NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanchigai no Atelier Meister Volume 8 Epilog

Epilog


Dua minggu telah berlalu sejak kekacauan yang disebabkan oleh Raja Iblis.

Saat ini, kami berada di gurun besar di sebelah barat Torchen.

Namun, sepertinya hari di mana nama "Gurun Besar" tidak lagi digunakan akan segera tiba.

Tiba-tiba aku merasa cemas, lalu mencoba bertanya kepada Yurishia-san yang berada di sampingku.

"Yurishia-san, apakah ini benar-benar tidak apa-apa?"

"Apanya?"

"Gurun Besar ini adalah tempat yang sejauh mata memandang hanya tertutup pasir. Menurutku tempat sehebat ini hampir tidak ada lagi di dunia."

"Benar juga. Bahkan di Torchen yang disebut sebagai Negeri Pasir pun, kaktus dan tanaman yang tahan kekeringan masih bisa tumbuh."

"Iya... Karena itu, meski kita sudah mendapat izin, apakah tidak apa-apa mengubahnya sesuka hati seperti ini?"

Aku memandang sekeliling.

Hampir seluruh tempat ini telah berubah menjadi padang rumput hijau.

"……Yah, memang aku bilang aku menyerahkannya padamu, tapi ini sih keterlaluan."

"Benar, seharusnya kita menyisakan sedikit bagian gurunnya. Maaf, orang-orang desa terlalu bersemangat."

Setelah menerima permintaan dari Kepala Suku Torchen, aku memutuskan untuk membangun kota di gurun ini.

Namun, entah dari mana penduduk Desa Haste mendengarnya, seseorang berkata, "Tujuan pindah kita berikutnya gurun itu saja! Kita belum pernah pindah ke gurun, kan?" dan akhirnya seluruh penduduk desa ikut bermigrasi.

Sampai di sana sebenarnya tidak masalah, tapi karena babi-babi dari peternakan juga ikut dibawa, agar babi-babi itu bisa hidup nyaman, mereka menurunkan suhu sekitar sebesar tujuh derajat dan mengubah lahan pasir menjadi padang rumput.

Berkat itu, babi-babi tersebut makan dengan lahapnya.

Terkadang, tamu naga juga datang berkunjung—

"Oh, bukankah kau naga kecil yang dulu sering datang ke desa? Kau sudah jadi gagah, ya."

"Umu, dulu aku berutang budi pada kalian. Sekarang aku menyandang gelar Kaisar Naga Iblis."

"Begitu, ya, begitu. Baiklah, apa kau mau makan pakan babi lagi hari ini?"

"Dengan senang hati."

—Ralat, Kaisar Naga Iblis juga jadi sering datang berkunjung.

Siapa sangka naga kecil yang dulu datang ke desa telah tumbuh menjadi sosok hebat yang dipanggil Kaisar Naga Iblis.

Mendengar hal itu, Hildegard-chan memegangi kepalanya dan berhenti berpikir.

Ya, memang citranya kurang bagus kalau anggota keluarga kerajaan memakan pakan babi.

Ngomong-ngomong, saat ini sudah ada empat kota yang selesai dibangun di sekitar Desa Haste, dan para pendatang mulai berdatangan bukan hanya dari Torchen, tapi juga dari luar negeri.

Katanya, Gurun Besar ini bukan lagi wilayah Torchen, melainkan ditetapkan sebagai zona perlindungan internasional oleh negara-negara barat yang tidak menjadi milik negara mana pun.

Dijelaskan bahwa jika tanah ini menjadi milik salah satu negara, keseimbangan kekuatan antar negara akan runtuh, tapi penduduk desa menertawakannya dan menganggap bahwa sebenarnya tidak ada yang mau tanah pelosok seperti ini.

Akuri saat ini sedang sibuk bolak-balik antara Menara Sage Agung dan Desa Haste untuk memproses serah terima sistem menara, selain itu dia juga terlibat dalam pengelolaan desa.

Meski penampilannya tetap seperti anak kecil, dia benar-benar sudah menjadi sosok yang hebat, yang terkadang membuatku merasa sedikit kesepian.

Lise-san sedang sibuk dengan perdagangan antara Kerajaan Homuros dan zona perlindungan ini, dan sepertinya dia sedang merencanakan untuk memasang batu teleportasi.

Namun, karena teleportasi lintas batas memiliki banyak batasan dalam hukum internasional, sepertinya itu tidak akan mudah.

Golnova-san dan Marlefis-san, atas perintah Mimiko-san, kabarnya sedang melakukan penyelidikan terhadap monster di wilayah iblis serta survei realitas kehidupan penduduk yang tinggal di sana.

Konferensi perdamaian dengan kaum iblis akhirnya ditunda karena kekacauan Raja Iblis.

Namun, karena Gurun Besar telah menghijau dan memungkinkan orang-orang untuk melintas, mereka memutuskan melakukan penyelidikan untuk menemukan masalah yang mungkin muncul di masa depan lebih awal.

Aku juga sempat diajak ikut, tapi aku menolak karena memiliki pekerjaan sebagai perwakilan Atelier Meister.

Sebenarnya aku sedikit ingin ikut, sih. Tapi aku memutuskan untuk memprioritaskan pekerjaan yang hanya bisa dilakukan olehku sekarang.

Saat aku sedang memikirkan hal itu, Yurishia-san bergumam dengan penuh perasaan.

"Sudah setahun sejak aku bertemu dengan Kuruto, ya."

"Benar juga. Saat itu Yurishia-san bilang ingin membuat tambang karena tidak punya uang."

"Kalau dipikir sekarang, itu benar-benar rencana yang nekat."

"Memang mustahil untuk menjadi kaya mendadak dari bijih tambang, tapi bukankah biaya pemeliharaan gunung bisa tertutup dengan menggunakan terowongan tambang sebagai jalan raya?"

"Itu semua berkat dirimu."

Padahal aku merasa tidak melakukan hal yang luar biasa, tapi dia bilang itu berkat diriku.

Yurishia-san selalu memujiku seperti ini.

Seandainya saat itu aku tidak bertemu dengan Yurishia-san atau Lise-san, apa yang akan terjadi padaku?

Mungkin aku akan terus mengejar mimpi nekat ingin kembali menjadi petualang tanpa tahu harus berbuat apa, dan berakhir tanpa bisa melakukan apa pun—mungkin masa depan seperti itu bisa saja terjadi.

Katanya, masa kini adalah dunia yang dipandu oleh Akuri yang melakukan teleportasi ke masa lalu.

Mungkin orang yang paling terselamatkan oleh takdir itu adalah diriku.

Tapi, kehidupan yang terasa seperti petualangan besar ini pasti tidak akan berlangsung selamanya.

Yang akan dimulai setelah ini adalah kisah biasa yang bisa ditemukan di mana saja, yang dialami oleh seorang pemuda.

"Hei, Kuruto... ada yang ingin aku bicarakan—"

"Iya, ada apa?"

"Sebenarnya aku berpikir ingin memulainya dari surat-menyurat atau semacamnya, tapi aku sadar hubungan kita sudah bukan lagi di tahap seperti itu sekarang..."

Wajah Yurishia-san memerah, lalu dia berkata sambil mengangguk pelan.

"Aku menyukai Kuruto. Bukan sebagai objek perlindungan, tapi sebagai seorang lawan jenis."

"Eh?"

Yurishia-san, menyukaiku!?

Saat aku sedang kebingungan karena hal yang tiba-tiba ini—

"Tunggu sebentar, Yuri-san! Beraninya kau mencoba mendahuluiku!"

"Lise, dari mana kau muncul!"

"Pekerjaanku baru saja selesai dan saat aku datang ke sini, kulihat kalian berdua bertingkah mencurigakan. Jadi tentu saja aku menggunakan Butterfly untuk menghilangkan keberadaanku dan mengintip secara diam-diam!"

"Diam-diam katamu—!"

"Lupakan itu, Kuruto-sama! Sebelum berkencan dengan Yuri-san, tolong berkencanlah denganku! Aku akhirnya berhasil melepaskan diri dari keluarga kerajaan!

Sekarang aku bukan lagi Liselotte Homuros, melainkan hanya Lise. Tidak ada lagi penghalang bagi cinta antara aku dan Kuruto-sama!"

"Eh!? Tunggu sebentar, Lise-san. Eh? Lise-san itu, Tuan Putri Liselotte?"

Aku memang mengira dia adalah bangsawan tinggi, tapi Lise-san ternyata Tuan Putri Liselotte!?

Lalu, Lise-san ingin berkencan denganku?

"Bukan Liselotte! Aku bukan lagi keluarga kerajaan, aku adalah istrimu, hanya Lise!"

"Tunggu dulu, Lise! Tadi kan aku yang sedang bicara! Lagipula, aku yang bertemu Kuruto lebih dulu, patuhi urutannya!"

"Urutan pertemuan itu tidak ada hubungannya! Yuri-san lah yang seharusnya diam sebentar!"

Eh!? Eh!? Eh!?

Aku tidak mengerti, aku jadi bingung.

"Kalian benar-benar berisik, ya."

Kali ini Hildegard-chan yang datang.

"Hildegard-chan! Maaf, saat ini sedang agak kacau—anu, ada perlu apa?"

"Bukan hal penting. Sudah diputuskan bahwa kunci perdamaian antara kaum iblis dan manusia adalah apakah organ penyerap mana bisa diwariskan seratus persen atau dihilangkan pada anak yang lahir di antara kedua ras. Karena itu, aku harus meneliti hal tersebut."

"Begitu ya... Anu, itu pembicaraan yang penting, tapi bolehkah kita bahas lain kali?"

"Teorinya memang belum sempurna, tapi di masa depan perlu dilakukan penelitian dengan benar-benar melahirkan seorang anak."

"Anu, Hildegard-chan, benar-benar nanti saja—"

"Meskipun demi penelitian, menurutku salah jika menjadikan anak yang tidak dikenal sebagai subjek. Jadi, bagaimana kalau kita bereksperimen dengan anakku dan Kuruto?"

""Hildegard(-san)!!""

Sepertinya mereka mendengarkan pembicaraan kami, karena Yurishia-san dan Lise-san langsung memprotes Hildegard-chan.

"Papa, pekerjaanku sudah selesai—"

Tepat saat aku berpikir begitu, Akuri melakukan teleportasi ke tempatku dan memelukku erat.

Namun, dalam wujud dewasanya.

"Akuri!?"

"Serah terima pekerjaannya sudah selesai. Karena selama enam ribu tahun aku tidak bisa bermanja-manja pada Papa, aku akan bermanja-manja sepuasnya sekarang... Papa, ada apa?"

"Yah—begitulah."

Aku menarik kembali apa yang aku pikirkan tadi.

[×] Yang akan dimulai setelah ini adalah kisah biasa yang bisa ditemukan di mana saja, yang dialami oleh seorang pemuda.

[○] Yang akan dimulai setelah ini adalah kisah yang sangat menyenangkan dan sedikit unik, yang dihabiskan bersama orang-orang tersayang.

Yah, begitulah—

"Oooi, Kuruto! Kita akan membuka anggur berumur seribu dua ratus tahun!"

"Mumpung suasananya pas, ayo kita nikmati anggurnya sambil melihat bulan! Kalau tidak salah, namanya 'Menikmati Anggur Sambil Melihat Bulan', kan?"

Ayah membawa anggur, dan Ibu membawa gelas sambil memanggilku.

Benar juga, gara-gara pindah rumah, acara mencicipi anggur yang digali dari bawah tanah jadi tertunda.

"Ibu mertua, malam ini adalah bulan baru, lho? Bulannya tidak akan terlihat."

Ucap Lise-san.

Ah, sepertinya Lise-san salah paham akan sesuatu.

"Lise-san, memang benar malam ini kita tidak bisa melihat bulan, tapi itu hanya karena bulan tidak memantulkan cahaya matahari. Bulannya tetap ada di atas langit sana."

"Itu ilmu astronomi, kan? Aku tentu saja memahaminya, tapi—"

Ternyata dia tetap tidak mengerti.

Sepertinya akan lebih cepat jika aku memperlihatkannya.

Begitu aku memberi isyarat mata pada Ayah, Ayah menekan sakelar pada mesin yang dipegangnya.

Seketika, tanah terbelah menjadi dua, dan dari bawah sana muncul sebuah kendaraan.

"Kuruto-sama, kapal... apa ini sebenarnya? Apakah ini kapal?"

"Ini semacam kapal terbang. Karena tidak ada baling-baling, ini menggunakan semburan—anu, semacam energi dari pistol sihir yang ditembakkan ke tanah untuk terbang dengan gaya tolaknya. Karena ada alat kendali gravitasi, kapal ini bisa terbang dengan sedikit bahan bakar."

"Lalu kita mau pergi ke mana? Apa ada negara di mana bulannya bisa terlihat?"

"Bukan negara di mana bulannya terlihat, tapi kita akan pergi ke bulan."

"""Ke bulan!!???"""

Yurishia-san, Lise-san, bahkan Hildegard-chan pun berteriak serempak.

Lho? Apa aku mengatakan sesuatu yang aneh?

"Ah... bagi Papa dan yang lainnya, yah, memang begitu ya."

Akuri entah kenapa terlihat lelah.

Apa maksudnya?

"Pergi berwisata ke bulan dengan kapal untuk menikmati pemandangan bulan, bukankah itu hal yang biasa dilakukan?"

Begitu aku mengatakannya, Ayah dan Ibu mengangguk setuju seolah-olah perkataanku itu benar.

Dan sebagai buktinya, demi melakukan "Menikmati Anggur Sambil Melihat Bulan" yang sesungguhnya, kapal-kapal yang mengangkut penduduk desa mulai terbang ke langit satu demi satu.




"Yah, kapal luar angkasa yang terbang membumbung ke langit memang sudah jadi pemandangan khas di musim melihat bulan, kan?"

Begitu aku bertanya seperti itu, mereka bertiga gemetar, lalu berseru dengan suara yang sangat lantang.

“““Kisah biasa seperti itu tidak ada di mana pun!!!”””



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close