Cerita
Sampingan
Sang
Kaisar Tua dan Gadis Blasteran
Sejak pertama kali menginjakkan kaki di dunia ini,
kehidupanku—Cicci—berada di dasar jurang keputusasaan.
Ibuku adalah manusia, sedangkan ayahku seorang
Mazoku. Meski begitu, aku sama sekali tidak tahu seperti apa rupa
ayahku.
Dalam tatanan sosial Mazoku tempatku berada, manusia
diperlakukan lebih rendah daripada hewan ternak, bahkan hanya dianggap sebagai
perkakas.
Meski begitu, konon manusia tidak dijadikan pemuas nafsu
karena bersetubuh dengan mereka dianggap sebagai hal yang tabu.
Di tengah situasi tersebut, seorang Mazoku jatuh cinta
pada wanita manusia.
Keduanya memupuk cinta secara sembunyi-sembunyi setiap
malam, hingga akhirnya lahirlah aku.
Dan itulah awal dari tragedi tersebut.
Karena menyentuh manusia, ayahku dianggap melanggar hukum
Mazoku dan dieksekusi. Aku dan ibuku pun diusir dari masyarakat Mazoku.
Dibebaskan dari status budak—kedengarannya memang bagus.
Namun, wilayah tepat satu langkah di luar kota tempat tinggal Mazoku disebut
sebagai Wilayah Iblis, sarang bagi monster-monster ganas.
Karena tidak mungkin bisa bertahan hidup di sana, ibuku
memilih jalan untuk menjadi "perkakas" milik seorang pria Mazoku,
seorang pemburu yang mencari nafkah di pinggiran kota.
Kehidupan itu jauh lebih mengerikan daripada saat kami
tinggal di kota Mazoku.
Porsi makanan yang diberikan sangat sedikit. Jika hasil
buruan tidak memuaskan, sudah sewajarnya kami ditendang dan dipukuli.
Meski begitu, ibuku tetap berusaha membesarkanku.
Waktu berlalu, dan di usiaku yang ketujuh, aku sudah bisa
berburu sendirian.
Satu tanduk yang tumbuh di dahiku pun terus berkembang
hingga menjadi gagah.
Bagi Mazoku, tanduk adalah simbol kekuatan dan bagian
penting untuk mengendalikan Magic Power.
Seiring dengan tumbuhnya tanduk itu, kemampuan berburuku
pun semakin mahir.
Pria pemburu itu tampak tidak menyukaiku, tapi karena
hasil buruanku memuaskan, dia tidak lagi mengeluh padaku.
Saat itulah—ibuku mengandung seorang anak.
Ayahnya adalah si pria pemburu itu.
Pada malam saat hal itu terungkap, ibuku berdiri di
depan tempat tidurku sambil memegang kapak dan berkata.
"Maafkan Ibu, karena tidak bisa melahirkanmu dengan
layak."
Suara ibu itu masih terngiang di telingaku sampai
sekarang.
Lalu, aku kehilangan kesadaran karena rasa sakit yang
luar biasa.
Keesokan paginya saat terbangun, ibuku sudah tiada.
Dia telah memotong lengannya sendiri dengan kapak
pembelah kayu.
Dan aku pun telah kehilangan tandukku yang dipatahkan
dengan kapak tersebut.
Pria pemburu itu bilang ibu bunuh diri, lalu dia
mengusirku dari rumah.
Sebab, karena tandukku patah, aku tidak bisa lagi
menggunakan Magic Power dan tidak bisa lagi berburu.
Aku pun berkelana sendirian di dalam hutan.
Mungkin ibu mati sambil membenciku.
Namun, ibu tidak membunuhku.
Apakah karena orang tua tidak tega membunuh anaknya
sendiri?
Bukan alasan seperti itu.
Pasti ibu merasa jijik meski hanya untuk mati bersamaku.
Dia tidak sudi jatuh ke neraka bersama-sama.
Jika ibu jatuh ke neraka karena dosa mematahkan tanduk
putrinya dan dosa bunuh diri, maka aku akan jatuh ke neraka karena dosa membuat
ibu mematahkan tandukku, serta dosa menyebabkannya bunuh diri.
Kalau memang akhirnya harus ke neraka, demi mengabulkan
keinginan terakhir ibu, setidaknya aku harus mati di tempat yang sejauh
mungkin.
Sambil berpikir begitu, aku terus berjalan tanpa henti.
Secara ajaib aku tidak bertemu dengan monster satu pun.
Aku berjalan terhuyung-huyung di Wilayah Iblis selama
lebih dari satu hari penuh.
Namun, justru karena kenyataan tidak selalu berjalan
mulus, hal itu disebut keajaiban.
Ya, seekor monster berwujud macan kumbang hitam muncul di
hadapanku.
Tapi anehnya, aku malah tersenyum.
"Begitu ya, akhirnya hidupku berakhir di sini."
Hidup yang dimulai dengan keputusasaan dan berakhir
dengan keputusasaan. Namun, jika aku bisa mengabulkan sedikit saja keinginan
ibu, pasti kematianku pun memiliki arti.
Berpikir demikian, aku kehilangan kesadaran dengan
senyuman yang masih tersisa di wajah.
Dan tempatku membuka mata bukanlah neraka.
"Sudah bangun?"
Aku berbaring di atas tempat tidur di sebuah ruangan yang
luas. Di sana, ada seorang gadis Mazoku.
Sepertinya, nyawaku telah dipungut oleh gadis ini.
"……Kenapa kamu memungutku?"
"Memungut? Bilang dong, 'menolong'."
"Menolong……
Kalau memang mau menolong, coba saja tolong aku. Mana
mungkin kamu bisa. Aku ini blasteran Mazoku dan manusia. Apalagi tandukku sudah
patah, aku tidak punya kekuatan untuk melawan monster. Kamu bilang mau menolong
orang sepertiku? Jangan bercanda! Hidupku sudah berakhir."
Aku hanya melampiaskan amarahku.
Jika pelampiasan ini menyinggung perasaan si Mazoku lalu
dia membunuhku, aku tidak keberatan.
Gadis itu bertanya dengan nada tidak senang.
"Berapa umurmu?"
"Tujuh tahun."
"Begitu ya, tujuh tahun. Baru hidup tujuh tahun
saja sudah merasa hidupmu berakhir? Kalau mau bicara soal hidup, setidaknya
hiduplah selama seratus tahun dulu. Jangan meremehkan hidup. Asal kamu tahu ya,
aku ini sudah hidup 1.200 tahun pun masih belum paham sedikit pun apa arti
hidup ini."
"Seribu dua ratus tahun!?"
Kalau tidak salah, aku pernah mendengarnya.
Di antara Mazoku, ada yang disebut dengan Empat Raja
Iblis.
Salah satunya adalah Raja Iblis yang sudah hidup
selama lebih dari seribu tahun dengan wujud gadis kecil—Mazoku yang disebut
sebagai Kaisar Tua.
"Begitu……
jadi kamu adalah Kaisar Tua."
"Aku
benci sebutan itu. Yah, tapi masih mending daripada dipanggil Kaisar
Bocah."
Si Mazoku berkata dengan nada merajuk.
Sosoknya memang benar-benar seperti anak kecil.
Dia terlihat sebaya denganku.
"Lalu, kenapa kamu memungutku? Apa untuk
dimanfaatkan sebagai perkakas? Atau jangan-jangan, kamu merasa kasihan
padaku?"
"Biasa saja, aku menolongmu cuma karena kebetulan
lewat. Tidak ada alasan khusus. Lagipula, kenapa aku harus merasa kasihan
padamu? Malah aku yang ingin dikasihani. Tapi aku tidak butuh, sih."
"Kenapa aku harus merasa kasihan pada orang
sepertimu—"
"Coba saja pikirkan? Lihat wujudku ini? Kamu tahu
tidak betapa susahnya berhenti tumbuh dengan wujud seperti ini? Sampai sekarang
aku masih dianggap anak kecil oleh orang yang baru pertama kali bertemu. Terus
kalau mau ambil buku di rak, jangankan rak paling atas, rak keempat dari atas
saja tanganku tidak sampai."
"Pfftt."
Membayangkan sang Kaisar Tua yang berusaha keras
menjangkau rak buku, aku spontan tertawa. Padahal tadi aku merasa sangat putus
asa.
"Ini bukan lelucon tahu…… Sialan, aku benar-benar
harus protes pada orang yang membuat tubuhku jadi begini. Itu pun kalau dia
masih hidup, sih."
Orang yang membuat Kaisar Tua menjadi abadi?
Aku bertanya-tanya apakah orang semacam itu benar-benar
ada.
Jika itu kejadian 1.200 tahun yang lalu, kurasa orang itu
pastinya sudah mati.
"Cuma mau protes saja?"
"Tentu saja. Aku paham dia tidak punya pilihan lain
demi menyelamatkan nyawaku, dan juga aku su…… aku tidak membencinya, kok."
"……Iri sekali. Kamu bisa bilang 'suka' dengan
sejujur itu."
"Apa itu sindiran? Lagipula aku tidak bilang
'suka'!"
Melihatnya yang menatapku dengan mata sinis, aku
menggelengkan kepala.
"……Aku……
sepertinya sudah tidak bisa lagi mengatakan 'aku sayang ibu' dengan
jujur."
"Ibu
ya…… Aku pun dengan tubuh seperti ini sudah membuat ayahku susah. Kebetulan aku sedang senggang, kalau mau cerita, aku akan
mendengarkan."
Aku mengangguk. Aku memutuskan untuk menceritakan apa
yang menimpaku.
Sebab, jika itu adalah Kaisar Tua yang juga memiliki
nasib terkutuk namun tetap hidup dengan tegar, mungkin dia tidak akan
meremehkanku dengan rasa kasihan, melainkan berempati dari sudut pandang yang
sama.
Begitu selesai mendengarkan ceritaku, kata-kata yang
keluar darinya sungguh di luar dugaan.
"Ternyata kamu dicintai, ya."
"Dicintai? Sebelah mananya?"
"Kamu tahu alasan kenapa blasteran Mazoku dan
manusia dianggap tabu?"
Mendengar pertanyaan itu, aku menggelengkan kepala.
"Magic Power melimpah yang dimiliki
Mazoku diberikan melalui tanduk ini. Namun, tubuh blasteran akan menerima beban
yang terlalu besar untuk menampungnya. Saat masih kecil mungkin tidak apa-apa,
tapi saat mencapai usia sepuluh tahun, Magic Power akan menggerogoti
tubuh dan menyebabkan kematian. Ibumu tahu soal itu, makanya dia mematahkan
tandukmu."
"Tidak mungkin……"
"Selain itu, ibumu bukan bunuh diri, tapi dibunuh.
Pasti setelah mendengar soal kehamilannya, pria Mazoku itu membunuhnya.
Melahirkan anak blasteran adalah kejahatan berat di wilayah Raja Iblis, meski
kalian tinggal di luar kota."
"Kenapa kamu bisa seyakin itu kalau ibu
dibunuh?"
"Apakah ibumu orang yang sangat terampil sampai bisa
memotong lengannya sendiri dengan satu tangan menggunakan kapak yang harus
dipegang dua tangan? Lagipula, orang tidak akan memotong lengannya sendiri
kalau mau bunuh diri, kan? Gunakan logika."
Mendengar itu, aku tersadar.
Karena aku menghubungkan patahnya tandukku dengan
kematian ibu, aku menelan mentah-mentah kata-kata si pria pemburu.
"Begitu
ya…… ternyata aku dicintai."
Kalimat itu terlepas begitu saja dari mulutku.
"Bagaimana? Hidup ini ternyata tidak seburuk itu,
kan? Sayang sekali kalau harus menutup tirai hanya dalam tujuh tahun."
"Benar
juga…… Anu, aku minta maaf karena sudah bersikap sangat tidak sopan tadi.
Bolehkah aku bekerja di sini? Aku tidak bisa menggunakan Magic Power,
tapi aku akan bekerja sekuat tenaga, Kaisar Tua-sama."
"Sudah
kubilang, jangan panggil 'Kaisar Tua'!"
Sang Kaisar Tua berkata demikian, lalu dia tersenyum
lebar dan menggenggam tanganku.
"Namaku
Hildegard. Siapa namamu?"
"Namaku
Cicci."
Demikianlah, aku pun menjadi bawahan Hildegard-sama.
Aku telah mulai menulis sendiri naskah kehidupanku.



Post a Comment