Melihat Gitan tumbang, para penganut yang tadinya menahan
napas mulai bersuara satu per satu.
"Monster
itu…… a-apakah dia sudah mati……!? Dia sudah tidak bergerak
lagi……"
"Tapi suara tadi, bukankah itu suara Yang Mulia
Paus?"
"Tidak mungkin, mana mungkin itu beliau.
Ngomong-ngomong, sebenarnya siapa pemuda itu? Rasanya aku pernah melihatnya di
suatu tempat……"
Waduh, kalau aku berlama-lama di sini, aku akan semakin
mencolok.
Sebaiknya aku segera menghilang.
"Oh iya, aku harus membawa orang ini juga."
Lagi pula aku menyucikannya memang untuk tujuan itu.
Aku mencengkeram kerah baju Gitan yang pingsan, lalu
mengaktifkan formula Teleportation dan menghilang dari tempat itu.
Tempat tujuanku adalah kediaman Lord Lordst.
"Uwooh! Tuan Lloyd! Da-datang lagi, ya!?"
Galilea yang menyadari kehadiranku berseru kaget
dalam keadaan telanjang bulat.
Mungkin baru selesai mandi, uap panas masih mengepul dari
tubuhnya.
"Hai, Galilea. Sudah sejak kemarin, ya."
"……Duh, Anda ini selalu saja tiba-tiba…… Penampilan
itu, apa orang ini juga teman Lamy? Ukurannya besar sekali…… Tunggu sebentar
ya, saya pakai baju dulu."
Karena
ini kunjungan kedua, dia tidak terlalu terkejut lagi.
Sambil
melepas kepergian Galilea yang bergegas ganti baju, aku mencoba membangunkan
Gitan.
"Bangun,
Gitan."
"Ugh……
Di-di mana ini……? Aku sebenarnya sedang melakukan apa…… Ha!"
Gitan yang tersentak bangun langsung berlutut di
hadapanku.
"Mo-mohon maafkan saya! Saya telah melakukan hal
yang mengerikan……!"
Dia melakukan dogeza, bahkan seolah belum
cukup, dia berkali-kali membenturkan kepalanya ke lantai.
"Menggabungkan manusia dengan monster adalah
tindakan yang menantang Tuhan! Apalagi saya memodifikasi diri sendiri dengan
kekuatan itu, menyandera anak kecil, bahkan mencoba menghancurkan kota…… Ah,
hal mengerikan macam apa yang hendak saya lakukan tadi……!"
"Tuan Lloyd, terima kasih banyak telah menghentikan
kegilaan saya. Benar-benar, terima kasih banyak……!"
Gitan menundukkan kepala sambil menangis dan bahunya
gemetar.
Hmm,
sepertinya penyucian itu benar-benar membuatnya bertobat.
"Gitan, sepertinya kau sudah menyesali
perbuatanmu."
"Benar sekali, Jiriel-sama! Betapa tidak sopannya
saya terhadap Anda juga……!"
"Jangan menunduk padaku, tapi tundukkan kepalamu
pada Tuanku, Lloyd-sama."
"Kenapa malah kau yang jadi sombong begitu……"
Grim menimpali kata-kata Jiriel.
Melihat Gitan yang masih menunduk, aku hanya
melambaikan tangan dengan santai.
"Ah, kalau kau sudah menyesal, tidak apa-apa.
Lagipula aku tidak bisa bicara kalau kau terus begitu, jadi angkatlah
kepalamu."
"Ba-baik!"
Mendengar perintahku, Gitan perlahan mengangkat
kepalanya dengan ragu.
Tubuh Gitan memang masih tetap berwujud monster, tapi
wajahnya terlihat seolah beban berat telah terangkat darinya.
"Tuan Lloyd, maaf membuat menunggu. Lamy juga
saya bawa kemari."
"Ha-halo..."
Di samping Galilea yang sudah berpakaian, ada Lamy
juga.
Melihat sosoknya, wajah Gitan seketika menjadi pucat.
"Ka-kamu adalah yang saat itu……! Maafkan aku! Aku
telah melakukan hal yang tidak bisa diperbaiki! Aku tidak tahu harus bicara
apa……!"
"Eh? Eh? A-ada apa ini?"
Lamy tampak bingung melihat Gitan yang menangis meminta
maaf.
"Dia adalah Gitan. Orang yang mengubahmu menjadi
wujud seperti itu. Tapi sekarang dia sudah menyesal."
"Benar-benar mohon maaf…… Bagaimana aku harus
menebus dosaku padamu……"
Melihat
Gitan yang terus menunduk, Lamy berpikir sejenak lalu menyapanya dengan lembut.
"E-eto,
Gitan-san. Tolong angkat kepalamu."
"Ah,
baik……"
Gitan
mengangkat wajahnya, dan Lamy tersenyum lembut padanya.
"Memang
sangat disayangkan tubuhku menjadi begini. Tentu saja
aku punya perasaan benci padamu. Tapi melakukan itu pun tidak akan
menyelesaikan apa-apa."
"……Jadi, jika kau punya keinginan untuk menebus
dosa, maukah kau membantuku agar aku bisa kembali ke tubuh asliku? Mungkin
kalau sendirian akan sulit bagiku, tapi kalau ada kau, aku yakin aku bisa
kembali normal."
"Namun……"
Wajah Gitan kembali muram.
Tentu saja itu bukan hal yang mudah.
Tubuh Lamy saat ini seperti satu wadah yang diisi dua
jenis cairan yang bercampur menjadi satu.
Jika dipaksa dilepaskan, itu pasti akan menyebabkan
kerusakan fatal.
Memisahkan mereka dengan bersih hampir mendekati
mustahil.
Tapi, kemungkinannya tidak nol.
Sesuatu yang diciptakan melalui formula sihir pasti
memiliki cara untuk dilepaskan.
Karena formula sihir adalah aturan dunia.
Sama seperti matahari yang terbit dari timur dan
tenggelam di barat, pasang surut air laut, dan nyawa yang suatu saat akan
berakhir──sihir tidak mengenal baik atau buruk, ia hanya ada di sana.
Bagaimanapun rumitnya sihir itu terjalin, jika diuraikan
satu per satu dengan teliti, suatu saat pasti bisa kembali seperti semula.
Secara teori, setidaknya begitu. Aku pun angkat bicara
pada Gitan yang ragu.
"Dengar Gitan, sebanyak apa pun permohonan maafmu
lewat kata-kata, itu tidak akan menyelamatkan Lamy. Kalau begitu, bukankah kau
harus menunjukkannya lewat tindakan?"
"Kerahkan seluruh pengetahuanmu, gunakan hasil
penelitianmu tanpa sisa, dan kembalikan tubuh Lamy. Barulah kau bisa dikatakan
telah menebus dosamu, kan?"
"……Ya, Anda benar sekali."
"Kalau begitu, curahkan seluruh tenagamu demi Lamy.
Itulah cara penebusan dosamu."
Gitan mengepalkan tinjunya erat-erat.
Ada air mata yang menggenang di matanya.
Wajah itu kini memancarkan rasa tanggung jawab.
"……Lamy-san, meski harus mempertaruhkan segalanya,
aku akan mengembalikan tubuhmu. Mungkin akan memakan waktu yang sangat lama.
Tapi, aku bersumpah akan mengembalikanmu! Bisakah kau bersabar sampai saat itu
tiba?"
"Iya! Aku juga akan berjuang! Mari kita kembali ke
tubuh asli bersama-sama!"
"Ooh…… kata-kata selembut itu untukku…… terima kasih. Terima
kasih……!"
Gitan
dan Lamy saling menjabat tangan.
Baguslah,
dengan ini penelitian tentang monster juga akan mengalami kemajuan.
Tentu
saja aku tidak berniat menggabungkan tubuhku sendiri dengan monster, tapi
mungkin ada hal menarik yang bisa tercipta dalam proses pembuatan formulanya.
Selain
itu, Gitan sendiri bisa memproduksi material langka secara tak terbatas.
Jika
ada material, aku bisa mulai mengerjakan pembuatan alat-alat sihir yang selama
ini belum sempat kusentuh.
Fufufu, penelitian sihirku sepertinya akan semakin lancar
lagi.
"Luar biasa Tuan Lloyd, taktik yang hebat.
Padahal Lamy dan Gitan itu fisiknya sudah seperti monster, tapi Anda
menjadikannya bawahan tanpa ragu sedikit pun... Benar-benar orang dengan hati
yang lapang."
"Justru karena orang seperti Andalah, kami ingin
mengikutinya. Saya, Galilea, dengan rendah hati akan mengabdi setulus hati
mulai sekarang!"
"Di antara mereka yang bertobat melalui
penyucian, ada yang mengakhiri hidupnya karena rasa penyesalan yang terlalu
besar. Karena itu Anda memberikan tujuan hidup pada Gitan dengan memberinya
tugas penebusan dosa. Anda tidak hanya memaafkan dengan kata-kata, tapi juga
memikirkan masa depannya…… Anda luar biasa, Tuan Lloyd."
"Formula
sihir yang menggabungkan makhluk hidup secara paksa, ya? Jika ini digunakan
dengan baik, bahkan kematian bisa diatasi dan hidup abadi bisa didapatkan.
Sepertinya kamu sudah menyiapkan antisipasi agar tidak hampir mati karena
lengah seperti sebelumnya. Hebat juga kau, Lloyd. Gehihi."
Mereka
bertiga menggumamkan sesuatu, tapi itu hal biasa jadi aku tidak perlu terlalu
memikirkannya.
Bagaimanapun juga, masalah ini selesai.
◇
Selesai, atau begitulah seharusnya…… namun beberapa hari
kemudian aku dipanggil oleh Ayahanda, Raja Charles.
Saat
aku menuju Ruang Singgasana, Charles sudah ada di sana bersama Albert di
sisinya.
"Kau
sudah datang, Lloyd."
"Hamba,
Ayahanda."
Aku
menjawab singkat suara Charles.
Sebenarnya ada urusan apa?
Suasana yang terasa berat membuatku menahan napas.
Charles berdeham pelan lalu mulai berbicara.
"Beberapa malam yang lalu, kau diam-diam menyelinap
keluar dari istana, kan?"
Mendengar kata-kata Charles, bahuku tersentak kaget.
Gawat, ternyata ketahuan juga.
Kupikir akan aman-aman saja karena aku pulang sebelum
tengah malam, tapi sepertinya seseorang telah melihatku.
Sial... Sambil memutar otak mencari alasan, aku
mengangguk menjawab pertanyaan Charles.
"……Iya,
anu, semilir angin malam terasa begitu menenangkan, jadi……"
"Heh,
mau Ayah tebak apa yang kau lakukan? Kau pergi ke Gereja Pusat, kan?"
Meskipun aku mencoba berkilah, dia membalasnya dengan
senyum penuh keyakinan.
……Gawat, sepertinya dia sudah tahu semuanya.
Alasan dia baru memanggilku selang beberapa hari mungkin
karena dia sedang mengumpulkan bukti atas tindakanku.
──Tepatnya, insiden hancurnya Markas Besar Gereja.
Sesaat setelah kejadian itu, aku meminta Ren untuk
menyelidikinya. Katanya Markas Besar Gereja hancur sebagian akibat serangan
seseorang yang tidak dikenal.
Paus Gitan dinyatakan hilang, sementara para penganut
berada dalam kekacauan besar.
Meskipun itu perbuatanku sendiri, kepalaku terasa pening
mendengarnya sehingga aku menyuruh Ren pergi di tengah laporannya.
Awalnya aku berniat pura-pura tidak tahu dan berharap
Charles tidak mendengarnya, tapi ternyata...
"Tentu saja insiden di Gereja itu sampai ke telinga
Ayah. Benar-benar, kau sudah melakukan sesuatu yang luar biasa."
Charles menatapku tajam dengan tatapan matanya yang
tajam.
……Tapi sepertinya usahaku sia-sia.
Banyak orang di istana ini, termasuk Charles, yang
berhutang budi pada Gereja.
Jika aku dianggap melakukan sesuatu yang memperburuk
hubungan itu, hukumannya pasti tidak sekadar dimarahi.
Padahal belakangan ini aku sudah mulai dipercaya sehingga
bisa bebas keluar masuk, tapi kalau begini, aku mungkin tidak akan
diperbolehkan keluar istana lagi.
Sambil bersiap menerima kenyataan pahit, Charles kembali
angkat bicara dengan nada berat.
"──Kerja bagus, Lloyd."
"……Hah?"
Mata aku membelalak mendengar kata-kata Charles.
"Ayah sudah tahu dari Albert kalau kau sering pergi
ke Gereja belakangan ini. Awalnya Ayah hanya ingin mengamati tindakanmu, tapi
saat itulah Ayah tahu kalau Paus sepertinya sedang merencanakan sesuatu, jadi
Ayah mengubah fokus penyelidikan."
"Lalu muncul kecurigaan kalau Paus terlibat dalam
kasus orang hilang yang meresahkan kota belakangan ini. Ayah sedang
mengumpulkan bukti untuk segera meringkusnya, dan saat itulah insiden ini
terjadi."
Charles mengangguk-angguk puas.
Sejak kapan dia menyelidiki hal semacam itu? ……Ah, pasti
Silpha.
Kemungkinan besar dia diperintah oleh Albert.
"Ayah benar-benar terkejut. Padahal baru saja mau
menggerebek Gereja, ternyata sudah terjadi keributan besar. Saat Ayah bertanya
pada para penganut, banyak dari mereka yang melihatmu bertarung melawan Paus
yang berubah menjadi monster. Apalagi kau bersama seorang malaikat."
"'Apakah Pangeran Ketujuh adalah Utusan Surga!?'
Mereka malah balik bertanya begitu pada Ayah. Hahaha!"
Entah
kenapa Charles tampak senang.
Hmm,
ternyata memang benar-benar terlihat oleh para penganut, ya.
Lagi pula, apa-apaan itu "Utusan Surga"?
Malu-maluin saja.
"M-mungkin itu hanya orang yang mirip dengan
saya……?"
Saat aku mencoba mencari alasan, Albert yang berjaga di
sampingnya tersenyum tipis.
"Tidak perlu rendah hati, Lloyd. Dulu kau juga
pernah menyelinap keluar malam-malam untuk menghentikan rencana Lord Lordst,
kan? Dari situ aku langsung terpikir, 'Ah, pasti ini ulah Lloyd'."
Ucapnya sambil mengedipkan satu matanya.
Sepertinya orang ini juga berpikiran hal yang sama.
"Umu, bahkan di antara para penganut ada yang
memintamu menjadi Paus berikutnya karena menganggapmu Utusan Surga. Kau
benar-benar dicintai mereka, ya!"
Sial, aku benar-benar terpojok.
Bisa hilang kebebasanku kalau sampai dijadikan Paus.
Meskipun aku bisa mendapatkan banyak informasi soal sihir
suci, tapi untuk yang satu itu, maaf saja.
"Menumpas kejahatan di balik kegelapan malam tanpa
diketahui siapa pun, ya? Apa kau menyembunyikannya karena berpikir akan
merepotkan Ayah? Misalnya seperti dipaksa menggantikan posisi Paus yang kau
kalahkan itu."
Mungkin karena raut wajahku yang tersentak ketahuan,
Charles tertawa geli.
"Hahaha, Ayah tidak akan melakukan hal seperti itu. Lagi pula Ayah sudah pernah bilang, kan? Kau adalah Pangeran Ketujuh
yang tidak ada hubungannya dengan hak pewaris takhta. Hiduplah sesukamu tanpa
perlu memikirkan tugas-tugas formal."
"Ayahanda, itu berarti……!"
"Umu, Ayah sudah bilang pada mereka kalau mereka
salah lihat. Lloyd hari itu sedang tidur nyenyak di kamarnya. Para
penganut yang datang memohon itu pun akhirnya menyerah dan pulang."
Fiuh, syukurlah.
Aku mengembuskan napas lega, sementara Charles
melanjutkan kata-katanya.
"Lloyd, kau tidak perlu memikirkan apa pun dan
teruslah berkembang dengan bebas. Bagaimanapun juga, aku adalah ayahmu. Aku
berjanji akan selalu menjadi kekuatan bagimu."
"Tentu saja aku juga, Lloyd. Jika kau kesulitan,
andalkanlah kakakmu ini."
"Ayahanda, Kakak Albert…… terima kasih banyak!"
Aku menundukkan kepala pada mereka berdua.
Kupikir mereka sudah lupa dengan janji yang diucapkan
dulu sekali, tapi aku terharu karena mereka masih mengingatnya.
Aku berdiri, sekali lagi menundukkan kepala sebagai tanda
terima kasih, lalu meninggalkan Ruang Singgasana.
"Lloyd menjadi Paus, ya? Benar-benar orang-orang
Gereja itu tidak punya penglihatan yang bagus. Apa mereka pikir putraku hanya
sebatas wadah sekecil itu?"
"Yah, tidak ada salahnya membuat Gereja berhutang
budi. Lagi pula Gereja tidak hanya ada di negara ini saja. Saat dia pergi ke
negara lain nanti, hubungan dengan Gereja akan menjadi kekuatan bagi
Lloyd."
"Lloyd, saat ini seraplah segala hal sesuka hatimu.
Itulah tugas yang harus kau lakukan sebagai seseorang yang memiliki takdir
menjadi raja yang memimpin dunia."
Charles bergumam pelan setelah aku pergi.
"Kupikir Lloyd pergi ke Gereja untuk membangun
relasi, tapi siapa sangka dia malah hampir diangkat menjadi Paus. Kata-kata
Ayah memang membuat mereka menyerah untuk saat ini, tapi saat mereka pulang,
aku masih mendengar suara-suara yang ingin menjadikan Lloyd sebagai Paus."
"Sepertinya dia berhasil memenangkan hati mereka
lebih dari yang dibayangkan. Jika terjadi sesuatu, sekali dia
memanggil, mereka pasti akan segera berkumpul di sisi Lloyd. Jumlah penganut
Gereja di negara ini saja lebih dari sepuluh ribu orang. Sepuluh kali lipat
lebih banyak dari pasukan pribadiku... Jika Lloyd menginginkannya, dia bahkan
bisa menggulingkan negara ini. Fiuh...
mengerikan juga. Meskipun sebagai kakak, aku sangat bangga padanya."
Albert
dan Charles menggumamkan sesuatu, tapi untuk saat ini aku merasa lega.
Mereka
berdua benar-benar baik karena masih memberiku kebebasan setelah semua yang
kulakukan.
Memang
benar, menjadi Pangeran Ketujuh itu posisi yang paling santai.
Sepertinya
aku masih bisa terus fokus pada penelitian sihirku dengan bebas.
◇
"Eeeh!?
Saya menjadi Paus berikutnya!?"
Isha membelalakkan matanya mendengar kata-kataku.
Beberapa hari setelah itu, aku pergi ke Gereja untuk
menemui Isha.
Lalu aku memintanya untuk menjadi Paus.
"Iya, karena posisinya sekarang sedang kosong, aku
pikir ini kesempatan bagus. Isha juga populer sebagai penyanyi, jadi menurutku
tidak buruk."
"Tidak, tidak, tidak! Itu mustahil! Mana
mungkin saya bisa mengemban tugas sebagai Paus!"
Isha menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
Hmm, sepertinya memang sulit bagi Isha yang memiliki
kepribadian seperti itu untuk langsung setuju.
Sebenarnya ada alasan kenapa aku datang memintanya meski
tahu kemungkinannya kecil.
Sejak kejadian itu, setiap hari penganut Gereja datang
menemuiku dan memohon agar aku menjadi Paus.
Ini benar-benar merepotkan. Meskipun aku sudah bilang
berulang kali kalau itu bukan aku, mereka tetap bersikeras, "Tidak, itu
pasti Anda! Mohon bimbinglah kami!" sambil memohon-mohon dengan air mata.
Setelah beberapa kali berdebat, akhirnya mereka setuju
dengan syarat akulah yang akan memilih Paus berikutnya.
Aku sempat heran apa Paus bisa dipilih semudah itu, tapi
mereka bilang mereka akan mendukung siapa pun yang kupilih.
Itulah sebabnya aku meminta Isha, tapi—
"Pasti mustahil!"
—dia menolaknya dengan tegas.
Padahal bagiku, Isha yang sudah kukenal dan tidak terlalu
tertarik pada sihir akan sangat membantu karena dia pasti akan dengan mudah
mengizinkanku melihat buku-buhu sihir suci milik Gereja.
"Tuan Lloyd, mau bagaimanapun rasanya terlalu berat
bagi wanita biasa untuk memimpin begitu banyak penganut. Wajar saja kalau dia
menolak."
"Muu, meski ini Isha-tan, aku harus mengakui kalau
jabatan Paus memang terlalu berat untuknya. Tapi, tentu saja aku akan
mendukungnya dengan segenap tenaga jika itu keinginan Anda..."
Grim dan Jiriel ikut memberikan masukan.
Memang sulit membayangkan Isha akan setuju begitu
saja.
Karena itulah, aku sudah membawa senjata rahasia.
Salia yang sedari tadi berjaga di belakangku pun
melangkah maju.
"Isha, kau masih ingat saat pertama kali kita
bertemu?"
"Salia!? ……Eto, kalau tidak salah saat konser di
Gereja, kan?"
Isha
menjawab setelah berpikir sejenak.
"Ooh! Kalau itu aku ingat sekali! Sepuluh tahun yang
lalu, hari di mana legenda Salia-tan dimulai! Permainan musik yang luar biasa
untuk ukuran anak-anak hingga membuat semua orang menangis tersedu-sedu! Aku
saja sampai mau menangis kalau mengingatnya kembali..."
Jiriel tenggelam dalam kenangan dan mulai berkaca-kaca.
Sepertinya permainan musik Salia memang sudah hebat sejak
dulu.
"Kau menghampiriku saat aku hendak pulang setelah
selesai tampil. Dengan mata berbinar, kau bilang 'Permainanmu tadi hebat
sekali! Ajari aku juga!'. Yah, tentu saja aku tidak mengajarimu."
Ternyata tidak diajari, ya. Dingin sekali.
Sambil menatap ke kejauhan, Salia melanjutkan.
"……Tapi, kau tidak menyerah. Sebanyak apa pun aku
mengabaikanmu, kau tetap mulai bernyanyi di sampingku saat aku bermain musik.
Awalnya aku bingung anak ini kenapa, sih. ──Tapi, anehnya aku tidak merasa
terganggu. Tanpa kusadari, kau selalu ada di sampingku."
Salia kemudian melangkah menuju piano.
Dia menarik kursi pelan lalu duduk, jari-jarinya mulai
menari di atas tuts piano.
Suara dentuman musik yang indah mulai bergema di
dalam ruangan.
Isha sempat terkejut melihat tindakan tiba-tiba itu,
namun seolah menyadari sesuatu, dia mulai bernyanyi.
──♪
Itu adalah lagu lama. Lagu anak-anak yang sederhana.
Namun di tangan mereka berdua, lagu itu telah naik ke
level yang berbeda.
Penuh perasaan, megah, bahkan terasa memiliki tradisi dan
martabat.
Sosok mereka berdua yang sedang bermain musik di bawah
sorotan cahaya dari jendela kaca patri terlihat sangat indah bagaikan sebuah
lukisan.
Aku sampai kehilangan kata-kata saat melihat pemandangan
itu.
──♪
Setelah terdiam menikmati sisa-sisa melodi, kali ini Isha
yang angkat bicara.
"Lagu saat itu…… aku ingat sekarang, Salia. Alasanku
bernyanyi adalah untuk menyampaikan suaraku ke seluruh dunia──"
Salia mengangguk pelan.
"Dulu aku pernah bertanya padamu, 'Kenapa kau mau
bernyanyi bersamaku?'. Lalu kau menjawab, 'Kalau nyanyianku dipadukan dengan
permainan musikmu, orang yang mendengarkan pasti akan semakin banyak'."
"'Aku masuk ke Gereja agar sebanyak mungkin orang
bisa mendengar nyanyianku. Dengan begitu, selangkah demi selangkah jumlah
pendengar akan bertambah, hingga suatu saat nanti seluruh dunia akan mendengar
nyanyianku! Itulah alasanku bernyanyi!'. Begitu katamu."
"Aku sempat heran betapa egoisnya anak ini, tapi di
saat yang sama aku juga merasa itu luar biasa. Keberanian untuk menghalalkan
segala cara demi tujuan, dan mata yang selalu menatap lurus ke depan. ──Karena
kau adalah orang yang seperti itulah, aku selalu bersamamu sampai
sekarang."
"……Iya, kau benar. Kata-kata masa kecil yang sedikit
memalukan kalau ingat sekarang..."
Pipi Isha memerah karena malu.
"Tidak apa-apa, kan? Jadilah Paus. Dengan begitu,
hari di mana suaramu terdengar ke seluruh dunia akan semakin dekat. Dan saat
itu tiba, aku akan selalu ada di sampingmu untuk mengiringimu, jadi
tenanglah."
"Salia……"
Mata Isha berkaca-kaca mendengar perkataan Salia.
Lalu, dia mengangguk.
"……Aku mengerti. Aku akan
menjadi Paus."
Isha menatap lurus ke depan.
Ekspresinya kini penuh dengan harapan.
◇
"Ngomong-ngomong Salia, kau hebat sekali masih ingat
kejadian lama itu. Aku sendiri sudah hampir lupa."
"Mana mungkin aku lupa. ……Lagi pula, kau itu adalah
satu dari sedikit temanku."
Melihat
Salia yang menggaruk pipinya karena malu, Isha tersenyum lebar.
"Salia!"
Isha memeluk Salia erat-erat.
"Wa! A-apa-apaan ini?"
Melihat Salia yang kebingungan, Isha hanya tersenyum
lebar.
"Bukan apa-apa! Ehehe!"
"Duh."
Meskipun wajah Salia tampak sedikit terganggu, dia tetap
membalas pelukan itu.
Sosok mereka berdua yang saling berpelukan terlihat
seperti kakak beradik yang sangat akrab.
"Ooooooh……! Salia-tan dan Isha-tan saling
berpelukan…… Apa-apaan keajaiban ini, sungguh indah. Dan cantik sekali……! Ini
benar-benar mukjizat, Tuhan ada di sini!"
Jiriel gemetar sambil menangis tersedu-sedu.
Entah kenapa dia terlihat sangat menjijikkan saat ini.
"Tuan Lloyd, apa tidak apa-apa membiarkan makhluk
menjijikkan seperti ini tetap di sisi Anda? Lihat saja wajahnya yang nista
itu."
"Hmm, tapi mau bagaimana lagi kalau mau menggunakan
sihir suci."
Aku setuju kalau dia menjijikkan, tapi pada dasarnya dia
bukan orang jahat. Mungkin.
Selain itu, pengetahuan tentang dunia langit sepertinya
akan berguna nantinya.
Bagaimanapun, Isha sepertinya akan setuju menjadi Paus,
jadi semuanya berakhir dengan baik.
◇
Di tengah sorakan yang membahana, upacara penobatan Isha
pun dilaksanakan.
Seharusnya mahkota itu diberikan oleh Paus sebelumnya,
tapi entah kenapa malah aku yang harus melakukannya. Sungguh tidak masuk akal.
Saat aku memakaikan mahkota pada Isha yang sedang
berlutut, rambut emasnya yang indah bergoyang lembut.
Begitu Isha berdiri dan melambaikan tangan kepada para
penganut, sorak-sorai hebat meledak merayakan lahirnya Paus yang baru.
Yah, sepertinya dengan begini satu masalah telah selesai.
Namun, siapa sangka pencarianku akan sihir justru
membuatku terlibat dalam penobatan Paus baru; hubungan yang aneh memang telah
terjalin.
Meski begitu, dunia sihir memang benar-benar dalam.
Sihir suci dan penggabungan monster, ya?
Dasarnya masih belum terlihat, tapi itu pun bukan hal
yang buruk.
Apalagi sekarang subjek penelitian baru sudah
bertambah, dan hal yang bisa kulakukan pun semakin banyak.
──Berikutnya, enaknya melakukan apa, ya?
Aku merasakannya dengan penuh semangat sembari
memberikan berkat bagi sang Paus baru.



Post a Comment