NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha Rakusen Yarou wa Daiakuou e Nakama ni Suterare Tsuihou Sareta Ore wa - Uragitta Yatsura no Onna o Katappashi kara Netori Tsukusu Volume 1 Chapter 2

Bab 2: Jatuh dan Nikmati Sampai Akhir


Damon yang kelelahan dan kehilangan kesadaran akhirnya terbangun.

 

Langit-langit yang tak biasa. Ruangan kecil. Lampu kecil menyala di sisinya, dan di berbagai sudut ruangan berserakan peralatan yang tampaknya digunakan untuk bertani serta jerami.

 

"Di mana ini..."

 

Damon memiringkan kepalanya tanpa tahu di mana dirinya berada.

 

Lalu, ia merasakan aroma yang menggiurkan dan kehadiran seseorang yang mendekat.

 

"Anda sudah bangun, ya."

 

"Saint."

 

Yang membuka pintu dan masuk ke ruangan adalah sang Saint. Di

tangannya, ada nampan berisi sup beruap dan roti.

 

"Ini adalah desa kecil yang berada di ujung paling selatan Kekaisaran...

Desa Dokaina... Saya menyewa gubuk ini dari warga desa."

 

"Dokaina... Rasanya pernah dengar..."

 

"Saat Anda pingsan, desa inilah yang paling dekat."

Saat diberi tahu lokasinya, Damon merasa pernah mendengarnya di suatu tempat, tetapi ia tidak langsung ingat secara pasti. Lagipula, ketika dibuang dari Ibu Kota, ia lari tanpa hirau, dan setelah itu hanya menggelandang tanpa arah dan tujuan, sampai-sampai ia sendiri tidak paham betul sedang berada di mana.

 

"Saya pikir Anda akan segera bangun, jadi saya meminta sedikit makanan dari warga desa. Silakan dinikmati."

 

Seperti yang dikatakan sang Saint, aroma sup hangat membangkitkan

kesadaran perutnya yang lapar. Ia memang sudah lama tidak makan dan minum. Namun, meski diberi tahu begitu, tangan Damon tidak mengulur dengan penurut.

 

"Aku tidak menerima sedekah tanpa imbalan... Apalagi dari orang sepertimu."

 

Malah, keberadaan sang Saint di depan matanya kembali memancing amarah yang membara dari dasar hatinya.

 

"Ini bukan sedekah. Pertama-tama pulihkanlah tubuh Anda sedikit saja. Saya tidak akan lari. Penebusan dosa pasti akan saya lakukan."

 

Sambil memahami isi hati Damon yang seperti itu, sang Saint merapat ke sisi Damon dan menyodorkan sup yang disendoknya ke arah Damon.

 

Namun, meski begitu Damon tidak mau menerimanya.

 

"Penebusan dosa? Mau bagaimana caranya?"

"Pertama-tama, saya akan memublikasikan ke seluruh penjuru negeri bahwa Upacara Pemilihan kali ini adalah kesalahan saya, lalu menyampaikan bahwa Anda adalah Class Holder kelas tertinggi yaitu Pahlawan Tengen. Dengan begitu, nama buruk Anda akan segera—"

 

"Lalu menyuruhku disukai lagi oleh orang-orang yang mendekatiku, lalu membalikkan telapak tangan dan ribut menyumpahiku penipu saat tahu aku cuma Rakyat Jelata, begitu? Mau muntah aku dengarnya."

 

"Pahlawan Tengen adalah Class Holder yang jauh melampaui Pahlawan biasa. Sekalipun bukan di Kekaisaran, termasuk di negara-negara lain, Class Holder seperti itu akan—"

 

"Dan hal yang paling kuinginkan sudah direbut begitu saja setelah aku dicampakkan. Wanita yang dari dulu kusukai... yang berniat kunikahi kalau sudah jadi Pahlawan... tahu!"

 

Mengucapkan hal itu, Damon tertawa terbahak-bahak dalam kejengkelan seolah segalanya sudah tidak masuk akal lagi.

 

"Semuanya sudah hilang... Hidupku yang dulu maupun yang akan datang, semuanya... Sudah, semuanya tidak masuk akal. Hari-hari di mana aku berusaha jadi Pahlawan dan pahlawan besar demi wanita itu dan demi orang-orang itu, semuanya hancur."

 

Menghadapi kata-kata pasrah dari Damon, sang Saint menggigit bibirnya erat-erat, meletakkan nampan yang dipegangnya ke atas rak kecil di samping, lalu kembali menundukkan kepala kepada Damon.

"Setelah membersihkan nama buruk Anda, dari situlah penebusan dosa saya yang sesungguhnya dimulai. Apa pun yang bisa saya lakukan, tolong katakan apa saja."

 

"Apa saja, katamu?"

 

"Ya, apa saja."

 

"Cih, gampang banget ngomongnya. Dasar Saint tidak berguna yang cuma bisa omong besar."

 

"Khusus untuk hal ini, saya sama sekali tidak berdusta."

 

Akan melakukan apa saja demi menebus dosa. Sambil mengatakan hal itu, sang Saint mengeluarkan sesuatu dari dalam bajunya. Itu adalah kalung leher yang terukir pola misterius.

 

"Tolong, berikan hukuman apa pun pada tubuh ini. Saya bukan lagi seorang Saint, melainkan hanya boneka yang bernapas. Membunuh saya dalam sekali tebas, menyiksa saya tanpa batas hingga hancur, atau mempermainkan tubuh ini sesuka hati Anda, saya akan menerima segala permintaan maupun perintah Anda, serta mempersembahkan tubuh, hati, dan jiwa saya sepenuhnya untuk menebus kesalahan ini... Tolong... My Master..."

 

Itu adalah pernyataan niat untuk mempersembahkan sisa hidup sang

Saint seluruhnya sebagai milik Damon. Namun, hal itu justru membuat Damon makin jengkel.

"Ha! Apa-apaan, penebusan dosa! Apa saja! Saint rumahan bisa bicara apa, sih! Rasa sakit? Dipermainkan juga boleh? Tidak ada dusta? Jangan bercanda! Kalau begitu, hal yang seperti ini juga bakal kau terima, hah?!"

 

"Nhh, a..."

 

Di detik berikutnya, Damon mencengkeram pergelangan tangan sang Saint, menariknya paksa hingga tumbang ke lantai, lalu merobek pakaian sucinya secara kasar.

 

"Tidak bakal ada komplain walau tubuh suci yang dipersembahkan untuk Dewa ini kuperkosa sepuasnya, hah?! Aku tidak menerima ini secara cuma-cuma... Kalau imbalannya adalah seumur hidupmu, hal seperti ini juga termasuk di dalamnya, kan?!"

 

Pakaiannya dirobek, memperlihatkan kulit halus nan mulus tanpa noda di baliknya. Pakaian dalam putih bersih. Tubuh wanita penuh keanggunan yang bahkan terasa lancang jika disentuh. Damon menekan dengan nada bicara kasar seolah berniat meluluhlantakkan tubuh itu sepuasnya. Sang Saint yang tadinya terkejut hingga tubuhnya menegang, langsung membentangkan kedua tangannya.

 

"Ya... Silakan... Sesuai kehendak hati Anda."

 

Sang Saint menunjukkan bahwa menolak adalah hal yang mustahil, membuka kedua tangannya untuk menyambut Damon.

 

Saint dari Kota Suci Netral Abadi, dalam arti tertentu adalah sosok yang dilindungi secara ketat oleh seluruh umat manusia di bumi. Raganya dijamin oleh Negara Kolaborasi, dan jika mengunjungi negara lain, ia adalah sosok yang menerima penyambutan tingkat tamu negara.

 

Keberadaannya berada di ranah yang berbeda dari Class Holder maupun Pahlawan, dan jika sampai ada yang melukainya, orang tersebut akan dijatuhi hukuman teramat berat, serta negara tersebut dikatakan akan kehilangan kepercayaan secara besar-besaran dari seluruh negara

anggota aliansi.

 

"Aku bakal memperkosamu, lho?"

 

Merobek pakaian Saint seperti itu, membuatnya telanjang, dan menodai tubuhnya adalah hal yang sangat teramat serius. Namun, atas perkataan Damon yang seperti itu, sang Saint mengangguk.

 

"Ya. Saya tidak memiliki pengalaman, tetapi saya memiliki pengetahuan minimal. Walau saya masih kaku... saya akan berusaha sekuat tenaga... dan sesuai kehendak hati Anda."

 

Damon menindihnya ke lantai, menatap wajah sang Saint yang ditelanjanginya, dan menatap matanya secara langsung. Mata sang Saint yang menatap balik Damon tampak memancarkan rona hangat.

 

"Kau, beneran serius? Tubuh yang kau persembahkan untuk Dewa ini—"

 

"Tubuh ini bukan lagi milik Dewa. Seluruh diri saya... seumur hidup adalah milik Anda. Ini bukan sedekah, melainkan salah satu hal yang bisa saya serahkan karena telah merebut seluruh hidup Anda. Meski ini sama sekali bukan imbalan yang sepadan, tolong gunakan tubuh saya sedikit saja untuk meluapkan seluruh isi hati Anda."

 

Lalu, sang Saint menempelkan tangannya sendiri ke dadanya. Pakaian dalam yang menutupi dadanya memiliki desain yang dikaitkan di bagian belahan dada kanan dan kiri, sehingga mudah dilepas. Kemudian tangannya meluncur ke pinggangnya. Pakaian dalam putih yang bertali di bagian pinggang itu dengan mudah terlepas hanya dengan ditarik talinya oleh sang Saint.

 

"Ah..."

 

Bagi Damon yang belum berpengalaman, itulah pertama kali dalam hidupnya ia melihat wujud polos wanita tanpa busana secara langsung.

 

Kulitnya, lekuk dadanya, bentuknya, serta seluruh bagian lainnya merangsang insting pejantan Damon. Tanpa sadar ia menelan ludah, dan dadanya berdebar pesat oleh hasrat bahwa ia bisa berbuat sesuka hati pada tubuh wanita yang terlalu indah ini.

 

"Silakan..."

 

Dan yang paling utama, meski berpura-pura tanpa emosi, Damon tidak melewatkan sedikit pun fakta bahwa tubuh sang Saint gemetar halus.

 

Hanya karena berwajah datar bukan berarti ia tidak memiliki perasaan.

 

Apalagi, jika bagi sang Saint sendiri ini adalah pengalaman pertama, tidak mungkin ia tidak merasakan apa-apa. Terlebih lagi pasti ada rasa malu. 

Memikirkan hal itu, sesuatu membumbung di dalam diri Damon.

 

(Jangan bercanda, jangan malah terpesona, goblok! Wanita ini bangsat! Wanita ini sampah tidak berguna paling tidak berharga! Penebusan dosa apanya! Tubuh wanita seperti ini mana bisa menggantikan apa yang sudah hilang dariku! Jangan bercanda! Cuma menidurinya saja tidak akan kuampuni! Bakal kuhancurkan total, kubuat menangis, sampai ia berpikir lebih baik mati daripada menerima penghinaan ini, bahkan itu pun masih terlalu lembek! Bakal kuhancurkan kau! Sialan, jangan gugup begitu dong, menyedihkan banget! Masa niat dendamku luntur cuma gara-gara wanita telanjang! Ini dada wanita! ...Eh, makanya bukan begitu, goblok!)

 

Mencoba menasihati dirinya sendiri dan memaksakan diri agar tetap sadar, Damon mencoba memasang senyum kejam.

 

"Guwahaha, begitu ya! Kalau begitu, bakal kulakukan! Jangan harap bakal diperlakukan dengan lembut, ya!"

 

Menuruti nafsunya, Damon mengulurkan tangan ke tubuh sang Saint.

 

(Sialan, terserahlah, tidak peduli lagi! Pertama-tama bakal kugagahi sepuasnya! Dada indah dengan bentuk sempurna ini! Kulit yang seolah mengikat ini! Pantatnya, pahanya, lalu... sialan, bakal kutiduri sampai mati! Bakal kutiduri sampai mati! Ini milikku, sampai mati!)

 

Namun, pada saat itu tiba-tiba sebuah ingatan terlintas di kepala Damon.

Jadi begitu~ pada akhirnya aku bakal disantap oleh Damon-kun, ya♪

 

Bagi dirinya, selama ini "kesempatan seperti itu" ada berapa kali pun, tetapi ia gigih menolaknya karena ada keinginan untuk memulainya pertama kali dengan orang yang sudah ditetapkannya di dalam hati setelah menjadi Pahlawan. Namun, bersamaan dengan mengingat hal itu, ingatan lain pasti ikut terlintas.

 

Sekund-kun~~♥

 

Saat hendak mengulurkan tangan ke sang Saint menuruti rasa dendamnya, pemandangan di mana wanita yang dicintainya bersetubuh dan telanjang pelukan dengan pria selain dirinya terekam sangat jelas.

 

Hanya dengan mengingat pemandangan itu saja, gairah yang membumbung dalam diri Damon mendadak sirna seketika, berganti dengan perasaan yang mengiris-iris hatinya.

 

"Ugh... ugh... ugh..."

 

"...Eh? ...Nhh!"

 

"Kenapa... Aku sudah menahannya bertahun-tahun demi wanita itu... Setelah kehilangan segalanya dan berada di dasar kekecewaan, aku malah terangsang sama wanita selain dirinya... Padahal sudah se-donjok ini... Perutku lapar, dan aku masih mau melakukan hal mesum... Aku ini apa-apaan, sih..."

Tetesan air jatuh di pipi sang Saint. Sang Saint juga tersentak dengan raut wajah terkejut. Damon tidak menyadari bahwa tetesan air yang menetes di pipi sang Saint itu adalah air matanya sendiri. Dibandingkan hal itu, berada di dasar duka karena kehilangan perbuatan yang ditahannya bertahun-tahun, orang yang dicintainya, serta masa depannya, tetapi dirinya sendiri malah terangsang tanpa bermoral—Damon merasa sangat menderita atas dirinya sendiri.

 

Namun, air mata itu...

 

"Dokiunnnn♥"

 

Mengarahkan situasi ke arah yang tak terduga.

 

"///////////"

 

Damon yang matanya tergenang air mata tidak bisa melihatnya. Bahwa pipi sang Saint telah merona merah padam. Lalu, sang Saint langsung melingkarkan kedua tangannya ke leher Damon.

 

"Eh... Nhh!"

 

Di detik berikutnya, Damon kembali tidak bisa memahami apa yang terjadi. Hanya saja, sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya sedang mengamuk hebat di dalam mulutnya.

 

"Nhh, chuburu, chubu, jubu, juburu, chubu, chubuchubujuru."

 

Cairan mesum nan murni berbunyi basah bertubi-tubi. Sensasi dipeluk erat. Wajah sang Saint dan wajahnya saling menempel. Bibir mereka bertautan. Sesuatu menerobos masuk ke dalam mulutnya. Sebelum memahami apa yang sedang dilakukan padanya saat ini, seolah ada sesuatu yang terputus, Damon menanggalkan seluruh pakaian yang dikenakannya,

 

"Uooooooooo!"

 

Dan menyantap daging indah di depan matanya.

 

"Nhh, nguh, nnnnn!"

 

"Nhh, ah, nnn-nhh!"

 

Kali ini Damon juga mengisap bibir sang Saint. Menyelipkan lidahnya ke dalam mulut itu dan meluluhlantakkannya. Bagi Damon, itulah ciuman pertamanya. Ciuman tanpa teknik apa pun, hanya mengandalkan insting semata. Dan sang Saint pun membalasnya.




"Kuisi, kunodai kau! Hei, gerakkan lagi lidahmu, jilat, telan ludahku!"

 

"Baik, annh, nguh, nnn, berapa kali pun, glek, nhh."

 

Sambil berciuman, otak Damon seolah lumer. Aroma manis nan anggun yang memancar dari sang Saint, bertautan dengan suara mesum yang pekat serta rasa air liurnya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, dada

Damon membara oleh rangsangan dan sensasi amoral.

 

Ia mengumpulkan air liur di dalam mulutnya sembari berciuman, lalu mengalirkannya ke dalam mulut bersih sang Saint. Tanpa menunjukkan rasa jijik sedikit pun, sang Saint meneguknya tanpa ragu hingga tenggorokannya berbunyi.

 

(Ciuman, ini, lembut banget, enak banget, apa-apaan rasa ini! Aromanya! Sentuhannya! Lagi, cium lagi! Bibir, lidah, gusi, luar biasa banget!)

 

Damon menjadi mabuk kepayang. Cairan kelas atas yang baru pertama kali dirasakannya. Ingin menikmati lebih banyak lagi, Damon menjepit kedua pipi sang Saint dengan kedua tangannya dan meminta lebih.

 

Seolah membalas hal itu, sang Saint melingkarkan kedua tangannya ke punggung Damon dan merapatkan tubuh mereka. Saat itulah, Damon menerima rangsangan lain di tubuhnya.

 

(L-Lembut, i-ini, d-d-dada, dada! Dadanya...)

 

Itu adalah daya pikat khusus milik wanita. Simbol seksualitas. Buah dada wanita yang membuat pria mana pun tidak bisa menahan gairah.

 

Terlebih lagi, bentuknya sangat sempurna dan matang bagaikan karya seni tertinggi. Dan ia bisa memiliki semuanya serta berbuat sesuka hati pada benda itu.

 

"K-Kusentuh, ya! K-Kuremas, ya! B-Boleh, kan? Boleh, kan!"

 

Damon bertanya dengan nada gugup. Tanpa ragu sedikit pun sang Saint mengangguk.

 

"Tentu saja, semuanya adalah milik Anda."

 

"Nhh, a-a, o, ooh..."

 

Seolah didorong oleh kata-kata sang Saint yang tanpa keraguan, Damon mengulurkan tangan dan menyentuh buah dada itu.

 

"Nhku."

 

"A-Apa itu? Kau tidak mau, ya?"

 

Saat tangan Damon menyentuh, tubuh sang Saint melonjak kaget.

 

Namun, sang Saint tergesa-gesa menggelengkan kepala.

 

"Bukan begitu. Karena saya masih perawan, saya hanya belum terbiasa dengan rangsangannya... Saya mohon maaf. Tidak ada masalah sama sekali. Silakan luluhlantakkan sesuka hati Anda."

 

Sang Saint memohon dengan mata basah, menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak merasa keberatan. Tidak ada dusta dari raut wajah pasrah itu, sehingga Damon mengangguk dan kembali menikmati tubuh sang Saint.

 

"Nhku... Nhh, ah, nhku."

 

Sang Saint menggigit bibirnya erat-erat, menahan suara yang nyaris lolos. Namun, kali ini Damon tidak berniat menghentikan aksinya, ia menikmati tubuh sang Saint dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tangannya, bibirnya, dan lidahnya.

 

(U-Enak banget, apa-apaan ini. Nikmat kelas atas ini, jadi begini tubuh wanita... Jadi ini milik wanita... Mau disentuh berapa kali pun tidak bikin bosan, kalau tidak meremasnya bikin tidak tenang, mau dijilat atau diisap berapa kali pun boleh!)

 

Perlahan-lahan, kelakuan Damon makin ganas. Keringat dan cairan tubuh mereka bercampur, berubah menjadi suara basah yang bergema di dalam gubuk, dan iramanya pun kian memcepat.

 

(Ah, ia menyantapku dengan sangat bergairah... Orang ini...

Syukurlah... Orang ini cukup puas dengan tubuhku... Walau hal seperti ini tidak akan bisa menjadi penebusan dosa, tetapi jika ia menganggapnya lezat walau sedikit saja... Ahh, luar biasa... Tidak boleh, aku juga ikut membumbung, kh, mau mencapai puncak... Dada dan perut bawahku... terasa panas.)

 

Sambil menahan suara dan ekspresi wajahnya, sang Saint juga berjuang sekuat tenaga. Ia ingin menebus dosa walau sedikit saja pada Damon, ingin menyembuhkannya. Ingin memuaskannya. Ia menghadapi situasi ini dengan tekad penebusan dosa demi mempersembahkan segalanya dan menerima segalanya, tetapi saat mencoba mengendalikan dirinya

sendiri, perasaan lain justru membumbung tinggi.

 

(Aah, Tuan Pahlawan Tengen... secara giat memperlakukan tubuh Saint gagal seperti aku ini... Aah, secara kasar dan mesum, tapi... Ah, ia secara giat memperlakukan dadaku... Wujud itu benar-benar... Ahh, tidak boleh. Aku tidak boleh memikirkan hal yang tidak sopan... Memikirkan kalau ia imut lalu berdebar-debar, perasaan seperti itu tidak boleh dimiliki oleh pendosa sepertiku.)

 

Disetubuhi demi penebusan dosa. Padahal begitu, ia mulai merasa berdebar, terangsang, dan merasakan kenikmatan pada Damon.

 

"Haa, haa, tidak tahan lagi... H-Hei! Kita lakukan sampai akhir! B-Boleh, kan? Aku bakal melakukannya, lho!"

 

"A, hau, t-tentu saja. Seluruh diri Anda... kh... glek... masukkan seluruh diri Anda ke dalam..."

 

Batas kesabarannya sudah habis. Damon yang sebentar lagi bakal meledak dan melepas segalanya secara kasar mencengkeram kedua kaki sang Saint lalu membukanya lebar-lebar. Pose yang sangat tidak sopan dan tidak pantas bagi seorang Saint, tetapi sang Saint tidak menolak.

 

Hanya saja, matanya terbelalak dan tanpa sadar menelan ludah.

 

(I-Ini, Tuan Pahlawan Tengen... tidak, milik Master... S-Sungguh besar, kekar, dan perkasa... Perasaan sebagai wanita di dalam diriku jadi berdenyut... Hanya dengan melihat milik Master saja rahimku...)

 

Bagi sang Saint, tindakan ini mungkin bukan lagi sebuah penebusan dosa ataupun rasa sakit.

 

"Sesuai kehendak hati Anda."

 

"A, aaah, uoooooooo, o, ooooh!"

 

"Khhh!"

 

Lalu, seluruh dunia Damon dan sang Saint berubah, kemudian mereka berdua menyatu dan bercampur secara dalam, kuat, dan pekat.

 

"Kuh, s-sial, guh, apa-apaan ini... Ini, ini dia..."

 

"Kahah, gah, ugh... kuh... tsuh... nnn."

 

Sebagai sesama pemula yang baru pertama kali merasakannya, sensasi di luar dugaan merayapi tubuh mereka berdua saat menyatu.

 

"Tidak tahan lagi... He, hehe, ini... ini dia... kh, ini diaaaa! Uooooo!"

 

"Ha, aaa, Master, nh-a, ah, nnn-nhh!"

 

"Ini dia, ini dia, ha, hahaha! Benda luar biasa yang sangat nikmat seperti

ini selama ini tidak kuketahui dan kutahan-tahan... Ha, hahaha! Buat apa juga aku menahannya... Uoooooooo!"

 

"Hauht, a, ah, Masterrr!"

 

Dan yang bergerak lebih dulu karena tidak tahan adalah Damon. Damon menindih tubuh sang Saint, mengamuk bagaikan binatang buas secara kalap. Tanpa memedulikan tubuh langsing sang Saint, ia menumpahkan nafsunya secara membabi buta.

 

(Luar biasa, aah, ini... seolah seluruh diriku diubah, dimodifikasi, dan dicelupkan ke dalam warnanya... Ini dia, tindakan... antara pria dan wanita...)

 

Pasrah dibiarkan melakukan apa saja oleh Damon yang bergerak kalap, sang Saint mengerahkan seluruh tenaganya hanya untuk menjaga akal sehatnya agar tidak hancur akibat rasa sakit, rangsangan, dan kenikmatan yang membumbung. Pergumulan antara pejantan dan betina yang dilakukan dengan napas terengah-engah terus berlanjut tanpa henti.

 

Tidak tahu sudah berapa jam berlalu.

 

Tidak tahu sudah berapa kali mereka berdua mencapai puncak.

 

Gubuk kecil itu dipenuhi oleh aroma yang sangat amis. Aroma dari dua ekor pejantan dan betina yang melakukan tindakan secara kalap sembari mengeluarkan desahan dan napas binatang buas. Tanpa sanggup melawan kenikmatan, Damon menyantap sang Saint tanpa istirahat.

 

Mau menyantapnya berapa kali pun ia tidak merasa bosan, tidak merasa puas, dan menyantapnya lagi. Terkadang atas perintah Damon, sang Saint diberitahu untuk melayaninya, dan sang Saint mematuhi perintah itu tanpa ragu sedikit pun.

 

Damon dan sang Saint saling menyantap satu sama lain hingga meleleh.

 

Sambil diluluhlantakkan oleh Damon, sang Saint bermonolog di dalam hatinya.

 

(Pahlawan Tengen... Kerugian besar bagi dunia... Orang yang berdiri di hadapanku yang berpikiran harus menebus dosa itu... adalah seorang anak laki-laki yang terluka dan tersesat... Bakal dan kekuatan mutlak yang dipilih oleh Dewa. Ia menentang siapa pun yang menolaknya tanpa peduli mau Saint ataupun Ksatria Kekaisaran... tetapi ia memiliki kelemahan dan kesedihan sebagai manusia biasa...)

 

Justru karena telah terhubung hingga ke dasar tubuhnya, sang Saint mulai merasakan sosok Damon sendiri, bukan sekadar 'target penebusan dosa'.

 

(Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf karena telah merebut hidupmu, kebahagiaan yang seharusnya kau dapatkan, serta segala hal yang telah kau bangun selama ini.)

 

Rasa dosa kembali membumbung tinggi di dalam dirinya.

 

(Orang yang telah disakiti oleh banyak orang ini mungkin tidak akan pernah bertarung lagi sebagai Pahlawan demi umat manusia maupun dunia. Tetapi, hanya aku satu-satunya yang tidak boleh menolaknya apa pun yang terjadi. Aku akan membenarkan seluruh perbuatannya dan hanya mematuhi segalanya... Sekalipun tindakan itu membawa kerugian bagi umat manusia... ataupun mengarah pada kehancuran, aku akan mendampinginya walau harus ke neraka sekalipun.)

 

Ia kembali menegaskan penebusan dosanya sendiri.

 

(Mari hidup demi orang ini. Mari berbakti demi orang ini. Mari mati demi orang ini. Mari jatuh hancur demi orang ini. Mari mendampinginya ke dasar atau ujung dunia mana pun bersama orang ini.)

 

Ia kembali menetapkan tujuan hidupnya. Dan di saat yang sama...

 

"Kuha, ha, haha, guwahahaha, sudah tidak tahu lagi ini yang ke berapa kali..."

 

(Yang kedua belas kali... Luar biasa, orang ini masih...)

 

"Suaramu jadi makin bagus saja, Saint. Aku ini ya, karena tidak punya pengalaman awalnya cuma meraba-raba cara mainnya, tapi akhirnya mulai paham triknya! Ini masih belum selesai, tahu!"

(Ahh, sungguh perkasa... Pinggang dan kakinya yang kekar ini telah membuatku melayang ke surga berulang kali, disantap, mendesah mesum, bahkan bagian yang tidak pernah kuperlihatkan kepada siapa pun telah diinvasi sampai tuntas... Inilah... pria... Tidak, bukan sekadar pria biasa... Tengen──── Ah, aku bakal mencapai puncak lagi dan pingsan──── Tapi tidak boleh. Aku ini, ini adalah penebusan dosa, jadi tidak boleh merasa bahagia... Sekalipun mempersembahkan segalanya kepada orang ini, aku tidak boleh tenggelam di dalamnya. Sehebat apa pun orang ini, aku tidak boleh berpikir ingin lagi, ingin diperkosa, atau ingin diacak-acak, dan raut wajah menangis tanpa daya yang sempat diperlihatkan orang ini, atau tingkah manja seperti bayi di tengah-tengah menyantapku walau tindakannya kasar, serta suara yang lolos di 'momen itu'—aku tidak boleh berpikir kalau itu sangat imut. Aku harus menebus dosa.)

 

Ia berjuang sekuat tenaga menahan dirinya agar tidak jatuh hancur dan tenggelam di dalamnya.

 

(Ya, seumur hidup aku akan menjalani hidup dengan perasaan yang mengiris dada tanpa pernah melupakannya. Perasaan berdebar-debar itu tidak boleh. Sebagai boneka orang ini, disantap, dikerjai, diperlakukan secara kasar dan ganas, pasrah dibiarkan melakukan apa saja, dan menerimanya... Ah, lagi-lagi... ciuman... ciumannya...)

 

Ia berjuang keras hingga tidak menyadari bahwa dirinya sendiri sudah sejak tadi jatuh hancur dan tenggelam di dalamnya.

 

"Guwahahaha, a~... Mantaaap banget... Buat apa coba aku menahan hal

mantap seperti ini... Menahannya, bertapa, melayani tanpa imbalan, lalu

jadi Pahlawan... Cih, semuanya sudah tidak memedulikan lagi..."

 

Dan Damon pun ikut jatuh hancur.

 

Ia ketagihan oleh kenikmatan. Benang akal sehatnya yang terputus total karena tidak perlu lagi memedulikan pandangan orang atau rasa sungkan juga ikut mendorongnya.

 

"Fuuh... Lagipula perutku mendadak agak lapar, nih..."

 

"Nhh, a, u, kh... A, sup yang tadi dan rotinya... Ah, tapi sudah dingin...

Saya panaskan sebentar, a, ma-maaf, p-pinggang saya..."

 

"Ha? Tidak masalah walau dingin. Yang penting masuk ke perut."

 

"...Diterima."

 

"Sini, berikan... Emm? Ini sedekah tanpa imbalan, ya?"

 

"Bukan. Ini masih dalam jangkauan imbalan."

 

"Makanannya sendiri?"

 

"Saya minta dibagi dari warga desa."

 

"...Kalau begitu sedekah, dong. Nanti imbalannya harus kubayar... Tapi sebelum itu, berikan dulu."

 

"Baik."

 

Waktu di mana mereka saling menyantap tanpa henti akhirnya mendapatkan sedikit jeda istirahat.

 

Sang Saint yang mencoba berdiri sama sekali tidak punya tenaga di seluruh tubuhnya hingga pinggang dan kakinya tidak sanggup menopang.

 

Damon menarik sang Saint mendekat beserta makanannya.

 

Hanya dengan itu sang Saint memahami pikiran Damon, ia memasukkan sayuran sup ke dalam mulutnya sendiri, lalu menempelkan bibirnya ke bibir Damon untuk menyuapinya lewat mulut ke mulut.

 

"Nhh, chuh, chuh."

 

"...Dingin sih, tapi ya lumayan bisa dimakan lah... Bahan makanannya dibagi?"

 

"Ya. Di katedral Kota Suci, waktu masa pelatihan hal seperti ini sudah..."

 

"Fuuun... Yah, tingkatannya standar lah, tidak bagus tidak jelek."

 

"Saya akan giat belajar. Agar Anda bisa memakannya seumur hidup."

 

Ia bahkan tidak lagi panik hanya gara-gara ciuman mulut ke mulut.

 

Sejauh itulah Damon dan sang Saint telah saling mengenal satu sama lain.

 

Dan kalau dipikir-pikir, momen inilah yang menjadi pertama kalinya mereka berdua mengobrol dengan tenang.

 

"Ngomong-ngomong, Saint... tidak, Mantan Saint. Siapa namamu?"

 

"Baik... Nama saya Strayer... Master."

 

Sampai-sampai mereka belum menyadari bahwa nama sang Saint

sendiri belum pernah ditanyakan.

 

"Begitu ya............ Oi, waktu istirahat selesai. Kita lanjutkan, Strayer."

 

"Baik, Master."

 

Bagaimanapun juga pada hari itu, tanpa memedulikan gelar atau pandangan orang-orang yang mengikat mereka selama ini, sang pria mengenal wanita untuk pertama kalinya, sang wanita mengenal pria untuk pertama kalinya, dan untuk pertama kalinya mereka memperlihatkan air mata di hadapan orang lain.

 

Dan...

 

"...L-Luar biasa... M-Mereka berdua, m-masih... Mbak Najimi...

A-Aku, entah kenapa tubuhku terasa panas dan berdebar-debar..."

 

"J-Jangan, Shesta... M-Mengintip itu... Glek... L-Luar biasa..."

Dari desa tempat mereka berdua berada inilah, dunia akan berubah secara besar-besaran.

 

Berjam-jam... mungkin mereka berada di dalam gubuk seharian penuh.

 

Namun akhirnya, setelah menyantap tubuh wanita hingga kenyang,

Damon keluar ke luar. Matahari sudah mulai tenggelam, mewarnai langit dengan warna jingga.

 

"Apa-apaan, sebentar lagi sudah malam, kan. Kalau begitu habis makan malam, cuci badan... lalu sebelum tidur main satu ronde lagi, mau? Guwahahahahaha."

 

"Kh! Eh, a, baik, de-dengan senang hati, tidak, sesuai kehendak hati Anda."

 

Pengalaman Damon

● Mantan Saint Strayer: 21 Ronde

 

(TL/N: Hell nah 21 rondek cik, kira² capek gk ya mereka wkwkwk)



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close