『Te-tebasan tunggaaaaallll—! Di-Guardia membelah Leonhart
menjadi dua bagian—! Pertarungan yang sengit, namun berakhir dalam satu
serangan! Semuanya, berikan tepuk tangan meriah untuk keduanya—!』
Sambil mendengar sorakan masif, aku membuka lubang palka
Di-Guardia dan melompat keluar.
Sesaat sebelum tebasan, aku sudah membentangkan
penghalang di sekitar Id untuk melindunginya.
Tapi dengan ledakan tadi, belum pasti apakah dia
baik-baik saja. Aku harus segera menolongnya.
Waduh, bakal merepotkan kalau dilihat oleh penonton di
sekitar.
Aku akan menggunakan asap ledakan untuk membuat tabir
asap sebagai pengalih pandangan, lalu menyelamatkan Id di sela-sela itu.
Aku mencongkel sisa-sisa Leonhart dan masuk ke dalam,
lalu segera menemukan Id yang terselimuti penghalangku.
"Id,
kamu selamat?"
"U...
gu, u..."
Meski
Id penuh luka karena terlempar ke dinding penghalang, sepertinya dia masih
hidup.
Fuu,
syukurlah.
Kalau
dia mati sebelum aku tahu identitas aslinya, aku bisa kepikiran sampai kurang
tidur selama tiga hari.
Saat
aku mengembuskan napas lega, muncul satu retakan di topeng Id.
Retakan
itu menjalar dalam, membelah topeng itu menjadi dua dan menjatuhkannya ke
tanah.
Di
balik topeng itu, wajah asli Id adalah──
"……Aku?"
Mata
yang tampak sedikit mengantuk, hidung kecil, bibir tipis, dan alis ramping. Itu
benar-benar wajahku sendiri.
"A-apa
maksudnya ini!? Wajah bocah ini, bukankah sama persis dengan Tuan Lloyd!?"
"Jangan-jangan
saudara kembar yang terpisah!? Atau cuma sekadar mirip!? Ti-tidak, mana mungkin ada kebetulan seperti itu..."
Grim dan Jiriel tercengang.
Aku juga terpaku diam, sampai akhirnya Id membuka
matanya karena sadar.
Dia buru-buru menutupi wajah dengan tangan dan
memungut topengnya.
"Kh...!? Kamu sudah melihatnya ya,
wajahku...!"
"Kamu, jangan-jangan..."
Sesaat sebelum aku sempat melanjutkan kata-kataku, Id
menghancurkan puing-puing dan melompat dari sana.
Sambil menutupi wajah dengan topeng yang retak, dia
menatapku dengan penuh kebencian lewat satu matanya yang terlihat.
"Hutang ini pasti akan kubalas."
"Tunggu! Id!"
Tanpa
mempedulikan usahaku untuk menghentikannya, Id seketika diselimuti oleh angin
puyuh.
"Hanya kamu... yang tidak akan kumaafkan...!"
Setelah menggumamkan kata-kata itu, dia pun menghilang.
Fumu, sepertinya itu adalah sihir Fly yang
ditambahi dengan formula orisinal. Kecepatannya terlihat beberapa kali lipat
dari biasanya.
Apalagi dia sampai memutuskan aliran tenaga sihirnya
sendiri agar aku tidak bisa melacaknya, lumayan juga ya.
Aku sempat terpana melihat keindahan susunan formulanya,
tapi... masih terlalu naif. Jika jaraknya masih sedekat ini, aku masih bisa
mengejarnya.
"Lloyd!"
Zerof berlari menghampiriku saat aku hendak mengejar Id.
Albert dan yang lainnya juga ikut datang.
"Kerja bagus, Lloyd! Selamat atas kemenangannya! Aku
juga ikut merasa bangga."
"Hebat sekali, Lody-bo! Aku sudah tahu kalau kamu
pasti bisa!"
Aku dikelilingi oleh mereka semua dan terjepit di tengah
kerumunan.
Dalam situasi seperti ini, rasanya tidak mungkin
menggunakan Teleport.
『E-eh... meski peserta Id telah pergi entah ke mana...
bagaimanapun pemenangnya tidak berubah! Pemenangnya adalah peserta Lloyd! Dan
Di-Guardia! Semuanya, berikan tepuk tangan meriah untuk merayakannya!』
Di tengah gemuruh tepuk tangan yang membahana, aku
diangkat dan diarak oleh orang-orang.
Meski sedang diarak, pikiranku masih dipenuhi oleh urusan
Id.
Kenapa anak itu bisa ada di sini... Kalau dipikir-pikir,
aku merasa sudah lama tidak melihatnya, tapi aku tidak menyangka akan bertemu
dengannya di tempat seperti ini.
"Begitu
ya, ternyata dia. Tapi kenapa aku bisa sampai lupa, ya?"
Aku bergumam lirih sambil menatap langit tempat Id
terbang menjauh.
◇
"Baiklah, untuk merayakan kemenangan Lloyd... kanpai!"
Malam itu, Albert dan yang lainnya mengadakan pesta
perayaan kemenanganku.
Meski semua orang merayakannya, aku sedang tidak ingin
berpesta. Jadi aku menyelinap keluar untuk mencari udara segar di balkon.
"Ini tidak seperti Anda biasanya, Tuan Lloyd. Padahal
biasanya Anda tidak pernah meninggalkan kursi di saat-saat seperti ini."
"Benar sekali. Bukankah Anda sendiri yang selalu
bilang, kalau kita rajin datang ke acara seperti ini, orang-orang akan lebih
maklum jika kita melakukan kesalahan kecil suatu saat nanti... Ataukah Anda
begitu mencemaskan bocah itu?"
"Sebenarnya dia itu siapa, sih?"
Aku mengangguk menjawab pertanyaan Grim dan Jiriel.
"Dia itu, Id, adalah Homunculus yang aku
ciptakan."
"Homunculu-uss!?"
Keduanya berseru kaget.
Hei, suara kalian terlalu keras, diamlah.
"Kalau Homunculus, maksud Tuan Lloyd adalah manusia
buatan!?"
"Sihir terlarang yang menentang kodrat manusia
dan dikatakan sebagai puncak tertinggi dari alkimia... Anda bahkan bisa
menggunakan hal semacam itu..."
Aku menempelkan telunjuk ke bibir agar mereka berdua
tenang.
Setelah mereka terburu-buru menutup mulut, aku mulai
menjelaskan.
"……Iya. Dulu, waktu aku masih mendalami
alkimia."
Tujuan awalku memulai alkimia adalah untuk menciptakan
manusia buatan, alias Homunculus.
Pikirku, kalau aku bisa membuat Homunculus, riset sihirku
akan mengalami kemajuan pesat dalam berbagai hal.
Misalnya, dia bisa menggantikanku latihan pedang, atau
menghadirkan acara-acara yang merepotkan sebagai perwakilanku.
Karena itulah aku mencoba menciptakan salinan dari diriku
sendiri.
"Tapi akhirnya dia tidak bisa kugunakan sebagai
penggantiku. Homunculus yang kuciptakan itu memang tumbuh cepat di dalam cairan
kultur dan lahir dengan usia fisik yang sama denganku, tapi ada batas dalam
proses pendidikannya, sehingga usia mentalnya saat keluar tetap jauh lebih
muda."
Meskipun begitu, dia tetaplah salinanku. Karena dia punya
bakat sihir, aku mencoba mengajarinya sihir. Dengan sangat gigih. Dan sangat
keras.
Yah, menurutku sih masih dalam batas wajar, tapi
sepertinya dia sendiri merasa sangat tertekan.
"Lalu karena terus aku latih dengan keras... tanpa
kusadari dia sudah menghilang. Haha."
"Uwah..."
Grim dan Jiriel tampak sangat ngeri mendengar ceritaku.
"Tuan Lloyd, itu namanya penyiksaan yang nyata.
Teganya Anda melakukan itu pada anak kecil..."
"Benar sekali. Biarpun itu Anda, Tuan Lloyd, untuk
yang satu ini saya harus menyampaikan keberatan."
"Ugh, i-iya, aku juga merasa bersalah kok..."
Tanpa diberitahu mereka pun aku sudah memahaminya.
Meskipun waktu itu aku masih berusia enam tahun, aku
berniat untuk merenunginya dengan serius.
"Apa benar begitu ya..."
Gumam Grim dengan nada curiga.
Padahal dia itu iblis, tapi ternyata dia tipe yang cukup
peduli dengan hal seperti ini ya.
Namun, ada yang aneh. Kenapa aku bisa sampai melupakan
keberadaan Id hingga saat ini?
Melihat kepribadianku, kurasa sekali aku memutuskan untuk
melatih Id, aku tidak akan melepaskannya begitu saja di tengah jalan.
Tapi ingatanku tentang masa itu terasa sangat kabur.
Meskipun waktu itu aku masih enam tahun... hmm, aneh.
"……Bagaimanapun, sekarang saya paham alasan kenapa
orang itu menyimpan dendam yang begitu kuat pada Tuan Lloyd. Jika demikian,
tidak mungkin dia akan mundur begitu saja. Pasti dia akan menyerang lagi."
"Eh, apa aku benar-benar melakukan hal yang sampai
membuatnya sebegitu dendam?"
"Menurutku sih dendamnya jauh lebih dalam dari yang
Anda bayangkan, Tuan."
Hmm, padahal aku ini orang tua yang menciptakannya.
Dendam itu tidak akan melahirkan apa-apa, lho.
"Tuan Lloyd, kita tidak tahu cara apa yang akan
digunakan oleh orang yang sudah dibutakan amarah itu. Sebaiknya kita mengambil langkah
pertama. ……Jika tidak, ada kemungkinan Sylpha-tan atau Ren-tan akan menjadi
korban… I-itu saja yang harus kita hindari!"
Jiriel menggumamkan sesuatu.
Fumu, mari kita coba ubah cara berpikirnya.
Jika dia sebegitu dendamnya, kali ini dia pasti akan
datang menyerang dengan persiapan matang.
Namun kalau aku sedang berada di istana, aku harus
mengkhawatirkan orang-orang di sekitar, jadi akan merepotkan untuk menyambut
serangannya.
Setelah aku memperlihatkan perbedaan kekuatan yang
begitu jauh, tidak aneh jika dia membawa satu atau dua kartu as.
Itu sendiri terdengar menarik, tapi akan merepotkan kalau
istananya ikut hancur. Untuk berjaga-jaga, lebih baik aku saja yang
mendatanginya.
"Tapi bicara soal Id, di mana ya dia sekarang."
Id sama sekali tidak meninggalkan jejak tenaga sihir.
Di bagian itulah dia benar-benar terlihat sebagai
salinanku. Kontrol tenaga sihir yang luar biasa.
Sepertinya akan sulit untuk melacaknya secara biasa, jadi
apa yang harus kulakukan ya.
"Ada apa, Lloyd? Wajahmu terlihat serius
sekali."
Saat aku sedang berpikir keras, tiba-tiba Ren muncul dari
balik bahuku.
"Jangan-jangan kamu sedang memikirkan anak bernama
Id itu?"
"……Tepat sekali."
Melihatku yang terkejut, Ren tertawa kecil.
"Tentu saja aku tahu. Soalnya Lloyd terus bersikap
begitu sejak babak final berakhir. Anak itu langsung menghilang segera setelah selesai, kan.
Kamu pasti penasaran dia pergi ke mana? ……Tapi, mungkin kami bisa
mencarinya."
"Benarkah!?"
"Iya,
kami ini mantan pembunuh bayaran, jadi memburu mangsa yang bersembunyi adalah
keahlian kami. Apalagi Galilea punya koneksi di dunia bawah, jadi kalau
kita mencari dari arah sana, aku yakin dia bisa ditemukan."
Benar juga, sebagai Homunculus, Id adalah orang yang
secara resmi tidak pernah ada. Kemungkinan besar dia menghabiskan waktu di
dunia bawah sampai dia muncul ke permukaan.
Jika itu Galilea yang pernah memimpin guild pembunuh
bayaran, dia mungkin tahu sesuatu.
"……Benar juga. Mari kita coba tanya padanya."
"Iya!"
Bersama Ren yang mengangguk mantap, aku pun berpindah
menggunakan Teleport.
Tempat yang kutuju dengan Teleport adalah
kediaman Lord Galilea di wilayah Lordst.
Saat aku membuka pintu dan masuk, seorang pria
raksasa berkepala plontos menyambutku dengan wajah terkejut.
"Kira-kira siapa, ternyata Tuan Lloyd, dan juga Ren!
Sudah lama ya! Hei!"
"Lama tidak bertemu, Galilea! Pakaian tuan tanah itu
cocok untukmu."
"Hahaha, terima kasih! Kamu sendiri bukannya sudah
mulai terbiasa dengan seragam pelayan itu?"
"Soalnya aku dilatih oleh senior yang menakutkan.
Daripada itu, boleh kita langsung ke intinya? Lloyd punya permintaan
penting."
Ren segera mengalihkan pembicaraan, mengakhiri temu
kangen yang singkat itu.
"Maaf ya, baru sampai sudah merepotkan. Sebenarnya
aku ingin minta tolong dicarikan seseorang."
"Mencari orang, ya?"
"Iya, seorang pemuda bernama Id. Usia dan
perawakannya hampir sama denganku. Ada kemungkinan dia pernah berada di dunia
bawah saat kecil. Baru-baru ini dia menjadi alkemis di Bartram... apa
kamu mengenalnya?"
"Mengenal bagaimana, dia itu dulu pernah jadi
target buruan kami. Alkemis jenius misterius yang sudah menonjol sejak kecil.
Yah, setelah diselidiki ternyata itu cuma dendam pribadi dari klien, jadi kami
tolak."
"Membunuh tanpa alasan yang jelas itu kan
dilarang."
Guild pembunuh bayaran milik Galilea adalah
organisasi yang dibentuk dengan tujuan memperbaiki dunia.
Mungkin karena itulah, mereka melarang pembunuhan
terhadap orang yang tidak bersalah.
Tapi bicara soal dia, Id sepertinya punya terlalu
banyak orang yang mendendam padanya ya.
Sebagai pendatang baru yang ingin naik kasta, mungkin
dia harus melakukan hal-hal nekat, tapi seharusnya dia bisa lebih menahan diri.
"Karena itulah, kami sudah sedikit banyak
menyelidiki masa lalunya. Kami bisa memperkirakan pola
tindakannya, termasuk tempat-tempat yang mungkin dia datangi."
"Ooh! Di mana itu?"
"Tempat persembunyiannya adalah laboratorium di
dekat kastil Bartram, hunian di jalan utama... lalu seingatku dia punya markas
di padang gurun sebelah timur kota Bartram."
"Id memang pergi ke arah timur kota. Kemungkinan
besar di padang gurun itu. Apa kamu tahu lokasi detailnya?"
"Tentu, percayakan saja padaku! Aku pasti akan
menemukan keberadaan Id itu!"
Galilea membusungkan dadanya yang bidang seolah berkata
'serahkan padaku', tapi lawannya adalah Id yang itu.
Aku tidak yakin dia akan ditemukan dengan mudah, dan
kemungkinan terburuknya adalah bisa terjadi pertempuran.
Jika itu terjadi, Galilea dan yang lainnya tidak akan
berdaya. Perbedaan kemampuan tempur mereka terlalu jauh.
Aku juga ingin ikut pergi, tapi aku tidak bisa
meninggalkan kastil terlalu lama.
"Benar juga, ayo panggil Shiro."
Aku menepukkan tangan.
Sebagai Familiar, Shiro bisa berbagi indra denganku, jadi
jika terjadi sesuatu aku bisa segera datang dengan Teleport.
"Anak anjing itu ya? Itu sangat membantu, kalau Anda
membawanya kami bisa segera... eh, apa yang Anda lakukan?"
Galilea membelalak melihatku mengeluarkan peluit dari
saku.
Ini adalah peluit anjing.
Sudah jelas ini digunakan untuk memanggil anjing dengan
suara yang hanya bisa didengar oleh mereka, tapi karena sudah kuperkuat dengan
sihir, jangkauannya sangat luas.
Saat aku meniupnya sekuat tenaga, hanya getaran udara
tipis yang bergema di dalam ruangan.
Lalu, setelah beberapa saat──
"Eh, kok lantainya bergetar?"
Dodododododo! Terdengar suara gemuruh langkah kaki
yang berisik.
Sepertinya dia sudah sampai. Tepat saat aku membuka pintu
besar kediaman itu.
"Onn!"
Gumpalan bulu putih raksasa menerjang ke arahku.
Aku tertimbun oleh bulu putih tebal dan terjatuh.
Lalu lidah besar menjilat wajahku.
"A-apa-apaan makhluk ini!?"
"Apa katamu... ini kan Shiro."
Saat aku bangkit dan mengelus kepala Shiro, Galilea yang
melihatnya memasang wajah tercengang.
"Anak anjing ini, bukannya jadi jauh lebih besar
dari sebelumnya!?"
"Kalau dipikir-pikir memang jadi besar ya,
Shiro."
"Onn!"
Shiro mengibas-ngibaskan ekornya dengan gembira.
Ukurannya mungkin bertambah satu, tidak, dua kali
lipat lebih besar.
Katanya monster penurut akan tumbuh kuat dan besar
sesuai dengan tenaga sihir tuannya, mungkin karena itu ya.
"Onn!" "On-onn!" "Onn!"
Bersamaan dengan gonggongan itu, bulu Shiro
bergerak-gerak dan beberapa ekor anak anjing menyembulkan wajahnya.
"Iya-iya, kalian juga datang ya."
Aku mengelus kepala mereka satu per satu.
Mereka
adalah Petit Shiro dan Mini Shiro. Beast yang ikut bersamaku bersama Shiro.
Meski sekarang masih kecil, apa suatu saat nanti mereka
juga akan jadi sebesar Shiro ya?
"Kalau begitu semuanya, tolong ikuti Galilea dan
cari keberadaan Id."
"Onn!"
Gonggongan Shiro dan yang lainnya menyatu dengan harmoni
yang indah.
Kemampuan tempur mereka cukup hebat.
Jika mereka bekerja sama dengan Galilea, mereka tidak
akan kalah semudah itu meski lawannya adalah Id.
"Aku juga akan ikut. Mungkin obat yang aku racik
kemarin bisa melacak jejak kakinya."
Ren mengeluarkan botol kecil dari balik bajunya.
Belakangan ini, berkat hasil latihannya, Ren sudah
bisa menciptakan berbagai macam obat-obatan.
Jika kemampuan farmasi Ren digabungkan dengan
kemampuan pelacakan Galilea dan Shiro, Id pun mungkin akan tersudut.
"Baiklah, aku serahkan pada kalian. Semuanya."
"Iya!"
Setelah berpamitan pada mereka, aku pun kembali ke
istana.
"Onn! On-onn!"
Keesokan harinya, Shiro segera kembali.
Setelah melepaskan surat yang terikat di lehernya dan
membukanya, tampak tulisan tangan halus yang tidak sesuai dengan perawakan
Galilea memenuhi kertas itu.
"Mari
kita lihat... 'Hasil dari penyelidikan di titik target, kami menemukan tempat
yang mencurigakan. Shiro akan memandumu sampai ke sana.' ...begitu ya."
Luar biasa, kerjanya cepat sekali.
"Kuuuuun."
"Iya, terima kasih ya, Shiro."
Saat aku mengelus kepalanya, Shiro tiba-tiba menggigit
kerah bajuku dan melempar tubuhku ke atas punggungnya.
"Baiklah, ayo pergi, Shiro!"
"Onn!"
Setelah memastikan aku sudah berpegangan erat, Shiro
menendang tanah dengan kuat.
Dalam satu lompatan dia sudah keluar dari kastil dan
berlari menembus padang rumput. Dia jadi jauh lebih cepat dari dulu.
Kecepatannya hampir setingkat dengan sihir Fly
milikku.
Pemandangan di sekitar melesat dengan kecepatan luar
biasa, hingga akhirnya dia berhenti di tengah-tengah padang gurun.
"Ooh, Anda sudah datang, Tuan Lloyd. Ternyata
cepat sekali ya."
"Lagipula jaraknya ternyata cukup dekat dari
kastil."
Ini adalah padang gurun yang berada tepat di antara
Saloum dan Bartram.
Biasanya tempat ini jarang dilalui orang, jadi sangat
cocok untuk merencanakan sesuatu yang buruk.
"Iya, di padang gurun ini sepertinya tidak
masalah kalau kita bertindak sedikit nekat. Id menemukan tempat yang bagus
ya."
"Di dunia bawah, area sekitar sini cukup
terkenal sebagai tempat persembunyian. Banyak dungeon yang ditinggalkan dan
dimodifikasi menjadi tempat tinggal oleh para penjahat... ah, itu dia
tempatnya."
Di ujung telunjuk Galilea, terlihat tempat yang
seolah ditutupi oleh bongkahan batu raksasa.
Saat mendekat, jejak kaki Id yang dimunculkan oleh
obat Ren terlihat berlanjut menuju tangga di bagian dalam.
Begitu ya, ini memang tempat yang paling pas untuk
bersembunyi.
"Kerja bagus karena sudah menemukannya. Kalau
begitu, cukup Shiro dan Ren yang ikut denganku, yang lainnya tunggu di
luar."
Kalau terlalu banyak yang ikut, aku tidak akan bisa
melindungi mereka semua jika terjadi pertempuran.
Aku butuh indra penciuman dan mobilitas Shiro, serta
kemampuan pelacakan obat Ren yang lebih detail.
"Hati-hati ya."
"Iya, Galilea dan yang lainnya juga harus segera
lari kalau situasi jadi berbahaya, ya."
"Hahaha, soal lari kami sangat percaya diri,
kok!"
Sambil bertukar senyum kecut dengan Ren, kami pun mulai
masuk ke bawah tanah.
"Wah, luas sekali ya."
Ren berseru kagum.
Di depan mata kami, sebuah lubang raksasa berdiameter
sekitar 100 meter terus berlanjut hingga ke dasar.
Sepertinya atap dungeon ini dihancurkan dan dibuat
menjadi ruang terbuka.
Lalu ditutup dengan bongkahan batu di atasnya.
Sepertinya membutuhkan banyak usaha, tapi apa gunanya
membuat lubang sebesar ini?
Bagaimanapun, kami mulai menuruni tangga spiral yang
terpasang di sekeliling lubang itu.
"Rasanya ada yang tidak enak..."
"Sepertinya dia memasang penghalang untuk
pendeteksian."
Penghalang yang memungkinkan penggunanya mendeteksi
penyusup jika tersentuh telah dibentangkan di area yang luas.
Tentu saja aku membentangkan penghalang penetral agar
bisa lewat tanpa terdeteksi, tapi Ren mungkin merasakan distorsi tenaga sihir
yang muncul saat itu.
Berkat itu kami tidak akan ketahuan, tapi sebagai
gantinya kami juga tidak bisa tahu situasi di bawah.
Semakin jauh kami turun, suasana menjadi remang-remang
terang.
"Dasarnya sudah terlihat, Lloyd."
"Iya, tapi sepertinya Id tidak ada di sana."
Di jarak sejauh ini aku sudah bisa mendeteksi tenaga
sihir, tapi aku tidak merasakan kehadiran Id di sekitar sini.
Begitu sampai di dasar, terbentang ruang yang sangat
luas.
Saat Ren berjongkok dan menyemprotkan obat ke tanah,
jejak kaki mulai muncul samar-samar.
Jejak kaki itu tampak berjalan berkeliling di area
sekitar.
"Aneh ya. Jejak kakinya berakhir di sini, tapi tidak
ada tanda-tanda dia keluar..."
"Uuuuu..."
Shiro juga mengendus-endus tanah dengan hidungnya, tapi
sepertinya dia tidak menemukan sumber aromanya dan malah berputar-putar di
sekitar.
...Fumu, sudah pasti dia tadi ada di sini, tapi juga
tidak ada tanda dia keluar.
Padahal tidak ada tanda-tanda kehadirannya, sungguh
misterius.
Tidak ada tempat untuk bersembunyi, ke mana dia
menghilang?
Di bagian dalam ada ruangan kecil yang berisi labu-labu
untuk alkimia, peralatan tes, serta berbagai cairan dan logam.
Sepertinya tempat ini adalah semacam fasilitas riset,
tapi... mu.
Tiba-tiba aku merasa tidak asing dengan barang-barang
yang ada di sana.
Mirip sekali dengan alat yang digunakan Lamia dan
yang lainnya dalam eksperimen makhluk sintetis.
Riset makhluk buatan...? Tapi ukurannya berkali-kali
lipat lebih besar dari yang di sana. Sebenarnya apa yang mereka lakukan?
"Lloyd, sini sebentar!"
"Ada apa, Ren?"
Saat aku dipanggil Ren kembali ke area tengah, tanah
tampak bersinar samar.
"Aku mencoba menyemprotkan obat ke tanah. Lalu...
lihat ini."
"Benar-benar tidak ada reaksi hanya di bagian tengah
saja ya."
Tepat di tengah area, dalam jangkauan diameter sekitar 10
meter, reaksi obat tidak terlihat seolah-olah bagian itu telah dipotong.
Seakan-akan tadi ada 'sesuatu yang besar' di sana.
"Mungkin saja Id melarikan diri dengan menaiki Golem
yang tadinya ada di sini. Kalau begitu indra penciuman Shiro pun tidak akan
bisa melacaknya."
"Kuuuuun."
Begitu ya, itu masuk akal.
Dibutuhkan lubang besar semacam ini untuk membuat Golem,
dan jika itu Golem yang bisa terbang, dia bisa pergi tanpa meninggalkan jejak
kaki.
Tapi ada sesuatu yang mengganjal. Apa ya...
"Oooooy! Oooooooy!"
Saat aku sedang berpikir keras, terdengar suara dari
atas.
Galilea sepertinya sedang meneriakkan sesuatu, tapi
karena terlalu jauh suaranya tidak terdengar jelas.
Sepertinya dia dalam keadaan mendesak. Sudah tidak
ada urusan lagi di sini, sebaiknya kami kembali.
"Ren, Shiro, berpeganganlah padaku."
"U-ump!"
Setelah mereka berdua berpegangan padaku, aku
merapalkan sihir sistem angin Fly.
Angin menyelimuti tubuh kami, membuat kami melayang
perlahan dan dalam sekejap naik ke tempat Galilea berada.
"Ada apa?"
"Tuan Lloyd, gawat! Barusan ada kabar dari bawahanku
yang sedang menyelidiki Bartram, sepertinya ada Golem raksasa yang mengamuk di
sana!"
"Jangan-jangan itu...!"
Ren menatap wajahku mendengar perkataan Galilea.
Begitu ya, Golem yang tadi ada di sini.
Dilihat dari jejak obatnya, ukurannya memang masif dan
itu masuk akal.
Ada sesuatu yang mengganjal, tapi... bagaimanapun mari
kita ke sana.
"Terima kasih Galilea, aku pergi sebentar ya."
"……Hati-hati ya, Lloyd."
"Kalau kami ikut juga pasti cuma bakal jadi beban.
Hei Ren, jangan pasang wajah sedih begitu dong."
"Si-siapa juga yang sedih!"
"Onn!"
Setelah menurunkan Ren yang wajahnya memerah dan Shiro
yang mengibas ekornya ke tanah, aku meregangkan tubuh.
"Baiklah── ayo pergi."
Aku bergumam lirih, lalu melesat pergi dari tempat itu
dalam sekejap.
Setelah terbang beberapa saat, kota Bartram mulai
terlihat.
Tampak asap membumbung di berbagai sudut kota.
"Sial, terlalu jauh sampai tidak kelihatan!
Sebenarnya apa yang terjadi!?"
"Sepertinya sedang terjadi pertempuran. Saya juga
tidak bisa melihatnya dengan jelas."
Grim dan Jiriel menyembulkan wajah dari tanganku sambil
memicingkan mata.
Aku juga harus memastikan apakah Id ada di sana.
Aku menggambar lingkaran dengan ujung jari, lalu
menghubungkan ruang dengan langit di atas Bartram.
Teleport memang
tidak bisa dilakukan ke tempat yang tidak punya ikatan kuat, tapi kalau hanya
sekadar melihat, batasannya jadi lebih ringan.
Pemandangan di dalam lingkaran terdistorsi,
memproyeksikan alun-alun pusat tempat berlangsungnya Golem Fight.
Di sana terlihat para Golem sedang bertarung melawan
sesuatu yang raksasa.
"A-apa-apaan itu...!?"
"Apakah itu Golem? Tapi bentuknya aneh
sekali...!"
Keduanya tercengang melihat pemandangan itu.
Beberapa Golem yang tadinya ikut Golem Fight kini sedang
berhadapan dengan Golem raksasa yang ukurannya satu atau dua kali lipat lebih
besar.
Bukan, apakah itu masih bisa disebut Golem? Tubuhnya yang
besar dan terdistorsi tampak seperti pohon tua yang sudah hidup ratusan tahun,
dengan tentakel yang menutupi anggota tubuhnya menjalar hingga ke bawah kaki
seperti akar pohon.
Di bagian tengahnya, aku bisa merasakan denyut tenaga
sihir Id.
──Sepertinya dia memang benar-benar ada di sana.
"Bentuknya mengerikan sekali... sampai-sampai
Dewa Jahat saja terlihat imut dibanding itu..."
"Seperti menara benang laba-laba tempat para
penghuni neraka bertumpuk ya... sungguh menjijikkan..."
Memang benar itu luar biasa.
Biasanya Golem dibuat dari batu gunung atau logam,
tapi yang satu itu dibuat dengan cara mengultur dan menyambungkan makhluk hidup
seperti monster.
Bisa dibilang itu adalah Golem Biologis.
Tadi aku sempat merasa aneh melihat peralatan riset
kehidupan milik Gitan ada di markasnya alih-alih suku cadang mesin Golem, tapi
sekarang semuanya jadi masuk akal.
Hanya saja, sepertinya ukurannya jauh lebih besar
daripada jejak yang kulihat di sana...
"Tapi Golem Biologis ya. Tentu saja dia cukup
kuat, tapi..."
Kalau diperhatikan, dia menerima semua serangan dari
Golem lainnya secara mentah-mentah.
Dengan tubuh sebesar itu, sepertinya akan sulit
bergerak di dalam kota.
Bukankah lebih baik pakai Leonhart saja?
Yah, yang itu sudah aku belah jadi dua, sih.
Saat aku sedang memikirkan itu, Golem raksasa tersebut
menangkap Golem terdekat yang ada di hadapannya.
Kira-kira akan diremukkan, ternyata Golem yang tertangkap
itu ditelan oleh tentakel yang tak terhitung jumlahnya.
Sesaat kemudian, seluruh tubuh Golem raksasa itu
menggeliat dan tentakel menutupi tubuhnya yang masif.
"Uwoh! Bukannya dia jadi bertambah besar!?"
"Tenaga sihir di dalamnya meningkat pesat. Meski dia Golem, tapi dia
memangsa dan tumbuh seperti makhluk hidup? ……Benar-benar mengerikan."
Bahkan
Golem raksasa itu mulai menyerap Golem lainnya satu per satu ke dalam tubuhnya.
Setiap
kali itu terjadi, tenaga sihir di dalamnya menjadi semakin besar dan kuat.
Bentuknya
pun berubah dengan sangat cepat.
Seolah-olah
sedang melihat proses evolusi yang dipercepat...
"Hai
Lloyd, akhirnya kamu datang juga ya."
Suara Id bergema di dalam kepalaku. Itu adalah Telepathy.
"Id ya, apa yang sedang kamu lakukan? Bukankah
kamu ingin bertarung denganku?"
"Tentu saja. Tapi dengan Tartaros yang sekarang,
aku tidak akan bisa menang melawanku. Kalau kamu mau menunggu sedikit lagi, aku
janji kali ini kita bisa bertarung dalam kondisi terbaik."
Id tertawa kecil sambil terus melahap Golem-golem
lainnya.
"Kalau bicara soal Tartaros, itu adalah nama
salah satu Dewa terkuat di dunia iblis."
"Dewa
Jahat yang menyandang nama gerbang neraka ya. Namanya
bahkan menggema sampai ke dunia surgawi. Memberikan nama seperti itu pada Golem
buatannya sendiri... sepertinya dia sangat percaya diri."
Dewa Jahat Tartaros, sosok yang sering muncul di buku
sihir kuno sebagai entitas yang melahap segalanya dan terus membengkak tanpa
batas.
Begitu ya, karakteristik Golem itu memang benar-benar
mencerminkan Tartaros.
...Menarik. Jadi itu kartu as milik Id.
"Boleh juga, kalau begitu aku akan menantikannya.
Sebaiknya siapkan semuanya dengan matang sampai aku tiba di sana."
"……Iya, kali ini aku pasti akan mengalahkanmu.
Lloyd."
"Aku akan menantikannya."
Setelah memutus Telepathy, aku menuju ke pinggiran
kota Bartram tempat Di-Guardia diletakkan.
Tepat saat tujuan sudah terlihat, aku menyadari ada
sesuatu yang hilang.
"Di-Guardia... tidak ada!?"
Di-Guardia yang seharusnya ada di sini tidak terlihat.
Aku celingukan melihat sekeliling, tapi memang tidak ada
di mana pun.
Mana mungkin aku melewatkan benda sebesar itu...
sebenarnya pergi ke mana dia?
"Tuan Lloyd, ada jejak kakinya!"
"Saya
sedang memunculkan bayangannya dengan sihir suci. Mari kita
ikuti itu."
"Kerja bagus, Grim, Jiriel."
Berkat cahaya yang dipancarkan Jiriel, jejak kakinya
terlihat jelas.
Jika mengikuti ini, pasti akan sampai ke Di-Guardia.
"Tapi sebenarnya siapa yang membawanya...
jangan-jangan Kak Zerof...?"
Orang yang bisa menaiki Di-Guardia selain aku hanyalah
Zerof. Rasanya tidak ada orang lain lagi.
Tapi jejak kaki itu mengarah ke alun-alun tadi. Jangan-jangan dia berniat bertarung melawan Tartaros?
"……Itu bukan gayanya."
Setahuku Zerof itu tidak suka berurusan dengan orang
lain.
Dia bahkan tidak melambaikan tangan pada penonton
saat pertandingan Golem, dan saking tidak sukanya dengan keramaian dia bahkan
tidak ikut pesta.
Makanya kupikir dia membawa Di-Guardia yang berharga
itu jauh dari kota agar aman... tapi kalau dia malah menuju ke alun-alun di
tengah pertempuran, itu sama sekali tidak masuk akal.
"Bagaimanapun mari kita kejar."
Tanpa Di-Guardia, aku tidak bisa bertarung melawan
Tartaros.
Saat mengikuti jejak kaki tersebut, aku menemukan
Di-Guardia yang sedang menuju ke arah alun-alun.
Karena bisa mengejarnya dengan mudah, aku langsung
melompat ke bagian punggung Di-Guardia.
"Kak Zerof! Apa Kakak bisa mendengarku!?"
"! Lloyd kah!? Kenapa kamu ada di sini... tunggu
sebentar!"
Zerof
berseru dan Di-Guardia pun berhenti.
Aku
memanjat punggungnya, lalu berhadapan dengan Zerof yang muncul setelah membuka
lubang palka.
Ekspresi
wajahnya tampak menunjukkan sebuah tekad, jangan-jangan dia benar-benar berniat
bertarung dengan Di-Guardia?
Aku spontan bertanya pada Zerof dengan nada sedikit
keras.
"Kak Zerof, kenapa Kakak menaiki Di-Guardia dan
pergi ke alun-alun!? Kakak tidak berniat bertarung melawan Golem raksasa
itu, kan!?"
"……Tepat sekali. Aku menuju
ke alun-alun untuk menghentikan Golem raksasa itu. Demi melindungi rakyat
negeri ini."
"A... Kakak kan pangeran ketiga, teganya Kakak
mengambil risiko berbahaya seperti itu! Apa sebenarnya yang Kakak
pikirkan!"
Bagaimanapun itu sangat nekat.
Sebagai anggota keluarga kerajaan, tidak baik
mempertaruhkan nyawa dengan ceroboh seperti itu.
"Orang ini bicara apa sih. Padahal sebagai Pangeran
Lloyd sendiri setiap hari juga sering melakukan hal nekat..."
"Yah memang kalau Tuan Lloyd sih tidak ada risiko
bahaya sama sekali, tapi..."
Entah kenapa keduanya tampak ngeri.
Kalian bicara apa sih. Bobot nyawa Pangeran Ketiga dan
Pangeran Ketujuh itu kan berbeda.
Zerof tidak boleh, tapi aku boleh.
"Tapi kenapa? Terang-terangan saja, Kak Zerof itu
tipe orang yang tidak suka berurusan dengan orang lain. Sama sekali tidak masuk
akal kalau Kak Zerof yang seperti itu tiba-tiba ingin melindungi negara lain
dan rakyatnya menggunakan Golem yang dibuat dengan susah payah bahkan dengan
mempertaruhkan nyawa! Segera kembali sekarang juga!"
Mendengar perkataanku, Zerof berpikir sejenak lalu
tersenyum kecut.
"……Fuh, Lloyd, kamu salah paham. Bukannya aku tidak
suka orang lain. Aku hanya merasa malu jika harus berurusan dengan
orang-orang. Meski memang sering disalahpahami."
"Eh... be-benarkah?"
"Umu, tapi orang-orang kota ini dan para alkemis
seperti Lugor sudah berbuat baik padaku. Aku ini pemalu, lho. Jadi aku tidak
bisa membalasnya dengan baik... tapi sekaranglah saatnya membalas harapan
mereka semua. Jadi Lloyd, menyingkirlah. Saat ini, hanya aku dan Di-Guardia
yang bisa melindungi kota ini."
Zerof mengepalkan tangannya dengan kuat saat bicara.
Gawat. Wajahnya serius sekali.
Ternyata dia cuma orang yang sangat pemalu ya... kalau
Zerof sampai ingin bertarung demi orang lain, maka aku──
"Kak Zerof... aku mengerti."
"Ooh, syukurlah kalau kamu mengerti, Lloyd."
"Iya, karena itulah Kak Zerof──"
──Aku
pun mendorong Zerof jatuh dari Di-Guardia.
Tentu
saja aku segera menyelimutinya dengan sihir sistem angin agar dia bisa mendarat
perlahan.
Zerof yang sudah mendarat di tanah menatapku sambil
berteriak.
"Lloyd! Apa yang kamu lakukan!?"
"Tekad Kak Zerof sudah aku terima. Karena itu
serahkan sisanya padaku."
"Ah! Hei, Lloyd! Lloyd—!?"
Aku tidak mempedulikan teriakan Zerof dan menutup lubang
palka.
Tekad Zerof memang luar biasa, tapi aku juga punya janji
dengan Id.
Maaf ya, tapi yang akan menaiki Di-Guardia adalah aku.
"Lloyd... kamu menyadari kalau tubuhku bergetar
karena ketakutan ya? Makanya
kamu menggantikanku menaiki Di-Guardia. ……Benar-benar memalukan sebagai seorang
kakak. Tapi aku bangga padamu. Menanglah Lloyd, kalau kamu pasti bisa!"
Saat
aku memastikan apakah Zerof sudah mendarat dengan aman lewat monitor,
sepertinya dia sedang menggumamkan sesuatu. Syukurlah. Sepertinya tidak ada
masalah. Baiklah, ayo berangkat.
Aku
mendorong tuas, kecepatan penuh ke depan. Meninggalkan
Zerof yang mencoba mengejar di belakang.
Tunggulah
Id. Mari kita selesaikan ini.
◇
Saat
aku memacu Di-Guardia dengan posisi condong ke depan menembus kota, sebuah
rumah penduduk di depan runtuh.
Di
sela-sela puing yang runtuh, tampak seorang anak kecil.
"Tuan Lloyd, ada anak yang jatuh!"
"Iya, aku melihatnya."
Sambil berkata begitu aku mempercepat Di-Guardia dan
menangkap anak yang jatuh tersebut.
"Tadi itu nyaris sekali ya, Tuan Lloyd. Sepertinya masih ada orang lain yang terlambat melarikan diri..."
"Iya, kalau begini aku tidak bisa fokus
bertarung."
Setelah menurunkan anak itu perlahan ke tanah dan
berdiri tegak, aku melakukan pemusatan tenaga sihir dan merasakan kehadiran
orang-orang di sana-sini.
Kalau begini terus mereka bisa mengganggu
pertempuran, lebih baik mereka disuruh menjauh saja.
"Deteksi, perluasan jangkauan, penentuan
koordinat... Fly."
Aku mengubah susunan formula sihir sistem angin Fly
agar bisa bekerja pada makhluk hidup selain diriku.
Ribuan orang di kota Bartram, ditambah anjing, kucing,
dan ternak, diselimuti jubah angin dan mulai melayang di udara.
Lalu aku menerbangkan mereka semua ke luar kota.
"Anda
baik sekali ya. ……Tapi sepertinya jumlah orang di kota sebesar ini terasa
sedikit ya."
"Mungkin
Id juga sudah mengungsikan orang-orang kota sepertiku tadi."
Tadi saat aku menerbangkan orang-orang kota dengan Fly, di sekitar alun-alun sama sekali tidak ada orang.
Biasanya,
jika dipikir secara logis, pasti ada satu atau dua orang yang tertinggal saat
evakuasi.
Namun,
karena tidak ada siapa pun, masuk akal jika menyimpulkan bahwa Id-lah yang
telah mengevakuasi mereka.
"Begitu
ya. Jika itu Homunculus buatan Tuan Lloyd, hal semudah itu pasti bukan masalah
baginya," gumam Grim.
"Ya.
Lagipula, dengan begini aku bisa bertarung menggunakan seluruh kota sebagai
medannya. Sepuas hati," jawabku.
Aku
menyunggingkan senyum, lalu mendorong tuas sekuat tenaga dan melesat dengan
kecepatan penuh menuju alun-alun.
Tanpa kusadari, ukuran Tartaros sudah menjadi begitu
masif hingga bisa terlihat jelas bahkan dari posisi ini.
"Sudah hampir sampai di alun-alun, Tuan Lloyd!"
"Tolong siapkan mental Anda!"
Aku mengangguk menanggapi suara mereka berdua sambil
terus memacu Di-Guardia.
Tepat di balik menara jam di depan sana adalah
alun-alunnya.
Aku melindas reruntuhan, melompati puing-puing, dan saat
memasuki jalur lurus terakhir....
Dogaaaaannnn! Bersamaan dengan suara ledakan
dahsyat, menara di depanku terbelah secara vertikal.
Sebuah tentakel raksasa menyapu reruntuhan yang runtuh
dan debu yang beterbangan.
Di baliknya, tampaklah Tartaros yang telah tumbuh hingga
ukuran yang di luar nalar.
Ukurannya mungkin dua puluh kali lipat lebih besar dari
Di-Guardia. Tentakel di sekujur tubuhnya bertambah banyak dan memanjang hingga
menutupi permukaan tanah.
Sebenarnya, tubuh Tartaros hampir seluruhnya terdiri dari
tentakel, menyerupai anemon laut.
Saat aku mendongak, hanya terlihat sesuatu yang
menyerupai bagian kepala Golem di puncaknya.
"Besar sekali……!"
"Dari sini kita bahkan tidak bisa melihat wajah
Golem-nya," seru Jiriel.
Benar-benar ukuran yang luar biasa.
Kalau begini, aku bahkan tidak tahu bagian mana yang
harus diserang.
"Oh!
Di-Guardia! Jangan-jangan itu Lloyd!?"
"Lugol!"
Saat
aku menoleh ke arah suara, Magikamilia muncul dari balik kabut debu.
"Syukurlah!
Kamu datang juga!"
"Ya.
Bagaimana situasinya?" tanyaku.
"Bukan yang terburuk karena kamu sudah datang.
Tapi tentu saja, tidak bisa dibilang baik juga. Semua Golem selain Magikamilia
sudah ditelan olehnya."
Suara gemeretak gigi yang penuh kebencian terdengar
bahkan melalui Golem-nya.
Saat aku mencoba memindai dengan Mana Detection,
tidak ada reaksi reaktor sihir di sekitar.
Sebagai gantinya, semua reaksi itu terkumpul di dalam
tubuh Tartaros.
Dia menyerap Golem lain untuk menjadi sebesar ini,
ya—baguslah. Jadi lebih layak untuk dihancurkan.
Lagipula aku sudah bersusah payah merebut Di-Guardia
dari Zerof meski harus menarik perhatian, jadi aku harus bersenang-senang
sebagai gantinya.
"Ayo lakukan, Lloyd! Kita berdua!"
"Tidak, lebih baik Lugol mundur saja dari
sini."
"Apa……!?"
Lugol berseru tak percaya, tapi aku melanjutkan
kata-kataku.
"Bukankah bahan bakarmu sudah hampir habis? Bagian
sendinya juga tampak rusak, zirahmu hancur berantakan. Kurasa itu sudah
batasnya. Serahkan ini padaku dan mundurlah ke belakang."
Lagipula, aku tidak mau ada yang mengganggu duel satu
lawan satu yang berharga ini.
Akan merepotkan juga kalau pertarunganku ditonton terlalu
detail olehnya.
"Ta-tapi……"
"Kamu sangat menyayangi Golem itu, kan?"
Lagipula, bagian luar Magikamilia dibuat dengan usaha
yang sangat besar—bahkan bisa dibilang sia-sia jika hanya untuk fungsi belaka.
Satu-satunya alasan membuat Golem berbentuk wanita tanpa
adanya formula sihir atau batasan teknis tertentu, hanyalah karena cinta.
Aku akan merasa sangat bersalah jika Golem seperti itu
ikut hancur.
Tembakanku tepat sasaran. Lugol terkesiap dan menjawab
dengan nada serius.
"……Ah, kamu benar. Magikamilia dibuat menyerupai
pahlawan yang dulu melindungi negara kami, sosok yang dipuja sebagai Dewi
Perang. Unit ini membawa perasaan kami semua. Karena itulah aku tidak berani
memaksanya. Aku
tidak sanggup. ……Tapi, sebagai sesama alkemis, aku tidak bisa membiarkan benda
itu lepas kendali. Pembuatan Golem melibatkan banyak orang. Uang yang sangat
banyak, waktu yang lama, dan impian orang-orang digantungkan di sana. Jika
Golem seperti itu jatuh ke dalam kondisi lepas kendali dan menghancurkan kota,
maka tidak akan ada lagi orang yang mau membuat Golem selamanya."
Seperti
kata Lugol, sejak zaman kuno hingga sekarang, manusia telah menciptakan
berbagai teknologi.
Di
tengah-tengah itu, teknologi berbahaya yang tidak bisa dikendalikan oleh
kekuatan manusia akan dianggap sebagai ilmu terlarang dan dikubur dalam
kegelapan.
Sekali
satu teknologi dicap buruk, teknologi sejenis pun akan ikut diawasi, dan jika
itu terjadi, ada kemungkinan alkimia itu sendiri akan dilarang.
Agar
hal itu tidak terjadi, Lugol dan para alkemis lainnya tidak melarikan diri.
Mereka
harus menghentikan Golem itu dengan tangan sendiri untuk membuktikan kepada
semua orang bahwa Golem bukanlah ilmu terlarang yang jahat.
Dalam
sejarah sihir pun, ada banyak hal yang akhirnya menjadi ilmu terlarang karena
alasan serupa.
Aku
mengerti perasaannya. Jika karena ulah penyihir jahat yang mengamuk lalu
seluruh sihir dilarang, aku pun pasti akan bertarung mati-matian. Ya, ya.
"Kalau
dipikir-pikir, bukannya Tuan Lloyd lebih condong ke pihak yang suka bikin ulah,
ya?" bisik Grim.
"Malah kurasa Anda sudah banyak bikin ulah selama
ini..." Jiriel menimpali.
Grim dan Jiriel terus menggumamkan sesuatu.
Sementara itu, saat asap mulai menipis, pandanganku dan
Tartaros saling bertemu.
"Aku sudah lama menantimu, Lloyd. Akhirnya kamu datang juga!"
"Id……!"
"Fufu, tidak kusangka hari di mana aku bisa
memandang rendah dirimu akan tiba. Memang tidak sia-sia aku menciptakan
Tartaros. Fufu, ahahaha!"
Id tertawa terbahak-bahak dengan nada kemenangan.
Namun dia segera berhenti tertawa dan kembali menatapku
tajam.
"Perbedaan kekuatan kita sudah jelas. Meski begitu,
lawanku adalah kamu. Aku tidak berpikir bisa menang jika menahan diri. Aku akan
mengerahkan segalanya sejak awal."
Tartaros melangkah maju satu demi satu.
Setiap langkahnya membuat tanah bergetar dan rumah-rumah
runtuh.
Tekanan yang luar biasa, seolah-olah atmosfer itu sendiri
sedang gemetar.
Untuk menanggapinya, aku mencengkeram tuas Di-Guardia
dengan erat.
Tartaros yang berdiri di hadapanku mulai menggerakkan
tentakelnya yang tak terhitung jumlahnya. Mereka menggeliat, meronta—dan
kemudian membidikku dengan tepat.
Tentakel yang menyebar luas itu tampak seperti barisan
tombak yang siap menghentikan pasukan kavaleri.
"Ada lebih dari ribuan tentakel Tartaros, apa kamu
bisa menghindarinya!?"
Bersamaan dengan teriakan Id, hujan tentakel pun turun.
Memprioritaskan penghindaran, aku menyalakan pendorong ke
arah sebaliknya dan melompat ke belakang.
Ribuan tentakel yang menghujam ke depan membuat
lubang-lubang besar di permukaan tanah.
"Kecepatan dan kekuatan macam apa itu! Benar-benar tidak bisa dibandingkan dengan Golem lainnya!" seru Grim.
"Apalagi tentakel itu menyerap seluruh tenaga
sihir di sekitarnya setiap kali menyerang!" tambah Jiriel.
Ada cukup banyak monster yang memiliki kemampuan
menyerap tenaga sihir.
Teori dasarnya adalah mengalahkan monster semacam itu
dengan serangan fisik, tapi....
"Mari
kita coba dulu."
Aku
mencabut Great Magic Sword. Jika hanya serangan tebasan dari pedang yang
diperkuat dengan formula sihir ini, apakah aku bisa memotong tentakelnya?
Aku
mengayunkannya ke arah tentakel—namun, tebasanku terhenti di tengah jalan.
"Mustahil!
Menahan Great Magic Sword milik Tuan Lloyd yang telah ditanami ratusan formula
sihir!?"
"Kekerasan dan kelenturannya benar-benar tidak
normal! Ditambah lagi, mereka langsung beregenerasi!"
Mereka berdua terkejut, tapi sejujurnya aku sudah
menduga hal ini.
Jika dia bisa dikalahkan hanya dengan pukulan,
seharusnya Magikamilia dan Golem lainnya sudah memberikan kerusakan yang
berarti.
Sepertinya dia menanamkan jaringan tubuh Chaos
Kraken, Evil Plant, dan Eternity Seed ke dalam tentakel itu.
Fleksibilitas dan kekuatan otot moluska, kemampuan
hidup dan regenerasi tumbuhan—semua itu dipaksakan bekerja menggunakan reaktor
sihir raksasa di dalam tubuh masif itu.
Boleh juga si Id ini. Ini tidak
mungkin bisa dilakukan tanpa pengetahuan alkimia yang sangat mendalam.
"Menarik. Mari kita lihat seberapa hebat hasil
karyamu ini."
Tebasan Great Magic Sword tadi hanyalah serangan standar
tanpa trik apa pun.
Memang ada penguatan dari formula sihir, tapi itu
tetaplah hanya pedang yang sangat tajam.
Tentu saja biasanya itu sudah lebih dari cukup, tapi
Di-Guardia memiliki banyak trik lainnya.
Karena itu, aku menyalakan sakelar penghubung.
Dengan menghubungkan kokpit langsung ke unit, aku tidak
hanya bisa menyalurkan tenaga sihir, tapi juga bisa melepaskan Ki
melalui tubuh mesin ini.
Kesempatan untuk menghadapi target sekuat ini jarang
sekali ada. Ini momen yang bagus untuk mencoba semuanya.
"Pertama, mari gunakan Ki."
Aku membayangkan aliran Ki yang terkumpul di
sekujur tubuhku mengalir ke seluruh unit.
Great Magic Sword yang kupegang mulai diselimuti cahaya
tipis. ——Bagus, tautan selesai. Sepertinya bisa.
"Hup."
Wusss! Bersamaan dengan suara angin yang
terbelah, tentakel-tentakel itu melayang di udara.
Aku tidak merasakan hambatan sama sekali seperti tadi,
rasanya seperti memotong kertas.
Meski begitu, aku terus menebas satu per satu
tentakel yang datang menyerang.
"Oi, oi! Dia menyelimuti senjatanya dengan Ki,
apalagi lewat perantara mesin!? Padahal bagi ahli yang sudah berlatih puluhan
tahun pun menyelimuti senjata dengan Ki itu sangat sulit! Aku saja cuma
pernah melihat beberapa orang yang bisa melakukannya, tapi dia malah
melakukannya dengan santai...!"
"Serangan Ki memang sangat efektif melawan
monster, tapi jika digabungkan dengan Magic Sword yang aslinya sudah kuat,
kekuatannya jadi benar-benar mengerikan..."
Grim dan Jiriel terus saja bergumam.
Sepertinya tebasan dengan Ki memang cukup
efektif melawan makhluk biologis.
"Tapi lawannya sudah mulai beregenerasi lagi.
Jika aku tidak memperkuat transmisi Ki-nya, akan sulit untuk terus
beradu senjata dengan lawan yang lebih kuat dari ini."
"Padahal menurutku tidak akan ada lagi lawan
yang lebih kuat dari ini..." sela Grim.
"Tartaros sendiri punya kemampuan yang bisa
menghancurkan dunia, lho," tambah Jiriel.
Entah kenapa mereka berdua terlihat ngeri.
Padahal aku hanya menganalisis situasi dengan tenang.
"Berikutnya adalah ini."
Selain Ki yang menyelimuti pedang, aku juga
menyuntikkan tenaga sihir.
Dua kekuatan yang berbeda itu berpusar dan bercampur,
mulai melepaskan kilatan petir.
Sepertinya sulit untuk menyatukannya secara sempurna
karena melalui perantara mesin. Masih ada sedikit gangguan di sana-sini.
"Ciat!"
Begitu aku melancarkan tebasan yang menggabungkan Magic
dan Ki, tentakel yang tersentuh langsung hangus menjadi abu.
Tartaros terhuyung dan kehilangan keseimbangan.
Hm, kekuatan serangannya lumayan bagus.
Great Magic Sword ini memang didesain agar bisa mengubah
bentuk sesuai situasi dengan cara menahan jumlah formula sihir yang tertanam.
Lawan seperti ini jarang ada, jadi sebaiknya aku mencoba
semua formula sihir yang baru-baru ini kuciptakan.
Formula untuk meningkatkan kecepatan pedang, formula
untuk meledak dan memberikan daya kejut saat benturan, formula untuk membuat
unit melayang dan bergerak cepat, formula untuk memanipulasi berat pedang demi
mengecoh lawan... ini, itu, dan yang itu juga... eh, apa ini terlalu
berlebihan? Tapi ini mulai terasa menyenangkan.
"Fufufu, bagus sekali. Seperti yang diharapkan dari
Lloyd! Setidaknya harus begini agar terasa ada
tantangannya!"
Id menjawab seranganku dengan tawa keras.
Tentakel-tentakel itu beregenerasi tepat setelah
dipotong.
Tentu saja itu bukan masalah. Masih ada segunung hal yang
ingin aku coba.
Aku menangkis, memukul, bertahan, dan menebas habis semua
serangan tentakel yang menghujani dengan berbagai variasi cara.
Meski aku terus maju selangkah demi selangkah, tentakel
itu tetap tumbuh tidak peduli berapa kali pun dipotong.
Kecepatan regenerasinya luar biasa.
Seharusnya aku sudah memotong banyak sekali tentakel,
tapi tubuh utamanya masih belum terlihat.
"Ditambah kekerasan dan regenerasi ini, tidak akan
ada habisnya!" seru Grim.
"Sepertinya kita harus mengikisnya pelan-pelan
ya—"
Di tengah upayaku menembus hutan tentakel, cahaya
matahari yang bersinar dari belakang tiba-tiba menghilang.
Sepertinya aku telah terkurung di dalam tubuhnya.
Tadi aku merasa ada yang aneh dengan posisi dinding
tentakelnya, ternyata begitu. Jadi ini yang dia incar.
"Kamu terjebak, Lloyd! Membusuklah di dalam
tubuhku!"
Bersamaan dengan suara Id, tentakel dari segala arah
menyerang secara serentak.
Akan sedikit merepotkan jika hanya dihadapi dengan
satu pedang. ——Padahal aku ingin mencoba lebih banyak lagi, tapi mau bagaimana
lagi.
Tepat saat aku hendak menekan sakelar....
Boom! Terjadi ledakan dahsyat yang
membuat dinding tentakel yang mengurungku berguncang hebat, dan Di-Guardia
terlempar keluar.
"Tunggu dulu!"
Suara Lugol bergema keras.
Saat aku menoleh ke arah asal serangan, yang ada di sana
adalah Magikamilia yang memegang tongkat.
"Kami masih belum berakhir!"
"Kamu…… apa, masih ada yang tersisa ya."
Berbeda jauh dengan suaranya saat bicara padaku, suara Id
terdengar dingin dan tak acuh.
"—Bukan, maaf. Aku tidak bermaksud menghinamu.
Berkat kalian, aku bisa bertarung sejauh ini melawan Lloyd. Aku bahkan
berterima kasih. Tapi gangguan lebih lanjut hanya akan merusak suasana.
Kali ini aku akan melepaskanmu. Berputarlah dan pergilah dari sini."
Namun Magikamilia tidak bergeming dari tempatnya.
Bahkan mesin itu mulai menyemburkan uap dari sekujur
tubuhnya, dan mulai mengisi tenaga sihir ke tongkat yang dipegangnya.
"Sayang sekali, aku tidak bisa menerima tawaran itu.
Lloyd! Berkat kamu yang mengulur waktu, pengisian tenaga sihirku sudah selesai!
Sekarang aku akan meledakkan tentakel ini. Hantamlah tubuh utamanya di celah
itu!"
"Lugol……"
Serangan tadi memang benar-benar meledakkan tentakel
itu.
Padahal seharusnya persenjataan Magikamilia sulit untuk
melukai tentakel itu. Meski
begitu, trik apa yang dia gunakan? ……Aku jadi tertarik.
"Aku mengerti, Lugol. Ayo kita kalahkan dia bersama!
Ayo, lakukan lagi yang tadi!"
"Mata Tuan Lloyd berbinar-binar sekali..."
gumam Grim.
"Pasti karena Beliau berpikir bisa melihat
teknologi yang belum pernah dilihat sebelumnya ya," tambah Jiriel.
Mereka berdua bergumam tidak jelas, tapi Lugol
sepertinya merasa tergerak.
"Lloyd……
tentu saja! Jika kita menyatukan kekuatan, tidak ada yang tidak bisa
kita tembus!"
Saat Magikamilia mengacungkan tongkatnya, tenaga sihir
mengalir deras ke arah sana.
Hm, hm.
Ada reaksi sihir yang kuat dari lima titik di sekujur unit.
Apakah dia memasang beberapa reaktor sihir?
……Bukan,
itu salah. Itu adalah Magic Amplifier. Dengan menuliskan formula sihir
langsung ke dalam sirkuitnya, dia bisa menghasilkan tenaga sihir yang jauh
lebih besar dari biasanya.
Menuliskan
formula sihir sebanyak itu ke dalam sirkuit yang ukurannya cuma sekitar 1
milimeter, itu membutuhkan usaha yang luar biasa. Tidak mungkin bisa dilakukan
tanpa cinta yang sangat besar.
Selagi
aku terkagum-kagum, tenaga sihir Magikamilia meningkat dengan kecepatan yang
dahsyat.
"Pelepasan reaktor sihir, gunakan semua sirkuit dari
nomor satu sampai dua puluh sembilan. Tidak ada kata menahan diri—"
Ujung tongkatnya bersinar terang, dan kemudian—pusaran
cahaya melesat lurus menuju Tartaros dan meledak.
Gelombang kejutnya menghancurkan rumah-rumah di sekitar,
dan panas yang tinggi melelehkan dinding serta atap.
"Uoooooh! Kekuatannya gila sekali! Golem yang
terlihat rongsok begitu bisa mengeluarkan daya hancur sebesar ini!" seru Grim.
"Ya, kalau begini Id pun pasti tidak akan sanggup
menahannya! Ayo Tuan Lloyd, selagi ada kesempatan, hajar tubuh utamanya!"
Tapi aku tidak bergerak.
Di balik kilatan cahaya itu, dinding tentakelnya masih
belum hancur.
Malah justru....
"Ma-mustahil……!?"
Sepertinya batas output-nya telah tercapai. Cahaya yang
dipancarkan Magikamilia perlahan memudar.
Di tengah kepulan asap yang tebal, sebuah bayangan
panjang yang menggeliat menyabet seperti cambuk di saat berikutnya.
Zun! Suara hantaman yang tumpul dan
berat bergema di sekitar.
Tentakel yang memanjang itu telah menembus dada
Magikamilia.
Terdengar suara percikan api dan suara udara
terkompresi yang keluar.
Sosok Magikamilia yang tertusuk sambil tetap memegang
tongkatnya terlihat jelas dari balik asap.
"Ti-tidak
mungkin…… itu serangan dengan seluruh tenaga sihirku, lho……!? Tadi seranganku
berhasil! Tapi kenapa, sekarang dia tidak bergeming sedikit pun……!?"
Kepada Lugol
yang terpana, Id menjawab dengan senyum kecut.
"Yah,
tadi itu aku sedang fokus pada Lloyd, jadi bagian lainnya tidak terjaga. Wajar
saja kalau aku menerima sedikit kerusakan. Tapi melihat itu lalu kamu jadi
besar kepala.... Entah kenapa, itu terlihat konyol ya."
"Kh……!"
"Nah, apa kamu sudah puas? Kalau begitu, kali ini
silakan angkat kaki dari panggung ini."
Satu per satu tentakel Tartaros mulai melilit tangan dan
kaki Magikamilia.
Suara memilukan dari mesin yang retak terdengar jelas,
dan tangan kaki itu mulai tertekuk ke arah yang salah.
"He-hentikan! Tolong hentikan!"
Lugol memohon, tapi Id tidak peduli dan terus mengerahkan
kekuatannya.
Bagian luar Magikamilia terkelupas dan komponen
internalnya meledak keluar.
"Selamat tinggal."
Tepat saat tentakel itu membengkak besar untuk
memberikan serangan terakhir....
Magikamilia menghilang.
Aku telah memindahkannya ke pinggiran kota
menggunakan Teleport.
"Cukup
sampai di situ, Id."
"Lloyd……
jangan-jangan kamu menyelamatkannya?"
"Yah,
begitulah."
Sirkuit
formula sihir tadi hanyalah bayanganku saja, ada banyak hal yang tidak akan
kuketahui jika tidak melihat barang aslinya.
Kalau
unitnya hancur, aku tidak akan bisa mempelajarinya lagi.
Nanti
aku akan minta izin untuk melihatnya dengan dalih membantu perbaikan. Ya, ide
bagus.
"Aduh-aduh,
Anda baik sekali ya. Padahal Anda tidak pernah melakukan hal seperti itu
kepadaku sekali pun."
Id mengatakannya dengan nada penuh sindiran.
"Kata-katamu tajam sekali ya. Apa kamu sebegitu
bencinya padaku?"
"……Karena itulah aku berdiri di sini. Untuk
mengalahkanmu."
Menanggapi ucapan Id yang sok misterius itu, aku hanya
membalas dengan satu helahan napas.
"Terserah kamu saja. Tapi apa kamu masih butuh lebih
banyak omong kosong lagi?"
"—Tidak."
Begitu Id mengatakannya, Tartaros mulai mengayunkan
tentakelnya secara membabi buta.
Jumlahnya dengan mudah melewati angka ratusan.
"Kata-kata tidak diperlukan lagi!"
Mata Tartaros bersinar merah, dan tentakelnya
menyerang sambil mengeluarkan ribuan suara angin yang terbelah.
Tentakel ya. Tapi yang itu sudah cukup bagiku.
Aku menekan sakelar di samping tuas, dan ekor
Di-Guardia mengerang seperti makhluk hidup.
Bagian penghubungnya terlepas dan menancap ke tanah.
Ekor yang terpisah itu menggali masuk ke dalam tanah,
dan dalam sekejap sosoknya sudah tidak terlihat lagi.
——Dan kemudian, Zuzuun! Tanah bergetar hebat.
"A-apa-apaan ini!?"
"Tanah……
amblas……!?" seru Jiriel.
Ekor
Di-Guardia sebenarnya adalah Homing Missile.
Peluru kendali ini akan mengejar targetnya ke mana pun.
Bagian ujungnya dilengkapi dengan bor, sehingga secara harfiah bisa mengejar ke
mana pun.
Bilah yang ditanami formula pengeras akan menembus segala
dinding fisik, dan akan terus mengejar sampai aku meledakkannya.
Targetnya adalah kristal sihir alami yang terdeteksi jauh
di dalam tanah, namun aku baru akan meledakkannya setelah dia menggali cukup
dalam.
"Tidak perlu dijelaskan lagi apa yang terjadi jika
ledakan besar terjadi di dalam tanah yang penuh lubang."
Tanah di bawah kaki Tartaros runtuh, membuatnya
terperosok ke dalam tanah bersama tentakelnya dan tidak bisa bergerak.
Dia mencoba merangkak naik menggunakan tentakel, tapi
tubuhnya tidak kuat menahan berat sendiri dan justru semakin tenggelam ke
dalam.
Memiliki tubuh yang besar dan berat itu memang bagus,
tapi tentu saja ada kekurangan yang menyertainya.
"Nah, jangan bilang ini sudah berakhir."
"Tentu saja, aku sudah menduganya."
Tepat setelah Id bergumam, terdengar suara seperti
sesuatu yang terlepas.
Bersamaan dengan suara retakan yang beruntun, tubuh
Tartaros mulai hancur berantakan.
"Ba-bagaimana
bisa jadi begini……"
"Naga,
ya…… tapi sosok ini benar-benar seperti……"
Dari
balik tubuh raksasa yang hancur itu, muncullah seekor naga biru.
Sayap
raksasa, ekor yang memanjang, cakar dan taring yang tajam, serta tubuh yang
berkilau perak kebiruan.
Meski ada beberapa bagian tentakel dan komponen
biologis yang menempel, sosoknya benar-benar seperti cermin dari Naga Merah,
Di-Guardia.
"Inilah
wujud asli Tartaros. ……Tapi aku benar-benar terkejut saat melihat Di-Guardia.
Aku benar-benar menyadari bahwa aku adalah salinan dari Lloyd. Namun meski
bentuknya sama, bagaimana dengan spesifikasinya?"
Naga
biru, Tartaros, terbang dari tumpukan tentakel yang hancur.
——Cepat!
Tartaros melesat dengan kecepatan tinggi, kedua cakarnya yang tajam mengincar
kepala Di-Guardia.
Aku
mencoba bertahan dengan membentangkan Mana Barrier, namun penghalang itu
langsung mencair begitu tersentuh.
Menyadari hal itu seketika, aku berhasil menghindari
serangan di saat-saat terakhir.
"Ya,
itu adalah Neutralization Field. Sama seperti yang kamu gunakan."
"Cara berpikir kita memang sama ya. ……Kalau
begitu."
Aku mencabut Great Magic Sword dari pinggang dan
melancarkan tebasan.
Di saat yang sama, Tartaros juga mencabut pedang raksasa
dari punggungnya.
Giin! Percikan api meledak seiring suara
benturan logam yang tajam.
Setelah beradu senjata dua atau tiga kali, aku dan Id
saling mengambil jarak lalu menyiapkan meriam sihir di punggung masing-masing.
Tembakan meriam sihir itu beradu tepat di
tengah-tengah kedua unit dan memicu ledakan besar.
Aku menerjang ke arah asap yang membumbung, namun
sepertinya lawan juga memikirkan hal yang sama.
Kami melesat melewati satu sama lain sambil terus beradu
pedang, berlari menembus kota.
"Oi, oi! Persenjataannya benar-benar sama
persis!" seru Grim.
"Ditambah lagi kemampuannya benar-benar seimbang……
tidak, pihak lawan sedikit lebih……"
Setiap kali tebasan terjadi, Great Magic Sword milikku
sedikit demi sedikit mulai gompal.
Serangan meriamnya juga sedikit lebih unggul dalam hal
kekuatan, dan aku menerima kerusakan sisa yang tidak bisa dinetralkan
sepenuhnya.
"Fufufu, sepertinya Tartaros milikku lebih unggul
daripada Di-Guardia milikmu. Tapi tidak perlu berkecil hati. Bisa menyaingiku
yang telah melakukan riset sekian lama saja sudah merupakan hal yang tidak
normal. Tapi sampai di sini jugalah batasmu!"
Tartaros merangsek maju dengan posisi siap menyerang.
Saat aku hendak menyiapkan Great Magic Sword untuk
menanggapinya, aku menyadari sesuatu.
Tanpa kusadari, ekor Tartaros sudah menghilang.
"Tuan Lloyd! Di bawah!"
Begitu aku bereaksi terhadap suara Grim, peluru kendali
itu menampakkan diri.
——Bahkan sampai ke bagian itu pun sama. Sambil tersenyum
kecut, aku bertahan menggunakan Great Magic Sword.
Kilatan cahaya dan gelombang kejut terasa hingga ke dalam
kokpit saat unitku terhempas.
Saat aku melihat ke arah layar, tampak Great Magic Sword
yang telah patah menjadi dua.
"Di depan Anda! Tuan Lloyd!"
Hampir bersamaan dengan suara Jiriel, tebasan
Tartaros meluncur.
Tebasan dengan formula penetral tidak bisa ditahan
dengan Mana Barrier.
Tentu saja jaraknya tidak memungkinkan untuk
menghindar, dan karena Great Magic Sword sudah hancur, tidak ada sarana
pertahanan lain.
"Kh!"
Aku berusaha melompat mundur untuk menghindar, tapi
di belakangku sudah ada tumpukan puing menara raksasa.
Tidak ada tempat untuk lari.
"Sepertinya sampai di sini saja ya! Lloyd!"
Kupikir aku sudah cukup mendalami penelitian Golem dan
alkimia, tapi sepertinya aku masih belum bisa menandingi Id yang terus-menerus
melakukan riset.
Waktu, gairah, dan bakat sepertinya memang ada pada
dirinya. Aku harus mengakui bahwa dalam bidang ini, dia selangkah lebih maju
dariku.
Aku melepaskan satu helahan napas pasrah.
"Mau bagaimana lagi. Akan kugunakan dengan cara yang
seharusnya."
"Apa yang kamu gumamkan──"
Id berhenti bicara di tengah kalimat.
Dia terpaksa berhenti. Karena kedua tangan dan kakinya
telah dililit oleh tanaman merambat, dan dia mulai ditarik ke dalam tanah yang
telah berubah menjadi pasir hisap.
"Apa, ini? Ini adalah……!?"
"Apa katamu, ini kan sihir?" jawabku.
Kepada Id yang berseru penuh keheranan, aku menjawab
balik.
Namun sepertinya dia tidak bisa menerima jawabanku, dan
mengeluarkan suara yang seolah tidak percaya.
"Mustahil! Meski Lloyd memiliki tenaga sihir yang
luar biasa, tidak mungkin kamu bisa menangkap Tartaros-ku yang kubuat selama
bertahun-tahun dengan menanamkan formula sihir dalam jumlah besar!"
"Ah, kamu benar. Kalau secara normal."
Sambil berkata demikian, aku membuka kedua telapak tangan
Di-Guardia ke arah Tartaros.
Di masing-masing telapak tangan itu terdapat mulut
yang terbuka.
Dari sana, gulungan mantra dalam jumlah besar terurai
keluar.
"■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■"
"■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■"
Melihat itu, sepertinya Id langsung menyadarinya.
"Manifestasi sihir skala besar melalui ritual……!
Begitu ya, ini adalah……!"
"Ya."
Aku mengangguk dan melanjutkan kata-kataku.
"Wujud Golem terkuat yang menjadi tujuanku. ——Itu
adalah sebuah Altar."
——Altar adalah sebuah 'tempat' untuk merapalkan sihir
skala besar dengan menggunakan lingkaran sihir yang tak terhitung jumlahnya,
banyak katalis, prosedur yang telah ditentukan, pasukan penyihir dalam skala
puluhan orang, dan terkadang menggunakan tumbal.
Sejak zaman kuno, Altar telah eksis dalam bentuk bangunan
dengan struktur geometris sihir yang unggul seperti kuil atau makam kerajaan,
dan dalam titik balik sejarah, berbagai ritual dilakukan menggunakan
altar-altar ini untuk meluncurkan sihir skala besar.
Sihir skala besar ini jauh melampaui kapasitas yang bisa
ditangani oleh individu, dan biasanya dirapalkan melalui perantara altar oleh
tangan beberapa penyihir.
Tentu saja tidak mungkin aku tidak tertarik pada hal yang
terdengar menyenangkan seperti itu, dan aku sudah ingin mencobanya sejak lama,
namun aku tidak punya sarana untuk melakukannya.
Aku tidak punya puluhan penyihir yang bergerak sesuai
keinginanku, tidak punya tempat luas yang bisa kugunakan sesuka hati, tidak
punya peralatan sihir, dan tidak punya tempat untuk uji coba sihir skala besar.
Karena itulah aku memutuskan untuk menanamkan sistem
altar ke dalam tubuh Di-Guardia.
Bentuk unit yang menyerupai naga, formula sihir yang
tertulis hingga ke setiap sudut, semuanya—bahkan hal yang terlihat tidak
berguna sekalipun—memiliki arti.
Bersamaan dengan kata-kataku, perangkat suara yang
terpasang di kedua telapak tangan membacakan mantra dengan durasi pengucapan
super lama yang telah aku siapkan sebelumnya.
"■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■───────────────────"
Gulungan mantra yang diputar secara otomatis itu mulai
memusat ke kedua tanganku.
"Lalu bagian detailnya akan dibantu olehku—"
"Dan aku akan membantu menyempurnakannya."
Berkat tangan Grim dan Jiriel, gumpalan tenaga sihir itu semakin dimurnikan, berputar membentuk spiral, dan berkumpul ke arahku sang perapal sambil mengeluarkan suara menderu.
……Jumlah tenaga
sihir yang luar biasa. Jika jumlah tenaga sihir yang biasa kugunakan adalah 1,
maka ini pasti sudah melampaui 1000 dengan mudahnya.
Benar-benar berada di level yang berbeda.
Jadi inilah sihir skala besar yang digunakan oleh
puluhan penyihir sekaligus? Menarik sekali, ya, ya.
"Br-brengsek! Tidak bisa lepas...!"
Tartaros meronta sekuat tenaga, namun ia tidak
bergeming sedikit pun.
Saat
ini, yang mengunci pergerakan Tartaros adalah Massive Earth Magic: Gravity
Bind.
Pasir,
rawa, pepohonan—ini adalah penghalang yang menggabungkan elemen-elemen dengan
efek penjerat tertinggi di antara kategori elemen tanah.
Sulur-sulur
yang memanjang mencengkeram Tartaros, meremukkan batuan dasar, dan
menenggelamkannya ke dalam tanah yang telah berubah menjadi rawa tanpa dasar.
"Gehehe,
percuma saja! Ini adalah Massive Magic yang bahkan bisa menjerat pasukan
raksasa, lho!"
"Benar
sekali. Golem semacam itu tidak akan punya cara untuk melarikan diri!"
Entah mengapa, Grim dan Jiriel tampak sangat jemawa.
"Hanya
dengan benda begini... Tartaros-ku... ugh, aku tidak akan... menyerah di
siniiii!"
Seolah
menjawab teriakan Id, zirah Tartaros terbuka dan pendorongnya menyemburkan api.
Unit
itu berguncang hebat, memutuskan sulur-sulur yang mengikatnya, lalu mulai
terbang melambung.
"Ooh,
tenaga yang hebat! Kalau begitu, bagaimana kamu akan menangani yang satu
ini?"
Aku
memutar tuas sirkuit untuk mengganti formula sihirnya.
Massive
Lightning Magic: Black Emperor Thunder.
Petir
hitam pekat menyambar turun dari langit, menghanguskan Tartaros.
"Gah,
akh...!?"
Tartaros
jatuh terperosok sambil terbakar bersama sulur-sulur yang masih menempel.
Sihir skala besar elemen petir ini diaktifkan dengan
pengucapan ganda angin dan api. Black Emperor Thunder adalah sihir yang
dikhususkan pada daya hancur, di mana api yang dikompresi bahkan mampu
menghanguskan atmosfer itu sendiri.
Karena itulah, ia menjadi petir hitam.
"Akan
terus berlanjut. Wind Divinity."
Ini
adalah sihir skala besar yang konon pernah menenggelamkan armada kapal yang
menyerang dari luar benua di masa lampau.
Badai
yang tercipta dalam sekejap menelan Tartaros, memutarnya seperti daun kering di
tengah pusaran angin.
"Selanjutnya...
Water Piercing Dragon."
Tartaros
yang telah terangkat tinggi ke angkasa kini dihujani gumpalan air raksasa yang
terkumpul tepat di atasnya.
Air
dalam jumlah masif yang jatuh menderu seperti air terjun itu terlihat seperti
naga yang turun dari langit jika dilihat dari kejauhan.
Tartaros terhempas ke bumi bersama suara dentuman
dahsyat, menciptakan lubang raksasa di permukaan tanah.
"Ini
benar-benar gila... Massive Magic itu sendiri memang memiliki daya
hancur tingkat strategis, tapi mengumpulkan penyihir biasa pun tidak akan
menghasilkan kekuatan sebesar ini."
"Benar-benar
bencana alam. Kekuatan ini hampir setara dengan mukjizat dewa yang diciptakan
oleh Tuhan kami. Tidak salah lagi, Anda memang luar biasa."
Di
tengah kekaguman mereka berdua, pinggiran lubang itu runtuh.
Dari celah itu, aku bisa melihat Tartaros merangkak naik.
Astaga, dia belum hancur meski sudah menerima serangan
bertubi-tubi seperti itu? Luar biasa.
"Ugh... akh...! Be-belum... aku belum...!"
Sambil merintih kesakitan, Tartaros bangkit berdiri dan
memasang kuda-kuda.
Bagus, bagus. Ini menyenangkan.
Mumpung bisa menggunakan sihir skala besar, aku ingin
mencoba lebih banyak hal lagi. Silakan saja jika kamu ingin meronta lebih jauh.
"Kalau begitu, aku akan sedikit menaikkan
kekuatannya—"
Aku mengganti formula sihirnya dan menaikkan intensitas
sirkuit satu tingkat lagi.
Kepadatan paket mantra yang dikeluarkan dari perangkat
suara meningkat pesat, membuat unitku mulai mengerang protes.
"Gu-guoh!? Bebannya tiba-tiba meningkat
drastis!? Kepadatan paket mantra macam apa ini! Hanya untuk
menyatukannya saja aku sudah di batas maksimal...!"
"Bahkan massa untuk satu tangan saja sudah luar
biasa berat... ugh, tapi jika makhluk seperti iblis saja bisa melakukannya,
tidak mungkin aku tidak bisa...!"
Tenaga sihir yang mereka berdua olah membengkak hingga
hampir pecah, lalu mengalir masuk ke dalam diriku.
Aku mengatur tenaga sihir masif itu secara efisien
menggunakan puluhan ribu formula sihir, mengalirkannya, mengompresnya, dan
merajutnya menjadi satu.
Aliran tenaga sihir itu terasa seperti sungai besar yang
dipusatkan ke satu titik.
Ugh, ini benar-benar berat. Jika aku lengah sedikit saja,
kesadaranku bisa ikut terseret.
Namun, dengan tenaga sihir sebanyak ini, hal hebat macam
apa yang akan terjadi dalam sihir skala besar ini ya?
Sambil jantungku berdebar penuh harap, formula sihir
tingkat super-super besar itu pun tercipta.
"Massive
Star Magic: Celestial Impact."
──Langit meraung dengan suara bergemuruh.
Di langit yang tertutup awan hitam, entah sejak kapan
warna merah jingga mulai meronanya.
Cahaya itu perlahan bertambah terang dan mulai
memancarkan hawa panas yang luar biasa.
"A—"
Suara Id yang terdengar dungu keluar dari mulutnya.
Pandangan Tartaros yang mendongak ke langit tertuju
pada sebuah bola merah yang bersinar benderang.
"A-apa-apaan ini!? Tuan Lloyd, apa sebenarnya yang
Anda lakukan!?"
"Sihir ini... jangan-jangan ini adalah Starfall
yang ada dalam legenda?"
Apa yang jatuh dari langit saat ini adalah salah satu
bintang yang melayang jauh di angkasa.
Membuat bintang tersebut jatuh dari ketinggian
ekstrem sambil terbakar, lalu menghantam musuh secara langsung—itulah Celestial
Impact.
Bintang merah yang konon serangannya pernah
menghancurkan sebuah negara itu kini sudah terlihat jelas di depan mata.
"Pe-penghalang Lima Lapis!"
Penghalang fisik yang tebal tercipta di atas
Tartaros, namun penghalang itu hancur berkeping-keping di saat bersentuhan. Ia
bahkan tidak mampu memperlambat kecepatan jatuh bintang itu barang satu detik
pun.
──Dan kemudian, cahaya itu menyentuh bumi.
Gogogogogogogo, suara gemuruh tanah semakin
membesar.
Langit
terbelah oleh hantaman bintang, tanah terkelupas, dan ufuk cakrawala pun
berubah menjadi merah membara.
"G-gawat.
Ini benar-benar gawat... apa-apaan ini... apa ini Palu Gada Raja Iblis atau
semacamnya!?"
"Daya
hancur yang mengerikan... sihir skala besar ini benar-benar mengingatkanku pada
hari kiamat...! Tuan Lloyd benar-benar menakutkan...!"
Mereka
berdua yang tadi terpana tiba-tiba tersadar dan menarik napas pendek.
"Tuan Lloyd! Jangan-jangan kita juga akan ikut kena
ledakannya!?"
"Gelombang kejutnya mendekat! Segera
evakuasi!"
"Tidak, tidak perlu."
Aku menggelengkan kepala menanggapi perkataan mereka,
lalu mengarahkan ujung jari ke arah gelombang kejut yang mendekat.
Jejak kehancuran itu tidak bergerak sama sekali,
berhenti tepat di tengah jalan.
"Daya hancur sihir skala besar sudah masuk dalam
perkiraanku. Karena itu, aku sudah membentangkan sihir penghalang skala besar
lainnya, Absolute Canopy."
Penghalang yang menciptakan patahan dimensi ini konon
pernah menahan letusan gunung berapi dahsyat yang menghancurkan beberapa negara
di zaman kuno.
Berbeda dengan penghalang biasa, ia tidak memiliki
apa yang disebut 'kapasitas batas'.
Dengan membentangkan penghalang yang memutus segala
intervensi fisik ini dalam radius 300 meter dari titik tabrakan, bahkan
hembusan angin sepoi-sepoi pun tidak sampai ke sisi kami.
"Ooh... gelombang kejutnya benar-benar berhenti
di tengah jalan ya."
"Tapi di dalam sana pasti mengerikan. Id yang
berada di dalam penghalang itu pasti sudah tidak bernyawa lagi."
"Ah, kalau itu juga aman."
Saat aku menunduk, di sana tergeletak seorang anak
laki-laki yang sangat mirip denganku—Id.
"Wuooh! Itu kan si bocah Id! Kenapa
dia ada di sini!?"
"Dia
pingsan... Apa Anda menariknya menggunakan Teleport?"
"Ya.
Teleport membutuhkan hubungan yang kuat denganku, tapi karena Id adalah
Homunculus buatanku, jalurnya sudah cukup kuat."
Tadi
aku tidak bisa melakukannya karena dia punya keinginan untuk melawan, tapi
karena sekarang dia pingsan, aku bisa membawanya secara paksa.
Di tengah percakapan itu, Id perlahan membuka matanya.
◇



Post a Comment