Bab 2: Jatuh dan Nikmati Sampai Akhir
Damon yang kelelahan dan kehilangan
kesadaran akhirnya terbangun.
Langit-langit yang tak biasa. Ruangan
kecil. Lampu kecil menyala di sisinya, dan di berbagai sudut ruangan berserakan
peralatan yang tampaknya digunakan untuk bertani serta jerami.
"Di mana ini..."
Damon memiringkan kepalanya tanpa tahu di
mana dirinya berada.
Lalu, ia merasakan aroma yang menggiurkan
dan kehadiran seseorang yang mendekat.
"Anda sudah bangun, ya."
"Saint."
Yang membuka pintu dan masuk ke ruangan
adalah sang Saint. Di
tangannya, ada nampan berisi sup beruap
dan roti.
"Ini adalah desa kecil yang berada
di ujung paling selatan Kekaisaran...
『Desa Dokaina』...
Saya menyewa gubuk ini dari warga desa."
"Dokaina... Rasanya pernah
dengar..."
"Saat Anda pingsan, desa inilah yang
paling dekat."
Saat diberi tahu lokasinya, Damon merasa
pernah mendengarnya di suatu tempat, tetapi ia tidak langsung ingat secara
pasti. Lagipula, ketika dibuang dari Ibu Kota, ia lari tanpa hirau, dan setelah
itu hanya menggelandang tanpa arah dan tujuan, sampai-sampai ia sendiri tidak
paham betul sedang berada di mana.
"Saya pikir Anda akan segera bangun,
jadi saya meminta sedikit makanan dari warga desa. Silakan dinikmati."
Seperti yang dikatakan sang Saint, aroma
sup hangat membangkitkan
kesadaran perutnya yang lapar. Ia memang
sudah lama tidak makan dan minum. Namun, meski diberi tahu begitu, tangan Damon
tidak mengulur dengan penurut.
"Aku tidak menerima sedekah tanpa
imbalan... Apalagi dari orang sepertimu."
Malah, keberadaan sang Saint di depan
matanya kembali memancing amarah yang membara dari dasar hatinya.
"Ini bukan sedekah. Pertama-tama
pulihkanlah tubuh Anda sedikit saja. Saya tidak akan lari. Penebusan dosa pasti
akan saya lakukan."
Sambil memahami isi hati Damon yang
seperti itu, sang Saint merapat ke sisi Damon dan menyodorkan sup yang
disendoknya ke arah Damon.
Namun, meski begitu Damon tidak mau
menerimanya.
"Penebusan dosa? Mau bagaimana
caranya?"
"Pertama-tama, saya akan
memublikasikan ke seluruh penjuru negeri bahwa Upacara Pemilihan kali ini
adalah kesalahan saya, lalu menyampaikan bahwa Anda adalah Class Holder kelas
tertinggi yaitu Pahlawan Tengen. Dengan begitu, nama buruk Anda akan segera—"
"Lalu menyuruhku disukai lagi oleh
orang-orang yang mendekatiku, lalu membalikkan telapak tangan dan ribut
menyumpahiku penipu saat tahu aku cuma Rakyat Jelata, begitu? Mau muntah aku
dengarnya."
"Pahlawan Tengen adalah Class Holder
yang jauh melampaui Pahlawan biasa. Sekalipun bukan di Kekaisaran, termasuk di
negara-negara lain, Class Holder seperti itu akan—"
"Dan hal yang paling kuinginkan
sudah direbut begitu saja setelah aku dicampakkan. Wanita yang dari dulu
kusukai... yang berniat kunikahi kalau sudah jadi Pahlawan... tahu!"
Mengucapkan hal itu, Damon tertawa
terbahak-bahak dalam kejengkelan seolah segalanya sudah tidak masuk akal lagi.
"Semuanya sudah hilang... Hidupku
yang dulu maupun yang akan datang, semuanya... Sudah, semuanya tidak masuk
akal. Hari-hari di mana aku berusaha jadi Pahlawan dan pahlawan besar demi
wanita itu dan demi orang-orang itu, semuanya hancur."
Menghadapi kata-kata pasrah dari Damon,
sang Saint menggigit bibirnya erat-erat, meletakkan nampan yang dipegangnya ke
atas rak kecil di samping, lalu kembali menundukkan kepala kepada Damon.
"Setelah membersihkan nama buruk
Anda, dari situlah penebusan dosa saya yang sesungguhnya dimulai. Apa pun yang
bisa saya lakukan, tolong katakan apa saja."
"Apa saja, katamu?"
"Ya, apa saja."
"Cih, gampang banget ngomongnya.
Dasar Saint tidak berguna yang cuma bisa omong besar."
"Khusus untuk hal ini, saya sama
sekali tidak berdusta."
Akan melakukan apa saja demi menebus
dosa. Sambil mengatakan hal itu, sang Saint mengeluarkan sesuatu dari dalam
bajunya. Itu adalah kalung leher yang terukir pola misterius.
"Tolong, berikan hukuman apa pun
pada tubuh ini. Saya bukan lagi seorang Saint, melainkan hanya boneka yang
bernapas. Membunuh saya dalam sekali tebas, menyiksa saya tanpa batas hingga
hancur, atau mempermainkan tubuh ini sesuka hati Anda, saya akan menerima
segala permintaan maupun perintah Anda, serta mempersembahkan tubuh, hati, dan
jiwa saya sepenuhnya untuk menebus kesalahan ini... Tolong... My Master..."
Itu adalah pernyataan niat untuk
mempersembahkan sisa hidup sang
Saint seluruhnya sebagai milik Damon.
Namun, hal itu justru membuat Damon makin jengkel.
"Ha! Apa-apaan, penebusan dosa! Apa
saja! Saint rumahan bisa bicara apa, sih! Rasa sakit? Dipermainkan juga boleh?
Tidak ada dusta? Jangan bercanda! Kalau begitu, hal yang seperti ini juga bakal
kau terima, hah?!"
"Nhh, a..."
Di detik berikutnya, Damon mencengkeram
pergelangan tangan sang Saint, menariknya paksa hingga tumbang ke lantai, lalu
merobek pakaian sucinya secara kasar.
"Tidak bakal ada komplain walau
tubuh suci yang dipersembahkan untuk Dewa ini kuperkosa sepuasnya, hah?! Aku
tidak menerima ini secara cuma-cuma... Kalau imbalannya adalah seumur hidupmu,
hal seperti ini juga termasuk di dalamnya, kan?!"
Pakaiannya dirobek, memperlihatkan kulit
halus nan mulus tanpa noda di baliknya. Pakaian dalam putih bersih. Tubuh
wanita penuh keanggunan yang bahkan terasa lancang jika disentuh. Damon menekan
dengan nada bicara kasar seolah berniat meluluhlantakkan tubuh itu sepuasnya.
Sang Saint yang tadinya terkejut hingga tubuhnya menegang, langsung
membentangkan kedua tangannya.
"Ya... Silakan... Sesuai kehendak
hati Anda."
Sang Saint menunjukkan bahwa menolak
adalah hal yang mustahil, membuka kedua tangannya untuk menyambut Damon.
Saint dari Kota Suci Netral Abadi, dalam
arti tertentu adalah sosok yang dilindungi secara ketat oleh seluruh umat
manusia di bumi. Raganya dijamin oleh Negara Kolaborasi, dan jika mengunjungi
negara lain, ia adalah sosok yang menerima penyambutan tingkat tamu negara.
Keberadaannya berada di ranah yang
berbeda dari Class Holder maupun Pahlawan, dan jika sampai ada yang melukainya,
orang tersebut akan dijatuhi hukuman teramat berat, serta negara tersebut
dikatakan akan kehilangan kepercayaan secara besar-besaran dari seluruh negara
anggota aliansi.
"Aku bakal memperkosamu, lho?"
Merobek pakaian Saint seperti itu,
membuatnya telanjang, dan menodai tubuhnya adalah hal yang sangat teramat
serius. Namun, atas perkataan Damon yang seperti itu, sang Saint mengangguk.
"Ya. Saya tidak memiliki pengalaman,
tetapi saya memiliki pengetahuan minimal. Walau saya masih kaku... saya akan
berusaha sekuat tenaga... dan sesuai kehendak hati Anda."
Damon menindihnya ke lantai, menatap
wajah sang Saint yang ditelanjanginya, dan menatap matanya secara langsung.
Mata sang Saint yang menatap balik Damon tampak memancarkan rona hangat.
"Kau, beneran serius? Tubuh yang kau
persembahkan untuk Dewa ini—"
"Tubuh ini bukan lagi milik Dewa.
Seluruh diri saya... seumur hidup adalah milik Anda. Ini bukan sedekah,
melainkan salah satu hal yang bisa saya serahkan karena telah merebut seluruh
hidup Anda. Meski ini sama sekali bukan imbalan yang sepadan, tolong gunakan
tubuh saya sedikit saja untuk meluapkan seluruh isi hati Anda."
Lalu, sang Saint menempelkan tangannya sendiri ke dadanya. Pakaian dalam yang menutupi dadanya memiliki desain yang dikaitkan di bagian belahan dada kanan dan kiri, sehingga mudah dilepas. Kemudian tangannya meluncur ke pinggangnya. Pakaian dalam putih yang bertali di bagian pinggang itu dengan mudah terlepas hanya dengan ditarik talinya oleh sang Saint.
"Ah..."
Bagi Damon yang belum berpengalaman,
itulah pertama kali dalam hidupnya ia melihat wujud polos wanita tanpa busana
secara langsung.
Kulitnya, lekuk dadanya, bentuknya, serta
seluruh bagian lainnya merangsang insting pejantan Damon. Tanpa sadar ia
menelan ludah, dan dadanya berdebar pesat oleh hasrat bahwa ia bisa berbuat
sesuka hati pada tubuh wanita yang terlalu indah ini.
"Silakan..."
Dan yang paling utama, meski berpura-pura
tanpa emosi, Damon tidak melewatkan sedikit pun fakta bahwa tubuh sang Saint
gemetar halus.
Hanya karena berwajah datar bukan berarti
ia tidak memiliki perasaan.
Apalagi, jika bagi sang Saint sendiri ini adalah pengalaman pertama, tidak mungkin ia tidak merasakan apa-apa. Terlebih lagi pasti ada rasa malu.
Memikirkan hal itu, sesuatu membumbung di dalam diri Damon.
(Jangan bercanda, jangan malah terpesona,
goblok! Wanita ini bangsat! Wanita ini sampah tidak berguna paling tidak
berharga! Penebusan dosa apanya! Tubuh wanita seperti ini mana bisa
menggantikan apa yang sudah hilang dariku! Jangan bercanda! Cuma menidurinya
saja tidak akan kuampuni! Bakal kuhancurkan total, kubuat menangis, sampai ia
berpikir lebih baik mati daripada menerima penghinaan ini, bahkan itu pun masih
terlalu lembek! Bakal kuhancurkan kau! Sialan, jangan gugup begitu dong,
menyedihkan banget! Masa niat dendamku luntur cuma gara-gara wanita telanjang!
Ini dada wanita! ...Eh, makanya bukan begitu, goblok!)
Mencoba menasihati dirinya sendiri dan
memaksakan diri agar tetap sadar, Damon mencoba memasang senyum kejam.
"Guwahaha, begitu ya! Kalau begitu,
bakal kulakukan! Jangan harap bakal diperlakukan dengan lembut, ya!"
Menuruti nafsunya, Damon mengulurkan
tangan ke tubuh sang Saint.
(Sialan, terserahlah, tidak peduli lagi!
Pertama-tama bakal kugagahi sepuasnya! Dada indah dengan bentuk sempurna ini!
Kulit yang seolah mengikat ini! Pantatnya, pahanya, lalu... sialan, bakal
kutiduri sampai mati! Bakal kutiduri sampai mati! Ini milikku, sampai mati!)
Namun, pada saat itu tiba-tiba sebuah
ingatan terlintas di kepala Damon.
『Jadi begitu~ pada akhirnya aku bakal disantap
oleh Damon-kun, ya♪』
Bagi dirinya, selama ini "kesempatan
seperti itu" ada berapa kali pun, tetapi ia gigih menolaknya karena ada
keinginan untuk memulainya pertama kali dengan orang yang sudah ditetapkannya
di dalam hati setelah menjadi Pahlawan. Namun, bersamaan dengan mengingat hal
itu, ingatan lain pasti ikut terlintas.
『Sekund-kun~~♥』
Saat hendak mengulurkan tangan ke sang
Saint menuruti rasa dendamnya, pemandangan di mana wanita yang dicintainya
bersetubuh dan telanjang pelukan dengan pria selain dirinya terekam sangat
jelas.
Hanya dengan mengingat pemandangan itu
saja, gairah yang membumbung dalam diri Damon mendadak sirna seketika, berganti
dengan perasaan yang mengiris-iris hatinya.
"Ugh... ugh... ugh..."
"...Eh? ...Nhh!"
"Kenapa... Aku sudah menahannya
bertahun-tahun demi wanita itu... Setelah kehilangan segalanya dan berada di
dasar kekecewaan, aku malah terangsang sama wanita selain dirinya... Padahal
sudah se-donjok ini... Perutku lapar, dan aku masih mau melakukan hal mesum...
Aku ini apa-apaan, sih..."
Tetesan air jatuh di pipi sang Saint.
Sang Saint juga tersentak dengan raut wajah terkejut. Damon tidak menyadari
bahwa tetesan air yang menetes di pipi sang Saint itu adalah air matanya
sendiri. Dibandingkan hal itu, berada di dasar duka karena kehilangan perbuatan
yang ditahannya bertahun-tahun, orang yang dicintainya, serta masa depannya,
tetapi dirinya sendiri malah terangsang tanpa bermoral—Damon merasa sangat
menderita atas dirinya sendiri.
Namun, air mata itu...
"Dokiunnnn♥"
Mengarahkan situasi ke arah yang tak
terduga.
"///////////"
Damon yang matanya tergenang air mata
tidak bisa melihatnya. Bahwa pipi sang Saint telah merona merah padam. Lalu,
sang Saint langsung melingkarkan kedua tangannya ke leher Damon.
"Eh... Nhh!"
Di detik berikutnya, Damon kembali tidak
bisa memahami apa yang terjadi. Hanya saja, sesuatu yang belum pernah ia
rasakan sebelumnya sedang mengamuk hebat di dalam mulutnya.
"Nhh, chuburu, chubu, jubu, juburu,
chubu, chubuchubujuru."
Cairan mesum nan murni berbunyi basah
bertubi-tubi. Sensasi dipeluk erat. Wajah sang Saint dan wajahnya saling
menempel. Bibir mereka bertautan. Sesuatu menerobos masuk ke dalam mulutnya.
Sebelum memahami apa yang sedang dilakukan padanya saat ini, seolah ada sesuatu
yang terputus, Damon menanggalkan seluruh pakaian yang dikenakannya,
"Uooooooooo!"
Dan menyantap daging indah di depan
matanya.
"Nhh, nguh, nnnnn!"
"Nhh, ah, nnn-nhh!"
Kali ini Damon juga mengisap bibir sang
Saint. Menyelipkan lidahnya ke dalam mulut itu dan meluluhlantakkannya. Bagi
Damon, itulah ciuman pertamanya. Ciuman tanpa teknik apa pun, hanya
mengandalkan insting semata. Dan sang Saint pun membalasnya.
"Kuisi, kunodai kau! Hei, gerakkan
lagi lidahmu, jilat, telan ludahku!"
"Baik, annh, nguh, nnn, berapa kali
pun, glek, nhh."
Sambil berciuman, otak Damon seolah
lumer. Aroma manis nan anggun yang memancar dari sang Saint, bertautan dengan
suara mesum yang pekat serta rasa air liurnya. Untuk pertama kali dalam
hidupnya, dada
Damon membara oleh rangsangan dan sensasi
amoral.
Ia mengumpulkan air liur di dalam
mulutnya sembari berciuman, lalu mengalirkannya ke dalam mulut bersih sang
Saint. Tanpa menunjukkan rasa jijik sedikit pun, sang Saint meneguknya tanpa
ragu hingga tenggorokannya berbunyi.
(Ciuman, ini, lembut banget, enak banget,
apa-apaan rasa ini! Aromanya! Sentuhannya! Lagi, cium lagi! Bibir, lidah, gusi,
luar biasa banget!)
Damon menjadi mabuk kepayang. Cairan
kelas atas yang baru pertama kali dirasakannya. Ingin menikmati lebih banyak
lagi, Damon menjepit kedua pipi sang Saint dengan kedua tangannya dan meminta
lebih.
Seolah membalas hal itu, sang Saint
melingkarkan kedua tangannya ke punggung Damon dan merapatkan tubuh mereka.
Saat itulah, Damon menerima rangsangan lain di tubuhnya.
(L-Lembut, i-ini, d-d-dada, dada!
Dadanya...)
Itu adalah daya pikat khusus milik
wanita. Simbol seksualitas. Buah dada wanita yang membuat pria mana pun tidak
bisa menahan gairah.
Terlebih lagi, bentuknya sangat sempurna
dan matang bagaikan karya seni tertinggi. Dan ia bisa memiliki semuanya serta
berbuat sesuka hati pada benda itu.
"K-Kusentuh, ya! K-Kuremas, ya!
B-Boleh, kan? Boleh, kan!"
Damon bertanya dengan nada gugup. Tanpa
ragu sedikit pun sang Saint mengangguk.
"Tentu saja, semuanya adalah milik
Anda."
"Nhh, a-a, o, ooh..."
Seolah didorong oleh kata-kata sang Saint
yang tanpa keraguan, Damon mengulurkan tangan dan menyentuh buah dada itu.
"Nhku."
"A-Apa itu? Kau tidak mau, ya?"
Saat tangan Damon menyentuh, tubuh sang
Saint melonjak kaget.
Namun, sang Saint tergesa-gesa
menggelengkan kepala.
"Bukan begitu. Karena saya masih
perawan, saya hanya belum terbiasa dengan rangsangannya... Saya mohon maaf.
Tidak ada masalah sama sekali. Silakan luluhlantakkan sesuka hati Anda."
Sang Saint memohon dengan mata basah,
menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak merasa keberatan. Tidak ada dusta
dari raut wajah pasrah itu, sehingga Damon mengangguk dan kembali menikmati
tubuh sang Saint.
"Nhku... Nhh, ah, nhku."
Sang Saint menggigit bibirnya erat-erat,
menahan suara yang nyaris lolos. Namun, kali ini Damon tidak berniat
menghentikan aksinya, ia menikmati tubuh sang Saint dari ujung kepala hingga
ujung kaki dengan tangannya, bibirnya, dan lidahnya.
(U-Enak banget, apa-apaan ini. Nikmat
kelas atas ini, jadi begini tubuh wanita... Jadi ini milik wanita... Mau
disentuh berapa kali pun tidak bikin bosan, kalau tidak meremasnya bikin tidak
tenang, mau dijilat atau diisap berapa kali pun boleh!)
Perlahan-lahan, kelakuan Damon makin
ganas. Keringat dan cairan tubuh mereka bercampur, berubah menjadi suara basah
yang bergema di dalam gubuk, dan iramanya pun kian memcepat.
(Ah, ia menyantapku dengan sangat
bergairah... Orang ini...
Syukurlah... Orang ini cukup puas dengan
tubuhku... Walau hal seperti ini tidak akan bisa menjadi penebusan dosa, tetapi
jika ia menganggapnya lezat walau sedikit saja... Ahh, luar biasa... Tidak
boleh, aku juga ikut membumbung, kh, mau mencapai puncak... Dada dan perut
bawahku... terasa panas.)
Sambil menahan suara dan ekspresi
wajahnya, sang Saint juga berjuang sekuat tenaga. Ia ingin menebus dosa walau
sedikit saja pada Damon, ingin menyembuhkannya. Ingin memuaskannya. Ia
menghadapi situasi ini dengan tekad penebusan dosa demi mempersembahkan
segalanya dan menerima segalanya, tetapi saat mencoba mengendalikan dirinya
sendiri, perasaan lain justru membumbung
tinggi.
(Aah, Tuan Pahlawan Tengen... secara giat
memperlakukan tubuh Saint gagal seperti aku ini... Aah, secara kasar dan mesum,
tapi... Ah, ia secara giat memperlakukan dadaku... Wujud itu benar-benar...
Ahh, tidak boleh. Aku tidak boleh memikirkan hal yang tidak sopan... Memikirkan
kalau ia imut lalu berdebar-debar, perasaan seperti itu tidak boleh dimiliki
oleh pendosa sepertiku.)
Disetubuhi demi penebusan dosa. Padahal
begitu, ia mulai merasa berdebar, terangsang, dan merasakan kenikmatan pada
Damon.
"Haa, haa, tidak tahan lagi...
H-Hei! Kita lakukan sampai akhir! B-Boleh, kan? Aku bakal melakukannya,
lho!"
"A, hau, t-tentu saja. Seluruh diri
Anda... kh... glek... masukkan seluruh diri Anda ke dalam..."
Batas kesabarannya sudah habis. Damon
yang sebentar lagi bakal meledak dan melepas segalanya secara kasar
mencengkeram kedua kaki sang Saint lalu membukanya lebar-lebar. Pose yang
sangat tidak sopan dan tidak pantas bagi seorang Saint, tetapi sang Saint tidak
menolak.
Hanya saja, matanya terbelalak dan tanpa
sadar menelan ludah.
(I-Ini, Tuan Pahlawan Tengen... tidak,
milik Master... S-Sungguh besar, kekar, dan perkasa... Perasaan sebagai wanita
di dalam diriku jadi berdenyut... Hanya dengan melihat milik Master saja
rahimku...)
Bagi sang Saint, tindakan ini mungkin
bukan lagi sebuah penebusan dosa ataupun rasa sakit.
"Sesuai kehendak hati Anda."
"A, aaah, uoooooooo, o, ooooh!"
"Khhh!"
Lalu, seluruh dunia Damon dan sang Saint
berubah, kemudian mereka berdua menyatu dan bercampur secara dalam, kuat, dan
pekat.
"Kuh, s-sial, guh, apa-apaan ini...
Ini, ini dia..."
"Kahah, gah, ugh... kuh... tsuh...
nnn."
Sebagai sesama pemula yang baru pertama
kali merasakannya, sensasi di luar dugaan merayapi tubuh mereka berdua saat
menyatu.
"Tidak tahan lagi... He, hehe,
ini... ini dia... kh, ini diaaaa! Uooooo!"
"Ha, aaa, Master, nh-a, ah,
nnn-nhh!"
"Ini dia, ini dia, ha, hahaha! Benda
luar biasa yang sangat nikmat seperti
ini selama ini tidak kuketahui dan
kutahan-tahan... Ha, hahaha! Buat apa juga aku menahannya... Uoooooooo!"
"Hauht, a, ah, Masterrr!"
Dan yang bergerak lebih dulu karena tidak
tahan adalah Damon. Damon menindih tubuh sang Saint, mengamuk bagaikan binatang
buas secara kalap. Tanpa memedulikan tubuh langsing sang Saint, ia menumpahkan
nafsunya secara membabi buta.
(Luar biasa, aah, ini... seolah seluruh
diriku diubah, dimodifikasi, dan dicelupkan ke dalam warnanya... Ini dia,
tindakan... antara pria dan wanita...)
Pasrah dibiarkan melakukan apa saja oleh
Damon yang bergerak kalap, sang Saint mengerahkan seluruh tenaganya hanya untuk
menjaga akal sehatnya agar tidak hancur akibat rasa sakit, rangsangan, dan
kenikmatan yang membumbung. Pergumulan antara pejantan dan betina yang
dilakukan dengan napas terengah-engah terus berlanjut tanpa henti.
Tidak tahu sudah berapa jam berlalu.
Tidak tahu sudah berapa kali mereka
berdua mencapai puncak.
Gubuk kecil itu dipenuhi oleh aroma yang
sangat amis. Aroma dari dua ekor pejantan dan betina yang melakukan tindakan
secara kalap sembari mengeluarkan desahan dan napas binatang buas. Tanpa
sanggup melawan kenikmatan, Damon menyantap sang Saint tanpa istirahat.
Mau menyantapnya berapa kali pun ia tidak
merasa bosan, tidak merasa puas, dan menyantapnya lagi. Terkadang atas perintah
Damon, sang Saint diberitahu untuk melayaninya, dan sang Saint mematuhi
perintah itu tanpa ragu sedikit pun.
Damon dan sang Saint saling menyantap
satu sama lain hingga meleleh.
Sambil diluluhlantakkan oleh Damon, sang
Saint bermonolog di dalam hatinya.
(Pahlawan Tengen... Kerugian besar bagi
dunia... Orang yang berdiri di hadapanku yang berpikiran harus menebus dosa
itu... adalah seorang anak laki-laki yang terluka dan tersesat... Bakal dan
kekuatan mutlak yang dipilih oleh Dewa. Ia menentang siapa pun yang menolaknya
tanpa peduli mau Saint ataupun Ksatria Kekaisaran... tetapi ia memiliki
kelemahan dan kesedihan sebagai manusia biasa...)
Justru karena telah terhubung hingga ke
dasar tubuhnya, sang Saint mulai merasakan sosok Damon sendiri, bukan sekadar
'target penebusan dosa'.
(Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf
karena telah merebut hidupmu, kebahagiaan yang seharusnya kau dapatkan, serta
segala hal yang telah kau bangun selama ini.)
Rasa dosa kembali membumbung tinggi di
dalam dirinya.
(Orang yang telah disakiti oleh banyak
orang ini mungkin tidak akan pernah bertarung lagi sebagai Pahlawan demi umat
manusia maupun dunia. Tetapi, hanya aku satu-satunya yang tidak boleh
menolaknya apa pun yang terjadi. Aku akan membenarkan seluruh perbuatannya dan
hanya mematuhi segalanya... Sekalipun tindakan itu membawa kerugian bagi umat
manusia... ataupun mengarah pada kehancuran, aku akan mendampinginya walau
harus ke neraka sekalipun.)
Ia kembali menegaskan penebusan dosanya
sendiri.
(Mari hidup demi orang ini. Mari berbakti
demi orang ini. Mari mati demi orang ini. Mari jatuh hancur demi orang ini.
Mari mendampinginya ke dasar atau ujung dunia mana pun bersama orang ini.)
Ia kembali menetapkan tujuan hidupnya.
Dan di saat yang sama...
"Kuha, ha, haha, guwahahaha, sudah
tidak tahu lagi ini yang ke berapa kali..."
(Yang kedua belas kali... Luar biasa,
orang ini masih...)
"Suaramu jadi makin bagus saja,
Saint. Aku ini ya, karena tidak punya pengalaman awalnya cuma meraba-raba cara
mainnya, tapi akhirnya mulai paham triknya! Ini masih belum selesai,
tahu!"
(Ahh,
sungguh perkasa... Pinggang dan kakinya yang kekar ini telah membuatku melayang
ke surga berulang kali, disantap, mendesah mesum, bahkan bagian yang tidak
pernah kuperlihatkan kepada siapa pun telah diinvasi sampai tuntas... Inilah...
pria... Tidak, bukan sekadar pria biasa... Tengen──── Ah, aku bakal mencapai
puncak lagi dan pingsan──── Tapi tidak boleh. Aku ini, ini adalah penebusan
dosa, jadi tidak boleh merasa bahagia... Sekalipun mempersembahkan segalanya
kepada orang ini, aku tidak boleh tenggelam di dalamnya. Sehebat apa pun orang
ini, aku tidak boleh berpikir ingin lagi, ingin diperkosa, atau ingin
diacak-acak, dan raut wajah menangis tanpa daya yang sempat diperlihatkan orang
ini, atau tingkah manja seperti bayi di tengah-tengah menyantapku walau
tindakannya kasar, serta suara yang lolos di 'momen itu'—aku tidak boleh
berpikir kalau itu sangat imut. Aku harus menebus dosa.)
Ia berjuang sekuat tenaga menahan dirinya
agar tidak jatuh hancur dan tenggelam di dalamnya.
(Ya, seumur hidup aku akan menjalani
hidup dengan perasaan yang mengiris dada tanpa pernah melupakannya. Perasaan
berdebar-debar itu tidak boleh. Sebagai boneka orang ini, disantap, dikerjai,
diperlakukan secara kasar dan ganas, pasrah dibiarkan melakukan apa saja, dan
menerimanya... Ah, lagi-lagi... ciuman... ciumannya...)
Ia berjuang keras hingga tidak menyadari
bahwa dirinya sendiri sudah sejak tadi jatuh hancur dan tenggelam di dalamnya.
"Guwahahaha, a~... Mantaaap
banget... Buat apa coba aku menahan hal
mantap seperti ini... Menahannya,
bertapa, melayani tanpa imbalan, lalu
jadi Pahlawan... Cih, semuanya sudah
tidak memedulikan lagi..."
Dan Damon pun ikut jatuh hancur.
Ia ketagihan oleh kenikmatan. Benang akal
sehatnya yang terputus total karena tidak perlu lagi memedulikan pandangan
orang atau rasa sungkan juga ikut mendorongnya.
"Fuuh... Lagipula perutku mendadak
agak lapar, nih..."
"Nhh, a, u, kh... A, sup yang tadi
dan rotinya... Ah, tapi sudah dingin...
Saya panaskan sebentar, a, ma-maaf,
p-pinggang saya..."
"Ha? Tidak masalah walau dingin.
Yang penting masuk ke perut."
"...Diterima."
"Sini, berikan... Emm? Ini sedekah
tanpa imbalan, ya?"
"Bukan. Ini masih dalam jangkauan
imbalan."
"Makanannya sendiri?"
"Saya minta dibagi dari warga
desa."
"...Kalau begitu sedekah, dong.
Nanti imbalannya harus kubayar... Tapi sebelum itu, berikan dulu."
"Baik."
Waktu di mana mereka saling menyantap
tanpa henti akhirnya mendapatkan sedikit jeda istirahat.
Sang Saint yang mencoba berdiri sama
sekali tidak punya tenaga di seluruh tubuhnya hingga pinggang dan kakinya tidak
sanggup menopang.
Damon menarik sang Saint mendekat beserta
makanannya.
Hanya dengan itu sang Saint memahami
pikiran Damon, ia memasukkan sayuran sup ke dalam mulutnya sendiri, lalu
menempelkan bibirnya ke bibir Damon untuk menyuapinya lewat mulut ke mulut.
"Nhh, chuh, chuh."
"...Dingin sih, tapi ya lumayan bisa
dimakan lah... Bahan makanannya dibagi?"
"Ya. Di katedral Kota Suci, waktu
masa pelatihan hal seperti ini sudah..."
"Fuuun... Yah, tingkatannya standar
lah, tidak bagus tidak jelek."
"Saya akan giat belajar. Agar Anda
bisa memakannya seumur hidup."
Ia bahkan tidak lagi panik hanya
gara-gara ciuman mulut ke mulut.
Sejauh itulah Damon dan sang Saint telah
saling mengenal satu sama lain.
Dan kalau dipikir-pikir, momen inilah
yang menjadi pertama kalinya mereka berdua mengobrol dengan tenang.
"Ngomong-ngomong, Saint... tidak,
Mantan Saint. Siapa namamu?"
"Baik...
Nama saya 『Strayer』... Master."
Sampai-sampai mereka belum menyadari
bahwa nama sang Saint
sendiri belum pernah ditanyakan.
"Begitu ya............ Oi, waktu
istirahat selesai. Kita lanjutkan, Strayer."
"Baik, Master."
Bagaimanapun juga pada hari itu, tanpa
memedulikan gelar atau pandangan orang-orang yang mengikat mereka selama ini,
sang pria mengenal wanita untuk pertama kalinya, sang wanita mengenal pria
untuk pertama kalinya, dan untuk pertama kalinya mereka memperlihatkan air mata
di hadapan orang lain.
Dan...
"...L-Luar
biasa... M-Mereka berdua, m-masih... 『Mbak Najimi』...
A-Aku, entah kenapa tubuhku terasa panas
dan berdebar-debar..."
"J-Jangan,
『Shesta』... M-Mengintip itu... Glek... L-Luar
biasa..."
Dari desa tempat mereka berdua berada
inilah, dunia akan berubah secara besar-besaran.
Berjam-jam... mungkin mereka berada di
dalam gubuk seharian penuh.
Namun akhirnya, setelah menyantap tubuh
wanita hingga kenyang,
Damon keluar ke luar. Matahari sudah
mulai tenggelam, mewarnai langit dengan warna jingga.
"Apa-apaan, sebentar lagi sudah
malam, kan. Kalau begitu habis makan malam, cuci badan... lalu sebelum tidur
main satu ronde lagi, mau? Guwahahahahaha."
"Kh! Eh, a, baik, de-dengan senang
hati, tidak, sesuai kehendak hati Anda."
【Pengalaman Damon】
●
Mantan Saint Strayer: 21 Ronde
(TL/N: Hell nah 21 rondek cik, kira² capek gk ya mereka wkwkwk)



Post a Comment