NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara dai Nana Ouji Volume 2 Part 1


"Shiro, sini!"

"On!"

Begitu aku memanggil, seekor anjing putih besar──Shiro, berlari dengan penuh semangat.

Shiro langsung menerjang dan memelukku. Bobot serta momentumnya membuatku terjatuh telentang di atas rumput.

Rumput-rumput pendek beterbangan ke udara, membawa aroma segar tanah dan tumbuhan.

 

Namaku Lloyd de Saloum, pangeran ketujuh dari Kerajaan Saloum.

Bocah sepuluh tahun yang sangat tergila-gila pada sihir. Di kehidupan sebelumnya, aku hanyalah penyihir miskin tak berarti yang tewas karena terpana melihat sihir tingkat tinggi, lalu bereinkarnasi ke tubuh ini.

Sebagai pangeran ketujuh yang usianya terpaut jauh dari kakak-kakakku, aku tidak punya hak waris takhta. Karena disuruh hidup bebas, aku pun menghabiskan waktu hanya untuk menekuni sihir kesukaanku.

...Tapi belakangan ini, aku merasa orang-orang di sekitarku menaruh harapan yang aneh padaku. Yah, itu pasti cuma perasaanku saja.

Pangeran ketujuh yang polos dan tidak menonjol, itulah posisiku saat ini.

"On! On!"

Omong-omong, anjing yang sedang menjilati wajahku ini bernama Shiro. Awalnya dia adalah monster yang menyerangku, tapi entah kenapa dia malah jadi sangat manja padaku.

Karena diizinkan membawanya pulang, aku menjadikannya sebagai familiar.

Tiba-tiba, sebuah mulut muncul di telapak tanganku yang sedang mengelus Shiro.

"Hehehe, disukai bahkan oleh monster... Tuan Lloyd memang luar biasa."

Makhluk ini adalah Majin Grimoire. Aku memanggilnya Grim.

Dia dulunya tersegel di dalam buku terlarang di perpustakaan bawah tanah istana, tapi karena berbagai alasan, dia kini menjadi familiar-ku.

Aku membiarkannya tinggal di balik kulit telapak tanganku, dan sesekali dia akan membuka mulut seperti ini untuk bicara.

"Guhihi, kau bahkan menundukkan monster, ya. Baguslah. Semakin banyak yang kau dapatkan, semakin nikmat pula saat aku mengambil alih tubuhmu nanti..."

Dia ini tipe yang labil karena sering menggumamkan hal-hal aneh sendirian. Setidaknya kalau mau bicara, bicaralah dengan suara yang jelas.

"On! On!"

"Waduh, diam kau, dasar anjing ingusan! Jangan menggonggong padaku! Hush, hush!"

Shiro menggonggong galak ke arah Grim yang sedang bicara sendiri. Sepertinya mereka berdua memang tidak akur.

"Sudah, sudah. Jangan bertengkar, ayo kita lanjutkan latihannya."

"On!"

Aku mengepalkan tangan untuk membungkam mulut Grim, dan Shiro pun kembali duduk dengan tenang.

Yang sedang kami lakukan sekarang adalah teknik Beast Tamer, yaitu menumpangkan perintah pada energi sihir lalu menembakkannya. Dengan begitu, kita bisa memberi perintah pada familiar hanya lewat pikiran.

Sesuai namanya, Beast Tamer adalah sebutan bagi mereka yang menjalin kontrak dengan monster dan mengendalikan mereka. Konon, teknik ini lahir dari para penyihir pencinta hewan yang ingin menspesialisasikan kemampuan mereka dalam memerintah.

Kabarnya, mereka bisa menguasai monster hanya dengan membayangkan perintah menggunakan energi sihir tanpa perlu merapal mantra. Itulah yang sedang kucoba, tapi...

"Shiro!"

Aku mencoba memanggilnya, tapi Shiro hanya menungguku dengan mata berbinar-binar. Aku sudah membayangkan perintah "sini" di dalam pikiran, tapi sepertinya tidak tersampaikan.

Shiro sangat pintar dan memahami hampir semua perkataanku, jadi kalau aku bicara langsung, dia pasti mengerti.

Namun, untuk perintah simpel seperti bersalaman, tiarap, tunggu, atau mengambil barang itu perkara mudah. Masalahnya akan berbeda jika aku memberi perintah rumit seperti "berputar tiga kali lalu menggonggong sekali".

Seberapa cepat putarannya? Di mana titik putarnya? Bagaimana nada gonggongannya? Menitipkan makna sedalam itu hanya dalam satu kata saja mustahil dilakukan.

Padahal kalau bisa memerintah hanya dengan pikiran, hal-hal rumit seperti itu harusnya bisa diatasi.

"Tuan Lloyd, apa tidak bisa memberi perintah menggunakan formula sihir?"

"Formula sihir itu ditulis dalam bahasa sihir khusus untuk mengintervensi dunia secara efisien. Shiro yang tidak paham bahasa itu mana mungkin mengerti."

Lagi pula, penyihir yang bisa memahami dan memodifikasi formula sihir itu sangat sedikit. Aku saja saat ini baru sampai pada batas menyusun ulang kata-katanya.

Dari sudut pandang itu, melatih pemahaman lewat membaca buku setiap hari memang sangat penting. Kesimpulannya, menyampaikan kata-kata lewat energi sihir adalah cara yang paling cepat.

"……Duduk."

"On!"

Oleh karena itu, aku mengeluarkan energi sihir bersamaan dengan kata-kata, lalu mengajarinya pelan-pelan lewat latihan repetisi.

Hmm, tapi cara ini memakan waktu lama dan tidak fleksibel. Nuansa-nuansa kecil tidak tersampaikan. Apa tidak ada cara lain yang lebih baik, ya?

Saat sedang berpikir, aku tiba-tiba teringat pada seseorang.

"Benar juga, kalau Kak Alise mungkin..."

──Alise de Saloum, putri keenam Kerajaan Saloum.

Kakak perempuanku yang berusia tiga tahun lebih tua dariku. Sama sepertiku, dia tidak punya hak waris takhta dan hidup bebas melakukan apa pun yang dia suka.

Fokus minatnya adalah hewan. Mulai dari anjing, kucing, reptil, burung, hingga monster pun dia pelihara. Dia adalah pencinta hewan sejati.

Alasan kenapa aku tidak diprotes saat memelihara Shiro juga sebagian besar karena sudah ada preseden dari Kak Alise.

"Meski aku agak malas, tapi... ayo kita coba menemuinya."

"On!"

Shiro menyahut ajakanku dengan penuh semangat.

 

Tujuan kami adalah sebuah menara besar yang terletak di area terpisah di istana.

Di taman luas yang mengelilingi menara, hewan-hewan kecil seperti tupai dan kelinci menatap kami dengan rasa ingin tahu. Di atas pepohonan, burung-burung beraneka warna berkicau merdu.

"Hah— semuanya ini peliharaan kakak Anda? Mereka dibiarkan lepas begini, apa tidak kabur ya?"

"Iya, Kak Alise memang disukai binatang sejak dulu. Sekarang kalau kupikir lagi, mungkin itu karena energi sihirnya..."

Secara logika, mustahil bagi orang biasa untuk menjinakkan hewan sebanyak ini. Dia memiliki darah yang sama denganku, jadi tidak aneh jika bakat sihirnya mulai bangkit.

Bagi mereka yang terlahir dengan garis keturunan dan bakat unggul, menggunakan energi sihir secara tidak sadar bukanlah hal yang langka. Sesampainya di menara, aku mengetuk pintu besar di hadapanku.

"Kak, Kak Alise. Apa Kakak ada di dalam? Ini Lloyd."

Tak lama kemudian, seorang pelayan berambut hitam muncul dari dalam. Kalau tidak salah namanya...

"Eris, ya?"

"Suatu kehormatan Anda masih mengingat saya. Tuan Lloyd, sudah lama kita tidak bertemu."

"Iya, sudah lama. Aku ingin bertemu Kak Alise."

"Baiklah. Mohon tunggu sebentar."

Pelayan itu membungkuk sopan lalu kembali masuk ke menara. Setelah menunggu beberapa saat lagi, pintu pun terbuka lebar.

"Lloyddddd!"

Grep! Aku tiba-tiba dipeluk dengan sangat erat.

"Wapuh!?"

Sensasi empuk dan lembut menekanku dengan kuat. Sesak sekali.

"Lloyd Lloyd Lloyd! Duh, sudah lama sekali ya! Kakak senang sekali kau mau datang menemuiku!"

Dia juga mengelus-elus kepalaku dengan gemas. Sakit, tahu.

"Alise-sama, mohon hentikan. Tuan Lloyd terlihat kesulitan bernapas."

"Eh!? Ah, benar juga. Maafkan Kakak ya."

Alise meminta maaf sambil melonggarkan pelukannya.

...Fuh, tadi itu menyesakkan sekali. Itulah kenapa aku agak malas datang ke sini. Dari dulu, setiap kali Alise melihatku, dia selalu memeluk atau menciumku seolah aku ini mainannya.

Sambil terbatuk kecil, aku mendongak dan menatap wanita di depanku. Dia memiliki rambut panjang berwarna merah muda pucat yang tampak halus dan mengembang.

Bukan hanya rambutnya, gaunnya pun dihiasi bulu-bulu lembut, membuatnya terlihat sangat "fluffy" secara keseluruhan.

...Omong-omong, bagian dadanya juga begitu.

"Fufu, maaf ya Lloyd. Kakak cuma terlalu senang. Jadi, ada keperluan apa kau kemari?"

Alise bertanya sambil menyunggingkan senyum yang manis.

"Begini, Kak. Karena baru-baru ini aku mulai memelihara monster, aku ingin bertanya banyak hal soal cara merawat dan mendidiknya... Mari kuperkenalkan, namanya Shiro."

"On!"

Shiro menggonggong saat aku mengelus punggungnya. Melihat itu, mata Alise langsung berbinar-binar.

"Wah! Aduh, manis sekali anak ini! Shiro-chan! Wujudnya bulat dan mungil, apa dia seekor Bearwolf?"

"Tebakan yang tepat. Aku mendapatkannya saat pergi berburu monster ke hutan utara bersama Kak Albert. ...Tapi hebat juga Kakak bisa tahu. Padahal wujudnya sudah jauh berbeda dari aslinya."




"Ufu fufu, entah kenapa aku merasa seperti itu tadi."

"Entah kenapa," ya? Aku menyipitkan mata sambil membatin, sudah kuduga.

Sama seperti saat aku mendeteksi panjang gelombang energi sihir untuk mengidentifikasi individu makhluk hidup, Alise pasti melakukan hal serupa secara tidak sadar.

"Ini ada hubungannya dengan 'energi sihir', kan? Aku sendiri kurang paham, sih."

"Iya. Jadi, ada yang ingin aku tanyakan……"

"Dengar, Lloyd. Kurang enak kalau kita bicara sambil berdiri di sini. Bagaimana kalau kita lanjut di dalam? Akan kubuatkan teh yang enak."

"Ah, benar juga."

Tanpa sadar kami malah keasyikan mengobrol di sini. Kalau masuk ke dalam, pasti ada monster milik Alise juga. Akan lebih mudah bicara sambil melihat subjeknya langsung.

Atas undangan Alise, aku pun melangkahkan kaki memasuki menara.

 

Bagian dalam menara berupa aula besar yang luas. Langit-langitnya dibuat terbuka tinggi, dengan tangga spiral dan beberapa ruangan kecil yang menempel di dinding interior.

Tak ada lantai ubin; permukaannya tertutup rumput, lumut, kolam, semak-semak, bahkan pepohonan tumbuh di sana. Benar-benar terasa seperti alam liar.

Melihat pemandangan itu, Grim spontan berseru kagum.

"Haaa— luar biasa juga, ya."

"Katanya tempat ini sesekali dibuka untuk umum. Sebagai kebun binatang."

Karena banyak tanaman dan hewan langka yang hanya bisa dilihat di sini, banyak orang berkunjung saat hari kunjungan dibuka.

Omong-omong, pemandunya adalah Eris. Alise sebenarnya ingin melakukannya sendiri, tapi tentu saja dia dilarang.

Aku duduk bersama Alise di meja putih yang terletak di tengah ruangan kecil.

"Eris, tolong siapkan tehnya."

"Baik, Yang Mulia."

Eris membungkuk, lalu dengan teko yang entah sejak kapan sudah ada di tangannya, dia menuangkan teh. Aroma herbal yang harum merebak ke seluruh ruangan, membuat Alise memejamkan mata dengan nyaman.

"Langsung saja, aku ingin melihat monster milik Kak Alise."

"Aduh, kau ini tidak sabaran sekali, ya. Fufu, baiklah. Karena ini permintaan Lloyd…… Lil!"

Begitu Alise memanggil, gumpalan bulu halus di atas atap ruangan kecil itu terbangun.

Kaki-kaki jenjang yang ramping, ekor panjang yang ukurannya hampir sepanjang tubuhnya, serta telinga tegak yang bergerak-gerak menoleh ke arah sang majikan.

Serigala raksasa bernama Lil itu melompat dengan gagah dan mendarat di samping Alise. Seekor monster cantik dengan bulu keperakan dan mata emas.

Tingginya mungkin mencapai tiga meter. Tekanan keberadaannya sungguh luar biasa.

"Perkenalkan, ini Lil. Ayo, beri salam."

"Woof!"

Begitu Lil menyalak dengan suara tinggi, Shiro langsung bersembunyi di belakangku. Mungkin dia takut karena ukurannya yang besar.

Meski begitu, Shiro tetap menatap Lil dengan penuh rasa ingin tahu.

 

"Itu Lesser Fenrir, ya. Termasuk monster yang cukup berbahaya untuk ukuran ras tingkat tinggi dari Bearwolf."

"Ras tingkat tinggi, ya. Pantas saja Shiro terlihat tertarik."

Aku pernah dengar kalau Fenrir memiliki kewaspadaan yang sangat tinggi, sehingga jarang sekali terlihat.

Kemampuan tempurnya pun hebat; konon sepasang Fenrir sanggup berburu Naga.

Meski ini varian 'Lesser', fakta bahwa Alise bisa menjinakkannya berarti dia mungkin lebih hebat dari dugaanku.

Sepertinya aku bisa mengharapkan banyak hal dari pelajarannya.

"Tolong ajari aku! Aku juga ingin bisa berkomunikasi dengan Shiro seperti Kak Alise dan Lil! Beritahu aku caranya!"

"Tentu saja boleh. Kalau Lloyd, Kakak yakin kau pasti bisa."

"Benarkah!?"

"Iya, benar. Pertama-tama, yang terpenting adalah……"

Setelah sengaja menjeda kalimatnya, Alise tersenyum lebar.

"──Cinta!"

Keheningan melanda sesaat. Alise melanjutkan kata-katanya.

"Menurutku, cintalah ikatan yang menghubungkan kita dengan mereka yang tidak bisa bicara. Monster apa pun, jika kita memberikan cinta, kita pasti bisa saling memahami!"

Melihat Alise yang bercerita dengan mata berbinar-binar penuh semangat, Eris menghela napas dengan wajah lelah.

"Haaah, Alise-sama itu tipe orang yang sejak lahir sudah seperti 'umpan' yang membuat hewan mendekat dengan sendirinya. Kasus spesial seperti itu mana mungkin bisa dijadikan referensi."

"Umpan!? Hei Eris, itu jahat sekali tahu!?"

"Tapi itu kenyataannya."

Keduanya pun mulai berdebat. Lebih tepatnya bercanda, karena hubungan mereka sudah seperti kakak-adik.

"Tidak perlu hal-hal sulit, kok. Cukup lakukan fwaaa lalu paaaa. Benar kan, Lil? Perasaanku dan kata-kataku tersampaikan dengan baik, kan? ……Lihat!"

"Woof!"

Seolah membenarkan, Lil mengangguk lalu menggosokkan kepalanya ke Alise.

Saat Alise merentangkan tangan dan berputar dengan riang, hewan-hewan kecil seperti burung dan kelinci mulai berkumpul di sekelilingnya.

Suasananya seperti bunga-bunga yang bermekaran, persis seperti ilustrasi dalam buku dongeng fantasi. Eris yang melihat itu hanya bisa membuang muka. Benar-benar 'umpan' hewan.

Grim yang sedari tadi terbungkam akhirnya membuka suara.

"……Tuan Lloyd, yang itu jangan diikuti. Sederhananya dia itu tipe jenius, tapi kasarnya dia itu tipe 'isi kepala bunga-bunga'. Bukan tipe yang bisa diajak bicara secara logis."

Kasar sekali mulutmu. Yah, meskipun aku hampir setuju, sih.

Memang benar Alise bukan tipe yang bisa diajak bicara teori. Namun, tetap saja ada cara untuk mempelajarinya.

"Begitu ya, aku mulai mengerti garis besarnya. Kak Alise."

"Ap……!?"

Eris dan Grim terkejut mendengar perkataanku. Wajah Alise langsung cerah, dia meraih tanganku dan mengguncangnya kuat-kuat.

"Wah, benarkah Lloyd! Benar kan, ini soal cinta!"

Entah itu cinta atau bukan, ada satu hal yang kupahami saat memperhatikan energi sihir yang merembes dari Alise.

Saat Alise memberi perintah pada Lil, dia menghubungkan kepalanya dengan kepala Lil menggunakan energi sihir. Dengan begitu, dia membiarkan Lil membaca pikirannya.

Mungkin dia melakukan Nature Transformation pada energi sihirnya secara tidak sadar, tapi benar juga, itu sebuah titik buta bagiku.

Dengan metode itu, kita bisa menyampaikan isi pikiran secara real-time melalui imajinasi.

Bukan memerintah, melainkan berbagi. Dan kalau soal imajinasi, itu adalah keahlianku.

 

"Shiro!"

Aku merentangkan energi sihir dengan cara yang sama dan menghubungkannya ke kepala Shiro. Lalu, aku membayangkan apa yang kuingin Shiro lakukan.

Shiro membelalak kaget, lalu mulai berlari. Dia mulai berputar mengelilingi kami dalam lingkaran besar.

Satu putaran, dua putaran, lalu pada putaran ketiga,

"On!"

Dia menggonggong dengan semangat. Persis seperti yang kubayangkan. Bagus, sesuai dugaanku.

"T-tidak mungkin…… Anda paham hanya dengan penjelasan Alise-sama tadi……?"

Mata Eris membelalak tidak percaya.

"Iya, iya! Hebat, Lloyd! Benar-benar adikku yang manis! Cinta memang hebat!"

"Bukan, itu pasti bukan cinta."

"Enak saja, itu cinta tahu!"

Keduanya kembali berdebat. Mereka memang akrab. Yah, karena urusanku sudah selesai, tak perlu berlama-lama di sini. Waktunya pergi.

"Kalau begitu, Kak Alise. Terima kasih banyak."

"Eh!? Sudah mau pergi!? Padahal baru mau minum teh!"

"Tidak, terima kasih, aku belum haus!"

"Aaah, Lloyd—!"

Aku melambaikan tangan, mengucapkan selamat tinggal pada Alise. Di samping Alise yang tampak sedih, Eris menggumamkan sesuatu.

"Barusan itu teknik Beast Tamer……! Kekuatan Alise-sama adalah bakat alami yang tidak disadari sehingga sulit dikontrol, tapi Tuan Lloyd jelas menggunakannya dengan penuh kesadaran."

"Bahkan Beast Tamer lain biasanya kehilangan kontrol di depan Alise-sama, tapi dia melakukannya dengan sempurna…… Jika dia terus menguasai teknik ini dan melampaui Alise-sama, mungkin dia bisa mengusir hewan-hewan yang berkumpul di sini……"

"Gara-gara tempat ini penuh hewan, pelayan lain takut mendekat. Memberi makan dan merawat mereka itu melelahkan. Aku jadi tidak punya hari libur, tak ada waktu belanja atau ke kafe…… Ya, benar sekali. Tuan Lloyd harus berusaha keras!"

Merasakan aura keinginan yang kuat, aku menoleh dan mendapati Eris menatapku dengan mata penuh harap.

"Tuan Lloyd, silakan datang lagi! Sepertinya Alise-sama masih bisa mengajari Anda banyak hal!"

"Wah! Ide bagus, Eris! Benar sekali Lloyd, Kakak masih bisa mengajarimu banyak hal! Jadi sering-seringlah datang!"

Memang benar, teknik Beast Tamer tidak mungkin cuma sebatas ini. Kalau ada yang membingungkan lagi, aku akan datang bertanya. Meskipun aku tidak terlalu berharap mendapat jawaban yang logis, sih.

 

"Bagus Shiro, anak pintar."

"On!"

Aku mengelus kepala Shiro yang baru saja mengambilkan bola yang kulempar. Berbagi imajinasi menggunakan Nature Transformation pada energi sihir ternyata sangat praktis. Dengan ini, aku bisa menyuruhnya melakukan hampir apa saja.

Omong-omong, tadi aku tidak hanya melempar bola secara biasa, tapi melemparnya sangat tinggi. Menggunakan sihir elemen angin, aku melemparnya setinggi tembok benteng istana.

Aku menyuruh Shiro memanjat dinding untuk mengambilnya. Gerakan yang hanya bisa dilakukan monster. Hebat juga kau, Shiro.

Namun, terus-menerus terhubung dengan Shiro yang bergerak lincah ternyata cukup membebani energi sihirku. Jadi aku mengatasinya dengan menggunakan Magic Sigil, sehingga aku hanya mengirim energi sihir dan terhubung dengannya saat ingin memberi perintah saja.

Untuk sementara, mari biarkan dia terbiasa dengan kehidupan sehari-hari seperti ini.

 

"Hai, Lloyd."

Saat aku sedang melamunkan hal itu, Albert berjalan mendekat dari seberang padang rumput.

Pangeran kedua Albert, kakak laki-lakiku yang terpaut sembilan tahun. Dia pria tampan berambut pirang yang tinggi.

Kemampuan sihirnya luar biasa, dan dia sering mengajakku latihan sihir. Kabarnya, dia adalah kandidat terkuat pewaris takhta.

……Hmm, siapa itu yang ada di sebelahnya?

Di samping Albert ada seorang pria berambut hitam yang memakai bandana. Tubuhnya terlihat sangat terlatih, ramping tapi berotot. Usianya mungkin sebaya dengan Albert.

Dia menatapku tajam dengan tatapan mata yang tajam.

"Sepertinya Shiro sudah mulai menurut padamu, ya."

"Iya, aku mendapat bimbingan dari Kak Alise."

"Dari Alise……? K-kau bisa paham dengan penjelasan dia……?"

"Ahaha, tingkat kesulitannya memang agak tinggi, sih."

Melihatku tertawa kecil, Albert menempelkan tangan ke mulutnya.

"Humu, mungkinkah dia membaca pergerakan energi sihir Alise, lalu menyimpulkan dan menguasai teknik mengendalikan monster……? Tidak tidak, meski itu Lloyd, mana mungkin dia bisa melakukan hal sejauh itu. Pasti monster itu cuma sudah jinak saja. Iya. Tidak mungkin, tidak mungkin."

Albert menggelengkan kepala sambil berkeringat dingin. Wajahnya terlihat agak pucat, apa dia baik-baik saja?

"Oi Al-nii, apa yang kau gumamkan?"

Pria itu bersuara seolah sudah tidak sabar. Albert pun berdeham seolah baru teringat sesuatu.

"Ah, maaf. ……Akan kuperkenalkan, Lloyd. Dia adalah Dian. Kakakmu."

"Eh! Kakak?"

"Yo, lama tidak bertemu, Lloyd! ……Yah, waktu kau masih kecil aku sudah pergi ke negara tetangga, Bartram, sih. Wajar kalau kau tidak ingat. Kau sudah besar, ya! Aku baru saja pulang!"

Dian de Saloum. Pangeran keempat. Kalau tidak salah, dia pernah datang melihatku bersama Albert saat aku masih berumur tiga tahun.

Wajahnya masih menyisakan sedikit kemiripan. Terutama tatapan matanya yang tajam itu.

Sejak seusiaku, Dian pergi belajar ke Bartram, negara tetangga yang memiliki teknologi pandai besi yang hebat. Mungkin karena alasan politik, seperti bukti persahabatan antarnegara. Seingatku, dia pangeran yang sangat hebat karena mau belajar jauh demi negaranya.

Tapi kenapa Albert membawa Dian menemuiku?

"Al-nii, kenapa kau membawaku ke tempat Lloyd? Kalau cuma mau menyapa kan bisa kapan saja."

Sepertinya Dian pun memikirkan hal yang sama. Albert menyeringai tipis.

"Sebenarnya, Dian. Lloyd inilah Enchanter yang aku ceritakan itu."

"Ap……!? Kau bercanda kan, Al-nii! Bocah cebol ini yang memberikan Enchantment pada pedang sihirmu!?"

Dian menunjuk pedang sihir milik Albert yang pernah aku beri Enchantment dulu dengan wajah terkejut. Dia berjongkok di depanku, memegangi dagu dan menatapku seolah sedang menilaiku dari atas sampai bawah.

"Nuuu, sulit dipercaya tapi Al-nii bukan tipe orang yang suka bohong…… Baik, Lloyd. Aku akan mengujimu. Ikut aku."

Setelah berkata begitu, Dian langsung mengapitku di bawah lengannya dan mulai berlari.

"Eh? Eh? Eeehhh!?"

"Oi Dian! Tunggu! Mau kau bawa ke mana dia!?"

"Maaf Al-nii, kupinjam sebentar ya—!"

Dian melambaikan tangan pada Albert sambil terus berlari membawaku.

 

Aku dibawa ke sebuah bangunan berbentuk kubah dari tumpukan bata di sudut istana. Ada cerobong asap di bagian atasnya dan sumur di dekatnya.

Dulu aku pernah mengintip ke dalam karena penasaran bangunan apa ini, tapi seingatku isinya cuma gudang barang bekas. Ada urusan apa dia ke tempat seperti ini?

"Ooh, ini dia tempatnya. Nostalgia sekali."

Dian membuka pintu sambil bergumam, lalu kami masuk. Isinya benar-benar berbeda dari yang kulihat dulu.

Di tengah ruangan terdapat tungku raksasa, lengkap dengan landasan besi, palu, tang, tatah, ububan, berbagai macam bahan kimia…… segala jenis peralatan pandai besi berjejer rapi.

"Ini bengkel yang kupakai waktu aku masih kecil dulu. Waktu berangkat belajar, aku membawa semua peralatanku, tapi karena aku mau pulang, aku mengirimnya lebih dulu. Mulai hari ini, aku bisa mengerjakan teknik pandai besi yang kupelajari di sana."

Dian menyentuh peralatannya sambil bersenandung. Wajahnya terlihat berbinar-binar seperti anak kecil.

"……Apakah Kak Dian sangat suka menempa?"

"Tentu saja! Makanya aku belajar banyak di sana! Di sana hebat sekali lho, teknologi Enchantment dan pembuatan pedang sihirnya sudah sangat maju."

"Aku merasa kita tidak boleh tertinggal, jadi aku konsultasi pada Al-nii. Dia bilang akan mengenalkanku pada Enchanter yang hebat, aku sudah berekspektasi tinggi…… tapi ternyata malah Lloyd, ya."

Dian menghela napas panjang dan berat, lalu menatapku tajam.

"Lloyd, maaf saja tapi aku tidak bisa menelan mentah-mentah perkataan Al-nii. Aku akan menguji apakah kau benar-benar Enchanter yang hebat……!"

"……Haaa."

"Kwuun."

Sepertinya urusannya jadi merepotkan. Shiro yang mengikutiku menatapku dengan cemas.

 

"Kau tahu cairan apa ini?"

Dian menunjuk cairan berkilauan di dalam tempayan air.

"Itu Spirit Marrow. Cairan yang dioleskan bersamaan dengan formula sihir saat melakukan Enchantment."

"Mu…… hoh, sepertinya kau tahu dasarnya…… Tapi bagaimana dengan yang ini!"

Dia mengaduk kotak kayu dan mengeluarkan tanah berwarna cokelat kemerahan.

"Itu Red Mud. Salah satu bahan baku yang digunakan dalam pembuatan besi. Kalau tidak salah, negara tetangga terkenal menghasilkan Red Mud kualitas bagus."

"A-apa……! Kau tahu juga……!?"

"Iya, maaf kalau aku cuma tahu dari buku saja."

Untuk memahami Enchantment, pengetahuan tentang teknik pandai besi tentu saja sangat diperlukan. Berkat itu, aku sudah membaca cukup banyak buku dan mendapatkan pengetahuan dasar.

Kalau kulihat, di dalam kotak kayu itu ada berbagai macam bahan lainnya.

"Ooh! Ada bijih besi, batu bara, opal, emas, perak, tembaga, bubuk batu sihir…… Hebat! Banyak sekali bahan-bahan yang beragam!"

"……!"

Ini benar-benar tumpukan harta karun. Kalau ada bahan sebanyak ini, aku bisa melakukan Enchantment sepuasnya, bahkan mungkin bisa membuat pedang sihir.

Apakah alasan Albert mengenalkanku pada Dian adalah untuk menepati janjinya waktu itu──janji untuk mendukung riset Enchantment-ku?

"Lho, tidak ada Red Magic Powder atau Moonsilver Liquid?"

"Apa itu?"

"Itu bagian dari bahan baku untuk Enchantment……"

Saat aku memiringkan kepala karena bingung, Dian menelan ludah dengan wajah tegang.

"Bocah ini, pengetahuannya bukan main! Bukan cuma Spirit Marrow, tapi pengetahuan bahan lainnya juga sangat luas! Ini bukan level cuma tahu sedikit……! Jangan-jangan pengetahuannya setara denganku……? Heh, Al-nii benar-benar keterlaluan…… Meski penampilannya begini, sepertinya dia bisa diandalkan."

"Kalau bersama dia, mungkin mimpiku──membuat pedang sihir orisinal buatanku sendiri bisa terwujud……!"

Lalu dia mulai menggumamkan sesuatu lagi. Ada apa dengannya?

"Roddy-bou."

"Eh?"

Aku bertanya balik karena dia memanggilku dengan sebutan yang berbeda.

"Iya, itu panggilanku untukmu. Roddy-bou, ternyata kau cukup paham soal Enchantment, ya. Baiklah. Aku mengakuimu. Omong-omong, kau boleh memanggilku 'Bos'!"

"H-haaa……"

Dian mengacungkan jempol ke arah dirinya sendiri. Entah bagaimana, sepertinya aku sudah diakui.

"Baiklah, Roddy-bou! Pertama-tama tunjukkan kemampuanmu. Coba berikan Enchantment pada pedang buatanku ini!"

Dian menyodorkan sebuah pedang. Meski tanpa hiasan apa pun dan terlihat kasar, buatannya sangat solid. Bukan cuma bentuknya yang bagus, tapi kejernihan pola bilahnya menunjukkan teknik yang luar biasa.

Pedang kualitas rendah biasanya melengkung tidak beraturan dan mengandung banyak kotoran. Tentu saja tidak ada pola bilah yang indah, dan sangat rapuh. Kasarnya, kadang sebatang kayu pun lebih berguna daripada pedang buruk.

Tapi pedang ini dibuat dengan teknik pandai besi kelas satu. Butuh waktu bertahun-tahun untuk mencapai tingkat kemahiran seperti ini.

"Kak Dian benar-benar suka menempa, ya."

"……!? T-tadi kubilang panggil aku Bos, kan!"

"Ah benar juga. Bos."

Saat aku terkekeh, Dian melipat tangan dan membuang muka. ……Perasaanku saja atau wajahnya agak memerah?

"S-sudah cepat lakukan saja!"

"Baiklah."

Cara melakukan Enchantment hanyalah dengan menyusun formula sihir ke dalam Spirit Marrow lalu mengoleskannya. Namun, jika formula sihirnya terlalu banyak, senjatanya akan terbebani dan patah.

Ini bukan sekadar soal jumlah formula, tapi juga kecocokan dengan logam, kemurnian Spirit Marrow, dan berbagai faktor lainnya. Aku rasa, kemampuan untuk mengukur kapasitas senjata dan formula sihir secara akurat adalah inti dari kemahiran seorang Enchanter.

……Yah, itu cuma pemikiran amatirku yang baru mulai belajar. Kalau salah, biar Dian yang membenarkannya.

"Kalau begitu──"

Aku menuangkan Spirit Marrow ke wadah khusus dan mulai menyusun formula sihirnya. Untuk pedang ini, mungkin tiga, tidak, empat lapis formula.

Spirit Marrow bersinar terang, dan proses penyusunan formula Enchantment selesai. ……Untuk sementara begini saja dulu.

Saat aku melirik ke arah Dian, dia sedang mengernyitkan dahi dengan ekspresi wajah yang sangat serius.

"Oi oi oi, ini gila…… Dia menyusun formula sihir langsung ke dalam Spirit Marrow? Biasanya orang memasukkan formula ke jimat dulu, baru dilarutkan pelan-pelan ke cairan. Kalau tidak, formulanya bakal lenyap sebelum menyatu…… Kecuali kalau dia punya output energi sihir yang luar biasa besar!"

"Penyihir di Bartram pun tidak ada yang bisa melakukan teknik seperti itu……!"

Dia menatapku dengan wajah yang sangat syok. Jangan-jangan aku melakukan prosedur yang salah?




Kalau begitu harusnya dia memberitahuku saja, tapi dia malah tidak bilang apa-apa.

Muuu, katanya tadi sudah mengakuiku, tapi sepertinya aku masih terus diuji, ya.

Aku mencabut pedang dari sarungnya dengan tangan yang sedikit tegang, lalu memeriksa hasil pekerjaannya.

Empat lapis formula Enchantment telah terpasang dengan sempurna... tapi, mungkin ini belum cukup untuk membuatnya puas.

Masih ada celah untuk satu lagi, tidak, setengah lapis lagi kalau dipaksakan.

Aku menghapus formula tersebut dan mengulangi proses yang sama sekali lagi.

Kali ini empat lapis setengah. Ujung pedang itu mulai berderit seolah menjerit kesakitan, tapi formulanya entah bagaimana berhasil terpasang.

Lama-kelamaan pedang ini pasti akan terbiasa.

……Ya, ini sudah di ambang batas, aku yakin tidak bisa menambahkan Enchantment lebih dari ini.

"Fuh, sudah selesai."

"……Coba perlihatkan sebentar."

Begitu aku menyerahkan pedangnya, Dian mulai mengamati bilahnya dengan teliti menggunakan kaca pembesar.

"Benar-benar empat lapis setengah…… Padahal empat lapis yang tadi saja sudah sangat nekat. Normalnya cuma satu atau dua lapis. Bahkan ahli pun batasnya tiga lapis. Tapi jumlah ini…… jangan-jangan kau mengompres formulanya?"

"Apalagi isinya bukan cuma peningkatan ketahanan, tapi ada penguatan elastisitas, pembersihan otomatis, dan perbaikan mandiri yang jenisnya berbeda-beda. Ditambah lagi, kau sengaja menghapus yang tadi hanya untuk memasang ini……!"

"Ketajaman rasa untuk tidak berkompromi, dan banyaknya variasi formula yang bisa kau gunakan, bakatmu sebagai Enchanter benar-benar di luar nalar……! Kukuku, boleh juga. Pria yang jadi partner-ku memang harus seperti ini."

Dian mulai menggumamkan sesuatu sendirian lagi.

Agak menyeramkan, apa dia baik-baik saja?

"Roddy-bou!"

Tiba-tiba dia berteriak keras. Membuatku kaget saja.

"……Mulai sekarang, kita akan membuat Magic Sword."

"! Magic Sword, ya."

Cara membuat pedang adalah dengan menempa besi cair untuk membuang kotoran di dalamnya, melipatnya, lalu menempanya lagi.

Proses itu diulangi hingga perlahan membentuk pedang, namun untuk membuat Magic Sword, formula sihir harus dianyam ke dalamnya selama proses tersebut.

Pedang yang dibuat dengan cara ini jauh lebih kuat dibandingkan senjata yang hanya diberi Enchantment biasa.

Karena bisa memasukkan formula sihir yang panjang—hal yang mustahil dilakukan lewat Enchantment—pedang ini bisa memiliki fungsi selain sebagai senjata.

Tak kusangka hari di mana aku bisa membuat Magic Sword akan tiba... aku benar-benar berterima kasih pada Albert.

"Mimpiku adalah membuat Magic Sword orisinal buatanku sendiri. Kau harus ikut menemaniku sampai akhir, Roddy-bou!"

"Baik!"

Aku menjabat tangan yang disodorkan Dian dengan erat.

"Baiklah, ayo mulai!"

Sambil menyingsingkan lengan baju, Dian mulai menempa pedang.

Dia menyalakan api di tungku untuk melelehkan besi, lalu menempa besi yang membara merah itu.

Bunyi dentuman palu yang kuat, kan, kan, mulai bergema.

"Ngomong-ngomong, formula seperti apa yang berniat Bos masukkan?"

"……Sebenarnya, aku tidak bisa menggunakan sihir. Dulu aku berusaha keras karena ingin bisa menggunakannya suatu saat nanti…… tapi sialnya, otakku ini agak bebal. Aku benar-benar tidak bisa."

"Lalu aku dengar dari Al-nii, kalau memakai Magic Sword, aku bisa menggunakan sihir hanya dengan mengayunkannya."

Berapa pun energi sihir yang dimiliki seseorang, sulit untuk merapal sihir jika tidak memiliki bakat dasar.

Aku dengar ada orang yang langsung mengantuk hanya dengan membuka buku, jadi seberapa besar pun bakatnya, setiap orang punya kecocokan masing-masing.

Aku sendiri benci olahraga. Hal seperti ini memang tidak bisa dipaksakan.

"Makanya, aku ingin membuat Magic Sword yang seperti itu. Magic Sword milikku sendiri……! Apa kau bisa, Roddy-bou?"

"Iya, aku akan berusaha semampuku. Mari kita gabungkan kekuatan kita!"

"Ouh! Aku mengandalkanmu, Partner!"

Entah sejak kapan aku jadi "Partner"-nya... tapi setidaknya, tesnya tadi dianggap lulus, kan?

Lagi pula, Magic Sword yang bisa mengeluarkan sihir, ya.

Bagiku sendiri itu tidak terlalu berguna, tapi aku sangat tertarik dengan proses pembuatannya.

Aku jadi bersemangat.

"Kalau begitu Roddy-bou, cepat siapkan formula sihir yang akan dimasukkan ke pedangnya."

Dian berkata di depan besi yang membara merah.

"Sihir jenis apa yang bagus?"

"Hmm. Tentu saja api! Bicara soal sihir, ya harus api. Bisa dipakai buat menempa juga, kan."

"Baiklah."

Kalau begitu, aku tinggal memasukkan sihir elemen api.

Jika hanya sihir tingkat rendah seperti Fireball sih mudah, tapi untuk pedang buatan Dian, sepertinya sihir tingkat tinggi seperti Blaze Flare pun bisa masuk.

"Formula yang menyusun Blaze Flare ada empat belas bait, kalau dikompres bisa jadi dua bait. Tapi aku tidak tahu apakah akan menyatu dengan baik atau tidak sebelum mencobanya…… berapa kali proses pelipatannya?"

"Lima kali. Lebih dari itu pedangnya tidak akan kuat."

Sepertinya aku harus mencoba dulu.

Pertama, aku menuangkan Spirit Marrow yang sudah dianyam dengan setengah bait formula ke atas besi membara.

Seketika besi merah itu bersinar silau, dan formulanya mulai menyatu. Titik didih Spirit Marrow sangat tinggi sehingga tidak akan menguap.

"──!? Pe-pedangnya!"

Terdengar suara pakin yang kering.

Jika dilihat, di pangkal besi membara itu terdapat retakan yang dalam.

Gawat. Ternyata setengah bait saja masih terlalu kuat.

"Ini sudah tidak bisa dipakai. Harus buat ulang dari awal."

"……Maafkan aku."

"Nah, jangan dipikirkan. Menempa memang tidak selalu berjalan mulus. Aku punya kepercayaan diri soal ketabahan. Ayo, semangat lagi buat yang berikutnya!"

"Baik! Bos!"

Besi yang hancur itu dilelehkan kembali, dan proses yang sama diulangi.

Ditempa, dipanjangkan, lalu dianyam dengan formula—tapi, berapa kali pun dicoba tetap gagal.

Pedangnya selalu hancur saat formula sihir dianyam ke dalamnya.

Aku sempat berpikir volumenya terlalu besar, jadi aku mencoba membagi formulanya menjadi sepertiga bagian, tapi tetap tidak berhasil.

Lalu aku mencoba menurunkan level sihirnya sampai ke tingkat Fireball, tapi tetap saja hancur.

Sepertinya kami menemui jalan buntu. Sambil menatap pedang yang patah, aku tertunduk lesu.

"Hmm, sulit juga ya……"

"Membuat Magic Sword memang tidak semudah itu. Jangan berkecil hati, Roddy-bou."

Dian menepuk pundakku sambil tersenyum.

Meskipun wajahnya terlihat seram, ternyata hatinya sangat sabar.

"Formula yang Roddy-bou masukkan punya jumlah informasi yang luar biasa…… Aku pernah melihat proses pembuatan Magic Sword sebelumnya, tapi ini hampir sepuluh kali lipat dari Enchanter lain."

"Kalau Magic Sword dengan formula seperti itu selesai…… hehe, aku jadi tidak sabar!"

Tapi sedetik kemudian dia malah menggumam sambil cengengesan.

Jangan-jangan dia sedang memberiku tekanan?

Uuu, aku harus menyelesaikannya secepat mungkin……

"……Hmm?"

Tiba-tiba, aku menyadari sesuatu saat melihat Spirit Marrow-nya.

Dibandingkan dengan yang pernah kubuat dulu, warna yang ini terasa sedikit berbeda. Grim sepertinya juga menyadari hal itu.

"Tuan Lloyd, yang ini tingkat kemurniannya tidak terlalu tinggi. Sepertinya dicampur dengan bahan lain untuk menambah volumenya."

"Humu, coba kita urai."

Aku memasukkan Spirit Marrow ke wadah kecil, lalu menjulurkan tangan dan merapal sihir Purification.

Ini adalah sihir untuk meningkatkan kemurnian cairan, dan jika digunakan pada campuran, benda itu bisa diurai kembali menjadi bahan dasarnya.

Cairan itu memancarkan cahaya redup dan mulai berputar.

"Apa yang kau lakukan, Roddy-bou?"

"Lihat saja dulu."

Setelah membiarkan Dian menunggu sambil terus merapal sihir beberapa saat, cairan itu terbagi menjadi beberapa lapisan, dan butiran-butiran mulai mengendap di dasarnya.

Bukan hanya butiran merah, tapi butiran cokelat dan hitam juga tercampur di sana.

Ternyata benar-benar campuran. Apalagi bahan utama yang digunakan sepertinya bukan Red Magic Powder.

"Inti dari monster kuat, Red Magic Powder dibuat dengan mengikis itu menjadi bubuk, tapi rasanya ini bukan itu."

"Inti monster kuat itu mana mungkin bisa didapat dengan mudah. Sepertinya ini diganti dengan inti monster lemah. Kualitasnya turun jauh, tapi kalau cuma buat Enchantment biasa sih cukup. Hanya saja, untuk pembuatan Magic Sword sepertinya terlalu berat."

"Heh, kau tahu banyak ya, Grim."

"Di Dunia Bawah, aku ini pandai besi yang cukup ternama. Hehe."

Grim tertawa bangga. Syukurlah, karena aku tidak punya pengetahuan spesialis pandai besi.

Bagaimanapun, kurangnya kemurnian Red Magic Powder adalah masalah besar.

Jika kemurniannya rendah, meskipun formula dimasukkan, efeknya akan menjadi kasar saat diaktifkan. Sihirnya tidak akan keluar sesuai formula yang tepat dan malah mudah meledak.

Tahu begitu, harusnya aku menyisakan Spirit Marrow yang kubuat dulu.

"Ada apa? Apa Spirit Marrow-nya jelek?"

"Sepertinya begitu. Kurang murni……"

"Muuu, kalau diingat-ingat, aku pernah melihat tempat pembuatan Magic Sword sebelumnya, rasanya mereka memakai Spirit Marrow yang spesial."

"Ternyata memang sulit kalau tidak pakai itu, ya…… Aku cuma coba-coba saja, tapi ternyata tetap gagal. Hahaha."

Sepertinya Dian sudah menduga hal ini. Kalau begitu harusnya bilang dari awal dong.

"Ya sudah. Mungkin aku akan mencoba menghubungi guruku di Bartram untuk meminta sedikit. Atau tanya stok di Adventurer Guild, atau mungkin memasang lowongan…… tapi harapan keduanya tipis."

"Pokoknya sampai kita dapat bahannya, pekerjaan dihentikan dulu. Maaf ya Roddy-bou, kita lanjut lagi kalau sudah dapat."

Dian berkata begitu sambil menghela napas kecewa.

Petualang, ya. Mungkin aku bisa melakukan sesuatu. Baiklah, aku akan mencoba bergerak sendiri.

 

"Inti monster tingkat tinggi, begitu?"

Pelayan berambut perak di depanku, Sylpha, memasang wajah terkejut.

Dia adalah pelayan pribadiku sekaligus pelatih pedangku.

"Iya, Sylpha dulu petualang, kan? Aku pikir mungkin kau mempunyainya."

Dan juga, dia adalah mantan petualang peringkat A.

Sebagai putri komandan ksatria, dia kabarnya sempat menjadi petualang untuk mengasah kemampuan pedangnya. Aku pikir orang sepertinya pasti punya inti monster, tapi... Sylpha menggelengkan kepalanya.

"Sayangnya itu sudah lama sekali. Apalagi inti monster itu sangat berharga. Karena bisa dijual dengan harga sangat mahal, aku sudah melepaskannya saat pensiun jadi petualang."

"Begitu ya. Sayang sekali."

Muuu, gagal total. Padahal aku sempat berharap... ternyata tidak semudah itu.

Sepertinya aku harus menunggu sampai Dian mendapatkannya entah dari mana. Saat aku tertunduk lesu, aku menyadari Sylpha sedang tersenyum tipis.

"Tuan Lloyd, bagaimana kalau Anda mencarinya sendiri saja?"

Mendengar perkataan Sylpha, jantungku berdegup kencang.

Jangan-jangan dia sedang menyindir kejadian dulu saat aku menyelinap keluar istana untuk masuk ke dungeon?

"Eh!? A-apa maksudmu, Sylpha? Haha, ahahaha……"

Aku tertawa garing, tapi Sylpha tetap melanjutkan dengan senyuman yang sama.

"Jika menginginkan sesuatu, maka pergi mengambilnya sendiri. Itulah prinsip seorang petualang. Bagaimana, Tuan Lloyd? Bagaimana kalau Anda mencoba menjadi petualang?"

Sepertinya ini bukan soal kejadian menyelinap dulu. Syukurlah.

Aku menghela napas lega... lalu baru menyadari perkataannya barusan dan tersedak lagi.

"Pe-petualang!? Siapa!?"




"Tentu saja Anda, Tuan Lloyd," ujar Sylpha sambil tersenyum manis. Itu adalah wajahnya saat dia sedang serius.

"Sebenarnya tempo hari aku sudah mengajukan usul kepada Yang Mulia Raja. Teknik pedang Tuan Lloyd sudah mengalami kemajuan pesat. Jadi, bagaimana jika Tuan mendaftar ke Adventurer Guild untuk lebih mengasah kemampuan? Begitu usulku."

Apa-apaan pelayan ini, tiba-tiba bicara begitu.

Mana mungkin aku yang seorang pangeran bisa menjadi petualang, itu kan mustahil.

"Jawabannya adalah iya."

"Iya, katanya!?"

Aku refleks berseru kaget.

"Beliau bilang, beliau ingin Tuan Lloyd melihat dunia yang luas. Menjadi petualang bukanlah keputusan yang buruk untuk tujuan itu. Ini kesempatan bagus, beliau menantikan kiprah Tuan—begitu katanya. ……Izin diberikan dengan syarat aku harus ikut mendampingi."

"He—hee. Begitu ya……"

Kalau dipikir-pikir, aku pernah dengar cerita tentang putra ketiga bangsawan yang bukan pewaris takhta, atau anggota keluarga kerajaan yang eksentrik, membangun karier sebagai petualang.

Jika melihatnya dari sisi itu, tidak aneh juga kalau aku yang tidak punya hak waris takhta ini menjadi petualang, ya……?

Meski aku merespons dengan wajah sangsi, kalau dipikir lagi, bukankah ini artinya aku bisa keluar istana dengan bebas?

Walaupun Sylpha ikut menempel, aku senang bisa pergi ke luar kastel.

Aku bisa mencoba berbagai macam sihir, dan ini juga bisa menjadi latihan tempur sungguhan untuk mengendalikan Shiro.

"Baiklah. Kalau begitu ayo segera ke Adventurer Guild."

"Baik!"

Maka, dengan membawa Sylpha, aku pun berangkat menuju Adventurer Guild.


Illustrasi | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close