NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara dai Nana Ouji dattanode Volume 4 Part 1


Pangeran Ketujuh Kerajaan Saloum, Lloyd di Saloum. Itulah namaku.

Dulu aku hanyalah penyihir miskin yang tidak mencolok, namun aku kehilangan nyawa dalam duel melawan bangsawan. Entah karena takdir apa, aku pun bereinkarnasi menjadi Pangeran Ketujuh Kerajaan Saloum.

Karena status sebagai pangeran ketujuh tidak ada hubungannya dengan takhta, aku diminta untuk hidup sesuka hati. Aku pun memanfaatkan kesempatan emas ini untuk mencurahkan seluruh tenaga demi meneliti sihir—hal yang dulu tidak bisa kulakukan karena kekurangan dana.

Belakangan ini, tidak hanya sihir, aku juga mulai menguasai ilmu pedang, teknik pembunuhan, teknik pengendalian Qi, bahkan hingga menampung iblis dan malaikat di dalam tubuhku.... Yah, ada pepatah yang bilang bahwa segala jalan akan menuntun kita menuju puncak sihir.

Hal-hal ini pun menjadi sesuatu yang diperlukan demi mencapai kesempurnaan sihir.

"──Hup."

Melalui teknik Space Teleportation, aku tiba di wilayah Lordst di Kerajaan Saloum.

Tanah yang terletak di bagian selatan negara ini dulunya dikuasai oleh iblis yang menyamar jadi manusia, namun aku berhasil menghancurkan rencana mereka. Berkat pencapaian itu, ayahanda raja menghadiahi wilayah ini kepadaku.

Yah, sebenarnya mengelola wilayah itu merepotkan... maksudku mustahil bagiku, jadi aku menyerahkannya pada orang lain. Hari ini, aku datang karena ada keperluan di sebuah fasilitas tertentu.

Begitu melangkah masuk ke dalam menara tinggi berbahan bata, sesosok tubuh besar berkerudung hitam yang sedang membaca buku tebal menyadari kehadiranku.

"Wah, wah, Tuan Lloyd. Akhir-akhir ini Anda sering berkunjung, ya."

"Halo, Gitan. Semangat sekali, ya."

Seiring dengan suara lembut itu, si pria membuka kerudungnya, menampakkan sosok aneh yang menyerupai gabungan berbagai macam binatang.

Paruh burung, taring binatang buas, mata majemuk serangga.... Sosok dengan wajah campuran berbagai makhluk hidup ini adalah pria bernama Gitan, mantan Paus di negara ini.

Dulu, meski berstatus Paus, dia terus melakukan penelitian makhluk sintesis antara monster dan manusia. Dia adalah pria gila yang bahkan memodifikasi tubuhnya sendiri, namun berkat penyucianku, seluruh niat jahatnya sirna dan kini dia sepenuhnya bersikap seperti orang suci.

"Waduh, maafkan saya. Kalau sedang lengah, saya sering kembali ke wujud ini secara tidak sengaja...."

Gitan menepukkan tangannya, lalu penampilannya bergejolak dan berubah menjadi sosok pria tua.

Ini adalah wujud asli Gitan. Hanya penampilannya yang berubah, namun bagian dalamnya tetaplah sosok aneh tersebut.

"Tidak apa-apa. Buat dirimu nyaman saja."

"Tidak, tidak, tidak boleh begitu. Saya sedang berada di hadapan tuan saya.... Oh, lihat itu, ekor saya malah bergerak-gerak sendiri. Hahaha."

Tampaknya bagian di bawah baju Gitan belum sepenuhnya berbentuk manusia, karena ekornya terlihat mengibas-ngibas.

Sepertinya dia sudah mulai bisa mengendalikannya sampai batas tertentu, walau belum sempurna.

"H-halo! S-selamat siang, Tuan Lloyd!"

"Ah, santai saja, Lamy."

Seorang wanita yang sedang mengambil data di kejauhan menyadari kehadiranku dan mendekat.

Wanita berkacamata yang mengenakan jas putih itu bernama Lamy. Tubuh bagian atasnya adalah manusia, namun bagian bawahnya adalah ular.

Lamy yang dulunya seorang petualang jatuh ke tangan Gitan saat pria itu masih menapaki jalan kejahatan, hingga ia berakhir dengan wujud seperti ini.

Namun sekarang, bersama Gitan yang telah bertobat, mereka berdua terus melanjutkan penelitian agar bisa kembali ke tubuh semula.

"Kalian berdua, bagaimana perkembangan penelitiannya?"

"Sayangnya, tidak bisa dibilang berjalan lancar... tapi berkat dukungan Tuan Lloyd, kami merasa bisa terus berjuang!"

"Begitu ya. Aku menantikan hari di mana kalian berdua bisa kembali normal."

"Baik! Suatu saat nanti pasti...."

Seluruh hasil penelitian mereka berdua akan dilaporkan kepadaku.

Penelitian mendalam mengenai monster dan tubuh manusia sangat berguna bagi riset sihirku.

Sejak zaman kuno, penelitian terhadap kehidupan dianggap tabu sehingga literaturnya sangat sedikit, dan orang yang mampu menelitinya pun sangat langka.

Karena itulah, aku mengerahkan seluruh sumber daya wilayahku untuk mendukung mereka berdua.

"Tuan Lloyd adalah penyelamat yang mengangkatku dari kegelapan hati, sosok berjasa besar yang mengembalikan kesadaranku lewat pukulan kasih sayang. Ditambah lagi beliau memberi dukungan yang begitu besar seperti ini.... Benar-benar sangat disyukuri. Bagi saya, beliau setara dengan Dewa. Saya harus menghabiskan hidup saya demi mengabdi pada beliau. Benar, suatu saat nanti saya harus mendirikan organisasi agama baru dengan menjadikan Tuan Lloyd sebagai Dewanya. Saya ini mantan Paus, saya punya pengetahuan soal itu. Jika beliau setuju, besok pun bisa...! Oh, tidak boleh, tidak boleh. Sebelum itu penelitian harus diselesaikan. Wujud ini akan menjadi masalah jika saya ingin berdiri sebagai pengikut setia di sisi beliau...!"

"Hah, aku ingin segera kembali ke wujud semula.... Ayah dan Ibu pasti sangat khawatir.... Tapi aku akan berjuang! Aku akan kembali jadi petualang, mencari uang yang banyak, dan membuat mereka hidup enak! ....Benar juga, Tuan Lloyd bilang beliau juga menjadi petualang. Kalau aku bisa masuk ke party beliau, mungkin aku bisa kaya mendadak.... Ehehehehe, kalau begitu aku harus berjuang agar cepat kembali ke wujud semula!"

Mereka berdua menggumamkan sesuatu dengan wajah yang penuh harapan.

Yah, memiliki motivasi itu hal yang bagus.

"Ngomong-ngomong Tuan Lloyd, apakah hari ini Anda datang untuk inspeksi?"

"Ah benar juga, aku hampir lupa tujuanku. Bolehkah aku meminta bahan-bahan lagi? Aku butuh Golden Dragon Scale, Demon Bird Beak, dan Rock King Eye."

"Begitu, saya mengerti."

Gitan mengangguk lalu menjulurkan tangannya.

Dari sana, benda-benda yang kusebutkan tadi mulai tumbuh perlahan.

Sisik yang berkilau emas, paruh yang tajam, dan mineral yang menyerupai mata yang bersinar.

Oh, ini dia, benar-benar barangnya.

Gitan memiliki tubuh hasil sintesis berbagai monster, sehingga ia memiliki kemampuan untuk mengubah bagian tubuhnya menjadi monster tertentu.

Dengan begitu, dia bisa mengubah lengannya saja menjadi monster, lalu memotongnya untuk mendapatkan material langka yang sulit didapat sebanyak yang diinginkan.

"Aduh... apa segini sudah cukup?"

Gitan mencabuti material yang tumbuh di tubuhnya satu per satu dan menjajajarkannya di depanku.

Dalam sekejap, jumlah material yang kuminta sudah terkumpul.

"Ini sangat membantu."

"Bukan masalah besar bagi saya. Namun, untuk apa material sebanyak ini digunakan? Jika tidak keberatan, bolehkah saya tahu?"

"Ah, sebenarnya aku sedang membuat Golem. Ini bahan-bahannya."

──Golem. Itu adalah pelayan buatan yang diciptakan oleh tangan manusia.

Sejak zaman kuno, para penyihir memberikan nyawa sementara serta mana mereka sendiri ke dalam batu atau lumpur untuk dijadikan pelayan.

Seni yang dikhususkan untuk hal tersebut adalah Alchemy, sihir yang memberikan nyawa dan mengendalikan benda mati.

Bisa dibilang, apa yang dilakukan Gitan dulu juga merupakan bagian dari Alchemy.

"Begitu rupanya. Kalau begitu, Anda pasti butuh jumlah yang cukup banyak. Saya akan menyiapkan bahan-bahan yang sekiranya berguna mulai dari sekarang."

"Terima kasih, itu membantu sekali."

Tepat saat aku berterima kasih pada Gitan dan hendak meninggalkan menara, sebuah mulut muncul secara tiba-tiba di telapak tanganku.

"Tapi Tuan Lloyd, untuk apa buat Golem sekarang? Bukankah hampir semua hal bisa Anda selesaikan sendiri?"

Makhluk ini adalah Grim, seorang iblis.

Dulu aku menghajarnya dan menjadikannya pelayan, dan sekarang dia bersemayam di tanganku.

"Iblis bodoh. Pemikiran mendalam Tuan Lloyd mana mungkin bisa dipahami oleh makhluk sepertimu."

Kali ini, mulut di telapak tanganku yang satunya lagi terbuka.

Yang ini adalah Jiriel. Dia seorang malaikat, dan tentu saja, dia juga pelayanku.

"Siapa yang kamu panggil iblis bodoh, dasar malaikat tolol!"

"Mau berkelahi, iblis payah?!"

Ngomong-ngomong, mereka berdua tidak akur.

Padahal aku berharap mereka bisa sedikit lebih rukun.

Sebenarnya, ada empat alasan kenapa aku terpikir untuk membuat Golem.

Pertama, sebagai lawan tanding latihan sihirku.

Monster yang ada di sekitar sini sama sekali bukan tandinganku, dan menggunakan manusia sebagai sasaran tentu saja dilarang.

Namun, jika aku membuat Golem yang sangat keras dan membiarkan Grim mengendalikannya, aku bisa melakukan eksperimen sesuka hati.

Ditambah lagi, tidak masalah jika benda itu hancur.

Lalu kedua, karena aku sudah punya jalur pengadaan material langka.

Sebenarnya dulu aku juga pernah mencoba Alchemy sebentar dan sempat membuat Golem.

Namun, meski fisiknya mudah dibuat, menciptakan Core sebagai sumber penggeraknya sangatlah sulit dan membutuhkan banyak material langka, sehingga aku tidak bisa menciptakan sesuatu yang memuaskan.

Saat itu aku tidak bisa bebas bergerak keluar kastel dan merasa pengumpulan material ada batasnya, jadi aku berhenti.

Tapi sekarang, berkat Gitan, masalah material bisa diatasi. Aku tidak akan menemui jalan buntu lagi.

Ketiga, karena aku sudah mendapatkan kepercayaan orang-orang kastel.

Kegiatan tekun yang kulakukan selama ini membuahkan hasil.

Dengan kepercayaan dari orang-orang di sekitar, aku jadi bisa menggunakan tempat yang luas, tenaga manusia, material, hingga dana yang diperlukan untuk membuat Golem raksasa secara bebas.

Lagipula, semakin besar skala pembuatan Golem, semakin banyak uang dan tempat yang dibutuhkan. Benar-benar menguntungkan menjadi anggota keluarga kerajaan.

Dan alasan terakhir adalah.... Apa ya. Aku lupa. Sudahlah.

Bagaimanapun, begitulah ceritanya kenapa aku memutuskan membuat Golem.

"Menurutku sih kegiatan Anda selama ini sama sekali nggak bisa dibilang tekun," celetuk Grim.

"Itu lebih cocok disebut aksi pamer kekuatan yang berlebihan," tambah Jiriel.

Mereka berdua melontarkan protes, tapi hal seperti itu tidak penting bagiku.

Fufufu, mumpung aku punya lingkungan yang sangat mendukung. Aku akan menciptakan Golem terkuat khusus untukku sendiri.

Dengan perasaan semangat, aku menggenggam material di tanganku dan melakukan Space Teleportation kembali ke kastel.

Begitu kembali ke kastel, aku segera bergegas menuju bengkel kerja yang ada di area istana.




Meskipun disebut sebagai bengkel, tempat ini hanyalah bangunan sederhana yang nyaris tidak layak disebut sebagai gedung.

Dari cerobong asapnya, kepulan asap hitam pekat membumbung tinggi, disertai gema suara dentuman logam yang dipukul bertubi-tubi.

Begitu aku membuka pintu dan melangkah masuk, suara bising itu terasa makin memekakkan telinga.

Di dalam sana, beberapa pengrajin tampak sedang menempa logam, membuat hawa panas yang pengap menyebar ke seluruh ruangan.

Wah, mereka benar-benar sedang bekerja keras. Saat aku berjalan menuju bagian dalam, dua orang pemuda menyambutku.

"Ooh, Lody-bo, akhirnya kau pulang juga."

"Selamat bekerja, Kak Dian."

Seorang pria dengan penampilan santai yang memegang palu dan menggulung lengan bajunya itu menyunggingkan senyum gagah sambil menyeka keringat.

Dian di Saloum.

Dia adalah Pangeran Keempat di negara ini, alias kakak laki-lakiku.

Dia adalah seorang penempa yang sangat berbakat, dan dulu kami pernah bekerja sama dalam pembuatan pedang sihir.

Begitu aku menceritakan rencana pembuatan Golem milikku, dia langsung setuju tanpa ragu untuk membantuku.

"Hai, selamat datang kembali, Lloyd."

"Aku pulang, Kak Albert."

Lalu satu lagi, pria tampan berambut pirang ini adalah Pangeran Kedua, Albert.

Selain penyihir yang hebat, dia juga tampan, baik hati, dan cerdas—kesempurnaan tanpa celah yang membuatnya sangat populer di kalangan rakyat, bahkan dirumorkan sebagai kandidat terkuat pewaris takhta.

Dia sangat menyayangiku, dan begitu mendengar rencanaku, dia segera membangunkan bengkel kerja ini untukku.

Memang benar ya, punya kakak yang hebat itu sangat membantu. Hehe.

Berkat bantuan mereka berdua, saat ini aku sedang berada di tengah proses pembuatan kerangka luar Golem.

"Jadi, bagaimana hasilnya?"

"Lancar sekali. ……Ini!"

Sambil berkata begitu, aku mengeluarkan material yang kubawa dan menjajajarkannya di atas meja.

Melihat tumpukan material langka tersebut, mata mereka berdua langsung membelalak.

"Hmm, hebat sekali kau bisa mengumpulkan material selangka ini. Kualitasnya pun luar biasa."

"Jumlahnya juga mantap! Dengan ini, kita bisa membuat banyak logam sintetis! Kerja bagus, Lody-bo!"

"Terima kasih banyak."

Material-material ini akan dilelehkan bersama logam lain, lalu diproses untuk menjadi kerangka luar Golem.

Kerangka luar bisa dibilang sebagai pilar penyangga Golem. Kalau bagian ini rapuh, semuanya akan sia-sia.

Meski begitu, aku masih membutuhkan banyak sekali komponen-komponen kecil, jadi aku harus meminta Gitan untuk terus berjuang.

"Tapi, dari mana sebenarnya dia mendapatkan semua material ini? Semuanya berasal dari monster yang tidak ada di sekitar sini, dan meskipun ada, aku ragu Lloyd bisa mengalahkannya. Yah, belakangan ini dia sering terlihat di Guild Petualang, jadi mungkin dia membelinya dari sana. Barang-barang sekelas ini pasti butuh kepercayaan tinggi dalam transaksinya. Fufufu, Lloyd, kau makin hebat saja, ya. Kakak bangga padamu."

"Awalnya saat dia tiba-tiba memanggilku dan bilang ingin membuat Golem, kukira itu cuma ide iseng anak kecil, tapi ternyata dia memikirkannya dengan sangat matang. Mungkin ini rencana yang sudah disusun selama bertahun-tahun. Persiapannya benar-benar matang. Heh, aku senang bisa bekerja sama membuat sesuatu lagi seperti dulu."

Mereka berdua tampak menggumamkan sesuatu.

Sepertinya mereka tidak mencurigai asal-usul materialnya, jadi kurasa tidak perlu dipikirkan.

"Ngomong-ngomong Lloyd, kami baru saja menyelesaikan perakitan sementara Golem-nya, kau mau melihatnya?"

"Benarkah!? Aku ingin sekali melihatnya!"

"Ini mahakarya yang sangat kubanggakan. Keren, lho? Jangan sampai kaget, ya."

"Siap!"

Akhirnya bentuknya mulai terlihat, ya.

Dengan penuh semangat, aku mengikuti mereka berdua menuju bagian terdalam bengkel.

Begitu lembaran pelindung debu dibuka, muncullah sesosok raksasa yang bersinar kemerahan.

"Ooooooohhhhh!"

Bentuknya mengalir indah tanpa ada bagian yang sia-sia, wajahnya tampak tenang dengan satu mata (Mono-eye) yang bersinar gagah.

Ada tanduk yang tumbuh di dahinya, dan dari bagian tulang ekor, menjulur sebuah ekor yang panjang.

Di punggungnya terpasang dua buah pilar, membuat penampilannya persis seperti manusia naga dalam legenda.

Ya, luar biasa. Jauh berbeda dengan Golem yang dulu kubuat dari bahan seadanya. Kekuatan materialnya benar-benar terasa hidup.

Tanpa sadar aku berlari mendekat dan memutarinya sambil mendongak.

Wah, hebat sekali. Bentuknya begitu memesona sampai aku merasa bisa terus menatapnya selamanya.

Melihat mataku yang berbinar-binar, Albert menyunggingkan senyum.

"Kau menyukainya? Sebenarnya, aku yang mendesain Golem ini."

"Kak Albert yang mendesainnya!?"

"Iya, aku tidak menyangka hari di mana pelajaran seni rupa menjadi berguna akan tiba. Aku mencoba membuatnya mirip dengan naga yang menjadi lambang negara, syukurlah kalau kau menyukainya."

Aku sendiri tidak terlalu tertarik dengan desain Golem, jadi aku menyerahkan semuanya pada mereka dan hanya berpesan agar mengutamakan fungsinya. Ternyata hasilnya jauh lebih bagus dari dugaanku. Memang Kak Albert hebat.

Desain luar biasa yang mirip seperti saat pertama kali melihat rumus sihir yang indah ini, pasti hanya bisa dibuat oleh Kak Albert yang merupakan penyihir berbakat. Aku sampai terpana melihatnya.

"Kak Al yang sibuk saja sampai menyempatkan waktu untuk datang ke sini dan membantu, lho."

"Iya! Terima kasih banyak, Kak Albert!"

"Hahaha, melihat tatapan matamu yang berbinar begitu, rasa lelahku mengerjakan tugas resmi jadi terbayar lunas."

Albert tertawa dengan ramah.

Kalau begini terus, sepertinya Golem yang hebat akan segera tercipta.

"Yah, seperti yang kau lihat, bagian sini berjalan lancar."

"Ah, kalau di sini sih iya."

Tepat saat Dian bergumam, DHOOOOOOMM! Suara ledakan menggema.

Di sudut bengkel Golem, ada sebuah ruangan kecil yang pintu besi tebalnya terlempar hancur.

Dari balik kepulan asap hitam yang membumbung tinggi, muncullah seorang pria berkacamata bulat.

Rambutnya berantakan dan dibiarkan panjang, tubuhnya jangkung namun bungkuk, lengkap dengan janggut yang tidak terawat.

Albert menyapa pria yang sedang terbatuk-batuk sambil mengusir asap itu.

"Kau tidak apa-apa, Zerof?"

"Uhuk! Uhuk! Huekk! ……Ah, aku tidak apa-apa, Albert. Uhuk!"

Pria yang menjawab sambil terus terbatuk itu adalah Zerof di Saloum. Dia adalah Pangeran Ketiga di negara ini.

Dia menguasai berbagai macam ilmu pengetahuan, dan khususnya dikenal sebagai seorang Alkemis.

Dia adalah pakar terkemuka di bidang Alchemy, dan katanya dia terlibat dalam pembuatan seluruh Golem di Kerajaan Saloum. Dulu aku juga sempat meminjam beberapa dokumen darinya secara diam-diam saat mempelajari Alchemy.

Waktu itu aku sempat melihat sekilas hasil kerjanya, dan tidak diragukan lagi dia memiliki pengetahuan yang sangat luas.

Biasanya dia hampir selalu mengurung diri di gedung penelitiannya sendiri, tapi Albert membawanya ke sini karena dia mutlak diperlukan dalam pembuatan Golem.

Zerof bertugas menciptakan Core yang merupakan jantung dari Golem…… tapi.

"Gagal. Kekuatannya masih belum cukup."

Mendengar kata-kata Zerof yang entah sudah keberapa kalinya, kami saling berpandangan dan mengembuskan napas panjang.

Ya, sayangnya pembuatan Core benar-benar bisa dibilang tidak berjalan lancar sama sekali.

Prosesnya selalu sama: buat lalu meledak, buat lalu meledak lagi.

"Sudahlah, Kak Zero. Jangan meledakkannya terus-menerus dong, pikirkan juga nasibku yang harus terus memperbaikinya!"

"Bodoh, kau tidak sadar ini terjadi karena kau tidak memberiku logam paduan dengan kekuatan yang layak? Daripada mengeluh, lebih baik buatkan sesuatu yang lebih bermutu."

"A-a-apaaa?! Aku sudah memberikan banyak logam paduan! Aku sudah membaginya untukmu, jadi harusnya kau berterima kasih, bukan malah mengeluh!"

"Core adalah jantung dari Golem, bagian yang paling membutuhkan kekuatan. Aku tidak butuh mentalitas 'berbagi' seperti itu. Justru kau harus memprioritaskannya!"

"Aku juga kekurangan stok di sini! Aku tidak tahan kalau kau terus-menerus menghancurkannya! Dasar bodoh!"

"Sudah, sudah, kalian berdua tenanglah."

Albert melerai di antara mereka.

Dian dan Zerof memang sepertinya tidak akur.

Tidak, pada akhirnya masalah utamanya adalah kekurangan material.

Yang sedang kami buat adalah Golem raksasa. Core miliknya membutuhkan output yang tidak bisa dibandingkan dengan Golem lainnya.

Tentu saja dibutuhkan ketahanan yang mampu menahan beban tersebut, dan Zerof sedang mencoba berbagai cara untuk itu.

"Kak Zerof, logam paduan apa yang sedang Kakak gunakan untuk Core sekarang?"

"Logam Katakont. Itu adalah standar tertinggi di antara logam yang bisa diproses, tapi kekuatannya masih kurang untuk digunakan pada reaktor fusi yang menggerakkan Golem sebesar ini. Mesinnya akan berhenti bahkan sebelum mencapai sepuluh ribu putaran. Aku sudah menyampaikan permintaanku pada Dian, tapi……"

"Makanya kubilang, tidak ada logam paduan yang bisa menahan output gila seperti itu! Jangan bicara yang mustahil!"

……Begitu ya, intinya aku hanya perlu membuat logam paduan yang lebih keras dari itu, kan?

Logam paduan adalah gabungan dari beberapa jenis zat.

Selama ini aku hanya mengambil material yang diminta, tapi dari tubuh Gitan, aku bisa mendapatkan ratusan jenis material.

Jika aku menggabungkannya, mungkin aku bisa menciptakan logam paduan yang lebih keras.

Saat membuat pedang sihir dulu, aku sudah meneliti beberapa sihir yang sekiranya bisa digunakan untuk sintesis.

Mungkin ini kesempatan bagus untuk menggunakannya. Hmm, aku jadi bersemangat.

Mari kita coba segera.

"Eh, kau mau ke mana, Lloyd?"

"Iya, karena diam saja juga tidak ada gunanya, aku akan pergi mencari material lagi."

Bagaimanapun juga, aku meninggalkan bengkel Golem.

Satu hal yang pasti, aku merasa sangat bersemangat.

"Lihat kalian berdua, di saat seperti ini pun Lloyd langsung kembali bekerja demi melakukan apa yang ia bisa. Kita juga harus mencontohnya, bukan?"

"……Ah, kau benar, Kak Al. Maafkan aku, Kak Zero, aku tadi agak kesal. Aku terbawa suasana. Aku malu pada diriku sendiri."

"Tidak, aku juga yang terlalu kesal. Bersikap emosional adalah tindakan memalukan bagi seorang ilmuwan. Aku harus introspeksi diri. Aku tetap butuh bantuanmu, Dian."

"Ooh! Serahkan padaku, Kak Zero!"

"Baguss, aku senang kalian berdua berbaikan. Ayo jabat tangan, jabat tangan."

Aku merasa mereka bertiga sedang menggumamkan sesuatu sambil menatapku, tapi aku tidak bisa mendengarnya karena suara bising di bengkel.

Yah, bagiku yang penting mereka membuatkan Golem-nya, jadi tidak masalah.

"Karena itulah, aku terpikir untuk menciptakan logam paduan baru."

Di dalam bengkel Dian yang sedang kosong, aku memanggil salah satu pelayanku.

Gadis berkulit cokelat dengan rambut ungu pendek dan mata bulat itu bernama Ren.

Dulu dia anggota Guild Pembunuh, tapi setelah banyak kejadian, sekarang dia bekerja sebagai pelayanku.

"Logam paduan…… tapi bagaimana cara membuatnya? Aku akan membantu apa pun yang aku bisa, sih."

Aku menjawab pertanyaan Ren yang tampak bingung.

"Tentu saja aku memanggilmu karena aku ingin menggunakan kemampuanmu."

Kemampuan Ren adalah mengubah mana miliknya sendiri untuk menciptakan racun.

Dengan kata lain, dia mampu mengendalikan zat mikroskopis yang tidak kasat mata untuk menciptakan zat baru.

Artinya, jika dikuasai, dia tidak hanya bisa menciptakan racun, tapi juga berbagai macam zat lainnya.

Saat ini, berkat didikanku, rentang kemampuannya sudah meluas dan dia sudah bisa membuat beberapa jenis obat-obatan.

Dengan kemampuan ini, seharusnya dia juga bisa menciptakan logam paduan baru.

"Eeeh…… nggak mungkin. Aku belum pernah melakukannya."

"Bukankah kau bilang akan melakukan apa pun demi aku?"

"Ukh……! I-itu memang benar, sih……"

Setelah wajahnya berkerut masam, Ren mengembuskan napas pasrah.

"……Haaa, baiklah. Aku mengerti. Tapi, aku tidak bisa menciptakan logam, lho?"

"Yang aku ingin kau lakukan bukan menciptakan, tapi mengukur. Kau sering menjilat cairan untuk memahami zatnya, kan? Dengan cara yang sama, aku ingin kau mengukur tingkat kekerasan logam-logam ini dan mengubahnya menjadi angka."

Sambil berkata begitu, aku memberikan beberapa keping logam padanya.

Jika aku harus menciptakan sesuatu yang lebih keras dari logam Katakont yang digunakan sekarang, langkah pertama yang mutlak adalah mengubah komposisinya menjadi data angka.

Pokoknya, aku akan membuat banyak logam paduan, lalu membiarkan Ren mengukur semuanya satu per satu.

"Lalu, siapa yang bakal bikin logam paduannya?"

"Tentu saja aku."

Begitu aku menyatukan material di tanganku, percikan api memercik dan material-material itu melebur jadi satu.

Alchemy; Material Synthesis. Ini adalah teknik untuk mencampur sesama benda padat dan menciptakan zat baru.

Karena konsumsi mana-nya besar, teknik ini tidak bisa digunakan sembarangan, tapi dengan ini aku bisa menciptakan logam paduan dengan kecepatan tinggi.

Nah, mari kita mulai. Kalau aku bisa menciptakan logam paduan yang bagus, sepertinya akan ada banyak kegunaan lainnya.

Aku mengambil material tak terhingga yang sudah kususun di meja dan mulai bekerja.

"Hmm, mumu…… nyam nyam. Jilat."

Ren mulai menjilat dan menggigit logam paduan yang sudah jadi.

Untuk mendapatkan pemahaman mendalam tentang suatu zat, memang umum dilakukan dengan memeriksa rasa, tekstur, hingga baunya.

Ngomong-ngomong, dia juga menggunakan metode yang sama saat meneliti struktur cairan.

"Guaaaaa! Tiga puluh jenis, tuntas!"

"Nunu…… jangan sombong, aku sudah tiga puluh satu jenis!"

Dan di sisi lain, aku menyuruh Grim dan Jiriel untuk melakukan sintesis logam juga seperti yang kulakukan.

Karena mereka berdua selalu punya jiwa kompetisi yang tinggi, mereka bekerja keras seolah sedang berlomba.

Kombinasi materialnya jauh melampaui angka sepuluh ribu. Kalau aku sendirian, itu pasti akan memakan waktu lama.

"……Oi, oi, kecepatan sintesisnya nggak masuk akal!? Aku saja sudah ngos-ngosan cuma bikin tiga puluh, tapi dia sudah bikin lebih dari lima ratus jenis!?"

"Bukan cuma kecepatan rapalannya, tapi cadangan mana-nya benar-benar tidak berdasar…… Material Synthesis itu sangat boros mana, sehingga kami harus istirahat setelah mengaktifkannya beberapa kali karena mana kami habis. Padahal, Tuan Lloyd sama sekali tidak berhenti sedari tadi. Sungguh sosok yang mengerikan……"

Mereka berdua tampak menggumamkan sesuatu.

Aku tidak peduli sih, tapi aku lebih suka kalau tangan mereka bergerak daripada mulut mereka.

Mungkin sekitar satu jam telah berlalu.

Akhirnya, seluruh jenis sintesis telah selesai.

"Fiuh, ternyata memakan waktu lebih lama dari dugaanku."

Ini adalah pekerjaan berat yang harus dilakukan secara manual satu per satu.

Sama seperti sihir, teknologi semacam ini pun didukung oleh usaha yang tekun, ya.

"Menurutku itu sama sekali nggak tekun, sih…… kecepatannya bahkan terasa seperti melompati sejarah seratus tingkat sekaligus."

"Benar, entah sudah berapa abad sejarah Alchemy yang telah dipercepat oleh pekerjaan kali ini……"

"Hahaha, mana mungkin begitu."




Benar-benar, mereka berdua terlalu berlebihan.

Dari sekian banyak logam paduan yang tercipta, aku memilih beberapa yang sekiranya berguna, tapi jumlahnya tetap mencapai ratusan jenis.

Kasihan Ren yang harus mengukur semuanya.

"Kamu tidak apa-apa, Ren?"

"Mungkin……"

Namun, mengabaikan kekhawatiranku, Ren tampak sangat berkonsentrasi.

Sepertinya dia menemukan caranya sendiri sementara aku melakukan sintesis tadi; dia menyentuh logam-logam itu satu per satu dengan cepat.

Jika diperhatikan, logam-logam itu tampak sedikit meleleh.

"Begitu ya, ide yang bagus. Kamu melarutkannya dengan racun untuk mengekstrak komponennya?"

"Iya, aku lebih terbiasa dengan benda cair. Membawa segala sesuatu ke bidang yang kita kuasai adalah dasar dari segalanya, kan? Entah itu olahraga, pelajaran, bahkan sihir pun begitu. Karena itu, 'perbanyaklah hal yang bisa kamu lakukan, asah bidang keahlianmu, dan bertarunglah di sana'…… begitulah yang selalu Lloyd katakan."

Ren menyunggingkan senyum bangga.

Aku memang pernah mengatakannya, tapi bisa memikirkannya sendiri dan mempraktikkannya adalah hal yang luar biasa.

Meski tahu teorinya, tidak semua orang bisa melakukannya.

"Kamu menggunakan otakmu dengan baik. Pintar, Ren."

"Ehehee—"

Saat aku memujinya, Ren tersenyum manis seperti bunga yang mekar.

"Kalau begitu, sepertinya pekerjaan ini bisa jadi jauh lebih efisien."

"Iya, serahkan saja padaku!"

Ren membusungkan dadanya dengan bangga.

Hmm, tapi tetap saja kalau dia melakukannya sendirian akan memakan waktu lama.

Mari kita lihat, aku juga akan membantu.

Aku menjajajarkan logam-logam di sekelilingku, lalu mengaktifkan sihir sistem angin Wind Cutter pada tingkat paling lemah.

Tornado kecil yang runcing dan tajam seperti jarum menyentuh pelat logam yang telah disiapkan secara perlahan, lalu suara derit logam yang terkikis pun mulai terdengar.

"Sihir yang lemah sekali. Nggak seperti Tuan Lloyd biasanya," celetuk Grim.

"Fumu, tapi sepertinya ini memberikan tekanan secara bertahap. Apa yang sedang Anda lakukan?" tanya Jiriel.

"Pengukuran kekuatan. Aku menaikkan tekanannya satu tingkat setiap detik. Saat logam itu hancur, itulah batas kekuatan maksimalnya."

Melakukannya satu per satu akan memakan waktu, jadi aku mengeluarkan tiga ratus bilah angin sekaligus untuk mengukurnya secara bersamaan.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara pakin, pakin saat logam-logam yang rapuh mulai pecah.

"Ya, jumlahnya sudah mulai berkurang banyak."

Dalam sekejap, jumlah logam sintetis itu sudah berkurang hingga kurang dari setengah.

Selagi aku bicara pun, logam-logam itu terus pecah satu per satu.

Seiring berjalannya waktu, akhirnya logam Katakont mulai retak.

Sepertinya ini adalah batasnya.

Di saat logam-logam lain yang tersisa hancur berkeping-keping hampir bersamaan, ada satu yang tetap bertahan.

"Oh, ada satu yang tersisa tuh," kata Grim.

"Masih belum ada tanda-tanda akan pecah, ya," tambah Jiriel.

"Ya, kita dapat jackpot."

Bahkan setelah satu menit berlalu, logam itu masih belum berhasil dilubangi. Setelah sekitar lima belas menit, barulah satu retakan muncul.

Secara matematis, kekuatannya kira-kira tujuh kali lipat dari logam Katakont. Sepertinya aku telah menemukan logam yang melampaui standar logam Katakont.

Kalau tidak salah, ini adalah logam sintetis dari lendir Golden Slime, tembaga grafit hitam, dan bubuk sihir merah.

Saat aku mengambil logam berwarna cokelat kemerahan kusam itu, rasanya secara mengejutkan ringan, namun sangat kokoh.

"Sepertinya ini bisa digunakan. Ren, coba bandingkan ini dengan yang lain?"

"Oke. ……Uwah! Ini keras sekali! Jauh melampaui yang lain, lho?! Tidak ada yang seperti ini di antara yang sudah kuukur tadi!"

Tampaknya logam ini memang lebih unggul dari apa pun yang telah diperiksa Ren.

Kalau begini, sepertinya ia sanggup menahan beban dari Core milik Golem.

Mari kita pergi menunjukkannya pada Zerof.

Namun berkat bantuan semuanya, pekerjaan ini selesai lebih cepat dari dugaanku.

Kekuatan rekan memang hebat. Hehe.

"Nah, kalau begitu aku akan mengukur sisanya…… eh, sudah habis?! Padahal tadi masih sisa sebanyak itu, apa Lloyd menyelesaikannya sendirian?! ……Hah, Lloyd memang hebat ya. Hal yang bisa kubantu masih sedikit sekali."

"Jumlah yang dikerjakan bocah itu berkali-kali lipat dari jatah si gadis dalam sekejap…… Sebenarnya buat apa ya kita kerja tadi? Benar-benar deh."

"Umu…… bantuan kita bahkan tidak sampai satu persen dari apa yang dikerjakan Tuan Lloyd. Ujung-ujungnya, beliau sendirian pun sudah cukup."

Mereka bertiga menggumamkan sesuatu, tapi kurasa tidak perlu terlalu dipikirkan.

Bagaimanapun, setelah menyelesaikan pekerjaan, aku kembali ke bengkel Golem.

Begitu sampai di bengkel Golem, aku mengetuk pintu ruangan Zerof. ……Namun tidak ada jawaban.

"Kak Zerof, apakah ada di dalam—?"

Aku memanggilnya, tapi tetap tidak ada jawaban.

Aku dan Ren yang mengikutiku saling berpandangan.

"Apa dia tidak ada?"

"Mungkin hanya sedang tidur…… aku masuk ya—"

Sambil berkata begitu, aku membuka pintu.

Di dalam sana, tumpukan kertas berisi coretan data serta peralatan makan bertumpuk berantakan.

Ren mengernyitkan dahi melihat betapa kotornya ruangan itu.

Di bagian dalam terdapat tempat tidur, dan Zerof tampak sedang tidur mendengkur dengan tubuh yang setengah merosot jatuh.

"……Uwah, dia bisa tidur nyenyak dengan posisi begitu. Sepertinya dia sangat lelah, ya?"

"Katanya dia mengerjakannya sampai larut malam setiap hari. Pasti dia sangat menikmatinya."

Aku mengerti perasaannya. Aku pun sering terjaga sampai larut malam saat sedang asyik meneliti.

Mengerjakan hal baru itu memang menyenangkan.

Apalagi kegembiraan saat menemukan penemuan baru, itu terasa sangat istimewa.

"Kak Zerof, bangun."

Saat aku mengguncang bahunya, Zerof membuka mata dan bangkit.

"Nngh…… oh, Lloyd ya. Huaaaaa……"

Sambil meregangkan tubuh lebar-lebar, dia memakai kacamata dan menyipitkan mata.

Sepertinya dia masih mengantuk dan terlihat agak tidak senang.

"Ada urusan apa?"

"Aku terpikir apakah logam paduan ini bisa digunakan untuk Core milik Golem."

"Apa katamu? Yang kamu bicarakan tempo hari itu ya. Tapi apa yang bisa berubah hanya dalam satu malam……"

Tepat saat ia mengambil kepingan logam yang kuberikan, ekspresi Zerof langsung berubah.

"Sini, pinjamkan!"

Zerof terburu-buru merebut kepingan logam itu dariku, lalu memegangnya dengan kedua tangan sambil mengerahkan tenaga, bahkan mulai membenturkannya ke sudut tempat tidur.

Setelah memastikan teksturnya dengan saksama, dia menatapku tajam.

"……Tunggu sebentar di sini."

Meninggalkan pesan itu, Zerof keluar dari ruangan.

Sepertinya dia sangat menyukainya.

Setelah menunggu beberapa saat, Zerof kembali membawa Albert dan Dian.

"Maaf menunggu. Barusan aku melakukan pengukuran kekuatan pada logam paduan yang dibawa Lloyd, dan ternyata kekerasannya sekitar tujuh kali lipat dari logam Katakont. ……Jujur saja aku terkejut. Aku belum pernah melihat benda seperti ini."

"Benar-benar mengejutkan. Kau memang bilang akan mencari logam paduan baru, tapi aku tidak menyangka kau benar-benar akan membawanya. Luar biasa. Apa ini yang dinamakan 'seperti yang diharapkan dari adikku'?"

"Oi, oi, Kak Al. Lloyd itu juga adik kebanggaanku, tahu! Bagaimanapun, kalau begini tidak ada komplain lagi kan, Kak Zero?"

"……Ya, tentu saja. Ini layak untuk dicoba."

"Bagus! Kalau begitu ayo segera buat Core menggunakan ini! ……Eh, ngomong-ngomong Lody-bo, dari mana kau mendapatkan benda ini?"

"A-anu……"

Aku terdiam sejenak saat ditanya oleh Dian.

Gawat. Kalau aku bilang aku yang membuatnya, aku akan jadi terlalu mencolok.

Hal yang ingin kulakukan hanyalah meneliti sihir.

Jika orang-orang tahu aku bisa melakukan sintesis dan semacamnya, aku mungkin akan dipaksa membantu pekerjaan itu terus.

Itu sebabnya aku mencoba untuk tidak menonjolkan diri, tapi aku tadi sedikit lengah.

Bagaimana baiknya ya…… oh, benar.

"Eto. Sebenarnya logam paduan itu dibuat oleh Ren, lho."

"Eeehh?! A-aku yang buat?! Mmph!"

Aku segera membungkam mulut Ren yang hendak memprotes.

"Iya, saat mencoba menggunakan kemampuan Ren, ternyata berhasil. Aku sampai kaget. Haha, hahaha……"

Sebelumnya, aku sudah berbagi informasi mengenai kemampuan Ren kepada Albert.

Tentu saja hanya secara garis besar.

Agar nantinya bisa digunakan sebagai alasan, aku memberi tahu Albert bahwa Ren memiliki kemampuan untuk menciptakan berbagai macam benda. ……Itu bukan bohong, kan.

"Hooh, begitu ya. Masih kecil tapi hebat juga kau."

"A-ahahahaha…… begitulah. Dia adalah maid kebanggaanku."

"Lloyd-kun……?"

Ren menatapku dengan tatapan tajam yang mengerikan.

Maaf, tolong ikuti saja permainanku. Nanti kubelikan manisan yang enak, deh. Saat aku membisikkan itu, Ren akhirnya mengangguk dengan wajah pasrah.

"Daripada itu Kak Dian, bukankah sebaiknya kita segera mulai bekerja?!"

"Ooh, kerja bagus, Nona Kecil! Sisanya serahkan padaku!"

Dian menepuk dadanya dengan penuh percaya diri.

Fiuh, sepertinya aku berhasil mengalihkan perhatian.

"Aku juga akan membantu."

"Oke! Ikut aku, Lody-bo!"

Saat aku mencoba menyelinap pergi mengikuti Dian dengan dalih membantu,

"Tunggu dulu, Lloyd."

Langkahku terhenti oleh panggilan Albert.

Cih, sepertinya tidak akan semudah itu lolos darinya.

"……Ada apa, Kak Albert?"

"Fufufu, alasan yang buruk sekali. Aku tahu lho yang sebenarnya."

"E-eto, apa maksud Kakak?"

Sambil tersenyum canggung untuk menutupi kegugupan, Albert membisikkan sesuatu di telingaku.

"Jangan pura-pura bodoh. Lloyd, kau yang memberi tahu Ren-chan metodenya, kan? Meskipun dia punya kemampuan itu, aku ragu dia bisa menciptakan logam yang tepat tanpa pengetahuan apa pun. Kau pasti yang memilihkan beberapa kombinasi potensial dan menyuruhnya membuatnya, kan?"

"……Ahahaha, ketahuan ya?"

"Yah, aku kan kakakmu. Hal segitu saja aku pasti paham."

Albert mengedipkan satu matanya dengan jenaka.

Fiuh, sepertinya dia belum tahu yang sebenarnya. Mendebarkan sekali.

Padahal jangankan memberi tahu caranya, proses sintesisnya pun aku yang melakukan.

"Sudah selesaunya, Kak Al? Ayo pergi, Lody-bo. Aku ingin segera melanjutkan pekerjaan!"

"Oi, aku juga ikut. Aku tidak mau kau melakukan kesalahan lagi. Kali ini biarkan aku yang turun tangan sejak tahap desain!"

"Apa katamu?!"

"Kenapa?!"

Dian dan Zerof mulai bertengkar lagi.

……Hmm, rasanya aku baru saja melihat interaksi seperti ini di dekatku baru-baru ini.

"Tuh dibilangin, dasar malaikat payah," ejek Grim.

"Maksudmu dirimu sendiri ya, iblis tolol," balas Jiriel.

Ah, di sini rupanya.

Ada pepatah yang bilang bahwa semakin sering bertengkar semakin akrab, jadi kurasa tidak perlu terlalu dipikirkan.

"Fufufu, menciptakan logam yang melampaui logam Katakont, kau hebat juga, Lloyd. Hmm, tapi logam baru ini butuh nama. ……Benar juga, bagaimana kalau mengambil nama Lloyd dan Ren, lalu menamainya Logam Rodylent? Ya, nama yang bagus. Nanti akan kendaftarkan ke Asosiasi Alkimia."

Albert tampak menggumamkan sesuatu sendiri.

Bagaimanapun juga, aku pun mulai mengerjakan pembuatan Core bersama Dian dan yang lainnya.

"Lloyd, ambilkan Reaction Stone."

"Baik, Kak Zerof. Yang nomor tujuh, kan?"

"Ya, sekalian tolong siapkan cairan katalisnya."

"Sudah kuduga Kakak akan memintanya, jadi sudah kubuatkan. Ini."

Dian sudah pergi duluan dengan alasan ingin membuat bagian luar Core, jadi saat ini hanya tinggal aku dan Zerof yang mengerjakan bagian dalam Core.

Pekerjaan pembuatan Core sangatlah kompleks dan menuntut ketelitian tinggi, sehingga aku tidak bisa lengah sedikit pun.

Apalagi berbeda dengan yang kubuat dulu, yang satu ini ukurannya sangat besar. Menjaga kestabilan komponen di dalamnya jauh lebih sulit.

Dengan wajah serius, Zerof mengaduk labu ukur dan mencampurkannya ke dalam satu botol.

Asap biru membumbung dari cairan yang mendidih.

Lalu saat asapnya menyatu, sebuah cairan perak yang berkilau tercipta di dalam botol tersebut.

"Fiuh, selesai."

Cairan yang bergejolak di dalam botol hasil Alchemy tersebut sebenarnya bukanlah cairan biasa, melainkan logam cair yang mengalir.

Logam ini, yang disebut sebagai Artificial Philosopher's Stone, memiliki sifat untuk bergerak bebas sesuai dengan kehendak manusia.

Dengan memberikan perintah melalui mana, kita bisa mendapatkan sumber tenaga untuk Golem.

"Selamat atas kerjanya, Kak Zerof."

"Ini semua berkatmu. Terima kasih, Lloyd. Pemurnian Artificial Philosopher's Stone itu sangat sulit. Apalagi Golem ini adalah unit spesial. Kita harus menggunakan bahan yang setimpal."

Tingkat kemurnian Artificial Philosopher's Stone di dalam botol ini beberapa tingkat lebih tinggi dari yang biasa.

Karena menuntut gerakan yang mendetail, logam ini digunakan di setiap bagian penggerak seperti ujung jari, bukan hanya lengan dan kaki, sehingga dibutuhkan jumlah yang banyak.

Dan dia harus membuatnya ulang setiap kali gagal.

Bukan hanya Dian yang kesulitan membuat ulang bagian luarnya, Zerof pun merasakan beban kerja yang sama beratnya.

"Tapi aku sudah terpikir sejak lama, Lloyd. Kau ini anehnya sangat paham soal Alchemy, ya."

"Eh? B-benarkah? Karena aku sering menghabiskan waktu di perpustakaan kalau senggang, aku cuma membaca sedikit buku soal Alchemy, kok."

"Hanya dari pengetahuan buku saja sudah sampai tahap ini, ya. Memang Alchemy adalah salah satu jenis sihir, jadi tidak aneh jika Lloyd yang seorang penyihir punya pengetahuan sampai batas tertentu. Tapi jumlah pengetahuan Lloyd itu tidak normal. Bahkan penyihir Alchemy biasa pun kalah jauh. Jika aku menggabungkan kekuatan dengan Lloyd, bahkan tabu dan teknik rahasia tertinggi dalam Alchemy, yaitu Human Transmutation, mungkin saja bisa dilakukan. Hmm, aku ingin sekali menjadikannya asistenku, tapi…… dia adalah favorit Albert, jadi aku tidak bisa memaksanya. Tapi suatu saat nanti pasti……"

Zerof menatapku sambil menggumamkan sesuatu.

Kenapa ya, tatapan matanya terasa menyeramkan.

──Bagaimanapun, pekerjaan berjalan lancar dan sepuluh hari telah berlalu.

Core milik Golem pun akhirnya selesai.

Kami memasukkan Core buatan Zerof ke dalam kerangka luar buatan Dian. Saat mana dialirkan, Artificial Philosopher's Stone pun aktif, dan suara mesin mulai terdengar dari dalam Core.

Suara detakan seperti denyut jantung yang memompa darah itu terdengar tenang dan stabil.

Sepertinya ia beroperasi dengan baik. Kalau begini, sepertinya tidak akan ada bahaya ledakan.

"Hmm, memakan waktu lama tapi akhirnya kita sampai di tahap ini juga. Ini semua berkat Logam Rodylent."

"Kekerasannya mantap, kokohnya luar biasa, ditambah lagi mudah diproses. Hidup Logam Rodylent!"

……Aku agak terganggu dengan nama yang sangat tidak kusukai itu, tapi ya sudahlah.

Uji coba Core milik Golem berakhir tanpa masalah, dan bagian itu pun dipasangkan ke tubuh utamanya.

Akhirnya, sang Golem pun selesai.

"Ooh— akhirnya benar-benar selesai, ya."

"Ini adalah prototipe. Setelah ini kami berencana melakukan penyesuaian dan update versi secara mendetail, tapi untuk saat ini, bisa dibilang sudah selesai."

Di bawah terik matahari, sang Golem berwarna merah tua itu berkilau menyilaukan.

Semua orang mendongak menatapnya dengan penuh kekaguman.

"Hehe, kita berhasil, teman-teman! Hasilnya luar biasa, bukan?! Dengan ini, monster raksasa apa pun yang menyerang pasti bisa kita habisi!"

"Ya, ini sangat hebat. Sebagai pelindung negara, jarang ada Golem sehebat ini. Ini akan menunjukkan kekuatan teknologi negara kita dan membuat negosiasi dengan negara lain berjalan lebih menguntungkan."

"Inilah kristalisasi teknologi…… mahakarya tertinggi dari Alchemy. Sungguh hasil yang luar biasa…… benar-benar sebuah karya seni."

Sepertinya mereka bertiga punya pemikiran masing-masing.

Pantas saja mereka mau membantuku membuat Golem ini dengan senang hati.

……Aku benar-benar tidak bisa bilang kalau tujuan awalku membuat ini adalah sebagai lawan tanding latihan sihirku.

"Hei Kak Al, ayo beri dia nama!"

"Hmm, benar juga…… Lloyd, menurutmu apa yang bagus?"

"Eh?! Aku?"

Tiba-tiba saja Albert melemparkan pertanyaan itu padaku.

"Bukankah kau yang mencetuskan ide ini? Ditambah lagi, aku menganggapmu sebagai orang yang paling berjasa."

"Aku juga tidak keberatan. Lagipula bagiku nama itu tidak penting."

"Oi, oi, Kak Zero! Nama itu penting, tahu! ……Yah, aku tidak keberatan kalau Lody-bo yang memberi nama. Tapi kalau kau tidak punya ide, biar aku saja yang memikirkannya, oke? Bagaimana kalau King Rody atau Super Lloyd?"

Aduh, jangan dong Kakak.

Selera Dian benar-benar membuatku elus dada.

Ren yang berdiri di sampingku berusaha keras menahan tawa sampai bahunya bergetar.

Karena aku benar-benar tidak mau nama-nama itu, aku pun berpikir sekuat tenaga.

"K-kalau begitu, bagaimana kalau menggabungkan nama keluarga kita 'Di' dengan kata 'Guardian' yang berarti pelindung, menjadi 'Di-Guardia'?"

"Hmm, boleh juga, kan?"

"Ah, King Rody sebenarnya sayang untuk dilewatkan, tapi itu juga nama yang bagus!"

"Nama apa pun boleh saja…… tapi itu tidak buruk."

Fiuh, syukurlah. Sepertinya semua orang setuju.

"S-syukurlah ya, Lloyd…… bukan King Rody…… pffft."

"Iya, nama itu benar-benar bikin merinding."

Ren tampak hampir meledak tawanya.

Aku sendiri tipe orang yang menganggap nama itu apa saja boleh, tapi kalau yang tadi itu sih, maaf saja.

"Baiklah, karena penamaan sudah selesai, ayo kita segera lakukan uji coba Di-Guardia!"

"Ooh! Ini yang kutunggu-tunggu, Kak Al!"

"Hmm, aku ingin segera melihat kegagahan Di-Guardia milikku."

"Siap! Aku juga tidak sabar!"

Akhirnya saat bagi Di-Guardia untuk bergerak telah tiba.

Mari kita lihat, apakah dia bisa digunakan sebagai lawan tandingku yang sebenarnya.

"──Sensivitas baik, mulai berdiri tegak."

Seiring dengan kata-kata Zerof sang pengendali, Di-Guardia mulai membangkitkan tubuhnya secara perlahan.

Dian juga ingin menaikinya, tapi Golem yang digerakkan dengan aliran mana tidak bisa dinaiki oleh manusia yang tidak memiliki mana.

Golem aktif saat penggunanya mengalirkan mana yang kemudian diteruskan ke Artificial Philosopher's Stone di bagian pusat.

Mesin penggerak di dalam Core akan berputar dengan kecepatan tinggi, menyalurkan energi yang tercipta ke seluruh sudut tubuh, dan menggerakkan Golem sesuai kehendak—secara sederhana, begitulah cara kerjanya.

Mekanisme internal Golem serta rumus sihir yang tertanam di dalamnya mengubah energi kecil menjadi energi yang lebih besar, sehingga orang dengan mana sedikit pun bisa menggerakkan Golem.

"Mulai berjalan."

Dengan suara dentuman langkah yang kuat, Di-Guardia melangkah maju.

Para prajurit yang menonton bersorak "Ooh—!".

"Ooi Kak Zero, senjata! Gunakan senjata apa saja dong!"

"Baiklah. Di mana ya sasaran yang bagus……"

Zerof mengedarkan pandangannya ke sekeliling.

"Kak Zerof, tolong tunggu sebentar—! ……Hiyat!"

Setelah memanggil Zerof, aku menembakkan Fireball ke arah peti kayu raksasa yang diletakkan di lapangan.

Dalam sekejap, peti kayu yang dilalap api itu berguncang hebat.

Keluar dari hancuran peti itu, muncullah sesosok raksasa bertanduk.

Meski tangan dan kakinya terbelenggu, ia tampak kesal sambil mengibaskan api dari tubuhnya.

"A-apa-apaan itu?! Bukankah itu monster?! Kenapa ada di tempat seperti ini?!"

"Itu adalah Ogre. Untuk mengantisipasi hal seperti ini, aku meminta tolong pada Guild Petualang agar diberikan monster hasil tangkapan hidup-hidup. Karena monster ini sering merusak desa-desa sekitar, aku pikir dia cocok untuk dijadikan uji coba."

Sebenarnya aku sendiri yang menangkapnya, sih.

Tapi bagian bahwa ada permintaan pembasmian dari Guild Petualang itu benar. Aku menangkapnya saat dia sedang merusak desa terdekat, lalu membuatnya tertidur dan membawanya ke sini.

Daripada batu atau pohon besar yang tidak bergerak, target yang bisa bergerak tentu lebih bagus untuk eksperimen.

Rasanya agak kasihan, tapi…… tidak, dia kan sudah menyerang desa, jadi ini salahnya sendiri. Tindakan yang kulakukan ini pasti adalah hal yang benar.

"Oi, oi. Ogre itu kan ras raksasa kelas terkuat di antara para monster. Menangkapnya cuma buat jadi bahan uji coba…… Iblis pun nggak bakal kepikiran, ini sih perbuatan setan……!" bisik Grim.

"Begitu ya, ini adalah peringatan bagi mereka yang telah merusak desa-desa. Tak peduli meski dia monster, Anda tidak akan memberi ampun bagi siapa pun yang mengancam rakyat. Di saat banyak penguasa menutup mata atas penderitaan rakyat, memberikan hukuman dengan susah payah seperti ini…… Seperti yang diharapkan dari Tuan Lloyd, Anda adalah teladan bagi keluarga kerajaan," puji Jiriel.

Grim dan Jiriel menggumamkan sesuatu, tapi aku terlalu penasaran dengan pertarungan Ogre dan Di-Guardia yang akan segera dimulai.

Wah, aku jadi bersemangat.

"Gorurururu……!"

Sambil membunyikan rantai yang terpasang di kedua tangan dan kakinya, Ogre itu melangkah mendekati Di-Guardia.

Dia tampak penuh semangat bertarung. Sambil mengatur napas dengan kasar, dia tampak mengincar celah untuk menerjang.

"……Hmm, aku sedikit kaget, tapi Lloyd, kau sudah menyiapkan target yang bagus. Jika monster itu merepotkan rakyat, aku tidak akan merasa bersalah meski harus membunuhnya. Dengan ini, aku bisa mengukur kekuatan Di-Guardia sepuas hati."

"Kak Zero—! Musuhnya sudah datang tuh—! Senjata, keluarkan senjatanya—!"

"Tanpa kau beri tahu pun aku tahu."

Sambil mengangguk pada ucapan Dian, Di-Guardia menekuk sayap di punggungnya ke arah depan.

Ujung sayap yang menghadap ke arah Ogre itu bersinar terang.

──Lalu di saat yang sama, GOOOHH! Seberkas cahaya ditembakkan.

Cahaya itu melesat meninggalkan jejak dan menghantam Ogre, memicu ledakan besar.

"Guoooh……!?"

Ogre itu mengerang dan terhuyung.

Asap putih membumbung dari ujung sayap tempat cahaya tadi ditembakkan.

"Hmm, sepertinya Meriam Mana berfungsi dengan baik."

Melihat itu, Albert mengangguk puas.

Benda yang terpasang di punggung Di-Guardia adalah Meriam Mana, senjata besar yang menembakkan peluru berisi sihir tingkat tinggi.

Katanya itu adalah teknologi terbaru yang dikembangkan di Laboratorium Sihir milik Albert, dengan keunggulan siapa pun bisa menembakkan sihir menggunakannya.

Namun karena sulit untuk memperkecil ukurannya, untuk sementara dipasanglah pada Golem untuk operasionalnya.

Sihir yang ada di dalamnya setara dengan sihir tingkat tinggi Fireball yang meledak hebat.

Setiap kali Meriam Mana ditembakkan, suara guntur menggelegar dan debu tanah beterbangan.

"GAAAAAAHHHHHH!!"

Meski begitu, Ogre itu tidak gentar sedikit pun. Ia mengambil potongan kayu yang jatuh di kakinya dan mulai menerjang maju.

"Ogre itu monster yang sangat tangguh. Sihir tingkat segitu tidak akan menghentikan terjangannya!" seru Grim.

"Iya! Tuan Lloyd mungkin bisa membuatnya pingsan dengan Fireball yang sudah menahan diri, tapi bagi orang biasa, Fireball biasa tidak akan memberikan kerusakan yang berarti!" tambah Jiriel.

Di tengah teriakan Grim dan Jiriel, Di-Guardia tampak tidak goyah sama sekali.

"Hmm, pertarungan jarak dekat ya. Baiklah, akan kuladeni."

Sebuah tabung pendek keluar dari saku di pergelangan tangan Di-Guardia, lalu ia mengambilnya.

Saat tombol ditekan, suara tajam terdengar dan sebuah bilah pedang memanjang.

Itu adalah pedang. Di-Guardia memegangnya dengan posisi terbalik dan memasang kuda-kuda.

"GARURUUAAAAHH!"

Sambil meraung, Ogre itu memukulkan potongan kayunya.

Di-Guardia mengayunkan bilahnya untuk menanggapi serangan itu.

GYIIINN! Suara benturan keras terdengar, dan bilah pedang itu memotong kayu tersebut menjadi dua bagian.

"Yosshaaa! Tajam sekali Great Magic Sword itu!"

Ini adalah persenjataan buatan Dian. Sesuai namanya, ini adalah pedang sihir yang besar.

Bilah yang besar memungkinkan pemasangan banyak rumus sihir penguatan, sehingga daya serangnya jauh melampaui pedang biasa.

Tentu saja pedang itu sangat berat dan sulit digunakan sehingga tidak ada manusia yang bisa mengayunkannya, tapi bagi Golem, itu masalah lain.

Dengan ayunan Great Magic Sword, senjata milik Ogre itu hancur berkeping-keping dalam sekejap.

"GU……AAAAAAAAGGGHH!"

Ogre itu membuang potongan kayu yang sudah pendek dan menerjang dengan tangan kosong.

Mata tunggal Di-Guardia bersinar tajam.

Dalam satu tebasan horizontal, serangan itu membelah tubuh Ogre menjadi dua.

"Ga…… a……!?"

Tanpa menoleh ke arah Ogre yang tumbang, Di-Guardia menyarungkan kembali Great Magic Sword miliknya.

Sorak-sorai dan tepuk tangan pun pecah membahana.

"Yosshaaa! Tajam sekali Great Magic Sword itu!"

"Meriam Manaku juga sepertinya hasilnya cukup bagus. Bisa membuat Ogre yang merupakan salah satu monster terkuat di sekitar sini menjadi gentar. Kalau terus disempurnakan, ini akan jadi senjata yang hebat."

"Hmm, pergerakan yang luar biasa. Kemampuan operasional maupun kecepatan reaksinya tidak ada komplain. Benar-benar bisa disebut sebagai Golem terbaik."

Ketiganya mengangguk puas melihat hasil pertarungan Di-Guardia.

"Hah, dulu Golem itu cuma tumpukan batu yang digerakkan buat kerja bakti doang, tapi Golem zaman sekarang sudah jadi sesuatu yang mengerikan ya," gumam Grim.

"Ini semua pasti berkat kekuatan Tuan Lloyd. Selama aku melihat dunia manusia dari langit, aku belum pernah melihat orang yang memiliki Golem sehebat ini. ……Ada apa Tuan Lloyd, kenapa wajah Anda tampak tidak puas?"

Aku hanya bisa bersedekap dan mengerang mendengar pertanyaan Jiriel.

Memang benar, sebagai sebuah Golem, ini adalah hasil yang cukup bagus.

Tapi kinerjanya jauh lebih rendah dari yang kubayangkan.

Bahkan setelah memperhitungkan fakta bahwa Zerof yang mengendalikannya, jika melawan Ogre saja butuh usaha sebanyak ini, sepertinya dia tidak akan bisa menjalankan peran utamanya sebagai lawan tandingku yang sebenarnya. Sayang sekali.

"Oi, oi. Sepertinya Lloyd tidak puas dengan performa Di-Guardia tuh."

"Benar-benar ya anak itu, padahal sudah dibuatkan sehebat ini tapi masih belum puas. Dia itu serakah sekali!"

"……Aduh, aduh. Sepertinya aku juga tidak bisa puas hanya sampai di sini, ya. Jalan Alchemy memang panjang dan terjal."

Albert dan yang lainnya menggumamkan sesuatu, tapi aku terlalu kecewa sampai tidak bisa mendengarnya.

Padahal aku sudah meluangkan banyak waktu, tapi ternyata berakhir sia-sia.

Tidak, tidak. Masih terlalu dini untuk kecewa. Di-Guardia memiliki banyak perangkat sihir yang terpasang, dan masih ada banyak kegunaan lainnya.

Benar juga. Bisa digunakan untuk hal itu juga, kan. Kalau begitu, aku bisa melakukan hal yang lebih besar lagi…… fufufu, aku jadi tidak sabar.

Sebab, Golem terkuat bukan hanya dilihat dari performa fisiknya saja.

Baiklah, aku akan mencari waktu untuk memodifikasinya sesuai seleraku. Tentu saja secara diam-diam, ya.

Beberapa hari setelah selesainya Di-Guardia, aku menjalani kehidupan seperti biasa.

"Hiyat!"

Sambil mengeluarkan suara yang tegas, sebilah pedang kayu diayunkan dan aku menghindarinya di saat-saat terakhir.

Ups, bahaya, bahaya.

Saat aku tersentak mundur, maid di depanku, Sylpha, menatapku dengan senyum tipis.

"Anda berhasil menghindarinya dengan baik, Tuan Lloyd."

"……Haha. Aku akan senang kalau kamu sedikit menahan diri."

"Jangan bercanda. Jika aku menahan diri melawan Tuan Lloyd yang sekarang, justru akulah yang akan dikalahkan. Nah, ayo kita lanjut lagi."

Setelah menarik napas pendek, Sylpha mengayunkan pedang kayunya dengan gembira.

Hari ini adalah jadwal latihan pedang rutin bersama Sylpha.

Karena belakangan ini aku sibuk membuat Golem, aku tidak punya banyak waktu luang. Jadi untuk menebusnya, kami latihan terus-menerus sejak pagi hari.

"Bagus sekali, Tuan Lloyd! Anda sudah mulai terbiasa menggunakan pedang besar itu, ya!"

"Ini semua berkatmu…… hiyat!"

Suara benturan kayu yang kering berkali-kali menggema di lapangan latihan.

Pedang yang kugunakan saat ini adalah pedang besar yang ukurannya hampir setinggi tubuhku.

Ilmu pedang aliran Langris milik Sylpha bisa menggunakan senjata apa saja, mulai dari tangan kosong hingga pedang besar.

Yang sedang kupelajari secara intensif saat ini adalah teknik pedang besar tersebut. Sepertinya itu cocok untukku sehingga Sylpha pun bersemangat mengajariku.

Katanya jika tubuh mungil menggunakan pedang besar, titik serangan musuh akan menjadi sangat terbatas. Ditambah lagi jika menggunakan sihir penguatan tubuh, pedang yang berat pun bisa diayunkan dengan ringan.

Begitu ya, masuk akal juga. ……Padahal sebenarnya itu tidak terlalu berpengaruh karena aku selalu mengaktifkan beberapa lapisan pelindung setiap saat.

"Fufufu! Seperti yang diharapkan! Permainan pedang Anda luar biasa, Tuan Lloyd! Berikan lagi, lebih banyak lagi!"

Sambil tertawa gembira, Sylpha menangkis seranganku. Sial, dia tampak sangat menikmati pertarungan ini.

Awalnya aku bisa mengimbangi gerakan Sylpha dengan meniru gerakannya menggunakan sihir sistem kontrol Mirroring, tapi belakangan ini sepertinya Sylpha sudah mulai berhenti menahan diri sehingga aku mulai kewalahan mengejarnya.

Mau bagaimana lagi, aku pun mengakalinya dengan menggunakan sihir penguatan tubuh dan sihir penyembuhan secukupnya agar tidak ketahuan, sambil meredarkan Qi di dalam tubuhku untuk menutup celah.

……Belum ketahuan, kan?

"Ah, luar biasa sekali, Tuan Lloyd! Meskipun aku sudah tidak menahan diri sama sekali, Anda masih bisa mengikuti gerakanku! Tidak hanya sihir, Anda bahkan menggunakan Qi juga…… Sepertinya keputusan Anda untuk menjadi petualang sebagai bagian dari latihan adalah hal yang tepat. Aku pun terus berlatih agar tidak tersusul, tapi tetap saja jarak di antara kita semakin mengecil. Sungguh sosok yang mengerikan. Anda benar-benar bibit Master Pedang. Sylpha merasa terhormat bisa menjadi instruktur bagi Tuan Lloyd. Fufu, fufufufufu……"

Sambil bergumam tidak jelas, Sylpha terus merangsek maju dengan meluncurkan tebasan-tebasan pedang berkecepatan tinggi.

Sesekali terdengar kata-kata berbahaya dari mulutnya. Benar-benar mengerikan.

"Oh, Lloyd. Ternyata kamu di sana."

Tiba-tiba, sebuah suara terdengar dan membuat Sylpha menghentikan pedangnya. Suara itu milik Zerof.

Sylpha segera menyarungkan pedangnya dan membungkuk hormat.

Aku pun melakukan hal yang sama, menurunkan pedangku, lalu berhadapan dengan Zerof sambil mengatur napas.

Syukurlah. Pas sekali, aku memang sedang ingin istirahat.

"Apa aku mengganggu?"

"Tidak, jangan dipikirkan. Ada apa, Kak Zerof?"

"Sebenarnya ada sesuatu yang ingin kuperlihatkan padamu…… ini."

Zerof mengeluarkan selembar surat kabar. Di sana tertulis begini:

"Eeto, apa ini? ──Festival Alkimia Agung, ajang unjuk gigi teknik terbaik para Alkemis, akan kembali digelar tahun ini. Para Alkemis dari berbagai penjuru negeri akan berkumpul di Kerajaan Bertram untuk memamerkan teknologi mereka.

Di antara berbagai acara yang ada, puncaknya adalah Turnamen Bela Diri Agung yang dilakukan oleh Golem. Pemandangan Golem raksasa yang saling beradu kekuatan akan menjadi tontonan yang luar biasa. Pastikan Anda hadir di lokasi……

Eh, jangan-jangan Kak Zerof berniat ikut acara ini?"

Zerof mengangguk perlahan.

"Umu, aku sudah mengajukan pendaftaran. Kabar bahwa pendaftaranku diterima juga sudah sampai. Karena itulah aku ingin minta tolong, Lloyd. Aku ingin kamu berpartisipasi sebagai rekanku."

"Aku?"

"Kerjamu kali ini benar-benar luar biasa. Di negara ini, kurasa hanya kamu dan aku yang memiliki pengetahuan serta teknik selevel itu.

……Lagipula, jika ikut pertandingan, aku akan sangat mencolok dan pasti banyak yang mengajak bicara. Aku ingin kamu yang menjawab mereka sebagai gantinya. Kamu akrab dengan semua orang, jadi kamu pasti ahli dalam hal itu, kan?"

Tega sekali dia memberiku tugas sulit begini. Padahal aku sendiri juga tidak terlalu pintar bicara dengan orang lain.

Yah, tapi kalau dibandingkan Zerof, aku masih mendingan, sih.

Saat pembuatan Golem kemarin pun, Zerof selalu bekerja sendirian.

Setiap kali dia harus bicara dengan orang lain, biasanya aku atau Albert yang menjadi perantaranya.

……Kalau dipikir-pikir begitu, kurasa tugas ini tidak akan merepotkan banget.

"Jadi, bagaimana?"

"Tentu saja aku ikut!"

Aku langsung menjawab cepat.

Kalau tetap di sini, aku bakal berakhir terus-menerus berlatih tanding dengan Sylpha.

Lagipula soal alkimia── dulu aku memang pernah mempelajarinya sampai batas tertentu, tapi karena bosan, sekarang sudah kutinggalkan sepenuhnya.

Setelah beberapa tahun berlalu, pasti sudah banyak teknologi baru yang ditemukan.

Alkimia juga merupakan salah satu cabang sihir. Jika para Alkemis dari berbagai negara berkumpul, aku pasti bisa melihat pengetahuan atau teknik yang belum kuketahui.

Siapa tahu aku bisa mengadaptasi semua itu untuk diriku sendiri. Memikirkannya saja sudah membuatku bersemangat.

Festival Alkimia Agung, ya. Kedengarannya seru juga.

Beberapa hari kemudian, aku akhirnya tiba di negara tetangga, Bertram.

Karena Festival Alkimia Agung sudah dekat, kota terasa sangat ramai. Jalanan dipenuhi oleh lautan manusia.

"Waaaa! Hebat, hebat! Rasanya seperti pesta rakyat!"

"Jangan kegirangan sampai lari-larian begitu, Ren. Itu tidak sopan."

"Iyaaa—"

"On!"

Tentu saja aku tidak pergi sendirian.

Sylpha, Ren, dan seekor anjing putih raksasa…… Shiro, yang dulunya monster tapi sekarang menjadi familiar-ku, ikut menemani.

Belakangan ini, sepertinya Sylpha sudah mengakui Ren, dan Ren pun mulai terbiasa dengan Sylpha.

Ren itu anak yang serius, dan Sylpha sangat pintar mengasuh orang. Melihat mereka seperti ini, mereka tampak seperti kakak beradik yang akrab.

"Umuuu, percakapan santai yang memancarkan kepercayaan ini…… sungguh pemandangan yang suci……! Benar-benar indah!"

"Cih, dasar malaikat mesum seleranya buruk. Kalau laki-laki, ya harem itu baru kasta tertinggi!"

"Iblis rendahan sepertimu tidak punya hak mengomentari seleraku. Aku tidak akan membiarkan laki-laki mencemari taman bunga gadis suci yang indah ini, tahu!"

"Sudah, sudah, jangan bertengkar."

Dan dua makhluk ini, dari dulu sampai sekarang tetap saja tidak akur.

Sementara itu, Zerof sudah lebih dulu tiba di lokasi bersama Di-Guardia.

Katanya pengangkutan Golem memakan waktu lama, jadi dia berangkat duluan untuk melakukan penyesuaian.

"Hei, hei, Lloyd! Ada banyak benda menarik, lho!"

Ren menarik tanganku menuju deretan kedai.

Di sana berjajar minuman yang bisa berubah warna dan makanan yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Ada juga balon sabun raksasa yang melayang di sana-sini, mengejutkan para pengunjung.

"Hoo, sama sekali tidak terasa ada mana…… benar-benar misterius, ya."

"Tuan Lloyd, kami sebenarnya kurang paham tentang alkimia ini. Sebenarnya alkimia itu ilmu seperti apa?"

"Begini. Karena ini kesempatan bagus, aku akan menjelaskannya.

Sihir pada dasarnya adalah pengembangan dari mana yang ada di dunia ini agar lebih mudah digunakan manusia.

Sementara itu, alkimia adalah teknologi yang lebih condong ke arah orang awam yang tidak memiliki mana.

Alkimia banyak memanfaatkan fenomena khusus yang terjadi saat zat-zat dicampurkan.

Misalnya, minuman yang berubah warna itu menggunakan reaksi dari kandungan dalam buah-buahan.

Lalu balon sabun raksasa itu dibuat dari campuran sabun dan gula agar tidak mudah pecah."

Prinsip kerja Golem pun pada dasarnya sama dengan boneka otomatis yang menggunakan roda gigi.

Hanya saja, untuk mesin sekompleks itu, jika tidak menggunakan aplikasi sistem sihir, maka tidak akan bisa digerakkan dengan mudah.

Pengetahuan manusia, teknik, dan sihir yang digabungkan menjadi satu, itulah yang disebut sebagai alkimia.

Di dalamnya banyak hal yang tidak menggunakan mana.

Bagi Grim sang iblis atau Jiriel sang malaikat, mungkin semua ini terlihat seperti fenomena aneh yang terjadi tanpa bantuan kekuatan gaib.

"Oalah, jadi manusia yang mana-nya sedikit itu menutupi kekurangannya dengan cara begitu, ya."

"Yah, meskipun ada pengecualian…… tapi sekarang aku paham kenapa Tuan Lloyd sempat merasa bosan."

Alkimia memang cukup menarik, tapi bagiku sihir tetap jauh lebih seru. Mau bagaimana lagi.

Meski begitu, pengetahuan dan pengalaman yang kudapat dari sana tetap menjadi asupan bagi sihirku.

Sudah beberapa tahun berlalu, dan perkembangan alkimia itu sangat cepat. Sepertinya akan ada hal-hal yang belum pernah kulihat sebelumnya.

"Hei Sylpha, bolehkah kita mampir sebentar?"

"Tentu saja tidak masalah. Ren juga pasti baru pertama kali melihat hal seperti ini, kan? Silakan nikmati sepuasnya."

"Horeee, asyik!"

Begitulah, kami memutuskan untuk menikmati Festival Alkimia Agung sepanjang perjalanan.

"Pertama-tama, mari kita lepaskan dahaga. Bagaimana kalau masuk ke sana?"

Tempat pertama yang kami masuki adalah kafe sederhana yang hanya menggunakan payung besar.

Papan namanya bertuliskan "Chemical Cafe". Di sana, kami memesan beberapa minuman.

"Mohon menunggu sebentar. Ini dia: Alchemic Drink Ω (Omega), Γ (Gamma), dan Θ (Theta), masing-masing satu gelas."

"Terima kasih banyak."

Sylpha berterima kasih kepada pelayan, lalu segera menjajajarkan minuman itu di depan kami.

Minuman alkimia itu memiliki warna-warna cerah seperti biru, hitam, dan hijau.

"Jika Anda memasukkan tablet ini, rasa dan warnanya akan berubah. Silakan dicoba."

Bersama minuman itu, pelayan letekkan tablet seukuran ujung kelingking.

Ren mengambilnya, lalu mulai berkonsentrasi.

"……Sepertinya ini bubuk dari buah yang dikeringkan? Menurutku ini tidak berbahaya untuk dimakan."

Ren menggunakan kemampuannya untuk menganalisis apa pun yang akan masuk ke mulutku.

Bisa dibilang dia adalah "pencicip racun" pribadiku.

Di luar rumah, dia selalu mengecek makanan sebelum aku menyantapnya.

Yah, padahal sebenarnya racun tidak akan mempan padaku, sih.

"Kalau begitu, mari kita coba."

Aku mengambil satu butir dan memasukkannya ke dalam minuman.

Seketika terdengar suara mendesis syuwaaa, dan warna minuman berubah dari biru menjadi kuning.

"Warnanya luar biasa sekali. Antara norak atau terlihat beracun."

"Glek, glek…… Ah, ini rasa pisang."

Rasa manis yang pekat langsung memenuhi mulutku.

"Yang ini terasa seperti kiwi, ya."

"Ini rasa anggur. Padahal cuma memasukkan satu butir tablet, tapi ajaib sekali, ya."

Melihat kami yang keheranan, pelayan kafe itu tersenyum senang.

"Fufu, menarik, kan? Masih banyak toko seperti ini di tempat lain, jadi pastikan kalian mampir, ya."

"Baik! Aku sangat menantikannya!"

Saat Ren membungkuk sopan, pelayan itu membalas dengan senyuman hangat.

"Aduh, gadis kecil yang manis. Kalau mau, bawalah brosur ini. Aku sudah memberi tanda pada toko-toko rekomendasiku."

"Terima kasih banyak atas bantuannya."

"Alkimia sering dianggap sebagai ilmu yang sulit, tapi Festival Alkimia Agung ini diadakan agar alkimia bisa lebih diterima oleh orang awam.

Aku senang sekali jika anak semanis dirimu tertarik mempelajarinya."

Ren menerima brosur dari pelayan tersebut.

Begitu ya. Dengan mengadakan festival seperti ini dan menarik minat banyak orang, pasti akan muncul orang-orang yang bercita-cita menjadi Alkemis.

Jika dasarnya meluas, maka jumlah orang yang mengincar puncak pun akan bertambah, dan bidang ini akan semakin maju.

Bertram adalah negara dengan tingkat teknologi tinggi dalam hal penempaan dan alkimia.

Sepertinya mereka membangun kejayaan ini dengan cara membangkitkan minat masyarakat umum melalui festival seperti ini.

"Mampir, mampir! Ini dia hidangan ajaib yang bisa dimasak hanya dengan menyiram air panas!"

Setelah keluar dari kafe dan berjalan lagi, kali ini ada seorang pria berkepala botak yang sedang berteriak mencari pelanggan.

"Oho, Tuan Muda yang cerdas di sana, apa kamu lapar? Nona cantik juga, bagaimana?"

"Kalau dipikir-pikir, perutku memang mulai lapar."

Sejak masuk kota, kami memang terus berjalan tanpa henti.

Ren juga terlihat lelah, jadi tidak ada salahnya mengisi perut sekarang.

"Kalau begitu, sudah diputuskan! Silakan duduk dan tunggu di sana!"

"……Orang yang agak memaksa, ya," gumam Ren dengan wajah heran.

Yah, karena memang lapar dan aku penasaran dengan hidangan yang "hanya disiram air panas" itu, kami pun duduk sesuai arahannya.

Pria itu membawakan mangkuk berisi balok kotak yang kering.

"Ini dia, pesanan datang! Ini namanya Instant Noodle.

Mi ini dikeringkan dengan metode khusus. Tuangkan air panas, tunggu tiga menit, dan langsung jadi. Lihat saja sendiri, ya?"

Begitu pria itu menuangkan air panas, aroma yang lezat mulai tercium.

Balok di dalamnya mulai terurai dan kembali ke bentuk mi.

"Waaaa, hebat Lloyd! Menarik sekali!"

"Iya, tapi bagaimana rasanya, ya?"

Aku segera menyeruputnya…… tapi, rasanya tidak enak.

Sylpha dan Ren pun mengernyitkan dahi.

"……Rasanya tidak terlalu enak, ya."

"Bukannya tidak bisa dimakan, tapi……"

Rasanya hambar dan porsinya cuma bikin kenyang saja.

Dalam tiga hari pasti sudah bosan makan ini.

"Aku tidak bisa membiarkan Tuan Lloyd memakan makanan seperti ini. Mohon tunggu sebentar. Shiro."

"On!"

Sylpha merogoh bulu Shiro dan menarik keluar sebuah kotak besar.

Dari dalam kotak itu, dia mengeluarkan alat masak, bahan makanan yang tahan lama, serta berbagai bumbu.

"Hiyat!"

Begitu memegang alat masak, Sylpha mengembuskan napas pendek dan mulai mengayunkan pisau dengan kecepatan yang luar biasa.

Dia memasukkan daging kering dan sayuran ke dalam wajan, lalu menumisnya.

Begitu tumisan itu diletakkan di atas mi tadi, aroma yang sangat lezat langsung menyeruak ke sekeliling.

"Waaaa! Kelihatannya enak sekali! Hebat, Sylpha-san!"

"Silakan dinikmati, Tuan Lloyd. Ren juga."

"Wah, ini enak."

Berbeda dengan yang hambar tadi, rasa gurih yang pekat sekarang merangsang lidah.

Memang Sylpha luar biasa. Hanya dengan satu suapan, dia langsung tahu apa yang kurang dan bisa melengkapinya.

"Memang kalau cuma mi saja rasanya kurang mantap.

Tumisan daging dan sayuran sangat cocok dengan karbohidrat. Jika ini dimasukkan juga, nilai gizinya akan jauh lebih baik."

"Oooooh, teknik yang luar biasa! ……Dan benar juga, kalau daging dan sayurannya dikeringkan juga, kualitasnya pasti naik drastis.

Apalagi kalau ada banyak variasi rasa…… Umu umu, ini pasti bakal makin laku! Terima kasih ya, Mbak! Sebagai tanda terima kasih, harganya gratis saja!"

Pria itu bergumam sendiri sejenak, lalu berkata begitu dengan wajah ceria.

"Katanya gratis, lho. Rasanya kita jadi untung."

"Berani-beraninya dia menarik bayaran untuk masakan tingkat itu. Sepertinya dia salah mengira pelanggan sebagai kelinci percobaan."

"Festival Alkimia Agung adalah hari untuk menciptakan sesuatu yang 'baru', mohon maklumi jika ada sedikit kegagalan."

Di brosur tertulis begitu.

Kalau diperhatikan, memang sesekali terdengar suara ledakan atau teriakan pelanggan di sana-sini.

"Mungkin ini juga kehendak dari Yang Mulia Ratu yang memerintah Bertram.

Di Festival Alkimia Agung, para prajurit menyamar dan berkeliling kedai. Jika sebuah penemuan menarik perhatian mereka, kabarnya si Alkemis akan mendapatkan dana penelitian yang sangat besar."

"Ah, paman yang tadi juga buru-buru menutup kedainya."

Pasti dia pulang untuk melakukan eksperimen.

Begitulah cara inovasi teknologi terjadi di sini. Negara yang hebat.

Sambil merasa kagum, kami meninggalkan kedai tersebut.

"Tapi tetap saja, tablet perubah rasa dan Instant Noodle ya.

Ringan, tidak makan tempat, dan tahan lama. Jika digunakan dengan benar, ini bisa memicu revolusi dalam sistem logistik militer (Logistics)."

"Ah, benar juga! Kalau ada itu, sepertinya tidak perlu khawatir soal stok makanan lagi. Apalagi rasanya bisa diganti-ganti, jadi tidak cepat bosan."

"Selain itu, sepertinya berguna juga kalau sedang mengurung diri untuk meneliti."

Saat sedang asyik meneliti, biasanya tidak ada waktu untuk masak lama-lama.

Bisa membuat makanan yang mengenyangkan dengan cepat itu sangat membantu.

"Aku rasa aku tahu apa yang sedang Lloyd pikirkan……"

"Tuan Lloyd, makanan seperti itu hanyalah untuk keadaan darurat.

Menurutku gizinya tidak terlalu seimbang. Jika dikonsumsi terus-menerus, itu bisa menjadi racun bagi tubuh."

"I-iya, aku tahu, kok."

Kenapa pemikiranku bisa ketahuan? Menakutkan sekali.

Bagaimanapun, ada banyak hal yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan, jadi aku tidak bosan melihat-lihat.

Nah, selanjutnya adalah…… eh?

"Mampir! Mampir! Obat mujarab yang manjur untuk segala penyakit, luka, dan badan pegal-pegal! Ayo mampir di mari!"

Mendengar suara yang rasanya pernah kukenal, aku menoleh. Ternyata di sana ada Tao.

Dia adalah seorang ahli bela diri dari negeri asing dan petualang yang pernah beberapa kali bertarung bersamaku…… tapi, kenapa dia ada di sini?

Mungkin menyadari tatapanku, Tao menolehkan matanya yang bulat.

"Eh, Lloyd. Kebetulan sekali ya."

"Halo. Kamu juga sedang apa di sini?"

Aku membalas sapaannya sambil berjalan mendekati Tao.

"Ngomong-ngomong, kenapa kamu ada di sini? Sekarang kan Festival Alkimia, rasanya tidak ada hubungannya denganmu."

"Di negaraku juga ada hal-hal semacam alkimia, tahu.

Namanya Alkimia Internal (Dan-alchemy), teknik untuk membuat obat mujarab yang memperkuat fungsi tubuh.

Jadi, aku datang untuk menjual obat mujarab buatan kakekku. Oh, kakek kecil ini kakekku."

Tao menepuk-nepuk bagian belakang kepala seorang kakek bertubuh mungil.

Sama seperti Tao, kakek itu mengenakan pakaian asing.

Karena sudah sangat berumur, kepalanya gundul licin dan wajahnya penuh kerutan.

"Fuga fuga…… Nenek, apakah sudah waktunya makan siang—?"

"Duh, Kakek Chen. Baru saja kita makan. Lagipula aku bukan nenek-nenek, tahu!"

"Oh, begitu ya—"

Kakek yang dipanggil Chen itu menggumam santai dengan mulut komat-kamit.

……Apakah dia tidak apa-apa? Jalannya sempoyongan, aku jadi agak khawatir.

"Ahahaha, dia memang agak pikun, tapi obat mujarabnya manjur banget, lho. Ini beneran."

"Hmm…… bolehkah aku melihatnya sebentar?"

"Tentu saja boleh. Ngomong-ngomong, apakah gadis kecil ini cucuku—?"

"Cucunya di sini, tahu!"

Sambil tersenyum kecut melihat interaksi Tao dan Chen, Ren mengambil satu butir obat mujarab.

Setelah menatapnya lekat-lekat sejenak, Ren tersentak.

"……Obat ini hebat, Lloyd. Dibuat dengan racikan yang belum pernah kulihat!"

"Fufun, matamu jeli juga ya.

Obat mujarab ini adalah obat yang meniru fungsi Qi. Sangat manjur jika bekerja dari dalam tubuh, lho."

Tao membusungkan dadanya dengan bangga.

Hoo, sepertinya khasiatnya bermacam-macam, ya. Mungkin ini bisa berguna untuk bahan belajar Ren.

"Kalau begitu, bolehkah aku beli masing-masing lima puluh butir?"

Mendengar perkataanku, mata Tao membelalak.

"Kamu mau beli sebanyak itu?"

"Jika tidak merepotkan."

Sebenarnya aku ingin memborong semuanya, tapi kalau beli terlalu banyak nanti malah merepotkan mereka.




"Boleh, boleh! Lagipula ramuan asing yang mencurigakan begini mana ada yang mau beli. Ayo Kek, bilang terima kasih!"

"Oh, oh…… Terima kasih ya sudah melepaskan gigi palsuku……"

Bukan, ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan gigi palsu.

Chen menggenggam tanganku sambil gemetaran.

Namun pada saat itu, mata Chen yang tadinya terpejam sipit tiba-tiba terbuka lebar.

Ia berdiri dengan kegesitan yang seolah menghapus sosok ringkihnya tadi.

"Kakek!? Kenapa tiba-tiba begini!?"

Tanpa memedulikan Tao yang kebingungan, Chen mencengkeram tanganku dengan kuat.

"Nuooooh!? Aliran Qi macam apa ini…… Deru Qi yang mengalir di dalam tubuhmu benar-benar mengingatkanku pada sungai besar yang meluap! Aku belum pernah bertemu pemilik bakat sebesar ini seumur hidupku! Luar biasa! Kamu benar-benar gumpalan bakat murni!"

"E-eh, eeto……?"

Ada apa dengannya tiba-tiba?

Dia benar-benar menjadi orang yang berbeda dari sedetik lalu.

Jangan-jangan dia salah mengira aku sebagai orang lain.

"T-tak dipercaya. Kakek yang sudah pikun sejak setengah tahun lalu tiba-tiba jadi segar bugar begini…… Apa dia terpengaruh oleh aura Qi milik Lloyd? Aku tahu dia anak yang hebat, tapi jangan-jangan dia jauh melampaui dugaanku?"

Tao pun ikut bergumam tidak jelas sambil menyentuh tanganku, seolah ingin memastikan sesuatu.

Tiba-tiba, Sylpha menepis tangan Tao dengan tegas.

"Sampai kapan kamu mau terus menyentuhnya, dasar kucing betina."

"Sakiitt—!? Apa yang kamu lakukan, Pelayan Bodoh!"

Sambil mengabaikan suara protes Tao, Sylpha mengalihkan pandangannya ke arah Chen.

"Fumu…… Hanya dengan menyentuh potensi terpendam Tuan Lloyd yang tak berdasar saja dia langsung sadar. Sepertinya orang tua ini petarung yang cukup tangguh."

"Ho-ho, Nona juga punya sesuatu yang hebat di dalam sana……"

Sari, Chen mencoba mengelus bokong Sylpha.

Namun Sylpha juga bukan orang sembarangan, ia segera menangkisnya menggunakan gagang pedang.

Gerakan mereka berdua terlalu cepat sampai tidak terlihat. Inilah yang disebut para ahli, ya?

"Bercanda, bercanda. Kamu boleh juga, Nona."

"Begitu juga dengan Anda, Kek. Gerakan tajam yang tidak mencerminkan usia itu benar-benar mengagumkan."

Sylpha dan Chen tersenyum ramah, namun atmosfer di sekitar mereka tetap terasa dingin mencekam.

Setelah terdiam sejenak, Chen mengangguk kecil lalu menatapku.

"……Ngomong-ngomong Anak Muda, maukah kamu menjadi penerus jurus Hyakkaken milikku? Kalau mau, aku rela menjadikan Tao sebagai istrimu."

"Dasar Tua Bangkaaa!"

Spaaan! Tamparan telapak tangan Tao mendarat telak di belakang kepala Chen.

Wajah Tao memerah padam.

"Apa yang kamu bicarakan, hah!? Dasar Kakek Pikun!"

"Apa katamu!? Aku tidak pikun! Tadi itu aku cuma sedang tidur!"

"Kalau begitu tidur saja selamanya!"

Sambil berteriak murka, Tao meluncurkan tinjunya yang kemudian dihindari oleh Chen untuk melancarkan serangan balik.

Kali ini Tao melompat ringan menghindari tendangan memutar Chen, lalu membalas dengan tendangan terbang.

Kami hanya bisa menonton pertarungan antara dua ahli itu dengan perasaan takjub bercampur bingung.

"Lagipula, mana ada orang yang mau meminang gadis tomboi sepertimu! Apa salahnya aku mencarikan calon dari sekarang!"

"Jangan ikut campur! Aku bisa mencari pasangan hidupku sendiri!"

Meski saling melontarkan makian, entah kenapa mereka berdua terlihat sangat menikmatinya.

Interaksi mereka menjadi semakin sengit, dan penonton pun mulai berkumpul.

Padahal tadi di sini sepi sekali.

Mungkin besok-besok kalau mau jualan obat, mereka harus melakukan duel dulu sebagai penarik perhatian pelanggan.




Illustrasi | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close