Chapter 4
Kegelapan
yang Mendekat
Sudah satu minggu berlalu sejak semua orang terkurung di
dalam penghalang.
Penghalang ini dibuat berdasarkan fasilitas yang
ditinggalkan oleh kaum kuno, jadi tidak akan bisa dihancurkan dengan mudah.
Berdasarkan penyelidikan Mimiko-san, terungkap bahwa ini
adalah penghalang misterius yang tidak hanya menutupi daratan dan langit,
tetapi juga menyelimuti bawah tanah.
Aku tidak tahu apa yang sebenarnya direncanakan oleh Raja
Iblis. Namun, bagiku—Kuruto Rockhans—aku hanya akan melakukan apa pun yang bisa
kulakukan.
Untuk sementara, aku telah selesai membangun kota dengan
menciptakan golem sebagai bahan material dari Dungeon Core yang ada di dalam
reruntuhan.
Persediaan makanan di kapal terbang memang masih
mencukupi, tapi selama kami tidak tahu kapan penghalang ini akan lenyap,
memikirkan metode pasokan yang stabil adalah hal yang wajib dilakukan.
Untungnya, benih-benih yang ada di Taman Noah sangat
membantu urusan tanaman.
Karena benih asli padi ditemukan, aku meminta Akuri
mengeluarkannya dengan kemampuan teleportasi, lalu aku memutuskan untuk
menanamnya.
"Tuan Kuruto, aku sudah selesai mengangkut
padinya."
"Terima kasih banyak. Kalau begitu, mari kita mulai
proses perontokannya."
Aku mulai merontokkan bulir padi yang baru saja dipanen
dan diangkut oleh ksatria tersebut.
Aku sudah mulai terbiasa dengan pekerjaan ini.
Sekarang, merontokkan padi untuk porsi semua orang bahkan
tidak memakan waktu sampai tiga puluh detik.
"Papa, apa nasinya sudah jadi?"
"Apa berasnya sudah panen?"
Akuri datang bersama Non-chan.
Mereka berdua benar-benar sudah menjadi teman akrab.
Tampilan Non-chan terlihat sekitar empat tahun lebih tua,
tapi karena tidak ada anak kecil lain di sini, mereka jadi akrab seperti kakak
beradik.
Yah, kalau bicara usia sebenarnya, Akuri bahkan belum
genap satu tahun sementara Non-chan sudah lebih dari enam ribu tahun, jadi umur
memang tidak ada hubungannya, ya.
Yang menarik, Akuri-lah yang bertingkah seperti sosok
kakak, sementara Non-chan tampak sangat menghormati Akuri.
"Tapi, benar-benar repot ya tidak bisa keluar
begini. Lingkaran sihir teleportasi yang ada di reruntuhan pun tidak bisa
digunakan."
"Penghalang juga terpasang di langit, jadi kita
tidak bisa melarikan diri dengan kapal terbang."
Yurishia-san dan Lise-san menumpahkan keluh kesah mereka
sambil membantuku merontokkan padi.
Padi yang sudah dirontokkan dan disosap menjadi beras ini
rencananya akan kujadikan sake bening (seishu) menggunakan pusaka sihir
buatanku.
"(Lebih baik jangan dipikirkan kenapa minuman keras
bisa jadi cuma dalam tiga puluh menit.)"
"(Percuma dipikirkan pun, kita tidak akan menemukan
jawabannya.)"
"(Tapi, ini sudah seminggu. Sebentar lagi, apa tidak
akan ada seseorang yang meledakkan kekesalannya dan memicu insiden
besar?)"
"(Meski berkat Tuan Kuruto kita bisa hidup seperti
biasa, beban psikologis karena terkurung di dalam penghalang tidak bisa
dihilangkan begitu saja.)"
Yurishia-san
dan Lise-san berbisik dengan wajah khawatir. Belakangan ini mereka sering
begitu, ada apa ya—saat aku memikirkan itu, dua orang prajurit datang
menghampiri kami.
"Baronet Rockhans, kami dengar sake beningnya
sudah jadi."
Salah satu prajurit bertanya. Sepertinya mereka
datang untuk mengambil apa yang kubuat tadi pagi.
"Iya. Silakan bawa sekalian dengan tongnya. Ah, ini
obat antimabuk. Cara pakainya—"
"Kami sudah tahu. Mereka yang sedang bertugas tidak
akan minum, dan bagi yang payah minum alkohol hingga mudah tertidur akan
meminum setengah dosis sebelumnya. Dalam keadaan darurat, semua orang akan
meminumnya agar tidak mengganggu operasional."
Setelah berkata begitu, para prajurit memanggul tong kayu
tersebut dan melangkah menuju pos jaga.
Saat mereka beranjak, percakapan ini terdengar olehku.
"Wah, bahkan di hari libur pun kita tidak pernah
diizinkan minum sampai puas, tapi di sini kita bisa minum sepuasnya.
Benar-benar surga ya."
"Makanannya enak, bahkan obat antimabuknya pun enak.
Kasurnya juga jauh lebih bagus dari rumahku. Rasanya aku ingin penghalang ini
tidak usah lepas saja."
"Oi, kalau ketahuan bicara begitu, kau bisa kena
hukuman disiplin, lho."
"Ups, sori. Anggap saja yang tadi tidak ada,
pura-pura tidak dengar ya."
Para prajurit sepertinya berusaha bersikap ceria
dengan paksa.
Mereka berusaha agar kami warga sipil—meski
sebenarnya aku bangsawan rendah—tidak merasa cemas. Benar-benar orang-orang
yang mulia.
"(……Yah, sepertinya mereka tidak terlalu cemas
karena urusan sandang, pangan, dan papan sudah terjamin.)"
"(Yuri-san, jangan lengah. Di antara orang-orang
yang datang ke sini, banyak yang meninggalkan kekasih mereka. Di
antara para pelayan pun, ada yang menatap Tuan Kuruto dengan mata tajam.
Membayangkan kapan taring tajam bernama nafsu itu akan diarahkan pada Tuan Kuruto,
aku... aku...)"
"(Tenanglah. Rasanya di sini tidak ada penguntit
mesum yang lebih parah darimu.)"
Mereka berdua sedang membicarakan sesuatu lagi... tepat
saat aku memikirkan itu, seorang pelayan berlari ke arahku.
"Gawat!"
Yurishia-san dan yang lainnya berseru, sementara pelayan
itu mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya.
"Saya penggemar berat Kurumi-chan! Tolong
berikan tanda tangan Anda!"
"Eh?"
Jika diperhatikan baik-baik, yang dia keluarkan
adalah buku berisi foto diriku saat berdandan perempuan—Kurumi-chan.
Aku dengar belakangan ini foto itu beredar di
Kerajaan Homuros, tapi ini pertama kalinya aku dimintai tanda tangan secara
langsung.
Rasanya agak memalukan.
"E-anu, apa benar tidak apa-apa dengan tanda
tanganku? Apalagi sampai dua buku?"
"Iya! Satu buku untuk temanku. Dia bilang kalau aku
punya kesempatan bicara dengan Kurumi-chan—maksud saya Tuan Kuruto—dia titip
minta tanda tangan. Saya ini penggemar fanatik Kurumi-chan, saya bahkan menulis
novel fiksi penggemar pasangan Lumi x Yura, tapi teman saya itu pendukung Yura
x Lumi, jadi biasanya kami cuma bertengkar—"
Pelayan yang sedang bersemangat itu meracaukan
istilah-istilah yang tidak kumengerti.
Mungkin itu bahasa gaul di ibu kota, tapi karena aku
tidak tahu hal-hal semacam itu, aku sama sekali tidak paham maksudnya.
Untuk saat ini, apa aku cukup tanda tangan saja? Saat aku
meminjam pulpen serta tinta miliknya dan menandatangani bagian kosong di sampul
buku...
"Apa yang sedang kau lakukan!"
"Ketua—maksud saya Lise-sama, i-ini……"
"Dalam peraturan klub penggemar, dilarang
melakukan kontak langsung dengan Sang Dewi. Selain itu, dilarang juga membuat
karya fiksi penggemar pasangan dengan Yura-san, kan—"
"Tu-tunggu dulu, meski saya bilang fiksi
penggemar, ini cuma untuk hobi bersama teman dan tidak disebarluaskan.
Lagipula, bukankah Ketua sendiri yang paling sering mencuri start—"
"Cukup! Jika kau membuat keributan lagi, kau
akan dikeluarkan!"
"Masa……
ini tirani, Ketua. Baiklah, saya mengerti. Mulai sekarang saya hanya akan
memperhatikan dari jauh saja."
Sambil berkaca-kaca, pelayan itu mengucapkan terima kasih
padaku lalu pergi.
Dia memeluk buku yang sudah kutandatangani seolah itu
adalah harta karun yang sangat berharga.
"(Lise, tadi aku merasa mendengar namaku
disebut?)"
"(Ah, Yura-san ya. Anda sangat populer di
kalangan sebagian wanita, lho.)"
"(Serius? ……Yah, syukurlah tidak ada klub
penggemarnya.)"
"(Eh? Ada kok, klub penggemarnya. Memang tidak
sebesar klub penggemar Kurumi-chan, tapi anggotanya sudah mencapai skala lima
puluh ribu orang…… Berkat itu, muncul karya fiksi penggemar yang aneh-aneh.
Kalau Yura x Lumi sih aku masih bisa memaafkan, tapi Lumi x Yura benar-benar
tidak bisa diterima.)"
"(Aku tidak paham bedanya. Tapi, sebenarnya
bodoh mana yang melakukan hal itu?)"
"(Ketua klub penggemarnya adalah
Loretta-sama.)"
"(Kak Loretta, apa sih yang dipikirkan orang itu.
Lagipula, bagaimana cara dia mendapatkan fotoku?)"
"(Ah, kalau itu aku yang mengambilnya diam-diam
dengan Kocho. Aku sebenarnya enggan menciptakan hal lain selain ilusi
Tuan Kuruto, tapi membuat ilusi Yuri-san yang dadanya terlihat itu
ternyata—)"
"Ternyata pelakunya kamu sendiri, ya!!"
……Pelaku?
Yurishia-san tiba-tiba berteriak keras, apa Lise-san
melakukan sesuatu?
"Papa, selanjutnya kita mau ambil apa?"
"Ada yang bisa kami bantu?"
Akuri dan Non-chan bertanya padaku.
Emm, urusan panen padi sudah dilakukan orang lain, dan
masih ada waktu sampai persiapan makan malam.
Tapi, tidak enak juga kalau aku bermain dengan anak-anak
sementara yang lain bekerja keras.
Benar juga, bagaimana kalau bermain sambil bekerja saja?
"Kalau begitu, ayo kita bertiga membuat dango.
Kebetulan ada beras ketan hasil modifikasi varietas yang baru jadi."
"Dango?"
"Dango
itu apa ya? Semacam tarian…… bukan ya."
Mungkin
yang dimaksud Non-chan adalah "Tango".
Yah,
soal dango pun aku cuma dengar dari Danzo-san, jadi aku belum pernah
membuatnya.
Tadinya
aku pikir mungkin kaum kuno tahu soal itu, tapi karena Non-chan amnesia, dia
tetap tidak tahu ya.
"Dango
itu jajanan yang dibuat dari campuran tepung beras dan air panas yang
dibulatkan, lalu direbus atau dibakar."
"Jajanan!"
"Jajanan!"
Akuri dan Non-chan mengangkat tangan dengan gembira.
Mau kaum kuno atau roh, anak-anak memang sangat suka
jajanan ya.
Begitulah, pembuatan dango oleh kami bertiga dimulai.
Aku mencampur beras biasa yang sudah ditumbuk halus
dengan beras ketan.
Kali ini aku juga mencampurkan gula agar dango-nya manis
meski dimakan begitu saja, lalu kutambahkan air panas.
Setelah adonannya menyatu, aku meletakkan sebagian di
depan Akuri dan Non-chan.
"Kalian berdua sudah cuci tangan sampai
bersih?"
"Sudah!"
"Sudah cuci."
"Kalau begitu, ambil sedikit-sedikit, bulatkan
seperti ini, lalu masukkan ke wadah ini."
Aku berkata begitu sambil mengepal dango.
Dango-dango berbentuk bola itu masuk ke dalam wadah
satu per satu dengan bunyi pop-pop-pop.
Aku membuatnya dengan kecepatan sekitar lima puluh
butir per detik, lebih lambat dari biasanya.
"Papa, terlalu cepat."
"Tidak mengerti."
"Eh? Kalau segini?"
"Masih terlalu cepat."
"Tidak kelihatan."
"Bagaimana kalau begini?"
"Muu……"
"Masih terlihat bayangannya."
"……Kalau begitu, ini?"
Setelah aku menurunkan kecepatannya menjadi satu butir
per lima detik, barulah Akuri dan Non-chan merasa puas.
"Papa, bolanya tidak jadi bulat sempurna."
"Sulit sekali."
Dango buatan Non-chan masih bisa dibilang berbentuk
bola meski hampir tidak, tapi dango buatan Akuri malah terlihat seperti cacing
tanah.
"Tidak harus berbentuk bulat cantik, kok. Bentuk
yang lucu seperti ini juga boleh."
Aku berkata begitu sambil menunjukkan cara membuat
bentuk kucing atau anjing dari adonan dango.
"Lucu!"
Setelah aku memberi contoh, Akuri dan Non-chan jadi
lebih asyik membuat bentuk hewan daripada sekadar membulatkannya.
Nah, mumpung mereka asyik, mari kubuat dango untuk
porsi semua orang sekarang juga.
Sambil berpikir begitu, aku menguleni dango dengan
cepat.
"Ini Gobolin!"
"Luar biasa, Akuri-sama!"
Akuri menyebut dango anehnya sebagai "Gobolin".
Mungkin maksudnya "Goblin", tapi lebih terlihat
seperti laba-laba berkaki empat.
Yah, karena goblin asli itu menakutkan, mungkin bentuk
ini lebih baik ya?
Tapi, bicara soal "Akuri-sama"……
Ngomong-ngomong, tiga puluh persen penduduk Kerajaan
Homuros memuja roh seperti dewa. Jika identitasnya sebagai roh dipublikasikan,
apakah semua orang akan mulai memanggilnya "Akuri-sama"?
Mungkin dia benar-benar akan diagung-agungkan seperti
Tuhan.
Hahaha, punya anak seorang dewa... sebagai orang tua
aku harus senang atau sedih karena merasa anakku telah pergi ke tempat yang
jauh?
Sambil memikirkan itu, aku mengelus kepala Akuri.
Mau dia dewa atau roh, dia tetaplah putriku.
Akuri menyadari elusanku, lalu menatapku dan tertawa,
"Ehehe."
Melihat itu, Non-chan tampak sedikit merajuk.
Jangan-jangan Non-chan juga ingin dipuji?
"Non-chan juga mau mengelus Akuri-sama."
Ternyata Non-chan malah mengelus kepala Akuri.
Sepertinya dia merasa Akuri telah direbut olehku.
Benar-benar ya, Non-chan sangat menyukai Akuri.
"Akuri, kamu punya teman yang baik ya."
"Iya!"
Pembuatan dango kami bertiga terus berlanjut sampai tiba
waktunya menyiapkan makan malam.
Bulan purnama mengambang di langit malam.
Semua orang memuji makan malam buatanku lebih dari
biasanya.
Sepertinya Yang Mulia Raja dan para pemimpin lainnya juga
menyantap masakanku.
Tadinya aku merasa tidak enak harus menyiapkan makanan
untuk raja, tapi katanya hanya aku satu-satunya orang yang bisa memasak di
sini.
Sejauh ini tidak ada keluhan, jadi menurutku nilainya
setidaknya sudah mencapai batas lulus, kalaupun tidak sempurna.
Hanya saja, aku heran kenapa mereka sampai minta tambah.
Aku sudah membuat porsi yang cukup untuk pria dewasa, dan
aku tidak merasa masakanku Sinak itu sampai harus minta tambah.
Pasti mereka sedang stres dan melampiaskannya dengan
makan banyak. Memang kami harus segera keluar dari sini.
"Sama dengan bulan!"
Akuri berkata sambil berjajar dengan Non-chan,
membandingkan bulan di langit dengan dango di tangannya.
Ngomong-ngomong, aku dengar di negara Danzo-san,
dango yang dimakan sambil melihat bulan purnama disebut sebagai Tsukimi
Dango.
Pasti ada orang yang berpikir sama dengan Akuri,
bahwa bulan dan dango itu mirip.
"Akuri-sama. Tolong dikunyah dengan baik sebelum
ditelan."
"Terima kasih, Non-chan."
Akuri berterima kasih pada Non-chan dengan wajah
ceria.
Melihat mereka berdua, aku, Lise-san, dan Yurishia-san
tersenyum hangat.
"Akuri sudah punya teman yang baik, ya."
"Benar……
tapi, Non-chan ini benar-benar anak yang dewasa. Hanya satu yang mengganjal,
kenapa nada bicaranya sangat terdidik tapi dia menyebut dirinya sendiri dengan
namanya?"
"Benar
juga. Kalau usia Akuri sih wajar, tapi untuk anak yang sepertinya mendapat
pendidikan tinggi, biasanya di usia lima tahun mereka sudah mulai menggunakan
kata 'Aku' (watashi), kan? Atau mungkin bagi kaum kuno, menyebut nama
sendiri sebagai kata ganti orang pertama itu hal biasa?"
Memang,
menyebut dirinya sendiri "Non-chan" terasa kurang selaras dengan nada
bicaranya yang dewasa.
Tapi,
menurutku ada alasannya.
"Bukankah
orang yang menyegel Non-chan sudah menyadari kemungkinan dia akan kehilangan
ingatan?"
"Apa maksud Anda, Tuan Kuruto?"
"Ingatan yang hilang dari Non-chan hanya ingatan
tentang kenangan, dia sama sekali tidak lupa kata-kata yang digunakan
sehari-hari. Itu karena ingatan kenangan dan ingatan pengetahuan disimpan di
tempat yang berbeda dalam otak. Jadi, menurutku kaum kuno yang menyegel
Non-chan sengaja tidak mengajarkan kata ganti 'Aku', melainkan melatihnya untuk
menyebut dirinya 'Non-chan' agar dia tidak melupakan namanya sendiri."
"Begitu ya. Dengan begitu, setidaknya dia tidak akan
lupa namanya sendiri."
Yurishia-san terdiam setelah mengatakan itu.
Pasti dia memikirkan hal yang sama denganku.
Kaum kuno yang sampai melakukan hal itu agar dia
setidaknya ingat namanya sendiri... pelakunya pasti orang tua Non-chan.
Kira-kira apa alasan dan bagaimana perasaan orang tua
Non-chan saat menyegelnya?
"Bagaimana menurut Anda, Tuan Kuruto? Dia sepertinya
sangat akrab dengan Akuri. Apa kita jadikan dia anak angkat kita berdua
juga?"
"Maksudmu kita bertiga, kan? Yah, karena masih ada
Beastman dan Elf yang masih tersegel, kita bicarakan itu setelah segel mereka
dilepaskan."
"Benar juga. Sebelum itu, kita harus melakukan
sesuatu tentang penghalang ini. Ah, aku membuat sesuatu bernama Mitarashi
Dango, apa kalian mau coba?"
Itu dango dengan siraman saus cokelat yang terbuat dari
kecap asin dan gula. Aku juga belajar cara membuatnya dari Danzo-san.
Ngomong-ngomong, kecap asin (shoyu) adalah bumbu
yang terbuat dari kedelai, dan Loretta-sama merasa senang karena sepertinya
cocok dengan ikan laut.
"Selamat makan."
"Aku mau juga."
"Akuri juga mau makan!"
"Akuri-sama, tolong habiskan dulu dango yang ada di
tangan Anda."
Karena ditegur Non-chan, Akuri buru-buru memakan
dango-nya.
"Makan pelan-pelan, Akuri. Sini, mendekatlah."
Aku berkata begitu sambil memasangkan serbet pada Akuri.
Dengan begini, bajunya tidak akan kotor meski saus Mitarashi Dango
menetes.
"Papa, buat Non-chan mana?"
"Eh? Ah, aku cuma punya satu. Tapi ada yang ini,
tadinya mau kuberikan pada Bandana-san."
Aku mengeluarkan sebuah bandana merah.
Bandana yang dipakai Bandana-san sudah sangat kumal, jadi
aku menyiapkan cadangan untuknya, tapi dia sudah pergi entah ke mana sebelum
aku sempat memberikannya.
"Pasangkan ini buat Non-chan!"
"Terima kasih banyak, Akuri-sama—gueh."
"Akuri, lehernya tercekik! Leher Non-chan
tercekik!"
Aku segera melepas bandana dari Non-chan yang
mengeluarkan suara mengerikan tadi, lalu merawatnya. Untungnya dia baik-baik
saja.
"Fufufu, kado dari Akuri-sama."
Yah, karena Non-chan tampak senang melihat bandana yang
dia dapatkan, mungkin... tidak apa-apa ya?
Kecuali bagi mereka yang sedang berpatroli, menjaga
keamanan, atau bekerja, hari ini terasa seperti pesta pora.
Tadi, seorang prajurit yang sedang berpatroli bahkan
sempat menggerutu, "Sial, kenapa aku harus dapat giliran tugas di hari
seperti ini... nasib buruk." Sepertinya semua orang benar-benar menikmati
acaranya.
Baik Tsukimi Dango maupun Mitarashi Dango
mendapat sambutan hangat.
Hanya saja, sebagian besar orang dewasa sepertinya lebih
senang dengan sakenya daripada dango-nya.
Kalau tidak salah, di negara Danzo-san ini disebut Tsukimizake,
tapi aku tidak tahu itu benar atau tidak.
Di saat-saat seperti ini, Danzo-san malah sedang menjaga
bengkel di rumah.
Lalu, setelah aku menitipkan Akuri pada Yurishia-san dan Lise-san,
aku memutuskan untuk mengantarkan dango pada orang itu.
Saat aku menaiki menara pantau yang kubuat di sudut kota,
dia sedang berjaga sendirian.
"Yuna-san."
"Kuruto,
ya…… hebat juga kau bisa memanjat tangga dengan barang bawaan sebanyak
itu."
Yuna-san
menatap tas besar di punggungku dengan wajah sedikit heran.
"Ini, aku bawakan dango dan teh."
"Aku tidak makan pun tidak masalah, lho."
"Meski tidak butuh nutrisi, fungsi indra
perasamu kan masih ada, jadi tolong dimakan. Ah, atau lebih suka minuman
keras?"
"Jangan. Aku tidak bisa bekerja kalau mabuk,
jadi teh lebih baik. Yah, dengan tubuh ini mungkin aku tidak akan mabuk meski
minum alkohol, sih."
Yuna-san berkata begitu lalu meminum teh di
cangkirnya.
"Haa……
hangat ya."
"Karena angin di atas menara ini kencang."
"Bukan begitu. Aku tahu ini hangat, tapi tubuh ini
tidak benci dingin. Mungkin diminum dingin pun tetap enak."
"Ah, benar juga."
Setelah itu, Yuna-san memakan dango-nya. Dia bergumam pelan "enak," dan ekspresinya melembut.
Sepertinya rasa dango itu cocok di lidahnya.
Saat mengambil dango berikutnya, Yuna-san tampak
heran.
"Apa ini? Laba-laba berkaki empat?"
"Katanya itu namanya Gobolin."
"Gobolin? Memangnya ada dango dengan nama seperti
itu?"
"Akuri yang membuatnya. Katanya khusus untuk
Yuna-san."
"Untukku?"
Tadi saat Akuri merebus Gobolin agar bisa dimakan, aku
bertanya padanya.
"Akuri, Gobolin-nya cuma satu, mau dikasih ke siapa?
Atau mau dimakan sendiri?"
Di dalam hati, aku punya pertanyaan yang agak licik,
berharap dia bilang "Mau dikasih ke Papa."
Sepertinya bukan cuma aku yang berharap begitu, Non-chan
juga menatap Akuri dengan tajam.
Namun—
"……Papa, ini, mau dikasih ke Yuna…… ma."
"Eh?"
"Mau minta maaf."
Akuri ternyata terus memikirkannya.
Saat pertama kali bertemu Yuna-san, dia terkejut karena
Yuna-san memiliki hawa yang sama dengan Yurishia-san namun merupakan orang yang
berbeda, sehingga dia menjauhinya.
Akuri terus merasa bersalah karena mengira telah membuat
Yuna-san marah dan ingin minta maaf.
Sebutan "Yuna... ma" itu mungkin karena dia
ragu memanggil "Mama," namun tetap berusaha keras untuk memanggilnya.
Tapi Yuna-san justru menjauhi Akuri karena berpikir
kehadirannya hanya akan membuat Akuri bingung.
Dua orang yang terus berpapasan ini akhirnya berakhir
hari ini.
"Akuri, keluarlah."
Begitu aku berkata demikian, beban di punggungku
terasa ringan, dan Akuri melakukan teleportasi tepat di depanku.
"Akuri……"
"Yuna……
ma…… minta maaf."
"Ah, aku tidak marah, kok. Meski agak
sedikit kesepian. Lalu, kau mau memanggilku Mama? Jangan dipaksakan kalau
memang tidak bisa. Daripada itu, mau makan Gobolin ini berdua?"
"Iya!"
Akuri mengangguk dengan senyum lebar, lalu duduk di
pangkuan Yuna-san, dan mereka berdua mulai berbagi Gobolin.
Malam itu bulannya sangat cantik, dan aku berharap
hari-hari seperti ini bisa terus berlanjut.
Kalau aku bilang begitu, mungkin komandan prajurit yang
kutemui siang tadi akan marah ya.
—Namun, Tuhan tidak mengabulkan permintaanku itu.
Keesokan
harinya, Golnova-san datang membawa kabar tersebut.
"Slime hitam……?"
"Ya, saat aku sedang patroli, monster seperti
slime hitam muncul. Tapi aku segera tahu itu bukan slime. Tanaman yang disentuh
monster hitam itu langsung meleleh. Ksatria yang bersamaku mencoba menebasnya
dengan pedang, tapi pedangnya juga ikut meleleh."
"Lalu, apa yang terjadi?"
"Apa lagi? Aku
bakar habis dengan pedangku. Pedangku kan beda kelas dengan barang murahan yang
dipakai ksatria biasa. Tapi, saat monster itu kukira sudah mati, seluruh
tubuhnya mencair seperti cairan, meresap ke tanah dan menodai tanah menjadi
hitam. Kupikir itu
hawa jahat…… tapi rasanya bukan monster yang lahir dari hawa jahat, melainkan
hawa jahat itu sendiri yang menjadi monster."
"Sepertinya
dugaanmu benar. Fakta bahwa lokasinya di dekat gua reruntuhan juga
mengkhawatirkan. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi, langkah
memindahkan Dungeon Core untuk membangun kota adalah keputusan yang
tepat."
Mimiko-san mengangguk, lalu mulai menyusun unit untuk
menyelidiki area sekitar gua.
Golnova-san, sebagai penemu slime hitam itu, diputuskan
menjadi orang pertama yang ikut.
Dari kalangan ksatria, karena Jenderal Alraid bertugas
melindungi kota ini, maka Jenderal Sunova dan anak buahnya yang akan berangkat.
Selain itu, Mimiko-san ikut untuk penyelidikan, dan
karena tidak bisa menyerahkan semuanya pada pihak Kerajaan Homuros, Yurishia-san,
Solflare-san, serta ksatria dari Kekaisaran Gurumaku juga akan dikirim.
Lalu, Beast King-sama pun entah kenapa bersikeras ingin
ikut meski beliau seorang raja.
Sepertinya
beliau ingin mencoba pedang hasil tempaanku.
Sebenarnya
aku pun ingin ikut, namun jika monster hitam itu mendekat, aku harus membawa
para pemimpin negara ke kapal terbang dan mengungsi ke langit.
Jadi aku diperintahkan untuk menyiapkan logistik dan
makanan di kapal.
Katanya ini pun tugas yang sangat penting.
Memang benar, jika aku ikut pun aku hanya akan menjadi
beban, jadi apa boleh buat.
Untungnya stok gabah yang belum disosap masih banyak.
Pasti awet lama. Karena nasi saja tidak cukup nutrisi,
aku juga akan memuat buah-buahan awet dan daging kering.
Untuk urusan Akuri, aku menitipkannya pada Shina-san
bersama Non-chan.
"Bukan
cuma Akuri-chan, tapi Non-chan juga…… sebenarnya aku ini petualang atau petugas
penitipan anak, sih?"
Meskipun
dia terus mengeluh, dia tetap mengasuh mereka dengan baik. Menurutku, dia
benar-benar sosok kakak perempuan yang hebat.
"Tuan
Kuruto, apakah tidak ada cara untuk menghancurkan penghalang ini? Misalnya, dengan menabrakkan kapal terbang ini?"
"Serangan fisik tidak akan mempan pada
penghalang itu, kan... Benar
begitu, Kuruto?"
Menanggapi
ucapan Bonball-san, Yurishia-san pun bertanya padaku.
Memang
benar, penghalang ini tidak cukup lemah untuk dihancurkan hanya dengan
membenturkan benda raksasa padanya.
"Tapi,
saat kapal terbang hancur, kekuatan sihir di dalamnya akan meledak hebat. Kekuatannya
setara dengan dua ribu kali lipat senjata sihir biasa. Aku tidak tahu soal
serangan fisik, tapi jika itu serangan sihir—"
"Maafkan aku, Tuan Bonball. Meski begitu,
penghalang ini tetap tidak akan hancur."
Aku memberikan penjelasan.
Memang benar kapal terbang ini memuat Magic
Crystal dalam jumlah besar, terutama elemen angin dan api.
Jika semuanya dihancurkan—tidak, meski tidak
dihancurkan pun, hanya dengan menggunakan energi sihirnya saja sudah akan
menghasilkan daya hancur yang luar biasa.
Namun, itu hanyalah energi sihir tanpa arah yang
jelas. Bahkan jika diberi arah sekalipun, penghalang itu tidak akan tembus.
Itu adalah penghalang buatan kaum kuno yang dirancang
untuk mengurung monster tabu, tidak peduli metode apa pun yang digunakan dunia
luar untuk mencoba menghancurkannya.
Kemungkinan besar, penghalang itu hanya akan lenyap
saat tugasnya selesai.
Atau, saat Raja Iblis yang mengaktifkan penghalang
ini berhasil dikalahkan.
"Jadi
benar begitu ya... Haa, kenapa bisa jadi begini."
Atelier Meister Bonball tampak seolah akan pingsan
kapan saja karena kelelahan.
"Anu, jika Anda merasa lelah, silakan minum obat
penguat ini. Ini bisa membangkitkan stamina."
"Tidak, terima kasih atas niat baiknya. Berkat
minuman bernama kopi yang diberikan oleh Kepala Suku Torshen, rasa kantukku
sudah hilang. Akan kubagikan sedikit untuk Tuan Kuruto juga. Rasanya jauh lebih
pahit daripada yang beredar di Kerajaan Homuros, tapi benar-benar ampuh
mengusir kantuk."
Sembari menerima biji kopi itu, aku membatin bahwa Atelier
Meister Bonball sepertinya sudah mencapai batasnya.
Bukan hanya dia, semua orang yang sampai kemarin terlihat
bersemangat di permukaan pun, sepertinya mulai kehilangan ketenangan mereka
akibat kemunculan monster misterius itu.
Kuharap, Yurishia-san bisa mengalahkan monster
misterius itu dan pulang dengan selamat.
Aku melepas keberangkatan kelompok Yurishia-san
dengan doa seperti itu di dalam hati.
Entah karena doaku yang kurang tepat atau bagaimana, Yurishia-san
memang kembali tanpa luka sedikit pun, namun banyak anggota kelompoknya yang
terluka parah.
Katanya, sebuah lorong asing muncul di kedalaman gua,
dan dari sanalah muncul monster hitam seperti yang dilaporkan oleh Golnova-san.
Dan benar saja, pedang biasa sama sekali tidak mempan
terhadap monster hitam itu.
Pedang api milik Golnova-san, Sekka milik Yurishia-san,
serta pedang besar milik Beast King-sama dikabarkan aman, namun senjata yang
lain sama sekali tidak berguna.
Lalu,
Mimiko-san datang bertanya padaku.
"Kuruto-chan, aku ingin memastikan sesuatu. Apa ada
jalan rahasia di dalam gua itu?"
"Tidak, pintu rahasia hanya ada satu di bagian
terdalam Taman Noah. Di dalam gua sendiri tidak ada."
"Kalau begitu, berarti itu lorong yang baru saja
dibuat."
"Apakah Raja Iblis menggalinya dengan beliung?"
Jika punya waktu seminggu, dia mungkin bisa membuat
lorong sepanjang ratusan kilometer.
"Raja
Iblis pakai beliung? Pemandangan itu terlalu surealis... Mungkin dia
menggunakan Dungeon Core."
Yurishia-san
mengutarakan dugaannya.
Ah,
benar juga. Meski semua Dungeon Core sudah dikumpulkan oleh Mimiko-san,
pabriknya masih tetap beroperasi.
Mungkin
Raja Iblis meningkatkan kecepatan produksi pabrik, lalu menggunakan Dungeon
Core yang baru jadi untuk menciptakan dungeon.
Keputusanku
untuk membatasi penjagaan hanya di luar reruntuhan—karena di dalam gua terlalu
banyak benda yang berbahaya jika disalahgunakan—malah menjadi bumerang.
"Tapi,
Yurishia-san dan Golnova-san bisa mengalahkan monster hitam itu, kan? Lalu
kenapa korbannya bisa sebanyak ini?"
"Kami
memang bisa mengalahkannya. Seperti yang dikatakan Golnova, monster hitam
itu—kami memutuskan untuk menyebutnya Darkness—akan berubah menjadi
cairan hitam saat dikalahkan. Cairan itu adalah gumpalan mana pekat yang
langsung berubah menjadi hawa jahat di udara. Jika manusia menghirupnya,
akibatnya akan fatal. Aku, Golnova, dan Mimiko selamat karena meminum obat
pertolongan pertama buatan Kuruto untuk membuang mana dari dalam
tubuh—ah, Kuruto, nanti tolong buatkan tambahan obatnya, ya."
"Baiklah.
Untuk sementara, karena aku punya stok sebanyak ini, tolong berikan pada mereka
yang tumbang."
Aku
menyerahkan semua stok obat pertolongan pertama yang kubawa kepada seorang
pelayan di dekatku.
Dia adalah pelayan yang kumintai tanda tangan kemarin.
"Baik! Ini perintah dari Kurumi-chan! Akan
kupastikan obat ini sampai ke semua orang!"
Dia berangkat dengan penuh semangat untuk mengantarkan
obat-obatan itu.
"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan Beast King-sama
dan Solflare? Bukankah ras iblis bisa mengubah mana menjadi energi sihir
sehingga mereka seharusnya aman?"
"Katanya mereka kena mabuk sihir—energi sihir di
dalam tubuh mereka bertambah terlalu banyak sampai membuat mereka mabuk.
Solflare masih cukup bertahan, tapi Beast King langsung tumbang."
"Gejalanya sama seperti saat seorang penyihir
meminum Mana Potions melebihi dosis yang diperlukan. Aku sempat berpikir
kemampuan ras iblis menyerap mana itu sangat praktis, tapi ternyata ada
efek samping yang tak terduga, ya."
Mimiko-san menghela napas.
Begitu ya. Sama seperti obat yang bisa menjadi racun jika
berlebihan, energi sihir pun tidak boleh terlalu banyak.
Mungkin alasan kaum kuno tidak bisa menang melawan
monster tabu meski menggunakan organ penyerap mana adalah karena efek
samping seperti itu.
Jika tidak mengubah mana menjadi energi sihir,
tubuh akan menyerap terlalu banyak mana dan mati.
Namun meski diubah menjadi energi sihir, jika tidak terus
dikeluarkan, mereka akan tumbang karena kelebihan energi sihir.
Untuk mengeluarkan energi sihir yang menumpuk, mereka
harus merapal sihir.
Semakin dekat mereka dengan monster tabu, konsentrasi mana
akan semakin pekat.
Mana yang terserap akan berubah menjadi
energi sihir lebih cepat daripada yang bisa dikeluarkan, hingga akhirnya tubuh
tidak sanggup lagi memprosesnya.
Benar-benar efek samping yang tak terduga.
"Raja Iblis pasti ada di bagian terdalam dungeon
itu, kan?"
"Kemungkinannya sangat tinggi. Karena jumlah Darkness
terus bertambah, kita harus segera menyerbu masuk lagi setelah persiapan
selesai. Tapi, apa ada cara yang bagus?"
"Kuruto, apa kau bisa membuat masker gas seperti
sebelumnya—ah, itu mustahil ya?"
"Karena mana tidak hanya diserap melalui
mulut dan hidung, tapi juga melalui kulit dan rambut, melindungi hidung dan
mulut saja tidak akan ada gunanya."
"Begitu ya……"
Mendengar jawabanku, wajah Yurishia-san tampak berpikir
keras... Ah, benar juga.
"Tapi, mungkin aku bisa membuat pusaka sihir yang
bisa mengusir mana yang sudah masuk ke dalam tubuh."
"Benarkah!? Kuruto-chan!"
"Iya, aku akan mencoba membuatnya."
Andai ada Ophilia-sama, beliau pasti bisa membuat pusaka
sihir dengan mudah. Tapi saat ini, hanya aku satu-satunya orang yang bisa
membuatnya.
Aku harus berusaha keras.
"Baiklah, Kuruto. Serahkan bagian itu padamu."
"Iya. Yurishia-san sendiri tolong istirahatlah
dengan tenang."
"Tidak bisa begitu. Aku harus pergi menanyakan
kemungkinan yang satu lagi."
Kemungkinan yang satu lagi? Lalu, dia mau bertanya kepada
siapa?
Mungkinkah... menebas mana dengan Sekka?
Tidak, itu mustahil, kan.
◆◇◆
"Begitu ya, jadi Anda datang menemuiku, de
arimasu ka."
Aku—Yurishia—datang menemui Kak Loretta.
"Ya, karena kupikir Kakak mungkin tahu
sesuatu."
Di Pulau Paos, tersegel kaki kanan dari Rakuga Kinki—sang
Monster Tabu. Konon, leluhur kami yang merupakan seorang War Maiden,
yang menyegelnya di sana.
Lalu Kak Loretta telah mewarisi teknik untuk menyegel
kekuatan itu apabila kaki kanan sang Monster Tabu bangkit kembali. Jika itu Kak
Loretta, mungkin saja dia tahu cara untuk bergerak bebas di dalam Mana
Miasma.
"Begitu ya—cara untuk bergerak di dalam Mana
Miasma, de arimasu ka. Yurishia, kamu masih ingat apa itu War
Maiden, kan?"
"Tentu saja. Prajurit yang bertarung dengan
menyemayamkan roh suci dalam tubuhnya, kan?"
"Benar sekali. Dengan menyemayamkan roh suci,
seseorang bisa bergerak bebas bahkan di dalam Mana Miasma."
"Manusia biasa tidak akan tahan, tapi roh suci
memiliki kekuatan untuk melindungi manusia dari hawa tersebut."
"Sudah kuduga. Lalu, bagaimana cara agar bisa
menyemayamkan roh suci ke dalam tubuh?"
"…………"
Kak Loretta tertunduk dalam keheningan.
"Aku tidak tahu caranya, de arimasu yo."
"Tidak tahu? Apa kemampuannya menghilang, atau
memang tidak diwariskan?"
"Begitulah. Aku tidak tahu sejak kapan, tapi—"
Sambil berkata demikian, Kak Loretta mengeluarkan sebuah
permata dari balik dadanya. Aku pernah melihatnya sekali saat masih kecil.
Spirit Stone—permata yang konon menjadi tempat
bersemayam roh pedang, dan juga—
"Bukankah itu pusaka keluarga Element! Yang
diwariskan turun-temurun oleh penguasa Pulau Isisema!"
"Karena aku adalah penguasa pulau, sudah sewajarnya
aku memilikinya, de arimasu yo."
"Bukan itu, masalahnya kenapa pusaka keluarga
dibawa-mempunyai ke mana-mana—"
"Karena berada di tanganku adalah tempat yang
paling aman, de arimasu."
Aman apanya... bagaimana kalau tidak sengaja jatuh, coba.
"Aku akan menitipkan ini pada Yurishia. Konon War
Maiden menggunakan Spirit Stone ini untuk menyemayamkan roh ke tubuh
mereka."
"Tapi benda ini tidak pernah bisa kukendalikan
hingga hari ini—mungkin saja, jika itu Yurishia—"
"Boleh aku membawanya? Benda sepenting ini?"
"Berjanjilah untuk pasti mengembalikannya, itu saja
sudah cukup, de arimasu yo."
Kak Loretta, apakah kamu menyadari apa yang akan
kulakukan sekarang? Justru karena kamu tahu, kamu memintaku berjanji untuk
kembali hidup-hidup.
Pasti, permata ini mengandung perasaan semacam itu.
"Terima kasih, Kak."
Pada akhirnya, dugaanku berakhir sia-sia, dan sepertinya
kali ini pun aku harus mengandalkan Kuruto. Tapi, alasan bagiku untuk tidak
boleh kalah kini bertambah satu.
Aku harus memastikan diriku tetap hidup untuk
mengembalikan benda ini.
Sore harinya, Mimiko telah selesai menyiapkan pasukan
bentukan.
Sejauh ini, yang bisa beraksi tanpa peralatan sihir dari Kuruto
hanyalah Golem Yuna dan Hildegard.
Hildegard telah mengumpulkan energi sihir selama seribu
dua ratus tahun, sehingga kapasitas energinya sangat besar dan dia sangat mahir
mengendalikannya.
Katanya, dia bisa memproses energi sihir yang masuk ke
tubuh sebelum terkena Mana Intoxication.
Dia sudah bersiap di depan gua, berjaga agar kegelapan
tidak meluap keluar. Sisanya, anggota tim penyerbu akan ditentukan berdasarkan
jumlah peralatan sihir buatan Kuruto.
Tepat saat aku berpikir demikian, Kuruto datang membawa
banyak gelang dan pedang. Namun, wajahnya tampak pucat.
"Kuruto-chan, apakah gelang ini yang bisa membuang Mana
Miasma dari tubuh? Atau justru pedangnya?"
"Ini hanya pedang Mithril biasa. Gelang
inilah pusaka sihir yang akan mengirimkan Mana Miasma yang masuk ke
tubuh ke bagian permata di gelang ini."
"Pedang Mithril, ya. Memang kalau Mithril,
tidak akan meleleh meski menebas kegelapan."
"Sepertinya ada dua jenis gelang, apa
perbedaannya?"
Dari gelang-gelang yang dibawa Kuruto, tiga di antaranya
memiliki bola putih, sedangkan sisanya tertanam sesuatu seperti permata
kekuningan.
"Perbedaannya ada pada jumlah Mana Miasma
yang bisa ditampung."
"Bahannya menggunakan pecahan Dungeon Core
kosong yang dibawa Mimiko-san dari pabrik, dan kristal sihir yang menyegel
Non-chan."
"Gelang dari Dungeon Core ini memiliki
kapasitas sekitar 70.000 MS."
"Sedangkan gelang kristal sihir kecil ini
berkapasitas sekitar 3.000 MS."
"Apa itu MS?"
"1 MS adalah ambang batas maksimal
seorang manusia bisa menoleransi Mana Miasma yang masuk ke
tubuhnya."
"Artinya, meski hanya gelang yang lemah ini, kita
bisa menahan Mana Miasma tiga ribu kali lipat manusia biasa? Kalau
begitu—"
"Belum bisa dikatakan sempurna."
Aku baru saja hendak bilang itu bisa digunakan, tapi
Mimiko menyela telak.
"Saat penyelidikan awal, hanya dengan
mengalahkan beberapa monster kegelapan, banyak orang yang tumbang. Padahal kita
bahkan belum menginjakkan kaki di mulut dungeon."
"Kita tidak tahu ada berapa banyak kegelapan di
dalam sana. Semakin banyak kita membantainya, Mana Miasma akan
semakin pekat."
"Kepekatan Mana Miasma juga memiliki batasnya
sendiri."
"Saat hawa itu memenuhi udara hingga titik jenuh,
waktu bertahan kita paling lama hanya tiga puluh menit."
Kuruto mengangguk setuju sambil memberikan jawaban
itu.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita bawa lebih
banyak Dungeon Core kosong? Di pabrik kan ada banyak."
Mendengar usul brilianku, Kuruto malah menggelengkan
kepala.
"Pabrik itu berada tepat di samping dungeon
dan sudah terkontaminasi oleh Mana Miasma yang bocor keluar."
"Untuk menggunakan Dungeon Core kosong
yang sudah tercemar sebagai bahan, setidaknya butuh waktu satu bulan untuk
memurnikan hawa jahat di dalamnya."
Kupikir itu ide yang bagus, tapi ternyata tidak bisa.
"Bagaimana kalau memakai banyak gelang
sekaligus? Kalau pakai dua, apa bisa bertahan selama satu jam?"
"Tidak, kristal sihir pada gelang memiliki efek
menarik Mana Miasma dalam tubuh."
"Jika memakai dua gelang atau lebih, kekuatan
penariknya akan terpecah sehingga hawa jahat tidak bisa dibuang sempurna."
"Jika kristal sihirnya diperbesar lagi, ada risiko
hawa jahat yang tertampung justru mengalir balik ke tubuh. Jadi, ini adalah
batas maksimalnya."
Sebagai tambahan, meskipun gelang dibawa tanpa dipakai,
benda itu tetap akan menyerap Mana Miasma di udara secara otomatis.
Jadi, metode mengganti dengan gelang baru di lokasi
pun tidak bisa dilakukan.
Tunggu, apa itu artinya Kuruto menentukan nilai optimal
gelang penyerap ini tanpa melakukan eksperimen sama sekali? Benar-benar jenius
yang tidak masuk akal.
Setelah mendengar semua penjelasan, Mimiko memandangi
wajah semua orang.
"Singkatnya, tiga orang utama penyerbu akan memakai
gelang dari Dungeon Core."
"Jenderal Sunnova dan sisanya akan memakai gelang
kristal sihir sebagai pembuka jalan, lalu membantu hingga batas waktu
terakhir—setuju?"
"Aku mengerti."
Jenderal Sunnova mengangguk mantap.
"Kalau begitu, aku akan memakai satu."
Aku mengatakan itu sambil memasangkan gelang Dungeon
Core di lengan kiriku.
"Yah, kalau Yurishia-chan pasti akan baik-baik saja.
Lalu—"
"Anu, bolehkah saya juga memakai satu?"
"Kuruto-chan juga? Tapi—"
"Ada sesuatu yang ingin kucoba. Untuk itu aku butuh
gelang ini—tenang saja, aku tidak akan melakukan hal berbahaya."
Mimiko tampak berpikir keras mendengar perkataan Kuruto.
Namun, pada akhirnya dia menerima usulan itu.
Bagaimanapun, situasi kita saat ini memang sudah sangat
terdesak. Hal yang ingin dicoba Kuruto—mungkin saja itu akan menjadi kartu as
untuk membalikkan keadaan.
"Kalau begitu, yang terakhir adalah—"
"Tentu saja aku!"
Tiba-tiba saja Lise muncul entah dari mana. Sialan, dia
pasti bersembunyi menggunakan Butterfly Concealment.
"Jika Kuruto-sama pergi, maka aku—"
"Tidak boleh, Lise-sama. Sisanya akan
kugunakan."
Mimiko berkata demikian sambil mengambil gelang itu
lebih cepat daripada Lise.
"Kenapa begitu!"
"Sudah jelas, kan? Sadarilah posisimu!"
Aku membentak Lise sambil melayangkan hantaman tangan ke
ubun-ubunnya.
Pada saat itu, aku merasa aura haus darah memancar dari
para ksatria Kerajaan Homuros.
Gawat, sepertinya yang tidak sadar posisi itu justru aku,
karena terbawa suasana seperti biasanya.
Namun, para ksatria di sekitar sepertinya setuju bahwa
Lise tidak boleh dibiarkan masuk ke dungeon.
"Itu benar. Lise-san bisa menggunakan sihir Long
Sense."
"Jika terjadi sesuatu di reruntuhan, kamu bisa
menyadarinya paling cepat dan mengevakuasi semua orang."
"……Jika Kuruto-sama berkata demikian—aku akan
menunggu kepulanganmu bersama Akuri."
Lise menjawab dengan patuh, meskipun sebenarnya dia pasti
merasa sangat bimbang.
"Kuruto-sama, pastikan Anda kembali dengan selamat,
ya."
Lise mengatakan itu kepada Kuruto, lalu—
Lise mencium bibir Kuruto.
““““————!!””””
Teriakan tanpa suara membuncah dari aku dan para ksatria
di sekitar.
"Kurumi-chan telah dinodai!"
Di belakang, pelayan yang sedang menyiapkan minuman
menjeritkan teriakan yang seharusnya tidak boleh diucapkan, tapi sebaiknya
abaikan saja.
"Li……
Lise-san?"
"Kuruto-sama, aku akan menunggu Anda. Pastikan Anda
kembali hidup-hidup."
Rasanya aku ingin menghantamkan tangan sekali lagi ke
kepala Lise, tapi aku mengurungkan niat itu. Mungkin ciuman Lise memiliki arti
yang sama dengan Spirit Stone yang diberikan Kak Loretta padaku.
Semacam jimat agar dia kembali dengan selamat—begitu
memikirkannya, amarahku pun mereda. Lise memeluk Kuruto sekali, lalu keluar
ruangan tanpa berkata apa-apa lagi.
Sambil menyeret Kuruto yang masih bengong—
"Woi, kenapa kamu malah membawa Kuruto pergi!
Katanya mau menunggu!"
Aku melompat keluar ruangan dan menahan Lise.
"Tidak, setelah mencium dan memeluknya, aku jadi
merasa bergairah. Kupikir lebih baik kami ke tempat tidur saja sebelum
berangkat. Tidak ada maksud lain."
"Lise! Pikirkan waktu, tempat, situasi, posisi, dan
orang-orang di sekitarmu sebelum bertindak! Kuruto, kamu juga harus melawan
sedikit!"
Aku berteriak sekuat tenaga. Lise memang tetaplah
Lise dalam kondisi apa pun.
Hildegard
dan Yuna sudah menunggu di depan gua.
Tanah
di depan gua tampak menghitam, menandakan baru saja terjadi pertempuran melawan
kegelapan yang meluap.
Rasanya udara di sini sedikit terasa pengap.
"Sepertinya persiapan sudah selesai."
"Kuruto juga datang? Hmm? Kenapa wajahmu sedikit
merah?"
Yuna yang tidak tahu apa-apa bertanya dengan polosnya.
"Tidak, bukan apa-apa."
"Begitu ya, syukurlah. Seperti yang kamu lihat,
kegelapan mulai muncul. Ada dua belas ekor."
"Aku sudah membakarnya dengan sihirku, tapi
jumlahnya terus bertambah. Begitu juga jumlah Mana Miasma-nya. Mungkin
hawa jahat mereka semakin pekat."
"Itu artinya sang Raja Iblis sedang mengumpulkan
kekuatan. Kita tidak punya banyak waktu."
Aku berkata demikian sambil menghunus Yukihana. Bahkan di
tempat yang penuh aura jahat ini, bilah pedang yang putih murni itu tidak
berubah sedikit pun.
Benar-benar pedang yang luar biasa.
"Kalau begitu, Mimiko-sama. Kami akan masuk ke
labirin terlebih dahulu."
"Mohon Anda sekalian mengikuti dari belakang untuk
menghemat tenaga."
Salah satu ksatria berkata kepada Mimiko.
"Ya, aku mengerti. Tolong berhati-hatilah—"
"Baik. Jika permata di gelang sudah menjadi
abu-abu pekat, kami akan segera mundur."
Warna permata itu menunjukkan seberapa banyak Mana
Miasma yang sudah terserap. Kuruto sudah menanamkan ke otak kami tentang
warna apa yang menandakan bahaya.
"Lalu, apa yang akan dilakukan Baron Lockhans di
sini?"
Jenderal
Sunnova yang bertanya.
"Saya
berencana pergi ke arah pabrik."
"Ke
pabrik? Tapi bukankah Dungeon Core di sana tidak bisa digunakan?"
"Tidak,
benda itu memang tidak bisa dipakai untuk gelang, tapi sepertinya ada kegunaan
lain."
Pasti itu hal yang ingin dicoba oleh Kuruto. Tapi,
membiarkan Kuruto pergi sendirian ke pabrik itu sangat berbahaya.
Aku ingin ikut sebagai pengawal, tapi sebagai kekuatan
tempur utama, aku tidak bisa meninggalkan tim.
"Aku yang akan menemaninya. Anak buahku bukan
pengecut yang akan kehilangan kendali hanya karena komandannya tidak ada."
"Penyihir Istana Tingkat Ketiga Mimiko, apa kamu
keberatan?"
Jenderal Sunnova menawarkan diri.
"Baiklah, aku percayakan padamu, Jenderal
Sunnova."
"Ah, aku juga tidak mau mengambil risiko yang
terlalu berbahaya."
Astaga, meskipun sama-sama Jenderal, dia benar-benar
berbeda dengan Jenderal Alraid. Mengingat dia asalnya dari dunia bawah, itu
bisa dimaklumi.
Mengkhawatirkan memang menitipkan Kuruto pada orang
seperti dia, tapi kemampuannya tidak perlu diragukan.
"Jangan sampai ada satu luka pun pada Kuruto,
ya."
"Aku tidak bisa menjamin seratus persen, tapi aku
akan berusaha semampuku."
Jenderal Sunnova memberikan seringai tipis yang sok
keren.
"Aku benar-benar tidak bisa memercayai orang
itu."
Yuna bergumam pelan... benar-benar satu jiwa
denganku. Pendapat kami sama persis.
Setelah berpisah dengan Kuruto di depan pintu masuk
reruntuhan, kami bergerak menuju dungeon.
Begitu masuk, kupikir hanya akan ada kegelapan
berbentuk slime, ternyata ada juga yang berbentuk goblin.
Hebatnya lagi, mereka memegang bongkahan kegelapan
berbentuk batang kayu. Namun, kekuatannya tidak seberapa, mereka dengan mudah
dikalahkan oleh para ksatria yang memegang pedang Mithril.
"Pedang yang luar biasa. Tidak hanya kuat
menebas kegelapan."
"Ya, rasanya sangat pas di tangan, seperti pedang
yang sudah lama digunakan."
"Apa pedang ini boleh kubeli?"
Para ksatria takjub dengan kehebatan pedang itu. Jika
dijual, kira-kira berapa harga tinggi yang bisa dipasang? Jika laku, tabungan Kuruto
pasti akan bertambah lagi.
Sambil memikirkan hal konyol itu, pedang para ksatria
terus mengembalikan monster-monster kegelapan menjadi Mana Miasma. A
kibatnya, konsentrasi hawa jahat di ruangan semakin
pekat, dan waktu kami pun semakin menipis.
Tapi jika tidak dikalahkan, monster yang lolos mungkin
akan menyerang Kuruto.
Yah, dalam kepekatan seperti ini, membunuh atau tidak
sepertinya tidak akan membuat hawa jahatnya jadi lebih buruk lagi.
Biasanya dungeon identik dengan ruang bawah tanah,
tapi tempat ini terasa terus menanjak ke atas.
Di tengah jalan, monster kegelapan yang kuat sempat
muncul, tapi Hildegard langsung membantainya menggunakan serangan energi sihir
yang ia lepaskan.
"……Dilihat dari atmosfernya, kurasa di depan sana
adalah ruang bos."
Setelah menaiki lantai yang cukup tinggi, kami menemukan
pintu dengan aura yang berat.
"Benar-benar petualang yang bernaung langsung di
bawah keluarga kerajaan ya. Sudah terbiasa menaklukkan dungeon."
"Jangan mengejekku. Bagaimana dengan permata di
gelang kalian? Bukankah sudah mulai gawat?"
Di dalam sini kami kehilangan rasa akan waktu, tapi
seharusnya sudah cukup lama sejak Mana Miasma mencapai konsentrasi
maksimal. Saat aku menoleh, para ksatria menunjukkan permata mereka.
"—!! Kalian, itu—"
Sebagian besar gelang para ksatria sudah menghitam. Itu
artinya waktu mereka sisa lima menit lagi. Yang benar saja!
"Kalian—gelang itu."
"Mimiko-sama, saya dengar Raja Iblis sedang menguji
apakah kita punya kekuatan untuk melindungi dunia."
"Di saat seperti ini, ksatria yang melindungi negara
tidak boleh kalah dan lari hanya karena Mana Miasma semacam ini."
"Kami akan bertarung sampai akhir dan memperlihatkan
kekuatan manusia kepada Raja Iblis."
"Lagi pula, kalau kembali sekarang pun, waktu kita
tetap akan habis di jalan."
Benar-benar orang-orang bodoh. Mereka bukan tipe
orang yang boleh mati di tempat seperti ini.
Aku melihat gelang yang kupakai sendiri. Jika aku
memberikan gelangku kepada mereka, aku bisa menyelamatkan satu nyawa dengan
mengorbankan nyawaku sendiri.
Mimiko sepertinya memikirkan hal yang sama, dia menatap
gelangnya sendiri. Namun, para ksatria sepertinya bisa membaca pikiranku.
"Jangan cemaskan kami. Itu bukan keinginan
kami."
"Sederhana saja, kita hanya perlu mengalahkan Raja
Iblis sebelum waktu habis."
"……Aku mengerti. Semuanya, ayo cepat!"
““““Baik!””””
Para ksatria membuka pintu besar itu. Sebenarnya, baik
aku maupun Mimiko sama-sama tahu.
Meskipun Raja Iblis dikalahkan, bukan berarti Mana
Miasma yang bocor akan langsung lenyap seketika. Meski begitu, saat ini
tidak ada pilihan lain selain mengalahkannya.
Di dalam ruangan di balik pintu itu, sosok yang menunggu
kami adalah sang Paus yang mengenakan zirah hitam legam—bukan, itu adalah sang Raja
Iblis.
"Raja
Iblis!"
Yuna
dan Hildegard bergerak lebih dulu. Anti-Goblin Destruction Beam
terpancar dari mata Yuna, dibarengi dengan api raksasa yang dilepaskan
Hildegard bersamaan dengan mantra Inferno.
Ledakan
besar membubung saat kedua serangan itu menghantam target secara bersamaan.
"Apa
kita berhasil!"
Salah
satu ksatria berteriak—namun, sang Raja Iblis berjalan keluar dari balik
kobaran api tanpa ada satu pun goresan pada zirahnya. Mustahil,
dia tetap baik-baik saja setelah menerima serangan itu?
Bahkan, rasanya—
"Auranya terasa lebih kuat dari sebelumnya."
『Tentu saja. Tubuhku sudah mendapatkan kekuatan dari sang
Monster Tabu. Serangan yang menggunakan kekuatan dari Mana Miasma tidak
akan bisa melukaiku. Itu hanya akan mengembalikan hawa jahat tersebut kepadaku.』
Serangan yang dikonversi dari Mana Miasma? Benar
juga. Energi sihir Hildegard tentu saja termasuk, dan Yuna juga menyerap energi
di sekitar untuk diubah menjadi kekuatannya.
Di tempat dengan konsentrasi hawa jahat setinggi ini,
serangan laser Yuna justru malah memperkuat sang Raja Iblis.
"Kalau begitu—Power Up!"
Sihir yang digunakan Hildegard adalah penguat fisik—dia
merapalkannya kepada kami semua.
"Kalau sihir tidak mempan, kita hancurkan dengan
pukulan."
Yuna melesat maju. Astaga, aku memang berotot
kawat—pikirku sambil ikut berlari di saat yang bersamaan karena berpendapat
sama. Para ksatria mengikuti di belakang.
Sang Raja Iblis menatap kami dengan tenang sambil
mengayunkan tangannya—seketika, gravitasi di sekitar meningkat drastis.
Manipulasi gravitasi, teknik milik Director.
Tapi, kami sudah menyiapkan penangkalnya.
"Hildegard!"
"Ya!"
Hildegard mengeluarkan alat sihir kecil dari tasnya dan
mengalirkan energi sihir ke sana. Seketika, tubuh kami terasa ringan kembali.
Alat pengontrol gravitasi yang dulu dibuat Urano-kun dan
dibawa lari oleh Lise—aku sudah meminta Kuruto untuk mengecilkan ukurannya.
Alat itu butuh energi sihir yang besar, tapi di ruangan
penuh hawa jahat ini, Hildegard bisa menggunakan energinya sepuas hati.
Apalagi, alat itu sudah disetel agar gravitasi tidak
menjadi lebih ringan daripada nilai normal.
Berbeda dengan ksatria lain yang belum terbiasa dengan
perubahan gravitasi, gerakanku jauh lebih cepat karena pernah mengalaminya
sekali.
Yukihana milikku berhasil mencapai zirah sang Raja Iblis.
Tidak tertebas!
Di depan mataku yang panik, sang Raja Iblis mencabut
pedang dari sarungnya dan menghempaskanku. Sialan, kekerasan macam apa itu,
zirahnya hanya retak sedikit saja.
Padahal kupikir tidak ada yang tidak bisa ditebas oleh
Yukihana. Serangan para ksatria yang datang setelahku semuanya ditangkis dan
dipatahkan oleh pedang sang Raja Iblis.
Tepat saat aku hendak melompat maju sekali lagi—
"Yurishia-chan, awas!"
Mendengar teriakan Mimiko, aku melompat ke samping. Pada
saat itu juga, seberkas cahaya melesat melewati tempatku berdiri sebelumnya.
Cahaya itu menghancurkan lengan kanan sang Raja Iblis,
bahkan sisa kekuatannya menghancurkan dinding di belakangnya hingga berlubang
dalam.
Itu adalah tembakan Magic Gun—begitu ya, senjata
itu efektif karena menggunakan energi sihir Kuruto, bukan dari Mana Miasma
di sekitar.
『Kekuatan yang lumayan.』
Meskipun kehilangan lengan kanannya, sang Raja Iblis
tetap memberikan pujian dengan tenang.
Di mataku, sesaat sebelum tembakan itu mengenainya, dia
sedikit bergeser untuk menghindari titik vitalnya.
Dan di saat berikutnya, hawa jahat di udara berkumpul di
tangan kanannya, membentuk lengan kegelapan yang baru.
““Mimiko, tembak sekali lagi!””
Aku dan Yuna berteriak bersamaan.
"Tidak bisa! Aku hanya membawa satu Magic Gun
dari bengkel. Senjata ini tidak bisa menembak tanpa Kuruto-chan yang menyuplai
energi sihirnya!"
““Kenapa bisa begitu!””
Lagi-lagi suaraku tumpang tindih dengan Yuna.
"Mana aku tahu hal seperti ini bakal terjadi!
Rencana awalnya kan hanya pertemuan perdamaian biasa! Mana mungkin aku
diizinkan membawa persenjataan berlebihan!"
Mimiko balas berteriak gusar. Sialan,
padahal aku pikir senjata terkuat kita sudah muncul.
Andai saja aku meminta Kuruto membuat lebih banyak
senjata itu—tidak, dulu aku pernah membuat Kuruto pingsan karena memaksanya
membuat Magic Gun. Memikirkannya saja pasti tidak akan kubiarkan
terjadi.
"Sekali lagi!"
Para ksatria kembali memasang kuda-kuda pedang mereka.
Benar, percuma saja memikirkan apa yang tidak kita miliki.
"Incar Paus yang ada di dalam zirah itu! Incar celah zirah, persendian,
atau celah pada helmnya!"
Aku
berseru lantang. Kekerasan zirah itu benar-benar tidak wajar. Bahkan pedang Mithril
tidak berpengaruh. Kita harus mengincar bagian yang tipis.
Aku,
Yuna, dan para ksatria mengeroyok sang Raja Iblis.
Berbeda
dengan sebelumnya, kali ini dia tidak mencoba menidurkan kami, melainkan
bertarung murni dengan pedang.
Kemampuan pedangnya terasa melampaui tingkat master kelas
wahid.
Aku sudah sering bertarung dengan berbagai ahli pedang,
tapi baru kali ini aku merasakan perbedaan level yang begitu jauh.
Meskipun sudah dibantu sihir pendukung dari Hildegard,
aku tidak merasa bisa menang. Mimiko mencoba melempar belati dengan waktu yang
sangat presisi, tapi serangan itu bahkan tidak menyentuh sang Raja Iblis.
『Hanya segini saja? Manusia seribu tahun yang lalu jauh
lebih kuat.』
"Seribu tahun yang lalu?"
Kalau tidak salah, Gereja Polan lahir bersamaan dengan
terciptanya dunia ini, tapi kudengar Raja Iblis baru muncul sekitar seribu
tahun lalu, setelah Hildegard menjadi Kaisar Tua. Dan jika bicara soal seribu
tahun yang lalu—
『Setelah mengetahui klan pemuja roh suci mendapatkan
kekuatan besar, aku melepaskan satu kaki sang Monster Tabu ke sebuah pulau
untuk menguji kekuatan itu. Jika dibandingkan dengan seluruh tubuh monster itu,
kekuatan kaki itu tidak lebih dari sehelai bulu, tapi seharusnya itu sudah
cukup untuk membuat umat manusia kewalahan. Jika manusia tidak sanggup, pikirku
tinggal segel saja pulau itu.』
Sambil mengayunkan pedangnya, sang Raja Iblis terus
bercerita.
『Namun, klan itu berhasil menyegel kaki sang Monster
Tabu sesuai harapanku. Di saat aku mengakui potensi umat manusia, aku juga
menyadari bahwa manusia bisa menjadi lebih kuat jika memiliki musuh. Karena
itulah, selain menjadi pengelola ras iblis, aku menjadi Raja Iblis yang
merupakan musuh bagi umat manusia.』
Sang Raja Iblis tidak menyebutkan siapa klan
tersebut. Tapi aku bisa membayangkannya.
War Maiden—leluhurku.
Sepertinya sang Raja Iblis tahu kalau aku adalah
keturunan War Maiden tersebut, dan dia menuntutku untuk menunjukkan
kekuatan itu. Padahal aku sendiri tidak tahu caranya.
Tepat saat itu, aku mendengar suara seseorang tumbang
di belakangku. Tanpa menoleh pun aku tahu, itu adalah para ksatria. Gelang
mereka pasti sudah mencapai batasnya. Jika terus begini—
Seolah ingin memprovokasi kepanikanku, sang Raja
Iblis menatapku tajam dan membuka mulutnya.
『Ada apa? Kalau cuma begini, seranganmu tidak akan bisa
menyentuhku.』
"——Sial, akan kulakukan!"
Aku merogoh saku, mengeluarkan Spirit Stone, dan
menggenggamnya kuat-kuat.
Kumohon, Wahai Roh Suci——aku tidak tahu Roh Pedang itu
seperti apa, tapi tolong pinjamkan kekuatanmu padaku.
『Jika kau tidak datang, maka aku yang akan maju.』
Tunggu, aku belum siap——maksudku, aku sama sekali tidak
merasakan tanda-tanda roh itu bersemayam di tubuhku.
"Inferno!"
Hildegard melepaskan sihir api tingkat ekstrem.
Targetnya bukan sang Raja Iblis, melainkan dinding di
kedalaman dungeon, tepat di titik yang tadi hancur tergerus serangan Magic
Gun.
"Dilihat dari posisinya, di balik dinding itu
seharusnya adalah dunia luar! Kita hancurkan tembok itu dan kabur dulu!"
"Inferno!"
Sihir dilepaskan sekali lagi, namun sang Raja Iblis
berpindah posisi ke arah lintasan sihir itu dan menebasnya hingga hancur.
Terlebih lagi——
"Kyaaa!"
Gelombang kejut yang terpancar dari pedangnya
menghantam Hildegard dan Yuna yang berada di sampingnya.
"Hildegard! Yuna!"
Begitu Hildegard tumbang, efek sihir pendukung pun
lenyap dan tubuhku terasa sangat berat. Rasanya seperti sedang berada di bawah
manipulasi gravitasi.
Raja Iblis sialan, selain menyerap sihir, dia bahkan
bisa menebasnya juga. Ini persis seperti teknik Magic Parry yang
diwariskan dalam keluargaku.
……Magic
Parry?
"Begitu
rupanya, jadi begitu ya."
Aku
menyadari sebuah hipotesis dan tanpa sadar menyunggingkan senyum. Jika
aku salah, Kak Loretta pasti akan membunuhku.
Tapi, tidak apa-apa. Kalau Kak Loretta sampai bisa
membunuhku, itu artinya aku berhasil menepati janji untuk pulang hidup-hidup.
Aku melempar Spirit Stone itu ke udara, lalu
menebasnya dengan Yukihana.
Selama ini aku selalu merasa heran. Magic Sword
Kacho yang bisa menciptakan ilusi, lalu Excalibur yang bisa memancarkan energi
sihir.
Keduanya adalah pedang dengan kekuatan magis yang luar
biasa. Lantas, kenapa Kuruto tidak menyematkan kekuatan apa pun pada pedangku?
Padahal jika itu Kuruto, dia pasti bisa menciptakan
pedang dengan kemampuan yang hebat, kan?
Tadinya aku mengira dia sengaja menyiapkan pedang yang
tidak memerlukan energi sihir karena mengkhawatirkanku yang tidak bisa
menggunakan sihir. Namun, ternyata aku salah.
Aku bisa merasakan kekuatan merembes masuk ke dalam
Yukihana. Kuruto—si pemilik Blacksmith Aptitude SSS itu—entah sadar atau
tidak, dia telah merasakannya.
Bahwa di puncak teknik pedangku, aku akan membutuhkan
kekuatan untuk menyerap energi sihir.
Magic
Parry yang
diwariskan keluargaku. Kenapa teknik yang sepertinya tidak ada hubungannya
dengan bersemayamnya roh ini terus diwariskan?
Ternyata salah, justru inilah teknik yang paling
krusial bagi seorang War Maiden.
"Teknik Rahasia, Drain Sword!"
Berkat kekuatan Yukihana, teknik Magic Parry
milikku berevolusi. Efeknya adalah menyerap energi sihir yang ditebas dan
mengubahnya menjadi kekuatan pedang.
Kekuatan itu bahkan menyerap energi roh yang tertidur
di dalam Spirit Stone. Begitu ya, yang dimaksud dengan Roh Pedang adalah
roh yang bersemayam di dalam pedang itu sendiri.
Dan melalui pedang ini, kekuatan roh itu mengalir ke
dalam tubuhku. Inilah kekuatan War Maiden!
"Ayo maju, Raja Iblis!"
Roh yang bersemayam di pedangku memberiku kekuatan
yang jauh melampaui sihir pendukung milik Hildegard.
Sang Raja Iblis yang tadi banyak bicara, kini bungkam
seraya menangkis serangan-seranganku. Sepertinya dia sudah tidak punya celah
lagi untuk bicara.
Namun, aku masih belum bisa melancarkan serangan
mematikan. Aku tahu apa penyebabnya.
Dengan pedangku saat ini, aku hanya bisa
menghancurkan zirah Raja Iblis sedikit demi sedikit, tapi tidak bisa
menghancurkannya dalam sekali serang.
Begitu zirahnya retak, dia akan langsung menyerap Mana
Miasma di sekitar untuk memulihkannya. Alhasil, aku tidak punya pilihan
selain mengincar celah zirahnya.
Namun Raja Iblis memfokuskan pertahanannya di bagian
itu. Selama dia bisa mempersempit arah seranganku, aku tidak
punya kartu as untuk menembus pertahanannya.
Sial, kalau begini terus bisa gawat. Aku bisa merasakan
kekuatan roh di dalam Yukihana perlahan mulai habis.
Sama seperti Akuri yang akan tertidur jika terlalu sering
menggunakan kekuatan teleportasi, kekuatan roh pun tidaklah tanpa batas.
Apa tidak ada sesuatu? Sebuah serangan untuk membalikkan
keadaan.
——Tepat saat itulah.
"Maaf membuat kalian menunggu!"
Dia datang! Kuruto——kartu as untuk membalikkan keadaan!
Saat aku menoleh, Kuruto yang muncul bersama Jenderal
Sunnova tengah mengeluarkan sesuatu dari Magic Bag.
"Kuruto, jangan-jangan—"
Pedang Raja Iblis menyerang, memotong pertanyaanku.
Sialan si Kuruto itu, alih-alih kartu as, dia malah membawa sesuatu yang
mengerikan.
"Ya! Ini adalah batu yang ada di dalam Oak Lord.
Anu, menurut Lady Loretta, ini disebut Dark Orb!"
"Aku membuatnya dari Dungeon Core!"
Dark Orb? Bukankah itu akar dari segala petaka
yang dulu mengubah Dryad menjadi Pohon Raksasa Kegelapan?
Kalau tidak salah, efeknya adalah menyerap hawa jahat di
sekitar untuk mengumpulkan kekuatan dan membuat monster menjadi liar——hmm?
Menyerap hawa jahat?
"Jadi begitu maksudnya!"
Aku menyerang zirahnya secara langsung, bukan lagi
mengincar celahnya.
Raja Iblis yang tidak menduga serangan frontal seperti
itu terlambat bereaksi, dan Yukihana pun menghancurkan zirahnya.
Zirah yang seharusnya segera pulih itu kini tetap hancur
berantakan. Benar juga dugaan itu.
"Aku memang tidak bisa menyerap hawa jahat dari
seluruh dungeon, tapi kalau cuma hawa jahat di ruangan ini, Dark Orb
ini sanggup menampungnya!"
Ini sama seperti waktu itu. Saat bertarung melawan Greater
Demon yang abadi, Kuruto muncul menghancurkan lingkaran sihir dan
melenyapkan keabadian monster itu.
Kali ini pun, dengan melenyapkan Mana Miasma di
udara, sang Raja Iblis tidak bisa lagi memulihkan diri.
Zirah dan helm Raja Iblis hancur berkeping-keping satu
demi satu oleh Yukihana. Hingga akhirnya sosok Paus yang diselimuti kegelapan
pun terekspos.
Sekali lagi, aku diselamatkan oleh Kuruto.
"Ini akhirnya!"
Yukihana pun menembus tubuh sang Raja Iblis——tubuh Paus
itu.
Pada saat itu juga, kegelapan yang menyelimuti Paus
lenyap. Aku memastikan tubuhnya yang terkapar, dia sudah tidak bernyawa.
Jantungnya tertembus, jadi itu sudah sewajarnya. Di
sampingnya, sebuah bola hitam dan bola putih tergeletak.
Menurut cerita Lise, bola hitam ini adalah inti dari Raja
Iblis, dan bola putih adalah pusaka sihir yang membangkitkan penghalang.
Sepertinya aman untuk disentuh, jadi aku meminta Kuruto
memasukkannya ke dalam Magic Bag.
Para ksatria yang tadi tumbang mulai sadar berkat obat
pertolongan pertama yang dibawa Kuruto.
Luka Hildegard juga tidak parah, tapi Yuna mengalami
kerusakan di beberapa bagian komponennya, jadi Kuruto akan memperbaikinya.
"Masalahnya adalah jalan pulang. Tanpa gelang, anak
buahku ini pasti akan langsung tumbang begitu keluar dari ruangan, kan?"
"Apa kita harus panggil bantuan untuk menggendong
mereka?"
Jenderal Sunnova berujar sambil menatap para ksatria
yang mulai siuman. Mereka sudah pulih sampai tahap bisa berjalan.
Namun seperti katanya, mereka akan langsung tumbang
jika keluar dari ruangan ini.
Kami menatap Kuruto yang sedang mengukir formula
penyegel pada Dark Orb agar hawa jahatnya tidak bocor. Ah tidak, dia
sudah selesai mengukirnya dalam sekejap mata.
"Kuruto, apa kamu bisa menjebol dinding
itu?"
"Eh? Ah, baiklah. Karena semuanya sepertinya
sudah lelah, biar aku bukakan jalannya, ya."
Kuruto mengatakan itu sambil mengeluarkan beliung
dari Magic Bag dan melubangi dinding. Ah, ya, harusnya aku tidak perlu
bertanya.
"Kekuatanmu hebat sekali ya, Kuruto-chan."
"Tidak, tidak, ini hal biasa kok."
Pemandangan dari lubang itu masih memperlihatkan
penghalang yang membentang luas, namun di baliknya, langit biru mulai terlihat.
Baiklah, sisanya tinggal menggunakan bola putih untuk
menghilangkan penghalang dan semuanya selesai. Tepat saat
aku menghela napas lega, itulah yang terjadi.
"Sepertinya Raja Iblis telah kalah, ya."
““““——!!””””
Suara yang tiba-tiba terdengar dari belakang itu adalah
suara Paus. Kami sontak berbalik.
Apakah dia masih hidup? Apakah dia Raja Iblis, atau Paus?
Yang mana sebenarnya?
Aku bersiaga dan menghunus Yukihana. Kekuatan rohku sudah
benar-benar kosong, tapi aku masih bisa bertarung.
"Tenanglah, aku sudah tidak punya kekuatan lagi
untuk bertarung. Aku hanya menggunakan sisa kekuatan Raja Iblis untuk berbicara
dengan kalian sebentar saja."
"Tetapi……
kematian Raja Iblis akan menjadi pemicu bangkitnya bencana."
Tepat
saat Paus berkata demikian, gempa bumi tiba-tiba mengguncang.
"Woi,
lihat di luar itu!"
Jenderal
Sunnova berseru. Aku tidak perlu memastikan ke mana arah telunjuknya.
Sesuatu
muncul dari dalam tanah, sesosok raksasa hitam dengan tinggi ratusan
meter—bahkan mungkin lebih.
Namun bentuknya janggal karena kaki kanan dari mata kaki
ke bawah tidak ada.
"Itulah
Monster Tabu——dan itu hanyalah salah satu darinya."
"Salah satu!? Apa maksudmu Monster Tabu itu tidak
cuma satu!"
Paus hanya menggelengkan kepala dalam diam. Hanya
dengan melihatnya dari sini, aku sudah tahu.
Benda itu bukan sesuatu yang bisa ditangani oleh manusia.
"Kumohon, kalahkan Monster Tabu itu. Dengan begitu,
kalian bisa membuktikan bahwa dunia ini adalah dunia dengan takdir yang
benar."
"Woi, apa maksud perkataanmu itu!"
"Kumohon, selamatkanlah dunia—"
Setelah mengatakan itu, Paus memejamkan mata dan tidak
lagi bergerak, seolah-olah tugasnya telah usai.
Lalu, Monster Tabu itu mulai melangkah meskipun
keseimbangan tubuhnya goyah.
Dengan tubuh sebesar itu, meski gerakannya terlihat
lambat, kecepatannya pasti luar biasa.
Dan sialnya, monster itu tidak menuju ke arah kami,
melainkan ke arah kota.
"Lihat, kapal terbangnya—"
Mimiko berseru. Kapal terbang itu terbang melarikan
diri.
Mereka pasti menyadari kedatangan si Monster Tabu. Namun,
karena penghalang itu, mustahil bagi mereka untuk lari jauh.
Si Monster Tabu mulai mengejar kapal terbang
tersebut.
"Gawat, semuanya dalam bahaya—"
Kuruto berujar dengan nada menyesal. Di
sana pasti ada Kak Loretta, Lise, dan juga Akuri.
Jika begini terus— Tapi, aku tidak bisa melakukan
apa-apa.
Meski telah mengalahkan Raja Iblis, aku yang kehilangan
kekuatan roh hanyalah manusia biasa. Ya, aku—
"Kuruto……
bukankah kamu bisa melakukan sesuatu?"
"Eh?"
"Karena, Kuruto, kamulah Atelier Meister
kami!"
◆◇◆
Aku——Kuruto Lockhans, adalah remaja biasa yang bisa
ditemukan di mana saja.
Tidak, mengingat semua Combat Aptitude-ku adalah
peringkat G, aku merasa diriku adalah remaja di bawah rata-rata.
Tapi, Yurishia-san mengatakannya.
"Karena, Kuruto, kamulah Atelier Meister
kami!"
Aku adalah Atelier Meister? Aku meragukan
pendengaranku sendiri atas ucapan tiba-tiba Yurishia-san itu.
"Eh? Tapi bukankah Atelier Meister adalah
Tuan Rikuto?"
Aku pernah bertemu dengannya. Beliau adalah orang yang
terlihat sangat baik dan memiliki tekad yang mulia.
"Itu hanyalah ilusi yang dibuat oleh Lise
menggunakan Kacho. Atelier Meister yang asli adalah Kuruto Lockhans!
Yaitu kamu!"
"Tunggu, Yurishia-chan! Kalau kamu bilang begitu
pada Kuruto-chan, dia akan menyadari kemampuannya sendiri, lalu kehilangan
kesadaran dan ingatannya, kan!"
"Aku tahu! Tapi masih ada waktu sebelum dia
kehilangan kesadaran! Kita harus menyelesaikan semuanya sebelum itu
terjadi!"
Jika aku menyadari kekuatan asliku, aku akan kehilangan
kesadaran dan ingatan?
Apa jangan-jangan penyakit endemik desa kami itu
sebenarnya adalah hal ini?!
"Yurishia-san,
tolong beritahu aku! Apa sebenarnya kekuatan asliku itu!"
"Kemampuanmu
adalah peringkat SSS untuk semua bidang di luar pertempuran!"
"Baik
itu Blacksmithing, Cooking, Construction, Mana Capacity,
Magic Tool Crafting, semuanya!"
"Eh? Tapi peringkatku katanya cuma B dan C—"
"Maaf, aku berbohong untuk melindungimu. Sebenarnya
semuanya peringkat SSS."
Mimiko-san mengangguk mantap. Bukan hanya Mimiko-san,
ksatria lain pun tidak membantah, bahkan Hildegard-chan pun—
"Itu benar, Kuruto. Kamu itu luar biasa.
Bagaimanapun juga, kamulah yang telah menyelamatkan nyawaku."
Benarkah aku peringkat SSS? Apa ada hal yang hanya bisa
dilakukan olehku?
"…………"
Mereka tidak berbohong. Yurishia-san dan yang lainnya
bukan tipe orang yang akan berbohong di saat seperti ini.
"—Mimiko-san, itu Magic Gun, kan? Boleh aku
meminjamnya sebentar?"
"Eh? Iya."
Aku memegang Magic Gun itu dan mulai membongkarnya
menggunakan peralatan yang kuambil dari Magic Bag.
Sepertinya Mimiko-san sudah memakainya sekali; beberapa
komponen mengalami overheat.
Jika dipaksakan sekali lagi, senjata ini akan hancur.
Lagipula, Magic Gun ini terlalu banyak membuang energi.
Selama ini aku hanya diam karena kupikir ada alasan
tertentu kenapa nilai batasnya dibatasi.
Namun, jika apa yang dikatakan Yurishia-san benar,
mungkin saja orang lain memang tidak menyadarinya.
Tidak ada waktu untuk mengonfirmasi pada Mimiko-san. Aku merakitnya kembali dan mengisi ulang energi sihirnya.
"Mimiko-san, aku sudah memodifikasi Magic Gun
ini agar kekuatannya menjadi sepuluh kali lipat dari sebelumnya."
"Sepuluh kali lipat!? Apa dengan ini kita bisa
mengalahkan Monster Tabu itu?"
"Tidak, ini saja tidak cukup untuk
mengalahkannya. Kumohon, dari posisi Mimiko-san—"
Aku menghitung, lalu menggoreskan tanda silang di
lantai menggunakan belati.
"Tolong tembakkan Magic Gun ini ke arah
sini."
"Eh? Kenapa ke arah situ?"
Melihat Mimiko-san yang kebingungan, aku berniat
menjelaskan dari awal, namun Yurishia-san menepuk bahu Mimiko-san.
"Mimiko, percayalah pada Kuruto."
"……Iya, aku mengerti."
Begitu ya——ternyata aku memiliki kekuatan yang sangat
dipercayai oleh Yurishia-san dan Mimiko-san.
Jika apa yang dikatakan Mimiko-san benar, perasaan ini
pun nanti akan ikut terlupakan bersama ingatanku. Rasanya sedikit sedih.
Tapi, jika kekuatan itu bisa melindungi semua orang, aku
tidak keberatan membuang ingatan sebanyak apa pun.
Mimiko-san melepaskan tembakan. Tembakannya menembus
banyak lapisan lantai, menciptakan sebuah lubang vertikal yang besar.
"Luar
biasa…… kekuatannya tidak bisa dibandingkan dengan yang tadi……"
"Yurishia-san, ayo ikut aku!"
Aku berseru sambil melompat ke dalam lubang itu.
"Kita akan langsung menuju pabrik!"
"Kuruto, jangan-jangan kamu menyuruhnya menembak
hanya untuk membuat jalan pintas!"
"Iya. Soalnya dengan kemampuanku, jika ada
monster kegelapan di jalur tembakan, aku tidak akan bisa mengerahkan kekuatan
maksimal."
Aku tidak punya bakat bertarung.
Sama seperti saat menggunakan Magic Gun
melawan goblin dulu, jika ada monster kegelapan, aku tidak akan bisa
menunjukkan kekuatanku.
Namun sepertinya itu hanya kekhawatiran yang
berlebihan karena semua monster kegelapan sudah lenyap.
Mungkin mereka semua sudah kembali ke tubuh si Monster
Tabu. Itu juga membuktikan betapa kuatnya monster itu.
Akhirnya, kami sampai di alat teleportasi di balik pintu
rahasia Taman Noah, di kedalaman pabrik.
"Alat teleportasi? Kuruto, apa yang akan kamu
lakukan?"
"Sekarang aku akan berteleportasi ke kapal
terbang."
"Teleportasi? Tapi bukankah alat ini tidak bisa
digunakan—"
"Kita tidak bisa berteleportasi ke luar penghalang,
tapi kalau ke kapal terbang yang berada di dalam penghalang yang sama, itu
mungkin dilakukan."
"Aku akan menggunakan energi sihirku dan Yurishia-san."
"Energiku dan kamu—begitu ya, kamu mau teleportasi
ke tempat Akuri! Kalau begitu aku juga—"
"Tidak, Yurishia-san harus tetap di sini. Jika aku
gagal mengalahkan Monster Tabu, aku akan menggunakan kekuatan Akuri untuk
memindahkan kalian semua ke sini."
"Untuk itu, Yurishia-san harus ada di sini."
"Gagal mengalahkan...? Kamu—"
"Hanya jaga-jaga saja kok. Tenang saja, kekuatan
yang sangat dipercayai Yurishia-san—aku juga akan mencoba mempercayainya."
Mendengar ucapanku, Yurishia-san mengangguk. Aku
segera memulai persiapan teleportasi.
Energi sihir Akuri yang akan kujadikan tujuan teleportasi
tidaklah tinggi, karena biasanya dia menekannya dalam wujud anak-anak.
Karena itu, pengaturannya mungkin akan memakan waktu,
tapi—
"—Lho?"
"Ada apa?"
"Alat teleportasi ini, entah kenapa energi sihir Akuri
sudah terdaftar di dalamnya sejak awal."
"Apa maksudnya itu?"
"Aku tidak tahu. Tapi jika aku memodifikasi ini
sedikit, aku bisa langsung berteleportasi ke tempat Akuri."
Aku melepaskan papan sirkuit alat tersebut dan
mengutak-atik beberapa kabel. Dengan ini harusnya berhasil.
"Yurishia-san, aku berangkat."
"Atitip Akuri dan yang lainnya."
"Tentu saja."
Aku mengangguk, lalu berteleportasi.
Dalam sekejap pemandangan berubah, dan aku sudah
berada di atas geladak kapal.
Di depanku, ada Lise-san dan Akuri yang terkejut
dengan kemunculanku yang tiba-tiba.
"Papa!?"
"Kuruto-sama!? Kenapa Anda ada di sini!?
Jangan-jangan, kekuatan cintaku telah memanggil Kuruto-sama—"
Aku paham mereka bingung, tapi tidak ada waktu untuk
menjelaskan.
"Lise-san! Sekarang aku akan mengalahkan Monster
Tabu itu! Tolong pinjamkan kekuatanmu!"
"—Siap!"
Atas permintaan pada Atelier Meister Bonball, kami
mulai melakukan persiapan.
Cara mengalahkan Monster Tabu——petunjuknya adalah
perkataan Atelier Meister Bonball.
Bukankah menabrakkan kapal terbang bisa menghancurkan
penghalang? Memang, kekuatan kapal terbang itu hebat.
Tapi, kekuatan yang tidak terarah akan membuat daya
hancurnya tersebar.
Akan sangat bagus jika ada senjata yang memancarkan
energi sihir seperti Magic Gun, tapi Magic Gun saja kekuatannya
tidak cukup.
Lantas, apa yang harus digunakan? Jawabannya ada di
dalam kapal ini.
Lebih tepatnya, dibawa oleh orang yang mengungsi ke
kapal ini.
"Siapa sangka, kamu berniat mengalirkan energi
sihir kapal terbang ke Excalibur, lalu menembakkan bilah cahaya darinya untuk
menembus si Monster Tabu."
Kaisar Gurumak tertawa riang. Begitu aku mengusulkan
ide itu, beliau dengan senang hati meminjamkan Excalibur.
Tadinya aku ingin meminta Kaisar Gurumak—sebagai
pemilik terdaftar—untuk meminjamkan kekuatannya.
Tetapi peran itu malah diberikan kepada Lise-san.
Bagaimana caranya, padahal seharusnya hanya garis keturunan kaisar yang bisa
menggunakannya?
Aku sempat ragu, tapi tidak ada waktu untuk berpikir.
Karena Kaisar bilang bisa, maka pasti bisa.
Kapal terbang mendarat di pinggiran penghalang. Kami
mendarat di tengah hutan yang bukan tanah datar sehingga pendaratannya cukup
kasar, tapi kapal tetap aman.
Monster Tabu berjalan ke arah kami. Sepertinya dia
tertarik pada energi sihir kapal terbang.
"Lise-san, sudah siap?"
"Siap, Kuruto-sama."
Lise-san mengangguk sambil memegang Excalibur yang
terhubung dengan kabel energi sihir dari mesin penggerak kapal.
"Ya, aku selalu mempercayai Kuruto-sama dari
lubuk hatiku yang terdalam."
"Terima kasih."
Aku mengatur bidikan. Di mana tempat terbaik untuk
membidiknya?
"Oke, sudah tetap."
Aku mengunci sasaran. Lise-san, sudah siap?
"Siap!"
"Tembak!"
Begitu aku berseru, bilah cahaya yang terpancar dari
Excalibur melesat terbang mengincar kepala si Monster Tabu.
"Kena!"
Seseorang berteriak. Pada saat itu, si Monster Tabu
mengulurkan tangan ke depan dan menciptakan pelindung dari energi sihir.
Bilah cahaya raksasa yang kami lepaskan menghantam
pelindung itu dan seketika buyar menjadi partikel cahaya.
"Mustahil……
bahkan dengan itu pun tidak bisa dikalahkan?"
Suara
keputusasaan terdengar. Namun—
"Pedang
Keraguan, Kacho. Pedang iblis yang menciptakan ilusi ini bahkan sanggup menipu
sang Monster Tabu!"
Detik
berikutnya, sebuah bilah cahaya raksasa kembali muncul dan sudah menancap di
tubuh si Monster Tabu.
Energi
sihir kapal terbang tidak hanya digunakan untuk memperkuat Excalibur, tapi juga
kekuatan Kacho.
Bilah
cahaya yang pertama kali mengincar kepala adalah barang palsu yang diciptakan
oleh imajinasi Lise-san untuk mengelabui monster itu.
Monster
Tabu yang bagian tengah tubuhnya tertembus oleh bilah cahaya asli hancur
menjadi gumpalan hawa jahat dan menghujani hutan.
"Menang……
kita menang! Baron Lockhans dan Tuan Putri Liselotte telah mengalahkan
Monster Tabu!"
"Eh? Tuan Putri Liselotte? Apa jangan-jangan
itu—"
Tepat saat aku menyadari identitas asli
Lise-san——kesadaranku mulai memudar. Ah, ini pasti hal yang dikatakan
Mimiko-san waktu itu.
Melihat wajah semua orang yang bersukacita di atas
geladak, aku merasa sedikit bangga.
Karena tahu bahwa aku memiliki kekuatan untuk membuat
begitu banyak orang tersenyum, dan kekuatan untuk mengalahkan monster semacam
itu.
Mungkin ingatanku akan segera hilang, tapi perasaan penuh
yang memenuhi hati ini, setidaknya bagian ini saja, aku bersumpah tidak akan
melupakannya.
Aku berjanji di dalam hati.
——Saat aku terbangun, entah kenapa katanya Raja Iblis
sudah dikalahkan.
Terlebih lagi, setelah itu Monster Tabu sempat muncul,
namun berhasil dikalahkan menggunakan tenaga penggerak kapal terbang dan
Excalibur.
Apa jangan-jangan mereka melakukan serangan malam saat
aku sedang tidur semalaman?
Detailnya memang dirahasiakan, tapi melihat kondisi kapal
terbang yang rusak, pohon-pohon yang tumbang, dan hutan yang tercemar hawa
jahat, sepertinya itu adalah pertempuran yang sangat hebat.
Melihat diriku sendiri yang bisa tertidur lelap dalam
situasi seperti ini, aku merasa payah.
Namun, entah kenapa hatiku justru dipenuhi kebahagiaan.
Kira-kira kenapa, ya?
Sesaat setelah aku terbangun, Yurishia-san, Lise-san, dan
Hildegard-chan datang mengunjungiku. Mereka memperlihatkan sebuah bola kristal
putih.
"Ini adalah bola putih yang digunakan Raja Iblis
untuk menciptakan penghalang. Menurutmu, bagaimana cara melenyapkannya? Apa
kita harus menghancurkan benda ini saja?"
"Boleh aku lihat sebentar?"
Aku menerimanya dari Yurishia-san dan mencoba memeriksa
bola putih itu. Ternyata di dalamnya terukir sebuah formula sihir.
"Yurishia-san, bola putih ini hanyalah pusaka sihir
untuk mengaktifkan penghalang. Menghancurkannya tidak akan melenyapkan
penghalang itu sendiri."
"Apa katamu? Lalu, bagaimana cara menghilangkan
penghalangnya?"
"Itu……
aku pun tidak tahu."
Begitu
aku mengatakannya, Yurishia-san dan yang lainnya memegangi kepala dengan raut
wajah bingung. Kami mengira penghalangnya akan lenyap jika Raja Iblis
dikalahkan, tapi ternyata tidak semudah itu.
"Biar
aku yang menjelaskannya."
Sosok
yang muncul bersama Akuri sambil mengatakan itu adalah Non-chan. Namun,
atmosfer Non-chan terasa sedikit berbeda dan tampak jauh lebih dewasa.
"Nama
saya adalah Noah. Saya mengemban sebuah misi dan tertidur di dalam kristal
sihir penyegel."
"Ingatanmu
sudah kembali?"
Atas
pertanyaan Yurishia-san, Noah-chan mengangguk. Dia
mendapatkan kembali ingatannya karena Raja Iblis dan Monster Tabu telah
dikalahkan.
"Kekalahan mereka membuktikan bahwa takdir dunia ini
adalah takdir yang benar. Ada dua syarat bagi dunia dengan takdir yang
benar."
"Pertama, umat manusia di masa sekarang harus
memiliki kekuatan untuk melawan Monster Tabu. Kedua adalah lahirnya Yang Mulia Akuri."
"Eh? Akuri?"
"Dunia tempat saya lahir berada di ambang
kehancuran. Umat manusia mencoba menciptakan dunia baru di dimensi lain, namun
hal itu tidak bisa dilakukan."
"Tidak bisa? Tapi, orang-orang kuno kenyataannya
berhasil menyelesaikan alat teleportasi, kan?"
Noah-chan mengangguk menanggapi ucapan Yurishia-san.
Untuk mengaktifkannya, dibutuhkan kekuatan Roh Agung yang mampu melakukan
perpindahan ruang dan waktu.
"Sayangnya di dunia kami, kekuatan roh telah diperas
habis-habisan sehingga tidak bisa melahirkan Roh Agung Waktu seperti Yang Mulia
Akuri."
Noah-chan kemudian menatap ke arahku. Dia menjelaskan
bahwa rakyat First mengusulkan untuk memanggil Roh Agung dari masa depan yang
penuh kemungkinan.
"Untuk berpindah dari masa depan ke masa lalu,
dibutuhkan sebuah penunjuk jalan. Misi saya adalah menjadi penunjuk jalan
tersebut."
Yurishia-san dan Lise-san sebelumnya kembali dari masa
lalu menggunakan energi sihir di dalam Yukihana. Penunjuk jalan yang dimaksud
Noah-chan adalah energi sihir semacam itu.
"Ayah saya meneliti kristal sihir penyegel untuk
pelestarian spesies agar saya bisa pergi ke masa depan. Fakta bahwa saya
terbangun berkat kekuatan Akuri adalah bukti rencana ini berhasil."
"Tunggu, kenapa kamu bisa seyakin itu?"
"Seandainya saya tidak bisa membawa Roh Agung dari
masa depan, Ayah saya sudah mengatur agar segel saya dilepaskan sejak dulu.
Artinya, Akuri telah berhasil menyelamatkan dunia."
"Tidak, tunggu dulu! Bukankah itu aneh? Kalau
segelnya dilepaskan sekarang, kamu pasti tidak akan pernah bisa membawa Akuri
kembali!"
Yurishia-san
tampak bingung, namun Lise-san segera angkat bicara. Dia menjelaskan tentang
teori kemungkinan tak terbatas yang pernah dibicarakan rakyat First.
"Noah-san
yang ada di depan kita adalah Noah-san dari masa depan yang telah bertemu
dengan Akuri. Saya rasa begitu penjelasannya."
"Lise, kenapa kamu cepat sekali paham sih?"
"Saya memikirkannya saat kita ke masa lalu dan
membantu persalinan ibu dari Kuruto-sama. Masa lalu, kini, dan nanti ternyata
adalah sesuatu yang sangat samar."
"Bukan itu poinnya! Kalau begini terus, Akuri bakal
pergi!"
Jika mempercayai cerita Noah-chan, Akuri harus pergi ke
masa lalu bersamanya.
"Tanpa diberi tahu pun aku sudah tahu! Tapi, aku
tidak tahu apa yang akan terjadi pada dunia ini jika Akuri tidak pergi!"
"Time
Paradox…… apa itu hal yang pernah dikatakan Urano-kun……"
Saat
Lise-san berseru, Yurishia-san bergumam seolah baru menyadarinya. Aku pun
pernah mendengar dari Paman Urano bahwa kontradiksi bisa menghancurkan dunia.
"……Noah,
bagaimana cara konkretnya berpindah ke masa lalu? Lalu, apa
yang akan terjadi pada penghalangnya?"
"Seharusnya sudah tertanam instruksi agar penghalang
lenyap saat lompatan waktu terkonfirmasi. Hildegard-san pasti mengetahui
sesuatu tentang ini."
"Begitu ya, jadi giliranku tiba. Aku sudah pernah
membuat lingkaran sihir untuk berpindah ke masa lalu sekali."
"Dengan bantuan Kuruto, aku bisa menyelesaikannya
sebelum besok menggunakan Mana Miasma sebagai pengganti energi
sihirku."
Hildegard-chan
bicara dengan nada muak. Dia merasa takdir sedang mempermainkan mereka semua.
"……Bukankah
ini sama saja dengan menyuruhku menggunakan kekuatanku untuk merebut seorang
putri dari teman-temanku?"
Hildegard-chan
mengatakannya dengan penuh sesal. Aku pun mencoba meminta waktu lebih untuk
berpikir.
"Tidak
ada waktu. Karena Monster Tabu sudah musnah, Mana Miasma secara bertahap
menipis. Anda harus memutuskannya sebelum besok."
Noah-chan
memperingatkan kami. Padahal waktu yang tersisa hanya satu hari lagi.
"Akuri mau pergi ke dunianya Non-chan!"
Mengabaikan kebimbangan kami, Akuri yang sedari tadi
mendengarkan akhirnya memberikan deklarasi.
"Akuri, itu——"
Aku mencoba menghentikan Akuri, namun kata-kata tidak mau
keluar dari tenggorokanku.
"Yang Mulia Akuri, apakah Anda yakin?"
"Iya. Akuri tidak mau berpisah dengan Papa dan Mama,
tapi Akuri lebih tidak mau kalau dunia ini sampai hilang."
Mendengar itu, aku tersentak. Akuri telah memantapkan
hati untuk pergi demi menyelamatkan dunia.
"Kalau begitu, aku juga akan ikut ke masa
lalu."
"Aku juga!"
"Tentu saja, saya juga akan ikut."
Aku, Yurishia-san, dan Lise-san, kami bertiga memutuskan
untuk ikut ke masa lalu. Namun, Noah-chan menggelengkan kepala.
"Mohon maaf. Saya tidak bisa membawa Kuruto-sama dan
yang lainnya ke masa lalu."
"Kenapa——"
"Dunia asal saya dipenuhi Mana Miasma. Anda sekalian yang tidak terbiasa dengannya tidak akan selamat di
sana."
Noah-chan mengatakannya dengan ekspresi pedih. Tak ada
pilihan lain bagi kami selain merelakannya.
Setelah itu, kami mengisolasi Bola Hitam peninggalan Raja
Iblis ke gudang kapal terbang karena sangat berbahaya. Penjagaan di sana sangat
ketat sehingga seharusnya aman.
Aku juga mulai memperbaiki Yuna-san agar dia bisa segera
aktif kembali. Setidaknya dia harus bangun sebelum Akuri berangkat.
Malam harinya, kami berempat mengadakan pesta perpisahan
kecil untuk Akuri. Kami berusaha percaya bahwa Akuri pasti akan kembali suatu
hari nanti.
Aku hampir tidak ingat apa yang kami bicarakan di malam
terakhir itu. Aku hanya berusaha sekuat tenaga agar tidak menangis
di depan Akuri.
Setelah Akuri tidur, aku dan Hildegard-chan
menyelesaikan lingkaran sihirnya. Meski berkali-kali ingin berhenti, aku
tetap menyelesaikannya sampai akhir.
Keesokan paginya telah tiba. Aku menyerahkan sebuah Magic
Bag kepada Akuri.
"Akuri, ini Magic Bag milikku. Di dalamnya
ada bekal makanan kesukaanmu untuk sepuluh tahun, jadi makanlah
perlahan-lahan."
"Ini adalah ikat rambut dari nenekku. Anggaplah
benda ini sebagai diriku dan pakailah selalu."
"Saya berikan belati ini. Benda ini telah
menyelamatkan nyawa saya berkali-kali, pasti akan berguna untukmu."
Yurishia-san memberikan ikat rambutnya, sementara
Lise-san menyerahkan Kacho yang tersarung rapi.
"Terima kasih, Papa, Mama Yuri, Mama Lise."
Akuri menerima semuanya dengan senyuman. Dia benar-benar anak yang sangat kuat.
"Akuri!"
Yuna-san datang tepat waktu. Sepertinya sistemnya
sudah pulih setelah diperbaiki.
"Yuna……
ma……"
"Akuri, aku juga akan ikut ke masa lalu
bersamamu."
"Eh?"
"Tubuhku adalah Golem, jadi Mana Miasma tidak
akan berpengaruh padaku. Aku akan selalu berada di sisimu karena aku tidak
punya batas usia."
"Uun, Akuri senang sekali! Tapi, apa boleh?"
"Tentu saja. Malah aku merasa tidak enak pada Yurishia
karena hanya aku yang bisa melihat pertumbuhanmu di kursi penonton
istimewa."
Yurishia-san
menatap Yuna-san dengan penuh kepercayaan.
"Yuna, aku titip dia."
"Tenang saja, serahkan padaku, Yurishia."
Keduanya pun berjabat tangan dengan mantap.
"Kak
Hildegard, maaf membuatmu menunggu."
Akuri
menggandeng tangan Yuna-san dan Noah-chan, lalu melangkah ke tengah lingkaran
sihir.
"Sudah
siap?"
"Iya,
sudah siap."
"Kami
sangat berterima kasih atas segalanya. Saya berjanji akan melindungi Yang Mulia
Akuri dengan nyawa saya."
"Ada aku juga di sana. Aku tidak akan membiarkan
orang-orang hebat itu memanfaatkan Akuri semaunya."
Setelah mereka bertiga selesai bicara, Hildegard-chan
mengaktifkan sihirnya.
"Akuri!"
Aku memanggil namanya untuk terakhir kali. Akuri menoleh
dan memperlihatkan deretan giginya yang putih.
"Akuri berangkat!"
Dia pergi dengan senyuman yang paling cerah.
"Berangkat……
ya."
"Benar-benar seperti hanya pergi jalan-jalan
sebentar saja, ya."
"Rasanya dia akan segera kembali setelah urusannya
selesai, kan?"
Aku mendongak ke langit. Hanya ada langit biru jernih
yang membentang luas di atas sana.
"Penghalangnya sudah lenyap."
Namun, kami tetap mematung di sana. Kami berharap Akuri
akan tiba-tiba muncul kembali dari lingkaran sihir itu.
"Kuruto, aku akan melihat keadaan yang lain. Jika
sudah ada jadwal pulang, aku akan mengirim Chitchi."
"Iya, maaf merepotkanmu."
"Jangan minta maaf…… akulah yang harusnya minta
maaf."
Hildegard-chan pun pergi meninggalkan kami menuju kota.
Kami terus menatap lingkaran sihir itu dalam diam.
Tiba-tiba, lingkaran sihir itu memancarkan cahaya terang.
Mungkinkah Akuri kembali?!
"Wah, akhirnya bisa kembali juga. Kerja bagus sudah
mengalahkan Raja Iblis, Kur-kun."
Namun, yang muncul justru si Pria Bandana.
"Bandana, dari mana saja kamu muncul! Lihat situasi
sedikit, dong!"
"Uwah, Yurishia-han galak sekali. Padahal aku mau
berbagi cerita menarik."
"Aku tidak minat dengar ceritamu. Mood-ku sedang
tidak bagus."
"Heh? Kamu tidak mau tahu apa yang terjadi pada
putrimu setelah pindah ke masa lalu?"
Seketika, Yurishia-san mencengkeram kerah baju si
Pria Bandana.
"Kamu tahu sesuatu?"
"Tentu saja. Tapi si Penyihir Agung lebih tahu
detailnya. Tanya dia saja."
Lingkaran sihir kembali bersinar. Dari sana, muncul
seorang wanita berjubah putih yang misterius.
Dialah sang Penyihir Agung——pengelola Menara Pengetahuan.
"Kuruto-sama, Yurishia-sama, Lise-sama. Terima kasih
atas kerja keras kalian dalam menaklukkan Raja Iblis. Sebagai pengelola Menara
Pengetahuan, aku menyampaikan rasa terima kasihku."
"Persetan dengan ucapan terima kasih! Bagaimana
dengan Akuri! Apa dia sudah tiba di masa lalu dengan selamat!?"
"Roh Agung Waktu telah berangkat ke masa lalu dengan
selamat. Di sana, dia berhasil menyelesaikan alat untuk mentransfer orang-orang
ke dunia ini, dan sukses menyelamatkan umat manusia dari Monster Tabu."
"Begitu
ya…… syukurlah."
Lise-san
angkat bicara di samping Yurishia-san yang tampak lega.
"Tapi,
jika tugas itu sudah selesai, kenapa dia tidak bisa kembali ke masa depan?
Bukankah seharusnya tidak butuh energi besar jika berada di dimensi yang
sama?"
"Tidak, tugasnya tidak hanya itu…… Takdir dunia
adalah sesuatu yang sangat rapuh. Dia memiliki kewajiban untuk membimbing
orang-orang menuju takdir yang benar. Itu adalah tugas yang sangat, sangat
panjang dan melelahkan."
"Noah juga memperpanjang usianya hingga ratusan
tahun dengan alat penopang hidup. Namun, karena waktu itu tetap tidak cukup,
dia harus tidur di dalam kristal sihir penyegel setiap kali tidak ada pekerjaan
yang harus dilakukan."
Sang Penyihir Agung menghentikan bicaranya sejenak.
"Yuna-sama telah hidup selama tiga ribu tahun. Meski
tubuhnya adalah Golem yang tidak bisa menua, jiwanya tidak mampu menanggung
waktu yang kekal itu. Dia meminta maaf kepada Yurishia-sama karena tidak bisa
menepati janjinya."
"Yuna……
begitu ya, si bodoh itu……"
"Lise-sama, aku kembalikan ini padamu."
Sang Penyihir Agung menyerahkan sebuah belati tua kepada
Lise. Itu adalah Kacho.
"Ini, yang aku berikan kepada Akuri……"
"Sebagai roh yang membimbing dunia, Akuri tidak bisa
terus berada dalam wujud anak-anak. Dia memilih jalan untuk membuang namanya,
membuang sosoknya, dan hidup sebagai sistem yang mengarahkan takdir dunia.
Namun, dengan menyerahkan Kacho ini, takdir tersebut pun berakhir."
"Itu artinya——"
Tepat saat sang Penyihir Agung——saat dia menyerahkan
Kacho kepada Lise-san, ilusi yang menyelimuti tubuhnya perlahan memudar. Sosok itu adalah…… anak kecil
yang sangat kami kenal.
"Aku pulang, Papa, Mama Lise, Mama Yuri."
“““Akuri!”””
Benar, sang Penyihir Agung adalah Akuri.
"Kamu itu Akuri!? Kalau
iya, harusnya bilang dari tadi, dong!"
"Maaf, Mama Yuri. Tapi Mama Yuna bilang aku
tidak boleh mengatakannya."
"Ah, benar juga. Kalau identitas Penyihir Agung
itu adalah kamu, takdir pasti akan berubah drastis, ya. Tapi, tetap saja
rasanya kesal!"
"Sudahlah, Yuri-san. Yang penting Akuri bisa
kembali dengan selamat seperti ini, kan?"
"Tapi, Akuri putri kita sekarang malah jadi jauh
lebih tua dari kita, ya."
Kalau dipikir-pikir, berapa ya umur Akuri sekarang? Sekitar enam ribu dua ratus
tahun? Tapi, itu tidak penting. Akuri tetaplah Akuri.
"Yah,
dengan begini semuanya berakhir bahagia, ya."
Si Pria
Bandana menepuk punggungku.
"Kur,
aku sudah menepati janjiku, lho."
"Eh?"
"Baru saja kita berjanji, kan? Bahwa 'Aku pasti akan
melindungi Yang Mulia Akuri'."
"Tunggu, eh! Jangan-jangan, kamu itu——"
Yurishia-san
bertanya dengan nada terkejut.
"Yup, aku ini Noah. Lihat, Linoa dan Noah, mirip
kan? Omong-omong, karena sebagian besar waktuku kuhabiskan dalam segel, usia
asliku sekitar seratus tahun."
"Bandana, bukannya sudah seratus empat tahun,
ya?"
"Sudahlah, anggap saja sekitar seratus tahun, alias Ara-han!"
Aku terkejut, ternyata si Pria Bandana adalah Noah-chan.
Ah, aku mengerti sekarang.
Bandana yang selalu dia pakai itu.
Itu adalah bandana cadangan yang aku siapkan, yang
kemudian dipasangkan oleh Akuri kepada Noah-chan.
Pantas saja si Pria Bandana tidak pernah muncul sejak
segel Noah-chan terlepas.
Itu karena batasan di mana individu yang sama tidak bisa
berada di dimensi yang sama.
Wah, padahal ada petunjuk segamblang itu, tapi aku tidak
sadar sama sekali.
"Ini benar-benar keterlaluan. Padahal aku sudah
berjuang keras demi Yang Mulia Akuri, tapi Yang Mulia malah terus-terusan
memikirkan Kur dan yang lain. Makanya saat insiden 'Flame Dragon Fang' kemarin,
aku jadi sedikit iseng mengerjaimu."
"Eh? Memangnya Bandana-san pernah menjahiliku?"
"……Haaah,
Kur benar-benar…… Yah, justru karena dia orang yang seperti itulah, aku merasa
tenang memercayakan Yang Mulia Akuri padanya."
Si Pria Bandana menghela napas panjang.
"Bandana, apa kamu mau pergi?"
"Begitulah. Meskipun Raja Iblis sudah musnah dan
takdir kembali ke jalan yang benar, bukan berarti Monster Tabu sudah
benar-benar lenyap. Tenang saja, Penyihir Agung-sama. Selama Kur dan yang lain
masih sehat, aku sebagai murid pertama Penyihir Agung akan bertanggung jawab
mengelola Menara Pengetahuan. Tapi, sesekali datanglah berkunjung, ya."
"Iya, tentu saja. Kami semua akan datang membawakan
bekal makanan."
"Hahaha, kedengarannya seru seperti piknik…… ——Eh,
tunggu sebentar. Serius, nih?"
Mata si Pria Bandana tiba-tiba membelalak.
Dengan ekspresi tak percaya, dia menatap ke arah kota.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Aku bertanya-tanya, dan Akuri pun tampak sama
terkejutnya.
"Tidak mungkin……"
"Ada apa, Akuri, Bandana?"
"Hawa keberadaan Raja Iblis!"
Bandana berseru kencang.
"Apa katamu!? Bukankah Raja Iblis seharusnya sudah
dikalahkan!"
"Aku tidak tahu! Pengetahuanku hanya sampai saat aku
berangkat ke masa lalu. Aku tidak menyangka, bahkan tidak pernah membayangkan
kalau Raja Iblis akan bangkit kembali setelah itu!"
Kami segera menuju ke arah kota tanpa mengerti apa yang
sedang terjadi.
Di pusat keramaian, di tempat yang katanya memancarkan
hawa Raja Iblis, kerumunan orang telah berkumpul.
"Fuhahahahahaha! Akulah Paus yang baru! Dengan ini,
aku akan menjadi Paus!"
Yang berteriak di tengah kerumunan itu adalah Kardinal
Jess.
"Kardinal Jess, apa yang kamu lakukan——"
Sosok yang mengatakan itu adalah Jenderal Alraid.
"Apa yang terjadi!"
"Kardinal Jess memasukkan Bola Hitam Raja Iblis ke
dalam tubuhnya sendiri. Dia bilang itu adalah upacara untuk mewarisi posisi
Paus. Prajurit penjaga tidak bisa melawan perintah Kardinal dan akhirnya
mengantarnya ke gudang."
"Sial, Raja Iblis bangkit kembali? Kalau begini kita
kembali ke titik awal. Kita harus mengalahkannya sekali lagi——"
"Bukan, ini bukan kembali ke titik awal! Peran Raja Iblis sebagai sistem
sudah berakhir! Kekuatan tanpa peran bukanlah sesuatu yang bisa ditekan
oleh manusia biasa…… Ini
gawat!"
Kekhawatiran
Bandana-san terbukti benar.
"Hahahaha——ha……
aa…… lepaskan……"
Tubuh
Kardinal Jess mulai menghitam.
Tubuhnya
meleleh seperti slime yang intinya telah hancur. Cairan itu merembes ke tanah
dan menyebar dengan sangat cepat.
"Gawat,
di dalam Bola Hitam itu tersimpan Mana Miasma dalam jumlah masif.
Jumlahnya tidak sebanding dengan Mana Miasma yang bocor dari mayat
Monster Tabu. Terlebih lagi, sudah tidak ada energi sihir yang tersisa untuk
mengaktifkan kembali penghalang. Jika hawa jahat ini terus terserap ke dalam
tanah, polusi Mana Miasma akan menyebar dengan sangat cepat!"
"……Jika dibiarkan, hawa jahat ini bisa menyebar ke
seluruh dunia."
Akuri
berujar dengan wajah pucat. ……Dalam situasi ini, apa masalahnya sebenarnya?
Menurutku sepertinya tidak ada masalah, sih.
Tepat
ketika aku berpikir demikian.
"Wah, apa-apaan ini? Parah sekali."
"Ini yang namanya polusi lingkungan, ya. Sudah lewat
seribu dua ratus tahun, jadi wajar saja, sih."
"Baiklah, semuanya! Ayo kita mulai kerja bakti
pembersihan!"
Sekelompok orang tiba-tiba muncul dan mulai membersihkan
hawa jahat dengan pel di tangan mereka.
Eh, tunggu dulu?
"Ayah, Ibu!"
Di sana ada Ayah dan Ibuku.
Tidak, bukan hanya mereka, orang-orang lain pun adalah
penduduk Desa Haste.
"Ah, Kuruto, selamat datang kembali. Tunggu sebentar
ya, sekarang seluruh penduduk desa akan menyelesaikan pembersihan ini."
"Kalau bersih-bersihnya sudah selesai, Ibu akan
buatkan sup hangat di rumah yang nyaman…… Eh? Wah, wah, kalian berdua bukankah
yang waktu itu? Lama tidak jumpa, ya. Aku iri melihat kalian sama sekali tidak
berubah. Lihat aku, sekarang sudah benar-benar jadi ibu-ibu."
"Lama tidak berjumpa, Ayah Mertua Nicholas, Ibu
Mertua Sophie. Anu……"
"Semuanya, sebenarnya kalian datang dari mana?"
Lise-san
dan Yurishia-san bertanya dengan heran.
Benar, sebenarnya dari mana mereka semua datang?
Tiba-tiba, suara yang sangat akrab terdengar dari
belakang.
"Aduh, aduh. Ternyata di masa depan pun polusi
lingkungan tetap serius, ya. Kalau seluruh dunia seperti ini, aku harus
mengembangkan obat baru——ah, tapi mungkin sudah ada orang lain yang
memikirkannya."
"Paman Urano!"
"Ah, Kuruto, kamu sudah besar ya. Lama tidak jumpa.
Yah, bagi kami yang langsung melakukan lompatan waktu setelah melepasmu pergi,
rasanya tidak seperti sudah lama tidak bertemu, sih."
"Eh? Lompatan waktu? Apa maksudnya?"
"Hmm? Kamu tidak ingat? Kakek Line si tukang ikan
bilang, 'Waktu terbaik untuk minum anggur adalah saat sudah difermentasi selama
seribu dua ratus tahun!'. Terus dia bilang, 'Kalau begitu ayo kita coba
bersama, kita melompat ke seribu dua ratus tahun kemudian'."
Aku kira semuanya menghilang, ternyata mereka melakukan
lompatan waktu hanya karena alasan konyol seperti itu.
Aku tidak terlalu suka minum anggur, jadi aku tidak paham
perasaan ingin minum anggur sampai seniat itu, tapi rasanya rugi sekali aku
sudah sempat mengkhawatirkan mereka.
"Paman Urano, kenapa Kuruto-sama tidak mengetahui
hal itu?"
"Hmm? Kamu siapa?"
"Perkenalkan——ah, sebenarnya bukan pertama kali,
tapi nama saya Lise, istri Kuruto-sama."
"Bukan istri. Maaf ya, Urano-san. Lise ini punya
kebiasaan berdelusi, jadi tolong abaikan saja. Aku Yurishia."
"Lise-san
dan Yurishia-san…… Hmm, sepertinya aku pernah dengar nama itu di suatu
tempat."
Sepertinya
Paman Urano tidak ingat pada Lise-san dan yang lainnya.
Katanya
mereka pernah bertemu di masa lalu, tapi demi mencegah Time Paradox,
mereka meminum obat penghapus ingatan——obat yang disebut Lise-san sebagai Amnesia
Drug.
"Jadi, apa alasan Kuruto-sama tidak tahu?"
"Karena Kuruto belum dewasa, kami memutuskan untuk
mengirim Kuruto yang baru mau berangkat berpetualang ke era yang sedikit lebih
awal dari tujuan lompatan kami. Rencananya kami mau minum anggur bersama Kuruto
yang sudah dewasa nanti…… Eh, kamu tidak dengar?"
"Eh? Aku sama sekali tidak tahu."
"Masa,
sih…… Padahal aku sudah minta kakak ipar untuk menyampaikannya pada Kuruto."
"Ah, maaf, aku lupa menyampaikannya."
"Aduh, Ayah ini ceroboh sekali, sih."
Ayah memang punya kebiasaan melupakan hal-hal penting
sejak dulu, itu benar-benar merepotkan.
"Daripada itu, ayo bersih-bersih! Kuruto, ayo bantu
cuci noda hitam ini."
"Iya, aku mengerti."
Benar juga, kalau polusi tanah menyebar, itu akan jadi
masalah besar. Saat aku berpikir begitu, Akuri bertanya dengan wajah bingung.
"Anu, semuanya. Apa
yang dimaksud dengan bersih-bersih?"
"Ya seperti artinya. Eh? Anak kecil
ini siapa?"
"Ah, ini Akuri, putriku."
Aku memperkenalkan Akuri kepada Ibu.
"Putri! Itu artinya dia cucu kami, kan!"
"Jadi aku sudah jadi nenek? Pantas saja aku merasa
cepat tua."
Ayah memeluk Akuri, sementara Ibu menempelkan tangan ke
pipi, berpura-pura sedih padahal hatinya sangat gembira.
"Anu, apa membersihkannya semudah itu?"
Akuri bertanya dengan nada khawatir.
"Iya, bisa kok, Akuri. Karena Raja Iblis sudah tidak
ada, hawa jahat seperti ini——"
Aku menatap hawa jahat yang merembes ke tanah dan
berkata.
"Hanya seperti kerak gosong yang menempel di
panci, kan?"
Sambil berkata demikian, aku mengambil pel yang
dibuatkan Ayah, lalu bersama seluruh penduduk desa, kami mulai membersihkan
area sekitar.
Hawa jahat yang merembes ke tanah berhasil
dibersihkan dalam waktu sekitar lima menit.
Dengan begini, pertempuran seputar Raja Iblis
benar-benar telah mencapai akhirnya.



Post a Comment