Penerjemah: Flykitty
Proffreader: Flykitty
Chapter 2
Putra Keluarga Penjahat Menyamar Menjadi Prajurit Mob
Setelah Nirvana pergi, aku hanya bisa terdiam.
Saat aku berusaha keras memastikan dia tidak mengalami kekerasan seksual yang bisa membuat hubungan dengan Cain menjadi buruk, ternyata hasilnya justru nilai kedekatannya padaku melonjak dan berujung pada… ciuman.
Aku sudah memberi latihan super keras — hampir seperti Sparta — supaya dia turun nilai kedekatannya kepadaku.
Prediksiku, dia akan mengadu atau mengeluh pada Cain. Tapi tidak ada tanda-tanda seperti itu, bahkan bukannya menyerah, dia hampir menyelesaikan seluruh latihannya.
Satu-satunya penyelamat adalah Cain tidak melihat kejadian itu.
Kalau saja Cain melihat, dengan sifatnya, pasti dia akan terbakar cemburu dan langsung menebasku. Pokoknya aku harus menyatukan Nirvana dan Cain—kalau tidak, impianku hidup santai hanya tinggal mimpi.
Saat aku berjalan di lorong asrama pria sambil memikirkan ide bagus…
Apa ini?
【Kepada putriku tersayang, Elise】
Sebuah surat yang jatuh di lorong. Isinya ditujukan kepada Elise, dan pengirimnya adalah Count Mandadaria. Isi surat itu tampaknya berisi permintaan agar Elise pulang dan membantu memulihkan kembali keluarga bangsawan mereka.
Agak menyedihkan… seharusnya ia jujur sejak awal.
“Aku masuk.”
Meskipun itu kamarku sendiri, aku mengetuk pintu. Namun begitu pintu terbuka—aku terdiam.
“Onii-sama! Selamat pulang!”
“Nord-sama!?”
“Maaf… sepertinya aku kurang peka…”
“B—bukan begitu!”
“Kalau sudah selesai, beri tahu aku…”
Aku berkata singkat pada Elise dan Mari, lalu menutup pintu perlahan. Aku bukan tipe orang yang menyelip di antara hubungan sesama gadis.
Masalahnya, Mari sedang menyusu pada dada Elise yang montok.
Sepertinya aku harus lebih waspada terhadap Elise…
Bukan hanya Meina yang ia taklukkan, sekarang Mari juga. Dia mendekati keluarga pentingku dan menyerang dari lingkaran luar—tidak bisa diremehkan.
Saat aku sedang terkesan bahwa Elise bisa sedekat itu dengan Mari—yang biasanya hanya dekat denganku dan Meina—pintu kamar perlahan terbuka.
Biasanya Elise selalu rapi, tapi kali ini rok seragam maid-nya kusut karena terburu-buru… dan entah kenapa terlihat erotis.
“No…Nord-sama… ini b–bukan seperti yang Anda pikirkan…”
Dengan wajah memelas dan alis terkulai, Elise mencoba memberi alasan. Tapi aku bukan orang sempit yang akan melarang seorang pelayan jatuh cinta pada adik majikannya.
“Aku yang salah.”
“Eh!? Nord-sama meminta maaf…?”
“Tidak kusangka kau begitu ingin melakukan permainan menyusui. Mari itu kekurangan kasih sayang seorang ibu. Aku tidak apa-apa, jadi berilah dia banyak cinta.”
“A–apa!? Tidak! Tadi itu… aku hanya dibantu Mari saja…”
Dibantu? Oh benar—gara-gara melihat adegan mengejutkan tadi, aku hampir lupa tujuan awalku. Surat itu.
“Carilah alasan yang lebih masuk akal. Yang penting, kau menjatuhkan ini.”
Aku mengambil surat yang kutaruh di saku, lalu menyerahkannya kepada Elise.
“Kau melihatnya… ya?”
"Sebatas yang paling diperlukan, sih."
"Aku tidak akan pulang. Aku akan tetap bersama Nord-sama."
Apa!? Elise menjawab seolah sudah membaca apa yang hendak kuucapkan.
Sebenarnya aku lebih senang kalau dia pulang ke orang tuanya… itu akan bisa mengurangi kebencian yang Cain tunjukkan padaku.
"Tunggu! Kau pasti dicintai orang tuamu. Bagi seorang anak, yang terbaik adalah menghabiskan waktu bersama mereka."
"Bagiku, yang terbaik adalah menghabiskan waktu bersama Nord-sama."
Aah! Dibilang begitu, dibalas begitu pula…
Elise ini keras kepala, atau lebih tepat lagi, kalau ada sesuatu yang tidak bisa ia kompromikan, dia tidak akan mundur sedikit pun.
Tidak ada pilihan lain… meski aku sebenarnya tidak mau menggunakan ini, tapi baiklah.
"Pulanglah ke orang tuamu. Ini adalah perintah dari tuanmu!"
"…Ba, baik."
Melihat Elise menahan tangis dengan air mata yang sudah menggenang, membuatku merasa seperti orang jahat.
Di game, Elise terjebak skema Nord, dan demi menyelamatkan orang tuanya yang hampir dihukum pancung karena tuduhan palsu, dia menjadi maid yang melayani hasrat Nord. Tapi sekarang dia tidak ingin berpisah dariku…
Tapi aku harus membujuknya.
Aku punya tujuan: melindungi keluargaku, yaitu Mari dan Meina-san, lalu hidup tenang.
"Onii-sama? Ada apa?"
"Mari, selama libur musim gugur Elise akan pulang ke rumah orang tuanya."
"Eli-tan, benar begitu?"
"Iya…"
"Hnng…"
Saat Elise menjawab lemah, Mari menyudutkan bibirnya dan mengeluarkan suara sedih. Aku menaruh tanganku di kepala Mari, menenangkannya.
"Mari, anggap saja Elise sedang pulang kampung. Mari kita beri dia hadiah perpisahan."
"Baik…"
Aku dan Mari memasukkan hadiah masing-masing ke dalam kotak, lalu memberikannya pada Elise.
"Terima kasih banyak… Berpisah dari Nord-sama dan Mari-sama rasanya sangat menyakitkan sampai dadaku terasa mau pecah, tapi aku akan pulang ke orang tuaku sambil berharap bisa bertemu lagi. Setelah kembali nanti, aku akan melayani sebanyak yang telah kulewatkan!"
"Aku juga berharap begitu. Jadi lakukan banyak bakti untuk orang tuamu, seperti kau melayani aku."
"Nord-sama!"
Elise merasa emosional dan memelukku erat. Pasti sebenarnya dia juga ingin bertemu orang tuanya.
Aku bisa mengurangi kebenciannya dengan Cain.
Elise bisa menghabiskan waktu dengan keluarganya.
Rencana yang sempurna, kalau boleh kubilang!
Hampir semua murid sudah meninggalkan Akademi Pahlawan. Elise membuka jendela kereta dan mencondongkan tubuhnya ke luar. Meskipun dadanya besar dan terjepit oleh bingkai jendela kecil itu…
"Nord-sama, semoga sehat-sehat ya."
"Kau juga."
"Eli-tan, sampai nanti!"
"Ya, Mari-sama. Aku menantikan saat kita bertemu lagi."
Kami menggenggam tangan Elise yang terulur. Setelah salam perpisahan selesai, kereta yang disiapkan Keluarga Bangsawan Madadaria pun membawa Elise pergi dari akademi.
"Baiklah, ayo kita pulang."
"Iya!"
Saat aku hendak kembali ke wilayah Vilance bersama Mari, seorang lelaki bersetelan ekor walet memacu kudanya menuju gerbang akademi.
"Nord-sama!"
Itu Graham.
Setelah menunjukkan lambang keluarga Vilance pada penjaga gerbang dan menitipkan kudanya, ia bergegas menghampiri kami dan membungkuk hormat. Aku memberi tahu dia:
"Kenapa begitu panik? Apa Wald dalam kondisi kritis?"
"Mo—mohon jangan bercanda. Ah, tidak, meski sebenarnya memang ada hubungannya dengan Wald-sama…"
Karena paniknya Graham, aku menebak itu soal Wald, tapi dalam leluconku jadi terdengar seperti humor gelap. Mari menahan tawa sambil menutupi mulut dengan kipas, sementara Graham bergidik.
"Pokoknya, ini…"
"Aku mengerti."
Graham membuka gulungan surat dan menyerahkannya sambil berlutut.
────────────────
Untuk putraku yang bodoh, Nord
Pernikahan antara Yang Mulia Raja John dan Putri Ketiga Kekaisaran Oiran, Yang Mulia Nirvana Lilia Karyun Von Oiran, telah ditetapkan.
Mulai sekarang, kau akan pergi ke Kekaisaran Oiran dan mengelabui Yang Mulia Nirvana untuk menjadikannya boneka Akkasen.
Jangan sampai gagal.
—Wald
────────────────
Mengelabui, hah? Mana mungkin aku melakukan itu pada gadis baik yang terlalu suka berkorban begitu!?
Surat menjijikkan itu langsung kubakar dengan 【Blazing Light】. Kertas yang terbakar hangus jatuh ke tanah, dan Graham serta Mari bertepuk tangan.
"Seperti biasa, Nord-sama hebat!"
"Onii-sama langsung menghilangkan bukti, luar biasa!"
Se—serius? Aku cuma kesal lalu membakarnya…
Aku menolak mengelabui Nirvana, tapi aku merasa ada bahaya besar yang mengancamnya. Jadi, usulan Wald ini justru kesempatan untuk mendekatkan diri padanya. Kalau dibiarkan, dia mungkin akan dijadikan pelampiasan tentara. Dia gadis yang terlalu berbahaya kalau dibiarkan sendiri.
Sepertinya karena surat itu, aku benar-benar masuk jalur Nirvana. Kalau begini, sebelum aku mati karena rencana kebangkitan Dahlia versi Wald, aku bisa mati terbunuh Cain di jalur Nirvana.
Aku memutuskan untuk menolong Nirvana duluan!
─── 【Sudut Pandang Elise】
"Haa…"
"Eli-tan? Ada apa?"
Aku menghela napas karena kembali ditolak Nord-sama. Mari-sama menghampiriku dan bertanya lembut.
Hanya karena tatapan Nord-sama tertuju pada siswa pindahan bernama Fana itu, rasanya aku hampir menjadi gila. Aku ingin beliau hanya melihatku…
"Haa… aku sudah banyak melayani Nord-sama dengan dadaku…"
Eh!? Apa yang kukatakan!? Karena imutnya Mari-sama, aku tanpa sadar hampir berkata jujur.
"Mari pikir… akan sangat bagus kalau Eli-tan bisa jadi istri Onii-sama. Kalau begitu, Meina-tan, Onii-sama, dan kak Eli-tan bisa hidup rukun bersama."
Ah! Aku dan Nord-sama menikah!!
"Terima kasih banyak, Mari-sama."
Kebaikan Mari-sama membuatku memeluknya erat.
"Tapi Onii-sama lama sekali, ya."
"Benar… aku akan lihat sebentar."
Saat aku menjauh dari Mari-sama dan mengintip dari jendela ke arah gerbang…
Hah!? Yang terjadi benar-benar tak bisa dipercaya.
Nord-sama dicium oleh Fana!
Tidak bisa dimaafkan…! Bagaimana bisa dia berani mengambil bibir Nord-sama begitu berani!
Dadaku terasa sesak melihatnya. Tapi… kalau diambil, maka harus kuambil kembali!!
"Eli-tan! Ada apa!?"
"Tidak… maaf sudah membuatmu khawatir."
"Eli-tan secantik ini saja diabaikan Onii-sama. Itu dosa besar."
"Mari-sama!? Apa maksudnya?"
"Supaya Onii-sama mengerti betapa mempesonanya Eli-tan!"
Saat aku memegangi dadaku, Marianne-sama menempelkan mulutnya ke payudaraku.
Saat itu, Nord-sama kembali ke kamar…
────【Sudut Pandang Cain】
Si Nord itu bukan hanya merebut Elise yang sangat kusayangi lalu menjadikannya budak pelayan, sekarang dia bahkan mencoba mengincar Fana-chan juga!
Tidak bisa dibiarkan! Tapi belum selesai! Aku masih punya rencana pamungkas untuk membalikkan keadaan.
Setelah upacara akhir semester, Nord dan Fana-chan berdiri di depan kelas.
"Fana, kau ada sesuatu yang ingin disampaikan pada mereka, kan?"
"Ya… meski hanya sebentar, aku harus kembali ke negaraku…"
Fana-chan menahan bibirnya sambil terlihat sangat sedih. Aku tahu kenapa dia terlihat sesedih itu. Sudah pasti ini gara-gara Nord.
"Itu bohong! Aku nggak percaya Fana-chan pulang gitu aja! Kau pasti diganggu Nord, terus karena itu kau balik, kan!"
Saat aku berteriak menuduh perbuatan jahat Nord, seluruh kelas memandang ke arahku.
"Cain hanya mencoba menjatuhkan Nord-sensei tanpa alasan, jadi abaikan saja. Lebih penting dari itu, orang tuaku memintaku pulang… Aku benar-benar senang bisa menghabiskan waktu bersama Nord-sensei dan semuanya."
────Fana-chan, jangan menangis!
────Kami juga senang bersamamu!
────Datang lagi ya, nanti belajar bareng!
Ternyata Fana-chan sudah dicuci otak Nord. Dia bilang akan kembali ke kampung halaman, tapi kalau aku cepat, mungkin masih sempat. Saat aku masih tinggal di Desa Swope, pekerjaanku membantu ekonomi keluarga ternyata berguna juga sekarang. Benar-benar penting ya jadi anak berbakti.
Untuk langkah terakhir, aku menggerakkan tanganku ke bawah dan mencabut bulu itu.
"Funggh!"
Untuk menghilangkan kutukan Nord, dibutuhkan cinta yang kuat. Saat aku mencabut bulu itu, rasa sakit yang tajam langsung menusuk dan air mata jatuh. Lalu bulu yang tercabut itu kumasukkan ke dalam kapas, kemudian kututup dan kujahit bagian punggungnya.
Baik, selesai! Boneka Pahlawan Cain!
Bahan utamanya bulu domba Morumoru, diisi dengan kapas. Desainnya sangat luar biasa—imut tapi tetap gagah sambil memegang pedang. Bahkan kalau dipeluk setiap hari atau dipakai untuk hal-hal nakal, bahannya tetap kuat dan tahan kotor.
Dengan ini, meski Fana-chan kembali ke kampung halamannya, dia akan terus mengingatku.
Secara objektif, bukankah aku jenius? Kuat, pintar, baik hati, dan juga berbakat… hmm, aku ini memang pria berdosa ya. Tapi kenapa semua gadis selalu bilang Nord, Nord, Nord?
Jangan-jangan si Nord… menggunakan posisinya sebagai profesor untuk mengancam mereka dengan nilai, atau menjanjikan nilai bagus lalu memakan mereka…
Sungguh… keterlaluan! Tak bisa dibiarkan!
Aku harus melapor ke kepala akademi dan menjadikanku juga profesor! Lagi pula aku adalah orang yang mengalahkan Raja Iblis dan diakui sebagai pahlawan. Jujur saja, aku itu lebih hebat dari Nord.
────Ruang Kepala Akademi.
"Kepala Akademi Lilian! Tolong jadikan aku profesor di Akademi Pahlawan!"
Aku menepuk meja kepala akademi dengan keras sampai teh tumpah ke piringnya. Begitu kuatnya tekadku.
"Hah? Apa-apaan ini tiba-tiba…"
"Kalau Nord bisa jadi profesor, aneh kalau aku yang mengalahkan Raja Iblis tidak bisa!"
"Cain… yang aneh adalah kepalamu. Memang benar kau mungkin telah mengalahkan salah satu… eh… Raja Iblis. Tapi lihat nilai-nilaimu! Teori Mantra dapat dua bintang, Ilmu Sihir Lingkaran satu bintang, Sejarah Magic juga satu bintang, dan lainnya… Pokoknya dari lima tingkat penilaian, nilaimu ini tidak layak dibahas. Nord dapat lima bintang di semua mata pelajaran."
"Itu karena aku diperlakukan tidak adil oleh Nord! Kalau di tes langsung di sini, pasti hasilnya bagus!"
"Tidak perlu tes! Lihat ini!!"
"Kenapa nilai-nilaiku ada di ruang kepala akademi!?"
"Tentu saja! Untuk mengecek apakah para profesor curang! Dengarkan baik-baik! Kaulah yang selalu menghambat Nord! Nilaimu selalu paling bawah! Kau cuma kebetulan mengalahkan Raja Iblis, dan bukannya jadi profesor, kelulusanmu saja terancam! Dan satu lagi, meski Nord melarangku bilang ini, dialah yang merekomendasikan dirimu supaya bisa menjadi pahlawan!"
"Kepala Akademi! Itu tidak mungkin! Nord itu… dia itu—"
Aku sangat kesal dan keluar dari ruang kepala akademi.
Kenapa dia melakukan hal yang tidak perlu! Pasti Nord mau membuatku berhutang budi supaya dia bisa meminta izin untuk berhubungan dengan Elise… atau… huh? Fana-chan!? Kenapa Nord ada di sana…?
Saat aku melihat ke luar jendela di lorong, aku tak percaya dengan apa yang kulihat.
Eh? Eh!? Fana-chan!? Tidak mungkin… tidak mungkin! I–itu bohong!!
Fana-chan sedang berciuman dengan Nord.
────【Sudut Pandang Nord】
────Dekat perbatasan.
"Kururu, di sekitar sini saja."
────Kyurururuuun♪
Wyvern Kururu mengeluarkan suara tinggi menyerupai ringkikan kuda dan menuruti perintahku. Dengan tubuh dan sayap lebih besar dari pesawat kecil, Kururu menurunkan kakinya di padang rumput terbuka.
────Kyururu…
Kururu mencondongkan kepala panjangnya, mirip buaya, ke arahku sambil mengeluarkan suara sedih.
"Aah, nanti waktu aku pulang, kuberi banyak daging. Jadi tunggu di Akademi Pahlawan ya."
Saat kusisir kepalanya, matanya menyipit senang dan ekspresinya tampak puas.
Setelah mengantar kepergian Kururu yang kembali terbang, aku berjalan menuju jalan raya. Di ujung jalan ini terdapat ibu kota Kekaisaran Oiran, Karyun.
Saat aku hendak memasukkan dua pedang di punggungku — pedang suci dan pedang ular — ke dalam 【Ruang Penyimpanan】…
"Apa yang kau lakukan!"
Roh pedang suci muncul sambil salto dari belakangku dan memprotes.
"Oh iya, kau ada… namamu…"
"Aku X-chan! Masak kau lupa nama gadis secantik aku! Tidak hanya kau jarang mengeluarkan aku, kau bahkan mau menyegelkanku lagi! Dan kau masukkan aku bareng pedang yang auranya mencurigakan itu! Kalau aku diperkosa pedang itu terus sampai hamil, kau mau tanggung jawab!?"
Menyebalkan…
"Hamil!? Serius?"
"Iya! Selaput dara penting X-chan bisa ditembus ujung pedang itu, terus cairan karatnya mengalir ke dalam tubuhku!"
"Kau itu sudah dua ratus tahun perawan kering kerontang. Malah kalau pedang itu mau memeluk wanita menyusahkan dan sisa stok sepertimu, aku akan memuji pedangnya."
Lagipula aku tidak tahu apakah pedang ular itu punya roh atau tidak. Kalau dua pedang itu disimpan bersama lalu bergabung jadi pedang baru, malah bagus.
"A-aku juga ingin memilih sendiri laki-laki yang akan melakukan itu denganku…"
X tiba-tiba bersikap seperti gadis pemalu.
"Wa—!"
Memanfaatkan momen dia saat diam, aku membuka 【Ruang Penyimpanan】, menyarungkannya ke kepala X, menelannya seluruh tubuh, lalu membalikkannya untuk memasukkan pedang ular juga.
Sial, hal tak penting seperti ini malah memakan waktuku.
Saat aku berjalan supaya tidak mencolok, sebuah kereta lewat di sampingku. Akkasen dan Oiran adalah negara sahabat, jadi keamanan cukup baik. Selama berhati-hati dengan monster yang kadang muncul di jalur utama, perjalanan sendirian pun tidak sulit, dan perdagangan juga berjalan lancar.
Saat aku memasuki wilayah Kekaisaran Oiran dari zona penyangga yang dikelilingi padang rumput, aku melihat kereta yang barusan melewatiku kini dihentikan di sisi jalan. Di dekatnya berdiri sebuah pondok kecil yang tampak reyot.
Ketika aku sampai di bagian depan rombongan, seorang pria berseragam hitam militer Kekaisaran Oiran sedang menatap kereta paling depan dengan tatapan seperti orang mesum yang sedang menilai korbannya.
Kusirnya memalingkan muka dari sang tentara sambil menahan amarahnya. Tentara itu menyeringai sambil menepuk-nepuk telapak tangannya dengan pentungan.
"Mm? Ini barang yang tidak boleh dibawa masuk ke dalam kekaisaran. Disita!"
Tentara itu membuka paksa tutup kotak, dan di balik jerami pelindung, tampak botol-botol anggur. Anggur produksi Akkasen adalah barang yang sangat populer dan mahal di Kekaisaran Oiran.
Namun itu bukan barang terlarang.
Ketika sang tentara menyeret peti itu menuju pondok, kusirnya memprotes.
"Itu tindakan sewenang-wenang!"
"Diam kau!"
Tentara itu mengangkat pentungannya untuk memukul kusir. Aku hanya mengamati dengan seksama.
Awalnya aku berniat menghancurkan pentungan itu dengan sihir tanpa mantra agar tidak mencolok, tapi entah kenapa yang keluar malah Bahasa Nord-ku.
"Kalau begitu, kau tidak ada bedanya dari bandit. Kudengar Kekaisaran Oiran negara yang lebih maju dari Kerajaan Akkasen, tapi kalau tentaranya merampas barang rakyat sesuka hati, itu bahkan lebih rendah dari negara kelas tiga."
Tentara itu mengalihkan pentungannya kepadaku, sementara kusir itu meletakkan tangan di dadanya dan menghela napas lega.
"Kau… siapa kau sebenarnya!?"
"Aku? Aku cuma pengembara. Kau sendiri benar-benar tentara kebanggaan Kekaisaran Oiran? Ah, tidak mungkin. Tentara yang kukagumi tidak merampas barang rakyat. Ohh… aku mengerti sekarang!"
"Apa maksudmu mengerti! Jangan main-mai— nghg!?"
Aku menjejalkan dasar botol anggur ke mulut tentara itu.
"Bagaimana? Enak rasanya anggur hasil rampasanmu itu?"
Giginya patah dan darah mengalir di sekitar mulutnya. Tentara itu semakin marah.
"U… uhh… ini tindakan kriminal… kau harus dihukum dan dipenjara!!"
"Oh? Kau merampas barang rakyat, tapi bilang aku yang kriminal? Lelucon yang bagus. Kau lebih cocok jadi badut daripada tentara. Kalau kau mau, bisa kukenalkan ke guild badut."
"Berisik! Matiii!!"
Tentara itu menghunus senjatanya—tongkat mesin Metrix—dan menusukku dengan belati pendek yang terpasang di ujungnya.
Tongkat mesin itu kurang lebih adalah senjata api yang bisa menembakkan sihir.
Aku menarik tubuhku ke belakang hingga ujung belati hampir menyentuh dadaku. Mantel yang kupakai robek oleh ujung pisau, tapi karena tentara itu yakin akan mengenainya, ia kehilangan keseimbangan dan jatuh.
"Mm? Bukankah dasar pelatihan kalian menusukkan itu dan mengaktifkan granat sihir?"
Menurut buku Jadi Pahlawan, granat sihir adalah mahakarya alkimia Kekaisaran Oiran—alat yang memungkinkan rakyat biasa meniru sihir dengan memasukkan gulungan mantra ke dalam tabung peluru.
Yah, terlalu mengandalkan tongkat mesin dan alkimia malah membuat kemampuan sihir para bangsawan Oiran merosot… sungguh ironis. Mengingatkanku pada masyarakat di duniaku dulu yang terlalu bergantung pada mobil otomatis dan akhirnya sering kecelakaan karena lalai.
"Si… sialannn!!"
Tentara itu hendak menarik pelatuk tongkat mesin, tapi terdengar bunyi kak, kak, pelatuknya tak bergerak. Ia panik melihat ke bawah—sebatang ranting nyangkut di pelatuk. Itu sudah kuselipkan saat kami berpapasan tadi.
"Kalau begitu, kubunuh kalian semuaaa!!"
Ia membuang ranting itu dan mengarahkan tongkat mesin ke arahku, kusir, dan kereta.
"Tolong, jangan bunuh aku───!!"
Kusir itu kabur ketakutan. Jika peluru granat meledak di jarak ini, hasilnya fatal.
Aku berkata pada tentara itu:
"Oh, tentara kekaisaran yang seharusnya melindungi rakyat malah ingin membunuh rakyat? Tak bisa dipercaya. Tidak! Kau bukan tentara kekagumanku… kau palsu!"
Pada saat yang sama ia menarik pelatuk—tapi tidak terjadi apa pun. Kusir yang sudah menutup telinganya menoleh dan tampak bingung.
"Tanpa tabung peluru, alkimia itu tidak bekerja."
Aku menjentikkan tabung peluru berkilau seperti kuningan di atas telapak tanganku. Ya, aku sudah mencabutnya dari senjata itu sebelumnya.
"Nghh! Nggghh!"
Tentara itu menarik dan mendorong gagang senjata dengan putus asa, tapi tidak bergerak.
"He-hentikaaan!!"
"Baiklah."
"A—"
Aku melepaskan gagangnya tepat ketika ia menarik sekuat tenaga. Tentara itu terseret mundur seperti tali tambang yang putus, lalu terdengar Brukk ketika belakang kepalanya membentur pohon di pinggir jalan. Kusir menunjuk tentara itu dengan gemetar, lalu melihatku.
"Hahaha, dia sampai berbusa!"
Di kerah seragamnya tertulis nama Noct Axis. Di papan bahunya ada satu garis kuning—pangkat prajurit kelas dua.
Aku melepaskan seragamnya hingga ia hanya tinggal mengenakan pakaian dalam.
"Nee… jangan-jangan… kau suka sesama pria!?"
"Perlu kutandai kuburanmu di sini?"
Aku menghujamkan ujung tongkat mesin ke tanah. Si kusir terlihat langsung gemetar.
"M-maaf!! Tapi… kau ini siapa sebenarnya!?"
"Aku? anggota tim inspeksi yang bertugas menangani tentara nakal."
Aku mengikat tentara itu dengan tali dari kusir dan membuangnya ke dalam pondok.
"Biarkan dia di situ. Nanti rekan-rekanku akan menjemputnya."
Kusir tampaknya sedang melakukan sesuatu, tapi ketika aku bicara, ia buru-buru menjauh dari tentara itu.
"K-kalau kau tak keberatan naik bersama barang-barang, ikutlah."
"Terima kasih. Aku berhutang budi."
"Justru kami yang tenang kalau ada orang sekuat dirimu."
Saat kereta berjalan, aku menyadari sesuatu.
Ada papan bertuliskan:
【Silakan perkosalah sesukanya】
Si Kusir ternyata memasang papan itu di pondok tentara tadi….
Aku tanpa sadar memegangi pantatku.




Post a Comment