayer awalnya terkejut, tetapi begitu dicium ia langsung luluh dan membalas ciuman Damon dengan membelitkan lidahnya sendiri.

 

"A-Apa... m-mereka ini..."

 

"B-Bocah-bocah ini... a... kh."

 

Dunia kini serasa milik mereka berdua. Seolah tidak tertarik pada para pria dan wanita tidak sopan itu, mereka berdua tidak menghentikan ciuman mereka. Ciuman yang begitu percaya diri, mesum, dan pekat itu sampai membuat para wanita yang tampak berpengalaman pun memerah wajahnya.

 

Namun, seseorang yang benar-benar mengamuk akibat provokasi yang

jelas itu berteriak keras.

 

"Bocah brengsek! Hei... Bajingan, kau tahu sedang meremehkan siapa,

hah?"

Seorang pria maju ke depan. Kepalanya botak tanpa rambut. Berotot kekar. Pria bertubuh raksasa itu dua tingkat lebih besar dari Damon, tampak bagaikan batu karang besar. Ia mencabut pedang besar (buster sword) yang digendong di punggungnya lalu mendekati Damon.

 

"Aku adalah ketua Pasukan Prajurit Bayaran Pasukan Iwankutu, Shattei."

 

"Nchuh, chuburu, chubu, buchu."

 

"Bocah tidak tahu diri seperti kalian, Kaum Iblis, monster, ataupun perampok sudah tak terhitung jumlahnya yang kutebas."

 

"Nchuh, gawat, aku beneran jadi ingin bersetubuh... Strayer, ayo cari tempat, nchuh."

 

"Lihat ke mari! Aku ini Class Holder Ksatria... Woii!"

 

Wujudnya benar-benar memancarkan wibawa seseorang yang berpengalaman dalam pertempuran sungguhan. Terlebih lagi, Shattei yang merupakan bos pasukan prajurit bayaran membeberkan bahwa dirinya adalah seorang Class Holder yang didukung oleh sikap percaya dirinya yang membumbung tinggi. Namun, Damon tidak menghentikan aksinya bermesraan dengan Strayer.

 

Melihat hal itu, Shattei benar-benar hilang kesabaran.

 

"Kubunuh kau! Lalu pengawal wanitamu, bakal kujadikan wanitaku dan kubuat mendesah setiap malam!"

Menghadapi Shattei yang seperti itu, para prajurit bayaran lainnya tertawa, dan dari arah belakang muncul satu orang lagi ke depan.

 

"Aah, astaga... Kau ini selalu saja langsung main gila begitu, ya. Bukannya sudah kubilang kurangi memaksa meniduri wanita yang menyita perhatianmu? Lagipula mereka kan masih bocah."

 

Seorang wanita bertubuh tinggi. Di punggungnya ada busur panah raksasa. Berkulit agak gelap, memamerkan otot kencang dan perut berotot (six-pack) dengan pakaian yang berani. Sorot mata dan atmosfer yang melingkupi tubuhnya jelas memancarkan hawa seorang ksatria.

 

"Jangan bicara begitu, Mazonea. Kalau dididik mulai dari sekarang, mungkin bisa dijual dengan harga yang sangat mahal, lho?"

 

"Dasar. Mau bagaimana lagi. Hei, Bocah dan Nona Muda, lebih baik kalian minta maaf dari sekarang, tahu? Yah, walau mungkin sudah terlambat, sih. Nona Muda, apa tubuh rampingmu itu sanggup menahan milik suamiku?"

 

Lalu, wanita bernama Mazonea itu juga memasang senyum kejam.

 

Namun, senyuman itu langsung menegang seketika.

 

"Begitulah caranya! Mampus kau───"

 

Shattei berlari lalu mengayunkan pedang besarnya ke arah Damon.

 

Namun, tebasan itu tidak mengenai sasaran.

"Dia ini milikku. Bahkan dalam imajinasi pun aku tidak mengizinkan siapa pun menidurinya."

 

Sambil tetap mempermainkan dada Strayer, kaki Damon yang terangkat ke atas menebas pedang besar itu hingga terbelah dua dengan rapi.

 

"...Eh... Bugyarapakk!"

 

Lalu, tendangan lurus yang menyusul meresap amblas ke perut Shattei hingga membuat bagian perutnya terdorong ke dalam. Satu pukulan itu dengan mudah menendang terbang tubuh raksasa Shattei, membuat Shattei terpental dan berguling secara keras menghantam tanah lebih dari sepuluh kali.

 

"A... Suamiku!"

Mazonea yang baru saja tertawa beberapa detik lalu melontarkan suara seperti jeritan.

 

"B-Bohong, Shattei!"

 

"Mustahil, Shattei-san kan seorang Class Holder... Bohong, apa-apaan bocah ini?"

 

Hal itu berlaku sama bagi para anggota pasukan prajurit bayaran.

 

Mereka tidak bisa memahami kejadian yang baru saja berlangsung di depan mata mereka dan mengalami kebingungan hebat, menatap bergantian antara Shattei yang tidak bisa bangkit berdiri dan Damon yang memelototi mereka dengan posisi kaki terangkat.

"Keributan apa ini!"

 

"Kalian, apa yang kalian lakukan di sana!"

 

Keributan sebesar ini membuat para penduduk dan prajurit penjaga yang ditempatkan di sana mendengar keributan dan berlari menghampiri.

 

"Hei, hei, sebenarnya apa... Eh, Nak!"

 

"Waah, Damon-san dan Strayer-san."

 

"A-Apa yang dilakukan mereka berdua?"

 

Yaoji dan Najimi yang tadinya bergerak terpisah ikut berlari menghampiri, dan terkejut melihat Damon serta Strayer yang berada di pusat keributan.

 

"A, au, a, Suamiku! Apa yang kau lakukan, cepat bangun! Tidak usah bercanda seperti itu, cepat bereskan bocah ini... Hei."

 

"Ka, ga, au, ga... Kahak, ga..."

 

"Suamiku! Sadarlah! Kau ini kan ketua Pasukan Iwankutu! Class Holder Ksatria, Shattei Si Pedang Besar, kan! Kau bilang mau membuat pasukan prajurit bayaran terkuat yang tidak akan kalah dari siapa pun, makanya aku mau jadi wanitamu... Kau..."

 

Wanita berotot itu berteriak bagaikan wanita lemah biasa. Hanya satu serangan dari Damon yang menendang ringan sembari mempermainkan tubuh Strayer, sudah cukup untuk membuat Shattei mengerang kesakitan dan tidak sanggup bangkit berdiri.

 

Lalu, Damon dan Strayer seolah "tidak peduli dengan hal semacam itu", sama sekali tidak melirik Shattei lagi.

 

"Guwahahaha, nah, ayo masuk ke kamar di suatu tempat, Strayer."

 

"Sesuai keinginan Anda... Anu, sebagai informasi, bagaimana dengan rumah bordil? Para wanita di sana, wajah mereka semua tampak memucat..."

 

"Ah, aku lupa! Benar juga, sepasang kakak beradik tadi... Aan? Kenapa mereka berdua menangis melihatku? Takut, ya?"

 

Di dalam atmosfer yang tidak wajar itu, sebagian besar orang tidak sanggup bersuara. Namun, ada satu orang yang berbeda.

 

"Kh, ga, padahal cuma bocah, jangan meremehkanku ya!"

 

Sambil mengucurkan keringat dingin dalam jumlah banyak, Mazonea memegang busur panah di punggungnya lalu mengambil posisi.

 

"S-Sebentar, Mbak!"

 

"Bahaya, Mbak! Orang ini tidak biasa!"

Menyadari apa yang hendak dilakukan Mazonea, para anak buah pasukan prajurit bayaran tergesa-gesa mencoba menghentikannya.

 

Suasana kota juga mulai riuh. Menembakkan busur panah di tengah kota adalah hal yang sangat berbahaya. Para prajurit juga tergesa-gesa mencoba menghentikan Mazonea, tetapi Mazonea tidak berhenti.

 

"Aku adalah wakil ketua Pasukan Iwankutu, Mazonea! Class Holder Pemanah! Bocah yang meremehkan orang bakal kupanah sampai mati!"

 

Mazonea menembak. Meski seorang wanita, busur panah yang dilepaskan dari tangannya yang kekar terlontar bersamaan dengan suara deru yang keras.

 

"Ha?"

 

"............he..."

 

Batang anak panah terpotong dengan rapi, tidak sampai mengenai Damon dan Strayer lalu jatuh ke tanah.

 

"Dasar... Kau mau kutendang sampai mati, ya?"

 

Selain Strayer yang berada di lokasi, tidak ada seorang pun yang memahami apa yang baru saja terjadi. Namun, Mazonea yang melepaskan anak panah merasa merinding saat melihat batang anak panah yang terpotong.

 

"Mana mungkin... M-Mustahil! Panahku... panahku! Kalau begitu kali ini, Tiga Anak Panah!"

 

Seolah mengibaskan rasa takut yang dihinggapinya, kali ini ia menyejajarkan tiga anak panah sekaligus, lalu melepaskannya secara bersamaan ke arah Damon.

 

"Hei."

 

Seketika Damon memutar pinggangnya di tempat sembari menggendong Strayer dengan gaya bridal carry. Hanya dengan itu, ketiga anak panah Mazonea terpotong secara bersamaan lalu jatuh ke tanah.

 

"M-Mana mungkin, a-anak panahku... Jangankan membaca arahnya, m-memotongnya dengan tendangan..."

 

"Kalau sampai kena milikku bagaimana, coba... Harus diberi hukuman, nih."

 

"Hii!"

 

Ya, panah yang kecepatannya tak tertangkap mata ditangkis seluruhnya dengan tendangan yang kecepatannya juga tak tertangkap mata. Bukan cuma Mazonea, para prajurit bayaran dan prajurit penjaga lainnya juga akhirnya menyadari hal itu, lalu gemetar menghadapi kekuatan Damon yang teramat melampaui batas manusia biasa.

 

"G-Gawat, Mbak bakal... d-dibunuh!"

"Jangan sentuh Kakak, t-hentikan!"

 

"Tunggu dulu, Anak Muda di sana!"

 

"Jangan membuat keributan lebih dari ini di kota!"

 

Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini, tetapi karena membayangkan pemandangan yang teramat mengerikan, bukan cuma para prajurit bayaran, para prajurit penjaga juga berlari menghampiri untuk menghentikan Damon. Namun, mana mungkin Damon mau berhenti.

 

"Woii... Jangan mengerubung. Funnuruaaaaaaa! Earth Kick!"

 

Damon mengangkat sebelah kakinya ke atas kepala, lalu mengayunkannya lurus ke bawah dan menginjak tanah dengan sekuat tenaga. Hanya dengan itu kota berguncang, dan bersamaan dengan terciptanya lubang besar, retakan menjalar di pusat kota.

 

Hanya mengangkat kaki lalu menginjak tanah. Cuma itu saja. Bukan sihir melainkan murni kekuatan fisik. Namun hal itu menunjukkan daya hancur yang melebihi sihir, hingga membuat orang-orang di seluruh kota lemas terduduk akibat guncangan tersebut.

 

"A, au, a..."

 

"M-Monster, guh, gah..."

 

Mazonea gemetar ketakutan hingga terkencing-kencing. Dan Shattei masih belum sanggup bangkit dari erangan kesakitannya. Rasa takut itu adalah rasa takut terhadap takdir tak terelakkan bernama "akan dibunuh".

 

Pada dasarnya, mereka berdua yang bermata pencaharian sebagai prajurit bayaran yang tidak tahu kapan akan mati, berpikir bahwa mereka tidak memiliki rasa takut terhadap kematian atau luka-luka. Namun, berhadapan dengan monster yang jauh melampaui imajinasi mereka, mereka tidak punya pilihan selain merasa takut.

 

"J-Jangan, a-aku minta maaf, a-ampuni aku! A-Aku juga minta maaf!"

 

"Kh, a, b-benar, m-makanya, a-ampuni kami!"

 

Permintaan maaf secara histeris. Bersujud sambil menangis hingga ingus meler.

 

"Hal yang sudah dilakukan harus dibayar dengan imbalan... Soalnya aku bukan Pahlawan berhati murah yang mau mengampuni orang secara cuma-cuma..."

 

Tanpa rasa belas kasihan, Damon mengukir senyum iblis. Senyuman itu memancarkan tekanan luar biasa hingga membuat Shattei dan Mazonea yang merupakan seorang Class Holder sampai menangis. Para penduduk kota, prajurit bayaran, dan prajurit penjaga yang lemas terduduk akibat guncangan tanah tidak ada seorang pun yang sanggup bersuara.

 

Lalu Damon menurunkan Strayer ke tanah, mendekati Mazonea yang sedang bersujud, lalu menatap wajahnya lekat-lekat.

 

"Kau ini cantik juga ya... Tubuhmu juga terasa seperti ksatria wanita

yang terlatih... Guwahahaha, berapa usiamu?"

"...Eh... a... d-dua puluh dua..."

 

"Hooo~ yang seperti ini jadi pasangan suami istri sama bapak-bapak botak begini... Guwahahaha!"

 

"Hiii!"

 

Lalu Damon mengukir senyuman sembari membungkukkan badan.

 

"Kakak Ksatria Wanita... Kau lebih suka dihancurkan oleh tendanganku, atau ditiduri olehku?"

 

"E..."

 

Itulah hak istimewa bagi sosok yang kuat, dan sosok pemenang.

 

"Lagipula dari awal aku memang berniat main di rumah bordil jadi gairahku sedang membara... Tidak, bertanya jawab begini juga sudah bikin repot."

 

"Sebentar, hii, t-tunggu!"

 

"H-Hei, k-kau, tunggu, apa yang kau lakukan pada i-istrikuuu!"

 

Damon langsung memotong dan merobek pelindung dada, pakaian, serta pakaian dalam atas dan bawah Mazonea sekaligus menggunakan teknik kakinya

 

"Sebagai imbalan dari perbuatanmu yang mau memperkosa wanita milik

orang lain... bakal kusampar!"

 

"J-Jangan, hentikan, hentikannn! Di kota seperti ini, jangan, tolong,

gh..."

 

"Hentikannn! Sialan, bocah ini, m-milikku, hentikan, henti..."

 

Mazonea meronta-ronta dengan gencar. Namun, tenaga lengannya yang terlatih itu pun dilibas dengan mudah oleh Damon.

 

"Guwahahaha, Bapak-bapak botak... Orang yang tanpa merasa bersalah berniat memperkosa wanita milik orang lain, malah cuma mau menyelamatkan wanitanya sendiri... Sudah kalah tapi enaknya sendiri, kan! Hati nuraniku sama sekali tidak merasa sakit, tahu!"

 

"Uah, i-itu sih, uuu..."

 

"Kalau tidak mau, bakal kubuat kau babak belur sampai tidak bisa muncul di hadapan publik lagi. Kau kan mencoba membunuhku pakai pedang dan busur panah yang sangat berbahaya itu, jadi kalau wanita ini dibiarkan bebas tanpa hukuman ya tidak adil, dong. Pilih! Yang mana, hah?! Aan? Pilih!"

 

Argumen berbelit-belit yang dilontarkan Damon secara ugal-ugalan.

Namun akibat kekuatan, rasa takut, dan tekanan yang luar biasa itu, Shattei kehilangan kata-katanya. Lalu, Damon melepas pakaiannya.

 

"...Eh?"

 

"A-Apa!"

 

""""""B-Besar... luar biasa!""""""

 

Si siapa pun pasti akan terperanjat melihatnya, pedang besar... tidak, sudah tak ubahnya naga.

 

"Mana mungkin bisa menang melawan Master... Tidak ada pilihan lain selain kalah."

 

"Ya ampun... Orang itu beneran... Glek... Memang luar biasa..."

 

Strayer dan Najimi yang telah mengetahui dahsyatnya naga itu secara langsung melalui tubuh mereka sendiri, merasa iba pada Mazonea.

 

"B-Bohong, b-besar... Lagipula, hawa keberadaan laki-laki yang sangat pekat ini... Hii, i-ini... bakal diubah! Diriku... bakal sirna... dibuat hamil... jatuh ke dalam kenikmatan... pasti bakal jatuh! Sebentar, istirahat dulu! Istirahat dulu sebentar!"

 

Namun berbeda dari saat bersama mereka berdua, Mazonea telah menyadari "tidak akan bisa menang" tepat sebelum bertarung. Itulah intuisi karena dirinya seorang Class Holder.

"K-Kami mohon maaf! K-Kami serahkan seluruh uang kami, jadi to-long ampuni kami!"

 

"Haa?"

 

Seorang ksatria pemanah wanita yang berpengalaman dan seharusnya memiliki keberanian besar, kini bersujud bertelanjang dada di hadapan khalayak umum. Namun, kalau cukup hanya dengan bersujud, kejadiannya tidak akan menjadi seperti ini sejak awal. Justru karena tidak cukup dengan minta maaf makanya jadi seperti ini.

 

"Hei, Woi, sudah membuat orang bersemangat lalu bilang tidak mau ya mana bisa dimaafkan! Serahkan seluruh dada dan pantat itu ke mari!"

 

Damon tentu saja tidak berniat menerima permintaan maaf tersebut.

 

Namun kali ini bukan hanya sekadar permintaan maaf biasa.

 

"A, k-kami mohon maaf, kami juga minta maaf! N-Nih lihat, uangnya bakal kami keluarkan semuanya! Tolong lepaskan Mbak Mazonea!"

 

"Kami mohon, tolong selamatkan Mbak Mazonea!"

 

"Kami mohon! Kami mohon!"

 

"Gah, u, a, t-tolonglah, c-cuma hal itu yang jangan... i-istriku nanti hancur... uuu."

 

Pasukan prajurit bayaran, bahkan Shattei yang terluka pun semuanya berbaris bersujud, menyodorkan kantong kain berisi uang kepada Damon.

 

"Aahn, uang sih... Uang..."

 

Awalnya Damon tidak berniat mengubah pikirannya hanya karena "uang", tetapi memikirkan masa depan, ia merasa uang memang sedang dibutuhkan saat ini.

 

"Ooh, lumayan banyak juga, ya."

 

Meski pasukan prajurit bayaran tadi bilang "tidak punya banyak uang", hal itu karena uang tersebut sulit jika digunakan untuk membiayai sepuluh anggota, sedangkan jika hanya untuk Damon dan Strayer berdua saja, jumlahnya tergolong lumayan.

 

"Guwahahaha. Yah, boleh juga deh. Sangat disayangkan tidak bisa meniduri Kakak di sana, tapi kalau dipikir-pikir baik-baik aku kan setelah ini mau main di rumah bordil sana. Maksudku, dengan begini bukan cuma buat biaya hidup sementara saja, tapi bisa jadi uang main-main buat sekarang."

 

Pemasukan tak terduga. Damon memutuskan menerima uang tersebut sebagai imbalan. Shattei dan anggota pasukan prajurit bayaran lainnya merasa lega karena bisa selamat dari bahaya. Namun, rasa takut yang terukir di dalam diri mereka tetap tersisa dengan jelas.

 

"Kalau lain kali kalian sampai berniat meniduri wanitaku walau cuma bercanda... bakal kutendang sampai mati♪"

 

""""""B-Baikkk, kami mohon undur diri!""""""

 

Saat Damon membalikkan badan dan meninggalkan tempat itu, seluruh anggota pasukan prajurit bayaran masih gemetar ketakutan. Namun, hanya karena tangan jahat Damon tidak jadi menjangkau Mazonea...

 

"Orang itu... beneran luar biasa ya, Mbak Najimi..."

 

"...Benar ya... Emm? Maksudku, si bajingan itu... sebentar, si bajingan itu mau ke mana!"

 

Damon yang gairah seksualnya sedang membara dan penuh semangat, langsung berjalan lurus menuju rumah bordil sesuai rencana awal.

 

"A... a, u, a-anu..."

 

"Uah, a... a..."

 

Melihat seluruh kejadian itu, apalagi menyaksikan tubuh telanjang

Damon secara langsung, Aarne dan Maai yang sudah benar-benar patah semangat dan ketakutan penuh meneteskan air mata sembari melangkah mundur. Namun Damon tetap memamerkan senyum iblisnya.

 

"Nenek tua, nih lima ribu♪"

 

"Nhh, a, ooh... b-benar... to-long bersikaplah agak lembut sedikit... ya."

 

"Guwahahaha! Aku pergi dulu, Strayer!"

 

"Silakan menikmati sepuasnya, Master."

 

"Nona pengawal silakan tunggu di ruang tamu, ya. Nanti kubuatkan teh."

 

"Terima kasih atas perhatian Anda."

 

Setelah menyerahkan uang, Damon langsung menjepit kedua kakak beradik Aarne dan Maai yang ketakutan dan tidak bisa bergerak di kedua belah ketiaknya, lalu berjalan menuju kamar bagian dalam rumah bordil seolah mau melakukan apa saja sesuka hatinya.

 

"Jangan, tidakkkkk, hal seperti ini, kami mohon, jangan lakukan dengan kasar! C-Cuma adikku yang jangan! Aku bakal melayani semuanya... j-jadi..."

 

"Ayah, Ibu, uuu, huaaa, huaaa."

 

"Guwahahaha, kenapa kalian menangis? Ini kan imbalan! Suka sama suka! Jadi ini legal dan aman! Atau kalian mau ganti bayar uang ke aku,

hah? Mana ada, kan! Kalau begitu tidak ada cara lain!"

 

Lalu, tanpa ada rasa belas kasihan sedikit pun...

 

──♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Dua orang gadis menaiki tangga kedewasaan dengan tergesa-gesa, dirontokkan, diacak-acak, mendesah, berteriak, menangis, menjerit, meratap, dan meluapkan segalanya saat ditanamkan secara mendalam.

 

"Orang itu... kh, tetap saja sangat tidak berguna! Tidak berguna tidak

berguna! Ayo pergi, Mbak Najimi!"

 

Melihat wujud Damon yang masuk ke dalam rumah bordil, Shesta meluapkan amarahnya sembari memerah padam wajahnya. Di sampingnya, Najimi bergumam komat-kamit.

 

"Apa-apaan... padahal sudah merebut kesucianku... malah meniduri wanita lain lagi..."

 

"Mbak Najimi?"

 

"Hah!"

 

Ia dibuat bingung oleh perasaan yang tumbuh di dalam dirinya yang bahkan tidak bisa dipahami oleh dirinya sendiri.

 

Pada akhirnya, Damon menikmati waktunya sampai urusan Najimi dan yang lainnya selesai dan semua orang berkumpul kembali.

 

Pengalaman Damon

● Mantan Saint Strayer: 37 Ronde

● Gadis Cantik Dada Besar Desa Najimi: 7 Ronde

● Sepasang Kakak Beradik Malang Rumah Bordil Aarne dan Maai: 5 Ronde + 5 Ronde

 

"Ooh, kalian belanja banyak banget, ya."

 

Matahari mulai tenggelam, dan Damon yang sudah puas menikmati permainannya di rumah bordil menuju ke gerbang kota, tempat Yaoji dan Najimi sudah menunggu.

 

Kereta dorong yang digunakan untuk membawa Red Lizard kini diisi

oleh barang bawaan dalam jumlah banyak untuk dibawa pulang ke desa.

 

Terlebih lagi, ada empat ekor kuda yang baru saja dibeli terikat di sana.

 

"Padahal semua uang itu harusnya punya Najimi, tapi beneran kalian bagi rata, ya?"

 

Pada dasarnya Red Lizard adalah permintaan Najimi, dan Damon membasminya setelah menerima imbalan. Makanya secara hakiki Najimi yang seharusnya menerima imbalan tersebut, tetapi Najimi tidak melakukannya dan menyerahkan seluruhnya kepada Yaoji demi desa.

Damon menyeringai seolah mengejek sifat kebaikan Najimi tersebut, tetapi Najimi membalas dengan cemberut.

 

"Tentu saja. Warga desa terpencil seperti kami harus saling berbagi dan saling membantu untuk bertahan hidup, tahu."

 

Hal yang wajar. Di setiap selipan kata-katanya tersirat sindiran untuk Damon yang "punya kekuatan untuk menolong orang, tapi tidak akan melakukan apa pun kalau tidak menerima imbalan".

"Begitu ya. Yah, terserah kalian saja. Itu kan kebebasanmu sendiri. Sayang banget kalau wanita sepertimu diberikan ke bajingan pemain wanita seperti Sekund. Aku jadi ingin bersetubuh sekali lagi darimu, nih."

 

"Sudah tidak mau untuk kedua kalinya! Lagipula stop mencela Sekund! Lagian kalau dibilang pemain wanita, bukannya kau sendiri yang... ah sudahlah! Tadi aku dan Shesta baru saja menulis surat untuk Sekund. Bulan depan sepertinya sudah sampai, lalu... Nih, lihat ini!"

 

"Emm?"

 

Najimi memamerkan sesuatu pada Damon dengan sikap percaya diri. Itu adalah sebuah amplop. Di atas amplop tertulis "Untuk keluarga yang kucintai, dan seluruh warga desa". Nama pengirimnya tertulis "Sekund".

 

"Sekund?"

 

"Benar. Waktu mampir ke tempat kurir, kebetulan ada surat dari Sekund yang ditujukan untuk kami! Benar, ini surat yang dikirimkan Sekund setelah dia jadi Pahlawan! Artinya Sekund bukannya melupakan kami cuma karena sudah jadi Pahlawan!"

 

Mengucapkan hal itu, Najimi mengukir senyuman seolah menang bertaruh.

 

"Syukurlah ya, Mbak Najimi!"

 

Najimi memamerkannya, lalu memeluk surat itu erat-erat bagaikan harta karun. Pria yang dicintainya bukannya melupakan mereka hanya karena sudah menjadi Pahlawan. Fakta itu membuatnya sangat bahagia hingga Najimi memamerkan senyuman.

 

"Aah begitu ya. Lalu apa tulisannya?"

 

"Belum kubaca. Aku mau pulang dulu lalu membacanya bersama Bibi dan yang lainnya. Di sini kan tertulis jelas 'Untuk keluarga yang kucintai. Untuk seluruh warga desa'."

 

"Oho? Bukannya ditujukan khusus untuk dirimu secara pribadi, ya? Jangan-jangan isinya laporan seperti 'Aku mau menikah sama para putri raja', gitu~"

 

"Mana mungkin! Kh, dasar, bising banget! Beneran deh, tidak berguna!"

 

Kata-kata Damon yang memamerkan senyum kejam membuat senyuman Najimi terus terusik hingga tersulut, napasnya memburu seolah hendak menampar Damon saat itu juga.

 

"Mbak Najimi, sudah tidak usah dilayani, ayo cepat pulang! Kita pulang lalu baca suratnya bersama-sama!"

 

"Benar ya. Nfufufu."

 

Ditenangkan oleh Shesta, Najimi kembali memamerkan senyuman.

 

Senyuman yang tidak akan pernah diperlihatkannya kepada Damon.

Senyuman yang mengalir secara alami saat membayangkan pria yang disukainya membuat Damon cemberut. Namun Damon merasa sudah melakukan tugasnya, sehingga tidak mengucapkan sindiran lebih jauh lagi.

 

"Kalau begitu ayo cepat pulang. Strayer, kalau sudah mengantar mereka,

kita bakal langsung kembali ke sini lagi buat tinggal, ya."

 

"Baik, Master."

 

Bagaimanapun juga, dengan begini hubungannya dengan Desa Dokaina sudah berakhir. Setelah mengantar semuanya menggunakan sihir perpindahan ruang milik Strayer, mereka berdua akan kembali ke kota ini dan perlahan-lahan memikirkan masa depan. Damon berniat demikian, dan Najimi serta yang lainnya juga berpikir tidak akan ada hubungan lagi dengan Damon. Mereka berpikir seperti itu.

 

"Ooh, sudah muncul nih, pusaran hitamnya."

 

"Cuma dengan melewati ini bisa langsung kembali ke desa dalam sekejap, beneran praktis banget ya~ Rasanya ingin disisakan di sini saja."

 

Sama seperti saat datang, melewati pusaran sihir perpindahan ruang yang dibentangkan Strayer menuju Desa Dokaina yang damai dan tenteram────

 

"Bumoruaaaaaaaaaaaaaaaaakkk!"

 

""""""Eh?"""""

 

Di tengah-tengah ladang Desa Dokaina tersebut, seekor babi hutan raksasa sedang mengamuk hebat.

 

"Ah... Sudah pulang! Pak!"

 

"A-Apa, Bu! Ada apa, apa-apaan itu!"

 

"Tadi mendadak benda itu turun dari gunung... Tiba-tiba di ladang..."

 

Kejadian yang teramat mendadak membuat para warga desa yang ikut pergi berbelanja, serta Najimi dan Shesta melongo tertegun. Babi hutan yang ukurannya sebesar batu karang raksasa itu jauh lebih besar daripada Red Lizard.

 

"O-Ooh... Giant Boar... kan."

 

"Benar. Hama dengan Tingkat Bahaya 3."

 

Dan situasi ini membuat Damon sendiri terkejut karena terjadi begitu mendadak.

 

"Hei, Najimi. Desa ini sampai muncul yang seperti itu juga, ya?"

 

"T-Tidak tahu... A-Apa-apaan itu... Bohong! Ini bohong! Padahal selama ini paling banyak cuma muncul babi hutan kecil, tapi a-apa-apaan yang besar itu..."

Ya, sama seperti saat Red Lizard kemarin, di desa ini tidak pernah muncul binatang atau monster berbahaya seperti itu sebelumnya. Desa

ini tadinya adalah desa yang sangat damai dan tenteram.

 

"Bu, p-pokoknya semuanya selamat, kan?!"

 

"Ung. Binatang itu muncul lalu langsung menuju ke ladang... Tapi kalau begini terus..."

 

Binatang yang teramat raksasa itu melalap habis ladang. Beruntung tidak ada yang terluka, tetapi kalau begini terus seluruh ladang akan hancur dilalap habis. Namun menghadapi binatang yang ukurannya terlalu raksasa itu, Yaoji dan yang lainnya hanya bisa mendongak menatapnya.

 

"Emm? Emm? Ooh... Guwahahaha, ada apa sebenarnya? Bahkan aku yang lamban ini pun bisa paham, tahu. Hei, Strayer. Gunung itu..."

 

"...Sampai tadi pagi saya tidak merasakan apa pun, tetapi ini... bergerak menggeliat, ya."

 

Damon dan Strayer mendongak menatap gunung terdekat, lalu merasakannya.

 

"Guwahahaha, kalian semua berada dalam situasi yang sangat gawat nih, di desa ini."

 

"Eh? M-Maksudmu apa, Damon?"

"Gunung yang sampai tadi pagi tidak ada apa-apanya itu... Aku tidak tahu jenisnya, tapi aku merasakan hawa keberadaan monster dalam jumlah yang sangat gila. Bukan lagi level sepuluh atau dua puluh ekor, dari yang kecil sampai yang ukuran raksasa... Apa-apaan? Gunung ini ternyata gunung binatang sihir, ya?"

 

"Eh?"

 

"Maksudku, lebih baik kalian tinggalkan saja desa ini lalu pindah rumah, tahu?"

 

Di tengah situasi yang bahkan tidak dipahami apa yang sedang terjadi, kata-kata yang diucapkan Damon sembari tertawa membuat Najimi dan yang lainnya makin tertegun lemas. Damon memang pria yang suka menyindir, tetapi kata-kata yang diucapkannya saat ini dirasakan oleh Najimi dan yang lainnya bukan sebuah kebohongan.

 

"B-Bohong, kan? K-Kenapa gunung ini... milik kami..."

 

"Mana mungkin... Lagipula di gunung ini tidak ada binatang atau monster berbahaya, k-kami juga sejak kecil biasa bermain di sana..."

 

Justru karena selalu tinggal di desa ini makanya Najimi dan yang lainnya ingin berpikir "mana mungkin".

 

"Entahlah. Sama seperti kadal kemarin, mungkin kabur dari perang, atau Pasukan Raja Iblis sengaja melepaskannya buat jahil, bagaimanapun juga karena tempat ini damai dan tidak berbahaya makanya mereka berkumpul ke mari."

 

Namun hal ini adalah kenyataan.

 

"Bumooooooooooooooooooomkkk!!"

 

Lalu kalau begini terus, sayuran penting milik desa di depan mata

mereka akan dilalap habis oleh Giant Boar. Jika jadi begitu, hidup mereka akan berakhir.

 

"Kh, p-pokoknya, Damon! Tolong, kalahkan benda itu sekarang juga!"

 

Najimi menggantungkan harapannya lagi pada Damon demi menyelesaikan masalah di depan matanya saat ini.

 

"Haa? Hei, hei, aku kan tidak mau kalau secara cuma-cuma────"

 

"Kh, sudahlahhhhh! Hari ini kau boleh menginap lagi, kubuatkan makanan juga, b-b-buka... bersetubuhlah sesukamu!"

 

"Kuterima!"

 

Bagaimanapun juga Damon sempat berpikir ingin bersetubuh sekali lagi dengan Najimi, jadi ia langsung berlari karena merasa hal itu sangat menguntungkan.

 

Ketika matahari mulai tenggelam, sebuah api unggun raksasa dinyalakan di alun-alun desa. Pokoknya mereka harus menyalakan api sebesar mungkin agar binatang dan monster tidak mendekat. Lalu bersamaan dengan itu, para warga desa berkumpul di depan rumah Yaoji untuk menggelar rapat darurat.

 

"Untuk sementara, kerusakan di ladang tidak begitu parah. Walau kita buat api unggun besar di alun-alun, kita tidak tahu seberapa efektif itu bisa mengusir binatang buas, dan begitu fajar menyingsing kita tidak tahu apa yang bakal terjadi."

 

"Babi hutan raksasa itu memang sudah dikalahkan oleh Damon-kun... tapi mulai besok dan seterusnya... menurut ceritanya, gunung itu sudah

dipenuhi oleh binatang buas dan monster sejenis itu."

 

"Artinya, pilihan yang tersisa untuk kita cuma ada dua. Tetap tinggal di desa ini sambil ketakutan, atau meninggalkan desa lalu kabur."

 

"Nhh, ahn, tidak boleh, s-sebentar, sekarang ini, annh, nhh, hentikan, nanti saja, sekarang ini, nnn!"

 

Pergi meninggalkan desa. Itu artinya mereka semua harus membuang tanah tempat lahir dan tumbuh besar ini, tanah yang diwariskan dari orang tua dan leluhur mereka. Itu artinya membuang kampung halaman mereka sendiri.

 

"M-Mana mungkin... Aku tidak mau... Rumah dan ladang, aku tidak mau membuangnya!"

 

Mana mungkin bisa dibuang begitu saja. Perkataan salah satu warga desa itu adalah apa yang dipikirkan oleh seluruh warga desa.

 

"Chupa chupa, rero rero, guwahahaha, rasanya mantap banget.

Cium lagi, biarkan aku menjilat lagi. Tapi ngomong-ngomong, tidak mau membuang kampung halaman, ya... Buat aku yang membuang Ibu Kota begitu saja, rasanya itu sensasi yang tidak kupahami, sih. Nah, sebentar lagi lepas celana dalammu, dong."

 

"Guh, hau, m-makanya, sudah kubilang sekarang tidak boleh, kan! Mereka sedang bicara serius, tahu, hal mesumnya nanti saja! Maksudku, jangan di depan semua orang!"

 

"Kalau begitu ayo masuk rumah!"

 

"Makanya, nh, bakal kubiarkan kau melakukannya, jadi sekarang tunggu sebentar!"

 

Sambil mengejek raut wajah, kata-kata, dan atmosfer tragis dari para warga desa, Damon menikmati dan mempermainkan tubuh Najimi yang diterimanya sebagai imbalan, sembari menciumnya sepuas hati. Najimi berusaha melawan meminta agar berhenti sekarang, tetapi Damon tidak menghentikan kejahilannya.

 

"Kh, h-hei, Nak! Anu... seperti kemarin dan tadi, kalau minta tolong pembasmian monster..."

 

Pada dasarnya, melihat Najimi yang berharga menjadi korban tindakan mesum Damon secara berulang kali adalah penderitaan yang luar biasa, tetapi karena masalah di desa ini harus segera diselesaikan, Yaoji dan yang lainnya menahan rasa sakit karena tidak bisa menghentikan perbuatan di depan mata mereka lalu bertanya pada Damon. Namun, Damon menggelengkan kepalanya.

 

"Tidak mungkin."

 

"Eh?"

 

"Memang sih, kalau cuma membasmi monster yang muncul, atau

berburu sepuluh dua puluh ekor monster di gunung itu bukan masalah besar. Tapi gunung itu posisinya sudah bukan di level begitu lagi, tahu. Berbagai macam jenis ada di sana, dari yang berbahaya buat manusia sampai yang tidak. Guwahahahahaha, bukannya tidak ada cara buat melenyapkan gunung itu sekalian, tapi setidaknya kalau harus membereskan seluruh monster di dalam gunung itu, orang sepertiku pun butuh sedikit waktu. Maksudku, kelihatannya jumlahnya masih terus bertambah, dan mereka pasti berkembang biak juga, lagipula bikin repot saja! Pindah rumah itu paling realistis, tahu."

 

Ia membeberkan kenyataan kejam itu begitu saja. Ya, khusus hal ini Damon sendiri tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau cuma membasmi monster yang muncul satu demi satu sih tidak masalah.

 

Namun, sampai kapan hal itu harus dilakukan? Sampai sejauh mana? Harus membasmi seluruh monster di dalam gunung juga? Dibanding bisa atau tidak bisa, memikirkannya saja sudah bikin repot, dan kenyataan bahwa di desa ini tidak ada SDM yang bisa bertarung melawan monster secara benar membuat keputusan ini menjadi penilaian yang realistis.

 

"J-Jangan enaknya sendiri menyuruh membuang tempat ini, dong!"

 

Namun, Shesta berdiri sambil membelalakkan matanya yang berair dan berteriak pada Damon.

 

"T-Tempat ini... keluarga, seluruh warga desa, lalu kakek dan nenek biasa menghabiskan waktu di sini, tempat kenangan semuanya! Jangan enaknya sendiri menyuruh membuang tempat ini atau pindah rumah, dong!"

 

"Shesta, jangan membuat dia marah lebih dari ini."

 

"Tapi, Ibu... aku kesal banget, orang ini... uuu."

 

Jeritan histeris Shesta seolah mewakili perasaan warga desa lainnya, mereka semua menundukkan kepala dengan air mata menggenang di mata mereka karena memiliki perasaan yang sama.

 

"Cih, begitu ya. Yah, terserah kalian saja mau bagaimana. Aku sih tidak peduli."

 

Bagi Damon yang sekarang, hal itu sudah tidak penting lagi, sehingga ia mendecakkan lidah lalu memalingkan wajahnya.

 

"Pokoknya, cepat tentukan apa yang mau kalian lakukan. Sisanya coba minta tolong pada tuan tanah, atau... Pahlawan Agung? Ya, kan? Najimi."

 

"...A..."

Saat itu, satu kalimat sindiran yang dilontarkan Damon membuat Najimi dan yang lainnya teringat hal penting.

 

"Benar juga, kan ada surat yang datang dari Sekund!"

 

"Benar, Mbak! Cepat, cepat buka!"

 

Surat dari Sekund telah sampai. Mereka sampai lupa sama sekali. Najimi dan yang lainnya memancarkan raut wajah cerah seolah melihat titik harapan. Mereka tidak tahu apa isinya. Jangan-jangan isinya kabar

kalau dalam waktu dekat ia akan pulang ke desa, atau semacamnya.

 

Surat seperti apa yang ditulis Sekund setelah menjadi Pahlawan?

 

Dengan jantung berdebar Najimi membuka amplop surat itu, dan seperti biasanya surat itu berfungsi sebagai Surat Sihir yang memproyeksikan wujud Sekund di atas kertas surat.

 

Ayah, Ibu, Shesta, Najimi, dan seluruh warga desa... apa kalian sehat-sehat saja? Seperti yang kalian tahu, aku sudah menjadi Class Holder Pahlawan.

 

"A, aaah, Sekund... Sekunddd..."

 

"Kakak..."

 

Itu hanyalah sebuah surat. Sekund hanya berbicara secara sepihak.

 

Namun, Najimi dan Shesta tidak bisa menahan air mata melihat wujud

"Sekund yang telah menjadi Pahlawan" tersebut.

 

Jujur saja diriku sendiri masih diselimuti perasaan tidak percaya, tapi perlahan-lahan rasa itu mulai tumbuh... dan di saat yang sama tekanan juga terasa... Tapi agar tidak tertekan, aku berniat menuntaskan tugasku dengan baik. Soalnya, aku kan seorang Pahlawan!

 

"Ung, ung! Sekund..."

 

Lalu, bagian di mana ia mengucapkan rasa keadilan yang murni itu juga

tidak berubah. Apa pun yang dikatakan Damon, Sekund tetaplah

Sekund. Di saat Najimi dan yang lainnya lega dan memamerkan senyuman, saat itulah—

 

Lalu aku, anu... ini agak mendadak sih... sebenarnya... aku memutuskan buat menikah.

 

"...............Eh?"

 

""""""Ehh............""""""

 

Dengan wajah malu-malu layaknya wajah Sekund yang biasanya, ia

mengucapkan hal yang tidak masuk akal. Untuk sekejap Najimi dan yang lainnya tertegun tanpa memahami apa yang baru saja diucapkan.

 

Apa mereka salah dengar? Para warga desa, kedua orang tuanya yaitu Yaoji dan Fukuro, serta adiknya Shesta semuanya mematung.

 

Pasangannya adalah putri raja negara ini... putri sulung... Lalu ada empat orang putri keluarga adipati, marquis, dan count... Tambahan lagi ada putri ketua asosiasi pedagang Ibu Kota dan beberapa orang lainnya, sisanya ada Riiya-san juga...

 

Sekund berbicara dengan lancar. Di saat itu, alis Damon ikut bergerak sekilas.

 

Ya, untuk sementara ada sepuluh orang... Awalnya aku cuma menjalankan tugas menanamkan benih saja, tapi keadaannya malah jadi begitu... Pernikahannya sih masih nanti...

 

"Sekund?"

 

Karena ada kejadian seperti itu juga, lalu setelah ini sebagai Pahlawan aku harus pergi berkeliling memberi salam ke negara-negara aliansi, dan saat itu juga ada banyak reservasi yang masuk, jadi sepertinya aku tidak bisa pulang ke desa untuk sementara waktu. Sebenarnya setelah ini pun, di istana bakal ada pesta besar berisi seratus wanita dan laki-lakinya cuma aku sendiri. Ufufufu, rasanya punya tubuh berapa pun tidak bakal cukup... Tapi karena wanita-wanita cantik di Ibu Kota mencurahkan perasaan hangatnya padaku, sebagai Pahlawan aku harus membalas semuanya, kan. Lagipula sebelum terjun ke perang melawan Pasukan Raja Iblis, dibilang kalau tugas utamanya adalah membuahi wanita sebanyak mungkin, jadi mau bagaimana lagi.

 

Dan saat itulah, seluruh warga desa melihatnya. Sambil bergumam bahwa hal itu merepotkan, Sekund memperlihatkan senyum tidak berguna dan mesum yang raut wajahnya benar-benar sudah kendur.

Makanya, Ayah, Ibu, Shesta, dan seluruh warga desa untuk sementara waktu kita tidak bisa bertemu, tapi tahun depan di pesta pernikahan aku mau mengundang kalian, jadi sampai jumpa nanti di sana, ya.

 

"Sekund, k-kau, apa yang..."

 

"Sekund, aaah, kau ini beneran Sekund? Apa yang sedang kau katakan..."

 

"Kakak..."

 

Keluarganya sudah tidak bisa menganggap Sekund sebagai Sekund lagi.

 

Di hadapan wujud pria dengan wajah Sekund yang menceritakan hal-hal tidak senonoh dengan lancar, mereka menerima guncangan hebat hingga rasa marah pun tidak sanggup membumbung. Lalu, Sekund melontarkan kalimat pamungkas.

 

Makanya, ehem... Najimi.

 

"...Sekund..."

 

Sepertinya masih sangat lama sampai aku bisa mendapatkan kesucianmu... Tapi kalau kau datang ke Ibu Kota di hari pernikahan nanti, sepertinya aku bisa menyisihkan waktu puluhan menit buat berduaan, jadi apa saat itu kita bisa melakukannya dengan cepat?

 

"Ha...?"

 

Soalnya kalau menikah denganmu, bagaimanapun juga untuk jadi istri sah sudah tidak mungkin lagi karena mempertimbangkan gengsi para kaum bangsawan... Tapi untukmu teman masa kecilku, aku berhasil mengamankan posisi sebagai selir urutan ke-20!

 

Sudah, setelah itu Najimi tidak berniat mendengarkannya lagi. Najimi melipat surat itu secara kasar, dan Surat Sihir terputus di sana.

 

"A, u, a, Mbak Najimi..."

 

Shesta menatap Najimi sambil menangis tersedu-sedu.

 

"Ua, aaaa, Najimi, maafkan kami! Beneran, putra bodoh kami ini... Najimi..."

 

"Aaah, beneran maafkan kami, Najimi! Najimi!"

 

Yaoji dan Fukuro tidak sanggup menahannya lagi lalu bersujud kepada Najimi. Menghabiskan waktu sejak kecil bersama Sekund, saling mencintai, dan semua orang menantikan masa depan di mana mereka berdua bersatu. Keluarga Sekund juga menantikan hari di mana Najimi menjadi keluarga kandung mereka.

 

 Dan yang paling utama, sosok yang memberi semangat dan menjadi penopang hati bagi Sekund yang terhalang oleh tembok bernama Damon di Ibu Kota agar tidak patah semangat adalah Najimi. Pengkhianatan sebesar ini kepada Najimi. Sebagai keluarga, rasa bersalah yang memenuhi dada mereka tidak cukup hanya dengan bersujud.

 

"...Bukan... kebohongan..."

 

Di sisi lain, Najimi lemas dan menundukkan kepalanya. Perkataan yang diucapkan Damon. Bahwa Sekund merebut wanita milik orang lain, dan sekarang sedang melakukan hal seperti itu dengan banyak wanita—kata-kata Damon itu. Najimi tadinya percaya bahwa Sekund bukan pria seperti itu. Namun, inilah hasilnya.

 

"Guwahahahahahahaha, yah, mau bagaimana lagi, kan? Si bajingan itu sama seperti aku sampai belum lama ini masih perjaka, dan baru saja tahu enaknya hal ini, tahu."

 

Di sisi lain, saat nama Riiya keluar dari mulut Sekund, Damon sempat menjadi agak sentimental, tetapi sekarang dengan pikiran "rasakan itu", ia mengejek Najimi dan yang lainnya yang sedang menerima guncangan.

 

"Aku juga sempat menahannya dengan pikiran 'cuma buat wanita yang kucintai saja~', tapi sejak berhubungan sama Strayer aku beneran kecanduan. Keinginan buat bersetubuh sama banyak wanita itu ya memang seperti itu, kan? Yah, walau aku juga terkejut dia bisa berubah sampai mengatakannya secara santai pada tunangannya di kampung halaman, sih."

 

Gelar Pahlawan telah mengubah seluruh diri Sekund. Sambil mengatakan bahwa hal itu adalah sesuatu yang mau bagaimana lagi dan bisa dipahami, Damon merengkuh Najimi dari belakang.

"Begitulah. Bajingan sampah seperti itu cepat-cepat dilupakan saja lalu mari nikmati bagian hari ini, oke? Soalnya besok pagi aku dan Strayer bakal pergi, jadi hari ini mari lakukan semalaman."

 

Kata-kata yang seolah memberi pukulan beruntun kepada Najimi yang sedang menerima guncangan hebat. Rasa tidak punya belas kasihan yang teramat sangat membuat para warga desa hampir meninggikan suara mereka. Namun bagi Najimi, semuanya sudah tidak penting lagi.

 

"...Boleh... Damon. Ayo pergi ke rumahku."

 

"Oho?"

 

"...Entah kenapa... aku sudah lelah... lakukan saja sesukamu."

 

"Tentu saja♪"

 

Biarpun tubuhnya dinodai oleh pria yang tidak disukainya, Najimi bertahan dengan menjadikan Sekund sebagai penopang hatinya.

 

Namun, hal itu kini telah hancur sepenuhnya. Menghadapi mata sakit Najimi yang tampak pasrah, Yaoji dan yang lainnya bahkan tidak sanggup bersuara lagi.

 

"Sip, Strayer, kau juga ikut gabung! Setelah berhubungan sama sepasang kakak beradik rumah bordil tadi siang, aku jadi ingin main banyak orang juga!"

 

"Sesuai keinginan Anda."

"Guwahahaha, Najimi~ hari ini tidak akan kubiarkan tidur jadi bersiaplah, ya? Ini persetubuhan terakhir."

 

"...Bising banget... Sudah cepat... Lakukan saja sesukamu."

 

Rapat soal masa depan desa pun sudah tidak penting lagi bagi Najimi.

 

Sekarang dengan perasaan tidak peduli lagi akan jadi bagaimana, ia digendong oleh Damon dan dibawa pergi begitu saja. Yang tersisa pada orang-orang dewasa di belakang hanyalah keputusasaan semata.

 

"Sudah berakhir... Desa ini... sudah..."

 

Seseorang bergumam lirih demikian. Tidak ada seorang pun yang sanggup mengucapkan "tidak mungkin begitu" atau "jangan menyerah" atas perkataan tersebut.

 

"Mana mungkin..."

 

Shesta yang mencintai desa ini tidak punya pilihan selain berputus asa

melihat wujud orang-orang dewasa yang telah menyerah. Namun meski begitu, ia tidak ingin menyerah.

 

(Aku tidak mau... kalau begini... Kakak, kenapa tidak datang menolong? Kenapa tidak segera pulang? Kakak... Kakak...)

 

Namun meski begitu, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Satu-satunya harapan yaitu kakaknya Sekund sama sekali tidak kelihatan bakal pulang. Kalau begini surat yang mereka kirimkan pun pasti tidak akan segera dibaca. Malah, mereka tidak tahu esok hari akan jadi bagaimana. Seperti kata Damon, tidak ada pilihan lain selain membuang desa ini bersama-sama lalu kabur. Atau, meminta bantuan kekuatan dari Damon.

 

Namun, menggerakkan Damon dengan permintaan tolong atau rasa kasihan adalah hal yang mustahil. Apalagi Damon menyimpan dendam pada Sekund. Untuk menggerakkan Damon yang seperti itu, tidak ada cara lain selain membayar imbalannya.

 

"Tidak apa-apa... Mbak Najimi saja sudah berjuang keras... Aku juga..."

 

Imbalan yang sanggup dibayar oleh dirinya yang hanya seorang gadis desa yang tidak begitu kaya, hanya ada satu. Sebenarnya ia tidak mau.

 

Namun mengingat wujud Najimi tadi malam, Shesta menetapkan tekad lalu bangkit berdiri.

 

"Guwahahaha, kau agresif banget ya, Najimi~. Mau melampiaskan pada Sekund, hah?"

 

"Tidak tahu, sudah, tidak peduli lagi..."

 

Najimi yang bersikap pasrah akibat pengkhianatan pria yang dicintainya. Ciuman yang sangat dibencinya tadi kini diterimanya tanpa perlawanan, malah disambut secara agresif. Dan kedua lengannya dilingkarkan sendiri ke tubuh Damon.

 

"Master, malam ini pun silakan nikmati sesuka hati Anda."

Meski tidak diperlihatkan di wajahnya, entah kenapa menyalakan rasa bersaing terhadap Najimi yang seperti itu, Strayer juga maju secara agresif meminta Damon.

 

(Guwahahaha, mantap banget. Tapi sayang ya... Najimi... Awalnya cuma buat melampiaskan kekesalan pada Sekund atau murni cuma ingin bersetubuh saja, tapi ternyata kecocokan kita tidak buruk, tahu... Kalau sama Strayer sih setelah ini masih bisa dilakukan, tapi kalau sama Najimi persetubuhan terakhir lalu besok berpisah itu agak gimana ya... Bagaimana kalau menyelamatkan dia saja dengan imbalan membiarkan aku menidurinya terus ke depannya?)




Sambil tenggelam dalam kenikmatan bersetubuh dengan dua orang wanita tersebut, Damon mendadak berpikir. Rasa sukanya pada Strayer memang tidak berubah, tetapi ia juga mulai cukup menyukai Najimi. Ia merasa sayang jika harus melepaskan wanita ini hari ini.

 

"Hei, Najimi~. Kalau cuma tubuhmu seorang rasanya tidak sepadan untuk menyelamatkan desa ini... tapi kalau ke depannya kau mau terus membiarkanku menidurimu, menyelamatkan dirimu saja boleh juga, tahu?"

 

"Sudah kubilang, kan? Aku sudah tidak peduli lagi..."

 

"Ha?"

 

"Soal Sekund... soal diriku, soal desa... entah kenapa semuanya terasa membodohkan... Jangan bicara hal yang tidak perlu... lakukan saja."

Benar-benar pasrah. Najimi sudah tidak peduli lagi entah apa yang akan terjadi pada desa, atau apakah dirinya akan mati. Ditiduri oleh Damon pun, bukan lagi untuk membayar imbalan, melainkan murni pelarian karena saat ini ia hanya ingin melupakan kenyataan.

 

"Cih... membosankan banget... Yah, kalau kau sampai berkata begitu..."

 

Melihat Najimi yang sangat berputus asa hingga kehilangan ketertarikan pada hidupnya sendiri, Damon merasa bernegosiasi lebih jauh dari ini pun mustahil sehingga memutuskan untuk menyerah. Namun, saat itulah—

 

"Damon-san."

"?"

 

"Eh?"

 

Kedatangan tamu secara mendadak di rumah Najimi. Orang itu adalah Shesta.

 

"Ooh, ada apa? Emm?"

 

Melihat Shesta yang muncul, Damon berniat menertawakannya karena menduga gadis itu datang untuk meminta "tolong selamatkan kami" lagi, tetapi kali ini berbeda. Shesta memiliki sorot mata yang telah menetapkan tekad.

 

Dan penampilannya adalah dandanan terbaik yang bisa dilakukannya.

 

Mengenakan perhiasan, memakai riasan wajah yang biasanya tidak pernah dipakainya, dan mengenakan pakaian terbaik seolah-olah gaun yang dipakai untuk pesta pernikahan di desa.

 

"Shesta... a-apa yang... kh, kau jangan-jangan!"

 

Wujud Shesta yang berbeda dari biasanya itu langsung dipahami oleh

Najimi, membuat Najimi yang tadinya pasrah menjadi tersentak. Dan entah kenapa Najimi langsung paham apa yang hendak diucapkan Shesta setelah ini. Sama seperti dirinya tadi malam.

 

"Damon-san, kami mohon. Tinggallah lebih lama di desa ini dan lindungilah desa kami! Apa pun yang akan dilakukan setelah ini, menetapkan keputusan sebelum besok adalah hal yang tidak mungkin... jadi setidaknya lindungilah desa ini sedikit lebih lama lagi! Kami mohon!"

 

Shesta kembali menyampaikan permintaannya secara langsung. Damon juga merasakan kesungguhan perasaan itu, sehingga ia menghentikan sementara perbuatannya bersama Najimi dan Strayer lalu bangkit berdiri di hadapan Shesta. Berdiri di hadapan Shesta dalam wujud telanjang yang memancarkan aroma pejantan dan keringat yang terpeluh seluruhnya.

 

"Imbalannya?"

 

Hanya dengan melihat wujud telanjang Damon saja, Shesta yang biasanya akan memerah padam wajahnya atau berair matanya, kini meski wajahnya merona, manik matanya menatap lurus kembali ke arah

Damon, lalu menghadapi pertanyaan Damon ia mengangkat roknya dan memamerkan pakaian dalam putihnya.

 

"Selama tinggal di desa ini, kau boleh menjadikan diriku milik Damon-san. Berapa kali pun, apa pun bakal kulakukan. Kau boleh melakukan apa saja padaku. Kesucianku juga bakal kupersembahkan. Makanya, kami mohon."

 

Menghadapi tekad itu, Najimi yang biasanya akan menjadi orang pertama yang menghentikannya kini kehilangan kata-kata. Shesta datang ke mari karena sudah memutuskan untuk melakukan hal itu.

 

Shesta yang dikenalnya sejak kecil dan dianggap masih anak-anak, kini berhadapan dengan Damon menggunakan wajah seorang wanita.

 

(Hoo. Bukan cuma tunangan Sekund, tapi adik kandung Sekund juga

bakal kudapatkan! Guwahahaha, si bajingan itu mungkin sudah tidak tertarik sama desa seperti ini... tapi tetap saja, adik perempuan Sekund... menggoda banget!)

 

Lalu Damon juga mabuk oleh rasa kejahatan yang membumbung tinggi dan menjadi terangsang.

 

"Ke-napa kau sampai melakukan hal seperti itu? Padahal tinggal pindah rumah saja sudah cukup, tapi demi orang-orang dewasa yang bahkan tidak mau melakukan hal itu, kau sampai mau begini?"

 

"Karena mereka keluargaku! Tidak ada alasan lain!"

 

Menghadapi Damon yang hendak bertanya kenapa harus melakukan hal seperti itu sampai mengalami penderitaan, Shesta menjawab demikian tanpa ragu.

 

"Guwahahaha, demi cinta tanpa imbalan kau sampai membayar kesucian berharga sebagai imbalan, ya... seperti orang bodoh... Tapi tidak akan kusegan-segan mengambinya!"

 

Sambil menertawakan jawaban itu, di detik berikutnya Damon merenggut Shesta ke dalam pelukannya.

 

"Permintaanmu kuterima!"

"Ah, nhmu!"

 

"Njurururu!"

 

Damon menerimanya. Dan tanpa bertanya lagi ia langsung menyumpal bibir kecil Shesta. Tentu saja itu adalah ciuman pertama bagi Shesta.

 

Namun meski sempat terkejut sejenak, Shesta segera melemaskan tubuhnya, tidak melawan, dan pasrah dibiarkan melakukan apa saja oleh Damon.

 

"Boleh juga, Shesta. Selama berada di desa ini, kau bakal kujadikan milikku sama seperti Strayer. Selama waktu itu, apa pun yang terjadi desa ini bakal kulindungi!"

 

"Baik, terima kasih banyak... Damon-san."

 

Mendengar persetujuan Damon, Shesta yang merasa lega langsung memasang raut wajah meleleh hingga kakinya nyaris lemas. Damon menggendong Shesta yang seperti itu.

 

"Benar juga, aku memikirkan hal yang lebih menarik."

 

"Eh?"

 

"Mulai hari ini kau adalah milikku, tapi jangan pakai bahasa formal. Lalu panggilan untukku adalah────"

 

"I-Eh, hal itu..."

"Oya? Katanya mau menuruti apa saja yang kukatakan?"

 

"Kh... u, uuu..."

 

Lalu menyusul Najimi, Shesta juga────

 

"Kh... makanlah aku, Kakak Damon!"

 

"Guwahahaha, lalu lalu!"

 

"K-Kakak Damon, aku sa-sangat menyukaimu."

 

"Kalau begitu, selamat makan!"

 

Di saat itu juga Damon menghempaskan Shesta yang digendongnya ke atas tempat tidur. Dan di saat yang sama dirinya sendiri ikut melompat ke arah Shesta, lalu meluluhlantakkan bibir kecil yang gemetar itu dengan ciuman yang pekat.

 

"Nh, nhmu, nnn!"

 

"Ooh, kecil banget~ lembut banget, nih nih, cium lagi dong, julurkan lidahmu, sambil meminum air liurku katakan sambil tersenyum!"

 

"Ugh, a, aaa..."

 

Tentu saja itu adalah ciuman pertama Shesta. Sama sekali tidak ada suasana romantis. Bukan hal untuk saling memastikan rasa cinta dengan pasangan, melainkan perbuatan melumurinya dengan air liur lalu menaklukkan dan meluluhlantakkannya seolah Damon menjadikan pasangannya sebagai miliknya sepenuhnya.

 

(Tidak boleh, tidak boleh menangis. Mbak Najimi saja sudah berjuang keras... makanya kali ini giliran aku, aku yang bakal... Kakak... kh, Kakak bodoh! Bodoh! Aku sudah sa-sangat membencim—)

 

Kenapa dirinya harus mengalami hal seperti ini, air mata menetes deras, tetapi Shesta menggigit bibirnya dan menahannya. Melontarkan seluruh rasa benci pada kakak yang paling dicintainya, kini ia hanya mengarahkan senyum buatan sekuat tenaga pada Damon sembari mengulurkan kedua tangannya, dan meski kaku ia berusaha keras menjulurkan lidahnya membalas ciuman Damon, lalu meminum air liur yang dipaksa masuk oleh Damon ke dalam mulutnya.

 

(Tidak mau, air liur, kotor banget, tidak boleh, padahal tidak boleh, uuu, tapi harus kuminum, aku harus membuat orang ini senang, demi

menyelamatkan desa ini dan semuanya!)

 

Meyakinkan dirinya sendiri, Shesta menuruti permintaan Damon

dengan patuh.

 

"Suka, Kakak Damon, aku sangat suka. C-Cium lagi, chuh chuh."

 

"Aah, imut banget kau, adikku Shesta! Apa air liur Kakak enak?"

 

"Ung, karena ini air liur Kakak Damon yang sangat kusukai jadi rasanya enak!"

 

Shesta merasa merinding saat mengucapkannya.

 

(Bohong, ini bohong! Tidak enak! Cuma terasa jijik saja! Tapi kalau tidak bilang begini nanti semuanya... makanya sebenarnya bukan begitu!)

 

Dirinya hanya sedang menahannya saja. Jika tidak meyakinkan dirinya sendiri begitu ia merasa akan hancur, Shesta berteriak berulang kali di dalam hatinya. Namun serangan Damon tidak berhenti.

 

"Chuh, pipi, sret sret."

 

"Yaan, geli, menjilat wajah itu..."

 

"Tidak boleh, menjilati tubuh adik perempuan itu kan hak istimewa seorang kakak. Pipimu juga imut ya~ nchuh."

 

"Nhii!"

 

Tidak terbatas pada mulut saja, ciuman itu berpindah ke pipi, leher, hingga tulang selangka, dan di saat Shesta sedang mengerang kesakitan,

Damon meluncurkan tangannya menyikap gaun Shesta, hingga pakaian dalam, pusar, dan dadanya terpampang jelas.

 

"U, a, a..."

 

"Ohoo, lebih kecil dari Najimi dan Strayer... tapi kelihatannya lezat!

Nhmu, am, am."

 

"Uu, u, ung... makanlah dengan lezat, ahya-a!"

 

Meski sudah menetapkan tekad dan berjanji akan menahannya, secara

refleks suaranya tetap lolos. Disentuh, dipermainkan, dan dijilat di bagian yang belum pernah disentuh oleh siapa pun selama ini. Dan reaksi itu membuat Damon makin terangsang, melancarkan serangan yang jauh lebih pekat, cepat, dan bertenaga.

 

"Shesta, nh, jurururu, bujurururu."

 

"Ahyaaaa, ga, aaaa, nnha, geli, annh, apa-apaan ini, a, ahin."

 

"Imutnya, imutnya, Shesta. Bagian sini juga... ooh, benar-benar daerah gundul."

 

"Hii! S-Sebentar, bagian situ, afui, a, afuuu."

 

Tekad yang dijanjikannya hancur dalam sekejap. Menghadapi rangsangan pertama dalam hidupnya Shesta mengerang hebat, lalu secara bertahap raut wajah, kepala, dan hatinya mulai berubah.

 

(Luar biasa, panas, aneh, tapi tidak sakit... Malah... orang ini menjilati seluruh tubuhku, menyentuh seluruh tubuhku, diriku dari ujung ke ujung seluruhnya... Apa tidak kotor, ya? Apa rasanya enak, ya? Bersungguh-sungguh bilang aku lezat lalu memakan diriku, orang ini, a, tidak boleh, dijilati sret sret... a, wajahnya mendekat... tidak boleh, kalau dicium dalam kondisi begini...)

 

Shesta mulai tidak paham lagi. Bingung, panik, dan di tengah-tengah itu tanpa disadari wajah Damon yang menatapnya secara lurus berada dalam jarak sangat dekat. Lalu Damon mengumumkannya.

 

"Imutnya, Shesta. Seluruh keinginanmu bakal kuwujudkan. Demi dirimu, seluruh monster yang menyerang desa ini bakal kulibas habis. Demi dirimu yang imut ini."

 

"Ah... nh... nh."

 

Bibir yang disumpal. Di tengah kepalanya yang tidak bisa berpikir dengan baik karena seluruh tubuhnya diraba-raba dari ujung ke ujung, kata-kata tanpa kebohongan dan ciuman dilontarkan dari depan. Tanpa disadari Shesta sudah melupakan rasa benci, penderitaan, dan kesedihan, lalu meleleh begitu saja.

 

(Ciuman, orang yang begitu kuat dan tangguh... bilang kalau aku imut, sampai sejauh ini... Orang yang bersetubuh sama wanita sangat cantik seperti Strayer-san, memikirkanku sampai sejauh ini... aah... luar biasa, orang ini menyukaiku... panas)

 

Padahal sampai beberapa saat lalu ia berteriak berulang kali di dalam hatinya bahwa "dirinya hanya sedang menahannya, dan ini semua bohong", tetapi kini sudah berbeda.

 

"Kakak Damon, ini janji ya, chuh, lindungi ya, nchuh, kau boleh melakukan hal yang kau sukai sebanyak-banyaknya, nchuh, jadi lindungi ya."

"Aah, adiku Shesta yang imut. Demi dirimu aku bakal melakukannya, nchuh."

 

"Aahn."

 

Tanpa disadari suara mendesah manja lolos dari mulut Shesta.

 

Mengerang dan meliukkan tubuhnya secara refleks, hal itu bukan lagi rasa benci ataupun penolakan, melainkan murni kenikmatan.

 

"Nh, Kakak Damon, Kakak Damon."

 

"Shesta, nchuh, nh."

 

Shesta bahkan tidak menyadari bahwa seluruh pakaiannya telah

dilepaskan saat dirinya sedang meleleh. Bahkan pakaian dalamnya sudah dilepaskan oleh Damon dan dilemparkan ke samping wajahnya hingga masuk ke dalam sudut pandangannya, tetapi Shesta yang sekarang sudah tidak peduli dengan hal itu. Namun tentu saja di detik berikutnya matanya membelalak.

 

"Kalau begitu, sebentar lagi mari kita santap hidangan utamanya."

 

"Hidangan utama... fue!"

 

Itu adalah pedang perkasa yang telah menaklukkan Strayer dan merontokkan cinta Najimi.

 

"E-Eh, bohong, apa-apaan itu, eh, kenapa... beda... yang kulihat waktu

Ayah berjalan bertelanjang dada selesai mandi, atau waktu masih kecil

mandi bareng Kakak... milik laki-laki itu... eh, bohong..."

 

Jelas berbeda. Ukurannya. Tingkatannya. Skalanya. Kehebatannya.

 

Meski Shesta mengetahuinya secara pengetahuan, ini adalah pertama kali dalam hidupnya melihat posisi siap tempur milik laki-laki.

 

"K-Kalau sebesar itu... aku... b-bisa robek jadi dua..."

 

"Tidak apa-apa. Sudah kubuat meleleh dan lentur, kok."

 

Meski sudah menetapkan tekad, rasa takut kembali merayapi tepat di depan mata, membuat Shesta terengah-engah dan gemetar. Namun Damon tidak berhenti.

 

"T-Tapi, nnn."

 

Suara ketakutan itu kembali disumpal Damon dengan ciuman. Seolah mau melahapnya Damon mengisap bibir kecil Shesta, menyedot lidahnya sembari mengempotkan pipi.

 

"Ngoooooogooohoo."

 

Ciuman pekat, padat, dan dahsyat yang membuat kesadaran Shesta terpusat di tubuh bagian atas, bukan tubuh bagian bawah. Shesta yang gemetar merasa kepalanya meleleh dan kesadarannya perlahan menjauh seolah kekurangan oksigen. Di celah itu Damon menempel rapat pada Shesta.

"Nhmuu!"

 

Shesta menyadarinya. Namun karena ciuman sembari dipeluk erat, ia tidak bisa mengeluarkan suara ataupun meliukkan tubuh untuk kabur.

 

Lalu, dipaksa masuk.

 

"Nhh, nh──, nhhh!"

 

Ciuman yang bahkan membuatnya tidak bisa bernapas membuat air mata menetes deras. Hanya saja, berkat ciuman yang membuat kesadarannya menjauh itu, rasa sakit yang dahsyat menjadi agak berkurang, mungkin sebuah keberuntungan di tengah kemalangan.

 

"Nguh, ohoo!"

 

"A~!"

 

Ditembus, Shesta kini nyaris pingsan. Damon sendiri merasakan kenikmatan tanpa batas dari tubuh Shesta yang berbeda dari Strayer, Najimi, maupun sepasang kakak beradik WTS tadi siang.

 

"S-Ohoo, luar biasa, ohoo. Sempit banget... tapi gawat! Ini benar-benar

tidak tahan!"

 

"Au, ka, aga, kak."

 

"Aku menyukaimu, Shesta, Shesta! Terimalah Kakak!"

 

"Ogaaaagaaa, hogooogaaa."

 

Damon memeluk Shesta dengan erat dan mengerahkan seluruh jiwa raga serta tenaganya untuk menaklukkannya. Demi menjadikan seluruh dirinya sebagai miliknya, ia menembus, mengobrak-abrik, mempermainkan, dan mewarnainya.

 

"Aku benar-benar menyukaimu! Mulai sekarang kau adalah milikku seumur hidup! Cuma milikku seorang!"

 

Mendeklarasikan hal itu lalu mengeksekusinya, Damon tidak mendengarkan suara siapa pun lagi. Ia hanya melampiaskan hasratnya pada Shesta sesuka hatinya. Di sisi lain Shesta telah kehilangan akal sehatnya di tengah kesadarannya yang samar-samar.

 

(Aah, luar biasa... Mulai sekarang aku adalah adik perempuan Kakak Damon seumur hidup. Walau adik perempuan, aku bakal sering bersetubuh sama Kakak lalu jadi ibu. Mulai sekarang apa pun yang terjadi Kakakku adalah Kakak Damon, sambil sret sret chupa chupa bermesraan, aku adalah milik Kakak Damon dan dipermainkan seperti boneka, tapi aku disayang sampai dicium dan dimakan seperti ini. Benar, aku disayang sama Kakak Damon. Bagian dalam mulutku, bagian dalam perutku, dadaku, pantatku semuanya sudah dijadikan milik Kakak Damon. Aneh banget, aku tidak paham, tapi rasanya bagian dalam kepalaku mau terbang ke suatu tempat. Aku tidak paham. Sudah tidak paham lagi, tapi tidak apa-apa. Biarlah aku jadi aneh sekalian.)

 

Dengan raut wajah meleleh, Shesta melingkarkan kedua tangan dan kakinya sendiri ke tubuh Damon. Bukan lagi seorang putri ataupun adik perempuan, yang ada di sana hanyalah seorang wanita biasa.

 

"Ka... kak..."

 

"?"

 

"Kakak Damon... sayangilah aku..."

 

"!"

 

Gairah Damon mencapai puncaknya, dan seluruh pergerakannya melakukan spurt.

 

"Shestaaa, Shestaaa, Shestaaa! Uoooo, adikkuuu!"

 

"Kakak Damonnnnn!"

 

Suara jeritan gairah dari pejantan dan betina yang tenggelam dalam persetubuhan bergema luas.

 

"Kh... Damon! Shesta! Sebentar, suaranya terlalu... Shesta, kau tidak apa-... apa?"

 

Sudah tidak boleh lebih dari ini. Najimi yang merasa Shesta akan hancur tergesa-gesa berlari ke dalam kamar. Namun semuanya sudah terlambat.

 

"Ehe, Kakak Damon~"

 

Sambil digendong oleh Damon, Shesta bermanja-manja hingga meleleh sepenuhnya. Wujud itu adalah wujud Shesta yang belum pernah dilihat oleh Najimi selama ini.

 

"Guwahahaha, hei, Najimi! Anak ini mantap banget, tahu! Kau juga ikut

bergabung! Strayer juga kemarilah! Mari kita lakukan bersama! Mari bersetubuh sepuasnya!"

 

"Damon, k-kau... Aaah, Shesta..."

 

"Master, diterima."

 

Sambil mempermainkan Shesta, Damon yang suasana hatinya sangat bagus memanggil Najimi yang sedang memegang kepalanya serta Strayer. Lalu sambil menggendong Shesta, ia menarik pergelangan tangan mereka berdua untuk merenggut mereka bertiga sekaligus dan mulai menyantapnya.

 

"Oraaa, lezatnya! Guwahahaha, mantap banget! Nikmatnya~! Tidak tahan lagi!"

 

"Aah, k-kau pria mesum, a, tidak boleh!"

 

"Master, sungguh gagah, luar biasa."

 

"Aha, semuanya dimakan nyam nyam sama Kakak Damon~"

 

Semuanya bertelanjang dada, para wanita dipermainkan seluruh tubuhnya oleh Damon lalu dimakan. Akibat cumbu rayu dan tindakan Damon, ketiga wanita itu menjadi gila kegirangan.

 

"Guwahahaha, hei kalian bertiga, tempelkan tangan ke dinding lalu arahkan pantat kalian ke mari! Lalu bertiga bersama-sama merayulah padaku! Inginkan aku! Goyangkan pantat kalian dan godalah aku!"

Permintaan Damon makin melampaui batas.

 

"J-Jangan bercanda, siapa juga yang mau melakukan hal mesum begitu..."

 

Najimi menolaknya dengan wajah memerah padam. Namun dua orang lainnya tidak demikian.

 

"Master, berikanlah belas kasihan Anda... Master, pada betina yang mesum dan bodoh ini berikanlah pedang berharga milik Master yang gagah berani."

 

"Uu, Kakak Damon... nih lihat, goyang-goyang, pantatku goyang-goyang."

 

Strayer meminta pada Damon dengan tarian goyang pantat mesum yang tidak terbayangkan dari penampilannya yang anggun. Shesta meski kaki dan pinggangnya gemetar hebat, memamerkan raut wajah merona sembari menggoyangkan pantat kecilnya.

 

"Guwahahaha, bagus banget. Hei, Najimi! Kau mau bagaimana? Apa kau mau membiarkan adikmu saja yang melakukannya lalu kabur demi menyelamatkan dirimu sendiri, hah?"

 

"Kh, p-pria paling tidak berguna! Penakut! U, uuu, m-mari kita lakukan sekalian!"

 

Akibat provokasi Damon, Najimi ikut bersikap nekat.

 

"Nih lihat, goyang-goyang, nih pantatku. Pantatku digoyang-goyang. Begini sudah cukup, kan?"

 

Pemandangan tiga orang wanita cantik berbaris menggoyangkan pantat mereka. Damon merasa diselimuti perasaan seolah telah mendapatkan seluruh isi dunia ini, lalu menyantap mereka berurutan dari ujung.

 

"Aah, semuanya milikkuuu!"

 

"Benar sekali, Master."

 

"Kakak Damon, luar biasa~"

 

"Aahn astaga, dasar super mesum!"

 

Pada akhirnya mereka berempat melanjutkan pesta persetubuhan sampai pagi hari.

 

Pengalaman Damon

● Mantan Saint Strayer: 40 Ronde

● Gadis Cantik Dada Besar Desa Najimi: 9 Ronde

● Adik Perempuan Pahlawan Shesta: 4 Ronde

● Sepasang Kakak Beradik Malang Rumah Bordil Aarne dan Maai: 5 Ronde + 5 Ronde

 

(TL/N: Mantap sekali pengalamannya ya, tambahkan lagi aja mas Damon



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close