"Shiro, sini!"
"On!"
Begitu aku memanggil, seekor anjing putih besar──Shiro,
berlari dengan penuh semangat.
Shiro
langsung menerjang dan memelukku. Bobot serta momentumnya membuatku terjatuh
telentang di atas rumput.
Rumput-rumput
pendek beterbangan ke udara, membawa aroma segar tanah dan tumbuhan.
Namaku Lloyd de
Saloum, pangeran ketujuh dari Kerajaan Saloum.
Bocah sepuluh
tahun yang sangat tergila-gila pada sihir. Di kehidupan sebelumnya, aku
hanyalah penyihir miskin tak berarti yang tewas karena terpana melihat sihir
tingkat tinggi, lalu bereinkarnasi ke tubuh ini.
Sebagai pangeran
ketujuh yang usianya terpaut jauh dari kakak-kakakku, aku tidak punya hak waris
takhta. Karena disuruh hidup bebas, aku pun menghabiskan waktu hanya untuk
menekuni sihir kesukaanku.
...Tapi
belakangan ini, aku merasa orang-orang di sekitarku menaruh harapan yang aneh
padaku. Yah, itu pasti cuma perasaanku saja.
Pangeran ketujuh
yang polos dan tidak menonjol, itulah posisiku saat ini.
"On! On!"
Omong-omong, anjing yang sedang menjilati wajahku ini
bernama Shiro. Awalnya dia adalah monster yang menyerangku, tapi entah kenapa
dia malah jadi sangat manja padaku.
Karena diizinkan membawanya pulang, aku menjadikannya
sebagai familiar.
Tiba-tiba, sebuah mulut muncul di telapak tanganku yang
sedang mengelus Shiro.
"Hehehe,
disukai bahkan oleh monster... Tuan Lloyd memang luar biasa."
Makhluk
ini adalah Majin Grimoire. Aku memanggilnya Grim.
Dia
dulunya tersegel di dalam buku terlarang di perpustakaan bawah tanah istana,
tapi karena berbagai alasan, dia kini menjadi familiar-ku.
Aku
membiarkannya tinggal di balik kulit telapak tanganku, dan sesekali dia akan
membuka mulut seperti ini untuk bicara.
"Guhihi, kau
bahkan menundukkan monster, ya. Baguslah. Semakin banyak yang kau dapatkan,
semakin nikmat pula saat aku mengambil alih tubuhmu nanti..."
Dia ini
tipe yang labil karena sering menggumamkan hal-hal aneh sendirian. Setidaknya
kalau mau bicara, bicaralah dengan suara yang jelas.
"On!
On!"
"Waduh, diam kau, dasar anjing ingusan! Jangan menggonggong padaku! Hush,
hush!"
Shiro
menggonggong galak ke arah Grim yang sedang bicara sendiri. Sepertinya mereka
berdua memang tidak akur.
"Sudah,
sudah. Jangan bertengkar, ayo kita lanjutkan latihannya."
"On!"
Aku
mengepalkan tangan untuk membungkam mulut Grim, dan Shiro pun kembali duduk
dengan tenang.
Yang
sedang kami lakukan sekarang adalah teknik Beast Tamer, yaitu
menumpangkan perintah pada energi sihir lalu menembakkannya. Dengan begitu,
kita bisa memberi perintah pada familiar hanya lewat pikiran.
Sesuai
namanya, Beast Tamer adalah sebutan bagi mereka yang menjalin kontrak
dengan monster dan mengendalikan mereka. Konon, teknik ini lahir dari para penyihir pencinta hewan yang ingin
menspesialisasikan kemampuan mereka dalam memerintah.
Kabarnya, mereka
bisa menguasai monster hanya dengan membayangkan perintah menggunakan energi
sihir tanpa perlu merapal mantra. Itulah yang sedang kucoba, tapi...
"Shiro!"
Aku mencoba
memanggilnya, tapi Shiro hanya menungguku dengan mata berbinar-binar. Aku sudah
membayangkan perintah "sini" di dalam pikiran, tapi sepertinya tidak
tersampaikan.
Shiro sangat
pintar dan memahami hampir semua perkataanku, jadi kalau aku bicara langsung,
dia pasti mengerti.
Namun, untuk
perintah simpel seperti bersalaman, tiarap, tunggu, atau mengambil barang itu
perkara mudah. Masalahnya akan berbeda jika aku memberi perintah rumit seperti
"berputar tiga kali lalu menggonggong sekali".
Seberapa cepat
putarannya? Di mana titik putarnya? Bagaimana nada gonggongannya? Menitipkan
makna sedalam itu hanya dalam satu kata saja mustahil dilakukan.
Padahal kalau
bisa memerintah hanya dengan pikiran, hal-hal rumit seperti itu harusnya bisa
diatasi.
"Tuan Lloyd,
apa tidak bisa memberi perintah menggunakan formula sihir?"
"Formula
sihir itu ditulis dalam bahasa sihir khusus untuk mengintervensi dunia secara
efisien. Shiro yang tidak paham bahasa itu mana mungkin mengerti."
Lagi pula,
penyihir yang bisa memahami dan memodifikasi formula sihir itu sangat sedikit.
Aku saja saat ini baru sampai pada batas menyusun ulang kata-katanya.
Dari sudut
pandang itu, melatih pemahaman lewat membaca buku setiap hari memang sangat
penting. Kesimpulannya, menyampaikan kata-kata lewat energi sihir adalah cara
yang paling cepat.
"……Duduk."
"On!"
Oleh karena itu,
aku mengeluarkan energi sihir bersamaan dengan kata-kata, lalu mengajarinya
pelan-pelan lewat latihan repetisi.
Hmm, tapi cara
ini memakan waktu lama dan tidak fleksibel. Nuansa-nuansa kecil tidak
tersampaikan. Apa tidak ada cara lain yang lebih baik, ya?
Saat
sedang berpikir, aku tiba-tiba teringat pada seseorang.
"Benar juga,
kalau Kak Alise mungkin..."
──Alise de
Saloum, putri keenam Kerajaan Saloum.
Kakak perempuanku
yang berusia tiga tahun lebih tua dariku. Sama sepertiku, dia tidak punya hak
waris takhta dan hidup bebas melakukan apa pun yang dia suka.
Fokus minatnya
adalah hewan. Mulai dari anjing, kucing, reptil, burung, hingga monster pun dia
pelihara. Dia adalah pencinta hewan sejati.
Alasan kenapa aku
tidak diprotes saat memelihara Shiro juga sebagian besar karena sudah ada
preseden dari Kak Alise.
"Meski aku
agak malas, tapi... ayo kita coba menemuinya."
"On!"
Shiro menyahut
ajakanku dengan penuh semangat.
Tujuan kami
adalah sebuah menara besar yang terletak di area terpisah di istana.
Di taman luas
yang mengelilingi menara, hewan-hewan kecil seperti tupai dan kelinci menatap
kami dengan rasa ingin tahu. Di atas pepohonan, burung-burung beraneka warna
berkicau merdu.
"Hah—
semuanya ini peliharaan kakak Anda? Mereka dibiarkan lepas begini, apa tidak
kabur ya?"
"Iya,
Kak Alise memang disukai binatang sejak dulu. Sekarang kalau kupikir lagi, mungkin itu karena
energi sihirnya..."
Secara logika,
mustahil bagi orang biasa untuk menjinakkan hewan sebanyak ini. Dia memiliki
darah yang sama denganku, jadi tidak aneh jika bakat sihirnya mulai bangkit.
Bagi mereka yang
terlahir dengan garis keturunan dan bakat unggul, menggunakan energi sihir
secara tidak sadar bukanlah hal yang langka. Sesampainya di menara, aku
mengetuk pintu besar di hadapanku.
"Kak, Kak
Alise. Apa Kakak ada di dalam? Ini Lloyd."
Tak lama
kemudian, seorang pelayan berambut hitam muncul dari dalam. Kalau tidak salah
namanya...
"Eris,
ya?"
"Suatu
kehormatan Anda masih mengingat saya. Tuan Lloyd, sudah lama kita tidak
bertemu."
"Iya, sudah
lama. Aku ingin bertemu Kak Alise."
"Baiklah.
Mohon tunggu sebentar."
Pelayan itu
membungkuk sopan lalu kembali masuk ke menara. Setelah menunggu beberapa saat
lagi, pintu pun terbuka lebar.
"Lloyddddd!"
Grep! Aku tiba-tiba dipeluk dengan
sangat erat.
"Wapuh!?"
Sensasi empuk dan
lembut menekanku dengan kuat. Sesak sekali.
"Lloyd
Lloyd Lloyd! Duh, sudah lama
sekali ya! Kakak senang sekali kau mau datang menemuiku!"
Dia juga
mengelus-elus kepalaku dengan gemas. Sakit, tahu.
"Alise-sama,
mohon hentikan. Tuan Lloyd terlihat kesulitan bernapas."
"Eh!? Ah,
benar juga. Maafkan Kakak ya."
Alise meminta
maaf sambil melonggarkan pelukannya.
...Fuh, tadi itu
menyesakkan sekali. Itulah kenapa aku agak malas datang ke sini. Dari dulu,
setiap kali Alise melihatku, dia selalu memeluk atau menciumku seolah aku ini
mainannya.
Sambil
terbatuk kecil, aku mendongak dan menatap wanita di depanku. Dia memiliki
rambut panjang berwarna merah muda pucat yang tampak halus dan mengembang.
Bukan
hanya rambutnya, gaunnya pun dihiasi bulu-bulu lembut, membuatnya terlihat
sangat "fluffy" secara keseluruhan.
...Omong-omong, bagian dadanya juga begitu.
"Fufu, maaf ya Lloyd. Kakak cuma terlalu senang. Jadi, ada keperluan apa kau kemari?"
Alise
bertanya sambil menyunggingkan senyum yang manis.
"Begini,
Kak. Karena baru-baru ini aku mulai memelihara monster, aku ingin bertanya
banyak hal soal cara merawat dan mendidiknya... Mari kuperkenalkan, namanya Shiro."
"On!"
Shiro
menggonggong saat aku mengelus punggungnya. Melihat itu, mata Alise langsung
berbinar-binar.
"Wah! Aduh,
manis sekali anak ini! Shiro-chan! Wujudnya bulat dan mungil, apa dia
seekor Bearwolf?"
"Tebakan yang tepat. Aku mendapatkannya saat pergi
berburu monster ke hutan utara bersama Kak Albert. ...Tapi hebat juga Kakak
bisa tahu. Padahal wujudnya sudah jauh berbeda dari aslinya."
"Ufu fufu, entah kenapa aku merasa seperti itu
tadi."
"Entah
kenapa," ya? Aku menyipitkan mata sambil membatin, sudah kuduga.
Sama seperti saat
aku mendeteksi panjang gelombang energi sihir untuk mengidentifikasi individu
makhluk hidup, Alise pasti melakukan hal serupa secara tidak sadar.
"Ini
ada hubungannya dengan 'energi sihir', kan? Aku sendiri kurang paham,
sih."
"Iya. Jadi,
ada yang ingin aku tanyakan……"
"Dengar,
Lloyd. Kurang enak kalau kita bicara sambil berdiri di sini. Bagaimana kalau kita lanjut di dalam? Akan
kubuatkan teh yang enak."
"Ah, benar
juga."
Tanpa sadar kami
malah keasyikan mengobrol di sini. Kalau masuk ke dalam, pasti ada monster
milik Alise juga. Akan lebih mudah bicara sambil melihat subjeknya langsung.
Atas undangan
Alise, aku pun melangkahkan kaki memasuki menara.
Bagian dalam
menara berupa aula besar yang luas. Langit-langitnya dibuat terbuka tinggi, dengan tangga spiral dan
beberapa ruangan kecil yang menempel di dinding interior.
Tak ada lantai
ubin; permukaannya tertutup rumput, lumut, kolam, semak-semak, bahkan pepohonan
tumbuh di sana. Benar-benar
terasa seperti alam liar.
Melihat
pemandangan itu, Grim spontan berseru kagum.
"Haaa— luar
biasa juga, ya."
"Katanya
tempat ini sesekali dibuka untuk umum. Sebagai kebun binatang."
Karena banyak
tanaman dan hewan langka yang hanya bisa dilihat di sini, banyak orang
berkunjung saat hari kunjungan dibuka.
Omong-omong, pemandunya adalah Eris. Alise sebenarnya ingin melakukannya sendiri, tapi
tentu saja dia dilarang.
Aku duduk bersama
Alise di meja putih yang terletak di tengah ruangan kecil.
"Eris,
tolong siapkan tehnya."
"Baik, Yang
Mulia."
Eris membungkuk,
lalu dengan teko yang entah sejak kapan sudah ada di tangannya, dia menuangkan
teh. Aroma herbal yang harum merebak ke seluruh ruangan, membuat Alise
memejamkan mata dengan nyaman.
"Langsung
saja, aku ingin melihat monster milik Kak Alise."
"Aduh, kau
ini tidak sabaran sekali, ya. Fufu, baiklah. Karena ini permintaan Lloyd……
Lil!"
Begitu Alise
memanggil, gumpalan bulu halus di atas atap ruangan kecil itu terbangun.
Kaki-kaki jenjang
yang ramping, ekor panjang yang ukurannya hampir sepanjang tubuhnya, serta
telinga tegak yang bergerak-gerak menoleh ke arah sang majikan.
Serigala
raksasa bernama Lil itu melompat dengan gagah dan mendarat di samping Alise.
Seekor monster cantik dengan bulu keperakan dan mata emas.
Tingginya
mungkin mencapai tiga meter. Tekanan keberadaannya sungguh luar biasa.
"Perkenalkan,
ini Lil. Ayo, beri salam."
"Woof!"
Begitu Lil
menyalak dengan suara tinggi, Shiro langsung bersembunyi di belakangku. Mungkin
dia takut karena ukurannya yang besar.
Meski begitu,
Shiro tetap menatap Lil dengan penuh rasa ingin tahu.
"Itu Lesser
Fenrir, ya. Termasuk monster yang cukup berbahaya untuk ukuran ras tingkat
tinggi dari Bearwolf."
"Ras tingkat
tinggi, ya. Pantas saja Shiro terlihat tertarik."
Aku pernah dengar
kalau Fenrir memiliki kewaspadaan yang sangat tinggi, sehingga jarang sekali
terlihat.
Kemampuan
tempurnya pun hebat; konon sepasang Fenrir sanggup berburu Naga.
Meski ini varian
'Lesser', fakta bahwa Alise bisa menjinakkannya berarti dia mungkin lebih hebat
dari dugaanku.
Sepertinya aku
bisa mengharapkan banyak hal dari pelajarannya.
"Tolong
ajari aku! Aku juga
ingin bisa berkomunikasi dengan Shiro seperti Kak Alise dan Lil! Beritahu aku
caranya!"
"Tentu
saja boleh. Kalau Lloyd, Kakak yakin kau pasti bisa."
"Benarkah!?"
"Iya,
benar. Pertama-tama, yang terpenting adalah……"
Setelah
sengaja menjeda kalimatnya, Alise tersenyum lebar.
"──Cinta!"
Keheningan
melanda sesaat. Alise melanjutkan kata-katanya.
"Menurutku,
cintalah ikatan yang menghubungkan kita dengan mereka yang tidak bisa bicara.
Monster apa pun, jika kita memberikan cinta, kita pasti bisa saling
memahami!"
Melihat Alise
yang bercerita dengan mata berbinar-binar penuh semangat, Eris menghela napas
dengan wajah lelah.
"Haaah,
Alise-sama itu tipe orang yang sejak lahir sudah seperti 'umpan' yang membuat
hewan mendekat dengan sendirinya. Kasus spesial seperti itu mana mungkin bisa
dijadikan referensi."
"Umpan!? Hei
Eris, itu jahat sekali tahu!?"
"Tapi itu
kenyataannya."
Keduanya pun
mulai berdebat. Lebih tepatnya bercanda, karena hubungan mereka sudah seperti
kakak-adik.
"Tidak
perlu hal-hal sulit, kok. Cukup
lakukan fwaaa lalu paaaa. Benar kan, Lil? Perasaanku dan kata-kataku
tersampaikan dengan baik, kan? ……Lihat!"
"Woof!"
Seolah
membenarkan, Lil mengangguk lalu menggosokkan kepalanya ke Alise.
Saat
Alise merentangkan tangan dan berputar dengan riang, hewan-hewan kecil seperti
burung dan kelinci mulai berkumpul di sekelilingnya.
Suasananya
seperti bunga-bunga yang bermekaran, persis seperti ilustrasi dalam buku
dongeng fantasi. Eris yang melihat itu hanya bisa membuang muka. Benar-benar
'umpan' hewan.
Grim yang
sedari tadi terbungkam akhirnya membuka suara.
"……Tuan
Lloyd, yang itu jangan diikuti. Sederhananya dia itu tipe jenius, tapi kasarnya
dia itu tipe 'isi kepala bunga-bunga'. Bukan tipe yang bisa diajak bicara
secara logis."
Kasar sekali
mulutmu. Yah, meskipun aku hampir setuju, sih.
Memang
benar Alise bukan tipe yang bisa diajak bicara teori. Namun, tetap saja ada cara untuk mempelajarinya.
"Begitu
ya, aku mulai mengerti garis besarnya. Kak Alise."
"Ap……!?"
Eris dan Grim
terkejut mendengar perkataanku. Wajah Alise langsung cerah, dia meraih tanganku
dan mengguncangnya kuat-kuat.
"Wah,
benarkah Lloyd! Benar kan, ini soal cinta!"
Entah itu
cinta atau bukan, ada satu hal yang kupahami saat memperhatikan energi sihir
yang merembes dari Alise.
Saat
Alise memberi perintah pada Lil, dia menghubungkan kepalanya dengan kepala Lil
menggunakan energi sihir. Dengan begitu, dia membiarkan Lil membaca pikirannya.
Mungkin
dia melakukan Nature Transformation pada energi sihirnya secara tidak
sadar, tapi benar juga, itu sebuah titik buta bagiku.
Dengan metode
itu, kita bisa menyampaikan isi pikiran secara real-time melalui
imajinasi.
Bukan memerintah,
melainkan berbagi. Dan kalau soal imajinasi, itu adalah keahlianku.
"Shiro!"
Aku merentangkan
energi sihir dengan cara yang sama dan menghubungkannya ke kepala Shiro. Lalu,
aku membayangkan apa yang kuingin Shiro lakukan.
Shiro membelalak
kaget, lalu mulai berlari. Dia mulai berputar mengelilingi kami dalam lingkaran besar.
Satu putaran, dua
putaran, lalu pada putaran ketiga,
"On!"
Dia
menggonggong dengan semangat. Persis seperti yang kubayangkan. Bagus,
sesuai dugaanku.
"T-tidak mungkin…… Anda paham hanya dengan penjelasan
Alise-sama tadi……?"
Mata Eris membelalak tidak percaya.
"Iya, iya! Hebat, Lloyd! Benar-benar adikku yang manis! Cinta memang hebat!"
"Bukan, itu
pasti bukan cinta."
"Enak saja,
itu cinta tahu!"
Keduanya
kembali berdebat. Mereka memang akrab. Yah, karena urusanku sudah selesai, tak perlu berlama-lama di sini.
Waktunya pergi.
"Kalau
begitu, Kak Alise. Terima kasih banyak."
"Eh!? Sudah
mau pergi!? Padahal baru mau minum teh!"
"Tidak,
terima kasih, aku belum haus!"
"Aaah,
Lloyd—!"
Aku melambaikan
tangan, mengucapkan selamat tinggal pada Alise. Di samping Alise yang tampak
sedih, Eris menggumamkan sesuatu.
"Barusan itu
teknik Beast Tamer……! Kekuatan Alise-sama adalah bakat alami yang tidak
disadari sehingga sulit dikontrol, tapi Tuan Lloyd jelas menggunakannya dengan
penuh kesadaran."
"Bahkan Beast
Tamer lain biasanya kehilangan kontrol di depan Alise-sama, tapi dia
melakukannya dengan sempurna…… Jika dia terus menguasai teknik ini dan
melampaui Alise-sama, mungkin dia bisa mengusir hewan-hewan yang berkumpul di
sini……"
"Gara-gara
tempat ini penuh hewan, pelayan lain takut mendekat. Memberi makan dan merawat
mereka itu melelahkan. Aku jadi tidak punya hari libur, tak ada waktu belanja
atau ke kafe…… Ya, benar sekali. Tuan Lloyd harus berusaha keras!"
Merasakan aura
keinginan yang kuat, aku menoleh dan mendapati Eris menatapku dengan mata penuh
harap.
"Tuan
Lloyd, silakan datang lagi! Sepertinya
Alise-sama masih bisa mengajari Anda banyak hal!"
"Wah! Ide
bagus, Eris! Benar sekali Lloyd, Kakak masih bisa mengajarimu banyak hal! Jadi sering-seringlah
datang!"
Memang
benar, teknik Beast Tamer tidak mungkin cuma sebatas ini. Kalau ada yang
membingungkan lagi, aku akan datang bertanya. Meskipun aku tidak terlalu
berharap mendapat jawaban yang logis, sih.
"Bagus Shiro, anak pintar."
"On!"
Aku mengelus kepala Shiro yang baru saja mengambilkan bola
yang kulempar. Berbagi
imajinasi menggunakan Nature Transformation pada energi sihir ternyata
sangat praktis. Dengan ini, aku bisa menyuruhnya melakukan hampir apa saja.
Omong-omong,
tadi aku tidak hanya melempar bola secara biasa, tapi melemparnya sangat
tinggi. Menggunakan sihir elemen angin, aku melemparnya setinggi tembok benteng
istana.
Aku
menyuruh Shiro memanjat dinding untuk mengambilnya. Gerakan yang hanya bisa
dilakukan monster. Hebat juga kau, Shiro.
Namun,
terus-menerus terhubung dengan Shiro yang bergerak lincah ternyata cukup
membebani energi sihirku. Jadi aku mengatasinya dengan menggunakan Magic
Sigil, sehingga aku hanya mengirim energi sihir dan terhubung dengannya
saat ingin memberi perintah saja.
Untuk sementara,
mari biarkan dia terbiasa dengan kehidupan sehari-hari seperti ini.
"Hai,
Lloyd."
Saat aku sedang
melamunkan hal itu, Albert berjalan mendekat dari seberang padang rumput.
Pangeran kedua
Albert, kakak laki-lakiku yang terpaut sembilan tahun. Dia pria tampan berambut
pirang yang tinggi.
Kemampuan
sihirnya luar biasa, dan dia sering mengajakku latihan sihir. Kabarnya, dia
adalah kandidat terkuat pewaris takhta.
……Hmm, siapa itu
yang ada di sebelahnya?
Di samping Albert
ada seorang pria berambut hitam yang memakai bandana. Tubuhnya terlihat sangat
terlatih, ramping tapi berotot. Usianya mungkin sebaya dengan Albert.
Dia menatapku
tajam dengan tatapan mata yang tajam.
"Sepertinya
Shiro sudah mulai menurut padamu, ya."
"Iya, aku
mendapat bimbingan dari Kak Alise."
"Dari
Alise……? K-kau bisa paham dengan penjelasan dia……?"
"Ahaha,
tingkat kesulitannya memang agak tinggi, sih."
Melihatku tertawa
kecil, Albert menempelkan tangan ke mulutnya.
"Humu,
mungkinkah dia membaca pergerakan energi sihir Alise, lalu menyimpulkan dan
menguasai teknik mengendalikan monster……? Tidak tidak, meski itu Lloyd, mana
mungkin dia bisa melakukan hal sejauh itu. Pasti monster itu cuma sudah jinak
saja. Iya. Tidak mungkin, tidak mungkin."
Albert
menggelengkan kepala sambil berkeringat dingin. Wajahnya terlihat agak
pucat, apa dia baik-baik saja?
"Oi Al-nii, apa yang kau gumamkan?"
Pria itu bersuara seolah sudah tidak sabar. Albert pun berdeham seolah baru
teringat sesuatu.
"Ah, maaf. ……Akan kuperkenalkan, Lloyd. Dia adalah Dian. Kakakmu."
"Eh! Kakak?"
"Yo, lama tidak bertemu, Lloyd! ……Yah, waktu kau masih
kecil aku sudah pergi ke negara tetangga, Bartram, sih. Wajar kalau kau tidak
ingat. Kau sudah besar, ya! Aku baru saja pulang!"
Dian de
Saloum. Pangeran keempat. Kalau tidak salah, dia pernah datang melihatku
bersama Albert saat aku masih berumur tiga tahun.
Wajahnya masih
menyisakan sedikit kemiripan. Terutama tatapan matanya yang tajam itu.
Sejak seusiaku,
Dian pergi belajar ke Bartram, negara tetangga yang memiliki teknologi pandai
besi yang hebat. Mungkin karena alasan politik, seperti bukti persahabatan
antarnegara. Seingatku, dia pangeran yang sangat hebat karena mau belajar jauh
demi negaranya.
Tapi kenapa
Albert membawa Dian menemuiku?
"Al-nii,
kenapa kau membawaku ke tempat Lloyd? Kalau cuma mau menyapa kan bisa kapan
saja."
Sepertinya Dian
pun memikirkan hal yang sama. Albert menyeringai tipis.
"Sebenarnya,
Dian. Lloyd inilah Enchanter yang aku ceritakan itu."
"Ap……!?
Kau bercanda kan, Al-nii! Bocah cebol ini yang memberikan Enchantment
pada pedang sihirmu!?"
Dian menunjuk pedang sihir milik Albert yang pernah aku beri
Enchantment dulu dengan wajah terkejut. Dia berjongkok di depanku,
memegangi dagu dan menatapku seolah sedang menilaiku dari atas sampai bawah.
"Nuuu, sulit dipercaya tapi Al-nii bukan tipe orang
yang suka bohong…… Baik, Lloyd. Aku akan mengujimu. Ikut aku."
Setelah berkata begitu, Dian langsung mengapitku di bawah
lengannya dan mulai berlari.
"Eh? Eh?
Eeehhh!?"
"Oi Dian!
Tunggu! Mau kau bawa ke mana dia!?"
"Maaf
Al-nii, kupinjam sebentar ya—!"
Dian melambaikan
tangan pada Albert sambil terus berlari membawaku.
Aku dibawa ke
sebuah bangunan berbentuk kubah dari tumpukan bata di sudut istana. Ada
cerobong asap di bagian atasnya dan sumur di dekatnya.
Dulu aku pernah
mengintip ke dalam karena penasaran bangunan apa ini, tapi seingatku isinya
cuma gudang barang bekas. Ada urusan apa dia ke tempat seperti ini?
"Ooh, ini
dia tempatnya. Nostalgia sekali."
Dian membuka
pintu sambil bergumam, lalu kami masuk. Isinya benar-benar berbeda dari yang kulihat
dulu.
Di tengah
ruangan terdapat tungku raksasa, lengkap dengan landasan besi, palu, tang,
tatah, ububan, berbagai macam bahan kimia…… segala jenis peralatan pandai besi
berjejer rapi.
"Ini
bengkel yang kupakai waktu aku masih kecil dulu. Waktu berangkat belajar, aku
membawa semua peralatanku, tapi karena aku mau pulang, aku mengirimnya lebih
dulu. Mulai hari ini, aku bisa mengerjakan teknik pandai besi yang kupelajari
di sana."
Dian
menyentuh peralatannya sambil bersenandung. Wajahnya terlihat berbinar-binar
seperti anak kecil.
"……Apakah
Kak Dian sangat suka menempa?"
"Tentu saja!
Makanya aku belajar banyak di sana! Di sana hebat sekali lho, teknologi Enchantment
dan pembuatan pedang sihirnya sudah sangat maju."
"Aku merasa
kita tidak boleh tertinggal, jadi aku konsultasi pada Al-nii. Dia bilang akan
mengenalkanku pada Enchanter yang hebat, aku sudah berekspektasi
tinggi…… tapi ternyata malah Lloyd, ya."
Dian menghela
napas panjang dan berat, lalu menatapku tajam.
"Lloyd, maaf
saja tapi aku tidak bisa menelan mentah-mentah perkataan Al-nii. Aku akan
menguji apakah kau benar-benar Enchanter yang hebat……!"
"……Haaa."
"Kwuun."
Sepertinya
urusannya jadi merepotkan. Shiro yang mengikutiku menatapku dengan cemas.
"Kau tahu
cairan apa ini?"
Dian menunjuk
cairan berkilauan di dalam tempayan air.
"Itu Spirit
Marrow. Cairan yang dioleskan bersamaan dengan formula sihir saat melakukan
Enchantment."
"Mu…… hoh, sepertinya kau tahu dasarnya…… Tapi
bagaimana dengan yang ini!"
Dia mengaduk kotak kayu dan mengeluarkan tanah berwarna
cokelat kemerahan.
"Itu Red Mud. Salah satu bahan baku yang
digunakan dalam pembuatan besi. Kalau tidak salah, negara tetangga terkenal menghasilkan Red Mud
kualitas bagus."
"A-apa……!
Kau tahu juga……!?"
"Iya, maaf
kalau aku cuma tahu dari buku saja."
Untuk memahami Enchantment,
pengetahuan tentang teknik pandai besi tentu saja sangat diperlukan. Berkat
itu, aku sudah membaca cukup banyak buku dan mendapatkan pengetahuan dasar.
Kalau kulihat, di
dalam kotak kayu itu ada berbagai macam bahan lainnya.
"Ooh! Ada
bijih besi, batu bara, opal, emas, perak, tembaga, bubuk batu sihir……
Hebat! Banyak sekali bahan-bahan yang beragam!"
"……!"
Ini benar-benar
tumpukan harta karun. Kalau ada bahan sebanyak ini, aku bisa melakukan Enchantment
sepuasnya, bahkan mungkin bisa membuat pedang sihir.
Apakah alasan
Albert mengenalkanku pada Dian adalah untuk menepati janjinya waktu itu──janji
untuk mendukung riset Enchantment-ku?
"Lho, tidak ada Red Magic Powder atau Moonsilver
Liquid?"
"Apa itu?"
"Itu bagian dari bahan baku untuk Enchantment……"
Saat aku memiringkan kepala karena bingung, Dian menelan
ludah dengan wajah tegang.
"Bocah ini,
pengetahuannya bukan main! Bukan cuma Spirit Marrow, tapi pengetahuan
bahan lainnya juga sangat luas! Ini bukan level cuma tahu sedikit……!
Jangan-jangan pengetahuannya setara denganku……? Heh, Al-nii benar-benar
keterlaluan…… Meski penampilannya begini, sepertinya dia bisa diandalkan."
"Kalau bersama dia, mungkin mimpiku──membuat pedang
sihir orisinal buatanku sendiri bisa terwujud……!"
Lalu dia mulai
menggumamkan sesuatu lagi. Ada apa dengannya?
"Roddy-bou."
"Eh?"
Aku bertanya balik karena dia memanggilku dengan sebutan
yang berbeda.
"Iya, itu panggilanku untukmu. Roddy-bou, ternyata kau
cukup paham soal Enchantment, ya. Baiklah. Aku mengakuimu. Omong-omong,
kau boleh memanggilku 'Bos'!"
"H-haaa……"
Dian
mengacungkan jempol ke arah dirinya sendiri. Entah bagaimana, sepertinya aku sudah diakui.
"Baiklah,
Roddy-bou! Pertama-tama tunjukkan kemampuanmu. Coba berikan Enchantment
pada pedang buatanku ini!"
Dian menyodorkan
sebuah pedang. Meski tanpa hiasan apa pun dan terlihat kasar, buatannya sangat
solid. Bukan cuma bentuknya yang bagus, tapi kejernihan pola bilahnya
menunjukkan teknik yang luar biasa.
Pedang
kualitas rendah biasanya melengkung tidak beraturan dan mengandung banyak
kotoran. Tentu saja tidak ada pola bilah yang indah, dan sangat rapuh.
Kasarnya, kadang sebatang kayu pun lebih berguna daripada pedang buruk.
Tapi
pedang ini dibuat dengan teknik pandai besi kelas satu. Butuh waktu bertahun-tahun untuk mencapai tingkat
kemahiran seperti ini.
"Kak Dian
benar-benar suka menempa, ya."
"……!?
T-tadi kubilang panggil aku Bos, kan!"
"Ah
benar juga. Bos."
Saat aku
terkekeh, Dian melipat tangan dan membuang muka. ……Perasaanku saja atau wajahnya agak memerah?
"S-sudah
cepat lakukan saja!"
"Baiklah."
Cara melakukan Enchantment
hanyalah dengan menyusun formula sihir ke dalam Spirit Marrow lalu
mengoleskannya. Namun, jika formula sihirnya terlalu banyak, senjatanya akan
terbebani dan patah.
Ini bukan sekadar
soal jumlah formula, tapi juga kecocokan dengan logam, kemurnian Spirit
Marrow, dan berbagai faktor lainnya. Aku rasa, kemampuan untuk mengukur
kapasitas senjata dan formula sihir secara akurat adalah inti dari kemahiran
seorang Enchanter.
……Yah, itu cuma
pemikiran amatirku yang baru mulai belajar. Kalau salah, biar Dian yang
membenarkannya.
"Kalau
begitu──"
Aku menuangkan Spirit
Marrow ke wadah khusus dan mulai menyusun formula sihirnya. Untuk pedang
ini, mungkin tiga, tidak, empat lapis formula.
Spirit Marrow bersinar terang, dan proses penyusunan
formula Enchantment selesai. ……Untuk sementara begini saja dulu.
Saat aku melirik ke arah Dian, dia sedang mengernyitkan dahi
dengan ekspresi wajah yang sangat serius.
"Oi oi oi,
ini gila…… Dia menyusun formula sihir langsung ke dalam Spirit Marrow?
Biasanya orang memasukkan formula ke jimat dulu, baru dilarutkan pelan-pelan ke
cairan. Kalau tidak, formulanya bakal lenyap sebelum menyatu…… Kecuali
kalau dia punya output energi sihir yang luar biasa besar!"
"Penyihir
di Bartram pun tidak ada yang bisa melakukan teknik seperti itu……!"
Dia
menatapku dengan wajah yang sangat syok. Jangan-jangan aku melakukan prosedur
yang salah?
Kalau
begitu harusnya dia memberitahuku saja, tapi dia malah tidak bilang apa-apa.
Muuu,
katanya tadi sudah mengakuiku, tapi sepertinya aku masih terus diuji, ya.
Aku
mencabut pedang dari sarungnya dengan tangan yang sedikit tegang, lalu
memeriksa hasil pekerjaannya.
Empat
lapis formula Enchantment telah terpasang dengan sempurna... tapi,
mungkin ini belum cukup untuk membuatnya puas.
Masih ada
celah untuk satu lagi, tidak, setengah lapis lagi kalau dipaksakan.
Aku
menghapus formula tersebut dan mengulangi proses yang sama sekali lagi.
Kali ini empat
lapis setengah. Ujung pedang itu mulai berderit seolah menjerit kesakitan, tapi
formulanya entah bagaimana berhasil terpasang.
Lama-kelamaan
pedang ini pasti akan terbiasa.
……Ya, ini sudah
di ambang batas, aku yakin tidak bisa menambahkan Enchantment lebih dari
ini.
"Fuh, sudah
selesai."
"……Coba
perlihatkan sebentar."
Begitu aku
menyerahkan pedangnya, Dian mulai mengamati bilahnya dengan teliti menggunakan
kaca pembesar.
"Benar-benar
empat lapis setengah…… Padahal empat lapis yang tadi saja sudah sangat nekat. Normalnya cuma satu atau dua lapis. Bahkan
ahli pun batasnya tiga lapis. Tapi jumlah ini…… jangan-jangan kau
mengompres formulanya?"
"Apalagi isinya bukan cuma peningkatan ketahanan, tapi
ada penguatan elastisitas, pembersihan otomatis, dan perbaikan mandiri yang
jenisnya berbeda-beda. Ditambah lagi, kau sengaja menghapus yang tadi hanya
untuk memasang ini……!"
"Ketajaman rasa untuk tidak berkompromi, dan banyaknya
variasi formula yang bisa kau gunakan, bakatmu sebagai Enchanter
benar-benar di luar nalar……! Kukuku,
boleh juga. Pria yang jadi partner-ku memang harus seperti ini."
Dian mulai
menggumamkan sesuatu sendirian lagi.
Agak menyeramkan, apa dia baik-baik saja?
"Roddy-bou!"
Tiba-tiba dia berteriak keras. Membuatku kaget saja.
"……Mulai sekarang, kita akan membuat Magic Sword."
"! Magic Sword, ya."
Cara membuat pedang adalah dengan menempa besi cair untuk
membuang kotoran di dalamnya, melipatnya, lalu menempanya lagi.
Proses itu diulangi hingga perlahan membentuk pedang, namun
untuk membuat Magic Sword, formula sihir harus dianyam ke dalamnya selama
proses tersebut.
Pedang yang dibuat dengan cara ini jauh lebih kuat
dibandingkan senjata yang hanya diberi Enchantment biasa.
Karena bisa memasukkan formula sihir yang panjang—hal yang
mustahil dilakukan lewat Enchantment—pedang ini bisa memiliki fungsi
selain sebagai senjata.
Tak kusangka hari di mana aku bisa membuat Magic Sword akan
tiba... aku benar-benar berterima kasih pada Albert.
"Mimpiku adalah membuat Magic Sword orisinal buatanku
sendiri. Kau harus ikut menemaniku
sampai akhir, Roddy-bou!"
"Baik!"
Aku
menjabat tangan yang disodorkan Dian dengan erat.
◇
"Baiklah,
ayo mulai!"
Sambil
menyingsingkan lengan baju, Dian mulai menempa pedang.
Dia
menyalakan api di tungku untuk melelehkan besi, lalu menempa besi yang membara
merah itu.
Bunyi
dentuman palu yang kuat, kan, kan, mulai bergema.
"Ngomong-ngomong,
formula seperti apa yang berniat Bos masukkan?"
"……Sebenarnya,
aku tidak bisa menggunakan sihir. Dulu aku berusaha keras karena ingin bisa menggunakannya suatu saat nanti……
tapi sialnya, otakku ini agak bebal. Aku benar-benar tidak bisa."
"Lalu aku
dengar dari Al-nii, kalau memakai Magic Sword, aku bisa menggunakan sihir hanya
dengan mengayunkannya."
Berapa pun energi
sihir yang dimiliki seseorang, sulit untuk merapal sihir jika tidak memiliki
bakat dasar.
Aku dengar ada
orang yang langsung mengantuk hanya dengan membuka buku, jadi seberapa besar
pun bakatnya, setiap orang punya kecocokan masing-masing.
Aku sendiri benci
olahraga. Hal seperti ini memang tidak bisa dipaksakan.
"Makanya, aku ingin membuat Magic Sword yang seperti
itu. Magic Sword milikku sendiri……! Apa kau bisa, Roddy-bou?"
"Iya, aku
akan berusaha semampuku. Mari kita gabungkan kekuatan kita!"
"Ouh! Aku
mengandalkanmu, Partner!"
Entah sejak kapan
aku jadi "Partner"-nya... tapi setidaknya, tesnya tadi dianggap
lulus, kan?
Lagi pula, Magic
Sword yang bisa mengeluarkan sihir, ya.
Bagiku sendiri
itu tidak terlalu berguna, tapi aku sangat tertarik dengan proses pembuatannya.
Aku jadi
bersemangat.
"Kalau
begitu Roddy-bou, cepat siapkan formula sihir yang akan dimasukkan ke
pedangnya."
Dian
berkata di depan besi yang membara merah.
"Sihir jenis apa yang bagus?"
"Hmm. Tentu saja api! Bicara soal sihir, ya harus api. Bisa dipakai buat menempa juga, kan."
"Baiklah."
Kalau begitu, aku
tinggal memasukkan sihir elemen api.
Jika hanya sihir
tingkat rendah seperti Fireball sih mudah, tapi untuk pedang buatan
Dian, sepertinya sihir tingkat tinggi seperti Blaze Flare pun bisa
masuk.
"Formula
yang menyusun Blaze Flare ada empat belas bait, kalau dikompres bisa
jadi dua bait. Tapi aku tidak tahu apakah akan menyatu dengan baik atau tidak
sebelum mencobanya…… berapa kali proses pelipatannya?"
"Lima kali.
Lebih dari itu pedangnya tidak akan kuat."
Sepertinya aku
harus mencoba dulu.
Pertama, aku
menuangkan Spirit Marrow yang sudah dianyam dengan setengah bait formula
ke atas besi membara.
Seketika besi
merah itu bersinar silau, dan formulanya mulai menyatu. Titik didih Spirit
Marrow sangat tinggi sehingga tidak akan menguap.
"──!?
Pe-pedangnya!"
Terdengar suara pakin
yang kering.
Jika dilihat, di
pangkal besi membara itu terdapat retakan yang dalam.
Gawat. Ternyata
setengah bait saja masih terlalu kuat.
"Ini sudah
tidak bisa dipakai. Harus
buat ulang dari awal."
"……Maafkan
aku."
"Nah, jangan
dipikirkan. Menempa memang tidak selalu berjalan mulus. Aku punya kepercayaan
diri soal ketabahan. Ayo, semangat lagi buat yang berikutnya!"
"Baik!
Bos!"
Besi yang hancur
itu dilelehkan kembali, dan proses yang sama diulangi.
Ditempa,
dipanjangkan, lalu dianyam dengan formula—tapi, berapa kali pun dicoba tetap
gagal.
Pedangnya selalu
hancur saat formula sihir dianyam ke dalamnya.
Aku sempat
berpikir volumenya terlalu besar, jadi aku mencoba membagi formulanya menjadi
sepertiga bagian, tapi tetap tidak berhasil.
Lalu aku mencoba
menurunkan level sihirnya sampai ke tingkat Fireball, tapi tetap saja
hancur.
Sepertinya kami
menemui jalan buntu. Sambil
menatap pedang yang patah, aku tertunduk lesu.
"Hmm,
sulit juga ya……"
"Membuat
Magic Sword memang tidak semudah itu. Jangan berkecil hati, Roddy-bou."
Dian
menepuk pundakku sambil tersenyum.
Meskipun
wajahnya terlihat seram, ternyata hatinya sangat sabar.
"Formula
yang Roddy-bou masukkan punya jumlah informasi yang luar biasa…… Aku pernah
melihat proses pembuatan Magic Sword sebelumnya, tapi ini hampir sepuluh kali
lipat dari Enchanter lain."
"Kalau Magic Sword dengan formula seperti itu selesai……
hehe, aku jadi tidak sabar!"
Tapi sedetik kemudian dia malah menggumam sambil
cengengesan.
Jangan-jangan dia sedang memberiku tekanan?
Uuu, aku harus
menyelesaikannya secepat mungkin……
"……Hmm?"
Tiba-tiba, aku
menyadari sesuatu saat melihat Spirit Marrow-nya.
Dibandingkan
dengan yang pernah kubuat dulu, warna yang ini terasa sedikit berbeda. Grim sepertinya
juga menyadari hal itu.
"Tuan Lloyd,
yang ini tingkat kemurniannya tidak terlalu tinggi. Sepertinya dicampur dengan
bahan lain untuk menambah volumenya."
"Humu, coba
kita urai."
Aku memasukkan Spirit
Marrow ke wadah kecil, lalu menjulurkan tangan dan merapal sihir Purification.
Ini adalah sihir
untuk meningkatkan kemurnian cairan, dan jika digunakan pada campuran, benda
itu bisa diurai kembali menjadi bahan dasarnya.
Cairan itu
memancarkan cahaya redup dan mulai berputar.
"Apa yang
kau lakukan, Roddy-bou?"
"Lihat saja
dulu."
Setelah
membiarkan Dian menunggu sambil terus merapal sihir beberapa saat, cairan itu
terbagi menjadi beberapa lapisan, dan butiran-butiran mulai mengendap di
dasarnya.
Bukan hanya
butiran merah, tapi butiran cokelat dan hitam juga tercampur di sana.
Ternyata
benar-benar campuran. Apalagi bahan utama yang digunakan sepertinya bukan Red
Magic Powder.
"Inti dari
monster kuat, Red Magic Powder dibuat dengan mengikis itu menjadi bubuk,
tapi rasanya ini bukan itu."
"Inti
monster kuat itu mana mungkin bisa didapat dengan mudah. Sepertinya ini diganti
dengan inti monster lemah. Kualitasnya turun jauh, tapi kalau cuma buat Enchantment
biasa sih cukup. Hanya saja, untuk pembuatan Magic Sword sepertinya terlalu
berat."
"Heh, kau
tahu banyak ya, Grim."
"Di Dunia
Bawah, aku ini pandai besi yang cukup ternama. Hehe."
Grim tertawa
bangga. Syukurlah, karena aku tidak punya pengetahuan spesialis pandai besi.
Bagaimanapun,
kurangnya kemurnian Red Magic Powder adalah masalah besar.
Jika kemurniannya
rendah, meskipun formula dimasukkan, efeknya akan menjadi kasar saat
diaktifkan. Sihirnya tidak akan keluar sesuai formula yang tepat dan malah
mudah meledak.
Tahu begitu,
harusnya aku menyisakan Spirit Marrow yang kubuat dulu.
"Ada apa?
Apa Spirit Marrow-nya jelek?"
"Sepertinya
begitu. Kurang murni……"
"Muuu, kalau
diingat-ingat, aku pernah melihat tempat pembuatan Magic Sword sebelumnya,
rasanya mereka memakai Spirit Marrow yang spesial."
"Ternyata
memang sulit kalau tidak pakai itu, ya…… Aku cuma coba-coba saja, tapi ternyata
tetap gagal. Hahaha."
Sepertinya Dian
sudah menduga hal ini. Kalau begitu harusnya bilang dari awal dong.
"Ya sudah.
Mungkin aku akan mencoba menghubungi guruku di Bartram untuk meminta sedikit. Atau
tanya stok di Adventurer Guild, atau mungkin memasang lowongan…… tapi harapan
keduanya tipis."
"Pokoknya
sampai kita dapat bahannya, pekerjaan dihentikan dulu. Maaf ya Roddy-bou, kita
lanjut lagi kalau sudah dapat."
Dian berkata
begitu sambil menghela napas kecewa.
Petualang, ya.
Mungkin aku bisa melakukan sesuatu. Baiklah, aku akan mencoba bergerak sendiri.
"Inti
monster tingkat tinggi, begitu?"
Pelayan
berambut perak di depanku, Sylpha, memasang wajah terkejut.
Dia
adalah pelayan pribadiku sekaligus pelatih pedangku.
"Iya,
Sylpha dulu petualang, kan? Aku
pikir mungkin kau mempunyainya."
Dan juga, dia
adalah mantan petualang peringkat A.
Sebagai putri
komandan ksatria, dia kabarnya sempat menjadi petualang untuk mengasah
kemampuan pedangnya. Aku pikir orang sepertinya pasti punya inti
monster, tapi... Sylpha menggelengkan kepalanya.
"Sayangnya
itu sudah lama sekali. Apalagi inti monster itu sangat berharga. Karena bisa
dijual dengan harga sangat mahal, aku sudah melepaskannya saat pensiun jadi
petualang."
"Begitu ya.
Sayang sekali."
Muuu, gagal
total. Padahal aku sempat berharap... ternyata tidak semudah itu.
Sepertinya aku
harus menunggu sampai Dian mendapatkannya entah dari mana. Saat aku tertunduk
lesu, aku menyadari Sylpha sedang tersenyum tipis.
"Tuan Lloyd,
bagaimana kalau Anda mencarinya sendiri saja?"
Mendengar
perkataan Sylpha, jantungku berdegup kencang.
Jangan-jangan dia
sedang menyindir kejadian dulu saat aku menyelinap keluar istana untuk masuk ke
dungeon?
"Eh!? A-apa
maksudmu, Sylpha? Haha, ahahaha……"
Aku tertawa
garing, tapi Sylpha tetap melanjutkan dengan senyuman yang sama.
"Jika
menginginkan sesuatu, maka pergi mengambilnya sendiri. Itulah prinsip seorang
petualang. Bagaimana, Tuan Lloyd? Bagaimana kalau Anda mencoba menjadi
petualang?"
Sepertinya ini
bukan soal kejadian menyelinap dulu. Syukurlah.
Aku menghela
napas lega... lalu baru menyadari perkataannya barusan dan tersedak lagi.
"Pe-petualang!?
Siapa!?"
"Tentu saja
Anda, Tuan Lloyd," ujar Sylpha sambil tersenyum manis. Itu adalah wajahnya
saat dia sedang serius.
"Sebenarnya
tempo hari aku sudah mengajukan usul kepada Yang Mulia Raja. Teknik pedang Tuan
Lloyd sudah mengalami kemajuan pesat. Jadi, bagaimana jika Tuan mendaftar ke
Adventurer Guild untuk lebih mengasah kemampuan? Begitu usulku."
Apa-apaan pelayan
ini, tiba-tiba bicara begitu.
Mana mungkin aku
yang seorang pangeran bisa menjadi petualang, itu kan mustahil.
"Jawabannya
adalah iya."
"Iya,
katanya!?"
Aku
refleks berseru kaget.
"Beliau
bilang, beliau ingin Tuan Lloyd melihat dunia yang luas. Menjadi petualang
bukanlah keputusan yang buruk untuk tujuan itu. Ini kesempatan bagus,
beliau menantikan kiprah Tuan—begitu katanya. ……Izin diberikan dengan syarat
aku harus ikut mendampingi."
"He—hee. Begitu ya……"
Kalau dipikir-pikir, aku pernah dengar cerita tentang putra
ketiga bangsawan yang bukan pewaris takhta, atau anggota keluarga kerajaan yang
eksentrik, membangun karier sebagai petualang.
Jika melihatnya dari sisi itu, tidak aneh juga kalau aku
yang tidak punya hak waris takhta ini menjadi petualang, ya……?
Meski aku merespons dengan wajah sangsi, kalau dipikir lagi,
bukankah ini artinya aku bisa keluar istana dengan bebas?
Walaupun Sylpha
ikut menempel, aku senang bisa pergi ke luar kastel.
Aku bisa mencoba
berbagai macam sihir, dan ini juga bisa menjadi latihan tempur sungguhan untuk
mengendalikan Shiro.
"Baiklah.
Kalau begitu ayo segera ke Adventurer Guild."
"Baik!"
Maka, dengan
membawa Sylpha, aku pun berangkat menuju Adventurer Guild.
◇



Post a Comment